The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by noviani.luludeer77, 2021-11-22 10:07:56

Noviyani Utami_Cerita Rakyat

Noviyani Utami_Cerita Rakyat

Fe;mfemffmfmfmfm;fmk;fmka
Cerita rakyat adalah cerita yang berkembang

di setiap daerah dan menceritakan asal usul atau
=

legenda yang terjadi di suatu daerah. Adapun ciri-ciri
cerita rakyat adalah sebagai berikut:

1. Disampaikan secara turun-temurun.
2. Berisi nilai-nilai luhur.
3. Bersifat tradisional atau kedaerahan

1

Fe;mfemffmfmfmfm;fmk;fmka

Cerita rakyat yang kita baca, ternyata memiliki unsur-
= unsur sebagai berikut:

1. Tema
Tema merupakan gagasan utama yang menjadi dasar

sebuah cerita, persoalan, peristiwa-peristiwa yang
dibawakan pada suatu cerita rakyat.
2. Tokoh

Tokoh adalah pelaku-pelaku yang terlibat dalam cerita
rakyat.
3. Watak

Watak adalah sifat yang dimiliki oleh masing-masing
pelaku yang terlibat dalam cerita rakyat.
4. Latar

Latar adalah tempat, waktu, dan keadaan yang terjadi
dalam cerita rakyat.

2

1

5. Alur 6

Alur adalah urutan atau1rangkaian peristiwa yang ada

dalam cerita rakyat.

6. Sudut Pandang (Point of View)

Fe;mfemffmfmSfmufmdu;fmt k;pfmaknadang adalah kedudukan pengarang dalam

cerita rakyat. Ada yang menggunakan sudut pandang

orang pertama (aku atau saya); orang kedua (kamu atau

kau); dan orang ketiga (ia, dia atau nama orang).
= 7. Amanat

Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan

oleh penulis kepada para pembaca

3

Ayo Membaca

Salah satu sungai di Yogyakarta yang memiliki cerita adalah
Sungai Gajah Wong. Penduduk Yogyakarta sendiri sering
menyebut sungai dengan kali. Kali Gajah Wong adalah sebuah kali
yang terletak di tengah-tenga3h kota di Kecamatan Kotagede,
Yogyakarta. Panjang kali ini tida1k lebih dari 20 kilometer.

Kali Gajah Wong

Fe;mfemffmfmfmfm;fmk;fmka

=

Pada abad ke-17, kali ini merupakan kali yang kecil.
Masyarakat di daerah tersebut menyebutnya dengan kalen, yang
artinya kali kecil dan kebetulan airnya pun hanya gemercik
mengalir sedikit sekali. Hari itu, Ki Wira bersiul riang. Seperti
biasa, ia akan memandikan gajah milik junjungannya, Sultan Agung,
raja Kerajaan Mataram. Dengan hati-hati, Ki Wira menuntun gajah
yang dinamai Kyai Dwipangga itu. Mereka berjalan ke sungai yang
terletak di dekat Keraton Mataram. Mulailah ia memandikan gajah
yang berasal dari negeri Siam itu.

4

Nah, sekarang kau sudah bersih. Sekarang, ayo kembali ke
kandangmu,” kata Ki Wira kepada Kyai Dwipangga. Suatu hari, Ki
Wira tak bisa memandikan Kyai Dwipangga karena ada cacar air
pada kulitnya. Ia pun meminta tolong pada Ki Kerti, untuk
menggantikan memandikan Kyai Dwipangga. “Kerti, tolong aku ya.
Aku benar-benar tak bisa bekerja hari ini,” kata Wira.

“Tenang Kang, aku pasti membantumu. Tapi tolong beritahu,
bagaimana caranya supaya gajah itu menurut padaku? Aku takut
jika nanti ia marah dan menyerangku,” jawab Ki Kerti.

“Biasanya kalau ia mulai gelisah, aku tepuk-tepuk tubuhnya,
lalu aku tarik ekornya. Nanti ia akan kembali tenang dan
berendam sendiri di sungai. Kau tinggal memandikannya,” jelas Ki
Wira. Ki Kerti mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia lalu
berangkat ke sungai untuk memandikan Kyai Dwipangga.

