The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alipbala95, 2021-12-09 20:34:17

Burung walet (kelompok 9)

Burung walet (kelompok 9)

KELOMPOK 9

Alif.MTZ (097) , Adiba.ZD (139) ,
M. DAFFA.S (243).

BUDIDAYA BURUNG WALET

03 DESKRIPSI
04 TAKSONOMI
05 SEJARAH PERKEMABANGAN BALET
07 ANATOMI
08 SISTEM REPRODUKSI
09 PEMILIHAN BIBIT PEMBAGIAN PERIODE

PEMELIHARAAN

12 PERAWATAN TERNAK BURUNG WALET
13 TATA LAKSANA PEMELIHARAAN
15 PENETASAN TELUR BURUNG WALET
16 POTENSI PRODUK DAN PEMASARAN
18 PREDATOR, ISTILAH DAN PROFIL USAHA TERNAK

BURUNG WALET

19 DAFTAR PUSTAKA

DESKRIPSI



BURUNG Indonesia dikenal memiliki sumber daya alam yang
WALET cukup melimpah. Burung walet sebagai salah satu
sumberdaya hayati memiliki nilai yang tinggi. Burung
walet dijumpai di gua dalam hutan dan gua yang
berada di pinggir laut. Burung walet (Collocalia
fuciphaga) memiliki ciri khas melakukan segala
aktivitasnya di udara, sehingga burung walet juga
dikenal sebagai burung layang – layang. Burung
walet juga dikenal dengan khasiat sarangnya yang
baik bagi manusia. Burung walet merupakan burung
yang dapat membuat sarang dengan menggunakan
air liurnya sendiri. Sarang yang dihasilkannya
bersifat edible nest atau sarang yang dapat
dikonsumsi dan biasa disebut dengan istilah Edible
Bird’s Nest (EBN) (Koon dan Cranbook, 2002).
Sarang burung walet merupakan rajutan liur burung
walet yang berbentuk seperti mangkuk. Khasiatnya
dipercaya dapat memberikan kesegaran dan
menjaga kesehatan tubuh manusia.

Penggunaan sarang burung walet, sudah diketahui

khasiatnya sejak lama terutama di negara China.

Kebiasaan tersebut dilakukan terutama oleh para

keturunan bangsawan, dikarenakan harganya yang

cukup tinggi. Jenis-jenis burung walet dikenal

berbagai macam diantaranya adalah

Collocaliamarginata, Collocalia esculenta, Collocalia

brevirostis, Collocalia vanikorensis, Collocalia

fuciphaga, Collocalia troglodytes, Collocaliamaxima

dan lain-lain. Sedangkan yang paling sering

diperdagangkan sarangnya adalah Collocalia

fuciphaga dibudidayakan sebagai burung walet, dan

Collocalia esculenta dibudidayakan sebagai burung

seriti.

pn

TAKSONOMI

Burung walet adalah salah satu burung dengan
kemampuan terbang cepat. Kecepatan
terbangnya mencapai 31 meter per detik atau 112
km/jam. Tulang walet secara proporsional memiliki
ukuran lebih panjang dari kebanyakan burung
lainnya. Kemampuannya dalam mengubah sudut
antara tulang sayap dengan kaki depannya
membuat kelihaian terbangnya sangat mumpuni.
Pada umumnya, klasifikasi burung walet cukup
rumit. Pembahasan jenis dan spesiesnya banyak
menjadi bahan perdebatan. Analisis tingkah laku
serta suaranya tergolong ruwet pada evolusi
paralel secara umum. Sedangkan analisis sifat
morfologinya menunjukkan keseragaman.

Menurut Welty (1982) dan Chantler &
Driessens (1995) dalam Mardiastuti, dkk
(1998), posisi taksonomi burung walet
sarang putih digolongkan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Class : Aves

Ordo : Apodiformes

Familia : Apodidae

Genus : Collocalia

Species : C. fuciphaga

pn

SEJARAH
PERKEMBANGAN

WALET





01 Part 1 Seorang sejarawan asal Melaka, Lin Biao telah menemukan

beberapa skriptur yang mengagaskan bahwa Admiral Zheng

He yang mempopulerkan makanan eksotis ke Tiongkok pada

abad-17. Dalam skriptur tersebut, Zheng He dan armada

kapal yang sedang bernavigasi di laut sempat terperangkap

badai topan yang sangat kuat. Pada saat itu, Admiral Zheng

He pun memutuskan untuk mencari perlindungan di

kepulauan sekitar Kepulauan di dekat peninsula Malaysia.

