KELAS V
TEMA 5 EKOSISTEM
SUBTEMA 1 KOMPONEN EKOSISTEM
PEMBELAJARAN 2
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Melalui media flipbook “Jenis-Jenis Ekosistem”, siswa dapat
menguraikan 2 jenis ekosistem dengan tepat.
2. Melalui media flipbook macam-macam gambar hewan, siswa dapat
menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya dengan
benar.
3. Melalui media flipbook gambar suatu ekosistem, siswa dapat
menganalisis hubungan antarkomponen ekosistem dengan benar.
4. Melalui penugasan LKPD, siswa dapat membuat bagan jaring-
jaring makanan pada suatu ekosistem dengan benar.
5. Melalui media flipbook teks tentang “Jenis-Jenis Ekosistem” dan
“Penggolongan Hewan Berdasarkan Jenis Makanannya”, siswa
dapat merinci 6 informasi penting berkaitan dengan teks dengan
tepat.
6. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat menyimpulkan teks nonfiksi
berdasarkan hubungan antar informasi penting dengan benar.
7. Melalui penugasan LKPD, siswa dapat menyajikan informasi
penting ke dalam bentuk tabel dengan benar.
8. Melalui media flipbook contoh lagu-lagu anak, siswa dapat
mengklasifikasikan 2 jenis tangga nada.
9. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat mengklasifikasikan masing-
masing 2 lagu berdasarkan jenis tangga nada.
10. Melalui penugasan, siswa dapat menyanyikan lagu bertangga nada
mayor/minor dengan percaya diri.
percaya diri.
EKOSISTEM
Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Komponen Penyusun Ekosistem:
Komponen Biotik: makhluk hidup (manusia, hewan, tumbuhan)
Komponen Abiotik: benda tak hidup yang menentukan kondisi lingkungan dan jenis makhluk
hidup yang menghuni ekosistem (suhu, cahaya matahari, tanah, air, udara, kenampakan
alam, garam mineral)
Jenis Komponen Biotik :
Produsen: dapat menghasilkan makanan sendiri melalui fotosintesis, yaitu tumbuhan hijau
Konsumen: tidak dapat menghasilkan makanan sendiri sehingga harus memakan makhluk
hidup lain
Dekomposer (pengurai): jasad renik yang menguraikan bangkai makhluk hidup atau hasil
pembuangan sisa pencernaan
Konsumen I: Hewan herbivora, hewan omnivora
Konsumen II: Hewan karnivora pemakan herbivora, hewan omnivora
Konsumen III: Hewan karnivora pemakan karnivora, hewan omnivora
Dekomposer dan Detritivor (jamur / pengurai)
Jenis-Jenis Ekosistem
Pada dasarnya, ekosistem yang ada di dunia dibagi menjadi dua, yaitu ekosistem alami dan
ekosistem buatan. Ekosistem alami terdiri atas ekosistem air dan ekosistem darat. Ekosistem air
terdiri atas ekosistem air tawar dan ekosistem air asin. Ekosistem darat terdiri atas ekosistem
hutan, padang rumput, padang pasir, tundra, dan taiga. Ekosistem buatan merupakan ekosistem
yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sawah dan bendungan
merupakan dua contoh ekosistem buatan.
Ekosistem air tawar contohnya ekosistem danau, kolam, dan sungai. Ekosistem air tawar
mendapatkan cukup sinar matahari. Tumbuhan yang paling banyak hidup pada ekosistem ini
adalah ganggang. Ekosistem air asin contohnya ekosistem terumbu karang dan ekosistem laut
dalam. Berbagai jenis ikan, kerang, koral, dan makhluk laut lainnya hidup pada ekosistem ini.
Terdapat juga beberapa jenis hewan kecil dan tumbuhan alga yang dapat membuat sendiri
makanannya.
Ekosistem Air Tawar Ekosistem Air Laut
Ekosistem darat contohnya ekosistem hutan hujan tropis, sabana, padang rumput, gurun,
taiga, dan tundra. Ekosistem darat ini dibedakan oleh tingkat curah hujan dan iklimnya.
