KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa kami panjatkan
kehadirat Allah swt, atas berkah, rahmat dan karunianya-
Nya sehingga Buku Panduan Penggunaan Media
Pembelajaran Cerita Interaktif Bermuatan STEAM ini
dapat diselesaikan. Buku panduan ini dibuat sebagai
pedoman bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran
dengan media cerita interaktif bermuatan STEAM dalam
meningkatkan kemampuan bahasa anak usia dini.
Buku panduan ini berisi informasi tentang
bagaimana mengaitkan cerita bermuatan STEAM
dengan kegiatan pembelajaran serta dapat menjadi
panduan pendidik/guru dan orangtua dalam
mengembangkan aspek kemampuan bahasa anak.
Penulis mengucapkan terima kasih yang tak
terhingga kepada semua pihak yang telah banyak
berperan dan memberikan dukungan. Ucapan terima
kasih penulis haturkan kepada Bapak Prof. Dr. H.
Syamsul Bachri Thalib, M.Si dan Bapak Dr.
Syamsuardi, S.Pd, M.Pd sebagai pembimbing 1 dan
pembimbing 2.
Setiap karya tentu saja tidak luput dari kelemahan,
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu penulis
sangat mengharapkan saran yang membangun dari
pembaca. Semoga buku panduan ini dapat bermanfaat.
Makassar, Mei 2022
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................i
DAFTAR ISI..................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................1
B. Tujuan Penulisan.......................................................4
C. Manfaat Penulisan………………………………….4
D. Sasaran.......................................................................5
BAB II KONSEPTUAL
A. Media Pembelajaran Cerita Bermuatan STEAM…...7
B. Konsep Media Cerita Interaktif……….…………....9
C. Konsep Pembelajaran Bermuatan STEAM….........13
D. Konsep Kemampuan Bahasa Anak Usia Dini.........16
BAB III PENGGUNAAN MEDIA
PEMBELAJARAN CERITA INTERAKTIF
BERMUATAN STEAM
A. Prosedur Penerapan Media Pembelajaran Cerita
Interaktif Bermuatan STEAM…….………………22
B. Aspek Pendukung Pembelajaran………….............35
C. Penilaian…………………………………………..36
BAB IV PENUTUP…………………………………..39
DAFTAR PUSTAKA………………………………...40
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan anak usia dini sebagai salah satu
pendidikan yang terpenting untuk setiap anak. Direktorat
PAUD Depdiknas menyatakan bahwa Pendidikan Anak
Usia Dini adalah suatu proses pembinaan yang ditujukan
sejak anak usia lahir hingga enam tahun secara
menyeluruh, yang mencakup aspek fisik, dan non fisik,
dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan
jasmani, moral, spiritual, motorik, emosional, dan sosial
yang tepat dan benar agar anak dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal. Dengan demikian,
pendidikan anak usia dini merupakan suatu sarana untuk
menggali dan mengembangkan berbagai potensi yang
dimiliki anak agar dapat berkembang secara optimal.
Masa usia dini sering disebut juga sebagai masa
keemasan (golden age) sebab pada masa itu seluruh
kemampuan anak akan berkembang serta masa ini akan
menentukan bagaimana perkembangan anak ditahapan
selanjutnya. Kemampuan bahasa menjadi salah satu
aspek perkembangan yang sangat penting dalam rangka
pemberian rangsangan dan sesuai dengan tahap
perkembangan usianya karena sebagai bekal untuk
kesiapan anak dalam memasuki jenjang sekolah yang
lebih tinggi. Kemampuan bahasa yang optimal akan
menjadikan anak mudah dalam mengucapkan kata-kata
atau kalimat untuk mengekspresikan, menyatakan,
menyampaikan suatu pikiran, berbagai gagasan dan
perasan. Kemampuan bahasa terbagi atas dua yakni
kemampuan bahasa reseptif dan kemampuan bahasa
ekspresif.
Terdapat beragam media pembelajaran yang
dapat digunakan dalam mengembangkan kemampuan
bahasa anak. Salah satu media pembelajaran yang dapat
digunakan dalam menstimulasi kemampuan bahasa anak
yaitu menggunakan media cerita. Pada umumnya, cerita
hanya digunakan sebagai kegiatan pengantar sebelum
anak masuk pada kegiatan belajar, padahal media buku
cerita juga dapat digunakan dalam kegiatan belajar untuk
mengembangkan kemampuan bahasa anak.
Melalui media cerita, kemampuan bahasa anak
dapat dikembangkan dengan tanya jawab terkait cerita
yang terdapat pada buku, mengajak anak untuk
menceritakan kembali isi cerita yang ada pada buku dan
sebagainya. Penggunaan media cerita pada umumnya
hanya membacakan cerita dan anak sebagai pendengar,
padahal idealnya guru perlu membangun komunikasi
aktif dengan anak. Dalam mengembangkan kemampuan
berbahasa anak, perlu adanya keterlibatan aktif dari guru
sehingga apa yang menjadi tujuan pembelajaran dapat
dicapai sesuai yang diharapkan. Oleh karena itu dalam
penelitian ini, akan mengembangkan penerapannya
dengan melibatkan guru dalam penggunaan media cerita.
Pengembangan tersebut berupa pengembangan buku
cerita interaktif bermuatan STEAM (Sains, Teknologi,
Enginering, Art, Mathematic).
Muatan pembelajaran STEAM yang terintegrasi
dari konsep sains, teknologi, teknik, seni dan
matematika. Pada pembelajaran STEAM dimana semua
aspek ini merupakan suatu cara berpikir yang sistematis
untuk dapat memahami suatu ilmu pengetahuan yang
baru dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari sebagai pola pemecahan suatu masalah
sederhana, pemikiran yang kreatif dan kemampuan
analitis.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan pengembangan media pembelajaran
ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan acuan bagi pendidik PAUD
dalam memahami dan mengembangkan
kemampuan bahasa anak.
