The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by desprosipa2022, 2022-06-14 08:26:01

E-BOOK MATERI WORKSHOP

E-BOOK MATERI WORKSHOP

KONFERENSI

NASIONAL

INDONESIA MASK ORGANIZATION 2022

2022

DAFTAR ISI

01 02

Sambutan Founder IMO Konferensi Nasional IMO
“Indonesia Marvelous Mask”
03
04
Workshop Topeng
Tentang IMO
05
06
Kegiatan IMO
Materi 1 “Widya Filsafat
12 dalam Dramatari Topeng”

Materi 2 “Topeng Babakan Oleh : Dr. I Ketut Kodi, SSP., M.Si
Cirebon 1900-1990”
27
Oleh : Toto Sudarto, S.Kar., M.Hum
Materi 3 “Ragam Budaya
Topeng Jawa Timur”

Oleh : Reno Halsamer

KONFERENSI IMO 2022

Sambutan Founder IMO

Dra. R. Ay. Irawa Kusumorasri, M.Sn
( Founder IMO )

Topeng merupakan sebuah hasil karya yang diciptakan sebagai sebuah hasil seni yang fungsional
sekaligus bermakna simbolis. Dalam ar fungsional topeng berguna untuk kepen ngan pertunjukan,
sedangkan dalam hal simbolis topeng menunjukkan karakter tertentu dari penggambarannya. Seni
topeng merupakan salah satu bagian dari seni rupa tradisional yang masih tumbuh dan berkembang di
masyarakat yang berfungsi sebagai benda hias maupun benda pakai. Keberadaan seni topeng harus
dilestarikan dan dikembangkan.

UNESCO menilai Indonesia sebagai yang kaya akan budaya, se ap daerah di Indonesia memiliki
warisan budaya sendiri. Kekayaan budaya yang kita miliki ini sepatutnya dipelihara dengan baik.
Termasuk budaya topeng yang telah mendapat perha an dari pemerintah maupun masyarakat.

Indonesia Mask organiza on (IMO) hadir sebagai wadah untuk para pemerha , seniman, kolektor,
pengrajin, penari, serta komunitas maupun individu pecinta topeng yang ada di Indonesia. Dengan
adanya Indonesia Mask Organiza on (IMO) diharapkan menjadi tempat untuk mempererat hubungan
serta mempersatukan para aktor yang terlibat dalam budaya topeng demi kemajuan seni topeng yang
ada di Indonesia.

IMO diluncurkan pertama kali bersamaan dengan pagelaran Internasional Mask Fes val (IMF) 2021.
Hingga saat ini IMO telah memiliki 50 anggota yang terda ar dan diharapkan akan terus bertambah.
Dengan bertambahnya member IMO, ini menunjukkan antusiasme yang nggi serta apresiasi yang
besar dari para aktor dalam budaya topeng akan keberadaan IMO. Dengan adanya IMO diharapkan
semua peserta yang terlibat dapat mendapatkan relasi , pengalaman baru, dan pengetahuan tentang
topeng Indonesia melalui berbagai event yang dilaksanakan oleh IMO.

Pada tahun 2022, IMO menyelenggarakan Konferensi Nasional yang pertama bersamaan dengan
event IMF 2022. Konferensi ini diharapkan dapat menghasilkan ide krea f untuk penyusunan Peta
Topeng dan Ensiklopedia Topeng Indonesia. Terimakasih atas dukungan anggota IMO dan masyarakat.

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 01

Konferensi Nasional IMO

“Indonesia Marvelous Mask”

INDONESIA

M VELOUS
SK

Semenjak diluncurkannya IMO pada tahun 2021 dan melihat antusiasme yang nggi dari para aktor
budaya topeng, Founder IMO berinisia f untuk mengadakan event besar untuk para anggota IMO
yaitu Konferensi Nasional IMO yang bertujuan untuk meningkatkan bonding antar anggota dan
memberikan pengetahuan tentang seni topeng kepada masyarakat umum dan anggota IMO
khususnya.
Pada tahun 2022 Konferensi Nasional IMO diadakan pada tanggal 18 Juni 2022 dengan mengangkat
tema “Indonesia Marvelous Mask”. Dengan mengusung tema tersebut, besar harapan kita untuk
dapat memberikan sesuatu yang menakjubkan dan berkesan untuk masyarakat. Dengan mengusung
tema ini, juga diharapkan seni topeng bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas dan semakin banyak
penggerak seni topeng yang ada di Indonesia serta mereka bisa memamerkan karyanya.
Konferensi Nasional IMO (Indonesia Mask Organiza on) turut mengundang narasumber hebat
dibidangnya. Mereka adalah Dr. I Ketut Kodi, SSP., M.Si (beliau adalah master topeng dan akademisi),
Toto Sudarto, S.Kar., M.Hum (beliau adalah master topeng, ak vis seni, peneli , dan penari) dan Reno
Halsamer (beliau adalah Founder D’Topeng Kingdom Founda on dan Art Collector).
Dengan diadakannya konferensi nasional IMO pada tahun ini diharapkan akan terus terlaksana
ditahun-tahun berikutnya.

02 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

Tentang IMO

Indonesia Mask Organiza on (IMO) merupakan wadah silaturahmi seniman topeng, kolektor topeng,
pengrajin topeng, komunitas sekaligus individu-individu pecinta topeng Indonesia.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki keragaman warisan budaya yang menjadi kekayaan dan
daya tarik tersendiri. Topeng merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang kaya akan nilai
este ka, fungsional maupun filosofinya. Untuk itu merupakan kewajiban bagi kita untuk terus menjaga
dan memajukan budaya topeng di Indonesia agar tetap lestari. Namun sayangnya, karena belum
adanya wadah yang dapat menampung aspirasi para seniman, ak vis, kolektor maupun penari topeng,
budaya ini jarang sekali mendapat perha an terutama dari kalangan masyarakat dan ins tusi
pemerintahan. Maka dari itu, IMO hadir sebagai wadah yang mempersatukan para seniman, kolektor,
pengrajin, penari serta komunitas maupun individu pecinta topeng untuk kemajuan topeng Indonesia.

Secara perdana, IMO diluncurkan bersamaan dengan pagelaran Interna onal Mask Fes val 2021,
pada 11-12 Juni 2021 yang disiarkan secara hybrid dan virtual. Ak vitas IMO kedepannya adalah
menyelenggarakan pertemuan ru n yang akan dilaksanakan selama 4 bulan sekali, dengan pertemuan
pertama akan dilaksanakan secara hybrid pada bulan Oktober 2021. Namun dak menutup
kemungkinan adanya perubahan rentang waktu pertemuan ru n berdasarkan kesepakatan bersama.

TUJUAN
Tujuan dibentuknya IMO adalah sebagai berikut :
1. Memberi wadah silaturahmi bagi seniman, kolektor, pengrajin serta komunitas topeng
2. Mempererat relasi para aktor yang terlibat di seni topeng
3. Memfasilitasi ak vitas dengan berbagai acara perkumpulan bersama

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 03

Kegiatan IMO

Bidang Pendidikan
● Pemetaan topeng Indonesia;
● Virtual Mee ng Berkala melalui aplikasi Zoom;
● Mengenalkan tari topeng dan filosofi topeng ke anak-anak sanggar tari.
● Penyusunan ensiklopedia peta topeng Indonesia;
● Workshop Pembuatan Topeng. Bidang Ilmu Pengetahuan
● Penerbitan buku topeng Indonesia;
● Pameran Topeng;
● Mengenalkan topeng mancanegara kepada generasi muda.

Bidang Kebudayaan
● Berjejaring dengan pengrajin topeng;
● Berjejaring dengan seniman topeng;
● Berjejaring dengan museum topeng;
● Berjejajring dengan pemerha topeng;
● Berjejaring dengan perguruan nggi;
● Berjejaring dengan pusat kebudayaan;
● Berjejaring dengan organisasi topeng dunia;
● Misi kesenian dan kebudayaan ngkat domes k dan mancanegara untuk mengenalkan topeng
Indonesia di kancah nasional dan internasional.

Bidang Komunikasi dan Informasi
● Membuat website tentang topeng Indonesia, yaitu www.indonesiamask.org ;
● Mengenalkan topeng Indonesia di kancah internasional melalui fes val internasional, antara lain
Interna onal Mask Fes val (IMF) yang diselenggarakan di Kota Solo sejak 2014 dan Andong Mask
Dance Fes val yang digelar di Kota Andong, Republik Korea;
● Kerjasama dengan media partner untuk publikasi topeng Indonesia;
● Menjual karya pembuat topeng melalui marketplace @indofeststore;
● Menggelar lomba-lomba sebagai sarana edukasi dan publikasi topeng Indonesia

04 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

WIDYA FILSAFAT
DALAM DRAMA
TARI TOPENG

Oleh : Dr. I Ketut Kodi, SSP., M.Si

Pembuat & Penari Topeng,
Dalang dan Dosen ISI Denpasar

Sebuah Kajian Sasmitaning Topeng

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

Dr. I Ketut Kodi, SSP., M.Si

( Pembuat & Penari Topeng
Dalang dan Dosen ISI Denpasar)

ABSTRAK

Paper ini khusus mengkaji sarining kalengengang maka patunggaling rasa (sari-sari
keindahan este ka, unsur sains/widya dan filsafat) dalam dramatari Topeng. Pengkajiannya
menggunakan pedekatan Sasmita, yakni lima tanda predik f interpreta f yang melipu Sipta,
Smita, Widyalaya, Dibyanaya/Dibyacara/semio ka Bali, dan Anipta Karana (Sedana, 2017: 8-
9) untuk mencari pemahaman dan realitas kehidupan semesta mul versal dalam berbagai
dimensi kehidupan. Pengkajian karaterisasi topeng perlu juga menggunakan lima kajian
dramaturgi Panca Sastra Kawya (Mula Carita, Murda Kata, Jadma Prawer , Reka Kanda, Widya
Laya) untuk memahami. Hasil pengkajiannya diklasifikasikan ke dalam ga taksonomi, yaitu
bentuk wujud stulalango, pemanfaatan amuk lango, dan filsafat tatwaning lango seni
topeng. Sumber kajiannya mengutamakan pengalaman didukung literatur dan para ahli seni
topeng. Hasil kajian ini diharapkan memberikan kontribusi baru dalam pengembangan
epistemologi keilmuan dan nilai aksiologi seni topeng untuk digunakan masyarakat.

