NINA ANGGRAENI UNIVERSITAS NEGERI MALANG KEHIDUPANPOLITIK KESULTANANTIDOREABADXVI-XVIII E-MODUL SEJARAH INDONESIA KELAS X
KEHIDUPAN POLITIK KESULTANAN TIDORE ABAD XVI-XVII UNTUK PEMBELAJARAN SEJARAH INDONESIA KELAS X SMA/MA SEDERAJAT Nina Anggraeni NIM. 220731603013 UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL DEPARTEMEN SEJARAH PRODI S1 PENDIDIKAN SEJARAH
NINA ANGGRAENI 1 KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb Puji Syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmat yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan e-modul dengan judul “Kehidupan Politik Kesultanan Tidore Abad XVI-XVIII” dengan baik dan tepat waktu. Tujuan pembuatan dari e-modul ini ialah untuk memenuhi tugas individu mata kuliah Pengembangan Bahan Pembelajaran Sejarah. Selain itu, e-modul ini dibuat dengan tujuan menambah pengetahuan serta wawasan terhadap para pendidik dan peserta didik dalam pemahaman materi “Kehidupan Politik Kesultanan Tidore Abad XVI-XVIII” sesuai dengan Capaian Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka yang telah disempurnakan. Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Prof. Dr. Joko Sayono, M.Pd, M.Hum selaku dosen pengampu mata kuliah Pengembangan Bahan Pembelajaran Sejarah yang telah memberikan arahan serta bimbingan kepada penulis, sehingga e-modul ini dapat terselesaikan dengan baik. Tidak lupa rasa terimakasih penulis ucapkan untuk kedua orang tua yang telah memberikan dukungan material maupun non material kepada penulis serta semua teman-teman offering D yang telah memberikan support dan semangatnya kepada penulis. E-modul ini merupakan e-modul yang jauh dari kata sempurna. Dengan itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dan akan kami terima dengan lapang dada untuk penyempurnaan dalam penulisan modul selanjutnya. Malang, 02 Mei 2024
NINA ANGGRAENI 2 DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL KATA PENGANTAR…………………………………………………………………….. 1 DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….2 DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………………3 INFORMASI UMUM……………………………………………………………………..4 KOMPETENSI INTI……………………………………………………………………...5 PETUNJUK PEMBELAJARAN…………………………………………………………6 MATERI PEMBELAJARAN……………………………………………………………. 7 A. Sistem Pemerintahan Kesultanan Tidore…………………………………………... 8 B. Kehidupan Politik Kesultanan Tidore Dibawah Pimpinan Sultan Nuku…………...14 C. Runtuhnya Kesultanan Tidore………………………………………………………18 KESIMPULAN…………………………………………………………………………… 19 LATIHAN SOAL…………………………………………………………………………. 21 KUNCI JAWABAN……………………………………………………………………..... 23 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………... 23
NINA ANGGRAENI 3 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Peta Wilayah Kekuasaan Tidore……………………………………………….. 8 Gambar 2. Peta Tidore Ketika Kedatangan Bangsa Asing………………………………… 9 Gambar 3. Artefak Berupa Stempel Kesultanan Tidore…………………………………… 10 Gambar 4. Kedaton Kesultanan Tidore……………………………………………………. 11 Gambar 5. Naskah Bebeto…………………………………………………………………. 12 Gambar 6. Naskah Mantra Debus…………………………………………………………..13 Gambar 7. Alat Debus………………………………………………………………………17 Gambar 8. Makam Sultan Nuku…………………………………………………………… 19
NINA ANGGRAENI 4 E-MODUL SEJARAH INFORMASI UMUM A. IDENTITAS MODUL Nama Penyusun Nina Anggraeni Satuan Pendidikan Kelas/ Fase X/ Fase E Jenjang Sekolah SMA/ MA Mata Pelajaran Sejarah Indonesia Tahun Penyusunan 2024 B. Kompetensi Awal Peserta didik mampu memahami dan menidentifikasi Kehidupan Politik Kesultanan Tidore abad XVI-XVIII. C. Profil Pelajar Pancasila Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, Kebhinekaan Global, Mandiri, Kritis, Kreatif, dan Gotong Royong. D. Sarana dan Prasarana 1. Perangkat digital: LCD, Power Point, e-modul, laptop atau perangkat serupa lainnya, jaringan internet. 2. Perangkat non digital: modul atau buku teks, papan tulis, alat tulis. E. Target Peserta Didik Peserta didik tidak mengalami suatu kesulitan dalam memahami materi Kehidupan Politik Kesultanan Tidore abad XVI-XVIII. F. Model Pembelajaran Problem based learning, inquiry learning, dan collaborative learning (pembelajaran kolaboratif). G. Metode Pembelajaran Ceramah, diskusi dan presentasi kelompok, penugasan proyek. H. Bentuk Penilaian Asesmen Kognitif dan Non Kognitif I. Sumber Pembelajaran Buku teks atau modul dan sumber-sumber lain dari internet yang meliputi jurnal, e-book, emodul maupun karya ilmiah lainnya. J. Deskripsi CP Fase E peserta didik kelas X ➢ Mampu memahami konsep dasar kerajaan Islam. ➢ Menganalisis dan mengevaluasi manusia dalam kerajaan Islam.
