The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-03-30 04:28:29

Barata Yudha

Barata Yudha

Gelar perang dari pihak Pandawa tidak berobah. Kedua bala
tentara besar i t u sama-sama bergerak maju. Perjumpaan mereka
seperti dua gelombang samodra besar bertemu.

Kali ini perang itu berlangsung campuh. Ada yang saling
terjang, ada yang saling tarik, ada yang saling sepak, ada yang
saling gulat, dan ada yang saling kejar-kejaran.. Mereka saling
berebut dahulu menewaskan lawan. Senjata mereka mulai beradu.
Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Teriak mereka yang
terluka ditambah jerit kuda dan gajah memekakkan telinga dan
memilukan.

Wrekodara dan Arjuna mengamuk seperti biasa. Keduanya
melepaskan panah sakti. Ribuan anak panah keluar dari panah
sakti mereka itu yang mengejar musuh ke semua jurusan. Panah
sakti dari Bima yang sangat besar dan kuat itu bernama
Bargawastra. Ia telah menimbulkan korban di pihak Astina tidak
terbilang.

Prabu Puntadewa melarikan gajah yang dinaikinya ke daerah
musuh sekencang-kencangnya. Matahari sekarang sudah hampir
terbenam. Walaupun demikian pertempuran berlangsung terus.
Perang belum juga selesai. Keadaan sudah mulai gelap. Kawan
dan lawan bercampur menjadi satu.

Di dalam pergulatan itu kadang-kadang ada yang berteriak,
"Hee, aku kawanmu sendiri." Ada yang berteriak, " A k u orang
Cempalareja."

Yang lain mengaku orang Wirata, Dwarawati, Astina, orang
seberang, dan masih banyak lagi. Datanglah kemudian para satria,
para raja, para menteri, naik kereta, naik gajah, berkuda, dan
lain-lain.

Lampu-lampu mereka beraneka ragam. Keadaan bertambah
menjadi semarak. D i medan perang yang gelap itu tiba-tiba
keadaan berubah menjadi seperti ada lingkaran api menyala-nyala
di tengahnya. Ternyata semua tadi tiadalah lain adalah kesibukan
para penaik kereta, gajah, kuda yang ingin kembali ke
pesanggrahan masing-masing. Perang kemudian terhenti.

Perang dimulai lagi keesokan harinya. Teriakan keras dari
pemerintah- raja-raja pada bawahannya memekakkan telinga.
Sorak-sorai dari pasukan kedua belah pihak mengguntur.

Kali ini Bima memilih mengamuk ke tengah-tengah medan

99

pertempuran, dan hanya memilih menggada musuh yang sedang
naik kereta, naik gajah, atau naik kuda. Arjuna mulai melepaskan
panah sakti. D i pihak Astina telah jatuh korban banyak sekali.

Ada seorang punggawa atau pejabat dari Awangga anak buah
Adipati Karna yang sangat sakti bemama Druwajaya. Ia naik
kereta maju ke gelanggang pertempuran. Ia mengamuk dengan
hebatnya. Dengan sebuah gada di tangan ia berhasil menewaskan
banyak musuh. Kegiatannya ini terlihat oleh Bima. Dengan sekali
tendang saja Bima telah berhasil menewaskannya. Sekarang
datang pula mengamuk Raden Setyaki yang terkenal dengan
sebutan Bima Kunting atau Bima Kecil.

Setyaki maju ke tengah-tengah medan pertempuran dengan
penuh kemarahan. Banyak raja dan bupati pengikut Kurawa yang
tewas olehnya. Pihak Kurawa menjadi prihatin sekali.

Partipeya dari pihak Kurawa segera maju menghadapinya.
Partipeya menarik panah dan mengenai dada Setyaki, tetapi
Setyaki temyata kebal. Ia hanya jatuh terpental terbawa oleh anak
panah i t u . Putra Setyaki bemama Raden Sangasanga berganti
maju mengamuk, menghadapi Partipeya.

Terjadilah saling panah-memanah. Keduanya sama-sama kebal.
Akhimya mereka bergulat mengadu kekuatan. Dua-duanya
sama-sama sakti. Pertempuran itu bergeser sampai ke mana- l
mana. Pertarungan itu disoraki oleh banyak orang.

Akhimya tibalah Bima. Ia menolong Raden Sangasanga.
Partipeya dipanahnya, tepat mengenai dadanya. Orang Astina itu
jatuh tersungkur. Karena merasa sakit Partipeya menjadi sangat
marah.

Karena mengetahui bahwa B i m a yang memanahnya ia segera
membalas m e m a n a h . B i m a terkena panah b a h u k i r i n y a , la,
terkejut. Ia meletakkan panah Bargawastra, kemudian mengambil
gada Rujakpolo. Raden Partipeya digadanya. Ia hancur lebur
bersama keretanya. Partipeya tewas.

Seorang anak kandung Partipeya datang. Ia menyerang Bima
dengan maksud membela kematian ayahnya. Ia tewas digada oleh
Bima. Punggawa yang sakti lagi dari Awangga bernama Destarata
juga tewas digada oleh Bima, hancur lebur bersama keretanya.

Bima semakin mengamuk. Setiap barisan musuh yang diterjang
oleh Bima pasti tumpas. Akhimya ada adik dari Sakuni dua orang

100

bernama Anggajaksa dan Sarabasanta yang memimpin prajurit
sebesar satu laksa. Semuanya dikerahkan u n t u k mengeroyok
Bima. Dikeroyok prajurit satu laksa Bima segera berganti senjata
Bargawastra.

Ribuan prajurit Astina yang tewas terkena senjata panah sakti
Bargawastra tersebut. Setiap barisan Astina yang mencoba
menghadang Bima hancur diterjangnya. Kedua adik Sakuni ialah
Anggajaksa dan Sarabasanta menyaksikan ini hatinya menjadi
gemas dan marah. Bima dipanahnya, tetapi tidkk kena.
Dua-duanya dibalas dipanah oleh Bima. Dua-duanya tewas.

Setelah kedua adik Sakuni tewas pihak Kurawa merasa sedih.
Prabu Suyudana mendekati Adipati Kama dan berkata, "Hadapi-
lah Bima, Arjuna, dan Setyaki besok."

Adipati Karna menjawab, "Jangan khawatir sang Prabu. Sudah
pasti hari i n i Bima dan A r j u n a tewas. Saya sendiri yang akan
menghadapinya. Tak perlu ada kawan."

Mendengar ucapan Adipati Karna tersebut Karpa marah.
Katanya, "Hee, Suryaputra, engkau i t u kalau berbicara seenak
perutmu sendiri. Itu tidak patut didengar oleh para satria lainnya.
Orang macam Bima dan Arjuna itu sungguh tidak mungkin kalau
tewas olehmu. Entah kalau ada binatang keong yang dapat
berbicara, baru mungkin omonganmu itu benar."

Adipati Karna menjadi sangat marah, dan cepat mengambil
gendewa. Karpa akan dipanahnya.

Aswatama menyaksikan pamannya akan dipanah mendahului
menarik panah, sambil berteriak marah, "Hee, Suryaputra, aku
tandinganmu."

Prabu Suyudana segera menyabarkan Aswatama. Katanya,
"Jangan begitu engkau." Sang Prabu lantas memerintahkan
kepada Adipati Kama untuk berangkat ke medan perang.

Adipati Karna segera bergerak ke tengah-tengah medan perang.
Ia mulai melepaskan panah sakti. Ribuan anak panah keluar dari
panah sakti tersebut. Ribuan anak panah tersebut memenuhi
udara dan medan pertempuran. Ribuan prajurit Pandawa yang
tewas terkena anak-anak panah tersebut.

