SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Kata pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa. Berkat limpahan karunia-Nya, kami dapat
menyelesaikan penulisan buku Cerpen Remaja. Dalam
penyusunan Cerpen Remaja penulis telah berusaha
semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan penulis.
Namun sebagai manusia biasa, penulis tidak luput dari
kesalahan dan kekhilafan baik dari segi tekhnik penulisan
maupun tata bahasa.
Kami menyadari tanpa arahan dari guru
pembimbing serta masukan – masukan dari berbagai
pihak tidak mungkin kami bisa menyelesaikan tugas
Cerpen Remaja ini. Cerpen Remaja ini dibuat sedemikian
rupa semata-mata untuk membangkitkan kembali minat
baca siswa/i dan sebagai motivasi dalam berkarya
khususnya karya tulis. Untuk itu penulis hanya bisa
menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak
yang terlibat, sehingga kami bisa menyelesaikan cerpen
remaja ini. Demikian semoga karya tulis ini dapat
bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca
pada umumnya.
DESNITA MAHARANI ii
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Daftar isi
Kata pengantar..........................................................................ii
Daftar isi...................................................................................iii
Motto .......................................................................................iv
BAB 1.........................................................................................1
Fall in love at first sight .............................................................1
BAB 2...................................................................................... 10
Cafetaria................................................................................. 10
BAB 3...................................................................................... 23
Not the end of everything...................................................... 23
BAB 4...................................................................................... 36
Mengikuti takdir..................................................................... 36
Penutup.................................................................................. 47
Biografi................................................................................... 48
DESNITA MAHARANI iii
Motto
“Never regret a day in your life. Good days bring
you happiness and bad days give you
experience.”
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
BAB 1
Fall in love at first sight
Hari ini adalah hari pertama ku sekolah
setelah libur kenaikan kelas, ya aku sudah kelas 12,
Sebelum itu aku ingin memperkenalkan diri terlebih
dahulu namaku adalah Dasha Fyneen aku anak
terakhir dari 2 bersaudara. Aku mempunyai kakak
laki-laki namanya adalah Danendra Gantari kalian
bisa memanggilnya Nendra. Aku berbeda 5 tahun
dengannya.
Saat ini aku sedang berada di koridor sekolah
menuju mading.Tetapi langkah kakiku terhenti
karena ada seseorang yang memanggil namaku
“DASHAA.....” teriaknya, Itu suara sahabat ku
perkenalkan namanya Alesya aku biasa
memanggilnya eca. “Suuttt...jangan keras-
keras”ucapku sambil memandang sekitar.
“hehe...maaf kelepasan” balasnya sembari terkekeh
“halah alesan...” “hehe...eh ngomong-ngomong
kamu udah tau kelasnya dimana?” tanya Alesya.
“Belum, ini baru mau ke mading” jawabku . “kalau
begitu ayo bareng!” ajaknya
Setelah melihat mading dan ternyata mereka
satu kelas. Mereka pun berjalan bersama menuju
kelasnya. Selama perjalanan mereka mengobrol
sambil bercanda ria. “aku seneng banget akhirnya
DESNITA MAHARANI 1
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
kita sekelas lagi, jadi aku gak perlu ribet nanya tugas
lagi deh” tutur Alesya sambil tersenyum jahil.“yee itu
mah kamu aja kali” kata Dasha menampilkan wajah
jengkelnya. “hahaha.. tuh tau” balas Alesya sambil
terkekeh. “yasudah yuk ke kelas!” ajak Dasha
Sesampainya mereka di kelas, mereka pun
mencari tempat duduk barisan pojok, dan mereka
duduk sebangku. Keadaan kelas semakin ramai.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya guru
pun masuk, semua langsung duduk dengan rapih
begitupun dengan Dasha dan Alesya.
“selamat pagi anak-anak, perkenalkan nama
ibu adalah Erna kalian bisa memanggil bu Erna,
saya adalah wali kelas kalian, selanjutnya kalian
boleh memperkenalkan diri kalian satu persatu.
perkenalannya maju ke depan ya nak, sebutkan
nama, alamat rumah dan cita-cita ya nak.” ucap bu
Erna
"mulai dari kamu ya, silahkan" lanjut bu Erna
pada siswa paling depan pojok sebelah kiri dekat
dengan pintu. satu persatu siswa/i maju ke depan
dan mulai memperkenalkan dirinya. "perkenalkan
nama saya Naresh Gilvan Astara, saya tinggal di
Jalan XXX, cita cita saya ingin menjadi yang terbaik
buat orang tua," tutur laki-laki yang bernama Naresh
itu, semua murid yang mendengarnya pun terkekeh.
Naresh pun juga ikut terkekeh mengikuti yang lain.
DESNITA MAHARANI 2
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Tidak apa-apa, lelucon sesaat sebelum
memulai kelas dan materi yang baru bukanlah ide
yang buruk. Selepas Naresh memperkenalkan diri,
selanjutnya murid yang lain maju secara bergilir.
Begitu seterusnya, hingga tiba saatnya salah satu
siswa dengan penampilan yang sangat rapih
dengan setelan rambutnya yang ditata sedemikian
rupa.
Jantung Dasha berdebar dua kali lipat,
darahnya juga berdesir hebat hingga membuat
Dasha sampai meremang. Siapa? Siapa lelaki yang
ia lihat itu? Bahkan lelaki itu hanya menampilkan
tatapan datar tak berekspresi saat maju kedepan.
"Perkenalkan nama saya Christian Alexander, saya
tinggal di Jalan XXX, cita-cita ingin menjadi seorang
CEO."
DEGGG…Bagai tombak yang memanah
tepat di dada Dasha, mendengar cowok itu
memperkenalkan diri dengan suara bariton khasnya
membuat siapa pun yang mendengar suara itu
langsung jatuh cinta. Tak lupa juga dengan wajah
tampannya yang menambah kesan cool di depan
sana. Dasha sampai benar-benar fokus melihat
cowok itu sampai ia kembali duduk di tempatnya.
"Oh my god, if he is my soul mate, then bring us
closer. if he's not my soul mate, it's okay at least
bring us closer god.." Dasha langsung mengarang
tidak jelas dalam hatinya.Alesya yang sedari tadi
memandang Dasha menggerutu dan mengucapkan
DESNITA MAHARANI 3
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
kalimat tidak jelas walau tidak terdengar, berpikir
ada apa dengan sahabatnya itu? "Sha, kamu
kenapa?" Tanya Alesya. "Hah? Eh, oh, ah anu
engga.. Engga les gapapa hehehhe," Balas Dasha
dengan mimik kaget saat di tanya Alesya. ‘Dasha
gak kaya biasanya’, pikir alesya.
Perkenalan terus berlanjut, kini saatnya
Dasha memperkenalkan dirinya. Kaki jenjangnya ia
langkahkan dengan penuh percaya diri menuju ke
depan. Ia menarik nafas perlahan guna mengurangi
rasa gugup yang berdatangan. "Perkenalkan nama
saya Dasha Fyneen, saya tinggal di XXX, cita-cita
saya ingin menjadi seorang psikolog. Salam kenal
semuanya," Tutur Dasha sembari menampilkan
senyumannya.
Namun, ditengah perkenalan Dasha tadi
Dasha tak sengaja melihat Alex yang tengah
memperhatikan dirinya. Ya, benar mereka
melakukan kontak mata sesaat. Disitu, Dasha
merasa jantungnya tidak bisa terkontrol dengan
baik.Ditambah lagi, ternyata Alex masih
memperhatikan dirinya sampai ia selesai perkenalan
diri. 'Gausa begitu, gabaik buat jantung aku' gumam
Dasha dalam hatinya.
Selang beberapa waktu, perkenalan diri
selesai. Bu Erna memberi waktu kepada murid-
murid untuk melakukan adaptasi dengan teman-
DESNITA MAHARANI 4
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
teman baru. Anggap saja hari ini FreeClass karena
kenaikan kelas. Seisi kelas pun bersorak gembira,
begitu juga dengan Dasha dan Alesya.Banyak murid
yang mulai bergaul dengan murid lain. Sedangkan
Dasha? Ia merasa bosan dan hampa.Tidak tahu
ingin melakukan apa karena sebagian murid di kelas
ini sudah ia kenal dari kelas 11 lalu. Kepalanya ia
topangkan diatas tangannya, melihat orang-orang
yang saling berbaur. Pandangannya teralih melihat
sosok Alex sedang berbicara dengan satu
siswi.Terlihat siswi itu begitu akrab bicara dengan
Alex, namun yang Dasha lihat Alex hanya diam dan
hanya mendengarkan apa yang siswi itu katakan.