NINA ANGGRAENI 5 ➢ Menganalisis dan mengevaluasi kerajaan Islam dalam ruang lingkup lokal, nasional, maupun global. ➢ Menganalisis dan mengevaluasi kerajaan Islam dalam dimensi masa lalu, masa kini hingga masa depan. ➢ Menganalisis dan mengevaluasi kerajaan Islam dalam pola perkembangan, perubahan, keberlanjutan, dan keberulangan. ➢ Menganalisis dan mengevaluasi kerajaan Islam dengan cara diakronis (kronologi) maupun sinkronis. KOMPETENSI INTI 1. Tujuan Pembelajaran Peserta didik mampu memahami 1. Sistem pemerintahan kesultanan Tidore. 2. Kehidupan politik kesultanan Tidore dibawah pimpinan Sultan Nuku. 3. Runtuhnya kesultanan Tidore. 2. Pemahaman Bermakna 1. Sebagai salah satu bagian dari sejarah kesultanan Islam, maka peserta didik wajib memahami sejarah dan peristiwa kesultanan Tidore abad XVI-XVIII. 2. Kepemimpinan Sultan Nuku. 3. Keadaan dan aktivitas politik yang diselenggarakan pada Kesultanan Tidore. 4. Kemunduran kesultanan Tidore. 3. Pertanyaan Pemantik 1. Apakah ada yang mengetahui tentang kesultanan Tidore? 2. Bagaimana sistem pemerintahan yang diberlakukan di kesultanan Tidore? 3. Siapa yang mengenal Sultan Nuku? Apa peran dan bagaimaan kehidupan Kesultanan tidore pada masa keperintahannya? 4. Apa penyebab runtuhnya Kesultanan Tidore?
NINA ANGGRAENI 6 PETUNJUK PEMBELAJARAN BAGI PENDIDIK 1. Pendidik memahami terlebih dahulu materi yang terdapat pada e-modul tentang Kehidupan politik kesultanan Tidore abad XVI-XVIII. 2. Pendidik memberikan penjelasan dan arahan kepada siswa untuk membaca kemudian memahami materi tentang kehidupan politik kesultanan Tidore abad XVI-XVIII yang terdapat pada e-modul. 3. Ketika penyampaian materi sudah selesai, pendidik memberikan sesi tanya jawab kepada peserta didik terkait materi yang belum dipahami tentang kehidupan politik kesultanan Tidore abad XVI-XVIII. 4. Pendidik memberikan arahan untuk mengerjakan soal latian kepada peserta didik tentang kehidupan politik kesultanan Tidore abad XVI-XVIII di halaman terakhir pada e-modul ini. 5. Pendidik memberikan nilai hasil belajar kepada siswa. BAGI PESERTA DIDIK 1. Peserta didik membaca dan memahami materi yang telah disampaikan oleh pendidik tentang Kehidupan Politik Kesultanan Tidore abad XVI-XVIII. 2. Peserta didik yang merasa kebingungan terkait materi yang dipelajari, diharapkan bertanya kepada pendidik. 3. Peserta didik melakukan diskusi atau kelompok kecil dengan teman sebangku tentang materi Kehidupan Politik Kesultanan Tidore abad XVI-XVIII. 4. Peserta didik mengerjakan latihan soal yang berada di halaman akhir pada e-modul ini berdasarkan arahan dari pendidik.
