Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 51 Vikaris Apostolik VII : Mgr. Petrus Johannes Willekens SJ (1934 – 1952) Menjadi Vikariat Apostolik Batavia (1934-1952). Pendiri Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, tempat mendidik calon imam pribumi. Beliau adalah pendiri Kongregasi Suster Abdi Dalem Sang Kristus. Beliau juga mengusahakan pengesahan Kongregasi Bruder Rasul sebagai kongregasi keuskupan serta membuka asrama seminari di Jalan Lapangan Banteng (1950). Pada tahun 1952, seminari ini dipindahkan ke Tangerang. Beliau juga mengusahakan pendirian tempat-tempat ibadah, sekolah-sekolah dan rumah sakit. Beliau juga mempunyai perhatian besar terhadap pers. Tampak dengan diterbitkannya dwi mingguan “Penabur” (1946) untuk masalah kemasyarakatan dan mingguan “De Katholieke Week” (1947), sekarang dikenal dengan Majalah HIDUP – untuk masalah kekatolikan. Mgr. Willekens, SJ adalah perintis pribumisasi pendidikan dan pelayan rohani umat di Indonesia. Kerkhoff Muntilan merupakan tempat jasadnya dikebumikan. Foto-foto : Komsos KAJ
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 52 USKUP AGUNG Vikaris Apostolik VIII : Mgr. Adrianus Djajasepoetra SJ (1953 – 1961) Uskup Agung Jakarta : (1961 – 1970) Dilahirkan di Yogyakarta dan dipilih oleh Paus Pius II menjadi Vikaris Apostolik Jakarta pada 18 Februari 1953. Sebelum menjadi Vikaris Apostolik, beliau sempat menjabat sebagai rektor di Kolese Santo Ignatius, Yogyakarta. Ditahbiskan menjadi Uskup pada tanggal 23 April 1953 oleh Duta Vatikan, yaitu Mgr. De Jonghe D’Ardoye, dengan bantuan Mgr. Soegijapranata dari Semarang dan Mgr. Arntz dari Bandung. Ketika telah berusia 76 tahun, beliau meminta permohonan kepada Paus agar dibebas tugaskan dari jabatannya sebagai Uskup Agung. Mgr. Djajasepoetra kemudian menghabiskan masa tuanya di Girisonta, Jawa Tengah. Foto : Komsos KAJ Uskup Agung Jakarta : Mgr. Leo Soekoto SJ (1970 – 1995) Dilahirkan di Jali, Gayamharjo, Prambanan, Sleman pada tanggal 23 Oktober 1920. Wafat di Semarang pada tanggal 30 Desember 1995 dalam usia 75 tahun. Menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta, dari tanggal 15 Agustus 1970 hingga wafat. Mgr. Leo Soekoto wafat di RS St.Elisabeth, Semarang, akibat serangan kanker sumsum tulang belakang. Dimakamkan di areal pemakaman kompleks Rumah Retret Girisonta, Jawa Tengah. Setelah ditahbiskan, beliau masih harus menyelesaikan tahun terakhir studi teologi dan masa Novisiat tahun ketiga. Tahun 1955 dilanjutkanlah studinya di Universitas Gregoriana Roma, di bidang moral. Tahun 1958 kembali ke Indonesia. Pada tahun 1960, beliau ditunjuk sebagai dosen teologi moral dan hukum Gereja di Seminari Tinggi Santo Paulus, Yogyakarta. Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 29 Juni 1962, ditunjuk menjadi Rektor Seminari Tinggi Yogyakarta, yang kini bernama Institut Filsafat-Teologi.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 53 Tanggal 15 November 1966, dipanggil ke Jakarta untuk mendampingi Uskup Agung Jakarta, Adrianus Djajasepoetra, sebagai Sekretaris Keuskupan Agung Jakarta. Tanggal 25 November 1967, diangkat menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta, merangkap Pastor Paroki Blok B, Kebayoran Baru. Tanggal 25 Mei 1970, diterima pemberitahuan dari Sri Paus mengenai pengangkatannya menjadi Uskup Agung Jakarta. Pada tanggal 1 Juli 1970, mulailah tugasnya sebagai Uskup Agung Jakarta dan baru pada tanggal 15 Agustus 1970, Pastor Leo Soekoto, SJ ditahbiskan menjadi Uskup Agung Jakarta oleh Mgr. Justinus Kardinal Darmojoewono di Istora Senayan, Jakarta. Pada tanggal 17 Juli 1993, tugas penggembalaannya sebagai Uskup semakin berat. Bapa Suci menunjuknya sebagai Administrator Apostolik ad Nutum Sanctae Sedis untuk Keuskupan Bogor. Tugas rangkap dua keuskupan ini dijalankannya sampai tanggal 23 Oktober 1994, saat Uskup Bogor yang baru, Mgr. Michael Angkur, OFM, ditahbiskan menjadi Uskup Katedral Bogor. Memutuskan pensiun dari tugasnya sebagai Uskup Agung Jakarta tanggal 10 November 1995, Mgr. Leo kemudian tinggal di Girisonta, Jawa Tengah. Mgr. Leo memimpin Keuskupan Agung Jakarta selama 25 tahun. Foto : Komsos KAJ Uskup Agung Jakarta : Mgr. Julius Darmaatmadja SJ (1996 – 2010) Kardinal Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ, lahir di Muntilan, Jawa Tengah pada tanggal 20 Desember 1934, adalah seorang Kardinal Gereja Katolik Roma dari Indonesia sejak tahun1994. Ia menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta sejak tanggal 11 Januari 1996 sampai dengan 28 Juni 2010. Beliau ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 18 Desember 1969 oleh Kardinal Justinus Darmojuwono dan bertugas di Yogyakarta. Kemudian tahun 1978-1981, menjabat Rektor Seminari Menengah Mertoyudan. Ditahbiskan sebagi Uskup Agung Semarang, juga oleh Kardinal Justinus Darmojuwono pada tanggal 29 Juni 1983. Pada 28 April 1984, Mgr. Julius Darmaatmadja juga diangkat oleh Vatikan Roma sebagai Uskup bagi ABRI, menggantikan Kardinal Justinus Darmojuwono, Pr.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 54 Setelah wafatnya Kardinal Justinus Darmojuwono, beliau diangkat sebagai Kardinal pada tanggal 26 November 1994. Setelah wafatnya Mgr. Leo Soekoto, beliau diangkat sebagai Uskup Agung Jakarta pada tanggal 11 Januari 1996. Pada tanggal 25 Mei 1990, beliau diangkat menjadi anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama. Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ mundur dari jabatannya sebagai Uskup ABRI pada 2 Januari 2006 dan digantikan oleh Uskup Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo. Pada tanggal 28 Juni 2010, pukul 12:00 (waktu Vatikan), Bapa Suci Benediktus XVI secara resmi mengumumkan penerimaannya atas surat pengunduran diri yang diajukan oleh Kardinal Mgr. Julius Riyadi Darmaatmadja, SJ. Sejak saat itulah, Kardinal Mgr. Julius Riyadi Darmaatmadja, SJ menjadi Uskup Emeritus (Uskup yang pensiun) di Keuskupan Agung Jakarta. Foto : www.jv wikipedia.org Uskup Agung Jakarta : Mgr. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo Pr (2010 - sampai sekarang) Mgr. Ignatius Suharyo lahir di Sedayu, Bantul, Yogyakarta pada tanggal 9 Juli 1950. Menjabat sebagi Uskup Agung Jakarta sejak tanggal 29 Juni 2010, menggantikan Kardinal Mgr. Julius Darmaatmadja. Sebelum menduduki jabatan ini, Mgr. Ignatius Suharyo adalah Uskup Coajutor (Uskup dengan hak suksesi otomatis saat Uskup senior pensiun) di Keuskupan Agung Jakarta. Sebelumnya, beliau pernah menjabat sebagai Uskup Agung Semarang dan Uskup Militer Indonesia. Pengumuman dirinya sebagai Uskup Agung Semarang, dilakukan pada 21 April 1997 oleh Paus Yohanes Paulus II, sementara pentahbisannya dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 1997, di Gedung Olahraga Jatidiri, Semarang. Sebelumnya, beliau juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia. Semboyannya sebagai Uskup adalah “Serviens Domino Cum Omni Humilitate” yang artinya “Aku melayani Tuhan dengan segala rendah hati” (bdk. Kis.20:19) -Foto : www.kaj.or.id
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 55 LAMBANG USKUP AGUNG JAKARTA Mgr. IGNATIUS SUHARYO Gunungan Lambang semesta alam. Pohon Kehidupan. Bentuknya bagaikan gunung, lebar di basis, melancip ke atas melambangkan ajakan untuk mengangkat hati kepada Tuhan (dalam bahasa Latin: Sursum Corda). Gandum dan Anggur Lambang peristiwa atau perayaan Ekaristi, pusat religiositas Gereja. Lambang yang sama juga dapat menunjuk kepada jerih payah kerja kaum petani, golongan masyarakat yang pada zaman modern ini selalu dikalahkan. Dengan demikian lambang ini mau mengungkapkan sikap Gereja masa kini, “preferential option for the poor”. Tongkat Lambang tugas penggembalaan Uskup. Tongkat ini dibentuk mirip gabungan huruf Yunani X (=Chi) dan P (=Rho), yang berbunyi Kristus. Kristus telah menganugerahkan karya keselamatan dan adalah Sang Sabda. Gulungan Alkitab Lambang Kristus Sang Sabda. Gulungan Alkitab ini ada dalam penyinaran Cahaya Api Bintang Timur, yang menunjukkan jalan para arifin ke Bethlekem, dalam semangat “dengan segala kerendahan hati aku melayani Tuhan” (Kis. 20:19). Topi caping dengan tali gombyok bertingkat Lambang tugas hirarkis sebagai Uskup Agung yang diterima oleh Sri Paus. Caping atau topi model Jawa sering dipakai gembala dan petani Jawa. Maka, caping tersebut menjadi lambang penggembalaan. Di samping itu caping juga melindungi, maka juga menjadi lambang perlindungan Tuhan.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 56 Burung Merpati Lambang Allah Roh Kudus Sang Pembimbing, Penghibur yang merasuki dan mengarahkan kehidupan Gereja. Tanda dan gambar ini semua menandakan bahwa meskipun Uskup Agung itu adalah tanda kedudukan yang diberikan Sri Paus, namun demikian Uskup juga, harus dapat mengendalikan diri (gambar tali) dan mengikuti Tuhan yang selalu merasuki hidup kita dalam Roh Kudus. Serviens Domino cum omni Humilitate Acts. 20:19; gambar dan lambang tersebut dirumuskan dalam kata-kata “Aku melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati” (bdk. Kis. 20:19). Cita-cita yang diharapkan dapat menuntun dan memberi kekuatan dalam pelayanan penggembalaan. Kerendahan hati (dalam bahasa Latin humilis, turunan dari kata dasar humus yang berarti tanah yang amat subur) adalah keutamaan dasar di mana semua keutamaan lain dapat dan diharapkan tumbuh; sekaligus landasan yang memungkinkan terlaksananya tata penggembalaan yang mengikutsertakan dan mengembangkan. Melayani Tuhan: cakrawala iman ini menjadi landasan untuk memandang sesama sebagai saudara yang dicintai oleh Tuhan dan identitas pemimpin pastoral sebagai pelayan.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 57
