The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

novel pribadi pendewasaan dibuat oleh Raffael Jofian Aldrikaestu Kelas XII IPS 3/ 18

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by raffaeljofian07, 2022-12-05 23:33:47

Pendewasaan

novel pribadi pendewasaan dibuat oleh Raffael Jofian Aldrikaestu Kelas XII IPS 3/ 18

Pendewasaan

Hari hari dilalui dengan sulit, dan berat yang selalu
dirasakan anak kecil berumur 15 tahun yang pola pikirnya
belum bisa seperti teman-teman di sekolahnya, masih
memikirkan apa yang dia sukai, dan belum bisa mengontrol
diri saat itu. Masa dewasa kita memang harus berani
berpotensi berkembang diri, karena pendewasaan ini butuh
proses dari diri kita, niat dan keinginan kita. Tanpa niat atau
kepastian kita, kita akan sulit menghadapi dunia, apalagi ini
Dunia digital penuh kemajuan jaman.

Banyak masalah yang sering dihadapi oleh diri kita
sendiri, salah satunya adalah masalah pribadi kita, masalah
hati dan pikiran. Kadang manusia susah untuk mengontrol diri
sendiri, mulai dari susah mengontrol hati dan pikiran. Dimasa
sekolah ini kita di haruskan belajar di rumah atau
pembelajaran online. Sebagian orang menganggap
pembelajaran online ini sangat efektif karena kita bisa
berkomunikasi jarak jauh dengan teman-teman dan juga guru,
tetapi ada juga yang tidak setuju salah satunya aku. Seorang
anak kecil yang belum begitu pandai juga dalam pelajaran, dan
masih kurang bersosialisasi. Walau tidak begitu suka dengan
keadaan saat ini, aku juga tidak begitu suka keramaian waktu
itu.

Waktu terus berlanjut, jika aku terus bermalas malasan
atau tidak menginginkan pembelajaran jarak jauh, aku akan
tertinggal mata pelajaran. Seorang anak kecil yang susah

untuk berkembang dalam dirinya, susah untuk
mengembangkan potensi minat dan bakat dalam dirinya,
membuat dia sulit untuk meyakinkan dia tentang masa
depannya. Hal ini harus ditindak lanjuti dan tidak boleh
menetap di hal hal seperti ini. Aku belum bisa berpikir kritis
terhadap diriku waktu itu. Sangat sulit untuk meyakinkan diri
apalagi dalam diri yang susah untuk mengontrol diri.

Setiap hari selalu ku jalani seperti hari hari normal,
banyak keluh kesah setiap proses yang aku lakuin setiap
harinya, seperti salah satunya bermalas malasan. Seluruh
manusia pernah merasakan apa yang namanya malas, seperti
halnya diriku. Bermalas malasan dengan pembelajaran di
sekolah, padahal ingin bekerja di kapan pesiar, tapi entah
mengapa pada saat itu sangat malas sekali untuk belajar,
orang tuaku pernah berkata “kamu masih pengen sekolah apa
ngga kalau malas malasan seperti ini terus”. Itulah hal yang
paling sering dihadapi pada saat itu.

Hari hari ku lalui dengan pembelajaran online, setiap pagi
yang dulunya jika aku sekolah tatap muka, hari hariku senang
karena bisa bertemu dengan teman teman di sekolah, jika saat
ini aku merasakan hal yang berbeda. Tingkat kemalasanku
bertambah, sulit untuk dapat mengontrol diri dengan baik,
setiap mata pelajaran yang diajarkan oleh guru aku cuek,
kadang tidak mendengarkan apa yang diajarkan, di kasih
pertanyaan oleh guru juga kadang tidak menjawab atau hanya
menjawab sebebisanya. Aku sangat tidak ingin berada di
situasi saat ini. Pikiranku kacau, banyak tugas menumpuk dan
diriku masih mengalami masa kemalasan yang tiada hentinya,

masih memikirkan diri sendiri, dan belum berpikir kedepan
apa yang harus dilakukan kedepannya, apa yang harus
dipersiapkan untuk kedepannya, ulangan tengah semester
nanti, ulangan kenaikan kelas nanti, aku masih memikirkan diri
sendiri tanpa butuh orang lain.