Dengan makanan dan air minum yang tidak memadai, para

pelaut di armada Admiral Zheng He pun mulai kelaparan.

Menyadari kondisi sudah semakin gawat, mereka pun mulai

mencari benda apa saja yang bisa dimakan dan salah

satunya adalah sarang burung walet yang menempel di

dinding goa. Tanpa menaruh harapan yang tinggi, mereka

pun memasak dan memakan sup sarang walet yang pertama

di dunia. Tidak disangka-sangka, ternyata keesokan harinya,

para awak kapal yang telah memakan sarang burung walet

telah pulih dan bersemangat.

02 Part 2 Menyadari potensi yang dimiliki sarang burung walet,

Admiral Zheng He langsung memanen sarang burung

pertama yang dihadiahkan ke raja dinasti Ming (1368 – 1644

AD); Raja Ming Chengzu. Dari situlah, sarang burung walet

mulai menjadi popular di kalangan royalti kerajaan di

Tiongkok. Meskipun sarang burung walet meraih

kepopulerannya relatif telat di sejarah kuliner Tiongkok, ada

beberapa sumber yang mengindikasikan bahwa sarang

burung walet telah diperdagangkan sejak era Dinasti Tang

(618 – 907 AD) di kepulauan Borneo. Dengan panjangnya

sejarah perdagangan sarang burung walet, wajarlah kalau

ada yang mempertanyakan apakah sarang burung walet itu

memang memiliki khasiat-khasiat kesehatan seperti:

membantu pencantikan kulit, mengurangi resiko penyakit

pernafasan dan pemulihan energi. Dari riset-riset saintifik

yang telah dilakukan, khasiat tersebut pun menunjukan

indikasi kalau khasiat kesehatan tersebut bukan bohong

belaka.

pn

SEJARAH
PART 2

Di tahun 1982, ilmuwan Jerman bernama R.
Schauer berhasil mengisolasi Sialic Acid dari
sarang burung walet. Sialic acid ini berperan
penting dalam membantu perkembangan otak
bayi. Demikian pula seorang ilmuwan dari
universitas Hong Kong bernama Y.C. Kong juga
menemukan kandungan Epidural Growth Factor
(EGF) yang bisa memicu perkembangan sel di
tubuh kita.
Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Sarang
Burung Indonesia (PPBSI) Boedi Mranata
mengatakan wilayah seperti Sumatra, Kalimantan
hingga Sulawesi berpotensi sebagai daerah
penghasil sarang burung walet. Menurutnya,
daerah-daerah di wilayah tersebut pun selama ini
menjadi penghasil sarang burung walet terbesar.
Sementara untuk Jawa, meskipun sempat menjadi
daerah dengan produksi terbesar tapi saat ini
terus menunjukan penurunan. Papua juga
dipandang potensial, tapi belum ada
pengembangan karena satu dan lain hal.

pn

ANATOMI

Seekor burung dapat diamati berdasarkan pada kombinasi
dari beberapa ciri khas, termasuk penampakan umum, suara,
dan tingkah laku. Juga penting untuk mencocokkan sebanyak
mungkin bagian burung, terutama ciri-ciri diagnostik, jika
diketahui. Sifat yang paling mencolok mungkin diingat
dengan jelas, tetapi ciriciri lain sering dilupakan (MacKinnon,
2010) Aves menurut Suhaerah, (2016) memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:

Tubuh sebgaian ditutupi bulu dan sebagian kaki bagian
bawah ditutupi sisik seperti reptil.
Leher lebih jelas, ruas tulang leher 13-25 buah.
Punya alat suara, bukan dihasilkan oleh faring, tetapi
bagian trakea yaitu siring.
Tidak bergigi, sebagai ganti pada paruh kecuali gigi telur
atau gigi paruh. Berfungsi memecah telur.
Homoiotermis, suhu sedikit diatas 40°C.
Sayap merupakan modifikasi dari kaki depan.

