a
1
MGMP PENDIDIKAN AGAMA HINDU
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
KABUPATEN BLITAR
TIM PENYUSUN
Aris Teguh, S.Pd., M.Pd.H
Candra Bagus Wicaksono, S.Ag
Dwi Wasiatona, S.Ag
Mike Rahayu, S.Pd.H
Nico Wardana, S.Pd.H
EDITOR
MGMP PAH SMP Kabupaten Blitar
2
Kata Pengantar
Puja astungkara marilah kita haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi
karena atas asung kerta waranugraha-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan modul
Pendidikan Agama Hindu untuk siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama. Modul
ini disusun berdasarkan Standar Isi 2013 yang lebih menempatkan siswa sebagai pusat
kegiatan belajar (Student Center). Modul ini juga dilengkapi dengan latihan soal untuk
menguji pemahaman siswa terkait dengan materi yang terdapat pada modul. Dalam
modul Pendidikan Agama Hindu ini akan dibahas tentang “materi pembelajaran kelas
IX semester I dan II”.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan modul ini. Oleh
karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dan
kesempurnaan modul ini.
Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu
proses penyelesain modul ini, terutama Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar yang telah
memfasilitasi dan membimbing penyusun dalam pembuatan modul ini. Semoga modul
ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik.
Blitar, 26 November 2021
Tim Penyusun
3
DAFTAR ISI
BAB I ASTA AISWARYA
Pengertian Asta Aiswarya..................................................................................... 6
Bagian – Bagian Asta Aiswarya............................................................................ 7
Sloka terkait Asta Aiswarya.................................................................................. 9
Contoh bagian-bagian asta aiswarya..................................................................... 10
Evaluasi................................................................................................................. 11
BAB II PARWA – PARWA DALAM MAHABHARATA
Pengantar tentang itihasa................................................................................ 14
Bagian parwa dalam Mahabharata.................................................................... 16
Cerita perjalanan pandawa ke surga................................................................. 19
Nilai-nilai yang terkandung dalam Mahabharata................................................ 21
Evaluasi..............................................................................................................24
BAB III BUDAYA HIDUP BERSIH DAN SEHAT MENURUT VEDA
Pengertian budaya hidup bersih...................................................................... 26
Pengertian budaya hidup sehat menurut Veda................................................... 31
Bagian- bagian hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.................................... 32
Contoh perilaku hidup sehat di kehidupan sehari-hari......................................... 36
Evaluasi........................................................................................................... 39
BAB IV PANCA YAMA DAN NIYAMA BRATA 42
Pengertian panca yama dan niyama brata........................................................ 43
Bagian – bagian yama dan niyama brata.......................................................... 49
Contoh perilaku yama dan niyama brata............................................................ 54
Evaluasi ..........................................................................................................
BAB V DASA MALA 57
Pengertian dasa mala...................................................................................... 57
Bagian-bagian dasa mala................................................................................
4
Sloka tentang dasa mala................................................................................. 65
Contoh dan dampak perilaku dasa mala........................................................... 69
Evaluasi........................................................................................................ 72
5
BAB I
ASTA AISWARYA
aham atmā guḍākeśa sarva bhūtāśaya sthitaḥ, aham ādiś cha madhyaṁ cha
bhūtānām anta eva cha
(Bhagavadgītā X.20)
Terjemahan:
Aku adalah jiwa yang berdiam dalam hati segala insani, wahai Gudakesa. Aku
adalah permulaan, pertengahan, dan penghabisan dari makhluk semua (Pudja,
1999: 258).
6
A. Pengantar
Setelah membaca serangkaian bahan ajar dan mengerjakan sola latihan ini
diharapkan siswa dapat menjelaskan pengertian Aṣṭa Aiśwarya, menyebutkan bagian-
bagian Aṣṭa Aiśwarya, menjelaskan ciri-ciri dan sifat-sifat Aṣṭa Aiśwarya,
Menyebutkan contoh-contoh Aṣṭa Aiśwarya, menyebutkan dan menjelaskan sloka
terkat Aṣṭa Aiśwarya, dan menceritakan fenomena alam yang terkait dengan
kemahakuasaan Sanghyang Widdhi Wasa sebagai Aṣṭa Aiśwarya
Dalam ajaran Agama Hindu, Tuhan digambarkan dalam dua hal, yaitu Tuhan
yang tak berwujud (Nirguna Brahma), dan Tuhan yang berwujud (Saguna Brahma).
Tetapi pada dasarnya, Tuhan tertinggi adalah Tuhan yang tidak memiliki wujud dan
tidak dapat dipikirkan (Achintya). Bentuk dan sifat Kemahakuasaan Sang Hyang
Widhi skala dan nisakala disebut sebagai Asta Aiswarya, yang terdiri dari delapan
kekuatan.
B. Materi
1. Pengertian Asta Aiswarya
Aṣṭa Aiśwarya berasal dari bahasa sanskerta, yakni dari
kata Asta yang artinya delapan, dan kata Aiswarya yang berarti
kemahakuasaan (Midastra,2007:2). Dengan demikian Aṣṭa
Aiśwarya mengandung arti delapan sifat kemahakuasaan Tuhan.
Aṣṭa Aiśwarya dapat digambarkan sebagai kemahakuasaan Tuhan
sebagai Padma Asta Dala (teratai berdaun delapan). Umumnya digunakan untuk
menyebutkan pada arah mata angin yang didalamnya terdapat dewa penguasa.
Kedelapan kelopak padma ini melambangkan keseimbangan yang ada di alam semesta
ini. Kedelapan kemahakuasaan Tuhan tersebut, meliputi: Anima, Laghima, Mahima,
Prapti, Prakamya, Isitwa, Wasitwa, dan Yatrakamawasaitwa.
7
Penjelasan tentang sifat kemahakuasaan Tuhan, menurut Bantas (2000: 41)
dalam kitab Wrhaspatitattwa sloka 66 terdapat keterangan tentang sifat-sifat
kemahakuasaan Tuhan yang disebut Asta Sakti atau Aṣṭa Aiśwarya.
2. Bagian-bagian Asta Aiswarya
Adapun pembagian dari Aṣṭa Aiśwarya sebagai berikut.
a. Anima
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Anima yang berarti ”atom”. Kata Anima
dalam Aṣṭa Aiśwarya ialah sifat yang halus bagaikan kehalusan atom yang dimiliki
oleh Tuhan yang susah untuk dilihat dengan mata biasa, akan tetapi dapat dirasakan
keberadaannya.
b. Laghima
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Laghima. Laghima berasal dari kata
”Laghu” yang artinya ringan. Laghima berarti sifat-Nya yang amat ringan lebih ringan
dari ether dalam unsur Pañca mahabhuta.
c. Mahima
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Mahima, Mahima berasal dari kata ”Maha”
yang berarti Maha Besar, di sini berarti Tuhan meliputi semua tempat. Tidak ada
tempat yang kosong (hampa) bagi-Nya, semua ruang di alam semesta ini dipenuhi
oleh-Nya.
d. Prapti
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Prapti, Prapti berasal dari ”Prapta” yang
artinya tercapai. Prapti segala tempat tercapai oleh-Nya, ke mana Ia hendak pergi di
sana Ia telah ada.
e. Prakamya
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Prakamya, Prakamya berasal dari kata ”Pra
Kama” berarti segala kehendak-Nya selalu terlaksana atau terjadi.
f. Isitwa
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Isitwa. Isitwa berasal dari kata ”Isa” yang
berarti raja. Isitwa berarti merajai segala-galanya, dalam segala hal paling utama.
g. Wasitwa
8
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Wasitwa, berasal dari kata ”Wasa” yang
berarti menguasai dan mengatasi. Wasitwa artinya paling berkuasa.
h. Yatrakamawasayitwa
Kemahakuasaan Tuhan yang disebut Yatrakamawasayitwa berarti tidak ada
yang dapat menentang kehendak dan kodrat-Nya. Aṣṭa Aiśwarya menggambarkan
delapan sifat keagungan Tuhan disimbolkan dengan singgasana bunga teratai
(padmasana) yang berdaun delapan helai yang disebut dengan astadala. Singgasana
teratai adalah lambang kemahakuasaan-Nya dan daun bunga teratai sejumlah delapan
adalah lambang delapan sifat agung atau kemahakuasaan (Aṣṭa Aiśwarya) yang
menguasai dan mengatur alam semesta dan semua makhluk. Kekuasaan ini sebagai
kesimbangan alam semesta beserta seluruh makhluk.
3. Sloka terkait Asta Aiswarya
Tuhan adalah sumber, awal dan akhir, serta pertengahan dari segala yang ada.
Di dalam Veda Bhagavadgītā X.20, Tuhan (Hyang Widhi) bersabda mengenai hal ini,
sebagai berikut:
। च ए च॥
aham atmā guḍākeśa sarva bhūtāśaya sthitaḥ, aham ādiś cha madhyaṁ cha
bhūtānām anta eva cha
Terjemahan:
Aku adalah jiwa yang berdiam dalam hati segala insani, wahai Gudakesa. Aku
adalah permulaan, pertengahan, dan penghabisan dari makhluk semua (Pudja,
1999: 258).
Tuhan (Hyang Widhi), yang bersifat Mahaada, juga berada disetiap mahluk
hidup, di dalam maupun di luar dunia (imanen dan transenden). Tuhan (Hyang Widhi)
meresap di segala tempat dan ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka) dan kekal abadi
(Nirwikara). Di dalam Upanisad (Katha Upanisad. 1.2) disebutkan bahwa Tuhan
adalah ”telinga dari semua telinga, pikiran dari segala pikiran, ucapan dari segala
ucapan, nafas dari segala nafas, dan mata dari segala mata”. Namun Hyang Widhi itu
bersifat gaib (maha suksma) dan abstrak tetapi ada. Di dalam Lontar Bhuana Kosa
II.17, dinyatakan sebagai berikut.
9
Bhatara Śiwa sira wyapaka sira suksma tan kênêng angen-angen kadiang ganing
akasa tan kagrahita dening manah muang indriya.
Terjemahan:
Tuhan (Siwa), Dia ada di mana-mana, Dia gaib, sukar dibayangkan, bagaikan
angkasa (ether), dia tak dapat ditangkap oleh akal maupun Pañca indriya (Bantas,
2000: 25).
Walaupun amat gaib, tetapi Tuhan hadir di mana-mana. Tuhan bersifat
wyapi-wyapaka, meresapi segalanya. Tiada suatu tempat pun yang Tuhan tiada
tempati, karena Tuhan memenuhi jagad raya ini. Hal ini dijelaskan dalam Rg Veda
X.90.1, yang menyatakan bahwa:
।॥
Sahasraśīrṣā puruṣaḥ sahasrākṣaḥ sahasrapāt, sa bhūmiṁ viśato vṛtvatyatiṣṭad
daśāṅgulam
Terjemahan:
Tuhan berkepala seribu, bermata seribu, berkaki seribu, Ia memenuhi bumi-bumi
pada semua arah, mengatasi kesepuluh penjuru (Dewanto, 2009: 918).
