The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Antologi Puisi Aksara Asa

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nuramala2107, 2022-06-05 11:38:54

Antologi Puisi

Antologi Puisi Aksara Asa

Keywords: Antologi Puisi

1

Prakata
Saya mengucapkan terima kasih untuk
Allah SWT yang telah memberikan kemudahan
dan kelancaran. Karenanya saya dapat
merampungkan antologi puisi yang telah saya
susun dan rencanakan
Saya juga mengucapkan terima kasih
kepada Ibu Dyah Prabaningrum dan Ibu Wati
Istanti selaku dosen yang telah memberikan ilmu
terkait dengan ekspresi tulis puisi yang dapat
menjadi bekal saya untuk menciptakan puisi.
Puisi adalah rangkaian kata yang
mengisyaratkan tentang sebuah makna akan
perjalanan dari pengalaman batin yang terjalin
lewat untaian diksi. Antologi puisi ini merupakan
kumpulan puisi berisikan goresan aksara tentang
sebuah asa.
Lewat antologi ini saya mengajak teman-
teman untuk menyelami dunia asa lewat untaian
diksi yang akan membawa kalian menemukan
makna dari setiap asa yang diciptakan manusia

2

Daftar Isi

Prakata ..................................................................... 2
Daftar Isi................................................................... 3
Jejak Ilusi................................................................ 4
Lengkungan Asa .................................................... 6
Rapuh...................................................................... 7
Jalan Pulang ........................................................... 8
Harapan .................................................................. 9
Pesan untuk April ................................................ 10
Menjadi Manusia ................................................. 11
Aksara Tentangmu .............................................. 12
Mereka Ingin ke Sekolah …................................ 13
Kering ………………………………................... 14
Tanah Ibu Pertiwi …………………………….. 15
Laksana Cahaya ……………………………….. 16
Balada Puan …………………………………… 17
Arah yang Salah ………………………………. 18
Jingga Milikmu ……………………………….. 19
Sajak Memori ………………………………..... 20
Suci yang Abadi …………………………... 21
Tangisan Negeri ………………………….. 22
Suara Puan ………………………………... 24
Dawai Asmara ……………………………………… 26

3

Jejak Ilusi
Ditepi kota ini
Ada aku yang berdiri
Menyapa harap yang baru saja tumbuh
Tak lama saat kedua retina kita bertemu
Membuat lukis simpul bibir ini tak lagi
menguncup

Rasanya sama seperti saat itu
Saat hati ini kembali membuat peta arah pulang
Yang diharap bisa menjadi cipta yang hangat
Melepuhkan angan yang akan turun
Menjadi percik air yang mengalir

Senyuman itu, membawa sapuan awan yang
kemudia jatuh
Membasahi kati yang telah menaji hampar
lapang kecoklatan
Menaburkan alunan ilusi yang menari-nari di
atas semua kegagalan hati
Menjamah dalam setiap bayang yang telah kaku
karena goresan luka ekspektasi

Namun, akankan mimpi kecil ini menjadi sebuah
takdir hati
Karena yang kutahu, hatimu itu sulit
Tertutup pada setiap raga yang mencoba
mengetuknya
Seolah menampar angan yang kemudian
menjauh menjadi luka

4

Menapakkan jejak harapan yang sangat jelas
membekas

5

Lengkungan Asa

Pada langit aku
Aku menatap senja
Jingga yang penuh dengan rahsa
Terpejam pada bias bayang yang tak nyata

Sebermula adalah aku yang tak tahu arah
Bingung memilih jalan yang mana
Sebermula adalah aku yang hitam dan abstrak
Hampa yang tak tahu ujungnya ke mana

Dan di bawah langit luzuardi
Sudut bias retina itu terpantulkan
Ibarat sebuah kuas yang menari di atas kanvas
Yang menjejakkan bayang lalu melukiskan
angan

Sorot mata indah itu masih menjadi memori
Sudut bibir yang terlukis seolah menetap dalam
hati
Menjamah dalam setiap sudut ruang mimpi
Menabur asa dalam pikiran yang tak pasti

Ibarat sebuah lukisan
Aku hanyalah sang seniman pelukis rasa
Yang menggoreskan warna lewat kuas mimpinya

6

Rapuh

Pada sajak sajak indah
Yang mengaksara di dekat jendela tua
Ada goresan bayang hitam
Mendekap pada tirai danawa

