DAFTAR ISI
THE LAST DAY
Daftar isi ....................................................................................................... 1
Bab 1 ............................................................................................................ 1
Bab 2 ............................................................................................................ 4
Bab 3 ............................................................................................................ 7
Bab 4 ............................................................................................................ 12
Bab 5 (Penutup)............................................................................................ 15
Warning & Reminder ................................................................................... 13
BAB 1
Namaku Mentari, Aku mengidap penyakit
Leukimia sejak kecil. Cara Bertahan hidupku adalah
dengan meminum obat-obatan dari Dokter. Liburan ku
diisi dengan pulang pergi ke Rumah Sakit. Lelah
rasanya memperpanjang hidup dengan cara yang tidak
seperti teman-temanku yang lainnya.
“Tari, kamu sudah minum obat nya nak?
Istirahat ya setelah itu” ucap ibu ku setiap harinya. Aku
tinggal berdua bersama ibuku, ibuku mempunyai Toko
Bakery yang sangat terkenal dengan rasanya yang
enak.
“Mentari, jaga kesehatanmu terus ya!” chat Marcel setiap hari sampai aku bosan. Dia
Marcel, pacarku dari lulus SMP. Dia selalu menemaniku dan juga selalu menjagaku,
dia sudah berkuliah di salah satu Universitas Yogyakarta. Saat ini dia tidak bersamaku
karena sibuk dikuliahnya. Aku tinggal di Bandung, aku menjalani masa SMA ku
berbeda dengan teman-temanku, lagi-lagi berbeda. Setelah lulus SMP keadaanku
semakin lemah yang mengharuskan aku sekolah Private dirumah sambil menjalankan
perawatan khusus. Tapi setiap harinya aku berdoa kepada Tuhan agar bisa
bersekolah di sekolah yang sama dengan sahabat-sahabatku. Rasanya aku ingin
sekali menghabiskan waktuku yang tidak panjang ini bersama dengan mereka
orangorang yang ku sayangi.
“ibu, Mentari ingin sekolah di SMA Angkasa apa boleh?” ucapku kepada ibu. “Kenapa
Tari? Keadaan mu memang sudah meyakinkan?” ucap ibuku sambil menghampiriku.
“Aku sudah 2 tahun sekolah private rasanya sepi bu, aku ingin lulus bersama teman-
temanku” ucap Mentari sambil memeluk ibu.
“Kalau begitu, kamu yakinkan ibu dengan menjaga kesehatan mu sampai kenaikan
kelas tiba. Tetapi kalau keadaan mu tidak berubah, kamu akan tetap melanjutkan
sekolah private mu sampai lulus ya Tari” Ucap ibu sedikit khawatir dan membalas
pelukanku.
“Siapp bu, Mentari pasti sehat” ucap Mentari kegirangan.
Akhirnya aku mencoba untuk rutin meminum obat-obatku dan berolahraga sedikit
untuk membuat tubuhku sedikit demi sedikit lebih sehat dan kuat. Aku menjalankan
sekolah Private ku dengan giat agar aku bisa memasuki kelas 3 di SMA Angkasa.
“Hai Marcel, aku mau bersekolah di SMA Angkasa lho! Aku akan lulus bersama teman-
temanku yang lainnya! Ibu juga sudah mengizinkan” chat ku kepada Marcel melalui
WhatsApp.
1
“Mentari jangan dipaksakan jika keadaanmu tidak sehat ya! Aku turut bahagia jika
kamu bahagia, tetapi jangan lupa untuk terus menjaga kesehatanmu jika kamu sudah
bersekolah di SMA Angkasa nanti” balas Marcel begitu khawatir.
“Aku tidak apa-apa Marcel, kamu cepat ke Bandung supaya kamu lihat betapa
sehatnya aku sekarang.. Ayo main sebelum aku sibuk sekolah hahaha” balas ku
sambil meledek Marcel yang sedang khawatir.
“Iyaa setelah skripsi ku selesai aku pasti akan menghampiri mu.. Jaga kesehatanmu
yaa.. Aku menyayangimu Mentariku!” balas Marcel sedikit tenang.
Setelah panjang nya chatan kami, aku segera mandi dan bersiap-siap ke Gramedia
untuk membeli kebutuhanku yang lainnya untuk bersekolah.
“Tarii, sebelum ke Gramedia kita ke Dokter dulu ya untuk memastikan keadaan mu!”
ucap ibu sedikit teriak dari lantai bawah rumahku.
“Ibuu aku itu baik-baik saja lho, kenapa harus ke Dokter?” ucapku sambil turun dari
tangga dan menghampiri ibu.
“Kamu mau sekolah tidak?” ucap ibuku sedikit meledek.
