The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Farza Santoso, 2020-11-04 07:23:54

FLIPBOOK PDF RPP 3

KELAS V


TEMA 5 EKOSISTEM


SUBTEMA 1 KOMPONEN EKOSISTEM


PEMBELAJARAN 2

TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Melalui media flipbook “Jenis-Jenis Ekosistem”, siswa dapat

menguraikan 2 jenis ekosistem dengan tepat.

2. Melalui media flipbook macam-macam gambar hewan, siswa dapat

menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya dengan

benar.

3. Melalui media flipbook gambar suatu ekosistem, siswa dapat

menganalisis hubungan antarkomponen ekosistem dengan benar.

4. Melalui penugasan LKPD, siswa dapat membuat bagan jaring-

jaring makanan pada suatu ekosistem dengan benar.

5. Melalui media flipbook teks tentang “Jenis-Jenis Ekosistem” dan

“Penggolongan Hewan Berdasarkan Jenis Makanannya”, siswa

dapat merinci 6 informasi penting berkaitan dengan teks dengan

tepat.

6. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat menyimpulkan teks nonfiksi

berdasarkan hubungan antar informasi penting dengan benar.

7. Melalui penugasan LKPD, siswa dapat menyajikan informasi

penting ke dalam bentuk tabel dengan benar.

8. Melalui media flipbook contoh lagu-lagu anak, siswa dapat

mengklasifikasikan 2 jenis tangga nada.

9. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat mengklasifikasikan masing-

masing 2 lagu berdasarkan jenis tangga nada.

10. Melalui penugasan, siswa dapat menyanyikan lagu bertangga nada

mayor/minor dengan percaya diri.

percaya diri.

EKOSISTEM
























Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

Komponen Penyusun Ekosistem:


 Komponen Biotik: makhluk hidup (manusia, hewan, tumbuhan)
 Komponen Abiotik: benda tak hidup yang menentukan kondisi lingkungan dan jenis makhluk
hidup yang menghuni ekosistem (suhu, cahaya matahari, tanah, air, udara, kenampakan
alam, garam mineral)

Jenis Komponen Biotik :

 Produsen: dapat menghasilkan makanan sendiri melalui fotosintesis, yaitu tumbuhan hijau
 Konsumen: tidak dapat menghasilkan makanan sendiri sehingga harus memakan makhluk
hidup lain
 Dekomposer (pengurai): jasad renik yang menguraikan bangkai makhluk hidup atau hasil
pembuangan sisa pencernaan

Konsumen I: Hewan herbivora, hewan omnivora

Konsumen II: Hewan karnivora pemakan herbivora, hewan omnivora


Konsumen III: Hewan karnivora pemakan karnivora, hewan omnivora

Dekomposer dan Detritivor (jamur / pengurai)

Jenis-Jenis Ekosistem

Pada dasarnya, ekosistem yang ada di dunia dibagi menjadi dua, yaitu ekosistem alami dan

ekosistem buatan. Ekosistem alami terdiri atas ekosistem air dan ekosistem darat. Ekosistem air
terdiri atas ekosistem air tawar dan ekosistem air asin. Ekosistem darat terdiri atas ekosistem

hutan, padang rumput, padang pasir, tundra, dan taiga. Ekosistem buatan merupakan ekosistem

yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sawah dan bendungan
merupakan dua contoh ekosistem buatan.

Ekosistem air tawar contohnya ekosistem danau, kolam, dan sungai. Ekosistem air tawar
mendapatkan cukup sinar matahari. Tumbuhan yang paling banyak hidup pada ekosistem ini

adalah ganggang. Ekosistem air asin contohnya ekosistem terumbu karang dan ekosistem laut
dalam. Berbagai jenis ikan, kerang, koral, dan makhluk laut lainnya hidup pada ekosistem ini.

Terdapat juga beberapa jenis hewan kecil dan tumbuhan alga yang dapat membuat sendiri

makanannya.


