Perbedaan tersebut menyebabkan jenis tumbuhan dan hewan yang ada di dalamnya juga
berbeda. Tumbuhan seperti rotan dan anggrek, serta hewan seperti kera, burung, badak, dan
harimau, berada pada ekosistem hutan hujan tropis. Ekosistem sabana memiliki curah hujan
yang lebih rendah daripada ekosistem hutan hujan tropis. Hewan-hewan yang hidup di sabana
antara lain berbagai jenis serangga dan mamalia seperti zebra dan singa.
Ekosistem padang rumput memiliki curah hujan yang lebih rendah dibandingkan dengan
ekosistem sabana. Tumbuhan khas ekosistem adalah rumput. Hewan yang hidup pada ekosistem
ini contohnya bison, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kanguru, dan ular. Gurun
merupakan ekosistem yang paling gersang karena curah hujan yang sangat rendah. Tumbuhan
jenis kaktus yang memiliki duri untuk mengurangi penguapan banyak tumbuh di
sini. Hewan-hewan yang bisa hidup pada ekosistem ini antara lain semut, ular, kadal,
kalajengking, dan beberapa hewan malam lainnya.
Suhu pada ekosistem taiga sangat rendah pada musim dingin. Taiga biasanya merupakan
hutan yang tersusun atas satu jenis tumbuhan seperti cemara, pinus, dan sejenisnya. Hewan
seperti beruang hitam dan ajag, biasanya hidup di ekosistem ini. Tundra merupakan ekosistem
yang dingin dan kering. Banyak jenis tumbuhan tidak bisa hidup pada ekosistem ini karena
rendahnya suhu lingkungan sepanjang tahun. Akar-akar tanaman tidak dapat tumbuh pada
suhu yang dingin. Tumbuhan jenis rumput tertentu saja yang mampu bertahan. Beberapa jenis
burung bersarang di ekosistem tundra pada saat musim panas, seperti angsa dan bebek.
Gurun Pasir Sabana
Hutan Hujan Tropis
Hutan Hujan Tropis
Tundra Taiga
Jaring-Jaring Makanan
Dalam lingkungan ekosistem, ada hubungan antara jaring-jaring makanan yang saling
terkait.
Ekosistem juga dapat diartikan sebagai suatu sistem ekologi yang di dalamnya
terdapat hubungan timbal balik antara keanekaragaman spesies dengan siklus materi
serta arus energi melalui komponen-komponen yang terdapat di dalamnya.
Sebelum membahas jaring-jaring makanan, kamu perlu tahu dulu apa itu rantai
makanan. Rantai makanan adalah bagian dari jaring-jaring makanan. Secara sekilas
rantai makanan dan jaring-jaring makanan terlihat sama, namun sedikit berbeda. Rantai
makanan adalah serangkaian proses makan dan dimakan antara mahkluk hidup
berdasarkan urutan tertentu yang terdapat peran sebagai produsen, konsumen dan
decomposer (pengurai) untuk kelangsungan hidup suatu mahkluk.
Secara sederhana rantai makanan bisa dilihat secara runtut dari produsen, konsumen
dan pengurai. Lain hal dengan jaring-jaring makanan.
Jaring-jaring makanan adalah gabungan dari rantai makanan yang saling berhubungan
dikombinasikan, tumpang tindih dalam suatu ekosistem. Nama lain untuk jaring-jaring
makanan adalah sistem sumber daya-konsumen.
