The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by lmahendrayani, 2022-11-18 17:11:23

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

i



MODUL
FISIOLOGI OLAHRAGA

LUH ITA MAHENDRAYANI, S.Ft., M.Fis
ILMU KEOLAHRAGAAN

ILMU OLAHRAGA DAN KESEHATAN
FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

ii

Lembar Validasi

Nama : Luh Ita Mahendrayani, S.Ft., M.Fis
NIP : 199205072022032013
Jabatan : Dosen Asisten Ahli
Unit Kerja : Prodi Ilmu Keolahragaan Fakultas Olahraga dan Kesehatan
Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, 17 November 2022




Mentor Koordinator Program Studi







Dr. I Ketut Sudiana, S.Pd., M.Kes. I Nyoman Sudarmada, S.Or.,M.Or.
NIP. 196705272001121001 NIP. 198608102008121001

iii


KATA PENGANTAR



Modul Fisiologi Olahraga ini ditulis untuk memenuhi kebutuhan pengembangan
Mata Kuliah Di Program Studi Ilmu Keolahragaan yang diharapkan dapat tercapai dengan
sempurna. Pembinaan olahraga yang tidak berdasarkan perkembangan ilmu
pengetahuan selain tidak akan menghasilkan prestasi juga akan berdampak buruk bagi
atlet. Modul ini ditulis berdasarkan materi-materi fisiologi olahraga yang digunakan
sebagai bahan ajar perkuliahan, seminar atau pelatihan serta buku referensi lainnya.

Secara praktis modul ini berisi ruang lingkup disiplin ilmu fisiologi olahraga,
metabolisme bioenergi dalam olahraga, neuromuskular, respon dan adaptasi terhadap
latihan aerobik/anaerobik, respon dan adaptasi terhadap latihan kekuatan, latihan dan
pengaruh lingkungan.

Kepada semua pihak yang telah mendukung penulisan modul ini, penulis
ucapkan banyak terimakasih.

Penulis menyadari bahwa tiada gading yang tak retak, demikian juga modul
ini jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu kritik dan saran dari pembaca sangat
penulis harapkan. Semoga buku ini bermanfaat guna mendukung kemajuan olahraga di
Indonesia

Singaraja,
November 2022

Penulis

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

iv

DAFTAR ISI

LEMBAR VALIDASI .................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................................iii
DAFTAR ISI ................................................................................................................iv
DAFTAR TABEL...........................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................vi
BAB I FISIOLOGI OLAHRAGA ..................................................................................... 1
BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI............................................................................... 5
BAB III KESEHATAN OLAHRAGA.............................................................................. 32
BAB IV RESPON ADAPTASI TUBUH.......................................................................... 41
BAB V LATIHAN KEKUATAN DAN DAYA TAHAN ...................................................... 70
BAB VI AKLIMATISASI ............................................................................................. 85
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 115

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

v

DAFTAR TABEL


Tabel 4.1 Pengukuran Tekanan Darah..................................................................... 59
Tabel 6.1 Perhitungan Kehilangan Cairan................................................................ 98
Tabel 6.2 Perubahan Fisiologis ...............................................................................100
Tabel 6.3 Respon Kompensasi ............................................................................... 105




















MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

vi

DAFTAR GAMBAR


Gambar 2.1 Sel Saraf.................................................................................................. 5
Gambar 2.2 Komponen Saraf ..................................................................................... 7
Gambar 2.3 Bagian-Bagian Otak .................................................................................9
Gambar 2.4 Medula Spinalis dan SST ...................................................................... 10
Gambar 2.5 Mikroanatomi ....................................................................................... 14
Gambar 2.6 Tipe Serabut Otot ................................................................................. 16
Gambar 2.7 Otot dengan Serabut Otot..................................................................... 17
Gambar 2.8 Teori Sliding Filament .......................................................................... 19
Gambar 4.1 Perubahan Rata-rata Fisiologis............................................................. 49
Gambar 4.2 Respon Stroke ....................................................................................................................... 55
Gambar 4.3 Hubungan Detak Jantung ................................................................................................ 56
Gambar 4.4 Hubungan Ekstraksi Oksigen ........................................................................................ 56
Gambar 5.1 Kontraksi Konsentrik ........................................................................................................ 73
Gambar 5.2 Latihan Polyometrik .......................................................................................................... 84
Gambar 6.1 Faktor-Faktor Kenaikan Panas ..................................................................................... 86
Gambar 6.2 Cara Pembuangan Panas ................................................................................................. 90
Gambar 6.3 Rata-rata Kehilangan Air PerJam ................................................................................ 96
Gambar 6.4 Pengurangan VO2 Max .................................................................................................. 110
Gambar 6.5 Tren Penurunan Performa .......................................................................................... 111

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

1

BAB I
FISIOLOGI OLAHRAGA

Tujuan
Menjelaskan pengertian fisiologi, olahraga dan fisiologi olahraga serta peranan
fisiologi dalam dunia olahraga.

1.1 Pengertian Ilmu Fisiologi Olahraga
Fisiologi Olahraga merupakan cabang ilmu fisiologi yang mempelajari perubahan

fisiologis di tubuh pada saat seseorang berolahraga. Dengan mengetahui perubahan yang
terjadi di tubuh, seseorang dapat merancang suatu program olahraga untuk mendapatkan
perubahan optimal sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Purba (2012) Penerapan Ilmu
Faal Olahraga untuk meningkatkan prestasi atlet sangat penting untuk menentukan
takaran latihan, keberhasilan latihan atlet selama periodisasi latihan. Pengukuran Fisiologi
Olahraga merupakan cabang ilmu fisiologi yang mempelajari perubahan fisiologis di tubuh
pada saat seseorang berolahraga. Dengan mengetahui perubahan yang terjadi di tubuh,
seseorang dapat merancang suatu program olahraga untuk mendapatkan perubahan
optimal sesuai dengan yang diharapkan.

Fisiologi olahraga mengkaji perubahan-perubahan fungsi organ-organ baik yang
bersifat sementara (akut) maupun yang bersifat menetap karena melakukan olahraga.
Fisiologi Olahraga merinci dan menerangkan perubahan fungsi yang disebabkan oleh
latihan tunggal (acute exercise) atau latihan yang dilakukan secara berulang-ulang (chronic
exercise) dengan tujuan untuk meningkatkan respon fisiologis terhadap intensitas, durasi,
frekuensi latihan, keadaan lingkungan dan status fisiologis individu. Fungsi dan mekanisme
kerja organ-organ tubuh akan selalu bereaksi dalam rangka penyesuaian diri demi
terciptanya “Homeosta- sis” (kecenderungan organisme hidup untuk mempertahankan
lingkungan dalam “Millieau Interieur” yang stabil bagi selnya. (Hammond, 2007). Dari
pengertian diatas dapat kita lihat bahwa, didalam olahraga secara pasti terdapat aktivitas
fisik dalam bentuk gerak dan latihan, sehingga dalam kaitannya dengan mempelajari

2

fisiologi olahraga kita akan melihat olahraga dari sudut pandang aktivitas
gerak dalam proses latihan dan kompetisi. Dari kajian tentang fisiologi dan
olahraga diatas, dapat kita buat hubungan antara kajian teori fisiologi dan olahraga
menjadi suatu kajian teori baru tentang fisiologi olahraga. Dimana kajian terori tentang
fisiologi olahraga ini membahas tentang fungsi – fungsi kerja organ tubuh dan keterlibatan
organ tubuh manusia dalam aktivitas gerak. sehingga pengertian fisiologi olaharaga adalah
: Bagian atau cabang ilmu dari Fisiologi yang secara khusus mempelajari tentang
fungsi/cara kerja organ tubuh dan perubahan yang dapat terjadi baik secara sementera
maupun secara menetap karena sebuah aktivitas fisik (gerak) atau latihan fisik.

1.2 Perubahan Akibat Olahraga
Dengan berolahraga akan terjadi perubahan-perubahan pada tubuh menurut jenis,

lama, dan intensitas latihan yang dilakukan (Tommy Boone 2012). Secara umum yang
dikatakan Wara Kushartanti (2009) olahraga yang dilakukan secara teratur dengan
takaran yang cukup akan menyebabkan perubahan sebagai berikut:

1. Perubahan pada Jantung
Jantung akan bertambah besar dan
kuat sehingga daya tampung besar dan denyutan kuat. Kedua hal ini akan meningkatkan
efisiensi kerja jantung. Dengan efisiensi kerja yang tinggi, jantung tak perlu berdenyut
terlalu sering. Pada orang yang tidak melakukan olahraga, denyut jantung rata-rata 80 kali
per menit, sedang pada orang yang melakukan olahraga teratur, denyut jantung rata-rata
60 kali per menit. Dengan demikian dalam satu menit dihemat 20 denyutan, dalam satu
jam 1200 denyutan, dan dalam satu hari 28.800 denyutan. Penghematan tersebut
menjadikan jantung awet, dan boleh diharap hidup lebih lama dengan tingkat
produktivitas yang tinggi.

2. Perubahan pada Pembuluh darah Elastisitas pembuluh darah akan bertambah karena
berkurangnya timbunan lemak dan penambahan kontraksi otot dinding pembuluh darah.
Elastisitas pembuluh darah yang tinggi akan memperlancar jalannya darah dan mencegah
timbulnya hipertensi. Disamping elastisitas pembuluh darah yang meningkat, pembuluh-

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

3

pembuluh darah kecil (kapiler) akan bertambah padat pula. Penyakit
jantung koroner dapat diatasi dan dicegah dengan mekanisme perubahan
ini. Kelancaran aliran darah juga akan mempercepat pembuangan zat-zat lelah sebagai
sisa pembakaran sehingga bisa diharapkan pemulihan kelelahan yang cepat.

3. Perubahan pada Paru
Elastisitas paru akan bertambah
sehingga kemampuan berkembang kempis juga akan bertambah. Selain itu jumlah alveoli
yang aktif (terbuka) akan bertambah dengan olahraga teratur. Kedua hal diatas akan
menyebabkan kapasitas penampungan dan penyaluran oksigen ke darah akan bertambah.
Pernafasan bertambah dalam dengan frekuensi yang lebih kecil. Bersamaan dengan
perubahan pada jantung dan pembuluh darah, ketiganya bertanggung jawab untuk
penundaan kelelahan.

4. Perubahan pada Otot
Kekuatan, kelentukan, dan daya
tahan otot akan bertambah. Hal ini disebabkan oleh bertambah besarnya serabut otot dan
meningkatnya sistim penyediaan energi di otot. Lebih dari itu perubahan pada otot ini
akan mendukung kelincahan gerak dan kecepatan reaksi, sehingga dalam banyak hal
kecelakaan dapat dihindari.

5. Perubahan pada Tulang
Penambahan aktivitas enzim pada
tulang akan meningkatkan kepadatan, kekuatan, dan besarnya tulang, selain mencegah
pengeroposan tulang.
Permukaan tulang juga akan bertambah kuat dengan adanya tarikan otot yang terus
menerus.

6. Perubahan pada Ligamentum dan Tendo Kekuatan ligamentum dan tendo akan
bertambah, demikian juga dengan perlekatan tendo pada tulang. Keadaan ini akan
membuat ligamentum dan tendo mampu menahan beban berat dan tidak mudah cedera.

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

4

7. Perubahan pada Persendian dan Tulang rawan
Latihan teratur dapat menyebabkan bertambah tebalnya tulang rawan di
persendian sehingga dapat menjadi peredam (shock absorber) dan melindungi tulang serta
sendi dari bahaya cedera.
8. Perubahan pada Aklimatisasi terhadap Panas
Aklimatisasi terhadap panas melibatkan penyesuaian faali yang memungkinkan seseorang
tahan bekerja di tempat panas. Kenaikan aklimatisasi terhadap panas disebabkan karena
pada waktu melakukan olahraga terjadi pula kenaikan panas pada badan dan kulit.
Keadaan yang sama akan terjadi bila seseorang bekerja di tempat panas.