Ekosistem Air Tawar Ekosistem Air Laut


Ekosistem darat contohnya ekosistem hutan hujan tropis, sabana, padang rumput, gurun,
taiga, dan tundra. Ekosistem darat ini dibedakan oleh tingkat curah hujan dan iklimnya.

Perbedaan tersebut menyebabkan jenis tumbuhan dan hewan yang ada di dalamnya juga

berbeda. Tumbuhan seperti rotan dan anggrek, serta hewan seperti kera, burung, badak, dan
harimau, berada pada ekosistem hutan hujan tropis. Ekosistem sabana memiliki curah hujan

yang lebih rendah daripada ekosistem hutan hujan tropis. Hewan-hewan yang hidup di sabana
antara lain berbagai jenis serangga dan mamalia seperti zebra dan singa.

Ekosistem padang rumput memiliki curah hujan yang lebih rendah dibandingkan dengan

ekosistem sabana. Tumbuhan khas ekosistem adalah rumput. Hewan yang hidup pada ekosistem
ini contohnya bison, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kanguru, dan ular. Gurun

merupakan ekosistem yang paling gersang karena curah hujan yang sangat rendah. Tumbuhan

jenis kaktus yang memiliki duri untuk mengurangi penguapan banyak tumbuh di
sini. Hewan-hewan yang bisa hidup pada ekosistem ini antara lain semut, ular, kadal,

kalajengking, dan beberapa hewan malam lainnya.
Suhu pada ekosistem taiga sangat rendah pada musim dingin. Taiga biasanya merupakan

hutan yang tersusun atas satu jenis tumbuhan seperti cemara, pinus, dan sejenisnya. Hewan
seperti beruang hitam dan ajag, biasanya hidup di ekosistem ini. Tundra merupakan ekosistem

yang dingin dan kering. Banyak jenis tumbuhan tidak bisa hidup pada ekosistem ini karena

rendahnya suhu lingkungan sepanjang tahun. Akar-akar tanaman tidak dapat tumbuh pada
suhu yang dingin. Tumbuhan jenis rumput tertentu saja yang mampu bertahan. Beberapa jenis

burung bersarang di ekosistem tundra pada saat musim panas, seperti angsa dan bebek.













Gurun Pasir Sabana



















Hutan Hujan Tropis

Hutan Hujan Tropis

Tundra Taiga



Jaring-Jaring Makanan
































Dalam lingkungan ekosistem, ada hubungan antara jaring-jaring makanan yang saling

terkait.


Ekosistem juga dapat diartikan sebagai suatu sistem ekologi yang di dalamnya
terdapat hubungan timbal balik antara keanekaragaman spesies dengan siklus materi

serta arus energi melalui komponen-komponen yang terdapat di dalamnya.


Sebelum membahas jaring-jaring makanan, kamu perlu tahu dulu apa itu rantai
makanan. Rantai makanan adalah bagian dari jaring-jaring makanan. Secara sekilas

rantai makanan dan jaring-jaring makanan terlihat sama, namun sedikit berbeda. Rantai

makanan adalah serangkaian proses makan dan dimakan antara mahkluk hidup
berdasarkan urutan tertentu yang terdapat peran sebagai produsen, konsumen dan
decomposer (pengurai) untuk kelangsungan hidup suatu mahkluk.



Secara sederhana rantai makanan bisa dilihat secara runtut dari produsen, konsumen
dan pengurai. Lain hal dengan jaring-jaring makanan.


Jaring-jaring makanan adalah gabungan dari rantai makanan yang saling berhubungan

dikombinasikan, tumpang tindih dalam suatu ekosistem. Nama lain untuk jaring-jaring
makanan adalah sistem sumber daya-konsumen.


