Pengaruh Agama
dan Kebudayaan Di
Indonesia
Hindu-Buddha dan
Islam
Afwa Rifatika
Farikha Najwa Faza
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah atas rahmat dan karunia-
Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan buku
digital. Tak lupa juga mengucapkan shalawat serta
salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi
Besar Muhammad SAW. Kami ucapkan juga rasa
terima kasih kami kepada pihak-pihak yang
mendukung proses pembuatan buku digital ini.
Adapun, buku digital kami yang berjudul ‘Pengaruh
Agama dan Kebudayaan Hindhu-Budha serta Islam
di Indonesia' ini telah selesai kami buat secara
semaksimal dan sebaik mungkin agar menjadi
manfaat bagi pembaca yang membutuhkan
informasi dan pengetahuan mengenai Pengaruh
Agama dan Kebudayaan Hindhu-Budha serta Islam
di Indonesia
Kami sadar, masih banyak luput dan kekeliruan
yang tentu saja jauh dari sempurna tentang buku
ini. Oleh sebab itu, kami mohon agar pembaca
memberi kritik dan juga saran terhadap karya buku
digital ini agar buku digital ini bisa lebih
mengedukasi dan bermanfaat.
Demikian buku digital ini kami buat, dengan
harapan agar pembaca dapat memahami informasi
dan juga mendapatkan wawasan mengenai bidang
Sejarah yaitu Pengaruh Agama dan Kebudayaan
Hindhu-Budha serta Islam di Indonesia serta dapat
bermanfaat bagi masyarakat dalam arti luas.
Terima kasih.
SEMARANG, November 2022
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................ v
DAFTAR ISI...................................... vi
A. BAB 1
A. Sejarah Agama Hindu dan
BUDHA....................................... 2
B. Teori Masuknya Agama dan
Kebudayaan hindhu-budha.............. 6
C. Kerajaan-Kerajaan Hindu-
Budha........................................ 10
D. Berakhirnya Kerajaan-
Kerajaan Hindu-Budha.................. 12
E. Bukti-Bukti Pengaruh Hindu-
Budha dalam Masyarakat yang 13
Masih ada hingga kini..................
B. BAB 2
A. Proses Masuk dan Berkembangnya
Islam........................................ 25
B. Jalur-jalur Penyebaran Islam........ 29
C. Kerajaan-Kerajaan Islam.............. 37
D. Bukti-Bukti Pengaruh Islam
yang Masih ada hingga kini........... 39
DAFTAR PUSTAKA............................ 47
PROFIL PENULIS............................... 48
PENUTUP......................................... 50
vi
BAB 1
A
SEJARAH AGAMA HINDU DAN BUDDHA
1. AGAMA HINDU
Agama Hindu diperkirakan muncul di India antara
tahun 3102 SM sampai 1300 SM (ada yang mengatakan
sekitar tahun 1500 SM). Agama ini tumbuh bersamaan
dengan masuknya bangsa Arya, yaitu bangsa nomaden
yang masuk India dari Asia Tengah melalui Celah Kaiber.
Kedatangan bangsa Arya ini mendesak bangsa Dravida,
penduduk asli India dan termasuk dalam kategori ras
Australoid, dari sebelah selatan sampai ke Dataran
Tinggi Dekkan. Dalam perkembangan selanjutnya,
terjadi percampuran antara kebudayaan bangsa Arya dan
bangsa Dravida yang menghasilkan kebudayaan Hindu.
Perkembangan agama Hindu di India pada hakikatnya
dapat dibagi menjadi empat fase, yakni zaman Weda,
zaman Brahmana, zaman Upanisad, dan zaman Buddha.
a. Zaman Weda (1500 SM)
Zaman ini dimulai ketika bangsa Arya berada di
Punjab di lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500-1500 SM,
setelah mendesak bangsa Dravida ke sebelah selatan
sampai ke Dataran Tinggi Dekkan. Bangsa Arya telah
memiliki peradaban tinggi. Mereka menyembah dewa-
dewa, seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, dan Siwa.
2
Gambar 1.1 Dewa tertinggi yang mereka
Sumber:Wikipedia.org anggap sebagai penguasa
alam semesta mereka sebut
Trimurti, terdiri dari
Brahma (pencipta alam),
Wisnu (pemelihara alam),
dan Siwa (dewa perusak
alam dan dewa kematian).
Walaupun banyak, semuanya adalah manifestasi dan
perwujudan Tuhan Yang Maha Esa (disebut Brahman). Jadi,
agama Hindu adalah agama monoteistis, bukan politeistis.
Weda, kitab suci agama Hindu, muncul pada zaman ini.
Weda termasuk dalam golongan Sruti, secara harfiah berarti
"yang didengar" karena umat Hindu meyakini isi Weda
sebagai kumpulan wahyu dari Brahman (Tuhan).
Pada zaman ini pula, masyarakat dibagi atas empat kasta:
brahmana (ulama dan pendeta), kesatria (raja, bangsawan,
panglima, dan tentara), waisya (pedagang), dan sudra
(pelayan semua golongan di atasnya). Ada pula orang-orang
yang dianggap berada di luar kasta, yaitu golongan paria
(pengemis dan gelandangan).
3
b. Zaman Brahmana (1000-750 SM)
Pada zaman ini, kekuasaan kaum brahmana amat besar
dalam kehidupan keagamaan. Merekalah yang
mengantarkan persembahan umat kepada para dewa.
Pada zaman ini pula, mulai disusun tata cara upacara
keagamaan yang teratur dalam sesuatu yang kemudian
disebut Kitab Brahmana. Weda menjadi pedoman
penyusunan tata cara upacara agama ini.
c. Zaman Upanisad (750-500 SM)
Pada zaman ini, yang dipentingkan tidak hanya
upacara dan sesaji saja, tetapi lebih daripada itu, yaitu
pengetahuan batin yang lebih tinggi. Zaman ini adalah
zaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama,
yaitu zaman orang berfilsafat atas dasar Weda.
d. Zaman Buddha (500 SM-300 M)
Zaman ini dimulai ketika putra Raja Suddhodana yang
bernama Siddharta menafsirkan Weda dari sudut logika
dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi sebagai
jalan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.
2. AGAMA BUDDHA
Agama Buddha adalah perkembangan lebih lanjut dari
agama Hindu. Buddha, sebenarnya, adalah sebutan bagi
seseorang yang telah memperoleh pencerahan. Hal
tersebut sesuai dengan asal kata Buddha yang berasal
dari bahasa India berarti sejati. Awalnya, Buddha
bukanlah agama, melainkan ajaran dari seseorang yang
telah memperoleh pencerahan bernama Siddartha
Gautama.
4
Pangeran Siddharta adalah anak raja yang beragama
Hindu dari suku Sakya bernama Suddhodana. Sebagai
anak raja, ia dilimpahi kemewahan. la dilahirkan pada
tahun 563 SM. Para pertapa meramalkan sang Pangeran
kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja
Dunia) atau menjadi seorang Buddha.
Sepeninggal Buddha, para penganutnya menyebarkan
ajarannya dan lahirlah agama Buddha dengan kitab
sucinya, yakni Tripitaka. Agama ini berkembang sangat
pesat di India di bawah Raja Ashoka. Semula ia beragama
Hindu dari Dinasti Maurya, la menyebarkan banyak
pendeta Buddha ke seluruh wilayah kekuasaannya, bahkan
sampai di luar wilayah kerajaan.