Dasha baru pertama kali melihat sosok Alex
di sekolah ini, ia belum pernah sama sekali bertemu
atau saling menyapa dari dulu. Mungkin murid
pindahan atau memang Dasha yang tidak pernah
sadar? "Tidak ingin kenalan denganku? Siapa tau
kenalan dapet id line aku hahahaha.." Kata Dasha
pelan lalu terkekeh sendiri, matanya masih
memandang sosok Alex disana.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Dasha
merasakan 'first love'-nya pada Alex. Ia ingin
bertegur sapa dengan Alex namun hati kecilnya
berkata lain. Ia akan menunggu waktu yang tepat
agar bisa dekat dengannya. Jika Dasha bertindak
tanpa berpikir apa yang akan terjadi kedepannya itu
akan membuat Alex merasa ilfeel padanya.
DESNITA MAHARANI 5
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Pandangan masih sama, tiba-tiba Alex menghadap
ke belakang dan sangat pas matanya bertemu
dengan mata Dasha.
Ini kali kedua mereka melakukan kontak mata.
Namun kali ini berbeda, Alex nampak tersenyum
kecil padanya. Senyum yang hampir tidak terlihat
tetapi Dasha dapat melihat itu. Gadis itu
memalingkan wajahnya ke arah lain selepas
seperkian detik lalu. Pipinya sedikit merona,
mungkin Dasha akan mendapatkan hobi baru kali ini.
Senam kontak mata dengan Alex. Hahaha, memang
dasar kisah remaja selalu saja ada yang unik.
KRIIINNGGG!!!
Bel istirahat berbunyi, seluruh murid
berhamburan keluar kelas menuju kantin. Alesya
sudah meminta mengajak Dasha pergi ke kantin
namun gadis itu menolak karena Ia sudah
membawa bekal.
Mau tidak mau Alesya dengan berat hati pergi
ke kantin seorang diri. Dan tersisa tujuh orang yang
masih di kelas termasuk Dasha. "Dasha, sini join."
Ucap seseorang padanya, ah ternyata itu Naomi
teman Dasha dari kelas 11 walaupun beda kelas.
Dasha mengangguk, Ia pergi menuju meja Naomi
dan teman-teman lainnya.
DESNITA MAHARANI 6
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
"Seneng banget akhirnya kita bisa satu kelas"
Ucap Naomi antusias. Dasha tersenyum sembari
mengangguk, "Iya bener banget, syukurlah kita bisa
satu kelas." Balasnya.
Mereka memakan bekal bersama sampai
Alesya kembali ke kelas dan ikut bergabung dengan
yang lain. Mereka bercanda ria membahas hal
random dengan asiknya. "Eh guys, itu si Alex anak
sini beneran atau gimana? Aku belum pernah lihat
dia soalnya" Ucap Melany tiba-tiba. "Ih iya aku juga
baru liat dia, anak pindahan gak sih?" Timpal Sisca
"Alex bukan anak pindahan, dia asli orang sini.
Cuma katanya dia suka absen kelas aja, dari kelas
11 yang aku tahu Alex masuk sekolah seminggu
cuma tiga kali doang." Kata Naomi menyela kedua
ucapan temannya itu.
Keempatnya melongo tak percaya dengan
apa yang Naomi katakan. Murid seganteng Alex
ternyata punya sifat yang berbanding terbalik
dengan apa yang Dasha pikirkan.
Ini mungkin di luar ekspresi Dasha. Tetapi,
Dasha tidak mementingkan hal itu. Toh selagi bisa
dekat dengan Alex dan berusaha membuat
kepribadian nya menjadi lebih baik tidak ada
salahnya kan? Pikirnya.
DESNITA MAHARANI 7
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
"AAAAAAAAAAAA OMG HELLOWWW!!
Senang banget akhirnya dapet ID Line Alex!! Awww"
Teriak seorang siswi membuat kelima gadis yang
tengah makan santai terkejut. "Ihhhh seriuss Na??
Oh my god lucky banget sih kamu jadi iri deh!" Seru
siswi lain dengan tampilan sedikit menornya.
"Serius! Gak bohong aku nih liat", "Ihh iyaaa jadi
kepengen kaya kamu deh omg!!"
Dasha, Aleysha, Naomi, Sisca dan Melany
hanya memperhatikan tingkah ketiga siswi yang
datang tiba-tiba sambil menggerutu tidak jelas
menyebut nama Alex. Dasha melanjutkan makan
bekalnya, tak lupa ia mendengarkan apa yang ketiga
siswi itu bicarakan. Ingat, Dasha memiliki
pendengaran yang cukup tajam. 'Itu cewek yang tadi
ngajak Alex bicara tapi ga di respon Alex juga, kan?'
Gumamnya dalam hati.
Tidak ada angin, tidak ada badai. Alex tiba-
tiba datang ke kelas, membuat ketiga siswi tadi
semakin berteriak tidak jelas membuat gendang
telinga ingin pecah rasanya. "OI BERISIK BRIANNA!
Kalau mau latihan vokal high note jangan disini!"
Seru Naomi, ia tidak tahan dengan ocehan siswi
tersebut. "Apasih kamu Naomi, diem aja deh kamu
itu gak di ajak please." Balas gadis bernama Brianna
itu dengan wajah jengkelnya. "Dih, siapa juga yang
mau di ajak sama kamu? Keluar sana makan kek
atau apa jangan teriak-teriak gak jelas di kelas."
DESNITA MAHARANI 8
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
"Emang aku teriak? Engga kan guys? Ya kan Bella,
Jihan?" Tanyanya pada kedua teman di samping
nya. Keduanya pun menggeleng setuju dengan apa
yang Brianna katakan.
Dasha, Alesya, Sisca dan Melany? Hanya
menonton sambil mengunyah makanannya masing-
masing. Ini seperti adegan di film-film saja.
Meributkan hal yang sepele.Gadis yang bernama
Brianna itu diam sambil memutar bola matanya
malas.
Dasha melihat ke arah Alex yang tengah
membaca buku sambil mendengarkan musik
dengan earphone nya. Tampan sekali, pikirnya.
"Nikmat mana yang engkau dustakan." Gumamnya
dalam hati. Dilihat dari segimana pun di mata Dasha,
Alex terlalu sempurna baginya.
---
‘Dapat mengenal mu dari dekat adalah harapan
terbesarku.’ -Dasha fyneen
DESNITA MAHARANI 9
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
BAB 2
Cafetaria
KRIIIIIIIINNGGGGGGG!!!
Bunyi alarm menggema diseluruh ruangan
bernuansa grey peach yang dihiasi penuh dengan
stiker ataupun lukisan kupu-kupu. Diraihnya sumber
bunyi suara berisik itu lalu dimatikannya.
Dasha mulai membuka matanya perlahan,
menyambut hari senin pagi dengan caci makian,
tidak maksudnya senyuman.
Kaki jenjangnya ia langkahkan menuju kamar
mandi. Namun, sebelum itu ia pergi bercermin untuk
melihat betapa berantakan dirinya saat bangun tidur.
Air liur (iler) masih tercetak jelas di bagian sudut-
sudut bibirnya, rambut yang berantakan, wajah yang
terlihat sangat murung dan kusam. "Seperti
gembel." Gumamnya pelan.
Tiga puluh menit telah berlalu, kini sang gadis
sudah rapih dengan seragamnya dan siap untuk
pergi ke sekolah.Ia ingat hari ini adalah hari tepat ke
tiga bulannya menjadi kakak kelas yang sebentar
lagi akan lulus.
DESNITA MAHARANI 10
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Apa kalian ingat dengan Alex? Si cowok tipe
idealnya seorang Dasha Fyneen. Hubungan mereka
tidak lebih dari seorang teman, apa kalian tahu?
Sepertinya sedikit miris melihat kedua peran utama
kali ini.
Mereka hanya dekat jika ada tugas yang di
lakukan secara berkelompok. Dasha akui bahwa
Alex cukup pintar walaupun memiliki kepribadian
yang bertolak belakang dengan pikiran nya. Lebih
simpel nya anggap saja Alex dan Dasha seimbang
dalam hal belajar.