2. Membantu pendidik PAUD dalam meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan tentang
pengembangan program pembelajaran PAUD
bermuatan STEAM untuk mengembangkan
kemampuan bahasa anak.
3. Bagi anak usia dini, dapat memberikan kesempatan
mengembangkan kemampuan bahasa melalui media
cerita dan kegiatan bermuatan STEAM.
C. Manfaat Penulisan
Manfaat secara umum setelah membaca buku
panduan media pembelajaran cerita interaktif bermuatan
STEAM ini, antara lain:
1. Pendidik PAUD dapat lebih mudah memahami dan
menerapkan media pembelajaran cerita interaktif
bermuatan STEAM dalam mengembangkan
kemampuan bahasa anak.
2. Pendidik dapat merancang berbagai jenis
kegiatan yang disesuaikan dengan tahapan
perkembangan anak untuk meningkatkan
kemampuan bahasa anak usia dini.
D. Sasaran
Sasaran dari pengembangan media pembelajaran
cerita interaktif bermuatan STEAM dalam
mengembangkan kemampuan bahasa anak yaitu
pendidik dan tenaga kependidikan anak usia dini dan
pengembangan aspek perkembangan bahasa anak.
Kemampuan bahasa anak yang dimaksud antara lain:
1. Fonologi/sistem suara (mendengarkan dan
membedakan bunyi suara, bunyi bahasa dan
mengucapkannya dengan lafal yang benar)
2. Morfologi/aturan untuk mengkombinasikan unit suku
kata (mengucapkan kata sederhana), sintaksis/aturan
membuat kalimat (membuat kalimat pertanyaan,
menyusun kalimat yang sederhana dengan struktur
lengkap S-P-O-K)
3. Semantik/sistem makna (mengetahui makna
sederhana dalam sebuah kalimat)
4. Pragmatik/aturan penggunaan dalam berkomunikasi
(berkomunikasi secara lisan dan berinteraksi dengan
teman dan guru menggunakan bahasa yang
sederhana).
BAB II
KONSEPTUAL
A. Media Pembelajaran Cerita Bermuatan STEAM
1. Konsep Media Pembelajaran
Proses pembelajaran media menjadi hal yang
menarik buat anak, sebab dengan menggunakan media
anak akan lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran.
Menurut Kurnia (2017) media pembelajaran adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyampaikan pesan dari pengirim pesan kepada
penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran,
minat serta perhatian setiap anak didik untuk dapat
mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Trimuliana
(2021) menjelaskan bahwa media merupakan alat atau
bahan yang digunakan untukmenyampaikan isi dan
pesan pembelajaran yang sangat penting bagi anak usia
dini, yang bermanfaat untuk menarik perhatian anak,
memperjelas isi/pesan pembelajaran, mengatasi
keterbatasan waktu dan pembelajaran lebih interaktif.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka
pengertian media pembelajaran dapat disimpulkan
bahwa segala bentuk alat komunikasi yang
dapat digunakan untuk menyampaikan informasi/
pesan dari sumber yang akan ditujukan kepada anak
didik bertujuan untuk merangsang pikiran, perasaan,
minat dan perhatian anak dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran.
2. Peran dan Fungsi Media Pembelajaran
Media dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan
berbagai hal ddalam kegiatan pembelajaran. Sehingga
pentingnya penggunaan media pembelajaran agar dapat
mengantarkan kepada tujuan pendidikan. Untuk lebih
memahami secara komprehensif manfaat dari media
pembelajaran di PAUD, maka fungsi media
pembelajaran pada anak menurut Sujiono (2017) yakni:
a. Dapat merangsang anak dalam melakukan kegiatan,
pikiran, perasaan, minat dan perhatian.
b. Sebagai alat peraga
c. Dapat mengembangkan berbagai imajinasi anak.
Media memiliki peran dan fungsi dalam proses
pembelajaran yang dapat meningkatkan kegiatan dan
minat yang baru, membangkitkan motivasi anak dan
berpengaruh pula pada psikologi anal. Serta dalam
penggunaannya anak akan merasa belajar sambil
bermain.
3. Kriteria Media Pembelajaran
Penggunaan media pembelajaran pada kegiatan
belajar mengajar di kelas hendaknya sesuai dengan
kebutuhan anak. Berikut ini kriteria memilih media
pembelajaran menurut Kustandi (2018) pemilihan media
dapat dengan mempertimbangkan faktor-faktor:
a. Disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Media
dibuat dengan mengacu tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan;
b. Mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep,
prinsip, atau generalalisasi;
c. Praktis, luwes dan bertahan;
d. Guru terampil menggunakannya;
e. Pengelompokan sasaran. Media terbagi menjadi tiga
jenis, jenis kelompok besar, kelompok kecil, dan
seterusnya;
f. Memenuhi persyaratan teknis.
B. Konsep Media Cerita Interaktif
1. Pengertian Cerita
Cerita dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
daring (2021) yaitu tuturan yang membentangkan
bagaimana terjadinya sesuatu (peristiwa, hal, kejadian
dan sebagainya). Cerita anak merupakan salah satu
karya sastra anak. Menurut Rampan (Subyantoro,2007)
bahwa cerita anak adalah cerita sederhana namun
kompleks. Kesederhanaan itu ditandai dengan syarat
wacana baku serta kualitas yang tinggi akan tetapi tidak
rumit atau ruwet sehingga lebih komunikatif.
Prakoso (2019) mengemukakan bahwa naskah
cerita yang baik adalah cerita yang sesuai dengan usia
anak-anak, sesuai dengan tema yang sudah ditentukan
dan sesuai dengan tujuan pembentukan karakter.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa cerita adalah sebuah
karya sastra atau tulisan yang memuat tuturan atau
menceritakan tentang sebuah kisah yang memiliki nilai.
