1
MENGHITUNG BIAYA OBAT DAN OBAT DALAM RESEP
Komepetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
3.14. Menganalisis perhitungan biaya 3.14.1. Mejelaskan perhitungan harga obat
obat yang dibuat menurut 3.14.2. Menganalisis faktur untuk perhitungan
permintaan
harga jual obat
4.14. Melakukan perhitungan biaya obat 4.13.1 Mengidentifikasi faktur yang diterima
yang dibuat menurut permintaan untuk menentukan harga jual obat
4.13.2 Menentukan harga jual obat dari faktur
yang diterima
2
PETA KONSEP
3
MATERI AJAR
PERHITUNGAN BIAYA OBAT, DAN OBAT DALAM RESEP
A. PENDAHULUAN
Permenkes No. 9 Tahun 2017 mendefinisikan apotek sebagai sarana pelayanan
kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Selain itu apoteker
dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian (TTK) dan asisten tenaga teknis kefarmasian
(ATTK). Selain itu apotek juga dapat menjadi sarana usaha yaang menguntungkan (profit
oriented) melalui penjualan produk atau barang. Apotek sebagai sarana usaha dan tempat
terjadinya kegiatan jual beli, melingkupi kegiatan pengadaan, penyimpanan, dan
penjualan produk/ barang yang ada. Sementara apotek sebagai penyedia jasa, melingkupi
kegiatan konsultasi obat atau kesehatan oleh apoteker.
B. KOMPETENSI DASAR
Komepetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
3.14. Menganalisis perhitungan 3.14.3. Menjelaskan perhitungan harga obat
3.14.4. Menganalisis faktur untuk perhitungan
biaya obat yang dibuat
menurut permintaan harga jual obat
4.14. Melakukan perhitungan biaya 4.13.3 Mengidentifikasi faktur yang diterima
obat yang dibuat menurut untuk menentukan harga jual obat
permintaan
4.13.4 Menentukan harga jual obat dari faktur
yang diterima
C. TUJUAN PEMEBALAJARAN
Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran menggunakan media google
clasroom dan platform google meet peserta didik diharapkan dengan benar dalam :
1 Menganalisis perhitungan biaya obat yang dibuat menurut permintaan dengan
benar.
2 Menganalisis faktur untuk perhitungan harga jual obat (Engineering)
3 Menjelaskan dan menentukan harga jual obat dari faktur yang diterima (Sains)
4 Menghitung harga jual obat dari faktur yang diterima (Mathematic)
5 Mengidentifikasi faktur yang diterima untuk menentukan harga jual obat. (Art)
6 Menggunakan google met mempresentasikan hasil karya. (Teknologi)
4
D. MATERI
1. Perhitungan Persediaan Barang
Persediaan barang dagangan merupakan barang-barang yang disediakan
dengan tujuan untuk dijual kembali kepada para konsumen dan digunakan untuk
mencatat harga pokok barang dagangan selama periode normal kegiatan perusahaan.
Apotek dikelompokan sebagai perusahaan dagang sehingga hanya dikenal
satu jenis persediaan, yaitu barang dagangan yang siap dijual dan diperoleh dari
suppleyer.
Untuk menilai bagaimana usaha apotek itu berjalan, apakah mendapat
keuntungan atau menderita kerugian maka perlu dilakukan perhitungan persediaan
awal dan persediaan akhir. Persediaan barang awal adalah jumlah barang yang siap
untuk dijual dalam satu periode usaha, sedangkan persediaan akhir adalah jumlah
barang yang tersisa setelah suatu periode usaha.
2. Perhitungan Nilai Persediaan
Perhitungan persediaan barang memiliki peran sangat penting dalam
menentukan untung atau rugi. Olch scbab itu, perlu dipahami bagaimana cara
menghitung nilai persediaan yang tepat agar dapat memberikan perhitungan yang
akurat terkait untung dan ruginya suatu apotck. Dalam perhitungan ini, nilai
perscdiaan barang digunakan untuk menentukan besarnya harga Pokok Penjualan
(HPP) yang nanti akan digunakan dalam perhitungan laba/ rugi.