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 58 RP. GREGORIUS SASAR HARAPAN, SVD Pastor Kepala Paroki Pademangan HADIAH ALLAH DALAM BEJANA TANAH LIAT Imamat bagiku adalah sebuah hadiah istimewa dari Allah. Ia serentak menjadi anugerah dan tanggung jawab. Pertama: Imamat sebagai sebuah anugerah. Ia harus terus disyukuri setiap saat dan dihidupi dengan sukacita. Itulah sebuah cara sederhana untuk merawat imamat agar terus bermakna. Ia merupakan sebuah pemberian istimewa dari Allah yang dihadiahkan khusus kepada hambaNya yang hina dina ini. Allah mau memakai kehina-dinaanku untuk menjadi sarana berkat bagi siapa saja yang dijumpai setiap hari. Imamatku, hadiah Allah dalam bejana tanah liat. Ia sebagai sebuah cara hidup dan pelayanan untuk semua. Kedua: Imamat sebagai sebuah tanggung jawab. Ia dianugerahkan Allah untuk dipertanggungjawabkan dalam kehidupan konkret, dari bangun tidur sampai pergi tidur lagi. Bentuk pertanggungjawaban yang diminta Allah dariku yaitu menghidupi imamat dengan senang hati dan secara terus menerus disyukuri. Imamat yang dianugerahkan Allah secara cumacuma ini juga harus dihidupi dalam semangat pemberian diri yang total untuk melayani Allah yang selalu hadir dalam diri sesama dan alam ciptaan-Nya. Allah sebagai pemilik imamat selalu menjelma dalam pengalaman dan peristiwa yang terjadi dalam seluruh perjalanan hidupku. Dalam menghidupi imamat, ada banyak sukacita yang dialami. Di samping itu, ada juga deraian air mata, ada tantangan dan kesulitan yang dilalui. Menghidupi imamat itu semacam dua sisi mata uang: ada sukaduka, sukses-gagal, diterima–ditolak. Itu kenyataan yang semestinya disyukuri dan terima apa adanya. Imamat adalah hadiah dalam bejana tanah liat. Perjuangan dan komitmenku yaitu setiap hari mensyukuri setiap perjumpaan, setiap pengalaman dan setiap tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan untuk melayani-Nya melalui karya nyata yang kujalani. Imamat yang saya terima dari Tuhan harus saya jalani dengan penuh syukur dan dalam kegembiraan. Saya percaya Tuhan memanggilku, mempunyai maksud indah dibaliknya. Maksud indah itu harus disingkapi setiap hari melalui karya dan pelayanan yang dipercayakan Tuhan
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 59 melalui Gereja-Nya atau juga melalui pimpinan tarekatku. Dalam kerapuhanku, saya sadari bahwa saya adalah instrumen yang Allah bentuk setiap hari agar menjadi sarana untuk mewartakan kebaikan-Nya. Imamatku adalah sebuah proses untuk selalu “menjadi”; menjadi lebih baik dari sebelumnya, menjadi seperti seorang anak kecil yang terus belajar. Di kala terjatuh harus bangun kembali, di kala tergelincir harus berdiri dan berjalan kembali, dan di kala tertidur harus berjaga kembali. Imamatku akhirnya menjadi sebuah pemberian diri kepada Allah dan sesama dengan seluruh kelebihan dan kekurangannya. Ini aku Tuhan, pakailah diriku dan bentuklah aku sesuai dengan rencana-Mu. RP. ANTONIUS DWI CAHYONO, SVD Pastor Rekan Paroki Pademangan Pandemi covid-19 telah mengubah banyak segi kehidupan. Umat Katolik banyak yang terkena dampak, tetapi dengan semangat solidaritas, Gereja Keuskupan Agung Jakarta bergerak, berjuang bersama menghadapi dampak dari pandemi. Berkat iman akan Tuhan yang Mahakuasa, pandemi covid-19 perlahanlahan bisa teratasi. Imam dipanggil dari umat, oleh umat dan untuk umat: Pandemi covid menyadarkan panggilan saya sebagai imam untuk tetap ada dan bersama-sama dengan umat menghadapi kesulitan hidup. Saya merasa terpanggil untuk bisa menjadi penghibur dan penguat sesama yang sedih dan duka karena kehilangan anggota keluarganya. Sebagai imam, saya juga terpanggil tidak hanya memberi pelayanan seputar altar tetapi juga membantu secara nyata dalam hal fisik dan psikologis. Panggilan Imam dan perubahan sosial Pandemi covid-19 mempercepat perubahan dalam tatanan sosial masyarakat. Peranan teknologi informasi di masa pandemi berubah dengan cepat. Sosial media membawa perubahan yang sangat signifikan dalam kehidupan. Situasi ini pada akhirnya menggeser nilai “kebenaran” yang hakiki. Dalam dunia medsos saat ini, bukan lagi kebenaran yang ditonjolkan, tetapi siapa yang bisa dan mampu meyakinkan orang lain (bahasa yang dikenal dalam filsafat adalah post-truth). Sosok imam bisa saja tidak dipandang dan didengar dalam mewartakan kebenaran ketika
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 60 imam tidak bisa meyakinkan dengan kata dan perbuatan. Panggilan Imam saat ini ditantang dengan arus zaman yang semakin kuat, maka kesatuan dengan Yesus Tuhan, sang pokok anggur sejati akan membantu imam untuk tetap bisa menghasilkan buah dalam menghadapi tantangan zaman. Kesadaran ini, mengingatkan saya untuk terus mendasarkan hidup, bersatu dengan Tuhan dalam doa-doa secara personal. RP. LEO SUGIYONO, MSC Pastor Kepala Paroki Pluit Saya ditahbiskan menjadi imam pada 21 Juli 2004 oleh Mgr. Sunarko, SJ di Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto. Saya bersyukur dan bahagia menjalani panggilan khusus ini, karena boleh diikutsertakan dalam karya Allah yang besar menyelamatkan dunia melalui Hati Kudus-Nya. Sebenarnya dari kecil saya tidak bercita-cita ingin menjadi imam, saya hanya ingin menjadi Guru Agama Katolik saja, menjadi Katekis seperti bapak saya. Tetapi Tuhan memanggil saya menjadi imam, dengan peristiwa yang sederhana namun unik. Selama 19 tahun menjadi imam, saya menjalani panggilan ini dengan gembira, bersemangat dan dalam keyakinan akan penyertaan Allah, walaupun terkadang terasa berat: tidak pantas dan tidak mampu, sehingga kadang merasa tidak selalu dalam semangat pelayanan yang tinggi menghadapi gerak-gerak dunia dalam segala dinamikanya. Misa Krisma, menjadi perayaan yang selalu saya rindukan, karena bersama dengan para imam yang lain, janji imamat diperbarui dan mendapat semangat, kekuatan yang baru untuk menempuh imamat yang suci. Janji setia kepada imamat pada Misa Krisma ini juga mengingatkan akan motto tahbisan, yang saya yakini dan alami dalam peristiwaperistiwa hidup sampai saat ini, yaitu: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk.1: 38). Sungguh nyata dan benarlah demikian, mengalami dalam perjuangan untuk menempuh hidup dalam penyelenggaraan Allah. Saya berharap, kiranya dengan pembaharuan janji imamat yang suci ini dan juga melalui doa-doa dan dukungan umat Allah, saya boleh memiliki semangat dan hati yang baru menunaikan tugas perutusan dalam spiritualitas Hati Kudus Yesus. Amin.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 61 RP. T. SISWANTO, MSC Pastor Rekan Paroki Pluit PENGHAYATAN IMAMAT PADA MASA PANDEMI Saya memulai tugas di paroki Pluit tanggal 1 Februari 2021 sesuai SK dari Bapa Uskup, dalam masa pandemi virus Covid-19 dan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) mulai diterapkan secara ketat. Sesuatu yang tidak mudah. Memulai tugas tetapi sekaligus dibatasi demi meredam penyebaran virus covid-19. Saya memulai dengan mengenal keluarga pastoran, mengenal paroki lewat cerita keluarga pastoran, membaca literatur sejauh ada dan mengikuti pertemuanpertemuan DPP atau kelompok kategorial secara online. Pertemuan langsung dan kunjungan umat atau lingkungan tidak dimungkinkan saat itu. Apa lagi situasi yang mencekam dengan banyaknya orang yang terinfeksi virus dan bahkan meninggal dunia. Walaupun dalam keterbatasan dan tidak ada aktivitas gerejawi, saya mencoba menjalani hidup secara normal dalam keluarga pastoran. Mengawali hari dengan doa dan ekaristi, yang juga ditayangkan secara online sehingga umat bisa mengikutinya. Makan minum secara normal, dalam arti sehari tiga kali bertemu di meja makan. Yang tidak normal adalah tempat duduk berjarak, ketika tidak makan atau minum setiap orang bermasker. Pelayanan terhadap umat, khususnya sakramen atau doa untuk orang sakit, pemberkatan jenazah atau peringatan orang meninggal dilangsungkan secara online. Segala aktivitas saya hanya di dalam pastoran. Saya mencoba biasa dengan situasi yang demikian walaupun aneh. Karena keadaan yang mengharuskan demikian. Dalam keterbatasan kita tetap bisa memberikan pelayanan kepada umat yang membutuhkan. Keadaan ini menuntut saya juga untuk belajar bagaimana menggunakan media elektronik untuk pelayanan. Rahmat tahbisan yang kuterima sebagai imam bukan untuk saya pribadi, melainkan untuk umat dimana saya diutus. Walaupun dalam keterbatasan selama masa pandemi, saya berusaha untuk memberikan pelayanan kepada umat semaksimal mungkin. Apalagi dalam keadaan yang semakin baik, PPKM dicabut, pelayanan bukan hanya sacramental tetapi juga pastoral. Kegiatan gerejawi semakin banyak dan dilaksanakan secara tatap muka membutuhkan perhatian dan alokasi waktu tersendiri. Dengan