NINA ANGGRAENI 7 MATERI PEMBELAJARAN KEHIDUPAN POLITIK KESULTANAN TIDORE ABAD XVI-XVIII Salah satu pulau kecil yang ada di Maluku Utara ialah Pulau Tidore. Tidore memiliki letak geografis tepat di sebelah barat dari pantai di Pulau Halmahera. Menurut (Firnandus, 1975 dalam Djamal, 2014) pada catatan sejarah mengatakan bahwa Kerajaan Tidore adalah kerajaan bercorak islam terbesar yang ada di Maloku Kie Raha atau yang sekarang disebut dengan Maluku Utara. Ketika islam belum menyebar dan menduduki nusantara, Tidore sering disebut sebagai Limau Duko atau Kie Duko yang memiliki arti “pulau yang memiliki gunung berapi”. Penyebutan tersebut didasari oleh letak Pulau Tidore yang memiliki banyak gunung berapi sekaligus gunung tertinggi yang berada di Maluku. Penduduk setempat menamai gunung tersebut dengan nama gunung Kie Marijang, namun saat ini gunung tersebut sudah tidak aktif. Selanjutnya, nama Tidore merupakan gabungan dari tiga kata, yakni: to ado dan re yang berarti “aku telah sampai” (Amarseto, 2015). Menurut perkiraan bahwa Kerajaan Tidore berdiri pada abad ke 13 (Taniputera, 2017). Gambar 1. Peta Wilayah Kekuasaan Tidore Sumber: (Handoko & Mansyur, 2018) Karena memiliki letak geografis yang strategis yaitu antara pulau Sulawesi dan Irian Jaya, Tidore dijadikan sebagai salah satu kerajaan terbesar di Maluku serta memiliki dampak besar bagi perdagangan kala itu. Selain itu, Maluku juga disebut dengan “The Spicy Island” karena menjadi penghasil komoditas rempah terbesar di nusantara (Amarseto, 2015).
NINA ANGGRAENI 8 Keberadaan kerajaan yang ada di Indonesia bagian timur merupakan tujuan utama bagi para pedagang, karena di maluku merupakan penghasil komoditas terbesar (Sidiq et al., 2020). Hal tersebut mengakibatkan bahwa bangsa luar termasuk Eropa maupun pedagang-pedagang lain dari luar yang datang di Maluku pasti melewati rute perdagangan yang ada. Gambar 2. Peta Tidore Ketika Kedatangan Bangsa Asing Sumber: https://www.atlasofmutualheritage.nl/en/page/5066/view-of-tidore Pedagang yang berasal dari Arab dan India mayoritas melakukan dagang hingga menetap di Maluku. Dengan adanya pedangan dari Arab dan India yang memiliki agama Islam yang menetap di Tidore maka terjadi adanya perluasan syiar agama Islam, dengan mencangkup wilayah Ambon, Ternate hingga Tidore. Ciriliati atau Sultan Jamaluddin (1495-1512) yang merupakan raja ke-IX Tidore membawa masuk agama Islam pada kerajaan yang dipimpinnya. Sultan Jamaluddin masuk islam karena adanya dakwah dari Syekh Mansur yang berasal dari Arab. Dengan demikian hal tersebut dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan pada Kerajaan Tidore, salah satunya ialah aspek politik (Amarseto, 2015). Tidore memiliki ambisi yang sama dengan saingannya Ternate, yaitu ingin memperluas daerah yang menjadi pengaruhnya. Wilayah kekuasaan Tidore meluas dengan cangkupan Halmahera Tengah hingga Timur, Seram Timur, Weda, Ambon, Maba, Raja Ampat serta Papua Barat (Taniputera, 2017). A. Sistem Pemerintahan Kesultanan Tidore Awalnya, sistem yang digunakan pada masa Kesultanan Tidore sangat sederhana. Hal tersebut disebabkan karena kerajaan Tidore adalah sekumpulan soa-soa yang berarti sekumpulan masyarakat yang menempati suatu wilayah dan memiliki sultan yang menjadi pemimpinnya. Sedangkan menurut (Djamal, 2014) berdasarkan etimologi Tidore, Soa merupakan suatu kampung atau desa atau bahkan marga.