Tidak sedikit dari mereka yang terluka p^rah. Menyaksikan ini
Prabu Puntadewa menegur Arjuna, "Engkau ini bagaimana.
Mengapa Suryaputra tidak engkau hadapi. Lihat, pasukan

101

menjadi takut. Mereka lari tanpa menoleh. Agar Dinda segera
memulai. Panahlah Suryaputra itu agar tewas. Apakah memang
ada larangan dari Kanda Prabu Kresna u n t u k m u ? "

Arjuna menghadap Prabu Kresna. Katanya, "Kanda Prabu,
siapa menurut Kanda Prabu yang harus menghadapi kanda
Adipati Karna?"

Prabu Kresna menjawab, "Belum waktunya kalau,Dinda yang
menghadapi Suryaputra. Biarlah Gatotkaca saja yang mengha-
dapinya. Ia dapat bertindak kasar dan halus."

Arjuna segera memanggil Gatotkaca. Katanya, " A n a k k u Gatot-
kaca, engkau ditunjuk untuk menghadapi uwakmu Adipati
Karna."

Gatotkaca melakukan sembah dan menyatakan "Sendika". Ia
segera mengikuti A r j u n a menghadap Prabu Kresna. Setelah
menghaturkan sembah ia berkata, "Uwa Prabu yang menjadi
sesembahan semua orang. Ananda merasa beruntung besar sekali
kali ini mendapat tugas khusus dari Paduka."

Arjuna menyambung, "Anakku Gatotkaca, menghadapi orang
sakti harus pandai-pandai. Kalau ia seorang pemberani tanpa
tanding kita harus lebih pemberani tanpa tanding pula. Kalau ia
main kasar atau main halus maka kita juga harus berusaha
melebihi main kasar atau melebihi main halus. Yang jelas yang
dihadapi oleh Ananda sekarang ini uwakmu sendiri Adipati K a m a ,
yang Ananda sudah kenal betul."

Prabu Kresna, "Ya Anakku, hadapilah uwakmu Adipati Karna
atas p e r i n t a h k u . "

Raden Gatotkaca melakukan sembah. Katanya, "Siap, Uwa
Prabu. Kalau melaksanakan perintah Paduka, Gatotkaca akan
menghadapi mati tanpa berkedip. Jangan lagi hanya menghadapi
seorang uwa Adipati K a m a , walaupun menghadapi sejuta uwa
Adipati Karna Gatotkaca sanggup menghadapinya. Sembah
ananda untuk Uwa Prabu, semoga restu paduka akan memudah-
kan menewaskan musuh. Kalau ananda tewas dalam peperangan
ini, keyakinan ananda sudah pasti bahwa Uwa Prabu yang akan
mengatur soal kesorgaan. Ananda tidak mengharapkan untuk
hidup, karena uwa Adipati Kama itu sakti sekali."

102

Raden Gatotkaca

Mendengar ucapan terakhir ini Prabu Kresna batinnya
sebenarnya hancur. Rasanya seperti menyesal sekali, seolah-olah ia
telah mengeluarkan perintah yang salah. T i m b u l rasa belas
kasihan dan sangat menyesal dalam hati. Arjuna menyaksikan
semua rasa sesal dari Prabu Kresna tersebut. I a menjadi t u r u t
menaruh belas kasihan kepada putra kemanakannya i t u yang
terlihat olehnya kemudian seperti masih anak-anak. Seluruh
keluarga Pandawa ikut merasa prihatin.

Gatotkaca segera ke luar dan terbang ke angkasa, menghadapi
perangnya Adipati Karna. Perang tanding ini berlangsung di
waktu malam hari.

Tiba-tiba muncul empat raksasa yang ikut perang melawan
Gatotkaca. Mereka adalah Lembusana, Salembana, Kalasrenggi,
dan Kalagasura. Mereka masing-masing membawa pasukan.
Keempat raksasa tersebut tewas. Leher mereka masing-masing
dipuntir putus oleh Gatotkaca.

Gatotkaca dengan seluruh bala tentaranya mengamuk di medan
perang. Seluruh bala tentara Awangga menjadi kecut hatinya.
Betapa tidak. Mereka dijatuhi ribuan panah oleh Gatotkaca dari
udara. Ribuan panah telah keluar dari tubuh Gatotkaca melalui
mulut, lengan dan telapak tangan.

Adipati Karna merasa ngeri juga menyaksikan ribuan tentara-
nya tewas. Dicobanya membalas melepaskan anak panah ke
udara, tetapi tidak mencapai sasaran. Hati Adipati K a m a semakin
menjadi gentar.

Gatotkaca terus-menerus sesumbar menantang dari udara.
Adipati Karna semakin menjadi gugup mendengar suara tantang-
an Gatotkaca yang semacam guntur tersebut. Akhirnya Adipati
Karna melepaskan panah sakti Kunta ke udara. Anak panah
tersebut tepat mengenai pusar Gatotkaca, dan anak panah
tersebut masuk ke dalam pusar.

Adipati Karna beserta seluruh pasukannya mengetahui bahwa
Gatotkaca terluka. I n i terlihat dari derasnya darah yang mengalir
dari udara.

Begitu terluka Gatotkaca segera merasa bahwa ia akan tewas. I a
segera menerjang kereta yang dinaiki oleh A d i p a t i K a m a dari
udara, dengan harapan mati bersama dengan musuh. Tetapi
Adipati Karna cekatan sekali. Ia dengan gesit meloncat dari

104

kereta. Ia selamat. Tetapi kereta berikut sais dan kudanya hancur
lebur terkena tubrukan Gatotkaca.

Gatotkaca tewas. Gatotkaca memang sangat sakti. Ia mahir
sekali mencabut leher musuh. Istrinya Dewi Pergiwa adalah anak
Arjuna. Mendiang Prabu Anom Gatotkaca adalah raja negeri
Pringgadani. Ia putra Bima dari Dewi Arimbi.

105

DURNA TEWAS TERKENA TIPU

W a k t u pihak Astina mengetahui bahwa Gatotkaca tewas
mereka bersorak bergembira. Sebaliknya pihak Pandawa berka-
bung. Hampir semua prajurit Pandawa menangis.

Kemudian secara mendadak dan serentak seluruh Pandawa
mengamuk. Prabu Puntadewa sendiri dan Arjuna mengamuk
seperti orang mabuk. Ayah Gatotkaca ialah Bima juga mengamuk
sambil tangannya mengusap air mata. Gadanya diputar dipukulkan
memakan banyak korban tewas di kalangan raja-raja, adipati-
adipati, dan satria-satria pengikut Kurawa.

Pendeta Durna memerintahkan kepada Kurawa agar memper-
baiki gelar perang. Satu malam suntuk peperangan berlangsung
dengan dahsyatnya, dan baru berhenti waktu masing-masing
sudah merasa mengantuk.

Tiba-tiba datanglah Dewi Arimbi istri Bima, ibu dari Gatotkaca.
Ia menyatakan ingin mati bakar diri bersama jenasah putranya di
medan perang. Arimbi berpamitan dari suaminya dan seluruh
kadang Pandawa. Setelah mendapat ijin ia segera mendekati
jenasah putranya. Sesampainya di situ ia segera dibakar bersama
jenasah putranya yang sangat dicintainya.

Keesokan harinya perang dimulai lagi. Baik pihak Pandawa
maupun Kurawa telah mempersiapkan barisan masing-masing.
Genderang perang sudah ditabuh. Yang menjadi senapati Astina
Pendeta Durna. Adapun senapati d i pihak Pandawa Drustajumena.
Kedua pasukan sudah mendapat perintah bergerak.

Senapati D u m a dikeroyok oleh bala tentara Pandawa. Ia
dihujani panah dari sana-sini, tetapi tubuhnya temyata kebal.
Prabu Kresna memerintahkan kepada B i m a agar segera menewas-
kan raja Malawapati dari pihak Kurawa yang berperang naik
gajah. Gajahnya yang bemama Aswatama itu supaya ditewaskan
sekali. Setelah i t u Bima supaya berteriak "Aswatama m a t i " .

106

Pesan Sri Kresna i t u dilaksanakan dengan sempurna sekali oleh
Bima. Sekali kena gada dari Bima, raja Malawapati dan gajah
tunggangannya tewas.