Rangkuman :

Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana masing-masing komponen
dalam tubuh berkerja secara sistematis dan terorganisasi sehingga tubuh dapat melakukan
aktivitas sehari. Kegiatan olahraga yang dilakukan merupakan aktivtas berat yang akan
merangsang peningkatan fungsi organ-organ dalam tubuh, dan apabila dilakukan seacara
terprogram dan terukur maka dalam jangka panjang organ tubuh akan menjadi terbiasa
melakukan kinerja berat sehingga tubuh beradaptasi sebagai akibat dari kegitan olahraga
yang dilakukan. Bagaimana tubuh bisa beradaptasi dan efek-efek yang terjadi akibat
olahraga dipelajari pada bidang ilmu fisiologi olahraga. Pengetahuan dasar tentang apa
yang terjadi selama latihan fisik dan bagaiaman perubahan itu terjadi sangat penting untuk
dimiliki oleh pelatih, pembina, guru olahraga, atlet dan mahasiswa olahraga.

Latihan :

1. Jelaskan pengertian fisiologi olahraga !
2. Jelaskan perubahan pada aklimatisasi terhadap panas ?
3. Jelaskan perubahan pada jantung, otot dan paru



MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

5

BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI

Tujuan : Menjelaskan anatomi dan fisiologi pada system saraf dan otot

2.1 Sistem Saraf (Neurologi)

Sistem neurologi atau system saraf adalah sistem pengaturan tubuh, meliputi
penghantaran impuls saraf ke susunan saraf pusat, pemrosesan impuls saraf dan
tanggapan sebagai jawaban dari rangsangan

Struktur Saraf

Sistem saraf meliputi; sel saraf (neuron) dan sel gilial. Neuron berfungsi sebagai alat
untuk menghantarkan impuls dari indra tubuh ke otak dan kemudian jawaban dari
otak akan dikirim menuju otot. Sel gilial berfungsi sebagai pemberi nutrisi pada neuron.

Sel Saraf (Neuron)
Unit terkecil dari sistem saraf adalah sel saraf (neuron). Neuron adalah sebuah sel
yang berfungsi dalam penghantaran impuls. Setiap neuron terdiri atas tiga bagian utama,
berupa badan sel saraf, dendrit, dan akson. Lihat gambar 5.1

Gambar 2.1. Sel saraf
(Reff. Dee Unglaub Siverthorn. Human Physiology an Integrated Approach)

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

6

Dendrit adalah serabut neuron yang pendek dan bercabang-cabang.
Dendrit merupakan perluasan dari badan sel. Dendrit berfungsi dalam
penerimaan dan penghantaran impuls ke badan sel.
Badan Sel adalah bagian yang paling besar dari neuron. Badan sel berfungsi menerima
impuls dari dendrit untuk diteruskan ke akson. Badan neuron mengandung inti sel dan
sitoplasma.
Nukleus adalah inti neuron, berfungsi dalam pengaturan kegiatan sel saraf (neuron).
Neurit (Akson) adalah tonjolan sitoplasma yang panjang dan berfungsi untuk
menghantarkan impuls meninggalkan badan neuron ke neuron lain atau jaringan lainnya.
Selubung Mielin adalah selaput yang banyak mengandung lemak dan berfungsi
melindungi akson dari kerusakan. Selubung mielin bersegmen-segmen. Lekukan di
antara dua segmen disebut nodus ranvier.
Sel Schwann adalah jaringan yang membantu dalam penyediaan makanan untuk neurit
(akson) serta membantu regenerasi neurit (akson).
Nodus ranvier berfungsi mempercepat transmisi impuls saraf.
Sinapsis adalah pertemuan antara ujung neurit (akson) di sel saraf satu dan ujung dendrit
di sel saraf lainnya. Pada setiap sinapsis terdapat celah sinapsis. Pada bagian ujung
akson terdapat kantong yang disebut bulbus akson. Kantong tersebut berisi zat
kimia yang disebut neurotransmiter. Neurotransmiter dapat berupa asetilkolin dan
kolinesterase yang berfungsi dalam penyampaian impuls saraf pada sinapsis. Sel-sel
saraf (neuron) bergabung membentuk jaringan saraf. Ujung dendrit dan ujung akson lah
yang menghubungkan sel saraf satu dan sel saraf lainnya. Menurut fungsinya, ada tiga
jenis sel saraf yaitu:
1. Sel saraf sensorik adalah sel saraf yang berfungsi menerima stimulus yang datang

kepada tubuh atau indra, untuk kemudian dirubah menjadi impuls, dan diteruskan ke
otak.

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

7
2. Sel saraf motorik adalah neuron yang berfungsi untuk membawa impuls

dari pusat saraf (otak) dan sumsum tulang belakang menuju otot.
3. Sel saraf penghubung adalah neuron yang banyak terdapat di dalam otak dan

sumsum tulang belakang. Neuron (sel saraf) tersebut berfungsi untuk
menghubungkan atau meneruskan impuls dari sel saraf sensorik ke sel saraf motorik.
Organisasi Sistem Saraf
Sistem saraf manusia terdiri dari dua komponen utama: (1) Sistem saraf pusat (SSP);
termasuk otak dan sumsum tulang belakang, dan (2) sistem saraf tepi (SST) terdiri
dari saraf kranial dan saraf spinal. Gambar 5.2. menyajikan gambaran dari kedua
komponen sistem saraf manusia.

Gambar 2.2. Dua komponen sistem saraf manusia
(Reff. Victor L. Katch. et al. Essentials of Exercise Physiology)

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

8

1. Sistem Saraf Pusat

Otak

Gambar 2.2 menyajikan pandangan lateral dari enam bagian utama otak:

1. Medulla oblongata

2. Pons

3. Otak tengah (mesensefalon)

4. Otak kecil (serebelum)

5. Diensefalon

6. Telensefalon

Masing-masing dari 12 saraf kranial berasal dari salah satu bagian utama otak.
menunjukkan pandangan superior otak. Terdapat fisura longitudinal yang membentang
di garis tengah otak, memisahkan bagian otak kanan dan kiri. Bagian otak yang
terpisah ini disebut hemisfer kanan dan kiri. Di bawah fisura itu, terdapat suatu
saluran besar yang berisi serabut saraf disebut corpus callosum. Corpus callosum
menghubungkan hemisfer kanan dan kiri. Bagian luar otak terdapat korteks serebri atau
materi kelabu (gray matter), menggambarkan empat lobus korteks serebri (oksipital,
parietal, temporal, dan frontal) dan area sensorik dan area motorik serta otak kecil.
Dalam tulang tengkorak terdapat selaput keras disebut meninges. Meninges ini berisi
substansi seperti jeli yang mengelilingi otak guna melindung otak dari trauma
eksternal seperti yang biasa terjadi pada trauma otak akibat olahraga

Sumsum Tulang Belakang

Gambar 2.2 menggambarkan sumsum tulang belakang (sekitar 45 cm panjangnya) dan
berdiameter 1 cm) terbungkus oleh 33 tulang vertebra (7 tulang servikal, 12 tulang
toraks, 5 tulang lumbal, 5 tulang sakral, dan 4 tulang koksigis). Dua belas pasang saraf
tepi dikelompokkan menjadi bagian serviks, toraks, lumbar, dan sakral menurut lokasi

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

9
anatominya di sepanjang tulang belakang. Desain anatomi yang unik ini
memungkinkan tulang belakang dapat bergerak secara ekstrem tanpa
mempengaruhi fungsi saraf tulang belakang/spinal. Diskus intervertebral yang
terdapat diantara dua vertebra yang berdekatan menjadi bantalan pada permukaan
tulang vertebra.

Gambar 2.3 Bagian-bagian otak
(Reff. Victor L. Katch. et al. Essentials of Exercise Physiology)

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

10

Sum-sum tulang belakang mengandung tiga jenis saraf. Mengandung tiga tipe
saraf:
1. Interneuron
2. Neuron sensorik
3. Neuron motorik

Gambar 2.4. (A) Medula spinalis dan system saraf tepi
(B) Medula spinalis tampak dari depan berserta akar sarafnya
(Reff. Victor L. Katch. et al. Essentials of Exercise Physiology)

Neuron motorik atau neuron eferen merupakan tempat impuls keluar dari otak atau
sumsum tulang belakang. Saraf ini keluar melalui akar depan/ventral untuk selanjutnya

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

11

mengantar jawaban ke serat otot ekstrafusal dan intrafusal. Neuron
sensorik atau neuron aferen memasuki tulang belakang melalui akar
belakang/dorsal. Saluran saraf yang naik dalam sumsum tulang belakang mengirimkan
informasi sensorik dari reseptor sensorik perifer ke otak.

2. Sistem Saraf Tepi
Sistem saraf tepi meliputi semua neuron yang ada di luar otak dan sumsum tulang
belakang. Sistem saraf tepi terdiri dari 31 pasang saraf spinal (8 servikal, 12 toraks, 5
lumbal, 5 sakral, dan 1 tulang tulang ekor/kokigis) dan 12 pasang saraf kranial. Nomor
tulang belakang mengidentifikasi saraf-saraf ini (mis., C1 adalah saraf pertama dari
daerah serviks). Para peneliti telah menemukan lokasi yang tepat dari saraf tulang
belakang/saraf spinal dan menemukan otot-otot yang dipersarafi. Cedera pada daerah
medula spinalis menyebabkan konsekuensi neurologis. Misalnya, quadriplegia hampir
selalu terjadi sebagai akibat dari kerusakan pada tulang vertebra toraks bagian atas.
Neuron aferen dari sistem saraf tepi berfungsi menyampaikan informasi sensorik mulai
dari otot, persendian, kulit, dan tulang menuju otak. Sedangkan neuron eferen
mentransmisikan informasi dari otak ke kelenjar dan otot. Neuron motorik yang
mempersarafi otot rangka membentuk sistem saraf somatik.
Sistem Saraf Somatik
Seperti dijelaskan diatas, sistem saraf somatik mengandung neuron aferen yang menuju
ke saraf pusat dan neuron eferen yang berfungsi menghantarkan impuls dari susunan
saraf pusat ke seluruh tubuh. Sistem saraf somatik yang mempersarafi otot rangka
secara volunter/sadar. Perangsangan saraf eferen somatik akan mengakivasi otot.
Sistem Saraf Autonom
Saraf eferen dari sistem saraf autonom mengaktifkan organ dalam/organ viseral dan
jaringan lain secara involunter. Saraf autonom mempersarafi otot polos (otot involunter)
di usus, keringat dan kelenjar ludah, miokardium, dan beberapa kelenjar endokrin.
Walaupun jantung dan usus-usus menunjukkan kerja secara autonom, tetapi kerja otot ini
dapat juga dikontrol dibawah sadar. Misalnya, Seorang individu yang berlatih yoga atau
meditasi dapat memodifikasi detak jantung sesuai perintah.

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

12

Sistem Saraf Simpatis
Serabut saraf simpatis berkerja pada jantung, otot polos, kelenjar
keringat, dan organ viseral. Neuron-neuron ini keluar dari sumsum tulang belakang dan
masuk ke ganglia dekat rantai simpatik. Saraf berakhir relatif jauh dari organ target
dengan melepaskan norepinefrin Selama pelepasan norepinefrin terjadi eksitasi pada
sistem saraf simpatis. Stimulasi sistem simpatis mempercepat frekuensi pernapasan dan
detak jantung, pupil membesar, dan memicu darah mengalir dari kulit ke jaringan bawah
kulit.

Sistem Saraf Parasimpatis

Serabut saraf parasimpatis keluar dari batang otak dan segmen sakrum dari sumsum
tulang belakang untuk mensuplay daerah dada, daerah perut, dan panggul. Ujung saraf
parasimpatis melepaskan asetilkolin (ACh; serat kolinergik). Serabut saraf parasimpatis
postganglionik terletak dekat dengan organ yang dipersarafi dan menghasilkan efek
yang berlawanan dengan serabut simpatik. Misalnya, stimulasi saraf parasimpatis melalui
saraf vagus akan memperlambat detak jantung sementara stimulasi simpatis
mempercepat detak jantung. Sebagian besar organ menerima stimulasi simpatis dan
parasimpatis secara simultan. Kedua sistem ini mempertahankan tingkat aktivasi yang
konstan yang disebut neural tone. Tergantung pada kebutuhan fisiologis, satu sistem
menjadi lebih aktif sementara lainnya menjadi terhambat.