NINA ANGGRAENI 9 Pada saat itu, Kolano Se i Rakyat yang berarti penguasa bersama dengan rakyat menjadi semboyan filosofis pada kesultanan Tidore. Namun seiring berjalannya waktu semboyan tersebut berubah menjadi Kolano Se i Bobato Dunya Se Akhirat yang berarti Sultan bersama staf yang membidangi urusan dunia atau pemerintahan serta urusan agama atau akhirat (BPK RI, 2021). Kerajaan Tidore merupakan salah satu kerajaan yang mempunyai sistem pemerintahan yang unik pada masa itu. Kerajaan Tidore menggunakan dua sistem dalam menjalankan pemerintahannya yaitu, demokrasi dan monarki. Bentuk dari sistem demokratis diwujudkan saat memilih dan mengangkat seorang sultan muda atau putra mahkota. Dalam proses mengangkat putra mahkota, tidak hanya dari seorang putra raja namun juga keseluruhan dari keturunan dari kerajaan lain, yang selanjutnya diseleksi serta dipilih oleh pada bobato. Menurut (Sapari, 2011) Bobato adalah pelaksana dari segala peraturan maupun perintah. Bobato juga digambarkan sebagai kepada suku. Pada masa kepemerintahan sultan Nuku, sistem pemerintahan dari Kerajaan Tidore mengalami perkembangan yang baik, serta ada bobato tambahan yakni dewan wazir. Ketika sultan Nuku memerintah, ia memberlakukan sistem pemberian wewenang yang jelas dan pemberian otonomi pada setiap daerah di wilayah kecamatan. Gambar 3. Artefak berupa stempel kesultanan Tidore. Sumber: (Sarjiyanto, dkk, 2006 dalam Handoko & Mansyur, 2018) Pada era kejayaan kesultanan Tidore yang dipimpin oleh sultan Nuku, sistem pemerintahan telah tertata dengan sangat baik. Pada masa itu, Sultan dibantu dewan wazir (bahasa tidore syaraa) yang berarti adat se nakudi (Amir & Utomo, 2016). Dewan tersebut dipimpin oleh seorang sultan serta yang melaksanakan tugasnya ialah Joujau (perdana menteri). Dewan wazir memiliki anggota yaitu bobato pehak raha (bobato empat pihak) dan wakil wilayah kekuasaan. Tugas dari seorang bobato ialah mengatur serta menjalankan keputusan dari dewan wazir.
NINA ANGGRAENI 10 Kerajaan Tidore memiliki sistem serta struktur pemerintahan yang baik di masa lampau dan telah dijalankan dengan semestinya. Di dalam struktur pemerintahan Kesultanan Tidore, kekuasaan tertinggi ada dipegang oleh seorang sultan. Ketika kerajaan di Jazirah Maluku utara yang disebut dengan “Moloku Kie Raha” yang meliputi kerajaan Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo, Kerajaan Tidore merupakan satu-satunya kerajaan yang tidak menggunakan sistem pengangkatan putra mahkota untuk menjadikannya sebagai penerus kekuasaan ketika ada peristiwa Raja wafat pada masa kepemimpinnya, seperti layaknya regenerasi dari kerajaan lain (Amarseto, 2015). Namun, dalam pemilihan penerus dari pemimpin kerajaan tidore dilakukan dengan cara seleksi. Seleksi tersebut dilakukan dengan mekanisme seleksi dari seluruh calon yang diajukan oleh pihak dari Dano-dano folaraha (wakil-wakil marga dari folaraha). Dano-dano folaraha terdiri dari Fola Yade, Fola Rum, Fola Ake Sahu, dan Fola Bagus. Dari berbagai calon nantinya akan diseleksi untuk dijadikan sebagai Sultan Tidore serta wajib memenuhi persyaratan yang ada berdasarkan hukum adat yang berlaku. Persyaratan tersebut diantaranya: 1) Memiliki niat baik, 2) Mempunyai fisik kuat, 3) Merupakan keturunan sultan, 4) Memiliki keahlian tertentu di berbagai bidang (Ihwan Wahid Minu et al., 2022). Gambar 4. Kedaton Kesultanan