The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sriwuryanti03, 2022-10-14 00:12:17

makalah bagian bungarampai2

makalah bagian bungarampai2

Assesemen Nasional Untuk Meningkatkan Literasi Digital
Peserta Didik Berkebutuhan khusus
Sri Wuryanti

Assesmen dalam pengetian bahasa adalah proses mengumpulkan informasi tentang siswa dan
kelas untuk maksud-maksud pengambilan keputusan instruksional. Asesmen berarti proses
pengumpulan informasi. Untuk guru, asesmen dilakukan sebagai tujuan memutuskan keterampilan
mengajar. Asesmen adalah proses pengumpulan informasi dengan mempergunakan alat dan teknik
yang sesuai, untuk membuat keputusan pendidikan berkenaan dengan penempatan dan program
pendidikan bagi siswa tertentu. Assesmen atau penilaian diartikan sebagai kegiatan menafsirkan
data hasil pengukuran berdasarkan kriteria maupun aturan-aturan tertentu.

Anak berkebutuhan khusus mulai tahun 2022 mengikuti asesmen nasional, persisnya tahun
kedua setelah kebijakan ANBK dilaksanakan. Sedangkan, untuk peserta didik dengan kebutuhan
khusus yang mengikuti AN adalah tunarungu dan tunadaksa dengan tanpa hambatan intelektual serta
tanpa disabilitas penyerta. Sejak pertama kali dilaksanakan AN menggunakan moda berbasis
komputer, dengan begitu semua peserta didik diwajibkan memiliki keterampilan mengoperasikan
komputer dengan baik dan juga membacanya.

Asesmen berbasis komputer pada era digital sekarang ini, diharapkan mendorong seluruh
peserta didik untuk mampu mengoperasikan komputer dasar baik dalam proses asesmen di sekolah
maupun dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, asesmen standar yang hanya dilakukan satu
kali dalam setahun tersebut, juga mampu memberikan motivasi kepada bapak dan ibu guru di
sekolah untuk menggunakan komputer sebagai media pembelajaran. Peserta didik dengan
penyandang kebutuhan khusus merupakan siswa aktif seperti anak seusianya, yang mana mereka
tidak dapat menghindari budaya dan teknologi yang melesat jauh yang terjadi pada era sekarang ini.
Bapak ibu guru di sekolah luar biasa tentu tidak menutup mata dengan kondisi tersebut. Siswa
berkebutuhan khusus sejatinya sama dengan Pendidikan khusus lainnya. Siswa dengan Pendidikan
khusus tersebut antara lain siswa di daerah terpencil, siswa korban bencana alam, siswa dengan
kondisi geografis terdalam mereka adalah generasi yang harus mengikuti arus globalisasi yang selalu
berubah dan berkembang. Pendidik di satuan Pendidikan memiliki tugas cukup berat untuk
mengikuti arus tersebut dan sebaiknya tidak menyerah walaupun dengan perubahan secepat ini.

Mengapa asesmen nasional mendorong perubahan ke arah kemampuan keteterampilan
berbasis digital, untuk menjawab hal tersebut pada tulisan ini disampaikan dua hal yaitu, (1)

beberapa contoh pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus dengan moda digital dan (2)
memaparkan hasil penelitian untuk anak hasil survey dengan pengisisan angket tentang kesiapan
apakah sudah siap dengan AN berbasis komputer, yang berisi tentang apa kesulitan yang dialami
dalam pengoperasian komputer serta kesiapan Sekolah Luar Biasa dalam menghadapi ANBK.
Sampel dari penelitian ini adalah 30 guru tunarungu dan 30 guru SLB tunadaksa di beberapa
kabupaten kota tentang perlunya Asesmen Nasional. Sedangkan hasil survey angket tersebut di
analisis dan dituliskan secara diskriptif kualitatif.

Kebijakan Asesmen Nasional
Berdasarkan peraturan Kepala Badan Standar, Kurikulum, Dan Asesmen Pendidikan.