Antara mahkluk hidup dan lingkungan adalah hal yang tidak dipisahkan dalam jaring-
jaring makanan. Apa berbedaan dari keduanya? Organisme yang terkumpul pada
jaring-jaring makanan mempunyai beberapa jenis organisme yang dapat dipilih menjadi
makanannya.Sedangkan dalam rantai makanan, organisme yang berperan menjadi
konsumen hanya memiliki satu pilihan makanan saja. Organisme dalam rantai maknan
lebih sedikit. Jika dalam suatu rantai makanan dapat ditarik lurus siklusnya, berbeda
dengan jaring-jaring makanan. Pada jaring-jaring makanan peristiwa siklus maknannya
tidak sesederhana rantai makanan.Dalam satu mahkluk hidup bisa memakan lebih dari
satu jenis mahkluk hidup lainnya, sehingga menciptakan garis-garis yang saling
bersilangan..
Rantai makanan
Jaring-jaring Makana
3 Jenis Hewan Berdasarkan Jenis Makanannya
(Karnivora, Herbivora, dan Omnivora)
Pixabay
Hewan dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan jenis makanannya. Jenis-jenis itu
adalah karnivora, herbivora, dan omnivora.
Seperti apa dan apa saja contohnya? Yuk, cari tahu!
1. Karnivora
Ini adalah jenis hewan pemakan daging. Hewan yang masuk golongan karnivora ini, dikenal
sebagai hewan buas.
Itu karena mereka memangsa hewan lain untuk dimakan. Hewan ini dikenal juga sebagai hewan bisa
bergerak sangat cepat, gigi taringnya tajam, kukunya juga runcing, pandangan matanya, serta
penciumannya tajam.
Teman-teman, karena mereka sama-sama mencari hewan untuk diburu, biasanya
sesama hewan karnivora tidak mau tinggal bersama-sama. Di alam liar mereka punya daerah
kekuasaan masing-masing.
Walaupun lebih banyak karnivora yang hidup di darat, tetapi ada juga karnivora yang hidup di laut,
dan udara.
Ini dia beberapa contoh hewan karnivora: singa, macan, harimau, citah, serigala, ular, komodo, ikan
hiu, burung elang, dan burung rajawali.
2. Herbivora
Pixabay
Sapi yang sedang makan rumput
Hewan jenis ini adalah jenis hewan pemakan tumbuhan. Hampir semua bagian tumbuhan bisa
dimakannya.
Seperti, daun, akar, batang, bunga, buah, atau rumput. Hewan ini bisa dikenali dari susunan giginya.
Seperti: tidak memiliki giri taring, giginya hanya gigi seri dan geraham untuk mengunyah.
Hewan herbivora biasanya bisa bergabung dan hidup bersama dengan hewan herbivora lainnya.
Mereka biasanya sama-sama mencari makanan di hutan atau di padang rumput.
Ada juga yang tidak mempunyai gigi, tapi mereka punya tembolok. Tembolok ini adalah kantong
tempat makanan, yang ada di leher. Biasanya, unggas yang punya tembolok.
Tembolok itu gunanya untuk menghaluskan makanan, sebelum dicerna lagi di dalam perut.
Contoh hewan herbivora adalah kuda, gajah, sapi, kerbau, kambing, burung merpati, perkutut, dan
burung beo.
Baca Juga: Ada Penemuan Dinosaurus Vegetarian Baru di Brasil, Seperti Apa, ya?
3. Omnivora
Orangutan merupakan salah satu hewan pemakan segala.
Nah, yang terakhir adalah hewan omnivora. Inilah hewan yang suka makan daging maupun
tumbuhan atau dikenal juga dengan hewan pemakan segala.
Sesuai dengan namanya, hewan ini bisa memangsa hewan lain untuk disantap dan makan tumbuh-
tumbuhan juga.
Hewan omnivora juga bisa dikenali dari giginya. Selain punya gigi taring yang tajam, hewan ini juga
punya gigi seri untuk memotong makanan, dan geraham untuk mengunyah makanannya.
Beberapa contoh hewan omnivora adalah beruang, tikus, ayam, flamingo, paus, monyet, dan musang.
Pernahkah teman-teman melihat jenis-jenis hewan itu di lingkungan sekitarmu? Coba perhatikan,
apa saja yang sedang mereka makan?