Tidore Sumber: https://malut.bnn.go.id/kunjungan-ka-bnnp-malut-kedaton-kesultanan-tidore/ Struktur pemerintahan dari Kerajaan Tidore telah ada sejak kerajaan dibawah kepemimpinan sultan tidore I yakni Sultan Syah Jati atau sering disebut dengan Mohammad Nakel. Kemudian, struktur pemerintahan mulai mengalami berbagai perubahan ketika masa kepemimpinan sultan Ciriliati. Sultan Ciriliati merupaka sultan pertama yang masuk Islam sehingga ketika pengaruh islam masuk ke dalam kerajaan, Sultan Ciriliati berniat untuk merubah sistem pemerintahan yang selanjutnya mengalami
NINA ANGGRAENI 11 penyempurnaan ketika kerajaan dibawah kepemimpinan Sultan Syafi ud-din dengan memiliki gelar Khalifat ul-mukarram Sayid-din Kaulaini ila Jaabatil Tidore. Perubahan dari sistem pemerintahan pada kerajaan tidore disebut dengan Kolano Sei Bobato Pehak Raha yang berarti Sultan dan empat kementerian serta pegawai, yang kemudia dapat dirinci sebagai berikut (Ihwan Wahid Minu et al., 2022): 1. Pehak Bobato. Jogugu adalah kepada dari urusan pemerintahan. Anggotanya terdiri dari: a. Hukum (para menteri) b. Gimalaha (kepala kampung) c. Sangadji (gubernur) d. Fomanyira (kepala dusun) 2. Pehak Kompania. Kapita atau Mayor mengepalai dari urusan Pertahanan. Anggotanya terdiri dari: a. Leitenan b. Jodari c. Kapita Kie d. Alfiris e. Jou Mayor f. Serjati g. Kapita Ngofa 3. Pehak Jurutulis. Tullamo atau sekneg merupakan kepala dari urusan tata-usaha. Anggotanya terdiri dari: a. Jurutulis Loaloa b. Menteri dalam, yang terdiri dari: i) Sabada (Kepala rumah tangga dari kerajaan), ii) Sowohi Kiye (Bidang kerohanian dari protokoler kerajaan), iii) Sowohi Cina (Protokoler yang khusus untuk menangani urusan dari orang Cina), iv) Sahabandar (Bidang yang menangani urusan dari adminsitrasi pelayaran), v) Fomanyira Ngare (Bidang yang menangani urusan publik relation dari kerajaan). 4. Pehak Lebee. Kadhi merupakan kepala dari urusan agama maupun syariah. Anggotanya terdiri dari: a. Imam b. Khotib
NINA ANGGRAENI 12 c. Modin Dari berbagai struktur yang telah dipaparkan tersebut, terdapat adanya jabatan lain yang bertugas sebagai pembantu dalam menajalankan tugas dari pemerinatahan, misalnya jabatan Gonone yang khusus menangani dalam bidang intelijen dan jabatan Surang Oli yang berfokus pada bidang propaganda (Amir & Utomo, 2016). Selain itu, Kerajaan Tidore memiliki sebuah ideologi, yakni: 1. Syaraa se Kitabullah, yang berarti berpegang pada ajaran Al-Qur’an dan Sunah dari Rasulullah. 2. Syaraa Adat se Nakudi, merupakan sebuah aturan yang berisi mengenai peraturan untuk mengarahkan kehidupan manusia (artinya sama dengan ideologi pancasula. Syaraa Adat se Nakudi berisi tentang: a. Jou suba se tabea (Cara saling menghargai dan menghormati). b. Budi se bahasa (Cara berkata yang baik). c. Ngaku se rasai (Amanah, memegang kepercayaan dan menghindari penghianataan). d. Mae se kolopino (Memiliki rasa malu serta takut akan Tuhan). e. Ching se kangeri (Rendah hati). Ideologi tersebut tidak tertuang dalam tulisan buku karna pemerintah yang kurang memperhatikan akan hal tersebut (Ihwan Wahid Minu et al., 2022). Terdapat beberapa raja yang pernah menjadi pemimpin di Kerajaan Tidore, namun dibagi menjadi dua kelompok, yaitu raja Tidore sebelum adanya Islam serta sesusah masuknya Islam (Abimanyu, 2014) . Raja-Raja sebelum islam datang di Kerajaan Tidore, yakni: 1. Kolano Syahjati (Muhammad Nakel) 2. Kolano Suhud (Subu) 3. Kolano Duko Madoya 4. Kolano Seli 5. Kolano Bosamawango 6. Kolano Balibunga 7. Kolano Kie Matiti 8. Kolano Matagena
