The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Senandung Cinta Dalam Pesantren_Tuti Yulianingsih,M.Pd

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Tuti Yulianingsih, 2020-10-28 03:17:06

Senandung Cinta Dalam Pesantren_Tuti Yulianingsih,M.Pd

Senandung Cinta Dalam Pesantren_Tuti Yulianingsih,M.Pd

Keywords: cerpen remaja

ANTOLOGI CERPEN

Senandung Cinta Dalam
Pesantren

Tuti Yulianingsih, M.Pd

Penerbit

Senandung Cinta Dalam
Pesantren

Penulis
Copyright © 2015 by Penulis

Diterbitkan oleh:
Penerbit

Alamat penerbit
Penyunting:
Tata letak:
Desain Cover:

Terbit: bulan, tahun
ISBN:

Hak Cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan
bentuk dan cara apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit.
2 | Judul Buku

Kata Pengantar

PUji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah, SWT.
Berkat limpahan karunia-Nya,penulis dapat
menyelesaikan penulisan buku Antologi Cerpen
Remaja. Dalam penyusunan Antologi Cerpen Remaja penulis
telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan
penulis. Namun sebagai manusia biasa, penulis tidak luput dari
kesalahan dan kekhilafan baik dari segi tekhnik penulisan
maupun tata bahasa.

Penulis menyadari tanpa masukan – masukan dari berbagai
pihak tidak mungkin kami bisa menyelesaikan t Antologi Cerpen
Remaja ini. Antologi Cerpen remaja Islami Remaja ini dibuat
sedemikian rupa semata-mata untuk membangkitkan kembali
minat baca siswa/i dan sebagai motivasi dalam berkarya
khususnya karya tulis. Untuk itu penulis hanya bisa
menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang
terlibat, sehingga penulis bisa menyelesaikan antologi cerpen
remaja ini.Demikian semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.

Cilegon,28 November 2020

Penulis

Judul Buku | 3

Daftar Isi

Kata Pengantar .............................................................................3
Daftar Isi ......................................................................................4
Judul Bab .....................................................................................5
Tentang Penulis ..........................................................................19

4 | Judul Buku

Senandung Cinta Dalam
Pesantren

Malam kian terasa sunyi, hanya terdengar suara bising dari
pojok-pojok kamar pesantren putri. Di sekeliling asrama putri
terlihat berbagai aktifitas, di pojok kanan terlihat segerombol
santri yang masih menikmati indahnya langit malam,ada yang
sibuk belajar, ada yang mengulang hafalan kitab, ada yang
diskusi tentang materai pelajran di sekolah dan kampusnya
masing-masing, dan juga di pojok lain ada yang konsen
menghafal Alquran dan kitab-kitab lainnya.

Malam semakin sunyi, semua santri telah kembali ke
dalam mimpi masing-masing. Hingga terdengar suara bel, yang
menuntut mereka untuk bangun dan melaksanakan sholat tahajud
yang dilanjutkan wirid sampai menyambung ke Sholat subuh,
setelah itu mengaji kitab. Tafsir Maroghi di ndalaem pak kyai dan
bu Nyai, Sungguh tak disangka, pada saat mengaji kitab, banyak
santri yang menggantuk,termasuk Aku sendiri juga kadang

Judul Buku | 5

mengaji dengan menahan kantuk yang luar biasa samapi kadang
di tertawakan oleh mbak-mbak pondok putri yang lain. tapi itulah
salah satu kenikmatan yang perlu kita syukuri hidup di pondok
pesantren.