2. Buku Cerita Interaktif
Buku interaktif sebagai buku yang memerlukan
interaksi dan partisipasi dari pembacanya. Dengan buku
interaktif, pembaca dapat belajar sambil bermain. Media
buku (cetak) dipilih dibandingkan media elektronik
(ebook) sebab pengalaman membaca dimana pembaca
dapat menyentuh dan membalik halaman secara
langsung, serta membalik ke halaman sebelumnya
maupun ke akhir cerita, membantu otak untuk
memahami dan mengingat bacaan dengan lebih mudah
dan lama. Selain itu pendapat lain dari, Pratama (2019)
menyatakan bahwa buku cerita bergambar interaktif
adalah cerita yang melibatkan anak secara aktif dalam
cerita dengan menyelesaikan masalah yang dihadapi
tokoh, belajar terjadi secara menyenangkan melalui
cerita yang menarik dan gambar yang mendukung
membuat materi mudah dipahami anak.
3. Jenis Buku Cerita Interaktif
Buku cerita interaktif sebagai salah satu media
pembelajaran yang sering digunakan dalam kegiatan
belajar mengajar dikelas. Berikut ini beberapa jenis buku
interaktif menurut Pratama (2019) yaitu sebagai berikut:
a. Colouring books: salah satu aktivitas favorit anak-
anak dan bersamaan dengan membaca cerita,
kegiatan mewarnai membuat buku menjadi lebih
menarik dan anak-anak tidak akan mudah merasa
bosan;
b. Pop-up books: menggunakan teknik dengan salah
satu halaman yang dilipat pada arah yang berbeda
dan ketika dibuka dapat menimbulkan efek 3D
sehingga karakter tampak hidup. Beberapa jenis
teknik yang digunakan seperti melipat, menarik
dan lainlain. Hal tersebut membuat anak menjadi
tidak bosan dan mau terus belajar;
c. Hidden objects: menemukan objek yang telah
disamarkan pada bagian halaman dan membawa
cerita melalui itu;
d. Touch and feel books: biasa digunakan untuk anak
usia pre-school dengan tujuan untuk
mengembangkan minat mereka dalam belajar
mengenal tekstur yang berbeda, misalnya bulu halus
pada gambar burung. Membuat anak-anak
menyentuhnya merupakan salah satu cara terbaik
untuk mereka belajar;
e. Lift the flap: ada halaman pada bagian buku yang
dapat diangkat dan ada sesuatu yang tersembunyi di
bawahnya. Pembaca dapat membuka menutup
halaman tersebut sesuai dengan keinginan;
f. Pull the tab: ada penutup yang ketika ditarik akan
muncul sesuatu;
g. Play a sound book: sebuah buku cerita yang di
dalamnya terdapat tombol-tombol yang jika ditekan
akan mengeluarkan suara berkaitan dengan tema
cerita.
C. Konsep Pembelajaran Bermuatan STEAM
1. Pengertian Pembelajaran STEAM
STEAM sebenarnya ada dalam kehidupan kita
sehari-hari, namun seringkali kita memberikan arti
yang terlalu jauh sehingga tampak rumit untuk dipelajari.
STEAM perlu untuk dikenalkan pada anak usia dini
sebab STEAM mengajarkan keterampilan anak, seperti
bekerjasama, ketekunan, kreativitas dan kecerdasan.
STEAM sangat penting, karena kehadirannya tidak bisa
terlepas dari kehidupan kita sehari-hari dan anak yang
paham STEAM akan menjadi seorang inovator dan
pemikir kritis.
STEAM menurut Siantajani (2020) yaitu
terintegrasinya sains, teknologi, engineering, art dan
matematika untuk bersinergi dan membentuk kekuatan
baru. STEAM pada anak usia dini pada hakekatnya
adalah upaya anak untuk memenuhi rasa ingin tahunya
terhadap segala hal yang nyata di lingkungannya sehari-
hari yang memungkinkan anak untuk mengeksplorasi,
menyelidiki, bereksperimen melalui bermain dengan
dukungan guru melalui bahasa yang menstimulasi
kemampuan berpikir dengan menggunakan pengetahuan
dan keterampilan sains dan matematika serta
penggunaan teknologi dan rekayasanya sehingga anak
menemukan jawaban.
Selain itu, Amir (2019) telah mendefinisikan
empat disiplin STEAM beserta peranannya yaitu :
a. Science, merupakan pelajaran yang mengaitkan
dengan ilmu alam.
b. Technology, yang mengaitkan dengan teknologi
dengan sains yang biasanya dihubungkan dengan
teknologi modern saat ini yang dibuat oleh
manusia dengan perkembangan secara cepat.
c. Engineering, ini mengoperasikan atau mendesain
dengan prosedur yang dapat memecahkan
permasalahan dan bermanfaat bagi manusia.
d. Art, yakni pola inovasi dan kreativitas dalam
belajar yang mampu menghadirkan suasana nyata
dan berbeda sehingga menjadi lebih hidup. Seni
dalam pembelajaran dimaksudkan agar suasana
belajar menjadi menyenangkan, hidup, bermakna,
tidak monoton, serta mampu menjadikan anak.
e. Mathematics, dapat meningkatkan inovasi dari
teknologi dan dapat menghasilkan bahasa ilmu
eksak dalam sains, teknologi dan teknik.
STEAM sebagai salah satu muatan
pembelajaran yang terintegrasi dari konsep sains,
teknologi, teknik, seni dan matematika. Pada STEAM
dimana semua aspek ini merupakan cara berpikir yang
sistematis untuk dapat memahami dan
mengaplikasikannya sebagai pola pemecahan masalah,
pemikiran kreatif dan analitis.
2. Prinsip Pembelajaran STEAM
Pembelajaran STEAM memiliki beberapa
prinsip menurut Suantajani (2020) yakni diantaranya:
a. Belajar melalui bermain (play-based learning)
b. Berkaitan dengan kehidupan nyata anak.
c. Berbasis pada pembelajaran inkuiri.
d. Melekat pada kurikulum yang responsive terhadap
minat dan kebutuhan anak
e. Potensi mengintegrasikan 4 atau 5 bidang, sains,
teknologi, engineering, arts dan matematika pada
aktivitas keseharian anak.
f. Komunikasi guru dan anak yang mengaktifkan
keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order
of thinking skills).
g. Pembelajaran dimungkinkan sampai anak mampu
untuk menemukan solusi.
h.
