MUSEUM BAHARI BINTAN
BUBU
Bubu adalah alat perangkap atau jebakan hewan laut dengan berbagai macam bentuk
modelnya. Salah satunya ada yang berbentuk lonjong dengan berbentuk kurungan
seperti ruangan tertutup sehingga hewan laut tidak dapat keluar karena hanya
mempunyai satu pintu masuk. Cara kerjanya, jika satu ikan masuk kedalam bubu
tersebut melalui pintu masuk maka ikan tersebut tidak akan dapat keluar dikarenakan
pintu masuk tersebut hanya satu dan tajam, sehingga memungkinkan ikan tersebut
tidak akan dapat keluar kembali.
BENTO
Bento adalah alat penangkap atau perangkap kepiting atau ketam yang dibuat secara
tradisional. Dengan bahan-bahan untuk membuat sebuah bento sangat mudah, bisa
memanfaatkan peralatan yang terdapat disekitar lingkungan seperti antara lain : kayu,
rotan, dan tali nilon. Bentuk bento ada dua macam, yaitu bento cacak dan bento apung.
Cara kerjanya, sebelum dicacak di dasar pantai, terlebih dahulu dipasang umpan pada
jaring. Kemudian baru dicacak secara berderet, setelah kurang lebih 15-30 menit lamanya
bento diangkat satu persatu dan biasanya ketam telah tertangkap di jaring tersebut.
Begitu pula cara menggunakan bento apung. Perbedaan hanya pada bentuk bento apung
berbeda dengan bento cacak. Bento apung terbuat dari bambu atau rotan secara
menyilang, lalu tiap sudutnya diikat dengan nilon dan jaring. Pada tiap tepi sudutnya
diberi pemberat agar bento tenggelam. Kemudian dipasang tali, untuk menarik ke atas
diberi tanda pengapung atau pelampung, untuk sebagai tanda ada ketam yang masuk
maka pengapung atau pelampung akan tenggelam. Bento juga tercatat dalam WBTB
(Warisan Budaya TakBenda) Indonesia.
REPLIKA RAGAM MACAM BUBU DAN BENTO
SAMPAN
Sampan adalah alat transportasi sungai dan danau yang terbuat dari berbagai kayu
tertentu yang biasa digunakan untuk menangkap ikan. Sampan masih banyak digunakan
oleh penduduk di pedalaman Asia Tenggara, khususnya masyarakat di Kabupaten Bintan.
Sampan digerakkan dengan sepasang dayung dan galah atau dapat pula dipasangi motor
di bagian belakangnya dengan sesuai kebutuhan.
SAMPAN KOLEK
Sampan kolek merupakan perahu dengan bentuk bawah yang datar dan biasanya hanya
digunakan dalam kawasan air tenang seperti sungai. Dan biasanya nelayan membawa
jaring dan bubu sebagai alat tangkap ikan, namun kadang sampan kolek digunakan
sebagai pengangkut barang atau kayu untuk menyeberangi daratan yang terpisah antara
sungai. Sampan kolek dieja sebagai "Kolea” di Pattani Thailand, dikatakan mampu
bertahan sehingga 30 tahun kerana ia dibuat 100% daripada kayu cengal yang terkenal
dengan ketahanan terhadap suhu dan cuaca persekitaran setempat.
MINIATUR SAMPAN MINIATUR SAMPAN KOLEK
SAMPAN SUKU LAUT ATAU SAMPAN KAJANG
Sampan suku laut atau sampan kajang adalah sampan kecil yang memiliki atap dari daun
kajang dan dipergunakan sebagai tempat tinggal yang selalu dipergunakan selama
mereka mengarungi lautan. Suku laut atau sering juga disebut orang laut adalah suku
yang menghuni di Provinsi Kepulauan Riau, salah satu provinsi di barat pulau Sumatera.
Istilah orang laut mencakup berbagai suku yang bermukim di pulau-pulau dan muara
sungai di Provinsi Kepulauan Riau seperti Kabupaten Lingga, Kabupaten Bintan, Pulau
Tujuh, Kota Batam, dan pesisir serta pulau-pulau di lepas pantai Sumatera Timur. Suku
Laut merupakan suatu etnis atau suku bangsa yang terdapat di wilayah Kepulauan Riau.