Kemdikbudristekdikti nomor 013/H/PG.00/2022 tentang Operasional Standar Penyelenggaraan
Asesmen Nasional pengertian Asesmen Nasional atau di singkat AN adalah evaluasi yang dilakukan
oleh pemerintah untuk pemetaan mutu sistem Pendidikan pada tingkat satuan Pendidikan dasar dan
menengah dengan menggunakan instrument asesmen kompetensi minimum, survei karakter, dan
survei lingkungan belajar.

Asesmen kompetensi minimum yang selanjutnya disingkat AKM adalah pengukuran
kompetensi minimum peserta didik dalam literasi membaca dan literasi matematika (numerasi).
Literasi membaca adalah kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksi
berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis teks untuk
menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai warga negara Indonesia
dan dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat. Numerasi adalah kemampuan
berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah
sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga Indonesia dan
warga dunia. Survei karakter adalah pengukuran terhadap sikap, kebiasaan, nilai-nilai (values)
berdasarkan enam aspek profil pelajar Pancasila. Survei lingkungan belajar adalah pengukuran
kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran pada satuan Pendidikan.

Asesmen Nasional berbasis komputer yang selanjutnya disingkat ANBK adalah asesmen yang
menggunakan komputer secara daring dan semidaring sebagai media untuk menampilkan dan
mejawab soal. Tidak ada pengecualian bagi peserta didik berkebutuhan khusus, untuk moda AN
bagi anak berkebutuhan khusus adalah dengan menggunakan komputer.

Sedangkan satuan Pendidikan yang wajib mengikuti AN semua jenjang dari SD sampai
dengan SMA sederajat. Pada AN tahun ajaran 2022/2023 untuk siswa yang mengikuti ANBK di
sekolah luar biasa (SLB) Peserta didik AN pada SLB adalah peserta didik tunarungu dan tunadaksa
yang tidak memiliki ketunaan tambahan dan hambatan bahasa/membaca serta dapat mengerjakan
AN secara mandiri. Sedangkan peserta didik yang mengikuti AN adalah kelas 4 untuk jenjang SD/
sederajat, kelas 7 untuk jenjang SMP/sederajat, dan kelas 10 untuk jenjang SMA/sederajat.
Peserta didik Berkebutuhan Khusus

Anak luar biasa atau anak dengan kebutuhan khusus adalah anak-anak dengan gangguan fisik,
emosional, mental dan sosial. Seperti pendapat sebagai berikut, Anak luar biasa atau juga dinamakan
anak berketunaan menurut undang-undang no. 20 tahun 2003 bahwa pendidikan khusus atau
pendidikan luar biasa merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan
dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial.

Gangguan anak Anak berkebutuhan khusus juga sebaiknya ditangani sejak dini supaya anak
mandiri sejak dini, seperti pendapat sebagai berikut Effendi (2009) berpendapat bahwa kesempatan
yang sama pada anak berkelainan untuk memperoleh pendidikan, berarti memperoleh pendidikan,
berarti memperkecil kesenjangan angka partisipasi pendidikan anak normal dengan anak
berkelainan. Investasi jangka panjang dengan lahirnya para penyandang cacad yang terdidik dan
terampil, secara tidak langsung dapat mengurangi biaya jangka panjang.

Menurut Effendi (2009) anak berkelainan adalah anak yang dianggap mengalami kelainan
penyimpangan dari kondisi rata-rata anak normal umumnya dalam hal fisik, mental, maupun
karakteristik perilaku sosialnya. Bahwa anak luar biasa adalah anak yang berbeda dari rata-rata
umumnya, dikarenakan ada permasalahan dalam kemampuan berpikir, pengelihatan, pendengaran,
sosial, dan bergerak.

Kesimpulannya bahwa berkebutuhan khusus adalah anak yang berbeda dari rata-rata
umumnya, dikarenakan ada permasalahan dalam kemampuan berpikir, pengelihatan, pendengaran,
sosial, dan bergerak. Dimana mereka memerlukan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya,
supaya dapat hidup mandiri, sehingga pada jangka panjang meringankan beban secara ekonomis
untuk perawatan dirinya.