3. Tujuan Pembelajaran STEAM
Tujuan dan manfaat pembelajaran STEAM
menurut Sa’adah (2020). Tujuan diterapkannya
pembelajaran STEAM yakni (a) mengembangkan
kreativitas anak atau sebagai sarana untuk
meningkatkan ketrampilan pemecahan masalah dunia
nyata. (b) Untuk melatih anak berpikir secara kritis
serta membangun cara berpikir logis dan sistematis.
(c) Dalam pembelajaran STEAM, anak-anak akan
bermain permainan yang memiliki nilai edukasi dan
(d) STEAM mendorong anak untuk mengembangkan
rasa ingin tahu, keterbukaan dan aktivitas bertanya.
D. Konsep Kemampuan Bahasa Anak Usia Dini
1. Pengertian Kemampuan Bahasa
Bahasa memegang peranan penting dalam
perkembangan anak. Kemampuan bahasa pada anak
merupakan salah satu kemampuan yang sangat penting
untuk berkomunikasi terutama bagi mereka yang sudah
masuk ke lingkungan pendidikan prasekolah. Hurlock
(1995) mengemukakan bahwa bahasa mencakup setiap
sarana komunikasi dengan menyimbolkan pikiran dan
perasaan untuk menyampaikan makna kepada orang
lain. Termasuk di dalamnya perbedaan dari bentuk
komunikasi yang luas seperti: tulisan, bicara, bahasa
simbol, ekspresi muka, isyarat, pantomim dan seni.
Badudu (1994) menyatakan bahwa bahasa
adalah alat penghubung atau komunikasi antara anggota
masyarakat yang terdiri atas individu-individu yang
menyatakan pikiran, perasaan, dan keinginannya
Kemampuan bahasa pada anak menjadi sesuatu yang
sangat penting karena bahasa merupakan sarana anak
dalam berkomunikasi dengan lingkungan dan orang
yang ada disekitarnya.
2. Jenis-Jenis Kemampuan Bahasa
Kemampuan bahasa terbagi atas 2 (dua) jenis
yakni sebagai berikut:
a. Kemampuan Bahasa Ekspresif
Kemampuan bahasa ekspresif berkaitan dengan
kemampuan anak berbicara. Berbicara bukanlah sekedar
mengucapkan tetapi sebagai alat mengekspresikan,
menyampaikan, mengungkapkan pikiran, ide dan
perasaan anak.
b. Kemampuan Bahasa Reseptif
Bahasa reseptif sering dipahami sebagai kemampuan
untuk mendengarkan dan memahami (menyimak).
Kemampuan bahasa reseptif membuat anak dapat
memahami kata-kata, kalimat, cerita dan peraturan.
Sebagaimana fungsi bahasa yaitu sebagai alat untuk
menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain
(Susanto, 2016). Bahasa reseptif menjadi sangat penting
karena adanya pemahaman bahasa sehingga komunikasi
berhasil. Anak usia dini memahami bahasa menjadi
dasar baginya untuk belajar kepada tahap perkembangan
bahasa berikutnya seperti membaca dan menulis sebagai
alat belajar serta beraktivitas
3. Tahap Perkembangan Bahasa Anak
Setiap anak mengalami perkembangan bahasa
yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu untuk
dipahami tahapan perkembangan bahasa anak. Jamaris
(2006) mengemukakakn tahapan perkembangan bahasa
anak usia dini usia 5-6 tahun yakni sebagai berikut:
a. Sudah dapat mengungkapkan lebih dari 2500
kosakata.
b. Lingkup kosakata yang dapat diungkapkan anak
menyangkut: warana, ukuran, bentuk, rasa, bau,
keindahan, kecepatan, suhu, perbedaan,
perbandingan jarak dan permukaan (kasar-h.us).
c. Anak usia 5-6 tahun dapat melakukan peran
pendengar yang baik.
d. Dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan, anak
sudah dapat mendengarkan orang lain berbicara dan
menanggapi pembicaraan tersebut.
e. Percakapan yang dilakukan oleh anak usia 5-6 tahun
telah menyangkut berbagai komentaranya terhadap
apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan orang
lain, serta apa yang dilihatnya. Anak pada usia 5-6
tahun sudah dapat melakukan ekspresi diri, menulis,
membaca bahkan berpuisi.
4. Indikator Perkembangan Bahasa Anak
Santrock (2007) mengemukakan bahwa selama
masa kanak-kanak menengah dan akhir, setiap anak akan
membuat banyak kemajuan dalam hal kosakata serta tata
bahasa mereka. Kemajuan dalam fonologi, morfologi,
sintaksis, semantic dan pragmatic berlanjut di masa
kanak-kanak awal dan menjadi analitis dan logis di masa
kanak-kanak menengah dan akhir. Terdapat beberapa
indikator capaian perkembangan bahasa anak
diantaranya sebagai berikut:
Tabel 1.1 Indikator Perkembangan Bahasa Anak
Aspek Indikator Sub Indikator
Fonologi Mendengarkan
Perkembangan (System suara) dan membedakan
Bahasa bunyi suara,
Morfologi bunyi bahasa,
(Aturan untuk dan
mengkombinasikan mengucapkannya
unit suku kata) dengan lafal yang
Sintaksis benar
(Aturan membuat Mengucapkan
kalimat) kata sederhana
Semantik Membuat kalimat
(System makna) pertanyaan,
menyusun
Pragmatik kalimat yang
(Aturan sederhana
penggunaan dalam dengan struktur
berkomunikasi lengkap S-P-O-K
Mengetahui
makna sederhana
dalam sebuah
kalimat
Berkomunikasi
secara lisan dan
berinteraksi
dengan teman
dan guru
menggunakan
bahasa yang
sederhana
Selain itu, Morrison (2012) menyatakan bahwa
bahasa adalah keterampilan persiapan yang paling
penting. Anak membutuhkan keterampilan bahasa untuk
dapat berhasil di sekolah dan dalam hidup. Keterampilan
bahasa yang penting meliputi:
1) Bahasa reseptif, seperti kemampuan anak dalam
mendengarkan guru dan mengikuti petunjuk
2) Bahasa ekspresif, ditunjukkan dalam kemampuan
untuk berbicara fasih dan jelas dengan guru dan
teman, kemampuan untuk mengekspresikan diri
dalam bahasa sekolah, dan kemampuan untuk
menyampaikan kebutuhan dan gagasan.