Makna seribu dalam mantra Rg Veda di atas berarti tak terhingga. Tuhan
berkepala tak terhingga, bermata tak terhingga, bertangan tak terhingga. Semua kepala
adalah kepala-Nya, semua mata adalah mata-Nya, semua tangan adalah tangan-Nya.
Walaupun Tuhan tak dapat dilihat dengan mata biasa, tetapi Tuhan dapat dirasakan
kehadirannya dengan hati. Bagaikan garam dalam air, Ia tidak tampak, namun bila
mencicipinya akan terasa keberadaan-Nya. Hal ini juga dijelaskan dalam Wrhaspati
Tattwa 69 yang menyatakan bahwa:
Umahas sira ring sedantara, pinuja ta sira sinambah wineh sarwabhoga, wineh
bhojana, apan aprabhrti, yeka mahimangaranya, nihan tang mahima ngaranya.
Terjemahan:
Kemana saja Ia bisa pergi sesuka hatinya, disana Ia bisa tinggal sesuka hatinya.
Dan karena di mana-mana, Ia dihormati, Ia dinamakan mahima. Ia berkeliling ke
berbagai tempat. Di tempat Ia disambut, dihormati, dan diberi segala yang
menyenangkan, makanan dan hadiah. Itulah yang dinamakan mahima.
10
Hal ini membuktikan bahwa Tuhan berada di mana-mana. Ia mengetahui
segalanya dan dihormati dalam segala keadaan di dunia ini. Tidak ada sesuatu apapun
yang Ia tidak ketahui. Tidak ada apapun yang dapat disembunyikan kepada-Nya.
Tuhan adalah saksi agung akan segala yang ada dan terjadi.
Oleh karena demikian sifat Tuhan, maka manusia tidak dapat lari kemanapun
untuk menyembunyikan segala perbuatannya. Kemanapun berlari akan selalu
berjumpa dengan Dia. Tidak ada tempat sepi yang luput dari kehadiran-Nya.
Hal ini dijelaskan dalam Kitab Atharva Veda. IV.16.2, bahwa:
च च।
॥
yas tiṣṭhati carati yaśca vañcati yo nilāyaṁ carati yaḥ prataṅkam
dvatu saṁniṣadya yanmantrayete rājā tad veda varuṇas tṛtīyaḥ
Terjemahan:
Siapa pun berdiri, berjalan atau bergerak dengan sembunyi-sembunyi, siapa pun
yang membaringkan diri atau bangun, apa pun yang dua orang duduk bersama
bisikan satu dengan yang lain, semuanya itu diketahui oleh Tuhan (Sang Raja
Alam Semesta), ia adalah yang ketiga hadir di sana
Kendatipun Tuhan selalu hadir dan meresap di segala tempat, tetapi sukar dapat dilihat
oleh mata biasa. Indra kita hanya dapat menangkap apa yang dilihat, didengar,
dikecap, dan dirasakan. Kemampuan kita terbatas, sedangkan Tuhan (Hyang Widhi)
adalah Maha sempurna dan tak terbatas. Di dalam Weda disebutkan bahwa Tuhan
(Hyang Widhi) tidak berbentuk (nirupam), tidak bertangan dan berkaki (nirkaram
nirpadam), tidak berPañca indra (nirindryam), tetapi Tuhan (Hyang Widhi) dapat
mengetahui segala yang ada pada makhluk.
4. Contoh Kemahakuasaan Sang Hyang Widhi Sebagai Asta Aiswarya
untuk memahami contoh kemahakuasaan Sang Hyang Widhi sebagai Asta Aiswarya
silahkan anda chip power point berikut ini :
9. Contoh Asta Aiswarya.pptx
11
C. Ringkasan
Berasal dari Bahasa Sansekerta, Asta Aiswarya terdiri dari kata Asta dan
Aiswarya.Asta berarti delapan dan Aiswarya berarti kemahakuasaan. Jadi Asta
Aiswarya dapat diartikan, delapan sifat kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa /
Tuhan Yang Maha Esa. Dilambangkan dengan bunga teratai yang kelopak delapan
atau sering disebut Padma Asta Dala. adaun kedelapan kemahakuasaan tersebut adalah
:
1. Anima adalah sifat yang Maha Halus atau kecil
2. Laghima adalah sifat yang Maha ringan
3. Mahima adalah sifat Maha besar
4. Prapti adalah segala tempat tercapai oleh-Nya
5. Prakamya adalah segala kehendaknay selalu terlaksanaka
6. Isitwa adalah merajai segala-galanya
7. Wasitwa adalah paling berkuasa
8. Yatrakamawasayitwa adalah tidak ada yang dapat menentang kehendaknya
D. Bahan bacaan/Daftar pustaka
Suhardi Untung dan Sudirga Ida Bagus. 2018. Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu
dan Budi Pekerti SMP Kelas IX. Jakarta : Kementerian Pendidikan Nasional.
Pudja I Gde. 1999. Bhagavad Gita (Pancamo Veda). Surabaya : Paramita
E. Evaluasi
Pada bagian ini berisi pertanyaan (dalam bentuk kalimat tanya) yang meminta
siswa untuk menjawab tentang hasil dari kegiatan yang sudah dilakukan
tadi/sebelumnya. Pertanyaan ini ini tidak dimaksudkan untuk menguji atau
mengevaluasi siswa seperti ulangan atau ujian berupa soal-soal. Akan tetapi hanya
untuk mengecek apakah kegiatan yang dilakukan saat rincian kegiatan sudah benar
atau sesuai dengan yang seharusnya.
12
1. Apa yang dimaksud dengan Asta Aiswarya ?
…………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………..……………
…………………………………………………………………………………
……………………………………………………….…………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………..
2. Alam semesta beserta isinya terjadi atas kehendak Sanghyang Widdhi Wasa.
Beliau menciptakan dengan yoga-Nya. Meskipun alam semesta maha luas,
namun alam ini tetap berada dalam Sanghyang Widdhi Wasa. Sifat
kemahakuasaan Tuhan seperti apa dalam ilustrasi tersebut ?
…………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………..……………
…………………………………………………………………………………
……………………………………………………….…………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………..
3. Hidrogen adalah zat yang berupa gas. Karena hidrogen, maka balon udara bisa
terbang ke angkasa raya. Hidrogen ini adalah ciptaan Sanghyang Widdhi Wasa
karena kemahakuasaan-Nya. Sanghyang Widdhi Wasa pun bisa seperti
hidrogen bahkan lebih dari sekedar hidrogen. Jika dikaitkan dengan ajaran
Asta Aiswarya, ilustrasi tersebut menggambarkan sifat kemahakuasaan Tuhan
yang seperti apa ?
…………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………..……………
…………………………………………………………………………………
……………………………………………………….…………………………
…………………………………………………………………………………
………………………………………..
LAMPIRAN
Latihan Soal 9. Latihan Soal Asta Aiswarya.docx
13
BAB II
PARWA-PARWA DALAM MAHĀBHĀRATA
14
A. PARWA DALAM MAHABHARATA
Pada bagian ini anda akan mempelajari:
1. Pengertian Itihasa
2. Parwa-parwa dalam Mahabharata
3. Cerita perjalanan pandawa menuju surga
4. Nilai-nilai dalam kisah Mahabharata
B. Pengantar
Setelah membaca serangkaian bahan ajar dan mengerjakan sola latihan ini
diharapkan siswa dapat menjelaskan pengertian Itihasa, menyebutkan Parwa-parwa
dalam Mahabharata, meceritakan perjalanan pandawa menuju surga, serta dapat
memahami Nilai-nilai dalam kisah Mahabharata.
Kitab Mahābhārata berasal dari kata Maha berarti besar dan Bharata yang berarti
raja-raja dari dinasti Bharata. Jadi Mahābhārata adalah cerita agung dari keluarga
Bharata. Mahābhārata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab
atau sering disebut Astadasaparwa. Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa
dalam kisah Mahābhārata, yakni semenjak kisah para leluhur Pandawa dan Korawa
(Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala, Bharata) sampai kisah diterimanya
Pandawa di surga.
C. Materi
A. Pendahuluan
Itihāsa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisah-
kisah epik/kepahlawanan para Raja dan ksatria Hindu pada masa lampau dan
dibumbui oleh filsafat agama, mitologi, dan makhluk supernatural. Itihāsa berarti
“kejadian yang nyata”. Itihāsa yang terkenal ada dua, yaitu Ramayana dan
Mahābhārata.
Kitab Itihāsa disusun oleh para Rsi dan pujangga India masa lampau, seperti
misalnya Rsi Walmiki dan Rsi Vyāsa. Cerita dalam kitab Itihāsa tersebar di seluruh
daratan India sampai ke wilayah Asia Tenggara. Pada zaman kerajaan di Indonesia,
kedua kitab Itihāsa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuna dan diadaptasi sesuai
15
dengan kebudayaan lokal. Cerita dalam kitab Itihāsa diangkat menjadi pertunjukkan
wayang dan digubah menjadi kakawin.
Itīhāsa merupakan Kitab yang tergolong Smerti pada bagian Upangaweda.
Kata Itihasa berasal dari 3 bagian yaitu iti + ha + asa (iti = begini, ha = tentu, asa =
sudah terjadi) jadi kata Itihasa artinya sudah terjadi begitu. Namun dalam
perkembangan yang terjadi sampai saat ini khususnya diIndia kata Itihasa sering
dihubungkan sebagai Sejarah. Sehingga Itihasa adalah cerita berdasarkan latar sejarah
yang memasukkan nilai-nilai ajaran Weda didalamnya.
Itīhāsa sering disebut juga sebagai Wiracarita, karena cerita ini dahulu sering
diceritakan melalui tradisi mulut ke mulut. Wiracarita (Wira=Laki, Pahlawan, Berani,
Perwira; Carita=cerita) jadi Wiracarita adalah Cerita kepahlawanan. Cerita
kepahlawanan ini didasarkan pada latar sejarah para raja, Namun nilai-nilainya tetap
diambil dari Weda. Cerita ini adalah peristiwa sejarah, dan mengandung makna yang
dalam, dan mengandung ajaran yang ada pada cerita ini sama seperti ajaran suci
Weda. Karya Maharsi Wyasa hendaknya didegar terlebih bagi seorang Brahmana.
Dari kreteria yang tersebut di atas maka Itihasa atau Wiracarita merupakan
salah satu model penjelasan dari Weda yang dilatarkan pada cerita sejarah yang
terjadi. Hal tersebut didasarkan atas bukti-bukti sejarah yang menunjukan bahwa
tempat kejadian dalam Itihasa masih ada. Contohnya yaitu Kuruksetra medan perang
Pandawa dan Kurawa, Jembatan Situbanda penyebrangan Rama ke Alengka dan
masih banyak lagi yang lainnya.