Pagi, datang menyapa enbun pagi dalam daun yang penuh
kesejukan. Semua terasa indah, saat sayap-sayap burung terlihat
terbang bebas di atas sana. Gerbang pesantren dibuka, semua
santri putra dan putri bergegas meninggalkan pesantren dan
melangkah bersama menuju sekolah dan kampus masing-masing,
kebetulan pondok tempat ku menimba ilmu adalah sebuah
pondok yang membebaskan antrinya utuk sekolah sesuai dengan
keinginan santrinya masing-masing walupun ada sekolah
setingkat SMA di pondokku juga, tetapi banyak juga yang ikut
pelajaran dipondooku, walupun kita mengenyam sekolah di
tempat yang erbeda tapi kami tetap memegang teguh pesan pak
kyai dan bunyai dan memegang teguh nama baik pondok
pesantren. Saat mengikuti pelajaran, semua murid dan mahasiswa
tampak tawadhu. Namun tak seperti hatiku (Aini) gadis berumur
20 tahun, salah satu santri putri pesantren al-Hikmah, yang diasuh
oleh KH. Basyir Muhammad. Semua terasa hampa, saat aku
mulai hari-hari di pesantren hingga saat ini aku masih terbayang-
bayang akan keluargaku. Ayah, Ibu, dan ketiga adekku aku rindu
kalian semua. Tapi, tak mungkin bila aku kembali ke rumah,
sama saja aku menggecewakan kedua orangtuaku. Aku memang
harus bangkit dan lupakan kesenagan semu, bersusah dahulu dan

6 | Judul Buku

nanti akan kupetik serbuah makna yang terindah. Ayah, Ibu,
Ahmad, Safira, Aziz,aku berjanji akan pulang dengan membawa
segudang ilmu yang nanti bemanfaat dan bisa kalian bangakan.

“Aini,” Laili, temen dekatku yang juga salah satu santri
pesantren.

“kenapa kamu selalu melamun? Sudahlah Aini, tidak
hanya kamu yang merasakan rasa ini, semua santri baru juga
begitu, begitu juga dengan aku. Tapi ini adalah hidup yang harus
kita tempuh dengan ikhlas. Aini ku yakin kamu pasti bisa, aku
siap jadi orang yang selalu mendengar keluh kesahmu.”

“Makasih Lai, aku janji akan betah disini, dan bersama-
sama berjuang demi cita-cita kita”.

Kata-kata Laili benar-benar meyakinkanku dan
memperkuat semanggatku. Tak terasa sudah dua minggu aku di
pesantren, banyak kisah dan ilmu yang aku dapat. Ternyata
menyenangkan hidup sederhana, makan apa adanya, kebersamaan
tanpa pamrih, sungguh semua ini tak bisa aku rasakan jika aku di
rumah.

Matahari seakan terasa di ujung kepala, saatnya pulang
Kuliah, kebetulan aku saat mondok aku jug aseorang mahasiswa
di sebuah kampus ternama di kota jogjakarta, walupun aku
seorang mahasiswa tapi aku masih sering menangsis ketika awal-
awal tinggal di pondok, terkadang malu juga sih dengan adek-
adekku yang mondok di usia belia jauh dari orangtua dan banyak
juga yang berasal dari luar kotadan luar negeri.walupun aku pas

Judul Buku | 7

SMA akupun pernah mondok walupun tapi entah kenapa setiap
masuk pondok yang baru aku harus menyesuaikna dengan
lingkungan dan teman-teman yang baru.ketika siang hari
menjelang Ashar banyak siswa dan mahasiswa yang kembi ke
pondok untuk mengikuti pelajaran yang ada di pondok pesantren
yang kami tinggali. Semua santri berjalan teratur dan penuh
semangat pulang ke kamar masung-masing. Sesampai di
pesantren, aku langsung berganti baju dan bersiap-siap untuk
melakukan kegiatan menggaji kitab. Namun ada santri yang
datang ke kamar dan memanggilku.

“Aini, kamu tadi dipanggil sama bu nyai, amanat beliau
setelah pulang kuliah, kamu disuruh menghadap beliau”

“ada apa ya?, aku takut”
“udahlah Aini, jangan takut kamu ngak ada masalah sama
bu nyai kan, ayuk aku antar”
Aku pun berjalan menuju Ndalem(rumah) bu Nyai bersama
husnul, salah satu santri kepercayaan bu nyai. Langkah kaki ini
terhenti, kamar bu nyai semakin dekat dan kini telah sampai.
Jantungku semakin deg-degan. “huft, bismillah”
“Assalanmualaikum, Ibu.,”
“Waalaikumsallam..”
Pintu kamar terbuka dan mulai Nampak sosok ibu yang
sangat cantik, bijaksana, dan lemah lembut (Bu Nyai Aisyah)
isteri dari Pak kyai Basyir, yang dikaruniani tiga orang putra.

