LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah
No. Masalah yang telah Hasil eksplorasi penyebab Analisis eksplorasi penyebab
diidentifikasi masalah masalah
1. Rendahnya motivasi belajar 1.1 Pada kolom ini penulis akan Berdasarkan hasil eksplorasi
dan disiplin siswa terkhusus mengeksplorasi penyebab masalah penyebab masalah yang dikaji melalui
pada capaian pembelajaran melalui tiga perspektif atau tiga sumber tiga perspektif yaitu kajian literatur,
unggah-ungguh basa Jawa. yang berbeda (triangulasi sumber) wawancara teman sejawat dengan Ibu
yaitu melalui kajian literatur, Lestari, S.S selaku Guru bahasa Jawa
wawancara teman sejawat, dan SMAN 3 Surakarta, dan wawancara
wawancara dengan pakar. Melalui pakar dengan Dr. Prasetyo Adi Wisnu
triangulasi sumber tersebut diharapkan Wibowo, S.S, M.Hum selaku Dosen S2
akan membantu keakuratan penyebab Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah,
dari masalah yang dikaji sehingga sekaligus Kaprodi S2 Kajian Budaya
meningkatkan standar keilmiahannya. Pascasarjana UNS, dapat ditarik
A. Kajian Literatur kesimpulan bahwa faktor penyebab
“rendahnya motivasi belajar siswa
Pada tahap ini eksplorasi penyebab khususnya pada capaian pembelajaran
masalah “rendahnya motivasi belajar unggah-ungguh basa Jawa adalah
siswa” akan ditinjau dari perspektif sebagai berikut:
kajian literatur. Fungsinya sebagai
validasi teori atau mengaitkan ide 1. Bahasa ibu dan lingkungan penutur
dengan teori yang sudah ada. siswa, kedua hal tersebut menjadi
Faktor rendahnya motivasi belajar faktor terpenting penyebab
siswa menurut Rohman & Karimah rendahnya motivasi belajar siswa
(2018: 95) dikarenakan kebutuhan terutama pada materi unggah-ungguh
siswa yang tidak sesuai dan basa.
menyimpang yang terjadi pada 2. Metode pembelajaran yang
elemen-elemen berikut: tempat
belajar, fungsi fisik, kecerdasan, digunakan guru masih konvensional
sarana dan prasarana, waktu, 3. Metode yang digunakan guru tidak
sesuai dengan karateristik siswa
kebiasaan belajar, guru, orang tua, (Guru tidak menggunakan
emosional dan kesehatan, serta pembelajaran yang berdiferensiasi)
faktor teman. 4. Pembelajaran yang disampaikan oleh
guru tidak menggunanakan media
Sumber:
Rohman, A. A., & Karimah, S. (2018). yang menarik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi 5. Peserta didik takut kepada gurunya.
rendahnya motivasi belajar
siswakelas XI. Jurnal At- 6. Peserta didik kurang menguasai
Taqaddum, 10(1), 95-108. materi.
Sedangkan menurut Rinaldi (2020: 7. Peserta didik terlanjur terparadigma,
jika apa yang disampaikan salah
99) faktor “rendahnya motivasi
maka akan mendapat hukuman atau
belajar siswa terkhusus pada materi
dibuat malu oleh teman-teman
unggah-ungguh basa Jawa” adalah
sekelasnya.
sebagai berikut:
1. Rendahnya unggah-ungguh basa 8. Peserta didik tidak banyak berlatih
dengan temannya atau mandiri,
siswa dikarenakan kurangnya
dikarenakan kurangnya sosialisasi
perbendaharaan kata dalam
atau komunikasi dengan teman
bahasa Jawa, dan siswa belum
sebayanya.
mampu merangkai kalimat
9. Peserta didik yang kurang tertarik
bahasa Jawa dengan tepat.
untuk berkunjung ke perpustakaan.
2. Siswa masih kesulitan dalam
menentukan pilihan kata yang 10. Perpustakan kurang membuat peserta
didik nyaman untuk berliterasi
sesuai dengan unggah-ungguh
disana.
basa Jawa.
3. Siswa lebih menggemari dan 11. Fasilitas sarana dan prasarana
perpustakaan yang kurang memadai.
termotivasi untuk belajar bahasa
asing yaitu bahasa Inggris 12. Sumber buku bahasa Jawa yang
dicari atau dibutuhkan peserta didik
dibandingkan bahasa Jawa.
tidak ada.