Cerita dalam kitab Itihāsa tersebar di seluruh daratan India sampai ke wilayah
Asia Tenggara. Pada zaman kerajaan di Indonesia, kedua kitab Itihāsa diterjemahkan
ke dalam bahasa Jawa kuna dan diadaptasi sesuai dengan kebudayaan lokal. Cerita
dalam kitab Itihāsa diangkat menjadi pertunjukkan wayang dan digubah menjadi
kakawin maupun prosa.
Kitab Mahābhārata berasal dari kata Maha berarti besar dan Bharata yang
berarti raja-raja dari dinasti Bharata. Jadi Mahābhārata adalah cerita agung dari
keluarga Bharata.
Dalam perjalanannya Kitab Mahābhārata mengalami tiga tahap
pengembangan diantaranya :
16
· Jaya Samhita oleh Wyasa 8.800 sloka
· Bharata Samhita oleh Waisampayana 24.000 sloka
· Mahābhārata Samhita oleh Suta Ugrasrwa 100.000 sloka
Selain berisi cerita kepahlawanan (wiracarita), Mahābhārata juga
mengandung nilai-nilai Hindu, mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. Oleh sebab itu
kisah Mahābhārata ini dianggap suci, teristimewa oleh pemeluk agama Hindu. Kisah
yang semula ditulis dalam bahasa Sansekerta ini kemudian disalin dalam berbagai
bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di
Asia, termasuk di Asia Tenggara.
Di India ditemukan dua versi utama Mahābhārata yang agak berbeda satu
dengan yang lainnya. Kedua versi ini disebut dengan istilah "Versi Utara" dan "Versi
Selatan". Biasanya versi utara dianggap lebih dekat dengan versi yang tertua.
Mahābhārata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau
sering disebut Astadasaparwa. Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa
dalam kisah Mahābhārata, yakni semenjak kisah para leluhur Pandawa dan Korawa
(Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala, Bharata) sampai kisah diterimanya
Pandawa di surga.
B. Parwa-parwa dalam Kitab Mahābhārata
Berikut ini merupakan ringkasan dari delapan belas bagian (parwa) dalam
Kitab Mahābhārata adalah sebagai berikut
· Adiparwa, Kitab Adiparwa berisi berbagai cerita yang bernafaskan Hindu,
seperti misalnya kisah pemutaran Mandaragiri, kisah Bagawan Dhomya yang
menguji ketiga muridnya, kisah para leluhur Pandawa dan Korawa, kisah
kelahiran Rsi Byasa, kisah masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kisah
17
tewasnya raksasa Hidimba di tangan Bhimasena, dan kisah Arjuna mendapatkan
Dropadi.
· Sabhaparwa, Kitab Sabhaparwa berisi kisah pertemuan Pandawa dan
Korawa di sebuah balairung untuk main judi, atas rencana Duryodana. Karena
usaha licik Sangkuni, permainan dimenangkan selama dua kali oleh Korawa
sehingga sesuai perjanjian, Pandawa harus mengasingkan diri ke hutan selama 12
tahun dan setelah itu melalui masa penyamaran selama 1 tahun.
· Wanaparwa, Kitab Wanaparwa berisi kisah Pandawa selama masa 12
tahun pengasingan diri di hutan. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah
Arjuna yang bertapa di gunung Himalaya untuk memperoleh senjata sakti. Kisah
Arjuna tersebut menjadi bahan cerita Arjunawiwaha.
· Wirataparwa, Kitab Wirataparwa berisi kisah masa satu tahun
penyamaran Pandawa di Kerajaan Wirata setelah mengalami pengasingan selama
12 tahun. Yudistira menyamar sebagai ahli agama, Bhima sebagai juru masak,
Arjuna sebagai guru tari, Nakula sebagai penjinak kuda, Sahadewa sebagai
pengembala, dan Dropadi sebagai penata rias.
· Udyogaparwa, Kitab Udyogaparwa berisi kisah tentang persiapan perang
keluarga Bharata (Bharatayuddha). Kresna yang bertindak sebagai juru damai
gagal merundingkan perdamaian dengan Korawa. Pandawa dan Korawa mencari
sekutu sebanyak-banyaknya di penjuru Bharatawarsha, dan hampir seluruh
Kerajaan India Kuno terbagi menjadi dua kelompok.
· Bhismaparwa, Kitab Bhismaparwa merupakan kitab awal yang
menceritakan tentang pertempuran di Kurukshetra. Dalam beberapa bagiannya
terselip suatu percakapan suci antara Kresna dan Arjuna menjelang perang
berlangsung. Percakapan tersebut dikenal sebagai kitab Bhagavad Gītā. Dalam
kitab Bhismaparwa juga diceritakan gugurnya Resi Bhisma pada hari kesepuluh
karena usaha Arjuna yang dibantu oleh Srikandi.
· Dronaparwa, Kitab Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan
Bagawan Drona sebagai panglima perang Korawa. Drona berusaha menangkap
Yudistira, namun gagal. Drona gugur di medan perang karena dipenggal oleh
Drestadyumna ketika ia sedang tertunduk lemas mendengar kabar yang
18
menceritakan kematian anaknya, Aswatama. Dalam kitab tersebut juga
diceritakan kisah gugurnya Abimanyu dan Gatotkaca
· Karnaparwa, Kitab Karnaparwa menceritakan kisah pengangkatan
Karna sebagai panglima perang oleh Duryodana setelah gugurnya Bhisma, Drona,
dan sekutunya yang lain. Dalam kitab tersebut diceritakan gugurnya Dursasana
oleh Bhima. Salya menjadi kusir kereta Karna, kemudian terjadi pertengkaran
antara mereka. Akhirnya, Karna gugur di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati
pada hari ke-17.
· Salyaparwa, Kitab Salyaparwa berisi kisah pengangkatan Sang Salya
sebagai panglima perang Korawa pada hari ke-18. Pada hari itu juga, Salya gugur
di medan perang. Setelah ditinggal sekutu dan saudaranya, Duryodana menyesali
perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu
menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryodana terpancing untuk berkelahi
dengan Bhima. Dalam perkelahian tersebut, Duryodana gugur, tapi ia sempat
mengangkat Aswatama sebagai panglima.
· Sauptikaparwa, Kitab Sauptikaparwa berisi kisah pembalasan dendam
Aswatama kepada tentara Pandawa. Pada malam hari, ia bersama Kripa dan
Kertawarma menyusup ke dalam kemah pasukan Pandawa dan membunuh
banyak orang, kecuali para Pandawa. Setelah itu ia melarikan diri ke pertapaan
Byasa. Keesokan harinya ia disusul oleh Pandawa dan terjadi perkelahian antara
Aswatama dengan Arjuna. Byasa dan Kresna dapat menyelesaikan permasalahan
itu. Akhirnya Aswatama menyesali perbuatannya dan menjadi pertapa.
· Striparwa, Kitab Striparwa berisi kisah ratap tangis kaum wanita yang
ditinggal oleh suami mereka di medan pertempuran. Yudistira menyelenggarakan
upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air
suci kepada leluhur. Pada hari itu pula Dewi Kunti menceritakan kelahiran Karna
yang menjadi rahasia pribadinya.
· Santiparwa, Kitab Santiparwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira
karena telah membunuh saudara-saudaranya di medan pertempuran. Akhirnya ia
diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri Kresna. Mereka menjelaskan rahasia
19
dan tujuan ajaran Hindu agar Yudistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai
Raja.
· Anusasanaparwa, Kitab Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri
Yudistira kepada Resi Bhisma untuk menerima ajarannya. Bhisma mengajarkan
tentang ajaran Dharma, Artha, aturan tentang berbagai upacara, kewajiban
seorang Raja, dan sebagainya. Akhirnya, Bhisma meninggalkan dunia dengan
tenang.
· Aswamedhikaparwa, Kitab Aswamedhikaparwa berisi kisah
pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Raja Yudistira. Kitab tersebut juga
menceritakan kisah pertempuran Arjuna dengan para Raja di dunia, kisah
kelahiran Parikesit yang semula tewas dalam kandungan karena senjata sakti
Aswatama, namun dihidupkan kembali oleh Sri Kresna.
· Mosalaparwa, Kitab Mosalaparwa menceritakan kemusnahan bangsa
Wresni. Sri Kresna meninggalkan kerajaannya lalu pergi ke tengah hutan. Arjuna
mengunjungi Dwarawati dan mendapati bahwa kota tersebut telah kosong. Atas
nasihat Rsi Byasa, Pandawa dan Dropadi menempuh hidup “sanyasin” atau
mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana.
· Mahaprastanikaparwa, Kitab Mahaprastanikaparwa menceritakan kisah
perjalanan Pandawa dan Dropadi ke puncak gunung Himalaya, sementara tahta
kerajaan diserahkan kepada Parikesit, cucu Arjuna. Dalam pengembaraannya,
Dropadi dan para Pandawa (kecuali Yudistira), meninggal dalam perjalanan.
· Swargarohanaparwa, Kitab Swargarohanaparwa menceritakan kisah
Yudistira yang mencapai puncak gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai
surga oleh Dewa Indra. Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh seekor anjing yang
sangat setia. Ia menolak masuk surga jika disuruh meninggalkan anjingnya
sendirian. Si anjing menampakkan wujudnya yang sebenanrnya, yaitu Dewa
Dharma.
Demikian cerita Mahābhārata terbagi dalam 18 Parwa yang masing-
masing memiliki nilai-nilai kehidupan.
20
C. Cerita Perjalanan Pandawa ke Surga dalam Mahābhārata
Kitab Swargarohanaparwa merupakan kitab kedelapan belas dari seri
Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan akhir kisah perjalanan suci yang dilakukan
oleh Pandawa. Sesampainya di surga, Yudistira terkejut karena tidak menemukan
saudara-saudaranya melainkan mendapati bahwa Duryodana beserta sekutunya yang
jahat kecuali Karna ada di sana. Sang Dewa mengatakan bahwa mereka bisa berada di
surga karena mereka telah melakukan dharma mereka sebagai Kstaria yaitu berperang
dan gugur dalam peperangan di Kurukshetra. Lantas Yudistira menanyakan dimana
tempat para ksatria-ksatria lainnya yang berada di pihak mereka yang juga melakukan
Dharmanya dan gugur di peperangan Kurukshetra. Ia pun menyatakan bahwa Ia ingin
segera bertemu mereka.