8 | Judul Buku

Diantaranya gus Hakim dan gus Lukman, yang satu kurang ku
kenal, karena berada di negeri Mesir.

“Ini Ibu, Ning Aini yang tadi pagi Ibu cari”.
“Oh, iya, silahkan duduk nduk”
Akupun duduk di samping Ibu Nyai, dan Husnul diminta
meninggalkan ku.
“begini nduk, tadi pagi Umimu telfon Ibu, kamu disuruh
pulang, untuk mengghadiri acara pernikahan saudara kamu.Ibu
mengijinkan, tapi Cuma dua hari saja.”
Aku hanya bisa menggangguk, dan tersenyum bahagia.
Yang kunanti-nanti kini datang juga. Aku salim sama umi
sekaligus berpamitan.
Sesampai di kamar ku tata semua barang-barang yang akan
ku bawa pulang. Kemudian tak lupa pamitan dengan Laili dan
teman-teman lainnya. Menuju ke dunia luar, serasa indah kembali
ku naiki Bis yang mengantarku ke rumah.
Beberapa jam kemudian, akhirnya sampai juga. Suasana
rumah yang sudah terpenuhi bungga-bungga pengantin, seakan-
akan menyambut kedatanganku. Ku langkahkan kaki denggan
cepat, dan terhenti tepat di depan rumah.
“Assalamualaikum”
Lama tak ada suara, mungkin karena terlalu ramai sampai
tidak ada yang mendengar salamku. Beberapa menit kemudian,
tampak bayangan serorang gadis kecil yang mendekati pintu dan
menjawab salamku.

Judul Buku | 9

“Waalaikumsalam, teteh Aini”,
Langsung kupeluk gadis kecil itu, dia adalah safira adikku
yang pertama. Ku lepas semua kerinduanku, kemudian Safira lari
dan memanggil umi. Umi pun muncul, ku langsung mencium
tangan umi dan memeluknya, semua yang ada di situ pun
meninggalkan pekerjaan mereka dan menemuiku. Rasanya
seperti mimpi, tapi ini bukan mimpi ini kenyataan yang jelas-jelas
terjadi (dalam batinku)
“Semakin besar saja kamu nak,”
“Betah kan kamu disitu”, Tanya abah.
“Alhamdulillah, berkat doa dan semangat dari abah,umi,
dan teman-teman, Aini betah kok”
“syukurlah kalau begitu, abah sama ibu jadi nggak
khawatir lagi”.
Aku pun langsung istirahat, dan membaringkan tubuh di
kamar, dan semua kembali ke pekerjaan mereka. Satu malam di
rumah, serasa nggak betah, rasanya ingin cepat-cepat kembali ke
pesanteren. Meski tidur sepeti korban bencana yang tidur
berjejeran dan sesak-sesakkan, tapi terasa indah dan myaman.
Setelah beberapa jam berguling di kasur akhirnya, tertidur juga.
Suara kokok ayam mulai terdenggar, membisingi telingaku
yang membuat ku terbangun dari tidurku. Ingin rasanya tidur lagi,
tapi tampaknya semua keluarga sudah terbangun dan sudah siap-
siap pergi ke masjid untuk berjamaah.

10 | J u d u l B u k u

Setelah melepas kangen dengan seluruh keluarga besarku
akhirnya tibalah saatnya aku harus kembali ke pondok untuk
kembali meneruskan perjuanganku untuk menuntut ilmu agama
dan menghafal Al-Qur’an.

Ayah menggantarku sampai di terminal, tanpa menunggu
lama abah meninggalkan ku dan meninggalkan seribu pesan yang
harus aku patuhi selama di pesantren. Bis yang membawaku
menuju ke Yogyakarta masih sekitar satu jam lagi, aku duduk di
bangku kosong di tengah-tengah lapak-lapak jajanan yang ada
terminal seruni. Tiba-tiba ada laki-laki yang aneh yang
mendekatiku, dan duduk di sebelahku. Aku semakin takut dan
deg-degan.

“Mbak kenapa?, apa ada yang aneh ya, apa memang aku
yang aneh?”. Tanya laki-laki itu.