----
Kini Dasha sudah sampai disekolah nya. Ia
berjalan menelusuri koridor sampai di depan
kelasnya. Dilihatnya Alesya yang baru juga datang
melambaikan tangan ke arahnya. "Yo! Kamu udah
tau tugas PPKN kali ini ngapain aja?" Ucap Alesya
membuka percakapan di antara keduanya. Dasha
menggeleng pelan sambil memasang wajah
bingungnya. "Serius? Aku kira si manusia ambis
satu ini bakal selalu tahu tugas apa aja yang di kasih
guru" Lanjutnya sambil terkekeh. "Memang tugas
apa?" Kini Dasha bertanya. "Buat projek PPKN
secara berkelompok, materinya pengaruh
perkembangan iptek bagi kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara dalam bidang politik."
Jelas Alesya membuat Dasha menghela nafasnya
pelan.
DESNITA MAHARANI 11
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
"Huh... Okey. Semangat, Tuhan bersama
kelas 12," Ucap Dasha membuat temannya itu
tertawa geli. Ini adalah reaksi pasrah dari seorang
Dasha si anak ambis ternyata. "Untuk kelompok nya
masih sama atau bagaimana?" Tanya Dasha. "Ada
sedikit perubahan, kelompok kita Naomi dan Jason
di ganti sama Naresh dan Alex. Jadi kelompok kita
sisa aku, kamu, Devina, Alex dan Naresh." ,"Oh..
Oke."
Yakinlah, dibalik kata 'oh' seorang Dasha ada
hati yang sedang bergejolak. Bagai di serang
hamparan kupu-kupu dalam perutnya. Ini situasi
yang sangat beruntung baginya.
Ah iya hampir lupa, kalian tahu? Dasha dan
Alex ternyata—beda agama. Alex menganut agama
Kristen, sudah jelas juga bahwa namanya memang
ada unsur kaum nasrani. Christian Alexander,
nama yang indah namun sangat mustahil untuk di
gapai.
Jujur saja, cukup berat bagi Dasha untuk
menerima kenyataan ini.Terkadang Dasha berpikir
bahwa cinta tidak selalu indah. Maka dari itu, Dasha
berusaha melupakan bahkan mengurangi tindakan
atau sikap seolah-olah ia menyukai Alex saat berada
di dekatnya.
Dasha pernah membaca beberapa kutipan.
ada... yang kelewat dekat hanya saja berbeda minat;
satu ingin lebih, satu lagi merasa cukup sebagai
DESNITA MAHARANI 12
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
sahabat. alhasil, meski sudah sejauh apapun
berkutat, keduanya tak pernah terikat. Tuhan,
mengapa cinta masa remaja begitu sulit?
---
Jam menunjukan pukul sembilan tepat. Kini,
seluruh murid berhamburan keluar karena bel
istirahat sudah berbunyi. Seperti biasa, Dasha
mengambil kotak bekalnya. Tiba-tiba Alex masuk ke
kelas membuat gadis itu sedikit terkejut.
Tidak, yang lebih mengejutkan nya lagi, Alex
menghampiri meja Dasha lalu menarik bangku
depan dan duduk menghadap gadis itu. "Mau
kerjakan tugas dimana?" Tanya Alex tiba-tiba.
DAMN. Ayo kontrol jantungmu Dasha! Ini hanya di
ajak bicara bukan apa-apa tenang saja. "Terserah,
aku ikut kalian saja." Balasnya sambil membuka
kotak bekalnya. "Ah oke. Kalau begitu, mau di
cafetaria aja?" "Bukan ide yang buruk, baiklah. Aku
akan tanyakan anak-anak yang lain setuju atau
tidak" Ucap Dasha dengan senyum tipisnya.
Alex diam tak berkutik. Pandangannya entah
mengapa terus kearah gadis di depannya itu.
Sedangkan Dasha? Tidak sadar bahwa ia di
perhatian oleh Alex karena sibuk dengan
makanannya.
Srett..
DESNITA MAHARANI 13
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Dasha merasakan ada sentuhan tangan di
atas kepalanya. Ia menoleh dan melihat ke arah Alex
sambil mengikis jarak. Berkisar hanya lima belas
senti kira-kira jarak mereka. Alex menarik tangannya
lalu membuang sesuatu ke sembarang arah. "K-
kamu ngapain??" Tanya Dasha sedikit terbata. "Ada
kotoran di atas hijabmu." Balasnya menampilkan
ekspresi datar seperti biasanya. "O-ohh.. Makasih
Alex..". "Sama sama."
Hening. Kedua belah pihak berdiam diri,
bagai kalut dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba
Alex menyodorkan coklat kemasannya pada Dasha.
Gadis itu mengerutkan dahinya, Alex yang paham
dengan tatapan itu langsung berbicara. "Buat kamu,
saya tidak terlalu suka coklat." Jelasnya. Tidak suka
coklat, lalu kenapa membelinya? Manusia aneh.
Pikir Dasha.
BRAAKKK!!!
Pintu kelas terbuka dengan kencangnya
membuat dua insan ini terkejut. Saking kerasnya,
kotak makan bekal Dasha sampai jatuh kesamping
akibat tak sengaja tersenggol. Alex yang melihat
Dasha kerepotan membersihkan makanan yang
tumpah pun ikut turun tangan.
"ALEX!! Kamu disini rupanya, ih aku cariin
juga. Kemana aja sih kamu?" Tutur gadis bernama
Brianna itu. Alex tak menanggapi ucapan Brianna, ia
hanya fokus membantu Dasha. Brianna yang
DESNITA MAHARANI 14
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
merasa dirinya di abaikan Alex pun mendekatinya
sambil memegang bahu Alex. "Alex sayang.." Ucap
Brianna membuat Alex semakin kesal. "Jangan
pegang-pegang!" Kata Alex sambil menepis tangan
gadis centil itu."Ih kok kamu gitu sih? Apa salah aku
coba. Hmm.. Kamu sama si Dasha gembel ngapain
nih?"
Dasha yang mendengar namanya di sebut
dengan sebutan tak pantas, lantas menoleh dan
berdiri. Ia tak Terima dengan ucapan Brianna
barusan. "Gembel sebut gembel." Tutur Dasha
dengan wajah sinisnya pada Brianna. Brianna pun
tak terima, ia kembali mengejek Dasha dengan
ucapan tak senonoh. "Kamu! Berani banget kamu ya
sama aku!" Tak ada angin tak ada hujan, Brianna
dengan berani menarik hijab Dasha dengan
kencangnya. "Apasih! Lepasin! Kamu yang tidak
sopan sama aku! Kamu ngatain orang seneng
banget giliran di katain balik gak terima. Gila dasar!"
Dasha tak kalah kuat menjambak balik rambut
Brianna. Alex yang panik pun langsung melerai
kedua makhluk yang sepertinya tak akur ini. "Sudah
sudah! Kamu Brianna, kalau bicara ucapannya di
jaga!" Bentak Alex pada Brianna. "Tapi Alex.. Kan
ucapan aku bener" Elak gadis dengan penampilan
menor itu."Tidak ada tapi-tapian. Minta maaf cepat
sama Dasha!" Seru nya membuat nyali Brianna
menciut.
DESNITA MAHARANI 15
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Sedangkan Dasha? Hanya diam sambil
membenarkan hijabnya yang berantakan sehabis di
jambak oleh Brianna. Sungguh manusia yang
menyebalkan. Gumam Dasha dalam hati
Brianna diam tak bergeming lalu pergi berlalu
lalang tanpa ada niat sedikit pun meminta maaf pada
Dasha. Tidak sopan sekali. "Kamu tidak papa,
Dasha?" Tanya Alex khawatir. "Engga papa kok,
terima kasih ya Alex sudah menolong ku." Balas
Dasha sambil menunduk merapihkan
penampilannya. Hatinya kembali bergejolak melihat
Alex yang begitu khawatir padanya.
---
Selepas kejadian beberapa jam lalu, akhirnya
bel pulang sekolah pun berbunyi. Dan rencana untuk
mengerjakan tugas proyek di cafe pun telah di
setujui oleh yang lain.
Jujur saja Dasha masih merasa kesal dengan
perlakuan Brianna tadi. Ini bukan kali pertama
Brianna berkelakuan buruk padanya. Dasha akui
ternyata hubungan pertemanan dirinya dengan
Brianna sangat buruk. Terlebih lagi Brianna anaknya
licik.
Mengapa selalu ada saja manusia yang iri
dengki pada kita ya? Dengan alasan yang tidak logis
dan penuh tanda tanya. Brianna membenci Dasha
DESNITA MAHARANI 16
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
karena ia merasa cemburu jika Dasha dekat dengan
Alex.