Antara mahkluk hidup dan lingkungan adalah hal yang tidak dipisahkan dalam jaring-
jaring makanan. Apa berbedaan dari keduanya? Organisme yang terkumpul pada

jaring-jaring makanan mempunyai beberapa jenis organisme yang dapat dipilih menjadi
makanannya.Sedangkan dalam rantai makanan, organisme yang berperan menjadi

konsumen hanya memiliki satu pilihan makanan saja. Organisme dalam rantai maknan
lebih sedikit. Jika dalam suatu rantai makanan dapat ditarik lurus siklusnya, berbeda
dengan jaring-jaring makanan. Pada jaring-jaring makanan peristiwa siklus maknannya

tidak sesederhana rantai makanan.Dalam satu mahkluk hidup bisa memakan lebih dari
satu jenis mahkluk hidup lainnya, sehingga menciptakan garis-garis yang saling

bersilangan..















Rantai makanan

Jaring-jaring Makana





3 Jenis Hewan Berdasarkan Jenis Makanannya
(Karnivora, Herbivora, dan Omnivora)

































Pixabay

Hewan dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan jenis makanannya. Jenis-jenis itu

adalah karnivora, herbivora, dan omnivora.


Seperti apa dan apa saja contohnya? Yuk, cari tahu!


1. Karnivora

Ini adalah jenis hewan pemakan daging. Hewan yang masuk golongan karnivora ini, dikenal

sebagai hewan buas.


Itu karena mereka memangsa hewan lain untuk dimakan. Hewan ini dikenal juga sebagai hewan bisa

bergerak sangat cepat, gigi taringnya tajam, kukunya juga runcing, pandangan matanya, serta
penciumannya tajam.



Teman-teman, karena mereka sama-sama mencari hewan untuk diburu, biasanya
sesama hewan karnivora tidak mau tinggal bersama-sama. Di alam liar mereka punya daerah

kekuasaan masing-masing.


Walaupun lebih banyak karnivora yang hidup di darat, tetapi ada juga karnivora yang hidup di laut,

dan udara.


Ini dia beberapa contoh hewan karnivora: singa, macan, harimau, citah, serigala, ular, komodo, ikan

hiu, burung elang, dan burung rajawali.


2. Herbivora

Pixabay


Sapi yang sedang makan rumput



Hewan jenis ini adalah jenis hewan pemakan tumbuhan. Hampir semua bagian tumbuhan bisa
dimakannya.



Seperti, daun, akar, batang, bunga, buah, atau rumput. Hewan ini bisa dikenali dari susunan giginya.
Seperti: tidak memiliki giri taring, giginya hanya gigi seri dan geraham untuk mengunyah.


Hewan herbivora biasanya bisa bergabung dan hidup bersama dengan hewan herbivora lainnya.

Mereka biasanya sama-sama mencari makanan di hutan atau di padang rumput.



Ada juga yang tidak mempunyai gigi, tapi mereka punya tembolok. Tembolok ini adalah kantong
tempat makanan, yang ada di leher. Biasanya, unggas yang punya tembolok.

Tembolok itu gunanya untuk menghaluskan makanan, sebelum dicerna lagi di dalam perut.



Contoh hewan herbivora adalah kuda, gajah, sapi, kerbau, kambing, burung merpati, perkutut, dan
burung beo.


Baca Juga: Ada Penemuan Dinosaurus Vegetarian Baru di Brasil, Seperti Apa, ya?



3. Omnivora















































Orangutan merupakan salah satu hewan pemakan segala.


Nah, yang terakhir adalah hewan omnivora. Inilah hewan yang suka makan daging maupun

tumbuhan atau dikenal juga dengan hewan pemakan segala.


Sesuai dengan namanya, hewan ini bisa memangsa hewan lain untuk disantap dan makan tumbuh-
tumbuhan juga.

Hewan omnivora juga bisa dikenali dari giginya. Selain punya gigi taring yang tajam, hewan ini juga

punya gigi seri untuk memotong makanan, dan geraham untuk mengunyah makanannya.


Beberapa contoh hewan omnivora adalah beruang, tikus, ayam, flamingo, paus, monyet, dan musang.


