The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ghania Asra kamila, 2023-02-02 19:56:22

tugas sejarah-1-1 (1)_compressed (1)

tugas sejarah-1-1 (1)_compressed (1)

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga tugas sejarah mengenai Kerajaan Tarumanegara ini dapat diselesaikan dengan baik. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama kami mengerjakan tugas ini. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam tugas ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini. Akhir kata, semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya. Semarang, Januari 2023 Kelompok Tarumanegara


A. SEJARAH KERAJAAN TARUMANEGARA (Ghania Asra Kamila/10) Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan Hindu tertua setelah Kerajaan Kutai. Kerajaan ini berdiri pada abad ke-4 dan runtuh pada abad ke-7 M. Kerajaan ini diperkirakan berkembang antara tahun 400- 600 M. Kerajaan Tarumanegara terletak di Jawa Barat tepatnya di dekat Sungai Citarum. Raja Jayasingawarman adalah pendiri Kerajaan Tarumanegara pada periode 358 – 382 M. Raja Jayasingawarman adalah seorang maharesi atau pendeta yang berasal dari India, tepatnya dari daerah Salankayana. Raja Jayasingawarman mengungsi ke nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Kerajaan Magadha. Saat tiba di Jawa Barat, Raja Jayasingawarman meminta izin kepada Raja Dewawarman VIII, Raja Kerajaan Salakanagara yang berkuasa masa itu, untuk membuka pemukiman baru. Setelah mendapatkan persetujuan, Raja Jayasingawarman pun membangun Kerajaan Tarumanegara. Nama tersebut berasal dari dua kata, yaitu “Taruma” dan “Nagara”. “Nagara” memiliki arti kerajaan atau negara, sementara “Taruma” atau “Nila” diambil dari nama sungai Citarum yang membelah Jawa Barat. Disesuaikan dengan letak kerajaan Tarumanegara berada di tepi sungai Citarum. Agama yang dianut rakyat Tarumanegara adalah Hindu. Kerajaan Tarumanegara banyak meninggalkan Prasasti, menurut catatan Kerajaan Tolomo mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 528 M, 538 M, 665 M, 666M. Masa kejayaan Tarumanegara berada pada tahun 395-434, saat diperintah oleh Purnawarman. Ia membangun ibukota kerajaan baru pada tahun 397. Ibukota ini letaknya lebih dekat ke pantai dan terkenal dengan nama Sundapura. Di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 kerajaan daerah di bawah Tarumanegara. Wilayahnya terletak mulai dari sekitar Pandeglang (Rajatapura) hingga Purwalingga (diduga inilah asal usul nama kota Purbalingga) di Jawa Tengah. Secara umum wilayah kekuasaan meliputi hampir seluruh Jawa Barat; dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.


B. BUKTI KEBERADAN KERAJAAN TARUMANEGARA (Kaifa Ayu Nesyanan/15). Sebagai kerajaan tertua, Kerajaan Tarumanegara juga meninggalkan beberapa artefak dan prasasti yang masih bisa ditemui dan dilihat di sekitar lokasi kerajaan. Tarumanegara meninggalkan 7 (tujuh) prasasti: 1. Prasasti Ciaruteun Prasasti Ciaruteun atau Prasasti Ciampea ditemukan di tepi sungai Ciaruteun, tidak jauh muara sungai Cisadane Bogor prasasti tersebut menggunakan Aksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta yang berbunyi: vikkranta syavani pateh srimatah purnnavarmmanah tarumanagarendrasya visnoriva padadvayam Artinya: “Inilah sepasang (telapak) kaki, yang seperti (telapak kaki) Dewa Wisnu, ialah telapak kaki Yang Mulia Purnawarman, raja di Negara Taruma, raja yang gagah berani di dunia” Di samping itu terdapat lukisan semacam laba-laba serta berpasangan telapak kaki Raja Purnawarman. Gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun ada 2 guna yaitu: a. Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas kawasan tersebut (tempat ditemukannya prasasti tersebut). b. Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan dan eksistensi seseorang (biasanya penguasa) sekaligus penghormatan sebagai dewa. Hal ini berfaedah menegaskan letak Purnawarman yang diibaratkan Dewa Wisnu karenanya diasumsikan sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.