Dewa kemudian menemani Yudistira menemui mereka. Ia melalui jalan yang
buruk, bau, berdarah, bernanah banyak mayat dan banyak yang mengalami siksaan
dirajam, ditusuk2 di rebus dalam air yang mendidih yang di iringi oleh teriakan2
kesakitan karena sengsaraan yang dialami sehingga tidak dapat lagi dikenali
ragamnya. Karena ingin tahu siapa saja mereka-mereka itu dan mengapa ada disitu ia
bertanya, ‟Siapa kalian dan mengapa ada di sini?‟. Mereka menjawab dari berbagai
tempat, „Saya Karna!‟ „Saya Bhimasena!‟ „Saya Arjuna!‟ „Saya Nakula!‟ „Saya
Sahadeva!‟ „Saya Dhrishtadyumna!‟ „Saya Draupadi!‟ „Kami anak-anak Draupadi!‟
Mendengar itu, Yudistira bertanya dalam hatinya, „Inikah akhir takdir? Apa
dosa yang dilakukan oleh mereka sehingga pantas mendapatkan ini. Apa prilaku yang
dilakukan oleh anak2 Dhristarasta dengan semua dosa yang dilakukan namun justru
mendapatkan surga, padahal semua jiwa-jiwa lurus ini melakukan semua tugasnya,
mematuhi kebenaran dan apa yang dikatakan Veda, melakukan prilaku Ksatria,
berperilaku benar, melakukan kurban, memberikan dana pada para Brahmana. Apakah
aku ini sedang bermimpi atau tidak? Apakah aku sedang tersadar atau tidak? Apakah
aku mengalami ilusi mental akibat kekacauan pikiran?‟. Kemudian ia berkata kepada
Dewa yang menemaninya, „Kembalilah ke tempatmu, aku akan menetap disini tidak di
sana‟
Belum ada sebentaran Yudistira di sana, Datanglah para Dewa dengan segala
kegemerlapannya dan mengubah tempat itu dari tempat yang penuh dengan siksaan itu
21
tiba-tiba berubah tidak ada lagi menjadi gemerlap bersinar dan dipenuhi dengan
kebahagian kegemerlapan pula. Indra kemudian berkata pada Yudistira, „Kemarilah,
Hai manusianya manusia, ilusi ini berakhir sudah, engkau berhasil melewatinya,
dengarlah, bahwa kebaikan dan kejahatan itu melimpah. Ia yang akan menikmati surga
akan mengalami buah nerakanya terlebih dahulu dan sebaliknya sebaliknya Ia yang
akan ditempatkan di Neraka menikmati buah Surganya terlebih dahulu. Itu pula yang
terjadi padamu Oh Yudistira, sebagai hukuman ketiak engkau juga ikut menipu Drona
mengatakan bahwa anaknya meninggal di pertempuran Kurukshetra sebagai
konsekuensi dari tipuan itu engkau pun diperlihatkan keadaan neraka atas kerabatmu
dan surga atas lawan2mu di bumi, penderitaan itu telah kau lalui walaupun sebentar
saja sebagai balasan atas tipuan yang engkau lakukan. Bima, arjuna dan yang lainnya
mengalami keadaan yang diterima akibat perbuatan mereka dan telah dibersihkan pula
dosa-dosanya dan telah berada di Surga saat ini.
Ternyata itu juga merupakan test dari Dewa Dharma kepaa Yudistira, yaitu
ketika di danau dan diberikan beberapa pertanyaan oleh Yaksa dan diminta untuk
menghidupkan salah satu dari 4 saudara2nya dan Ia berhasil menjawab pertanyaan
Yaksa dan meminta agar Nakula yang di hidupkan, Kemudian yang kedua saat
bersama Anjing menuju surga dan yang ketiga ketika lebih memilih neraka dari pada
Surga dan tidak meninggalkan saudara2nya yang mengalami siksaan.
Kemudian para Dewa, leluhur, Brahmana mandi bersama mensucikan diri di
sungai yang ada di surga yaitu Gangga dan menuju surga melihat semua pahlawan2
suci disana, diantarannya Govinda (krishna) dengan rupa Brahmanya, karna dengan
gemerlap sinar Dewa Surya, Bima bersanding bersama Vayu, Nakula sadewa denan
Aswin dengan segala kegemerlapannya, Droupadi dengan kegemerlapannya, anak-
anaknya yang merupakan penjelmaan Gandharva kembali kewujudnya dengan
kegermerlapannya, Dhritarashtra, raja para Gandharvas, Satyaki, anak Subadra
bersama Soma, Pandu, bersatu dengan Kunti dan Madri, Bhishma ditengah-tengan
para Wasu, Drona dan semua yang berperang telah menerima jasanya
Janamejaya (anak dari Parikesit) yang diceritakan kisah Mahābhārata ini
bertanya, “Bhishma, Drona, Dhritarashtra, Drupada, Uttara, anak2 Duryodhana,
22
Sakuni, anak-anak Karna, Jayadratha, Ghatotkaca and semua yang belum disebut
berapa lama mereka ada di Surga?”
Vaishampayana berkata, “Bhishma mencapai status Vasu, Drona kembali ke
Brihaspati, Kritavarma kembali ke Maruts. Pradyumna kembali ke Sanatkumara.
Dhritarashtra, Gandari kembali kepenguasa harta. Pandu, Kunti dan Madri di
kediaman Indra. Wirata, Drupada, Raja Dhrishtaketu, Nishatha, Akrura, Samva,
Bhanukampa, Viduratha, Bhurishrava, Sala king Bhuri, Kansa, Ugrasena, Vasudeva
(ayah Krishna), Uttara, Sankha kembali menjadi dewas. Anak Soma, Varchas yang
menjadi Abhimanyu kembali pada Soma. Karna kembali ke Surya. Shakuni kembali
ke Dwapara, Dhrishtadyumna kembali ke Agni. Anak-anak Dhritarashtra yang
semuanya Rakshasa memperoleh Surga. Yudhishthira kembali ke Dewa Dharma,
Baladewa kembali ke Ananta (Naga) kembali ke bawah Bumi menjaga Bumi. Krishna
merupakan percikan dari Narayana yang Abadi kembali pada Narayana. 16,000
istrinya nanti pada saatnya kembali ke Saraswati menjadi para bidadari. Ghatotkaca
dan lainnya yang berasal dari Yakshas, Indra, varuna, Kuwera.
Sauti berkata „Kisah ini merupakan Sejarah yang kemudian dinamakan
Mahābhārata. Vyasa membuat kompilasi kisah ini sebanyak 3.000.000 di letakan di
lingkungan para Deva, 1/2nya dilingkungan para Leluhur, di lingkungan para Yaksha
1.400.000 kompilasi, 1.000.000 di lingkungan para manusia. Narada menceritakan
Mahābhārata pada para Dewa, Asita-Devala kepada para Leluhur, Suka kepada para
Rakshasa, Yaksha, Dan Vaishampayana kepada para manusia.
D. Nilai Nilai yang Terkandung Dalam Kisah Mahābhārata
Nilai-nilai yang terkandung di dalam Kitab Mahābhārata secara umum dapat
dijabarkan sebagai berikut:
· Nilai Dharma / Kebenaran Hakiki
Inti pokok cerita Mahābhārata adalah konflik (perang) antara saudara sepupu
(Pandawa melawan seratus Korawa) keturunan Bharata. Oleh karena itu Mahābhārata
disebut juga Maha-bharatayuddha. Konflik antara Dharma (kebenaran/kebajikan) yang
diperankan oeh Pañca Pandawa) dengan Adharma (kejahatan/kebatilan ) yang
diperankan oleh Seratus Korawa.
23
Dharma merupakan kebajikan tertinggi yang senantiasa diketengahkan dalam
cerita Mahābhārata. Dalam setiap gerak tokoh Pandawa lima, dharma senantiasa
menemaninya. Setiap hal yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan,
menyenangkan hati diri sendiri, sesama manusia maupun mahluk lain, inilah yang
pertama dan utama Kebenaran itu sama dengan sebatang pohon subur yang
menghasilkan buah yang semakin lama semakin banyak jika kita terus memupuknya.
Pañca Pandawa dalam menegakkan dharma, pada setiap langkahnya selalu
mendapat ujian berat, memuncak pada perang Bharatayuddha. Bagi siapa saja yang
berlindung pada Dharma, Tuhan akan melindunginya dan memberikan kemenangan
serta kebahagiaan. Sebagaimana yang dilakukan oleh pandawa lima, berlindung di
bawah kaki Krsna sebagai awatara Tuhan. " Satyam ewa jayate " (hanya kebenaran
yang menang).
· Nilai Kesetiaan / Satya
Cerita Mahābhārata mengandung lima nilai kesetiaan (satya) yang diwakili
oleh Yudhistira sulung pandawa. Kelima nilai kesetiaan itu adalah : Pertama, satya
wacana artinya setia atau jujur dalam berkata-kata, tidak berdusta, tidak mengucapkan
kata-kata yang tidak sopan. Kedua, satya hredaya, artinya setia akan kata hati,
berpendirian teguh dan tak terombang-ambing, dalam menegakkan kebenaran. Ketiga,
satya laksana, artinya setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa
yang pernah diperbuat. Keempat, satya mitra, artinya setia kepada teman/sahabat.
Kelima, satya semaya, artinya setia kepada janji. Nilai kesetiaan/satya sesungguhnya
merupakan media penyucian pikiran. Orang yang sering tidak jujur kecerdasannya
diracuni oleh virus ketidakjujuran. Ketidakjujuran menyebabkan pikiran lemah dan
dapat diombang-ambing oleh gerakan Pañca indria. Orang yang tidak jujur sulit
mendapat kepercayaan dari lingkungannya dan Tuhan pun tidak merestui.
· Nilai Pendidikan
Sistem Pendidikan yang di terapkan dalam cerita Mahābhārata lebih
menekankan pada penguasaan satu bidang keilmuan yang disesuaikan dengan minat
dan bakat siswa. Artinya seorang guru dituntut memiliki kepekaan untuk mengetahui
24
bakat dan kemampuan masing-masing siswanya. Sistem ini diterapkan oleh Guru
Drona, Bima yang memiliki tubuh kekar dan kuat bidang keahliannya memainkan
senjata gada, Arjuna mempunyai bakat di bidang senjata panah, dididik menjadi ahli
panah.Untuk menjadi seorang ahli dan mumpuni di bidangnya masing-masing, maka
faktor disiplin dan kerja keras menjadi kata kunci dalam proses belajar mengajar.
· Nilai Yajna / Korban Suci dan Keiklasan
Bermacam-macam yajna dijelaskan dalam cerita Mahaharata, ada yajna
berbentuk benda, yajna dengan tapa, yoga, yajna mempelajari kitab suci ,yajna ilmu
pengetahuan, yajna untuk kebahagiaan orang tua. Korban suci dan keiklasan yang
dilakukan oleh seseorang dengan maksud tidak mementingkan diri sendiri dan
menggalang kebahagiaan bersama adalah pelaksanaan ajaran dharma yang tertinggi
(yajnam sanatanam).
Kegiatan upacara agama dan dharma sadhana lainnya sesungguhnya adalah
usaha peningkatan kesucian diri. Kitab Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan:
।॥
adbhirgātrāṇi śudhyanti manaḥ satyena śudhyati | vidyātapobhyāṁ bhūtātmā
buddhirjñānena śudhyati ||
Terjemahan:
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kejujuran (satya), atma
disucikan dengan tapa brata, budhi disucikan dengan ilmu pengetahuan (spiritual).
