BIOSKOP METROPOLE XXI Bioskop Megaria atau yang saat ini dikenal dengan Bioskop Metropole XXI merupakan salah satu bioskop terbesar, terrua dan bersejarah di Indonesia yang dibangun pada 11 Agustus 1949. Bangunan ini dirancang oleh Liaiuw Goan Seng, bergaya Art-Deco, yaitu penggabungan seni kontemporer Eropa dan arsitektur modern. Pada Awal kejayaannya hingga 1970-an, Bioskop Megaria sempat menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Jakarta. Warga ibukota dapat menyaksikan film-film terbaru, sehingga mampu menaikkan gengsi Megaria sebagai bioskop kelas satu. Halaman Megaria sempat menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa dalam pergerakan reformasi menumbangkan Orde Baru. hingga akhirnya pada tahun 1993, bangunan ini disahkan menjadi bangunan cagar budaya. Oleh karena itu, Bioskop Megaria menjadi saksi bisu beberapa peristiwa sejarah yang terjadi pada masa lalu.
TAMAN ISMAIL MARZUKI (TIM) Dahulu taman ini dikenal dengan sebutan “Taman Raden Saleh (TRS)” yang merupakan ruang rekreasi umum dan juga Kebun Binatang Jakarta sebelum dipindahkan ke Ragunan. Pengunjung TRS dapat menikmati kesejukan paru-paru kota dan melihat sejumlah hewan serta terdapat juga pertunjukan “Balap Anjing”. ROTI TET Roti TET (sebelumnya bernama Tan Ek Tjoan) merupakan salah satu merek roti tertua di Indonesia yang juga turut berperan dalam gerakan asimilasi budaya. Roti ini dikembangkan oleh komunitas Tionghoa di Indonesia. Roti TET yang telah berdiri sejak tahun 1921 di Bogor. Saat ini, lintasan “Balap Anjing” telah beralih fungsi menjadi kantor dan ruang kuliah bagi mahasiswa IKJ. Selain itu, ada juga lapangan bermain sepatu roda. Fasilitas lainnya ialah dua gedung bioskop, Garden Hall dan Podium untuk melengkapi suasana hiburan malam bagi masyarakat yang suka menonton film. Tetapi, sejak 37 tahun lalu suasana seperti itu jarang sekali ditemukan. Khususnya setelah Bang Ali menyulap TRS menjadi Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Misi awal berdirinya roti ini adalah untuk mencairkan ketegangan sosial antara WNI dan Belanda kala itu. Roti ini juga berkesan bagi Wakil Presiden RI Pertama saat beliau berkunjung ke Bogor. Kini, Roti TET dapat juga dijumpai di sekitar wilayah Cikini dengan cita rasanya dan gerobak khas Roti TET.
ICE CREAM TJANANG Salah satu es krim sederhana yang mampu memikat hati Presidan RI pertama dan keluarga cendana. Es krim legendaris ini telah ada sejak tahun 1951, merupakan hasil eksperimen seorang imigran dari Cina yakni Lim Sim Fie. Sim Fie sering kali menggabungkan bahan-bahan baru, seperti Fanta merah dan susu, hingga es krim rasa jamu. 40 tahun berkiprah dan menjadi es krim paling popular semua kalangan kala itu tidaklah mudah. Tahun 1991 akhirnya Sim Fie memutuskan untuk menutup toko dikarenakan para pesaing dari es pabrik semakin banyak. Dia pun akhirnya menitipkan freezer es krim Tjanang ke toko, hingga ke rumah makan. Namun kejayaan es krim ini hanya tersisa satu freezer, dan terletak di dalam lobby hotel Cikini, hotel yang merupakan bekas berdirinya toko Tjan Njan milik sang kakak. KANTOR POS TJIKINI Kantor Pos Cikini atau Tjikini Postkantoor merupakan salah satu bangunan dengan sejarah panjangnya. Bangunan ini didirikan pada era penghapusan sistem tanam paksa sekitar tahun 1870 hingga pertengahan abad ke-20. Masih dengan gaya bangunan yang trend dikala itu yakni bergaya Eropa dengan desain art-deco. Secara fungsi, Tjikini Postkantoor masih sama dengan kantor pos lainnya yang bergerak dibidang pelayanan, penerimaan, penyortiran, pengumpulan, transmisi, pengiriman surat dan paket pos. Kantor Pos Cikini mempunyai layanan khusus karena cabang ini beroperasi selama 24 jam. Ketetapan itu sudah berlaku sejak tahun 2014 hingga sekarang.
Berada diantara kawasan elit Jakarta, berjejer kios-kios yang dipenuhi dengan beragam benda kuno. Jalan ini dikenal dengan Pasar Barang Antik Jalan Surabaya, sesuai dengan lokasi nya yang terletak di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat. Pasar ini telah berdiri sejak tahun 1960-an namun belum berbentuk kios. Para pedagang masih berjualan secara terbuka dengan tenda sederhana. Barang-barang antik tersebut berupa Gramaphone buatan Jerman, kompas, lampu kristal, galangan kapal, guci telepon putar, miniatur barang, bahkan rantang zaman dulu yang khas. Kios-kios semi permanen hingga tampilan yang lebih tertata yang dapat dilihat saat ini baru dapat digunakan sekitar tahun 1980-an. Pasar ini kemudian diresmikan oleh Ali Sadikin, Gubernur Jakarta Pusat yang menjabat kala itu. PASAR BARANG ANTIK JL. SURABAYA RUMAH HASYIM NING Rumah peninggalan salah satu keluarga dari Wakil Presiden RI pertama yang bernama Masagoes Noer Moechammad Hasjim Ning atau yang dikenal sebagai Hasyim Ning. Bangunan ini berdiri megah di Jl. Cikini Raya No. 24, Jakarta Pusat dan menjadi salah satu rumah bersejarah di wilayah Cikini. Rumah ini pernah menjadi tempat pertemuan 5 partai politik dan ormas Islam pada tahun 2004 dan juga pernah menjadi lokasi syuting film “ Catatan Si Boy”.
PERGURUAN CIKINI Dulunya perguruan ini bernama Sekolah Rakyat Partikelir (SPR) Mayumi, hanya sebuah tempat khusus Bahasa Indonesia yang didirikan awal masa pendudukan Jepang yang diprakasarai oleh Pandu Suradhiningrat. Kala itu, pemerintah penduduk Jepang melakukan pengawasan ketat terhadap sekolah-sekolah, termasuk melarang mendirikan sekolah. Dalam kondisi kegundahan para ibu, alih-alih mendirikan sekolah mereka yang terdiri dari dari Ny. Pandoe, Ny. Djuanda, Ny. Thayeb, dan Ny. Abdulkadir dibantu seorang guru bernama Mien Soemadji dengan 11 anak murid pertama mereka mendirikan tempat kursus Bahasa Indonesia sebagai bentuk pengelabuan kepada penguasa Jepang. Kursus tersebut mulai dijalankan pada 1942 dengan menempati sebuah garasi rumah milik Dr. Rasyid (kini Jl. Kramat VIII) Perguruan Cikini juga pernah menjadi saksi bisu terjadinya pengeboman, yang merupakan aksi teror dengan tujuan menyingkirkan Soekarno dari kursi kepresidenan. Peristiwa ini bermula ketika salah satu pelaku melihat mobil Presiden Soekarno di Perguruan Cikini pada 30 November 1957. Saat itu, sdang ada perayaan hari jadi Perguruan Cikini yang ke-15. Mobil tersebut hancur lebur karena ledakan granat yang dilemparkan oleh pelaku. Peristiwa ini diabadikan menjadi Tragedi 30 November.