3) Bahasa simbolis, yaitu mengetahui nama-nama
orang, tempat dan benda. Kata-kata konsep dan kata
sifat serta kata depan.
BAB III
PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
CERITA INTERAKTIF BERMUATAN STEAM
Cerita tidak secara otomatis menstimulasi
pemikiran anak ketika buku atau cerita dibacakan di
depan kelas. Terjadinya stimulasi terhadap pemikiran
anak sangat bergantung pada orang dewasa yang akan
membacakannya, dalam hal ini guru atau orangtua di
rumah. Guru dan orangtua perlu terlibat secara interaktif
dengan anak. Cerita yang baik akan menangkap
perhatian anak dan memberikan emosi-emosi positif di
dalam sebuah proses pembelajaran.
Media cerita bermuatan STEAM ini memuat
cerita yang sangat dekat dengan dunia anak. Ceritanya
ringan dan mudah dimengerti, berikut langkah-langkah
penggunaan dan pelaksanaannya dalam pembelajaran
anak usia dini.
A. Prosedur Penerapan Media Pembelajaran Cerita
Interaktif Bermuatan STEAM
Penerapan media pembelajaran cerita interaktif
bermuatan STEAM dalam kegiatan pembelajaran
dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:
“Cerita Ana Senang Membuat Kue”
1. Persiapan
a) Guru menyiapkan RPPH yang disesuaikan:
RPPH yang dapat dimodifikasi seperti contoh sesuai
dengan keadaan lingkungan sekolah
b) Penataan lingkungan main
Guru menata lingkungan main dan memastikan
keamanan, kenyamanan dan keleluasaan anak.
c) Guru mempersiapkan media yang akan digunakan
d) Guru menyampaikan tema pembelajaran
e) Guru menyampaikan aturan main
Guru dapat membuat kesepakatan bersama
2. Pelaksanaan
a) Menyanyikan lagu sesuai tema
Kueku ada empat
Macam-macam bentuknya
Bentuk bulan dan bintang… bulat dan segi tiga
Kumakan satu kue, yes!
Kuminum dengan susu…
Rasanya sangat enak…
Jangan lupa bersyukur. (Nada Balonku)
Alhamdulillah!!
Guru dapat menggunakan lagu lain atau lagu karya
guru sendiri
b) Guru membacakan cerita “Ana Senang Membuat
Kue” atau buku cerita yang sesuai dengan tema hari
ini dengan Langkah sebagai berikut:
Guru mengajak anak mengamati gambar yang
ada pada buku dan merespon pertanyaan anak
Guru membacakan cerita dengan mengutamakan
interaksi dengan anak
Guru mengajak anak mengidentifikasi alat-alat
yang ada di sampul buku cerita dan melakukan
tanya jawab
“Ayo anak-anak gambar apa saja yang ada
disini?” Sambil memperlihatkan gambar lebih
dekat dengan anak.
“Anak-anaknya ibu guru bisa menemukan benda
ini dimana ya?” guru memancing anak untuk
berbahasa ekspresif
Guru mengajak anak untuk mengamati dan
mengajukan pertanyaan terbuka, misalnya : apa
yang bisa dilakukan di pasar? Apa saja yang bisa
dibeli di pasar? Dan pertanyaan lainnya yang
bersifat terbuka
Guru mengajak anak untuk menghitung telur
yang dinaikkan ke atas timbangan
“Mari kita hitung Bersama, berapa telur
yang dinaikkan Ana ke atas timbangan?”
Guru memperhatikan anak, misalnya anak yang
tidak ikut menghitung atau tidak menyebutkan
angka, respon dengan menyebut nama anak dan
berikan pertanyaan serta apresiasi agar lebih
berinteraksi.
Guru mengajak anak untuk menghubungkan
cerita dengan kehidupan sehari-hari, terigu
digunakan untuk membuat apa saja?
Guru mengajak anak memperhatikan lampu yang
menyala saat Ana berkendara
“Siapa yang pernah liat lampu lau lintas?, ada
berapa? warnanya apa saja? Jika lampu merah
menyala artinya? Dan pertanyaan lain yang
berhubungan dengan gambar dan memancing
interaksi anak.
Jang lupa untuk selalu memberikan apresiasi.
Guru melakukan tanya jawab/ menggali
pengalaman anak saat terkait ayakan, seperti
yang dilakukan Ana agar bahan yang digunakan
menjadi lebih halus teksturnya
Guru melakukan tanya jawab / menggali
pengalaman anak tentang mikser yang
digunakan untuk mengocok adonan
Guru melakukan tanya jawab / menggali
pengalaman anak saat membantu Ibu atau
anggota keluarga lainnya membuat kue di rumah
Guru melakukan tanya jawab / menggali
pengalaman anak, kue apa saja yang memiliki
bentuk, tekstur dan warna/hiasan yang beragam.
Guru melakukan tanya jawab tentang perasaan
anak setelah membuat kue Bersama keuarga
c) Hal yang harus diperhatikan saat membacakan cerita
Pilihlah buku yang sesuai dengan minat anak.
Anak usia dini lebih senang dengan buku
bergambar.