Pada tahun 78 M, terjadi perpecahan di antara para
penganut Buddha. Perpecahan melahirkan dua aliran,
yaitu Buddha Mahayana dan Buddha Hinayana. Ajaran
dalam Buddha Mahayana lebih kompleks karena banyak
dipengaruhi oleh agama dan kepercayaan lain, seperti
agama Hindu atau Taoisme sehingga mengenal dewa-dewi
juga. Adapun Buddha Hinayana mendekati ajaran Buddha
yang sesungguhnya.
5
B
TEORI MASUKNYA AGAMA &
KEBUDAYAAN HINDU DAN BUDDHA
DI INDONESIA
Indonesia adalah negara kepulauan yang letaknya
strategis karena berada di jalur pelayaran yang
menghubungkan negara-negara Barat dan Timur.
Berlabuhnya kapal-kapal dagang berbagai bangsa
membuat masyarakat Indonesia tidak dapat menghindar
dari pengaruh luar.
Hubungan dagang antara Indonesia dan India terjadi
sejak tahun 1 M. Hubungan perdagangan ini diikuti pula
oleh hubungan kebudayaan, seperti agama, sistem
pemerintahan, sosial, dan budaya sehingga terjadi
percampuran kebudayaan di antara dua bangsa tersebut.
Hubungan itu membuat bangsa Indonesia mengenal
agama Hindu dan Buddha.
Berikut beberapa teori (hipotesis) terkait proses
masuknya agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha ke
Indonesia.
1. Teori Waisya
Teori ini, dikemukakan oleh N. J. Krom, didasarkan pada
alasan bahwa motivasi terbesar datangnya bangsa India
ke Indonesia adalah untuk berdagang. Golongan terbesar
yang datang ke Indonesia adalah para pedagang India
(kasta waisya).
6
Mereka bermukim di Indonesia, bahkan menikah dengan
orang Indonesia. Selanjutnya, mereka aktif melakukan
hubungan sosial, tidak saja dengan masyarakat Indonesia
secara umum, tetapi juga dengan pemimpin kelompok
masyarakat. Lewat interaksi itu, mereka menyebarkan dan
memperkenalkan agama dan kebudayaan mereka.
Teori waisya diragukan kebenarannya. Jika para
pedagang yang berperan terhadap penyebaran
kebudayaan, pusat-pusat kebudayaan mestinya hanya
terdapat di wilayah perdagangan, seperti di pelabuhan atau
di pusat kota yang ada di dekatnya. Kenyataannya,
pengaruh kebudayaan Hindu ini banyak terdapat di
wilayah pedalaman, dibuktikan dengan adanya kerajaan-
kerajaan bercorak Hindu di pedalaman Pulau Jawa.
2. Teori Kesatria
Menurut Teori Kesatria, yang dikemukakan F.D.K
Bosch, pada masa lampau, di India, sering terjadi perang
antargolongan. Para prajurit yang kalah atau jenuh
menghadapi perang lantas meninggalkan India. Rupanya,
di antara mereka, ada pula yang sampai ke wilayah
Indonesia. Mereka inilah yang kemudian berusaha
mendirikan koloni-koloni baru sebagai tempat tinggalnya.
Di tempat itu pula, terjadi proses penyebaran agama dan
budaya Hindu. Kelemahan teori ini adalah tidak adanya
bukti tertulis bahwa pernah terjadi kolonisasi oleh para
kesatria India.
7
3 . Teori Brahmana
Menurut teori yang dikemukakan J.C. van Leur ini, para
brahmana datang dari India ke Indonesia atas undangan
pemimpin suku dalam rangka melegitimasi kekuasaan mereka
sehingga setaraf dengan raja-raja di India. Teori ini didasarkan
pada pengamatan terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan
kerajaan bercorak Hindu di Indonesia, terutama prasasti-
prasasti berbahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Di India,
bahasa dan huruf itu hanya digunakan dalam kitab suci Weda
dan upacara keagamaan, dan hanya golongan brahmana yang
mengerti dan menguasainya.
Teori ini pun diragukan kebenarannya. Alasannya, kendati
benar hanya para brahmana yang dapat membaca dan
menguasai Weda, para pendeta Hindu itu pantang
menyeberangi lautan.
Gambar 1.2
Sumber:Wikipedia.org
8
4. Teori Arus Balik
Menurut teori yang dikemukakan oleh G. Coedes ini,
berkembangnya pengaruh dan kebudayaan India ini
dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri. Bangsa
Indonesia mempunyai kepentingan untuk datang dan
berkunjung ke India, seperti mempelajari agama Hindu
dan Buddha. Sekembalinya dari India, mereka membawa
pengetahuan tentang agama dan kebudayaan di India.
Banyak orang lebih meyakini teori arus balik masih
memerlukan banyak bukti lagi untuk memperkuat
kebenarannya. Sementara itu, sekitar abad V, agama
Buddha mulai dikenal di Indonesia. Pada akhir abad V,
seorang biksu Buddha dari India mendarat di sebuah
kerajaan di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Tengah
sekarang. Pada akhir abad VII, I Tsing, peziarah Buddha
dari Tiongkok, berkunjung ke Pulau Sumatra, kala itu
disebut Swarnabhumi, tepatnya di Kerajaan Sriwijaya. Ia
menemukan bahwa ajaran Buddha diterima luas oleh
rakyat, dengan Sriwijaya sebagai pusat penting
pembelajaran ajaran Buddha.
Pada pertengahan abad VIII, Jawa Tengah berada di
bawah kekuasaan raja-raja Dinasti Syailendra yang
merupakan penganut Buddha. Mereka membangun
berbagai monumen Buddha di Jawa, seperti Candi
Borobudur, yang selesai dibangun awal abad IX.
9
C
KERAJAAN-KERAJAAN HINDU-
BUDDHA DI INDONESIA
Kerajaan Agama Tahun Letak Raja
Terkenal
Kutai Hindu Abad
Kutai,
Mulawarman
IV Kalimantan
Timur
Taruman
Hindu Abad V Jawa Barat Purnawarman
egara
Pajajaran Hindu Abad
Bogor, Jawa
Sri Baduga
(Sunda) VII-XVI Barat Maharaja
Melayu Buddha Abad
Jambi S.T Mauli
VII-XIV Warmadewa,
Adityawarman
Kalingga Buddha Abad
Blora dan
Ratu Sima
VII Cepu, Jawa
Tengah
Sriwijaya Buddha Abad
Muara Takus
Dapunta Hyang,
VII-XV (Riau) dan
Dharmasetu,
Palembang
Balaputradewa
10
Kerajaan Agama Tahun Letak Raja
Terkenal
Mataram Hindu (Sanjaya), Abad Pedalam Sanjaya
Hindu&Buddha VII an Jawa Rakai
(Syailendra), lalu Tengah
kembali ke Hindu Panangkaran,
Samaratungg
(Raja Rakai
Pakitan, Sanjaya) a, Rakai
Pikatan
Medang Hindu Abad Jawa Mpu Sindok,
Kamulan X Tengah, Dharmawang
dan Jawa sa, Airlangga
Timur
Kediri Hindu Abad Kediri, Jayabhaya,
XI-XIII Jawa Kertajaya
(1042- Timur
1222)
Singasari Hindu Abad Singasari, Ken Arok,
XIII Malang, Ranggawuni,
Kertanegara,
Jawa Jayakatwang
Timur
Majapahi Hindu Abad Trowulan, Raden
t XIII-XV Jawa Wijaya,
Timur Hayam
Wuruk
Bali Hindu Abad Bali Dharma
IX M Udayana
Warmadewa
11
D
BERAKHIRNYA KERAJAAN-KERAJAAN
HINDU-BUDDHA
Pada akhir abad XII, seiring berkembang pesatnya
pengaruh Islam dari Timur Tengah, kerajaan-kerajaan
Islam mulai berdiri di Sumatra dan agama Islam
segera menyebar ke Jawa dan Semenanjung Malaya
lewat penaklukan dan penyebaran sistematis oleh
sekelompok ulama yang dikenal dengan sebutan
Walisongo. Akibatnya, pengaruh agama dan
kebudayaan Hindu dan Buddha menurun sehingga
pada akhir abad XV Islam menjadi agama yang
dominan di Nusantara dan Semenanjung Malaya.