Bima segera berteriak "Aswatama m a t i ! ! ! " Teriakan Bima i n i
segera disambung oleh teriakan yang sama d ^ r i bala tentara
Pandawa.

Pendeta D u m a mendengar teriakan tersebut. Ia sangat terkejut
dan menangis. Ia menyangka putranya yang bernama Aswatama
yang meninggal. Durna mencoba mendekati Bima dan Arjuna
menanyakan kebenaran berita tersebut. Tetapi kedua orang itu
sudah dibisiki oleh Prabu Kresna untuk berdusta. Durna semakin
menjadi bingung. Satu-satunya jawaban yang pasti dapat
dipercaya adalah dari Prabu Puntadewa, karena raja yang seorang
ini selama hidupnya tidak pemah membohong.

Prabu Kresna juga sudah berpesan kepada Sri Puntadewa agar
berdusta. Tetapi Prabu Puntadewa tidak mau berdusta. Karena
selama hidup ia belum pemah berdusta.

Akhirnya Prabu Kresna meminta kepada Sri Puntadewa agar
hanya menjawab, "Esti Aswatama mati." Esti artinya gajah.

Pendeta D u r n a segera mendatangi Prabu Puntadewa, dan
mendapat jawaban, "Esti Aswatama mati." Terdengar oleh D u m a
"Pasti Aswatama mati."

D u m a jatuh pingsan dalam kereta. Para dewa di angkasa
bersorak ramai dan mengatakan bahwa Pendeta D u m a tewas.

Raden Drustajumena segera mendekati kereta dan memotong
leher Durna. Kepalanya dibuat main-main sebentar, lantas
dilemparkan ke daerah musuh.

Prabu Suyudana terkejut kejatuhan kepala D u m a . Cepat ia lari
diikuti oleh yang lain-lain. Pendeta D u m a ini dahulu waktu masih
muda berparas elok. Ia bernama Bambang Kumbayana. Ia berasal
dari negeri Atasangin. Ia saudara seperguman Prabu Dmpada
raja Cempalareja.

Pada suatu hari ia ingin menemui Sri Dmpada. Dasar orang
seberang bicaranya kasar. Menyebut Prabu Drupada hanya
dengan teriakan, "Hee, Sucitra, Sucitra!!"

Nama Prabu Drupada waktu, masih muda memang Sucitra.
Teriakan kasar tersebut menimbulkan salah paham dengan Raden
Gandamana, adik ipar Prabu Drupada yang berwatak pemarah.

107

Bambang Kumbayana dianiaya oleh Gandamana, sehingga
menjadi cacad seluruh tubuh dan mukanya. Ia kemudian
bermukim di desa Sukalima, berganti nama Pendeta D u m a , dan
menjadi guru dari seluruh Kurawa dan Pandawa. Ia memang
orang sakti. Anaknya hanya seorang bernama Aswatama dari ibu
bidadari Dewi Wilutama.

Aswatama yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi
berteriak, "Hee, orang-orang Kurawa, mengapa kalian lari?"

Dijawab oleh Karpa, "Hee, Aswatama, masa engkau tidak tahu,
ayahmu tewas dipotong lehernya oleh Dmstajumena!"

Mendengar i n i Aswatama marah sekali. Ia segera melepaskan
panah api sebesar gunung anakan. Seluruh bala tentara Pandawa
ngeri menyaksikan ini, dan sulit menghindarinya.

Prabu Puntadewa memerintahkan kepada Arjuna agar meng-
hadapi Aswatama. Prabu Puntadewa masih menangis tersedu-sedu
atas meninggalnya Pendeta D u m a , gurunya.

Prabu Kresna memerintahkan kepada seluruh bala tentara
Pandawa agar semua turun dari kendaraan, karena panah api
Aswatama itu tidak mau membasmi orang yang berjalan kaki.
Bima diperintahkan oleh Sri Kresna agar menghadapi panah api
Aswatama dengan naik kereta. Begitu menyaksikan kakaknya
seperti akan terbakar A r j u n a segera melepas panah api pula, yang
mengakibatkan seluruh panah api padam.

Aswatama mundur dan merasa malu, pergi bertapa lagi untuk
mencari tambahan kesaktian.

Malamnya Prabu Suyudana berunding dengan para raja di
Astina. Sudah ditentukan untuk menjadi senapati besok adalah
Adipati Karna. Prabu Suyudana malahan berjanji akan menyerah-
kan negara Astina. Adipati K a m a memang sangat sakti. Parasnya
elok dan memiliki senjata sakti Wijayadanu.

Prabu Suyudana sangat senang mendengar kesanggupan
Adipati Kama. Adipati Karna diberi hadiah pakaian yang bagus-
bagus malam i t u , bahkan juga untuk selumh bala tentaranya.

Tetapi tentara Awangga malahan kelihatan susah. Begitu
juga permaisuri Awangga Dewi Surtikanti. Karena mereka telah
mendapat firasat bahwa Adipati K a m a akan kalah perangnya.

Malam itu para kadang Pandawa dan Prabu Kresna pergi ke
medan perang untuk mencari jenasah Pendeta D u m a . Setelah

108

Banihang Aswatama

ditemukan segera dibakar. Begitu api padam lantas ada suara
yang menyatakan bahwa Pandawa akan menang perang. Prabu
Kresna, Sri Puntadewa, dan A r j u n a segera kembali ke pesanggra-
han.

Paginya perang dimulai lagi. Tengara perang telah ditabuh
seperti biasa. Setelah kedua barisan siap pertempuran segera
dimulai.

Pertempuran tersebut berlangsung satu hari, dan baru berhenti
waktu malam telah tiba. Banyak jatuh korban di kedua belah
pihak.

Malamnya Prabu Suyudana berunding lagi dengan para raja.
Pada saat itu hadir juga Prabu Salya dan Adipati Karna.

Adipati Karna meminta kusir pada Sri Suyudana. Dan agar
sesuai dengan kusirnya Arjuna ia meminta agar Prabu Salya yang
menjadi kusirnya.

Mendengar ini Prabu Salya marah. Tetapi Prabu Suyudana
segera menyembah, menangis, agar Sri Salya menuruti kehendak
menantunya itu. Menurut Adipati Karna kalau permohonannya
tersebut dipenuhi seluruh Pandawa akan habis tumpas besok.
Mereka akan terkena panahnya Wijayadanu. Prabu Salya lama
kelamaan menjadi hilang marahnya, karena ia m&naruh kasihan
terhadap putra menantunya ialah Prabu Suyudana. Akhirnya ia
sanggup menjadi kusir.

110

gunung karang. Kali ini bala tentara Kurawa bertambah nekat
dan berani. Hal ini karena senapati mereka juga berani, sakti dan
nekat, ditambah elok pula parasnya. Ribuan anak panah telah
keluar dari gendewa Adipati Karna memenuhi medan pertempur-
an.

Bala tentara Pandawa telah banyak yang tewas, sedangkan
kereta yang dinaiki senapati Karna menonjol berada di depan
pasukan dengan megahnya. Apa saja yang berada di depannya di
terjang dengan berani. Pasukan di belakangnya mengikuti saja.
Bala tentara Pandawa rusak gelar perangnya.

Mereka ngeri menghadapi amukan Adipati Karna. Ditambah
lagi mereka masih terpengaruh oleh peristiwa tewasnya Gatotkaca
oleh senapati Karna.

Bala tentara Pandawa menjadi kalangkabut. Kereta-kereta dari
Nakula dan Drustajumena telah hancur terkena panah sakti
Adipati Karna. Mereka terpaksa lari.

Prabu Yudistira, Bima, dan A r j u n a segera datang menolong
keadaan. Mereka menghadang kedatangan Adipati Karna sambil
melepaskan panah-panah sakti.

Kali ini bala tentara Kurawa banyak yang tewas, dan Adipati
Karna terpaksa berhenti. Terjadilah kemudian kereta berhadapan
dengan kereta. Senapatinya sama-sama menggunakan panah sakti.