2. Prasasti Pasir Koleangkak Prasasti Koleangkak atau Prasasti Jambu terletak di atas Gunung Batutulis (Pasir Koleangkak). Lokasi ditemukannya prasasti ini di wilayah perkebunan karet “Sadeng Djamboe”. Prasasti ini ditulis dalam dua baris tulisan Pallawa dan berbahasa Sanskerta yang bertulis: criman data krtajnyo narapatir asamo yah purl tarumayan namma cri purnnavarmma pracuraripucarabedyavikhyata-varmmo tasyedam padavimbad'iyamarinagarotsadanenityadaksham bhaktanam yandripanam bhavati sukhakaram calyabhutam ripunam Artinya: "Gagah, mengagumkan, dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya, yang termashur Sri Purnawarman, yang sekali waktu (memerintah) di Taruma dan baju zirahnya yang terkenal (warman). Tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya yang senantiasa berhasil menggempur kota-kota musuh, hormat kepada pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya." Pada batu prasasti ini terdapat pula pahatan sepasang telapak kaki yang terletak di bagian atas. Berdasarkan bentuk huruf Pallawa yang digunakan, prasasti ini diduga berasal dari abad ke-5.


3. Prasasti Kebon Kopi I atau Prasasti Tapak Gajah Prasasti ini ditemukan di Kampung Muara sejak awal abad ke–19 ketika diadakan penebangan hutan untuk pembukaan perkebunan kopi. Yang menarik dari prasasti ini adalah lukisan tapak kaki gajah, yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata, yaitu gajah tunggangan dewa Wisnu. Isi dari prasasti ini berupa tulisan huruf Pallawa dan menggunakan bahasa Sanskerta, yaitu: “Jayavisalasyya Tarumendrasya hastinah … Airwaytabhasya vibatidam padadyayam”. Yang berarti "Di sini tampak sepasang tapak kaki ... yang seperti (tapak kaki) Airawata, gajah penguasa Taruma (yang) agung di ... dan (?) kejayaan" yang dituliskan dalam aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Tulisan itu terpahat pada sebongkah batu andesit dan diapit oleh sepasang gambar telapak kaki gajah. 4. Prasasti Tugu Prasasti Tugu ditemukan di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu. Kini lokasi penemuan masuk ke dalam wilayah Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Prasasti Tugu dipahatkan pada sebuah batu andesit berbentuk bulat panjang setinggi satu meter. Pada batu prasasti tersebut terpahat lima baris pesan yang ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Dari bentuk huruf Pallawa yang digunakan, prasasti ini diperkirakan dibuat pada pertengahan abad ke-5. Berikut ini isi Prasasti Tugu: pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih


ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina Terjemahan: Dulu (sungai yang bernama) Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan mempunyai lengan kencang dan kuat, (yakni Raja Purnawarman) untuk mengalirkannya ke laut, setelah (sungai ini) sampai di istana kerajaan yang termahsyur. Di dalam tahun ke-22 dari takhta Yang Mulia Raja Purnawarman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji segala raja, (maka sekarang) beliau menitahkan pula menggali sungai yang permai dan berair jernih, Gomati namanya, setelah sungai itu mengalir di tengah-tengah tanah kediaman Sang Pendeta Nenek (Sang Purnawarman). Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, tanggal 8 paro-petang bulan Phalguna dan disudahi pada hari tanggal 13 paro-terang bulan Caitra, jadi hanya 21 hari saja, sedang galian itu panjangnya 6.122 tumbak (11 km). Selamat baginya dilakukan oleh para brahmana disertai 1.000 ekor sapi yang dihadiahkan. 5. Prasasti Pasir Awi Prasasti Pasir Awi terletak di lereng selatan bukit Pasir Awi di kawasan hutan perbukitan Cipamingkis, Desa Sukamakmur, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Peninggalan sejarah ini dipahat pada batu alam. Gambar pahatan berupa telapak kaki yang terdapat pada batu tersebut menghadap ke arah utara dan timur. 6. Prasasti Muara Cianten Prasasti Muara Cianten dituliskan pada batu andesit berbentuk hampir lonjong (oval). Isi dari Prasasti Muara Cianten hingga kini belum bisa diartikan dan dibaca oleh para ahli karena tulisan yang terdapat di prasasti berbentuk ikal atau huruf sangkha.