Pasokan Saraf ke Otot

Cabang-cabang terminal satu neuron mempersarafi setidaknya satu dari 250 juta serabut
otot. Terdapat sekitar 420.000 saraf motorik. Satu saraf biasanya memasok terhadap
banyak serabut otot. Secara umum, Setiap otot atau sekelompok otot dipersarafi motor
unit tertentu yang terlokalisir. Pada sekelompok otot, misalnya, paha depan yang terdiri
dari empat buah otot yang terpisah dapat melakukan kontraksi secara bersamaan.
Perbandingan atau rasio jumlah motor neuron terhadap jumlah serabut otot ,

umumnya berkaitan dengan fungsi gerakan dari otot. Gerakan otot mata yang
halus dan tepat membutuhkan satu neuron untuk mengontrol 10 serabut otot (rasio
10: 1). Rasio di otot laryng lebih rendah, yaitu1: 1. Untuk gerakan yang kurang

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

13

kompleks dari sekelompok otot besar di kaki, satu motoneuron dapat
mempersarafi sebanyak 3000 serabut otot (rasio 3000: 1) Pada
prinsipnya, bahwa gerakan yang kurang kompleks seperti gerakan supinasi lengan
bawah atau fleksi sendi siku memiliki rasio serabut otot yang lebih tinggi berbanding
saraf motoriknya. Gerakan koordinasi mata ± tangan yang kompleks membutuhkan rasio
yang lebih rendah.
Motor Unit
Motor unit adalah motor neuron bersama dengan axon dan seluruh serabut otot
yang dipersarafinya. Dengan demikian motor unit mewakili unit fungsional kontraktil.
Seluruh otot manusia mengandung banyak motor unit, yang masing-masing berisi satu
motor neuron otot menerima persarafannya. Motor unit memiliki berbagai variasi
ukuran. Serat motor yang besar mempersarafi lebih banyak serabut otot dibandingkan
dengan serat yang lebih kecil. Pada dasarnya, serat motor unit kecil mempersarafi tipe otot
merah sedangkan serat motor unit besar mempersarafi tipe otot putih. dengan serat yang
lebih kecil. Pada dasarnya, serat motor unit kecil mempersarafi tipe otot merah
sedangkan serat motor unit besar mempersarafi tipe otot putih.
Neuromuscular Junction (Endplate)
Neuromuscular junction atau endplate adalah sinaps yang spesial dimana saraf motorik
presinaptik bertemu dengan membran postsinaptik dari otot rangka (motor endplate).
Berfungsi untuk mengirimkan impuls saraf ke serbuat otot. Setiap serabutt otot
biasanya memiliki satu neuromuskuler junction. Susunan, diferensiasi dan fungsi
neuromuscular junction memerlukan interaksi tepat antara saraf dan sel otot.
Kegagalan dari interaksi ini akan menyebabkan gangguan yang luas terhadap aktivitas
neuromuskular. Lihat gambar 5.5

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

14

Gambar 2..5. Mikroanatomi neuromuscular junction, meliputi
hubungan presynap dan postsynap antara serabut otot dan saraf.
Dalam kotak memperlihatkan konsentrasi ion membrane motoneuron

(Reff. Victor L. Katch. et al. Essentials of Exercise Physiology)
2.2 Sistem Muskular
Sistem muskular atau otot, antara lain terdiri dari lebih dari 600 otot rangka, yang
berfungsi untuk melakukan gerakan berbagai bagian tubuh. Jaringan otot
dikategorikan berdasarkan fungsinya dan apakah otot tersebut bersifat involunter
(dikendalikan secara sukarela atau tanpa sadar). Misalnya, otot jantung memiliki fungsi
berkontraksi secara khusus dan terus menerus dan dikendalikan secara tak sadar
(involunter). Sebaliknya, otot paha dalam untuk menopang berat badan dan
membantu gerakan alat gerak bagian bawah dikendalikan secara sadar. Terdapat
kesamaan pada semua jaringan otot, yaitu mempunyai kemampuan untuk
berkontraksi dan mampu mengembangkan ketegangan yang disebut dengan muscle
tension. Ada tiga jenis jaringan otot, yaitu otot rangka, otot polos, dan otot jantung. Otot
rangka melekat pada tulang dan ketika berkontraksi memberikan gaya pada tulang untuk
menghasilkan gerakan pada sendi. Otot rangka bekerja di bawah sadaralnya,

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

15

melakukan kerja mengangkat segelas air membutuhkan serangkaian
kontraksi otot rangka pada alat gerak bagian atas. Gerakan ini
dikendalikan secara sadar saat otak mengirim sinyal saraf ke otot untuk melakukan
gerakan tersebut. Pada bab ini , sebagian besar fokus kita pada sistem otot rangka.

Struktur Otot Rangka
Otot rangka terdiri dari beberapa jenis jaringan, yaitu terdiri dari sel-sel otot (serat
otot), saraf, darah, dan berbagai jenis jaringan ikat lainnya. Otot manusia dipisahkan
oleh satu sama lain dan dibungkus oleh jaringan ikat yang disebut fascia. Ada tiga
lapisan jaringan ikat yang ditemukan pada otot rangka. Lapisan terluar yang mengelilingi
seluruh otot disebut epimysium. Bila masuk lebih dalam lagi dari epimysium, ditemukan
jaringan ikat yang disebut perimysium mengelilingi beberapa bundel serat otot. Bundel
serat otot ini disebut fascicle. Setiap serat otot dalam fasikulus dikelilingi oleh
jaringan ikat yang disebut endomisium. Tepat d i bawah endomisium dan sekitar
setiap serat otot terdapat lapisan lain dari jaringan pelindung yang disebut lamina
eksternal. Meskipun bentuknya unik, serat otot memiliki banyak organel yang sama
dengan yang ada dalam sel lain. Seperti halnya, serat otot mengandung mitokondria,
lisosom, dan sebagainya. Walaupun demikian, tidak seperti kebanyakan sel lain dalam
tubuh, sel otot berinti banyak (memiliki banyak nukleus). Garis-garis lurik ini
dihasilkan oleh pita/filamen tipis yang terang dan filamen tebal yang gelap yang terlihat
disepanjang serat otot. Setiap serat otot berbentuk silinder tipis dan berjalan
memanjang disepanjang otot. Selaput sel yang mengelilingi sel serat otot disebut
sarcolemma. Diatas sarcolemma dan di bawah lamina eksternal terdapat sekelompok
sel prekursor otot yang disebut sel satelit. Sel-sel satelit ini memainkan peran kunci
dalam pertumbuhan dan perbaikan otot. Jika serat otot rusak (mis, karena cedera
atau penyakit), sel tersebut tidak dapat diganti dengan cara pembelahan sel.
Meskipun demikian, sel-sel yang rusak tersebut akan diganti dari sel-sel satelit aktif yang
mampu mengalami diferensiasi dan kemudian berkembang menjadi serat otot yang
matang. Selain itu, sel-sel satelit berkontribusi pada pertumbuhan otot selama latihan
kekuatan dengan cara meningkatkan jumlah inti dalam serat otot. Dengan meningkatnya
jumlah inti dalam serat otot maka akan meningkatkan kemampuan serat otot untuk

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

16

mensintesis protein dan akan membantu pertumbuhan otot. Di bawah
sarkolema terdapat sarkoplasma (juga disebut sitoplasma), yang
mengandung protein seluler, organel dan miofibril. Myofibril mengandung banyak
struktur mirip pita yang mengandung protein kontrak

Gambar 2.6. Tiga tipe serabut otot : (A) otot rangka (lurik)
(B) otot polos, dan (C) otot jantung

(Reff. John Porcari.et.al. Philadelphia Exercise Physiology)
Secara umum, myofibril terdiri dari dua jenis filamen protein utama: 1). Filamen tebal
yang terdiri dari protein myosin dan 2). Filamen tipis yang terdiri dari protein aktin.
Susunan kedua filamen protein ini membuat otot rangka mempunyai gambaran lurik.
Dalam molekul aktin terdapat dua protein tambahan, yaitu troponin dan tropomyosin.
Protein ini hanya merupakan bagian kecil dari otot, tetapi protein ini memainkan peran
penting dalam mekanisme kontraksi otot. Lebih jauh myofibril dapat dibagi lagi
menjadi beberapa segmen yang disebut sarkomer. Sarkomer terdapat diantara dua
struktural tipis yang mengandung protein, disebut dengan garis Z. Filamen myosin
terletak terutama di dalam bagian gelap dari sarkomer, yang disebut pita A, sedangkan
filamen aktin terletak terutama di daerah terang dari sarkomer yang disebut pita I. Di
tengah sarkomer terdapat bagian dari filamen myosin tanpa adanya tumpang tindih
dengan aktin. Bagian ini disebut zona H.

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

17

Di dalam sarkoplasma terdapat jaringan saluran yang mengelilingi setiap
myofibril dan berjalan paralel dengannya. Saluran ini disebut retikulum
sarkoplasma dan merupakan tempat penyimpanan kalsium, yang memainkan peran
penting dalam kontraksi otot (lihat Gambar 2.7). Terdapat satu pasang saluran membran

yang disebut tubulus transversal yang berjalan memanjang masuk ke dalam dari
sarkolema. Tubulus transversal ini melewati antara dua bagian sarkoplasmik retikulum
yang yang melebar disebut terminal sisterna





















Gambar. 2.7. Otot dengan serabut otot, myofibril, dan myofilamen (aktin dan myosin)
(Reff. John Porcari.et.al. Philadelphia Exercise Physiology)

Hubungan Saraf Otot (Neuromuscular Junction)

Setiap sel otot rangka terhubung dengan serabut saraf yang berasal dari sel saraf. Sel-
sel saraf ini disebut dengan motor neuron. Motor neuron berjalan keluar memanjang
dari sumsum tulang belakang. Motor neuron dengan serat otot yang dipersarafi disebut
dengan motor unit. Perangsangan motor neuron merupakan awal dari proses
kontraksi. Tempat dimana motor neuron dan sel otot bertemu disebut dengan
neuromuscular junction. Pada bagian ini, sarkolema membentuk sebuah kantong yang

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

18

disebut motor end plate (lihat gambar 2.5). Ujung motor neuron tidak
secara fisik melakukan kontak dengan serat otot, tetapi dipisahkan oleh
celah pendek yang disebut neuromuscular cleft. Ketika impuls saraf mencapai ujung saraf
motorik, neurotransmiter asetilkolin dilepaskan, kemudian berdifusi melintasi celah
sinaptik untuk berikatan dengan reseptor yang ada d i motor end plate. Kedaan
ini akan menyebabkan peningkatan permeabilitas membrane sarkolema terhadap ion
natrium, sehingga menghasilkan depolarisasi yang disebut end-plate potential (EPP). EPP
selalu cukup besar untuk melampaui ambang batas dan merupakan sinyal untuk memulai
proses kontraktil.

Kontraksi Otot

Kontraksi otot adalah proses kompleks yang melibatkan sejumlah protein seluler
dan sistem produksi energi. Hasil akhir dari kontraksi otot adalah terjadinya jembatan
silang (cross bridge) antara aktin dan myosin, yang mengakibatkan otot memendek
serta terjadinya peningkatan ketegangan/tension dalam otot. Proses kontraksi ini dikenal
sebagai model sliding filament contraction.

