MENGASOSIASIKAN KARAKTERISTIK
DAERAH DAN MENJALIN KERJASAMA
BERBAGAI BIDANG KEHIDUPAN DALAM
KERANGKA NEGARA KESATUAN
REPUBLIK INDONESIA
Oleh : Lilis Rakhmawati, S.Pd
MATERI PKN KELAS VII
PERTEMUAN 7
SEMESTER GENAP 2020-2021
UPTD SMPN 3 PELAIHARI
KERJASAMA
Pengertian Kerjasama
Kerja sama merupakan salah satu
fitrah manusia sebagai mahluk
sosial. Kerja sama memiliki dimensi
yang sangat luas dalam kehidupan
manusia, baik terkait tujuan positif
maupun negatif.
Dalam hal apa, bagaimana, kapan
dan di mana seseorang harus
bekerjasama dengan orang lain
tergantung pada kompleksitas dan
tingkat kemajuan peradaban orang
terse- but.
Semakin modern seseorang, maka ia
akan semakin banyak bekerja sama
dengan orang lain, bahkan seakan
tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu
tentunya dengan bantuan perangkat
teknologi yang modern pula.
Bentuk kerjasama dapat dijumpai
pada semua kelompok orang dan
usia. Sejak masa kanak-kanak,
kebiasaan bekerjasama sudah
diajarkan di dalam kehidupan
keluarga.
Setelah dewasa, kerjasama akan
semakin berkembang dengan
banyak orang untuk memenuhi
berbagai kebutuhan hidupnya.
Pada taraf ini, kerjasama tidak hanya
didasarkan hubungan kekeluargaan,
tetapi semakin kompleks.
Dasar utama dalam kerja sama ini
adalah keahlian, di mana masing-
masing orang yang memiliki keahlian
berbeda, bekerja bersama menjadi
satu kelompok/tim dalam
menyeleseaikan sebuah pekerjaan.
Kerja sama tersebut adakalanya
harus dilakukan dengan orang yang
sama sekali belum dikenal, dan
begitu berjumpa langsung harus
bekerja bersama dalam sebuah
kolempok.
Oleh karena itu selain keahlian juga
dibutuhkan kemampuan
penyesuaian diri dalam setiap
lingkungan atau bersama segala
mitra yang dijumpai.
Dari sudut pandang sosiologis,
pelaksanaan kerjasama antar
kelompok masyarakat ada tiga
bentuk (Soekanto, 1986: 60-63)
yaitu:
(a) bargaining yaitu kerjasama
antara orang per orang dan atau
antarkelompok untuk mencapai
tujuan tertentu dengan suatu
perjanjian saling menukar barang,
jasa, kekuasaan, atau jabatan
tertentu,
Kerjasama Antarumat Beragama
Kerjasama antarumat beragama di
Indonesia dilandasi Pancasila
terutama sila Ketuhanan Yang Maha
Esa dan pasal 29 ayat (1) dan (2).
Undang-Undang Dasar 1945. Pasal
29 Ayat (1) menyatakan: “Negara
berdasar atas Ketuhanan Yang Maha
Esa”.
Ayat ini menyatakan bahwa bangsa
Indonesia berdasar atas
kepercayaan dan keyakinan
terhadap Tuhan.
Sedangkan pada Pasal 29 Ayat (2)
menyatakan: “Negara menjamin
kemerdekaan tiap-tiap penduduk
untuk memeluk agamanya masing-
masing dan untuk beribadat
menurut agamanya dan
kepercayaan itu”.
Dalam ayat ini, negara memberi
kebebasan kepada setiap warga
negara Indonesia untuk memeluk
salah satu agama dan menjalankan
ibadah menurut kepercayaan serta
keyakinannya tersebut.
Agama merupakan salah satu hak
yang paling asasi diantara hak-hak
asasi manusia, karena kebebasan
beragama itu langsung bersumber
kepada mertabat manusia sebagai
makhluk ciptaan Tuhan.
Hak kebebasan beragama itu bukan
pemberian negara dan bukan
pemberian golongan.
Oleh kerenanya, agama tidak dapat
dipaksakan atau dalam menganut
suatu agama tertentu itu tidak dapat
dipaksakan kepada dan oleh
seseorang.
Agama dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa itu
berdasarkan atas keyakinan, karena
menyangkut hubungan pribadi
manusia dengan Tuhan yang
dipercayai dan diyakininya.