Air matanya yang sedari tadi rebas
Membaca peta dalam pikiran yang abstrak
Hidupnya seperti puisi
Tak mampu membaca tanda baca
Entah titik, koma, ataupun tanda jeda

Wajahnya pucat pasi
Igauannya ibarat sebuah lirik yang tak memiliki
arti
Kaki yang terus saja dipaksa bedegap
Raga yang sebenarnya merasa gamang

Hai puan?
Semiris itukah gumpalan penyesalan
Menggertak dan mengelak sudah menjadi bagian
Tak tersisa, hingga luntur sebongkah
kepercayaan
Pada diri yang seharusnya selalu diberi

7

Jalan Pulang

Untuk hati yang lelah, kemarilah
Hidup bukan tentang menapak jalan panjang
Menitih dan mencari arti dari panggung dunia
yang tak berkesudahan

Setapak langkah yang bergayut pada lembaran
usang
Bekas coretan tinta yang sedikit mulai memudar
Berisikan impian dan rencana
Yang entah sudah terlaksana atau masih
terencana

Peta tidak mengenal arahmu
Pundakmu ibarat bukit yang saban hari tak
selesai kaudaki
Sampai kaupatah kaki
Sementara atmosfer ragamu perlahan mati

Kemarilah
Peluk erat setiap senyuman yang terpaksa kau
lukiskan
Istirahatkan semua keraguan dalam jiwa
Pada semestra yang entah ke mana ujungnya

8

Harapan

Aku ingin menatapnya
Pada sudut kelopak yang tak pernah membiaskan
kebahagiaan
Menatapnya lekat tanpa harus bersua
Pada satu syair yang mengisyaratkan cinta
Mengisyaratkan pada alunan melodi kenestapaan

Aku ingin menjadikannya ruang
Ruang pada satu tempat yang mengindahkan
tentang arah langkah kemana kaki ini akan
pulang
Menciptakan peta dengan alur garis yang penuh
kepastian

Aku ingin menjadikannya jingga
Pekat keemasan yang selalu membawa
kehangatan
Keindahan yang walau hanya sementara
Karena semesta yang lebih memilih sang
purnama untuk menemaninya

9

Pesan untuk April

April
Bersama sajak dan diksi ini
Kuterbangkan pesan dan harapan
Untuknya pemilik pundak yang kukuh
Pemilik senyum yang utuh

Tolong bahagiakan dia
Seperti awal mula tangisannya lahir di dunia
Buat dia selalu percaya
Bahwa semesta akan selalu ada untuknya

April
Kau tahu
Sosok puan ini tak mampu membuatnya bahagia
Hanya sebatas senja yang memilih mengumpat
Dibalik awan hujan yang lebih berani melukis
langit dengan air mata
Bukan sosok mentari yang tiap waktu selalu bisa
menyapanya

Jadi kumohon
Di bulan yang dibersamai dengan penuh cinta ini
Ketika sang purnama berbisik pada langit
Sampaikan padanya bawah setengah dari
perasaan ini akan selalu ada untuknya

10

Menjadi Manusia

Jika saja manusia itu air
Dan cinta adalah api
Membara dengan mebawa kias harapan
Bersenyawa dalam aliran deras menuju padang
rintik yang bersua

Jika saja manusia itu senja
Dan cinta adalah purnama
Jingga hitam pekat akan selalu mengalah
Pada takdir waktu yang menggoreskan banyak
sisi gelap
Di atas camukan dan rotasi pikiran

Jika saja manusia adalah pekat malam
Dan cinta adalah lentera
Maka hidupkan semua kegelapan
Dengan bias cahaya rona yang mengabadikan

Akan selalu ada bias cahaya
Dalam rona kehidupan yang menjadikannya
berlabuh
Pada satu insan yang dipandang utuh
Bukan segala tentang kesempurnaan
Tapi tentang bagaimana sebuah kenyamanan

11

Aksara Tentangmu

Dengan berjalannya waktu
Kau dan aku berada di satu ruang yang berbeda
Anehnya, semesta selalu melukiskan tawamu
dalam ruang mimpiku

Tak peduli berapa diksi yang akan kupilih
Untuk melukiskan sebuah puisi
Tak peduli berapa kali ku petik dawai
Untuk menciptakan alunan melodi perihal hati

