SUMPAH PEMUDA DALAM BINGKAI
BHINEKA TUNGGAL IKA
(PERAN ORGANISASI KEPEMUDAAN)
Oleh : Lilis Rakhmawati, S.Pd
MATERI PKN KELAS VIII
PERTEMUAN 2
SEMESTER GENAP 2020-2021
UPTD SMPN 3 PELAIHARI
Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28
Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan
Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II
Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya
diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.
Sumpah Pemuda merupakan babak baru bagi
perjuangan bangsa Indonesia karena
perjuangan yang bersifat lokal kedaerahan
berubah menjadi perjuangan yang bersifat
nasional.
Para pemuda sadar bahwa perjuangan yang
bersifat lokal adalah sia-sia. Mereka juga sadar
bahwa hanya dengan persatuan dan kesatuan
cita-cita kemerdekaan dapat diraih.
Pada tahun 1908, bangsa Indonesia mulai
bangkit. Di bab sebelumnya, kita sudah
membahas bahwa kebangkitan bangsa
Indonesia ini ditandai dengan berdirinya Boedi
Oetomo (Budi Utomo). Berdirinya Budi Utomo
mendorong bermunculannya organisasi
Pemuda, seperti berikut.
1. Trikoro Dharmo
Trikoro Dharmo didirikan oleh R. Saitman
Wiryosanjoyo, dkk. Di gedung STOVIA Jakarta
pada tahun 1915.
Trikoro Dharmo merupakan cikal bakal Java. Ia
memiliki tiga visi mulia yaitu sakti berarti
kekuasaan dan kecerdasan, budi berarti kasih
bijaksana, bhakti berarti kasih sayang. Tujuan
Trikoro Dharmo sebagai berikut:
• Mempererat tali persaudaraan antar siswa-siswi
Bumi Putra pada sekolah menengah dan
kejuruan.
• Menambah pengetahuana umum bagi
anggotanya.
• Membangitkan dan dan mempertajam peranan
untuk segala bahasa dan budaya.
Dalam kongres pertamanya di Solo pada
tanggal 12 Juni 1918, Trikoro Dharmo
mengubah namanya menjadi Jong Java.
Kongres juga menetapkan perubahan haluan
organisasi, dari semula organisasi non politik
menjadi organisasi politik.
Pada kongres selanjutnya di tahun 1926, Jong
Java menyatakan dalam anggaran dasarnya
hendak menghidupkan rasa persatuan seluruh
bangsa Indonesia serta kerja sama dengan
semua organisasi pemuda dalam rangka
membentuk ke-Indonesiaan.
Dengan demikian, organisasi ini menghapus
sifat Jawa-sentris serta mulai terbuka bekerja
sama dengan pemuda-pemuda bukan Jawa
2. Jong Sumatranen Bond
Organisasi kepemudaan Persatuan Pemuda-
Pelajar Sumatera atau Jong Sumateranen Bond,
didirikan pada tahun 1917 di Jakarta. Pada
Kongres ketiga, Jong Sumateranen Bond
melontarkan pemikiran Moh.
Yamin, yaitu anjuran agar penduduk Nusantara
menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa
pengantar dan bahasa persatuan.
Jong Sumateranen Bond melahirkan tokoh-
tokoh besar seperti Moh. Hatta, Moh. Yamin,
dan Bahder Johan.
3. Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Celebes
Jong Ambon didirikan pada tahun 1918.
Selanjutnya, antara tahun 1918–1919, berdiri
Jong Minahasa dan Jong Celebes.
Salah satu tokoh yang lahir dari persatuan
pemuda Minahasa adalah Sam Ratulangi.
Organisasi kepemudaan yang tidak berlatar
belakang suku dan kedaerahan adalah
Perhimpunan Indonesia. Perhimpunan
Indonesia paling gencar mengumandangkan
persatuan bangsa Indonesia di Belanda.
Perhimpunan Indonesia beranggotakan para
pemuda dari berbagai suku dan pulau di
Indonesia. Lahirnya berbagai organisasi pemuda
dan adanya keinginan pemuda untuk bersatu,
para pemuda menghimpunkan dirinya dalam
Kongres Pemuda.
