The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Firza Ikhsan, 2023-07-05 08:49:45

Sosio_UAS_M.FIRZA_04020122051_fik-1

Sosio_UAS_M.FIRZA_04020122051_fik-1

1


2 Ruang Sosiologi Oleh Muhammad Firza Ikhsan Ardiyansyah Desain cover : Canva Editor : Firza Penulis : ikhsan Penerbit : PT Bukucerdas pustaka Cetakan 30 Juni 2023


3 KATA PENGANTAR Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan tugas minibookini dengan baik dan tepat waktu.dan minibook ini berjudul tentang"Ruang Sosiologi". Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut memberikan kontribusi dalam penyusunan karya ilmiah ini. Tentunya, tidak akan bisa maksimal jika tidak mendapat dukungan dari berbagai pihak.Sebagai penyusun, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari penyusunan maupun tata bahasa penyampaian dalam karya ilmiah ini. Oleh karena itu, kami dengan rendah hati menerima saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki karya ilmiah ini. Dan Semoga mini book yang saya buat ini dapat bermanfaat bagi seluruh pihak serta dapat membentuk kepribadian menjadi lebih baik dan tidak terpaku dalam kehidupan di dunia melainkan juga di akhirat dan selalu ingat atas kebenaran yang Maha Kuasa.Kami berharap semoga karya ilmiah yang kami susun ini memberikan manfaat dan juga inspirasi untuk pembaca Surabaya ,04Juli 2023 Penulis


3 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR………………………………………………………………….. 2 DAFTAR ISI……………………………………………………………………..…….. 3 BAB I PENDAHULUAN.. ……………………………………………………………. 4 A. Latar Belakang………………………………………………………………..... 4 B. Tujuan penulisan.…………………………………………………………...….. 4 C. Manfaat penulisan………………………………………….………….………. 4 BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………. 5 A. Definisi sosiologi………………………………………………………………. 5 B. Ruang lingkup sosiologi………………………………………………………. 5 C. Objek kajian sosiologi………………………………………………………. ...6 D. Sejarah sosiologi ........... ……………………………………………………….8 E. Jenis jenis sosiologi ... ………………………………………………………....13 F. Metode sosiologi ………………………………………………………............13 G. Paradigma sosiologi........................………………………………………........18 BAB III PENUTUP…………………………………………………………...........…. 29 A. Penutup ……….............………………………………………………………..29 TENTANG PENULIS………………………………………………………………….30


4 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Sosiologi adalah studi ilmiah tentang masyarakat, termasuk struktur sosial, pola hubungan sosial, dan perilaku sosial yang terjadi di dalamnya. Disiplin ilmu ini dimulai pada abad ke-19 ketika para filsuf dan ilmuwan, seperti Auguste Comte dan Emile Durkheim, memperjuangkan disiplin ilmiah yang baru untuk mempelajari masalah sosial.Pada awalnya, fokus utama sosiologi adalah mengidentifikasi hukum-hukum sosial yang mendasar dan mengembangkan perspektif ilmiah untuk memahami proses sosial. Namun, dalam beberapa dekade berikutnya, sosiologi berkembang pesat dan memperluas area studinya hingga mencakup banyak topik yang berbeda. Area studi yang dicakup sosiologi sangatlah luas dan meliputi berbagai isu yang terkait dengan masyarakat, seperti struktur sosial, perubahan sosial, kelas sosial, etnisitas, gender, homoseksualitas, agama, konflik sosial, kekuasaan, dan lembaga sosial seperti keluarga, pendidikan, politik, agama, dan ekonomi.Sosiologi juga memiliki jenis-jenis yang berbeda, seperti sosiologi konflik, sosiologi positivis, sosiologi interpretatif, dan sosiologi kritis. Selain itu, sosiologi juga memiliki subdisiplin seperti sosiologi ekonomi, sosiologi politik, dan sosiologi kultural. Dengan mempelajari sosiologi, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih baik tentang berbagai isu sosial dan bagaimana mereka mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Dalam kesimpulannya, sosiologi merupakan disiplin ilmiah yang sangat penting dalam memahami masyarakat dan segala hal yang terjadi di dalamnya. B. Rumusan masalah 1. Apa pengertian dari sosiologi ? 2. Bagaimana ruang lingkup dan objek kajian dari sosiologi ? 3. Bagaimana alur sejarah sosiologi ? 4. Apa saja jenis dan metode dari sosiologi ? 5. Apa saja isi paradigm dari sosiologi ( interaksi, stratifikasi dan mobilitas sosial ) ? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui dan memahami daripengertian sosiologi 2. Untuk mengetahui dan memahami dariruang lingkup dan objek kajian dari sosiologi 3. Untuk mengetahui dan memahami darialur sejarah sosiologi 4. Untuk mengetahui dan memahami darijenis dan metode sosiologi 5. Untuk mengetahui dan memahami dariparadigma dari sosiologi


5 BAB II PEMBAHASAN 1. PENGERTIAN, RUANG LINGKUP DAN OBJEK KAJIAN A. Definisi Sosiologi Istilah sosiologi pertama kali dicetuskan oleh seorang filsuf asal Perancis bernama Auguste Comte dalam bukunya Cours de la Philosovie Positive. Orang yang dikenal dengan bapak sosilogi tersebut menyebut sosiolog adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Kata sosiologi sebenarnya berasal dari bahasa Latin yaitu ‘socius‘ yang berarti teman atau kawan dan ‘logos‘ yang berarti ilmu pengetahuan. Disebutkan oleh Auguste Comte di atas yang menyatakan sosiologi merupakan ilmu pengetahuan. Sebuah pengetahuan dikatakan sebagai ilmu apabila mengembangkan suatu kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji yang didasarkan pada penelitian yang ilmiah. Sosiologi dapat dikatakan sebagai ilmu sejauh sosiologi mendasarkan penelaahannya pada bukti-bukti ilmiah dan metode-metode ilmiah. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari jaringan hubungan antara manusia dalam bermasyarakat. Sedangkan secara luas sosiologi merupakan ilmu pengetahuan tentang masyarakat dimana sosiologi mempelajari masyarakat sebagai kompleks kekuatan, hubungan, jaringan interaksi, serta sebagai kompleks lembaga/penata. Ada beberapa ahli yang mendefinisikan sosiologi. Berikut ini merupakan definisi sosiologi menurut beberapa ahli: 1. William F. Orgburn dan Meyer F. Nimkoff Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah pada interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial. 2. J.A.A. Van Doorn dan C.J. Lammers Sosiologi adalah ilmu pengetahuan mengenai struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. 3. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi Sosiologi atau ilmu masyarakat ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan prosesproses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Struktur sosial, yaitu keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial serta lapisan-lapisan sosial. Proses sosial, yaitu pengaruh timbal balik bermacam-macam segi kehidupan bersama. 4. Pitirim A. Sorokin