Pengertian
Teks nonfiksi adalah teks yang dibuat berdasarkan fakta, realita , atau hal-hal yang benar-
benar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dari segi kebahasaan, teks nonfiksi menggunakan kata-
kata lugas, bermakna apa adanya, tidak mengalami pergeseran ataupun penambahan sepeerti halnya
yang biasa digunakan dalam karya-karya fiksi.
Ciri-ciri tulisan nonfiksi :
Biasanya berbentuk tulisan ilmiah, laporan, makalah, dan sebagainya.
Karangan nonfiksi berusaha mencapai taraf obyektifitas yang tinggi, berusaha menarik dan
menggugah nalar (pikiran) pembaca.
Bahasa bersifat denotatif (makna yang sebenarnya).
Karakteristik teks nonfiksi :
Berisi penjelasan tentang suatu hal atau objek tertentu yang factual.
Penjelasan berupa fakta ataupun gagasan/pendapat-pendapat.
Dapat dilengkapi dengan gambar-gambar, seperti grafik, table, atau diagram.
Bagian-bagian teks nonfiksi :
Pendahuluan, berisi latar belakang atau pengenalan tentang tema yang akan dipaparkan.
Pembahasan, berupa uraian terperinci tentang tema yang dipilih.
Penutup, berupa kesimpulan sekaligus harapan penulis tentang tema yang telah dipaparkan.
Langkah-langkah dalam memahami gagasan utama dalam sebuah teks nonfiks :
· Membaca secara sekilas untuk menemukan gagasan pokok teks .
· Mengajukan sejumlah pertanyaan berkenaan dengan unsur-unsur teks nonfiksi tersebut.
· Membaca bagian demi bagian teks secara keseluruhan dengan penuh penikmatan (apresiasi).
· Mencatat bagian-bagian penting, terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang dipertanyakan.
· Mengembangkan catatan menjadi sebuah ringkasan/kesimpulan .
Pengertian Tangga Nada
Tangga nada adalah sebuah rangkaian nada yang disusun dengan jarak tertentu. Bila diibaratkan
sebuah tangga pada kehidupan nyata maka tangga nada memiliki fungsi yang serupa dengan tangga
pada kehidupan sehari-hari. Bila kita perhatikan sebuah tangga memiliki fungsi untuk naik atau
turun. Begitu juga nada. Ada saatnya nada itu naik atau makin tinggi, ada saatnya juga ketika nada
itu turun atau semakin rendah.
Jarak itu biasa disebut dengan interval nada, yang menjadi jeda antara satu nada dengan lainnya.
Interval ini ibarat jarak antar anak tangga pada kehidupan sehari-hari. Ada tangga yang jarak antar
anak tangganya dekat, ada pula yang jaraknya jauh. Secara umum tangga nada dibagi jadi tiga jenis,
yaitu pentatonis, diatonis dan kromatis. Kamu bisa baca lebih lanjut tentang tiga jenis tangga nada
itu di bawah ini.
Tangga Nada Diatonis
Jika pentatonis ada 5 nada, untuk jenis diatonis ada 7 nada dengan 2 macam interval. Tangga nada
diatonis ini lebih sering kita dengar atau mainkan di musik kontemporer atau kekinian.
Tangga nada ini sering kita jumpai juga disaat kita belajar sebuah alat musik seperti gitar. Karena
dasar bermain gitar seringkali mengunakan tangga nada ini. Tangga nada diatonis ini
menggunakan interval 1 atau pakai interval setengah. Dalam jenis ini pun terbagi lagi jadi 2 tangga
nada, yaitu mayor dan minor. Di bawah ini penjelasannya:
Tangga Nada Minor
Sumber foto : walpaperhd99.blogspot.com
Untuk jenis minor, dibagi lagi jadi tiga jenis yaitu tangga nada minor asli, harmonis dan melodis.