Nyatanya tidak seperti itu. Terkadang Alex
yang selalu mendekati Dasha dengan alasan
tertentu. Dasha tak habis pikir dengan pola pikir
seorang Brianna. Menurut nya rasa obsesi nya pada
Alex terlalu berlebihan.
---
Kini mereka berlima sudah sampai di tempat
yang telah di janjikan. Dasha duduk bersebelahan
dengan Alesya. Naresh, Devina dan Alex duduk
berurutan ke arah kanan, mereka memilih meja
bundar agar memudahkan kegiatan belajar mereka.
"Sebelum di mulai, silahkan pesan minuman
atau makanan. Biar saya yang traktir malam ini,"
Tutur Alex tiba-tiba membuat yang lainnya kaget.
Wah wah ada apa gerangan dengan sosok Alex hari
ini. Cowok yang benar-benar di luar dugaan. "Ehh..
Tidak usah lex kami akan bayar sendiri-sendiri. Kami
tidak mau merepotkan kamu" Sela Devina, yang
lainnya mengangguk setuju begitu pun dengan
Dasha.
"Tidak apa-apa. Pesan saja apa yang kalian
mau, saya tidak mau ada penolakan kali ini."
Titahnya membuat yang lainnya bungkam sejenak
sambil melirik ke arah lain secara bergantian. "O-
okey Terima kasih ya Alex" Ucap ke-empat nya
DESNITA MAHARANI 17
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
bersamaan. Alex hanya mengangguk pelan lalu
memanggil seorang pelayan untuk memesan makan
dan minuman.
Setelah itu mereka berlima memulai kegiatan
belajar nya bersama. Tugas proyek kali ini memang
cukup menyusahkan. Pasalnya materi yang di
berikan oleh guru tidak ada dalam buku.
"Siapa yang cita-citanya ingin memukul pak
Genta adik adik?" Ucap Naresh dengan senyum
horornya. Naresh sepertinya terlihat pasrah.
"HAHAHAHAHAHAHA!!" Tawa ketiga temannya
pun keluar, Devina sampai terbahak-bahak melihat
tingkah konyol Naresh.
Dasha hanya terkekeh lalu melanjutkan
mencari kunci jawaban tugas mereka. Alex? Hanya
diam tak bergeming walaupun sudah melihat
kelakuan abstrak teman-teman lain. Apakah itu tidak
lucu?
Entah mengapa selama mengerjakan tugas
berlangsung Dasha seperti di tatap terus menerus
oleh seseorang. Dasha mengalihkan pandangannya,
mencari tau siapa yang menatapnya.
DEGG
Pandangan mereka bertemu, ternyata yang
menatapnya terus menerus ialah Alex. Dasha
seperti merasakan kupu-kupu berterbangan di
perutnya, debaran jantungnya terasa menggila.
DESNITA MAHARANI 18
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
'oh god...aku bisa gila jika Alex trus bersikap seperti
ini.' ucapnya dalam hati
"EKHEM.." Alesya berdehem membuat dua
insan itu cepat-cepat saling mengalihkan
pandangannya. "eh…", "Dari matamu-matamu, ku
mulai.." Naresh mulai menyanyi dengan asiknya.
"Jatuh cinta. Ku melihat-melihat ada bayangnya."
Timpal Alesya
'sepertinya ada masalah dengan jantungku' pikir
Alex.
'tuhan, aku malu' pipinya merona.
"H-hey apa sih kalian, nyanyi tidak jelas,
kerjakan tugasnya ayo!" Ucap Dasha mengelak
berusaha menghilangkan rona di pipinya. "Wah wah
sepertinya akan ada kapal baru, tapi apakah
endingnya sangat memuaskan nantinya?" Celetuk
Naresh sambil merangkul pundak Alex, yang di
rangkul hanya diam saja. "Wuihh jangan deh,
tembok nya tinggi bange-Hmmph"
DEGG
Tidak ada hujan, tidak ada badai. Bak belati
yang menusuk tepat dan mendalam di dada Dasha.
Rasanya sakit sekali mendengar ucapan Alesya
barusan.
'Shit.' Gumam Alex dalam hatinya.
DESNITA MAHARANI 19
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
"Mulutmu ini, harus di jahit sepertinya les." Gerutu
Devina saat membekap mulut Alesya.
'Oh ya ampun, hampir saja aku ingin mengumpat.'
Dasha membatin.
"Hah?-EH!" Alesya membekap mulutnya
sendiri, entah mengapa. Sepertinya Dasha dapat
teman seperti Alesya karena hadiah dari ciki jaguar.
Bercanda.
Tidak. Kesampingkan soal perasaan masing-
masing terlebih dahulu, masih ada tugas yang harus
segera di selesaikan. Ini bukan saatnya untuk saling
mencuri pandang.
Dasha menarik nafasnya perlahan lalu mulai
membacakan kunci jawaban atas pendapatnya
setelah membaca buku berkali-kali.
'Mari kita serius, Dasha Fyneen.' Gumamnya pelan.
"Oke, maaf menyela tawa canda kalian.
Bisakah kita serius sekarang?" Ucap Dasha sedikit
lantang. Semuanya diam mendengar suara khas itu,
mereka tahu ini bukan lagi saatnya untuk bercanda.
Ah sepertinya Dasha mempunyai jiwa
pemimpin dalam mengatur teman-temannya agar
menjadi disiplin.
---
DESNITA MAHARANI 20
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Tepat pukul 21.15, pekerjaan mereka telah
tuntas. Mereka merapihkan tas masing-masing tak
lupa juga membersihkan meja sehabis mereka pakai.
Setelah itu satu per satu pamit pulang dan sekarang
hanya tinggal Dasha dan Alex saja.
Dasha menelpon sang kakaknya namun tak
kunjung di angkat. Mungkin kakaknya sedang pergi
dan ponselnya tertinggal di rumah, sebab sedaritadi
hanya berdering saat di telepon. "Ck! Ngeselin
kemana sih bang nendra?!" Celetuk Dasha tidak
jelas. "Ini udah mau jam 10, aku juga harus belajar
di rumah. Abang kemana sih? Gak biasanya ga
angkat telepon ih nyebelin banget!"
Alex yang sedari tadi melihat kelakuan
random Dasha, dimatanya itu terlihat sangat
menggemaskan. Entah mengapa hatinya terasa
menghangat jika berada di sisi Dasha.
"Kamu tidak pulang, Alex?" Tanya Dasha
memecah keheningan diantaranya. "Kamu sendiri?",
"Jangan melempar pertanyaan dengan pertanyaan,
dasar" Gemas Dasha, rasanya ingin mencubit ginjal
mungil Alex. Nope.
Cowok itu tertawa namun yang uniknya saat
ia tertawa matanya akan tertutup sempurna dan
menarik garis ke bawah bak bulan sabit, ini kali
pertamanya Dasha melihat cowok dingin itu tertawa
di depannya. Definisi tampan dan lucu menjadi satu.
DESNITA MAHARANI 21
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Garis bibir ditarik. Mengurvakan sebuah
lengkungan manis. Yang mana membuat Dasha
kembali terhipnotis. Pada indahnya karya Tuhan
satu ini.
"Ingin saya antar pulang saja?" Tawar Alex
membuat Dasha menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak usah, terima kasih. Kakakku akan kesini 10
menit lagi, tadi ia sedang mandi makanya dia tidak
mengangkat teleponku." Jelasnya. Alex
mengangguk paham, syukurlah. Malam itu, selepas
kerja proyek kedua insan ini saling beradaptasi dan
terbuka perlahan-lahan, sesekali diiringi canda dan
tawa. Sungguh malam yang benar-benar Dasha
harapkan telah terkabulkan. Dalam isi hati Dasha
sendiri pun ada rasa gelisah yang masih bergejolak
hingga saat ini.
Ia tidak ingin melawan takdir untuk terus-
menerus mengharapkan dia karena agama mereka
berbeda, tapi hatinya membutuhkannya.
---
‘hanya saja, sebuah kalimat aksara tidak akan cukup
untuk menceritakan bagaimana aku mencintaimu
dengan kesunyian.’ — Dasha Fyneen.
DESNITA MAHARANI 22
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
BAB 3
Not the end of everything
Malam yang sejuk menyelimuti kota Jakarta
saat ini. Cuaca yang pas untuk melakukan rutinitas
malam yaitu nongkrong bersama bagi para remaja.
Dasha duduk termenung di dekat jendela
yang mengarah langsung ke pemandangan gedung-
gedung tinggi ibu kota. Ia merasa jenuh dan bosan
terus-terusan berada di rumah. Dirinya tidak tahu
ingin melakukan apa tapi yang jelas ia sangat ingin
di ajak pergi keluar.