Bacakan buku dengan intonasi dan artikulasi
yang tepat
Ekspresi ibu guru akan semakin menarik minat
anak. Gunakan ekspresi yang sesuai atau menarik
perhatian anak
Sebelum pindah ke halaman berikutnya, sesekali
ajak anak untuk membuat prediksi cerita,
misalnya dalam cerita Ana senang membuat
kue, tanyakan kepada anak, kira-kira kue apa
yang akan dibuat Ana, atau pertanyaan lainnya.
Dengarkan dan berikan apresiasi jika ada anak
yang berekspresi
Dorong anak untuk mengajukan pertanyaan
Ajak anak untuk memperhatikan gambar, ajukan
pertanyaan dari gambar yang ada di dalam cerita
yang semakin membangun adanya interaksi
Perhatikan anak yang mungkin diam saja, ajak
berinteraksi
Tanyakan bagaimana perasaan anak setelah
mendengarkan cerita
d) Bersama-sama membuat kue kering/kue lainnya
Mengajak anak mengamati bahan dan alat yang
telah disediakan
Guru membagi anak secara berkelompok
Guru mengajak anak untuk mendiskusikan aturan
main
Guru menyampaikan kegiatan yang akan
dilakukan, tahap-tahap hingga kue siap dibentuk.
berikut tahapannya:
1) Anak bersama-sama menakar bahan,
menghitung jumlah telur (berapa butir), berapa
sendok terigu, berapa granm gula yang
dinaikkan ke timbangan. (Mathematic)
2) Anak mengaduk adonan dengan alata
(mikser/spatula), mengayak agar terigu/gula
menjadi lebih halus, mencampurkan bahan, jika
masih terlalu lembut perlu ditambahkan terigu,
mewarnai adonan dll (Sains/teknologi))
3) Anak membentuk kue dengan cetakan yang
dipilihnya, menghias dengan berbagai toping
sesuai keinginan anak (engineering/rekayasa).
Guru menyediakan hiasan seperti meses, coklat
chip, keju, gula warna warni dan lain-lain ( art)
Anak dibantu guru memasukkan kue ke dalam
oven
Anak bersama-sama menikmati kue hasil
buatanya
Guru dan anak bersama-sama menyanyikan lagu
(art)
3. Recalling
Guru mengajak anak untuk mengingat kembali
atau menggali pengetahuan yang telah didapatkan anak
dari kegiatan yang telah dilakukan dengan memberikan
pertanyaan.
4. Penutup
Pada kegiatan ini, guru menanyakan perasaan
anak setelah melakukan kegiatan membaca cerita dan
membuat kue bersama-sama.
”Cerita Egi Si Telur”
1. Persiapan
a) Guru menyiapkan RPPH yang disesuaikan:
RPPH yang dapat dimodifikasi seperti contoh sesuai
dengan keadaan lingkungan sekolah.
b) Penataan lingkungan main
Guru menata lingkungan main dan memastikan
keamanan, kenyamanan dan keleluasaan anak.
c) Guru mempersiapkan media yang akan digunakan
d) Guru menyampaikan tema pembelajaran
e) Guru menyampaikan aturan main
Guru dapat membuat kesepakatan bersama
2. Pelaksanaan
a) Menyanyikan lagu sesuai tema
Telurku Ada Tiga
Berbeda Ukurannya
Besar Kecil dan sedang, Punya banyak manfaat
Kupecahkan satu telur, Krek!
Kukupas dan kumakan
Rasanya sangat enak…
Baik untuk tubuhku. (Nada Balonku)
Alhamdulillah!!
Guru dapat menggunakan lagu lain atau lagu karya
guru sendiri
b) Guru membacakan cerita “Egi Si Telur” atau buku
cerita yang sesuai dengan tema hari ini dengan
Langkah sebagai berikut:
Guru mengajak anak mengamati gambar yang
ada pada buku dan merespon pertanyaan anak
Guru membacakan cerita dengan mengutamakan
interaksi dengan anak
Guru mengajak anak mengidentifikasi alat-alat
yang ada pada cerita dan melakukan tanya jawab
“Ayo anak-anak gambar apa saja yang ada
disini?” Sambil memperlihatkan gambar lebih
dekat dengan anak.
“Anak-anaknya ibu guru bisa menemukan benda
ini dimana ya?” guru memancing anak untuk
berbahasa ekspresif
Guru mengajak anak untuk mengamati dan
mengajukan pertanyaan terbuka, misalnya : Ini
apa ya? Telur ada banyak jenisnya, apa saja? Dan
pertanyaan lainnya yang bersifat terbuka
Guru mengajak anak untuk mengamati gambar
telur puyuh, ayam dan bebek. Mengajak anak
untuk membedakan ukuran dan warna.
Guru memperhatikan anak, misalnya anak yang
tidak ikut menghitung atau tidak menyebutkan
angka, respon dengan menyebut nama anak dan
berikan pertanyaan serta apresiasi agar lebih
berinteraksi.
Guru mengajak anak untuk menghubungkan
cerita dengan kehidupan sehari-hari, telur bisa
diolah menjadi hidangan apa? Dan lain-lain.
Guru mengajak anak memperhatikan alat-alat
yang digunakan untuk mengolah telur. Guru
melakukan interaksi misalnya dengan mengajak
anak menyebutkan peralatan di dapur yang bisa
digunakan untuk memasak telur.
Jang lupa untuk selalu memberikan apresiasi.
Guru melakukan tanya jawab/ menggali
pengalaman anak saat terkait telur matang dan
telur mentah, bagaimana perbedaanya.
c) Hal yang harus diperhatikan saat membacakan cerita
Pilihlah buku yang sesuai dengan minat anak.
Anak usia dini lebih senang dengan buku
bergambar.
