MODUL Sejarah Indonesia Kelas XI SEMESTER GENAP
Masa Pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945) MODUL 1
Daftar Isi i PENDAHULUAN 1 A. Deskripsi 1 B. Prasyarat 2 C. Petunjuk Penggunaan Modul 2 D. Kompetensi 2 KEGIATAN BELAJAR 1 KEDATANGAN JEPANG KE INDONESIA A. Tujuan Pembelajaran 3 B. Uraian Materi 3 C. Rangkuman 8 D. Latihan 8 E. Tes Formatif 1 8 F. Kunci Jawaban Tes Formatif 1 10 KEGIATAN BELAJAR 2 STRATEGI PERGERAKAN MASA PENDUDUKANJEPANG A. Tujuan Pembelajaran 11 B. Uraian Materi 11 C. Rangkuman 22 D. Latihan 22 E. Tes Formatif 2 22 F. Kunci Jawaban Formatif 2 25 PENUTUP A. GLOSARIUM 26 B. DAFTAR PUSTAKA 27 DAFTAR ISI
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 1 Semester Genap PENDAHULUAN A. DESKRIPSI Gambar 1 : Kondisi bangsa Indonesia ketika masa pendudukan Jepang Sumber : http://www.wajibbaca.com/2017/08/pergerakan-kemerdekaan-sampaiproklamasi.html Tahukah kalian berapa lama Bangsa Indonesia dijajah oleh Jepang? Ya benar, Selama 3, 5 tahun yaa bukan 350 tahun!. Jepang mungkin hanya 3,5 tahun menduduki Indonesia, tetapi mereka telah membuat kehidupan masyarakat menjadi sangat sengsara dan meninggalkan luka yang teramat dalam. Hal ini bisa kita lihat dari cerita-cerita kelam kekejaman mereka kepada para pendahulu, seperti melakukan penembakan ditempat untuk orang-orang yang dianggap melanggar aturan Jepang, memperkosa para wanita pribumi, serta menjadikan masyarakat sebagai pekerja paksa tanpa bayaran. Tidak hanya itu, Jepang juga memaksa orangtua sampai anak-anak untuk belajar menggunakan senjata guna kepentingan membela Jepang dalam Perang Asia Timur Raya.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 2 Semester Genap 3.5 Menganalisa Sifat Pendudukan Jepang dan Respon bangsa Indonesia 4.5 Menalar Sifat Pendudukan Jepang dan respon bangsa Indonesia dan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah B. PRASYARAT D. KOMPETENSI C. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL Untuk dapat mempelajari materi ini, terlebih dahulu kalian harus menguasi materi yang disajikan sebelumnya, yakni mengenai proses berakhirnya masa kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia. Dalam materi tersebut disajikan proses berakhirnya kolonialisme dan Imperialisme Belanda di Indonesia yang membuka jalan bagi masuknya Jepang ke Indonesia
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 3 Semester Genap A. TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah kegiatan pembelajaran ini, Kalian diharapkan mampu Menganalisis latar belakang kedatangan Jepang ke Indonesia Menjelaskan sambutan rakyat Indonesia terhadap kedatangan Jepang Menjabarkan pembentukan pemerintahan militer Menjabarkan pemerintahan Sipil B. URAIAN MATERI PETA KONSEP KEGIATAN BELAJAR Pemerintahan Sipil Pembentukan Pemerintahan Militer Sambutan Rakyat Indonesia Latar Belakang Kedatangan Jepang KEDATANGAN JEPANG KE INDONESIA KEGIATAN BELAJAR 1 KEDATANGAN JEPANG KE INDONESIA
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 4 Semester Genap Coba perhatikan gambar di atas dengan seksama! 1. Coba ajukan beberapa pertanyaan, terkait dengan gambar tersebut! 2. Peristiwa apakah yang ada dalam gambar tersebut? 3. Mengapa peristiwa itu terjadi? 4. Bagaimana dampak dari peristiwa tersebut? KEDATANGAN JEPANG KE INDONESIA A. Mengamati Lingkungan Gambar 2. Pengeboman Pangkalan Angkatan Laut AS di Pearl harbour oleh tentara Jepang Sumber : https://www.bing.com/images Gambar di atas terkait dengan peristiwa pengeboman Pearl Harbour yang menunjukkan kemenangan Jepang terhadap Sekutu pada Pada PD II. Kemengan Jepang tersebut membuka jalan bagi Jepang untuk menduduki Indonesia. Kedatangan “saudara Tua”, sebagaimana Jepang menyebut dirinya, mula-mula disambut dengan penuh harapan, tetapi kemudian mengecewakan rakyat karena menyengsarakan rakyat. B. Memahami Teks 1. Latar Belakang Kedatangan Jepang Tanggal 7 Desember 1941, terjadi peristiwa besar, yakni Jepang menyerbu pangkalan Angkatan Laut di Pearl Harbour, Hawai. Aksi Jepang ini merupakan sebuah gerakan invasi militer yang kemudian dengan cepat merambah ke kawasan Asia Tenggara. Pada Januari-Februari tahun 1942, Jepang telah menduduki Filipina, Pontianak, Balikpapan, Palembang, Tarakan (Kalimantan Timur), dan Samarinda, yang mana waktu itu bangsa Belanda masih berada di wilayah Indonesia. Bahkan beberapa minggu kemudian, Jepang telah berhasil mendarat di Pulau Jawa, tepatnya di Teluk Banten pada tanggal 1 Maret 1942, kemudian juga di Kragan (Jawa Timur), dan di Eretan (Jawa Barat). Nah setelah itu, tanggal 5 Maret 1942 kota Batavia telah jatuh ke tangan Jepang, hingga akhirnya tanggal 8 Maret 1942 Belanda secara resmi menyerah kepada Jepang.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 5 Semester Genap Penyerahan kekuasaan kepada Jepang oleh Belanda dilakukan melalui sebuah upacara di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Gubernur Jenderal Tjardaan Starkenborgh dan Jenderal Ter Poorten menjadi wakil Belanda dalam upacara tersebut, kemudian Jenderal Hitoshi Imamura menjadi wakil dari Jepang. Dengan berakhirnya upacara penyerahan tersebut, secara otomatis kemudian, Indonesia berada di bawah jajahan (pendudukan) Jepang. Gerakan tentara Jepang untuk menguasai Indonesia berlangsung begitu cepat, hal ini tidak terlepas dari perkembangan sebelumnya. Sejak Jepang berkembang menjadi negara industri dan tampil sebagai imperialis, Jepang membutuhkan daerah-daerah baru. Salah satu daerah baru yang dimaksud adalah Indonesia. Keinginan Jepang untuk menguasai Indonesia kareana Indonesia kaya akan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan Industri Jepang. Imperialisme Jepang didorong pula oleh filsafat Hakko Ichiu, yaitu ajaran tentang kesatuan keluarga umat manusia. Jepang sebagai negara yang telah maju, mempunyai kewajiban untuk "mempersatukan bangsa-bangsa di dunia dan memajukannya" (Moedjanto, 1992). Ajaran tersebut merupakan dorongan psikologis sekaligus sebagai legitimasi moral politik atas tindakan ekspansionisme Jepang ke wilayah-wilayah lain. 2. Sambutan Rakyat Indonesia Awal kedatangan Jepang di Indonesia secara umum diterima dan tanggapi dengan baik oleh masyarakat. Hal ini disebabkan disamping propaganda yang dilakukan secara intensif sebelum mereka tiba, yang dikoordinir melalui bagian propaganda (Sendenbu), juga dipengaruhi oleh sikap pemerintah kolonial Belanda yang selalu mempertahankan prinsip ketenangan dan keteraturan (rust en orde) dengan tindakan-tindakannya yang mengecewakan kaum pergerakan. Disamping itu bagi masyarakat pedesaan di Jawa terdapat kebanggaan terhadap bangsa Jepang yang dapat mengalahkan Sekutu, yang dengan demikian itu membawa pengharapan pulihnya saat-saat normal yang dinanti-nantikannya. Sikap masyarakat pedesaan Jawa juga dipengaruhi oleh ramalan Jayabaya, yang secara tidak langsung telah mengarahkan pandangan masyarakat untuk menyambut kedatangan "wong kuntet kuning saka lor" yang hanya akan berkuasa di Indonesia "seumur jagung". Kata-kata ini dipahami sebagai suatu keadaan baru akibat perginya Belanda dan datangnya Jepang, dan Jepang akan memerintah dalam waktu yang tidak lama, sesudah itu bangsa Indonesia akan "merdeka". Pemahaman yang berkembang seperti ini telah memberikan harapan akan hari kemudian yang lebih baik. Sartono K. (1985) menyebutnya sebagai motivasi spekulatif teoritis masyarakat Jawa terhadap datangnya masa kebahagiaan. Tentara Jepang juga mempropaganadakan bahwa kedatangannya ke Indonesia ntuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan Bangsa Belanda. Jepang juga akan membantu memajukan rakyat Indonesia. Mellaui program Pan-Asia Jepang akan memajukan dan menyatukan seluruh rakyat
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 6 Semester Genap Asia. Untuk lebih meyakinkan rakyat Indonesia, Jepang menegaskan kembali bahwa Jepang adalah Saudara Tua. Bahkan Jepang membuat organisasi propaganda yang diberi nama “Gerakan Tiga A” 3. Pembentukan Pemerintahan Militer Pada pertengahan tahun 1942 timbul pemikiran dari Markas Besar Tentara Jepang agar penduduk di daerah pendudukan dilibatkan dalam aktivitas pertahanan dan kemiliteran (termasuk semimiliter). Oleh karena itu, pemerintah Jepang di Indonesia kemudian membentuk pemerintahan militer. Di seluruh Kepulauan Indonesia bekas Hindia Belanda itu wilayahnya dibagi menjadi tiga wilayah pemerintahan militer, yaitu: 1. Pemerintahan militer Angkatan Darat, yaitu Tentara Kedua Puluh Lima (Tomi Shudan) untuk Sumatra. Pusatnya di Bukittinggi. 2. Pemerintahan militer Angkatan Darat, yaitu Tentara Keenam Belas (Asamu Shudan) untuk Jawa dan Madura. Pusatnya di Jakarta. Kekuatan pemerintah militer ini kemudian ditambah dengan Angkatan Laut (Dai Ni Nankenkantai). 3. Pemerintahan militer Angkatan Laut, yaitu (Armada Selatan Kedua) untuk daerah Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pusatnya di Makassar. Pembagian administrasi wilayah pendudukan semacam itu tentu juga terkait dengan perbedaan kepentingan Jepang terhadap tiap-tiap daerah di Indonesia, baik dari segi militer maupun politik ekonomi. Pulau Jawa yang merupakan pusat pemerintahan yang sangat penting waktu itu masih diberlakukan pemerintahan sementara. Hal ini berdasarkan Osamu Seirei (Undang-Undang yang dikeluarkan oleh Panglima Tentara Ke-16). Di dalam undang-undang itu antara lain berisi ketentuan sebagai berikut: 1. Jabatan Gubernur Jenderal pada masa Hindia Belanda dihapuskan dan segala kekuasaan yang dahulu dipegangnya diambil alih oleh panglima tentara Jepang di Jawa. 2. Para pejabat pemerintah sipil beserta pegawainya di masa Hindia Belanda tetap diakui kedudukannya, asalkan memiliki kesetiaan terhadap tentara pendudukan Jepang. 3. Badan-badan pemerintah dan undang-undang di masa Belanda tetap diakui secara sah untuk sementara waktu, asalkan tidak bertentangan dengan aturan pemerintahan militer Jepang Adapun susunan pemerintahan militer Jepang tersebut adalah sebagai berikut. 1. Gunshirekan (panglima tentara) yang kemudian disebut dengan Seiko Shikikan (panglima tertinggi) sebagai pucuk pimpinan. Panglima tentara yang pertama dijabat oleh Jenderal Hitoshi 2. Gunseikan (kepala pemerintahan militer) yang dirangkap oleh kepala staf. Kepala staf yang pertama adalah Mayor Jenderal Seizaburo Okasaki. Kantor pusat pemerintahan militer ini disebut Gun seikanbu. Di lingkungan Gun seikanbu ini terdapat empat bu (semacam departemen) dan ditambah satu bu lagi, sehingga menjadi lima bu. Adapun kelima bu itu adalah sebagaiberikut. a) Somobu (Departemen Dalam Negeri) b) Zaimubu (Departemen Keuangan) c) Sangyobu (Departemen Perusahaan, Industri, dan Kerajinan Tangan) atau urusan Perekonomian d) Kotsubu (Departemen Lalu Lintas) e) Shihobu (Departemen Kehakiman)