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 62 sendirinya ini membuat saya semakin sibuk dengan aktivitas bukan hanya di dalam pastoran, tetapi bersama umat di gereja, Gedung pastoral atau tempat lain. Di sini saya menghayati tahbisan saya sebagai rahmat yang kuterima dan dibagikan. Motto tahbisan ”Tuhanlah kekuatan dan sumber penyelamatanku. Dialah Allahku, Dia hendak kupuji selamanya’ (Kel. 15:2), menjadi semangat saya dalam menjalankan tugas perutusan. Ada rupa-rupa tugas dan tempat pelayanan yang telah kuterima selama ini, semuanya kujalani dengan gembira atau saya berusaha untuk enjoy dengan siapa dan dimana saya bekerja. Walau tidak semua tugas dan tempat pelayanan itu mudah dan menyenangkan, saya berusaha setia. Puji Tuhan, dari waktu ke waktu, peristiwa ke peristiwa, daerah satu ke daerah lain, saya dimampukan untuk setia dan menjalani semuanya. Seperti sekarang di paroki Pluit, saya bekerja dengan gembira bersama teman imam dalam paroki, dalam kesatuan dengan para imam di Dekenat Utara dan Keuskupan Agung Jakarta, juga dalam kebersamaan dengan Dewan Pastoral Paroki. Motto tahbisan inilah yang menguatkan saya dalam menghayati imamat dalam tugas perutusan dan berharap memberikan buah melimpah yang bisa dinikmati oleh semakin banyak orang. RD. KRISTOFORUS LUCKY NIKASIUS Pastor Kepala Paroki Pantai Indah Kapuk PANGGILAN KU BERAWAL DARI DALAM KULKAS Ada satu nyanyian anak sekolah Minggu yang saya yakin kita semua tahu. Lagu itu berjudul “Dengar Dia panggil nama saya”. Pesan dalam nyanyian ini sangat dahsyat. Bahwa panggilan itu menuntut jawaban “YA”. Dan yang dipanggil bukan hanya saya tetapi kita semua dipanggil untuk menjawab “YES-NGGIH-YA” untuk melaksanakan kehendakNya. Jawaban “YA” pada panggilan Tuhan berbuah pada pengalaman sukacita seperti lirik dalam nyanyian itu yang mengatakan, “Oh… giranglah (Halleluya), Oh… giranglah (Puji Tuhan), Yesus amat cinta pada saya, Oh… giranglah”.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 63 Awal kisah panggilan saya bermula ketika saya berusia 4-5 tahun. Di rumah saya suka main “misa-misa’an”. Foto ini berbicara tentang masa kecil itu. Saya pun tersenyum melihat foto ini kembali. Ketika saya berkarya di tanah misi Papua, saya diberi nama adat oleh umat disana “KIHAIGAIBI” yang berarti yang selalu tersenyum; dan sungguh tidak salah karena dari kecil memang sudah seperti itu. Saat kelas IV SD dan setelah menerima komuni pertama, saya aktif melayani di Gereja St. Paskalis, Cempaka Putih, sebagai Putra Altar. Suatu sore, saat saya hendak latihan misdinar untuk misa hari raya Gereja, ada sosok imam yang hangat dan kebapaan. Beliau menghampiri dan mengajak saya ke pastoran. Romo itu bernama Michael Angkur, OFM (kini Uskup emeritus keuskupan Bogor). Dengan penuh kehangatan beliau bertanya, “Nak, apakah kamu sudah makan?” Dengan ragu-ragu saya menjawab, “Saya sudah makan romo”, walau sesungguhnya saya lapar dan belum makan. Rm. Michael Angkur mempersilahkan saya untuk membuka kulkas pastoran dan meminta saya untuk mengambil buah-buahan yang saya mau. Saya mengambil satu buah; yang baru saya tahu namanya kemudian yakni buah pear. Maklum buah yang ada di rumah saat itu selalu pisang saja. Sambil makan buah pear, saya berkata dalam hati, “Ketika besar nanti aku ingin jadi imam”. Gambaran sosok imam yang ngayomi, berbelas kasih dan hangat sungguh terpatri dalam benak saya. Namun ketika SMP, pergi ke Gereja adalah hal yang membosankan apalagi pastor yang saya kagumi sudah dipindah tugas. Saya lebih senang ke Kemayoran, nonton balapan motor liar, ikut geng motor dan kebut-kebutan di jalanan. Ketika Mei 1998, Saya mengalami kecelakaan maut hingga hampir merenggut nyawa. Kecelakaan itu mengubah hidup saya. Inilah kesempatan kedua yang
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 64 Tuhan beri. Saya memutuskan untuk masuk seminari tanpa sepengetahuan orang tua, dan mengikuti tes seminari dengan izin pergi naik gunung. Setelah saya diterima di seminari, orangtua saya kaget dan heran. “Anak nakal kok masuk seminari, pribadi klotokan macam gini kok mau jadi romo”, mungkin itu yang ada di benak orangtua saya. Namun tiada yang mustahil bagi Allah. Pribadi yang penuh dengan cacat cela ini, dimurnikan, dikaruniakan dengan anugerah imamat pada 8 Agustus 2014. Ayat emas ini senantiasa saya pegang dalam menjalani panggilan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” Flp. 4: 6. Berawal dari isi kulkas dan satu buah pear, hidup ini saya persembahkan bagi Tuhan. RP. ALOYSIUS CAHYO KRISTIANTO, CM Pastor Kepala Paroki Cilincing ANTARA CINTA DAN TANGGUNGJAWAB (Yohanes 21:15) Awal-awal merebaknya Pandemi Covid-19 begitu mencemaskan. Minimnya informasi tentang virus Corona menambah kekuatiran banyak keluarga karena ancaman kematian bagi mereka yang terpapar virus ini. Hal itu belum lagi ditambah dengan banyaknya berita tentang semakin banyaknya orang yang terpapar. Kematian demi kematian karena virus Covid 19 menjadi headline di media-media informasi. Suasana memang begitu mencemaskan dan mengkhawatirkan. Di tengah suasana seperti itu, tiba-tiba saya mendapatkan kabar bahwa salah satu bapak pengurus lingkungan meninggal karena terpapar virus Covid-19. Keluarga ini tentu sangat terpukul. Rekreasi keluarga yang seharusnya menjadi saat-saat yang membahagiakan berubah menjadi suasana duka. Bapak ini terpapar virus Covid-19 ketika sedang rekreasi ke kota Batu, Malang bersama keluarganya. Penyakit jantung yang diderita oleh bapak tersebut semakin mematikan karena paparan virus tersebut. Informasi tersebut saya dapatkan dari seorang pengurus lingkungan yang juga menjadi satgas RT/RW setempat. Dia menanyakan
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 65 apakah memungkinkan diberikan pelayanan kematian untuk pengurus lingkungan yang meninggal tersebut. Kekuatiran dan kecemasan tentu ada dalam diri saya. Bagaimana mungkin saya melayani dalam situasi yang semacam ini. Hal ini akan menempatkan saya dalam bahaya terpapar virus juga. Namun terlintas dalam benak saya bagaimana kedukaan dari istri dan anak-anak yang ditinggalkan. Bapak ini masih berusia sekitar 47 tahun. Anak-anak mereka masih sangat muda. Keluarga ini bukan saja berduka karena ditinggalkan oleh orang yang sangat mereka cintai. Namun ada hal lain yang tentu akan menambah kepedihan hati mereka : dimakamkan tanpa kehadiran sesama umat, tanpa dihantar oleh doa-doa dan berkat gereja, dimakamkan dengan seadanya dan sungguh sangat tidak manusiawi. Dalam situasi semacam itu tiba-tiba saya teringat ketika Yesus bertanya kepada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Cinta menuntut sebuah tanggungjawab “Gembalakanlah domba-domba-Ku. Kata-kata Yesus begitu menggema dan membuka mata saya. Saat ini “domba-domba Yesus” sedang berduka dan menantikan kedatangan gembalanya untuk membawa doa-doa Gereja bagi mereka. Dengan tekad bulat, saya menelpon pengurus lingkungan tersebut dan mengatakan bahwa saya sendiri yang akan melayani keluarga tersebut. Dia mengatakan bahwa dia siap membantu, menemani dan mempersiapkan apa-apa yang diperlukan untuk pemberkatan jenazah dan pemakaman bapak itu. Saya segera mempersiapkan peralatan yang diperlukan pemakaman seseorang yang terpapar Covid sehingga sesuai dengan protokol kesehatan yang ditentukan : Pakaian APD, Sepatu Boot, sarung tangan karet, masker, faceshield, Hand Sanitizer serta peralatan liturgi yang diperlukan untuk upacara kematian. Sesampai di pemakaman, tidak terasa air mata saya menetes melihat deretan-deretan makam dari orang yang meninggal karena Covid-19. Sejenak saya menyempatkan waktu berjalan di antara makam-makam itu sambil menunggu kedatangan ambulan jenazah dari Rumah Sakit Mitra Keluarga. Tidak hentinya Salam Maria saya ucapkan untuk mendoakan orang-orang tersebut.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 66 Pada saat ambulan datang bersama sebuah mobil yang mengangkut istri dan seorang anak mereka, saya datang menghampiri mereka. Air mata mereka tumpah ketika tahu bahwa saya datang bersama salah satu teman lingkungan mereka. Betapa sorot mata ibu itu memperlihatkan duka yang mendalam seperti tiada harapan. Betapa mendatangkan rahmat bagi mereka, kehadiran gembala mereka dan seorang sahabat mereka. Syukur kepada Tuhan, bapak tersebut dimakamkan dengan upacara kematian Katolik. “Cinta membawa sebuah tanggungjawab” adalah tindakan Kristus sendiri yang membawa Cinta Allah kepada manusia dengan sengsara dan kematiannya di salib. Kristus sudah mempercayakan domba-domba-Nya bagi kita para Imam. Menjadi seorang imam bagi Kristus pertama-tama menghadirkan Cinta Kristus itu bagi domba-domba-Nya. Domba-domba Kristus beraneka ragam : watak, kepribadian suku, bangsa, bahasa, tetapi cinta Kristus tetap satu dan sama bagi mereka. Dan Cinta itu tetap harus hadir sepanjang segala masa. RP. MARTINUS RENDA, CM Pastor Rekan Paroki Cilincing CINTA PERTAMA DI SALIB SUCI Satu Minggu sebelum menerima tahbisan imamat, Visitator Kongregasi Misi (Provinsial CM) meminta kesediaan saya menjadi pastor rekan di paroki Salib Suci sekaligus sebagai perutusan pertama. Saya tidak membayangkan bahwa saya akan diutus di KAJ. Bermodalkan kaul ketaatan, saya menyediakan diri dan selalu siap sedia diutus dimana CM dan Gereja menghendaki. Sempat terlintas dalam pikiran mengenai karya misi di daerah pedalaman dan berkeingin untuk ikut ambil bagian di dalamnya. Namun, saya merenungkan bahwa ini adalah penyelenggaraan dan cinta Allah kepada panggilan imamatku. Layaknya orang jatuh cinta, paroki Salib Suci merupakan cinta pertamaku pada perutusan pertama ini sebagai imam Vinsensian. Dalam arti cinta pertama saya masih dalam tahap,”see” sebelum masuk pada judge and act”. Artinya bahwa seraya melayani sakramen dan pelayanan pastoral lainnya saya terlebih dahulu mengamati situasi dan latar belakang umat
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 67 Allah yang saya layani sehingga lebih mampu mengenal kebutuhan mendalam umat. Pengenalan dimulai dari hal kecil seperti “mengenal nama”. Mengenal nama bagi saya adalah penting karena menunjukkan sapaan personal. Saya mencoba mengenal nama umat satu persatu meskipun sampai saat ini masih mengalami kesulitan. Perjumpaan melalui kunjungan adalah salah satu upaya yang saya lakukan untuk semakin mengenal dan mencintai umat Allah. Kunjungan pastoral ini selalu saya lakukan dengan mendadak. Tujuannya adalah agar umat tidak direpotkan dengan hal-hal (misalnya konsumsi) yang terkadang menjadi penghalang karena tidak semua umat memiliki kesiapan menjamu para pastornya. Terpujilah Tuhan bahwa saya melakukan ini dengan baik istimewanya bagi mereka yang sungguh merindukan sapaan, yang sakit, yang prasejahtera dll. Saya terus-menerus melanjutkan perjumpaan ini meskipun tidak jarang mengalami kesulitan karena pelayanan sakramen yang tidak bisa ditinggalkan. Namun saya selalu menyediakan diri untuk mengunjungi, menyapa dan memberikan sakramen kepada mereka yang lanjut usia dsb. Dalam kurun waktu lima bulan ini saya menemukan sebuah keterkejutan yang paling menonjol yakni begitu banyak perkawinan campur (beda agama atau beda gereja) yang saya layani. Ini merupakan sebuah tantangan sekaligus peluang bagi saya sebagai imam muda untuk berpastoral keluarga. Tantangannya sebagai dugaan awal bahwa semakin banyaknya perkawinan campur menimbulkan kegelisahan dalam hati mengenai keberlanjutan dan pendidikan iman Katolik keluarga tersebut. Disamping itu perkawinan campur merupakan peluang mewartakan kesaksian hidup orang Katolik. Karenanya keluarga-keluarga tersebut perlu dibekali dan ditumbuhkan imannya dalam membangun keluarga sampai pada kedewasaan iman. Pengalaman lain bagian dari cinta pertama saya adalah mengadakan pendekatan dengan kaum muda. Tentu tidak muda mendekati mereka dengan berbagai perbedaan latar belakang pendidikan, ekonomi, pekerjaan dan budaya. Langkah kecil yang saya terapkan yaitu dengan melibatkan diri dalam kegiatan kaum muda seperti olahraga. Hal ini memberikan cakrawala untuk menemukan cara tepat mendampingi kaum muda agar mereka tidak kehilangan orientasi iman di tengah berbagai godaan duniawi yang tampaknya lebih menjanjikan dan menarik. Dalam