Dasha menghela nafasnya. Ia menjatuhkan
tubuhnya di atas kasur king size nya. Nyaman,
lembut, rasa kantuk yang mulai berdatangan ia
rasakan. Sudah lama sekali ia tidak merasakan ini
semenjak ia terus menerus fokus pada belajarnya.
"Hangat." Ucapnya dalam hati. "Biasanya
orang-orang kalau malam-malam begini ngapain
ya? Galau atau melanjutkan belajar sampai kepala
mau pecah?" Gumam Dasha pelan.
Kepalanya sangat pening, belum lagi
persoalan ia diberi kesempatan untuk ikut Olimpiade
yang di tawarkan oleh kepala sekolah. Ia tidak akan
sendiri, akan ada Alex yang menjadi pasangannya
untuk menjadi perwakilan dari Satya Mandala High
School.
DESNITA MAHARANI 23
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
"Aku tidak ingin mendapat genre hidup
seperti ini, ARRGHH TIDAK TAU LAH!!" Gadis itu
menggesek-gesekan kakinya di kasur bak anak kecil
yang minta balon namun tidak di kasih oleh ibunya.
Karena kedua murid ini ternyata memiliki
kemampuan yang hampir sama, dan selalu menjadi
sorotan di sekolahnya.
Adzan isya berkumandang, Dasha beranjak
dari tempat tidurnya lalu pergi ke kamar mandi untuk
berwudhu. Ia mengambil peralatan sholatnya dan
mulai menggelar sajadah.
Disisi lain, jari jemarinya ia dentingkan
beriringan dengan irama lagu yang tengah berputar.
Dirinya tengah bersantai selepas kejadian buruk
beberapa jam lalu yang ia dapatkan. Alex merasa
bahwa dirinya tak pantas untuk hidup di dunia
karena tekanan dari kedua orang tuanya.
Alex yang selalu di tuntut untuk menjadi yang
terbaik diantara keluarganya. Belum lagi kedua
saudara kandungnya terkadang ikut menekannya,
bukankah itu membuat diri dan kesehatan
mentalnya terganggu? Jujur saja ia butuh seseorang
yang benar-benar bisa Alex jadikan rumah dan
sandaran untuk saat ini.
DESNITA MAHARANI 24
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Sesuatu terlintas di benaknya, ia ingin
menemui Dasha. Tapi bagaimana caranya? Melihat
hubungannya dengan Dasha sendiri pun masih ada
kata canggung. Oh Tuhan harus bagaimana Alex
kali ini?
Pikirannya kalut, belum lagi tentang tawaran
ikut Olimpiade mewakili sekolahnya. Ia benar-benar
merasa pikirannya tak bisa terkontrol.
Alex beranjak dari sofa lalu mengambil kunci
motor dan jaketnya di atas nakas. Ia menuruni anak
tangga dengan buru-buru, tak sengaja ia melihat
sosok pria paruh baya tengah menonton TV dengan
raut wajah seperti orang habis marah.
Christian Nevada, ayahanda Alex. Dengan
kepribadian yang egois dan tegas membuat
siapapun di rumah ini takut padanya.
"Mau kemana kamu?" Tanya sang ayah, Alex
tak menjawab dan hanya pergi berlalu lalang saja.
"Alex! Mau kemana kamu?!" Alex masih tak berucap
sepatah kata pun walaupun ayahnya sudah
membentak nya kembali.
Perasaannya campur aduk, saat ini ia benar-
benar tidak ingin di ganggu. Alex mengendarai
motornya tak tentu arah dengan kecepatan penuh.
Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi.
DESNITA MAHARANI 25
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Jika ia kembali ke rumah, hanya ada suara
lantang sang ayah yang terus menyuruhnya belajar,
belajar dan belajar sampai mimisan. Alex sudah
cukup muak dengan semua itu. Sekarang yang ia
perlukan hanyalah ketenangan.
Alex memarkirkan motor nya ditempat parkir
sebuah taman. Taman yang tampak begitu luas,
diiringi dengan berbagai macam tumbuhan dan
bunga yang terlihat baru bermekaran.
Ia duduk di sebuah bangku taman sambil
melihat pemandangan sekitar. Seperti nya di daerah
sini banyak yang berjualan.
Awalnya atensi hanya sekedar ingin
memandang para taman yang dihiasi remang.
Namun di sana tanpa sengaja netra yang
terjerembab. Pada paras anindya. Yang tampak
begitu Kirana kala syam kian memekat. Alex ingin
menghampiri orang itu, karena begitu familiar
wajahnya.
"Dasha?" Sapa Alex pada gadis ber-hoodie
merah muda dengan celana training abu-abu tengah
membeli cumi bakar. Merasa namanya terpanggil,
gadis itu menoleh. Dan ternyata benar, itu Dasha.
Sedang apa ia disini dan dengan siapa ia datang
kesini, pikir Alex. "EH-Alex??? Apa yang kamu
lakukan di sini?" Tanya Dasha terkejut. Ini
pertemuan yang sangat amat mendadak. Ditambah
Dasha tak memakai hijab, ia hanya menutupi
DESNITA MAHARANI 26
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
kepalanya dengan tudung kepala dari hoodie nya.
Memalukan, pikirnya. "Hanya mencari udara segar,
bagaimana dengan kamu?" Balasnya. "Beli jajanan.
Kamu cari udara segar sampai ke rumah ku? Jauh
sekali Alex" Dasha melongo tak percaya, pasalnya
jarak rumah mereka memang cukup jauh. Apalagi
Alex tak biasanya berkunjung sampai kesini. "Oh
jadi rumahmu di sekitar sini ya?" Tanya Alex lalu di
dapati anggukan kepala dari Dasha.
"Mau cumi bakar?" Tawar gadis manis itu
pada pria favorit didepannya, yang di balas
gelengan langsung oleh sang empu. "Aku tidak suka
penolakan." Sang gadis menampakkan ekspresi
cemberut nya, kurva merah ceri yang terlihat
melengkung ke bawah menandakan ada rasa
kesedihan didalamnya. Alex yang melihat itu tak
kuasa menahan tawanya. Ini terlalu lucu. "Baiklah
baiklah, terserah kamu saja."
---
Pada akhirnya mereka berdua duduk
bersama di bangku taman sembari makan dan
ngobrol dengan serunya.
Saat sedang bercerita Dasha merasa tidak
ada sahutan dari sampingnya, saat menoleh
kesamping di lihatnya Alex yang sedang melamun,
entah sedang memikirkan apa, yang pasti Dasha
berfikir pasti ada sesuatu yangterjadi padanya.
DESNITA MAHARANI 27
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Dasha memberanikan diri untuk memegang bahu
Alex dan menyadarkannya.
DEG
Alex sadar saat merasakan ada sebuah tangan yang
menyentuh bahunya.
'eh..'
"Kamu kenapa?" tanya Dasha. "Hah..e-
engga, ga kenapa-napa kok" Alex sedikit terkejut
dengan sapaan Dasha tadi. "Kamu terlihat sedang
ada masalah, kamu gabisa bohongi aku lex".
"ceritakan saja jika ingin, keluarin semua keluh
kesahmu. dengan senang hati aku bakal dengerin
semuanya,"
Darah Alex berdesir, lagi dan lagi ia merasa
perasaan nyaman saat di dekatnya, Alex mulai
berfikir ternyata ada orang yang peduli padanya,
perasaanya benar-benar senang dan tenang.
Ia merasakan ketulusan saat Dasha berucap
seperti tadi. Namun ia ragu, ragu untuk bercerita.
Tapi saat dia menatap Dasha entah kenapa
keraguan itu seketika menghilang, yang ada hanya
perasaan nyaman. Akhirnya dia memilih untuk
bercerita,
"Saya hanya lelah, lelah dengan keluarga
saya. Ingin rasanya saya bebas seperti kamu dan
yang lainnya, tapi seperti nya susah sekali untuk di
DESNITA MAHARANI 28
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
gapai. Hahaha.. Ah entahlah bagaimana
kedepannya nanti saya hanya bisa pasrah." Entah
mengapa mulut Alex berucap dengan sendirinya
"Aku memang gatau rasanya bahkan
kalaupun aku di hadapi masalah seperti itu aku
bakalan nyerah duluan, tapi kamu?... Kamu kuat,
kamu berhasil bertahan sampai sejauh ini, jadi
jangan pernah menyerah ya, kalau kamu nyerah
perjuanganmu untuk bertahan sampai sejauh ini
akan sia-sia." Dasha berucap dengan lembutnya
membuat hati Alex kian menghangat. "Kalaupun
kamu butuh teman cerita atau pendengar, jangan
pernah ragu untuk menghubungi aku"
lanjutnya"Terima kasih, kamu udah mau dengerin
keluh kesah saya. Rasanya saya benar-benar
beruntung bertemu denganmu, maaf karna saya
mengganggu waktu bersantai mu." Ucap Alex
merasa tidak enak pada gadis manis didepannya itu.