Agama Buddha diperkenalkan kembali ke Nusantara
hanya pada abad XIX, dengan kedatangan pedagang
dan orang-orang Tiongkok, Srilanka, dan imigran
Buddha lainnya.
12
E BUKTI-BUKTI PENGARUH HINDU-
BUDHA DALAM MASYARAKAT YANG
MASIH ADA HINGGA KINI
Penyebaran agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha
berlangsung sangat lama, yaitu sejak abad 1 hingga abad
XV yang ditandai dengan berakhimya Kerajaan
Majapahit. Hal ini tentu saja menjadikan pengaruh Hindu
dan Buddha sangat kuat tertanam dalam kehidupan
masyarakat Nusantara. Oleh karena itu, bukanlah
merupakan sesuatu yang mengherankan jika masih
banyak kita temukan peninggalan kebudayaan Hindu
Buddha di Nusantara. Peninggalan sejarah Hindu dan
Buddha di Nusantara tidak hanya terbatas pada
tinggalan-tinggalan yang berwujud benda (fisik), tetapi
juga nilai budaya (nonfisik). Berikut peninggalan-
peninggalan sejarah dari masa Hindu Buddha.
1. Bahasa dan Tulisan
Masuknya bangsa India (kebudayaan Hindu) ke
Nusantara sejak abadi Masehi mengantarkan masyarakat
Nusantara ke budaya tulis atau masa aksara (masa ketika
mereka mengenal dan mempraktikkan tradisi tulisan).
Budaya tulis itu menggunakan bahasa Sanskerta dengan
huruf Pallawa, yaitu sejenis tulisan yang ditemukan juga
di wilayah India bagian selatan.
13
Dalam perkembangannya, huruf Pallawa menjadi datar
dari huruf huruf lain di Indonesia, seperti huruf Kawi,
Jawa Kuna Bali Kuno, Lampung, Batak dan Bugis-
Makassar. Adapun bahasa Sanskerta tidak berkembang
sepesat huruf Pallawa. Penyebabnya adalah bahasa
Sanskerta digunakan hanya di lingkungan terbatas, yaitu
di lingkungan istana dan oleh para brahmana dalam
upacara keagamaan.
a. Prasasti
Prasasti, dari kata bahasa Sanskerta yang berarti pujian,
merupakan plagam atau dokumen yang ditulis pada bahan
yang keras dan tahan lama, yang memuat informasi
tentang sejarah, peringatan, atau catatan tentang sebuah
peristiwa. Selain mengandung unsur penanggalan,
prasasti mengungkap sejumlah nama dan alasan prasasti
tersebut dikeluarkan Hampir semua prasasti pada masa
kerajaan Hindu, juga penggubahan karya sastra sejak
zaman Kerajaan Kediri, menggunakan huruf Pallawa.
Tulisan-tulisan pada prasasti biasanya mengikuti format
tertentu seperti berisi tanggal tahun, dan nama pejabat
yang memerintahkan pembuatan prasasti tersebut.
Prasasti di Indonesia dapat dikelompokkan sesuai
bahasanya. Prasasti dalam bahasa Sanskerta terdapat pada
prasasti-prasasti yang dibuat pada abad IV sampai abad
IX. Misalnya, prasasti yang dipahatkan pada tiang batu
(yupa) di wilayah Kerajaan Kutai, prasasti peninggalan
Kerajaan Tarumanagara (Ciaruteun, Jambu, Kebon Kopi,
Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu, dan Cindanghiyang).
14
Gambar 1.3
Sumber:Wikipedia.org
Prasasti berikutnya adalah prasasti prasasti yang
menggunakan bahasa Jawa Kuno, Jumlahnya tidak
terlampau banyak, di antaranya Prasasti Kedu dan
Prasati Danoyts Mataram Kuno Bah Jawa Kuno
diperkirakan mulai digunakan sekitar abad IX.
Selain kedua bahasa tersebut, ditemukan juga prasasti
dalam bahasa Melayu Kuno yang banyak ditemukan di
Sumatra. Contohnya Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti
Talang Tuo dan Prasasti Telaga Batu, semuanya
peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Selanjutnya, prasasti
dalam bahasa Bali Kuno biasanya digunakan oleh
kerajaan kerajaan Bali. Selain huruf Pallawa, prasasti ini
menggunakan huruf Jawa Kuno dan Pranagar,
contohnya Prasasti Julah dan Prasasti Ugrasena.
15
b. Kitab
Dalam perkembangannya, pengenalan bahasa dan tulisan
memungkinkan pujangga Nusantara melahirkan karya-
karya sastra berupa kitab. Kitab adalah kumpulan kisah,
catatan, atau laporan tentang suatu peristiwa kadang di
dalamnya terdapat juga mitos. Pada masa Hindu Buddha,
biasanya kitab ditulis di atas daun lontar. Tulisan di
dalamnya umumnya bukan merupakan kalimat langsung
melainkan ditulis dalam rangkaian puisi yang indah dan
terbagi ke dalam sejumlah bait yang disebut pupuh.
Adapun ungkapan yang ditulis dalam bentuk puisi ini
biasa disebut kakawin.
Kitab dapat dikategorikan sebagai karya sastra kuno yang
dalam perkembangannya di Indonesia terdiri dari
beberapa tahap sebagai berikut.
1) Tahap pertama atau kesusastraan tertua, lahir pada
masa Kerajaan Mataram Kuno Kitab terkenalnya adalah
Sang Hyang Kamahayanikan oleh Sambara Suryawanasa.
Kitab ini menjelaskan tentang ajaran Buddha aliran
Tantrayana.
2) Tahap kedua, lahir pada masa Kerajaan Kedin. Pada
tahap ini lahir karya sastra besar Arjunawiwaha yang
ditulis oleh Mpu Kanwa, Kresnayana yang ditulis oleh Mpu
Dharmajaya, dan Bharatayuda yang ditulis oleh Mpu
Sedah dan kemudian diselesaikan oleh Mpu Panuluh.
3) Tahap ketiga, yaitu kesusasteraan yang lahir pada
zaman Majapahit. Pada tahap ini lahir kitab
Nagarakertagama ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun
1365.
16
Kitab ini juga menjadi salah satu sumber penulisan
sejarah politik Jawa dari abad Vill sampai abad XV. Selain
Nagarakertogama, terdapat juga kitab Sutasoma yang
ditulis oleh Mpu Tantular dan kitab Pararaton, yang berisi
mitos tokoh Ken Arok (pendiri Singasari), dan kitab
Bubhuksah kitab yang berkisah tentang dua orang
bersaudara yang berusaha mencari kesempurnaan.
c. Manuskrip
Manuskrip adalah naskah tulisan tangan peninggalan
masa lalu yang berisi berbagai hal seperti cerita
kepahlawanan, hukum, upacara keagamaan, silsilah,
syair, mantra sihir dan obat-obatan. Contohnya pusraha,
yaitu naskah Batak yang ditulis dengen aksara Batak dan
ditulis di atas lembaran kulit kayu alim. I La Galigo, yaitu
sebuah naskah kuno dan Sulawesi Selatan yang
merupakan naskah epos (kepahlawanan) yang berisi kisah
tentang Kerajaan Luwu masa pra-Islam. Pada awalnya, I
La Galigo ditulis menggunakan aksara Bugis, namun
dalam perkembangannya ditulis dalam berbagai bahasa.