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 68 pendekatan itu saya menemukan aneka potensi kaum muda yang akan berdaya guna bagi mereka sendiri, Gereja dan masyarakat. Karenanya diperlukan dukungan tidak hanya dari Gereja atau para imam tetapi juga orang tua. Akhirnya sebagai sebuah refleksi pribadi saya mau mengungkapkan sebuah pengalaman yang sekiranya juga bermakna bagi siapa saja yang mau melayani Tuhan. Orang boleh jatuh cinta. Orang boleh bermimpi tetapi tidak pernah boleh memaksakan cinta, mimpi maupun kehendaknya. Orang boleh saja bermimpi untuk melakukan apapun tetapi hendaknya menyadari bahwa tidak semuanya berada dibawah kendali manusia. Demikianlah pengalaman konkret saya sebagai imam muda yang imamat baru seumuran jagung. Maklum saja sebagai imam muda Vinsensian memiliki cinta, mimpi dan kehendak kuat untuk menjadi misionaris di daerah pedalaman. Cinta, mimpi dan kehendak itu sepertinya “tidak berbalas”. Namun teringat akan motto panggilanku,”Ya Tuhan, Aku datang melakukan kehendak-Mu (Ibr 10:7). Karenanya saya siap sedia melakukan kehendak Tuhan dan dengan cinta melayani umatNya di paroki Salib Suci. Salam Vinsensian dan doa, RP. MARSELINUS SALEM DAMANIK, OFM Conventual Pastor Kepala Paroki Sunter DIPANGGIL UNTUK MEWARTAKAN, MELAYANI DAN MENGUDUSKAN. Melayani Tuhan adalah suatu panggilan yang mulia. Tuhan memanggil setiap orang dengan segala keterbatasannya, diutus menjadi mitra kerjaNya. Tuhan melengkapi ketidaksempurnaan itu dengan kuasa Roh Kudus sehingga yang dipanggil dimampukan melaksanakan tugas pelayanan dan perutusanNya. Dipanggil untuk melayani umat sebagai seorang Imam adalah anugerah dan penghormatan bagi diri saya. Panggilan ini memberikan permenungan “Siapakah aku, sehingga Tuhan mempercayakan tugas yang mulia ini?”. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Keuskupan Agung Jakarta dan Ordo Saudara Dina Konventual (OFMConv), yang memberi saya
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 69 kesempatan untuk melayani umat di Paroki Sunter, Gereja Santo Lukas Jakarta. Penugasan saya di Paroki Sunter sudah berjalan kurang lebih lima tahun. Sebagai seorang Imam Fransiskan Konventual, yang memiliki ciri hidup semangat spiritual Santo Fransiskus Asisi, yakni hidup dalam kemiskinan, kesederhanaan, kedamaian, kerukunan, kegembiraan dan semangat misioner, serta moto Fransiskan “Pax et Bonum (Damai dan Kebaikan)”, yang tertanam dalam diri saya tersebut tentunya berpengaruh dalam menjalankan tugas dan pelayanan di Paroki Sunter terutama dalam pengelolaan reksa pastoral, yang saya selaraskan dengan semboyan KAJ, menjadi “Gembala Baik dan Murah Hati”. Paroki Sunter akan merayakan hari ulang tahun ke 34 pada 20 Agustus 2023. Dilihat dari sejarah berdirinya Paroki Sunter dari tahun 1989 sampai saat ini, perkembangan dan pertumbuhan iman umat sungguh menggembirakan. Salah satu hasil penggembalaan, yang patut disyukuri, dibanggakan dan diapresiasi adalah bahwa Paroki Sunter telah dimampukan berhasil “membidani” kelahiran Paroki Danau Sunter pada tanggal 31 Januari 2003. Berdasarkan data bulan Febuari 2023, Paroki Sunter yang saat ini terbagi dalam 18 wilayah dan 66 lingkungan, memiliki jumlah umat sekitar 10.552 orang (3.393 KK), yang dilayani oleh tiga orang Imam dari Ordo Saudara Dina Konventual. Secara administratif, umat Paroki Sunter berdomisili di klusterkluster/kompleks-kompleks perumahan, apartemen-apartemen dan juga di area yang sangat membaur dengan masyarakat sekitar. Bangunan Gereja Santo Lukas sendiri berdiri di tengah-tengah area pemukiman padat penduduk dimana masyarakat sekitar gereja adalah mayoritas beragama Islam. Karena itu sejak berdirinya Paroki Sunter sampai sekarang ini, salah satu fokus perhatian paroki adalah terhadap warga masyarakat sekitar gereja, dimana hubungan antar agama menjadi salah satu hal penting, toleransi harus terjaga dengan baik dan empati antara umat dan warga sekitar gereja harus dibangun terus menerus. Paroki Sunter berusaha berbaur dengan denyut nadi kehidupan masyarakat sekitarnya. Hal ini diwujudkan dengan keterbukaan pemakaian lapangan parkir untuk acara kemasyarakatan dan keagamaan. Demikian juga Aula Santo Hendrikus yang salah satu peruntukannya adalah untuk kegiatan sosial warga. Poliklinik umum dan gigi yang dikelola oleh umat-umat
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 70 berprofesi dokter dan tenaga medis sukarela juga melayani kesehatan masyarakat umum dan lansia di sekitar gereja. Berdasarkan ekonomi, umat Paroki Sunter terbagi menjadi tiga kelompok yakni kelompok ekonomi menengah ke bawah, kelompok ekonomi menengah dan kelompok ekonomi menengah ke atas. Hal ini merupakan anugerah karena ada keseimbangan antara umat yang menjadi saluran berkat dan ada yang menjadi penerima berkat. Berdasarkan sosial budaya, umat Paroki Sunter berada dalam kondisi heterogen, dengan bermacam etnis/suku yang berpengaruh pada variasi budaya dan pendidikan. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa umat di Paroki Sunter sangat majemuk dalam keberagamannya sehingga kemajemukan ini dapat menjadi tantangan dalam hidup menggereja. Di Paroki Sunter, selama 34 tahun berkarya, Imam-imam OFMConv berhasil menanamkan pemikiran positif melalui teladan mengedepankan ajaran cinta kasih, bahwa keberagaman dan perbedaan bukanlah penghalang untuk tetap bersatu dalam hidup menggereja, justru dapat menjadi suatu kekayaan apabila semua itu dimaknai dan dikelola dengan semangat persaudaraan, kedamaian dan kerukunan. Sebagai Paroki yang akan memasuki usia 34 tahun, banyak tugas pelayanan, pewartaan dan pengudusan yang sudah dilakukan. Namun disadari bahwa pandemi wabah Covid-19 menyebabkan banyak hal yang tertunda, berjalan di tempat bahkan berjalan mundur. Menyadari hal ini, saya sebagai Pastor Kepala Paroki, bersama Imam-imam sekomunitas dan para awam yang tergabung dalam Dewan Paroki Harian, terus berusaha menyemangati dan meyakinkan seluruh umat, agar umat mulai berani berkumpul, kembali datang ke gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi, ataupun Penerimaan Sakramen lainnya, sehingga iman mereka tetap terjaga dan terus bertumbuh. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengadakan kunjungan DPH ke wilayah dan lingkungan. Selain bertujuan menyemangati umat, kunjungan ini juga mengemban misi pertemuan antara pengurus paroki dan pengurus wilayah/lingkungan, saling mendengarkan, berdialog/berdiskusi dan mencari solusi apabila ada tantangan yang dihadapi mereka dalam menjalankan tugas pelayanan, sehingga diharapkan tugas pelayanan, pewartaan dan pengudusan dapat berjalan dengan lebih baik lagi ke depannya.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 71 Dengan demikian, Karya Pengudusan yang dilaksanakan Gereja (Imam bersama umat) melalui kegiatan liturgis, perayaan sakramen, doa dan peribadatan, serta Karya Penggembalaan, yang diupayakan Gereja bersama wilayah, lingkungan, kategorial dan organisasi-organisasi, baik yang bersifat sosial maupun gerejani, dapat dilaksanakan secara berkesinambungan. Di samping itu, karya pastoral Paroki Sunter juga secara khusus mencurahkan perhatian pada pelaksanaan Karya Pelayanan melalui kegiatan sosial, kemanusiaan dan amal kasih, yang secara khusus melakukan keberpihakan kepada mereka yang Kecil, Lemah, Miskin, Terpinggirkan dan Difabel (KLMTD). Terkait issue Lingkungan Hidup, Paroki Sunter masih berusaha setahap demi setahap mengatasi tantangan kekurangan SDM/umat yang handal di bidang ini. Akan tetapi, dengan keterbatasan yang ada, segala aktivitas yang menunjukkan bentuk pertanggungjawaban moral dan upaya rekonsiliasi dengan alam/lingkungan hidup, sangat mendapat dukungan penuh di Paroki Sunter. Inspirasi Santo Fransiskus Asisi mengenai pentingnya memberikan hormat, pengakuan dan kasih terhadap alam, mempengaruhi cara hidup dan penggembalaan para Imam Fransikan di tengah fenomena krisis ekologi. Sejalan dengan ajaran Bapa Paus Fransiskus, “Laudato Si”, memelihara bumi sebagai rumah kita bersama, cukup banyak “aktivitas hijau’ yang diadakan, seperti peremajaan rutin taman, kebun, tanaman palma, pengurangan aktivitas yang menghasilkan sampah plastik, pemakaian air, pengadaan pengumpulan minyak jelantah, pendayagunaan tanaman herbal Indonesia, hingga pengadaan workshop/seminar terkait Lingkungan Hidup yang dapat mendukung umat dalam UMKM seperti pembuatan eco enzyme, hidroponik dan aquaponik. Bahkan selama masa pandemi sampai saat ini, para Imam bersama beberapa umat yang membantu, mewujudkan kebun hidroponik di lahan terbatas, yang rutin menghasilkan sayur mayur bebas pestisida yang dapat dinikmati oleh umat. Saya menjalankan pelayanan bagi umat di Paroki Sunter dengan penuh sukacita. Dalam setiap tugas dan perutusan, saya selalu menyadari bahwa dalam menjadi seorang imam saya harus rendah hati, jujur, setia, berkomitmen, perhatian dan selalu siap membantu dan melayani semua