Klasifikasi anak Luar biasa menurut Effendi (2009) diantaranya sebagai berikut:
1) Kelainan fisik

Kelainan fisik adalah kelainan yang terjadi pada satu atau lebih organ tubuh. Akibat dari kelainan
tersebut berakibat timbul suatu keadaan pada fungsi fisik tubuhnya tidak dapat menjalankan
tugasnya secara normal. Tidak berfungsinya fisik secara normal terjadi pada anggota fisik: alat
fisik indra misalnya tuna rungu dan tuna netra, kelainan pada pengelihatan misalnya tuna netra,
kelainan motorik tubuh misalnya kelainan otot dan tulang atau tyna daksa, kelaianan pada fungsi
motorik atau cerebral palsy.
2) Kelainan mental
Anak dengan gangguan penyimpangan aspek mental adalah mereka yang mengalami gangguan
kemampuan berpikir secara kritis, logis dalam menanggapi dunia sekitarnya. Kelain pada aspek
mental ini dapat menyebar ke dua arah yaitu kelainan mental dari arti lebih atau supernormal.
Dan kelainan mental dari arti kurang atau subnormal. Kelainan dalam dalam arti supernormal
biasanya terdapat dalam diri anak yang a) anak dengan kemampuan anak belajar cepat, b) anak
berbakat dan c) anak jenius. Sedangkan anak dengan kelainan mental dibawah rata-rata atau
subnormal diantaranya a) anak memiliki kemampuan mampu didik IQ (50-75, b) anak tuna
grahita memiliki kemampuan mampu latih , anak tuna daksa mampu rawat dengan IQ 25 ke
bawah.
3) Kelainan perilaku sosial
Kelainan perilaku sosial atau perilaku adalah mereka yang mengalami kesulitan untuk
menyesuaikan diri terhadap lingkungan, tata tertib, dan norma-norma sosial yang lain. Rata-rata
dari mereka a) kompensasi berlebihan, b) sering bentrok dengan lingkungan, pelanggaran norma
hukum maupun kesopanan. Kelainan sosial sama dengan anak dengan gangguan kenakalan,
dimana susah membedakan perilaku baik dan tidak baik, sehingga sering menyimpang dari norma
sosial, agama, serta peraturan yang ada dalam masyarakat sekitarnya.
Menurut Heward Pengklasifikasian anak berkelainan jika dikaitkan dengan kepentingan
pendidikan di Indonesia. Adalah sebagai berikut PP No. 17 Tahun 2010 Pasal 129 ayat (3)
menetapkan bahwa Peserta didik berkelainan terdiri atas peserta didik yang: (a). tunanetra; (b).
tunarungu; (c). tunawicara; (d). tunagrahita; (e). tunadaksa; (f). tunalaras; (g). berkesulitan
belajar; (h). lamban belajar; (i). autis; (j). memiliki gangguan motorik; (k). menjadi korban
penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lain; dan (l). memiliki kelainan lain.

Dengan berbagai kriteria dan pembelajaran anak berberkebutuhan tersebut maka perlu asesmen
yang tepat dan baku supaya tidak menempatkan anak pada kelas, program dan intervensi yang
salah.

Pengertian pendidikan bagi anak-anak berkhusus/ SLB yang tercantum dalam undang-undang
pendidikan dan beberapa pendapat pakar adalah dalam standar proses pendidikan, peraturan
perundang-undamgan Kemendiknas RI No 41 tahun2007 standar pendidikan khusus berlaku untuk
peserta didik tuna netra, tuna rungu, tuna grahita ringan, tuna daksa ringan, tuna laras pada SDLB,
SMPLB dan SMALB termasuk sekolah atau madrasah penyelenggara pendidikan inklusi atau
terpadu.

Pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah pendidikan yang berlaku untuk peserta didik
dengan tuna netra, yaitu anak dengn gangguan pengelihatan dimana mereka tidak mampu mengikuti
pembelajaran dengan mata awas saat proses pembelajaran. Anak tuna rungu wicara adalah peserta
didik dengan kondisi tidak dapat mendengar pembicaraan secara normal sehingga memerlukan
metode khusus saat mengkomunikasikan proses belajarnya. Tuna grahita ringan adalah siswa
dengan kemampuan IQ senilai 70 samapi ke bawah, ada berbagai macam kategori lagi seperti down
syndrome, debil, embisil dan lain sebagainya. Anak tuna laras adalah peserta didik dengan kenakalan
diluar batas anak normal pada umumnya.