Ia tidak pernah menampilkan sisinya seperti ini.
Sangat memalukan, pikirnya.
"Tidak apa-apa. Lagi pula aku juga senang
bisa menjadi pendengarmu. Selalu ada sakit yang
tidak bisa dijelaskan, dan ada kecewa yang tidak
bisa diungkapkan. Jangan khawatir akan bagaimana
alur cerita pada bab ini. Cukup jalani dan perankan,
Tuhan selalu menjadi sutradara yang terbaik."
Dasha berucap dengan lembutnya sembari
mengusap pundak Alex pelan. Alex yang tadinya
niat hati ingin memeluk gadis mungil di sebelahnya
DESNITA MAHARANI 29
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
ini tidak jadi karena takut. Dan pada akhirnya ia
hanya dapat berani mengelus puncak kepala Dasha,
itu pun juga sangat hati-hati ia lakukan.
Dasha pendengar yang baik, menurutnya.
Baru pertama kali ini ia mengungkapkan isi hati dan
pikirannya pada orang lain. Elio, teman dekatnya
saja bahkan tidak pernah tahu bagaimana Alex yang
sebenarnya. 'DAMN!! MAKSUDMU APA?!! Selalu
saja membuat hatiku bergoyah, tidak sopan dasar!'
Ucap Dasha dalam hatinya. Pipinya merona akibat
malu
Sejak malam itu hubungan Alex dan Dasha
semakin dekat, dan sekarang Alex lebih banyak
bicara, itu membuat jantung Dasha tiap hari seperti
tidak dapat terkontrol dengan baik.
---
Jam menunjukan pukul dua belas siang.
Tentu saja ini adalah waktu istirahat kedua. Namun
Dasha masih memainkan jari jemarinya pada
komputer didepannya. Masih banyak tugas-tugas
yang ia belum selesaikan.
Bu Resti meminta tolong pada Dasha untuk
mengerjakan sesuatu. Bodohnya, Dasha mau-mau
saja padahal tugas ia sendiri masih banyak yang
belum selesai. Memang benar, terkadang terlalu
baik itu tidak baik. Hahaha
DESNITA MAHARANI 30
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Disisi lain, Alex yang tengah asik membaca
buku di kelas tiba-tiba dihampiri oleh bu Zahra. Guru
tersebut meminta tolong pada Alex untuk membantu
memindahkan buku tulis tugas anak kelas dua belas
A ke ruang lab komputer.
Alex mengangguk lalu membawa sekitar dua
pack buku tugas itu ke ruangan lab. Tibanya di sana
langsung ia taruh di atas meja buku-buku tersebut.
"Aduh gimana ini.." Sama-sama ia
mendengar suara seseorang. Matanya menelusuri
arah seisi lab, terlihat di pojok ruangan ada satu
meja yang memancarkan cahaya. Pasti ada
seseorang yang tengah memainkan komputer
disana, pikir Alex.
Ia berjalan mendekati meja tersebut dengan
pandangan waspada. "Aku harus gimana..
Secepatnya ini harus diselesaikan.. Ya Allah ya
Rabbi tolonglah hamba.."
Ia mendengar suara yang sepertinya tengah
frustasi. Sesampai didepan meja, ternyata benar
ada orang disini. Gadis cantik berhijab dengan
wajah frustasinya, siapa lagi kalau bukan Dasha?
"Dasha?" Sapa Alex. "OIT MAK CURUT KAU
KEJEPIT!!" Siapa sangka, Dasha malah kaget
bukan main sampai-sampai ia memperagakan
gerakan silat dengan singkat.
DESNITA MAHARANI 31
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Alex tergelak, melihat tingkah Dasha yang
terkejut seperti tadi baginya sangatlah lucu. Yang di
tertawakan semakin terkejut dalam hatinya. Kenapa
ada Alex disini, pikirnya.
"Alex? Loh kamu sedang apa disini?" Tanya
Dasha membuka obrolan. "Harusnya saya yang
nanya begitu. Saya disuruh Ibu Zahra buat naruh
buku tugas disini, kamu sendiri?" Balasnya sembari
mengambil sejenis kursi eksekutif berwarna merah
untuk ia duduki. "Ah begitu.." Gadis itu
menganggukkan kepalanya dengan artian paham
maksud Alex.
"Aku disuruh Ibu Resti bantu dia bikin
proposal, sedikit merepotkan sih karena tiba-tiba file
yang udah aku ketik hilang gitu aja. Aku harus
gimana, lex? Aku takut, aku kurang mengerti soal
per-komputeran.." Lanjutnys dengan wajah masam
nan suram, ekspresi yang begitu memprihatinkan.
Alex tersenyum, ia berdiri lalu menghampiri
meja Dasha. Dilihatnya benda persegi panjang yang
berdiri di atas meja itu dengan papan ketik
dibawahnya. Tangannya tertuju pada alat yang
bernama 'mouse', yang dimana alat itu masih
dipegang juga oleh Dasha.
DEG!
DESNITA MAHARANI 32
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Jantung Dasha kembali berdebar dua kali
lipat. Oh Tuhan, mengapa harus begini? Dasha lelah
jika harus terus menerus seperti ini dengan Alex.
Bisa-bisa ia terkena serangan jantung yang ada.
"Yang mana yang hilang? Kamu klik opsi info
lalu Manage Document, lalu tekan icon ini.." Alex
menjelaskan secara rinci bagaimana cara
mengembalikan file yang hilang tadi. Namun
sayang,Dasha gagal fokus. Dasha malah terus
memperhatikan wajah tampan Alex dari samping, ia
hanya sedikit mendengarkan apa yang Alex jelaskan
tadi.
'GOD! HE'S SO HANDSOME! I SWEAR!'
Begitulah sekiranya isi hati Dasha ketika
dapat situasi seperti ini bersama Alex. Yah mau
bagaimana lagi, jika perempuan sedang jatuh cinta
mereka akan selalu salah tingkah. Dimanapun itu
dan kapanpun itu saat mereka berinteraksi dengan
seseorang yang mereka sukai.
"Nah, file-nya udah kembali deh," Ucap Alex
tiba-tiba membuat Dasha mengerjapkan matanya
langsung. "H-hah? Eh—oh i-iya bener file-nya udah
kembali.. Keren kamu Alex! C-caranya gimana ya..
Wah gak sangka aku sama kamu bisa sehebat ini!"
Kata Dasha sedikit gugup sambil terkekeh tidak jelas.
DESNITA MAHARANI 33
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Alex yang mendengarnya pun malah
membuat garis lengkung jelas didahinya sembari
menaikkan alis. "Kamu tidak denger penjelasan
saya tadi?"
Pertanyaan Alex langsung membuat Dasha
mengalihkan pandangannya. Baiklah Dasha, mulai
hari ini kamu benar-benar harus mengontrol
debaran hatimu.
"Hah? Oh itu.. Tadi.. Aku.. D-denger kok..
Hehehe, eumm.. Tadi kamu bilang kalau aku kayak
gini lagi harus tekan icon ini kan?" Ucapnya sambil
mengarahkan pandangan ke monitor dan menunjuk
beberapa icon disana. Alex menggeleng pelan lalu
tersenyum singkat, ia mengubah posisi menjadi
berdiri kembali. "Bukan itu.. Hah.. Dasar kamu ini,
kamu tekan ini lalu ini. Saya tebak pasti kamu
kelelahan karena tugas Bu Resti ya? Makanya kamu
gagal fokus." Alex berucap dengan tangan terulur
mengusap puncak kepala Dasha singkat.
Dasha menelan salivanya dengan susah
payah. Berapa lama lagi ia akan terbebas dari
senam jantung? Ini perlakuan Alex yang kesekian
kalinya yang selalu membuat Dasha bisa jadi
terkena serangan jantung beneran.
"Sudah jam istirahat kedua, kamu tidak
makan? Jika belum, jangan telat makan. Saya harus
kembali ke kelas, sampai jumpa nanti." Sebelum
pergi, Alex sempat tersenyum sampai kedua
DESNITA MAHARANI 34
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
matanya membuat lengkungan sabit dengan
senyum manis khasnya. Dasha tak bergeming.