Untuk dapat menghitung nilai persediaan perlu dilakukan pencatatan
terhadap persediaan. Terdapat 2 macam sistem pencatatan yang umum digunakan,
yaitu:
Sistem pencatatan fisik (physical inventory system)
Sistem persediaan fisik atau periodik adalah suatu sistem yang harga pokok
penjualannya dihitung secara periodik dengan mengandalkan semata-mata pada
perhitungan fisik tanpa menyelenggarakan catatan hari ke hari atas unit yang terjual
atau yang ada ditangan. Sistem fisik digunakan untuk menentukan jumlah kuantitas
5
persediaan barang dan dilakukan pada akhir periode akuntansi. Dengan kata lain,
perhitungan jumlah barang yang akan dihitung nilainya hanya dilakukan pada saat
awal (stok awal) dan akhir (stok akhir) dalam 1 periode akuntansi.
Ciri - ciri sistem fisik atau periodik adalan sebagai berikut.
a. Pemasukan dan pengeluaran persediaan tidak dicatat dan tidak
diperhitungkan dalam suatua catatan tertentu.
b. Pembelian barang dicatat dengan mendebit rekening pembelian bukan bukan
persediaan barang.
c. Perhitungan sediaan akhir sekaligus digunakan untuk perhitungan harga
pokok penjualan dengan menggunakan jurnal penyesuaian.
sistem ini cukup sederhana dan mudah diterapkan, tetapi kurang baik untuk
pengawasan persediaan, karena kekurangan persediaan yang hilang tidak dapat
dideteksi dan manajemen tidak memiliki alat untuk mengetahui jumlah persediaan
setiap saat.
1. Sistem perpetual (Perpetual inventory system)
Sistem persediaan perpetual adalah suatu sistem yang menyelenggarakan
pencatatan terus-menerus dengan menelusuri persediaan dan harga pokok penjualan
atas dasar harian. Perkiraan persediaan mengacu dari data kartu-kartu pembantu
persediaan (kartu persediaan). Kartu persediaan digunakan untuk mencatat transaksi
setiap jenis persediaan, yang di dalamnya memuat nama barang, tempat
penyimpanan barang, kode barang dan kolom-kolom yang dipakai untuk mencatat
transaksi adalah tanggal, pembelian (pemasukan), penjualan (pengeluararn), dan sisa
atau saldo persediaan. Secara sederhana dapat dijelaskan dalam sistem ini Jumlah
mutasi masuk dan keluar dicatat setiap saat terjadinya mutasi di kartu persediaan
(kartu stok). Ada beberapa model kartu persediaan/stok.
Nama apotek Nama barang
Alamat Satuan
Tgl Pembelian Penjualan Sisa/saldo
Unit Harga Jml. Ket. Unit Harga Jml. Ket. Unit Harga Jml. Ket.
6
Kartu stok sekurang-kurangnya harus memuat:
a. ldentitas barang
b. Tanggal masuk atau keluar
c. Jumlah masuk atau keluar
d. Keterangan-ketarangan yang dianggap penting, misal:
1) Sumber barang masuk
2) Untuk siapa barang keluar
3) Nomor bets
4) Waktu kedaluwarsa
5) Dan lain-lain menyesuaikan kebutuhan
Ciri-ciri pengelolaan persediaan dengan sistem perpetual adalah sebagai berikut.
a. Setiap terjadi pembelian barang dicatat dengan mendebit rekening persediaan
barang.
b. Setiap terjadı pengeluaran barang (penjualan) dicatat mengkredit persediaan
sejumlah harga pokok penjualan.
c. Setiap saat dapat diketahui kuantitas sisa atau saldo persediaan.
Sistem perpetual memudahkan dalam pernyusunan neraca dan laporan perhitungan
laba rugi karena penentuan persediaan akhir tidak perlu lagi menghitung fisiknya.
Meskipun demikian, untuk tujuan pengawasan terhadap persediaan barang maka
perhitungan fisiknya tetap dilakukan.
Sistem ini merupakan sistem yang paling baik karena kondisi persediaan dapat
terpantau setiap saat melalui pencatatan yang dilakukan setiap kall ada barang masuk
(pembelian) dan barang keluar (penjualan).
Setelah memahami sistem pencatatan maka selanjutnya dapat dilakukan perhitungan
nilai persediaan.Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam menentukan nilai
persediaan barang, di antaranya:
1. Metode MPKP (Masuk Pertama Keluar Pertama) atau FIFO (First In First Out)
Metode ini menerapkan bahwa persediaan dengan nilai perolehan pertama masuk 7
akan digunakan/ dijual terlebih dahulu sehingga yang tersisa pada persediaan
akhir dinilai berdasarkan perolehan persediaan yang terakhir masuk. Metode ini
menghasilkan nilai persediaan yang sesuai dengan harga terakhir dari barang yang
masuk.