Adapun penyelengara pendidikan anak luar biasa terdiri dari inklusi yaitu anak-anak yang
mengalami hambatan tersebut diatas, namun masih mampu belajar dan adaptasi di sekolah umum
yang menyelenggarakan pendidikan inklusi. Sedangkan siswa yang kurang mampu sosialisasi
dengan anak umum maka akan sekolah di sekolah luar biasa. Penyelenggaraan pendidikan khusus
dibangun berdasarkan asumsi bahwa anak yang terpisah yang memiliki kebutuhan pendidikan
khusus dan seringkali dinamakan anak berkebutuhan khusus atau ABK jadi khusus adalah
mencakup sekolah luar biasa atau SLB maupun kebutuhan pendidikan khusus.

Literasi Digital

Menurut Kurniasih (2021) Literasi digital merupakan upaya yang diperlukan individu pada
era canggih seperti saat ini untuk menyaring informasi secara akurat. Upaya lain untuk mendukung
literasi digital ini adalah penggunaan aplikasi yang tepat dan pemahaman secara mendalam

mengenai informasi yang didapatkan tersebut. Mengingat dampak mengenai
penyebaran hoax dalam masyarakat sangat memperihatinkan.

Literasi digital diperlukan dalam penggunaan teknologi. Salah satu komponen dalam
lingkungan belajar yaitu literasi digital. Penerapan literasi digital dapat membuat masyarakat jauh
lebih bijak dalam menggunakan serta mengakses teknologi. Dalam bidang teknologi, khususnya
informasi dan komunikasi, literasi digital berkaitan dengan kemampuan penggunanya. Kemampuan
untuk menggunakan teknologi sebijak mungkin demi menciptakan interaksi dan komunikasi yang
positif.

Pengertian Literasi digital menurut Suherdi (2021) adalah pengetahuan serta kecakapan
pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet dan lainnya.
Kecakapan pengguna dalam literasi digital mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan,
mengevaluasi, menggunakan, membuat serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat serta
tepat sesuai kegunaannya.

Menurut Steve Wheeler dalam Kurniasih (2021) dalam tulisannya yang menyatakan bahwa
terdapat sembilan komponen penting yang termuat dalam literasi digital. Sembilan komponen
tersebut antara lain:

1) Social Networking, pada zaman sekarang, setiap individu pasti memiliki akun sosial media lebih
dari satu, mulai dari Meta (Facebook), Twitter, LinkedIn, Instagram, TikTok, maupun
WhatsApp. Pemerolehan informasi-informasi dari sosial media tersebut juga wajib diseleksi
terlebih dahulu. Namun, tidak semua orang cermat dalam upaya menyaring informasi yang
tersebar tersebut.

2) Transliteracy, komponen transliteracy ini didefinisikan sebagai upaya memanfaatkan
berbagai platform untuk membuat konten, membagikan hingga mengkomunikasikannya. Dalam
komponen ini lebih mengutamakan kemampuan berkomunikasi dengan berbagai sosial media,
grup diskusi, atau layanan online lain.

3) Maintaining privacy, Privasi menjadi hal penting dalam literasi digital ini. Kita sebagai pengguna
sosial media dari berbagai platform harus memahami mengenai cyber crime. Saat ini cyber
crime telah marak terjadi seiring berkembangnya dunia digital ini. Apa itu cyber crime? Cyber

crime adalah kejahatan dunia maya yang melibatkan aktivitas ilegal menggunakan komputer,
perangkat digital atau jaringan komputer.

4) Managing identify, komponen keempat ini yakni managing digital identity, berhubungan dengan
bagaimana kita selaku pengguna platform menggunakan identitas secara tepat di berbagai sosial
media yang kita miliki.

5) Creating content, creating content merupakan keterampilan kita sebagai
pengguna platform dalam membuat atau menciptakan konten, misalnya platform PowToon,
blogspot, wordpress, dan lainnya.