7. Prasasti Cidanghiang Prasasti Cidanghiang atau Prasasti Lebak. Prasasti ini terletak di wilayah Pandeglang, Banten. Dipahatkan pada suatu batu bulat panjang melingkar dan paling panjang dibanding dengan prasasti Tarumanegara lainnya. Prasasti tersebut ditulis dalam aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sanskerta (bentuk aksaranya mirip dengan yang digoreskan pada Prasasti Tugu dari periode yang sama). Isi prasasti lebak menceritakan tentang keberanian dan kebesaran raja Purnawarman. Berikut ini isi teksnya: Vikranto 'yam vanipateh/prabhub satya parakramah narendra ddhvajabhutena/ srimatah purnnawvarmanah Artinya: "Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari raja dunia, yang Mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja-raja"


C. KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI, POLITIK, DAN SOSIAL BUDAYA KERAJAAN TARUMANEGARA ( Dinni Nur Fajri/08). Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Raja Jayasingawarman di Jawa Barat pada pertengahan abad ke-4. Kejayaan Tarumanegara terjadi ketika diperintah oleh Raja Purnawarman, yang berkuasa antara tahun 395-343. Pada masa itu, kehidupan sosial-ekonomi masyarakat di wilayah Kerajaan Tarumanegara dikatakan telah maju. Lantas, mengapa kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Tarumanegara dikatakan maju? Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Tarumanegara dikatakan maju karena sudah tertata rapi dan telah ada pemanfaatan teknologi untuk menunjang kehidupan. Berdasarkan berita China dari catatan Fa Hien, diketahui bahwa kehidupan ekonomi masyarakat Tarumanegara bergantung pada sektor pertanian, peternakan, perburuan binatang, dan perdagangan cula badak, kulit penyu, serta perak. Guna memajukan pertanian dan perdagangan, Raja Purnawarman menerapkan teknologi pengairan. Raja Purnawarman memerintahkan rakyatnya untuk melakukan penggalian saluran air yang dinamakan Sungai Gomati. Perintah tersebut tercantum pada Prasasti Tugu peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Pembangunan saluran air itu sangat besar artinya, karena dapat mengairi daerah persawahan penduduk, mencegah banjir saat hujan, mencegah kekeringan pada musim kemarau, dan sebagai sarana lalu lintas barang dari pedalaman ke daerah luar yang berbatasan dengan pantai. Selain itu, bukti Kerajaan Tarumanegara sudah maju dalam bidang pertanian dapat dilihat dari temuan beberapa alat batu yang erat hubungannya dengan usaha pertanian dan perladangan. Alhasil, kehidupan sehari-hari dan perekonomian masyarakat Kerajaan Tarumanegara dapat berjalan teratur. Kehidupan sosial Kerajaan Tarumanegara juga sudah rapi dan makmur. Raja Purnawarman adalah peguasa besar yang berhasil meningkatkan kesejahteraan kehidupan rakyatnya. Di Kerajaan Tarumanegara terdapat golongan Brahmana, Ksatria, dan ada pula kelompok petani, pedagang, pelaut, pemburu, peternak, dan nelayan. Raja Purnawarman sangat


memperhatikan kedudukan kaum Brahmana yang dianggap penting dalam melaksanakan setiap upacara penghormatan kepada para dewa.