Aku hanya bisa terdiam, aku binggung harus bilang apa.
“Kenapa mba diam, mba merasa terganggu ya, kalau
begitu aku pergi saja mba,”
“Jangan pergi, tetap disini saja, aku ngak merasa terganggu
kok,”
“baiklah, angap saja kita teman lama, jadi santai saja mba,
tak usah gelisah begitu”
“kenapa mas bicara seperti itu, bukankah kita tak penah
bertemu, bagaimana bisa kita jadi teman lama”

J u d u l B u k u | 11

“aduh, mba ini ngak ngak meresapi apa yang saya
bicarakan ya, itu hanya sebuah anggapan, agar mba tidak merasa
canggung bila di sebelah saya”.

Aku merasa malu, aku hanya bisa tersenyum sambil
menahan rasa malu.

“Mba, mau kemana?”
“Yogjakarta”.
Tanpa sadar aku menggulurkan tangganku, dan menyebut
namaku. Tapi tak ada balasan darinya.
“kenapa mas tidak mau membalas perkenalanku, bukankan
tadi mas bilang kalau kita berpura-pura jadi teman lama, apa
salah ya jika kita mengenal lebih dekat, meskipun hanya nama.
Siapa tau suatu hari nanti kita akan bertemu, dan kita bisa saling
menyapa”.
“Apa arti sebuah nama dan pertemuan, pertemuan pertama
akan mengisahkan sebuah rasa penasaran, pertemuan kedua akan
mengisahkan sebuah rasa rindu, dan aku tak mau merindu, karena
rindu itu sangat menyakitkan.”
“kenapa mas bicara seperti itu, bukankah sekarang dunia
itu seakan sempit”
Belum sempat menjawab pertanyaanku, Bisa yang menuju
ke Yogyakarta datang, saat ku menengok ke belakang laki-laki itu
sudah hilang dari pandanganku, hanya tertinggal buku memory
yang ia tinggal di bangku tadi. Ku ambil dan ku baca, ternyata
baru terisi satu lembar yang isinya:

12 | J u d u l B u k u

Aku terpesona
Pada seorang gadis, yang duduk di sampingku
Matanya yang indah, alisnya yang tebal,
Aroma wanginya yang menggetarkan hatiku
Terlebih lagi balutan kain suci
Yang telah membalut mahkotanya
Membuatnya semakin anggun
Hati siapa yang tak tergoyahkan akan kecantikan hati dan
jiwanya
Sungguh aku telah terpana olehnya
sebuah ungkapan rasa yang seketika terjadi, ku baca tulisan
itu sepanjang perjalananku, hingga hati ini terluluhkan, dan
merindukan sosok laki-laki misterius tadi.
Kereta berhenti, dan aku langsung berjalan menuju
pesantren yang tak jauh dari setasiun. Sesampai di pesantren aku
langsung menuju ke kamar, kemudian langsung sowan ke bu
Nyai agar bu nyai ngak khawatir dan aku ngak di takzir. Seusai
sowan di ndalem bu nyai, aku berpapasan dengan Laili,
nampaknya dia begitu terburu-buru.
“mau kemana Lai?, kok buru-buru gitu”.
“tadi ada pengumuman, katanya putranya Bu nyai hari ini
pulang dari Mesir dan seluruh santri ikut menyambut
kedatangannya”
“oh, tak kira ada apa-apa, aku nggak ikut nggak papa kan,
soalnya ku capek banget”.