Model Sliding Filament

Mekanisme kontraksi otot ditunjukkan pada gambar 2.8. Serat otot berkontraksi
oleh karena adanya pemendekan myofibril akibat bergesernya filamen aktin terhadap
filamen myosin. Mekanisme ini menyebabkan berkurangnya jarak antara garis Z ke garis
Z. Untuk mempelajari mekanisme kontraksi otot perlu melihat struktur mikroskopis
dari myofibril. Secara mikroskopis filamen aktin dan myosin akan mengalami
pergeseran terhadap satu sama lain selama kontraksi otot. Selama proses kontraksi,
kepala myosin akan melekat dan menarik molekul aktin dalam jembatan silang myosin-
aktin. Kekuatan ikatan antara myosin dan aktin ini bervariasi mulai berupa ikatan
"lemah" hingga ikatan "kuat". Kekuatan kontraksi otot maksimal dapat terjadi hanya
ketika jembatan silang aktin dan myosin berada dalam kondisi ikatan yang kuat.
Dengan adanya kepala myosin menarik aktin, maka akan menghasilkan pemendekan
otot serta kekuatan. Istilah excitation-contraction coupling mengacu pada urutan

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

19

peristiwa di mana impuls saraf (potensial aksi) mencapai membran otot
dan menyebabkan pemendekan otot pada jembatan silang aktin-myosin.
Energi untuk Kontraksi Otot
Energi untuk kontraksi otot berasal dari pemecahan ATP oleh enzim myosin ATPase.
Enzim ini terletak di "kepala" myosin pada jembatan silang aktin-myosin. Pemecahan
ATP menjadi ADP + P, dan pelepasan energi berfungsi untuk memberi energi pada
jembatan silang aktin-myosin, yang pada gilirannya akan menarik molekul aktin ke
arah myosin dan dengan demikian akan terjadi pemendekan otot. Perlu diingat, bahwa
pada siklus kontraksi tunggal atau "power stroke", jembatan silang aktin-myosin akan
memendek hanya 1 persen dari panjang awal ketika istirahat. Karena kemampuan otot
dapat memendek hingga 60% dari panjang awal ketika istirahat, maka siklus kontraksi
harus diulang berulang kali.

Gambar. 2.8. Teori sliding filament pada kontraksi otot
(A) aktin dan myosin dalam keadaan relaksasi (B) sebagian dalam keadaan

kontraksi,dan (C) seluruhnya dalam keadaan kontraksi.
Zona H mengecil karena adanya pemendekan sarkommer Z.
(Reff. John Porcari.et.al. Philadelphia Exercise Physiology)

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

20

Jenis Kontraksi Otot
Secara fisiologi, otot yang berkontraksi dapat memendek dan dapat pula
memnajang. Pada jenis kontraksi yang menyebabkan otot memendek terlihat sarkomer
serabut otot memendek.
Jenis kontraksi otot sebagai berikut;

1. Kontraksi Isotonik adalah suatu kontraksi otot dimana tahanan/tegangan dalam otot
tetap, sedangkan ukuran otot memendek. Misalnya seseorang mengangkat dumbel yang
relatif ringan

2. Kontraksi Isometrik adalah suatu kontraksi otot dimana tahanan/tegangan
dalam otot meningkat, sedangkan ukuran panjang otot tetap. Misalnya seseorang
mendorong tembok.

3. Kontraksi Isokinetik. Jenis kontraksi ini dibagi dua; a). Kontraksi Isokinetik
Eksentrik, adalah suatu kontraksi dimana ukuran otot memanjang, dan tahanan dalam otot
meningkat. Misalnya bila kita mencoba memfleksikan sendi siku dengan telapak tangan
mengepal, dan seseorang menahan pada pergelangan tangan, maka akan terjadi
pemanjangan otot fleksor lengan dengan disertai peningkatan tahan dalam otot. b).
Kontraksi Isokinetik Konsentrik, adalah suatu kontraksi dimana ukuran otot memendek,
dan tahanan dalam otot meningkat. Misalnya ketika seorang perenang mendayungkankan
tangannya selama melakukan renang gaya bebas, maka akan terjadi pemendekan otot
fleksor tangan disertai peningkatan tahanan dalam otot tersebut.

Tipe Serat Otot

Otot rangka dibagi menjadi beberapa tipe yang berbeda berdasarkan karakteristik
histokimia atau biokimiawi seratnya. Scara umum, serat otot diklasifikasikan ke
dalam dua kategori: (1) Serat cepat (fast-twitch fiber), (2) serat lambat (slow-twitch
fiber). Meskipun beberapa kelompok otot diketahui terdiri dari serat yang dominan
cepat atau lambat, sebagian besar kelompok otot dalam tubuh mengandung campuran
yang sama dari kedua jenis serat lambat dan cepat. Persentase masing-masing jenis
serat yang terkandung dalam otot rangka dapat dipengaruhi oleh genetika, kadar hormon

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

21

dalam darah dan kebiasaan berolahraga. Komposisi serat otot rangka
memainkan peran penting dalam performance seseorang, baik
terhadap kekuatan maupun daya tahan.

Sifat Kontraktil Otot Rangka
Jika membandingkan sifat kontraktil dari tipe serat otot, terdapat tiga karakteristik
sifat kontraktil; (I) Produksi kekuatan maksimal, (2) Kecepatan kontraksi, dan (3) Efisiensi
serat otot. 1. Untuk mengetahui produksi kekuatan maksimal serat otot adalah dengan
membandingkan berapa banyak kekuatan yang dihasilkan per unit luas penampang
serat (ketegangan spesifik). Dengan kata lain, ketegangan spesifik adalah produksi gaya
dibagi dengan ukuran serat (gaya spesifik = gaya / luas penampang serat). Untuk
mengetahui kecepatan kontraksi serat otot, dengan mengukur kecepatan pemendekan
maksimal ( Vmax) dari masing-masing serat. Vmax menggambarkan kecepatan tertinggi
di mana serat dapat memendek. Oleh karena serat otot memendek atau berkontraksi
dengan cara mekanisme jembatan-silang (cross- bridge), maka Vmax ditentukan oleh laju
siklus jembatan-silang (rate of cross-bridge cycle). Secara biokimia, faktor kunci yang
mengatur Vmax serat adalah aktivitas ATPase myosin. Serat dengan aktivitas ATPase
myosin tinggi (mis. serat cepat) memiliki Vmax tinggi, sedangkan serat dengan aktivitas
ATPase myosin rendah memiliki Vmax rendah (mis. serat lambat).
Efisiensi serat otot adalah ukuran ekonomis dari suatu serat otot. Artinya, serat yang
efisien akan membutuhkan lebih sedikit energi untuk melakukan sejumlah pekerjaan
dibandingkan dengan serat yang kurang efisien. Dalam praktiknya, pengukuran ini
dilakukan dengan membagi jumlah energi yang digunakan (yaitu, ATP yang digunakan)
dengan jumlah gaya yang dihasilkan.

Karakteristik tipe Serat Otot
Secara umum ada tiga tipe serat otot rangka (dua subtipe serat cepat disebut sebagai
tipe IIx dan IIa; dan serat lambat disebut sebagai tipe I). Serat otot tercepat disebut
serat tipe IIx. Meskipun mungkin otot rangka manusia dapat mengandung lebih dari
tiga tipe serat, kita hanya akan membahas tiga tipe serat yang umum. Mempelajari tipe

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

22

serat otot adalah dengan memeriksa sifat biokimia dan sifat kontraktil dari
serat lambat dan cepat.

Serat Lambat
Salah satu tipe serat yang telah diidentifikasi pada manusia adalah serat otot tipe lambat
(tipe I). Serat tipe I (disebut juga serat oksidatif lambat atau slow twitch fiber ),
mengandung sejumlah besar enzim oksidatif (volume mitokondria yang tinggi) dan
dikelilingi oleh lebih banyak kapiler dibandingkan serat tipe lain. Selain itu, serat
tipe I mengandung konsentrasi mioglobin yang lebih tinggi daripada serat tipe cepat.
Konsentrasi mioglobin yang tinggi, jumlah kapiler yang besar, dan aktivitas enzim
mitokondria yang tinggi memberikan serat tipe I kapasitas aerobik yang dan memiliki
daya tahan yang tinggi terhadap kelelahan. Dalam hal sifat kontraktil, serat tipe I memiliki
Vmax lebih lambat dibandingkan dengan serat cepat. Serat tipe I menghasilkan tegangan
spesifik yang lebih rendah dibandingkan dengan serat tipe cepat. Selain itu, serat tipe I
lebih efisien daripada serat cepat.
Serat Cepat
Pada manusia terdapat dua subtipe serat cepat; (1) tipe IIx, dan (2) tipe IIa. Serat tipe
IIx (kadang-kadang disebut fast twitch fiber atau serat glikolitik cepat) memiliki jumlah
mitokondria yang relatif sedikit, memiliki kapasitas metabolisme aerobik yang terbatas,
dan kurang tahan terhadap kelelahan dibandingkan dengan serat lambat. Walaupun
demikian, serat tipe ini kaya akan enzim glikolitik, yang memiliki kapasitas anaerob yang
besar.
Ketegangan spesifik dari serat tipe IIx mirip dengan serat tipe IIa tetapi lebih besar
dari serat tipe I. Aktivitas ATPase myosin pada serat tipe IIx lebih tinggi daripada serat
tipe lainnya, dan menghasilkan Vmax tertinggi dari semua tipe serat otot. Serat tipe
IIx kurang efisien dibandingkan semua serat tipe lainnya. Efisiensi yang rendah ini
disebabkan oleh aktivitas ATPase yang tinggi untuk menghasilkan pengeluaran energi
yang lebih besar per unit aktivitas yang dilakukan.
Tipe kedua dari serat cepat adalah serat tipe IIa (disebut juga serat intermediet atau
serat glikolitik oksidatif cepat). Serat ini mengandung karakteristik biokimia dan
kelelahan yang berada diantara serat tipe IIx dan serat tipe I. Oleh karena itu, secara

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

23

konseptual, serat tipe IIa dapat dilihat sebagai campuran karakteristik
serat tipe I dan tipe IIx. Namun, serat tipe IIa sangat mudah beradaptasi,
terutama terhadap latihan daya tahan, dimana serat tipe IIa ini dapat meningkatkan
kapasitas oksidatif ke level yang sama dengan tipe I.

Tipe Serat Otot dan Performance
Studi deskriptif telah menunjukkan beberapa fakta menarik mengenai persentase serat
otot cepat dan lambat yang ditemukan pada manusia. Pertama, tidak ada perbedaan
jenis kelamin atau usia dalam distribusi serat. Kedua, pria atau wanita yang tidak
banyak bergerak memiliki sekitar 47% hingga 53% serat tipe lambat. Ketiga, atlet
pelari jarak pendek dan sejenisnya memiliki persentase yang besar serat tipe cepat,
sedangkan atlet daya tahanan umumnya memiliki persentase tinggi serat tipe lambat.
Walaupun demikian, terdapat variasi yang cukup besar dalam persentase tipe serat
yang terdapat di antara atlet-atlet yang menggeluti cabang olahraga yang sama. Dengan
kata lain, dua pelari 10.000 meter yang sama suksesnya, mungkin berbeda dalam
persentase serat tipe lambat yang dimiliki masing-masing. Misalnya, pelari A mungkin
memiliki serat tipe lambat 70%, sedangkan pelari B mungkin mengandung serat tipe
lambat 85%. Temuan ini menunjukkan bahwa komposisi serat otot seseorang bukanlah
satu-satunya faktor penentu kesuksesan seorang atlet. Performace atau kesuksesan
seorang atlet ditentukan oleh banyak faktor, seperti faktor psikologi, biokimia, neurologi,
kardio-respirasi dan faktor biomekanik.