Pernahkah teman-teman melihat jenis-jenis hewan itu di lingkungan sekitarmu? Coba perhatikan,

apa saja yang sedang mereka makan?







































Pengertian

Teks nonfiksi adalah teks yang dibuat berdasarkan fakta, realita , atau hal-hal yang benar-

benar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dari segi kebahasaan, teks nonfiksi menggunakan kata-
kata lugas, bermakna apa adanya, tidak mengalami pergeseran ataupun penambahan sepeerti halnya

yang biasa digunakan dalam karya-karya fiksi.
Ciri-ciri tulisan nonfiksi :

 Biasanya berbentuk tulisan ilmiah, laporan, makalah, dan sebagainya.
 Karangan nonfiksi berusaha mencapai taraf obyektifitas yang tinggi, berusaha menarik dan

menggugah nalar (pikiran) pembaca.

 Bahasa bersifat denotatif (makna yang sebenarnya).
Karakteristik teks nonfiksi :

 Berisi penjelasan tentang suatu hal atau objek tertentu yang factual.

 Penjelasan berupa fakta ataupun gagasan/pendapat-pendapat.
 Dapat dilengkapi dengan gambar-gambar, seperti grafik, table, atau diagram.

Bagian-bagian teks nonfiksi :

 Pendahuluan, berisi latar belakang atau pengenalan tentang tema yang akan dipaparkan.
 Pembahasan, berupa uraian terperinci tentang tema yang dipilih.

 Penutup, berupa kesimpulan sekaligus harapan penulis tentang tema yang telah dipaparkan.
Langkah-langkah dalam memahami gagasan utama dalam sebuah teks nonfiks :

· Membaca secara sekilas untuk menemukan gagasan pokok teks .
· Mengajukan sejumlah pertanyaan berkenaan dengan unsur-unsur teks nonfiksi tersebut.

· Membaca bagian demi bagian teks secara keseluruhan dengan penuh penikmatan (apresiasi).

· Mencatat bagian-bagian penting, terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang dipertanyakan.
· Mengembangkan catatan menjadi sebuah ringkasan/kesimpulan .



Pengertian Tangga Nada




Tangga nada adalah sebuah rangkaian nada yang disusun dengan jarak tertentu. Bila diibaratkan
sebuah tangga pada kehidupan nyata maka tangga nada memiliki fungsi yang serupa dengan tangga

pada kehidupan sehari-hari. Bila kita perhatikan sebuah tangga memiliki fungsi untuk naik atau

turun. Begitu juga nada. Ada saatnya nada itu naik atau makin tinggi, ada saatnya juga ketika nada
itu turun atau semakin rendah.




Jarak itu biasa disebut dengan interval nada, yang menjadi jeda antara satu nada dengan lainnya.
Interval ini ibarat jarak antar anak tangga pada kehidupan sehari-hari. Ada tangga yang jarak antar

anak tangganya dekat, ada pula yang jaraknya jauh. Secara umum tangga nada dibagi jadi tiga jenis,

yaitu pentatonis, diatonis dan kromatis. Kamu bisa baca lebih lanjut tentang tiga jenis tangga nada
itu di bawah ini.




Tangga Nada Diatonis




Jika pentatonis ada 5 nada, untuk jenis diatonis ada 7 nada dengan 2 macam interval. Tangga nada
diatonis ini lebih sering kita dengar atau mainkan di musik kontemporer atau kekinian.




Tangga nada ini sering kita jumpai juga disaat kita belajar sebuah alat musik seperti gitar. Karena
dasar bermain gitar seringkali mengunakan tangga nada ini. Tangga nada diatonis ini

menggunakan interval 1 atau pakai interval setengah. Dalam jenis ini pun terbagi lagi jadi 2 tangga

nada, yaitu mayor dan minor. Di bawah ini penjelasannya:

Tangga Nada Minor


















Sumber foto : walpaperhd99.blogspot.com



Untuk jenis minor, dibagi lagi jadi tiga jenis yaitu tangga nada minor asli, harmonis dan melodis.