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 72 orang. Saya melihat kebaikan Tuhan, mendengarkan Tuhan dan memaknai kehadiran-Nya dalam semua pelayanan yang saya lakukan. Sesuai dengan inspirasi dari Bapa Paus Fransiskus, bahwa “Pelayanan penuh sukacita itu meneguhkan citra Gereja sebagai pewarta Kabar Gembira, Gereja menjadi tempat belas kasih dan harapan, dimana setiap orang diterima, dicintai dan diampuni.” Tuhan kita Yesus Kristus telah memberikan teladan kasih kepada umat-Nya, tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabatsahabatnya. Anugerah terbaik dan terindah dalam hidup saya adalah saya dipanggil dan dipercaya Tuhan Yesus untuk menjadi gembala-Nya melalui penerimaan Sakramen Imamat. Melayani Tuhan yang saya lakukan dengan penuh kagum dan hormat, Tuhan telah memberikan kuasa-Nya, Allah Bapa senantiasa memampukan dan menyertai saya. Oleh karena itu, dengan penuh rasa syukur, saya kembali memperbaharui Janji Imamat saya di hadapan Bapak Uskup dan umat. Selamat kepada semua Imam dalam Pembaharuan Janji Imamat. Semoga semakin hari kita semakin meneladani dan menyerupai Tuhan kita Yesus Kristus, agar kita senantiasa dapat menjadi salah satu kekuatan rohani Gereja, yakni kesetiaan dan pelayanan para gembala. RP. JUSTIANUS BAYU APRIANTO, OFM Conventual Pastor Rekan Paroki Sunter JATUH DAN BANGKIT KEMBALI Pandemi dan Covid, dua kata yang masih terngiang hingga saat ini. Situasi yang membuat dunia menjadi terbatas, bahkan ada yang sepertinya terhenti, tidak berjalan sama sekali dan menimbulkan keadaan yang kacau atau mengenaskan. Penderitaan umat manusia bertambah, berita duka lebih merajalela ketimbang harapan. Putus asa menjadi bagian hidup manusia sekurangnya selama masa pandemi ini. Sepertinya kejatuhan manusia sudah di depan mata. Kejatuhan yang membuat mata setiap orang menatap dengan sayu. Akibat covid, orang-orang yang kita sayangi begitu cepat menghadap Tuhan: keluarga, tetangga, tak terluput juga para pelayan Tuhan atau pengurus Gereja. Belum lagi ekonomi yang terpuruk karena pandemi dan covid. Harga barang melonjak, segala sesuatu menjadi mahal. Bahkan oksigen yang gratis dari Tuhan pun
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 73 seolah tak terbeli. Hidup manusia ditentukan oleh cara bertahan yang kokoh. Kesehatan fisik menjadi utama. Kesehatan psikis, mental, jiwa, juga spiritual pun menghadapi tantangan. Setiap orang berjuang untuk bisa hidup. Hidup manusia jatuh oleh karena virus, makhluk sangat kecil yang mematikan. Covid, momok yang menakutkan membuat orang menjadi takut, stress, terkekang, malu karena dikira penyakit amoral-aib, menjatuhkan semangat orang. Manusia menjadi berjuang. Gereja juga harus berjuang keras untuk keteguhan iman dalam menjalani masa ini. Doa dan pelayanan menjadi terbatas. Protokol kesehatan begitu ketat. Sekian banyak saya bertemu dengan umat beriman, kontak dekat dengan orang yang terpapar covid, sekian waktu pula harus menjalani masa karantina hingga akhirnya harus merasakan terkena Covid. Pernah aku menerima kabar seorang umat terkena covid bersama anaknya. Mereka di rawat di rumah sakit. Dalam perawatan itu terdengar kabar bahwa suaminya atau ayah anaknya terkena Covid dan wafat. Sangat sedih karena mereka tidak bisa berada dalam pemakaman karena covid dan protokol kesehatan serta situasi dan kondisi yang tidak mendukung. Ini adalah situasi sangat menyedihkan. Banyak yang terhambat dan pekerjaan menjadi mandek. Banyak juga urusan perusahaan yang harus diselesaikan. Mereka merasa sudah jatuh tertimpa tangga, berada dalam titik terendah hidup. Akhirnya aku berani menghubungi mereka dan berbicara by phone karena tak dapat bertemu langsung, hanya bisa menghibur dan menyemangati. Begitu banyak anggota keluarga dan sahabat-sahabat juga mendukung mereka agar bisa bangkit dari situasi ini. Pelan pelan mereka kembali mulai menata usaha yang dirintis dan kini kembali berkembang. Mereka yakin bahwa semua ada hikmahnya dan Tuhan tetap memberkati mereka. Aku teringat akan Mazmur Daud: ”Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya: apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.” (Mzm 37:23-24) Aku memiliki pengalaman ketakutan ketika menghadapi pandemik ini. Komorbid yang ada dalam diriku, darah tinggi, vertigo, membuat semakin takut juga dalam pelayanan dan inilah kejatuhanku sehingga pelayan yang aku berikan serasa tidak maksimal. Apalagi Ketika diminta untuk melayani sakramen perminyakan di rumah sakit. Awalnya aku
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 74 merasa berat, setiap saat harus antigen atau PCR. Namun akhirnya kini aku tak ambil peduli lagi untuk pelayanan di rumah sakit sekalipun harus antigen dan PCR yang berarti harus ditusuk-tusuk hidung dan resiko result positif tes tersebut meskipun tidak mempunyai gejala. Hanya satu yang aku tanamkan, aku harus berani demi pelayanan apapun keadaannya. Kini istilah pandemi dan covid tetap ada tetapi harapan akan keadaan yang lebih baik jauh lebih kuat. Keterpurukan itu disembuhkan dengan usaha penyembuhan baik dari pihak pemerintah maupun Gereja. Kerjasama tenaga medis, aparat negara, sipil dan militer, dewan paroki, keuskupan membuahkan hasil yang sangat baik. Pulih lebih cepat bangkit lebih kuat demikian yang diserukan oleh pemerintah. Pengalaman ini membuat sebuah permenungan mendalam akan tugas pelayanan imamatku. Banyak belajar dari situasi sulit dan mencekam dengan berani bertugas untuk kemuliaan Tuhan. Karena aku yakin akan perkataan yang dilontarkan oleh rasul Paulus : ”siapakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus?” (Roma 8:35)*** RP. MAKSINIMUS NEPSA OFM Conventual Pastor Rekan Paroki Sunter PERTOLONGANMU Panggilan selalu mengandaikan kesadaran bahwa HIDUP adalah sebuah rahmat. Kalau hidup itu adalah rahmat, maka apapun yang baik, yang kita jalani dan lakukan adalah sebuah perutusan. Maka, setiap orang dipanggil untuk melakukan perutusan itu. Hidup kita, status kita adalah sebuah panggilan dan perutusan. Entah sebagai pastor, atau sebagai umat, entah sebagai guru maupun pengusaha atau sebagai orang kaya dan orang miskin, kita semua dipanggil dan diutus oleh Tuhan terus menerus, dari waktu ke waktu dalam hidup kita. Saya, Maksinimus Nepsa adalah seorang imam dalam gereja Katolik, seorang imam yang lahir dari rahim terekat/ordo saudara dina Konventual. Melihat diri sendiri dan mengatakan bahwa saya adalah seorang imam, tentu adalah sebuah kebanggaan dan kegembiraan yang besar. Menjadi kebanggaan dan kegembiraan karena saya yang adalah seorang anak
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 75 biasa, punya keterbatasan intelektual, lahir dari keluarga sederhana, punya keterbatasan ekonomi dan lain-lain bisa menjadi seorang imam. Kebanggaan dan kegembiraan ini tentu dialami juga oleh orang tua dan keluarga. Tidak ketinggalan juga dialami oleh umat beriman termasuk umat paroki Sunter, Santo Lukas ini, dan semua umat yang dengan caranya ikut mendukung. Tentu, sebelum sampai pada titik ini, sebelum mengalami dan merasakan kebanggaan serta kegembiraan besar ini, harus melewati jalan-jalan berkerikil, lorong-lorong gelap, hambatan-hambatan yang mengganggu dan mengalihkan fokus, tatapi bersyukur, itu semua tidak membuat menyerah dan kalah. Kadang kala ingin menyerah, kadang-kadang mau berhenti dan melewati jalan lain tetapi rahmat Tuhan membantu untuk terus berjalan. Maka, dengan rasa haru, saya ingin menyampaikan pujian kepada Allah Yang Mahakuasa dan Mahabaik, Bapa, Putera dan Roh Kudus, yang membuat segala sesuatu menjadi baik. Selain pujian ini, juga mengucap syukur atas segala kebaikan-Nya, yang bisa saya alami, terlebih pertolongan-Nya dalam menjawab panggilan ini. Pertolongan yang sama juga masih didamba dan diharapkan dalam langkah-langkah selanjutnya. Tuhan itu kuat dan manusia itu lemah. Mengakui kekuatan Tuhan dan menyadari kelemahan sebagai manusia memunculkan langkah-langkah baru, semangat-semangat baru untuk terus berjalan dalam memberikan jawaban atas panggilan Allah yang penuh misteri. Mengakui kekuatan Tuhan dan menyadari kelemahan sendiri mengubah ego saya untuk mengandalkan diri sendiri, menjadi lebih mengandalkan Tuhan. Itu yang menjadi kekuatan yang tak kelihatan tapi nyata. Menjadi imam-Nya bukan berarti panggilan itu sudah sukses dan selesai, bukan juga sebuah kepuasan karena menggapai cita-cita. Panggilan Tuhan masih terus berlanjut untuk menghasilkan buah-buah kehidupan yang mengalir dari rahmat Allah untuk kemuliaan Allah dan perkembangan iman, harapan dan kasih umat akan Allah yang hidup. Menjadi imam berarti meniru Sang Guru Agung yaitu Yesus Kristus yang rela datang ke dunia menjadi pengantara rahmat yang menguduskan dan menyelamatkan. Menjadi imam berarti menjadi alat-Nya untuk menguduskan umat-Nya.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 76 Sebagai sebuah panggilan, panggilan imamat adalah suatu tugas yang sangat penting dalam kehidupan Gereja. Seorang imam dipanggil untuk menjadi pelayan umat, membimbing mereka dalam kehidupan rohani, merayakan sakramen-sakramen, dan menjadi teladan dalam hidup yang kudus. Saya percaya bahwa panggilan imamat adalah panggilan yang mulia dan suci, karena seorang imam tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tetapi juga atas keselamatan jiwa umat yang dipercayakan kepadanya. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, namun seorang imam harus selalu siap untuk memberikan dirinya sepenuhnya bagi umat dan mengikuti kehendak Tuhan. Selain itu, panggilan imamat juga membutuhkan dedikasi dan konsistensi yang tinggi, karena seorang imam harus mempersembahkan hidupnya bagi gereja dan melayani umat dengan penuh kasih dan kesetiaan. Setiap langkah dan tindakan seorang imam harus selalu didasarkan pada iman dan kesucian hati. Semoga rahmat Tuhan terus berkarya dalam hati imam-imam-Nya untuk tetap setia, lewat doa-doa umat beriman, dan berkarya juga dalam hati orang-orang muda, sehingga pada saatnya siap untuk dipanggil dan diutus, amin. GOD BLESS RP. ANDRE DELIMARTA, SDB Pastor Kepala Paroki Danau Sunter “DALAM SETIAP KEGELAPAN ADA CAHAYA YANG DIBAWANYA SERTA” Karunia imamat merupakan anugerah besar bagi saya dan saya berharap hal itu sebagai anugerah juga bagi orang lain. Saya ingat beberapa minggu menjelang tahbisan, saya datang meminta izin romo paroki asal saya untuk mengijinkan saya beserta keluarga merayakan Misa Syukur tahbisan mengundang juga teman-teman dan kenalan saya dan keluarga. Saat itu pastor paroki berkata bahwa seseorang ditahbiskan sebagai imam bukan untuk keluarga atau sahabat, tetapi untuk seluruh umat Allah. Sejak saat itu kalimat tersebut senantiasa mendengung di kepala saya. Imam ditahbiskan untuk umat. Imam merayakan perayaan suci untuk