SALURAN PENCERNAAN

Burung walet memiliki susunan saluran pencernaan yang
hampir samadengan jenis burung lain. Ciri morfologi yang
membedakannya adalah padaesofagusburung walettidak
terdapat tembolok (Welty 1982). Burung waletmemiliki usus
dengan vili-vili yang sangat kecil dan halus sehingga makanan
dengan mudah dan cepat dapat dicerna serta diserap sari-
sarinya yang kemudian akan digunakan sebagai sumber
energi tubuh (Welty 1982). Menurut Telford and Bridgman
(1995), pada umumnya saluran pencernaan terdiri dari empat
lapisan yaitu:

Lapisan mukosa, terdiri dari: sel epitel, membran basal,
lamina propria (terdapat kumpulan kelenjar dan
limfonodus) dan muskularis mukosa.
Lapisan submucosa, terdiri dari: kelenjar-kelenjar, buluh
darah, limfonodus dan serabut syaraf.
Lapisan muskularis eksterna, terdiri dari: lapis otot dalam
sirkuler, lapis otot luar longitudinal, syaraf ke otot,buluh
darah dan limfe.
Lapisan serosa atau adventisia, terdiri dari: jaringan ikat
longgar, jaringan lemak, buluh darah dan limfe, serta
pn peritoneum atau retroperitoneal.

SISTEM
REPRODUKSI

SALURAN REPRODUKSI BETINA

Saluran reproduksi burung walet betina sama seperti unggas pada umumnya
yang terdiri dari ovarium, oviduk, infundibulum, magnum, isthmus, uterus dan
vagina. Berikut gambar dari saluran reproduksi betina.
Ovarium memproduksi hormon estrogen dan progesteron. Estrogen
dihasilkan oleh sel-sel granulosa folikel ovarium, sedangkan progesteron
diproduksi oleh membran perivitelin (Brown 1994). Oviduk terdiri dari
infundibulum, magnum, isthmus, uterus dan vagina. Infundibulum merupakan
tempat fertilisasi. Infundibulum terdiri dari saluran dengan lapisan dinding
tipis dan bagian leher. Magnum merupakan bagian terpanjang dari oviduk
(Recee 2009). Mukosa magnum tersusun atas epitel silindris bersilia dan sel
goblet (Bacha dan Bacha 2000). Mukus pada magnum berasal dari sel goblet
yang memproduksi cairan berwarna putih kental dan cair (Yuanta 2004).
Isthmus merupakan bagian dimana telur mendapatkan membran kerabang
(sel membran). Selama proses pembentukan kerabang, submukosa propria
mengandung beberapa kelenjar tubular yang memproduksi sel membran.
Isthmus membuat jaringan fibrin untuk lapisan luar dan dalam kerabang
(Recee 2009).

SALURAN REPRODUKSI JANTAN

Alat reproduksi burung walet jantan terdiri atas alat kelamin pokok dan alat kelamin
pelengkap. Alat kelamin pokok adalah organ yang langsung membentuk spermatozoa
yaitu testis. Alat kelamin pelengkap terdiri atas saluran testis yang menuju kloaka yaitu
epididymis, vas defferens dan papillae (Sarengat, 1982). Sistem reproduksi unggas
jantan terdiri dari dua testis bentuknya elips dan berwarna terang, dan menghasilkan
sperma yang
masing-masing mempunyai sebuah saluran sperma yang bernama vas defferens serta
sebuah kloaka yang menjadi muara dari sistem reproduksi tersebut (Srigandono, 1997).
a. Testis
Testis berjumlah sepasang terletak pada bagian atas di abdominal kearah punggung
pada bagian anterior akhir dari ginjal dan berwarna kuning terang. Fungsi testis
menghasilkan hormon kelamin jantan disebut androgen dan sel gamet jantan disebut
sperma.
b. Epididmis
Epididimis berjumlah sepasang dan terletak pada bagian sebelah dorsal testis.
Berfungsi sebagai jalannya cairan sperma kearah kaudal menuju ductus deferens.
c. Ductus Deferens
Jumlahnya sepasang, pada ayam jantan muda kelihatan lurus. Letak ke arah kaudal,
menyilang ureter dan bermuara pada kloaka sebelah lateral urodeum.
d. Organ Kopulasi
Pada unggas duktus deferens berakhir pada suatu lubang papila kecil yang terletak
pada dinding dorsal kloaka. Papila kecil ini merupakan rudimeter dari organ kopulasi.