Jenis minor asli cuma punya nada pokok, jadi tak ada tanda kromatis. Sedangkan untuk jenis

harmonis, setiap nadanya dinaikkan setengah, tapi ketika naik/turun nadanya tetap sama. Kalau
jenis melodis, nada yang dinaikkan hanya yang ke-6 dan ke-7 ketika naik, dan turun setengah juga

ketika turun. Tangga nada minor ini bila dimainkan akan menimbulkan nuansa dalam, khidmat,
sedih atau “gelap”. Contoh lagu dengan tangga nada minor diantara adalah:

1. Lagu Wajib: Mengheningkan Cipta (Truno Prawit), Tanah Airku (Ibu Soed), Bagimu Negeri (R.
Kusbini), Ibu Pertiwi (Ismail Marzuki), Indonesia Pusaka (Ismail Marzuki), Gugur Bunga




2. Lagu Anak-anak: Ambilkan Bulan (AT Mahmud), Bintang Kejora (AT Mahmud), Kasih Ibu (SM.

Muchtar), Kelinciku (Daljono), Kucingku (Pak Kasur)



3. Lagu Daerah: Bubuy Bulan (Jabar), Kole-Kole (Maluku), Sing Sing So (Maluku), Sarinande

(Maluku), Ole Sioh (Maluku), Bubuy Bulan (Jawa Barat)




Tangga Nada Mayor

Jenis tangga nada ini kebanyakan dipakai untuk lagu-lagu yang suasananya ceria. Sering kita temui
dalam lagu-lagu populer saat ini. Susunan nadanya berjarak 1 – 1- ½ – 1 – 1 – 1 – ½. Beda dengan

tangga nada minor yang susunan interval nadanya adalah 1 – ½ – 1 – 1 – ½ – 1 – 1. Terlihat ya

perbedaannya?



Perbedaan kedua tangga nada itu akan terdengar jelas saat dibunyikan dengan alat musik. Ketika

mendengar tangga nada mayor nuansanya akan terasa benar-benar ceria, sebaliknya jika mendengar
tangga nada minor yang manapun jenisnya maka suasana jadi cenderung sedih atau melow. Tapi

tangga nada minor juga bisa dipakai untuk lagu yang ceria dengan menaikkan temponya.




Contoh Lagu yang bertangga nada Mayor diantaranya adalah:
1. Lagu Wajib : Bangun Pemudi Pemuda (A. Simanjuntak), Berkibarlah Benderaku (Ibu Soed), Dari

Sabang Sampai Merauke (R Soerardjo), Hari Merdeka (Husein Mutahar), Gebyar Gebyar

(Gombloh), Maju Tak Gentar, Indonesia Raya, Hari merdeka, Halo-halo Bandung, Indonesia Jaya,
Garuda Pancasila, dan Mars Pelajar.




2. Lagu Anak-anak: Naik Delman (Ibu Sud), Balonku (AT Mahmud), Heli (anjing kecil) (Nomo
Kuswoyo), Lihat Kebunku (Ibu Sud), Abang Tukang Bakso (Mamo Agil).




3. Lagu Daerah: Gundul Pacul (Jawa Tengah),Kampung Nan Jauh DI Mato (Sumbar), Ampar-Ampar

Pisang (Kalsel), Manuk Dadali (Jabar),Tokecang (Jabar)

Jarak itu biasa disebut dengan interval nada, yang menjadi jeda antara satu nada dengan lainnya.

Interval ini ibarat jarak antar anak tangga pada kehidupan sehari-hari. Ada tangga yang jarak antar
anak tangganya dekat, ada pula yang jaraknya jauh. Secara umum tangga nada dibagi jadi tiga jenis,

yaitu pentatonis, diatonis dan kromatis. Kamu bisa baca lebih lanjut tentang tiga jenis tangga nada

itu di bawah ini.



Tangga Nada Diatonis




Jika pentatonis ada 5 nada, untuk jenis diatonis ada 7 nada dengan 2 macam interval. Tangga nada

diatonis ini lebih sering kita dengar atau mainkan di musik kontemporer atau kekinian.