Nilai-nilai ajaran dalam cerita Mahābhārata kiranya masih relevan digunakan
sebagai pedoman untuk menuntun hidup menuju ke jalan yang sesuai dengan Veda.
Oleh karena itu mempelajari kita suci Veda, terlebih dahulu harus memahami dan
menguasai Itihasa dan Purana (Mahābhārata dan Ramayana), seperti yang disebutkan
dalam kitab Sarasamuscaya sloka 39 sebagai berikut:
। च॥
itihāsapurānābhyām wedam samupabṛmhayet,
bibhetyalpaśrutādwedo māmayam pracarisyati.
Terjemahan:
25
Weda hendaknya dipelajari dengan Itihāśa dan Purāṇa. Weda adalah merasa takut
akan orang-orang yang sedikit pengetahuannya. Ia akan membenturkan aku.
Ndān Sang Hyang Weda, paripūrnakena sira, makasādhana sang hyang itihāsa,
sang hyang purāna, apan atakut, sang hyang weda ring akêdik ajinya, ling nira,
kamung hyang, haywa tiki umarā ri kami, ling nira mangkana rakwa atakut.
Terjemahan:
Weda itu hendaklah dipelajari dengan sempurna dengan jalan mempelajari Itihasa
dan Purana, sebab Weda itu merasa takut akan orang-orang yang sedikit
pengetahuannya, sabdanya “wahai tuan-tuan, janganlah tuan-tuan datang
kepadaku”, demikian konon sabdanya, karena takut.
EVALUASI
II. Isilah pertanyaan garis-garis dibawah ini dengan jawaban tepat!
1. Kitab Mahābhārata termasuk dalam bagian __________ dalam Upaweda.
2. Kitab Mahābhārata berisi lebih dari _______________ sloka
3. Ada __________________ parwa dalam kitab Mahābhārata
4. Kitab Mahābhārata ditulis oleh __________________
5.__________________ merupakan parwa yang menceritakan asal usul dan
sejarah keturunan keluarga Kurawa dan Pandawa
6. Parwa yang menggambarkan pertempuran yang dipimpin oleh Bhisma adalah
__________________
7. Nama ibu dari para Kurawa adalah __________________
8.Gelar raja Yudhistira setelah melaksanakan Asmaweda __________________
9.Setia pada ucapan seperti yang dilakukan raja Yudistira dinamakan
__________________
10. Nama lain dari Bhisma adalah _______________
26
BAB III
BUDAYA HIDUP SEHAT MENURUT WEDA
27
BUDAYA HIDUP SEHAT MENURUT WEDA
A. Pengertian Budaya Hidup Bersih
Bila manusia (bhuwana alit) ingin hidup bersih dan sehat maka manusia juga
mempunyai kewajiban memelihara Bhuwana Agung bersih dan sehat, sebab jika
Bhuwana Agung tidak bersih dan tidak sehat mustahillah manusia bisa hidup bersih
dan sehat. Dalam ajaran catur marga tentang Bhakti Marga disebutkan bahwa wujud
kecintaan seorang bhakta kepada Hyang Widhi tercermin juga pada cinta dan kasih
sayangnya kepada semua ciptaan-Nya, termasuk alam semesta.
च ।च ॥
pratyagniṁ pratisūryaṁ ca pratisomodakadvijam | pratigan prativātaṁ ca prajñā
naśyati mehataḥ || (Manawa Dharma Sastra 4.52)
Terjemahan:
Kecerdasan seseorang akan sirna jika ia kencing menghadapi api, matahari, bulan,
dalam air sungai, menghadapi Brahmana, sapi atau arah angin.
।॥
nāpsu mūtraṁ purīṣaṁ vā ṣṭhīvanaṁ vā samutsṛjet | amedhyaliptamanyad vā
lohitaṁ vā viṣāṇi vā ||
Terjemahan:
Hendaknya ia jangan kencing atau berak dalam air sungai, danau, laut, tidak pula
meludah, juga tidak boleh berkata-kata kotor, tidak pula melemparkan sampah,
darah, atau sesuatu yang berbisa atau beracun.
Kaidah dan etika agama Hindu yang berhubungan dengan kesehatan pola
hidup bersih dan sehat pada aspek skala dapat digambarkan sebagai kebersihan dan
kesehatan diri (fisik) serta kebersihan dan kesehatan lingkungan. Kebersihan dan
kesehatan diri perlu dijaga karena dengan badan (sarira) yang bersih dan sehat
manusia dapat melaksanakan catur purusha artha, yaitu: dharma, artha, kama, dan
moksa.
।॥
28
tasmāt sarwātmanā kāryā rakṣā yogawidā sadā | dharmārthakāmamokṣāṇaṁ
śarīraṁ sādhanaṁ yataḥ || (Brahma Purana 235.12)
Terjemahan:
Dari situlah semua pengetahuannya tentang yoga dijaga dengan segenap jiwanya.
Dan hendaknya badannya digunakan sebagai sadhana untuk mencapai dharma,
artha, kama, dan moksa.
Menjaga kebersihan, kesehatan dan kesucian badan dalam ajaran Yoga Sutra
Patanjali disebut sebagai sauca. Sauca artinya suci lahir bathin melalui kebersihan dan
kesehatan badan serta kesucian bathin. Oleh karena kebersihan pangkal kesehatan,
maka kesehatan badan dapat mempengaruhi kesucian jiwa. Demikian pula kesucian
jiwa dapat mempengaruhi kesehatan jasmani. Badan dalam Kitab Wrehaspati Tattwa
disebut sebagai stula sarira terdiri dari unsur-unsur Pañca mahabutha, yaitu pertiwi,
apah, bayu, teja, dan akasa. Kesehatan dicapai bila keseimbangan kelima unsur itu
terjaga dengan pengaturan komposisi Tri Guna, yaitu Satwam, Rajas, dan Tamas.
Satwam menyangkut perilaku yang tenang, Rajas menyangkut aktivitas badan yang
sesuai dengan kemampuan fisik dan Tamas menyangkut perlunya memberi waktu
yang cukup untuk beristirahat/ bersantai/ berrekreasi.
Upaya menjaga kesehatan atau keseimbangan Pañca mahabutha dalam tubuh
menurut Ayur Weda dilakukan dengan tiga hal, yaitu:
Pertama, dengan menjaga makanan (Ahara). Tidak sembarang makanan baik
untuk kesehatan. Makanan yang baik dan bermanfaat untuk badan disebut sebagai
Satvika Ahara.
।॥
ayuhsattvabalarogya sukhapritivivardhanah, rasyah snigdhah sthira hridya
aharah sattvikapriyah.
Bhagawadgita 17.8
Makanan yang memberi hidup, kekuatan, tenaga, kesehatan, kebahagiaan dan
kegembiraan yang terasa lezat, lembut, menyegarkan dan enak sangat disukai
(sattvika).
29
।॥
katvamlalavanatyushna tikshnarukshavidahinah, ahara rajasasye shta
duhkhasokamayapradah.
Bhagawadgita 17.9
Makanan yang pahit (bukan obat), masam, asin, pedas, banyak rempah, keras, dan
hangus yang menyebabkan kesusahan, kesedihan dan penyakit.
च। च ॥
yatayamam gatarasam puti paryushitam cha yat, uchchhistam api cha medhyam
hhojanam tamasapriyam.
Bhagawadgita 17.10
Makanan yang usang, hilang rasa, busuk, berbau, bekas/ sisa-sisa dan tidak bersih
adalah makanan yang sangat buruk.
Disimpulkan makanan yang baik adalah makanan yang berguna untuk:
a) memperpanjang hidup (ayuh);
b) mensucikan atma (satvika);
c) memberi kekuatan fisik (bala);
d) menjaga kesehatan (arogya);
e) memberi rasa bahagia (sukha);
f) memuaskan (priti);
g) meningkatkan status kehidupan (vivar dhanah).
Makanan baik tersebut harus: mengandung sari (rasyah); sedikit lemak (snigdhah);
tahan lama (sthitah); menyenangkan (hrdyah); tidak merusak ingatan atau mabuk
(amada).
Kedua, dengan Vihara, yaitu berperilaku wajar, misalnya tidak bergadang,
terlambat makan (kecuali sedang upawasa), menahan hajat buang air, berdekatan
dengan orang yang berpenyakit menular, tidur berlebihan, dan menghibur diri
berlebihan. Ketiga: dengan Ausada, yaitu secara teratur minum jamu yang terbuat dari
tumbuh-tumbuhan. Selain itu, badan juga perlu dirawat dengan keseimbangan gerak
30
dan peredaran tenaga (prana) ke seluruh tubuh antara lain dengan berolah raga, atau
dalam agama Hindu dengan melakukan Yoga Asana dan Pranayama secara rutin
setiap hari. Kebersihan dan kesehatan lingkungan perlu dijaga karena berkaitan erat
dengan kebersihan dan kesehatan manusia.
Dalam Sarasamuscaya disebutkan bahwa hakekat penjelmaan sebagai
manusia adalah untuk meningkatkan/ menyempurnakan diri dari perbuatan buruk
(asuba karma) menjadi perbuatan baik (subha karma).
।॥
mānusaḥ sarwabhūteśu warttate wai śubhāśubhe, aśubheśu samawiśṭam
śubheswewāwakārayet.
Sarasamuscaya 2
Dari semua makhluk hidup manusia sajalah, dapat melaksanakan perbuatan baik
ataupun buruk; leburlah segala perbuatan yang buruk dalam perbuatan baik.
।॥
iyam hiyoniḥ prathamā yoniḥ prāpya jagatīpate || ātmānam śakyate trātum
karmabhih śubhalakśaṇaiḥ ||
Sarasamuscaya 4
Kelahiran ini penting sekali, oh raja. Setelah mendapatkan kelahiran itu seseorang
dapat menyelamatkan dirinya dengan perbuatan-perbuatan baik.
Salah satu aplikasi dan perbuatan baik (subha karma) secara etimologi
adalah Tri Kaya Parisudha (bahasa Sanskerta) dari kata Tri berarti tiga, Kaya berarti
perbuatan/perilaku dan Parisudha berarti (amat) disucikan. Adapun rinciannya
(Tri Kaya Parisudha) terdiri dari:
a. Manacika yaitu berpikir yang bersih dan suci
b. Wacika yaitu berkata yang baik, sopan dan benar
c. Kayika yaitu berperilaku/berbuat yang jujur, baik dan benar.
Hidup sehat menurut kitab suci Veda dapat terwujud apabila Tri Kaya
Parisudha dapat dilaksanakan dengan baik dan benar pada kehidupan sehari hari.
31
Beberapa cendekiawan Hindu berpendapat bahwa membersihkan tubuh,
pikiran, jiwa (atman) dan akal (budi) dilaksanakan bersama-sama, seperti yang
disebutkan dalam salah satu sloka berikut:
।॥
adbhirgātrāṇi śudhyanti manaḥ satyena śudhyati | vidyātapobhyāṁ bhūtātmā
buddhirjñānena śudhyati ||
Manawa Dharmasastra 5.109
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran,
jiwa (atman) dibersihkan dengan ilmu, dan akal (budi) dibersihkan dengan
kebijaksanaan.