2. Metode MTKP (Masuk Terakhir Keluar Pertama) atau LIFO (Last In First Ou?)
Metode ini menerapkan bahwa persediaan dengan nilai perolchan terakhir masuk
akan dijual/ digunakan lebih dulu sehingga perolehan persediaan akhir dinilai
berdasarkan nilai perolehan yang pertama masuk. Metode ini menghasilkan nilai
persediaan yang sesuai dengan harga awal dari barang yang masuk.
3. Metode Rata-Rata atau Average Methode
Metode rata-rata (average) dibagi menjadi dua, yaitu metode rata-rata sederhana
(simple average method) dan metode rata-rata tertimbang (weight average
method). Dalam materi ini hanya akan dibahas metode rata-rata sederhana karena
lebih mudah dan lebih umum digunakan.
Pada metode rata-rata sederhana (simple average method), harga rata-rata barang
per unit dihitung dengan membagi total harga per satuan setiap transaksi
Pembelian dengan Jumlah transaksi pembelian, termasuk harga persediaan awal
barang. Metode ini menghasilkan nilai persediaan yang sesuai dengan harga rata-
rata per unit barang.
Contoh soal 1
Pada tahun 2020 apotek arkaan farma mencatat data transaksi yang berhubungan
dengan persediaan obat paracetamol sebagai berikut :
Tanggal Keterangan Kuantitas (unit) Harga Per Unit
5 Januari 2020 Persediaan awal 200 Rp. 9000
7 Februari 2020 Pembeliaan 300 Rp. 10.000
25 Februari 2020 Penjualan 200 Rp. 15.000
5 Juni 2020 Penjualan 100 Rp. 15.000
8
18 Agustus 2020 Pembeliaan 400 Rp. 11.000
5 September 2020 Pembeliaan 100 Rp. 12.000
20 Oktober 2020 Penjualan 200 Rp. 17.000
5 Desember 2020 Penjualan 200 Rp. 18.000
Dari data diatas buatlah perhitungan nilai persediaan barang dagang dengan
menggunakan metode MPKP,MTKP dan metode rata-rata!
Penyelesaian
1. Metode MPKP
Pada metode MPKP nilai persediaan barang dihitung berdasarkan harga terakhir
maka harga yang digunakan adalah harga transaksi terakhir, yaitu transaksi pada
tanggal 5 september 2020.
Jumlah Stok Akhir = Jumlah Stok Awal + (Jumlah Pembelian) – (Jumlah Penjualan)
= 200 + (300+400+100) – (200+100+200+200)
= 200 + 800 – 700
= 300
Harga pembelian terakhir tanggal 5 september 2020 = Rp. 12.000
Jadi nilai persediaan yang dihitung berdasarkan metode MPKP adalah :
Nilai Persediaan Barang = Jumlah Stok Akhir X Harga Pembelian Terakhir
= Rp. 300 x Rp. 12.000
= Rp. 3.600.000
2. Metode MTKP
Pada metode MTKP nilai persediaan barang dihitung berdasarkan harga awal
maka harga yang digunakan adalah harga transaksi pertama, yaitu transaksi pada
tanggal 5 januari 2020.
Jumlah Stok Akhir = Jumlah Stok Awal + (Jumlah Pembelian) – (Jumlah Penjualan)
= 200 + (300+400+100) – (200+100+200+200)
= 200 + 800 – 700
= 300
9
Harga pembelian pertama tanggal 5 januari 2020 = Rp. 12.000
Jadi nilai persediaan yang dihitung berdasarkan metode MPTP adalah :
Nilai Persediaan Barang = Jumlah Stok Akhir X Harga Pembelian Terakhir
= 300 x Rp. 10.000
= Rp. 3.000.000
3. Metode Rata - rata
Pada metode rata- rata, nilai persediaan barang dihitung dengan membagi total
harga per satuan setiap kali transaksi pembelian dengan jumlah transaksi
pembelian, termasuk harga persediaan awal barang.