Tangga nada ini sering kita jumpai juga disaat kita belajar sebuah alat musik seperti gitar. Karena

dasar bermain gitar seringkali mengunakan tangga nada ini. Tangga nada diatonis ini
menggunakan interval 1 atau pakai interval setengah. Dalam jenis ini pun terbagi lagi jadi 2 tangga

nada, yaitu mayor dan minor. Di bawah ini penjelasannya:




Tangga Nada Minor

















Sumber foto : walpaperhd99.blogspot.com




Untuk jenis minor, dibagi lagi jadi tiga jenis yaitu tangga nada minor asli, harmonis dan melodis.
Jenis minor asli cuma punya nada pokok, jadi tak ada tanda kromatis. Sedangkan untuk jenis

harmonis, setiap nadanya dinaikkan setengah, tapi ketika naik/turun nadanya tetap sama. Kalau

jenis melodis, nada yang dinaikkan hanya yang ke-6 dan ke-7 ketika naik, dan turun setengah juga
ketika turun. Tangga nada minor ini bila dimainkan akan menimbulkan nuansa dalam, khidmat,

sedih atau “gelap”. Contoh lagu dengan tangga nada minor diantara adalah:

4. Lagu Wajib: Mengheningkan Cipta (Truno Prawit), Tanah Airku (Ibu Soed), Bagimu Negeri (R.

Kusbini), Ibu Pertiwi (Ismail Marzuki), Indonesia Pusaka (Ismail Marzuki), Gugur Bunga




5. Lagu Anak-anak: Ambilkan Bulan (AT Mahmud), Bintang Kejora (AT Mahmud), Kasih Ibu (SM.
Muchtar), Kelinciku (Daljono), Kucingku (Pak Kasur)




6. Lagu Daerah: Bubuy Bulan (Jabar), Kole-Kole (Maluku), Sing Sing So (Maluku), Sarinande
(Maluku), Ole Sioh (Maluku), Bubuy Bulan (Jawa Barat)




Tangga Nada Mayor



























Jenis tangga nada ini kebanyakan dipakai untuk lagu-lagu yang suasananya ceria. Sering kita temui

dalam lagu-lagu populer saat ini. Susunan nadanya berjarak 1 – 1- ½ – 1 – 1 – 1 – ½. Beda dengan
tangga nada minor yang susunan interval nadanya adalah 1 – ½ – 1 – 1 – ½ – 1 – 1. Terlihat ya

perbedaannya?




Perbedaan kedua tangga nada itu akan terdengar jelas saat dibunyikan dengan alat musik. Ketika
mendengar tangga nada mayor nuansanya akan terasa benar-benar ceria, sebaliknya jika mendengar

tangga nada minor yang manapun jenisnya maka suasana jadi cenderung sedih atau melow. Tapi

tangga nada minor juga bisa dipakai untuk lagu yang ceria dengan menaikkan temponya.



Contoh Lagu yang bertangga nada Mayor diantaranya adalah:

4. Lagu Wajib : Bangun Pemudi Pemuda (A. Simanjuntak), Berkibarlah Benderaku (Ibu Soed), Dari

Sabang Sampai Merauke (R Soerardjo), Hari Merdeka (Husein Mutahar), Gebyar Gebyar
(Gombloh), Maju Tak Gentar, Indonesia Raya, Hari merdeka, Halo-halo Bandung, Indonesia Jaya,

Garuda Pancasila, dan Mars Pelajar.




5. Lagu Anak-anak: Naik Delman (Ibu Sud), Balonku (AT Mahmud), Heli (anjing kecil) (Nomo
Kuswoyo), Lihat Kebunku (Ibu Sud), Abang Tukang Bakso (Mamo Agil).




6. Lagu Daerah: Gundul Pacul (Jawa Tengah),Kampung Nan Jauh DI Mato (Sumbar), Ampar-Ampar

Pisang (Kalsel), Manuk Dadali (Jabar),Tokecang (Jabar)


Click to View FlipBook Version