Jenis minor asli cuma punya nada pokok, jadi tak ada tanda kromatis. Sedangkan untuk jenis
harmonis, setiap nadanya dinaikkan setengah, tapi ketika naik/turun nadanya tetap sama. Kalau
jenis melodis, nada yang dinaikkan hanya yang ke-6 dan ke-7 ketika naik, dan turun setengah juga
ketika turun. Tangga nada minor ini bila dimainkan akan menimbulkan nuansa dalam, khidmat,
sedih atau “gelap”. Contoh lagu dengan tangga nada minor diantara adalah:
1. Lagu Wajib: Mengheningkan Cipta (Truno Prawit), Tanah Airku (Ibu Soed), Bagimu Negeri (R.
Kusbini), Ibu Pertiwi (Ismail Marzuki), Indonesia Pusaka (Ismail Marzuki), Gugur Bunga
2. Lagu Anak-anak: Ambilkan Bulan (AT Mahmud), Bintang Kejora (AT Mahmud), Kasih Ibu (SM.
Muchtar), Kelinciku (Daljono), Kucingku (Pak Kasur)
3. Lagu Daerah: Bubuy Bulan (Jabar), Kole-Kole (Maluku), Sing Sing So (Maluku), Sarinande
(Maluku), Ole Sioh (Maluku), Bubuy Bulan (Jawa Barat)
Tangga Nada Mayor
Jenis tangga nada ini kebanyakan dipakai untuk lagu-lagu yang suasananya ceria. Sering kita temui
dalam lagu-lagu populer saat ini. Susunan nadanya berjarak 1 – 1- ½ – 1 – 1 – 1 – ½. Beda dengan
tangga nada minor yang susunan interval nadanya adalah 1 – ½ – 1 – 1 – ½ – 1 – 1. Terlihat ya
perbedaannya?
Perbedaan kedua tangga nada itu akan terdengar jelas saat dibunyikan dengan alat musik. Ketika
mendengar tangga nada mayor nuansanya akan terasa benar-benar ceria, sebaliknya jika mendengar
tangga nada minor yang manapun jenisnya maka suasana jadi cenderung sedih atau melow. Tapi
tangga nada minor juga bisa dipakai untuk lagu yang ceria dengan menaikkan temponya.
Contoh Lagu yang bertangga nada Mayor diantaranya adalah:
1. Lagu Wajib : Bangun Pemudi Pemuda (A. Simanjuntak), Berkibarlah Benderaku (Ibu Soed), Dari
Sabang Sampai Merauke (R Soerardjo), Hari Merdeka (Husein Mutahar), Gebyar Gebyar
(Gombloh), Maju Tak Gentar, Indonesia Raya, Hari merdeka, Halo-halo Bandung, Indonesia Jaya,
Garuda Pancasila, dan Mars Pelajar.
2. Lagu Anak-anak: Naik Delman (Ibu Sud), Balonku (AT Mahmud), Heli (anjing kecil) (Nomo
Kuswoyo), Lihat Kebunku (Ibu Sud), Abang Tukang Bakso (Mamo Agil).
3. Lagu Daerah: Gundul Pacul (Jawa Tengah),Kampung Nan Jauh DI Mato (Sumbar), Ampar-Ampar
Pisang (Kalsel), Manuk Dadali (Jabar),Tokecang (Jabar)
Jarak itu biasa disebut dengan interval nada, yang menjadi jeda antara satu nada dengan lainnya.
Interval ini ibarat jarak antar anak tangga pada kehidupan sehari-hari. Ada tangga yang jarak antar
anak tangganya dekat, ada pula yang jaraknya jauh. Secara umum tangga nada dibagi jadi tiga jenis,
yaitu pentatonis, diatonis dan kromatis. Kamu bisa baca lebih lanjut tentang tiga jenis tangga nada
itu di bawah ini.
Tangga Nada Diatonis
Jika pentatonis ada 5 nada, untuk jenis diatonis ada 7 nada dengan 2 macam interval. Tangga nada
diatonis ini lebih sering kita dengar atau mainkan di musik kontemporer atau kekinian.