Hal ini sangat mengganggu kinerja dalam diriku, apa lagi
perkembangan diriku, sangat sulit untuk dipikirkan. Hari hari
berlalu, dengan sangat percaya dirinya aku dapat merasakan
hal yang berbeda seperti sebelumnya, aku dapat merasakan,
dapat berpikir bahwa aku itu bisa berubah, tergantung dengan
niat kita dan keinginan kita, tidak peduli jika kita tidak

atau apapun itu, yang penting pada saat itu aku bisa
melakukannya dengan serius, pikiranku selalu memikirkan “
aku pasti bisa”. Tetapi aku juga kadang sering berpikir bahwa
“ini beneran bisa ga ya” kalimat ini selalu ada di dalam
benakku, apalagi dipikiranku. Tetapi saat itu aku hanya ingin
merasa percaya diri pada seluruh perkembangan diriku, aku
tidak malu jika aku kurang pandai, aku tidak malu jika aku
susah untuk bersosialisasi, yang terpenting adalah bagaimana
aku mengolah diri untuk menjadi lebih baik lagi dari
sebelumnya, mulai dari kemalasan, rasa kurang percaya
kepada diri sendiri.

Pada hari kenaikan kelas, pada saat itu aku masih
menduduki kelas 10 atau kelas 1 SMA, aku ingin ulangan
kenaikan kelas ini berdampak positif dengan diriku saat itu
juga, aku meyakinkan diriku agar bisa percaya diri kepada apa
yang aku lakukan.

Dibalik kemalasanku, terdapat hal yang membuatku
senang walau tidak seberapa pentingnya. Aku senang memiliki
teman online dari media game online, di posisi itu aku sangat
sering bermain game online bersama teman teman online,
sampai pada akhirnya aku mendapat konsekuensinya yaitu,
nilai rapot belum begitu memuaskan. Orang tuaku selalu
mengingatkanku untuk tidak berlama lama bermain hp, tidak
semua orang harus memikirkan dirinya sendiri, kita juga butuh
orang lain untuk kita. Waktu ke waktu, aku berusaha untuk
tidak bermain game 2 hari. Pada waktu itu aku mendapat
perhatian dari guru wali kelasku, aku diberi waktu untuk

menyelesaikan semua tugas dari beberapa mapel yang
memberi tugas tugas tersebut. Itu yang aku dapatkan.

Hari dimana aku bermain game terus menerus, yang
sangat menimbulkan masalah dalam keluarga, kemarahan,
konflik karena orang tuaku tidak mau anaknya seperti mereka,
orang tuaku selalu mengharapkan bahwa aku itu harus bisa
menggapai cita-cita yang ingin ku tempuh.

Dulu sikapku sangatlah belum berkembang sedikit pun,
masih sering mengeluh tentang diri sendiri, mengeluh tentang
sekolah dan pelajaran, mengeluh bahwa aku tidak bisa
melakukannya, aku tidak mampu melakukannya. Sering
bermain game online menambah buruk keadaanku waktu itu.