Kata Kunci: Sasmitaning Topeng, Widya Filsafat, Dramatari Topeng

06 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

SIPTA

Konsep ini dapat digunakan untuk menyoro siptaning jagat (tanda-tanda alam atau
yang berkorelasi pada alam) dalam topeng. Korelasi topeng terhadap alam bisa dilihat dari
warna-warni topeng yang merepresentasikan arah mata angin hingga berjumlah sembilan
warna:
1. Timur – pu h (Arsa Wijaya, Sida Karya),
2. Utara – hitam (Topeng Kala),
3. Barat – kuning (Topeng Tua atau raja-raja bawahan),
4. Selatan – merah (Topeng Keras)
5. Tengah - warna campuran pada aneka topng bondres/ rakyat.
6. Tenggara – warna dadu, merah muda, percampuran warna pu h dan warna merah (pada

topeng tua,
7. Baratdaya- warna orange, percampuran warna merah dan warna kuning (topang keras)
8. Baratlaut- warna hijau, percampuran warna kuning dan warna hitam (topang pendeta,

bahagawan)
9. Timur laut - warna abu-abu, percampuran warna hitam dengan warna pu h (topang

panasar/ panakawan).

Drama kesemestaan yang diformulasikan dan diak an ke dalam panggung topeng
bersifat jamak atau mul verse: ada dunia masa lampau, sekarang, dan ada yang akan datang.
Banyak juga penceritaan pada ranah Bhur, Bhuah, dan Swah, yakni pada alam dewa-dewa,
alam manusia, dan alam buta-kala. Manusia dan makhluk-makhluk lain dari ke ga semesta ini
saling terkoneksi erat dalam pagelaran topeng.

SMITA

Pendekatan Smita (ekspresi manusia) dalam topeng jelas merepresentasikan kehidupan
secara metafor atau perumpamaan. Wajah-wajah topeng selalu merepresentasikan
kelompok-kelompok masyarakat sosial, mulai dari kelompok rakyat, abdi raja atau
punakawan, para pa h, para menteri, para pendeta, raja-raja, kelompok setan/ buta-kala, dan
dewa-dewa. Tokoh-tokoh ini selanjutnya diungkapkan ke dalam aneka gerak keras, manis,
humor, lemah lembut, menakutkan, untuk mendrama sir penokohan dari jadma prawer
meningkat menjadi jadma mur . Smita akhirnya menjadi mo f aksi drama s (driving force),
mengejawantah pada alur lakon dengan sifat-sifat tokoh topeng yang baik, nakal, munafik,
dan aneka sifat lain perwatakan yang dimodifikasi oleh sadrasa dan nawarasa. Sifat-sifat ini
saling ber kai menjadi kehidupan drama s dalam panggung topeng yang berkorelasi dengan
drama sosial sehari-hari.

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 07

WIDYALAYA

Dalam Makalahnya Sedana (2017: 8) menjelaskan Widyalaya adalah isyarat gerak
maya dan fisik yang harus dibaca dengan teli , diverifikasi, dan dikonfirmasi dengan data
empiris serupa peneli an ilmiah. Widyalaya / isyarat ‘yang melayang-layang’ ini adalah
indikator-indikator yang dikomunikasikan, dihasilkan, disampaikan dengan objek/benda,
posisi/ komposisi ruang, bahasa gerak fisik, terutama tangan, badan, kening, termasuk suara
kuping yang berdesing dak terduga. Ada isyarat yang mudah dibaca; ada juga yang sukar
bahkan ambigu. Isyarat dalam tradisi dramatari topeng bisa melipu tata ungguh, tata
parunggu, tata jenyana yang menjadi formulasi dasar hidup dan kehidupan. Ini semua
berkorelasi dengan sikap dan penempatan tokoh-tokoh topeng dalam pertunjukan.

DIBYANAYA/ DIBYACARA

Seper halnya teori semio k, dibyacara atau dibyanaya juga memiliki ga konsep
memahami tanda berdasarkan kesepakatan (lawat, simbol), berdasarkan keterkaitan
(cararupa, indeks) dan berdasarkan keserupaan (marupa, ikon / icon). Dibyanaya ini
memberikan iden fikasi terhadap watak tokoh-tokoh drama s dalam panggung. Tanda yang
selalu terkait, ditafsirkan dengan metode ngawangsa/hermeneu k lokal dan harus diinisiasi
oleh penari topeng, direspon krea f secara akurat oleh pemain kendang untuk diteruskan
kepada semua musisi disebut aksen/ dinamika (angsel/cadence). Akhirnya secara kolek f
kolegial menghadirkan dinamika pagelaran dramatari topeng.

Semua topeng, gelungan, dan atribut kostumnya membangun simbol-simbol yang
disepaka dan ikon-ikon yang serupa dan mudah dibaca hingga dipahami masyarakat
penonton: Bondres yang sakit diperlihatkan dengan atribut serban yang kumuh, badan
gemetar, saputnya dinaikkan sebagai selimut, suara yang terbata-bata. Bondres tua
membawa simbol Panglocokan (pabrik nginang) mengindikasikan senioritas umurnya yang
sudah usur.

Bondres yang compang-camping, buruk rupa, cacat ini itu justru ditunggu-tunggu
karena menghibur dan memberikan pesan-pesan baik, bahkan pencerahan (somia,
enlightemnent) dengan modus menghibur, tanpa menggurui. Pemain Bondres diberikan
kebebasan mimbar sosial ar s k oleh masyarakat dan oleh ins tusi seni topengnya sendiri.
Berdasarkan kriden al ar s k tersebut, pemain topeng bebas sekali mengeksploitasi aneka
tanda, baik melalui perwajahan, ak ng, gestur, dan gerak tari, maupun kridabasita atau
kridabasa (permainan kata, pun). Dengan konsep dibyanaya/ dibyacara seniman topeng dapat
memberikan social cri cism dan social commentary secara teatrikal, yakni memberi tontonan
dan tuntunan.

Konsep dibyanaya dan dibyacara ini diak an ke dalam bentuk-bentuk topeng yang
berbeda-beda. Sesuai kebutuhan teatrikal secara umum dapat dikelompokan menjadi ga
bentuk, yakni topeng Bungkulan yang utuh, Sibakan yang sebagian, dan Kepehan hanya satu
segmen saja yang dimu lasi. Bentuk-bentuk ini memberikan tanda-tanda tentang karakter
raja, pa h, rakyat ataupun bondres yang terkait dengan kaidah tari, tabuh, aksen / dinamika,
dan narasi-narasi drama s.

08 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

ANIPTA KARANA

Aniptakrana atau pandulame adalah tafsir makna eksoterik dan isoterik, termasuk
pemaknaan alamat mimpi. Konon tanda-tanda ini berasal dari lapisan/ dimensi kehidupan
semesta yang lebih halus yang disebut Anandamaya kosa (rohaniah), Wijnanamaya kosa
(Spiritual), Manumaya kosa (alam modaniah), dan Pranamaya kosa (alam astral/mental).
Mengkaji topeng dengan konsep anipta krana menghasilkan ilmu pengetahuan rela f semi-
akurat. Sebagian orang mungkin bisa membuk kan sendiri dampak bermimpi dikejar ular,
atau mimpi melihat bangkai, atau mimpi makan pesta pora, dihanyutkan air, dll. Mengkaji
topeng melalui alamat atau ramalan adalah tanda-tanda abstrak metafisik yang biasanya
terdeteksi melalui semedi, mimpi, penenangan diri, kesabaran, kontemplasi, dan
ins ng/intuisi (gut ins nct, intui ve approach), termasuk segala macam ramalan dan tafsir
makna dari ar mimpi. Dalam konteks seni sering harus dipahami dengan sasmitaning lango
(watak/sifat maha karya seni) dan Wiweka (analisis, sintesis, tafsir/ hermenetuik).

Sebagai seniman topeng anipta krana atau pandulame ini banyak berguna dalam
mematangkan persiapan pentas, menyusun lakon, terutama krida basita (anta wacana, kanda
wacana, anda wacana:

1. Mimpi ada jelangkong keluar dari dada
2. Mimpi diberi petunjukan persyaratan moksha
3. Mimpi dirajah oleh Pendeta Siwa dan Budha
4. Mimpi diwisudha dengan huruf NA (Adikara/Taksu) pada kening / Agya adnyana cakra 5.