Kau dan segala kenangan ini
Akan terlukis pada satu bingkai yang utuh
Kau dan tawamu ini akan kulayangkan di atas
langit
Di dekat waktu senja yang indahnya sama
denganmu

Dalam sajak ini tak kuselipkan sedikit namamu
Karena semesta tahu
Bahwa di setiap ujung kalimatku
Akan ada garis aksara tentang dirimu

12

Mereka Ingin ke Sekolah
Kau berjalan di atas senyuman embun pagi
Riang, pergi ke sekolah, tersenyum
Kau tak berjalan, ya! Kau berlari
Melewati kumpulan angin-angin pagi hari yang
menyapamu

Lalu, untuk apa kau menangis?
Hanya karena barang mahal itu tak bisa kaubeli
Tidak kawan, barang itu tidak mahal
Kau tak perlu menangisinya

Saat kau berjalan di pagi hari
Sangat patut jika kau memanjatkan rasa syukur
Kau bisa tersenyum, berlari dan bersekolah
Tak seperti mereka yang berharap kehidupan di
atas selang-selang

13

Kering
Indahnya taman bunga di seberang
Bak tanaman bungan di negeri Edensor
Sejuknya udaya yang terhirup
Sesejuk belaian sang ratu embun
Tapi, semua hanyalah bayang semata
Di mana dapat kutemukan tanaman Endesor di
negeri ini?
Semuanya hanya kering, terkena polusi
Yang kuharap pada bunga warna-warni itu, tak
semuanya mati

14

Tanah Ibu Pertiwi

Bumi ibu pertiwi kian hari serasa kian
terundung duka
Bencana di mana-mana, berita buruk akan
kekejaman
Seakan tiap hari penuhi siaran televisi
Meski telah tak terjajah, serasa masih belum
merdeka
Kemerdekaan yang telah lama tertahan dalam
ingatan
Terguncang sejak keadilan tersekap akar pohon
keserakahan
Seakan ibu pertiwi telah dipenuhi rasa
kekecewaan
Atas bangsanya yang tak dapat ia percaya

15

Laksana Cahaya
Kutekuk lututku, termenung
Kuterdiam ditempatku, bisu
Aku tahu dikegelapan ini aku tak sendiri
Hanya perlu sedikit usaha
Namun kodratku membedakan kita
Lalu aku terlilit, tak bisa bebas
Tak selalu bisa melakukan, apa yang kalian
lakukan
Meski sebenarnya aku bisa
Namun, karena engkau, Bunda Kartini
Kaukepakkan sayapmu tuk membela kaummu
Engkau laksana cahaya yang menerangi gulita
Kini, takdirku telah bebas dari lilitan kodrat

16

Balada Puan

Kuingin kaulihat ini
Tak nampak ada sekat memang
tapi perlahan kacau
Tidak merasa hancur, tetapi terlalu acuh bila
dikata utuh

Aku sempurna yang rapuh
Tertekan dalam ruangan sunyi yang jauh
Bersama pikiran yang berseruan
Tentang kebebasan sanubari

Berkecamuk deruan dalam rasa
Menyeru amukan yang tak biasa
Tertancap pedang harapan
Pada raga yang seharusnya perlu dibelai

Lalu aku apa?
Sang mesin yang terus ditekan
Atau seorang puan
Yang layak untuk dikuatkan

17

Arah yang Salah

Kunang kunang malam
Menari di atas gelapnya sisi bumi
Menilik dari sehelai daun yang mencoba
menutupi
Kala yang kau sebut sebagai waktu
Berubah sesaat menjadi detik jarum jam yang
berhenti

Lantas ke mana?
Dermaga yang menjadi akhir dari kisah yang
sedang kita tuliskan
Yang telah perlahan aku catat, namun ternyata
terlepas
Yang kuat kugenggam, namun terlampau kalah
dengan kekecewaan

Seperti sang purnama yang memilih pergi
Terganti oleh awan hitam yang menemani
Lantas bagaimana?
Aku yang terlampau sungguh
Atau kau yang tak pernah singgah

18

Jingga Milikmu

Senja dengan goresan jingga
Tiada yang lebih membekas selain
keindahannya
Siapa yang lebih berani?
Menggantikan biru yang memberikan
kenyamanan
Lalu pergi semaunya
Memaksa sang purnama untuk
menggantikannya