Pada waktu bermain dengan teman-teman online di
dalam game, aku diajak untuk turnamen kecil kecilan game
online, dan pada saat itu aku memikirkan, menjadi seorang
pro player tidak begitu buruk. Tetapi disisi lain aku ingin
bekerja tetap di kapal pesiar, aku tidak ingin cita citaku luntur
hanya perkara game online. Hari hari terus berjalan dan
normal seperti biasanya, dan mulai adanya permasalahan
hidup lain yang sulit untukku jelaskan, tetapi aku berusaha
untuk tidak memikirkannya dan fokus untuk belajar, pada saat
itu aku tidak mencoba lagi untuk hal hal yang kurang penting
dalam hidupku, walau sering bermain game, tapi aku berusaha
untuk bisa mengatur waktu dengan baik dan benar, aku ingin
membanggakan kedua orangtuaku, dan aku ingin
membuktikan kepada teman teman sekolahku, guru, dan
semua orang bahwa aku mampu, aku bisa menghadapi ini
semua, aku ingin melihat teman temanku berbicara “wahh

kamu hebat”, aku ingin sekali mendengarkan ucapan dari
orang tuaku “mamah sama ayah bangga punya anak seperti
kamu”. Dan pada saat itu semua usaha yang aku lakukan dan
proses demi proses yang aku jalanin, semoga menjadi harapan
yang nyata bagiku.

Kelas 11 atau kelas 2 SMA telah ku tempuh saat ini, aku
sudah memulai pemikiran dewasaku, karena waktu sudah
begitu membaik, maka pembelajaran online sebagian hari di
tutup, jadi setengah hari kita dapat datang ke sekolah
langsung untuk belajar tatap muka. Diposisi itu aku senang
karena beban kemalasanku berkurang karena pembelajaran
online sudah tidak diberlakukannya lagi, tergantung dengan
kondisi jika virus Corona ini terus meningkat maka
pembelajaran online di adakan lagi, dan aku tidak ingin hal ini
terjadi lagi.

Pada saat pembelajaran tatap muka, aku senang bisa
melihat langsung teman temanku, yang selama 1 tahun tidak
bertemu karena kasus virus Corona pada saat itu. Waktu demi
waktu, aku selalu membenahi hidupku kembali, seperti aku
memperbaiki diri dari seluruh kesalahan yang aku buat pada
tahun lalu. Aku tidak ingin hal dulu terulang kembali. Proses
pendewasaanku sedang berproses, aku ingin seluruh
keinginanku terwujud apalagi keinginan orang tua. Kelas 11
SMA aku sudah mulai menata diri, menata prinsip hidup
seperti apa yang harus aku lakukan agar berdampak besar
bagiku untuk kedepannya.

Membutuhkan keyakinan, niat proses dalam melakukan
sesuatu dan, bersyukur kepada Tuhan, agar kita diberi

kelancaran di setiap proses proses yang kita lakukan. Setiap
hari, kutempuh hari demi hari dengan rasa senang dan niat
penuh, karena aku tidak ingin masa dulu terulang kembali, aku
sudah memulai hidup yang baru, proses dewasa yang baru,
yang dimana aku sudah berumur 16 tahun, aku bangga karena
aku sudah mulai dewasa pada saat itu aku berpikir bagaimana
caranya agar hidupku ini lebih tenang, dan jika ada masalah
yang kurang penting

atau tidak penting ku hiraukan saja, dan jika masalah itu
penting dan sangat penting, aku harus bertindak lanjut dan
menyelesaikan masalah masalah tersebut.

Aku merasakan perbedaan pada saat masih kelas 10,
pada saat itu aku merasakan perasaan yang begitu sepi karena
tidak memiliki teman pada waktu itu, aku belum begitu
mengenal teman semasa SMA kecuali dari teman SMP, pada
saat itu aku kebingungan jika aku tidak memiliki teman di kelas
bagaimana aku bisa menjalani proses pada saya kelas 10 itu.
Walau aku orang yang belum terbiasa atau masih sulit
bersosialisasi dengan teman teman yang lain.

Kelas 10 dan kelas 11 adalah dimana aku membentuk
diriku, membentuk seluruh proses yang ku jalani pada waktu
itu, dengan sangat serius. Proses pendewasaanku ini sangat
berpengaruh positif bagiku dan merasakan pengalaman hidup
dimasa lalu, yang dulunya suka bermalas-malasan dan susah
bersosialisasi, sekarang aku bisa merasakan apa itu
perjuangan hidup sebagai orang dewasa, dan aku dapat
merasakan bagaimana bisa bersosialisasi dengan sesama.