Prabu Suyudana dipanah oleh Bima yang mengenai dadanya.
Raja Astina i t u jatuh terlentang, tetapi tidak terluka. Segera ia lari
bersembunyi di belakang barisan.

Raden Wresasena putra Adipati Karna tewas oleh amukan
Setyaki. Prabu Suyudana berjumpa lagi dengan Bima. Ia dipanah
lagi oleh Bima, terkena ikat pinggangnya putus. Ia segera lari
kedodoran.

Dursasana menyaksikan peristiwa tersebut segera berusaha
melindungi kakaknya. Ia menghadapi Bima dengan naik gajah.
Dipanahnya Bima dengan senjata panah yang bernama Bada.
Bima terkena dadanya. Ia jatuh terlentang, tetapi tidak terluka.

Bima segera bangun, mengambil gada. Gajah yang dinaiki oleh
Dursasana digada oleh Bima, terkena kepalanya hancur. Dursa-
sana terpaksa meloncat ke tanah.

Mulailah keduanya melakukan perang tanding menggunakan
senjata gada. Dursasana merasa kewalahan. Ia berusaha lari.

112

tetapi rambutnya kena dijambak oleh Bima dan dihentakkan
hingga jatuh terlentang, sambil dipukuli terus oleh Bima dengan
gada.

Dursasana sangat menderita. Prabu Suyudana dan saudara
saudaranya berusaha menolong dengan memanah Bima, tetapi
Bima sudah tidak peduli.

Prabu Yudistira dan para kadang Pandawa serentak meng-
hadapi perangnya Prabu Suyudana. Dengan demikian Bima bebas
menangani Dursasana di tempat yang semakin terpisah.

Bala tentara Pandawa menyorakinya dari jauh. Bima puas
dalam membuat malu Dursasana. Ia berteriak keras kepada para
dewa, kepada raja-raja Astina, dan kepada para kadang Pandawa,
"Hee semuanya, «gar kalian menjadi saksi bahwa aku akan
memenuhi sumpah kakak iparku Dewi Drupadi, istri kakakku
Yudistira, bahwa ia tidak mau bergelung selamanya kalau belum
berkeramas dengan darahnya Dursasana. Sumpah itu sekarang
terpenuhi."

Kemudian perut Dursasana dirobek oleh Bima dengan meng-
gunakan kuku Pancanaka, darahnya diminum, isi perutnya
dikeluarkan, lantas diawut-awut. Kaki dan tangannya dicopot
lantas dilempar-lemparkan. Kepalanya dihancurkan, dilumatkan
dengan gada. Bima kemudian meninggalkannya. Dursasana tewas.

Bima menuju ke pesanggrahan untuk menemui Dewi Drupadi.
Bima berjalan sambil berjoget di jalanan. Prabu Yudistira dan
permaisuri beserta kadang Pandawa menjemput dan mengelu-elu-
kannya dengan penuh kegirangan.

Jenggot dan kumis Bima yang masih penuh dengan darah
Dursasana itu lantas diperas di atas kepala Pewi Drupadi.
Terpenuhilah sumpah Dewi Drupadi. Seluruh Pandawa bersuka-
ria. Peperangan u n t u k sementara t e r h e n t i .

Mendiang Dursasana hidupnya sejak kecil manja dan ugal-ugal-
an. Suaranya braokan, senang main kroyok, dan sering bertindak
kurang ajar. Pemah ia berusaha menelanjangi Dewi Drupadi. Ia
satria di Banjarjungut. Tangannya tidak pemah diam walau
duduk bersila.

Pada waktu matahari sudah berada di sebelah barat bala
tentara Pandawa terkejut menyaksikan kedatangan kereta Adipati
Kama di tengah-tengah medan perang, mendahului bala tentara-
nya.

114

Bala tentara Kurawa bergerak di belakangnya. Prabu Kresna
segera memerintahkan pada Arjuna agar segera naik kereta
menghadapi K a m a . A r j u n a segera naik kereta yang dikusiri oleh
Sri Kresna sendiri. Bala tentara Pandawa dan Kurawa hanya
menyoraki dari kejauhan.

Kali i n i yang berperang hanya senapati saja. Orang mengatakan
perang i n i " K a m a Tinanding", sebab yang menjadi senapati
sama-sama sakti dan sama-sama memiliki kepandaian berperang.

Keduanya masih saudara kandung satu ibu lain ayah.
Perbedaannya hanyalah terletak pada sikap dan tingkah laku.
Adipati Karna agak congkak dan senang memamerkan kesaktian,
sedangkan Arjuna selalu rendah hati, mukanya lebih menunduk
dan lebih tenang.

Keduanya memiliki senjata panah sakti pemberian dewa.
Senjata sakti Adipati Karna bernama Wijayadanu, sedangkan
senjata sakti Arjuna bemama Sarotama dan Pasopati.

Yang menjadi sais juga sama-sama r a j a besar, ialah Prabu Salya
dari Mandraka dan Prabu Kresna dari Dwarawati.

Para dewa, bidadari, dan bala tentara Pandawa dan Kurawa
menyaksikan perang ini semuanya merasa khawatir kalau sampai
salah seorang tewas.

Adipati Kama dan Arjuna mulai mengadu kesaktian. Kereta-
kereta melepaskan panah sakti seraya berputaran. Tiba-tiba
datanglah seekor ular d i udara bertubuh besar sekali. Ular itu
dapat berbicara bemama Ardawalika. Ia menyatakan kepada
Adipati Kama bahwa ia bemiat membalas dendam kepada
Arjuna.

Adipati Kama hanya menjawab, "Silakan kalau mau membu-
nuh Arjuna. Yang jelas aku tidak mau minta tolong padamu."

Arjuna segera melepaskan panah. Ular Ardawalika terkena. I a
tewas seketika. Suaranya mengguntur, dan jatuh di tanah dari
udara.

Pada suatu ketika Adipati K a m a mengarahkan ujung panahnya
tepat pada leher A r j u n a . M e l i h a t i n i Prabu Salya sebagai sais
menarik tali kendali kuda, sehingga kereta yang dinaiki Adipati
K a m a t u m t bergoyang. Sehingga waktu panah terlepas jatuhnya
lebih ke atas sedikit. Arjuna selamat. Panah hanya mengenai
mahkota sampai jatuh.

115

Raden Dursasana

setengah dari negara Astina diserahkan kepada Pandawa. Kalau
Pandawa menolak baru ia mau menumpas Pandawa.

Prabu Suyudana tidak setuju menyerahkan setengah dari
negaranya, karena sudah terlanjur terlambat, korban dari
pihaknya sudah terlampau besar.

Lama sekali mereka berdua mempertahankan pendirian masing-
masing. Tiba-tiba muncul Aswatama yang menyatakan dengan
lantang mencela tindakan Prabu Salya w a k t u menjadi sais A d i p a t i
Kama.

Prabu Salya marah, dan menantang berkelahi. Keduanya segera
dipisah oleh Prabu Suyudana. Aswatama segera pergi masuk
hutan lagi untuk bertapa lagi, karena ia diusir oleh Prabu
Suyudana.

Prabu Salya mereda marahnya, dan akhirnya ia menyatakan
bersedia menjadi senapati. Prabu Suyudana sangat bersuka-cita.
Ia membagi-bagikan hadiah pakaian yang bagus untuk selumh
bala tentara Mandraka.

Sejak saat i t u tersebarlah berita d i seluruh medan perang bahwa
yang akan menjadi senapati Astma adalah Sri Salya. Peperangan
sebenamya sudah dua hari ini terhenti.

118

PRABU SALYA MENJADI SENAPATI

Begitu mendengar bahwa yang menjadi senopati Astina besok
Prabu Salya pihak Pandawa menjadi bingung dan khawatir. Prabu
Yudistira dan adik-adiknya sudah berniat untuk menyerah saja
pada Sri Salya. Di samping rasa ngeri, Prabu Salya di mata
Pandawa adalah seorang sesepuh yang dihormati, seorang sakti
mandraguna tanpa tanding. Setiap kadang Pandawa menghorma-
tinya lahir batin.