Mimpi melepaskan keris dari sarungnya
6. Mimi diminta pulang padahal masih mengajar di California tahun 1996-97. (terasa

didatangi dan ditanyakan oleh spirit (Ida Bhatara)) apakah dak pulang kampung dalam
piodalan mendatang. Aikhirnya dari Pemuda di kampung diberi tugas menyumbangkan
lakon Kala Wikumba untuk Sendratari. Mimpi nini memberi jalan untuk memantapkan
pengabdian di bidang seni pertunjukan.

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 09

KESIMPULAN

Seni Widya Filsafat semula diformulasikan sebagai seni yang merepresentasikan
getaran ha nurani (Genta/Padwa Herdaya), mengutamakan ilmu dan nilai lango dari jiwa
zaman (Pranayuga), dengan sinar cinta kasih (Praba Semara) yang memberi kebenaran budi
(Budi Satyam) dan pencerahan spiritual hingga kedamaian san ka semesta alam (Prabhawa
Buana). Senimannya mencapai jayeng lango atau nunggal ing lango, ‘bersetubuh’ dengan
Dewi Keindahan. Dalam kajian ini, widya filsafat dramatari topeng menggunakan pendekatan
sasmita, yakni 5 petunjuk interpreta f predik f. Dengan pendekatan ini topeng
memformulasikan dan mengak an keunggulan aeste s (aesthe c efficacy of) yang
berpotensi membalikkan citra keburukan (baik tokoh, penampilan, wajah, sifat) menjadi
hikmah kebijakan dan kebajikan yang indah (beau fic opposite) yang sangat berguna dan
menjadi visi utama seni topeng

10 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

DAFTAR PUSTAKA

Artaud,Antonin. ([1938]1958) The Theater and Its Double, New York: Grove Weidenfeld.

Bharata-Muni. (2002) Natayasastra, Manomohan Ghosh (trans), Varanasi: Chowkhamba Press.

Blavatsky, Helena. ([1888] 2014) The Secret Doctrine: The synthesis of science, religion, and
philosophy. Pasadena: Theosophical U.P.

Dibia, I Wayan. (2012) Taksu dalam Seni dan Kehidupan Bali, Denpasar: Bali Mangsi.

Dibia, I Wayan. (2021) Ungkap Kata Tari Bali, Puitika Tari 1. Denpasar: Bali Mangsi Foundation.

Rubin, Leon and I Nyoman Sedana. (2007) Performance in Bali. London: Routledge.

Sedana, I Nyoman and Kathy Foley (2016) “Traditional Indonesian Theatre” Routledge Handbook
ofAsian Theatre. Siyuan Liu (ed.). London: Routledge.

Sedana, I Nyoman. (2017) “Seni Widya Filsafat Dalam Wayang Dan Topeng (seni kali-maha-
usada = obat mujarab zaman kali).” Makalah disajikan dalm Sarasehan Wayang
danTopeng, Kerjasama Listibiya Badung dengan Listibya Kecamatan Kuta, 23 April 2017
di Gedung Graha Budaya Lotring, Jalan Blambangan Kuta

Sura, I Gede. (2002) Kajian Naskah Lontar Siwagama, Denpasar: Dinas Kebudayaan Propinsi
Bali.

Srimad, Sri. (2006) Bhagavad-Gita Menurut Aslinya. Indonesia: The Bhaktivedanta Book Trust,
Hanoman Sakti.

Wahyu Dita, I Kadek. (2011) Restorasi Makna, Nilai, dan Jati Diri Puri Agung Kesiman; Benteng
Pelestari dan Pengembangan Budaya Bali, Denpasar: Kesiman Grand Palace, vol 1.

Widjaya Bandem, N.L.N. Suasthi. (2012) Dharma Pagambuhan, Denpasar: BP Stikom Bali.

Zoetmulder, P.J. 1983. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 11

TOPENG
BABAKAN CIREBON
1900-1990

Oleh : Toto Sudarto, S.Kar., M.Hum

12 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

Toto Sudarto, S.Kar., M.Hum

( Master Topeng )

ABSTRAK

Topeng Babakan Cirebon dalam perjalanannya telah menjadi suatu tonggak yang ikut
mewarnai perjalanan sejarah tari di Jawa Barat. Peneli an ini mengungkap perubahan dan
perkembangan Topeng Babakan dari tahun 1900 sampai 1990. Kajian terhadap permasalahan
tesis ini menggunakan metodologi sejarah, dengan bantuan ilmu sosial dan kebudayaan.
Topeng Babakan merupakan seni pertunjukan rakyat yang dalam penyajiannya masih
berkaitan dengan upacara-upacara tradisi, seper ngunjung, mapag sri, ngarot dan lain-lain.
Penyebarannya di Jawa Barat bermula dari pertunjukan yang dilakukan secara berkeliling atau
bebarang (ngamen) pada awal abad ke-20. Hal ini menarik perha an kaum menak (bangsawan)
untuk mempelajari keterampilan para dalang topeng Cirebon. Perkembangan berikutnya
tarian ini banyak mempengaruhi bentuk tari-tarian yang ada di wilayah Priangan dan Jawa
Barat secara umum. Pasang surut kegiatan pementasan Topeng Babakan banyak dipengaruhi
oleh perkembangan masyarakat yang mudah berubah seiring dengan perkembangan zaman
serta teknologi informasi.

Kata kunci: Topeng Babakan, bebarang, perubahan dan perkembangan.

Throughout the course of its journey, topeng babakan Cirebon has became a milestone,
which has coloured the course of the history of dance in West Java. This research discovers the
changes and developments in topeng babakan from 1900 to 1990. The study of the subject of
this thesis used a historical approach, with the aid of social and cultural studies. Topeng
Babakan is a performing folk art, the performance of which is s ll related to tradi onal
ceremony such as ngunjung, mapag sri, ngarot, and so on. It spread through West Java,
beginning as a traveling show or bebarang (troupe of performing beggars) at the start of the
20th century.This drew the a en on of the aristocrats or menak, to learn the of Cirebon masked
theater. In it subsequent development, this dance greatly influenced other dance forms in the
Priangan region and in West Java in general. The rise and fall of topeng babakan performance
ac vi es was largely influenced by developments of the age, and developments technology and
communica on.

Keyword: topeng babakan, bebarang, changes, and developments.

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 13

PENDAHULUAN

Kesenian topeng merupakan salah satu kesenian yang termasuk ke dalam seni
pertunjukan yang masih memiliki kaitan dengan kehidupan sosial baik di masa lampau maupun
masa sekarang. Topeng saat sekarang erat hubungannya dengan tari, yang sejak zaman Mataram
Kuno telah dikenal dengan sebutan Wayang Wang, Manapukan atau Hatapuk, Manapal
(R.M.Soedarsono, 1977: 5-6). Menurut Th. Pigeaud ada dua macam Topeng di Cirebon yaitu
GrootMaskespel dan KleineMaskerspel (Th. Pigeaud, 1938:110-113). Groot Maskerspel adalah
pertunjukan topeng dengan membawakan cerita, sedangkan Kleine Maskerspel adalah
pertunjukan topeng yang hanya menyajikan tari-tarian tunggal. Pertunjukan topeng dengan
membawakan cerita Wayang Purwa di Cirebon disebut Wayang Wong, pertunjukan topeng yang
hanya menyajikan tari-tarian tunggal dari tokoh-tokoh cerita Panji disebut Topeng Babakan.
Sunan Kalijaga pada mulanya menciptakan topeng terdiri dari sembilan jenis dengan meniru
boneka wayang gedhog, yaitu: Panji Kasatriyan, Candrakirana, Gunungsari, Andaga, Raton
(seorang raja), Klana, Danawa (raksasa), Reco (sekarang disebut Tembem), dan Turas (sekarang
diseb ut Pent hul) (Ibid:42).

Pada awal abad ke-16 tokoh penyebar agama Islam di Cirebon yaitu Sunan Gunung Ja
dibantu oleh Sunan Kalijaga, dalam usaha mereka mengumpulkan rakyat agar mau mendengar
khotbah-khotbah diantaranya dengan menggunakan tarian (Soedarsono, 1972: 112). Kerajaan
Jawa Barat saat ini terbagi menjadi dua yaitu kesultanan Cirebon dan kesultanan Banten. Di
Istana Cirebon berkembang drama tari topeng yang disebut Wayang Wong atau wayang orang
yang lebih sering mementaskan cerita Mahabarata, sedangkan di Istana Banten b er kemb ang d
rama tari raket yang mementaskan cerita Panji. Selain pertunjukan wayang wong di istana
Cirebon, juga di kalangan rakyat jelata terdapat drama tari topeng yang disebut topeng babakan,
yang merupakan pertunjukan rakyat yang dilakukan di jalan-jalan dan di pasar-pasar dengan
memungut bayaran kepada penontonnya. Adapun cerita yang sering dibawakan adalah cerita
Panji atau Damarwulan (Ibid:114).

Konteks sosial pertunjukan topeng Cirebon pada dasarnya selalu berkaitan dengan
upacara-upacara tradisi. Upacara- upacara itu seper : perkawinan, khitanan, mapag sri,
ngunjung, memitu, ngarot, dan lain- lain. Pada saat ini pertunjukan topeng babakan yang
berkaitan dengan upacara-upacara tersebut jarang dilaksanakan lagi. Gejala penurunan
frekwensi pertunjukan tersebut mulai tampak sekitar tahun 1990. Diduga faktor penyebab
menurunnya frekuensi pertunjukan tersebut adalah kurangnya animo masyarakat yang lebih
memilih bentuk-bentuk kesenian lain.