pn

BUDIDAYA BURUNG WALLET

PeBmiibliiht an

dan

PPeemPmeebrliaihogadiraeanan

PEMILIHAN BIBIT
DAN
PEMBAGIAN
PERIODE
PEMELIHARAAN

Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak
sengaja. Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah
dimanfaatkan oleh para peternak tersebut. Untuk memancing
burung agar lebih banyak lagi, pemilik rumah menyiapkan tape
recorder yang berisi rekaman suara burung Walet.

Pemilihan bibit Memilih Telur Burung Walet
Sebagai indukwalet dipilih burungsriti yang -Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka
diusahakan agar mau bersarang di dalam gedung induk berumur 0–5 hari
baru. Cara untuk memancing burung sriti agar -Putih kemerahan, berumur 6–10 hari
masuk dalam gedung baru tersebut dengan -Putih pekat kehitaman, mendekati waktu
menggunakan kaset rekaman dari wuara walet menetas berumur 10–15 hari
atau sriti. Pemutaran ini dilakukan pada jam
16.00–18.00, yaitu waktu burung kembali -Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran
mencari makan. 2,014×1,353 cm dengan berat 1,97 gram. Ciri telur
yang baik harus kelihatan segar dan tidakboleh
Perawatan bibit dan calon induk menginap kecuali dalam mesin tetas. Telur tetas
Di dalam usaha budidaya walet, perlu disiapkan yang baik mempunyai
telur walet untuk ditetaskan pada sarang burung -kantung udara yang relatif kecil. Stabil dan tidak
sriti. Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung bergeser dari tempatnya. Letak kuning telur
walet yang sedang melakukan “panen cara harus ada ditengah dan tidak bergerak-gerak,
buangtelur”. Panen inidilaksanakan setelah tidak ditemukan bintik darah. Penentuan kualitas
burung walet membuat sarang dan bertelur dua telur di atas dilakukan dengan peneropongan.
butir. Telur walet diambil dan dibuang kemudian
sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam
panen ini dapat dimanfaatkan untuk
memperbanyak populasi burung walet dengan
menetaskannya di dalam sarang sriti.

pn

Cara menetaskan telur walet pada sarang sriti Menetaskan telur walet pada mesin penetas

Pada saat musim bertelurburung sriti tiba, telur Suhu mesin penetas sekitar 40 ° dengan
sritidiganti dengan telurwalet. Pengambilan telur kelembaban 70%. Untuk memperoleh
harus dengan sendok plastik atau kertas tisue kelembaban tersebut dilakukan dengan
untuk menghindari kerusakan dan pencemaran menempatkan piring atau cawan berisi air di
telur yang dapat menyebabkan burung sriti tidak bagian bawah rak telur. Diusahakan agar air
mau mengeraminya. Penggantian telur dilakukan didalam cawan tersebut tidak habis. Telur-telur
pada siang hari saat burungsriti keluar gedung dimasukan ke dalam rak telur secara merata atau
mencari makan. Selanjutnya telur-telur walet mendata dan jangan tumpang tindih. Dua kali
tersebut akan dierami oleh burung sriti dan sehari posisi telur-telur dibalik dengan hati-hati
setelah menetas akan diasuh sampai burung untuk menghindari kerusakan embrio.Di hari
walet dapat terbang serta mencari makan. ketigadilakukan peneropongan telur.Telur- telur
yang kosong dan yang embrionya mati dibuang.
Embrio mati tandanya dapat terlihat pada bagian
tengah telur terdapat lingkaran darah yang gelap.
Sedangkan telur yang embrionya hidup akan
terlihatseperti sarang laba-laba. Pembalikan telur
dilakukan sampai hari ke-12. Selama penetasan
mesin tidak boleh dibuka kecuali untuk
keperluan pembalikan atau mengisi cawan
pengatur kelembaban. Setelah 13–15 hari telur
akan menetas.