Kelas 11 berlalu, sekarang menempuh kelas 12, yang
dimana tahun ini adalah tahun yang sangat membahagiakan
tidak seperti tahun tahun yang lalu, karena disinilah proses
perubahan diriku muncul, dan hal ini membuatku sangat
terkagum dan tidak percaya dengan hal ini, yang dimana aku
sudah mulai berpikir kedepan, dan tidak lagi memikirkan hal
hal yang kurang penting bagi kehidupanku mendatang, pada
saat itu aku sangat bersyukur dapat merasakan hal yang

berbeda, yang yang ingin ku gapai, yaitu perubahan di masa
dewasa saat ini.

Pada saat itu aku tidak merasa malu lagi terhadap
kekurangan yangku punya dalam diriku, aku selalu percaya diri
walau orang lain tidak mempedulikan diriku, yang terpenting
adalah aku harus bisa mencapai apa yang aku inginkan. Pada
waktu retret di syalom, aku membawa perasaan yang sejuk
dan damai, karena pada waktu itu aku ingin sekali melepas
lelah dan melepas seluruh apa yang telah ku perjuangkan,
dengan cara beristirahat dan melakukan refresing rohani di
tempat itu, aku merasa bahagia bisa merasakan rasa damai
dalam diri kita, banyak teman teman juga menjadi salah satu
kebahagiaan tersendiri, karena kita bisa berbagi cerita pada
sesama kita, kisah kerohanian di tempat ini sangat seru,
karena aku dapat merasakan bagaimana rasanya melepas
lelah dan penat setelah berjuang merubah diri sendiri menjadi
lebih baik lagi, dan seluruh proses yang telah ku jalanin dari
tahun ke tahun, rasanya ingin curhat secara langsung dengan
Tuhan, tetapi lewat doa dan renungan, cerita seru aku dan
teman-temanku pada saat retret disitu aku berpikir, rasanya
bahagia sekali ketika melihat diriku yang dulu tidak bisa apa
apa, sekarang bisa berjuang dan membuahkan hasil yang
bagus dan hasil yang ku inginkan pada waktu itu.

Siang malam, ku membayangkan betapa berharganya
hidupku saat ini jika dibandingkan masa lalu, aku selalu
mengucapkan syukur kepada Tuhan karena aku telah diberi
anugerah, kepercayaan, perlindungan, dan kesetiaanku
kepada diriku.

Menyukai seseorang adalah hal yang normal, itu adalah
salah satu bentuk kedewasaan dalam diri kita, tetapi
terkadang kita harus berpikir jauh lagi tentang percintaan,
karena cinta tak tentu selamanya. Maka dari itu jika kita
mencintai orang yang tidak mencintai kita, maka mundurlah,
biarlah dia menentukan orang yang dia inginkan, cinta ga
harus dia, cinta tak harus memiliki. Kadang kecemburuan
menimbulkan rasa stress dan tidak percaya diri. Ini lah salah
satu pengalaman hidupku ketika suka sama seseorang yang
belum tentu dia juga suka denganku, setiap berpapasan dia
selalu membuatku merasakan hal yang berbeda, disisi lain dia
mungkin tidak mempedulikan diriku, dan aku sering berpikir
demikian, karena sering overthinking usaha yang telah kita
lakukan demi dia, akan sia sia karena jika kita terus berpikir
ingin mendapatkannya, lihat dulu karakternya, sifat dia, sikap
dia terhadap orang lain, belum tentu dia baik di dalam, dan
belum tentu hati kita diterima olehnya. Maka dari itu aku
selalu memikirkan, bahwa selama ini aku sudah didewasakan
oleh keadaan yang tidak menyadarkan diriku.

SELESAI




Click to View FlipBook Version