6 Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hal-hal sebagai berikut. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial. Misalnya antara gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, dan gerak masyarakat dengan politik. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala-gejala nonsosial. Misalnya gejala geografis dan gejala biologis. Ciri-ciri umum daripada semua jenis gejala-gejala sosial. 5. Roucek dan Warren Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompokkelompok. B. Ruang Lingkup Sosiologi Ruang lingkup sosiologi mencakup pengetahuan dasar pengkajian kemasyarakatan. Menurut buku Ada Apa Sosiologi yang dilansir Kemdikbud, ruang lingkup sosiologi adalah semua interaksi sosial yang terjadi antara individu dan individu, individu dan kelompok, atau antara kelompok dan kelompok. Ruang lingkup sosiologi mencakup pengetahuan dasar pengkajian kemasyarakatan yang meliputi: 1. Kedudukan dan peran sosial individu dalam keluarga, kelompok sosial, dan masyarakat. 2. Nilai-nilai dan norma-norma sosial yang mendasari atau memengaruhi sikap dan perilaku anggota masyarakat dalam melakukan hubungan sosial. 3. Masyarakat dan kebudayaan daerah sebagai submasyarakat serta kebudayaan nasional Indonesia. 4. Perubahan sosial budaya yang terus-menerus berlangsung yang disebabkan oleh faktor-faktor internal maupun eksternal. 5. Masalah-masalah sosial budaya yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. C. Objek Sosiologi Objek kajian sosiologi sebagaimana kedudukannya sebagai ilmu sosial adalah masyarakat dilihat dari sudut hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia tersebut dalam masyarakat. Dengan demikian, sosiologi pada dasarnya mempelajari masyarakat dan perilaku sosial manusia dengan meneliti kelompok yang dibangunnya. Dengan kata lain yang menjadi kajian sosiologi adalah sebagai berikut: 1. Hubungan timbal balik antara manusia dengan manusia lainnya.


7 2. Hubungan antara individu dengan kelompok. 3. Hubungan antara kelompok satu dengan kelompok lain. 4. Sifat-sifat dari kelompok-kelompok sosial yang bermacam-macam coraknya. Meyer F. Nimkoff menyebutkan bahwa lapangan studi sosiologi ada tujuh objek besar, yaitu sebagai berikut. 1. Faktor-faktor dalam kehidupan manusia. 2. Kebudayaan. 3. Human nature. 4. Perilaku kolektif. 5. Persekutuan hidup. 6. Lembaga-lembaga sosial (lembaga perkawinan, pemerintah, keagamaan, dan lainnya). 7. Social change (perubahan sosial).


8 2. SEJARAH SOSIOLOGI A. Sejarah Sosiologi Sosiologi adalah ilmu masyarakat atau ilmu kemasyarakatan yang mempelajari manusia sebagai anggota golongan atau masyarakatnya yang berarti sosiologi tidak sebagai individu yang terlepas dari golongan atau masyarakatnya, dengan ikatan-ikatan adat, kebiasaan, kepercayaan atau agamanya, tingkah laku serta keseniannya atau yang disebut kebudayaan yang meliputi segala segi kehidupannya. 1. Sejarah istilah Sosiologi Pada tahun 1838, istilah sosiologi sebagai cabang ilmu sosial pertama kali dicetuskan oleh seorang ilmuwan Perancis bernama August Comte, yang kemudian dikenal sebagai bapak sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu sosial lahir di Eropa karena pada abad ke-19 para ilmuwan Eropa menyadari bahwa kondisi dan perubahan sosial memerlukan kajian khusus. Ilmuwan kemudian mencoba membangun teori sosial berdasarkan ciri-ciri esensial masyarakat pada setiap tahap peradaban manusia. Comte membedakan antara sosiologi statis, di mana perhatian difokuskan pada hukum statis yang menjadi dasar keberadaan masyarakat, dan sosiologi dinamis, di mana perhatian difokuskan pada perkembangan masyarakat sesuai dengan perkembangan. Inisiatif Comte disambut hangat oleh masyarakat luas, terbukti dengan tampilnya beberapa cendekiawan terkemuka di bidang sosiologi. Ini termasuk Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber dan Pitirim Sorokin (semuanya dari Eropa). Masing-masing dari mereka memberikan kontribusi besar pada berbagai pendekatan studi masyarakat, yang sangat berguna untuk perkembangan sosiologi. Kata sosiologi pertama kali digunakan pada tahun 1838 oleh orang Prancis Auguste Comte dalam bukunya Filsafat Positif, yang umumnya dianggap sebagai bapak sosiologi oleh Comte. Seorang berkebangsaan Prancis bernama Herbert Spencer mengembangkan teori yang disebut "evolusi sosial" pada tahun 1978, yang setelah diterima oleh masyarakat ditolak tetapi sekarang diterima lagi dalam bentuk yang berbeda. Spencer menerapkan teori Darwin pada masyarakat manusia. Émile Durkheim seorang ilmuwan sosial Prancis berhasil melembagakan sosiologi sebagai disiplin akademis. Emile memperkenalkan pendekatan fungsional, yang bertujuan untuk menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai penghubung


9 dan pemelihara tatanan sosial. Pada tahun 1895 Emile Dukheim menerbitkan buku Rules of Sociological Methodology, yang menguraikan metodologi bunuh diri pada berbagai kelompok orang atau penduduk. Dukheim adalah salah satu pelopor terkemuka dalam perkembangan sosiologi. Pada tahun 1876 Herbert Spencer menerbitkan Sociology in England (Sosiologi di Inggris) dan meluncurkan pendekatan analogis organik, yang memahami masyarakat sebagai organisasi yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung seperti tubuh manusia. Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, menurutnya konflik antar kelas sosial adalah inti dari perubahan dan perkembangan sosial. Max Weber (1864-1920) meluncurkan pendekatan pemahaman, yang berusaha mengkaji nilai-nilai, keyakinan, tujuan, dan sikap yang memandu perilaku manusia. Weber percaya bahwa metode ilmu alam tidak dapat digunakan untuk mempelajari masalah dalam ilmu sosial. Pada tahun 1890-an, mata pelajaran sosiologi mulai bermunculan di berbagai universitas. Journal of American Sociology mulai diterbitkan pada tahun 1895, dan American Sociological Industrialization didirikan pada tahun 1909. Kemudian seorang Amerika bernama Last Word menerbitkan sebuah buku berjudul Dynamic Sociology dimana buku tersebut menganjurkan kemajuan sosial melalui aksi sosial yang dipimpin oleh sosiolog. 2. Sejarah perkembangan Sosiologi Sosiologi merupakan salah satu ilmu yang paling muda dibandingkan dengan ilmu-ilmu sosial yang ada. Sosiologi juga berasal dari filsafat. Filsafat merupakan induk dari segala ilmu (mater scientarium), yang memuat segala ilmu pengetahuan yang dikenal sampai sekarang. Pada saat itu, filsafat mencakup semua upaya untuk berpikir tentang masyarakat. Dengan berkembangnya zaman dan tumbuhnya peradaban manusia, berbagai ilmu yang semula terkait dengan filsafat mulai terpisah dan berkembang sesuai tujuannya. Astronomi (studi tentang bintang) dan fisika (ilmu alam) adalah cabang filsafat pertama yang menyimpang. Kemudian kimia, biologi dan geologi. Pada abad ke-19 lahir dua ilmu baru, yaitu psikologi (ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat manusia) dan sosiologi (ilmu yang mempelajari masyarakat). Sosiologi muncul sebagai ilmu yang dalam proses pertumbuhannya dapat dibedakan dengan ilmu-ilmu sosial lainnya seperti ekonomi dan sejarah.