pn

PERAWATAN TERNAK
BURUNG WALET

Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu dan sangat lemah. Anak walet yang
belum mampu makan sendir perlu disuapi dengan telur semut (kroto segar) tiga kali sehari.
Selama 2–3 hari anak walet ini masih memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif
sehingga tidak perlu dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, temperatur boleh diturunkan
1–2 derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin. Setelah berumur ± 10 hari
saat bulu-bulu sudah tumbuh anak walet dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak ini
dilengkapi dengan alat pemanasyang diletakan ditengah atau pojok kotak. Setelah
berumur43 hari, anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa ke gedung pada malam
hari, kemudian dletakan dalam rak untukpelepasan. Tinggi rak minimal 2 m dari lantai.
Denganketinggian ini, anak waket akan dapat terbangpada keesokan harinyadan
mengikuti cara terbang walet dewasa.

pn

TATA

LAKSANA PEMELIHARAAN

·PEMBAGIAN PERIODE PEMELIHARAAN RANSUM DAN AIR MINUM

Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu Burung walet merupakan burung liar yang
dan sangat lemah. Anak walet yang belum mampu mencari makan sendiri. Makanannya adalah
makan sendir perlu disuapi dengan telur semut (kroto serangga-serangga kecil yang ada di daerah
segar) tiga kali sehari. Selama 2–3 hari anak walet ini pesawahan, tanah terbuka, hutan dan
masih memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif pantai/perairan. Untuk mendapatkan sarang
sehingga tidak perlu dikeluarkan dari mesin tetas. walet yang memuaskan, pengelola rumah walet
Setelah itu, temperatur boleh diturunkan 1–2 harus menyediakan makanan tambahan
derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin. terutama untuk musim kemarau. Beberapa cara
Setelah berumur ± 10 hari saat bulu-bulu sudah tumbuh untuk mengasilkan serangga adalah:
anak walet dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak -Menanam tanaman dengan tumpang sari.
ini dilengkapi dengan alat pemanas yang diletakan -Budidaya serangga yaitu kutu gaplek dan
ditengah atau pojok kotak. Setelah berumur 43 hari, nyamuk.
anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa ke -Membuat kolam dipekarangan rumah walet.
gedung pada malam hari, kemudian dletakan dalam rak Menumpuk buah-buah busuk di pekarangan
untuk pelepasan. Tinggi rak minimal 2 m dari lantai. rumah
Dengan ketinggian ini, anak waket akan dapat terbang
pada keesokan harinya dan mengikuti cara terbang
walet dewasa.

pn

·Kandang

Dalam memelihara burung wallet, kandang atau tempat tinggal
adalah yang utama. Burung wallet senang bersarang disudut
langit-langit bangunan. Rumah wallet tidak perlu terlalubesar,
asalkan burungwallet dapat bersarang dengan tenang.
Kemudian, ventilasi pada bangunan adalah hal yang penting agar
menjaga suhu didalam bangunan kandang burung wallet.
Kelembaban yang dibutuhkan adalah sekitar 26-30 derajat
celcius. Peletakan ventilasi dapat diberikan jarak sekitar 4 meter
agar tidak terlalu dingin.

Pada umumnya, ukurang rumah burung walet sangat bervariasi,
bisa gedung 5 lantai atau 2 lantaidengan ketinggian per lantainya
2-2,5 meter. Ada pula rumah walet berukuran 8×12 meter atau
tipe lebih kecil ukurannya sebesar 4×4 meter.Desain masing-
masing gedungtersebut harus mempunyai dinding dengan
ketinggian 3 m atau lebih karena burung walet tidak akan
membuat sarang jika ketinggian dinding kurang dari 3 m.

·Peralatan

Habitat alami burung walet adalah gua kapur yang jauh dari
kebisingan dan aktivitas manusia. Untuk membuat rumah walet
yang nyaman, rumah tersebut harus menghadirkan nuansa
seperti gua kapur. Cukup tambahkan sekat saja sebagai tempat
yang potensial bagi walet merangkai sarangnya. Perlu
diperhatikan pula jumlah sekat yang ditambahkan pada bentuk
dalam rumah walet.Karena kalau terlalubanyak, dapat
menyebabkan suhu ruangan menjadi terlalu panas. Untuk
pemasangannya, berikan jarak antar sek qat atau papan sirip
lebih kurang 30 cm sampai 50 cm.