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 77 menguduskan umat. Saya mengalami banyak tahun-tahun yang sangat menantang, menyenangkan dan berbuah. Merayakan sakramen-sakramen bersama umat telah menjadi penyebab sukacita besar bagi saya. Saya memiliki kesempatan luar biasa untuk merayakan pembaptisan dan melihat pada anak ciptaan baru, kehidupan baru. Memang pada setiap panggilan ada momen-momen yang tidak mudah untuk dijalani, terutama saat keyakinan dan suara hati sebagai gembala dihadapkan pada kesetiaan dan ketaatan pada yang sudah diikrarkan. Kebijakan-kebijakan yang diambil gereja untuk menghentikan laju perkembangan pandemik dengan pelaksanaan ketat protokol kesehatan beberapa kali dirasakan bertentangan dengan semangat kegembalaan sebagai imam. Memang tidak mudah untuk mewujudkan kebaikan bersama, mesti ada pengorbanan dan terkadang tidak kecil. Pandemi Covid-19 juga memaksa kita untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang sangat mendalam tentang kehidupan dan kematian. Sebagai Katolik kita dibawa ke dalam percakapan tentang kematian dan hal-hal yang kekal, yang kita sebut “hal-hal terakhir.” Memang bukan hal-hal yang nyaman untuk dipikirkan, tetapi sangat Katolik. Khotbah dalam setiap ibadat-ibadat baik itu dalam Ekaristi maupun dalam ibadat kematian menjadi platform permenungan bersama umat untuk lebih mendalami iman kita sebagai orang Katolik. Pembelajaran lain yang saya dapati dari pengalaman pandemi adalah keberanian untuk melompat ke dalam kolam yang disebut teknologi. Tiba-tiba saya merayakan Misa secara live-streaming, mengirim renungan-renungan harian singkat ataupun video-video yang menghibur yang direkam kepada umat, dan meeting online untuk terhubung dengan umat dalam lingkungan-lingkungan. Memang semua itu tidak sama dengan bertatap muka, tetapi itu adalah cara terbaik untuk bisa tetap terhubung. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa Misa livestreaming adalah kebutuhan sementara dan bukan pengganti Misa yang dirayakan bersama, imam dan umat. Memang umat senang bisa menghadiri Misa hampir di mana saja, mengunjungi gereja-gereja lain dan mendengarkan homili yang berbeda. Ini bagus untuk saat ini, tetapi tidak selamanya. Setiap kegelapan memang membawa cahaya tersembunyinya sendiri.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 78 Iman tidak begitu mudah ditinggalkan. Kehidupan dan iman umat paroki kuat. Gereja telah mengalami masa-masa sulit sejak awal dan saya kira akan terus demikian sampai akhir zaman. Namun dalam setiap pencobaan dan selama berabad-abad, Kristus tidak pernah meninggalkan kita dan Gereja telah tumbuh menjadi saksi iman yang lebih kuat. Dia ada bersama kita sekarang, Dia tidak akan pernah meninggalkan kita melalui ujian hidup saat ini, saya percaya. Sebagai imam, secara khusus setelah melewati masa sulit pandemi, saya terpanggil untuk memikirkan kembali jati diri dan makna menjadi imam. Saya tidak berharap apapun, saya tidak tahu apa yang Tuhan sediakan untuk saya. Yang saya tahu bahwa Tuhan telah memberi saya banyak kesempatan yang luar biasa untuk menjadi seorang imam dan gembala umat dan saya berharap menemukan kegembiraan di setiap momen pelayanan yang saya jalani bersama umat dan rekan-rekan imam. RD. ROMANUS HERI SANTOSO Pastor Kepala Paroki Kelapa Gading KELEMAHANMU…JALAN KEKUDUSAN…. Pada malam sebelum Yesus wafat, Ia memberikan 2 hadiah terindah kepada kita semua: pertama, Dia memberikan DiriNya sendiri kepada kita dalam ekaristi; kedua, Dia memberikan "martabat keimaman" untuk melanjutkan “menghadirkan Diri-Nya” dalam ekaristi. Ibu Theresa dalam permenungannya mengatakan demikian: Without priest, we have no Jesus. Without priest, we have no absolution. Without priest, we can not receive Holy Communion. Para imam yang saya kasihi. Anda semua sudah mengatakan "YA" kepada Yesus dan Ia memilih kalian melalui janji sucimu. dan sungguh, sabda Allah hadir dalam diri pribadi Yesus yang sederhana dan "miskin". Dan terkadang kalian merasa bahwa hidup selibat adalah sebuah kekosongan yang dahsyat, khususnya dalam hidup keseharian. Justru inilah rahmat terbesar dalam hidupmu. Allah akan sungguh bisa kalian temukan, disaat kita tidak "penuh", melainkan disaat kita dalam keadaan 'kosong', dalam kekosongan tersebut. Inilah arti dari kemiskinan yang
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 79 paling dalam, yaitu disaat kita sadar bahwa jawaban kita "Ya" akan panggilan Yesus tersebut ternyata harus kita jalani dengan "kekosongan". Sehingga jalan hidup kita ini terhayati bukan dengan penghayatan bahwa berapa banyak yang kita miliki sehingga kita bisa memberi, melainkan seberapa besar kita memberikan "ruang kosong" bagi Tuhan dalam hati dan hidup kita? Dan akhirnya kita sungguh bisa menerima dengan penuh, berkat yang diberikan oleh Tuhan dalam hidup panggilan ini. Terimalah dengan tulus dan ikhlas, disaat hidup kalian merasa tak dihargai. Disaat kalian dalam kekosongan. Disaat karya kalian merasa tak berarti. Bahkan disaat kalian merasa tak bisa berbuat apa-apa. Disaat jalan hidupmu terasa berat. Tetaplah berikan senyuman yang terindah bagi Yesus dalam keadaanmu yang demikian. Sebab inilah arti kemiskinan Yesus yang sesungguhnya yang hadir dalam hidupmu. Dan inilah pertanda baik bahwa engkau sungguh-sungguh sudah menyatu dalam kehidupan Yesus. Mari juga kita lihat dan belajar dari teladan Bunda-Nya. Sebelum Maria tahu akan hadir rahmat besar dalam hidupnya, dengan kehadiran Sang Juruselamat melalu rahimnya, dia harus melalui banyak "kegelapan" hidup. Ia sungguh mengalami perjuangan hidup yang tidak ringan. Tetapi dengan jawaban "Ya" akan rencana Tuhan melalui malaikat-Nya itulah yang menjadi poin penting bagi Tuhan. Maka, tetaplah memberi senyum terindah bagi Yesus, dimanapun kita berada. Tetaplah gembira, penuh damai dan siap menerima dengan tulus apapun yang Ia berikan pada kita. Tetaplah berikan senyum yang indah terhadap apapun yang Ia ambil dari kita. Dan disinilah bukti bahwa Dia tinggal di dalam kita dan kita tinggal didalam-Nya. Bagi Ibu Theresa, kehidupan para imam adalah sebuah jalan menuju kesucian. Hidup suci harus menjadi "impian suci nan rendah hati" bagi para imam. Bahkan bukan hanya membawa diri sendiri pada kesucian itu, melainkan harus membawa banyak jiwa-jiwa menuju kesucian. Ibu Theresa memberikan pengalaman yang indah dan mendalam tentang kesucian para imam melalui pelayanannya. Suatu saat salah satu susternya menemukan seorang bapak tua yang terbaring lemas di pinggir jalan. Dengan bantuan beberapa orang, dibawalah orang ini menuju rumah singgah pelayanan suster-suster Ibu Theresa. Beliau memang sebagai pribadi yang cukup tertutup selama bertahun-tahun, menurut tutur dari beberapa suster yang menemani. Dia tidak berbicara apa-apa selama
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 80 2 hari. Setelah hari kedua, dia berbicara kepada salah satu suster," Terima kasih suster, karena kalian sudah menghadirkan Tuhan dalam hidupku. Apakah suster bisa menghadirkan seorang imam untuk saya?" lalu salah satu suster mencari seorang imam dan mendapatkan. Ternyata Bapak ini ingin melakukan pengakuan dosa. Sebab sudah hampir 60 tahun dia tidak pernah pengakuan dosa. Maka, pengakuan dosa pun beliau terima dalam rahmat Tuhan. Dan hari berikutnya di pagi hari, Bapak tersebut menghadap Tuhan dalam keabadian. Melalui pengalaman tersebut, Ibu Theresa mengatakan inilah salah satu arti dan makna terdalam dari seorang imam. Imam adalah the 'connecting link' antara manusia dengan Tuhan. Tuhan membuka pintu maaf melalui salah satu hamba-Nya - yang juga lemah nan berdosa, yaitu seorang imam - bagi manusia yang sangat membutuhkan. Maka, Ibu Theresa mengatakan dengan ketulusan hati untuk kita para imam demikian," Para imamku, dalam perjalanan imamatmu, yang utama adalah cintailah Yesus, sebagaimana Maria mencintai Putranya. Dan layanilah Yesus yang hadir pada hati dan kehidupan orang-orang miskin. (disadur dari buku: Priestly celibacy, Theological Centrum, Manila: 2000.) RD. PETRUS TUNJUNG KESUMA Pastor Rekan Paroki Kelapa Gading PANDEMI DAN PENGALAMAN PERSAHABATAN IMAMI Ini sebuah kisah yang tersisa dari masa pandemi. Ketika pandemi mulai merebak beberapa tahun lalu, Dewan Paroki Harian memutuskan membagi para imam yang berkarya di paroki Yakobus dalam dua tempat tinggal yakni di pastoran Yakobus dan pastoran Kim Tae Gon. Kebetulan, sebelum pandemi pastoran Gereja Kim Tae Gon telah lengkap seutuhnya dan dapat segera ditinggali. Pertimbangannya adalah agar kalau ada salah satu orang terpapar tidak semua imam juga terkena sehingga seluruh karya dapat menjadi lumpuh. Mereka yang tinggal di pastoran Kim Tae Gon adalah imam-imam muda yang masih aktif dan sehat, sedangkan imam-imam senior menetap di pastoran Yakobus. Setelah keputusan itu, imam-imam muda pun bergegas