Saat di Dokter, keadaanku dinyatakan baik-baik saja dan kuat menjalani aktivitas hari
ini tapi tidak boleh lupa untuk meminum obat. Aku hanya di suntik imun agar
menguatkan tubuhku untuk berjalan seharian. Sesampainya di Gramedia, aku merasa
senang karena dapat menhirup udara lain setelah sekian lama hanya menghirup
udara kamar, rumah dan rumah sakit.
“Ibu tas ini cocok tidak denganku, aku menyukai warna peach yang ada di tas ini”
ucapku sambil memakai tas yang kupilih.
“Bagus, kamu memang cocok memakai apapun” Ucap ibu gembira melihat senyumku.
“Ibu lihat bunga mawar itu, apa boleh ku beli?” ucap aku sambil menujuk bunga
mawar.
“iya sayang,ibu belikan untukmu.. Sekarang kita makan dulu ya,sudah jamnya untuk
kamu minum obat. Kamu mau makan apa Tari?” ucap ibu sambil merangkul ku.
“Ayo kita makan bakso bu” ucapku gembira.
Setelah makan, ibu benar membelikanku Bunga Mawar Merah yang indah. Hari ini
cukup lelah tapi membuatku gembira.
“Sudah terbeli semua apa mau mu Tari? Mari pulang, ibu mau cek toko” ucap ibu
memandangiku.
“Sudah bu, mari kita pulang” ucapku tersenyum kepada ibu.
Diperjalanan aku melihat ke kaca mobil sambil memandangi indah pemandangan
Bandung disaat malam yang jarang bisa aku lihat dikala aku harus perawatan
2
intensive. Rasanya aku ingin sekali merasakan hal ini bersama keluarga kecil kun anti,
tapi sepertinya waktuku tidak sampai kesana. Tak terasa mengalirlah darah di
hidungku tapi aku tidak ingin menunjukannya kepada ibu, aku tau ibu pasti akan
khawatir dan melarangku sekolah nantinya. Aku berpura-pura tidur sambil menyumbat
hidungku dengan sapu tangan yang baru saja kubeli tadi.
“Mentari kamu pesan paket apa nak, ada di depan pintu rumah begini?” Ucap ibu
sesampainya dirumah.
“Aku tidak pesan barang apapun bu, coba aku lihat” ucapku kebingungan.
“Mentari aku membelikan hoodie ini untukmu, pakai ini disaat kamu bersekolah nanti
ya.. Tunggu sampai aku bisa menghampirimu di Bandung Mentariku” – Marcel
Digantara. Tulisan secarik kertas yang ada didalam paket itu.
3
BAB 2
Setelah hari-hari berlalu, akhirnya tiba hari dimana aku akan menginjakan kakiku di
SMA Angkasa. Pagi tiba aku sudah bersiap-siap dengan gembira untuk berangkat
sekolah.
“Mentari ini bekal untukmu, jangan lupa bawa obatmu. Kamu sudah kabarin Mutia
kamu akan bersekolah disana?” Ucap ibu sambil memasukan bekal kedalam tasku.
“Aku mau mengkagetkan dia dengan kehadiranku disana bu, makanya aku hanya
memberi tau Marcel kalo aku akan bersekolah” Ucap ku sambil menghabiskan
sarapanku dan segera meminum obatku.
“Permisi nona, apakah nona Mentari sudah siap saya antarkan ke sekolah barunya?”
ucap Marcel yang tiba-tiba saja datang menghampiriku.
“Eh nak Marcel, ibu kira siapa tiba-tiba mau antar anak ibu” ucap ibu terkejut. “Marcell,
ko kamu ga bilang kalo mau kesini? Parah banget” ucapku terkejut senang melihat
Marcel datang untuk mengantarku sekolah.
Selama perjalanan menuju sekolahku, aku banyak cerita terhadap Marcel dengan
berbagai ekspresi yang mewakilkan keadaanku sesuai dengan cerita yang ku
keluarkan. Marcel dengan sabar menanggapi semua ceritaku dengan tersenyum
tulus. Itulah hal yang sangat ku suka dari Marcel, tatapan tulus dan senyum manis
yang selalu ia lontarkan kepadaku.
“Aku sangat suka melihatmu tersenyum seperti ini Mentari, suaramu adalah candu
terbesar di hidupku. Jaga kesehatanmu terus ya Mentariku, aku harap aku akan
melihat senyum mu terus nanti di setiap bangun tidurku” ucap Marcel sambil
menatapku.
“Marcel marcel dari dulu selalu puitis ya, terimakasih Marcel pa bos ku! Aku sekolah
duluu, byee byee” ucapku sambil keluar pintu mobil dan berjalan ke gerbang sekolah.