NINA ANGGRAENI 13 Ketika Islam datang di Kepulauan Maluku yaitu pada abad ke-11 awal, serta ditandai dengan datangnya Ja’far Shadiq, beliau merupakan ulama yang berasal dari Arab. Hingga saat itu, raja atau kolano dibuah penyebutan menjadi sultan (Abimanyu, 2014). Berikut nama-nama sultan yang pernah memimpin kesultanan Tidore: No. Nama Sultan Periode Jabatan 1. Sultan Naruddin 1334-1372 2. Sultan Hasan Syah 1372-1405 3. Sultan Ciriliati (Jamaluddin) 1405-1512 4. Sultan Mansyur 1512-1526 5. Sultan Aminuddin Iskandar Zulkarnain 1526-1535 6. Sultan Rijali Mansur 1535-1559 7. Sultan Iskandar Isani (Amiril Mathlan Syah) 1559-1568 8. Sultan Gapi Baguna (Bifadlil Siradjuddin Arifin) 1568-1600 9. Sultan Fola Madjino (Zainuddin) 1600-1626 10. Sultan Ngora Malamo (Alaudin) 1626-1631 11. Sultan Gorontalo (Saifuddin) 1631-1642 12. Sultan Saidi 1642-1653 13. Sultan Mole Manginyau (Malikidin) 1653-1657 14. Sultan Saifuddin (Djuo Kota) 1657-1674 15. Sultan Hamzah Fahruddin 1674-1705 16. Sultan Abdul Fadhlil Masyur 1705-1708 17. Sultan Hasanuddin Kaicil Garcia 1708-1728 18. Sultan Amir Bifodlil Aziz Muhidin Malikul Manan 1728-1757 19. Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin 1757-1779 20. Sultan Patra Alam 1780-1783 21. Sultan Hairul Alam Kamaludin Asgar 1784-1797 22. Sultan Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad el-Mabus Kaicil Paparangan 23. Jou Barakatai (Sultan Nuku) 1797-1805 24. Sultan Zainal Abidin 1805-1810
NINA ANGGRAENI 14 25. Sultan Motahuddin Mohammad Tahir 1810-1821 26. Sultan Ahmadul Mansur Sirajuddin Syah 1821-1856 27. Sultan Ahmad Syaiduddin Alting 1856-1892 28. Sultan Ahmad Fatahuddin Nur Syah Kaicil Jauhar Alam 1892-1894 29. Sultan Ahmad Kawiduddin Alting 1894-1906 30. Sultan Zainal Abidin Sjah 1947-1967 31 Sultan Hi Jafar Syah 1999-sekarang B. Kehidupan Politik Kesultanan Tidore Dibawah Pimpinan Sultan Nuku Kerajaan Tidore mengalami masa kejayaan pada masa kepemimpinan Sultan Nuku. Ia menyatakan bahwa dirinya telah menjadi sultan di Kerajaan Tidore pada tahun 1780. Ia juga menyatakan bahwa kesultanan yang dipimpinnya merupakan kesultanan yang bebas dari kekuasaan Belanda. Kesultanan Tidore merupakan wilayah yang utuh, meliputi Makian dan Kayoa, Halmahera Tengah dan Timur, Raja Ampat dan bagian daratan Papua, Seram Timur, Keffing, Garang, Geser, Watubela, Seram Laut, dan Tor (Katoppo, 1984). Sultan Nuku merupakan seorang pemimpin yang memiliki sikap berani, waspada, cerdik, dan ulet. Ia berhasil melakukan beberapa usaha untuk Tidore, yakni: 1. Menyatukan antara Kerajaan Ternata dan Tidore untuk melawan kolonial Belanda dengan bersama-sama serta adanya bantuan dari Inggris. Hal tersebut mengakibatkan Belanda kalah dan keluar dari Kerajaan Ternate maupun Tidore. Hubungan Ternate, Tidore dan Inggris hanyalah hubungan dagang biasa. 2. Perluasan akan wilayah yang dikuasai. 3. Sistem pemerintahan yang berjalan dengan baik dan tertata (Fitria Annisa, Gilang Agus Budiman, 2016). Sultan Nuku memiliki empat konsep politik yang ingin dicapai, yakni: 1) Menyatukan wilayah Kesultanan Tidore menjadi bagian utuh, 2) Melakukan pemulihan terhadap empat pilar kekuasaan dari Kerajaan Maluku, 3) Mengusahakan adanya keterjalinan antara empat kerajaan yang ada di Maluku, 4) Mengusir Penjajah dari Maluku. Konsep pertama, yakni Menyatukan dan menjadikan wilayah kasultanan Tidore manjadi bagian utuh. Hal tersebut dilakukan langsung ketika sultan Nuku menjadi