Sejarawan Robert Wilson menganggap I La Galigo
sebagai hasil sastra kuno terbaik karena ditulis dengan
mengedepankan objektivitas dan fakta sejarah.
Selain kedua naskah itu ada naskah kuno Lampung
yang ditulis di atas kulit kayu pohon bunut,
menggunakan aksara Lampung. Aksara tersebut adalah
bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara
Pallawa dari India selatan, yang diperkirakan masuk ke
Pulau Sumatra pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.
17
2. Politik dan Sistem Pemerintahan
Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha ke
Indonesia, sistem pemerintahan yang dianut di Indonesia
adalah sistem pemerintahan desa, yang dipimpin seorang
kepala suku dan dipilih berdasarkan kekuatan dan
kelebihannya. Salah satu pengaruh Hindu di bidang
politik muncul konsep dewa-raja. Konsepnya adalah
seorang raja diyakini sebagai titisan atau reinkarnasi
dewa (Dewa Siwa ataupun Dewa Wisnu). Konsep ini
melegitimasi (mengesahkan) pemusatan kekuasaan pada
raja.
Dari konsep ini pulalah Indonesia mulai mengenal
sistem pemerintahan kerajaan, dengan raja sebagai
pimpinan tertinggi dibantu sejumlah pejabat yang
bertugas sesuai fungsinya (misalnya urusan
ketatanegaraan, agama, hukum, perpajakan, dan upeti).
Sebagai penguasa, raja memiliki wewenang penuh
terhadap seluruh tanah di wilayah kerajaannya,
sedangkan rakyat hanyalah penggarap. Rakyat juga wajib
memberikan kesetiaan yang penuh terhadap titah raja,
termasuk dalam membangun istana dan candi tanpa
menuntut upah.
Pemerintahan kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Tengah
bagian selatan bersifat feodal. Hal ini terlihat dari denah
bangunan candi-candi induk ditempatkan di bagian
tengah dan dikelilingi candi-candi perwara. Hal ini
menunjukkan pusat pemerintahan sepenuhnya berada di
tangan raja.
18
Sementara itu bangunan candi candi di Jawa Tengah
bagian utara mencerminkan sistem pemerintahan federal
pemerintah pusat memerintah kerajaan-kerajaan kecil
yang sederajat secara demokratis. Hal ini tercermin dari
lokasi lokasi dalam denah bangunan candi yang
menyebar dalam kompleks percandian Sistem federal
juga terlihat pada kerajaan Hindu Buddha di Jawa Timur
di mana negara-negara bagian yang berada di wilayah
kekuasaannya memiliki otoritas penuh. Hal ini
ditunjukkan oleh denah bangunan candi Candi yang
besar yang melambangkan pemerintah pusat dibangun di
bagian belakang candi-candi yang lain.
3. Ekonomi dan Sistem Mata Pencaharian Hidup
Pengaruh India dalam bidang ekonomi tidak begitu
besar. Sebab, sejak masa praaksara, penduduk Nusantara
telah mengenal tradisi agraris, pedagangan, dan
pelayaran. M. Dj. Poesponegoro dan Nugroho
Notosusanto mencatat pada zaman prasejarah penduduk
Indonesia adalah pelayar- pelayar yang sanggup
mengarungi lautan lepas Lautan bukan penghalang,
melainkan penghubung. Hubungan antarpulau malah
lebih mudah dibandingkan dengan daerah pedalaman.
Pusat-pusat perdagangan sudah tumbuh pesat di pesisir
pesisir Sumatra dan Jawa.
19
Menurut hasil penelitian F. Heger adanya benda-benda
peninggalan bersejarah, seperti nekara, di berbagai
tempat di Indonesia menunjukkan adanya hubungan
antara kepulauan di Nusantara dengan berbagai daerah di
Asia Tenggara.
Kedatangan India memperkuat tradisi agraris,
misalnya dengan mengenalkan teknologi irigasi serta
semakin meramaika aktivitas perdagangan dan
pelayaran. Hal ini dibuktikan dengan semakin
berkembangnya kota-kota pelabuhan sebagaimana
ditunjukkan Kerajaan Pajajaran (Pelabuhan Sunda
Kalapa), Sriwijaya, dan Majapahit.
4. Agama dan Sosial Budaya
Sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk, bangsa
Indonesia telah mengenal sistem kepercayaan animisme
dan dinamisme serta sejumlah kegiatan upacara yang
terkait pemujaan terhadap roh nenek moyang. Masuknya
pengaruh Hindu membuat masyarakat Indonesia
mengenal dewa-dewi. Setiap dewa-dewi memiliki tempat
dan perannya yang khas.
Dalam kehidupan sosial, pengaruh kebudayaan Hindu
yang nyata adalah dikenalnya sistem pelapisan sosial di
dalam masyarakat yang disebut sistem kasta. Meski
demikian, sistem kasta yang berlaku di Indonesia tidak
seketat di negeri asalnya India. Agama Buddha tidak
mengenal kasta.
20
Hasil budaya dua kebudayaan ini sampai sekarang
masih dapat kita jumpai dalam bentuk bangunan-
bangunan candi seperti di Sumatra, Jawa, Kalimantan,
dan Bali. Ada candi yang bercorak agama Hindu dan
ada pula candi yang bercorak agama Buddha.
5. Seni Bangun, Seni Pahat, dan Relief Candi
Candi merupakan bangunan utama yang banyak
didirikan pada masa pengaruh Hindu-Buddha. Candi-
candi bercorak Hindu umumnya berfungsi untuk
menghormati dan memuliakan dewa dewi Hindu.
Contoh-contoh candi Hindu adalah Prambanan (untuk
memuliakan Dewa Siwa), Kalasan (Dewi Tara). Sewu
(Manjusri), Gebang, kelompok Candi Dieng, Candi
Gedong Songo, Candi Panataran, dan Candi
Cangkuang.
21 https://w7.pngwing.com/pngs/873/997/png-transparent-gray-and-blac
concrete-building-under-blue-sky-at-daytime-prambanan-borobudur-
virupaksha-temple-hampi-shiva-floating-temple-culture-building-floatin
petals-thumbnail.png
Adapun candi-candi bercorak Buddha berfungsi sebagai
sarana ritual (memuliakan Buddha), menyimpan reliku
Buddhis ataupun biksu terkemuka atau keluarga kerajaan
penganut Buddha (seperti abu jenazah), atau sebagai
tempat ziarah bagi para penganutnya. Contohnya
Borobudur, Sewu, Sari, Plaosan, Banyunibo, Sumberawan,
dan Muara Takus.
Sementara itu, bangunan candi pada umumnya terdiri atas
tiga bagian utama, yaitu
bhurloka, yaitu bagian bawah candi yang
melambangkan kehidupan dunia fana,
bhurvaloka, adalah bagian candi yang melambangkan
tahap pembersihan dan pemurnian jiwa, dan
Svarloka, yang melambangkan tempat para dewa atau
jiwa yang telah disucikan.