Prabu Kresna yang bijaksana itu lantas memerintahkan kepada
Nakula dan Sadewa agar menemui Prabu Salya, dengan dipesan
banyak-banyak.

Nakula dan Sadewa segera berangkat ke pesanggrahan
Mandraka tanpa bala. Nakula dan Sadewa adalah putra kembar
mendiang Dewi Madrim adik kandung Prabu Salya.

I'rabu Salya ditemuinya sedang bersemadi di sanggar pamujan.
Raden Nakula dan Raden Sadewa segera bersujud pada kaki
Prabu Salya sambil menangis.

Kedua saudara kembar itu berkata dengan terisak, "Duh, Uwa
Prabu, jika benar-benar paduka besok yang menjadi senapati
Astina, maka seluruh kadang Pandawa sudah yakin mereka akan
tumpas. Semuanya tidak ada yang mau melawan. Juga raja-raja
pengikut Pandawa sangat takut menghadapi kesaktian paduka.
Oleh sebab itu kami berdua ingin mendahului mati di depan
paduka."

Raden Nakula dan Sadewa segera menarik keris masing-masing
untuk melakukan bunuh diri. Prabu Salya segera merebut keris-
keris tersebut sambil menangis.

Dengan terisak ia berkata, "Sudahlah jangan menangis.
Walaupun aku sudah menyanggupi menjadi senapati Astina,
dalam batinku hanya kamu berdua yang kucintai. Karena
uwakmu ini sekarang sudah tidak mempunyai anak laki-laki lagi.

119

Burisrawa dan Rukmarata sudah tewas dalam perang Barata
Yudha ini. Jadi milik kalian berdualah negara Mandraka sekarang
ini. Hanya pesanku, besok kalau aku maju ke medan perang,
suruhlah k a k a k m u Sri Yudistira saja yang menghadapiku, seraya
membawa jimat Kalimasada. Agar jimat Kalimasada itu dipanah-
kan padaku, karena di situlah letak kematianku. Selain itu sudah
tidak ada senjata lain lagi yang dapat melukaiku, yang dapat
mengalahkan aji-ajiku Candabirawa."

Prabu Salya melanjutkan, " D a h u l u aku pemah membunuh ayah
mertuaku, seorang pendeta raksasa yang sangat sakti dan berbudi
baik, dan sangat mencintai putrinya, ialah uwakmu putri
Setyawati. Ia bemama Bagawan Bagaspati. Setelah ia terbunuh
olehku kemudian timbul suara, "Hee, Salya, kelak di dalam
perang Barata Yudha, kalau ada seorang raja bersifat pendeta dan
memiliki Jimat Kalimasada, pada saat itulah aku membalas
dendam padamu."

Setelah berhenti sejenak Prabu Salya meneruskan, "Sudahlah
sana, kalian berdua lekaslah pulangi!"

Raden Nakula dan Sadewa bertambah hebat menangisnya.
Mereka lantas meminta diri. D i jalanan masih saja keduanya
menangis terisak-isak.

Setibanya d i pesanggrahan keduanya segera menghadap Prabu
Yudistira, di mana hadir juga Prabu Kresna, Bima, dan Arjuna.
Semua yang hadir tertawa kecuali Prabu Yudistira, Nakula, dan
•Sadewa.

Prabu Kresna dan Wrekodara melirik kepada Sri Yudistira,
karena selama hidup Prabu Yudistira itu belum pemah marah,
belum pemah menyakitkan hati orang. Padahal sekarang m i ia
harus membunuh Prabu Salya yang masih terhitung" keluarga dan
sesepuh sendiri.

Di pesanggrahan Mandraka kemudian terjadi peristiwa yang
menghamkan dan sangat romantis. Dewi Setyawati permaisuri
Prabu Salya yang sangat cantik i t u , dan tiada tara kesetiaannya
kepada suami temyata mendengar semua yang dipesankan oleh
suaminya kepada Nakula dan Sadewa. Ia sangat menyesali
suaminya yang telah membuka rahasia kematiannya, dan mengapa
suaminya itu lebih mengutamakan putra-putra kemanakan seperti

120

Nakula dan Sadewa daripada putri-putri sendiri seperti Erawati,
Surtikanti, dan Banowati.

Permaisuri Setyawati menangis terus-menerus, karena sudah
yakin bahwa suami yang sangat dicintainya itu besok akan tewas.

Dewi Setyawati mencabut pisau untuk membunuh diri, tetapi
terburu direbut oleh sang Prabu. Dengan sabar Prabu Salya
menjelaskan persoalannya pada istrinya. Dicumburayunya istrinya
itu seperti waktu masih muda dulu. Diajaknya istrinya itu
berbaring di tempat tidur. Malam itu kedua suami istri itu asyik
masyuk melupakan adanya perang Barata Yudha.

Pagi harinya waktu Prabu Salya bangun istrinya masih tidur
lelap, berbantalkan tangan sang Prabu. Bahkan setengah dari kain
yang dikenakan Sri Salya masih tertindih oleh tubuh sang Dewi.

Prabu Salya perlahan-lahan menarik tangannya, kemudian
kainnya yang setengahnya masih tertindih oleh tubuh istrinya itu
dipotongnya dengan keris.

Perlahan-lahan ia turun dari pembaringan. Diletakkannya dua
guling di kiri kanan tubuh sang Dewi. Kemudian pada payudara
sang istri disisipkan sebuah golek atau boneka kencana, yang
dipura-purakan berbicara melalui mulut Sri Salya sendiri.
Katanya, "Ibu, ayah pergi berperang."

Setelah itu Prabu Salya berpakaian sebentar, kemudian keluar
ke medan perang. Ternyata di luar bala tentaranya sudah lama
menunggunya dan sudah dalam keadaan siap tempur.

Sekali lagi Sri Salya masuk ke pesanggrahan, mencium pipi
istrinya yang masih tidur nyenyak. Katanya, "Nimas, selamat
tidur, kanda berangkat berperang." Berkata demikian itu ia
sambil menahan air mata.

Prabu Salya menyempurnakan pakaian perangnya. Matahari
sudah berada di atas. Pasukannya telah lama menunggu. Sri Salya
ke luar naik kereta. Pasukannya segera memukul tengara perang.
Mereka mulai menyusun gelar perang. Prabu Suyudana bersama
sisa kadang Kurawa juga sudah berkumpul di situ.

Pihak Pandawa juga sudah mengatur gelar perang. Pertempuran
segera dimulai. Pertemuan pasukan kedua belah pihak seperti
pertemuan awan dengan awan. Hiruk-pikuk pertempuran itu
sendiri seperti ada gunung longsor. Korban yang jatuh di kedua
belah pihak sudah mulai banyak.

121

Pihak Kurawa pada umumnya telah memastikan bahwa seluruh
oala tentara Pandawa hari itu akan tumpas habis oleh senapati
Salya.

Prabu Salya mulai mengeluarkan aji Candabirawa. Keluarlah
dari tubuhnya banyak raksasa memenuhi medan perang. Setiap
raksasa itu membawa senjata. Raksasa-raksasa tersebut mengejar
musuh, memukul dengan gada, menyambar dengan pedang,
menggigit, menerjang, menendang dan masih banyak lagi. Setiap
raksasa yang dibalas atau dibunuh malahan bertambah menjadi
banyak.
Menyaksikan amukan raksasa-raksasa yang keluar dari tubuh
Prabu Salya tersebut seluruh bala tentara Astina bersukaria. Bala
tentara Pandawa yang menjadi cemas. Mereka lari mengungsi ke
belakang Prabu Kresna atau Prabu Yudistira. Banyak dari mereka
yang tewas. Prabu Kresna memerintahkan kepada para prajurit
Pandawa agar meletakkan senjata dan menutup kepala.