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 7 Semester Genap 3. Gunseibu (koordinator pemerintahan dengan tugas memulihkan ketertiban dan keamanan atau semacam gubernur) yang meliputi: 1) Jawa Barat : pusatnya di Bandung. 2) Jawa Tengah : pusatnya di Semarang. 3) Jawa Timur : pusatnya di Surabaya. 4) Ditambah dua daerah istimewa (Kochi) yakni Yogyakarta dan Surakarta. Di dalam pemerintahan militer tersebut, Jepang juga membentuk kesatuan Kempetai (Polisi Militer) dan menetapkan lagu kebangsaan yang boleh diperdengarkan hanyalah Kimigayo. Padahal masa-masa awal kedatangan Jepang, Lagu Indonesia Raya sering diperdengarkan di radio - radio Tokyo. Pada awal pendudukan ini, secara kultural Jepang juga mulai melakukan perubahan-perubahan, seperti mengganti tarikh masehi menggunakan tarih sumera (tarikh Jepang) dalam sistem pertanggalan. Setoap tahun (mulai tahun 1942) rakyat Indonesia harus merayakan hari raya Tencosestu (hari raya lahirnya Kaisar Hirohito). Dalam bidang politik Jepang melakukan kebijakan dengan melarang penggunaan Bahasa Belanda dan mewajibkan menggunakan bahasa Jepang. 4. Pemerintahan Sipil Selain pemerintahan militer, Jepang juga membentuk pemerintahan sipil untuk medukung jalannya pemerintahan Jepang di Indonesia. Pemerintahan militer berusaha meningkatkan sistem pemerintahan, antara lain dengan mengeluarkan UU No. 27 tentang aturan pemerintahan daerah dan dimantapkan dengan UU No. 28 tentang pemerintahan shu serta tokubetsushi. Dengan UU tersebut, pemerintahan akan dilengkapi dengan pemerintahan sipil. Menurut UU No. 28 ini, pemerintahan daerah yang tertinggi adalah shu (karesidenan). Seluruh Pulau Jawa dan Madura, kecuali Kochi Yogyakarta dan Kochi Surakarta, dibagi menjadi daerah-daerah shu (karesidenan), shi (kotapraja), ken (kabupaten), gun (kawedanan), son (kecamatan), dan ku (desa/kelurahan). Seluruh Pulau Jawa dan Madura dibagi menjadi 17 shu. Pemerintahan shu itu dipimpin oleh seorang shucokan. Shucokan memiliki kekuasaan seperti gubenur pada zaman Hindia Belanda meliputi kekuasaan legislatif dan eksekutif. Dalam menjalankan pemerintahan shucokan dibantu oleh Cokan Kanbo (Majelis Permusyawaratan Shu). Setiap Cokan Kanbo ini memiliki tiga bu (bagian), yakni Naiseibu (bagian pemerintahan umum), Kaisaibu (bagian ekonomi), dan Keisatsubu (bagian kepolisian). Pemerintah pendudukan Jepang juga membentuk sebuah kota yang dianggap memiliki posisi sangat penting sehingga menjadi daerah semacam daerah swatantra (otonomi). Daerah ini disebut tokubetsushi (kota istimewa), yang posisi dan kewenangannya seperti shu yang berada langsung di bawah pengawasan gunseikan. Sebagai contoh adalah Kota Batavia, sebagai Batavia Tokubetsushi di bawah pimpinan Tokubetu shico. Pemerintah Jepang juga membentuk tonarigumi, yang pada masa sekarang ini kita kenal dengan Rukun Tetangga (RT). Tanorigumi ini digunakan oleh pemerintah Jepang untuk mengawasi gerak-gerik rakyat agar dapat dipantau oleh pemerintah Jepang.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 8 Semester Genap C. RANGKUMAN D. LATIHAN E. TES FORMATIF 1 PILIHLAH JAWABAN BERIKUT YANG PALING BENAR! 1. Motif utama Jepang dalam menginvasi Indonesia adalah… A. Membuat persemakmuran Asia Timur Raya yang dipimpin oleh Jepang B. Membebaskan bangsa-bansga Asia dari imperialisme bangsa Barat C. Saudara tua dari seluruh bangsa-bangsa di Asia D. Memenuhi kebutuhan militer Jepang E. Menjadikan bangsa-bangsa Asia merdeka 2. Langkah awal yang dilakukan oleh Jepang untuk menguasai Asia adalah... A. menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour B. merebut kekuasaan di Indonesia dari tangan Belanda C. menyerang pusat militer di Amerika Serikat D. merebut Cina dari tangan Inggris E. menguasai wilayah Hongkong 1. Setelah berhasil melakukan Pengeboman Pearl Harbour 7 Desember tahun 1941, Gerakan Jepang untuk menjadi penguasa di asia tidak terbendung 2. Jepang berhasil menguasai Indonesia dengan cepat dan merata 3. Kedatangan tentara jepang disambut baik oleh rakyat Indonesia karena dipandang memberi harapan kebebsan dari belenggu penjajahan 4. Setelah mendapat simpati dari rakyat Indonesia, Jepang membentuk pemerintahan militer yang diperkuat dengan pemerintahan sipil Kerjakan latihan berikut! 1. Jelaskan latar belakang kedatangan Jepang ke Indonesia! 2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Hakko Ichiu! 3. Mengapa pada mulanya Jepang disambut baik oleh rakyat Indonesia? 4. Sesudah Jepang menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Belanda, wilayah Indonesia dibagi menjadi pemerintahan militer, jelaskan pembagian tersebut! 5. Apa yang kalian ketahui tentang Tanorigumi? Jelaskan!
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 9 Semester Genap 3. Jepang pertama kali datang ke Indonesia di kota…. A. Banten B. Malaka C. Indramayu D. Jakarta E. Tarakan 4. Kedatangan Jepang ke Indonesia diterima oleh rakyat Indonesia karena... A. Jepang dari kawasan Asia B. Jepang menjanjikan kemerdekaan C. Jepang bertujuan mengusir imperialisme Barat D. Jepang mengaku sebagai saudara tua E. Jepang masih satu rumpun dengan Indonesia 5. Pada tanggal 1 Maret 1942, Jepang berhasil mendarat di tiga tempat di Pulau Jawa, yaitu … A. Eretan, Kalijati, dan Surabaya B. Kalijati, Banten, dan Ujung kulon C. Teluk Bayur, Kalijati, dan Tarakan D. Tarakan, Kragan, dan Jakarta E. Teluk Banten, Eretan, dan Kragan 6. Perjanjian penyerahan tanpa syarat dari Belanda ke Jepang adalah...... A. Kalijati B. Versailes C. Bongaya D. Giyanti E. Nangking 7. Pada masa pemerintahan militer Jepang, ada dua daerah yang masuk koci (daerah istimewa), yakni... A. Aceh dan Yogyakarta B. Aceh dan Jakarta C. Surakarta dan Aceh D. Surakarta dan Yogyakarta E. Jakarta dan Yogyakarta 8. Sesudah Jepang menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Belanda, wilayah Indonesia dibagi menjadi tiga pemerintahan yang masing-masing pemerintahan dikepalai oleh.... A. Shogun B. Gunseikan C. Daidanco D. Shondanco E. Syu 9. Rakyat Indonesia menyambut baik kedatangan pasukan Jepang dalam perang Asia Pasifik, karena.... A. dianggap sebagai juru selamat karena berhasil mengusir Belanda B. Jepang dianggap sebagai pemimpin PD 2 C. Karena Jepang merupakan Negara Fasis D. Karena Jepang tidak ingin menguasai SDA dan SDM Indonesia E. Jepang memberi janji kemerdekaan pada Indonesia
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 10 10. Tentara ke 25 dalam struktur pemerintahan militer Jepang di Indonesia memerintah wilayah .... A. Sumatera B. Jawa dan Bali C. Jawa dan Madura D. Kalimantan E. Sulawesi dan Nusa Tenggara F. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF 1 1 D 6 A 2 A 7 D 3 E 8 B 4 D 9 A 5 E 10 A
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 11 A. TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah kegiatan pembelajaran ini, kamu diharapkan mampu: Mengidentifikasi Organisasi Pergerakan Masa Pendudukan Jepang Menganalisi Strategi Pergerakan Masa Pendudukan Jepang B. URAIAN MATERI PETA KONSEP KEGIATAN BELAJAR 2 STRATEGI PERGERAKAN MASA PENDUDUKAN JEPANG NON- KOOPERATIF / GERAKAN BAWAH TANAH STRATEGI PERGERAKAN MASA PENDUDUKAN JEPANG KOOPERATIF ORGANISASI MILITER ORGANISASI SEMI MILITER ORGANISASI PERGERAKAN MASA JEPANG ORGANISASI SOSIAL KEMASYARAKATAN STRATEGI PERGERAKAN MASA PENDUDUKAN JEPANG
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 12 STRATEGI PERGERAKAN MASA JEPANG A. Mengamati Lingkungan Gambar 3. Tokok Empat Serangkai Sumber : https://www.bing.com/images Banyak organisasi yang dibentuk pada masa Pendudukan Jepang. Sama seperti organisasi-organisasi pada umumnya, yaitu organisasi yang bersifat semi militer dan militer. Adanya organisasi-organisasi pada masa Pendudukan Jepang tersebut juga menentukan strategi yang dilakukan dalam menghadapi pemerintahan Jepang, baik secara kooperatif maupun non- kooperatif. Para pemimpin bangsa lebih memilih bekerja sama/ kooperatif dengan Jepang, mengapa demikian? Kemukakan alasanmu! B.Memahami Teks Ada satu hal menarik untuk dikaji terkait perbedaan strategi pergerakan nasional pada masa Kolonial Belanda dan masa Pendudukan Jepang. Pada masa Kolonial Belanda umumnya organisasi pergerakan yang muncul dan berkembang diprakarsai oleh pejuang rakyat Indonesia dan bersifat nonkooperatif atau tidak mau bekerjasama dengan pemerintah kolonial, akan tetapi pada masa pendudukan Jepang banyak organisasi atau perkumpulan yang berdiri diprakarsai oleh Jepang, dan para tokoh juga memanfaatkannya untuk kepentingan perjuangan. Coba amati baik-baik gambar di atas! Gambar tersebut adalah gambar Empat serangkai yang merupakan tokoh dalam Organiasi PUTERA. Apa yang dimaksud dengan organisasi PUTERA? Bagaimana Strategi PUTERA dalam Masa Pendudukan Jepang?