Aku sampai dan masi berdiam di ruang guru sambil
menunggu bel tiba, aku senang karena mendapat kelas
yang sama dengan sahabatku Mutia. Bel tiba aku sangat
merasa berdebar bisa melihat kelas yang akan membawa
ku untuk lulus nantinya, telebih lagi melihat ekspresi Mutia
yang akan melihatku sekelas dengannya.
“Baik anak-anak pada hari ini kelas kita kedatangan murid
baru. Dia bukan pindahan dari sekolah lain, tetapi dia dari
sekolah private dirumah nya. Mari masuk dan perkenalkan
dirimu didepan teman-teman baru mu nak” ucap Ms Tisha
wali kelas di 3A SMA Angkasa.
“Mentariiii” triak Mutia melihatku memasuki kelas 3A.
4
“Halo semuanya, perkenalkan nama saya Mentari, Saya harap teman-teman semua
bisa menerima saya dikelas ini. Terimakasih” ucapku gugup didepan kelas.
“Mentari ya? Duduk disebelahku saja sini ahaha” Ucap pria yang bernama Zidan.
“Zidan gausah macem-macem kamu sama Mentari” Ucap Ms Tisha.
“Mentari duduk sama saya aja Miss, dia sahabat saya dari SMP” Ucap Mutia.
“Yasudah Mentari silahkan duduk bersama Mutia dan berkenalan dengan teman-
teman yang lain ya. Enjoy dikelas ini Mentari” Ucap miss Tisha kepadaku.
Selama sekolah aku banyak cerita kepada Mutia, cerita-cerita keseharianku selama
Sekolah Private dirumah, aku sudah lama tidak berjumpa dan berkomunikasi dengan
Mutia. Mutia bilang dia sangat bergembira bisa satu kelas denganku di SMA Angkasa.
“Mentari, kamu masih pacaran dengan ka Marcel?” ucap Mutia.
“Masih dong, dia begitu manis jika aku tinggalkan haha” ucap aku meledek Mutia.
“Waw, kalian langgeng banget kalian. Aku kapan nyusul ya” ucap Mutia.
“Tadi yang antar aku kesini juga Marcel, kapan-kapan kita main ya mumpung Marcel
masi di Bandung” ucap aku.
“Ka Marcel dari Yogya kesini buat anter kamu sekolah?” ucap Mutia kaget.
“Entahla mungkin dia mau ambil sesuatu juga dirumahnya untuk urusan skripsi” ucap
aku jadi bingung.
Saatnya pulang sekolah, Marcel lah yang menjemputku. Sebelum pulang Marcel
mengajak ku berkeliling di alun-alun Bandung. Aku sangat senang menjalani hari ini
seperti temanku yang lainnya walau harus tetap memperpanjang hidupku dengan
obat-obatan.
“Mentari, kamu sudah meminum obatmu?” ucap Marcel.
“Hmm sudah ko, ayo Marcel kita jalan-jalan. Aku tidak ingin memikirkan penyakitku
saat ini” ucap aku.
Sebenarnya aku belum meminum obatku dari tadi, aku ingin sekali saja aku
merasakan hidupku seperti manusia lain yang tidak memiliki penyakit sepertiku.
Sedari kecil yang kutemui yang ku telan hanyalah obat dan obat.
“Mentari, ini bunga mawar merah yang cantic dan indah seperti mu” ucap Marcel
sambil memberikanku bunga mawar merah yang begitu indah dan harum.
“Terima-“ Sebelum menyelesaikan ucapanku, darah mengalir dari hidungku dan aku
terjatuh pingsan didepan Marcel.
5
“MENTARII!!” teriak Marcel panik dan khawatir sambil menggendongku ke mobil.
Marcel membawaku ke rumah sakit terdekat dari alun-alun Bandung, dia menelefon
ibuku untuk memberi tau keadaanku saat ini. Ibuku menutup toko dan langsung
menghampiriku ke Rumah Sakit dengan penuh rasa khawatir.
“Nak Mentari, kamu tidak meminum obatmu hari ini ya?” ucap bu Dokter.
“Dok, please dok jangan bilang ke ibu dan pacarku mengenai hal ini. Mereka akan
melarangku untuk bersekolah besok” ucapku memohon pada bu Dokter.
“Tapi keadaanmu saat ini sangatlah parah Mentari, obat itu sangatlah penting untuk
kondisi mu yang penuh dengan aktivitas kali ini” ucap bu Dokter.
“Mentari hanya ingin menjalankan hari-hari Mentari seperti teman-teman lainnya.
Mentari janji klo bu Dokter ga bilang ibu dan Marcel, Mentari bakal minum obat dengan
rajin” ucap Mentari meyakinkan bu Dokter.
“Yasudah, saya akan membuatkan resep obat untuk membantu mengembalikan imun
mu yang berkurang sekaligus menambah obat booster untuk kondisi saat ini. Diminum
dengan rajin sampai habis ya nak Mentari” Ucap Dokter dengan pasrah.