Mereka bukan nelayan umumnya yang saat malam pergi melaut dan saat siang datang,
pulang kembeli ke daratan. Mereka adalah suku yang ‘pantang' pulang ke daratan karena
segala aktifitas mereka di2habiskan di laut.
MINIATUR SAMPAN SUKU LAUT ATAU SAMPAN KAJANG
KELONG CACAK
Kelong Cacak adalah sebuah bangunan yang terletak di laut dan terbuat dari kayu untuk
memasang jaring di laut. Bangunan kelong cacak ditopang oleh beberapa tonggak kayu
yang di tancap ke dasar laut untuk menopang bangunan kelong, bersifat permanen dan
tidak berpindah tempat. Kelong Cacak sekarang semakin jarang digunakan karena
memakan biaya yang besar yang kurang efisien karena sifatnya hanya ditempat. Sama
seperti kelong apung, kelong cacak juga digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan
teri atau bilis.
MINIATUR KELONG CACAK
KELONG APUNG
Kelong apung adalah sebuah bangunan yang terletak di laut dan terbuat dari kayu untuk
memasang jaring di tengah laut berdasarkan dengan tempat letak yang diinginkan
nelayan dalam mencari ikan teri atau bilis. Bangunan kelong apung ditopang oleh
beberapa batang kayu dan drum plastik agar dapat mengapung di atas permukaan air
laut. Kelong apung disukai nelayan karena memiliki keunggulan tersendiri dibanding
kelong cacak (tancap), karena posisinya dapat dipindah-pindah sesuai keinginan. Biasanya
Kelong apung beroperasi pada bulan April sampai November.
MINIATUR KELONG APUNG
KAPAL PINISI
Kapal Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari suku
bugis, Makasar, Sulawesi Selatan. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan
tujuh buah layar, diantaranya tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang. Dua
tiang layar utama tersebut berdasarkan 2 kalimat syahadat dan tujuah buah layar
merupakan jumlah dari surah Al-Fatihah 7 ayat. Kapal Pinisi telah digunakan di Indonesia
sejak beberapa abad yang lalu, diperkirakan kapal pinisi sudah ada sebelum tahun
1500an.
MINIATUR KAPAL PINISI
KAPAL TUNDA ATAU TUGBOAT
Kapal tunda atau tugboat adalah kapal yang dapat digunakan untuk melakukan manuver
atau pergerakan, utamanya menarik atau mendorong kapal lainnya di pelabuhan, laut
lepas atau melalui sungai atau terusan. Kapal tunda digunakan pula untuk menarik
tongkang, kapal rusak, dan peralatan lainnya. Kapal tunda memiliki tenaga yang besar
bita dibandingkan dengan ukurannya. Kapal tunda berkekuatan antara 750 sampai 3000
tenaga kuda (S00 s.d. 2000 kW), tetapi kapal yang lebih besar (digunakan di laut lepas)
dapat berkekuatan sampai 25 000 tenaga kuda (20 000 kW). Kapal tunda memiliki
kemampuan manuver yang tinggi, tergantung dari unit penggerak.
MINIATUR KAPAL TUNDA ATAU TUGBOAT
KAPAL PENUMPANG TRADISIONAL
Kapal penumpang tradisional adalah kapal yang digunakan untuk angkutan penumpang
pada jaman dahulu dalam pelayaran antar pulau. Biasanya kapal ini memuat penumpang
dalam jumlah yang banyak dan dalam perjalanan yang memakan waktu yang lama. Kapal
penumpang tradisional ini sekarang sudah jarang digunakan karena kemajuan teknologi
perkapalan karena masalah waktu maupun kapasitas. Namun dahulu kapal ini
mempunyai pengaruh yang besar dalam perdagangan dan perantauan manusia keluar
daerah.
MINIATUR KAPAL PENUMPANG TRADISIONAL
BOT PANCUNG
Bot pancung adalah jenis perahu kecil bermotor yang merupakan sejenis kendaraan air
yang biasanya lebih kecil dari kapal dengan kapasitas penumpang yang terbatas yang
digunakan untuk transportasi antar pulau dengan perairan yang dangkal. Bot pancung
sangat efisien serta memiliki mobilitas yang tinggi dalam menyusuri wilayah pesisir pulau.