Dari uraian topeng babakan tersebut diatas maka kajian dalam peneli an ini
menggunakan kajian sejarah dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial. Kajian ini berfokus pada
perkembangan maupun perubahan yang terjadi pada topeng babakan. Kajian ini berusaha
merekonstruksi sejarah perkembangan topeng Cirebon khususnya topeng babakan. Pendekatan
ilmu-ilmu sosial akan menjadi analisis dalam rekonstruksi. Ilmu-ilmu sosial itu akan menjadi
analisis dalam merekonstruksi tersebut. Ilmu-ilmu sosial itu antara lain sosiologi dan
kebudayaan. Pada kesempatan ini dak akan menggunakan teori akan tetapi akan menggunakan
konsep ilmu-ilmu bantu untuk membantu metode sejarah yang dilakukan dalam peneli an ini.
Peneli an ini menggunakan metodologi sejarah dengan memperha kan perkembangan tari
topeng babakan secara diakronis, yang menawarkan bukan saja sebuah struktur dan fungsinya,
melainkan suatu gerak dalam waktu dari kejadian-kejadian yang konkrit harus menjadi tujuan
utama ( Kuntowijaya, 1994:37).

14 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

PEMBAHASAN

CIREBON SEBAGAI GAMBARAN UMUM

Kabupaten Cirebon merupakan bagian dari wilayah Provinsi Jawa Barat yang terletak di
bagian mur dan merupakan batas, sekaligus sebagai pintu gerbang dengan provinsi Jawa
Tengah. Letak datarannya memanjang dari barat laut ke tenggara. Dilihat dari permukaan
tanah/dataran dibedakan menjadi dua bagian. Pertama daerah dataran rendah, umumnya
terletak sepanjang pantai utara Pulau Jawa yaitu kecamatan Gegesik, Kapetakan, Arjawinangun,
Klangenan, Cirebon Utara, Cirebon Barat, Weru, Astanajapura, Lemahabang, Karang sembung ,
Waled, Ciledug dan Kecamatan Losari. Sebagian kecamatan lagi termasuk pada daerah dataran
sedang dan nggi yaitu Kecamatan Beber, Babakan, Cirebon Selatan, Sumber, Palimanan,
Plumbon, Ciwaringin, dan Kecamatan Susukan.

Cirebon merupakan salah satu pelabuhan pen ng di pesisir utara Jawa dalam kegiatan
pelayaran dan perdagangan di kepulauan Indonesia maupun mancanegara. Daerah pesisir
merupakan daerah yang paling awal dalam persentuhan dengan budaya asing dari pada daerah
pedalaman. Sebagai kota pelabuhan juga Cirebon merupakan bertemunya berbagai golongan
sosial dan bermacam-macam kebudayaan. Peninggalan-peninggalan purbakala, kesenian,
maupun warisan non-fisik merupakan buk masuknya aneka ragam kebudayaan dari berbagai
penjuru dunia seper : Eropah, Arab, Cina dan India.

Kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di Cirebon banyak terpengaruhi oleh
akulturasi budaya pendatang dengan penduduk asli setempat. Namun demikian sebagai wilayah
yang merupakan perbatasan antara Jawa Barat yang mayoritas Sunda dengan wilayah Jawa
Tengah yang berbahasa Jawa. Cirebon berkembang sendiri dengan kultur yang khas, yang
merupakan percampuran antara keduanya, Para pendatang dan penduduk asli saling
beradaptasi, saling mengisi dan menerima dalam pelaksanaan kehidupan mereka sehari-hari.
Para pelaku kesenian di Cirebon terutama bentuk-bentuk kesenian tradisional pada umumnya
menyebut primadona mereka dengan sebutan dalang. Kata dalang dak hanya diberlakukan
kepada orang yang memainkan wayang saja. Akan tetapi, kata ini juga digunakan untuk
menyebut orang yang memiliki keahlian tertentu atau pemimpin kelompok di bidang kesenian
lainnya. Penari topeng juga disebut dalang topeng, pemimpin rombongan genjring disebut
dalang genjring, penari atau pemain berokan (barongan) disebut dalang berokan, dan juga
berlaku untuk kesenian lainnya.

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 15

TOPENG CIREBON

Is lah topeng yang hidup dikalangan masyarakat Cirebon terbentuk dari kata yang dak
sama ar nya. Adapun dua kata yang memberi is lah topeng itu ialah ketop-ketop yang
ar nya berkilau-kilau, dan gepeng yang ar nya pipih. Is lah ini diambil dari dua benda
yang berkilau-kilau dan pipih dari uang logam, tergantung pada bagian depan penutup
kepala penari (Maman Suryaatmadja, 1980:25). Dalam percakapan sehari-hari pada
masyarakat Cirebon, apabila kata topeng dikaitkan dengan nama seseorang biasanya
dipergunakan sebutan bagi penari topeng yang bersangkutan, seper topeng Suji, topang
Jana, topeng Keni, topeng Dasih dan sebagainya. Apabila kata topeng dihubungkan
dengan nama sebuah tempat, maka hal itu akan menunjukkan tempat asal dari
rombongan/grup ataupun tempat nggal dari dalang yang bersangkutan, seper topeng
Palimanan adalah rombongan topeng yang berasal dari daerah Palimanan. Demikian juga
dengan topeng Losari, topeng Slangit, topeng Gegesik, topeng Kalianyar, topeng
Indramayu dan sebagainya.

Terkait dengan pertunjukan Topeng di Cirebon banyak dikenal dengan topeng babakan
yang biasanya pentas di wilayah Cirebon. Is lah topeng babakan sendiri memang
menunjuk pada salah satu bentuk pertunjukan topeng khas daerah ini. Topeng babakan
adalah bentuk pertunjukan topeng yang hanya menampilkan bagian-bagian atau babak-
babak sebuah lakon dak secara utuh. Fungsi Topeng Babakan berkaitan dengan upacara
tradisi seper khitanan, perkawinan, mitoni, ngunjung, mapag sri, ngarot, sedangkan
sebagai hiburan nampak pada barangan/bebarang.

16 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

TOPENG BABAKAN TAHUN 1900- 1942

Pada akhir abad ke-19 tari topeng di Jawa Barat terdapat di beberapa daerah seper Serang,
Anyer, Pandeglang, Lebak, Cicalengka, Bogor, Karawang, Sukabumi, Tasikmalaya,
Limbangan,Sukapura dan Jakarta (Serrurier,1896:Tabel A). Sejak awal tahun 1900, Sumedang,
Garut, Bandung, dan Tasikmalaya sering didatangi rombongan topeng (serupa wayang orang)
dari Cirebon, Dalangnya ada dua yaitu Wentar dan Koncer. Dalam perjalanan keliling (bebabrang)
mereka dak hanya mengadakan pertunjukan tetapi adakalanya memberikan pelajaran kepada
siapa saja yang menginginkannya (Tjetje Somantri, 1953:2-4). Pada tahun 1918, Wentar dan
Koncar menyusun tari yang disebut Pamindo Campuran. Tarian ini memperlihatkan berbagai
rangkaian gerak tari Topeng Cirebon yang menggambarkan karakter Anjasmara, Layang Seta,
Layang Kumi r, dan Menakjingga (Tjetje Somantri, Op.,Cit:31). Tarian ini kemudian lebih dikenal
dengan sebutan Topeng Koncaran.

Pada sekitar tahun 1940-an Nesih/Dasih dan Amih yang merupakan anak-anak dari Wentar
(dalang topeng terkenal dari Palimanan) pernah diundang secara khusus untuk memberikan
pelajaran tari Topeng Cirebon kepada Rd. Ono Lesmana Kartadikusumah yang saat itu menjabat
lurah Desa Kutakulon di Sumedang (1934-1937). Hal ini karena ketertarikan Rd. Ono Lesmana
Kartadikusumah sebagai pendiri Perkumpulan Seni Tari Sunda “Sekar Pusaka” pada tari topeng
yang pernah ia pelajari dari Resna pada kursus tari yang diselenggarakan tahun 1924 di pendhapa
kabupaten Sumedang atas prakarsa bupa R. A . A. Kusumahdilaga ( Anis Sujana, 1993:99).
Rd.Ono Lesmana Kartadikusumah kemudian melahirkan tari-tarian hasil karyanya yang
merupakan gubahan- gubahan dengan mengambil dasar dari gerak-gerak tari yang pernah ia
pelajari dari guru-gurunya (Wawancara Rd. Effendi Kartadikusumah, 6 Juni 1999).

Sampai akhir pemerintahan Belanda, kesenian Topeng Cirebon banyak digemari masyarakat.
Pada perhelatan-perhelatan keluarga seper pada khitanan dan perkawinan, kesenian menjadi
suatu keharusan untuk ditanggap. Pertunjukan topeng pada acara-acara tersebut biasa disebut
dengan topeng hajatan. Pertunjukan seper ini ada juga yang menyebutnya dengan nama
topeng dinaan, karena pertunjukannya berlangsung dari jam 8.00 hingga pukul 16.00. Pada
masa pemerintahan Hindia Belanda ini rata-rata bayarannya sekitar 3 gulden. Sedangkan, untuk
topeng barangan per babak (lebih kurang 10 menit)bayarannya sekitar 20 cent (Suryaatmadja,
1980: 69).