Akhirnya Bu Dokter hanya menyampaikan bahwa aku hanya kecapean dan butuh
istirahat sebentar kepada Ibuku. Beribu-ribu kali tanpa henti Marcel minta maaf
kepadaku dan Ibu “Maaf Marcel, tapi ini semua salahku bukan salahmu” ucapku dalam
hati. Sesampainya dirumah Marcel menggendongku sampai ke kamar karena kondisi
ku yang masi belum mampu untuk berjalan dan berdiri.
“Mentariku, maaf ya aku membuat mu lelah sampai pingsan hari ini” ucap Marcel
sambil mengusap kepalaku.
“Istirahat yang cukup Mentari, agar aku bisa melihat senyummu lagi besok dan
mendengar cerita-cerita mu. Aku pamit pulang dulu Mentari, sampai jumpa besok”
ucap Marcel sambil menyelimuti dan mencium keningku.
6
BAB 3
Keesokan pagi nya aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah lagi, aku menuruni
tangga dan menuju ruang makan untuk menghampiri ibu dan sarapan. “Tari, kamu
yakin untuk bersekolah saat ini?” Ucap ibu gelisah sambil mengelus kepalaku.
“Tari udah gapapa bu, kemarin cuman ngantuk ko” ucap aku berusaha menenangkan.
“Yasudah kalau kamu yakin, dimakan ya bekal dari ibu, jangan lupa meminum obat
mu hari ini. Sebentar lagi Marcel dating menjemputmu” ucap ibu.
Tidak lama kemudian Marcel dating dan langsung membawakan tasku ke mobil dan
menggandengku masuk ke dalam mobil.
“Marcelll, ini baguss bangett!!!” Teriak aku sontak kaget melihat bucket bunga mawar
indah yang ada di kursi mobil.
“Bunga Mawar ini untuk mengganti bunga kemarin yang tertinggal di alun-alun
Mentari. Aku meninggalkannya disana karena terkejut dengan pingsan mu.
“Terimakasih banyak Marcel, aku bahagia pagi ini” Ucapku terlalu bergembira.
Tiba disekolah aku menjalani hari sekolah ku dengan Mutia seperti biasanya.
3 bulan berlalu aku menjalani sekolahku dengan rutin meminum obat-obatku dengan
rutin. Berusaha menjalankan penyakitku tanpa diketahui teman-teman sekolah ku
yang lainnya. Aku berusaha sehat dan menujukan ke mereka bahwa diriku tidak
mempunyai penyakit apapun.
“Mutia, kamu kapan punya pacar supaya kita bisa double date haha” Ucapku kepada
Mutia.
“Hmm, aku belum kepikiran buat pacaran tuh” Ucap Mutia.
“Ohiya Mutia baterai handphoneku habis, boleh pinjam hp mu ga? Buat kabarin
Marcel” ucapku kepada Mutia.
“Bolehh, ni pakai aja. Aku ke kamar mandi dulu ya Tari” ucap Mutia sambil
memberikan handphone nya kepadaku.
Aku mengabari Marcel dan menunggu Mutia yang tak kunjung kembali dari kamar
mandi. Aku tak sengaja melihat ada folder memo bertulis “HIM” di HP Mutia, dengan
iseng dan berpikir bahwa Mutia sedang menyukai seseorang aku membuka folder
tersebut. Dengan kagetnya aku melihat foto Marcel saat SMP lah yang terlihat jelas
didalam Folder itu.
7
“Marcel Digantara, sahabat kecilku. Aku jatuh cinta padamu dengan seiring waktu
berjalan di masa- masa itu. Tetapi, disaat sudah besar kamu memilih sahabatku yang
kukenalkan kepadamu Mentari Lumena. Kupikir hubungan kalian tidak akan lama,
karena Mentari yang mempunyai riwayat Leukimia yang parah. Sampai detik ini aku
masih menunggumu dan mencoba berkomunikasi kepadamu. Tapi kau selalu saja
sibuk dan tidak membalas telefonku. Semenjak bersama Mentari kau melupakan aku
begitu saja. Aku marah aku kesal, tapi karena aku tau umur Mentari tidak akan lama,
aku biarkan kamu berkelana dengannya. Sampai akhirnya Mentari pergi, aku akan
berusaha menghibur dan menarik hatimu kembali padaku. Marcel Dirgantara”
Aku kaget dan sangatlah kacau membaca isi memo yang ada pada ponsel sahabatku
itu. Aku tidak pernah sadar bahwa dia menyukai Marcel sedari kecil, selama ini dia
yang selalu mendengarkan ceritaku. Tapi aku tidak pernah mendengar ceritanya. Apa
aku begitu jahat kepada Mutia? Dia selalu menjaga ku sambil menahan rasa sakit
karena aku bersama dengan Marcel? Tuhan aku harus apa?