pn

PENETASAN TELUR BURUNG
WALET

Penetasan merupakan salah satu upaya Telur dimasukkan kedalam rak telur secara
menjaga dan meningkatkan populasi burung merata atau tidak tumpang tindih. Selama dua
wallet sehingga system panen buang telur yang kali dalam sehaari, telur dibalik dengan hati-hati
menghasilkan kualitas dan kualitas sarang yang untuk menghindari kerusakan embrio. Pada hari
optimal dapat dilakukan, dan telur wallet ketiga, dilakukan peneropongan telur untuk
ditetaskan denganmesin tetas. Walaupun melihat apakah ada embrioyang rusak atau
demikian, penetasan telur burung wallet tidak. Teluryang kosong atau memiliki
menggunakan mesin tetas belum banyak embrioyang rusak akan dibuang.Tanda dari
dilakukan. Menurut Rustama (2005), penetasan embrioyang rusak adalahmemiliki lingkaran
telur burung wallet menggunakan mesin tetas darahgelap dibagian tengah telur. Sedangkan
khusus mempunyai spesifikasi seperti suhu telur yang embrionya hidup akan terlihat seperti
mendekati suhu induk yaitu 34-35 derajat sarang laba-laba. Pembalikan telur dilakukan
celcius yang dapat dicapai menggunakan lampu sampai hari ke-12.
pijar 20 watt, wadah kecil dengan kapasitas 250
telur burung wallet per penetasan, tempat Pada hari ke 13-15, telurakan menetas. Anak
menyimpan telur dilengkapi pelapisbusa burung walletyang baru menetas sangat lemah,
lembut, dan kelembaban yang konstan sekitar sehingga harus diberikan makan dengan cara
70% untuk pertumbuhan embrio (Alhaddad, disuapi telur semut sebanyak tiga kali sehari.
2003). Selama 2-3 hari, anak wallet masih memerlukan
suhu yang hangat, sehingga tidak perlu
dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, suhu
boleh diturunkan sebanyak 1 derajat celcius
perharinya dengan cara membuka lubang udara
mesin. Setelah usia anak burung wallet
mencapai 10 hari, bulu burung wallet sudah
mulai tumbuhsehingga perlu dipindahkan ke
kotak khusus.Kotak ini dilengkapi dengan alat
pemanas yang diletakkan ditengah atau diujung
kotak. Setelah berumur 43 hari, anak wallet
yang sudah siap terbang dibawa ke gedung
pada malam hari, agar dapat meniru wallet
dewasa terbang.

POTENSI,
PRODUK DAN
PEMASARAN

POTENSI
PRODUK

Produk hasil ternak burung walet adalah Produk Hasil Ternak Burung Wale
sarangnya yang memiliki manfaat sangat
baik bagi anak-anak, ibu hamil, dan menjaga Produk hasil ternak berupa sarang burung
kesehatan tubuh manusia seperti memiliki walet yang memiliki banyak khasiat. Sarang
beragam sumber mineral yang penting, burung walet dapat dijadikan campuran
kadar antioksidan tinggi, mengandung hidangan di restoran oriental, atau dijadikan
asam amino, merangsang perkembangan minuman. Bila seseorang tidak menyukai
otak, dapat meminimalisir risiko penyakit rasa dari sarang burung walet namun tetap
kardiovaskular, mampu meningkatkan daya ingin merasakan khasiatnya, dapat
tahan tubuh, membantu meredakan mengonsumsi suplemen sarang burung
peradangan, dan berguna untuk menjaga walet. Selain dijadikan hidangan, sarang
kesehatan kulit sehingga sangat berpotensi burung walet dapat dijadikan sebagai
untuk menghasilkan keuntungan yang bahan baku perawatan kulit wajah dengan
besar karena harga sarang burung walet dijadikan masker wajah.
yang mencapai jutaan rupiah dan tetap
memiliki banyak peminat.