Selain kepercayaan, masyarakat praaksara telah memiliki
sejumlah keterampilan yang dapat mendukung
kehidupannya. Menurut Brandes, berikut keterampilan
keterampilan yang dimiliki masyarakat praaksara
Bercocok tanam
Berlayar dengan perahu bercadik
Mengenal mata angin dengan mengandalkan rasi
bintang
22
Mengenal kesenian wayang sebagai media dalam
melakukan hubungan dengan arwah nenek
moyang
Membuat peralatan dari batu, tanah liat dan
logam,
Membangun tempat pemujaan, seperti menhir
dan punden berundak
Mengenal sistem pemerintahan dengan
mengangkat kepala kelompok dengan cara
memilih yang terkuat di antara mereka (primus
interpares).
Mengenal seni gamelan.
Dengan adanya akulturasi, keterampilan keterampilan
yang telah ada ini mengalami peningkatan dan
mengalami kemajuan pesat ketika masyarakat
praaksara sudah mulai mengenal tulisan. Proses
tersebut tampak pada hal-hal berikut.
1.Aksara dan Bahasa
2.Sistem Kepercayaan
3. Kesustraan
4.Sistem Pemerintahan
5. Kesenian
6.Sistem Bangunan Tata Kota
7.Bidang Seni Rupa
8.Sistem Kalender
23
BAB 2
A
PROSES MASUK DAN
BERKEMBANGNYA ISLAM DI
INDONESIA
1. Sekilas tentang Agama Islam
Agama Islam lahir di Mekkah, Arab Saudi. Agama ini
diyakini sebagai agama yang diwahyukan oleh Allah SWT
kepada umat manusia melalui utusan Nya, yaitu Nabi
Muhammad SAW. Beliau lahir pada tahun 570 M. Sejak
umur tujuh tahun, beliau telah menjadi yatim piatu dan
diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib dan selanjutnya
oleh pamannya, Abu Thalib Sejak usia 12 tahun, beliau
sering mengikuti dan membantu pamannya berdagang.
Selanjutnya, pada usia 25 tahun, beliau menikahi
Khadijah.
Pada bulan Ramadan tahun 610 M. saat berusia 40 tahun,
Muhammad didatangi oleh Malaikat Jibril di sebuah gua
yang disebut Gua Hira. Malaikat Jibril menyerukan kata
"Iqra", yang artinya bacalah. Terjadilah dialog panjang
antara Muhammad dan Malaikat Jibril. Melalui dialog ini
Muhammad diangkat menjadi rasul Allah dan dari situ
dimulailah proses turunnya Al-Quran, kitab suci agama
Islam.
25
Khadijah dan sahabat-sahabat Nabi, seperti Abu Bakar
Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah tercatat sebagai
pemeluk Islam pertama. Sekitar tahun 613 M. Nabi
Muhammad menyebarkan agama Islam secara lebih
terbuka. Tantangan terbesar datang dari suku Quraisy
dan penduduk Mekkah sebab ajaran Nabi Muhammad
dianggap menghancurkan agama asli (Watsani) serta
kekuasaan mereka atas Ka'bah. Setelah sekitar tiga belas
tahun menyebarkan Islam di Mekkah, Nabi Muhammad
bersama pengikutnya memutuskan untuk hijrah ke
Yatsrib, yang kelak bernama Madinah. Peristiwa yang
dikenal dengan nama Hijrah ini kemudian digunakan
sebagai awal penanggalan Islam.
Di Madinah, Islam berkembang pesat. Adapun di
Mekkah, Nabi harus melalui berbagai rintangan dan
terpaksa terlibat serangkaian perang dengan suku
Quraisy. Pada tahun 630, Nabi berhasil membebaskan
Kota Mekkah dari kekuasaan suku Quraisy, Pascaperang,
orang-orang Quraisy dan penduduk Mekkah mulai
memeluk agama Islam, dan Ka'bah menjadi kiblat ibadah
umat Islam. Hal ini kemudian dikuti banyak suku lain
yang berdiam di Jazirah Arab. Nabi Muhammad SAW
wafat pada 6 Juni 632 M pada usia 63 tahun.
2. Teori-teori tentang Masuknya Agama Islam ke
Nusantara
Ada tiga teori mengenai proses masuknya agama Islam ke
Nusantara, yaitu sebagai berikut.
26
a. Teori India (Gujarat) Teori India atau teori Gujarat
menyebutkan agama islam masuk ke Indonesia melalui
para pedagang dari india muslim (Gujarat) yang berdagang
di nusantara pada abad ke-13. Saudagar dari Gujarat yang
datang dari Malaka kemudian menjalin relasi dengan
orang-orang di wilayah barat di Indonesia, setelah itu
terbentuklah sebuah kerajaan Islam yang bernama
kerajaan Samudra Pasai. Selain itu, teori ini juga diperkuat
dengan penemuan makam Sultan Samudera Pasai Malik
As-Saleh pada tahun 1297 yang bercorak Gujarat. Teori ini
dikemukakan oleh S. Hurgronje dan J. Pijnapel. Teori ini
dicetuskan oleh GWJ. Drewes dan dikembangkan oleh
Snouck Hurgronje dan kawan-kawan. Teori india atau
teori Gujarat ini juga diyakini oleh sejarawan Indonesia
Sucipto Wirjosuprato soal awal mula masuknya islam di
Indonesia adalah melalu india (Gujarat).
b. Teori Arab (Mekah) Selanjutnya ada teori Arab
(Mekah)
yang menyebutkan Islam masuk ke Indonesia langsung
dari Arab (Mekah) pada masa kekhalifahan. Teori ini
didukung oleh J.C. van Leur hingga Buya Hamka atau
Abdul Malik Karim Amrullah. Menurut Buya Hamka, Islam
sudah menyebar di Nusantara sejak abad 7 M. Hamka
dalam bukunya berjudul Sejarah Umat Islam (1997)
menjelaskan salah satu bukti yang menunjukkan Islam
masuk ke Nusantara dari orang-orang Arab.
27
Teori dan bukti yang dipaparkan Hamka tersebut
didukung oleh T.W. Arnold yang menyatakan kaum
saudagar dari Arab cukup dominan dalam aktivitas
perdagangan ke wilayah Nusantara.
c. Teori Persia (Iran)
Teori yang menyatakan asal mula Islam masuk ke
Indonesia dari Negara Persia (yang sekarang bernama
Negara Iran) didukung oleh Husen Djadjadiningrat dan
Umar Amir Husen. Abdurrahman Misno dalam
Reception Through Selection-Modification: Antropologi
Hukum Islam di Indonesia (2016) menuliskan,
Djajadiningrat berpendapat tradisi dan kebudayaan
Islam di Indonesia memiliki persamaan dengan Persia.
Salah satu contohnya adalah seni kaligrafi yang terpahat
pada batu-batu nisan bercorak Islam di Nusantara.
Adapula budaya Tabot di Bengkulu dan Tabuik di
Sumatra Barat yang serupa dengan ritual di Persia setiap
tanggal 10 Muharam. Akan tetapi, seperti yang kita
ketahui, aliran Islam di Persia merupakan aliran Islam
Syiah sedangkan aliran Islam yang berkembang di
Indonesia adalah aliran Sunni. Sehingga teori Persia ini
dianggap kurang relevan dengan fakta yang ada.
28
B
JALUR-JALUR PENYEBARAN ISLAM DI
INDONESIA
Proses masuk dan berkembangnya agama dan
kebudayaan Islam ke Nusantara pada umumnya berjalan
dengan damai. Oleh karena itu, Islam mendapat
sambutan yang baik dari masyarakat, baik kalangan raja,
bangsawan, maupun rakyat biasa. Hal tersebut didukung
faktor-faktor berikut:
syarat memeluk Islam sangat mudah cukup dengan
mengucapkan kalimat Syahadat,
tata cara peribadatan Islam sederhana, tidak perlu
persiapan yang rumit,
Islam tidak mengenal pelapisan sosial seperti halnya
agama Hindu dengan sistem kastanya. Tidak heran
orang Nusantara apalagi yang berasal dari golongan
bawah secara ekonomi dan sosial mudah menerima
agama ini.