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 13 Hal ini juga tampak berhubungan dengan perkembangan pandangan sikap para tokoh Indonesia dalam menghadapi pendudukan Jepang. Banyak di antara para tokoh Indonesia yang mencoba memanfaatkan masa pendudukan Jepang untuk melanjutkan perjuangan menuju kemerdekaan. Mereka mengambil sikap dan strategi kooperasi atau bekerja sama dengan Jepang. Sebagai contoh, pada masa pendudukan Jepang Soekarno bersedia bekerjasama dengan Jepang. Faktor penyebbanya adalah kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905. sehingga Soekarno merupakan salah satu tokoh pergerakan kebangsaan yang terkesan pada kehebatan Jepang, dan percaya bahwa Jepang akan memenangkan perang. Sementara Moh. Hatta dan Sjahrir dikenal antifasisme, smeestinya menentang Jepang. Namun, keduanya menyusun startegi yang saling melengkapi. Moh. Hatta mengambil sikap kooperatif dengan Jepang, sementara Sjahrir akan menyusun Gerakan bawah tanah. ORGANISASI PERGERAKAN MASA PENDUDUKAN JEPANG 1. Organisasi yang Bersifat Sosial Kemasyarakatan A. Gerakan 3A Gerakan 3A (Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia, Nippon cahaya Asia) didirikan tanggal 29 April 1942, , tepat dengan Hari Nasional Jepang yakni kelahiran (Tencosetsu) Kaisar Hirohito. Gerakan ini dipelopori oleh Kepala Departemen Propaganda (Sendenbu) Jepang, Hitoshi Shimizu. Hitoshi Shimizu menunjuk tokoh pergerakan nasional, Mr Syamsudin (Raden Sjamsoeddin) sebagai Ketua. Gerakan ini meliputi berbagai bidang pendidikan dengan sasaran untuk menampung pemuda-pemuda dalam jumlah besar. Pendidikan ini berupa kursus kilat, setengah bulan, bagi remaja berusia 14-18 tahun. Cara pendidikannya cukup unik. Peserta harus bangun pagi-pagi buta, kemudian berolah raga, masak di dapur, mengurus kebun, dan menyapu. Memasuki siang hari, mereka berlatih olah raga Jepang seperti sumo, jiu jitsu, adu perang, dan sebagainya. Mereka dilatuh untuk disiplin, sopan, dan tertib dalam pekerjaan. Malam harinya, mereka dilatih bahasa Jepang. Ada juga subseksi Islam yang disebut Persiapan Persatuan Umat Islam. Subseksi Islam dipimpin oleh tokoh pergerakan Abikusno Cokrosuyoso. Gerakan Tiga A (3A) tidak bertahan lama. Ini dikarenakan rakyat kurang bersimpati. Gerakan ini terlalu menonjolkan Jepang dan bukan gerakan kebangsaan. Bagi golongan intelektual yang bergerak dalam politik Tiga A (3A), gerakan ini juga dianggap kurang menarik karena tidak ada manfaat dalam perjuangan mencapai cita-cita kemerdekaan. Maka pada akhir 1942, Gerakan Tiga A (3A) dibubarkan.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 14 B. PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) Sebagai ganti Gerakan Tiga A yang dibubarkan karena tidak efektif, Jepang memprakarsai Pusat Tenaga Rakyat atau Putera. Putera dipimpin oleh tokoh nasional yang kerap dijuluki Empat Serangkai. Empat Dengan restu Jepang, Putera pun didirikan pada 16 April 1943. Tujuan Putera adalah membangun dan menghidupkan kembali hal-hal yang dihancurkan Belanda. Menurut Jepang, Putera bertugas untuk memusatkan segala potensi rakyat guna membantu Jepang dalam perang. Selain tugas propaganda, Putera juga bertugas memperbaiki bidang sosial ekonomi. menurut struktur organisasinya, Putera memiliki pimpinan pusat dan pimpinan daerah. Pimpinan pusat dikenal sebagai Empat Serangkai (Soekarno, Moh. Hatta, K.H Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara). Kemudian pimpinan daerah dibagai sesuai dengan tingkat daerah, yakni tingkat syu, ken, dan gun. Putera juga memiliki penasehat yang berasal dari orang-orang Jepang, yaitu S. Miyoshi, G. Taniguci, Iciro Yamasaki, dan Akiyama. Gerakan ini tidak dibiayai pemerintah Jepang. Walaupun demikian, para pemimpin bangsa diperbolehkan untuk menggunakan fasilitas Jepang seperti koran dan radio. Dengan cara ini, para pemimpin dapat berkomunikasi secara leluasa kepada rakyat. Pada akhirnya, gerakan ini ternyata berhasil mempersiapkan mental masyarakat untuk menyambut kemerdekaan dua tahun kemudian. Jepang menyadari Putera lebih banyak menguntungkan bagi pergerakan Nasional dibanding kepentingan Jepang sendiri. Maka pada 1944, Jepang membubarkan Putera. C. MIAI (MAJELIS ISLAM A’LA INDONESIA) DAN MASYUMI (MAJELIS SYURO MUSLIMIN) Sebuah organisasi Islam MIAI yang cukup berpengaruh pada masa pemerintah kolonial Belanda, mulai dihidupkan kembali oleh pemerintah pendudukan Jepang. Pada tanggal 4 September 1942 MIAI diizinkan aktif kembali. Dengan demikian, MIAI diharapkan segera dapat digerakkan sehingga umat Islam di Indonesia dapat dimobilisasi untuk keperluan perang. Dengan diaktifkannya kembali MIAI, maka MIAI menjadi organisasi pergerakan yang cukup penting di zaman pendudukan Jepang. MIAI menjadi tempat bersilaturakhim, menjadi wadah tempat berdialog, dan bermusyawarah untuk membahas berbagai hal yang menyangkut kehidupan umat. Adapun tugas dan tujuan MIAI waktu itu adalah sebagai berikut : 1) Menempatkan umat Islam pada kedudukan yang layak dalam masyarakat Indonesia. 2) Mengharmoniskan Islam dengan tuntutan perkembangan zaman. 3) Ikut membantu Jepang dalam Perang Asia Timur Raya. Untuk merealisasikan tujuan dan melaksanakan tugas itu, MIAI membuat program yang lebih menitikberatkan pada program-program yang bersifatsosio-religius. Secara khusus program-program itu akan diwujudkan melalui rencana sebagai berikut: a) pembangunan masjid Agung di Jakarta, b) mendirikan universitas, dan
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 15 c) membentuk baitulmal . Dari ketiga program ini yang mendapatkan lampu hijau dari Jepang hanya program yang ketiga. MIAI terus mengembangkan diri di tengah-tengah ketidakcocokan dengan kebijakan dasar Jepang. MIAI menjadi tempat pertukaran pikiran dan pembangunan kesadaran umat agar tidak terjebak pada perangkap kebijakan Jepang yang sematamata untuk memenangkan perang Asia Timur Raya. November 1943 MIAI dibubarkan. Sebagai penggantinya, Jepang membentuk Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia). Harapan dari pembentukan majelis ini adalah agar Jepang dapat mengumpulkan dana dan dapat menggerakkan umat Islam untuk menopang kegiatan perang Asia Timur Raya. Ketua Masyumi ini adalah Hasyim Asy’ari dan wakil ketuanya dijabat oleh Mas Mansur dan Wahid Hasyim. Orang yang diangkat menjadi penasihat dalam organisasi ini adalah Ki Bagus Hadikusumo dan Abdul Wahab. Masyumi sebagai induk organisasi Islam, anggotanya sebagian besar dari para ulama. Dengan kata lain, para ulama dilibatkan dalam kegiatan pergerakan politik. Masyumi cepat berkembang, di setiap karesidenan ada cabang Masyumi. Oleh karena itu, Masyumi berhasil meningkatkan hasil bumi dan pengumpulan dana. Dalam perkembangannya, tampil tokoh-tokoh muda di dalam Masyumi antara lain Moh. Natsir, Harsono Cokroaminoto, dan Prawoto Mangunsasmito. Perkembangan ini telah membawa Masyumi semakin maju dan warna politiknya semakin jelas. Masyumi berkembang menjadi wadah untuk bertukar pikiran antara tokoh-tokoh Islam dan sekaligus menjadi tempat penampungan keluh kesah rakyat. Masyumi menjadi organisasi massa yang pro rakyat, sehingga menentang keras adanya romusha. Masyumi menolak perintah Jepang dalam pembentukannya sebagai penggerak romusha. Dengan demikian Masyumi telah menjadi organisasi pejuang yang membela rakyat. Sikap tegas dan berani di kalangan tokoh-tokoh Islam itu akhirnya dihargai Jepang. Sebagai contoh, pada suatu pertemuan di Bandung, ketika pembesar Jepang memasuki ruangan, kemudian diadakan acara seikerei (sikap menghormati Tenno Heika dengan membungkukkan badan sampai 90 derajat ke arah Tokyo) ternyata ada tokoh yang tidak mau melakukan seikerei, yakni Abdul Karim Amrullah (ayah Hamka). Akibatnya, muncul ketegangan dalam acara itu. Namun, setelah tokoh Islam itu menyatakan bahwa seikerei bertentangan dengan Islam, sebab sikapnya seperti orang Islam rukuk waktu sholat. Menurut orang Islam rukuk hanya semata-mata kepada Tuhan dan menghadap ke kiblat. Dari alasan itu, akhirnya orangorang Islam diberi kebebasan untuk tidak melakukan seikerei D. Jawa Hokokai Tahun 1944, situasi Perang Asia Timur Raya mulai berbalik, tentara Sekutu dapat mengalahkan tentara Jepang di berbagai tempat. Hal ini menyebabkan kedudukan Jepang di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Panglima Tentara ke-16, Jenderal Kumaikici Harada membentuk organisasi baru yang diberi nama Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa). Untuk menghadapi situasi perang tersebut, Jepang membutuhkan persatuan dan semangat segenap rakyat baik lahir maupun batin.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 16 Rakyat diharapkan memberikan darma baktinya terhadap pemerintah demi kemenangan perang. Kebaktian yang dimaksud memuat tiga hal, yaitu: 1) mengorbankan diri, 2) mempertebal persaudaraan, dan 3) melaksanakan suatu tindakan dengan bukti. Susunan dan kepemimpinan organisasi Jawa Hokokai berbeda dengan Putera. Jawa Hokokai benar-benar organisasi resmi pemerintah. Oleh karena itu, pimpinan pusat Jawa Hokokai sampai pimpinan daerahnya langsung dipegang oleh orang Jepang. Pimpinan pusat dipegang oleh Gunseikan, sedangkan penasihatnya adalah Ir. Sukarno dan Hasyim Asy’ari. Di tingkat daerah (syu/shu) dipimpin oleh Syucokan/Shucokan dan seterusnya sampai daerah ku (desa) oleh Kuco (kepala desa/lurah), bahkan sampai gumi di bawah pimpinan Gumico. Dengan demikian, Jawa Hokokai memiliki alat organisasi sampai ke desa-desa, dukuh, bahkan sampai tingkat rukun tetangga (Gumi atau Tonarigumi). Tonarigumi dibentuk untuk mengorganisasikan seluruh penduduk dalam kelompok-kelompok yang terdiri atas 10-20 keluarga. Para kepala desa dan kepala dukuh serta ketua RT bertanggung jawab atas kelompok masing-masing. Adapun program-program kegiatan Jawa Hokokai sebagai berikut: 1) melaksanakan segala tindakan dengan nyata dan ikhlas demi pemerintah Jepang 2) memimpin rakyat untuk mengembangkan tenaganya berdasarkan 3) semangat persaudaraan, dan 4) memperkokoh pembelaan tanah air Jawa Hokokai adalah organisasi pusat yang anggota-anggotanya terdiri atas bermacam-macam hokokai (himpunan kebaktian) sesuai dengan bidang profesinya. Misalnya Kyoiku Hokokai (kebaktian para pendidik guru-guru) dan Isi Hokokai (wadah kebaktian para dokter). Jawa Hokokai juga mempunyai anggota istimewa, seperti Fujinkai (organisasi wanita), dan Keimin Bunka. 2. Organisasi Semi Militer A. Seinendan Seinendan (Korps Pemuda) adalah organisasi para pemuda yang berusia 14- 22 tahun. Pada awalnya, anggota Seinendan 3.500 orang pemuda dari seluruh Jawa. Tujuan dibentuknya Seinendan adalah untuk mendidik dan melatih para pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri. Bagi Jepang, untuk mendapatkan tenaga cadangan guna memperkuat usaha mencapai kemenangan dalam perang Asia Timur Raya, perlu diadakannya pengerahan kekuatan pemuda. Oleh karena itu, Jepang melatih para pemuda atau para remaja melalui organisasi Seinendan. Dalam hal ini Seinendan difungsikan sebagai barisan cadangan yang mengamankan garis belakang. Pengkoordinasian kegiatan Seinendan ini diserahkan kepada penguasa setempat. Misalnya di daerah tingkat syu, ketuanya syucokan sendiri. Begitu juga di daerah ken, ketuanya kenco sendiri dan seterusnya.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 17 B. Keibodan Organisasi Keibodan (Korps Kewaspadaan) merupakan organisasi semimiliter yang anggotanya para pemuda yang berusia antara 25-35 tahun. Ketentuan utama untuk dapat masuk Keibodan adalah mereka yang berbadan sehat dan berkelakuan baik. Apabila dilihat dari usianya, para anggota Keibodan sudah lebih matang dan siap untuk membantu Jepang dalam keamanan dan ketertiban. Pembentukan Keibodan ini memang dimaksudkan untuk membantu tugas polisi, misalnya menjaga lalu lintas dan pengamanan desa. Untuk itu anggota Keibodan juga dilatih kemiliteran. Pembina keibodan adalah Departemen Kepolisian (Keimubu) dan di daerah syu (shu) dibina oleh Bagian Kepolisian (Keisatsubu). Di kalangan orang-orang Cina juga dibentuk Keibodan yang dinamakan Kakyo Keibotai. Untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan keibodan maka Jepang mengadakan program latihan khusus untuk para kader. Latihan khusus tersebut diselenggarakan di sekolah Kepolisian di Sukabumi. Jangka waktu latihan tersebut selama satu bulan. Mereka dibina secara khusus dan diawasi secara langsung oleh para polisi Jepang. Mereka tidak boleh terpengaruh oleh kaum nasionalis. Organisasi Seinendan dan Keibodan dibentuk di daerah daerah seluruh Indonesia, meskipun namanya berbeda-beda. Misalnya di Sumatra disebut Bogodan dan di Kalimantan disebut Borneo Konan Kokokudan. Jumlah anggota Seinendan diperkirakan mencapai dua juta orang dan keibodan mencapai sekitar satu juta anggota C. Barisan Pelopor Pada tanggal 1 November 1944, Jepang membentuk organisasi baru yang dinamakan “Barisan Pelopor”. Melalui organisasi ini diharapkan adanya kesadaran rakyat untuk berkembang, sehingga siap untuk membantu Jepang dalam mempertahankan Indonesia.Organisasi semimiliter “Barisan Pelopor” ini tergolong unik karena pemimpinnya adalah seorang nasionalis, yakni Ir. Soekarno, yang dibantu oleh R.P. Suroso, Otto Iskandardinata, dan Buntaran Martoatmojo. Organisasi “Barisan Pelopor” berkembang di daerah perkotaan. Organisasi ini mengadakan pelatihan militer bagi para pemuda, meskipun hanya menggunakan peralatan yang sederhana, seperti senapan kayu dan bambu runcing. Di samping itu, mereka juga dilatih bagaimana menggerakkan massa, memperkuat pertahanan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat. Keanggotaan dari Barisan Pelopor ini mencakup seluruh pemuda, baik yang terpelajar maupun yang berpendidikan rendah, atau bahkan tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Keanggotaan yang heterogen ini justru diharapkan menimbulkan semangat solidaritas yang tinggi, sehingga timbul ikatan emosional dan semangat kebangsaan yang tinggi. C. Hisbullah Pada tanggal 15 Desember 1944 berdiri pasukan sukarelawan pemuda Islam yang dinamakan Hizbullah (Tentara Allah) yang dalam istilah Jepangnya disebut Kaikyo Seinen Teishinti. Tugas pokok Hizbullah adalah sebagai berikut: 1. Sebagai tentara cadangan dengan tugas: a. melatih diri jasmani maupun rohani dengan segiat-giat nya,
