The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Book ini berisi cerita fabel dengan tokoh utama hewan Mentilin, hewan primata asli Bangka Belitung.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by auliaamanah.2022, 2023-01-01 09:30:35

Mentilin Si Tarsius Bangka

E-Book ini berisi cerita fabel dengan tokoh utama hewan Mentilin, hewan primata asli Bangka Belitung.

Keywords: fabel,mentilin tarsius,cerita anak

[Company name]

[Document title]

[Document subtitle]

acer aspire 3
[Date]

Mentilin, Si Tarsius Bangka

Di suatu hari yang mulai gelap kala sang surya telah terbenam di ufuk barat,
datanglah sebuah keluarga mentilin yang mencari tempat tinggal baru di sebuah hutan.
Hutan ini merupakan hutan tropis yang memiliki pohon-pohon rindang yang menjulang
tinggi, tempat yang sangat cocok bagi rumah baru keluarga mentilin. Kondisi hutan ini
sangat berbanding terbalik dengan kondisi hutan yang dulu keluarga mentilin tempati,
dimana disana pohon-pohon yang dahulu rindang telah ditebangi serta tanah telah dikeruk
sepuasnya demi mencari butiran timah. Tak sedikit hewan-hewan kesulitan untuk
mencari makan dan hunian untuk mereka bertahan hidup.

“Nak, ayo nak kamu keluar mengenal lingkungan baru, jangan dirumah mulu.”
Ujar Bu Mentilin pada putranya yang sejak 4 hari yang lalu hanya berdiam di pohon yang
mereka anggap rumah ini. Namun Mentilin muda hanya terdiam sambil menatap
genangan air di bawah ranting. Pandangannya kosong. Nampaknya masih merindukan
rumah lamanya.

Bu Mentilin lalu mendekat sambil menarik muka anaknya agar mata mereka
berhadapan. “Nak, ibu tau kamu masih tidak menyetujui keputusan untuk pindah kesini.
Namun mau tidak mau kita harus pindah nak, kita sudah kekurangan sumber makanan
dirumah yang lama. Ini kita lakukan agar kaum kita tidak punah. Sudah terlalu banyak
kolong timah di tempat tinggal kita yang lama. Pohon-pohon pun banyak yang ditebang
karena hal itu.” Jelas Bu Mentilin dengan lemah lembut. Ia menyadari bahwa putranya
ini masih tidak menyetujui keputusan mereka untuk pindah ke hutan yang baru.

Sambil mendenguskan nafasnya, Mentilin Muda pun menyetujui permintaan ibu
nya. Ia tahu bahwa jika ia tidak menyetujui pinta ibunya tersebut, maka pasti kedua
orangtuanya akan terus merasa bersalah akan keputusan untuk pindah ke hutan yang baru
ini. Ia tidak mau hal itu sampai terjadi. Ia akhirnya meninggalkan tempat berteduh itu
untuk sesaat, bergelantung melewati beberapa pohon serta beberapa dahan sambil
menikmati pemandangan indah. Udara yang segar pun tak luput melewati paru paru dari
mentilin muda ini.

Langkah Mentilin Muda seketika berhenti ketika segerombolan monyet yang
mirip seperti dirinya. Semangat Mentilin Muda kembali, dia akhirnya tidak merasa

sendiri kali ini. Setelah beberapa kali menghembuskan nafas untuk memberanikan diri,
Mentilin Muda akhirnya melangkahkan kaki perlahan menghampiri gerombolan itu.

“Yuhu,Teman-teman, liat ada siapa yang datang!” Ucap salah seorang monyet.

“Hai semua, aku Mentilin. Boleh aku gabung sama kalian?” Tanya Mentilin Muda.

“Anak baru?” tanya salah seorang monyet dengan tatapan dingin.

“Iya aku baru pindah kesini 4 hari yang lalu’”

“Hah? Gabung? Gak salah? Hahaha.”ucap dari monyet yang lain. Nampaknya mereka
tidak ingin menjadi teman Mentilin.