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 17

TOPENG BABAKAN TAHUN 1942- 1945

Pada hari penutup sejarah Belanda yang memerintah di Jawa selama ga ratus lima puluh tahun,
ialah tanggal 9 Maret Tahun 2603 (1942), pada lapangan pesawat terbang di Kalija , yang
letaknya di dekat kota Bandung, dilangsungkan pertemuan antara Letjen Imamura, Panglima
ter nggi Bala Tentara Dai Nippon dengan Gubernur Jendral Hindia Belanda Stakenborgh
tentang penyerahan tentara Belanda ( S. Mijosi, ”Peris wa Achir Sedjarah Pemerintah Belanda
Di Indonesia” dalam Asia Raya, Djakarta, 29 Maret 2603). Setelah Jepang menguasai Indonesia,
maka muncul Keimin Bunka Sihosjo(Pusat Kebudayaan) yang bertugas menguasai semua cabang-
cabang kesenian. Kegiatan dalam bidang kesenian diserahkan kepada bangsa Indonesia,
walaupun kenyataannya masih dibawah naungan tentara Jepang (Tb.O. Martakusumah,
“Pandangan tentang Tari Sunda pada dewasa ini”, 4 Mei 1972).

Pada masa pemerintahan Jepang di Indonesia, topeng babakan hanya dilaksanakan pada
pertunjukan bebarang saja. Topeng barangan diperuntukan bagi calon dalang topeng, yaitu
penari dalam taraf proses belajar, sedangkan dalang topeng ber ndak sebagai pemimpin
rombongan sambil menabuh salah satu instrument, biasanya memukul kecrek. Jalur bebarang
yang dilakukan Mini ( dalang topeng yang merupakan keturunan dari Wentar, Palimanan)
adalah daerah-daerah bagian selatan dan barat Cirebon, yaitu dari Ja wangi, Kadipaten,
Majalengka, Sumedang dan Bandung (Soleh, wawancara di Bongas 9 Juli 1999).

Bebarang dilakukan oleh Tarmi bersama Kewes (dalang topeng dari daerah Kreo) ke daerah
kabupaten Bandung, antara lain ke Ciparay, Manggahang, Majalaya, Jalan Kopo, bahkan sampai
ke Garut dan Ciamis. Perjalanan bebarang dilakukan hingga 3 sampai 4 bulan (Risyani,
1984/1985:18). Bagi kelompok topeng Losari bebarang sering dilakukan ke wilayah Jawa Tengah
antara lain daerah Brebes, Tegal, Pekalongan (Sawitri, wawancara d i Losari 12 Mei 1999).
Sedangkan bebarang yang dilakukan oleh rombongan dari Slangit adalah daerah Majalengka dan
Sumedang (Bulus, wawancara di Slangit 19 Agustus 1999).

18 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

TOPENG BABAKAN TAHUN 1945- 1950

Setelah bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya yang diproklamirkan pada 17 Agustus
1945 banyak gejolak poli k, satu diantaranya adalah Darul Islam (D.I), yang dipimpin
Kartosuwiryo yang ingin mendirikan Negara Islam. Gejolak ini mengakibatkan
ke daktentraman penduduk di Jawa Barat khususnya di wilayah Priangan. Mereka memberi
tekanan, kekerasan, dan pengaruh kepada masyarakat agar mau menjadi pengikut poli knya
(P.J.Droouglever, 1992: 325). Daerah Priangan tempat Kartosuwiryo bergerak, sejak dahulu
akibat tekanan kolonial memang merupakan daerah yang subur dengan gerakan radikalisme
agraria (Kuntowijoyo, 1994: 33).

Situasi ekonomi pada tahun 1940 hingga tahun 1950 berada dalam keadaan yang suram,
sehingga kesempatan kerja dak terbuka seluas sekarang. Keadaan ini menjadikan topeng
sebagai satu-satunya tumpuan hidup yang sedikit banyak dapat mengatasi kebutuhan hidup
sehari-hari bagi kalangan dalang topeng Cirebon. Topeng adalah satu-satunya yang diandalkan
oleh keluarga dalang topeng. Terbuk dari kenyataan yang menunjukan bahwa rata- rata
mereka dak mempunyai pekerjaan lain kecuali sebagai seniman topeng, baik sebagai dalang
maupun nayaga. Dari latar belakang tersebut, maka dapat digambarkan betapa pen ngnya
kedudukan topeng bagi keluarga dalang topeng Cirebon sebagai penyangga kehidupan sehari-
hari. Seorang dalang topeng senan asa mengusahakan keturunannya agar menjadi pewarisnya.
Topeng dan wayang dalam kehidupan tradisi di Cirebon selalu berdampingan erat, karena telah
menjadi kebiasaan pada se ap hajat (kenduri) dalam perayaan perkawinan, khitanan, memitu
atau mitoni, puput puser, gusaran (potong gigi) atau sebagai pelepas suatu janji yang telah
diikrarkan yang disebut kaulan, siang hari mementaskan topeng malam harinya mementaskan
wayang (Suryaatmadja, Op. Cit., : 38).

TOPENG BABAKAN TAHUN 1950- 1965

Pada awal tahun 1950-an Partai Komunis Indonesia mendirikan Lekra (Lembaga Kebudayaan
Rakyat), dasar organisasi ini adalah menghidupkan kembali kebudayaan rakyat. Konsepsi
Kebudayaan Rakyat, Seni untuk rakyat, dan Poli k sebagai Panglima (“Berita Dari Pers'' dalam
Budaja Th. Ke-IV, April/Mei 1955: 240). Perkembangan poli k di tanah air ternyata juga
mempunyai dampak terhadap perkembangan seni pertunjukan. Beberapa seni pertunjukan
yang mampu meraih penonton banyak ditunggangi oleh partai ini sebagai propagandanya
(Soedarsono, 1998: 45).

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 19

TOPENG BABAKAN TAHUN 1965- 1990

Penumpasan pemberontakan PKI 1965 oleh ABRI dan rakyat merupakan awal orde baru
untuk melaksanakan pembangunan nasional Indonesia di segala bidang untuk menyelamatkan
negara dari kebangkrutan masa orde lama. Gerakan pemberontakan PKI pada 30 September
1965 menimbulkan beberapa masalah pen ng dalam kehidupan poli k dan kebudayaan
Indonesia. Sekitar tahun 1967 masa peralihan Orla- Orba, partai agama (Islam) menjadi kekuatan
poli s yang amat kuat. Seni tradisi rakyat menjadi dak berfungsi, karena sekelompok
masyarakat beranggapan bahwa segala bentuk kesenian tradisional rakyat dianggap “maksiat”.
Kelompok-kelompok kesenian yang bernapaskan agama Islam bermunculan, seper tagoni
atau kasidah. Khotbah keagamaan dari seorang kyai Islam menjadi semacam tontonan (yang
ditanggap orang) sebagai penggan pertunjukan-pertunjukan kesenian dalam upacara-upacara
atau perayaan- perayaan selamatan (Suwanda, 1990:49). Para seniman tradisi rakyat yang
terlibat dalam organisasi Lekra atau PKI, ditangkap kemudian ditahan, dan dilarang melakukan
pertunjukan (Ibid).

Menanggapi permasalahan yang dihadapi oleh kesenian tradisi rakyat khususnya topeng
babakan, pemerintah daerah kabupaten Cirebon pada peringatan hari kemerdekaan 17
Agustus 1969 mengadakan lomba/fes val tari topeng Cirebon diawali dari ngkat kecamatan
kemudian ngkat kabupaten Cirebon (Pada ngkat kecamatan Sujana juara I, sedangkan pada

ngkat kabupaten juara II). Sebagai upaya menggali nilai-nilai yang terkandung dalam kesenian
yang sementara waktu terhen akibat bergejolak poli k di negara kita ini, pemerintah
mengadakan Fes val Ramayana (tanpa topeng) dari Jawa Barat yang dipertunjukan dalam
rangka Fes val Ramayana Tingkat Nasional ini, adalah langkah awal dalam usaha
mengungkapkan kembali nilai-nilai tarian klasik yang kini terpendam di sekitar wilayah Cirebon
(Surjaatmadja, 1970:243). Dalam fes val Ramayana ngkat Internasional yang diiku oleh para
peserta dari Negara Birrma, India, Khmer, Malaysia, Muangthai, Nepal, Pilipina, Singapura, Sri
Lanka, dan Indonesia (gaya: Yogyakarta, Surakarta, Bali dan Sunda) yang diselenggarakan pada
tanggal 31 Agustus - 10 September 1971 di Pandaan Jawa Timur. Para penari (gaya Sunda) dalam
fes val kali ini adalah penari dari Bandung dan Cirebon. Seniman-seniman Jawa Barat ditantang
untuk dapat menerapkan kembali watak- watak dalam topeng Cirebon ke dalam cerita Ramayana
(“Fes val Ramayana Internasional” dalam Kujang, Tahun ka-XVI No.821, 8 Oktober 1971).

Pemerintah daerah Jawa Barat dalam usaha untuk membangkitkan kembali kesenian
tradisi yang telah tenggelam sejak gejolak poli k yang diakibatkan G. 30.S.PKI, mengadakan
Pasanggiri Ibing ngkat Nasional yang diselenggarakan tanggal 16-17 Maret 1972 di gedung
Merdeka Bandung. Adapun tari yang diperlombakan adalah: rumpun: tari topeng Cirebon, Ibing

20 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

Keurseus, tari wayang, dan tari kreasi R.Tjetje Somantri. Pada pasang giri tersebut keluar sebagai
juara umum adalah Suji dari Palimanan dengan menyajikan topeng Tumenggung (“Nenek Juara
Umum” dalam Pikiran Rakyat, 18 Maret 1972).