10 Gagasan masyarakat, yang secara bertahap muncul sebagai ilmu yang disebut sosiologi, pertama kali muncul di benua Eropa. Banyak upaya manusia, baik ilmiah maupun non-ilmiah, telah membentuk sosiologi menjadi sains dan sains mandiri. Salah satu faktor terpenting yang menyebabkan lahirnya sosiologi adalah tumbuhnya perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Di Amerika Serikat, sosiologi dikaitkan dengan upaya untuk memperbaiki kondisi sosial masyarakat dan sebagai stimulus untuk memecahkan masalah yang disebabkan oleh kejahatan, pelecehan, prostitusi, pengangguran, kemiskinan, konflik, perang, dan masalah sosial lainnya. Banyak ahli sepakat bahwa latar belakang lahirnya sosiologi adalah krisis yang terjadi di masyarakat. Misalnya, Laeyendecker mengaitkan kemunculan sosiologi dengan perubahan di bidang sosial politik. Perubahan terkait dengan reformasi Martin Luther, tumbuhnya individualisme, lahirnya ilmu pengetahuan modern, perkembangan kemandirian, Revolusi Industri abad ke-18 dan Revolusi Prancis. Pada abad ke-19, filsuf Prancis Auguste Comte menulis beberapa buku dengan pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat. Dia mengklaim bahwa sains memiliki urutan tertentu berdasarkan logika. Semua penelitian dilakukan dalam tahapan-tahapan tertentu untuk mencapai tahapan terakhir, yaitu tahapan ilmiah. Oleh karena itu, Auguste Comte mengusulkan untuk mengangkat semua penelitian sosial menjadi ilmu sosial murni. Dari kondisi tersebut dapat diartikan bahwa sosiologi adalah ilmu sosial umum yang merupakan hasil akhir dari perkembangan ilmu. Sosiologi lahir pada saat-saat terakhir perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sosiologi dibangun di atas pencapaian ilmu-ilmu lain. Kelahiran sosiologi tercatat pada tahun 1842 ketika Auguste Comte menerbitkan buku Positive Philosophy. Beberapa wawasan penting yang dikemukakan oleh Auguste Comte adalah “hukum kemajuan manusia” atau “hukum tiga tingkat”. Menurut pandangan ini, sejarah melewati tiga tingkatan yang menaik. Ketiga level tersebut adalah: a. Tingkat teologi


11 Pada tataran ini, manusia berusaha menjelaskan fenomena yang ada di sekitarnya dengan mengacu pada hal-hal yang bersifat supranatural (di luar alam). b. Tingkatan metafisika Pada tingkat ini, orang berhubungan dengan kekuatan metafisik atau abstrak. c. Tingkat positif Pada tingkat ini, penjelasan tentang fenomena alam atau sosial dilakukan dengan mengacu pada deskripsi ilmiah. Setengah abad setelah Herbert Spencer mengembangkan kajian sistematis tentang masyarakat dalam bukunya Principles of Sociology, istilah sosiologi menjadi lebih populer. Akhirnya, sebagian berkat jasa Herbert Spencer, sosiologi berkembang pesat. Sosiologi berkembang pesat pada abad ke-20, terutama di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat, dengan tren perkembangan yang berbeda di ketiga negara tersebut. Sosiologi kemudian menjangkau berbagai benua dan negara lain, termasuk Indonesia. B. Perkembangan Sosiologi Sejarah sosiologi dimulai pada abad ke-19 ketika Auguste Comte, seorang filsuf Prancis, menciptakan istilah "sosiologi" dan memulai pengembangan disiplin ilmu ini. Comte memandang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang dapat membantu manusia memahami masyarakat secara lebih baik dan merumuskan solusi untuk masalah-masalah sosial. Kemudian, Emile Durkheim, seorang sosiolog Prancis, mengembangkan teori fungsionalisme yang berfokus pada interaksi sosial dan peran sosial dalam masyarakat. Durkheim juga menunjukkan pentingnya studi empiris dalam sosiologi dan memperkenalkan konsep solidaritas sosial. Max Weber, seorang sosiolog Jerman, juga memiliki kontribusi besar dalam perkembangan sosiologi. Ia mengembangkan teori tindakan sosial, yang mengatakan bahwa tindakan manusia dipengaruhi oleh makna yang diberikan oleh individu kepada tindakan tersebut. Di Amerika Serikat, sosiologi berkembang sebagai ilmu pengetahuan sosial yang terpisah pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Charles Horton Cooley, George Herbert Mead, dan W.E.B. Du Bois adalah beberapa tokoh sosiologi Amerika Serikat yang berkontribusi dalam perkembangan sosiologi.


12 Selama abad ke-20, sosiologi berkembang menjadi bidang yang lebih luas, mencakup berbagai topik seperti stratifikasi sosial, perubahan sosial, konflik sosial, dan teori gender. Perkembangan teknologi juga memengaruhi sosiologi, seperti pengembangan metode penelitian dan analisis data yang lebih canggih. Hingga saat ini, sosiologi terus berkembang dan memiliki peran penting dalam memahami masyarakat dan membantu merumuskan solusi untuk masalah-masalah sosial.