Sumber:
Rinaldi, I. M. (2020). Peningkatan
kemampuan menulis dialog
sederhana sesuai unggah-ungguh
Basa Jawa dengan menggunakan
metode role playing. Jurnal Review
Pendidikan Dasar: Jurnal Kajian
Pendidikan dan Hasil Penelitian,
6(2), 98-105.
Berdasarkan kajian literatur tersebut,
dapat diketahui bahwa kebutuhan
siswa yang tidak sesuai dan
menyimpang pada elemen tempat
belajar, fungsi fisik, kecerdasan,
sarana dan prasarana, waktu,
kebiasaan belajar berbahasa, didikan
guru, bahasa orang tua, emosional
dan kesehatan siswa, serta faktor
teman merupakan faktor-faktor yang
bisa menyebabkan rendahnya
motivasi belajar siswa khususnya
pada capaian pembelajaran unggah-
ungguh basa Jawa.
B. Wawancara Teman Sejawat
Pada tahap ini eksplorasi penyebab
masalah “rendahnya motivasi belajar
siswa terkhusus pada capaian
pembelajaran unggah-ungguh basa
Jawa” akan ditinjau dari perspektif
wawancara teman sejawat atau
sesama guru bahasa Jawa. Melalui
pendapat teman sejawat yang
memiliki disiplin ilmu yang sama,
diharapkan akan membantu penulis
menemukan dan memvalidasi
penyebab masalah yang dikaji.
Teman sejawat:
Lestari, S.S.
(Guru Basa Jawa SMAN 3 Surakarta)
Pertanyaan:
“Menurut Ibu, Faktor apa saja yang
mempengaruhi rendahnya motivasi
belajar siswa terutama pada capaian
pembelajaran unggah-ungguh basa?”
Jawaban:
“Kondisi sekarang ini memang banyak
sekali peserta didik yang kurang
memahami unggah-ungguh basa karena
faktor motivasi belajar yang rendah.
Rendahnya motivasi belajar tersebut bisa
dipengaruhi oleh keluarga dan
lingkungan peserta didik. Dari keluarga
yang jarang memantau perkembangan
belajarnya, sekaligus dirumah tidak
menggunakan basa Jawa dan lebih
sering menggunakan bahasa indonesia.
Dari lingkungan yang masyarakat
ekonomi menengah kebawah karena
menggunakan bahasa ngoko lebih luwes
daripada krama. Hal tersebut menjadikan
siswa menjadi tidak percaya diri atau
bahkan takut untuk mengikuti
pembelajaran bahasa Jawa khususnya
materi unggah-ungguh basa”
Berdasarkan eksplorasi penyebab
masalah melalui wawancara teman
sejawat, dapat diketahui bahwa
rendahnya motivasi belajar tersebut
besar dipengaruhi oleh keluarga dan
lingkungan peserta didik.
Bukti Foto:
(wawancara offline)
C. Wawancara Pakar
Pada tahap ketiga ini eksplorasi
penyebab masalah “rendahnya
motivasi belajar siswa terkhusus
pada capaian pembelajaran unggah-
ungguh dan undha usuk basa Jawa”
akan ditinjau dari perspektif
wawancara dengan pakar.
Pakar yang akan diwawancarai
terkait eksplorasi masalah diatas
adalah Dr. Prasetyo Adi Wisnu
Wibowo, S.S, M.Hum.
Pemilihan beliau sebagai sumber
pakar yang diwawancarai, menilik
dari kiprah beliau yang sudah tinggi
di dunia pendidikan bahasa, sastra,
dan budaya Jawa, baik itu pada ranah
akademik ataupun ranah praktisi.
Wawancara Pakar:
Dr. Prasetyo Adi Wisnu Wibowo, S.S,
M.Hum.
Pertanyaan:
“Kepareng nyuwun pirsa Bapak Doktor
Prasetyo, miturut panjenengan Apa
faktor yang paling mempengaruhi
rendahnya motivasi belajar siswa pada
materi unggah-ungguh basa Jawa?