Pemasaran Hasil Ternak Burung Walet

Indonesia merupakan produsen sarang walet terbesar di dunia.
Mencapai lebih dari 75% sarang walet yang beredar di dunia
berasal dari Indonesia. Sarang walet rumahan asal Indonesia
menguasai hampir 98% pasokan pasar dunia karena bentuknya
yang lebih bersih, lebih putih dan tidak terlalu tebal. Sementara
pasar sarang walet hitam dipegang oleh Malaysia karena
kualitasnya lebih baik dari pada sarang hitam yang di ekspor
oleh negara produsen lain. Sarang walet banyak diminta oleh
importir terbesar saat ini yaitu Hongkong dan Amerika Serikat.
Jangkauan pemasaran sarang walet asal Indonesia adalah
Hongkong, China, Taiwan, Singapura, dan Kanada. Sekitar 80%
pasar sarang walet Asia dipasok oleh produsen asal Indonesia.

PREDATOR, ISTILAH DAN PROFIL
USAHA TERNAK BURUNG WALET

Predator
1) Kecoa: Untuk mengatasinya dapat digunakan racun kecoa yang tersedia dalam bentuk
serbuk baik yang diumpan maupun yang disemprot ke sarang kecoa. Namun dalam
pemakaian jenis semprot harus diperhatikan khusus untuk sirip jangan disemprot terlalu
basah, karena ruang yang lembab bisa menyebabkan sirip lama mongering.
2) Tokek, cicak, dan tikus: kotoran yang membuat Gedung menjadi tercemar sehingga
burung walet tidak nyaman. Cara memberantasnya dapat menggunakan umpan tikus atau
tokek/cicak, hanya dengan cara menaruhkan umpan ke sebuah wadah lalu predator akan
datang untuk memakannya dan akan segera mati.
3) Burung hantu: kedatangan mereka bisa merusak koloni walet dalam 1 gedeung. Bila
mereka sampai masuk dan tinggal didalam, maka dipastikan Gedung akan kosong untuk
waktu lama. Cara membasminya dapat dengan memberikan umpan beracun, menembak
dengan senapan angin, atau memasang lampu sensor didekat lubang masuk burung.

Profil Peternak Walet

PT Masafante Indowalet
PT Masafante Indowalet (Masafante) menghasilkan sarang 100% murni
dan alami burung walet dari Indonesia, beroperasi di bawah lingkungan
yang berkelanjutan untuk walet. Ini semua berawal dari keluarga H. M.
Sampoerna yang telah mengkonsumsi dan menikmati manfaat dari
sarang burung walet selama bertahuntahun. Dengan ide-ide dan
dukungan dari mereka, kami memulai Masafante dengan beberapa
rumah burung untuk budidaya di Kalimantan Tengah awal Mei 2011.
Pada April 2012, kami mendirikan perusahaan sarang dimakan burung
yang terintegrasi ini dari peternakan di Kalimantan hingga ke unit
pengolahan kami di Tangerang, sampai tiba di stok kami di jantung
pusat bisnis Jakarta.Bersamaan, jaringan pasar di Singapura dibuka.
Dalam waktu enam bulan, ekspor pertama kami telah membuat jalan ke
Hongkong, dan jaringan lain telah diluncurkan ke Guangzhou dan
Shanghai, China.