13 3.JENIS DAN METODE SOSIOLOGI 1. Jenis Sosiologi Berdasarkan ruang lingkup tersebut dan juga penerapannya, sosiologi dibagi menjadi empat jenis, yaitu sosiologi umum, sosiologi khusus, sosiologi sebagai ilmu terapan, dan sosiologi sebagai ilmu murni. Berikut penjelasan singkatnya: 1. Sosiologi umum Sosiologi umum adalah bidang yang menyelidiki dan mempelajari perilaku manusia dalam mengadakan hubungan di masyarakat secara umum. 2. Sosiologi khusus Sementara sosiologi khusus menyelidiki dan mempelajari berbagai sektor dalam kehidupan masyarakat. 3. Sosiologi sebagai ilmu terapan Sosiologi sebagai ilmu terapan artinya memiliki tujuan mencari bagaimana cara menggunakan pengetahuan ilmiah untuk memecahkan masalah praktis yang ada di masyarakat. 4. Sosiologi sebagai ilmu murni Sosiologi juga disebut sebagai ilmu murni karena memiliki tujuan membentuk dan menggambarkan pengetahuan secara abstrak, sehingga mutunya dapat dipertimbangkan. Sejalan dengan itu, Pitirim A. Sorokin dalam Contemporary Sociological Theories (1928:760-762)menjelaskan, sosiologi diartikan sebagai ilmu hubungan dan pengaruh timbal balik berbagai gejala sosial di muka bumi, seperti ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, hingga manusia dengan politik. Terdapat beberapa cabang dari ilmu sosiologi, meliputi sosiologi pendidikan, agama, hukum, keluarga, industri, pembangunan, politik, pedesaan, perkotaan, dan kesehatan. Sepuluh cabang ini memiliki pengertiannya masing-masing.


14 1. Sosiologi Pendidikan Diterapkan sebagai solusi pemecahan masalah pendidikan yang mendasar. Zainuddin Maliki dalam Sosiologi Pendidikan (2000:5) menerangkan, sosiologi pendidikan mengkaji bagaimana sebuah institusi sosial bisa memberikan pengaruh pada pendidikan dan sebaliknya. 2. Sosiologi Agama Dalam Sosiologi Agama (2017:5) Agus Machfud Fauzi mengungkapkan, sosiologi agama mengkaji wilayah agama, yakni sebuah bagian dari kenyataan sosial yang ada dan memiliki hubungan dengan manusia. Nilai dan norma agama yang dianut seseorang atau masyarakat akan dijadikan sebagai bahan analisisnya. 3. Sosiologi Hukum Mengutip pendapat Soerjono Soekanto yang termuat dalam Sosiologi Hukum (2017:4) karya Fithriatus Shalihah, sosiologi hukum merupakan bentuk ilmu pengetahuan yang menganalisis hubungan timbal balik antara hukum dengan gejala-gejala lainnya terkait kehidupan sosial. 4. Sosiologi Keluarga R.B. Soemanto dalam Pengertian dan Ruang Lingkup Sosiologi Keluarga (hlm.1.12) menerangkan, aspek sosiologi keluarga terkait fungsi dan pengaruh perubahan sosial terhadap keluarga. 5. Sosiologi Industri Dalam Pokok-Pokok Kajian Sosiologi Industri (2019:9-10) Hikmat menjabarkan, industri dan masyarakat memiliki keterkaitan yang menciptakan perubahan sosial. Misalnya, mata pencaharian berubah, maka kehidupan sosial akan mengikuti arusnya. 6. Sosiologi Pembangunan Adon Nasrullah dalam Sosiologi Pembangunan (2016:2), sosiologi pembangunan berawal dari kegagalan program pembangunan atas sponsor AS ke negara berkembang. Dimensi kajian tersebut akhirnya tercipta, seperti posisi negara miskin ketika berhubungan sosial dengan negara lain, karakter masyarakat yang mempengaruhi pembangunan, dan lain-lain. 7. Sosiologi Politik


15 Suharno secara jelas dalam Diktat Kuliah Sosiologi Politik (hlm.3) menjelaskan, terdapat dua pengertian dari sosiologi politk, yakni sebagai ilmu tentang negara dan ilmu mengenai kekuasaan. 8. Sosiologi Pedesaan Mengutip pendapat Galeski (1972) dalam Sosiologi Pedesaan (2012:3) karya Nora Susilawati, sosiologi pedesaan dideskripsikan sebagai studi terkait desa yang berperan dalam kegiatan pertanian dan kehidupan di dalamnya. Semua aspek yang hidup dalam pedesaan, mulai dari mata pencaharian, kebiasaan, aturan, akan dikaji melalui sosiologi pedesaan. 9. Sosiologi Perkotaan Hampir sama dengan pedesaan, namun ruang lingkup kali ini adalah kota. Beni Ahmad Saebani memberikan pengantar dalam Sosiologi Perkotaan (2015:vii), segala peristiwa, keunikan, serta apapun yang menyangkut interaksi sosial dan kehidupan penduduk kota akan disajikan dalam sosiologi perkotaan. 10. Sosiologi Kesehatan Dalam Sosiologi Kesehatan (2017:4) Dewi Rosmalia dan Yustiana Sriani menerangkan, sosiologi kesehatan berawal dari proyek kedokteran yang perlu pemahaman terkait faktor sosial yang mengakibatkan pola penyebaran penyakit. Cabang ilmu ini akan menggunakan konsep dan metode sosiologi untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan memecahkan berbagai masalah yang menyangkut kesehatan. 2. Metode Sosiologi Metode berasal dari kata methodos yang berasal dari bahasa Yunani. Methodos terdiri dari dua kata yakni meta dan hodos. Meta memiliki arti menuju, melalui, mengikuti, atau sesudah. Sedangkan hodos sendiri memiliki arti jalan, cara, atau arah. Kata metodhos ini kemudian diserap dalam bahas Inggris menjadi method yang memiliki arti suatu bentuk prosedur tertentu untuk meraih atau mencapai tujuan dengan cara yang sistematis. Menurut KBBI, metode merupakan cara teratur yang digunakan untuk melakukan pekerjaan supaya tercapai sesuai dengan yang direncanakan atau dikehendaki. Ilmu sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Untuk mengamati objek kajiannya ilmu sosiologi membutuhkan sebuah metode atau cara


16 untuk menemukan jawaban dari persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat.Metode yang digunakan dalam penelitian sosiologi tidak berupa seperangkat metode ilmiah tunggal. Terdapat beberapa metode ilmiah yang dapat digunakan untuk penelitian sosiologi. Berikut metode-metode yang dapat digunakan dalam penelitian sosiologi: A. Metode kuantitatif Merupakan metode yang menggunakan angka-angka yang kemudian diolah dan diwujudkan dalam bentuk statistik, seperti skala, tabel, indeks, dan lainnya. Metode kuantitatif adalah metode statistik yang bertujuan untuk menggambarkan dan meneliti hubungan antarmanusia dalam masyarakat secara kuantitatif. Pengolahan data secara statistik banyak dilakukan para ahli ilmu sosial untuk data yang bersifat angka (data kuantitatif). Pengolahan data statistik dapat dilakukan secara sederhana. Salah satu contoh cara peneliti dalam metode kuantitatif adalah dengan polling (jajak pendapat). a. Metode Statistik Metode penelitian yang digunakan untuk melakukan pengolahan dan analisis fenomena sosial melalui data statistik. Metode ini menjadi petunjuk suatu hubungan atau pengaruh suatu kualitas.Penelitian ini menggunakan data statistik sebagai kunci hasil penelitian. Yang mana data statistik diperoleh peneliti dari data set yang sudah tersedia atau mengumpulkannya sendiri melalui survei. b. Metode Sosiometri Metode penelitian ini menggunakan analisis pola hubungan, relasi, atau jaringan sosial antar individu atau kelompok. Metode ini sering disebut dengan analisis jejaring sosial (Social networking analysis). Penelitian dengan metode ini dilakukan untuk mengidentifikiasi jejaring sosial antar manusia sebagai bagian dari bentuk fenomena sosial. B. Metode Kualitatif Mengutamakan hasil pengamatan yang sukar diukur dengan angka-angka atau ukuran-ukuran yang matematis, meskipun kejadiankejadian itu nyata ada di masyarakat.Beberapa metode yang termasuk dalam metode kualitatif adalah sebagai berikut. a. Metode historis, yaitu metode pengamatan yang menganalisis peristiwa-