Sepanjang perjalanan Ki Kerti mengajak Kyai Dwipangga
mengobrol. Ia juga membawa buah-buahan sebagai bekal dalam
perjalanan. “Gajah gendut, kau mau makan kelapa?” tanyanya
sambil melemparkan sebutir kelapa pada Kyai Dwipangga. Kyai
Dwipangga menangkap kelapa itu dengan belalainya. Dengan
mudah ia memecah kelapa itu dan memakannya.

“Sekarang kau sudah kenyang, kan? Ayo jalan lagi,” kata Ki
Kerti sambil memukul pantat Kyai Dwipangga. Sesampainya di
sungai, Ki Kerti melaksanakan tugasnya dengan mudah.
Digosoknya seluruh bagian tubuh Kyai Dwipangga sampai bersih
dan berkilap. Setelah itu mereka pulang ke keraton Mataram.
“Kang, hari ini aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik. Apa
besok Kakang masih memerlukan bantuanku?” tanya Ki Kerti pada
Ki Wira.

5

“Jika kau tak keberatan, maukah kau memandikannya
sekali lagi? Aku masih sakit, sedangkan gajah itu harus
dimandikan setiap hari,” jawab Ki Wira.

“Baik Kang, aku tidak keberatan. Toh gajah itu sangat
penurut. Jadi, aku tak kesulitan saat memandikannya,” kata Ki
Kerti.

“Terima kasih Kerti, lusa aku pasti sudah sembuh. Kau
akan bebas dari tugas ini,” kata Ki Sapa Wira.

Keesokan harinya, Ki Kerti menjemput Kyai Dwipangga.
Pagi itu hujan turun rintik-rintik, tapi sepertinya tak akan
bertambah deras. Di sungai Ki Kerti Pejok bimbang karena
dilihatnya air sungai sedang surut.

“Wah, airnya dangkal sekali. Mana bisa gajah ini
berendam? Aku sendiri saja tak bisa, apalagi gajah yang
besar?” pikirnya dalam hati.

“Gajah gendut, kita cari sungai yang lain saja”. Ki Kerti
menuntun Kyai Dwipangga ke hilir sungai. Di situ air tampak
tinggi dan aliran juga cukup deras. “Nah, di sini sepertinya lebih
asyik. Ayo, sana masuk, berendamlah.” kata Ki Kerti sambil
memukul badan Kyai Dwipangga. Sambil memandikan Kyai
Dwipangga, Ki Kerti berpikir dalam hati.

“Sebaiknya aku beritahu Kakang untuk memandikan
gajahnya di sini. Disini airnya lebih dalam, arusnya juga cukup
deras. Aneh, kok selama ini Kanjeng Sultan Agung tak tahu
keberadaan sungai ini, ya?” Saat ia sibuk berbicara sendiri,
tiba-tiba dari arah hulu datanglah banjir bandang yang sangat
besar. Ki Kerti dan Kyai Dwipangga bahkan tak menyadarinya.

6

Dalam sekejap, mereka terhempas dan terbawa arus.
“Tolong... tolonggg...,” teriak Ki Kerti. Sungguh menyedihkan
nasib Ki Kerti dan Kyai Dwipangga. Mereka terseret arus dan
hanyut sampai ke Laut Selatan.

Sungguh sangat disayangkan, mereka binasa dalam
keganasan banjir bandang itu. Ki Kerti tak tahu bahwa selama ini
Sultan Agung memang melarang para abdinya memandikan gajah
di hilir sungai. Karena ia tahu bahaya bisa datang sewaktu-waktu
di sana. Ki Wira berduka. Ia sangat sedih karena kehilangan adik
ipar dan gajah kesayangannya.

451

7

Ayo Menulis

Mengidentifikasi Unsur yang Terdapat dalam
Cerita Rakyat “Kali Gajah Wong”

Tokoh beserta Watak:
………………………………………………………………………
………………………………………………………………………
………………………………………………………………………

Latar:
………………………………………………………………………
………………………………………………………………………
………………………………………………………………………

Alur:
=

………………………………………………………………………
………………………………………………………………………
………………………………………………………………………

Amanat:
………………………………………………………………………
………………………………………………………………………
………………………………………………………………………

8

Ayo Bercerita

Coba kalian ceritakan kembali di depan kelas cerita rakyat “Kali
Gajah Wong” yang telah kalian baca secara singkat dan jelas.

451

Scan Me

Scan Barcode di atas untuk menyimak
cerita rakyat lainnya yang berasal dari
Yogyakarta.

9


Click to View FlipBook Version