Perintah Prabu Kresna tersebut dipatuhi. Semua raksasa yang
keluar dari aji Candabirawa menjadi termenung dan ternganga,
menjadi seperti kebingungan menghadapi musuh.

Prabu Kresna lantas memerintahkan kepada Prabu Puntadewa
untuk mulai bertindak. Prabu Yudistira mulai naik kereta dan
segera bergerak m a j u , menghadapi Prabu Salya.

Prabu Salya menggunakan lagi aji Candabirawa. Keluarlah lagi
banyak raksasa dari tubuhnya. Raksasa-raksasa itu lebih besar
dan lebih banyak. Mereka lebih ganas dari yang sebelumnya.
Semuanya mendekati Prabu Yudistira. Prabu Yudistira segera
mencipta api dari jimat Kalimasada. A p i tersebut sangat besar.

Seluruh raksasa yang keluar dari tubuh Prabu Salya terbakar
habis. Prabu Yudistira segera melepas jimat Kalimasada tepat
mengenai dada Sri Salya. Prabu Salya tewas seketika, jatuh dalam
kereta.

Bala tentara Pandawa bersorak-sorai, sedangkan bala tentara
Kurawa menjadi cemas dan bergerak mundur. Prabu Salya i n i
waktu muda bemama Raden Narasoma. Ia putra Prabu
Mandratpati raja negeri Mandraka.

Permaisurinya bemama Dewi Setyawati. Sebelumnya bemama
Dewi Pujawati. Aji Candabirawa m i diperolehnya dari ayah
mertuanya, ialah Bagawan Bagaspati. Pendeta raksasa Bagawan

122

Bagaspati mula-mula bersedia dibunuh oleh Narasoma demi
kebahagiaan putri satu-satunya ialah Pujawati agar hidup rukun
dengan Narasoma. Tetapi waktu berkali-kali ditusuk dengan keris
oleh menantunya itu ternyata ia kebal. Narasoma menegur bahwa
mertuanya itu sebenarnya tidak rela mati.

Bagawan Bagaspati teringat bahwa ia memiliki aji Candabirawa.
Ia panggil Narasoma. Ia berikan aji Candabirawa itu padanya
dengan harapan agar Narasoma atau Prabu Salya itu selanjutnya
tidak akan menyia-nyiakan putrinya. Setelah aji Candabirawa
pindah ke tubuh Narasoma maka tewaslah pendeta itu ketika
kembali lagi ditusuk oleh Narasoma dengan keris.

Dari perkawinannya dengan Pujawati atau Setyawati itu Prabu
Salya dikaruniai tiga putri dan dua putra, ialah: 1. Dewi Erawati
yang menjadi permaisuri Prabu Baladewa di Madura. 2. Dewi
Surtikanti istri A d i p a t i K a r n a . 3. Dewi Banowati permaisuri Prabu
Suyudana. 4. Burisrawa yang bermuka raksasa. 5. Rukmarata
yang berwajah elok.

Dalam batin Prabu Salya memang memihak Pandawa karena
dalam segala hal Pandawa selalu berada di pihak yang benar.
Tetapi karena negeri Mandraka di bawah perintah negeri Astina ia
terpaksa berada di pihak Prabu Suyudana yang menjadi
menantunya itu.

Dengan tewasnya Sri Salya maka bala tentara Pandawa
bersukaria. Mereka secara serentak mengejar musuh. Bala tentara
Kurawa lari tunggang langgang. Banyak yang terpegang, banyak
yang tewas, dan tidak sedikit yang menyerah.

Sial bagi patih Sakuni. Ia terpegang oleh Bima. Kedua kaki dan
tangannya dipatahkan oleh Bima. Mulutnya dirobek. Sakuni
tewas.

Prabu Suyudana langsung kembali ke -pesanggrahan beserta
seluruh bala tentara dan satria-satrianya. Mendiang patih Sakuni
adalah putra raja Palasajenar.

Ia adik kandung Dewi Gendari ibusuri Prabu Suyudana. Patih
Sakuni berwatak kurang jujur. Pandai mengadu domba dan
memutarbalikkan kenyataan atau persoalan. Ia pandai menghasut.
Tetapi tidak selamanya ia jahat. Ia justru orangnya yang memberi
semangat kepada satria-satria Kurawa yang maju ke medan-
perang.

123

Prabu Salya

Ada seorang bupati Mandraka yang usianya sudah tua terluka
dalam pertempuran waktu mengikuti mendiang Prabu Salya. Ia
memerlukan menghadap permaisuri Mandraka Dewi Setyawati,
melaporkan tewasnya sang Prabu.

Mendengar' laporan tersebut permaisuri Setyawati pingsan.
Setelah sadar ia bertekad untuk menyusul suami. Ia segera naik
kereta sambil memegang pisau patrem. Dengan diantar oleh
seorang inang pengasuh yahg setia bemama Sugandmi kereta yang
mereka naiki bergerak menuju ke medan perang Kurusetra,
dengan suatu tujuan mencari jenasah Sri Salya.

Setelah mendekati medan perang Kurusetra tiba-tiba keretanya
hancur. Mereka berdua terpaksa meneruskan perjalanan dengan
berjalan kaki. Dengan susah payah mereka mencari jenasah sang
Prabu. Akhimya jenasah tersebut diketemukan. Dewi Setyawati
segera menghunus pisau patrem yang sudah lama berada di
tangannya, dihunjamkan ke dada, dan tewas seketika.

Inang pengasuh Sugandini tidak mau ketinggalan. Ia segera ikut
melakukan "suduk sarira", ialah melakukan mati bela diri dengan
cara yang sama.

Peristiwa ini diikuti oleh para dewa dan bidadari di angkasa
yang segera mengiring nyawa Sri Salya dan permaisuri ke
Suralaya. D i mana mereka mendapat anugerah naik surga.

Suatu romans yang mengasyikkan mengenai kehidupan Dewi
Setyawati ini. Pada suatu malam Dewi Setyawati yang waktu masih
gadis bemama Dewi Pujawati, putri pendeta raksasa Bagawan
Bagaspati telah bermimpi bertemu dengan seorang satria berparas
elok bemama Raden Narasoma.

Ia meminta kepada ayahnya agar dicarikan satria bagus yang
ditemuinya dalam m i m p i tersebut. Pergilah sang Begawan yang
sangat menyintai putri tunggalnya itu mencari Narasoma.

Tidak lama kemudian ia berjumpa dengan Raden Narasoma
putra raja Mandraka yang sedang melakukan perjalanan di hutan.
Bagawan Bagaspati menyampaikan maksudnya pada Narasoma
untuk mengambilnya menjadi menantu.

Narasoma tentu saja m«nolak, karena menumt pikirannya putri,
seorang pendeta raksasa tentu saja juga berwujud raksasa.
Terjadilah perang tandmg.

Narasoma dikalahkan. I a segera ditangkap dan dibawa oleh

125

sang Bagawan ke pertapaan. Setibanya di pertapaan Narasoma
terkejut menyaksikan putri sang Bagawan adalah seorang putri
sangat cantik tiada tanding bemama Pujawati. Ia segera j a t u h
cinta, la segera dijodohkan dengan Dewi Pujawati. Perjodohan i t u
berjalan lancar, dan kedua muda-mudi itu berbahagia memba-
ngun cinta.

Tetapi pada suatu hari Raden Narasoma merasa malu
bermertua raksasa. Hal ini terus terang disampaikan kepada
istrinya. Sang putri yang sangat menyayang orang tua tetapi juga
sangat menyinta suami itu melaporkan dengan terus terang hal i t u
kepada sang Bagawan.

Sang Bagawan mengatakan kepada putri dan menantunya
bersedia dimatikan oleh Narasoma demi kebahagiaan putri
tunggalnya, asal Narasoma berjanji tidak akan menyia-nyiakan
putrinya itu sampai "kaken ninen" sampai menjadi kakek nenek.