Jumlah Stok Akhir = Jumlah Stok Awal + (Jumlah Pembelian) – (Jumlah Penjualan)
= 200 + (300+400+100) – (200+100+200+200)
= 200 + 800 – 700
= 300
Harga rata – rata pembelian =
=
=
= Rp. 10.500
Jadi nilai persediaan yang dihitung berdasarkan metode rata – rata adalah :
Nilai persediaan barang = Jumlah Stok Akhir X Harga rata – rata pembelian
= 300 x Rp. 10.500
= Rp. 3.150.000
Harga Pokok Penjualan (HPP)
Harga pokok penjualan adalah harga pembelian barang ditambah biaya-biaya
lain yang diperhitungkan sampai barang siap dijual.
Fungsi harga pokok penjualan adalah:
1. Untuk menetapkan harga jual
2. Untuk menghitung laba/rugi
3. Untuk menilai efisiensi (alat pengawasan)
10
4. Untuk menilai persediaan barang (dalam neraca)
HPP dihitung dengan cara:
Persediaan Awal = …………….
Total Pembelian = ……………. +
Barang Tersedia untuk Dijual = …………….
Persediaan Akhir = ……………. -
Harga Pokok Penjualan = …………….
Laba dan Rugi
Laba atau untung adalah kondisi saat hasil pengurangan total penjualan dikurangi
total pembelian memberikan hasil positif. Sementara rugi adalah kondisi saat hasil
pengurangan total penjualan dikurangi total pembelian memberikan hasil negatif.
Dari perhitungan HPP di atas dapat dihitung laba kotor (laba sebelum dikurangi
biaya-biaya dan pajak) dengan menggunakan rumus berikut.
Laba Kotor = Nilai Total Penjualan - HPP
Contoh soal 2
Pada tahun 2020 apotek arkaan farma mencatat data transaksi yang berhubungan
dengan persediaan obat paracetamol sebagai berikut :
Tanggal Keterangan Kuantitas (unit) Harga Per Unit
5 Januari 2020 Persediaan awal 200 Rp. 9000
7 Februari 2020 Pembeliaan 300 Rp. 10.000
25 Februari 2020 Penjualan 200 Rp. 15.000
5 Juni 2020 Penjualan 100 Rp. 15.000
18 Agustus 2020 Pembeliaan 400 Rp. 11.000
11
5 September 2020 Pembeliaan 100 Rp. 12.000
20 Oktober 2020 Penjualan 200 Rp. 17.000
5 Desember 2020 Penjualan 200 Rp. 18.000
Dari data diatas buatlah perhitungan harga poko penjualan (HPP) obat
paracetamol untuk masing-masing persediaan akhir yang diperoleh dari metode
MPKP,MTKP dan metode rata-rata!
Penyelesaian
Kita telah menghitung persediaan akhir obat paracetamol menggunakan metode
MPKP,MTKP dan metode rata-rata pada contoh soal 1, yaitu :
Nilai persediaan akhir berdasarkan MPKP, = Rp. 3.600.000
Nilai persediaan akhir berdasarkan MTKP = Rp. 3.000 000
Nilai persediaan akhir berdasarkan metode rata-rata = Rp. 3.150.000
Nilai total persediaan awal = 200 x Rp. 9000
= Rp. 1.800.000
Nilai total pembelian = (300 x Rp.10.000) + (400 x Rp.11.000) + (100 x
Rp. 12.000 )
= Rp. 8.600.000
12
3. Perhitungan Harga Jual Obat
Harga suatu obat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik itu dari produsen,
distributor, pemerintah yang dapat menetapkan harga suatu obat dipasaran. Biaya
yang dikeluarkan konsumen juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu biaya PPN
(10%), biaya Harga Jual Apotek (HJA), dan pemberian uang resep atau jasa.
Perhitungan harga obat di apotek adalah perhittungan secara umum yang dilakukan
oleh apotek. Harga bisa saja berbeda antara apotek yang satu dengan yang lain,
tergantung kebijakan masing-masing apotek.
Jika dilihat berdasarkan harganya, ada obat yang mahal, yaitu Jika obat
tersebut dipatenkan oleh suatu produsen dan orang lain tidak boleh menirunya
selama 20 tahun. Setelah lewat masa patennya maka obat tersebut dinamakan off
paten. Obat yang telah lewat masa patennya dapat ditiru oleh produsen lain. Jika
produsen yang meniru obat tersebut mendaftarkan nama merknya maka obat tesebut
dinamakan Obat Generik Bermerk (OGM). Harga OGM jauh lebih mahal
dibandingkan Obat Generik Berlogo (OGL).