“Mentari, udah chat Marcel nya? Aku mau pulang ni, Mamaku sudah jemput didepan”
Ucap Mutia mengkagetkanku.
“Ee ii-iyaa Muti, makasih ya” Ucapku sedikit gugup sambil menahan tangis. “Kamu
gapapa kan Mentari? Apa kamu mau aku tungguin sampai Marcel datang?” ucap
Mutia khawatir.
Mutia kamu terlalu baik untuk diriku sejauh ini, biarkan aku membalas semua
kebaikanmu suatu saat nanti.
“Tidak usah Mutia, Marcel sudah dekat” Ucap aku.
“Yasudah aku pulang duluan ya” Ucap Mutia sambil menuju keluar gerbang.
Aku tidak menghampiri Marcel aku pergi ke sebuah taman untuk menenangkan diriku
saat ini. Aku memang tidak mengetahui banyak jalan di Bandung karena terlalu lama
diam dirumah. Tapi aku tidak mau Marcel melihatku dengan keadaan menangis
seperti ini. Aku duduk ditengah taman yang sepi diterpa angina yang sejuk. Aku
bingung harus apa. Setelah berjam-jam kemudian,
“Astaga obatku tertinggal di sekolah” Ucapku kaget saat merogo tas untuk mencari
obat.
Aku berlari ke sekolah untuk mengambil obatku, karena aku tidak tau jalan pulang.
Tetapi gerbang sekolah sudah ditutup dan tidak ada satpam, handphone ku mati dan
aku sudah sangat bingung harus bagaimana. Aku kembali ke taman bunga dan
berharap Marcel akan dating untuk mencariku disana. Tetapi sampai malam, Marcel
tak kunjung datang. Aku sudah lemah tidak berdaya, tidak bisa berdiri dan berjalan.
Disini sepi tidak ada
8
orang, darahku terus keluar dari hidungku. Aku hanya terkapar tiduran di tengah taman
sambil memandang langit dan berkata ke pada Tuhan.
“Tuhan jika hari terakhirku tiba, apa boleh aku melihat mereka orang-orang yang
meyayangi ku dari jauh sana? Aku ingin mereka mengantarku pulang kerumahmu
dengan senyuman bukan tangisan. Aku tidak ingin melihat Ibu,Marcel dan Mutia
menangis karena hari terakhirku telah tiba. Biarkan mereka bahagia disini walau tidak
lagi bersamaku. Aku siap Tuhan untuk pulang bersama mu”
Aku pun menutup mataku, tetapi darah terus saja mengalir dari hidungku.
“Ibu aku sama sekali ga ketemu dengan Mentari, Ibu aku sangat khawatir dengannya”
Ucap Marcel gelisah setelah berjam-jam mencariku kemana-mana.
“Marcel, Ibu juga khawatir sama anak ibu. Seharusnya ibu ga biarkan dia sekolah, Ibu
salah besar Marcel” Ucap Ibu dengan menangis dan menyesal.
“Ibu, maafin Marcel bu. Seharusnya Marcel terus menjaga Mentari, Marcel janji Marcel
akan menemukan Mentari bu. Marcel akan coba telfon Mutia” Ucap Marcel sambil
memeluk ibu dan berusaha menenangkan ibu.
Marcel menelfon Mutia, tetapi Mutia sama sekali tidak menjawab telfon Marcel. Mutia
tidak mau berharap lebih kepada Marcel saat ini, semenjak bertemu dengan Mentari
ia memutuskan untuk berhenti mengharapkan Marcel karena melihat begitu
sayangnya Marcel terhadap Mentari.
“Mutiaa ayo angkat Mutia” Ucap Marcel gelisah.
“Ibu kalau gitu, ibu tunggu disiniya. Marcel akan kerumah Mutia, Ibu disini kabari
Marcel jika Mentari pulang ya bu” Ucap Marcel sambil memegang pundak ubu.
“Iya sayang, tolong temukan anak ibu ya Marcel. Hati-hati dijalan” Ucap Ibu sambil
mengusap air matanya.
Selama perjalanan menuju rumah Mutia mata Marcel tetap terus melingak linguk ke
jalan berharap ia menemukan badan mungil mentari.
“Mentariku, kamu dimana? Aku tidak mau kamu tinggalkan seperti ini, Aku rindu
tatapan dan senyum manis mu Mentari” Ucap Marcel diperjalanan.
Setibanya dirumah Mutia, Marcel terus mengetok pintu rumah Mutia dan memanggil
Mutia bahkan memanggil Mentari. Harapan Marcel adalah Mentari bersama dengan
Mutia dirumahnya sedang bermain. Tetapi Mutia ragu membukakan pintu untuk
Marcel, karena ia berusaha untuk tidak melihat wajah Marcel.