Narasoma menyanggupi. Sejak itu nama Dewi Pujawati diganti
dengan Setyawati. Raden Narasoma kemudian diijinkan menusuk
tewas sang Bagawan dengan keris. Tetapi berkali-kali ia
menusukkan keris pusakanya itu ke tubuh sang pendeta ternyata
seluruh tubuh pendeta raksasa itu kebal.

Narasoma merasa bahwa ayah mertuanya itu kurang rela
memenuhi janjinya. Sang Bagawan tersenyum. Ia teringat bahwa
ia memiliki aji-aji Candabirawa.

Ia berikan aji-aji Candabirawa itu kepada Narasoma. Barulah
sang Bagawan tewas waktu ditusuk dengan keris. Tetapi kemudian
ada suara, "Hee Narasoma, kelak pada perang Barata Yudha
engkau akan mendapat balasan atas perbuatanmu oleh seorang
raja berdarah putih."

Nai'asoma kemudian menjadi Prabu Salya dan yang dimaksud
dengan seorang raja berdarah putih tiada lain adalah Prabu
Yudistira raja Amarta.

126

PRABU SUYUDANA TEWAS

Negeri Astina kemudian berhasil direbut oleh pihak Pandawa.
Prabu Suyudana karena merasa takut lantas pergi bersembunyi di
muara sungai. Tetapi tempat persembunyiannya ini diketahui oleh
prajurit-prajurit Pandawa. H a l i t u segera dilaporkan kepada Prabu
Kresna dan Prabu Yudistira.

Mereka segera mendatangi tempat tersebut. Setibanya d i sana
setiap orang menyaksikan bagaimana raja Astina itu bersembunyi
dalam air.

Bima berteriak menantang mengajaknya berkelahi di darat.
Dikatakannya tidak pantas seorang raja kalah perang lantas
bersembunyi. Dimintanya agar sang Prabu Astina i t u segera keluar
dari dalam air. Badan dan rambut Sri Suyudana terlihat basah
kuyup.

Prabu Suyudana yang basah kuyup itu menghadap Prabu
Kresna. Sri Kresna menawarkan apakah Prabu Suyudana bersedia
berperang tanding melawan Bima.

Prabu Suyudana menyatakan sanggup. Sri Kresna lantas
memerintahkan agar kepada Prabu Suyudana diberikan pakaian
kerajaan lengkap dan senjata gada.

Tiba-tiba datang Prabu Baladewa raja negri Madura yang baru
saja kembali dari bertapa di Gerojogan Sewu. Prabu Baladewa
adalah kakak kandung Sri Kresna.

Prabu Kresna, Prabu Yudistira, dan para kadang Pandawa
lainnya menghaturkan sembah dan mengucapkan selamat datang.
Prabu Kresna melaporkan seluruh jalannya perang Barata Yudha,
dan bahwa beliau datang terlambat, sehingga tidak dapat
menyaksikan jalannya pepang Barata Yudha tersebut, tetapi masih
akan dapat menyaksikan perang tanding antara Bima dan Prabu
Suyudana.

Prabu Baladewa diminta restunya. Sri Baladewa menjawab

127

bahwa ia memang telah diberitahu oleh Batara Narada di
pertapaan bahwa ia tidak akan dapat menyaksikan perang Barata
Yudha. Ia menyatakan merestui dan menyetujui perang tanding
antara Bima dengan Suyudana tersebut.

Prabu Suyudana menyaksikan kedatangan Prabu Baladewa itu
hatinya menjadi tenang. Dirinya pasti akan tertolong, karena
negeri Madura itu di bawah negeri Astina, dan Prabu Baladewa
adaTah seorang raja yang sakti manora guna yang paling
dibanggakan oleh orang-orang Astina.

Setelah Sri Suyudana selesai berpakaian kerajaan lengkap dan
telah menerima senjata gada, maka perang tanding melawan Bima
segera dimulai.

Pertarungan ini berjalan seru sekali karena sama-sama kuat,
sama-sama sakti dan sama-sama bertubuh tinggi besar. Arjuna
malahan menjadi khawatir bahwa kakaknya akan kalah, karena
seluruh tubuh Sri Suyudana ternyata kebal.

Arjuna mendekati Sri Kresna. Sri Kresna membisikkan sesuatu.
Arjuna segera mengedipkan mata pada Bima dari tempat j a u h ,
sambil tangannya menempel pada paha kiri, yang berarti
mengingatkan kepada kakaknya bahwa kelemahan Sri Suyudana
itu pada paha kirinya.

Bima tanggap ing sasmita, segera mengerti isyarat i t u . D i -
gulatnya Sri Suyudana. Lawannya menghindar ke tempat yang
lebih leluasa. Prabu Suyudana berhasil meloncat tetapi paha
kirinya terkena oleh gada Bima. Sang Prabu roboh. Ia lantas
dipukul oleh Bima dengan gada.

Rambutnya ditarik oleh Bima, tubuhnya didupak. Penganiayaan
tiada tara telah dilakukan oleh Bima atas diri kakak sepupunya
itu.

Menyaksikan ini Prabu Baladewa marah. Ia menganggap Bima
terlampau sewenang-wenang, tidak menghiraukan tatacara. perang
melawan raja. Prabu Baladewa yang pemarah itu menarik senjata
Nanggala. Tetapi ia segera dicegah oleh Sri Kresna. Prabu Kresna
menyabarkan kakaknya.

Ia berkata, "Kakanda Prabu jangan menyalahkan Bima.
Mengapa Suyudana itu mendapat kematian yang mengerikan,
karena ia telah terkena sumpah Bagawan Mantriya, dan juga
terkena sumpahnya Dewi Drupadi. Dahulu ia jpemah menghina

128

Raden Wrekodara

dan bertindak tidak senonoh terhadap Dewi Drupadi. Jadi Bima
i n i sekedar membalaskannya."

Prabu Baladewa dapat meredakan marahnya. Ia lantas
dipersilakan masuk terlebih dahulu ke negeri Astina.

Setelah Prabu Baladewa pergi Bima meneruskan tindakannya
terhadap Suyudana. Seluruh tubuh Suyudana hancur. Raja Astina
itu tewas. Dari tubuhnya yang hancur itu timbul suara, " A k u tidak
mau mati kalau belum bertapakkan kepala pandawa." Tetapi
suara itu tidak dihiraukan oleh Bima.

Prabu Kresna, Prabu Yudistira dan Bima segera kembali ke
pesanggrahan, sedangkan jenasah Sri Suyudana ditinggalkan di
situ.

Prabu Suyudana juga biasa disebut Duryudana. Waktu
mudanya ia bemama Raden Arya Kurupati. Ia putra Prabu
Dastarastra dari permaisuri Dewi Gendari. Ia sakti karena seluruh
tubuhnya pemah dimandikan dengan air sakti yang disebut minyak
Tala. Sayang ada bahagian paha kirinya yang tidak terkena air
sakti tersebut.

Permaisurinya Dewi Banowati adalah putri ketiga dari men-
diang Prabu Salya. Pernah ada jalinan cinta antara Banowati
dengan Arjuna.

Pada waktu itu Prabu Kresna dan Prabu Yudistira belum mau
masuk negeri Astina. Setiap malam kedua pemimpin itu meronda,
mengelilingi bekas medan pertempuran Kurusetra. Hutan-hutan
dan gunung-gunung dimasukinya. Semuanya demi keselamatan
rakyat dan keluarganya.

Aswatama anak dari Pendeta Durna yang masih bertapa di
hutan tidak mengetahui bahwa kerajaan Astina sudah jatuh. Ia
tadinya sakit hati sehabis berselisih paham dengan. Sri Salya dan
diusir oleh mendiang Prabu Suyudana. Ia baru saja mendengar
dari Kartamarma bahwa Prabu Suyudana hilang. Ia bersama
Kartamarma dan Karpa segera memasuki pesanggrahan Drusta-
jumena dan Srikandi.