Tangga nada ini sering kita jumpai juga disaat kita belajar sebuah alat musik seperti gitar. Karena
dasar bermain gitar seringkali mengunakan tangga nada ini. Tangga nada diatonis ini
menggunakan interval 1 atau pakai interval setengah. Dalam jenis ini pun terbagi lagi jadi 2 tangga
nada, yaitu mayor dan minor. Di bawah ini penjelasannya:
Tangga Nada Minor
Sumber foto : walpaperhd99.blogspot.com
Untuk jenis minor, dibagi lagi jadi tiga jenis yaitu tangga nada minor asli, harmonis dan melodis.
Jenis minor asli cuma punya nada pokok, jadi tak ada tanda kromatis. Sedangkan untuk jenis
harmonis, setiap nadanya dinaikkan setengah, tapi ketika naik/turun nadanya tetap sama. Kalau
jenis melodis, nada yang dinaikkan hanya yang ke-6 dan ke-7 ketika naik, dan turun setengah juga
ketika turun. Tangga nada minor ini bila dimainkan akan menimbulkan nuansa dalam, khidmat,
sedih atau “gelap”. Contoh lagu dengan tangga nada minor diantara adalah:
4. Lagu Wajib: Mengheningkan Cipta (Truno Prawit), Tanah Airku (Ibu Soed), Bagimu Negeri (R.
Kusbini), Ibu Pertiwi (Ismail Marzuki), Indonesia Pusaka (Ismail Marzuki), Gugur Bunga
5. Lagu Anak-anak: Ambilkan Bulan (AT Mahmud), Bintang Kejora (AT Mahmud), Kasih Ibu (SM.
Muchtar), Kelinciku (Daljono), Kucingku (Pak Kasur)
6. Lagu Daerah: Bubuy Bulan (Jabar), Kole-Kole (Maluku), Sing Sing So (Maluku), Sarinande
(Maluku), Ole Sioh (Maluku), Bubuy Bulan (Jawa Barat)
Tangga Nada Mayor
Jenis tangga nada ini kebanyakan dipakai untuk lagu-lagu yang suasananya ceria. Sering kita temui
dalam lagu-lagu populer saat ini. Susunan nadanya berjarak 1 – 1- ½ – 1 – 1 – 1 – ½. Beda dengan
tangga nada minor yang susunan interval nadanya adalah 1 – ½ – 1 – 1 – ½ – 1 – 1. Terlihat ya
perbedaannya?
Perbedaan kedua tangga nada itu akan terdengar jelas saat dibunyikan dengan alat musik. Ketika
mendengar tangga nada mayor nuansanya akan terasa benar-benar ceria, sebaliknya jika mendengar
tangga nada minor yang manapun jenisnya maka suasana jadi cenderung sedih atau melow. Tapi
tangga nada minor juga bisa dipakai untuk lagu yang ceria dengan menaikkan temponya.
Contoh Lagu yang bertangga nada Mayor diantaranya adalah:
4. Lagu Wajib : Bangun Pemudi Pemuda (A. Simanjuntak), Berkibarlah Benderaku (Ibu Soed), Dari
Sabang Sampai Merauke (R Soerardjo), Hari Merdeka (Husein Mutahar), Gebyar Gebyar
(Gombloh), Maju Tak Gentar, Indonesia Raya, Hari merdeka, Halo-halo Bandung, Indonesia Jaya,
Garuda Pancasila, dan Mars Pelajar.
5. Lagu Anak-anak: Naik Delman (Ibu Sud), Balonku (AT Mahmud), Heli (anjing kecil) (Nomo
Kuswoyo), Lihat Kebunku (Ibu Sud), Abang Tukang Bakso (Mamo Agil).
6. Lagu Daerah: Gundul Pacul (Jawa Tengah),Kampung Nan Jauh DI Mato (Sumbar), Ampar-Ampar
Pisang (Kalsel), Manuk Dadali (Jabar),Tokecang (Jabar)