Respon Sistem Neuromuskular Pada Latihan Akut
Pada bagian ini, kita akan mempelajari bagaimana struktur sistem saraf mengatur
kontrol motorik. Bagian ini menjelaskan bagaimana sistem neuromuskular berespon pada
latihan akut. Lebih fokus lagi adalah bagaimana sistem neuromuskular menghasilkan
tenaga atau gaya untuk keperluan berbagai intensitas gerakan.
Karakteristik Kontaktil Motor unit

Fungsi motor unit adalah menjadikan otot rangka mampu menghasilkan kekuatan. Satu
motor unit didefinisikan sebagai satu motor neuron dengan beberapa serat otot rangka

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

24

yang dipersarafinya. Ciri-ciri fungsional dari motor unit ditentukan
oleh jenis serat otot yang dipersarafinya. Seperti telah dijelaskan diatas,
pada pemeriksaan yang menggunakan electrophoresis, yaitu suatu pemeriksaan
dengan cara mengidentifikasikan isoform protein myosin heavy chain (MHC) yang
membentuk filamen tebal dalam serat otot. Maka jenis serat otot dibagi tiga tipe; serat
tipe I atau serat otot tipe lambat (slow twitch fibre), serat otot tipe IIa atau serat otot
tipe kombinasi dan serat tipe IIx atau serat otot tipe cepat (fast twitch fibres). ATPase
adalah enzim yang memecah adenosine triphosphate (ATP) pada kepala myosin.
Aktivitas ATPase akan berbeda pada berbagai jenis tipe serat otot. 1). Serat otot tipe I
mengandung isoform protein myosin heavy chain (MHC) tipe lambat dan mempunyai
enzim ATPase yang kerjanya dalam pemecahan ATP di kepala myosin lebih lambat bila
dibandingkan dengan enzim ATPase pada serat otot tipe II. Serat otot tipe I berkerja
pada metabolisme oksidatif dan relatif lebih tahan terhadap kelelahan. 2). Serat otot tipe
IIa. Serat otot tipe IIa ini mempunyai satu isoform myosin heavy chain (MHC) subtipe cepat
dan berkerja secara kombinasi antara metabolisme oksidatif dan anaerobik. 3). Serat
otot tipe IIx, mempunyai isoform myosin heavy chain (MHC) tipe cepat. Enzim ATPase
yang terdapat di kepala myosin pada serat otot tipe IIx ini, lebih cepat menghasilkan
energi untuk kontraksi otot, tapi hanya berkerja dalam durasi yang relative singkat dan
lebih mudah mengalami kelelahan. Motor unit memiliki motor neuron yang
mempersarafi 10 hingga lebih dari 1.000 serat otot. Semua serat otot dalam satu motor
unit terdiri dari jenis serat otot yang sama, karena itu, ketika motor unit diaktifkan untuk
berkontraksi, maka semua serat otot yang terkandung di dalamnya akan bereaksi dengan
cara yang seksama, baik dalam hal kecepatan kontraksi maupun kekuatan kontraksi.
Motor unit diklasifikasikan berdasarkan tipe serat otot yang dipersarafi oleh neuron.
Serat otot tipe I memiliki badan sel motor neuron lebih kecil dan aksonnya
berdiameter kecil juga. Sebagai tambahan, motor unit tipe I biasanya mempersarafi
jumlah serat otot yang lebih sedikit. Sebaliknya, serat otot tipe II memiliki badan sel
motor neuron lebih besar dan aksonnya berdiameter lebih besar juga, dan mempersarafi
otot. Perbedaan kecil tapi penting untuk diketahui antara motor unit pada serat otot tipe
IIa dan IIx. Pada motor neuron yang mempersarafi serat otot tipe IIx memiliki badan
sel motor neuron lebih besar daripada motor neuron yang mempersarafi serat otot

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

25

tipe IIa dan diameter akson neuron motoriknya sedikit lebih besar pada
serat otot tipe IIx. Ukuran motor unit (jumlah serabut otot per motor
neuron) bervariasi pada motor unit yang mempersarafi serat tipe II. Namun demikian,
keduanya mempunyai karateristik memiliki lebih banyak serat otot per motor unitnya
daripada serat otot tipe I. Sehingga bila motor unit serat otot tipe I dirangsang untuk
berkontraksi, maka jauh lebih sedikit serat otot yang diaktifkan daripada perangsangan
motor unit serat otot tipe II. Perbedaan lain dari kedua tipe motor unit ini adalah dalam
produksi kekuatan. Biasanya, motor unit serat otot tipe II mencapai tegangan puncak
lebih cepat daripada motor unit serat otot tipe I karena memiliki isoform MHC dan
aktivitas ATPase myosinnya lebih cepat. Secara keseluruhan, motor unit tipe II juga
mampu memproduksi kekuatan lebih besar daripada motor unit serat otot tipe I, karena
motor unit tipe II memiliki lebih banyak serat otot pada masing-masing jenis motor
unitnya dibandingkan motor unit serat otot tipe I. Namun, meskipun lebih besar tenaga
yang dapat dihasilkan motor unit serat otot tipe II, tapi motor unit serat otot tipe I
lebih tahan terhadap kelelahan. Motor unit tipe I mampu mempertahankan kekuatan
maksimal untuk waktu yang lebih lama. Sedikit perbedaan dalam menghasilkan
kekuatan juga terlihat antara serat otot tipe IIa dan tipe IIx. Motor unit serat otot
tipe IIx menghasilkan kekuatan yang lebih besar dan kecepatan pemendekan serat
sedikit lebih cepat dibandingkan tipe IIa. Walaupun demikian, serat otot tipe IIa lebih
tahan terhadap kelelahan. daripada tipe IIx.

Adaptasi Kronis Sistem Neuromuskular Terhadap Latihan
Sejauh ini, adaptasi akut sistem neuromuskular terhadap latihan telah dibahas. Berikut ini
kita akan membahas adaptasi kronis dari sistem neuromuscular terhadap latihan.

Kekuatan Otot.

Dua faktor utama berhubungan dengan perubahan kekuatan kontraksi adalah ukuran
otot dan sifat saraf. Sekitar 50% perbedaan kekuatan antara individu dapat dihitung
berdasarkan ukuran otot. Jadi serat otot dengan luas permukaan yang besar mampu
menghasilkan kekuatan yang besar pula. Meskipun ukuran otot merupakan kontributor
yang signifikan untuk menghasilkan gaya atau kekuatan, terdapat perbedaan antara

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

26

peningkatan ukuran otot dan peningkatan kekuatan, terutama di awal
tahap awal program pengkondisian. Penelitian telah menunjukkan hal itu
pada tahap awal program latihan resistensi, terlihat terjadinya peningkatan kekuatan
otot mendahului hipertrofi otot. Dengan demikian, dimungkinkan untuk memperoleh
peningkatan kekuatan tanpa peningkatan ukuran massa otot. Peningkatan kekuatan otot
tanpa peningkatan luas penampang otot ini berhubungan dengan adaptasi sistem saraf.
Adaptasi sistem saraf memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan kekuatan
otot, terutama dalam 8 hingga 10 minggu pertama latihan. Setelah sekitar 10 minggu
latihan resistensi, hipertrofi otot menjadi faktor yang lebih menonjol terhadap
peningkatan kekuatan otot. Meski secara spesifik adaptasi sistem saraf dalam
meningkatkan kekuatan otot belum benar-benar diketahui, peningkatan kecepatan
impuls saraf ke otot yang terlatih, peningkatan koordinasi pada otot yang terlibat
dalam melakukan kontraksi, dan sinkronisasi aktivasi motor unit bisa menjelaskan sebab
terjadinya peningkatan kekuatan otot pada awal program latihan. Setelah berulang kali
melakukan gerakan tertentu, peningkatan aktivasi otot-otot yang terlatih telah
ditunjukkan dalam banyak penelitian. Bukti peningkatan aktivasi otot merupakan cara
adaptasi sistem saraf. Salah satu sebab yang terkenal dalam peningkatan aktivasi otot
adalah peningkatan kemampuan ambang rekrutmen (pengerahan) motor unit yang lebih
besar, sehingga mampu memberi stimulus terbesar pada otot yang dilatih. Kemampuan
ambang yang tinggi pada rekrutmen motor unit adalah merupakan hal yang penting
dalam pengembangan kekuatan, karena motor unit mengandung sejumlah besar serat
otot dan biasanya mengandung paling banyak serat tipe IIx untuk kekuatan.
Peningkatan aktivasi juga dapat terjadi sebagai hasil peningkatan laju potensial aksi
(laju coding) ke otot setelah motor unit telah diaktifkan. Laju pengkodean memungkinkan
motor motor menghasilkan kekuatan yang bervariasi, dengan laju letupan (firing) yang
lambat menghasilkan tingkat kekuatan yang relatif rendah, sedangkan laju
pengkodean yang cepat seperti pada letupan tetanik (terus menerus) akan
menghasilkan jumlah kekuatan maksimal. Latihan dapat meningkatkan laju letupan yang
cukup tinggi secara konsisten pada motor unit untuk menghasilkan kekuatan maksimal
setiap kali pengerahan (rekrutmen). Cara lain dimana latihan akan menghasilkan
peningkatan aktivasi saraf juga terkait dengan laju pengkodean, namun, yang ini tidak

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

27

mengarah pada peningkatan kekuatan, tetapi meningkatkan laju
pengembangan kekuatan. Karena tingkat letupan tetanik yang berjalan
pada motor neuron ke serat yang dipersarafi menghasilkan kekuatan maksimal di
motor unit, ada kemungkinan terjadi aktivasi otot yang lebih besar. Namun, produksi
kekuatan yang lebih besar bukanlah sebagai hasilnya. Hasilnya adalah waktu yang lebih
singkat untuk mencapai kekuatan maksimal dalam setiap motor unitnya. Selama
kontraksi balistik (mis. gerakan otot yang singkat yang dilakukan dengan kecepatan
maksimal), motor unit memulai letupan pada frekuensi yang sangat tinggi,
memungkinkan produksi kekuatan yang cepat untuk mempercepat gerakan, seperti
halnya pada gerakan melempar atau melompat. Gradasi kekuatan yang dihasilkan oleh
kontraksi balistik merupakan produksi kombinasi dari perekrutan motor unit
tambahan dan dengan peningkatan tingkat letupan motor unit.

Atrofi Otot Karena Tidak Aktif
Telah diketahui secara umum bahwa dis-use´ atau otot yang tidak digunakan akan
menyebabkan terjadinya atrofi. Atrofi otot ini dapat terjadi akibat istirahat di tempat tidur
dalam waktu yang lama, imobilisasi anggota tubuh karena cedera berat seperti patah
tulang atau berkurangnya kapasitas otot yang terjadi selama penerbangan luar
angkasa. Dari perspektif praktis, atrofi otot karena otot yang tidak digunakan
mengakibatkan hilangnya kekuatan otot setara dengan tingkat atrofi. Mengapa otot
menjadi atropi bila tidak digunakan? Penelitian telah menunjukkan bahwa selama dua
hari pertama otot tidak digunakan, sebagian besar atrofi awal terjadi karena
pengurangan sintesis protein otot. Setelah periode awal atrofi ini, atrofi berikutnya terjadi
terutama karena peningkatan pemecahan protein otot. Oleh karena itu, atrofi otot akibat
dis-use otot yang berkepanjangan terjadi karena pengurangan sintesis protein dan
peningkatan laju pemecahan protein otot. Meskipun atrofi otot mengakibatkan hilangnya
massa dan kekuatan otot, kehilangan ini tidak bersifat permanen dan dapat
dikembalikan keukuran semula bila otot kembali digunakan secara normal (reload
otot). Cara cepat dan efektif mengembalikan ukuran dan fungsi otot normal setelah
periode atrofi akibat tidak digunakan adalah dengan memulai program latihan
resistensi atau latihan kekuatan (angkat berat). Latihan resistensi akan memberikan

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

28

rangsangan pada otot dengan beban berlebihan akan meningkatkan
sintesis protein otot yang pada akhirnya akan menyebabkan otot hipertropi
dan meningkatkan kekuatan otot

Perubahan Otot Terkait Usia

Berkurangnya massa otot rangka terkait usia disebut dengan sarkopenia. Penurunan
massa otot terkait usia ini memiliki dua fase. Yang pertama adalah kehilangan massa
otot fase lambat, dimana 10% massa otot hilang, mulai dari usia 25 hingga 50 tahun.
Setelah itu, terjadi kehilangan massa otot fase cepat, yaitu mulai dari usia 50 hingga 80
tahun. Pada renggang waktu ini, 40% massa otot hilang. Dengan demikian, pada usia 80
tahun, setengah dari total massa otot hilang. Selain itu, penuaan memperlihatkan
hilangnya serabut otot cepat (terutama tipe IIx) dan peningkatan serabut tipe lambat.
Meskipun hilangnya massa otot terjadi pada usia tua, penurunan ukuran otot ini tidak
hanya disebabkan oleh proses penuaan tetapi sering juga disebabkan oleh atrofi yang
terkait dengan aktivitas fisik yang terbatas pada orang tua. Apakah penuaan
menghilangkan kemampuan otot rangka beradaptasi terhadap latihan? Jawabannya adalah
tidak. Meskipun olahraga yang teratur tidak dapat sepenuhnya menghindari hilangnya
massa otot yang berkaitan dengan usia, olahraga yang teratur dapat meningkatkan
daya tahan dan kekuatan otot pada lansia dengan cara yang mirip dengan apa yang
terjadi pada orang muda

Penyebab Local Muscular Fatigue

Otot atau sekelompok otot dapat mengalami kelelahan karena kegagalan salah satu atau

beberapa mekanisme neuromuskuler yang terlibat dalam kontraksi otot, yaitu

1). Kegagalan penyaluran impuls dalam motor unit saraf motorik yang mensarafi otot

2). Kegagalan pada hubungan saraf-otot (neuromuscular junction), sehingga tidak
terdapat penyaluran impuls saraf motorik ke otot. Jenis kelelahan ini lebih sering terjadi
pada otot tipe cepat (tipe II). Hal ini disebabkan berkurangnya pelepasan asetilkolin dari
ujung saraf.