Endo Suwanda pada bulan Juli 1977 diserahi tugas oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)
membawa rombongan topeng babakan yang didalamnya berin kan dalang-dalang topeng
terkenal seper , Suji (60 tahun) dari Palimanan, Sujana ( Jana) (40 tahun) dan Keni adik Jana (30
tahunan) dari Slangit untuk mentas bersama dalam satu sajian di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Untuk menyesuaikan kondisi yang berbeda konteks ia terpaksa memotong waktu dan koreografi
beberapa jenis tarian supaya dak memakan waktu lebih dari dua jam. Penyajian ini terasa sekali
bahwa nilai dan bentuk kesenian tersebut sudah tertantang oleh situasi dan kondisi masa kini
yang menghendaki keprak san. Sudah barang tentu pula, nilai- nilai uang utuh dan hakiki
kesenian tersebut boleh dikatakan sudah memudar pada pertunjukan waktu itu. Oleh karena
secara tradisi untuk tari Panji saja dibutuhkan waktu rela f lama yang kemungkinan melebihi
seperempat atau separuh dari waktu yang sudah dijatahkan oleh penyelenggara yaitu selama
dua jam. Beberapa seniman/ kri kus tari seper Sardono dan Sal Murgiyanto dari Akademi Tari
Lembaga Pusat Kesenian Jakarta (LPKJ) memberi ulasan dari hasil penyajian itu sebagai berikut.

Pada topeng babakan ini kita lihat satu contoh terbaik dari jenis tari yang meng g unakan topeng.
Topeng merupakan ½ elemen pokok dan pola-pola gerak dan bagian tubuh merupakan unsur
yang menguatkan kekuatan ekspresi dari topeng. Suji membuk kan dirinya sebagai penari yang
mampu mengungkapkan nilai yang ada pada tari gaya Cirebon yang belum ada tandingan
…..(Sardono W. Kusumo, “Topeng Cirebon Teater Tari Yang Merupakan Bau Tanah” dalam
Kompas, 26 Juni 1977).

Banyak yang dipelajari dari Topeng Cirebon ini. Sebagai tontonan ia memang berbobot
oleh karenanya perlu mendapat perha an. Pemeo yang menyatakan seolah- olah tarian istana
selalu lebih unggul dari rakyat , dak selamanya berlaku ( Sal Murgiyanto, 1993:93-96). Topeng
Babakan di Losari telah 20 tahun dak ak f semenjak Sumitra meninggal dunia tahun 1961.
Putra- putrinya yang berjumlah 11 orang di nggalkan dengan kemampuan nopeng (menari
topeng), akan tetapi dalam waktu yang lama tersebar dan berkelana untuk memenuhi
kebutuhan hidup. Setelah sekian tahun tenggelam pada tahun 1978 rombongan topeng Losari
mendapat undangan pentas sebagai kaul atau nazar pada acara khitanan di Ja piring Brebes (
Juju Masunah, 1996/1997: 115). Pementasan di Ja piring merupakan awal kebangkitan Topeng
Losari. Pementasan berikutnya adalah tahun 1979 di Sanggar Pringgading, Plumbon, kabupaten
Cirebon. Maka mulai tahun 1980 sampai 1993, para seniman, peneli , wartawan dari luar
Cirebon datang ke Losari dengan berbagai tujuan masing- masing (Ibid: 116)

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 21

Pada tahun 1982 topeng Losari mengadakan pagelaran di Taman Ismail Marzuki. Anak-
anak Sumitra yang telah berumur lebih dari setengah abad berkumpul kembali, yang dalam
kerentaannya masih mencengangkan penonton Jakarta. Di dalam tubuh-tubuh usia senja ini,
tersimpan kemampuan ar s k yang sulit dicari taranya. Konsep este k topeng Noh ( Jepang)
yang terkenal itu agaknya berlaku pula bagi tontonan rakyat kita ini. Jika seorang penari muda
mengandalkan daya pikatnya pada hana (bunga) yaitu ketrampilan dan kebagusan lahiriyah,
maka seorang penari tua telah terserap ketrampilan tersebut sebagai milik, lebih mengandalkan
yugen yakni kematangan ba n atau penghayatan. Topeng Losari kini bangkit kembali (Sal
Murgiyanto, 1993:124-126). Pada tanggal 8 Februari 1982 Topeng Losari diundang oleh ASKI
Surakarta untuk mengadakan pergelaran.

Walaupun telah melakukan pertunjukan dimana-mana kehidupan seniman rakyat ini
masih dak beranjak. Jika dak ada tanggapan, mereka kebanyakan mereka bekerja sebagai
buruh tani, kuli bangunan, jualan di warung, bahkan ada pula yang mengandalkan hidupnya dari
mengumpulkan puntung rokok. Kesenian topeng Losari barangkali bisa menjadi contoh soal dari
seni tradisi rakyat yang memiliki lingkup budaya kompleks. Kesenian tradisional rakyat ini berakar
pada aspek- aspek tradisional yang sering tak terjelaskan oleh kerangka kebudayaan sekarang,
tetapi sementara itu menghadapi hari depan yang suram. Kesenian ini dalam perkembangannya,
memang merupakan kesenian milik rakyat, dalam ar interaksi budaya dan toleransi masyarakat
sekitar terhadap kesenian ini berlangsung secara intensif.

Topeng Losari merupakan teater tradisi rakyat yang bersifat total, lebih dari sekedar seni
pertunjukan. Kesenian ini merupakan suatu ungkapan penuh penghayatan dari olah tubuh
sekaligus olah rohani lengkap dengan upacara- upacara. Hal itu misalnya tampak pada saat
membaca mantra sebelum menari. La han- la han fisik yang keras dengan penuh disiplin serta
olah spiritual yang lain (puasa 35 hari, mandi air Bunga) atau lewat laku mengembara sebagai
jelata hingga berbulan- bulan. Tradisi yang bersifat spiritual agaknya tak terwariskan terhadap
generasi sekarang (Ardus M.Sawega, “Tari Topeng Losari Lebih dari Sekedar Seni Pertunjukan”
dalam Kompas, 4 Februari 1983).

22 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

PENUTUP

Topeng Babakan Cirebon berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat
pendukung nya yang agraris. Pada masyarakat golongan ini, ritual yang berkaitan dengan
siklus pananaman padi ataupun pertanian ladang menjadi suatu bagian pen ng yang harus
dilaksanakan. Hal ini sangat erat berkaitan dengan sistem kepercayaan masyarakat akan
kekuatan tertentu di luar kemampuan dirinya yang bisa membantu dalam kehidupannya
sehari-hari. Apabila kita melihat pada masa yang lebih jauh, penyembahan terhadap nenek
moyang telah menjadi suatu bagian sistem kepercayaan yang dak dapat kita lupakan dari
perjalanan suku- suku bangsa yang ada di Indonesia ini. Bahkan sisa- sisa dari fenomena
kebudayaan tersebut masih kita jumpai sampai sekarang.

Uraian dari bab-bab terdahulu telah memberi gambaran betapa Topeng Babakan Cirebon
sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan tari yang hidup dan berkembang di daerah itu,
dalam perjalanannya turut mewarnai kehidupan tari di Jawa Barat. Keindahan serta
kehalusan penampilan tari yang dibawakan oleh para penarinya menjadi suatu wacana yang
cukup luas di kalangan dunia tari saat itu sampai sekarang. Kepiawaian seorang dalang
topeng dalam mempertunjukkan ketrampilam menarinya telah mempesona para
penggemar tari dari wilayah lain di luar Cirebon, terutama para menak (bangsawan) Sunda
yang pada awal abad XX sangat menggandrungi seni tari sebagai salah satu sarana hiburan
bagi kalangan tersebut. Penyebaran pengetahuan serta ketrampilan menari dari para dalang
topeng berlangsung secara intensif melalui undangan para menak yang ingin belajar menari
kepadanya. Sebagaimana diketahui naik turunnya perekonomian sebagai akibat dari
perubahan pemerintahan mulai dari Hindia Belanda, Jepang, zaman kemerdekaan yang
diwarnai dengan gejolak poli k, sangat mempengaruhi pada kondisi ekonomi rakyat. Hali ini
berpengaruh juga pada keadaan ekonomi pendukung kesenian sebagai salah satu bagian
dari kelompok masyarakat. Para dalang topeng di masa-masa sulit mengadakan perjalanan
dari suatu daerah ke daerah lainnya untuk mendapatkan uang sebagai penyambung
hidupnya. Ia beserta kelompoknya memainkan beberapa nomor pertunjukan tari topeng
yang terbagi dalam beberapa babak sebagai satu tarian tersendiri, ataupun
mempertunjukan kebolehannya secara utuh apabila yang berminat untuk menyaksikannya.
Pertunjukan bebarang (ngamen) secara berkeliling itulah yang menjadi pemicu
menyebarnya topeng di Jawa Barat sekaligus mempengaruhi bentuk- bentuk tari yang telah
ada dan menjadi milik suatu kelompok masyarakat di luar Cirebon.
Perkembangan yang terjadi pada bentuk kesenian ini adalah dengan berubahnya fungsi
dari penyajian kesenian tersebut. Pada awalnya ia disajikan pada upacara-upacara ritual baik
individu ataupun hajatnya suatu kelompok masyarakat, kemudian karena kebutuhan