Kedua orang kakak beradik itu dipotong lehernya oleh
Aswatama waktu sedang tidur, dan tewas seketika. Pancawala
putra Prabu Yudistira yang baru bangun tidur mencoba melawan,
te'la.p\ i\xga T^veng^^aTrl\ tvasit» ^ a n g s a m a . \ a tewas seVe'i\V.a.

Aswatama menggunakan panah api, dan membawa korban

130

banyak di pihak keluarga Pandawa. Setelah itu mereka masuk ke
hutan lagi.

Kematian Srikandi istri Arjuna yang sakti itu sungguh disayang-
kan. Karena ia tewas setelah perang Barata Yudha selesai,
dipenggal lehernya oleh Aswatama pada waktu sedang nyenyak
tidur, padahal dalam perang Barata Yudha ia telah berhasil
menewaskan Resi Bisma yang sakti. Srikandi selama perang
Barata Yudha menjadi Panglima Perang yang disegani.

Raden Drustajumena adik dari Srikandi yang pernah menewas-
kan Pendeta Durna itu juga mengalami nasib yang sama.
Kepalanya dipenggal oleh Aswatama pada waktu ia sedang
nyenyak tidur. Memang Aswatama mendendam sekali pada
Drustajumena, karena Drustajumena yang telah memenggal leher
Pendeta Durna. Pandawa sendiri sebenarnya mencela tindakan
Drustajumena yang telah mempermainkan kepala Pendeta Durna,
karena dipandang menghina seorang pendeta, guru dari sekalian
Pandawa dan Kurawa.

Raden Pancawala putra Prabu Yudistira dari ibu Dewi Drupadi
itu mengalami nasib yang sama, ia tewas oleh Aswatama setelah
perang Barata Yudha selesai. Inilah yang sangat disayangkan oleh
ibunya.

Waktu itu terjadi Prabu Kresna dan Prabu Puntadewa sedang
meronda di luaran.

Kembali dari meronda Prabu Kresna dan Prabu Yudistira
mendapat laporan mengenai kematian Srikandi, Drustajumena
dan Pancawala tersebut.

Sri Kresna menyabarkan Sri Yudistira agar tidak menangis,
karena semua yang tewas tadi sudah menjadi kepastian dewa.

Tiba-tiba Bagawan Abyasa datang. Ia adalah kakek dari
sekalian Pandawa dan Kurawa. Ia adalah pendeta sakti yang
hampir menyamai dewa. Ia memberi petuah banyak kepada
cucu-cucunya yang masih hidup, dan agar mereka semua
mematuhi nasihat Sri Kresna, karena Sri Kresna adalah titisan
Batara Wisnu sejati, bahkan dewa Suralaya pun tidak ada yang
berani menentang perintah Sri Kresna. Demikian Bagawan
Abyasa.

Semua putra dan cucu setelah mendengar nasihat Sri Abyasa
segera terhibur hatinya. Bagawan Abyasa segera berpamitan,
menghilang dari situ.

131

Raden Kartamarma

ARJUNA DIKAWINKAN DENGAN BANOWATI

Akhirnya diperoleh laporan mengenai tempat persembunyian
Aswatama, Kartamarma, dan Karpa di tengah hutan. Prabu
Kresna dan Prabu Puntadewa segera berangkat dengan pasukan
ke sana untuk menumpas.

Tempat persembunyian mereka dikepung. Aswatama, Karta-
marma dan Karpa melawan mati-matian. Aswatama melepaskan
panah api Cundamanik, peninggalan ayahnya. Pendeta Durna.
Arjuna membalasnya dengan panah api pula. Akhirnya api
menjadi sangat besar dan masuk ke Suralaya. Para dewa terkejut,
Batara Guru marah.

Diperintahkannya Batara Narada untuk menyelesaikan persoal-
an tersebut. Arjuna melapor kepada Barata Narada bahwa ia
sekedar membalas. Aswatama melapor kepada Batara Narada
bahwa ia menggunakan senjata Cundamanik itu sekadar untuk
menakut-nakuti saja, karena Cundamanik tidak mau membasmi
orang yang tidak jahat.

Batara Narada memutuskan memberikan senjata Cundamanik
kepada Arjuna, dan Aswatama dimaafkan.

Prabu Kresna menyatakan tidak bersedia memaafkan Aswa-
tama, karena ia telah membunuh Srikandi, Pancawala, dan
Drustajumena. Menurut Sri Kresna arwah Aswatama kelak akan
masuk neraka. Sekarang sengaja belum dibunuh karena belum
waktunya. Menurut Sri Kresna, Aswatama akan mati oleh Parikesit
yang sekarang masih dalam kandungan.

Arwah Kartamarma menurut Sri Kresna akan masuk ke dalam
binatang-binatang kecil berbau busuk yang menyukai Kotoran
manusia.

Karpa dimaafkan karena hanya ikut-ikutan. Ia boleh menerus-
kan pekerjaan kependetaan.

133

Prabu Kresna, Prabu Yudistira, dan para raja lainnya mulai
memasuki istana Astina dan memboyong Dewi Banowati.

Pesanggrahan-pesanggrahan perang di Tegal Kurusetra semua-
nya dirobohkan. Arjuna dikawinkan dengan janda Prabu
Suyudana ialah permaisuri Banowati.

Berhubung Arjuna sangat cinta kepada istrinya maka senjata
Cundamanik diminta oleh Prabu Yudistira. Akhirnya Prabu
Yudistira dilantik menjadi raja Astina.

Negara Astina menjadi semakin makmur. Rakyat hidup
kecukupan, aman dan damai. Sri Kresna dan Arjuna ikut
menjamin keamanan. Semua penjahat dibekuk. Pejuang yang
cacad diberi perhatian. Pendidikan untuk rakyat dibuka di
mana-mana.

Setelah kedudukan Sri Yudistira kokoh Prabu Baladewa, Prabu
Matswapati, Prabu Drupada dan lain-lain meminta diri kembali
ke negeri masing-masing. Hanya Prabu Kresna yang masih tinggal
di Astina.

PENUTUP

Semua yang diucapkan oleh Sri Kresna mengenai Aswatama
dan lain-lain menjadi kenyataan. Raden Parikesit putra dari
mendiang Angkawijaya dan cucu dari Arjuna yang dikandung oleh
Dewi Utari lahir dengan selamat sehabis perang Barata Yudha. Ia
sangat disayang oleh kelima Pandawa.

Sejak ia masih bayi selalu dalam keadaan bahaya, karena dicari
terus oleh Aswatama. Aswatama mengetahui bahwa Parikesit
injlah yang kemudian hari akan menguasai negeri Astina dan
menurunkan raja-raja di Jawa.

Pada suatu hari Aswatama bersama Kartamarma ingin
membunuh bayi Parikesit. Tetapi dengan tidak sengaja bayi
Parikesit kakinya menendang anak panah yang sengaja di
letakkan di situ untuk menjaganya. Anak panah itu tepat
mengenai tubuh Aswatama. Aswatama tewas. Menyaksikan
kejadian ini Kartamarma segera melarikan diri. Tetapi ia beftemu
dengan Bima. Akhirnya Kartamarma tewas di tangan Bima.

D i kemudian hari Parikesit akan bertahta sebagai raja di Astina

134

bernama Prabu Kresnadipayana, mengambil nama kakek piutnya
ialah Bagawan Abyasa yang pada waktu menjadi raja Astina dulu
bernama Prabu Kresnadipayana.

Bambang Aswatama adalah anak mendiang Pendeta Durna
dengan bidadari Dewi Wilutama, seorang bidadari yang pada
waktu berjumpa dengan Bambang Kumbayana (Durna waktu
masih muda dan berparas elok) sedang terkena sumpah dengan
menjadi kuda betina, kuda sembrani, dan terjadilah romans.
Lahirlah kemudian Aswatama yang berarti juga kuda.

Kartamarma sendiri adalah putra Prabu Dastarastra, jadi adik
mendiang Prabu Suyudana . Ia bersemayam di Banyutinalang.

Dengan demikian Kisah Barata Yudha ini ditutup.
TAMAT

135






Click to View FlipBook Version