“Matanya kenapa, kok gitu sih? Matanya kita gada yang kayak gitu kali. Hati-hati copot.
Ups. Hahaha.” ejekan kompak dari segerombolan monyet itu.

“Mau gabung ya? Ayo boleh. Bantuin bawa tandan pisang ini dong. Oh pasti kamu gabisa
soalnya badan mu kan kecil.” Ucap ketus monyet yang lain sambil tertawa.

Kalimat dari mereka berhasil menusuk hati Mentilin Muda. Semua yang mereka
katakan memang fakta. Nyatanya mentilin memang memiliki mata yang besar serta tubuh
yang kecil. Sepanjang ia membuka mata, maka akan tampak selalu melotot. Bahkan
ukuran matanya itu hampir sebesar keseluruhan otaknya. Mentilin memiliki mata dengan
ukuran kira-kira 16 milimeter serta ukuran tubuh sekitar 12-15 centimeter saja, berkali-
kali lipat lebih kecil daripada monyet.

Mentilin juga memiliki berat dengan berat jantan sekitar 128 gram sementara
betina sekitar 117 gram. Menariknya, ia memiliki ekor yang panjangnya dapat melebihi
panjang tubuhnya, yaitu sekitar 18-22 cm. Begitu juga kaki belakangnya yang hampir dua
kali panjang dari tubuhnya. Di banyak ujung jarinya ada kuku. Namun, pada jari kedua
dan ketiga kaki belakang merupakan cakar yang biasa dipakai untuk merawat tubuh.
Bulunya lembut berwarna cokelat kemerahan, kadang abu-abu kecokelatan hingga jingga
kekuningan. Ia tidak menggerakkan matanya untuk melirik, melainkan menggerakkan
kepalanya untuk melihat. Keahlian itu ia dapat karena kepalanya bisa berputar hingga 180
derajat. Hal itu menjadikan mentilin berbeda dari primata lainnya. Namun Mentilin Muda
tidak menyangka mereka bisa mengatakan hal sekejam itu pada dirinya.

Mentilin Muda pun langsung bergegas meninggalkan mereka tanpa mengucapkan
sepatah kata pun. Mentilin pulang dengan diselimuti kesedihan. Saat kembali ke rumah
pohon, Mentilin Muda kembali dengan wajah murung lalu segera duduk terdiam di
ranting yang biasanya menjadi wilayah Mentilin Muda selama 4 hari ini.

“Nak, apa yang terjadi? Kenapa kamu pulang dengan wajah yang murung?” tanya Bu
Mentilin saat menghampiri Mentilin Muda. Nampak raut wajah khawatir dari Mentilin
dewasa ini.

Mentilin Muda tak sanggup menutupi tentang apa yang ia rasakan pada ibunya. “Ibu,
kenapa kita berbeda?” tanya Mentilin Muda yang disertai pecahnya tangisan. Dadanya
terasa sesak. “Aku hanya ingin punya teman bu.” Lanjutnya.

Bu Mentilin pun tak kuasa mendengar ucapan dari anak semata wayangnya ini.
Air mata langsung membasahi pipi berbulu itu tanpa ia sadari. Dia tak menyangka
Mentilin Muda akan menyimpan kesedihan yang mendalam seperti ini. Setelah mereka
bertukar perasaan, bercerita dari hati ke hati selama beberapa saat, akhirnya Bu Mentilin
mengerti apa yang anaknya rasakan.

“Nak, Kita unik. Perbedaan itu yang menjadikan kita spesial. Yang membedakan kita
hanyalah bagaimana isi hati dan sikap kita. Biarlah mereka mengejek kita, kita balas saja
perkataan mereka dengan melakukan kebaikan.” Ucap Bu Mentilin sambil mengusap
kedua pipi anaknya.

“Tapi Bu, aku hanya ingin memiliki teman.” Ucap Mentilin Muda sambil menunjukkan
raut muka sedihnya.

“Nak, jika kita berbuat baik, maka semua orang akan suka berteman dengan kita.” Ucap
Bu Mentilin sambil merangkul anaknya menatap hangatnya matahari terbit. Mereka pun
langsung berpelukan. Hari itu sedang hujan rintik-rintik, namun terasa hangat karena
pelukan tulus dari seorang ibu pada anaknya ini.