D. PEMBANGUNAN SUNGAI GOMATI (Nayla Az-Zahra/21). Sungai Gomati adalah sebuah sungai yang dibangun oleh Raja Purnawarman. Dalam Prasasti Tugu dikatakan bahwa dalam tahun pemerintahannya yang ke-22, Raja Purnawarman telah menggali sebuah sungai yang disebut Gomati, yang panjangnya 6122 busur (kira-kira 12 km) dalam waktu 21 hari disamping sungai yang telah ada, ialah sungai Candrabhaga (Bhagasasi-BagasiBekasi). Penggalian sungai tersebut, merupakan upaya untuk saluran irigasi, pencegahan banjir dan cadangan air di masa kemarau. Pekerjaan penggalian sungai ini memberikan hadiah 1.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Prasasti Tugu, selanjutnya mencatat bahwa Sungai Gomati yang permai dan berair jernih itu mengalir di tengah-tengah kediaman yang mulia Nenek Raja Purnawarman. Untuk memberkahi pembangunan dua kanal itu, para Brahmana mengorbankan sekitar 1.000 ekor sapi.


E. KERUNTUHAN KERAJAAN TARUMANEGARA (Aisyah Nur Saleha/03). Keruntuhan kerajaan ini diperkirakan terjadi di pertengahan abad ke-7 masehi, selama tiga abad kerajaan ini berdiri hingga mengalami masa kejayaan, namun hingga pada akhirnya hancur tak tersisa. Pada masa kejayaannya Linggawarman yang merupakan Raja ke-12, Kerajaan Tarumanegara mempunyai banyak wilayah kerajaan daerah yang berada dalam kekuasaannya, salah satunya Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kerajaan Sunda dipimpin oleh menantunya, Tarusbawa. Sementara Kerajaan Galuh dipimpin oleh Wretikandayun, cucu dari Kretawarman, Raja ke-8 Kerajaan Tarumanegara. Setelah tiga tahun berkuasa, Linggawarman meninggal dunia sehingga kekuasaan yang dipegangnya pun harus diserahkan kepada menantunya, Tarusbawa. Kekuasaan Tarumanegara tidak dilanjutkan oleh Tarusbawa karena ia lebih memilih untuk kembali ke wilayah asalnya dan mengalihkan pusat kekuasaan Kerajaan Tarumanegara ke Kerajaan Sunda. Kerajaan Tarumanegara pun mengalami kekosongan kepemimpinan karena Raja Tarusbawa lebih memilih mengembangkan Kerajaan Sunda daripada Kerajaan Tarumanegara. Bagi Tarusbawa, Kerajaan Tarumanegara sudah tidak memiliki pengaruh besar seperti masa lampau, sehingga dianggap sudah usang. Ia mulai berencana untuk mendirikan kekuatan baru ke tumpuan Kerajaan Sunda. Hal ini mengundang perpecahan, Kerajaan Galuh pun menarik diri dari kekuasaan Kerajaan Tarumanegara. Akibat perebutan kekuasaan pasca kematian Linggawarman ini, sisa-sisa reruntuhan wilayah Kerajaan Tarumanegara akhirnya terpecah menjadi dua kerajaan. Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. mereka meneruskan perjalanan Kerajaan Tarumanegara dengan pemerintahan masing-masing yang mana dipisahkan oleh Sungai Citarum yang membentang di antara keduanya. Keruntuhan ini pun didukung pula oleh gempuran dari luar Kerajaan yaitu kerajaan Sriwijaya, yang berusaha menyerang dan menaklukan Kerajaan Tarumanegara dengan tujuan memperluas wilayah kekuasaannya.