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 23

ekonomi ia berkembang menjadi suatu bentuk sajian yang murni bersifat pertunjukan
semata. Melalui pertunjukan bebarang yang dikunjungi hampir seluruh wilayah Priangan
dan Jawa Barat secara umum, kesenian ini memberikan pengaruh pada b eb erapa bentuk
tari yang telah ada. Bahkan Priangan yang semula dak memiliki tarian topeng kemudian
melahirkan tari topeng Sunda yang diberi nama dengan Tari Topeng Priangan. Beberapa ahli
tari Sunda bahkan menciptakan beberapa bentuk tari topeng yang berbeda menurut
seleranya masing- masing. R.Tjetje Somantri menciptakan Topeng Koncaran dan Menak
Jingga, serta beberapa tarian lain yang mengambil dasar gerak Topeng Cirebon. R.Nugraha
Sudiredja menciptakan tari Topeng Tumenggung, Kencana Wungu, dan Topeng Tiga Karakter
yang merupakan kombinasi dari Kencana Wungu, Pa h dan Klana. R.Ono Lesmana
Kartadikusumah menciptakan tari Topeng Klana dengan versinya sendiri. R.I Maman
Surjaatmadja menciptakan tari Topeng Klana berdasarkan gerak tari topeng yang
dipelajarinya dari Amih (anak Wentar), dan lain-lainnya. Hal ini menggambarkan bahwa tari
Topeng Cirebon telah mengalami diversifikasi (pengembangan) bentuk aslinya menjadi
beberapa bentuk turunannya dalam versi Sunda. Bentuk-bentuk tari topeng Sunda begitu
dikalangan orang Sunda bahkan masih digemari di kalangan tari di Jawa Barat sampai
sekarang.

Pasang surut kegiatan kesenian sangat erat dengan masyarakat pendukungnya. Sedangkan

kondisi masyarakat bergantung pula pada permasalahan-permasalahan yang terjadi di

lingkungan pemerintahan sebagai penyelenggara negara. Hal ini memberi gambaran bahwa

soal-soal kebudayaan adalah soal yang kompleks yang saling berkaitan satu sama lainnya.

Faktor kebijakan para pemimpin dari pusat sampai ke daerah sangat berpengaruh pada

tahap pelaksana di lapangan. Tentunya hal ini akan berpengaruh pada pasang surutnya

kegiatan kesenian di daerah yang pembinanya pada beberapa masa dilimpahkan kepada

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui tangan penilik kebudayaan. Faktor

kepen ngan dan kewenangan secara individu dari para penilik kebudayaan di daerah juga

mempengaruhi perkembangan kesenian tradisional di daerah itu sendiri. Akan tetapi kita

dak dapat memfonis begitu saja kepada para penilik kebudayaan yang secara birokra s

mereka hanya ditunjuk untuk melakukan tugasnya, sedangkan pengetahuan serta

kemampuannya dalam bidang kebudayaan sangat terbatas.

Faktor lain yang ikut mempengaruhi berkurangnya pertunjukan topeng di masyarakat
adalah dengan begitu gencarnya pengaruh globalisasi informasi yang sudah dak dapat
ditawar-tawar lagi. Kecanggihan alat komunikasi dan sistem informasi telah merambah ke
seluruh tatanan kehidupan masyarakat, sampai ke pelosok-pelosok terpencil. Hal ini
menyebabkan perubahan tatanan kehidupan yang ada di masyarakat. Tentunya hal ini

24 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

berpengaruh pula pada animo masyarakat terhadap kesenian tradisi yang sebelumnya
menjadi bagian yang sangat erat dengan kehidupan berkeseniannya. Kehidupan ritual
yang berkaitan dengan sistem pertanian mulai berubah dengan kemajuan teknologi
pertanian yang pesat. Bentuk-bentuk upacara ritual yang berakar pada sistem kepercayaan
lama mulai di nggalkan. Masyarakat lebih memilih bentuk kesenian lain yang menghibur
secara langsung dapat melepaskan mereka dari kepenatan kehidupan keseharian. Unsur-
unsur filosofi serta tatanan nilai-nilai kehidupan dari sebuah pertunjukan sudah dak
menarik lagi untuk dibicarakan. Kajian terhadap Topeng Babakan dapat dipahami sebagai
fenomena sejarah tentang maju mundurnya sebuah bentuk kesenian tradisional yang hidup
dan berkembang di masyarakat, khususnya bagi masyarakat di daerah Cirebon, dan Jawa
Barat secara umum.

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 25

DAFTAR PUSTAKA

Anis Sujana. (1993). "Tayuban Di Kalangan Bupati Dan Priyayi Di Priangan Pada Abad Ke-19
Dan Ke-20", Tesis, Program Studi Sejarah. Yogyakarta: Fakultas Pasca Sarjana Universitas
Gadjah Mada.

Drooglever P.J. dan M.J.B. Schouten. (1992). Officiele Bescheiden Betreffende De Nederlands-
Indonesische Betrekkingen 1945- 1950, Vol.CXXI, Nederland: 'sGravenhage.

Endo Suwanda. (1990). “Seniman Cirebon Dalam Konteks Sosialnya” dalam Seni Pertunjukan
Indonesia, Tahun I No,1., Surakarta: Yayasan Masyarakat Musikologi Indonesia.

Juju Masunah. (1996/1997). “Sawitri Seniman TopengCirebon di Tengah Peruba ha n Sosial
Budaya”, Tesis S2, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Kuntowijoyo. (1994). Metodologi Sejarah, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.
Maman Surjaatmadja. (1980). “Topeng Cirebon Dalam Perkemb angan S erta Peranannya D a

lam Masyarak at Jawa Barat Khususnya Di Daerah Cirebon”, Bandung: Laporan
Penelitian, ASTI Bandung.
Maman Surjaatmadjadan Atja. (1970). “Dramatari Ramayana Nasional Gaya Sunda”,
Yogyakarta: Seminar Dramatari Ramayana Nasional.
Martakusumah,Tb.O. (1972). “Pandangan Tentang Tari Sunda Pada Dewasa Ini”, 4 Mei.
Pegeaud, Th. (1938). Javaanse Volksvertoningen, Batavia: Volkslectuur.
Risyani, et. Al. (1984/1985). “Pertunjukan Topeng Cirebon S uatuStudi Tentang Tata Cara
Penyajian Topeng Hajatan”, Bandung; Proyek Pengembangan ASTI Bandung.
Sal Murgianto. (1993). “Tontonan Cirebon”, dalam Ketika Cahaya Memudar Sebuah Kritik
Tari, Jakarta: Deviri Ganan.
Serrurier. (1896.). De Wajang Poerwa, Leiden: Boekhanden En Drukkerij.
Soedarsono, RM. (1972). Jawa dan Bali Dua Pusat Perkembangan Drama Tari Tradisional Di
Indonesia, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soedarsono, RM. (1998). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi, Jakarta: Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998.
Kompas, Jakarta, 26 Juni 1977
Pikiran Rakyat, Bandung, 18 Maret 1972. Pikiran Rakyat,Bandung, 5 November 1974.

NARASUMBER

R. Effendi Kartadikusumah, 60 tahun, Sumedang, Seniman Tari.
Sawitri, 75 tahun, Losari, dalang Topeng Losari.
Soleh, 75 tahun, Bongas, Bodor pada grup Dasih/ Nesih

26 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

RAGAM
BUDAYA TOPENG
JAWA TIMUR

Oleh : Reno Halsamer

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

Reno Halsamer

( Master Topeng )

ABSTRAK

Jawa Timur memiliki beragam karakter topeng unik yang tersebar di seluruh wilayah.
Bermacam-macam seni topeng seper Topeng Malangan, Topeng Dalang Madura, Tari Dongkrek
Madiun, Tari Topeng Barongan Kediri, Tari Topeng Panji Tengger, Tari Topeng Kerte Situbondo,
Bantengan dari Kota Batu, Kebo-keboan dari Banyuwangi, kemudian kesenian yang paling
terkenal yaitu Reog Ponorogo. Dalam ar kel ini akan dibahas tokoh-tokoh yang membentuk
sebuah kesenian utuh bernama Reog Ponorogo diantaranya ada Singa Barong, Topeng Bujang
Ganong, Kuda Lumping/Jathilan, serta Warok. Kesenian berbasis Topeng di Jawa Timur. Se ap
daerah memiliki karakter topeng yang unik. Seni Topeng Ponorogo dengan penari Reog
menggunakan Topeng Barongan yang beratnya bisa 50Kg di kepala dengan mengandalkan
kekuatan gigi, menggambarkan sosok Harimau yang pemberani. Berbeda dengan Malang yang
terinspirasi kisah Panji. Sementara seni topeng Sumenep dikenal dengan Topeng Dhalang,
mengangkat kisah Mahabharata. Adapun cara menampilkannya seni topeng ap daerah
berbeda-beda. Kediri memiliki seni topeng Panji yang mungkin saat ini sudah jarang dijumpai.
Dongkrek Madiun cenderung ditampilkan untuk upacara tolak bala. Seni topeng Panji Tengger
masih dapat dijumpai di Probolinggo dan Lumajang. Madura terdapat seni topeng Dhalang. Dan
kemudian Topeng Dhalang berkembang menjadi Topeng Kerte di Situbondo dan Bondowoso. Di
Tuban, jenis kesenian topeng yang berkembang bernama thak-thakan, berupa pertunjukan
arak - arakan.