Bacakan buku dengan intonasi dan artikulasi
yang tepat
Ekspresi ibu guru akan semakin menarik minat
anak. Gunakan ekspresi yang sesuai atau menarik
perhatian anak
Sebelum pindah ke halaman berikutnya, sesekali
ajak anak untuk membuat prediksi cerita,
misalnya dalam cerita Egi Si Telur, tanyakan
kepada anak, kira-kira masakan apa yang terbuat
dari telur, atau pertanyaan lainnya.
Dengarkan dan berikan apresiasi jika ada anak
yang berekspresi
Dorong anak untuk mengajukan pertanyaan
Ajak anak untuk memperhatikan gambar, ajukan
pertanyaan dari gambar yang ada di dalam cerita
yang semakin membangun adanya interaksi
Perhatikan anak yang mungkin diam saja, ajak
berinteraksi
Tanyakan bagaimana perasaan anak setelah
mendengarkan cerita
d) Menggambar bebas telur di atas kertas ( Kegiatan
Setelah membacakan cerita pada Pertemuan 3)
Guru menata alat dan bahan yang akan
digunakan
Guru mengarahkan anak untuk menggambar
sesuai imajinasi dan mewarnainya sesuai
keinginan
Guru mengumpulkan hasil karya anak dan
memberikan apresiasi
Guru mengajak anak untuk beres-beres
Guru menanyakan perasaan anak setelah
melakukan kegiatan
Guru melakukan recalling dan menyampaikan
kegiatan esok hari
Guru mengajak anak berdoa
e) Bersama-sama merebus telur dan membedakan telur
matang dan mentah (Kegiatan kedua pada pertemuan
ke IV setelah membacakan cerita Egi Si Telur)
Guru mengajak anak mengamati bahan dan alat
yang telah disediakan
Guru mengajak anak untuk mendiskusikan aturan
main
Guru menyampaikan kegiatan yang akan
dilakukan, tahap-tahap hingga telur direbus.
berikut tahapannya:
Anak bersama-sama mencuci telur, menghitung
jumlah telur di dalam wadah. (Mathemtika)
Anak dibantu guru menyalakan kompor (
teknologi)
Anak memasukkan telur ke dalam kompor dan
Bersama guru menghitung waktu rebus
(Sains/teknologi))
Anak membedakan telur yang direbus 5 menit, 8
menit dan 10 menit (engineering/rekayasa).
Guru mengajak anak membedakan telur matang
yang direbus selama 10 menit dan mentah
dengan cara memutar telur. Telur matanga kan
berputar lebih stabil dan gerakannya teratur.
Telur mentah akan berputar tidak stabil dan tidak
teratur.( sains)
Guru dan anak menyanyikan lagu “Telurku” dan
menggambar serta mewarnai telur ( art)
Anak bersama-sama menikmati hasil rebusan
telur yang matang
3. Recalling
Guru mengajak anak untuk mengingat kembali
atau menggali pengetahuan yang telah didapatkan anak
dari kegiatan yang telah dilakukan dengan memberikan
pertanyaan.
4. Penutup
Pada kegiatan ini, guru menanyakan perasaan
anak setelah melakukan kegiatan membaca cerita dan
membuat kue secara bersama-sama serta berdoa sebelum
pulang sekolah dan diakhiri dengan guru menyampaikan
kegiatan esok hari
B. Aspek Pendukung Pembelajaran
Aspek yang mendukung dalam meerapkan media
pembelajaran cerita interaktif bermuatan STEAM yaitu
sebagai berikut:
b) Ruang belajar
Kegiatan dapat dilakukan di dalam kelas atau di
luar kelas dengan penataan yang baik
c) Media pembelajaran
Media pembelajaran berupa cerita bermuatan
STEAM dan media lainnya yang mendukung kegiatan
pembelajaran.
d) Interaksi guru dan anak
Guru dapat lebih berinteraksi dengan anak untuk
menstimulasi perkembangan bahasanya, salah satunya
dengan melakukan tanya jawab pada saat melakukan
kegiatan dan recalling.
C. Penilaian
Penilaian adalah hal yang tentunya tidak dapat
dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Penilaian
dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan
anak bahasa anak berkembang. Berikut kemampuan
bahasa anak yang akan diamati dalam kegiatan yaitu
sebagai berikut:
a. Mendengarkan dan membedakan bunyi suara, bunyi
bahasa, dan mengucapkannya dengan lafal yang
benar.
b. Mengucapkan kata sederhana.
c. Membuat kalimat pertanyaan, menyusun kalimat
yang sederhana dengan struktur lengkap S-P-O-K.
d. Mengetahui makna sederhana dalam sebuah kalimat.
e. Berkomunikasi secara lisan.
f. Berinteraksi dengan teman dan guru menggunakan
bahasa yang sederhana.
Selain itu, dalam melakukan penilaian pada
aspek kemampuan bahasa anak, adapun penilaian
tersebut dengan memberika nilai berdasarkan kategori
berikut:
1. BSB : Berkembang Sangat Baik
2. BSH : Berkembang Sesuai Harapan
3. MB : Mulai Berkembang
4. BB : Belum Berkembang
Untuk melakukan penilaian tentunya harus
menggunakan sebuah format agar lebih memudahkan
dalam mengetahui capain anak. Adapun format penilaian
pada kemampuan bahasa anak, dapat menggunakan
format dengan model penilaian sebagai berikut:
Penilaian Kemampuan Bahasa Anak
Nama :
Kelompok :
Kriteria Penilaian
No Indikator BB MB BSH BSB Ket
(1) (2) (3) (4)
Mengucapkan bunyi
1 suara/bunyi bahasa
denan lafal yang benar
2 Mengucapkan kata
sederhana.
Membuat kalimat
3 pertanyaan dan
menyusun kalimat
yang lebih kompleks
Mengetahui makna
4 sederhana dalam
sebuah kalimat
Berkomunikasi secara
lisan dan berinteraksi
5 dengan teman dan guru
menggunakan bahasa
yang sederhana.