PENUTUP A. KESIMPULAN Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tertua setelah Kutai bercorak Hindu yang terletak di Jawa Barat, dan pendirinya adalah Jayasingawarman pada periode 358 - 382 M. Hasil kebudayaan kerajaan ini berupa Prasasti Tugu, Prasasti Ciaruterun / Prasasti Cipaea, Prasasti Pasir Koleangkak, Prasasti Kebon Kopi / Prasasti Tapak Gajah, Prasasti Pasir Awi, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Cidanghiang dan Sungai Gomati. Sungai Gomati dibangun Raja Purnawarman, pada tahun ke-22 di masa pemerintahannya, yang dilakukan untuk pencegahan banjir, sebagai saluran irigasi, dan cadangan air di masa kemarau. Kejayaan Tarumanegara terjadi ketika dipimpin oleh raja Purnawaman, antara tahun 395 - 343 M. Di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 kerajaan salah satunya Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh yang berada di daerah bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara. Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Tarumanegara sudah maju karena sudah tertata rapi dan ada terdapat pemanfaatan teknologi untuk kehidupan sehari-hari dalam perekonomian masyarakat. Keruntuhan kerajaan Tarumanegara terjadi di pertengahan abad ke-7 masehi saat raja Linggawarman yang merupakan raja ke 12 meninggal dunia sehingga kekuasaan dipegang oleh menantu Linggawarman, yaitu Tarusbawa, dan pada saat itu Kerajan Galuh menarik diri dari Kerajaan Tarumanegara, akhirnya Kerajaan Tarumanegara terpecah menjadi dua kerajaan yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Keruntuhan ini juga didukung oleh gempuran dari Kerajaan Sriwijaya yang menyerang dan menaklukan Kerajaan Tarumanegara dengan tujuan memperluas wilayahnya. B. SARAN Semoga informasi ini dapat menjadi sumber pembelajaran bagi kami, maupun para pembaca. Kerajaan Tarumanegara merupakan peninggalan yang penting untuk kita semua karena kerajaan ini juga telah ikut mewarnai sejarah kerajaan di Indonesia yang tentunya telah begitu banyak budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita. Maka dari itu, kita harus menjaga dan melestarikan budaya peninggalan dari nenek moyang kita kalau bukan kita siapa lagi kalau bukan sekarang kapan lagi.


DAFTAR PUSTAKA Darwadi, Salman Hakim. 2020. “Sejarah Wajib Kelas 10: Kerajaan Tarumanegara, Bukti Sejarah, Kejayaan Hingga Keruntuhannya”. https://pahamify.com/blog/pahamimateri/materi-ips/sejarah-wajib-kelas-10-sejarah-kerajaan-tarumanegara/, diakses pada tanggal 28 Januari 2023, pukul 10.15 . Lararenjana, Edelweis. 2021. “Berikut Prasasti Kerajaan Tarumanegara dan Bukti Keberadaanya, Ini Sejarahnya”. https://www.merdeka.com/jatim/berikut-prasasti-kerajaantarumanegara-dan-bukti-keberadaannya-ini-sejarahnya-kln.html?page=4, diakses pada tanggal 28 Januari 2023, pukul 09.47. Ningsih, Widya Lestari. 2022. “Alasan Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Tarumanegara Dikatakan Maju”. https://www.kompas.com/stori/read/2022/07/28/170000779/alasan-kehidupan-sosialekonomi-masyarakat-tarumanegara-dikatakan-maju#page2, diakses pada tanggal 20 Januari 2023, pukul 09.09. Prirahayanto, Yoseph Kelik. 2020. “Sejarah rekayasa air dalam prasasti tugu”. https://indonesia.go.id/kategori/komoditas/1588/sejarah-rekayasa-air-dalam-prasastitugu?lang, diakses pada tanggal 28 Januari 2023, pukul 09.18. Sudirman, Adi. (2019). Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia. Yogyakarta: Diva Press. Wienanto, Savero Aristia. 2022. “Mengenal Tempat, Tahun Berdiri, dan Pendiri Kerajaan Tarumanegara”. https://www.gramedia.com/literasi/pendiri-kerajaantarumanegara/, diakses pada tanggal 27 Januari 2023, pukul 09.09.


Click to View FlipBook Version