28 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

TOPENG MALANGAN

Topeng Malangan atau Wayang Topeng merupakan sebuah Tradisi dan Budaya asli
Malang. Sejarah Topeng malangan berkaitan erat dengan Kerajaan Kanjuruhan.
Budaya ini merupakan hasil asimilasi antara Budaya India dan Jawa-Kanjuruhan,
karena pada masa tersebut banyak pedagang dari India yang berdagang di
Kanjuruhan. Cerita yang sering dikisahkan dalam Wayang Topeng Malangan
biasanya adalah cerita pewayangan India, seper Ramayana dan Mahabarata.

Topeng Malangan memiliki ciri-ciri khas pada pemaknaan bentuk hidung, mata,
bibir, warna topeng dan ukirannya. Topeng malangan memiliki 5 warna khas yang
memiliki sifat masing-masing. Ada lebih kurang dari 76 Karakter tokoh yang terdapat
dalam seni yang berkembang sejak zaman Hindu-Buddha ini. Hingga akhirnya hanya
ada enam karakter yang paling menonjol dalam wayang topeng tersebut.

Pu h memiliki sifat jujur, suci dan berbudi luhur, serta tulus. Kuning
menggambarkan kemuliaan. Hijau menggambarkan watak yang suka damai. Merah
menggambarkan angkara murka, licik, dan keberanian. Hitam menggambarkan
kebijaksanaan, ukiran dan ragam kias pada topeng malangan, berupa urna di bagian
kuning berupa mela , kan l.

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 29

TOPENG DALANG MADURA

Di Madura sejak lama dikenal “Topeng Dhalang” (Topeng Dheleng). Diperkirakan pertunjukan ini
sudah dikenal sejak abad XV – XVI. Pertunjukan Topeng memainkan karakter tokoh tertentu, baik
yang halus, kasar, gagah, lembut, licik, buas, lucu, dan sebagainya. Tradisi Topeng Dalang Madura,
jadi bagian pen ng bagi kesenian masyarakat Madura, khususnya di Sumenep, Dalam hajatan,
rokatan. Topeng Dalang Madura awalnya dari Jawa, kemudian datang ke wilayah Proppo, yakni
wilayah Kabupaten Pamekasan yang berbatasan dengan Kabupaten Sumenep. Dalam
pergelarannya, Topeng Dalang berbentuk drama atau tonil dengan mengambil cerita
Mahabarata dan Ramayana. Topeng Dalang Madura memiliki kesamaan dengan Topeng
Malangan, karena kedua wilayah ini sama-sama pernah menjadi bagian dari Kerajaan Singasari.

Ada dugaan bahwa Kakawin Ramayana menjadi sumber lakon awal, sebab Kakawin Ramayana
digubah pada Zaman pemerintahan Raja Balitung, Tahun 820- 832 Caka (898-910 Masehi). Setelah
pusat Kerajaan berpindah ke Jawa Timur, muncul sumber baru seper Mahabarata (Adiparwa dan
seterusnya) yang digubah pada Zaman pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh (913-938 Caka
atau 991-1016 Masehi). Kemudian disusul oleh Sastra Panji yang diperkirakan lahir pada Zaman
Kertanegara dari Singasari (1190-1214 Caka atau 1268-1292 Masehi). Adapun penggambaran
karakter, nampak pada bentuk muka dan warna pu h berjiwa bersih dan satria. Merah tenang dan
penuh kasih sayang. Hitam arif bijaksana dan bersih dari nafsu duniawi. Kuning mas anggun dan
berwibawa. Kuning pemarah, licik dan sombong. Ciri khas yang paling unik dari tari topeng Dalang
Madura dipakainya gungseng di pergelangan kaki sang penari.

30 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

REOG PONOROGO

Reog karya Kustopo, awal mulanya reog Ponorogo merupakan cerita tentang Raja dari Kerajaan
Bantarangin yang sekarang dikenal sebagai kota Ponorogo. Raja tersebut bernama Kelana
Suwandana. Ia berniat melamar putri Kerajaan Kediri yang bernama Dewi Ragil Kuning yang
dijuluki Putri Sanggalangit. Namun saat di perjalanan ia dicegat oleh Raja Kediri yang bernama
Singabarong, dengan pasukan bala tentaranya yang terdiri dari burung dan singa.

Sedangkan kala itu, pasukan Kerajaan Ponorogo, Raja Kelana dan Wakilnya Bujanganom dikawal
oleh warok. Warok merupakan pengawal Raja yang memiliki kekuatan ilmu hitam yang mampu
mema kan lawan-lawan nya.

Kemudian terjadilah perang tanding antara kedua Kerajaan. Kedua kubu memiliki kekuatan yang
besar, sehingga pertarungan terjadi beberapa hari dan dak ada yang menang. Mereka pun
akhirnya berdamai karena kekuatannya habis. Akhirnya Raja Kediri menerima lamaran Raja
Bantarangin yang melamar putrinya. Pada saat kedua mempelai menikah, pasukan merak dan
singa serta warok mengadakan atraksi sebagai sebuah tontonan.

Selanjutnya perang-perangan antara merak dan singa melawan warok dijadikan sebuah
pertunjukan tarian bernama Reog. Tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan
Kerajaan Bantarangin yang bernama Ponorogo.

TOKOH - TOKOH REOG PONOROGO

1. Singa Barong
Singa Barong berupa kepala harimau, topeng Singa Barong, dan tancapan bulu-bulu

merak. Kostum ini terbuat dari kerangka kayu, bambu, dan rotan. Dengan ukuran 2,25 x 2,30
meter, dengan berat + 50 Kg.
2. Topeng Bujang Ganong

Bujang Ganong digambarkan sebagai tokoh energik, kocak, dan memiliki seni bela diri.
Topeng Bujang Ganong memiliki mata bulat melotot, gigi tonggos, rambut gimbal, dan hidung
besar. Topeng ini digunakan untuk penari Bujang Ganong.
3. Kuda Lumping / Jathilan

Jathilan adalah penari perempuan yang merupakan prajurit berkuda menggambarkan
ketangkasan prajurit menggunakan kuda untuk berla h. Kuda terbuat dari anyaman bambu
disebut eblek atau kuda lumping. Digambarkan sebagai kuda warna pu h yang memiliki
kedua mata warna merah.
4. Warok

Warok adalah peraga dari kesenian Reog Ponorogo warok digambarkan sebagai tokoh
yang dapat memberi segala sesuatu yang diajarkan atau pengajaran pada orang lain tentang
hidup.

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected] 31

TARI DONGKREK MADIUN

Dongkrek adalah kesenian daerah asli dari Desa Mejayan, Kecamatan Mejayan,
Kawedanan Caruban, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Tarian dan iringan musik yang mengisahkan
upaya Raden Ngabei Lo Prawirodipuro dalam mengatasi pageblug mayangkoro, dimana saat itu
masyarakat Mejayan terkena wabah penyakit dikisahkan pagi harinya sakit sore harinya
meninggal, begitu pun saat sore sakit maka paginya meninggal.

TARI TOPENG BARONGAN KEDIRI

Topeng Barongan Singo Barong, Penari di bagian ini menggunakan Kruduk Ponoragan atau
Kruduk Barongan, Rompi setengah, Embong Ponoragan, Celana pembarong Sembryong
Ponoragan atau Celana Serembyong kreasi baru bentuk celana barong sai.

TARI TOPENG PANJI TENGGER

Tari Topeng Tengger khas Lumajang, Jawa Timur, Tari Topeng yang disertai dengan dialog
seorang dalang yang mengisahkan asal mula dilakukannya ritual Kasada Suku Tengger. Upacara
Kasada berasal dari Jawa Timur. Upacara ini merupakan salah satu upacara adat dari Suku Tengger
yang masih lestari sampai sekarang

TARI TOPENG KERTE SITUBONDO

Topeng Kerte yang lahir pada tahun 1950-an didirikan oleh Kertesuwignyo. Topeng Kerte
sangat dikenal dan dimina masyarakat Situbondo. Kertesuwignyo mengembangkan kesenian
Topeng Kerte secara turun temurun. Saat ini seniman-seniman Topeng Kerte masih ak f di
Situbondo.

BANTENGAN KOTA BATU

Bantengan merupakan tradisi pertunjukkan seni budaya yang menggabungkan unsur
sendratari, olah kanuragan, musik, dan syair/mantra yang dibarengi dengan unsur mis s yang
kental.

KEBO - KEBOAN BANYUWANGI

Kebo-keboan merupakan Upacara Adat Suku Osing Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam
upacara ini ditampilkan kebo-keboan atau manusia yang dirias layaknya kerbau. Upacara Kebo-
keboan merupakan wujud rasa syukur masyarakat Suku Osing terhadap hasil panen yang mereka
terima. Ritual ini juga berfungsi sebagai upacara bersih desa agar masyarakat terhindar dari
bahaya.

32 indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

KONFERENSI

NIMAOSIO2N0A2L2

indonesiamask.org 087764062978 (Dewi Maharani) [email protected]

KONFERENSI NASIONAL

IMO 2022

indonesiamask.org
[email protected]
087764062978 (Dewi Maharani)


Click to View FlipBook Version