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

29

3). Kegagalan dalam mekanisme kontraktil otot itu sendiri. Kelelahan
dalam mekanisme kontraktil disebabkan beberapa hal ; a). Akumulasi
Asam Laktat. Kelelahan karena akumulasi asam laktat lebih sering ditemukan pada otot
tipe cepat (tipe II) dan berhubungan dengan latihan anaerobik. Akumulasi asam laktat
akan menyebabkan peningkatan ion H dan penurunanan PH otot. Peningkatan ion H
akan menghambat kerja enzim fosfofruktokinase, suatu enzim yang bekerja pada
pembentukan energi anaerobik. b). Penipisan ATP dan fosfokreatin (PC). ATP adalah
sumber energi langsung yang digunakan otot untuk berkontraksi, demikian pula
fosfokreatin merupakan simpanan energi siap pakai untuk kontraksi otot. c). Penipisan
Persediaan Glikogen Otot. Pada latihan durasi panjang (misalnya, 30 menit hingga 4
jam), simpanan glikogen dalam otot, terutama pada otot tipe lambat akan menipis.
Penipisan glikogen ini akan menyebabkan kelelahan pada mekanisme kontraktil.
Meskipun asam lemak bebas dan glukosa (dari hati) masih tersedia sebagai bahan
bakar untuk kontraksi otot, Namun, sumber bahan bakar ini tidak dapat sepenuhnya
menggantikan glikogen otot dalam penyediaan energi pada kontraksi otot. 4). Kegagalan
pada sistem saraf pusat (yaitu otak dan medula spinalis) untuk memerintah dan
menyalurkan impuls saraf ke otot. Penelitian terbaru yang menemukan peran komponen
sistem saraf pusat dalam kelelahan lokal pada otot dilakukan oleh Dr. Erling Asmussen
dan rekan. Sebagian besar ahli berpendapat, kelelahan lokal pada otot disebabkan
kegagalan pada sambungan neuromuskular, mekanisme kontraktil, dan sistem saraf pusat.
Sedangkan kegagalan penyaluran impuls dalam motor unit saraf motorik yang
mensarafi otot, pengaruhnya tidak terlalu besar.

Nyeri Otot Setelah Latihan (Delayed-Onset Muscle Soreness)

Meskipun banyak teori telah diajukan untuk menjelaskan terjadinya nyeri otot setelah
latihan (DOMS), bukti menunjukkan bahwa keluhan ini disebabkan karena cedera jaringan
otot akibat kontraksi yang berlebihan, terutama setelah melakukan kontraksi
eksentrik. DOMS didefinisikan sebagai nyeri otot yang umumnya muncul 2 4 hingga
4 8 jam dan mencapai puncaknya antara 2 dan 3 hari setelah olahraga berat. Nyeri otot
ini akan mereda secara bertahap satu atau dua hari kemudian. Meski penyebabnya

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

30

belum tahu secara pasti, namun keadaan berikut ini diperkirakan
mengarah terjadinya DOMS;

1. Kerusakan struktural pada otot dan jaringan ikat yang terjadi sebagai akibat
kontraksi eksentrik yang berlebihan.

2. Akibat bocornya kalsium sehingga keluar dari sarcoplasmic reticulum dan
mengumpul di mitokondria, sehingga produksi ATP terhenti.

3. Penumpukan kalsium akan mengaktifkan enzim pemecah protein seluler, termasuk

protein kontraktil.

4. Kerusakan protein otot akibat proses inflamasi, sehingga menyebabkan terjadinya

akumulasi histamin, kalsium, prostaglandin, dan edema serabut otot disekitarnya yang

akan menstimulasi ujung saraf reseptor nyeri.

Upaya untuk mencegah terjadinya DOMS meliputi melakukan latihan yang mengikuti

prinsip-prinsip latihan, seperti mulai dari intensitas yang rendah kemudian ditingkatkan

secara perlahan-lahan dalam beberapa minggu pertama. Seperti diketahui, latihan

eksentrik penyebab utama terjadinya DOMS, maka upayakan melakukan latihan yang

bersifat eksentrik seminimal mungkin pada awal program. Latihan yang bersifat

eksentrik yang berat dapat dilakukan dikemudian hari setelah otot memiliki
kesempatan untuk beradaptasi dengan beban latihan yang baru.

Video Pembelajaran dapat dilihat di :

https://youtu.be/sbBg19LrKtY



Rangkuman :

Sistem neurologi atau system saraf adalah sistem pengaturan tubuh, meliputi

penghantaran impuls saraf ke susunan saraf pusat, pemrosesan impuls saraf dan

tanggapan sebagai jawaban dari rangsangan. Sistem muskular atau otot, antara lain

terdiri dari lebih dari 600 otot rangka, yang berfungsi untuk melakukan gerakan
berbagai bagian tubuh. Jaringan otot dikategorikan berdasarkan fungsinya dan apakah

otot tersebut bersifat involunter (dikendalikan secara sukarela atau tanpa sadar).

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

31

Misalnya, otot jantung memiliki fungsi berkontraksi secara khusus dan
terus menerus dan dikendalikan secara tak sadar (involunter).

Latihan :


1. Sebutkan bagian-bagian dari sel saraf !
2. Sebutkan bagian-bagian dari sistem saraf pusat !
3. Bagaimanakah hubungan saraf dengan otot ?
4. Apa yang dimaksud dengan DOMS ?
5. Bagaimana perubahan otot terkait usia ?

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

32

BAB III
KESEHATAN DAN OLAHRAGA

Tujuan : Memahami pengertian Kesehatan, Olahraga dan Jenis-Jenis Olahraga

3.1 Kesehatan

Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa
dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Hal
ini berarti kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental, dan sosial saja,
tapi juga dapat diukur dari aspek produktivitasnya dalam arti mempunyai pekerjaan atau
menghasilkan secara ekonomi. Menurut Undang-Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009,
kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
(Notoatmodjo,2012). Kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia,
sehat secara jasmani dan rohani. Pendidikan kesehatan merupakan suatu proses perubahan
perilaku yang dinamis, dengan tujuan mengubah perilaku manusia yang meliputi komponen
pengetahuan, sikap, ataupun perbuatan yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat baik
secara individu, kelompok, maupun masyarakat, serta menggunakan fasilitas pelayanan
kesehatan yang ada dengan tepat dan sesuai. Secara konsep pendidikan kesehatan adalah
upaya untuk mempengaruhi, atau mengajak orang lain, baik individu, kelompok, atau
masyarakat agar melaksanakan perilaku hidup sehat (Triwibowo, 2015).

3.2. Ruang Lingkup Olahraga

Mengacu pada Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional Nomor 3 tahun 2005 Bab II
pasal 4 menetapakan bahwa keolahragaan nasional bertujuan memelihara dan

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

33

meningkatkan kesehatan, kebugaran, prestasi, kualitas manusia,
menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat
dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkokoh ketahanan nasional, serta
mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa. Ruang lingkup olahraga itu sendiri
mencakup tiga pilar, yaitu: olahraga pendidikan, olahraga prestasi, dan olahraga rekreasi.
Ketiga pilar olahraga tersebut dilaksanakan melalui pembinaan dan pengembangan olahraga
secara terencana, sistematik, berjenjang, dan berkelanjutan, yang dimulai dari pembudayaan
dengan pengenalan gerak pada usia dini, pemassalan dengan menjadikan olahraga sebagai
gaya hidup, pembibitan dengan penelusuran bakat dan pemberdayaan sentra-sentra
olahraga, serta peningkatan prestasi dengan pembinnaan olahraga unggulan nasional
sehingga olahragawan andalan dapat meraih puncak pencapaian prestasi. Adapun ruang
lingkup dari ketiga pilar olahraga dapat dijabarkan sebagi berikut:

1) Olahraga Pendidikan

Olahraga pendidikan adalah pendidikan jasmani dan olahraga yang dilaksanakan sebagai
proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan
kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani. Olahraga pendidikan sebagai
bagian dari proses pendidikan secara umum yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan baik
satuan pendidikan formal maupun non formal, biasanya dilakukan oleh satuan pendidikan
pada setiap jenjang pendidikan, guru pendidikan jasmani dengan dibantu oleh tenaga
olahraga membimbing terselenggaranya kegiatan keolahragaan. Menurut Barrie Houlihan
(2016: 171) dalam meningkatkan prestasi olahraga, salah satunya adalah melalui jenjang
sekolah dan juga sistem pendidikan yang baik. Kebijakan olahraga di dalam dunia
pendidikan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan prestasi olahraga. Sehingga sangatlah
penting dalam mempertimbangkan bagaimana perumusan dan kebijakan olahraga dalam
dunia pendidikan, karena sekolah merupakan elemen yang penting dalam pembangunan
olahraga di masa depan. Di Indonesia lebih dikenal dengan nama Pendidikan Jasmani,
Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes), hal tersebut sesuai dengan yang diamanatkan dalam
Standar Nasional Pendidikan (PP RI No. 19 Tahun 2005 pasal 7 ayat 8). Selanjutnya
dijelaskan bahwa Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan didalamnya terkandung 3

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

34

(tiga) komponen isi yang seharusnya ada, yaitu: Pendidikan Jasmani;
Pendidikan Olahraga; dan Pendidikan Kesehatan.

a) Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani memiliki kajian tersendiri namun sebenarnya merupakan satu kesatuan
dalam konsep Penjasorkes. Definisi Pendidikan Jasmani menurut Sugiyanto (2012: 16)
menyatakan “Pendidikan Jasmani, suatu bagian integral dari proses pendidikan total, adalah
suatu bidang upaya yang bertujuan mengembangkan warga negara yang segar (fit) secara
fisik, mental, emosi dan sosial melalui medium aktivitas fisik yang dipilih sesuai sudut
pandang perealisasian tujuan tersebut. Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan
yang melibatkan aktivitas fisik dengan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan yang
ingin dicapai bersifat menyeluruh, mencakup aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, dan
moral. Berkenaan dengan aspek fisik, tujuan utama pendidikan jasmani adalah untuk
memperkaya perbendaharaan gerak dasar anak-anak dengan aktivitas fisik, sesuai dengan
tingkat perkembangan dan pertumbuhannya.

b) Pendidikan Olahraga

Pendidikan olahraga merupakan sebuah konsep hasil pengembangan dari Penjasorkes
diamana memiliki tujuan yang lebig spesifik yaitu mengarah pada prestasi olahraga peserta
didik. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Sugiyanto (2012: 34) yang berpendapat bahwa,”
model pendidikan olahraga dinilai memiliki tujuan yang lebih ambisius dibanding dengan
program olahraga di dalam pendidikan jasmani. Pendidikan olahraga berusaha mendidik
murid untuk menjadi olahragawan yang kompeten, cerdas dan antusias. Selanjutnya
dijelaskan bahwa olahraga yang kompeten berarti memiliki keterampilan yang memadai
untuk berpartisispasi dalam pertandingan, memahami dan dapat melakasanakan strategi
sesuai dengan kompleksitas permainan dan sebagai pemain yang berpengetahuan.
Olahragawan yang cerdas berarti mudah untuk memahami peraturan, tatacara dan tradisi
dalam olahraga serta dapat membedakan antara praktek olahraga yang baik dan yang buruk,
baik pada anak-anak maupun olahragawan profesional. Olahragawan yang antusias berarti