NINA ANGGRAENI 15 pemimpin dari kesultanan Tidore. Awal sultan Nuku melakukan pemberontakan, ia segera membebaskan daerah Seram. Semua wilayah kekuasaan Ternate juga ditekan untuk ikut andil dalam usaha damai serta menerima konsepan politik dari Sultan Nuku. Sedangkan Kesultanan Bacan telah melakukan kerjasama dengan Sultan Nuku sejak awal. (Amal, 2006). Menurut penelitian arkeologi yang sebelumnya dilakukan pada wilayah administratif Provinsi Maluku, terdapat adanya sebuah kerajaan Islam yang diyakini sebagai daerah vasal dari kesultanan Tidore. Bentuk pengaruh dari Tidore ialah adanya pengakuan atas Pulau Gorom yaitu pada Seram Timur yang saat ini menjadi wilayah administratif dari Provinsi Maluku. Berdasarkan catatan sejarah menyatakan bahwa ketika Sultan Nuku memerintah, ia melakukan pengembangan wilayah kekuasaan Tidore hingga pada Gorom, yakni kepulauan yang memiliki letak sebelah timur dari Pulau Seram. Salah satu prasasti yang terdapat pada Negeri Amar Sekaru, juga mendukung adanya pernyataan mengenai perluasan wilayah kekuasaan oleh Nuku. Pada prasasti tersebut juga menyebutkan bahwa pada saat itu Sultan Nuku melantik Raja Amar I Raja Mataweru Hiliuw Keliobas ( Handoko, 2007 dalam Handoko & Mansyur, 2018). Selain itu, Sultan Nuku memperluas wilayah kekuasaannya hingga wilayah Seram Timur meliputi Seram Laut, Watubela, Aru, Gorom, Kei dan pantai selatan di Irian Jaya Pattikayhatu dan Hamzah, 1996 dalam (Handoko & Mansyur, 2018). Naskah Bebeto merupakan salah satu bentuk pengaruh budaya di Teluk Wru, Seram Timur oleh kesultanan Tidore. Naskah tersebut berisi mengenai perjalanan syiah dari Baba Ito, Sultan Tidore. Dalam tradisi yang ada di Teluk Waru, bebeto atau baba ito tersebut merupakan Bobato, yaitu menteri yang diutus untuk mengurusi tentang agama (Amal, 2010 dalam Handoko & Mansyur, 2018). Gambar 5. Naskah Bebeto Sumber: (Handoko, 2010).
NINA ANGGRAENI 16 Penemuan arkeologi lain yakni berupa artefak alat debus serta naskah mantra dapat dikaitkan dengan penyebaran islam berdasarkan pengenalan sufi (Handoko, 2010). Jika naskah Bebeto dikaitkan dengan temuan alat debus beserta mantranya, maka akan memperkuat pernyataan mengenai pengaruh dari kesultanan Tidore. Hal tersebut juga dilandasi dengan adanya tradisi badabus, yang berkembang dengan kuat di Pulau Tidore. Gambar 6. Naskah Mantra Debus Sumber: (Handoko, 2010) Gambar 7. Alat Debus Sumber: (Handoko, 2010) Konsep kedua, yakni melakukan pemulihan empat pilar dari Kerajaan Maluku. Hal tersebut dilakukan Sultan nuku dengan wujud menghidupkan kembali atas Kerajaan Jailolo. Sultan Nuku menunjuk Muhammad Arif Billah sebagai Sultan di Kerajaan Jailolo. Muhammad Arif Billah merupakan mantan dari Jojou di Kerajaan Tidore pada masa kepemimpinan Kamaluddin, yang pada saat itu menjadi Sangaji Tahane serta pembantu dari Sultan Nuku dalam peperangan melawan penjajah (Taniputera, 2017). Sultan Nuku juga menyemukakan hal yang sama dengan Sultan Saufuddin, yakni “Selama empat kerajaan yang ada di Maluku belum pulih, maka tidak ada keamanan serta ketenteraman di Pulau ini”