Pandangannya hanya terus mengarah ke punggung
Alex yang kian menjauh.
"Alex.. Kamu hanya bisa aku pasrahkan kepada
Tuhan yang Maha Esa saja." Gumamnya, lalu
melanjutkan kegiatannya setelah tak melihat lagi
punggung Alex yang menjauh.
---
‘Rasanya seperti tidak ada jarak di antara kita, yang
membuat diriku harus sadar bahwa diantara kita
masih ada pembatas yang tidak bisa di lewati.’
— Dasha Fyneen
DESNITA MAHARANI 35
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
BAB 4
Mengikuti takdir
Tiba hari terpenting dihidup antara Dasha dan
Alex. Mewakili Olimpiade antara Satya Mandala
High School dan SMA Victoria. Keduanya sudah
membulatkan tekad untuk menjadi perwakilan
sekolah mereka. Tidak ingin membuat nama
sekolah mereka buruk, mereka belajar mati-matian
sampai sampai Dasha jatuh sakit karena kelelahan.
Begitu pun Alex sampai mimisannya kembali
kambuh. Melihat persiapan keduanya begitu keras
sangat meyakinkan bahwa Satya Mandala High
School akan memenangkan kejuaraan Olimpiade
Sains kali ini. Namun, belum tentu hal itu akan terjadi
karena prediksi masa depan tidak ada yang tahu,
kan?
Dasha dan Alex baru saja sampai di lokasi
tempat perlombaan mereka. Sudah banyak peserta
dari sekolah unggulan berdatangan. Dasha yang
melihat itu, tiba-tiba saja dirinya merasa gemetar.
"Ayo, sha." Ajak Alex pada gadis di
sampingnya itu. "Eh.. Iya, lex." Dasha yang tadinya
tengah memperhatikan kerumunan peserta berlalu
lalang tersadar lalu mengikuti langkah kaki Alex dari
belakang.
DESNITA MAHARANI 36
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Ada rasa takut dan gemetar yang datang
secara bersamaan. Belum memulai apapun, bulir-
bulir bening kecil tampak muncul di kening Dasha. Ia
sedikit merasa gugup saat ini.
Kaki jenjangnya ia langkahkan mengikuti
jejak kaki Alex. Namun, Alex menyadari ada sedikit
suatu hal aneh yang ia rasakan pada Dasha dilihat
dari segi gerak geriknya. "Ada apa, sha? Kamu
sakit?" Tanya Alex. "Oh.. Engga aku gapapa, lex.
Kenapa emangnya?" Balas Dasha diiringi senyum
tipisnya. "Wajah kamu pucet banget, serius engga
sakit? Saya takut kamu kenapa-kenapa" Terlihat
jelas cowok dengan manik mata Hazel itu
menampilkan ekspresi khawatirnya.
Dasha tersenyum menampilkan deretan gigi
rapihnya, membuat Alex diam-diam tersipu melihat
senyum khas gadis mungil itu. "Tenang saja, aku
tidak papa kok! Hanya sedikit grogi saja tadi hehe"
Kata Dasha. Senyumnya manis sekali, pikir Alex.
"A-ah.. Begitu rupanya.. Saya kira kamu sakit,
saya khawatir soalnya. Kamu tidak perlu grogi,
selama ada saya ada bersama kamu mari kita lewati
semua rintangan nya! Ayo cepat, kita sudah
ditunggu pak Ardan di depan sana." Ucap Alex
dengan semangat lalu menarik tangan Dasha
perlahan dan kembali berjalan.
DESNITA MAHARANI 37
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Kini Dasha yang tersipu mendengar ucapan
yang Alex lontarkan tadi. Ditambah tangan
mungilnya di tuntun oleh Alex, itu semakin membuat
perasaan Dasha padanya semakin membesar.
Sayang di sayang, kenyataan tak berpihak pada
keduanya. Itu sangat menyakitkan.
---
Teriakan dan suara gemuruh tepuk tangan
kian menggema, ada juga tangis pilu yang di keluar
tanpa izin akibat terharu. Seperti saat ini, Sarah sang
ibunda Dasha ikut menghadiri acara Olimpiade anak
bungsunya itu. Sarah memeluk anak bungsunya
begitu erat, menumpahkan air mata bahagianya ke
dalam hijab sang anak.
Yah, seperti yang kalian pikirkan.
"Selamat nak, papa bangga sama kamu.
Ternyata kalian seimbang, makanya dapat
memenangkan Olimpiade ini." Ucap Dion, ayahanda
Dasha sembari menepuk pelan baju sang anak.
Pada akhirnya bulir bening di ambang manik
mata ikut jatuh tanpa seizinnya. Dasha merasa
semua hal yang ia lewati hanyalah mimpi. Ia tidak
percaya bahwa ia dan Alex akan benar-benar
berhasil kali ini. Mungkin Allah SWT telah
mendengar doa yang telah Dasha panjatkan. Sujud
syukur ia lakukan, tak lupa mengucapkan kata
Terima kasih dan 'alhamdulillah' berkali-kali.
DESNITA MAHARANI 38
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
"Bunda aku masih gak nyangka.. Hiks..
Bunda.. Aku.. Hiks.. Hueee" Layaknya anak kecil
yang bicara terbata sambil menangis, Sarah
memancarkan lengkungan kurva manis ke arah
sang anak. Ia kembali memeluk satu-satunya anak
perempuannya itu dengan erat. "Ah ternyata aku
kalah dengan adikku sendiri ya," Ucap Danendra,
kakak laki-laki Dasha sembari menghampiri lalu ikut
memeluk sang adik. "Huweee! Kak Nendraaa...
Hiks.. Aku.. Masih.. Hiks.. Gak nyangka.."
Ini momen yang sangat menggemaskan bagi
Danendra. Melihat adik satu-satunya menangis
bahagia karena berhasil memenangkan Olimpiade
ketiga kalinya. Begitu pun dengan Dion, ayahanda
mereka, terlihat sangat puas dan bahagia melihat
keberhasilan anak bungsunya.
Disisi lain, Alex beserta keluarganya ikut turut
bahagia atas keberhasilan memenangkan
Olimpiade kali ini. Namun, keluarganya tidak
seheboh keluarga Dasha. Hanya beberapa kalimat
saja yang ayahanda Alex katakan pada sang anak
semata wayang nya.
"Tingkatkan prestasimu. Papa tidak ingin
anak dari keluarga Christian gagal." Ucap Nevada
pada sang anak dengan raut wajah yang serius. Alex
sudah menduga hal ini akan selalu terjadi. Keluarga
Alex memang terkenal dengan sikap tegasnya.
Tidak heran juga karena ayahanda Alex ialah sang
DESNITA MAHARANI 39
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
direktur sebuah perusahaan yang cukup terkenal. Ia
tidak mau keluarganya terdengar bahkan di cap
jelek oleh banyak pihak.
Wajah datar tak berekspresi Alex tampilkan.
Ucapan sang ayah sama sekali tidak membuatnya
senang ataupun sedih, bahkan yang Alex rasakan
hanyalah rasa bosan dan sedikit rasa sakit karena
ayahnya tidak pernah lagi memberinya kata selamat.
"Temanmu ternyata juga seimbang
denganmu, siapa namanya?" Tanya sang ayah.
"Dasha Fyneen." Mendengar nama itu, Nevada
memalingkan pandangan ke arah keluarga teman
anaknya yang tengah menangis bahagia di sebrang
sana. Raut wajahnya sama, datar tak berekspresi.
Namun disaat bersamaan itu, ayah Dasha pun
melihat ke arah keluarga Alex. Pandangan bertemu
antara Nevada dan Dion, Nevada menganggukkan
kepala sekali dengan tujuan memberi sapaan dan
selamat pada keluarga Dasha. Begitu pun
sebaiknya, Dion membalas anggukkan itu dengan
tulus.
Alex memandang keluarga Dasha begitu
tenangnya, tanpa sadar seulas kurva manis
mengembang dengan sendirinya. "Keluarga yang
harmonis," Gumamnya, jujur saja ada sedikit rasa iri
yang ia miliki, keluarga yang lengkap dan harmonis
sangat ingin ia rasakan. Mungkin tidak sekarang
DESNITA MAHARANI 40
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
waktunya Alex merasakan itu, namun suatu saat ia
pasti akan merasakannya.