17 peristiwa masa silam untuk merumuskan prinsipprinsip umum. b. Metode komparatif, yaitu metode pengamatan dengan membandingkan bermacam-macam masyarakat serta bidangbidangnya untuk memperoleh perbedaan dan persamaan sebagai petunjuk tentang perilaku suatu masyarakat pada masa lalu dan masa mendatang. c. Metode studi kasus, yaitu suatu metode pengamatan tentang suatu keadaan, kelompok, masyarakat setempat, lembaga-lembaga, ataupun individuindividu. Alat-alat yang digunakan dalam studi kasus adalah wawancara (interview), pertanyaan-pertanyaan atau kuesioner (questionaire), daftar pertanyaan, dan teknik keterlibatan si peneliti dalam kehidupan sehari-hari dari kelompok sosial yang sedang diamati (participant observer technique). C. Metode Induktif Metode induktif merupakan metode untuk mempelajari sesuatu yang bersifat khusus agar mendapat kesimpulan yang universal. Dalam penelitian sosial penerapannya dimulai dengan pencarian data lapangan, selanjutnya diolah, dianalisis, hingga disimpulakn menjadi teori-teori yang umum. Pada penelitian induktif, gejalagejala sosial yang khusus dan muncul di lapangan dirangkai sedemikian rupa hingga mencapai kesimpulan umum dan menghasilkan teori. D. Metode Deduktif Metode deduktif ini cenderung berkebalikan dengan metode induktif. Metode deduktif merupakan metode untuk mempelajari sesuatu yang bersifat umum agar menghasilkan kesimpulan secara khusus. Dalam penelitian sosial penerapannya dimulai dari teori yang dihimpun peneliti. Kemudian teori tersebut digunakan sebagai panduan analisis data yang diperoleh di lapangan. Peneliti memiliki teori yang berasal dari penelitian sebelumnya, kemudian diuji dengan kondisi keadaan nyata di lapangan. E. Metode Empiris Metode empiris merupakan metode penelitian dengan fakta sebagai dasar mengumpulkan data. Dalam penelitian sosial, dilakukan pencarian data objektif di lapangan yang bersifat empiris, yang artinya berasal dari realitas di lapangan tanpa intervensi kepentingan peneliti.


18 4. PARADIGMA SOSIOLOGI 3. Interaksi social a) Pengertian Menurut Gillin dan Gillin,interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yangmenyangkut hubungan antara orang-orang/perorangan, antara kelompok-kelompokmanusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.Gillin dan Gillin dalam Soerjono Sukanto, 2012)Hubungan antara perorangan terjadi antara seseorang dengan orang lain baik yangsudah mengenal satu sama lain maupun tidak saling mengenal untukmenyampaikan suatu maksudtertentu. Begitu pun yang terjadi antara kelompokdengan kelompok lain, faktor terjadinya interaksi sosial dapat dengan faktor disengaja maupun secara tidak sengaja. (Gillin, 2012) Menurut Bonner interaksi sosial adalah suatu hubungan antara duaindividu atau lebih yang saling mempengaruhi, mengubah, atau memperbaikikelakuan individu yang lain atausebaliknya Menurut Kimball Young dan Raymond, W. Mack, interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa interaksi sosial, takakan mungkin ada kehidupan bersama. Dengan kata lain bahwa interaksi sosialmerupakan intisari kehidupan sosial. Artinya, kehidupan sosial dapat terwujuddalamberbagai bentuk pergaulan seseorang dengan orang lain. (definisiinteraksisosialmenurutparaahli, 2014) b) Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Interaksi Dalam hal ini ada 4 hal yang mempengaruhi terjadinya interaksi social; 1. Faktor imitasi yaitu dorongan untuk mengikuti atau meniru orang lain. 2. Faktor sugesti yaitu pengaruh psikis dari diri sendiri maupun yang datang dari orang lain, sehingga orang yang diberikan pengaruh (sugesti) menurutiatau melaksanakan apa yang diberikan tanpa berfikir lagi secara rasional


19 3. Faktor identifikasi menurut Freud tokoh psikologi yaitu merupakan dorongan untuk menjadi sama atau identik dengan orang lain. 4. Faktor simpati yaitu merupakan perasaan tertarik terhadap orang lainkarena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya yang sedemikian rupa. c) Syarat-syarat terjadinya interaksi social Suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat yaitu :(Soerjono Soekanto,1974) 1. Adanya kontak sosial (social contact)Kontak berasal dari bahasa latin yaitu Con atau Cum artinya bersama-sama. Tango artinya menyentuh, berarti kontak adalah bersama-sama menyentuh.Secara fisik, kontak baru terjadi bila adanya hubungan badaniah. (Soerjono Soekanto,1990) 2. Adanya KomunikasiKomunikasi adalah suatu proses bahwa sesorang memberikantafsiran pada perilaku orang lain (berwujud: pembicaraan, gerak gerikbadan, sikap, perasaan) apa yang ingin disampaikan pada orang tersebutdan yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap apa yangdisampaikan kepadanya.Menurut Everett M. Rogers komunikasi adalah suatu proses dimana suatuide dialihkan dari sumber kepada suatu penerimaan atau lebih dengan maksuduntuk mengubah tingkah laku mereka. Unsur-unsur pokok komunikasi: 1. Komunikator: orang yang menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran. 2. Komunikan: orang yang disampaikan pesan,perasaan atau pikiran atauorang yang menerima pesan. 3. Pesan: sesuatu yang disampaikan komunikatorberupa informasi, instruksi,atau perasaan. 4. Media:alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan. 5. Efek: perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan setelahmenerima pesan. Jenis-jenis komunikasi: 1. Komunikasi verbal yaitu komunikasi yang menggunakan kata-kata