Jawaban:
“Maturnuwun Mas Rudi, kepareng
paring wangsulan. Miturut kula, faktor
terbesar ingkang saged mempengaruhi
rendahnya motivasi belajar siswa
mliginipun ing materi unggah-ungguh
lan undha usuk basa Jawa yaiku bahasa
ibu siswa atau bahasa yang pertama kali
diajarkan oleh seorang ibu, sarta bahasa
yang biasa digunakan siswa di
lingkungan keluarga. Seorang siswa
akan memiliki motivasi belajar lebih
terkait materi unggah-ungguh dan undha
usuk (tingkat tutur) basa Jawa jika
perbendaharaan tembung Jawa dan sikap
siswa tersebut tertanam dan ditanamkan
sejak kecil oleh keluarganya. Faktor-
faktor lain yang bisa mempengaruhinya
seperti metode dan media yang
digunakan guru kurang menarik juga
bisa”.
Berdasarkan eksplorasi penyebab
masalah melalui wawancara dengan
pakar, dapat diketahui bahwa faktor
terbesar yang mempengaruhi
rendahnya motivasi belajar siswa
khususnya pada materi unggah-
ungguh dan undha usuk (tingkat
tutur) basa Jawa yaiku bahasa ibu
siswa dan lingkungan keluarga
siswa.
Bukti Foto:
(wawancara online via g-meet)
2 Guru kesulitan dalam 2.1 Pada kolom ini penulis akan Berdasarkan hasil eksplorasi
implementasi pembelajaran mengeksplorasi penyebab masalah penyebab masalah yang dikaji melalui
berdiferensiasi khususnya melalui triangulasi sumber yaitu triangulasi sumber yaitu kajian literatur,
pada capaian pembelajaran melalui kajian literatur, wawancara wawancara teman sejawat dengan Ibu
bahasa Jawa materi serat teman sejawat, dan wawancara Lestari, S.S selaku Guru bahasa Jawa
piwulang (tembang dengan pakar. Adapun eskplorasinya SMAN 3 Surakarta, dan wawancara
macapat gambuh) adalah sebagai berikut: pakar kurikulum merdeka dengan bapak
A. Kajian Literatur Agung Wijayanto, S.Pd., M.Pd selaku
Pada tahap ini eksplorasi penyebab guru penggerak aktif, dapat ditarik
masalah “sulitnya guru dalam
kesimpulan bahwa faktor penyebab
implementasi pembelajaran “sulitnya guru dalam implementasi
berdiferensiasi” akan ditinjau dari pembelajaran berdiferensiasi terkhusus
perspektif kajian literatur. Faktor pada capaian pembelajaran tembang
macapat gambuh” adalah sebagai
kesulitan guru dalam implementasi
pembelajaran berdiferensiasi, berikut:
berdasar pada tantangan 1. Sulitnya mengimplementasikan
pembelajaran berdiferensiasi pembelajaran berdiferensiasi pada
menurut Faiz, dkk (2022: 24) adalah capaian pembelajaran tembang
sebagai berikut: macapat, karena guru harus dapat
1) Guru dikelas berdiferensiasi perlu menggunakan berbagai pendekatan
memahami siswa dengan belajar sehingga sebagian besar murid
berbagai pengalaman dan teknik menemukan pembelajaran yang
yang beragam. sesuai dengan kebutuhan mereka.
2) Guru harus memahami bahwa 2. Siswa kurang mendapatkan
setiap siswa memiliki potensi dan kesempatan untuk aktif selama
kapasitas yang tersembunyi. pembelajaran, dan sumber
3) Tanggung jawab guru sebagai belajarcenderung berpusat pada guru.
untuk memfasilitasi siswa agar 3. Kurangnya pengetahuan siswa dan
memiliki kesuksesan. kurangnya semangat peserta dididk
4) Guru harus meyakini dirinya belajar tembang macapat macapat.
bahwa dalam pembelajaran 4. Adanya pandemi membuat siswa
beriferensiasi guru harus percaya malas untuk belajar.
diri bahwa dirinya adalah 5. Siswa hanya mengenal lagu koplo
pemenang (juara) bagi semua terkini dan menganggap tembang
siswa. macapat lagu yang kuno.
Sumber: 6. Siswa belum memahami isi-isi
Faiz, A., Pratama, A., & Kurniawaty, I. kandungan dalam macapat yang baik
(2022). Pembelajaran Berdiferensiasi untuk kehidupan.
dalam Program Guru Penggerak 7. Tembang macapat jarang dipakai
pada Modul 2.1. Jurnal
Basicedu, 6(2), 2846-2853. dalam acara, menyebabkan peserta
didik merasa asing.