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 81 untuk pindah tempat ke pastoran baru, sedang Romo Hendar, Romo Suto dan saya tetap tinggal di pastoran lama. Kami disatukan bukan hanya karena kami lebih “senior” daripada yang lain melainkan juga karena kondisi kesehatan kami yang tidak terlalu baik. Romo Suto sebagai imam yang tertua pernah menjalani operasi by pass jantung dan beberapa tahun sebelum juga menjalani operasi usus, Rm. Hendar juga baru saja menjalani operasi dan beberapa tahun lalu saya juga menjalani operasi by pass jantung. Inilah keadaan kami senyatanya. Dalam kesadaran akan keterbatasan dan kelemahan kami sendiri, kami dihadapkan akan kerapuhan hidup sesama kami. Beberapa umat yang kami kenal dan kasihi terpapar virus tersebut dan berpulang. Sungguh menyedihkan situasi seperti itu, pada saat kami tidak mampu berbuat banyak untuk mereka. Bahkan pada saat pandemi memuncak, kami hanya dapat menghantar kepergian mereka selamanya melalui media sosial. Namun, situasi yang sulit ini rupanya juga membantu saya untuk mengenal aspek lain dari kehidupan imamat. Dalam keterbatasan kami; pada saat kami tidak dapat sepenuhnya menjalankan tugas pelayanan, saya disadarkan akan sesuatu yang selama ini terlupakan atau paling tidak kurang mendapat perhatian karena kesibukan pelayanan kami. Hal tersebut adalah kebersamaan hidup para imam sebagaimana kita temukan dalam PO 8 “Maka masing-masing imam dipersatukan dengan rekanrekannya seimamat karena ikatan cinta kasih, doa dan aneka macam kerja sama;” Saat pandemi memuncak dan pemerintah mengadakan PPKM, di mana kegiatan-kegiatan menjadi sangat terbatas, saya menemukan kembali betapa pentingnya kehadiran sahabat-sahabat sepanggilan. Dengan berkurangnya kegiatan pelayanan kami karena situasi yang tidak memungkinkan itu, kami dapat dengan mudah bertemu dan berkumpul. Merayakan ekaristi bersama, berdoa bersama, berbagi pengalaman iman dan juga diskusi berbagai masalah dalam Gereja kerap kali kami lakukan walau tidak dalam suasana formal dan itu meneguhkan iman kami serta menguatkan semangat pelayanan. Namun yang paling penting adalah semakin kuatnya perasaan kesatuan di antara kami sebagai sesama orang terpanggil. Dalam situasi seperti ini kami menyadari betapa pentingnya kami saling melayani satu sama lain. Hal tersebut kami tunjukan dengan saling memberi perhatian dan menjaga satu sama lain agar tidak seorang
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 82 pun dari kami terpapar penyakit, serta siap saling menolong dalam karya yang masih dapat lakukan. Semuanya ini meneguhkan rasa kebersamaan kami. Kini pandemi perlahan mulai berlalu, saya berharap kebersamaan yang dulu telah terjalin terus berlanjut karena entah ada pandemi atau tidak, seorang imam tetaplah membutuhkan imam yang lain. Dalam kebersamaan dan persahabatan itulah imamat kita akan selalu diteguhkan dan pelayanan disuburkan. “Kemampuan mengembangkan dan menghayati secara mendalam persahabatan imami akan menjadi sumber keheningan dan kegembiraan dalam pelayanan tugas pelayanan”. ( Direktori tentang pelayanan dan Hidup para imam) RD. STANISLAUS SUTOPANITRO Pastor Rekan Paroki Kelapa Gading IMAMAT ADALAH PELAYAN UMAT Pengalaman saya sebagai Iman yang sangat mengesan sampai setua ini adalah ketika saya diminta Bapak Uskup TNI/POLRI membuat laporan ke Vatikan tentang Keuskupan TNI/Polri Indonesia, ketika itu sore hari dan laporan sudah harus dikirim pagi harinya. Dalam pikiran saya tampaknya saya harus kerja lembur, ketika saya melihat apa saja yang harus dilaporkan. Maka sampai di Pastoran saya berpesan kepada satpam, bila ada umat yang mau bertemu dengan saya supaya diberi tahu bahwa saya sedang harus menyelesaikan pekerjaan. Namun apa yang terjadi: ketika saya sudah dikamar dan baru mau duduk mengerjakan tugas, sudah ditelpon satpam, bahwa ada umat yang mendesak mau bertemu saya. Saya turun sambil agak marah kepada satpam. Setelah selesai, dan memang saya cepat-cepatkan, saya kembali ke kamar, baru mau membuka pintu, satpam sudah menelpon lagi. Saya kembali turun dan sudah sungguh-sungguh marah. Hal yang sama terjadi lagi sampai ketiga kalinya. Baru saya sadar, bahwa Tuhan mengingatkan saya, seorang Imam adalah pelayan umat, ia adalah perantara antara Tuhan dan umat. Hal tersebut sangat mengesan pada diri saya dan dapat dikatakan cukup mendalam.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 83 Bahkan saya agak ekstrim meyakini bahwa Saya harus mau melayani umat dalam hal apa pun dan kapan pun sampai akhir. RD. STEFANUS TINO DWI PRASETIYO Pastor Rekan Paroki Kelapa Gading BERSYUKUR DAN BERGEMBIRA DALAM IMAMAT Panggilan merupakan suatu anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada setiap pribadi manusia. Setiap manusia dipanggil untuk mengikuti Tuhan, meskipun panggilan itu berbeda-beda, tetapi mempunyai tujuan yang sama, yaitu dipanggil menuju kesempurnaan kasih, kesempurnaan kesucian, dan kesempurnaan hidup Kristiani. Sebagai seorang Imam, saya bergembira dan bersukacita menanggapi panggilan Tuhan dengan segala kelemahan dan kerapuhan yang ada dalam diri saya. Hari ini saya bersyukur karena bersama dengan rekan-rekan imam lainnya memperbarui janji Imamat sebagai tanda kasih dan kehadiran Allah dalam diri saya. Saya semakin menyadari bahwa panggilan imamat seorang imam tidak lepas dari imamat Yesus Kristus. Dengan demikian, Yesus adalah satusatunya Sang Imam Agung. Kekhasan imamat Yesus Kristus adalah bahwa dalam diri Yesus Kristus, yang mempersembahkan dan yang dipersembahkan adalah identik dan sama, yaitu diri-Nya sendiri (Ibr. 7:27). Seluruh hidup-Nya menjadi persembahan yang memuncak dalam persembahan di salib. Pada gilirannya, seluruh imamat yang ada dalam Gereja hanya selalu merupakan partisipasi dalam imamat Yesus Kristus dan menghadirkan satu-satunya imamat Yesus Kristus. Dalam menjalani tugas perutusan di paroki, khususnya dalam situasi dan kondisi pandemi covid 19 adalah tantangan tersendiri bagi saya. Dalam situasi yang terbatas, tetap menghidupi rahmat Imamat dalam pelayanan kepada umat dengan hati yang gembira. Hanya mungkin terjadi karena saya bersama rekan-rekan imam lainnya mengusahakan relasi yang semakin erat dengan Dia yang memanggil saya. Bentuk kerja sama yang baik dan saling mendukung di dalam doa dan karya bersama rekan imam, rekan sekomunitas, dan umat yang dilayani menjadi semangat yang menyala-nyala dalam mewujudkan dan menghidupi imamat.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 84 Melalui aneka pengalaman dan peristiwa dalam peziarahan menapaki jalan panggilan imamat, saya semakin yakin bahwa jati diri hidup seorang imam merupakan suatu misteri yang sepenuhnya dicangkokkan pada misteri Kristus dan Gereja secara baru dan istimewa. Dalam arti yang lain, hidup seorang imam sampai pada keserupaan dengan Kristus, karena bertindak dalam pribadi Kristus Kepala (in persona Christi), yaitu untuk menguduskan, mengajar, dan menggembalakan umat. Semuanya ini saya bawa menjadi persembahan sederhana dalam hidup saya sebagai jalan menuju kesempurnaan kasih, kesempurnaan kesucian, dan kesempurnaan hidup Kristiani. Dalam waktu dan kesempatan yang penuh rahmat ini, saya memperbarui kembali janji Imamat saya dengan kesadaran dan keyakinan bahwa hidup dan panggilan imam bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan semata-mata dari rahmat Kristus dalam Roh Kudus. Dengan demikian, setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan seorang imam mencirikan pikiran, perkataan, dan perbuatan Kristus sendiri. Inilah yang dinamakan semakin serupa dengan Kristus. Apa yang saya pikirkan, rasakan, katakan, dan lakukan adalah apa yang Kristus juga pikirkan, rasakan, katakan, dan lakukan. Tidak selalu mudah, tetapi karena kekuatan Kristuslah yang memampukan dan menyempurnakan. Hal ini secara konkret terwujud dalam hidup sehari-hari melalui tugas, karya, dan pelayanan yang sejalan dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta 2022-2026, yaitu semakin mengasihi, semakin peduli, dan semakin bersaksi, khususnya dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. Hal ini menjadi upaya dan kerja sama yang konkret dengan semua pihak dengan sungguh dan tulus hati mewujudkan kesejahteraan bersama. Dengan demikian, semangat yang terus mau di hidupi adalah semangat Gembala Baik dan Murah Hati. Seluruh tugas, karya, dan pelayanan seorang imam merupakan kesaksian akan kemurahan hati Kristus, yang menemukan bentuknya dalam beragam gerakan mewujudkan kesejahteraan bersama yang terus menerus diupayakan dan diperjuangkan bersama. Oleh karenanya, saya semakin menyadari rahmat panggilan Imamat bukan untuk diri saya sendiri, melainkan bertumbuh dan berbuah bagi semakin banyak orang. Keutamaan kegembiraan dan sukacita dalam menjalani hidup panggilan sebagai imam adalah tanda persembahan diri