20 2. Komunikasi non verbal yaitu komunikasi tanpa neggunakan katakatamelainkan dengan bahasa tubuh d) Ciri-Ciri Interaksi Sosial 1.ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang 2. ada komunikasi antar pelaku dengan menggunakan simbol-simbol 3. ada dimensi waktu (masa lampau, masa kini, dan masa mendatang) yangmenentukan sifat aksi yang sedang berlangsung 4. Ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebutdengan yang diperkirakan oleh pengamat. e) Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial (yang juga dapat dinamakan proses sosial) karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial.Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation),persaingan (competition), dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan ataupertikaian (conflict). Mungkin penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterimauntuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi(accommodation); dan iniberarti bahwa kedua belah pihak belum tentu puassepenuhnya. Suatu keadaandapat dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksisosial. (Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, 1964) Secara umum terdapat dua bentuk interaksi sosial yaitu proses asosiatifdan proses disosiatif. Prosesasosiatif yaitu proses yang bersifat penggabunganantara dua objek atau tanggapan indra. Proses disosiatif yaitu proses sosial yangbersifat perpecahanantara dua objek sebagai akibat munculnya perbedaantanggapan indrawi. a. Interaksi Sosial Asosiatif interaksi social asositif adalah proses interaksi pranata social yang mengarah terbentuknya persatuan. Maka interaksi social adalah proses social yang berjalan positif dan menghasilkan keteraturan dan intergrasi social. Interaksi social asosiatif memiliki beberapa bentuk yaitu seperti kerjasama, akomodasi dan asimilasi. b. Interaksi Sosial Disosiatif


21 Proses-proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional processes, yang persis halnya dengan kerja sama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem sosial masyarakat bersangkutan. Interkssi social disosiatif merupakan pross social yangmenjurus kea rah suatu konflik ataupun masalah, yang mengakibatkan adanyasuatu kerenggangan dalam berinteraksi. Interaksi social disosiatif memilikibeberapa bentuk yaitu persaingan, kontravensi dan pertikaian atau konflik. 4. STRATIFIKASI a) Pengertian Stratifikasi sosial merupakan suatu konsep dalam sosiologi yang melihat bagaimana anggota masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. Stratifikasi berasal dari kata stratum yang berarti strata atau lapisan dalam bentuk jamak. Sebagaimana Pitirin A. Sorokin mendefinisikan stratifikasi sebagai pembedaan penduduk atau anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas secara hierarkis. Sedangkan, menurut Bruce J. Cohen sistem stratifikasi akan menempatkan setiap individu padakelas sosial yang sesuai berdasarkan kualitas yang dimiliki. Sementara Max Weber mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasukdalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarki menurut dimensikekuasaan, previllege dan prestise Hal yang mewujudkan unsur dalam teori sosiologi tentang sistem lapisan sosial masyarakat adalah kedudukan (status) dan peranan (role). Kedudukan dan peranan merupakan dua unsur baku dalam lapisan sosial dan mempunyai arti pentingdalam bagi sistem sosial. Yang diartikan sebagai sistem sosial adalah polapola yang mengatur hubungan timbal-balik antara individu dalam masyarakat dan tingkah laku individu-individu tersebut. b) Sebab-Sebab Terjadinya Stratifikasi Sosial Setiap masyarakat mempunyai sesuatu yang dihargai, bisa berupa kepandaian, kekayaan, kekuasaan, profesi, keaslian keanggotaan masyarakat dan sebagainya. Selama manusia membeda-bedakan penghargaan terhadap sesuatu


22 yang dimiliki tersebut, pasti akan meni mbulkan lapisan-lapisan dalam masyarakat. Semakin banyak kepemilikan, kecakapan masyarakat/seseorang terhadap sesuatu yang dihargai, semakin tinggi kedudukan atau lapisannya. Sebaliknya bagi mereka yang hanya mempunyai sedikit atau bahkan tidak memiliki sama sekali, maka mereka mempunyai kedudukan dan lapisan yang rendah. Secara teoritis, semua manusia dapat dianggap sederajat. Akan tetapi, sesuai dengan kenyataan hidup berkelompok-kelompok sosial, halnya tidaklah demikian. Pembedaan atas lapisan merupakan gejala universal yang merupakan bagian system sosial setiap masyarakat. Untuk meneliti terjadinya proses-proses lapisan masyarakat, pokok-pokok sebagai berikut dapat dijadikan pedoman : Sistem lapisan mungkin berpokok pada sistem pertentangan dalam masyarakat. Sistem demikian hanya mempunyai arti yang khusus bagi masyarakatmasyarakat tertentu yang menjadi objek penyelidikan. Sistem lapisan dapat dianalisis dalam ruang lingkup unsur-unsur antara lain: a) Distribusi hak-hak istimewa yang objektif seperti misalnya;penghasilan, kekayaan, keselamatan, (kesehatan, laju angka kejahatan) wewenang dan sebagainya.Sistem pertanggaan yang diciptakan para warga masyarakat (prestise dan penghargaan). b) Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah didapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik wewenang atau kekuasaan. c) Lambang-lambang kedudukan, seperti tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi mudah atau sukarnya bertukar kedudukan. d) Solidaritas diantara individu-individu atau kelompok-kelompok yang menduduki kedududkan yang sama dalam system sosial masyarakat seperti; 1) Pola-pola interaksi-interaksi (struktur klik, keanggotaan organisasi, perkawinan dan sebagainya) 2) Kesamaan atau ketidaksamaan system kepercayaan, sikap dan nilai-nilai 3) Kesadaran akan kedudukan masing-masing 4) Aktivitas sebagai organ kolektif


23 c) Dasar-Dasar Pembentukan Pelapisan Sosial Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut. 1. Ukuran kekayaan Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memilikikekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisansosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. 2. Ukuran kekuasaan dan wewenang Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan. 3. Ukuran kehormatan Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berperilaku dan berbudi luhur. 4. Ukuran ilmu pengetahuan Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktor ataupun gelar profesional


24 seperti profesor. Unsur-unsur stratifikasi : 1. Kedudukan (Status) Yaitu kedudukan sebagai tempat/posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial 2. Peranan (Role) Yaitu Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan seperti peranan peternak kambing sebagai penggerak roda perekonomian yang secara langsung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Macam-Macam / Jenis-Jenis Status Sosial : 1. Ascribed Ascribed status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras,kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya. 2. Achieved Achieved status adalah status sosial yang didapat sesorang karena kerja keras danusaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti peternak kambing yang bisa menjadi sukses karena keuletan dan kegigihannya sehingga bisa mengangkat derajat kehidupannya, harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. 3. Assigned Assigned status adalah status sosial yang diperoleh seseorang di dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya. Bentuk stratifikasi sosial diantaranya sebagai berikut : 1. Sistem Kasta (tertutup) Sistem kasta memilki karakteristik sistem kelas yang horizontal (strata) yang merefresentasikan area-area fungsional yang terdapat dalam masyarakat. Areaarea tersebut meliputi religi (agama), pendidikan, pemerintahan dan bisnis. Masingmasing area kemudian disusun berdasarkan atas tingkat kepentingan fungsional dalam masyarakatnya. 2. Sistem Estate (tertutup)