Masyarakat Indonesia kebanyakan tidak mau menggunakan OGL karena
harganya murah sehingga obat tersebut dianggap tidak berkhasiat. Sebagian besar
masyarakat justru memilih OGM yang lebih mahal padahal kandungan zat aktif yang
dimiliki keduanya sama. Perbedaannya adalah OGM melakukan marketing sehingga
biaya yang dibebankan kepada konsumen semakin besar.
KOMPONEN HARGA RESEP
Harga suatu obat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik itu dari produsen,
distributor, maupun pemerintah yang dapat menetapkan harga suatu obat dipasaran.
Kombinasi pemasaran yang dikenal dengan 4P (Product, Price, Promotion, Place)
akan memengaruhi harga penjualan di suatu apotek. Harga suatu barang ditentukan
13
oleh permintaan pasar di satu pihak dan penawaran di pihak lain. Harga selalu
berhubungan dengan penghasilan dan laba. Harga yang tinggi akan mengakibatkan
volume penjualan turun, biaya per unit naik, dan laba akan turun.
Harga Netto Apotek (HNA)
HNA (Harga Netto Apotek) adalah harga obat yang dibeli apotek dari
distributor. HNA berupa sejumlah harga obat yang tertulis pada faktur pembelian.
HNA dibagi menjadi 2 jenis, yaitu HNA dari taktur yang sudah termasuk Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) sebanyak 10% dan HNA tanpa PPN.
Harga Netto Apotek (HJA)
Harga Jual Apotek (HJA) adalah harga yang ditawarkan kepada konsumen
dengan memperhitungkan PPN (Pajak Pertambahan Nilai 10%) dan
profit/keuntungan (bervariasi 10%, 15%, atau 20%). Pemerintah menetapkan harga
jual tidak boleh melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) sehingga harus
menyesuaikan dengan margin dari pemerintah (margn 25%).
14
Contoh faktur dengan harga obat belum termasuk PPN
Ket : HJA : HNA + PPN (10%) + Profit/ Keuntungan
HNA
HJA : Harga Netto Apotek
Profit : Harga Jual Apotek
HET : Keuntungan Yang Diambil ( 10 – 30 %)
: Harga Eceran Tertinggi
1. Dari faktur diatas analisis apakah faktur sudah termasuk PPN atau belum ?
hitunglah HJA allopurinol tablet dengan memperhitungkan profif 25%.
a. Faktur belum termasuk PPN
b. HJA Allopurinol ?
HNA = Rp. 10.395 + 10 %
= Rp. 11.435
Profit 25 %
HJA = HNA + Profit
= Rp. 11.435 + 25%
= Rp. 14.293/ strip
= 143/tab
15
Contoh faktur dengan harga obat belum termasuk PPN
Ket : HJA : HNA + Profit/ Keuntungan
HNA
HJA : Harga Netto Apotek
Profit : Harga Jual Apotek
: Keuntungan Yang Diambil ( 10 – 30 %)
2. Dari faktur diatas analisis apakah faktur sudah termasuk PPN atau belum ?
hitunglah HJA bodrexin flu dan batuk dengan memperhitungkan profif 15%.
a. Faktur sudah termasuk PPN
b. HJA bodrexin flu dan batuk ?
Profit 15 %
HJA = HNA + Profit
= Rp.7.000 + 15%
= Rp. 8.050/ fls
16
Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
PPN atau Pajak Pertambahan Nilai merupakan jenis pajak tidak langsung
untuk disetor oleh pihak lain (pedagang) yang bukan merupakan penanggung pajak
(konsumen akhir). Prinsip dasarnya adalah suatu paiak yang harus dikenakan pada
setiap proses produksi dan distribusi, tetapi jumlah pajak yang terutang dibebankan
kepada konsumen akhir yang menmakai produk tersebut. Besarnya PPN adalah 10 %
seperti yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
PPN ini ada yang diperhitungkan langsung dengan harga obat sehingga PPN
tidak muncul di fakrur dan ada juga yang tidak diperhitungkan langsung dengan
harga obat sehingga PPN muncul di faktur. Oleh sebab itu, pihak apotek harus bisa
mengelompokan faktur dengan harga obat yang sudah termasuk PPN ataupun yang
belum termasuk PPN sebelum input dan menentukan harga pada barang
Tuslah dan Embalase
Tuslah yaitu jasa pelayanan farmasi / setiap pengambilan obat ataupun
sesuai kebijakan. Emblase adalah pembayaran peralatan yang digunakan dalam
pengerjaan resep. Penentuan tuslah dan embalase diserahkankepada kebijakan apotek
masing-masing. Perhitungan tuslah dan embalase ini mempengaruhi harga obat yang
akan dibayar oleh pasien.USan yaitu jasa pelayanan farmasi/setiap pengambilan obat
ataupun sesuai kebijakan.