Pada tahap ini eksplorasi penyebab 8. Bahasa dalam tembang macapat tidak
masalah “sulitnya guru dalam bahasa sehari-hari sehingga peserta
didik kurang memahami
implementasi pembelajaran
berdiferensiasi terkhusus pada
capaian pembelajaran tembang
macapat gambuh” akan ditinjau dari
perspektif kajian literatur. Menurut
Az-zahra (2019; 42) pembelajaran di
kelas masih berpusat pada kegiatan
guru, meskipun Guru sudah
berupaya untuk menciptakan susana
pembelajaran yang menyenangkan
pada tembang macapat Gambuh
namung mengoptimalan fasilitas
sekolah belum maksimal.
Sumber:
Az-zahra, O. W. (2019). Pengembangan
pembelajaran teks piwulang serat
wulangreh pupuh gambuh dengan
media animasi tembang untuk siswa
kelas viii smp negeri 1 cilacap.
Piwulang: Jurnal Pendidikan
Bahasa Jawa, 7(1), 41-46.
Berdasarkan kajian literatur tersebut,
dapat diketahui bahwa penyebab
kesulitan guru dalam implementasi
pembelajaran berdiferensiasi
terkhusus pada capaian pembelajaran
tembang macapat gambuh adalah
guru kesulitan dalam memilih
metode dan media yang tepat untuk
digunakan dalam pembelajaran
berdiferensiasi pada capaian
pembelajaran tembang macapat.
B. Wawancara Teman Sejawat
Pada tahap ini eksplorasi penyebab
masalah “sulitnya guru dalam
implementasi pembelajaran
berdiferensiasi terkhusus pada
capaian pembelajaran tembang
macapat gambuh” akan ditinjau dari
perspektif wawancara teman sejawat
atau sesama guru bahasa Jawa.
Melalui pendapat teman sejawat
yang memiliki disiplin ilmu yang
sama, diharapkan akan membantu
penulis menemukan dan
memvalidasi penyebab masalah yang
dikaji.
Teman sejawat:
Lestari, S.S.
(Guru Basa Jawa SMAN 3 Surakarta)
Pertanyaan:
“Menurut Ibu, Faktor apa saja yang
mempengaruhi “sulitnya guru dalam
mengimplementasi pembelajaran
berdiferensiasi terkhusus pada
capaian pembelajaran tembang
macapat gambuh?”
Jawaban:
“Faktor penyebab sulitnya guru dalam
mengimplementasi pembelajaran
berdiferensiasi terkhusus materi tembang
macapat gambuh adalah sebagai berikut:
1.Kurangnya semangat dalam diri
peserta didik dan kurangnya dorongan
dari orang tua untuk belajar bab
macapat.
2.Siswa dari sekolah dasar tidak atau
kurang menerima materi tembang
macapat, sehingga anak menjadi
kebingungan.
3.Adanya pandemi membuat siswa
malas untuk belajar.
4.Siswa hanya mengenal lagu koplo
terkini dan menganggap tembang
macapat lagu yang kuno.
5.Faktor orang tua juga tidak pernah
mengajarkan anak tentang lagu
macapat.
6.Peseta didik rata-rata belum mampu
membuat tembang macapat secara
mandiri.
D. Wawancara Pakar
Pada tahap ketiga ini eksplorasi
penyebab masalah “sulitnya guru
dalam mengimplementasi
pembelajaran berdiferensiasi” akan
ditinjau dari perspektif wawancara
dengan pakar.
Pakar yang akan diwawancarai
terkait eksplorasi masalah diatas
adalah Agung Wijayanto, S.Pd.,
M.Pd.
Pemilihan beliau sebagai sumber
pakar yang diwawancari, menilik
dari status beliau sebagai kepala
sekolah dan guru penggerak aktif.
Wawancara Pakar:
Agung Wijayanto, S.Pd., M.Pd.
Pertanyaan:
“Menurut Pak Agung, apa faktor
penyebab terbesar dalam implementasi
pembelajaran berdiferensiasi dikelas?
Jawaban:
“Menurut saya, faktor penyebab terbesar
dalam implementasi pembelajaran
berdiferensiasi dikelas adalah tantangan
pembelajaran berdiferensiasi itu sendiri,
dimana tantangannya, adalah sebagai
berikut:
1.Guru diharapkan dapat menggunakan
berbagai pendekatan belajar sehingga
sebagian besar murid menemukan
pembelajaran yang sesuai dengan
kebutuhan mereka.