DAFTAR PUSTAKA

Akoso, B.T. 2010. Sistem Kerangka Unggas. Kaninus. Yogyakarta
Arifin, dkk, 2012. Osteologi Ternak Unggas. Universitas Brawijaya. Malang
Arent LR. 2002. Avian Anatomy and Physiology. Di dalam: Colville T, Bassert JM. Clinical Anatomy & Physiology For
Veterinary Technicians. United State of America: Mosby.
Ayuti, Turaina., Garnida, Dani., dan Asmara, Indrawati Yudha. 2016. Identifikasi Habitat dan Produksi Sarang Burung
Walet (Collocalia fuciphaga) di Kabupaten Lampung Timur. Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran. Sumedang.
Bacha WJJ, Bacha LM. 2000. Color Atlas of Veterinary Histology. 2nd Edition. Philadelphia (US): Lippincott Williams &
Wilkins Pr.
Brown RE. 1994. An Introduction to Neuroendocrinology. Cambridge (UK): Cambridge University Pr
Carlson BM. 1988. Patterns Foundations of Embryology. New York (USA): MC Graw Hill Book.
Chau, Q., S. B. Cantor, E. Caramel, M. Hicks. D. Kurtin, T. Grover dan L. S. Elting. 2003. Cost Effectiveness of The Bird’s
Nest Filter for Preventing Pulmonary Embolism Among Patients with Malignant Brain Tumors and Deep Venous
Thrombosis of The Lower Extremities. Support Care Cancer, 11: 795-799.
Guyton AC. 1994. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Bagian II Ed ke-7. Alih bahasa LMA. K. A. Tengadi, M. Mawi, B.
Rahardja dan R. Tandean. Jakarta : EGC.
Junqueira CL., Arniero JC. dan Kelley RO. 1997. Histologi Dasar. Ed ke-8. Alih bahasa J. Tambayong. Jakarta : EGC.
Kent GC. 1997. Comparative Anatomy of The Vertebrates. Ed ke-9. London: Brown Publisher.
King AS. dan McLelland J. 1975. Outlines of Avian Anatomy. New York : The Macmillan Publishing Company Inc.
King AS, Mc Lelland J. 1984. Birds: Their Structure and Function. London (UK): Bailliere Tyndall Pr.
Koon, L.C. dan Cranbrook. 2002. Swiftlets of Borneo – Builders of Edible Nests. Natural History Publication (Borneo) SDN.
B.H.D. Sabah, Malaysia.
Ludders JW. 2001. Inhaled Anesthesia for Birds. Dalam Recent Advances in Veterinary Anesthesia and Analgesia:
Companion Animals (R. D. Gleed and J. W. Ludders, ed.). Ithaca : International Veterinary Information Service.
(www.ivis.org/advances/Anesthesia_Gleed/ludders2/chapter_frm.asp) [1 Maret 2007].

Marcone, M.F. 2005. Characterization of the Edible Bird’s the “Caviar of the East”.Food Res Int., 38: 1125 – 1134.
Mardiastuti, A., Y. A. Mulyani, J. Sugarjito, L. N. Ginoga, I. Maryanto, A. Nugraha dan Ismail. 1998. Teknik Pengusahaan
Burung Walet Rumah, Pemanenan Sarang, dan Penanganan Pasca Panen. Laporan Riset Unggulan Terpadi IV. Kantor
Menteri Negara Riset dan Teknologi, Dewan Riset Nasional, Jakarta.
Nalbandov AV. 1990. Fisiologi Reproduksi Pada Mamalia dan Unggas. Jakarta(ID): UI Pr.
Plopper CG. dan Adams DR. 1993. Respiratory System. dalamTextbook of Veterinary Histology. Ed ke-4. (H.D. Dellmann,
ed.). Tokyo : A Waverly Company.
Recee WO. 2009. Function Anatomy and Physiology of Domestic Animals. Iowa (US): Wiley-Blackwell Pr.
Sarengat, W. 1982. Pengantar Ilmu Ternak Unggas. Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro.
Semarang
Soehartono, T., dan A. Mardiastuti. (2003). Pelaksanaan Konvensi CITES di Indonesia. Jakarta : Japan International
Cooperation Agency (JICA).
Sofwan, A. dan P. Winarso. 2005. Rancangan Bangun Sistem Pengendali Suhu dan Kelembaban Udara Pada Rumah
Burung Walet Berbasis Mikrokontroler. AT89C51. ISBN: 979-756-061-6.
Spence AP. dan Mason EB. 1987. Human Anatomy and Physiology. Ed ke-3. California : The Benjamin/Cummings
Publishing Company, Inc.
Srigandono, B. 1997. Produksi Unggas Air. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Telford IR, Bridgman CF. 1995. Introduction to Functional Histology. Ed ke-2. New York: Harper Collins College.
Welty JC. 1982. The Life of Birds. Ed ke-3. Philadelphia: Saunder.
Welty JC., Baptista L. 1988. The Life of Birds. Ed ke-4. New York : Saunders College.
Yida, Zhang et al. 2014. In Vitro Bioaccessibility and Antioxidant Properties of Edible Bird’s Nest Following Simulated
Human Gastro-Intestinal Digestion. BMC Complementary & Alternative Medicine.
Yuanta T. 2004. Dasar Ternak Unggas. Yogyakarta (ID): Kanisius.

Thank you

KELOMPOK 9

PN


Click to View FlipBook Version