Pada tahun 1926, berbagai organisasi
kepemudaan menyelenggarakan Kongres
Pemuda I di Yogyakarta.
Kongres Pemuda I, telah menunjukkan adanya
kekuatan untuk membangun persatuan dari
seluruh organisasi pemuda yang ada di
Indonesia.
Kongres Pemuda I berhasil merumuskan dasar-
dasar pemikiran bersama. Kesepakatan itu
meliputi dua hal berikut.
a. cita-cita Indonesia merdeka menjadi cita-cita
semua pemuda Indonesia, dan
b. semua perkumpulan pemuda berdaya upaya
menggalang persatuan organisasi pemuda
dalam satu wadah.
Hasil kesepakatan ini mampu meningkatkan
kemajuan yang mendukung arti pentingnya
kesatuan dan persatuan antar organisasi
pemuda.
Hal ini merupakan prestasi besar pada saat itu.
Kongres Pemuda II, atau dikenal sebagai
Kongres Pemuda 28 Oktober 1928,
dilaksanakan dalam tiga sesi di tiga tempat
berbeda oleh penggagasnya, organisasi
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI)
yang beranggotakan pelajar dari seluruh
wilayah Indonesia.
Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil
organisasi kepemudaan, yaitu Jong Java, Jong
Batak, Jong Celebes, Jong Sumateranen Bond,
Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dan lainnya
serta pengamat dari pemuda Tionghoa seperti
Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey
Kay Siang, dan Tjoi Djien Kwie.
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di
Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB)
Waterlooplein dulu Lapangan Banteng. Dalam
sambutannya, Ketua PPPI Sugondo
Djojopoespito berharap kongres ini dapat
memperkuat semangat persatuan dalam
sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan
dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti
dan hubungan persatuan dan pemuda.
Menurutnya, ada lima faktor yang bisa
memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah,
bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di
Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas
masalah pendidikan. Kedua pembicara,
Poernomowoelan dan Sarmidi
Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak
harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus
pula ada keseimbangan antara pendidikan di
sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik
secara demokratis.
Pada rapat penutup, di Gedung Indonesische
Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario
menjelaskan pentingnya nasionalisme dan
demokrasi selain gerakan kepanduan. Ramelan
mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa
dipisahkan dari pergerakan nasional.
Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-
anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang
dibutuhkan dalam perjuangan.
Adapun panitia Kongres Pemuda sebagai
berikut.
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Moehammad Yamin (Jong
Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong
Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda
Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (Jong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda
Kaoem Betawi)
Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh
Moehammad Yamin pada selembar kertas
ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan
tengah berpidato pada sesi terakhir kongres.
Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh
Soegondo dan kemudian dijelaskan secara
panjang lebar oleh Muh. Yamin.
Isi dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda
Kedua adalah sebagai berikut:
PERTAMA :
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe
Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah
Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia,
Mengaku Bertumpah Darah yang Satu, Tanah
Indonesia).
KEDUA :
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe
Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami
Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa
yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA :
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa
Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia,
Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa
Indonesia).
Dalam peristiwa Sumpah Pemuda yang
bersejarah tersebut, diperdengarkan lagu
kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali
yang diciptakan oleh W.R. Soepratman.
Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama
kali pada tahun 1928 pada media cetak surat
kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang
menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu
kebangsaan.
Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah
kolonial Hindia Belanda, tetapi para pemuda
terus menyanyikannya.
Gema Sumpah Pemuda terus menjalar dalam
dada generasi muda Indonesia pada waktu itu,
termasuk para pemuda keturunan Arab yang
ada di Indonesia.
Para pemuda keturunan Arab yang dimotori
oleh AR Baswedan melaksanakan Kongres di
Semarang dan menyatakan Sumpah Pemuda
Keturunan Arab.
Sumpah ini dilakukan oleh pemuda-pemuda
peranakan Arab pada tanggal 4–5 Oktober
1934. Dalam kongres ini, mereka bersepakat
untuk mengakui Indonesia sebagai tanah air
mereka karena sebelumnya kalangan keturunan
Arab berangapan bahwa tanah air mereka
adalah negeri-negeri Arab dan senantiasa
berorientasi ke Arab