2.Guru perlu mengetahui bagaimana
proses pembelajaran berdiferensiasi
ini dapat dilakukan, dengan cara-cara
yang memungkinkan guru untuk dapat
mengelolanya secara efektif.
3 Siswa mengalami kesulitan 3.1 Pada kolom ini penulis akan Berdasarkan hasil eksplorasi
dalam memahami mengeksplorasi penyebab masalah penyebab masalah yang dikaji melalui
melalui triangulasi sumber yaitu triangulasi sumber yaitu kajian literatur,
sandiwara tradisional Jawa melalui kajian literatur, wawancara wawancara teman sejawat dengan Ibu
teman sejawat, dan wawancara Lestari, S.S selaku Guru bahasa Jawa
(Kethoprak) pada capaian dengan pakar. Adapun eskplorasinya SMAN 3 Surakarta, dan wawancara
adalah sebagai berikut: pakar seni pertunjukkan sandiwara Jawa
pembelajaran menulis teks
eksposisi seni pertunjukkan
Jawa.
A. Kajian Literatur dengan Dr. Trisno Santoso, S.Kar.,
Pada tahap ini eksplorasi penyebab M.Hum selaku dosen aktif seni
masalah “siswa mengalami pedalangan ISI Surakarta dan praktisi
kesulitan dalam memahami dunia teater tradisional, dapat ditarik
sandiwara tradisional Jawa kesimpulan bahwa faktor penyebab
(kethoprak) pada capaian “siswa mengalami kesulitan dalam
pembelajaran menulis teks memahami sandiwara tradisional Jawa
eksposisi seni pertunjukkan Jawa” (kethoprak) pada capaian pembelajaran
akan ditinjau dari perspektif kajian menulis teks eksposisi seni
literatur. pertunjukkan Jawa” adalah sebagai
Menurut Prastya (2019: 22)
Penilaian mendengarkan sandiwara berikut:
berbahasa Jawa hendaknya
disesuaikan dengan tingkat 1. Kurangnya pengetahuan siswa
kemampuan berbahasa Jawa siswa. tentang sandiwara Jawa
Sumber:
2. Siswa hanya terbiasa melihan
sandiwara Jawa (Kethoprak) pada
waktu nyanyi-nyanyi, bukan alur
cerita pokok.
Prastya, D. (2019). 3. Adanya pandemi membuat siswa
malas untuk belajar
PENGEMBANGAN
4. Kurangnya berdialog siswa
INSTRUMEN PENILAIAN
menggunakan bahasa yang baik dan
MENDENGARKAN
benar sehingga siswa akan merasa
SANDIWARA BAHASA JAWA
kesulitan jika disuguhkan tata bahasa
SMP KELAS IX BERBASIS
yang benar
KULTURAL DI KOTA 5. Peserta didik lebih senang dengan
SEMARANG. Piwulang: Jurnal game HP daripada pertunjukan
kethoprak/ sandiwara Jawa
Pendidikan Bahasa Jawa, 7(2), 21- 6. Kurangnya pertunjukan sandiwara
27. Jawa di daerah sekitar rumah siswa
B. Wawancara Teman Sejawat
Pada tahap ini eksplorasi penyebab
masalah “siswa mengalami
kesulitan dalam memahami 7. Orang tua sejak awal kurang
sandiwara tradisional Jawa mengenalkan anak pada kebudayaan
(Kethoprak) pada capaian Jawa.
pembelajaran menulis teks 8. Terkadang dalam pertunjukan
eksposisi seni pertunjukkan Jawa” sandiwara Jawa atau Kethoprak
akan ditinjau dari perspektif terlalu banyak bagian hanya untuk
wawancara teman sejawat atau hiburan seperti nyanyian ”Emban-
sesama guru bahasa Jawa. Melalui emban”, sehingga anak tidak terlalu
pendapat teman sejawat yang mengerti jalan cerita dari
memiliki disiplin ilmu yang sama, pertunjukan.
diharapkan akan membantu penulis
menemukan dan memvalidasi
penyebab masalah yang dikaji.
Teman sejawat:
Lestari, S.S.