25 Bentuk kedua dari stratifikasi sosial adalah sistem estate yang pada dasarnya juga berdasarkan pada sistem kelas tertutup, tetapi lebih luas bila dibandingkan dengan sistem kasta. Sistem estate mencapai masa kejayaannya pada masa feodalisme di eropadan masih digunakan oleh beberapa negara yang tetap mempertahankan system aristokrasi atau kepemilikan tanah secara turun temurun (feodalis Eropa). Istilah”estate” berasal dari istilah feodal Eropa. 3. Sistem Kelas (terbuka) Status sosial yang mereka peroleh dari ukuran ekonomi yaitu seberapa besar kekayaan yang dipunyai. Ketiga kelas tersebut adalah kelas atas (kelas kaya), kelas bawah (kelas miskin) dan kelas yang ketiga, yang berada diantara kelas kaya dan kelas miskin tersebut yakni kelas menengah. Contoh dalam dunia peternakan seperti para peternak kambing yang terdiri dari beberapa lapisan/stratifikasi baik kelas atas maupun kelas bawah, karena rata-rata peternak kambing di pedesaan keadaan ekonominya masih jauh dari mencukupi. d) Fungsi Stratifikasi SosialStratifikasi sosial dapat berfungsi sebagai berikut : 1. Distribusi hak-hak istimewa yang objektif, seperti menentukan penghasilan,tingkat kekayaan, keselamatan, dan wewenang padajabatan, pangkat, kedudukan seseorang. 2. Sistem pertanggaan (Tingkatan) pada strata yang diciptakan masyarakat yang menyangkut prestise dan penghargaan, Misalnya: Pada seorang yang menerima anugerah penghargaan gelar kebangsawanan, dan lain sebagainya. 3. Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah di dapat melalui kualitas pribadi keanggotaan kelompok, kerabat tertentu, kepemilikikan, wewenang atau kekuasaan. 4. Penentuan lambang-lambang (Simbol status) atau kedudukan, seperti tingkah laku, cara berpakaian dan bentuk rumah. 5. Tingkat mudah tidaknya bertukar kedudukan. 6. Alat solidaritas di antara individu-individu/ kelompok yang menduduki system sosial yang sama dalam masyarakat


26 5. Mobilitas social a. Pengertian Secara etimologis, kata mobilitas merupakan terjemahan dari kata mobility yang berkata dasar mobile. Kata mobile berarti aktif, giat, gesit, sehingga mobility adalah gerakan. Secara harfiah, mobilitas sosial berarti gerakan dalam masyarakat. Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu polapola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya. Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Contohnya, masyarakat feodal atau pada masyarakat yang menganut sistem kasta. Pada masyarakat yang menganut sistem kasta, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah untuk selamanya ia tetap berada pada kasta yang rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian. Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi. b. Penyebab Mobilitas Sosial Mobilitas sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat di antaranya disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 1. Perubahan Kondisi Sosial Struktur kelas dan kasta dalam masyarakat dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam maupun luar masyarakat. Kemajuan teknologi misalnya, dapat membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas dan perubahan ideologi juga dapat menimbulkan stratifikasi baru. 2. Ras atau Kesukuan Tingkat diskriminasi tertentu terhadap anggota-anggota ras dan kelompokkelompok suku tertentu tidak dapat dimungkiri masih terjadi dalam dunia bisnis, industri, bahkan pendidikan. Latar belakang ras dan suku bisa saja


27 menjadi faktor-faktor penting yang mempengaruhi kemungkinan maupun peluang seseorang untuk melakukan mobilitas vertikal (ke atas). 3. Ekspansi Teritorial dan Gerak Populasi Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat, misalnya perkembangan kota, transmigrasi, membuktikan ciri fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. 4. Komunikasi yang Bebas Komunikasi yang bebas serta efektif akan memudarkan semua batasan dari strata sosial yang ada dan merangsang mobilitas sosial sekaligus menerobos rintangan yang menghadang. 5. Pendidikan Dalam kaitannya dengan mobilitas vertikal, fungsi pokok pendidikan formal adalah membekali individu dengan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk memasuki pasaran kerja. Tingkat pendidikan yang memadai akan menempatkan seseorang pada posisi menguntungkan jika harus bersaing dengan orang lain untuk suatu jabatan tertentu. Jenis-jenis pekerjaan yang menuntut tingkat pendidikan tinggi pada umumnya memberikan gaji yang memuaskan. 6. Pembagian Kerja Terbukanya kemungkinan bagi mobilitas sosial dalam masyarakat lebih dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja sangat tinggi dan lebih dikhususkan, mobilitas sosial akan sulit. Ini karena spesialisasi kerja menuntut keterampilan khusus. c. Manfaat Mobilitas Sosial Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata. Kesempatan ini mendorong orang untuk mau bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas. Contoh: Seorang anak miskin berusaha belajar dengan giat agar mendapatkan kekayaan dimasa depan. Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik. Contoh: Indonesia yang sedang mengalami


28 perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Perubahan ini akan lebih cepat terjadi jika didukung oleh sumber daya yang memiliki kualitas. Kondisi ini perlu didukung dengan peningkatan dalam bidang pendidikan. d. Dampak Mobilitas Sosial 1. Dampak Mobilitas Vertikal Mobilitas vertikal menurun dapat menyebabkan stres dan gangguan mental yang serius. Tingkat bunuh diri yang dilalukan oleh orang yang mengalami mobilitas vertikal turun dibandingkan mereka yang mengalami mobilitas vertikal naik. Mobilitas vertikal naik menyebabkan stres dan gangguan mental, serta efek-efek yang tidak diinginkan lainnya. 2. Dampak Mobilitas Geografis Mobilitas penduduk/geografis membawa dampak bagi daerah baru tempat penduduk tersebut bermukim dan bagi daerah asalnya. Urbanisasi besarbesaran, terutama ke kota-kota besar, dapat menimbulkan beragam masalah sosial. Tingkat urbanisasi yang tinggi membawa masalah kependudukan, baik bagi daerah asal/daerah tujuan. Di kota-kota yang menjadi tujuan urbanisasi terjadi ledakan jumlah penduduk, yang dapat menimbulkan masalah kemiskinan, permukiman kumuh, kesehatan, keamanan, tata kota yang semrawut, kebersihan, dan lain-lain. Sementara itu, daerah asal bisa saja kekurangan sumber daya manusia untuk mengelola sumber daya alamnya. Konflik-konflik dengan pihak-pihak lain, baik itu konflik antar individu, konflik antar kelompok, konflik antar kelas, maupun konflik antar generasi bisa mereda bila pihak-pihak yang berkonflik menyesuaikan diri pada suatu keadaan yang memungkinkannya bekerja sama. Penyesuaian ini dinamakan akomodasi. Akomodasi adalah usaha manusia untuk meredakan suatu pertikaian atau konflik dalam rangka mencapai kestabilan. Pihak yang berkonflik saling menyesuaikan diri, sehingga tercipta kerja sama. e. Mengatasi Mobilitas Sosial Secara umum, cara orang untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas adalah sebagai berikut: 1. Perubahan Standar Hidup