Bot pancung banyak dipergunakan di daerah Provinsi Kepulauan Riau sebagai alat
transportasi tradisional yang menghubungkan antar pulau atau desa di pesisir.
MINIATUR BOT PANCUNG
Dapur Arang
Dapur Arang adalah bangunan tempat proses pembuatan arang tradisional kuno pada
masa lampau. Bangunan Dapur Arang terbuat dari tanah, pasir dan batu yang berbentuk
setengah lingkaran dari permukaan tanah. Dalam prosesnya, pembuatan arang tersebut
berasal dari kayu bakau yang terdapat dari pesisir pulau. Dapur Arang juga termasuk
dalam situs Cagar Budaya yang terdapat di Kabupaten Bintan.
MINIATUR DAPUR ARANG
BUKIT KERANG
Bukit Kerang adalah situs prasejarah yang terletak di kawal darat, salah satu peninggalan
prasejarah zaman mesolitikum dalam mengumpulkan makanan tingkat lanjut nusantara
(kjokenmodinger). Bukit Kerang berkembang sejak sekitar 5000 tahun sebelum masehi.
Oleh karena itu Bukit Kerang juga termasuk dalam situs Cagar Budaya yang terdapat di
Kabupaten Bintan.
MINIATUR BUKIT KERANG
KAPAL LANCANG KUNING
Kapal Lancang Kuning adalah sejenis kapal layar dari Provinsi Riau masyarakat Melayu
Riau. Lancang (juga ditulis sebagai lanchang atau lancha). Kapal Lancang Kuning
digunakan sebagai kapal perang, kapal pengangkut, dan sebagai kapal kerajaan.
MINIATUR KAPAL LANCANG KUNING
KAPAL FERI
Kapal feri adalah sebuah kapal transportasi antar pulau yang waktu tempuhnya
disesuaikan berdasarkan tujuannya jauh maupun dekat. Kapal Feri banyak beroperasi di
Provinsi Kepulauan Riau, karena berdasarkan letak geografis Provinsi Kepulauan Riau
yang memiliki banyak pulau. Oleh karena itu kapal feri mempunyai peranan penting
dalam sistem pengangkutan bagi masyarakat Provinsi Kepulauan Riau. Seperti pelayaran
antara Tanjungpinang ke Batam atau Bintan ke Batam serta wilayah Provinsi Kepulauan
Riau dan sekitarnya.
MINIATUR KAPAL FERI
SPEED BOAT
Speed boat adalah perahu yang memiliki mesin motor sebagai tenaga penggeraknya yang
dipasangi mesin dalam. Speed boat juga ada yang memiliki mesin tempel yang dipasang
di bagian belakang luar, memuat mesin pembakaran dalam, kotak gigi dan baling-baling
dalam sebuah unit portabel. Speed boat juga banyak dapat di jumpai di perairan Provinsi
Kepulauan Riau yang dengan mudah dan cepat dalam menempuh tujuan. Hal itu
dikarenakan kapasitas penumpang yang sedikit, namun tenaga yang kuat. Hanya saja
Speed boat dapat digunakan untuk jarak tempuh yang terdapat didalam perairan Provinsi
Kepulauan Riau, dikarenakan bentuk dan ukurannya yang kecil sehingga tidak efektif
dalam menempuh antar Provinsi di Indonesia.
MINIATUR SPEED BOAT
RAKIT
Rakit adalah susunan kayu yang datar sehingga dapat mengapung dia air. Rakit
merupakan rancangan perahu paling dasar, yang tak memiliki lambung. Sebagai gantinya,
rakit dijaga mengapung menggunakan gabungan bahan ringan seperti kayu, bambu atau
buluh, bergantung pada penggunaan dan ukuran rakit tersebut. Rakit bisa memiliki atap,
tiang, maupun kemudi. Rakit biasanya digunakan untuk transportasi manusia maupun
pengiriman barang dan jasa secara tradisional hingga pertengahan abad ke-20 hingga
sekarang. Namun sekarang rakit Jarang digunakan karena kemiajuan teknologi
transportasi air. Akan tetapi sekarang rakit tradisional banyak digunakan untuk
kepentingan wisata air.
MINIATUR RAKIT