Mengetahui bahasa
6 simbolis seperti nama
orang, tempat dan
benda
BAB IV
PENUTUP
Panduan kegiatan pembelajaran dengan
menggunakan media cerita interaktif bermuatan STEAM
ini diharapkan dapat membantu guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran pada Satuan PAUD.
Semoga dengan adanya Buku Panduan ini guru dapat
meningkatkan kemampuan anak, khususnya kemampuan
bahasa anak usia dini.
DAFTAR PUSTAKA
Amir, Rifqah Humairah. 2019. Efektivitas Model
Pembelajaran STEAM (Science, Technology,
Engineering, Art and Mathematics) Dalam
Pembelajaran IPA Konsep Sumber Energi Pada
Anak. Jurnal Pendidikan. 1(2).
Dapodik. 2022. Manajemen Data Pokok Pendidikan.
https://sso.datadik.kemdikbud.go.id
Dirjen PAUD. 2003. Model PADU Terintegrasi
Posyandu. Jakartaa; Direktorat PADU-Ditjen
PLSP-Depdiknas
Hurlock, Elizabeth. 2003 Perkembangan Anak.
(Terjemahan oleh Tjandrasa) Jakarta: Erlangga
Indriyani, Khotimah dkk. 2014. Meningkatkan
Kemampuan Berbahasa Anak Melalui Media
Buku Cerita Gambar Seri di Kelompok Bermain
Al Khodijah Kedundung Magersari Kota
Mojokerto.Jurnal Pendidikan 3(3)
Indahyani, Putri. Rianto. 2018. Implementasi Media
Pembelajaran Yang Efektif Pada Anak Usia
Dini. Jurnal Pendidikan, 1(2).
Indayu, Nila. 2018. Efektivitas Penggunaan Media
Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kmampuan
Bahasa Anak Usia Dini. Jurnal Ilmiah
Pendidikan Dasar. 2(1).
Khabibah. 2012. Metodologi Penelitian Jilid I.
Yogyakarta : Andi Offset.
Kurnia , Euis. 2017. Media Pembelajaran Buku Cerita
Untuk Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan
Anak Usia Dini. 2(1).
Kustandi. 2018. Penggunaan Media Pembelajaran
Sebagai Alternatif dalam Proses Pembelajaran
Pada Anak. Jurnal. 1(1). 2311-4151.
Munawar, Achmad. 2019. Upaya Mengembangkan
Kemampuan Bahasa Anak Usia 4-5 Tahun
Melalui Metode Bercerita di TK Cahaya Bunda
Natar Lampung. Lampung Selatan : IAIN.
Nasra. Amir, Ahmad. 2021. Efektivitas Model
Pembelajaran STEAM (Science, Technology,
Engineering, Art and Mathematics) Pada Anak.
JKPD : Jurnal Kajian Pendidikan Dasar. 6(1).
Nurbiana, Fridayani. 2014. Metode Pengembangan
Bahasa. Jakarta : UniversitasTerbuka.
Otto, Beverly. 2015. Perkembangan Bahasa Anak Usia
Dini Edisi Ketiga (Language Development in
Early Childhood: Third Edition). Jakarta:
Prenadamedia Group.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 137 Tahun 2014 Pasal 7 Ayat 1.
Tentang Standar Tingkat Pencapaian
Perkembangan Anak Jakarta: Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor
146 Tahun 2016 Tentang Standar Tingkat
Pencapaian Perkembangan Anak. Jakarta.
Prakoso, Awam. 2019. Kreatif dalam Mendongeng.
Jakarta: Kampung Dongeng.
Pratama, Febyan Dimas.2019.Pengembangan Buku
Cerita Interaktif Berbasis Teknologi Jugmented
Reality. Jurnal Integritas: 4(1). 2477-118X.
Rahayu, Sri. 2017. Pengembangan Bahasa Pada Anak
Usia Dini. Yogyakarta: Kalimedia.
Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta:
PT Gelora Aksara Pratama.
Sa’adah, Nilatus. 2020. Penerapan Pembelajaran
STEAM Untuk Meningkatkan Konsentrasi Anak
Hiperaktif Melalui Permainan Magic Puffer Ball
di TK Talenta. Jurnal Pendidikan. 1(1) .
Siantajani, Yuliati. 2020. Konsep dan Praktek STE(A)M
di PAUD. Semarang: Sarang Seratus Aksara.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan:
Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan
R&D. Bandung: Alfabet.
Sujiono. 2017. Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan
Jamak. Jakarta: Penerbit Indeks.
Susanto, Ahmad. 2017. Perkembangan Anak Usia Dini
Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya.
Jakarta: Prenada Media Group.
Suyanto, Slamet. 2005. Dasar-Dasar Pendidikan Anak
Usia Dini.Yogyakarta: Hikayat Publishing.
Tabiin, Ahmad. 2020. Implementation of STEAM
Method for Early Childhood Developong in
Kindergarten Mutiara Paradise Pekalongan.
ECRJ. https://doi.org/10.23917/ecrj.v2i2.9903
Trimuliana, Ifina. 2021. Manfaat Penggunaan Media
Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Pendidikan Anak
Usia Dini Pendidikan Dasar dan Menengah,
Kemendikbud
Ulfa, Zakiyah. 2019. Pengembangan Bahasa Anak Usia
Dini Analisis Kemampuan Berbicara Anak. Ar-
Ruzz Media.
Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Bab 1 Pasal 1.
Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional: Pengertian Anak
Usia Dini. Bab 2 Ayat 3.
Wicaksono, Gigih. 2020. Pengembangan Buku Cerita
Bergambar Interaktif MeningkatkanKemampuan
Menentukan Isi Cerita. Jurnal Pendidikan Dasar.
2(1).
Wijaya, A.D., dkk.2019. Implementasi Pembelajaran
Berbasis STEAM (Science, Technology,
Engineering, Art Mathematics) Pada Kurikulum
Indonesia. Jurnal Pendidikan.
Yulaelawati, Ella 2016. Keaksaraan Awal. Anggun
PAUD.