6) Organising and sharing content, organising and sharing content ini berkaitan dengan bagaimana
kita sebagai pengguna platform mengatur dan membagikan konten informasi supaya lebih mudah
disebarkan kepada khalayak umum. Contohnya, pemanfataan situs social bookmarking yang
dinilai memudahkan dalam proses penyebaran informasi dan dapat diakses oleh banyak pengguna
internet.

7) Reusing/repurposing content, dalam komponen reusing/ repurposing content ini, mengutamakan
bagaimana kita selaku pengguna platform membuat atau ‘mengolah’ kembali konten yang ada
supaya dapat dipergunakan kembali sesuai kebutuhan.

8) filtering and selecting content, dalam komponen filtering and selecting content ini
mengutamakan kemampuan mencari dan menyaring informasi yang tepat sesuai dengan
kebutuhan kita melalui mesin pencari di internet.

9) self broadcasting, dalam komponen ini, memiliki tujuan yakni membagikan ide atau gagasan
menarik serta konten multimedia melalui berbagai platform, misalnya melalui blog atau
forum online. Self Broadcasting ini dapat menjadi upaya berpartisipasi masyarakat
sosial online dalam kegiatan literasi digital.

Literasi Digital Untuk Pembelajaran Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

Menurut Jatu (2022) Pembelajaran daring merupakan bentuk dari pelayanan pendidikan bagi
siswa yang mengalami hambatan jarak. Pembelajaran daring menjembatani kondisi keharusan untuk
tetap megikuti pembelajaran, tetapi terkendala situasi yang tidak mendukung (pandemi Covid-19),
jarak, waktu, dan lain sebagainya yang tidak mengurangi pelayanan pembelajaran bagi siswa.
Pendidikan bertujuan membangun kemandirian dan meningkatkan keterampilan adaptif pada setiap
anak. Oleh karena itu, belajar merupakan hak bagi setiap siswa, termasuk siswa berkebutuhan
khusus. Maka, Penggunaan metode Lovaas atau applied behavior analysis (ABA) harus diiringi
dengan program pembelajaran individual (PPI) bagi siswa berkebutuhan khusus, sehingga
penggunaan metode ini disesuaikan dengan kemampuan siswa dan sejalan dengan materi pelajaran
bahasa Indonesia yang harus dicapai siswa. Kemampuan dan keterampilan guru dalam menerapkan
metode ini dan penggunaan media daring untuk pengajaran membutuhkan keahlian guru yang terus
menerus harus dilatih dan diasah. Guru juga disarankan untuk selalu belajar pengetahuan dan
pembelajaran serta penerapan pengajaran dengan berbagai strategi dan cara yang termutakhir
sehingga dalam pengajarannya selalu menarik dan memotivasi siswa untuk mengikuti
pembelajarannya meskipun dilaksanakan secara daring.

Oktiarmi (2020) berpendapat bahwa tentang teknologi untuk siswa Inklusi. Laboratorium
virtual merupakan sistem yang dapat digunakan untuk mendukung sistem praktikum yang berjalan
secara konvensional. Laboratorium virtual ini biasa disebut dengan Virtual Laboratory atau V-Lab.
Diharapkan dengan adanya laboratorium virtual ini dapat memberikan kesempatan kepada siswa
Anak berkebutuhan khususnya untuk melakukan praktikum, baik melalui atau tanpa akses internet
sehingga siswa Anak berkebutuhan khusus tersebut tidak perlu hadir untuk mengikuti praktikum di
ruang laboratorium. Hal ini menjadikan pembelajaran efektif karena siswa ABK dapat belajar
sendiri secara aktif tanpa bantuan instruktur ataupun asisten seperti sistem yang berjalan. Dengan
format tampilan berbasis web cukup membantu anak berkebutuhan khusus untuk dapat mengikuti
praktikum secara mandiri. Pada penelitian ini Laboratorium Virtual dikembangkan dalam bentuk
perangkat lunak (software) komputer berbasis multimedia interaktif, yang dioperasikan dengan
komputer dan dapat mensimulasikan kegiatan di laboratorium seakan-akan pengguna berada pada
laboratorium sebenarnya. Laboratorium virtual ini akan memberikan peningkatan secara signifikan
dan pengalaman belajar yang lebih efektif.