J u d u l B u k u | 13

“ya ya, kamu istirhat aja di kamar”.
“ok”.
Aku pun langsung bergegas ke kamar dan Laili pergi
menyambut kedatangan gus Hakim putra pertama bu nyai , yang
umurnya masih sederajat denganku. Saat aku sendiri di kamar
aku teringat akan laki-laki itu, memandang tulisanya seakan ku
benar-benar dekat dengannya. Apakah ini yang dinamakan cinta,
ataukah rasa rindu yang menyesakkan hati dan menghipnotis
fikiranku, ah entahlah. Dari pada aku bingung dengan hatiku
sendiri, aku memutuskan menyusul Laili. Ternyata, yang mereka
nanti belum datang juga, dan aku kembali ke kamar.
Beberapa jam kemudian, semua santri kembali begitu juga
dengan Laili.
“Gimana Lai, dah ketemu sama Gus Hakim?”
“udah donk, tambah cakep aja beliau”.
“eh, eh, inget Lai, kamu kan dah punya Farhan”.
“ya, aku tau Aini, ngak mungkin juga kan seorang gus
jatuh cinta sama aku, dan cintaku juga hanya untuk mas farhan
seorang,”.
“cie cie, yang lagi kasmaran”.
“la, kamu sendiri gimana Aini”.
“belum saatnya ku certain sama kamu, he he, udahlah aku
mau ke warung dulu, mau beli peralatan mandi”.
“aku temenin ya”.
“gitu juga boleh”.

14 | J u d u l B u k u

Kami berjalan menuju Warung samping pondok kebetulan,
stok di koperasipondok sedang habis, di tengah perjalanan aku
bertemu sosok laki-laki di Terminal itu, aku berhenti sejenak dan
melamun. Apakah ini mimpi? Tapi rasa ini ada.

“Aini, ayo cepet, wah terpesona juga ya sama gus Hakim”
“apa dia gus Hakim, putranya bu Nyai?”
“ya, Aini salah kamu sih tadi ngak ikut menyambutnya”
Rasa ini semakin hilang, ketika ku tau bahwa dia adalah
seorang gus, hatiku semakin gundah dan tak tau harus berbuat
apa.
Setelah belanja di warung Laili bertemu Farhan( kang
santri yang di pondok putra) dan mereka berbincang-bincang.
Akhirnya ku harus rela pulang sendiri, dan di tenggah perjalanan
aku berpapasan dengan gus Hakim..
“Assalamualaikum ya uhti, tak kusangka ternyata Allah
mempertemukan kita kembali”
“Waalaikumsalam, ya Alhmdulillah, seperti yang ku
katakan dunia sekarang itu seakan sempit”.
“kamu kenapa, wajahmu pucat seakan-akan kamu ingin
menghindar dariku, apakah pertemuan ini memngganggu mu”
“sungguh, bukan begitu, tapi aku harus kembali ke
pesanteren, soalnya sebentar lagi ada ngaji Tafsir hadits”.
“oh, ya maaf saya lupa, sampai ketemu nanti”
Kita pun berpisah, dengan rasa gundah bercampur rindu
aku meninggalkanya. Lalu berangkat ngaji dan kagetnya lagi

J u d u l B u k u | 15

yang mengajar adalah gus Hakim. Semakin tegang rasanya,
badanku serasa masuk dalam almari es yang begitu dingin.

Telah lama ku pendam rasa rindu ini
Hingga kini telah terobati
Akan sang halwa yang hadir dalam hidup ini
Tuhan, entah apa maksud Mu
Kau pertemukan kami lagi
Dalam ruang rindu yang berisikan cinta
Apakah ini takdir Mu, tuk jadikan kami yang halal untuk
Mu
Ataukah hanya sekedar pertemuan
Yang berakhir semu
Semua yang terjadi seperti mimpi, dua hati yang baru
bertemu kini kian menjadi satu. Perasaan yang sama namun, kian
sulit tuk di padu karena sesuatu. Dan hanya takdir sang izzati
Robillah yang dapat menjawab kegelisahan ini. Semua yang
terjadi ku ceritakan pada Laili, dan dia memberikan solusi yang
terbaik. Dan aku harus memilih mana yang baik dan yang tak
baik.
Pagi menyapa ku dengan indah, hari minggu yang
menyenagkan meski hati dilanda kegelasahan yang tak menentu.
Aku duduk di samping taman sambil menikmati udara pagi dan
sedikit ndares Al-Qur’an. Tanpa kusadari, ternyata gus Hakim
menghampiriku. Tak tau apa yang ia bicarakan, sebuah ungkapan
hati yang begitu tulus dan ikhlas.