Beberapa hari kemudian berlalu, kali ini hari telah gelap. Keheningan menerpa
kesegala penjuru hutan. Mungkin ini saat yang tepat untuk Mentilin Muda memulai hari
yang baru, melupakan segala kenangan buruk saat bertemu dengan monyet beberapa hari
yang lalu ditempat ini. Mentilin Muda terpaku duduk menatap langit yang bertebaran

akan bintang. Isi pikirannya kali ini kosong, dia mengingat setiap kejadian yang monyet
lakukan padanya.

SRAK!!

Bunyi mengagetkan ini cukup untuk membuyarkan lamunan Mentilin Muda. Ia
tersentak langsung bersembunyi lalu menoleh ke arah sumber suara. Dari arah kejauhan
terlihat sosok pemuda namun agak samar. Nampak seorang manusia yang lengkap
bersenjata, ya itu pemburu. Mentilin Muda seketika ingat pada gerombolan monyet yang
tinggal di sekitar sini. Monyet pasti tidak akan tau kedatangan pemburu karena mereka
saat malam menghabiskan waktunya untuk tidur.

Namun Mentilin Muda nampak ragu melangkahkan kaki kesana. ‘Untuk apa aku
kesana, toh mereka juga mengejekku.’ Batinnya. Namun ia akhirnya teringat pesan Ibu
tempo hari bahwa kita harus membalas kejahatan orang lain dengan kebaikan. Setelah
berpikir panjang, Mentilin Muda langsung bergegas pergi ke kediaman gerombolan
monyet.

Sesampainya disana Mentilin Muda langsung membangunkan gerombolan
monyet itu yang berkisar sekitar 10 ekor monyet dengan cara menghampiri dan
membangunkan mereka satu persatu agar tidak membuat kebisingan yang bisa didengar
oleh pemburu.

“Mentilin, kenapa kamu membuat kegaduhan malam-malam begini?!”Ucap mereka
dengan nada marah.

“Stttt! Ada pemburu disana, ditempat kalian mencari makanan tempo hari. Kalau kalian
tidak bergegas sekarang, aku yakin sebentar lagi akan ada peluru menancap di kaki
kalian.”Ujar Mentilin Muda.

“Bagaimana kami tau kalau kamu tidak berbohong?” Tukas cepat salah satu dari mereka.

“Terserah kalian mau percaya atau enggak. Tetaplah disini jika kalian tidak percaya,
namun jika kalian percaya mari ikuti aku. Aku tau tempat yang aman dari pemburu.”

“Baiklah kami akan mengikutimu, tapi jika kamu terbukti berbohong, jangan pernah
kamu menginjakkan kaki lagi kesini.” Ucap para monyet. Mentilin menyetujuinya,
mereka pun bergegas pergi mengikuti arahan dari Mentilin Muda.

Ternyata Mentilin mengajak monyet bersembunyi di pohon tempat ia tinggal. Setelah
menjelaskan kepada ibunya, Bu Mentilin akhirnya menyetujui. Setelah berapa lama
datanglah Tupai yang ingin ikut bersembunyi.

“Bolehkah aku ikut bersembunyi disini? Ayahku telah tertangkap oleh pemburu.” Ucap
Tupai dengan rasa ketakutan yang tinggi.

“Boleh ayo Tupai cepat masuk kesini.” Ucap Mentilin Muda.

Sudah dua hari berlalu sejak malam itu, mereka sudah amat kelaparan sekarang.
Apalah daya, mereka tidak berani keluar karena takut bertemu pemburu kembali ketika
mencari makanan. Namun jika tidak ada satupun dari mereka keluar sekarang, maka
mereka akan meninggal perlahan bukanlah karena pemburu, melainkan kelaparan.

“Kalian tunggu disini, biar ayah akan cari makanan di sekitar sini.” Ucap Ayah Mentilin.