Sofwan (2018) mengatakan bahwa partisipasi siswa dalam penggunaan media adalah medium
karena siswa cukup senang dalam praktek belajar. Kemampuan siswa dalam menggunakan
komputer, laptop dan talking book dikategorikan advance. Kemampuan siswa mengintegrasikan
informasi berbentuk keperluan media digital kategori medium. Kemampuan menganalisa informasi
masih perlu arahan guru. Siswa dalam mengevaluasi penggunaan informasi masih cukup rendah
karena penggunaannya masih perlu dibantu oleh guru. Untuk pengumpulan data informasi masih
medium karena perlu arahan guru. Untuk penciptaan infprmasi media digital berkaitan dengan
pembelajaran cukup mandiri. Penggunaan siswa dalam email dan facebook sudah dapat dilakukan
dengan mandiri. Dan pada pemberdayaan untuk menunjang kekurangannya dalam kateogori tinggi
karena sisiwa dengan proses pembelajarannya sangat membutuhkan media informasi digital.

Peserta didik berkebutuhan Khusus dan Literasi Digital
Peserta didik berkebutuhan khusus adalah populasi yang sangat perlu pendampingan, di-didik,

dan perlu intervensi dalam segala hal kehidupannya. Intervensi dalam kemandirian kepentingan
bantu dirinya, sosialisasinya, serta kemampuan akademiknya.

Untuk mencapai kemandirian tersebut perlu teknik pembelajaran berbasis konvensional
seperti dengan kartu, buku, dan moda praktek lainnya. Untuk moda tersebut tidak boleh
ditinggalkan. Namun pergantian generasi dan pergeseran budaya yang tidak dapat dihentikan maka
para pendidik, orangtua dan seluruh pemangku kepentingan yang terhubung dengan peserta
berkebutuhan khusus dituntut untuk membiasakan peserta didik berkebutuhan khusus dengan moda
baru yaitu pengoperasian komputer secara terus-menerus.

Asesmen untuk anak berkebutuhan khusus dengan moda komputer akan selalu menjadi hal
menarik karena Sebagian besar satuan Pendidikan SLB belum lazim bagi mereka untuk biasa
mengunakan piranti tersebut. Jangankan untuk siswa dengan berkebutuhan khusus, untuk siswa
sekolah dasar di sekolah formalpun kemungkinan tidak semuanya terbiasa dengan moda tersebut.
Tetapi budaya yang sangat modern dan cepat tentang teknologi ini ada sebagian peserta didik sudah
sangat terbiasa dan tidak hanya pengguna dan bahkan sudah mampu menggunakan moda tersebut
untuk kegiatan dalam sehari-harinya. Tetapi ada Sebagian pengguna yang masih pemula, hal
tersebut bukan hambatan untuk dapat menggunakan moda komputer sebagai pembiasaan.

Asesmen nasional merupakan pendorong budaya tersebut untuk membiasakan supaya
penggunaan moda komputer sebagai pembelajarn di sekolah. Siswa yang mengikuti AN adalah

siswa kelas 4 SD, kelas 8 SMP, dan kelas 8 SMA. Sehingga sejak dini siswa berkebutuhan khusus
juga harus terbiasa menggunakan media ini sejak SD.

Belajar dari beberapa hasil penelitian dan beberapa pembelajaran untuk siswa berkebutuhan
tersebut tersebut seperti penggunaan media pembelajaran di waktu covid-19, pada saat itu siswa
dipaksa menggunakan sosial media digital pada waktu pembelajaran dengan guru kelasnya. Hal
tersebut dipercaya menambah kemandirian siswa dalam belajar walaupun dirumah siswa harus
didampingi oleh orangtua atau pendamping yang ada di rumah. Pembiasaan penggunaan sosial
media pada saat pembelajaran jarak jauh membantu pembiasaan peserta didik dengan literasi digital
pada saat itu sampai sekarang.

Media pembelajaran lain yang digunakan oleh guru pada waktu praktikum pada siswa inklusi
juga sangat kreatif supaya peserta didik walaupun tidak mengikuti parktik lapangan dan bahkan
menciptakan media digital dalam praktikum.Hal ini menjadi praktik baik dalam proses pembelajaran
yang sangat kreatif. Memudahkan praktikum dengan media digital tersebut merupakan kreativitas
pendidik yang sangat luarbiasa hebat.