Penyebaran Islam yang berlangsung damai itu dapat
terlihat pada cara-cara penyebarannya, yaitu melalui
saluran perdagangan, perkawinan, pendidikan, ajaran
tasawuf, dakwah. dan kesenian. Pedagang, mubalig, wali,
ahli tasawuf, guru agama, dan haji berperan penting
dalam proses tersebut.
29
1. Jalur Perdagangan
Saluran perdagangan merupakan tahap yang paling awal
dalam tahap Islamisasi, yang diperkirakan dimulai pada
abad ke-7 M dan melibatkan pedagang-pedagang Arab,
Persia, dan India. Menurut Thome Pires, sekitar abad ke-7
sampai abad ke-16 lalu lintas perdagangan yang melalui
Indonesia sangat ramai. Dalam agama Islam siapapun bisa
sebagai penyebar Islam, sehingga hal ini menguntungkan
karena mereka melakukannya sambil berdagang. Pada
saluran ini hampir semua kelompok masyarakat terlibat
mulai dari raja, birokrat, bangsawan, masyarakat kaya,
sampai menengah ke bawah. Proses ini dipercepat dengan
runtuhnya kerajan-kerajaan Hindhu-Budha.
2. Jalur Perkawinan
Tahap perkawinan merupakan kelanjutan dari tahap
perdagangan. Para pedagang yang datang lama-kelamaan
menetap dan terbentuklah perkampungan yang dikenal
dengan nama pekojan. Tahap selanjutnya, para pedagang
yang menetap ada yang membentuk keluarga dengan
penduduk setempat dengan cara menikah, misalnya Raden
Rahmat (Sunan Ampel) dengan Nyai Manila. Mengingat
pernikahan Islam dengan agama lain tidak sah, maka
penduduk lokal yang akan dinikahi harus memeluk Islam
terlebih dahulu.
30
Penyebaran agama Islam dengan saluran ini berjalan
lancar mengingat akan adanya keluarga muslim yang
menghasilkan keturunan-keturunan muslim dan
mengundang ketertarikan penduduk lain untuk memeluk
agama Islam.
Dalam beberapa babad diceritakan adanya proses ini,
antara lain :
a. Maulana Ishak menikahi Putri Blambangan dan
melahirkan Sunan Giri
b. Babad Cirebon diceritakan perkawinan antara Putri
Kawunganten dengan Sunan Gunung Jati
c. Babad Tuban menceritakan perkawinan antara Raden
Ayu Teja, Putri Adipati Tuban dengan Syekh
Ngabdurahman
3. Saluran Pendidikan
Para ulama, kiai, dan guru agama berperan penting dalam
penyebaran agama dan kebudayaan Islam.
Para tokoh ini menyelenggarakan pendidikan melalui
pondok pesantren bagi para santri-santrinya.
Dari para santri inilah nantinya Islam akan disosialisasikan
di tengah masyarakat.
Pesantren yang telah berdiri pada masa pertumbuhan Islam
di Jawa, antara lain Pesantren Sunan Ampel di Surabaya
dan Pesantren Sunan Giri di Giri.
31
Pada saat itu, terdapat berbagai kiai dan ulama yang
dijadikan guru agama atau penasihat agama di kerajaan-
kerajaan.
- Kyai Dukuh adalah guru Maulana Yusuf di Kerajaan Banten.
- Kyai Ageng Sela adalah guru dari Jaka Tingkir.
- Syekh Yusuf merupakan penasihat agama Sultan Ageng
Tirtayasa di Kerajaan Banten.
4. Saluran Ajaran Tasawuf
Kata "tasawuf" sendiri biasanya berasal di kata "sufi" yang
berarti Kain Wol yang terbuat dari bulu Domba.
Tasawuf adalah ajaran untuk mengenal dan mendekatkan
diri kepada Allah sehingga memperoleh hubungan langsung
secara sadar dengan Allah dan memperoleh ridha-Nya.
Saluran tasawuf berperan dalam membentuk kehidupan
sosial bangsa Indonesia, hal ini dimunginkan karena sifat
tasawuf yang memberikan kemudahan dalam pengkajian
ajarannya karena disesuaikan dengan alam pikiran
masyarakatnya.
Bukti-bukti mengenai hal ini dapat diketahui dari Sejarah
Banten, Babad Tanah Jawi, dan Hikayat Raja-raja Pasai.
Ajaran Tasawuf ini masuk ke indonesia sekitar Abad ke-13,
tetapi baru berkembang Pesat sekitar Abad ke-17, dan
mazhab yang pelinga berpengaruh adalah Mazhab Syafi’i.
32
Tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia, antara lain
Hamzah Fansyuri, Syamsuddin as Sumatrani, Nur al Din
al Raniri, Abdul al Rauf, Syekh Siti Jenar, dan Sunan
Bonang.
5. Saluran Dakwah
Penyebaran Islam tidak dapat dilepaskan dari peranan
para wali. Ada sembilan wali yang menyebarkan Islam
dengan cara berdakwah,yang disebut juga Walisongo.
Mereka dikenal telah memiliki ilmu serta penghayatan
yang tinggi terhadap agama Islam.
a. Sunan Gresik
Sunan Gresik datang ke tanah Jawa pada tahun 1404 M.
Kedatangannya dianggap sebagai permulaan masuknya
Islam di Jawa.
b. Sunan Ampel
Sunan Ampel dikenal juga dengan nama Raden Rahmat.
Ia menyebarkan Islam melalui pendidikan pesantren di
wilayah Surabaya. Sunan Ampel juga sebagai perencana
berdirinya Kerajaan Islam Demak.
c. Sunan Giri
Sunan Giri atau Raden Paku tidak hanya menyebarkan
Islam di tanah Jawa tapi juga sampai ke Maluku. Sunan
Giri menyebarkan Islam melalui dunia seni dan sangat
berpengaruh terhadap pemerintahan di Kerajaan Demak
yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa.
33
d. Sunan Bonang
Sunan Bonan yang disebut juga Raden Makdum Ibrahim
menyebarkan Islam melalui kesenian. Ia menciptakan
tembang tombo ati yang terkenal hingga saat ini. Gamelan
Jawa yang merupakan salah satu budaya Hindu diubah
dengan nuansa Islam. Di mana dengan memasukan rabab
dan bonang sebagai pelengkap dari gamelan Jawa.
e. Sunan Drajat
Sunan Drajat atau Raden Qasim menggunakan kegiatan
sosial sebagai media untuk berdakwah. Ia yang
mempelopori penyantunan kepada anak-anak yatim dan
orang-orang sakit. Di bidang politik Sunan Drajat sangat
mendukung Kerajaan Demak.
f. Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga atau Raden Mas Syahid dalam dakwahnya
dengan memanfaatkan media wayang. Di mana
memasukan cerita-cerita tentang ajaran-ajaran Islam.
Tidak hanya lewat wayang, tapi juga lewat seni ukir atau
seni suara. Beberapa lagu yang berhasil diciptakan seperti
Lir Ilir atau Gundul Pacul. Cara itu dipakai untuk menarik
dan mengambil hati masyarakat. Bahkan terkesan efektif.