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 18 b. membantu tentara Dai Nippon c. menjaga bahaya udara dan mengintai mata-mata musuh, dan d. menggiatkan dan menguatkan usaha-usaha untuk kepen tingan perang. 2. Sebagai pemuda Islam, dengan tugas: a. menyiarkan agama Islam, b. memimpin umat Islam agar taat menjalankan agama, dan c. membela agama dan umat Islam Indonesia. Untuk mengoordinasikan program dan kegiatan Hizbullah, maka dibentuk pengurus pusat Hizbullah. Ketua pengurus pusat Hizbullah adalah KH. Zainul Arifin, dan wakilnya adalah Moh. Roem. Anggota pengurusnya antara lain, Prawoto Mangunsasmito, Kiai Zarkasi, dan Anwar Cokroaminoto. Setelah itu, dibuka pendaftaran untuk anggota Hizbullah. Pada tahap pertama pendaftaran melalui Syumubu (kantor Agama). Setiap keresidenan diminta mengirim 25 orang pemuda Islam, rata-rata mereka para pemuda berusia 17- 25 tahun. Berdasarkan usaha tersebut, terkumpul 500 orang pemuda. Para anggota Hizbullah ini kemudian dilatih secara kemiliteran dan dipusatkan di Cibarusa, Bogor, Jawa Barat. Pada tanggal 28 Februari 1945, latihan secara resmi dibuka oleh pimpinan tentara Jepang. Pembukaan latihan ini dihadiri oleh pengurus Masyumi, seperti K.H. Hasyim Asyari, K.H. Wahid Hasyim, dan Moh. Natsir. Dalam pidato pembukaannya, pimpinan tentara Jepang menegaskan bahwa para pemuda Islam dilatih agar menjadi kader dan pemimpin barisan Hizbullah. Tujuannya adalah agar para pemuda dapat mengatasi kesukaran perang dengan hati tabah dan iman yang teguh. Para pelatihnya berasal dari komandan-komandan Peta dan di bawah pengawasan perwira Jepang, Kapten Yanagawa Moichiro (pemeluk Islam, yang kemudian menikah dengan seorang putri dari Tasik). 3. Organisasi Militer A. HEIHO Heiho (Pasukan Pembantu) adalah prajurit Indonesia yang langsung ditempatkan di dalam organisasi militer Jepang, baik Angkatan Darat maupun Angkatan Laut. Syarat-syarat untuk menjadi tentara Heiho antara lain: 1) umur 18- 25 tahun 1) berbadan sehat 2) berkelakuan baik, dan 3) berpendidikan minimal sekolah dasar. Tujuan pembentukan Heiho adalah membantu tentara Jepang. Kegiatannya antara lain, membangun kubu-kubu pertahanan, menjaga kamp tahanan, dan membantu perang tentara Jepang di medan perang. Sebagai contoh, banyak anggota Heiho yang ikut perang melawan tentara Amerika Serikat di Kalimantan, Irian, bahkan ada yang sampai ke Birma. Organisasi Heiho lebih terlatih di dalam bidang militer dibanding dengan organisasi-organisasi lain. Kesatuan Heiho merupakan bagian integral dari pasukan Jepang. Mereka sudah dibagi-bagi menurut kompi dan dimasukkan ke kesatuan Heiho menurut daerahnya, di Jawa menjadi bagian Tentara ke16 dan di Sumatera menjadi bagian Tentara ke-25. Selain itu, juga sudah terbagai menjadi Heiho bagian angkatan darat, angkatan laut, dan juga bagian Kempeitei (kepolisian). Dalam Heiho, telah ada pembagian tugas, misalnya bagian pemegang senjata antipesawat, tank, artileri, dan pengemudi.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 19 2. PETA Peta adalah organisasi militer yang pemimpinnya bangsa Indonesia yang mendapatkan latihan kemiliteran. Mula-mula yang ditugasi untuk melatih anggota Peta adalah seksi khusus dari bagian intelijen yang disebut Tokubetsu Han. Bahkan sebelum ada perintah pembentukan Peta, bagian Tokuhetsu Han sudah melatih para pemuda Indonesia untuk tugas intelijen. Latihan tugas intelijen dipimpin oleh Yanagawa. Latihan tugas itu kemudian berkembang secara sistematis dan terprogram. Penyelenggaraannya berada di dalam Seinen Dojo (Panti Latihan Pemuda) yang terletak di Tangerang. Mula-mula anggota yang dilatih hanya 40 orang dari seluruh Jawa, dan semakin hari jumlahnya semakin bertambah. Pada akhir latihan angkatan ke-2 di Seinen Dojo, keluar perintah dari Panglima tentara Jepang Letnan Jenderal Kumaikici Harada untuk membentuk Tentara “Pembela Tanah Air”(PETA). Berkaitan dengan itu, Gatot Mangkuprojo diminta untuk mengajukan rencana pembentukan organisasi Tentara Pembela Tanah Air. Akhirnya, pada tanggal 3 Oktober 1943 secara resmi berdirilah Peta. Berdirinya Peta ini berdasarkan peraturan dari pemerintah Jepang yang disebut Osamu Seinendan, nomor 44. Berdirinya Peta ternyata mendapat sambutan hangat di kalangan pemuda. Banyak di antara para pemuda yang tergabung dalam Seinendan mendaftarkan diri menjadi anggota Peta. Anggota Peta yang bergabung berasal dari berbagai golongan di dalam masyarakat. Peta sudah mengenal adanya jenjang kepangkatan dalam organisasi, misalnya daidanco (komandan batalion), cudanco (komandan kompi), shodanco (komandan peleton), bundanco (komandan regu), dan giyuhei (prajurit sukarela). Pada umumnya, para perwira yang menjadi komandan batalion atau daidanco dipilih dari kalangan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang terkemuka, misalnya pegawai pemerintah, pemimpin agama, politikus, dan penegak hukum. Untuk cudanco dipilih dari mereka yang sudah bekerja, tetapi pangkatnya masih rendah, misalnya guru-guru sekolah. Shodanco dipilih dari kalangan pelajar sekolah lanjutan. Adapun budanco dan giyuhei dipilih dari para pemuda tingkat sekolah dasar. Untuk mencapai tingkat perwira Peta, para anggota harus mengikuti pendidikan khusus. Peta sangat berbeda berbeda dengan Heiho. Peta dimaksudkan sebagai pasukan gerilya yang membantu melawan apabila sewaktu-waktu terjadi serangan dari pihak musuh. Jelasnya, Peta bertugas membela dan mempertahankan tanah air Indonesia dari serangan Sekutu. Sampai akhir pendudukan Jepang, anggota Peta ada sekitar 37.000 orang di Jawa dan sekitar 20.000 orang di Sumatra. Orang-orang Peta inilah yang akan banyak berperan di bidang ketentaraan di masa-masa berikutnya. Beberapa tokoh terkenal di dalam Peta, antara lain Supriyadi dan Sudirman.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 20 STRATEGI PERGERAKAN MASA PENDUDUKAN JEPANG 1. KOOPERATIF Masa Pemerintahan Militer Jepang di Indonesia merupakan satu periode yang menentukan dalam sejarah Indonesia. Meskipun merupakan pengalaman berat dan pahit bagi kebanyakan orang Indonesia, tetapi ini merupakan suatu masa peralihan, di mana dalam beberapa hal gerakan nasionalis mendapat kemajuan. Pergerakan nasional Indonesia sebagai keseluruhan telah mengambil sikap yang sedikit banyak kooperatif di bawah pimpinan Soekarno-Hatta Pergerakan nasional Indonesia sebagai keseluruhan telah mengambil sikap yang sedikit banyak kooperatif di bawah pimpinan tokoh senior pada waktu itu, yaitu Soekarno dan Moh. Hatta. Hal ini sangat menarik karena kedua tokoh senior tersebut selama ini terkenal sebagai non-kooperator yang gigih selama pemerintahan kolonial Belanda. Selain propagandanya yang menarik, sikap Pemerintahan Militer Jepang pada mulanya menunjukkan kelunakan karena berbagai kepentingan. Tetapi hal ini tidak lama, karena Jendral Imamura sebagai penguasa tertinggi (Gunsireikan kemudian Seiko Sikikan) Pemerintahan Militer Jepang di Jawa mulai mengubah politik lunaknya dengan mengeluarkan maklumatnya tertanggal 20 Maret 1942 yang berisi tentang larangan terhadap segala macam pembicaraan, pergerakan dan anjuran atau propaganda dan juga pengibaran sang Saka Merah Putih serta menyanyikan Lagu Indonesia Raya yang sudah diijinkan sebelumnya (Mudjanto, 1992). Dengan demikian praktis semua kegiatan politik dilarang. Dan tidak hanya berhenti disitu, pemerintah Jepang kemudian secara resmi membubarkan semua perkumpulan organisasi politik yang ada dan pihak Jepang mulai membentuk organisasi-organisasi baru untuk kepentingan mobilisasi rakyat. Para pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia tidak saja percaya terhadap janji-janji Jepang dengan semboyan Tiga A-nya. Mereka sangat hati hati dalam menghadapi penjajah baru itu. Akan tetapi bangsa Indonesia tidak begitu saja dapat mengusir penjajah Jepang sebab kondisinya masih lemah. Sukarno-Hatta misalnya menyadari bahwa jalan yang dapat ditempuh adalah dengan kerja-sama. Kerja sama itu hanyalah sebuah alat untuk mempercepat proses kemerdekaan Indonesia yang telah lama diperjuangkan.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 21 2. NON KOOPERATIF Disamping golongan yang mau bekerja sama dengan pemerintah, ada beberapa kelompok pejuang untuk mencapai kemerdekaan pada masa pendudukan Jepang. Kelompok-kelompok pejuang tersebut yaitu: A. Kelompok Syahrir. Golongan ini adalah pendukung demokrasi Parlementer model Eropa barat. Golongan ini memiliki pengikut kaum pelajar di pelbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Cirebon, garut, Semarang, dsb. Syahrir menentang Jepang karena merupakan negara Fasis. Mereka berjuang dengan cara sembunyisembunyi atau dengan strategi gerakan "bawah tanah". B. Kelompok Amir Syarifudin. Kelompok ini juga anti Fasis dengan menolak sama sekali kerja sama dengan Jepang. Ia sangat keras dalam mengkritik Jepang sehingga ia ditangkap pada tahun 1943 dan dijatuhi hukuman mati tahun 1944. Atas bantuan Sukarno, hukumannya diubah menjadi hukuman seumur hidup. Setelah Jepang menyerak dan Indonesia merdeka tahun 1945, ia bebas dari hukuman C. Golongan Persatuan Mahasiswa. Golongan ini sebagian besar berasal dari kedokteran di jakarta. Pengikutnya antara lain: J. Kunto, Supeno, Subandrio. Kelompok ini juga anti Jepang dan bekerja sama dengan golongan Syahrir. D. Kelompok Sukarni. Yang termasuk golongan ini adalah: Adam malik, pandu Wiguna, Chaerul Saleh, Maruto Nitimihardjo, dsb. Kelompok inisangat besar peranannya di sekitar proklamasi kemerdekaan. E. Golongan Kaigun. Anggotanya bekerja pada Angkatan laut Jepang. Akan tetapi secara terus-menerus menggalang dan membina kemerdekaan. Mereka memiliki hubungan dekat dengan tokoh-tokoh Angkatan laut Jepang yang simpati terhadap kemerdekaan Indonesia. Termasuk dalam kelompok ini adalah; Mr. Akhmad Subardjo, Mr. Maramis, Dr. Samsi, Dr. Buntaran Martoatmodjo. Kelompok Kaigun ini mendirikan asrama Indonesia Merdeka. Ketuanya Wikana, sedangkan para pengajarnya antara lain: Ir. Sukarno, Drs. Muh. Hatta, dan Sutan Syahrir. Kelompok ini juga bekerjasama dengan kelompok bawah tanah yang lain. Hanya saja dengan cara yang hati-hati untuk menghindari kecurigaan Jepang. F F. Pemuda Menteng. Kelompok ini bermarkas di gedung Menteng 31 Jakarta. Mereka kebanyakan pengikut tan Malaka dari partai Murba. Tokoh terkemuka dari kelompok ini adalah: Adam malik, Chairul Saleh, dan Wikana.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 22 C. RANGKUMAN D. LATIHAN E. TES FORMATIF 2 PILIHLAH JAWABAN YANG PALING BENAR! 1. Tujuan utama pemerintah pendudukan Jepang membentuk PETA adalah .... A. mempersiapkan bangsa Indonesia sebagai bangsa merdeka B. mendapatkan bantuan dalam menghadapi perang pasifik C. mempertahankan Indonesia dari ancaman bangsa barat D. memberikan kesempatan rakyat Indonesia membela negara E. memberikan pendidikan militer kepada rakyat Indonesia 1. Pemerintah Pendudukan Jepang di Indonesia membentuk banyak Organisasi atau perkumpulan dari yang bersifat sosial kemasyarakatan, semi militer dan militer untuk mendukung pemerintah Jepang 2. Strategi dalam menghadapi pemerintah pendudukan Jepang berbeda-beda. Ada yang mau bekerja sama (kooperatif) sambil berjuang untuk kemerdekaan, tetapi ada yang menolak kerjasama (non kooperatif) Kerjakan latihan berikut! 1. Mengapa Gerakan 3A pada akhirnya dibubarkan oleh Jepang? 2. Jelaskan perbedaan MIAI dan Masyumi! 3. Berikan pendapatmu tentang organisasi pergerakan di Indonesia pada masa Jepang! Ada dua model strategi, yaitu strategi yang bersifat kooperatif dengan Jepang dan yang bersifat nonkooperatif atau gerakan bawah tanah. Jelaskan secara kritis! 4. Bagaimana pandangan dan penilaianmu tentang sikap tokohtokoh bangsa Indonesia yang mau duduk sebagai pengurus dan anggota dari berbagai organisasi pergerakan yang dibentuk Jepang? Apakah luntur semangat nasionalismenya? Jelaskan!