Pola Hidup Bersih dan Sehat pada aspek niskala dapat digambarkan sebagai
kesucian atman (jiwa/rohani), pikiran dan akal (budi) yang diperoleh dari
upaya yang terus menerus mempelajari dan melaksanakan ajaran-ajaran Agama
Hindu dalam kehidupan sehari- hari (kehidupan spiritual), dengan menekankan pada
keyakinan yang kuat adanya Hyang Widhi.
Dalam upaya menjaga kesehatan ada 3 (tiga) hal yang wajib dikelola dengan
sebaik-baiknya sebagaimana dijelaskan dalam kitab Yajurveda antara lain:
1. Ahara yaitu menjaga makanan
2. Wihara yaitu gaya hidup yang harus diperhatikan
3. Ausadha yaitu menjaga kesehatan dengan sebaik- baiknya.
Jika semua itu dilakukan dengan penuh disiplin, hidup sehat dan
sejahtera nicaya dapat diwujudkan.
phalaning Sang Hyang Weda inaji kinawruhaning ayuning sila muang acara"
Sarasamuscaya 777
Artinya:
Tujuan mempelajari Weda adalah untuk mendapatkan pengetahuan guna
memperbaiki (ayuning) Perilaku (sila) dan berbagai kebiasaan hidup (acara),
Weda bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan melainkan juga
mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
32
B. Pengertian Budaya Hidup Sehat Menurut Kitab Suci Veda
Budaya berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan
bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan
dengan budi, dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture,
berasal dari kata Latin Colere yaitu mengolah atau mengerjakan diartikan juga sebagai
mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur"
dalam bahasa Indonesia
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh
manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang
bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,
religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam
melangsungkan kehidupan bermasyarakat
Perilaku yang baik dan benar dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan
disebut dengan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Hidup sehat dalam
pandangan agama Hindu dapat diwujudkan dengan adanya kesatuan yang harmonis
antara manusia dengan alam lingkungan (palemahan), manusia dengan manusia
lainnya (pawongan), dan manusia dengan sang Pencipta (Parahyangan) sesuai dengan
Pedoman Tri Hita Karana. Dengan menerapkan Tri Hita Karana diharapkan
manusia dapat mencapai kesehatan jasmani, rohani, sosial, spiritual dan menjaga dan
memelihara kesehatan lingkungan.
Walaupun banyak pedoman terkait kesehatan terdapat dalam kitab-kitab
suci agama Hindu, namun masalah kesehatan umat Hindu umumnya cukup komplek,
menyangkut pengetahuan, sikap dan perilaku. Derajat kesehatan senantiasa harus
ditingkatkan atau dipromosikan sehingga kita terhindar dari penyakit, oleh karena
mencegah lebih baik dari pada mengobati penyakit.
PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran
sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga atau masyarakat
mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) dibidang keseharan dan berperan aktif
dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. PHBS dikembangkan di tatanan
Rumah Tangga, Institusi Pendidikan, Tempat Umum dan Sarana Kesehatan.
33
PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran
sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang
kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS
itu jumlahnya banyak sekali, bisa ratusan. Misalnya tentang Gizi: makan beraneka
ragam makanan, minum Tablet Tambah Darah, mengkonsumsi garam beryodium,
memberi bayi dan balita Kapsul Vitamin A. Tentang kesehatan lingkungan seperti
membuang sampah pada tempatnya, membersihkan lingkungan. Setiap rumah tangga
dianjurkan untuk melaksanakan semua perilaku kesehatan.
C. Bagian-Bagian Budaya Hidup Sehat Dalam Kehidupan Sehari-Hari
1. Budaya Hidup Sehat Di Rumah
Budaya Hidup Sehat di Rumah adalah perilaku untuk memberdayakan
anggota dalam rumah tangga agar sadar, mau dan mampu mempraktikkan PHBS
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, mencegah resiko terjadinya
penyakit dan melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam
gerakan kesehatan masyarakat.
Mengapa perlu Budaya Hidup Sehat di Rumah karena modal utama
pembangunan di masa depan yang perlu dijaga, ditingkakan dan dilindungi
kesehatannya berawal dari rumah. Berapa anggota rumah tangga mempunyai masa
rawan terkena gangguan berbagai penyakit. Angka kesakitan dan kematian penyakit
infeksi dan non infeksi dapat dicegah dengan PHBS. Tujuan Budaya Hidup Sehat Di
Rumah adalah meningkatnya pengetahuan, kemauan dan kemampuan anggota rumah
tangga untuk melaksanakan PHBS. Berperan aktif dalam gerakan PHBS di
masyarakat.
Pelaku PHBS di rumah tangga yaitu petugas kesehatan, petugas lintas sektor,
tokoh masyarakat dan kader kesehatan. Sasaran PHBS di rumah tangga yaitu seluruh
anggota keluarga (Ibu, bapak, anak, nenek, dll)
2. Budaya Hidup Sehat Di Sekolah
Budaya Hidup Sehat di Sekolah merupakan perilaku untuk memberdayakan
anggota dalam sekolah yang diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup
34
sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar,
tumbuh dan berkembang secara harmonis dan setinggi-tingginya sehingga diharapkan
dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Sesuai Dalam UU Nomor 36
Tahun 2009 pasal 79 tentang ”Kesehatan Sekolah”
Memperkenalkan dunia kesehatan pada anak-anak di sekolah, seyogyanya
tidak terlalu susah karena pada umumnya tiap sekolah sudah memiliki Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS). UKS adalah usaha untuk membina dan mengembangkan
kebiasaan serta perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan
secara menyeluruh dan terpadu. Dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan
dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan
sehat serta derajat kesehatan peserta didik dan menyiptakan lingkungan yang sehat,
sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal
dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
Budaya Hidup Sehat di Sekolah mengarah pada praktik perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) di sekolah. Karena terdiri dari sekumpulan perilaku yang
dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar
kesadaran sebagai hasil pembelajaran. Sehingga secara mandiri mampu mencegah
penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan
lingkungan sehat.
Pelaku PHBS di Sekolah yaitu petugas kesehatan, petugas lintas sektor, tokoh
masyarakat dan kader kesehatan. Sasaran PHBS di Sekolah yaitu seluruh anggota
Sekolah (Kepala Sekolah guru, staf TU, siswa, petugas kantin)
Usaha Kesehatan Sekolah disingkat UKS adalah program pemerintah untuk
meningkatkan pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dan pembinaan lingkungan
sekolah sehat atau kemampuan hidup sehat bagi warga sekolah. Melalui Program UKS
diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik yang
harmonis dan optimal, agar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.
3. Budaya Hidup Sehat Di Tempat Beribadah
Budaya Hidup Sehat Di Tempat Beribadah (pura) adalah upaya untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku umat Hindu dalam melaksanakan
35
PHBS dan terciptanya lingkungan Pura yang bersih dan sehat melalui
pemberdayaan umat
Pura adalah tempat ibadah umat Hindu. Selain sebagai sarana Ibadah, Pura
juga sebagai pusat berbagai kegiatan umat Hindu seperti bidang pendidikan, seni
budaya, sosial kemasyarakatan, persembahyangan serta tempat untuk sosialisasi
berbagai informasi baik dari tokoh masyarakat, tokoh agama, dan institusi
Pemerintah. Oleh karena itu Pura sangat strategis dipergunakan sebagai tempat/
rumah perubahan perilaku untuk menuju PHBS. Pelaku PHBS di Pura yaitu petugas
kesehatan, pengelola pura, pandita/pinandita, umat Hindu pada umumnya serta
pengunjung pura. Sasaran PHBS di pura yaitu pengelola pura, pandita/pinandita, umat
Hindu pada umumnya serta pengunjung pura
Pura adalah tempat yang efektif dan efisien untuk memberikan informasi-
informasi kesehatan, karena Pura adalah tempat ibadah umat Hindu, di mana
Pura juga merupakan tempat berkumpulnya umat dalam rangka beribadah juga
dalam rangka mendapatkan informasi-informasi penting dari Tokoh-tokoh
masyarakat yang dipercaya dan disegani. Slogan yang tepat untuk diingat dan
diterapkan "Mulailah ber-PHBS di Pura".
Komponen Sarana dan Prasarana Pura Sehat itu
· Tempat cuci tangan dengan air mengalir dan sabun cuci tangan;
· Jamban yang bersih dan tersedia air bersih dan sabun
· Tempat sampah tertutup dan ada sarana pemilahan sampah
· Tempat/wadah tirta yang bersih dan tertutup
· Alat pemercik tirta khusus (dari alang-alang)
· Mading atau pojok informasi.
· Sarana perpustakaan (Taman bacaan) terkait kesehatan
· Lingkungan yang hijau, bersih, sehat dan asri
· Kantin/dapur harus bersih dan sehat dengan makanan bersih, sehat dan
memperhatikan kaidah gizi seimbang.
36
4. Budaya Hidup Sehat Di Tempat Umum
Budaya Hidup Sehat Di Tempat Umum di Tempat-tempat umum adalah
upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung dan pengelola tempat-tempat
umum agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan PHBS dan berperan aktif
dalam mewujudkan tempat-tempat Umum Sehat.
Tempat-tempat Umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh
pemerintah/swasta, atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat
seperti sarana pariwisata, transportasi, sarana ibadah, sarana perdagangan dan
olahraga, rekreasi dan sarana sosial lainnya.
Pelaku PHBS Tempat Umum yaitu petugas kesehatan, petugas lintas sektor,
tokoh masyarakat dan kader kesehatan. Sasaran PHBS di Sekolah yaitu seluruh
anggota masyarakat
5. Pengertian Budaya Hidup Sehat Di Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit)
Budaya Hidup Sehat Di Rumah sakit merupakan upaya untuk
memberdayakan pasien, masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan
mampu untuk mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan fasilitas
pelayanan kesehatan yang sehat dan mencegah penularan penyakit di fasilitas
pelayanan kesehatan.
Terjadinya infeksi oleh bakteri atau virus yang ada di fasilitas pelayanan
kesehatan, penularan penyakit dari penderita yang dirawat di fasilitas pelayanan
kesehatan kepada penderita lain atau petugas di fasilitas pelayanan kesehatan ini
disebut dengan infeksi rumah sakit.
Infeksi rumah sakit dapat terjadi karena kurangnya kebersihan fasilitas
pelayanan kesehatan atau kurang higienis atau tenaga kesehatan yang melakukan
prosedur medis tertentu kurang terampil. Penularan penyakit juga dapat terjadi karena
tidak memadainya fasilitas sanitasi seperti ketersediaan air bersih, jamban dan
pengelolaan limbah. Tujuan PHBS di fasilitas pelayanan kesehatan yaitu untuk
membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, mencegah terjadinya penularan
penyakit, menciptakan lingkungan yang sehat.