34
g. Sunan Muria
Sunan Muria atau Raden Umar Said ikut membantu
berdirinya Kerajaan Islam Demak. Ia banyak menyebarkan
Islam di sekitar Jawa Tengah. Sarana yang dipakai untuk
berdakwah sama yang dipakai Sunan Kalijaga, yakni lewat
kesenian dan kebudayaan.
h. Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah berasal dari
Palestina. Ia belajar agama diberbagai negara sejak usia
belia. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya wali
yang menjadi kepala pemerintah. Ia mendirikan
Kasultanan Cirebon dan Banten. Posisinya tersebut
dimanfaatkan untuk menyebarkan dan mengembangkan
Islam. Cara berdakwah yang dipakai cenderung seperti
Timur Tengah yang lugas dan mendekati masyrakat dengan
membangun infrastruktur.
i. Sunan Kudus
Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq cara mendekati masyarakat
dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha.
Itu bisa terlihat pada arsitektur Masjis Kudus yang
memiliki keunikan. Ia berasal dari Palestina dan
menyebarkan agama Islam di pesisir Jawa Tengah. Ia
pernah menjadi Senapati atau panglima perang Kerajaan
Islam Demak.
35
6. Saluran Kesenian
Agama Islam juga disebarkan melalui kesenian. Beberapa
bentuknya telah disebutkan, seperti wayang (oleh Sunan
Kalijaga), gamelan (oleh Sunan Bonang), serta gending
(lagu-lagu yang berisi syair-syair nasihat dan dasar-dasar
ajaran Islam.
Kesenian yang telah berkembang sebelumnya tidak
musnah, tetapi diperkaya dengan seni Islam (proses
tersebut disebut akulturasi). Seni sastra juga berkembang
pesat: banyak buku tentang tasawuf, hikayat, dan babad
disadur ke dalam bahasa Melayu.
https://w7.pngwing.com/pngs/420/372/png-transparent-assorted-brown-string-instrument-illustration-alat-
muzik-tradisional-brunei-gamelan-jawa-musical-instruments-alat-musik-bonang-talempong-musical-instrument-
thumbnail.png
36
C
KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI
INDONESIA
Nama
Sumber
Abad Letak Sultan
Kesulta
Sejarah Terkenal
nan
Samudra
Berita Marco Polo,
XI Pantai
Nazimmuddi
Pasai berita Ibnu
Utara
n al-Kamil,
Sumatra
Batutah, Hikayat
Malik al-
Raja-Raja Pasai Saleh
Aceh Bustanussalatin,
Abad
Aceh Iskandar
sumber VOC dan
XVI
Muda
Hindu Belanda (1507)
Demak Badad Tanah
Abad
Demak,
Raden Patah
Jawi dan Serat
XVI
Jawa
Kandha (1500) Tengah
Pajang Badad Tanah
Abad
Pajang,
Jaka Tingkir
Jawi dan Serat
XVI
Jawa
Kandha (1568) Tengah
Mataram Badad Tanah
Abad
Kotagede
Senopati,
Jawi, Serat
XVI
,
Sultan Agung
Kandha, Serat
(1586) Yogyakar
Centhini ta
37
Nama Sumber Abad Letak Sultan
Kesulta Sejarah Terkenal
nan
Banten Cerita
Abad
Banten Ageng
Parahyangan,
XVI
Tirtayasa
Tome Pires, berita
(1526)
Tiongkok
Gowa- Tome Pires Abad Makassar Hasanuddin
Tallo XVI
(1528)
Ternate - Kitab 1257 Maluku Baabullah
dan Nagarakertagam (Terna (Ternate),
te, 1322 NUku (Tidore)
Tidore a (karya Empu (Tidor
Prapanca, 1365)
e)
yang
menyebutkan
bahwa yang
dimaksud Maluku
adalah Ternate,
berbeda dengan
Ambon
- Hikayat ternate
38
D
BUKTI-BUKTI PENGARUH ISLAM YANG
MASIH ADA HINGGA KINI
Masuknya agama Islam ke Nusantara secara tidak
langsung membawa perubahan terhadap kehidupan
politik dan sosial budaya Nusantara. Dalam bidang
politik, konsep dewa raja yang bercorak Hindu-Buddha
(di mana raja dianggap sebagai titisan dewa) diganti
dengan konsep Islam khalifah Sebutan raja diganti
menjadi "sultan". Selain itu, saat meninggal sang sultan
tidak di dharma-kan di dalam candi, tetapi dimakamkan
secara Islam.
Dalam bidang sosial budaya, pengaruh Islam tampak
setidaknya dalam beberapa hal.
- Pertama, tidak dikenal lagi sistem kasta atau pelapisan
sosial sebagaimana dalam agama Hindu. Hal ini juga
merupakan salah satu faktor mudahnya Islam dianut
masyarakat Nusantara.
- Kedua, dari segi bahasa, banyak kosakata Arab dipakai
dan/atau diserap ke dalam bahasa Melayu dan kemudian
bahasa Nusantara Islam pertama kali masuk ke daerah
Melayu di mana bahasa Melayu menjadi bahasa pergaulan
dan bahasa komunikasi dalam perdagangan. Seiring
perkembangan Islam, banyak kosakata Arab diserap
(dikonversi) ke dalam bahasa Melayu.
39
Sejarawan Jean-Gelman Taylor bahkan menyatakan 15%
kosakata bahasa Melayu merupakan adaptasi bahasa Arab.
Contohnya nama-nama hari, yaitu Senin (snain), Selasa
(Sulasa), Rabu (Rauba'a), Kamis (Khamis), Jumat Uum'at),
Sabtu (Sabr). Nama nama orang juga bercorak Arab, seperti
Muhammad, Abdullah, Umar, Ali, Hasan, dan Ibrahim.
Selain itu, terjadi modifikasi atas huruf-huruf Pallawa ke
dalam huruf Arab, yang kemudian dikenal sebagai huruf
Jawi.
- Ketiga, pengaruh lain yang sangat nyata adalah dalam
bidang pendidikan, terutama melalui pesantren. Melalui
pesantren, agama dan kebudayaan Islam dikembangkan
dan beradaptasi dengan budaya lokal yang berkembang di
sekitarnya. Jadi, pesantren ikut membentuk kebudayaan
dan cara berpikir rakyat Nusantara.
- Keempat, dalam hal busana, ada jenis pakaian tertentu
yang menunjukkan identitas Islam, seperti sarung baju
koko, kopiah dan kerudung.
40
Sementara itu, pengaruh lainnya adalah dalam hal seni
bangunan, seperti bangunan makam, masjid, dan keraton.
Masjid-masjid, bangunan, dan makam kuno menunjukkan
adanya akulturasi dengan bangunan pada masa Hindu-
Buddha. Hal itu terlihat dari hal-hal berikut.
Atapnya atap tumpang atau bertingkat yang jumlahnya
selalu ganjil
Posisi masjid agak tinggi dari permukaan tanah dan
berundak
Ada serambi yang terdapat di depan atau di samping
masjid
Terdapat kolam atau parit di bagian depan atau di
samping masjid yang digunakan sebagai tempat untuk
mencuci kaki
Adanya pawestren, yaitu ruang khusus bagi
perempuan yang terletak di sebelah kanan masjid
untuk mengikuti salat berjamaah.
Memiliki denah berbentuk bujur sangkar.
Makam makam kuno diletakkan di atas bukit,
umumnya terbuat dari batu yang disebut dengan jirat
atau kijing. Di atas jirat terdapat bangunan rumah
kecil yang disebut dengan cungkup atau kubba.
Bangunan makam berbentuk persegi panjang dengan
arah lintang utara selatan.
41
Sama seperti halnya kebudayaan Hindu dan Buddha,
kebudayaan Islam pun mengalami akulturasi dengan
budaya budaya lain yang telah ada sebelumnya. Akulturasi
yang terjadi semakin memperkaya kehidupan
masyarakat. Akulturasi kebudayaan yang berkembang
setelah masuknya pengaruh Islam dapat diuraikan
sebagai berikut.