“Ka Marcel ngapain kesini si, Dia mau buat aku berharap lebih lagi atau gimana si?!”
Ucap Mutia kesal dari dalam rumahnya.
9
“MENTARIII APA KAMU DIDALAM?” Teriak Marcel begitu keras.
“Ha? Ka Marcel cari Mentari?” ucap Mutia kebingungan.
Karena begitu bingung disaat Marcel meneriaki Mentari,akhirnya Mutia membukakan
pintu rumahnya dan menemui Marcel.
“Mutia Mutia tolong bilang sama aku, Mentari sama kamu” Ucap Marcel tergssa-gesa
penuh harapan.
“Lho ka? Bukannya tadi kata Mentari dia nungguin ka Marcel jemput ya? Aku sendiri
dirumah ga sama Tari” Ucap Mutia dengan penuh kebingungan.
“Tuhan, dimana lagi aku harus mencari Mentariku?!” Ucap Marcel sambil bersandar
ke tembok dan memukul kepalanya.
“Ehh Ka Marcel, ada apa kaa? Ada apa dengan Tari? Jawab ka! Mentari kenapa?!”
Ucap Mentari panik melihat reaksi ka Marcel yang seperti itu.
“Mutia, kamu mau bantu aku mencari Mentari? Dia tidak bersamaku dari sepulang
sekolah tadi” Ucap Marcel pasrah dan memohon kepada Mutia.
Akhirnya Mutia dan Marcel mengelilingi Kota Bandung untuk mencari Mentari. Tiba
Pukul 9 Malam, tetapi Mentari tidak juga ditemukan. Marcel dan Mutia sudah
sangatlah lelah dan tidak bertenaga, seharian mencari Mentari membuat mereka lupa
akan makan dan minum.
“Ka Marcel, bolehkan kita makan dan minum dulu sebentar? Lalu kita lanjut mencari
Mentari” ucap Mutia kepada Marcel.
“Kalau aku makan apakah Mentari bisa bertemu? Kalau aku makan apakah Mentari
juga sudah makan dan meminum obatnya? Disaat seperti ini aku hanya memikirkan
Mentari bukan diriku.” Ucap Marcel dengan tegas.
“Ka Marcel aku tau ka Marcel khawatir, tapi kalau ka Marcel ga makan Ka Marcel ga
akan ada tenaga untuk mencari Mentari. Mungkin juga Mentari akan sedih melihat Ka
Marcel ga makan hanya untuk mencari dia” Ucap Mutia berusaha membujuk Marcel.
“Yasudah kita makan di pinggir taman itu, tapi juga harus lihat sekitar aku harap
Mentari sedang berjalan disekitar sini” ucap Marcel.
“Begitu tulus sayangmu terhadap sahabatku Marcel, apakah memang tidak ada
kesempatan untuk aku masuk kedalam hati mu?” ucap Mutia dalam hati.
Selama makan Marcel tak berhenti untuk terus menoleh ke kanan dan ke kiri dan terus
berharap Mentari tertemu saat itu juga.
“Lho ko banyak warga ya disana pa? Ada acara kah ditengah taman itu?” ucap mutia
heran dan bertanya ke Pedagan nasi goreng.
10
“Ohh itu neng, katanya ada perempuan pingsan penuh darah mimisan neng di taman”
Ucap Pedagang.
Saat mendengar hal itu Marcel langsung berlari menuju ke tengah taman dengan
penuh khawatir.
“Ka Marcelll!!!” Teriak Mutia kaget melihat Marcel langsung berlari.
Saat sampai ditengah Taman, sudah tidak ada perempuan yang tergeletak disana.
Marcel hanya melihat begitu banyak nya darah yang ada di taman itu.
“Pa bu, perempuan yang pingsan ini dimana ya?” Ucap Marcel bertanya-tanya.
“Ohh sudah dibawa pake ambulans mas ke Rumah Sakit diujung jalan situ. Mas ini
tau mba nya siapa toh?” Ucap bapa bapa yang ada disana.
“Makasi banyak pa” Ucap Marcel langsung bergegas ke mobil.
“Piye toh? Langsung pergi gitu aja” ucap bapa bapa yang menjawab pertanyaan
Marcel.
Marcel dan Mutia pun langsung ke Rumah Sakit untuk meyakinkan perempuan itu
Mentari atau bukan. Marcel yakin bahwa itu adalah Mentari karena setiap Mentari
pingsan pasti Mentari mengeluarkan darah di hidung nya.
11
BAB 4
“Mentari, bangun sayang ini Ibu. Ibu sudah bersamamu sekarang” Ucap ibu menangis
memegang tanganku.