37
Pelaku PHBS Di Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit) yaitu petugas
kesehatan, Karyawan pengelola kesehatan, Pasien, Keluarga pasien, Pengunjung.
Sasaran PHBS di Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit) yaitu petugas kesehatan,
Karyawan pengelola kesehatan, Pasien, Keluarga pasien, Pengunjung
D. Contoh-Contoh Budaya Hidup Sehat Dalam Kehidupan
Menerapkan budaya hidup sehat secara harus terus menerus maka akan
menjadi suatu kebiasaan, sehingga kita mampu memelihara kesehatan dan terhindar
dari penyakit. budaya hidup sehat sangat penting disosialisasikan, disebarluaskan dan
diterapkan di mana berkumpul banyak orang.
1. Contoh Contoh Perilaku Hidup Sehat Di Rumah
· Pertongan persalinan oleh tenaga kesehatan
· Balita diberikan ASI
· Mempunyai Jaminan Pemeliharaan Kesekatan
· Tidak Merokok
· Lakukan aktivitas fisik setiap hari
· Makanlah dengan gizi seimbang (makan sayur dan buah setiap hari)
· Tersedia air bersih
· Tersedia jamban
· Kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni
· Lantai rumah bukan dari tanah
.
2. Contoh Contoh Perilaku Hidup Sehat Sekolah
· Menyuci tangan dengan air yang mengalir dan memakai sabun.
· Mengonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah.
· Menggunakan jamban yang bersih dan sehat.
· Olahraga yang teratur dan terukur.
· Memberantas jentik nyamuk.
· Tidak merokok di sekolah
· Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan.
· Membuang sampah pada tempatnya
38
3. Contoh Contoh Perilaku Hidup Sehat Tempat Beribadah
· Mengenakan pakaian yang bersih, rapi dan sopan;
· Mencuci tangan dengan sabun pada air bersih yang mengalir;
· Menggunakan jamban dan kebersihannya terpelihara;
· Membuang sampah pada tempatnya sesuai jenis sampah;
· Tidak merokok di areal pura;
· Tidak meludah sembarangan;
· Memberantas jentik dan sarang nyamuk;
· Pengelolaan Pura yang bersih, rapi dan asri (ada penghijauan) serta
menjaga kebersihan lingkungan, sarana dan prasarana Pura;
· Mencegah hewan peliharaan berkeliaran di lingkungan Pura;
· Menggunakan air bersih;
· Penyiapan dan penyimpanan tirta menggunakan air bersih dalam
wadah tertutup dan memercikan tirta dengan menggunakan alat pemercik
tirta /bunga yang bersih;
· Persembahan/Penyediaan sesajen yang bersih dan segar;
· Diupayakan agar Pandita dan Pinandita menjaga kebersihan diri
melakukan pemeriksaan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan secara
berkala/ sewaktu-waktu bila diperlukan;
· Diupayakan agar Pandita dan Pinandita memiliki JPK (Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan);
· Mengkonsumsi makanan/jajanan bersih, sehat dikantin pura;
· Menyampaikan pesan-pesan Kesehatan khususnya PHBS pada berbagai
kesempatan misalnya Dharma Wacana, Pertemuan Warga, Sosial, Arisan
dll;
· Berpedoman hidup pada ajaran Weda terkait PHBS.
4. Contoh Contoh Perilaku Hidup Sehat Tempat Umum
· Menggunakan air bersih
· Menggunakan jamban
· Membuang sampah pada tempatnya
39
· Tidak merokok di tempat umum
· Tidak meludah sembarangan
· Memberantas jentik nyamuk
5. Contoh Contoh Perilaku Hidup Sehat Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Rumah
Sakit)
· Mencuci tangan pakai sabun (hand rub/hand wash)
· Penggunaan air bersihpenggunaan jamban sehat
· Membuang sampah pada tempatnya
· Larangan merokok
· Tidak meludah sembarangan
· Pemberantasan jentik nyamuk
E. Manfaat Hidup Sehat Dalam Kehidupan
· Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit.
· Anak tumbuh sehat dan cerdas.
· Anggota keluarga dapat meningkatkan produktifitas kerja karena dengan
terpeliharanya kesehatan rumah tangga, biaya yang tadinya dialokasikan
untuk kesehatan dapat ialihkan untuk biaya investasi, pendidikan dan usaha
lain yang dapat menunjang kesejahteraan anggota rumah tangga
· Memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan sehat,
· Terhindar dari penularan penyakit
· Mempercepat proses penyembuhan penyakit bagi pasien penderita sakit
· Meningkatkan citra fasilitas pelayanan kesehatan yang baik sebagai
tempat untuk memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan kesehatan
bagi masyarakat
EVALUASI
II. Isilah pertanyaan garis-garis dibawah ini dengan jawaban tepat!
1. Budaya berasal dari bahasa sansekerta akar kata buddhayah artinya
(1)__________
40
2. Pola Hidup Bersih dan Sehat dikenal dengan istilah (2)___________
3. Budaya Hidup Sehat termasuk perbuatan (3) _____________
4. Budaya hidup sehat dalam Hindu banyak dikupas dalam kitab
(4)__________________
5. Menurut Weda, sebaiknya kita minum air (5)______________ makan.
6. Demam berdarah disebabkan oleh (6)__________________ akibat dari
(7)__________________
7. Makanan yang bersih sehat dan bergizi disebut bersifat
(8)__________________
8. Makanan yang bersifat basi disebut bersifat (9)__________________
9. Waktu sattwam untuk pemujaan adalah (10)__________________
41
BAB IV
PAÑCA YAMA DAN NIYAMA BRATA
42
PANCA YAMA DAN NIYAMA BRATA
PENGANTAR
Setelah membaca serangkaian bahan ajar dan mengerjakan soal latihan ini diharapkan
siswa dapat menjelaskan :
Pengertian Pañca Yama dan Nyama Brata
Bagian-bagian Pañca Yama dan Nyama Brata
Perilaku Pañca Yama dan Nyama Brata
Penerapan ajaran Pañca Yama dan Nyama Brata untuk membentuk karakter
MATERI
A. Pengertian Pañca Yama dan Nyama
Pañca Yama Brata terdiri dari kata Pañca yang artinya lima dan Yama artinya
pengendalian diri, serta brata atau vrata artinya keinginan ataukemauan. Untuk itu,
pemahaman Pañca Yama brata adalah lima macam cara mengendalikan diri secara
lahir dari perbuatan yang melanggar susila.
Pañca nyama brata menurut Oka (2009:69), artinya lima pengendalian diri
yang bersifat batiniah. Tujuan Pañca Yama dan nyama bratauntuk membina atau
mengembangkan sifat-sifat bakti kepada Tuhan melalui pengendalian kemauan, dan
melakukan pantangan-pantangan menurut ajaran Agama Hindu. Sumber ajaran Pañca
Yama dan nyama bratatertuang dalam Kitab Wrhaspati Tattwa, sloka 60-61 sebagai
berikut.
च। ॥
ahiṃsā brahmacaryañ ca satyam awyawahārikam |
astainyam iti pañcaite yamā rudreṇa bhāṣitāḥ ||
Terjemahan:
Ahimsa namanya tidak membunuh, brahmacari namanya menuntut ilmu dan
menghindarkan dari hubungan kelamin, satya namanya tidak berbohong,
awyawaharika namanya tidak berbuat dosa karena kepintaran, astainya
43
namanya tidak mencuri, tidak mengambil milik orang lain bila tidak dapat
persetujuan kedua pihak (Sura, 2001: 81)
Menyimak Wrhaspati Tattwa 60 dijelaskan tentang bagian-bagian dari Nyama
brata yang terdiri dari ahimsa, brahmacari, satya, awyawaharika, dan astainya. Kelima
bagian ini merupakan uraian tentang pengendalian diri. Pengendalian diri harus
dimulai dari diri sendiri yang bersifat lahiriah sebagai langkah awal untuk
pengendalian yang bersifat batiniah.
च। ॥
akrodho guruśuśruṣā śaucam āhāralāghawam |
apramādaś ca pañcawaite niyamāḥ parikīrtitāḥ ||
Terjemahan:
Akrodha namanya tidak marah saja. Guru susrusa namanya bakti berguru.
Sauca namanya selalu melakukan japa, membersihkan badan. Aharalaghawa
ialah tidak banyak-banyak makan. Apramada namanya tidak lalai (Sura, 2001:
82).
Penjelasan tentang Wrhaspati Tattwa 61 menjelaskan tentang bagian-
bagiandari Pañca nyamayang terdiri atas akrodha, guru susrusa, sauca, aharalaghawa,
dan apramada. Pengendalian diri ini bersifat batiniah yangbertujuan untuk mencapai
kebahagiaan secara skala dan niskala. Kedua sloka ini menunjukan bahwa
pengendalian diri ada dua jenis yaitu pengendalian secara lahir (yama) dan batin
(nyama). Susunan sloka dalam Kitab Wrhaspati
Tattwa ini merupakan pedoman hidup yang harus dipupuk dalam kehidupan
untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin.
B. Bagian Pañca Yama Brata
Pañca Yama brata adalah lima macam cara untuk mengendalikan keinginan
secara lahir menurutAtmaja (2010:46) terdiri atas:
· Ahimsa, tidak melakukan kekerasan
44
· Brahmacari, masa menuntut ilmu/masa aguron-guron
· Satya, kesetiaan dan kejujuran
· Awyawaharika, melakukan usaha menurut dharma
· Astainya, tidak mencuri milik orang lain.
1. Ahimsa
Ahimsa terdiri atas a yang artinya tidak, dan himsa yang artinya menyakiti atau
membunuh. Dengan demikian ahimsaartinya suatuperbuatan yang tidak menyakiti,
kasih sayang dan atau tidak membunuh mahkluk lain (Tim Sabha Pandita, 2011: 16).
Ahimsa dimaksudkan di sini adalah tidak semena-mena menyakiti dan membunuh
demi nafsu belaka, keuntungan pribadi, dendam, dan kemarahan (krodha), melainkan
untuk tujuan pemujaan kepada Tuhan dan kepentingan umum. Menurut ajaran Dharma
di dalam sloka disebutkan ahimsa para dharmahartinya kebajikan (dharma) yang
tertinggi terdapat pada ahimsa. Selain itu, tujuan ahimsa adalah untuk menjaga
kedamaian dan ketertiban di masyarakat, mewujudkan kerukunan tanpa membedakan
suku, agama, ras, dan adat.
Dengan demikian, ajaran Ahimsa adalah ajaran yang harus memperhatikan dan
mengendalikan tingkah laku agar pikiran, perkataan, dan perbuatan tidak menyakiti
orang lain atau makhluk lain. Setiap pikiran, perkataan, perbuatan yang tujuannya
menyakiti orang lain maka disebut perbuatan Himsa. Oleh karena itu, hindari
perbuatanHimsa terhadap semua makhluk. Kita harus saling asah, asih, dan asuh
terhadap sesama. Pada hakikatnya jiwatman kita sama dengan jiwatman makhluk lain
yang berasal dari satu sumber, yaitu paramatman(Sang Hyang Widhi).