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 85 seutuhnya dan kesetiaan kepada Tuhan. Akhirnya, mari kita saling mendukung dan mendoakan satu sama lain, agar seluruh karya dan pelayanan bersama ini sungguh dapat terwujud demi kebaikan bersama. Tetap bersyukur dan bergembira dalam Imamat. Tuhan memberkati. RD. YOHANES RADITYO WISNU WICAKSONO Pastor Rekan Paroki Kelapa Gading MASA PANDEMI, MASA BERAHMAT Selama lebih dari tiga tahun ini, kita semua berada dalam masa pandemik Covid-19. Dan selama ini, sudah banyak penderitaan yang dialami oleh seluruh umat manusia di seluruh dunia. Penderitaan karena kehilangan orang-orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, kehilangan kesempatan untuk belajar dengan baik, kehilangan untuk berinteraksi dengan sesama, dan masih banyak kehilangan-kehilangan yang lainnya yang terjadi karena wabah penyakit ini. Dari pengalaman kehilangan ini, manusia belajar banyak hal bahwa ternyata kita ini adalah makhluk yang rapuh dan tak berdaya di hadapan sang Maha Kuasa. Juga sebuah kesempatan yang baik untuk memahami maksud atau kehendak Tuhan bagi hidup kita. Hal ini saya alami saat saya kehilangan seorang rekan imam yang baik yaitu Rm. Suherman, Pr. Saat Rm. Suherman sakit dan kritis di RS. Carolus, kami para imam projo Keuskupan Agung Jakarta mengadakan doa bersama setiap jam 12.00. Tidak hanya mendoakan Rm. Suherman, tapi juga mendoakan romoromo dan umat Allah yang tengah berjuang sembuh dari paparan Covid 19 ini baik di Rumah Sakit, Rumah Insoman ataupun di rumah masingmasing. Kami para imam berdoa dengan sungguh-sungguh demi kesembuhan mereka terutama Rm. Herman yang tengah kritis. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tanggal 11 Juli 2021, Tuhan memanggil kembali Rm. Suherman kembali kehadirat-Nya di Surga. Mendengar berita ini saya cukup kaget dan sempat berpikir apakah Tuhan itu tidak mendengar doa-doa para imam-Nya. Saya berpikir, doa para imam-Nya saja, yang dekat dan dipilih untuk melayani-Nya, tidak dikabulkan apalagi doa umat atau orang awam lainnya. ‘Tuhan sungguh keterlaluan’, begitu saya berpikir.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 86 Namun setelah saya renung-renungkan rupaya apa yang saya pikirkan dan rasakan itu adalah hikmat pribadi saya sebagai manusia yang berbeda dengan hikmat dari Allah sendiri. Menurut Rm. Aloy Budi Purnomo, Pr dalam bukunya yang berjudul Makna Salib: bagi umat manusia sepanjang zaman, Hikmat Allah adalah misteri penebusan dalam Kristus yang terwujud sepenuhnya melalui wafat dan kebangkitan-Nya, dan kini dihadirkan dalam Roh Kudus yang mendampingi umat beriman (hlm. 31). Hikmat Allah tidak bisa lepas dari misteri salib Kristus. Dari sini saya menyadari bahwa kita tidak boleh berhenti pada kematian dan penderitaan saja, tetapi harus sampai pada keselamatan kebangkitan pula. Dalam keadaan menderita dan juga pengalaman kematian, ada Rahmat Allah yang turut berkarya dalam hidup manusia. Rahmat Allah ini juga terungkap dan terwujud dari banyaknya gerakangerakan karitatif dan kepeduliaan kepada sesama. Gerakan memberikan makanan kepada saudara-saudari yang mengisolasi diri di rumah karena sakit, gerakan makan gratis bagi pengendara ojol atau siapapun yang membutuhkan, gerakan berbagi tabung oksigen, bahkan, gerakan sukarelawan menjadi sopir “ambulan” untuk mengantar tetangganya ke rumah sakit karena kritis pun dilakukan oleh banyak umat Allah demi menolong dan membantu sesamanya. Gerakan-gerakan ini tidak akan berjalan bila Hikmat Allah tidak menjadi Roh dalam diri umat dalam masa-masa yang tidak mudah ini. Hikmat Allah dalam masa yang sulit, menumbuhkan rasa solidaritas dan kepeduliaan yang tinggi dalam Gereja dan juga masyarakat di sekitar kita. Semoga segala hal baik yang sudah dilakukan dan dibuat selama masa yang sulit ini tidak hilang di masa yang akan datang. Tidak hanya sebagai reaksi atas keadaan tetapi menjadi habitus yang terus-menerus dapat dilakukan bagi sesama. Sehingga, pengalaman duka dan luka akibat pandemik berubah menjadi pengalaman berakhmat yang membawa sukacita dan pengharapan lebih baik di masa yang akan datang. Tuhan memberkati.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 87 RP. ANTONIUS YUNI WIMARTA, CM Pastor Kepala Paroki Tanjung Priok INI AKU TUHAN, UTUSLAH AKU Selama setahunan lebih saya bekerja sama, bersinergi, berpartisipasi, bertransformasi dan berdialog bersama seluruh umat dan juga rekanrekan DPH, korbid-korbid dan korwil-korwil separoki. Sebagai orang baru di Jakarta saya banyak belajar dari Bapa Uskup, para pastor dan seluruh umat separoki bahkan sekeuskupan agung Jakarta. Mereka semua adalah guru-guru, bahkan malaikat-malaikat saya. Sungguh. Selama di Tanjung Priok khususnya, saya memberikan yang terbaik, apa yang saya punya ya itulah yang kupersembahkan kepada Tuhan dan kuberikan juga kepada seluruh umat tanpa sedikitpun saya cuil atau saya kerikiti. Kesemuanya itu dalam rangka cura animarum (pemeliharaan jiwa-jiwa) dan juga cura personarum (pemeliharaan relasi) dengan seluruh umat. Saya merasakan bahwa Tuhan Yesus memberkatiku selalu. Rekan-rekan pengurus Dewan Harian, Dewan Inti, Dewan Pleno bagaikan sayap-sayap burung rajawali yang terbang tinggi ke angkasa. Sebagai sayap mesti menyatu kiri dan kanan secara dekat dan menyatu dan seimbang. Rekan-rekan pengurus berpartisipasi secara aktif, berdinamika secara dewasa, kompak dan bersahabat. Selain itu juga rekan-rekan di wilayah-wilayah, para pengurus lingkungan adalah para tokoh umat yang menjadi rasul-rasul awam yang penuh semangat mewujudkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu diwujudkan dalam kebersamaan sehingga dapat dirasakan oleh segenap umat di lapisan yang paling memerlukan kehadiran kita. Lagu yang berjudul Ini Aku Utuslah Aku merupakan ungkapan pengalaman dan permenungan untuk makin dekat dengan Tuhan yang lebih dahulu menyapa, memanggil, dan membuka mata, sehingga saya menyadari bahwa aku dipanggil, dipilih dan diutus. Kesadaran ini saya yakini 100% bahwa Tuhan memanggil dan memilihku, walau saya tahu saya punya banyak keterbatasan di sana-sini, namun Tuhan tetap memakai saya untuk ikut mewartakan kabar gembira kepada orang-orang yang menderita. Dua bahkan tiga tahunan kita bergumul dengan datangnya masa pandemi virus corona (covid-19). Virus ini tak kenal ampun kepada siapapun.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 88 Virus ini telah mengharubiru dan meluluh lantakkan sendi-sendi perekonomian, kehidupan dan Kesehatan. Namun puji Tuhan saya masih boleh bersyukur walau sering melayani orang-orang yang terpapar, tapi tetap sehat dan gembira selalu. Semua ini karena Tuhan yang memberi. Tuhan pun yang memilihku untuk menjadi tangan Tuhan dalam menyelamatkan jiwa-jiwa. Sakramen Imamat bagi saya adalah anugerah terindah. Tidak terasa saya kemarin 27 Februari boleh merayakan ulang tahun tahbisan imam yang ke 31. Sungguh tidak terasa telah tiga puluhan tahunan lebih saya boleh mengucapkan kata-kata konsekrasi dihadapan umat Allah setiap kali saya merayakan ekaristi. Siapakah aku ini, hingga Tuhan memakai diriku untuk menjadi imam dan in persona Christi hadir bagi umat Allah. Dalam keheningan suci, saya merasakan hadirat Allah, terukir dalam lagu ini, “Ini Aku Tuhan, Utuslah Aku”.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 89 RP. HENRICUS Y. KURNIAWAN, CM Pastor Rekan Paroki Tanjung Priok REFLEKSI IMAMAT “Kau dipanggil Tuhan, dijadikan duta, supaya hidupmu, menyinarkan kasih-Nya”.. Ulangan lagu dengan judul Kau Dipanggil Tuhan dari Puji Syukur No. 683a ini tentu sudah sangat familiar di telinga kita. Kita biasa menyanyikannya dalam perayaan Ekaristi. Secara sederhana, lagu ini mengingatkan akan perutusan yang saya terima, bahwa lewat panggilan, perutusan dan kesaksian hidup yang saya jalani ini, saya dipacu untuk dapat memancarkan kasih Kristus kepada umat. Menyinarkan Kasih-Nya berarti saya mewartakan kasih Kristus kepada umat, bukan mewartakan diri sendiri. Perjalanan imamat saya masih tergolong muda ini tentu tak lepas dari tantangan untuk mewartakan diri sendiri. Kadang kecenderungan semacam ini muncul dari bawah sadar, bahwa ternyata saya masih ingin mendapat pujian, bahwa saya masih ingin mendapat pengakuan dari karya-karya yang saya lakukan. Saya selalu berjuang bahwa perutusan saya adalah untuk menjadi gembala, membantu umat untuk semakin mengasihi Allah dalam hidupnya. Ketulusan dalam melayani umat adalah tantangan yang harus diperjuangkan setiap hari. Terlebih dalam perutusan di kota besar seperti Jakarta ini, dengan begitu banyak pilihan dan tawaran yang menarik, dengan latar belakang umat yang berbeda-beda; saya harus siap melayani siapa saja, dengan tulus, dengan semangat pelayanan Bapa Uskup Keuskupan Agung Jakarta, menjadi gembala yang baik dan murah hati. Menghidupi imamat adalah perjalanan untuk menghidupi dan mensyukuri rahmat Tuhan yang tanpa batas yang diberikan kepada saya. Bersyukur bahwa saya boleh menerima rahmat ini, meski dipenuhi dengan kelemahan dan dosa. Menghidupi imamat adalah juga suatu peziarahan batin untuk mengalami kasih dan sukacita di dalam Tuhan. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4). Kegembiraan dalam hidup dan pelayanan merupakan suatu pilihan hidup yang memampukan saya untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab betapapun beratnya, mengatasi kesulitan dan persoalan serta menghadapi tantangan apapun bentuknya dengan hati yang gembira. Tanpa sukacita, kehidupan kerasulan dengan
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 90 segala macam kesulitan dan persoalannya hanya akan menjadi beban yang semakin lama semakin menghimpit saya. Sukacita dan kegembiraan dalam menjalani panggilan imamat merupakan sikap batin yang harus terus saya perjuangkan dalam hidup dan pelayanan saya, meski kadang tidak mudah. Dalam refleksi yang singkat ini, saya juga berusaha untuk selalu merawat hidup imamat saya dengan kehidupan doa yang baik. Paus Fransiskus menekankan pentingnya kehidupan doa sebagai seorang imam. Panggilan utama imamat adalah panggilan menuju kekudusan. Tetapi godaangodaan untuk tidak bertekun dalam doa selalu ada. Kadang doa juga dirasakan sebagai rutinitas yang sekedar dijalani, bukan suatu kebutuhan utama untuk selalu dekat dengan Tuhan. Dan dunia yang semakin ramai, semakin maju dengan segala fasilitas internet dan sejenisnya, menjadi tantangan dan bahkan menjadi godaan setiap hari, bagaimana saya tetap dapat memberi waktu secara bijak untuk setia dalam mengupayakan hidup doa yang baik dan tinggal dalam keheningan, mendengarkan Sabda-Nya. Kiranya kasih setia Tuhan dan pertolongan Bunda Maria senantiasa menyertai dan meneguhkan perjalanan imamat saya dan juga rekan-rekan imam di Keuskupan Agung Jakarta ini, sehingga dapat memberikan diri dalam perutusan kepada umat, demi kemuliaan Nama Tuhan. Semoga Tuhan memberkati karya-karya kita. Amin.
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 91
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 92
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 93
Misa Krisma 2023 - Katedral Jakarta 94