(Guru Basa Jawa SMAN 3 Surakarta)
Pertanyaan:
“Menurut ibu, apa faktor penyebab
sulitnya siswa dalam memahami
sandiwara Jawa (ketoprak)?
Jawaban:
“Menurut saya, faktor penyebab
sulitnya siswa dalam memahami
sandiwara Jawa (ketoprak) diantaranya
karena:
1. Kurangnya pengetahuan siswa
tentang sandiwara Jawa
2. Adanya pandemi membuat siswa
malas untuk belajar
3. Peserta didik lebih senang dengan
game HP daripada pertunjukan
kethoprak/ sandiwara Jawa
4. Kurangnya media pembelajaran
yang menarik untuk peserta didik
C. Wawancara Pakar
Pada tahap ketiga ini eksplorasi
penyebab masalah “siswa
mengalami kesulitan dalam
memahami sandiwara tradisional
Jawa (Kethoprak)” akan ditinjau
dari perspektif wawancara dengan
pakar.
Pakar yang akan diwawancarai
terkait eksplorasi masalah diatas
adalah Dr. Trisno Santoso, S.Kar,
M.Hum.
Pemilihan beliau sebagai sumber
pakar yang diwawancarai, menilik
dari kiprah beliau yang sudah
tinggi di dunia pertunjukkan
sandiwara Jawa,baik pada ranah
akademik ataupun ranah praktisi.
Wawancara Pakar:
Dr. Trisno Santoso, S.Kar, M.Hum.
Pertanyaan:
“Kepareng nyuwun pirsa Bapak
Doktor Trisno Santoso, miturut
panjenengan Apa faktor yang paling
mempengaruhi kesulitan siswa dalam
memahami sandiwara tradisional Jawa
(Kethoprak)?
Jawaban:
“Menurut saya, faktor yang
mempengaruhi kesulitan siswa dalam
memahami sandiwara Jawa (ketoprak),
diantaranya:
1.Terlalu banyaknya budaya asing yang
membuat anak tidak peka terhadap
budaya daerah sendiri.
2.Adanya pertunjukan kethoprak di
malam hari yang tidak memungkinkan
peserta didik untuk menyaksikan
pertunjukan tersebut.
3.Terkadang dalam pertunjukan
sandiwara Jawa atau Kethoprak terlalu
banyak bagian hanya untuk hiburan
seperti nyanyian ”Emban-emban”,
sehingga anak tidak terlalu mengerti
jalan cerita dari pertunjukan.
4 Peseta didik kurang minat 4.1 Pada kolom ini penulis akan Berdasarkan hasil eksplorasi
pada pembelajaran mengeksplorasi penyebab masalah penyebab masalah yang dikaji melalui
mengalihaksarakan sebuah melalui triangulasi sumber yaitu tiga perspektif yaitu kajian literatur,
paragraf dari huruf latin ke melalui kajian literatur, wawancara wawancara teman sejawat dengan Ibu
aksara Jawa teman sejawat, dan wawancara Lestari, S.S selaku Guru bahasa Jawa
dengan pakar. Adapun eskplorasinya SMAN 3 Surakarta, dan wawancara
adalah sebagai berikut: pakar dengan Dr. Prasetyo Adi Wisnu
A. Kajian Literatur Wibowo, S.S, M.Hum selaku Dosen S2
Pada tahap ini eksplorasi penyebab Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah,
masalah “peseta didik kurang
sekaligus Kaprodi S2 Kajian Budaya
minat pada pembelajaran Pascasarjana UNS, dapat ditarik
mengalihaksarakan sebuah paragraf kesimpulan bahwa faktor penyebab
dari huruf Latin ke aksara Jawa” “peseta didik kurang minat pada
akan ditinjau dari perspektif kajian pembelajaran mengalihaksarakan
literatur. sebuah paragraf dari huruf Latin ke
aksara Jawa” adalah sebagai berikut:
Menurut Purwasih (2019: 30)
Siswa masih lemah dalam 1. Rata-rata pesera didik kesulitan
menghafal dan memahami seluruh ketika mengucapkan kata berbahasa
huruf Jawa beserta sandangan dan Jawa khususnya tentang materi
pasangan. Selain itu, siswa juga Aksara Jawa ketika menulis dan
kurang tertarik dengan membaca.
pembelajaran membaca dan 2. Bahasa Jawa hanya diberikan alokasi
menulis huruf Jawa yang diajarkan waktu 2 jam pelajaran setiap
oleh Guru. minggunya.