Kehidupan beragama dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa semakin berkembang
sehingga terbina hidup rukun dan
kerjasama di antara sesama umat
beragama dan penganut aliran
kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.
Kerjasama ini akan memperkokoh
persatuan dan kesatuan bangsa dan
negara. Di dalam hubungan
kerjasama sesuai dengan norma dan
nilai-nilai yang tersurat dan tersirat
di dalam Pancasila, khususnya sila
Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu
kerjasama yang didasari:
a) Toleransi hidup beragama,
kepercayaan dan keyakinannya
masing-masing.
b)Menghormati orang yang sedang
melaksanakan ibadah.
c) bekerja sama dan tolong
menolong tanpa membeda-
bedakan agama.
d)Tidak memaksakan agama dan
kepercayaannya kepada orang lain.
Kerja sama antar umat bergama
merupakan bagian dari hubungan
sosial antar manusia yang tidak
dilarang dalam semua ajaran
agama.
Hubungan dan kerja sama dalam
bidang-bidang ekonomi, politik,
maupun budaya tidak dilarang,
bahkan dianjurkan sepanjang
berada dalam ruang lingkup
kebaikan.
Dari sudut pandang itulah kita
sebagai umat manusia yang
menganut agama yang berbeda
dapat membentuk suatu kerjasama
yang baik untuk masyakarat, bangsa
dan negara.
Kerjasama di antara umat beragama
merupakan bagian yang sangat
penting dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Dengan kerjasama yang erat di
antara mereka, kehidupan dalam
masyarakat akan menjadi aman,
tenteram, tertib, dan damai. Bentuk
kerjasama antar umat beragama di
antaranya sebagai berikut:
a. Adanya dialog antar pemimpin
agama
b. Adanya kesepakatan di antara
pemimpin agama untuk membina
agamanya masing-masing.
c. Saling memberikan bantuan bila
terkena musibah bencana alam.
Setiap umat beragama diharapkan
selalu membina kerjasama dan
kerukunan antar umat beragama.
Dialog antar-umat beragama
merupakan salah satu cara untuk
memperkuat kerukunan beragama
dan menjadikan agama sebagai
faktor pemersatu dalam kehidupan
berbangsa.
Para tokoh dan umat beragama
dapat memberikan kontribusi
dengan berdialog secara jujur,
berkolaborasi dan bersinergi untuk
menggalang kekuatan bersama
guna mengatasi berbagai masalah
sosial termasuk kemiskinan dan
kebodohan.
Jika agama dapat dikembangkan
sebagai faktor pemersatu maka ia
akan memberikan sumbangan bagi
stabilitas dan kemajuan suatu
negara,
Setiap orang yang menjadi warga
Negara Indonesia hendaknya
menerapkan budaya saling
bekerjasama antar satu sama lain
walaupun berbeda agama.
Dalam hubungan sosial, perbedaan
agama bukanlah sebuah alasan
untuk kita menghindari kerjasama
dengan orang lain.
Salah satu cara untuk
mempertahankan keberadaan
negara Indonesia memiliki beragam
suku, ras dan agama adalah dengan
membangun kerjasama, saling
menghargai, menghormati dan
saling tengang rasa terhadap agama
dan kepercayaan yang berbeda.
Dengan demikian kerja sama antar
umat bergama merupakan bagian
dari hubungan sosial antar manusia
yang tidak dilarang dalam ajaran
agama.
Hubungan dan kerja sama dalam
bidang-bidang ekonomi, politik,
maupun budaya tidak dilarang,
bahkan dianjurkan sepanjang
berada dalam ruang lingkup
kebaikan.
Melalui kerja sama antar umat
beragama akan timbul proses
asimilasi yaitu suatu proses yang
ditandai dengan adanya usaha
mengurangi perbedaan yang
terdapat pada perorangan atau
kelompok-kelompok manusia dan
juga berusaha untuk mempertinggi
kesatuan tindakan, sikap dan proses
mental dengan memperhatikan
kepentingan-kepentingan dan
tujuan bersama.
Sehingga adanya kerjasama antar
umat beragama kita dapat
menghindari berbagai konflik yang
bisa saja terjadi di antara kita dan
menghindari sikap ketidak adilan
terhadap mereka yang lain
agamanya.