1. Aksara
Akulturasi kebudayaan Indonesia dan Islam dalam hal
aksara diwujudkan dengan berkembangnya tulisan Arab
Melayu di Indonesia yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk
menulis dalam bahasa Melayu. Tulisan Arab Melayu tidak
menggunakan tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab.
Tulisan Arab Melayu disebut dengan istilah Arab gundul.
Selain itu, huruf Arab berkembang menjadi seni
kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan
ataupun ukiran dan gambar wayang.
2. Bidang Sosial
Masyarakat zaman Hindu Buddha mengenal sistem
kasta. Dengan masuknya agama dan kebudayaan Islam,
sistem kasta tersebut perlahan-lahan menghilang.
42
Dalam bidang pemerintahan, terjadi proses akulturasi.
Pada masa Islam, gelar raja diganti dengan sultan, suatu
kata dari bahasa Arab yang berarti penguasa kerajaan,
atau susuhunan, yang kemudian menjadi sunan, juga
dari bahasa Arab yang berarti yang disembah atau yang
dihormati. Konsep dewa raja yang memandang raja
sebagai san dewa diganti dengan keep utan sebagai
kholifah, yang berarti pemimpin umat Pevanitat aja
berasal dari tokoh-tokoh agama yang disebut kiai.
4. Bidang Seni Bangunan
Dalam hal seni bangunan juga tampak jelas terjadi
akulturasi. Hal itu nyata, misalnya, pada bangunan
pemujaan. Kalau pada masa praaksara pemujaan
terhadap arwah nenek moyang diwujudkan dengan
bangunan punden berundak, pada masa Hindu Buddha
diwujudkan dalam bentuk candi. Dalam bentuk candi,
unsur kebudayaan praaksara tidak ditinggalkan
sebagaimana terlihat pada struktur bertingkat tingkat
pada bangunan candi, mirip punden berundak (masa
praaksara). Proses akulturasi yang sama terlihat juga
pada letak dan bentuk makam. Pada masa islam, meski
makamnya sudah lebih sederhana dan tidak besar,
makam dibangun di tempat yang berbukit, mirip dengan
konsep punden berundak.
43
5. Bidang Seni Rupa
Dalam ajaran Islam dilarang menggambarkan makhluk
hidup dalam bentuk lukisan ataupun patung, apalagi
melukiskan wujud Nabi Muhammad. Oleh karena itu,
muncul berbagai ide kreatif dalam menciptakan karya
seni rupa yang justru memperkaya corak dan estetika
seni rupa di dunia Islam, berupa gambar dekoratif,
abstrak, hingga kaligrafi.
6. Bidang Kesustraan
Dalam hal kesusastraan sangat nyata terjadi proses
akulturat dengan kebudayaan Hindu Buddha. Karya
sastra menang dipengaruhi oleh sastra Islam yang
berasal dari Persia, misalnya dalam "Kisah Bayan
Budiman", "Amir Hamzah" dan "Cerita Seribu Satu
Malam", namun pengaruh Hindu Buddha dan Jawa
(lokal) juga masih nyata.
Pengaruh kesusastraan Hindu terhadap kesusastraan
Islam terutama berasal dari dua kisah epos terkenalnya,
Mahabarata dan Ramayana, serta cerita Panji. Pengaruh
kedua kitab itu sangat terasa misalnya dalam Hikayat
Pandawa Lima, Hikayat Perang Pandiwa Jaya dan
Hikayat Sri Rama. Hikayat, di Sumatra Barat disebut
tambo, di Jawa disebut babad, di Sulawesi Selatan
disebut lontora adalah karya sastra yang berisi cerita atau
dongeng yang sering dikaitkan dengan tokoh sejarah.
44
7. Bidang Seni Pertunjukkan
Pada masa praaksara, wayang atau pertunjukan bayang-
bayang telah dilakukan sebagai salah satu media
penghubung antara manusia dan roh nenek moyang.
Orang yang mementaskannya (perantara) disebut
saman. Mula-mula bentuknya sangat sederhana dan
dilakukan pada malam hari memanfaatkan cahaya bulan
untuk memperoleh efek bayangan. Bayang-bayang atau
wewayangan yang diperoleh dianggap sebagai
perwujudan arwah nenek moyang yang ingin mereka
hubungi untuk dimintai petunjuk tentang banyak hal.
8. Upacara
Akulturasi dalam hal upacara tampak pada upacara
perlahan kelahiran dan kematian. Tara cara pernikahan
bevakulturasi kebudayaan pra Islam. Selain dipanjatkan
doa doa dengan menggunakan bahasa Arab, acara
siraman, selamatan dan sesaj yang merupakan
peninggalan zaman Hindu Buddha juga dimasukkan
sebagai salah satu bagian dari rangkaian upacara
pernikahan, dengan mendaraskan doa doa dari Alquran.
45
9. Sistem Kalender
Penggunaan sistem kalender merupakan salah satu
bentuk akulturasi. Sebelum budaya Islam masuk ke
Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal
kalender Saka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78
M. Dalam kalender Saka, ditemukan nama-nama
pasaran hari, seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan
Kliwon. Setelah Islam berkembang, Sultan Agung dari
Mataram menciptakan kalender Jawa dengan
menggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah)
seperti tahun Hijriah (Islam). Pada kalender Jawa,
Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama
bulan, seperti Muharam diganti dengan Suro, Ramadan
diganti dengan Pasa. Sementara itu, nama-nama hari
tetap menggunakan hari-hari sesuai dengan bahasa
Arab. Bahkan hari pasaran pada kalender Saka juga
digunakan. Kalender Sultan Agung dimulai tanggal 1
Suro 1547 Jawa, atau tepatnya 1 Muharam 1035 H yang
bertepatan dengan tanggal 8 Agustus 1625 M.
46
DAFTAR PUSTAKA
Buku Sejarah Indonesia untuk
SMK/MAK Kelas X Penerbit
Erlangga Kurikulum 2013
Gambar 1.1 Trimurti :
https://id.wikipedia.org/wiki/Trimurti#/media/Berkas:Halebid3.JPG
Gambar 1.2 Penyebaran awal Buddhisme (500 SM-600-an M):
https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Penyebaran_Agama_Buddha.svg
Gambar 1.3 :
https://id.wikipedia.orgwikiAksara_Pallawa
https://mediaindonesia.com/humaniora/431871/yuk-kenali-sejarah-teori-
masuknya-islam-ke-indonesia
https://mediaindonesia.com/humaniora/431871/yuk-kenali-sejarah-teori-
masuknya-islam-ke-indonesia
Objek Design :
https://www.canva.com/
https://w7.pngwing.com/pngs/420/372/png-transparent- assorted-brown-
string-instrument-illustration-alat-muzik-tradisional-brunei-gamelan-
jawa-musical-instruments-alat-musik-bonang-talempong-musical-
instrument-thumbnail.png
https://w7.pngwing.com/pngs/873/997/png-transparent-gray-and-black-
concrete-building-under-blue-sky-at-daytime-prambanan-borobudur-
virupaksha-temple-hampi-shiva-floating-temple-culture-building-floating-
petals-thumbnail.png
https://w7.pngwing.com/pngs/505/960/png-transparent-brown-pagoda-
temple-illustration-mount-batur-pura-ulun-danu-bratan-pura-ulun-danu-
batur-danau-buyan-temple-bali-mode-of-transport-religion-indonesia-
thumbnail.png