“Mentariku bangunlah, aku mau kamu bersinar kembali dan menjalani harimu
bersama ku” Ucap Marcel menangis disamping Mentari.
“Mentari, sebenarnya apa yang terjadi dengan mu sampai seperti ini? Kamu banyak
mengeluarkan darahmu Mentari. Ayo bangun Mentari” Ucap Mutia menangis
sesegukan.
Aku Mentari Lumena berhasil ditemukan ditengah taman oleh pacarku dan
sahabatku. Aku pikir aku sudah tidak ada, tapi Tuhan mengizinkan aku membuk
mataku untuk melihat mereka yang tengah khawatir melihat keadaanku saat ini.
“Ibu, Marcel, Mutia. Kalian kenapa menangis?” Ucapku saat membuka mataku.
“Sayang, ibu ga nangis nak. Ibu bangga kamu sudah kuat sayang melewati apa yang
telah terjadi sama kamu, nanti ketika kamu sudah sehat ceritakan semua ke ibu apa
yang terjadi ya sayang” Ucap ibu tersenyum melihat aku membuka mataku.
“Mentari terimakasih sudah kembali kepadaku Mentari, maaf lagi-lagi aku ceroboh
untuk menjagamu maaf Mentari” ucap Marcel penuh tangis sambil menggenggam
tanganku.
“Aku gapapa ko, aku baik-baik saja. Kalian jangan khawatir ya” Ucapku berusaha
menenangkan mereka.
“Ibu, terimakasih ya sudah mau merawatku sampai saat ini. Lihatlah Putri kecilmu
sudah sampai pada titik ini bu. Menjadi Mentari yang bersinar kan seperti yang ibu
mau” ucapku memandang ibu.
“Iya nak, ibu bangga dengan kamu. Sama-sama ya sayang” Ucap ibu mengelus
kepalaku.
“Mentari, kamu akan baik-baik saja kan Mentari” ucap Mutia sambil mengusap air mata
yang terus mengalir.
“Aku gapapa Mutia, terimakasih telah menjadi sahabat yang baik dan selalu berkorban
untuk kebahagiaanku Mutia.Izinkan aku membalas kebaikan mu suatu saat nanti”
Ucapku kepada Mutia.
“Bolehkah aku berbicara dengan Marcel berdua ibu? Ucapku kepada ibu.
Akhirnya Ibu dan Mutia meninggalkan aku dan Marcel berdua. Mereka akan mencari
makan dan minum di kantin katanya.
“Ada apa Mentariku? Kamu ingin memarahiku ya? Karena aku gagal menjaga mu”
Ucap Marcel duduk disampingku.
12
“Tidak Marcel, aku berterimakasih kepada mu karena selalu memberi warna di
hidupku. Menerima segala keputusan bahkan keadaanku yang seperti ini. Kamu
begitu baik Marcel, bolehkan sekali lagi aku membuat keputusan dan kamu menyetujui
nya Marcel?” ucapku sambil memegang tangan Marcel.
“Apa Mentariku? Apa yang kamu mau?” ucap Marcel.
“Aku mau kamu meneruskan hidupmu dengan mengingatku tanpa tangisan melainkan
senyuman. Aku mau kamu menggantikan posisi ku dengan wanita yang selalu
berusaha untuk ada kepadaku selain ibuku. Tolong jaga selalu ibuku ya Marcel,
temani dia disaat aku sudah tidak bisa berada di sisinya” Ucapku menangis terhadap
Marcel.
“Kamu kenapa berbicara seperti itu Mentari? Aku hanya ingin kamu” Ucap Marcel
kaget mendengar ucapanku.
“Please Marcel untuk terakhir kalinya aku memohon padamu di hari ini” ucap aku
menangis memohon pada Marcel.
“Mentari, permintaan mu kali ini sangatlah aneh. Seperti kamu yakin bahwa kamu tidak
sembuh Mentari, Kamu akan sembuh. Percayalah!” ucap Marcel menahan tangis.
“Aku tau kamu kecewa terhadap ucapanku Marcel tapi bolehkah untuk terakhir kalinya
aku melihat senyum mu Marcel?” Ucapku mengusap pipi Marcel. “Iya Mentariku”
Ucap Marcel dan tersenyum meneteskan air mata.
Setelah Marcel tersenyum, Mentari menutup mata nya dan tangan nya jatuh usai
memegang pipi Marcel. Marcel yang melihat kondisi Mentari yang seperti itu sangatlah
kaget dan berlari memanggil Dokter untuk mengecek keadaan Mentari.
“Mentari apakah benari ini The Last Day ?” Ucap Marcel menangis.
“Apakah ini hari terakhir ku menatap mata indah mu? Aku bahkan belum sempat
memberikan bunga Mawar kesukaan mu Mentari” Ucap Marcel merenung memegang
kepala nya.