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 23 2. Tujuan pokok pembentukan Jawa Hokokai pada tahun 1944 pada masa pendudukan Jepang adalah... A. Membentuk kekuatan militer di kalangan masyarakat Jawa, persiapan Indonesia merdeka B. membentuk pasukan berani mati di Jawa, untuk kepentingan pemerintahan Indonesia C. Menggalang dukungan rakyat untuk berbakti dan rela berkorban demi perang Jepang D. Menggalang dukungan untuk mewujudkandan mendukung perjuangan Gerakan Tiga A E. Mendukung kepentingan ekonomi Jepang melalui pembentukan organisasi 3. Guna mendapat dukungan rakyat Indonesia, Jepang membentuk gerakan 3A. Dalam organisasi 3A ada pemimpin dari pihak Indonesia yaitu .... A. Ir. Soekarno B. Mr. Syamsudin C. Mr. Soepomo D. Drs. Moh. Hatta E. Mr. Moh. Yamin 4. Kedatangan Jepang di Indonesia pada dasarnya mendapat tanggapan yang berbeda dari para tokoh nasional Indonesia. Ada yang menanggapinya secara baik dan ada yang bersikap hati-hati. Salah satu penyebab tokoh nasional Indonesia bersikap hati-hati terhadap kedatangan Jepang adalah.... A. Jepang berusaha untuk menerapkan kolonialisme dan imperialisme di Indonesa B. Kegiatan ekspansi Jepang membawa unsur fasisme C. Masih adanya trauma akibat kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan oleh Belanda D. Kedatangan Jepang telah membicarakan kemerdekaan Indonesia E. Kepercayaan terhadap ramalan Jayabaya 5. Salah satu bentuk perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan pendudukan Jepang adalah melalui perjuangan bawah tanah. Umumnya perjuangan bawah tanah dilakukan oleh bangsa Indonesia yang bekerja instansi pemerintah Jepang. Berikut adalah kegiatan yang dilakukan oleh para tokoh gerakan bawah tanah secara sembunyi-sembunyi, kecuali.... A. Menjalin komunikasi untuk memelihara semangat nasionalisme B. Berusaha menyusun rencana untuk menyerang Jepang secara frontal C. menyiapkan kekuatan yang diperlukan untuk meyambut kemerdekaan Indonesia D. Mempropagandakan semangat dan kesiapan untuk merdeka di kalangan rakyat E. Memantau perkembangan Perang Asia Timur Raya melalui radio luar negeri
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 24 6. Strategi perjuangan yang dilaksanakan oleh para tokoh pergerakan nasional selama masa pendudukan Jepang adalah …. A. Legal B. Illegal C. Kooperatif D. Non Kooperatif E. Revolusioner 7. Perhatikan data informasi berikut! 1. Seinendan 2. Keibodan 3. fujinkai 4. Heiho 5. PETA Manakah yang termasuk ke dalam organisasi semi-militer bentukan pemerintah Jepang di Indonesia... A. 1, 2, dan 3 B. 1, 3, dan 4 C. 2, 3, dan 4 D. 2, 3, dan 5 E. 3, 4, dan 5 8. Jepang tidak segan-segan menginterogasi, menangkap, bahkan menghukum matisiapa saja yang dicurigai atau dituduh sebagai mata-mata atau anti-Jepang tanpa proses pengadilan, melalui polisi rahasia yang disebut... A. Kempetai B. Gakukotai C. Heiho D. Seinendan E. Keibodan 9. Shusintai, Seinendan, dan Hizbullah adalah beberapa contoh organisasi semi militer yang dibentuk langsung oleh pemerintah militer Jepang. Tujuan tersembunyi dibalik pembentuknya organisasi semi militer pada masa pendudukan Jepang adalah …. A. Mendidik dan melatih pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah air B. Untuk mendapatkan tentara terdidik dalam mensukseskan peperangan di dalam negeri C. Untuk mendapatkan tentara profesional dalam mensukseskan peperangan di luar negeri D. Untuk mendapatkan tentara cadangan dalam mensukseskan peperangan Jepang E. Mengakomodasi gerakan kaum nasionalis agar tidak terjadi gerakan bawah tanah
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 25 10.Putera dibubarkan Jepang karena … A. Putera ditinggalkan oleh Soekarno B. digunakan sebagai modal perjuangan bangsa Indonesia C. Putera sudah diupakan mayarakat Indonesia D. Jepang sudah membentuk organisasi lain E. Putera melakukan pemberontakan F. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF 2 1 B 6 C 2 C 7 A 3 B 8 A 4 B 9 D 5 B 10 B
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 26 1. Gunseibu: koordinator pemerintahan dengan tugas memulihkan ketertiban dan keamanan atau semacam gubernur pada masa Jepang 2. Gunshirekan: (panglima tentara) yang kemudian disebut dengan Seiko Shikikan (panglima tertinggi) 3. Hakko ichiu: Yang bermakna “Delapan Penjuru Dunia di Bawah Satu Atap” yang dijadikan slogan tentara Jepang untuk mempersatukan berbagai negara di bawah Jepang membentuk kesatuan keluarga umat manusia dengan memajukan dan mempersatukan bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia 4. Heiho: Organisasi militer yang dibentuk Jepang, bertugas pembantu militer, ditempatkan di medan perang menyatu dengan tentara Jepang. 5. Jawa Hokai: Himpunan Kebaktian (Rakyat) Jawa yang dibentuk Jepang. 6. Keibodan: Organisasi pemuda semi militer, tahun 7. Kempetei: Polisi militer Jepang 8. Ken: Kabupaten 9. Kimigayo: Lagu Kebangsaan Jepang 10.Osamu Seirei: Undang-Undang yang dikeluarkan oleh Panglima Tentara Ke16. 11.Romusha: Pekerja paksa pada zaman Jepang 12.Seikerei: Tradisi penghormatan kepada dewa Matahari dengan cara membungkukkan badan (seperti gerakan rukuk bagi orang Islam) ke arah matahari terbit setiap pagi (tradisi ini sangat ditentang oleh orang Islam, karena menyembah pada matahari) 13.Seinendan: Organisasi pemuda semi militer pada usia 14-22 tahun 14.Shi (Syi): Kota praja 15.Shu (Syu): Daerah karesidenan 16.Shihobu: Departemen Kehakiman zaman Jepang 17.Tirani: Bentuk tindakan atau kekuasaan yang sewenang-wenang 18.Tonarigumi: Setingkat rukun tetangga (RT) PENUTUP A. GLOSARIUM
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 27 Poesponegoro, Mawarti Djoned dan Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional V. Jakarta: Balai Pustaka Ricklefs, M.C. 1981. A History Of Modern Indonesia. Terj. Drs. Dharmono Hardjowidjono. 1992. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjahmada University Press. Sardiman, dkk. 2017. Sejarah Indonesia Untuk SMA/MA/SMK/-MAK Kelas XI Semester 2- Edisi Revisi. Jakarta : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Sulistiyowati, Anik. 2020. Pendudukan jepang di Indonesia; Sejarah Indonesia Kelas XI. Jakarta: direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN. Utomo, Cahyo Budi. 2019. Pendalaman Materi Sejarah Indonesia Modul 4: Pendudukan Jepang, Proklamasi, dan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan. Jakarta :Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan https://www.balkopites.com/2020/03/soal-masa-pendudukan-jepang-di indonesia.html http://www.wajibbaca.com/2017/08/pergerakan-kemerdekaan-sampaiproklamasi.html https://www.bing.com/images B. DAFTAR PUSTAKA
Modul 2. Proklamasi Kemerdekaan dan Maknanya bagi Bangsa Indonesia MODUL 2
Daftar Isi i PENDAHULUAN 1 A. Deskripsi 1 B. Prasyarat 2 C. Petunjuk Penggunaan Modul 2 D. Kompetensi 2 KEGIATAN BELAJAR 1 PERISTIWA PROKLAMASI A. Tujuan Pembelajaran 3 B. Uraian Materi 3 C. Rangkuman 8 D. Latihan 8 E. Tes Formatif 1 8 F. Kunci Jawaban Tes Formatif 1 10 KEGIATAN BELAJAR 2 PERAN TOKOH NASIONAL DAN DAERAH A. Tujuan Pembelajaran 11 B. Uraian Materi 11 C. Rangkuman 22 D. Latihan 22 E. Tes Formatif 2 22 F. Kunci Jawaban Formatif 2 25 PENUTUP A. GLOSARIUM 26 B. DAFTAR PUSTAKA 27 DAFTAR ISI
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 1 Semester Genap PENDAHULUAN Gambar 1. Tugu Proklamasi Sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Proclamation_Monument_Jakarta.JPG A. DESKRIPSI Smart Student ketahuilah, proklamasi kemerdekaan sesungguhnya bukanlah suatu tujuan akhir dari perjuangan bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan merupakan alat untuk mencapai tujuan yang lebih jauh, lebih bermakna, lebih luas, yakni terciptanya masyarakat Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Satu hal yang patut kita renungi dan laksanakan adalah bahwa proklamasi kemerdekaan bukan sekadar tujuan yang harus dicapai, bukanlah peristiwa bersejarah yang hanya tertulis dalam catatan, namun harus dipertahankan dan diisi oleh segenap rakyat Indonesia. Maka dari itu mari kita telaah lebih lanjut hakikat kemerdekaan Indonesia dan bagaimana kita harus menjaganya!