Kau tahu?
Senja ini milikmu
Bahkan sang awan begitu mudah
Menyisipkan cerita tentangmu
Mengisyaratkannya pada mendung yang berarti
duka
Pada rintik yang berarti luka

19

Sajak Memori

Pada sajak indah
Aang mengaksara di langit kota tua
Ada goresan bayang hitam
Menjelma menjadi kelabu yang bersampingan
Menjamah dalam setiap bingkai kenangan
Antara kau aku dan sayap memori yang patah

Sepasang kaki pernah berjalan beriringan
Menyairkan cerita tentang teman perjalanan
Menganyam satu demi satu mimpi di ruang
masa depan
Lalu kini hilang
Menyisahkan igauan penuh irama lara

Kita sang melody yang menjelma menjadi bisu
Kita terlalu asing bagi sebuah senja yang butuh
jingga
Kita abadi dalam sekat ruang bernama memori
Bersama puisi ini kugoreskan sajak dan diksi
Untuknya sang pelukis mimpi yang kini tak lagi
menepi

20

Suci yang Abadi
Langit malam penuh makna
Cerah bintang yang memberi warna
Menemani gema takbir yang bersua
Memberikan citra kesucian di hari yang fitrah
Idul fitri telah menghampiri
Umat muslim seolah tersenyum menyambut hari
kemenangan ini
Sudilah hati yang pernah tersakiti
Memberikan kelapangan maaf dan pintu hati
Semoga yang baik akan selalu ikut serta dalam
perjalanan
Dan yang kurang baik akan menuntun kita untuk
mengerti tentang memaafkan

21

Tangisan Negeri

Ke mana kemerdekaan negeri ini
Jerit asa para pahlawan bangsa
Seolah dikenang menjadi memori yang hanya
satu tahun sekali

Indonesiaku menangis
Seruan keadilan seolah dinyanyikan habis
Kesejahteraan teriris oleh sang penguasa
Berbaju hitam, putih, dan berkumis tipis
Yang duduk manis dalam bangunan putih
memungut suara rakyat dengan tebaran janji
manis

Ideologi pancasila seperti hanya pajangan belaka
Keadilan bukan lagi milik semua rakyat
tapi milik mereka yang berpangkat

Wahai kalian sang pahlawan
Rasanya tak akan kuat jika harus bangkit
Dan melihat betapa hancurnya negeri yang kau
bela mati-matian ini
Muda mudi tak lagi membicarakan tentang
persatuan
Melainkan lebih memilih untuk saling
menjatuhkan

22

Para pemimpin yang berlabel cinta NKRI
Lebih memilih untuk mengeruk habis hak rakyat
kecil
Tutup telinga dengan seruan rakyat
Yang mengharap keadilan dan kesejahteraan

23

Suara Puan

Kami adalah beringin yang meneduhkan

Yang membuai raga dengan pelukan rindang
daun yang kehijauan
Kami adalah sungai yang menuntun air
Dari hulu hingga bertemu dengan hilir

Katanya, kami adalah makhluk lemah
Yang penuh dengan sekat pada ruang pergerakan
Mimpi yang terkunci di ambang batas
yang bahkan tak setinggi tugu monas di ibu kota

Air mata kami memang mudah rebas yang
Suara suara kami yang dianggap racau
Gagasan kami yang mudah dibungkam
Seolah memenjarakan emansipasi
diperjuangkan oleh kartini

Tapi kami bukan itu
Kami adalah sebuah karang
Kokoh berdiri untuk bertahan
Dari kejamnya amukan ombak di lautan

Kami burung burung merpati
Yang bebas untuk terbang tinggi
24

Ke arah tujuan mimpi kami
Jangan katakan kami lemah
Hanya karena air mata yang mudah tumpah

25

Dawai Asmara
Hampiriku saat sudah habis lagumu
Jangan lagi terjebak candu yang menuduh
Lepaskan, pada genggam yang tertampa
Tak terluka, tapi perlahan hatimu akan terbawa
pergi
Duduk di sini
Akan kupetik dawai tua yang ada di dekat jendela
Akan kubuatkan nada yang indah
Kini, esok tinggal menunggu sekotak asa
Apakah sang dawai mampu menitikkan rasa
rindu pada dirinya

26

27


Click to View FlipBook Version