16 | J u d u l B u k u

“Aini, setelah lama aku pendam rasa ini, dan tanpa tak
sengaja aku mengunggkapkan rasa yang tak pantas aku ucapkan
kepadamu, karena sepertinya semua yang aku ucapkan
mengganggu hidup kamu”

“Tak seperti itu gus, aku hanya takut dan bingung apakah
pantas. Gadis seperti aku ini bersanding dengan seorang gus
pemilik pesanteren yang sekarang aku tempati”

“Percayalah, Aini aku mencintaimu ikhlas dari hati dan
atas ridho Nya, dan aku tak peduli siapa aku dan kamu, bagiku
semua sama tak ada yang berbeda, aku pun sudah bicara dengan
Ibu dan abah. Mereka tak melarangku untuk berdampingan
dengan siapapun, jadi maukah kau menjadi pendamping hidup ku
nanti”

Aku semakin binggung, dan harus menjawab apa,
“kamu diam, berarti kamu setuju, karena diamnya seorang
wanita merupakan jawaban yang tidak bisa di ungkapkan dengan
kata-kata.“dan aku pun kan berjanji, sebelum mas Hakim kembali
ke sini, Aini akan menghatamkan Al-Quran dan S1
Aini”.Suasana haru, yang begitu menyedihkan. Ungkapan rasa
yang baru saja terucap kini harus berakhir dengan perpisahan.
Setelah gus Hakim meninggalkan Indonesia, Aini pun
semakin giat belajar dan menghafalkan Al-Qur’an. Hingga
beberapa tahun kemudian Aini diwisuda sekaligus mendapat
gelar hafidhoh. Setelah selesai wisuda Aini pulang ke rumah
bersama orangtuanya. Aini dan kedua orangtuanya terkejut

J u d u l B u k u | 17

dengan kedatangan pak kyai dan bu nyai ke rumah. Ternyata
mereka datang bersama gus Hakimi, untuk melamar Aini. Gus
Hakim menempati janjinya begitupula dengan Aini. Hingga
akhirnya mereka menikah dan mendirikan sebuah pesantren yang
mereka beri nama “Pon-Pes Putra Putri Al-Hanif”

18 | J u d u l B u k u

Tentang Penulis

Tuti Yulianingsih, M.Pd atau sosok yang akrab
diakrab dipanggil Tuti,dia adalah sosok yang ceria
dan suka membaca, dia terlahir dari orangtua yang juga
berprofesi sebagai guru , lebih tepatnya guru SD, dari sinilah
bakatnya mulai terlihat ketika banyak guru cerita di SD tempat
ayahnya mengajar renovasi, disitulah dia mencoba membaca
buku-buku cerita, dan setelah itu hobi membacanya mulai
tumbuh, dia lahir di serang tanggal 25 Mei 1981,terlahir dari
seorang ibu yang selalu menyemangatinya untuk rajin membaca
dan menulis sejak kecil,sejak menikah tgl 23 Mei 2005 dengan
seorang ank guru juga dia bernama Aryanto,ST lulusan sarjana

J u d u l B u k u | 19

Teknik Kimia ITENAS, diapun sangat mendukung istrinya untuk
menulis.
Penulis menampatkan SD, SMP,SMA di kota kelahirannya dan
melanjutkan S1 di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta dan
tahun 2013 dia meneruskan kuliah S2 (pascasarjana)di jurusan
PBI Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang Banten lulus
dengan predikat Coumloud dengan IPK 4.00.
Penulis sering sekali menuliskan karyanya di media sosial
terutama di Faceebook, Instagram, Whatshapp.sekarang penulis
mengajar di SMA Al-Khairiyah 1 Cilegon Banten dengan
mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia.beliau juga aktif
sebagai anggota MGMP SMA kota cilegon dan MGMP provinsi
Banten.
Selain itu juga , jika kalian ingin mengenal sosok ibu dari dua
putra ini( Tamyiz Aulia Rizqi dan Asjad As-Shadiq) ini lebih
dekat, kalian dapat mengirimkan pertemanan di Facebook dengan
nama facebook Tuti Yulianingsih atau IG nya Yulianingsih
201514,atau jika kalian ingin memberikan komentar terkait
dengan tulisannya, kalian bisa mengunjungi akun email
pribadinya [email protected]

Penulis

20 | J u d u l B u k u


Click to View FlipBook Version