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

35

berpartisipasi dan berperilaku dalam cara memelihara, melindungi dan
mempertinggi budaya olahraga. Sebagai anggota kelompok olahraga turut
mengembangkan olahraga pada tingkat lokal, nasional dan internasional.

c) Pendidikan Kesehatan

Kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap aktivitas kehidupan dimana kesehatan
harus selalu dijaga dan ditingkatkan. Untuk menjaga kesehatan adalah dengan berolahraga
dan menjaga pola hidup sehat. Slogan yang berbunyi “kesehatan merupakan harta yang
paling berharga” adalah benar adanya. Banyak orang yang tidak perduli akan kesehatan
bahkan tidak mementingkan kesehatan untuk dirinya sendiri. Ketidaktahuan akan cara yang
benar untuk menjaga kesehatan menjadi salah satu faktor penyebabnya. Kehidupan sekolah
yang terlalu membebankan kepada tugas-tugas berkombinasi pula dengan kehidupan di
rumah yang tidak menekankan pentingnya hidup sehat akan berdampak buruk pada
kesehatan itu sendiri. Kemajuan teknologi yang semakin tidak terkendali akan memberikan
efek yang buruk jika tidak diimbangi dengan kemawasan diri akan pentingnya hidup sehat
sehingga anak-anak akan terfokus pada kemajuan teknologi dan tidak menyediakan waktu
luang untuk berolahraga. Hal ini dapat menyebabkan kebugaran tubuh anak-anak sekarang
akan cenderung semakin rendah. Seiring semakin rendahnya kesegaran jasmani, kian
meningkat kemalasan seseorang dalam melakukan gerak tubuh, lambat laun hal ini dapat
menimbulkan gejala penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan gerak (hipokinetik) seperti
kegemukan, tekanan darah tinggi, kencing manis, nyeri pinggang bagian bawah. Selain itu
penyakit jantung yang biasanya menyerang manusia pada saat dewasa bisa saja beralih
menyerang pada masa kanak-kanak. Sejalan dengan itu, pengetahuan dan kebiasaan makan
yang tidak sehatpun semakin memperburuk masalah kesehatan anak-anak. Dengan pola gizi
yang tidak seimbang, mereka menhadapkan diri mereka sendiri pada resiko penyakit
degenerative (menurunnya fungsi organ) yang semakin besar. Sangat penting untuk menjaga
kesehatan baik jasmani maupun rohani oleh karena itu pendidikan kesehatan menjadi
krusial khsusunya untuk pelajar di sekolah. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Giriwijoyo
dan Sidik (2012: 28) bahwa “ olahraga kesehatan meningkatkan derajat sehat dinamis (sehat
dalam gerak), pasti juga sehat statis (sehat dikala diam), tetapi tidak pasti sebaliknya, gemar

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

36

berolahraga: mencegah penyakit, hidup sehat dan nikmat. Malas
berolahraga: mengundang penyakit. Tidak berolahraga: menelantarkan diri”.
Sugiyanto (2013: 34) menyatakan bahwa, “pendidikan kesehatan pada dasarnya merupakan
kajian yang bersifat multi disiplin”. Isinya diambil dari banyak bidang ilmu lain kedokteran,
kesehatan masyarakat, kejasmanian, psikologi, biologi dan sosiologi. Lingkup kajiannya pun
luas yang mencakup antara lain hakekat sehat dan penyakit, kegizian, pencegahan cedera,
pertolongan pertama pada kecelakaan, pencegahan penggunaan narkotika dan obat-obat
terlarang, hakekat perilaku dan kebiasaan hidup sehat dan pemeliharaan kesehatan. Aspek
layanan yang termasuk di dalamnya meliputi penanganan kehidupan sekolah yang sehat
melalui pembelajaran pendidikan kesehatan dan diaplikasikan dalam bentuk organisasi UKS
dan PMR.

2) Olahraga Prestasi

Olahraga prestasi adalah olahraga yang membina dan mengembangkan olahragawan secara
khusus dengan cara, terprogram, berjenjang dan berkelanjutan melalui kompetisi yang
dilakukan selanjutnya para olahragawan yang memiliki potensi untuk dapat ditingkatakan
prestasinya akan dimasukan kedalam asrama maupun tempat pelatihan khusus agar dapat
dibina lebih lanjut guna mendapatkan prestasi yang lebih tinggi dan dengan didukung
bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan yang lebih modern. Pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan adalah peningkatan kualitas maupun
kuantitas pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaedah dan teori ilmu
pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk peningkatan fungsi, manfaat dan
aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada atau menghasilkan teknologi baru
bagi kegiatan keolahragaan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Kristiyanto (2012: 12)
yang menyatakan bahwa, “Dalam lingkup olahraga prestasi, tujuannya adalah untuk
menciptakan prestasi yang setinggi-tingginya. Artinya bahwa berbagai pihak seharusnya
berupaya untuk mensinergikan hal-hal dominan yang berpengaruh terhadap peningkatan
prestasi di bidang olahraga. Untuk mendapatkan atlet olahraga yang berprestasi, disamping
proses latihan yang terprogram dan terencana dengan menerapkan prinsip-prinsip latihan,
juga harus memperhatikan asupan gizi para atlet, selain itu harus pula di barengi dengan

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

37

pengadaan kompetisi-kompetisi secara rutin agar atlet dapat menerapkan
teknik dan taktik yang diperoleh selama pelatihan di arena sesungguhnya
dan itu dapat mengasah mental para atlet itu sendiri dalam menghadapi kompetisi yang
sesungguhnya. Semakin banyak jam terbang atlet dalam suatu kompetisi maka akan semakin
berpengalaman pula atlet itu dalam megnhadapi situasi yang berubah-ubah dalam
pertandingan. Pembinaan olahraga prestasi bertujuan untuk mengembangkan olahragawan
secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai yang
prestasi yang tinggi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan.
Keterbatasan dari pemerintah menuntut cabang- cabang olahraga lain yang belum menjadi
prioritas pendanaan pemerintah, perlu menggalang dana kolektif dari masyarakat dan
swasta. Para pemerhati olahraga di Indonesia perlu menyatukan suara guna membangun
kejayaan olahraga. Salah satunya dengan menetapkan sebuah badan yang benar-benar
independen dan hanya berfokus pada pembangunan olahraga di Indonesia serta bebas dari
segala kepentingan politik di dalamnya. Pembinaan olahraga prestasi berbentuk segitiga
atau sering disebut pola piramida adan berporos pada proses pembinaan yang
berkelanjutan. Dikatakan berkelanjutan karena pola itu harus didasari cara pandang yang
utuh dalam memaknai program pemassalan dan pembibitan dengan program pembinaan
prestasinya. Program tersebut memandang arti penting pemassalan dan pembibitan yang
bisa jadi berlangsung dalam program pendidikan jasmani yang baik, diperkuat dengan
program pengembangannya dalam kegiatan klub olahraga sekolah, dimatangkan dalam
berbagai aktivitas kompetisi intramural dan idealnya tergodok dalam program kompetisi
intersklastik, serta dimantapkan melalui pemuncakan prestasi dalam bentuk training camp
bagi para bibit atlet yang terbukti berbakat. Membangun strategi pembinaan olahraga secara
nasional memerlukan waktu dan penataan sistem secara terpadu. Pemerintah dalam hal ini
adalah Kementerian Pemuda dan Olahraga tidak dapat bekerja sendiri tanpa sinergi dalam
kelembagaan lain yang terkait dengan pembinaan sistem keolahragaan secara nasional.
Penataan olahraga prestasi harus dimulai dari pemassalan olahraga dimasyarakat yang
diharapkan memunculkan bibit-bibit atlet berpotensi dan ini akan didapat pada atlet yang
dimulai dari usia sekolah. Pembinaan olahraga prestasi harus berjangka waktu kehidupan
atlet, dimulai pada saat merekrut seorang anak untuk dikembangkan menjadi seorang atlet.
Dalam merekrut calon atlet, postur dan struktur tubuhnya harus dilihat apakah tubuh

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

38

(termasuk kemampuan jantung dan paru-paru) calon atlet itu bisa dibentuk
dengan latihan-latihan untuk menjadi kuat, cepat dan punya endurance atau
daya tahan. Untuk dapat menggerakan pembinaan olahraga harus diselenggarakan dengan
berbagai cara yang dapat mengikutsertakan atau memberi kesempatan seluas-luasnya
kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga secara aktif,
berkesinambungan, dan penuh kesadaran akan tujuan olahraga yang sebenarnya. Pembinaan
olahraga seperti ini hanya dapat terselenggara apabila ada suatu sistem pengelolaan
keolahragaan nasional yang terencana, terpadu, dan berkesinambungan dalam semangat
kebersamaan dari seluruh lapisan masyarakat. Pembinaan atlet usia pelajar sering kali tidak
terjadi kesinambungan dengan pembinaan cabang olahraga prioritas. Hal ini bisa dilihat dari
berbagai cabang olahraga yang merupakan andalan untuk meraih medali emas tidak dibina
secara berjenjang. Untuk itu perlu dilakukan penyusunan program pembibitan atlet usia dini
dengan cabang olahraga yang menjadi prioritas. Sebagai langkah berikutnya perlu
melakukan kerja sama antara Menteri Pemuda dan Olahraga dengan Komite Olahraga
Nasional Indonesia Pusat serta induk organisasi cabang olahraga untuk membicarakan
cabang-cabang olahraga yang menjadi prioritas utama baik didaerah, nasional maupun
internasional.

3) Olahraga Rekreasi

Olahraga rekreasi adalah olahraga yang dilakukan oleh masyarakat dengan kegemaran dan
kemampuan yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi dan nilai budaya
masyarakat setempat untuk kesehatan, kebugaran dan kegembiraan. Hal ini sejalan dengan
pasal 19 Bab VI UU Nomor 3 Tahun 2005 dinyatakan bahwa “olahraga rekreasi bertujuan
untuk memperoleh kesehatan, kebugaran jasmani dan kegembiraan, membangun hubungan
sosial dan atau melestarikan dan meningkatkan kekayaan budaya daerah dan nasional”.
Selanjutnya dinyatakan bahwa pemerintah daerah dan masyarakat berkewajiban menggali,
mengembangkan dan memajukan olahraga rekreasi. Menurut Kristiyanto (2012: 6)
berpendapat bahwa “olahraga rekreasi terkait erat dengan aktivitas waktu luang dimana
orang bebas dari pekerjaan rutin. Waktu luang merupakan waktu yang ridak diwajibkan
dan terbebas dari berbagai keperluan psikis dan sosial yang telah menjadi komitmennya”.