Hasil penelitian seperti kesiapan untuk penggunaan moda komputer pada asesmen peserta
didik berkebutuhan, sebagai dasar untuk mendorong perubahan yang terus menerus agar peserta
didik tidak selalu ketinggalan dalam proses apapun. Stigma tentang pembelajaran harus disesuaikan
dengan kemampuan siswa mungkin baik, tetapi mendorong kapasitas kemampuan dan kompetensi
yang harus siswa berkebutuhan khusus kuasai agar bermanfaat untuk kehidupan agar tercipta
kemandirian dalam hidupnya agar selalu tergali. Hal tersebut, perlu perubahan yang terus menerus
dan teknik pembelajaran yang juga berubah. Selain guru, orangtua di rumah juga sangat diharafkan
untuk memfasilitasi dalam mendukung perubahan ke arah yang lebih baik.

Daftar Pustaka

Ahmad Rusdiana. (2022). Sembilan Pesan dari Steve Wheeler untuk Menghadapi Tantangan Dunia Literasi
Digital. https://rumahbaca.id/sembilan-pesan-dari-steve-wheeler-untuk-menghadapi-
tantangan-dunia-literasi-digital/

Effendi Mohamad. (2009). Pengantar psikopaedagodik anak berkelainan. Jakarta: Bina aksara..
h.32

Heward.(2014).Anakberkebutuhankhusus.https://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusu
s.14-11-2015

Jatu Kaannaha Putri (2022). Pembelajaran Daring Bagi Siswa Berkebutuhan Khusus.
Https://Badanbahasa.Kemdikbud.Go.Id/Artikel-Detail/3718/Pembelajaran-Daring-Bagi-
Siswa-Berkebutuhan-Khusus#.

Kusumah Darma. (2016). Blog. 7-4-2016..http://dakubelajar.blogspot.co.id/2013/09/definisi-
evaluasi-asesmen-dan-tes.html. GOOGLE H.2

Kementrian pendidikan dan kebudayaan Direktorat pembinaan PK-LK. (2013). Pola pendampingan
dan implementasi inklusif yang menyenangkan. Jakarta h.25

Kementrian pendidikan dan kebudayaan Direktorat pembinaan PK-LK. (2013). Pola
pendampingan dan implementasi inklusif yang menyenangkan. Jakarta h.25 Kementrian
pendidikan dan kebudayaan Direktorat pembinaan PK-LK. 2013. Pola pendampingan dan
implementasi inklusif yang menyenangkan. Jakarta h.24

Munandar , Utami. (2012). Pengembangan kreativitas anak berbaka..jakarta: Rineka cipta. hal. 22

Peri Oktiarmi. (2020). Penggunaan Laboratorium Virtual Pada Anak Berkebutuhan Khusus Dalam

Membangun Budaya Literasi Digital.

Https://Ayoguruberbagi.Kemdikbud.Go.Id/Artikel/Penggunaan-Laboratorium-Virtual-Pada-

Anak-Berkebutuhan-Khusus-Dalam-Membangun-Budaya-Literasi-Digital/

Suryana Agus.(2004). terapi autism anak berbakat dan anak hiperaktif. Jakarta: Progress. h 10

Soemantri, Sutjihati T.,. (2007). Psikologi anak luar biasa. Bandung. Refika Aditama: h197

Sri Soedewi Masjchun Sofwan. (2018). Literasi Digital Anak Berkebutuhan Khusus Di Sekolah

Luar Biasa. Http://Repository.Uinjambi.Ac.Id/433/

Wida Kurniasih (2021). Pengertian Literasi Digital, manfaat, komponen, manfaat dan upaya

peningkatan. https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-literasi-digital/\

Wijonarko. (2020). Manfaat Literasi Digital pada masyarakat dan Pendidikan pada saat Covid-19.
https://journal.uii.ac.id/Buletin-Perpustakaan/article/view/17799

Yuda Pradana (2018). Atribusi Kewargaan Digital Dalam Literasi Digital.
https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/UCEJ/article/view/4524


Click to View FlipBook Version