---
Satu minggu telah berlalu, selepas kedua
insan membawa pulang piala Emas besar atas
nama sekolah Satya Mandala High School, Alex dan
Dasha semakin menjadi siswa/I unggulan sekolah
mereka.
Keduanya semakin populer belakangan ini.
Selain melihat prestasi mereka yang luar biasa, ada
juga yang mengatakan bahwa Alex dan Dasha
benar-benar cocok. Namun tak sedikit juga yang
mengatakan walaupun mereka cocok mereka tetap
berbeda agama. Kenyataan yang cukup rumit untuk
Dasha terima.
Dasha melangkahkan kakinya di Koridor
sekolah sembari memainkan ponselnya. Banyak
siswa/i yang berlalu lalang dan bercanda ria
sebelum bel masuk berbunyi.
"Hey! Lihat anak itu gak? Kalo kamu
perhatian dia cukup cocok gak si sama si Alex yang
katanya the most wanted itu. Mereka sama-sama
pinter juga, aduh aku jadi iri.." Bisik salah seorang
siswi pada siswi lainnya, biarpun terdengar samar
Dasha masih bisa mendengarnya. "tapi sayang
banget mereka kan beda agama"
DESNITA MAHARANI 41
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Rasa senang Dasha sedikit menghilang
mendengar kalimat terakhir itu. Pikirannya
berkecamuk dan sedikit terganggu dengat kalimat
itu.
Pukk
Seseorang berhasil menyadarkan Dasha
yang sedang melamun. "Huh.. Kamu kenapa
Dasha? Dari tadi aku panggilkan kamu sama sekali
tidak menyahut" ujar Alesya dengan kesal. "tidak,
aku tidak apa-apa hanya sedikit pusing saja" jawab
Dasha dengan nada lesu. "Hah kalo gitu ayo kita ke
uks" ujar Alesya terburu buru dengan amat panik
setelah mendengar jawaban Dasha. "tidak perlu
Alesya, mungkin aku hanya telat makan saja"
bantah Dasha dengan lemas. "kalo begitu ayo kita
segera ke kantin" ajak Alesya. "kamu duluan saja,
aku masih ada urusan sebentar" tolak Dasha
dengan halus. "yasudah aku akan duluan, jangan
lupa untuk menyusul ku, awas saja sampai tidak!
"ancam Alesya. "iya-iya" jawab Alesya meyakinkan.
"oke kalo gitu bye" seru Alesya. "byee"
Selepasnya Alesya pergi ia menuju ke taman
belakang sekolah untuk bertemu dengan Alex,
sebelumnya Dasha sudah menghubungi Alex
terlebih dahulu lewat pesan yang dia kirim.
Terlihat di sana ia mendapati Alex yang
sedang duduk di bangku taman, tidak mau alex
menunggu lama lagi ia segera menghampirinya.
DESNITA MAHARANI 42
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
"Hai Alex!" sapa Dasha dengan senyuman
cerianya "Hai juga Dasha" balasnya dengan agak
sedikit kaku. "ada apa kamu mengajak saya kesini?"
tanya Alex sedikit penasaran. "emm... Aku ingin
mengatakan sesuatu pada mu, apakah boleh?"
tanya Dasha dengan ragu ragu. "tentu, tidak perlu
sungkan denganku katakan saja" jawab Alex. "Apa
kamu pernah merasakan getaran di hatimu? Yah
mungkin ini sedikit tidak masuk akal, tapi memang
itu yang selalu aku rasakan saat bersamamu." Ucap
Dasha pelan, ia malu sebenarnya mengatakan ini
pada Alex namun selalu tidak tahan jika terus di
pendam.
Alex yang memang kriterianya memiliki
pendengaran yang cukup tajam, masih bisa
mendengar apa yang Dasha katakan. "Maksud
kamu?" Tanyanya dengan raut wajah yang bingung.
"Apa kamu pernah menyukai seseorang?"
Pertanyaan di jawab pertanyaan, Alex berpikir
bahwa Dasha sedang sakit. Sedari tadi membahas
hal yang Alex tidak mengerti. Memang ya, pikiran
dan hati perempuan sangat sulit di prediksi. "Suka
seseorang?" Tanya Alex memastikan
Dasha menganggukkan kepalanya pelan,
pandangannya lurus kedepan sesekali melihat kotak
susu yang ia pegang. Dasha tidak cukup berani
melihat wajah Alex untuk saat ini. "Pernah. Kenapa
memangnya?". "Bagaimana cara kamu
mengutarakan isi hati kamu padanya?". "Saya tidak
DESNITA MAHARANI 43
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
pernah bilang pada siapapun. Cukup saya saja yang
tau dan saya rasakan," Jawaban Alex sedikit
membuat keberanian Dasha untuk menyatakan
perasaan padanya menciut.
"Begitu.. Ini mungkin terlihat seperti mimpi.
Saya sedikit takut untuk mengatakan ini.." Dasha
menunduk perlahan, ucapannya sangat membuat
Alex penasaran. Sebenernya apa yang ingin dia
bicarakan?. "Katakan saja. Tidak perlu takut".
"Aku—" Alex menunggu, dengan sabar mendengar
apa yang gadis mungil ini ingin katakan yang
sesungguhnya. "Sebenarnya aku.."
"Kenapa aku?" Sungguh Alex contoh pria
yang sabar. "Maaf Alex.. Sebenarnya aku menyukai
mu. Maaf membuatmu menunggu, aku takut untuk
mengatakan ini, jika kamu ilfeel aku benar-benar
minta maaf. " Dasha memilin tangannya dan tanpa
sada menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa
gugup. Ucapan Dasha membuat Alex diam tak
bergeming. Melihat respon yang di berikan Alex
membuat Dasha benar-benar takut dengan jawaban
dan ekspresi Alex nanti.
Alex berusaha keras mencerna semua
perkataan yang Dasha ucapkan barusan. Benar
yang dikatakan Dasha, ini mungkin seperti mimpi.
DESNITA MAHARANI 44
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
Plot twist yang benar-benar terjadi, pikirnya.
Alex mengalihkan pandangan ke arah Dasha yang
sedang menundukkan kepalanya. Tanpa sadar
Lengkungan kurva manis tercipta dibibirnya.
"Aku juga menyukaimu, Dasha Fyneen."
Dasha tidak salah dengarkan?Jika ini mimpi
tolong sadarkan dia. Apa yang barusan di ucapkan
Alex tadi membuat jantungnya berdetak lebih cepat
dari biasanya seketika pipinya merah merona.
"A-aapa"
"saya sayang sama kamu, Tapi kita engga mungkin
bersatu, sha. Saya gamau ninggalin pencipta saya
hanya karena ciptaan nya. Begitu juga dengan
kamu" lanjut Alex
yang tadinya guratan wajah Dasha terlihat
senang berubah cepat menjadi murung. Ya sudah
seharusnya ia mempersiapkan hatinya menerima
fakta apa yang sudah di takdirkan oleh tuhan kepada
mereka.
"nyatanya setelah kita saling menyatakan
perasaan tetap tidak ada kemajuan ya lex... Sekuat
apapun cinta kita kepada hambanya tetapi jika tuhan
sudah berkehendak kita tidak bisa melawannya"
ucap Dasha dengan suara yang pelan seperti
sedang menahan tangisnya. "ya kita tetap tidak akan
bisa melawan takdir yang sudah di berikan" balas
Alex dengan senyum tipisnya
DESNITA MAHARANI 45
SEAMIN TAPI TAK SEIMAN
"kalau begitu setelah ini , mari kita tetap
berteman, aku berharap kita bisa menghapus
perasaan ini dengan perlahan lahan" Ujar Dasha
dengan hati yang sedikit tak ikhlas. "tentu, kita akan
tetap menjadi teman hanya keadaannya saja yang
sedikit berbeda, lain kali mari kita berbicara tanpa
adanya perasaan ini dan di gantikan dengan
perasaan nyaman untuk dijadikan teman" balas Alex.
"pasti! Aku akan menunggu pertemuan kembali
dengan perasaan yang beda dan pastikan untuk
tidak canggung ya lex" ujar Dasha dengan sedikit
candaan. "hahah.. Baiklah sampai jumpa di lain
waktu Dasha" pamit Alex. "sampai jumpa di lain
waktu Alex"
---
'aku mencintaimu tapi aku lebih mencintai tuhanku' -
Dasha fyneen
'Terima kasih sudah datang di hidupku alex, mari
kita bertemu di lain waktu dengan perasaan yang
sudah tak sama lagi'
END
DESNITA MAHARANI 46