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

39

Kegiatan yang umum dilakukan untuk rekreasi adalah pariwisata, olahraga,
permainan, dan hobi dan kegiatan rekreasi umumnya dilakukan pada akhir
pekan. Kegiatan rekreasi merupakan salah satu kegiatan yang dibutuhkan oleh setiap
manusia. Kegiatan tersebut ada yang diawali dengan mengadakan perjalanan ke suatu
tempat dan sebagainya. Secara psikologi banyak orang yang di lapangan merasa jenuh
dengan adanya beberapa kesibukan dari masalah, sehingga mereka membutuhkan istirahat
dari bekerja, tidur dengan nyaman, bersantai sehabis latihan, keseimbangan antara
pengeluaran dan pendapatan, mempunyai teman bekerja yang baik, kebutuhan untuk hidup
bebas, dan merasa aman dari resiko buruk. Melihat beberapa pernyataan di atas, maka
rekreasi dapat disimpulkan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan sebagai pengisi waktu
luang untuk satu atau beberapa tujuan, diantaranya untuk kesenangan, kepuasan,
penyegaran sikap dan mental yang dapat memulihkan kekuatan baik fisik maupun mental.
Beragam jenis olahraga rekreasi yang merupakan kekayaan asli dan jati diri bangsa
Indonesia perlu dilestarikan, dipelihara dan diperkenalkan kepada generasi muda penerus,
serta didokumentasikan dengan serius dan cermat, sehingga aset budaya dan jati diri bangsa
Indonesia tidak hilang atau diakui oleh bangsa lain. Disamping itu, gerakan sport for all,
yang menjadikan olahraga sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan kualitas
sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan dan kebugaran masayarakat serta aspek lain
yang dibutuhkan oleh pembentukan karakter dan jati diri suatu bangsa, menjadikannya
sebagai kekuatan yang ampuh dalam upaya memepersatukan bangsa Indonesia dalam
kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Rangkuman :
Kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia, sehat secara jasmani
dan rohani. Pendidikan kesehatan merupakan suatu proses perubahan perilaku yang
dinamis, dengan tujuan mengubah perilaku manusia yang meliputi komponen pengetahuan,
sikap, ataupun perbuatan yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat baik secara individu,
kelompok, maupun masyarakat, serta menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada
dengan tepat dan sesuai. Ruang lingkup olahraga itu sendiri mencakup tiga pilar, yaitu:
olahraga pendidikan, olahraga prestasi, dan olahraga rekreasi. Ketiga pilar olahraga tersebut
dilaksanakan melalui pembinaan dan pengembangan olahraga secara terencana, sistematik,

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

40
berjenjang, dan berkelanjutan, yang dimulai dari pembudayaan dengan
pengenalan gerak pada usia dini, pemassalan dengan menjadikan olahraga
sebagai gaya hidup, pembibitan dengan penelusuran bakat dan pemberdayaan sentra-sentra
olahraga, serta peningkatan prestasi dengan pembinnaan olahraga unggulan nasional
sehingga olahragawan andalan dapat meraih puncak pencapaian prestasi.
Latihan :

1. Apa yang dimaksud dengan sehat?
2. Apa yang dimaksud dengan Olahraga Pendidikan?
3. Apa yang dimaksud dengan Olahraga Prestasi?
4. Apa yang dimaksud dengan Olahraga Rekreasi ?
5. Apa yang dimaksud dengan Pendidikan jasmani ?


MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

41

BAB IV
RESPON DAN ADAPTASI TUBUH TERHADAP LATIHAN AEROBIK

DAN ANAEROBIK



Tujuan : Memahami respon adaptasi tubuh terhadap latihan aerobik dan anaerobik


4.1 Latihan Dan Kebutuhan Energi
Banyak bentuk aktivitas fisik yang membutuhkan tenaga ledak (explosive power). Pada
gerakan seperti ini, tubuh membutuhkan sejumlah energi yang jauh melebihi kapasitas
penyediaan oksigen tubuh. Bahkan dengan oksigen yang tersediapun, transfer energi
seluler yang berasal dari reaksi aerobik berlangsung terlalu lambat untuk memenuhi
kebutuhan energi pada jenis aktifitas seperti ini. Hal ini berarti kapasitas transfer
energi anaerob yang cepat menentukan seberapa cepat seorang pelari bisa berlari
sprint, seberapa tinggi seorang pemain basket bisa melompat, seberapa cepat seorang
pesilat bisa melancarkan serangan atau seberapa jauh seorang pemain sepakbola bisa
menendang bola ke tengah lapangan. Bahkan seorang pemain basket, tenis, hoki
lapangan, dan sepak bola yang dalam permainannya membutuhkan lari sprint dan
membutuhkan gerakan berhenti dan berlari, maka dalam hal ini, energi dari
metabolisme anaerob memainkan peran yang sangat penting. Sebaliknya, pada jenis
latihan yang lain, seperti gerakan yang memerlukan daya tahan, maka kebutuhan
energinya dipenuhi dari sistem energi aerobik. Gerakan yang mengandalkan daya tahan
ini membutuhkan kerja sistem kardiovaskular agar mampu menghasilkan sejumlah
besar darah yang distribusikan ke jaringan. Sistem energi aerobik juga dibutuhkan pada
proses resintesis adenosin trifosfat (ATP). Resintesis adenosin trifosfat ini terjadi
akibat ATP yang kehabisan selama latihan anaerobik. Maka dengan demikian terlihat
sistem energi berjalan secara bersamaan.

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

42

Energi Untuk Latihan : Harus Tahu Memilih Jenis Latihan
Merangsang adaptasi struktural dan fisiologis tubuh dalam upaya
meningkatkan performa menjadi tujuan utama setiap latihan olahraga. Dalam melakukan
latihan pada cabang olahraga tertentu atau melakukan latihan dengan hanya untuk
tujuan meningkatkan performa, semuanya memerlukan pertimbangan yang cermat
mengenai jenis sumber energi yang akan digunakan. Memilih bentuk latihan merupakan
bentuk dasar yang efektif dalam memilih sistem transfer energi yang akan digunakan.
Kita harus ingat, bahwa tiga sistem energi (ATP-sistem phosphocreatine [PCr], sistem
asam laktat [glikolitik], dan system aerob) berkerja secara bersamaan. Kontribusi
sistem energi terhadap total kebutuhan energi dapat sangat berbeda tergantung pada
durasi dan intensitas latihan, termasuk tingkat kebugaran pelakunya.
Upaya maksimal dalam melakukan servis pada permainan tenis, mengayun stick golf,
melakukan flip ke depan pada olahraga senam, dan bahkan melakukan sprin 60 atau
100 m membutuhkan transfer energi segera. Semua aktifitas ini memerlukan sistem
energi anaerob. Latihan yang mempunyai intensitas tinggi dengan durasi pendek secara
eksklusif memperoleh energi siap pakai yang selalu tersimpan dalam otot berupa ATP dan
fosfokreatin (PCr). Bahkan pada latihan yang berdurasi kurang hingga 90 detik (mis.,
berenang 100 m atau berlari 440 m), transfer sistem energi anaerob masih mendominasi.
Pada fase berikutnya, ketika latihan berintensitas tinggi terus berlanjut maka sumber
energi diperoleh dari sistem glikolitik anaerob. Pada fase ini merupakan awal
pemecahan karbohidrat disertai pembentukan laktat. Kapasitas akumulasi asam laktat
menggambarkan besarnya energi dihasilkan dari sumber anaerob. Latihan pada kegiatan
tipe anaerobik harus mencapai intensitas dan durasi yang memadai untuk membebani
sistem transfer energi glikolitik. Gulat, tinju, hoki, berenang 200 m, berlari 1500 m,
semuanya membutuhkan kecepatan transfer energi anaerob bersama sistem energi
aerobik. Bila intensitas latihan berkurang dan durasinya diperpanjang antara 2 hingga 4
menit, maka ketergantungan pada sistem energi anaerob mulai berkurang, sebaliknya
ketergantungan pada sistem energi aerobik mulai dirasakan. Bila latihan dilakukan lebih
dari 4 menit, tubuh menjadi semakin tergantung pada metabolisme aerob. Sistem energi
aerobik hampir secara eksklusif dibutuhkan pada olahraga lari maraton, berenang jarak
jauh dan olahraga bersepeda 40 km yang dilakukan secara terus menerus.

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

43

Prinsip Latihan
Pengkondisian fisiologis yang efektif membutuhkan aturan aktivitas fisik yang terencana
dan harus dilaksanakan dengan tepat. Bila kita berfokus pada kompetisi, maka frekuensi
latihan, intensitas latihan, durasi latihan, jenis latihan, lamanya suatu periode
latihan dan jumlah pengulangan setiap aktifitas fisik harus disesuaikan. Faktor-faktor ini
dapat bervariasi tergantung pada sasaran latihan. Beberapa prinsip latihan untuk
pengkondisian fisiologis mendasari klasifikasi aktifitas berdasarkan intensitas dan durasi
aktifitas sebagai berikut;
- Latihan yang membutuhkan power, seperti angkat berat, lompat tinggi, lempar lembing
atau melakukan servis pada permainan tenis; sumber energinya berasal dari ATP
- Latihan yang membutuhkan power berkelanjutan, seperti lari sprint; sumber energinya
berasal dari ATP + PCr
- Latihan yang anaerobik power dikombinasi dengan latihan daya tahan, seperti lari 200
m, lari 4 m dan renang 100 m; sumber energinya berasal dari ATP + PCr + Glikolisis
anerob glukosa/glikogen
- Latihan yang aerobik, seperti lari diatas 800 m, sumber energinya berasal dari oksidasi
fosforilasi dan transport elektron karbohidrat dan lipolisis lemak. Pendekatan dasar guna
pengkondisian fisiologi juga berlaku untuk pria dan wanita dalam rentang usia yang
luas. Respon dan adaptasi terhadap latihan pada dasarnya adalah sama.

Prinsip Pengembangan Multilateral

Konsep pengembangan multilateral, yang sering dijumpai pada berbagai bidang
pendidikan dan human endeavors. Pada cabang olahraga, pengembangan multilateral,
atau pengembangan fisik secara keseluruhan, adalah sebuah keharusan. Penggunaan
rencana pengembangan multilateral teramat sangat penting selama tahap awal
pengembangan atlet. Pengembangan multilateral selama rentang waktu beberapa
tahun merupakan dasar periode-periode latihan ketika titik berat berfokus pada
perencanaan pengembangan spesialisasi. Jika prinsip ini diterapkan, fase latihan
multilateral akan menguntungkan untuk mengembangkan

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA

44

kemampuan atlet secara fisik dan psikologi yang merupakan dasar
maksimalisasi kinerja atlet pada pengembangan karirnya. Latihan
multilateral yang luas pada pengembangan fisik adalah suatu hal yang sangat penting
untuk persiapan atlet agar berkembang lebih spesilaisasi dikemudian hari. Jika latihan
dilakukan dengan pentahapan yang baik dan dimulai dengan multilateral yang kuat
pada awal pengembangan, atlet akan dapat mencapai level persiapan fisik yang lebih
tinggi dan teknik secara sempurna dan pada akhirnya akan mencapai prestasi yang
lebih tinggi. Tahap latihan multilateral tidak dapat dipisahkan dari proses latihan secara
khusus. Sebaliknya, latihan secara khusus dilakukan pada setiap tingkatan program
latihan tetapi dengan proporsi yang berbeda-beda. Selama tahapan multilateral,
persentasi dari latihan spesialisasi sangat kecil. Dan ketika atlet sudah mencapai
kematangan, derajat spesialisasi akan mengalami peningkatan. Hal ini dipercaya
bahwa latihan multilateral sebagai penyediaan landasan bagi pengembangan atlet di
kemudian hari dan membantu atlet mencegah cedera karena penggunaan yang
berlebihan dan kebuntuan pada latihan.

Dukungan pada keuntungan latihan pengembangan multilateral dapat dilihat pada
beberapa penelitian jangka panjang yang dilakukan di tiga negara. Pada penelitian
selama 14 tahun di bekas negara Jerman Timur, sebagian besar dari atlet yang
berumur 9-12 tahun ditempatkan dalam dua kelompok. Pada kelompok pertama dilatih
dengan pendekatan Amerika Utara, yang berfokus pada spesialisasi cabang olahraga
tertentu lebih awal. Yaitu, atlet dilatih menggunakan jenis dan metode latihan hanya
untuk cabang olahraga yang telah ditentukan tersebut. Kelompok kedua, mengikuti
program generalisasi yang difokuskan pada pengembangan multilateral. Kelompok ini
diikutkan pada berbagai cabang olahraga, diberikan pembelajaran berbagai jenis
keterampilan, dan ikut ambil bagian pada latihan fisik untuk menunjang latihan-
latihan keterampilan khusus, serta latihan fisik lainnya. Hasilnya memperlihatkan
terdapat perbedaan antara spesialisasi dan pengembangan multilateral, dimana latihan
yang dilandasi secara kuat, dengan menggunakan pendekatan multilateral, lebih unggul
dalam kesuksesan atlet.

Prinsip kekhususan

MODUL FISIOLOGI OLAHRAGA


Click to View FlipBook Version