“Tapi yah, nanti kalo ketemu pemburu gimana?” Tanya Mentilin yang nampak khawatir
pada ayahnya.

“Kalian tak usah khawatir, tubuh ayah lebih kecil dibandingkan monyet serta tupai jadi
ayah bisa bersembunyi dengan baik. Ayah juga lebih berpengalaman dibanding kamu nak
karena ayah lebih tua.” Jelah Ayah Mentilin untuk meyakinkan mereka semua.

Setelah 2 jam pergi mencari makanan, Ayah Mentilin pun kembali dengan
membawa makanan bagi mereka semua. Namun hal yang mengejutkan terjadi, ternyata
Ayah Mentilin tertembak. Peluru panas pun berhasil bersarang di kaki sebelah kanan dari
Ayah Mentilin. Semua tampak khawatir tak terkecuali monyet dan tupai. Mereka semua
segera menghampiri Ayah Mentilin dan menolongnya.

“Ayah, bagaimana ini? Kakimu tertembak.” Tanya Mentilin Muda dengan penuh
kekhawatiran.

“Tak apa, itu hanya di kaki saja jadi tidak terlalu bahaya. Ibumu bisa mengobatinya. Mari
kita makan, setelah itu mari kita tinggalkan hutan ini, tempat ini sudah tidak aman lagi
bagi kita.”

Para monyet terdiam merasa malu melihat apa yang terjadi beberapa hari ini. Jika
saja Mentilin tidak membangunkan mereka, maka mungkin banyak dari mereka sudah
dibawa pemburu sekarang. Mereka merasa menyesal telah mengejek Mentilin tempo hari.
Mereka menyadari yang membedakan seseorang bukanlah dari fisiknya, namun dari
seberapa bersih isi hati kita. Mentilin telah membuktikan hal itu, walau dia berbeda karena
tubuhnya yang lebih kecil dan matanya yang cenderung besar, namun hal itu tak
membatasinya untuk bisa membantu orang banyak. Setelah dirasa aman, mereka pun
keluar dari persembunyian.

“Terimakasih ya Mentilin, berkat kamu kita semua bisa selamat. Maafin kita juga karena
udah ngejek kamu tempo hari.” Ucap Monyet yang tampak sangat menyesal akan
perbuatan mereka.

“Iya Monyet, gapapa kok. Aku maafin kalian semua. Lain kali jangan gitu lagi ya, Tuhan
kan emang nyiptain kita berbeda-beda bukan untuk bermusuhan, namun untuk saling
melengkapi.” Ucap Mentilin Muda.

“Iya mentilin, kita ngerasa sangat bersalah. Bu, maafin kita juga ya karena telah membuat
sedih Mentilin Muda. Kita janji kita gaakan ngulangin lagi. Terimakasih juga pak telah
mencarikan makanan untuk kami semua sehingga kami tidak mati kelaparan. Kami
berhutang budi pada kalian.” Timpal Monyet yang lain.

“Iya nak tak pelu sungkan. Kita sesama makhluk Tuhan memang harus saling tolong
menolong. Tak apa, semua makhluk hidup pasti pernah melakukan salah, namun saya
berharap kalian tidak mengulanginya lagi." Ucap Ayah Mentilin

“Iya nak ibu maafin kalian semua. Ibu juga yakin kalian telah menyesal akan perbuatan
kalian. Lain kali sering-sering kemari nak, anggap saja ini rumah kedua kalian.” Ucap Bu
Mentilin sambil tersenyum.

Sejak saat itu Keluarga Mentilin, para Monyet, dan Tupai mengungsi ke bagian
paling terpencil didaerah bangka, daerah yg masih asri, terlindungi, berupa hutan
belantara yang lain agar bisa menghindar dari pemburu. Mentilin dan para monyet pun
akhirnya bersahabat. Tak jarang para Monyet juga menginap di pohon kediaman
Mentilin. Namun mereka sering bermain disaat sore saja karena Monyet tidur dimalam

hari sedangkan Mentilin tidur di pagi hari. Mereka pun bersahabat dan hidup bahagia
selamanya.


Click to View FlipBook Version