17
MENGHITUNG HARGA OBAT
a. Penjualan Obat dengan Resep
Selain dari Harga Jual Apotek (HJA), biasanya apotek menambahkan harga R/ (uang
R/) dan embalase. Embalase dapat diartikan sebagai perlengkapan yang digunakan untuk
mengemas obat, contohnya plastik, etiket obat, dan sebagainya.
Untuk uang R/, masing-masing apotek memberikan ketentuan yang bervariasi. Ada
yang menghitung 1 tulisan R/ dengan harga Rp500, ada yang menghitung global 1 lembar
resep Rp l.000 walaupun dalam 1 lembar resep terdapat 6 tulisan R/, dan ada juga yang
tidak menghitung uang R/ ini. Uang R/ ini nantinya akan dibagikan kepada karyawan
apotek. Klip plastik pun memiliki harga, misalnya Rp50 tiap 1 klip plastik.
Beberapa ketentuan harga uang resep atau tuslah adalah sebagai berikut:
1 R/ = Rp500
1R/ Racikan = Rp1.000
Perkamen, kapsul = Rp100/bks/kps
Plastik klip = Rp200
b. Penjualan Obat dengan Resep Racikan,
Resep dengan obat yang harus diracik biasanya digunakan untuk jenis penyakit yang
memerlukan beberapa indikasi, tetapi tidak tersedia dari pabrikan. Dokter anak dan
dokter kulit biasamya menuliskan resep jenis ini. Untuk resep dalam bentuk racikan
puyer maupun kapsul, perhitungannya ditambahkan jumlah kertas perkamen maupun
kapsul yang digunakan. Begitu juga untuk pot salep dan botol sirup
Resep racikan biasanya menggunakan sediaan yang sudah ada dari pabrik, baik
dalam bentuk tablet maupun kapsul. Dalam perhitungan obat racikan ini terlebih dahulu
kita harus mengetahui dosis suatu obat yang digunakan. Dari hasil perhitungan dosis
18
biasanya ada juga tablet yang harus dalam bentuk potongan. Misalnya, Jika hanya
dibutuhkan Parasetamol 2,5 tablet maka untuk harga obat dihitung 5 tablet.
E. PENUTUP
1. Rangkuman
a. Sistem persediaan perpetual adalah suatu sistem yang menyelenggarakan
pencatatan terus-menerus dengan menelusuri persediaan dan harga pokok
penjualan atas dasar harian. Perkiraan persediaan mengacu dari data kartu-kartu
pembantu persediaan (kartu persediaan).
b. Metode MPKP (Masuk Pertama Keluar Pertama) atau FIFO (First In First Out)
c. Metode MTKP (Masuk Terakhir Keluar Pertama) atau LIFO (Last In First Ou?)
d. Metode Rata-Rata atau Average Methode
e. Harga pokok penjualan adalah harga pembelian barang ditambah biaya-
biaya
f. Laba atau untung adalah kondisi saat hasil pengurangan total penjualan
dikurangi total pembelian memberikan hasil positif.
g. Rugi adalah kondisi saat hasil pengurangan total penjualan dikurangi total
pembelian memberikan hasil negatif.
h. HNA (Harga Netto Apotek) adalah harga obat yang dibeli apotek dari
distributor.
i. Harga Jual Apotek (HJA) adalah harga yang ditawarkan kepada konsumen
dengan memperhitungkan PPN (Pajak Pertambahan Nilai 10%) dan
profit/keuntungan (bervariasi 10%, 15%, atau 20%).
2. Tugas
Analisis faktur dibawah ini, apakah termasuk ppn atau belum., hitung harga jual apotek,
jika profit yang dikehendaki 20%
19
Penyelesaian
20