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 2 Semester Genap 3.6 Menganalisis peran tokoh-tokoh nasional dan daerah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia 3,7 Menganalisis peristiwa proklamasi kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa Indonesia 4.6 Menulis sejarah tentang satu tokoh nasional dan tokoh dari daerahnya yang berjuang melawan penjajahan 4.7 Menalar peristiwa proklamasi kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa Indonesia dan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah B. PRASYARAT D. KOMPETENSI C. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL Untuk dapat mempelajari materi ini, terlebih dahulu kalian harus menguasi materi yang disajikan sebelumnya, yakni mengenai akhir masa pendudukan Jepang di Indonesia dan masa kekosongan kekuasaan. Dalam materi tersebut disajikan proses berakhirnya kekuasaan pendudukan Jepang di Indonesia dan bagaimana berita kekalahan Jepang terdengan oleh bangsa Indonesia.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 3 Semester Genap A. TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah kalian tuntas mempelajari materi pada modul ini diharapkan kalian mampu berfikir kritis dan kreatif untuk dapat menganalisis peristiwa proklamasi kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa Indonesia. Bersama dengan teman-teman melalui diskusi dan kolaborasi yang maksimal kalian mampu membuat peristiwa proklamasi dalam bentuk cerita sejarah B. URAIAN MATERI PETA KONSEP Penyusunan Teks Proklamasi Pembacaan Teks Proklamasi Makna Pembacaan Proklamasi bagi Kehidupan BangsaIndonesia KEGIATAN BELAJAR Rincia n Materi Materi : Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Kekalahan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya Perbedaan Pendapat Golongan Mudadan Tua Peristiwa Rengasdengklo k Penyebaran Berita Proklamasi KEGIATAN BELAJAR 1 PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 4 Semester Genap Coba perhatikan gambar di atas dengan seksama! 1. Coba ajukan beberapa pertanyaan, terkait dengan gambar tersebut! 2. Peristiwa apakah yang ada dalam gambar tersebut? 3. Mengapa peristiwa itu terjadi? 4. Bagaimana dampak dari peristiwa tersebut? Kekalahan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya A. Mengamati Lingkungan Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Menyerahnya_Jepang Gambar 1.1 Penandatangan Kekalahan Jepang kepada Sekutu di atas Kapal USS Missouri Gambar di atas terkait dengan peristiwa kekalahan Jepang terhadap sekutu dalam Perang Asia Timur Raya. Ambisi Jepang untuk menguasai wilayah Asia Pasifik harus terkubur rapat-rapat, setelah Jepang menandatangani penyerahan diri kepada Sekutu pada tanggal 2 September 1945, di atas kapal USS Missouri. Penandatangan ini menandakan Jepang mengalami kekalahan dan berakhirnya Perang Dunia II. B. Memahami Teks 1. Perbedaan Pendapat Golongan Tua dan Muda Bom atom yang dijatuhkan oleh Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki sampai jugaa ke telinga para aktivis pergerakan. Pada tanggal 9 Agustus 1945, tiga tokoh Indonesia yaitu, Soekarno, Moh. Hattaa, dan Radjiman Wedyodiningrat terbang ke Dalat, Vietnam menemui Marsekal Terauchi. Sehari setelahnya, tanggal 10 Agustus 1945 tokoh golongan muda Sutan Syahrir mendengar siaran radio BBC (British Broadcasting Corporation) tentang kekalahan Jepang dan kemungkinan akan menyerah kepada Sekutu. Berita kekalahan tersebut dalam waktu singkat,
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 5 Semester Genap menyebar ke kalangan aktivitas pergerakan, baik Golongan Muda dan Golongan Tua. Terlebih pemanggilan ketiga tokoh nasional Indonesia ke Vietnam menambah keyakinan para aktivis pergerakan, bahwa kemerdekaan Indonesia menjadi agenda pembicaraan. Sepulangnya ke Indonesia, Mohammad Hatta bertemu dengan Sutan Syahrir membicarakan terkait Proklamasi Indonesia. Syahrir berpendapat Golongan Tua harus segera cepat memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, tetapi hal ini dibantah oleh Hatta, dikarenakan proklamasi Indonesia akan diserahkan kepada PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang telah dibentuk. Syahrir berpendapat lain, menurutnya kemerdekaan jangan dilakukan melalui PPKI, karena Sekutu akan mengecap kemerdekaan sebagai buatan Jepang, sebaiknya Soekarno sendiri yang menyatakan kemerdekaan di corong radio sebagai pemimpin rakyat. Sekali lagi, pertimbangan dari Soekarno ditolak oleh Golongan Muda. Menurut Golongan Muda kemerdekaan Indonesia harus diraih dengan pengorbanan dan perjuangan rakyat sendiri, bukan campur tangan Jepang. Menunggu persetujuan PPKI, organisasi bentukan Jepang walaupun anggotanya orang Indonesia, sama saja dengan menyetujui kemerdekaan Indonesia merupakan hadiah dari Pemerintah Jepang. Golongan muda juga siap melakukan perlawanan, apabila militer Jepang turut campur tangan dalam proses kemerdekaan Indonesia. 2. Peristiwa Rengasdengklok Peristiwa Rengasdengklok disebabkan karena para pemuda gagalmemaksa golongan tua untuk secepat mungkin memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang. Menurut Golongan Muda jika Soekarno-Hatta masih berada di Jakarta maka kedua tokoh ini akan dipengaruhi dan ditekan oleh Jepang serta menghalanginya untuk memproklamirkan kemerdekaan Malam hari di Tanggal 15 Agustus 1945, sebelum terjadi peristiwa Rengasdengklok, golongan pemuda mengadakan suatu perundingan di ruangan Lembaga Bakteriologi Pegangsaan Timur, yang dipimpin oleh Chaerul Saleh. Keputusan rapat yang menunjukan tuntutan-tuntutan radikal golongan pemuda yang diantaranya menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tak dapat digantunggantungkan pada orang dan kerajaan lain. Segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang harus diputuskan dan sebaliknya diharapkan diadakannya perundingan dengan Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta agar supaya mereka turut menyatakan proklamasi. Keputusan rapat tersebut kemudian disampaikan oleh Wikana dan Darwis jam 22.00 WIB di rumah kediaman Ir. Soekarno, Pegangsaan Timur (Sekarang jalan Proklamasi) 56, Jakarta. Tuntutan Wikana agar proklamasi dinyatakan oleh Ir. Soekarno pada keesokan harinya telah menegangkan suasana karena ia mengatakan bahwa akan terjadi pertumpahan darah jika keinginan mereka tidak dilaksanakan. Mendengarancaman itu, Ir. Soekarno menjadi sangat marah dan melontarkan kata-kata yang bunyinya sebagai berikut: “Inilah leherku, saudara boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepas tanggung jawab saya sebagai ketua PPKI. Karena itu, saya akan tanyakan kepada wakil-wakil PPKI besok”. Suasana hangat itu disaksikan oleh golongan nasionalis angkatan tua lainnya seperti Drs. Moh. Hatta, dr. Buntaran, dr. Samsi, Mr. Achmad Subardjo dan Iwa Kusumasumantri. Nampak adanya perbedaan pendapat, dimana golongan pemuda tetap mendesak agar besok tanggal 16 agustus 1945 dinyatakan proklamasi, sedangkan golongan pemimpin angkatan tua masih menekankan perlunya diadakan rapat
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 6 Semester Genap PPKI terlebih dahulu. Perbedaan pendapat itu telah membawa golongan pemuda kepada tindakan selanjutnya yakni menculik Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke Rengasdengklok. Tindakan itu berdasarkan keputusan rapat terakhir yang diadakan pada jam 24.00 WIB menjelang tanggal 16 agustus 1945 di Cikini 71, Jakarta. Rapat selain dihadiri oleh pemuda-pemuda yang berapat sebelumnya di ruangan Lembaga Bakteriologi, Pegangsaan Timur, Jakarta, Juga dihadiri oleh Sukarni, Jusuf Kunto, dr. Muwardi (barisan pelopor), Shodanco Singgih (Daidan Peta Jakarta Syu). Mereka telah bersepakat untuk melaksanakan keputusan rapat pada waktu itu, yaitu antara lain, menyingkirkan Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke luar kota, dengan tujuan menjauhkan mereka dari segala pengaruh Jepang. Demikianlah pada tanggal 16 agustus 1945 jam 04.00 WIB terjadi peristiwa penculikan Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta untuk dibawa ke luar kota menuju Rengasdengklok 3. Penyusunan Teks Proklamasi Pada malam hari tanggal 16 Agustus 1945, setelah sampai di Jakarta rombongan Soekarno-Hatta diantar oleh Laksamana Maeda ke rumah Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto (Kepala pemerintahan militer Jepang di Indonesia). Namun Ia tidak mau menerimarombongan Soekarno-Hatta. Lantas memerintahkan Mayor Jenderal Otoshi Nishimura (Kepala Departemen Urusan Umum Pemerintahan Militer Jepang) untuk menerima kedatangan Soekarno-Hatta. Nishimura memberi kabar mengejutkan, bahwa Tokyo tidak mengizinkan proklamasi kemerdekaan Indonesia, dikarenakan perjanjian antara Sekutu dan Jepang, yang mengharuskan Jepang menjaga status quo di wilayah jajahan Jepang, salah satunya Indonesia. Tidak puas dengan jawaban Nishimura, rombongan Soekarno-Hatta kembali ke kediaman Laksmana Maeda, di Jalan Imam Bonjol No 1. guna menyiapkan teks proklamasi. Turut bersama rombongan adalah, Achmad Soebarjo, Sukarni, BM Diah, Sudiro, Sayuti Melik. Tanggal 17 Agustus dini hari, di rumah Laksamana Maeda, tepatnya di ruang makan, disusun naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tiga tokoh nasional yang menyusun teks Proklamasi yaitu, Soekarno, Moh. Hatta, dan Achmad Soebarjo. Soekarno yang menulis naskah Proklamasi, sedangkan Moh. Hatta dan Achmad Soebarjo menyumbangkan ide secara lisan. Kalimat pertama merupakan buah pemikiran Achmad Soebarjo, sedangkan kalimat terakhir ide dari Moh. Hatta. Soekarno kemudian meminta persetujuan kepada semua yang hadir. Sukarni mengusulkan teks Proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Usul Sukarni diterima, naskah Proklamasi kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik dengan beberapa perubahanperubahan yang disepakati. Usai penandatanganan, mereka merundingkan lokasi pelaksanaan Proklamasi. Semula disepakati dilaksanakan di Lapangan Ikada Jakarta. Namun khawatir akan memicu bentrokan dengan tentara Jepang, akhirnya disepakati pelaksanaan Proklamasi diselenggarakan di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta (sekarang Jalan Proklamasi No 1) pada pukul 10.00 WIB. 4. Pembacaan Teks Proklamasi Pada pukul 10.00 WIB pembacaan proklamasi dimulai. Sebelum membacakan naskah proklamasi, Soekarno terlebih dahulu menyampaikan pidato pengantar. Setelah pembacaan teks proklamasi selesai, Suhud dan Latief
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI 7 Semester Genap Hendraningrat mengibarkan bendera merah-putih. Pada saat bendera dikibarkan semua yang hadir dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Acara selanjutnya sambutan Walikota Jakarta, Soewiryo dan Barisan Pelopor, dr. Muwardi. 5. Penyebarluasan Berita Proklamasi a. Radio Pada tanggal 17 Agustus 1945, Syahrudin (wartawan kantor berita Domei (sekarang kantor berita Antara)) berhasil menyampaikan salinan teks Proklamasi kepada Waidan B. Palenewen (Kepala Pusat Jawatan Radio (sekarang menjadi RRI)). Waidan B. Palenewen kemudian memerintahkan kepada operator radio yaitu F.Wuz, untuk segera mengudarakan berita kemerdekaan Indonesia. Saat itu, rencananya siaran radio akan dilakukan sebanyak 3 kali berturut-turut. Namun pada saat siaran yang kedua kalinya, tiba-tiba tentara Jepang dengan senjatanya memaksa untuk menghentikan penyiaran berita Proklamasi tersebut. Kepala radio Waidan B. Palenewen memerintahkan kepada F.Wuz untuk tetap menyiarkan berita proklamasi. Peristiwa ini kemudian berdampak dengan disegelnya kantor berita dan radio Domei pada tanggal 20 Agustus 1945. Hebatnya saat itu para pemuda seperti Jusuf Ronodipuro, Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan Suhandar tidak kehabisan akal untuk membuat pemancar radio baru di Menteng 31, dengan kode panggilan DJK 1. Dari sinilah selanjutnya berita Proklamasi kemerdekaan disiarkan. b. Media Cetak Surat kabar yang pertama kali menyebarkan berita tentang Proklamasi adalah Harian Cahaya yang terbit di Bandung dan Harian Suara Asia yang terbit di Surabaya. Tokoh yang berjuang lewat pers dalam menyebarkan berita Proklamasi adalah, Adam Malik, Sayuti Melik, Sutan Syahrir, B. M. Diah. c. Utusan Daerah Berita Proklamasi juga disebaran secara langsung oleh para utusan daerah yang menghadiri sidang PPKI. Berikut para utusan yang menyebarkan berita Proklamasi. 1) Teuku Moh. Hasan dari Sumatera (Aceh) 2) Sam Ratulang dari Sulawesi 3) Ketut Pudja dari Sunda Kecil/Bali 4) A.A. Hamidan dari Kalimantan
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 8 RANGKUMAN C. LATIHAN D. TES FORMATIF 1 PILIHLAH JAWABAN BERIKUT YANG PALING BENAR! 1. Janji kemerdekaan atas wilayah jajahan termasuk Indonesia disampaikan PM Koiso di depan parlemen Jepang pada tanggal 7 September 1944. Keluarnya janji kemerdekaan Jepang bertujuan.... A. menarik simpati rakyat jajahan agar mendukung Jepang B. melakukan dekolonisasi pasca Perang Pasifik C. mencegah jatuhnya wilayah jajahan Jepang ke tangan Sekutu D. mempersiapkan pembentukan pemerintahan bagi Indonesia E. mengakhiri keterlibatan Jepang dalam Perang Pasifik 2. Ketidaktstabilan politik di Jepang menyebabkan Marsekal Terauchi mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh Indonesia di Dalat Vietnam. Pertemuan tersebut membahas.... • Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu danmengakui deklarasi Postdam. • Tanggal 15 Agustus 1945, malam hari golongan muda memaksa Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, paling lambat 16 Agustus 1945. Namun Soekarno-Hatta tetap pada pedirian, Proklamasi kemerdekaan Indonesia melalui PPKI. • Tanggal 16 Agustus 1945, Pukul 04.00 WIB (dini hari), Golongan Muda menculik/mengasingkan Soekarno, Moh. Hatta, Fatmawati beserta Guntur ke Rengadengklok, dengan tujuan menjauhkan dari pengaruh Jepang. Sore hari Achmad Subarjo menjemput mereka di Rengasdengklok. Kerjakan latihan berikut! Berita atas kekalahan Jepang atas Sekutu semula berusaha ditutupi oleh pemerintah Jepang. Namun pada akhirnya, kabar tersebut sampai juga di telinga Golongan Muda. Golongan muda berkeinginan untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Namun keinginan ini terhalang oleh perbedaan pendapat dengan golongan tua. Jelaskan alasan lainnya yang membuat golongan muda menuntut Proklamasi harus dilaksanakan secepat mungkin!