Sumber: 3. Siswa masih lemah dalam menghafal
Purwasih, R. (2019). Pengembangan dan memahami seluruh huruf Jawa
Media Pembelajaran Huruf Jawa
menggunakan Wondershare Quiz beserta sandangan dan pasangan.
Creator di Kelas VII SMP N 2
Banjarnegara. Piwulang: Jurnal Selain itu, siswa juga kurang tertarik
Pendidikan Bahasa Jawa, 7(1), 29-
35. dengan pembelajaran membaca dan
menulis huruf Jawa yang diajarkan
oleh Guru.
4. Kurangnya sumber belajar seperti
B. Wawancara Teman Sejawat buku-buku Aksara Jawa
Pada tahap ini eksplorasi penyebab
masalah “peserta didik kurang 5. Para Siswa dari SD rata-rata belum
minat pada pembelajaran
mengalihaksarakan sebuah paragraf menerima materi aksara Jawa.
dari huruf Latin ke aksara Jawa”
akan ditinjau dari perspektif 6. Terlalu banyak jumlah aksara Jawa
wawancara teman sejawat atau
sesama guru bahasa Jawa. maupun pasangan yang membuat
Melalui pendapat teman sejawat
yang memiliki disiplin ilmu yang anak kesulitan menghafalkan.
sama, diharapkan akan membantu
penulis menemukan dan
memvalidasi penyebab masalah
yang dikaji.
Teman sejawat:
Lestari, S.S.
(Guru Basa Jawa SMAN 3 Surakarta)
Pertanyaan:
“Menurut ibu, apa faktor penyebab
sulitnya siswa dalam pembelajaran
mengalihaksarakan sebuah paragraf
dari huruf Latin ke aksara Jawa?
Jawaban:
“Menurut saya, faktornya adalah
sebagai berikut:
1. Kurangnya sumber belajar seperti
buku-buku Aksara Jawa.
2. Siswa tidak terbiasa menulis aksara
Jawa.
3. Adanya pandemi membuat siswa
malas untuk belajar.
4. Para Siswa dari SD rata-rata belum
menerima materi aksara Jawa.
C. Wawancara
Pada tahap ketiga ini eksplorasi
penyebab masalah “peserta didik
kurang minat pada pembelajaran
mengalihaksarakan sebuah paragraf
dari huruf Latin ke aksara Jawa”
akan ditinjau dari perspektif
wawancara dengan pakar.
Pakar yang akan diwawancarai
terkait eksplorasi masalah diatas
adalah Dr. Prasetyo Adi Wisnu
Wibowo, S.S, M.Hum.
Pemilihan beliau sebagai sumber
pakar yang diwawancarai, menilik
dari kiprah beliau yang sudah
tinggi di dunia pendidikan bahasa,
sastra, dan budaya Jawa, baik itu
pada ranah akademik ataupun
ranah praktisi.
Wawancara Pakar:
Dr. Prasetyo Adi Wisnu Wibowo,
S.S, M.Hum.
Pertanyaan:
“Kepareng nyuwun pirsa Bapak
Doktor Trisno Santoso, miturut
panjenengan, apa faktor yang paling
mempengaruhi kesulitan siswa dalam
memahami pembelajaran
mengalihaksarakan sebuah paragraf
dari huruf Latin ke aksara Jawa?
Jawaban:
“Menurut saya, faktor yang
mempengaruhi kesulitan siswa dalam
faktor yang paling mempengaruhi
kesulitan siswa dalam memahami
pembelajaran mengalihaksarakan
sebuah paragraf dari huruf Latin ke
aksara Jawa adalah sebagai berikut:
1. Siswa tidak pernah mendapat
pelajaran aksara Jawa baik dalam
Sekolah Dasar maupun dalam
lingkungan keluarga
2. Rata-rata orang tua siswa juga
tidak bisa aksara Jawa, sehingga
jika ada pekerjaan rumah aksara
Jawa siswa tidak ada yang melatih
3. Minat siswa terhadap pelajaran
aksara Jawa yang masih rendah
4. Penilaian tentang aksara Jawa
hanya berpusat pada hasil siswa,
bukan proses peserta didik.
Sehingga banyak siswa mencontek
pekerjaan peserta didik lain untuk
mendapat nilai baik