29 Kenaikan penghasilan tidak menaikkan status secara otomatis, melainkan akan merefleksikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan memengaruhi peningkatan status. Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi manajer, sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak mengubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan. 2. Perkawinan Untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui perkawinan. Contoh: Seseorang wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang di masyarakatnya. Perkawinan ini dapat menaikkan status si wanita tersebut. 3. Perubahan Tempat Tinggal Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas. 4. Perubahan Tingkah Laku Untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, orang berusaha menaikkan status sosialnya dan mempraktikkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang diaspirasikan sebagai kelasnya. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga pakaian, ucapan, minat, dan sebagainya. Dia merasa dituntut untuk mengaitkan diri dengan kelas yang diinginkannya. Contoh: agar penampilannya meyakinkan dan dianggap sebagai orang dari golongan lapisan kelas atas, ia selalu mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Jika bertemu dengan kelompoknya, dia berbicara dengan menyelipkan istilah-


30 istilah asing. 5. Perubahan Nama Dalam suatu masyarakat, sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Gerak ke atas dapat dilaksanakan dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi. Contoh: Di kalangan masyarakat feodal Jawa, seseorang yang memiliki status sebagai orang kebanyakan mendapat sebutan “kang” di depan nama aslinya. Setelah diangkat sebagai pengawas pamong praja sebutan dan namanya berubah sesuai dengan kedudukannya yang baru seperti “Raden”.


31 BAB III KESIMPULAN DAN PENUTUP 1. Kesimpulan Jadi dari hasil materi atau pembahsan dapat diimpulkan bahwasannya, Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat dan segala aspek sosial di dalamnya. Bidangnya sangat luas, mencakup banyak hal-hal sosial seperti struktur sosial, perubahan sosial, kelas sosial, etnisitas, gender, homoseksualitas, agama, konflik sosial, kekuasaan, dan lembaga sosial. Objek kajiannya adalah fenomena sosial dan juga interaksi antarindividu atau kelompok baik secara personal maupun kelompok. Sosiologi bermula pada abad ke-19 saat para filsuf dan ilmuwan mulai memperjuangkan disiplin ilmiah baru untuk mempelajari masalah sosial. Setelah itu, sosiologi berkembang pesat dan memperluas isu-isu yang dikaji dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Ada berbagai jenis sosiologi seperti sosiologi konflik, sosiologi positivis, sosiologi interpretatif, dan sosiologi kritis. Beberapa topik yang dipelajari dalam sosiologi antara lain interaksi social, stratifikasi, dan mobilitas sosial. Interaksi social berkaitan dengan hubungan antara individu atau kelompok. Stratifikasi adalah pembagian masyarakat berdasarkan status, sedangkan mobilitas sosial mengacu pada gerakan individu atau kelompok dari satu status ke status lain dalam masyarakat. Sosiologi sangat penting untuk memahami masyarakat dan masalah sosial yang ada di dalamnya. Dari sini kita bisa mempelajari banyak isu sosial, interaksi sosial, stratifikasi, dan mobilitas sosial, untuk kemudian bisa membantu mencari solusi atas berbagai masalah sosial yang muncul. 2. Penutup Dalam penutup minibook ini, kita telah membahas tentang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat dan segala aspek sosial di dalamnya. Kita telah melihat bagaimana sosiologi berkembang dan memperluas isu-isu yang dikaji dengan menggunakan berbagai metode kajian. Dari pembahasan tersebut, ternyata sosiologi sangat penting untuk memahami masyarakat dan masalah sosial yang ada di dalamnya. Dengan mempelajari sosiologi, kita bisa memahami banyak isu sosial, interaksi sosial, stratifikasi, dan mobilitas sosial, sehingga dapat membantu mencari solusi atas berbagai masalah sosial yang muncul. Oleh karena itu, sebagai pembaca yang setia, mari kita selalu membaca dan mempelajari sosiologi agar dapat terus meningkatkan pemahaman terhadap masyarakat dan segala aspek sosial di dalamnya. Kita harus berperan aktif dalam memecahkan berbagai masalah sosial dan menciptakan masyarakat yang lebih baik.Terima kasih atas kesempatan untuk menyampaikan makalah ini, semoga pembahasan yang telah disampaikan dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Sekian dan terima kasih.


32 Tentang Penulis Penulis lahir di Pacitan pada 05 april 2003. Sepasang Suami Istri yakni bapak Ribut Subiyantoro Dan ibu Nur Isro’in Khotami. Dan terdiri dari 3 bersaudara. Penulis Menempuh Pendidikan TK di Kota Kediri dan melanjutkan SD di Tulungagung. Kemudian Penulis melanjutkan Pendidikan SMP dan SMA disalah satu daerah di Tulungagung.Melanjutkan Pendidikan nya di Perguruan Tinggi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Penulis sangat Penulis lebih suka fotografi dan videografi, karena Penulis beranggapan bahwa Perannya memotivasi diri, dan dapat membuat karya dengan cara apapun denagn alat apapun karena yang terpenting adalah skill atau kemampuan yang dimiliki. sangat penting bagi kehidupan khusus nya bagi Para Remaja pada saat ini dimana tidak sedikit dari mereka yang membutuhkan Motivasi entah itu karena Latar Belakang Masalah keluarga, Teman maupun Ekonomi yang membuat mereka berada dititik terendahdan merasa minder jika tidak memiliki alat yang memadai untuk membuat karya, karya tidak harus berbentuk seperti gambar, lukisan atau benda yang besar dan memiliki manfaat atua berpengaruh pada manusia, karya bisa saja dengan bentuk tulisan. Dan dengan tulisan dapat merubah pribadi seseorang. Tumbuh besar dalam lingkungan pedesaan Penulis menjumpai banyak sekali orang dan lingkungan yang menginspirasi dirinya, selai dari lingkunganya social media juga memotivasi dirinya untuk berkarya tidak hanya dalam bidang tulisan saja, tapi juga dalam bentuk foto dan video. Penulis kemudian menyadari bahwa ternyata tumbuh berkembang dalam lingkungan yang sederhana adalah sebuah Privilege. Oleh karena itu, Penulis berkomitmen untuk membagi banyak cerita dalam hidupnya agar bisa bermanfaat untuk banyak orang.


33


Click to View FlipBook Version