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 9 A. dampak kekalahan Jepang dalam perang pasifik bagi Indonesia B. rencana Jepang untuk mengakhiri pendudukannya di Indonesia C. keikutsertaan rakyat Indonesia untuk membantu Jepang dalam Perang Pasifik D. rencana pemberian kemerdekaan bagi Indonesia E. pembentukan organisasi yang akan mengakomodasi kepentingan pemudaIndonesia 3. Sambil menunggu penyerahan kekuasaan di Indonesia kepada Sekutu, Jepang diwajibkan untuk menjaga status quo yang artinya…. A. Jepang memastikan tidak akan bertahan di Indonesia B. Jepang membiarkan Indonesia dikuasai Belanda C. Jepang wajib menjaga Indonesia dan tidak merubah keadaan D. Sekutu menjamin mengembalikan semua aset Jepang saat tiba diIndonesia E. Jepang berada di bawah status pengawasan PBB 4. Reaksi golongan tua dan golongan muda berbeda ketika mendengar kekalahan Jepang atas Sekutu. Reaksi golongan muda terhadap ketua PPKI setelah mengetahui Jepang meyerah kepada sekutu adalah…. A. menuntut Soekarno-Hatta segera memproklamirkan kemerdekaaanIndonesia B. menghendaki kemerdekaan Indonesia dilaksanakan pada tanggal 17Agustus 1945 C. mendesak Soekarno-Hatta untuk memutuskan ikatan-ikatanya denganJepang D. mendesak Soekarno-Hatta cepat-cepat mengambil alih kekuasaan dariJepang E. menuntut Soekarno-Hatta segera mengusir Jepang dari bumi Indonesia 5. Jaminan yang diberikan oleh Achmad Subarjo kepada pemuda pada saatmenjemput Soekarno-Hatta di Rengasdengklok adalah…. A. akan melaksanakan lobi politik kepada Mayor Jenderal Nishimura agar proklamasi dapat dideklarasikan di Lapangan Ikada B. akan mendapatkan izin dari pemerintah Jepang karena telah adakesepakatan dengan Jenderal Terauchi di Dalat C. menjamin proklamasi akan dibacakan setelah mengantar Soekarnoberobat karena sakit malaria D. menjamin proklamasi akan dilaksanakan selambat-lambatnya tanggal 17 Agustus 1945 E. Tadashi Maeda mau membantu dan memfasilitasi dalam penyusunan teks proklamasi 6. Setelah peristiwa Rengasdengklok, Soekarno-Hatta bertemu dengan Nishimura yang menjabat sebagai kepala Urusan Umum Pemerintahan Jepang di Indonesia. Pertemuan tersebut bertujuan.... A. mendorong pemerintah militer Jepang meringkus gerakan bawah tanah B. meminta masukan Jepang mengenai naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia C. mencegah keterlibatan Jepang dalam proses persiapan kemerdekaan Indonesia D. meminta pasukan keamanan Jepang dalam rapat-rapat PPKI E. menjajaki sikap Jepang terhadap rencana persiapan kemerdekaan Indonesia 7. Informasi yang tidak tepat berikut ini terkait dengan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah…. A. didahului dengan pidato singkat yang disampaikan Soekarno B. lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan spontan C. sebelumnya meminta jaminan keamanan dari pihak Jepang D. bendera dijahit Ibu Fatmawati, tiang bendera terbuat dari batang bamboo
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 10 8. "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia". Makna penggalan pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia bagi bangsa Indonesia adalah.... A. Jepang telah memenuhi janji kemerdekaan kepada masyarakat Indonesia B. Indonesia segera menyusun pemerintahan dan ketatanegaraan yang baru C. Proklamasi kemerdekaan merupakan puncak perjuangan D. Saatnya membangun kehidupan yang lebih modern E. Masyarakat dapat mengambil alih seluruh persenjataan Jepang diIndonesia 9. Setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia, dilanjutkan penyebaran berita Proklamasi agar cepat dan segera diketahui banyak orang. Berikut ini sarana penyebaran berita Proklamasi kemerdekaan yang pertama, yaitu…. A. TVRI B. pamflet dan selembaran kertas C. harian kabar Suara Asia D. radio kantor berita Domei E. RRI 10. Berita Proklamasi menyebar ke berbagai daerah di Indonesi melalui utusan daerah yang menjadi anggota PPKI. Anggota PPKI yang berasal dari daerah Aceh adalah…. A. Gusti Ketut Pudja B. Muhammad Noor C. Sam Ratulangi D. Teuku cik Ditiro . E. Teuku Moh Hasan A. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF 1 1 A 6 E 2 D 7 A 3 C 8 C 4 A 9 E 5 D 10 E
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 11 A. TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah kegiatan pembelajaran ini, kamu diharapkan mampu:berfikir kritis dan kreatif untuk bisa menganalisis peran tokoh-tokoh nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan tetap mengutamakan sikap kerjasama,disiplin, jujur dan tanggung jawab dan menyajikan hasil analisis dalam bentuktulisan dan/atau media lain B. URAIAN MATERI PETA KONSEP KEGIATAN BELAJAR 2 PERAN TOKOH NASIONAL DAN DAERAH DALAM MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN INDONESIA
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 12 PERAN TOKOH NASIONAL DAN DAERAH A. Mengamati Lingkungan Sumber: https://www.google.co.id/search?q=gambar+tokoh+sekitar+proklamasi Kalian bisa bayangkan bagaimana saat terjadinya penjajahan seperti yang pernah kalian tonton dalam beebrapa penayangan film-film dokumenter baik film nasional ataupun film luar negeri yang menggambarkan bagaimana peran tokoh-tokoh nasional dan daerah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, kalian pasti pernah menyaksikan bagaimana peran Soekarno (bung Karno), dan juga Moh.Hatta yang sering dipanggil dengan sebutan Bung Hatta serta tokoh-tokoh indonesia lainnya yang berperan dalam mencapai Indonesia Merdeka. B.Memahami Teks Soekarno Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali. [5] Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu, sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam. Mereka telah Coba amati baik-baik gambar di atas! Gambar tersebut adalah gambar tokoh-tokoh di sekitar peristiwa proklamasi. Menurut kalian, siapa sajakah tokoh dalam gambar tersebut? Dan apakah peran masing-masing tokoh tersebut dalam memperjuangkan kemerdekaan?