2.Brahmacari
Brahmacariadalah masa menuntut ilmu (usia belajar) seperti murid-murid di
sekolah. Kata brahmacariterdiri atas dua kata, yaitu brahma dan cari atau carya (Tim
Sabha Pandita, 2011: 17). Brahmaartinya Ilmu pengetahuan, sedangkan cariatau
caryaberasal dari bahasa sansekerta, yaitu cari artinya gerak atau tingkah laku.
Sehingga pengertian brahmacari adalah tingkah laku manusia dalam menuntut ilmu
pengetahuan terutama ilmu pengetahuan tentang ketuhanan dan kesucian.
45
Brahmacari juga disebut masa aguron- guron(masa berguru). Oleh karena itu, seorang
siswa kerohanian harus mempunyai pikiran yang bersih yang hanya memikirkan
pelajaran atau ilmu pengetahuan saja, supaya perasaan dan pikiran bisa terpusat.
3.Satya
Satya artinya benar, jujur, dan setia (Tim Sabha Pandita, 2011:18). Satya juga
diartikan sebagai gerak pikiran yang harus diambil menuju kebenaran. Di dalam
praktiknyasatyameliputi kata kata yang tepat dan dilandasi kebajikan untuk mencapai
kebaikan bersama. Oleh karena itu, satyatidak sepenuhnya diartikan benar, jujur, dan
setia, tetapi di dalam pelaksanaannya melihat situasi yang bersifat relatif. Maka di
sinilah kitamenempuh jalan satyayang pelaksanaannya melihatsituasi dan kondisi yang
relatif.
Di dalam sastra sering kita jumpai sebagai motto atau semboyan, yaitu: “satyam
eva jayate” yang artinya hanya kejujuranlah yang menang bukankemaksiatan atau
kejahatan. Adapun lima macam satyayang disebutdenganPañcasatyaterdiri atas:
a. Satya Hredaya, artinya setia dan jujur terhadap kata hati.
b. Satya Wacana, artinya setia dan jujur terhadap perkataan.
c. Satya Semaya, artinya setia dan jujur terhadap janji.
d. Satya Laksana, artinya setia dan jujur terhadap perbuatan.
e. Satya Mitra, yaitu setia dan jujur terhadap teman.
Dengan penjelasan tentang satyakesetiaan dan kejujuran hendaknyadilakukan
secara kata hati, perkataan, perbuatan, janji terhadap temansejawat. Untuk itu,
penerapan ajaran susila ini tidak hanya menjadi buahbibir yang diucapkan melainkan
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
4.Awyawaharika
Awyawaharika atau awyawaharaartinya tidak terikat pada ikatankeduniawian
(Tim Sabha Pandita, 2011: 19). Ajaran awyawaharikamenjadikan orang rendah hati,
sederhana, jujur, menyayangi sesama,berbudi luhur, tidak mengharapkan pujian, dan
suka menolong tanpapamrih. Pelaksanaan konsep awyawaharikasebagai wujud
kewajibandalam kehidupan adalah dengan bekerja tanpa mengharapkan
46
pamrih.Penerapan ajaran awyawaharikaini tentu sangat penting untuk diamalkandalam
kehidupan sosial kemasyarakatan.
5.Asteya
Asteya atau astenya artinya tidak mencuriatau tidak mengambil hak milik atau
memikirkan untuk memiliki barang orang lain (TimSabha Pandita, 2011:20). Astenya
mengajarkan manusia agar selalu jujur, tidak suka mengambil hak milik oranglain,
tidak mencuri atau korupsi. Mencuri atau perbuatan sejenisnyaadalah perbuatan yang
dilarang agama. Astenyaharus ditumbuhkan agartimbul sifat yang tidak menginginkan
barang milik orang lain. Perbuatanmencuri akan merugikan diri sendiri, yaitu
pencemaran nama baik dan oranglain sebagai korbannya.
C. Bagian Pañca Nyama Brata
Pañca Nyama brata adalah lima macam cara untuk mengendalikan keinginan
secara lahir menurut Atmaja (2010:46) terdiri atas:
· Akrodha, tidak marah
· Guru Susrusa, hormat dan bhakti kepada guru
· Sauca, suci lahir dan batin
· Aharalaghawa, mengendalikan makan
· Apramada, tidak mengingkari kewajiban
1.Akrodha
Akrodha artinya tidak marah, atau tidak mempunyai sifat marah atau mampu
mengendalikan sifat-sifatmarah (Tim Sabha Pandita,2011: 20). Mudah
tersinggungadalah salah satudari sifat-sifat marah. Sifatinilah yang harus
dikendalikansehingga manusia tidak mudahmarah. Manusia yangmampu menahan
sifat marah,maka manusia akan mempunyaijiwa yang sabar. Kesabaranadalah sifat
yang mulia.Orang sabar tidak mudah tersinggung,sehingga akan disenangi oleh teman-
teman.
47
2.Guru Susrusa
Guru susrusaartinya hormat,melaksanakan tuntunandan bakti terhadapguru
(Oka, 2009: 69). Guru susrusajuga berarti mendengarkanatau menaruhperhatian
terhadap ajaran-ajarandan nasihat guru.Siswa yang baik akan selaluberbakti dan
memperhatikansikap hormatterhadap gurunya, serta mempelajari apa yang
diajarkan.Anak yang hormat dan bakti terhadap Guru diberikan gelar anak yang
suputra. Anak yangmenentang terhadap Guru di sebut alpaca guru, hukumannya
sangat beratdalam alam neraka nantinya. Anak yang suputra akan mendapatkan
tempatyang baik di surga maupun di masyarakat, karena sangat berguna bagi nusadan
bangsa.
Ada empat macam guru yang terdiri dari, guru rekaatau guru rupaka artinya
ayah dan ibu yang telah melahirkan, memelihara dan merawatkita dari bayi sampai
tumbuh dewasa. Guru penngajianatau guru waktra artinya Ibu/Bapak guru yang
mangajar kita di sekolah dari tidak dapatmembaca, menulis, berhitung sampai menjadi
bisa. Selain guru di sekolah,yang termasuk guru pengajian adalah para sulinggih, para
Resi yangtelah menyebarkan ajaran Weda. Guru wisesaadalah pemerintah yangselalu
memberikan perlindungan kepada setiap warga negara. Orang yangtermasuk guru
wisesa , seperti: Kadus, Perbekel, Camat, Bupati, AnggotaDPR, Gubernur, Presiden.
Guru swadhyayaartinya guru alam semestayaitu Ida Sang Hyang Widhi.
3.Sauca
Sauca berasal dari kata “suc“ yang artinya bersih, murni atau suci secaralahir
dan batin (Oka, 2009: 69). Olehkarena itu, yang dimaksudsaucaadalah kesucian dan
kemurnian lahirbatin. Banyak yang dapat kita lakukanuntuk mencapai kesucian lahir
maupun batin. Kesucian lahir (jasmani)dapat kita capai dengan selalu
membiasakanhidup bersih, misalnya mandiyang teratur dan membuang sampahpada
tempatnya.Sedangkan kesucian batin (rohani)dapat dilakukan dengan
rajinsembahyang, menghindari pikirandari hal-hal negatif.
Untuk menjaga kesucian lahir batin menurut Kitab Manawa Dharma Sastra V.109
(Sudharta dan Puja, 2002) dapat dilakukan dengan:
a) Mandi untuk membersihkan badan.
48
b) Kejujuran untuk membersihkan pikiran.
c) Ilmu Pengetahuan dan Tapa untuk membersihkan roh atau jiwa.
d) Kebijaksanaan digunakan untuk membersihkan akal.
Selain itu, yang perlu disucikan adalah kayika(perbuatan), wacika(perkataan)
dan manacika(pikiran) sebagai pangkal dari segala yang adauntuk menciptakan
keseimbangan baik jasmani maupun rohani.
4.Aharalaghawa
Aharalaghawa berasal dari kata ahara artinya makan, dan laghawaartinya
ringan. Aharalaghawaartinya makan yang serba ringan, tidakberfoya-foya dan tidak
berlebihan (Oka, 2009: 69). Makan yang sesuaidengan kemampuan tubuh.
Aharalaghawaberarti juga mengatur caramakan dan makanan yang sebaik-baiknya.
Lawan dari aharalaghawaadalah kerakusan. Kerakusan akan menghalangi dan
merintangi kesucian batin.
5.Apramada
Apramada artinya tidak bersifat ingkar atau mengabaikan kewajiban dan
mempelajari serta mengamalkan ajaran suci (Oka, 2009: 69). Hal iniberarti
melaksanakan tugasdan kewajiban yang telah menjadi tugasnya. Tugas tersebut
dijadikan sebagai saranamelakukan pelayanan dan pengabdiankepada
masyarakat.Tugas ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup baik secara
jasmani maupun untuk kepentingan rohani.Dengan berusaha melaksanakan kewajiban
sendiri (swadharma) dan menghormati kewajiban orang lain (paradharma), maka
keharmonisan akan dapatdicapai. Pada akhirnya, kebahagiaan secara lahir dan batin
juga akan dapatdicapai.Pembagian tugas dan kewajiban ini dalam Hindu disebut
dengan Catur warna yang terdiri dari brahmana (cendikiawan), ksatria
(pembelakebenaran), tentara, polisi), waisya (pedagang), dan sudra
(pelayan).Pembagian tugas ini berdasarkan atas keahlian dan bakat yang dimilikidalam
mendukung pelaksanaan roda kehidupan di dunia ini.
49
D. Contoh- contoh Pañca Yama dan Nyama Brata
1.Contoh-contoh perilaku Pañca Yama brata :
a.Contoh perilaku ahimsa:
· Merawat binatang peliharaan,
· Menyayangi keluarga,
· Tidak menyinggung perasaan orang lain,
· Tidak membunuh binatang selain untuk kepentingan yadnya,
· Menghormati sesama.
b.Contoh perilaku brahmacari
· Rajin belajar,
· Tidak malas masuk sekolah,
· Rajin bertanya kepada guru akan hal yang belum dimengerti,
· Melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi,
· Tidak bosan belajar,
· Selalu ingin tahu akan informasi terbaru.
c.Contoh perilaku satya:
· Selalu berkata jujur,
· Berpendirian teguh,
· Tidak melakukan perbuatan yang menyakiti orang lain,
· Menyayangi teman,
· Selalu menepati janji.
d.Contoh perilaku awyawaharika:
· Melakukan perbuatan sesuai Dharma,
· Tidak bertengkar dengan orang lain,
· Menghormati agama dan kepercayaan orang lain,
· Tidak menghina orang lain.
e.Contoh perilaku astainya:
· Tidak mencuri harta milik orang lain,
· Menjaga harta benda yang dimiliki,
· Menyimpan harta benda dengan baik.
50