“Apa yang terjadi Marcel, kenapa Dokter dan suster buru-buru masuk ke kamar
Mentari? Dan kenapa kamu berada diluar?” Ucap Ibu panik tergesa-gesa.
Marcel tidak dapat menjawab pertanyaan ibu karena masih sangat terkejut dengan
apa yang terjadi barusan. Dia tidak mengerti permintaan Mentari yang tadi saja dia
ucapkan terhadapnya. Siapa yang dimaksud Mentari? Apakah Mutia? Kenapa harus
Mutia? Itu itu saja yang berada di pikiran Marcel sambil menunggu Dokter keluar dari
kamar Mentari.
“Permisi dengan keluarga Mentari Lumena” Ucap Dokter keluar dari kamar Mentari.
13
“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain bu. Ini
adalah Hari Terakhir Mentari Lumena. Kami akan segera mengurus Mentari untuk
dapat segera di ibadahkan. Permisi” Ucap Dokter dengan menyesal.
“Dokter bohong kan Marcel, anak ibu kuat Mentari ga mungkin pergi!” Ucap ibu
menangis dan masuk ke kamar Mentari.
“Mentari, kenapa begitu cepat kamu pergi? Mentariku silahkan bersinar diatas sana
sayang, aku akan terus merindukan dirimu. Beristirahatlah dengan tenang sayang,
Aku tidak mau egois memaksamu tinggal bersama ku sambil menahan sakit yang
diderita dengan mu. Bersinarlah terus disana Mentari, kali ini tunggu aku menemui mu
disana. Tunggu aku Mentari aku akan bersama dengan mu lagi” Ucap Marcel dalam
hati sambil menangis melihat Mentari nya sudah tidak berdaya.
“Mentari, bukan ini yang aku inginkan Mentari. Aku ikhlas kamu dengan ka Marcel
Mentari. Ayo kembali Mentari jangan tinggalkan kami seperti ini Mentari” Ucap Mutia.
Kamar Mentari penuh dengan tangisan yang begitu dalam. Mentari sadar bahwa
ikhlas tidak semudah itu tetapi tersenyumlah terus Ibu, Marcel, Mutia.
“Mentari Lumena, terimakasih telah menyinari hidupku dengan senyum mu yang
begitu tulus sayangku” Ucap Marcel memeluk Mentari untuk terakhir kalinya.
14
Bab 5 (Penutup)
Pemakaman tiba, Ibu dan Marcel bahkan Mutia mengantar Mentari ke peristirahatan
terakhir nya. “Tersenyumlah Marcel” terkenang itu di benak Marcel. Ibu yang perlahan
ikhlas dengan kepergianku pun sedikit mulai tersenyum kembali. Mutia yang selalu
berusaha menghibur ibu dan Marcel juga sudah sedikit tersenyum menatap namaku
yang sudah ada di tempat peristirahatan Mentari.
“Mentari, Terimaksih telah hadir didunia ku ya! Terimakasih telah bertahan sampai
Hari Terakhir mu pun tiba. Aku akan berusaha ikhlas dan tersenyum setiap kali aku
mengenang mu. Maafkan aku yang telah lalai menjaga mu ya sayang! Aku
mencintaimu Mentariku” Ucap Marcel di tempat peristirahatan terakhir Mentari.
Beberapa tahun kemudian, Ibu mulai terbiasa tanpa Mentari. Dia menjalankan Toko
Bakery nya dengan begitu sukses dan meberi nama Toko menjadi Bakery Mentari.
Marcel juga sudah di wisuda di Kuliah nya, dia terus mengenang Mentari dengan
membawakan Bunga Mawar Merah yang indah kesukaan Mentari setiap dia datang
ke Makam Mentari. Mutia juga sudah berkuliah di Universitas Bali, dia meneruskan
impiannya sebagai Dokter Leukimia. Dia berharap dia bisa menyembuhkan orang
orang seperti Mentari untuk sehat kembali. Mungkin Marcel dan Mutia tidak bersama,
karena Marcel yang belum sepenuhnya melupakan Mentari. Tetapi mereka menjadi
sahabat dekat kembali dengan terus berkomunikasi dan selalu saling menghibur.
Marcel dan Mutia juga selalu menyempatkan datang ke Toko Bakery Ibu, untuk terus
selalu mengenang Mentari.
-TAMAT-
15
Warning & Reminder!!!
Cerita ini hanya Fiktif Belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian
ataupun cerita. Itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Terimakasih untuk teman-teman yang telah membaca cerita ini sampai habis.
Jika ada halusinasi cerita yang berlebihan harap maklum.
Sekian dari saya Michaela Stevideane pamit undur diri.
Terimakasih!
16