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 13 memiliki seorang putri yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno lahir. Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur. Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. Di Mojokerto, ayahnya memasukan Soekarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja. Kemudian pada Juni 1911 Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hogere Burger School (HBS). Pada tahun 1915, Soekarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS di Surabaya, Jawa Timur. Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan bapaknya yang bernama H.O.S. Tjokroaminoto. Tjokroaminoto bahkan memberi tempat tinggal bagi Soekarno di pondokan kediamannya. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso, Darsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918. Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di harian "Oetoesan Hindia" yang dipimpin oleh Tjokroaminoto. Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkapBelkalian pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke Bandung, untuk dijebloskan ke Penjara Banceuy. Pada tahun 1930ia dipindahkan ke Sukamiskin dan di pengadilan Landraad Bandung 18 Desember 1930 ia membacakan pledoinya yang fenomenal Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931. Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakanoleh tokohtokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan. M. Hatta Mohammad Hatta pertama kali mengenyam pendidikan formal di sekolah swasta.Setelah enam bulan, ia pindah ke sekolah rakyat dan sekelas dengan Rafiah, kakaknya. Namun, pelajarannya berhenti pada pertengahan semester kelas tiga. Ia lalu pindah ke ELS di Padang (kini SMA Negeri 1 Padang) sampai tahun 1913,dan melanjutkan ke MULO sampai tahun 1917. Di luar pendidikan formal, ia pernah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya.[11] Selain keluarga, perdagangan memengaruhi perhatian Hatta terhadap perekonomian. Di Padang, ia mengenal pedagang-pedagang yang masuk anggota Serikat Oesaha dan aktif dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara.Kegiatannya ini tetap dilanjutkannya ketika ia bersekolah di Prins Hendrik School. Mohammad Hatta tetap menjadi bendaharadi Jakarta. Pergerakan politik ia mulai sewaktu bersekolah di Belkalian dari 1921- 1932. Ia bersekolah di Handels Hogeschool (kelak sekolah ini disebut EconomischeHogeschool, sekarang menjadi Universitas Erasmus Rotterdam), selama bersekolah di sana, ia
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 14 masuk organisasi sosial Indische Vereeniging yang kemudian menjadi organisasi politik dengan adanya pengaruh Ki Hadjar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, dan Douwes Dekker. Pada tahun 1923, Hatta menjadi bendahara dan mengasuh majalah Hindia Putera yang berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. [16] Pada tahun 1924, organisasi ini berubah nama menjadi Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia; PI). Pada tahun 1926, ia menjadi pimpinan Perhimpunan Indonesia. Sebagai akibatnya, ia terlambat menyelesaikan studi.Di bawah kepemimpinannya, PI mendapatkan perubahan. Perhimpunan ini lebih banyak memperhatikan perkembangan pergerakan di Indonesia dengan memberikan banyak komentar, dan banyak ulasan di media massa di Indonesia. Setahun kemudian, ia seharusnya sudah berhenti dari jabatan ketua, namun ia dipilih kembali hingga tahun 1930. Pada Desember 1926, Semaun dari PKI datang kepada Hatta untuk menawarkan pimpinan pergerakan nasional secara umum kepada PI, selain itu dia dan Semaun membuat suatu perjanjian bernama "Konvensi Semaun-Hatta". Inilah yang dijadikan alasan Pemerintah Belkalian ingin menangkap Hatta. Waktu itu, Hatta belum meyetujui paham komunis. Stalin membatalkan keinginan Semaun, Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta amat gigih bahkan dengan nada sangat marah, menyelamatkan Republik dengan mempertahankan naskah Linggarjati di Sidang Pleno KNIP di Malang yang diselenggarakan pada 25 Februari – 6 Maret 1947 dan hasilnya Persetujuan Linggajati diterima oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sehingga anggota KNIP menjadi agak lunak pada 6 Maret 1947. Pada saat terjadinya Agresi Militer Belkalian I pada 21 Juli 1947, Hatta dapat meloloskan diri dari kepungan Belkalian dan pada saat itu dia masih berada di Pematangsiantar. Dia dengan selamat bersama dengan Gubernur Sumatra Mr. T. Hassan tiba di Bukittinggi. Sebelumnya pada 12 Juli 1947 Bung Hatta mengadakan Kongres Koperasi I di Tasikmalaya yang menetapkan tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi di Indonesia. Kemudian dalam Kongres Koperasi II di Bandung tanggal 12 Juli 1953, Bung Hatta diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Kemudian, Bung Hatta dengan kewibawaannya sebagai Wakil Presiden hendak memperjuangkan sampai berhasil Perjanjian Renville dengan berakibat jatuhnya Kabinet Amir dan digantikan oleh Kabinet Hatta. Pada era Kabinet Hatta yang dibentuk pada 29 Januari 1948, Bung Hatta menjadi Perdana Menteri dan merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan. Achmad Soebarjo Semasa masih menjadi mahasiswa, Soebardjo aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui beberapa organisasi seperti Jong Java dan Persatuan Mahasiswa Indonesia di Belkalian. Pada bulan Februari 1927, ia pun menjadi wakil Indonesia bersama dengan Mohammad Hatta dan para ahli gerakan-gerakan Indonesia pada persidangan antarbangsa "Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Penjajah" yang pertama di Brussels dan kemudiannya di Jerman. Pada persidangan pertama itu juga ada Jawaharlal Nehru dan pemimpin-pemimpin nasionalis yang terkenal dari Asia dan Afrika. [3] Sewaktu kembalinya ke Indonesia, ia aktif menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan kemudian Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada tanggal 16 Agustus 1945 Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, Shudanco Singgih, dan pemuda lain, membawa Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 15 Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Peristiwa ini dinamakan Peristiwa Rengasdengklok. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Achmad Soebardjo melakukan perundingan. Achmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Achmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Achmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan. Bahkan Achmad Soebardjo memberikan jaminan dengan taruhan nyawa bahwa proklamasi kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 selambat-lambatnya pukul 11.30. Dengan adanya jaminan itu, Komkaliann Kompi Peta Rengasdengklok Cudanco Subeno bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Konsep naskah proklamasi disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo di rumah Laksamana Muda Maeda. Setelah selesai dan beragumentasi dengan para pemuda, dinihari 17 Agustus 1945, Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soebardjo dilantik sebagai Menteri Luar Negeri pada Kabinet Presidensial, kabinet Indonesia yang pertama, dan kembali menjabat menjadi Menteri Luar Negeri sekali lagi pada tahun 1951 - 1952. Selain itu, ia juga menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Switzerland antara tahun- tahun 1957 - 1961. Dalam bidang pendidikan, Soebardjo merupakan profesor dalam bidang Sejarah Perlembagaan dan Diplomasi Republik Indonesia di Fakultas Kesusasteraan, Universitas Indonesia. Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo meninggal dunia dalam usia 82 tahun (15Desember 1978) di Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran Baru, akibat flu yang menimbulkan komplikasi. Ia dimakamkan di rumah peristirahatnya di Cipayung, Bogor. Pemerintah mengangkat almarhum sebagai Pahlawan Nasional pada tahun2009. Sutan Syahrir Universitas Amsterdam. Di sana, Syahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh- sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme. Ia akrab dengan Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak dinikahi Syahrir, meski sebentar. (Kelak Syahrir menikah kembali dengan Poppy, kakak tertua dari Soedjatmoko dan Miriam Boediardjo). Dalam tulisan kenangannya, Salomon Tas berkisah perihal Syahrir yang mencari teman-teman radikal, berkelana kian jauh ke kiri, hingga ke kalangan anarkis yang mengharamkan segala hal berbau kapitalisme dengan bertahan hidup secara kolektif – saling berbagi satu sama lain kecuali sikat gigi. Demi lebih mengenal dunia proletar dan organisasi pergerakannya, Syahrir pun bekerja padaSekretariat Federasi Buruh Transportasi Internasional. Selain menceburkan diri dalam sosialisme, Syahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Mohammad Hatta. Di awal 1930, pemerintah Hindia Belkalian kian bengis terhadap organisasi pergerakan nasional, dengan aksi razia dan memenjarakan pemimpin pergerakandi tanah air, yang berbuntut pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh aktivis PNI sendiri. Berita tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis PI di Belkalian. Mereka selalu menyerukan agar pergerakan jangan jadi melempem lantaran pemimpinnya dipenjarakan. Seruan itu mereka sampaikan lewat tulisan. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 16 memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik. Prof Yamin Mohammad Yamin memulai karier sebagai seorang penulis pada dekade 1920- an semasa dunia sastra Indonesia mengalami perkembangan. Karya-karya pertamanya ditulis menggunakan bahasa Melayu dalam jurnal Jong Sumatra, sebuah jurnal berbahasa Belkalian pada tahun 1920. Karya-karya terawalnya masih terikat kepada bentuk-bentuk bahasa Melayu Klasik. Pada tahun 1922, Yamin muncul untuk pertama kali sebagai penyair dengan puisinya, Tanah Air; yang dimaksud tanah airnya yaitu Minangkabau di Sumatra. Tanah Air merupakan himpunan puisi modern Melayu pertama yang pernahditerbitkan. Himpunan Yamin yang kedua, Tumpah Darahku, muncul pada 28 Oktober 1928. Karya ini sangat penting dari segi sejarah, karena pada waktu itulah Yamin dan beberapa orang pejuang kebangsaan memutuskan untuk menghormati satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia yang tunggal. Dramanya, Ken Arok dan Ken Dedes yang berdasarkan sejarah Jawa, muncul juga pada tahun yang sama. Dalam puisinya, Yamin banyak menggunakan bentuk soneta yang dipinjamnya dari literatur Belkalian. Walaupun Yamin melakukan banyak eksperimen bahasa dalam puisipuisinya, ia masih lebih menepati norma-norma klasik Bahasa Melayu, berbanding dengan generasi-generasi penulis yang lebih muda. Ia juga menerbitkan banyak drama, esei, novel sejarah, dan puisi. Ia juga menterjemahkan karya-karya William Shakespeare (drama Julius Caesar) dan Rabindranath Tagore. Karier politik Yamin dimulai ketika ia masih menjadi mahasiswa di Jakarta.Ketika itu ia bergabung dalam organisasi Jong Sumatranen Bond[3] dan menyusun ikrah Sumpah Pemuda yang dibacakan pada Kongres Pemuda II. Dalam ikrar tersebut, ia menetapkan Bahasa Indonesia, yang berasal dari Bahasa Melayu, sebagai bahasa nasional Indonesia. Melalui organisasi Indonesia Muda, Yamin mendesak supaya Bahasa Indonesia dijadikan sebagai alat persatuan. Kemudian setelah kemerdekaan, Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi serta bahasa utama dalam kesusasteraan Indonesia. Pada tahun 1932, Yamin memperoleh gelar sarjana hukum. Ia kemudian bekerja dalam bidang hukum di Jakarta hingga tahun 1942. Pada tahun yang sama, Yamin tercatat sebagai anggota Partindo. Setelah Partindo bubar, bersama Adenan Kapau Gani dan Amir Sjarifoeddin, ia mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Tahun 1939, ia terpilih sebagai anggota Volksraad. Semasa pendudukan Jepang (1942-1945), Yamin bertugas pada Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), sebuah organisasi nasionalis yang disokong oleh pemerintah Jepang. Pada tahun 1945, ia terpilih sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam sidang BPUPKI, Yamin banyak memainkan peran. Ia berpendapat agar hak asasi manusia dimasukkan ke dalam konstitusi negara.[4] Ia juga mengusulkan agar wilayah Indonesia pasca- kemerdekaan, mencakup Sarawak, Sabah, Semenanjung Malaya, Timor Portugis, serta semua wilayah Hindia Belkalian. Soekarno yang juga merupakan anggota BPUPKI menyokong ide Yamin tersebut. Setelah kemerdekaan, Soekarno menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama, dan Yamin dilantik untuk jabatan- jabatan yang penting dalam pemerintahannya. Setelah kemerdekaan, jabatan-jabatan yang pernah dipangku Yamin antara lain anggota DPR sejak tahun 1950, Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran,
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 17 Pendidikan, dan Kebudayaan (1953–1955), Ketua Dewan Perancangan Nasional; dibantu 3 Wakil Ketua, yaitu Ukar Bratakusumah, Soekardi & Sakirman melalui UU No. 80 tahun 1958[5] (1958–1963), Menteri Sosial dan Kebudayaan (1959–1960), Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961–1962) dan Menteri Penerangan (1962–1963). Ki Hajar Dewantara Suwardi berasal dari lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman, putra dari GPH Soerjaningrat, dan cucu dari Pakualam III. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belkalian). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis hkalianl. Tulisan- tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial. Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksipropagkalian untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya. Suwardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belkalian, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Suwardi diajaknya pula. Suwardi Suryaningrat kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa. Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa.berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri hkalianyani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa. Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.
Modul Sejarah Indonesia Kelas XI Semester Genap 18 PERAN TOKOH DAERAH Kondisi Indonesia Zaman Feodal Sumber: Sumber: https://www.kompasiana.com/image 1.Tjut Nyak’ Dien (Aceh) Cut Nyak Dhien adalah pahlawan wanita Indonesia inspiratif dari Aceh yang lahir pada tahun 1848. Dia adalah anak dari keluarga bangsawan yang agamis. Pada tahun 1880 Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar dan dikaruniai seorang anak bernama Cut Gambang. Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar berjuang bersama melawan penjajah Belkalian, namun pada tahun 1899 Teuku Umar gugur ditembak oleh pasukan Belkalian, karena Belkalian merasa dikhianati oleh Teuku Umar dengan berpura-pura memihak Belkalian. Teuku Umar pada awalnya merahasiakan rencana nya untuk menjatuhkan belkalian tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya belkalian mengetahuinya dan membunuhnya. Ketika ayahnya meninggal, Cut Gambang menangis dan ibunya (Cut Nyak Dhien) berkata''sebagai perempuan Aceh tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid'' Namun Cut Nyak Dhien tidak berhenti berjuang meskipun Teuku Umar meninggal ia tetap melanjutkan perjuangan suami nya dengan berjuang sendiri memimpin perang di daerah pedalaman Meulaboh bersama dengan pasukannya. Belkalian selalu berusaha untuk menangkap Cut Nyak Dhien karena merasa bahwa Cut Nyak Dien sangat berpengaruh pada masyarakatnya dalam berperang, namun sayang Belkalian seringkali gagal menangkapnya karena taktik yang dimilikinya. Semakin menua kondisi kesehatan Cut Nyak Dhien semakin memprihatinkan, matanya yang sudah mulai rabun, dan hal ini membuat iba dan akhirnya salah satu anak buahnya yang bernama Pang Laot memberi tahu lokasi Cut Nyak Dhien kepada Belkalian dengan syarat mereka harus merawat Cut Nyak Dhien dengan baik kemudian Belkalian mengasingkan Cut Nyak Dhien di Sumedang dan ia pun meninggal disana pada tahun 1906. 2.Sisinga Mangaraja XII (Tapanuli Sumatera Utara) Sisingamangaraja XII (lahir di Bakara, 18 Februari 1845 – meninggal di Dairi, 17 Juni 1907 pada umur 62 tahun) adalah seorang raja di negeri Toba, Sumatra Utara, pejuang yang berperang melawan Belkalian, kemudian diangkat oleh pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sejak tanggal 9