NINA ANGGRAENI 17 Konsep ketiga, dalam butir dari konsep ini Sultan Nuku tidak mendapatkan dukungan dari Kerajaan Ternate, meskipun telah disetujui oleh Kerajaan Bacan dan Jailolo. Adanya perang yang dilakukan Sultan nuku atas Kerajaan Ternate dalam mengusir Belanda, tidak membuat Ternate menyetujui gagasan konsep sultan Nuku tentang adanya kerjasama antara keempat kerajaan yang ada di Maluku tersebut. Selain itu, Sultan nuku rupanya telah melakukan hubungan diplomatik antara Kerajaan Johor Riau Lingga, Sulu di Mindanao, Banjarmasin, serta beberapa orang Inggris yang ada di Bengkulu (Katoppo, 1984). Konsep keempat, Sultan Nuku mengalami kesulitan dalam menjalankan konsep terakhirnya. Meskipun Tidore mempunyai militer yang kuat untuk mengusir pada penjajah, namun militer di Kerajaan lain yang ada di Maluku kurang kuat bahkan bisa dikatakan lemah. Dengan demikian, gagasan untuk mengusir penjajah dari Maluku sulit untuk dicapai. Meskipun demikian, Kerajaan Tidore menganggap empat konsep gagasan dari Sultan Nuku tersebut telah berhasil dijalankan. Sultan Nuku berhasil dalam menguasai dan memperluas wilayah kekuasaan Tidore secara utuh. Selain itu, Kerajaan Jailolo juga berhasil ia hidupkan kembali, sehingga Maluku dapat berdiri kembali dengan empat kerajaan seperti awal ia berdiri. Sultan Nuku juga berhasil dalam menjalin kerjasama antara kerajaan-kerajaan di Maluku kecuali Tidore. Dan yang terakhir ialah, keberhasilan Sultan Nuku dalam mengusir penjajah untuk sementara waktu, hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri pada masa kepemimpinan Sultan Nuku. Kekuataan dari Sultan Nuku dalam membebaskan wilayah kekuasaannya dari tangan penjajah dapat dibandingkan saat Sultan Babullah menjadi pemimpin di kerajaan tersebut (Amal, 2006). Tepat tanggal 14 November 1805, Sultan Nuku wafat. Sebelumnya pada tahun 1780 ketika ia melakukan perjuangan untuk mengusir penjajah Belanda dari Maluku, ia ditangkap dan dibuang ke Batavia dan selanjutnya ke Sri Langka (Rusdiyanto, 2018). Semasa hidupnya Sultan Nuku lebih dikenal dengan sebuah Jou Barakati, serta pada orangorang Inggris mengenalnya dengan Lord of Fortune . Ketika sultan Nuku wafat, semua rakyat Maluku terurama Tidore mengalami rasa kesedihan dan kehilangan yang besar, karena Sultan Nuku berhasil membawa Maluku dari masa penjajahan Belanda kepada rasa untuk lepas dari adanya penindasan tersebut. Perjuangan dari Sultan Nuku berakhir pada abad ke-18 atau abad ke-19 awal. Pada masa itu seluruh kekuatan yang ada pada kerajaankerajaan di Maluku mengalami kelemahan yaitu dalam bidang politik dan ekonomi dan
NINA ANGGRAENI 18 yang paling utama adalah militer. Faktor itulah yang mempermudah Belanda untuk menduduki wilayah Maluku kembali. C. Runtuhnya Kesultanan Tidore Kerajaan Tidore semakin terpuruk setelah sepeninggalnya sultan Nuku. Pasca Sultan Nuku wafat, konflik lama yang terjadi di Kerajaan Tidore hidup kembali. Persaingan yang terjadi antara kedua kesultanan tersebut, yakni Kesultanan Ternate dan Tidore telah lama terjadi meskipun masih memiliki hubungan keluarga (Poesponegoro & Notosusanto, 2019). Konflik perebutan kekuasaan yang terjadi antara pemimpinpemimpin yang menggantikan sultan Nuku saat adanya peralihan serta pihak Belanda yang ikut campur akan hal tersebut (Rusdiyanto, 2018). Dengan demikian, Kerajaan Tidore semakin melemah karena sistem pemerintahan yang tidak berjalan dengan semestinya. Gambar 8. Makam Sultan Nuku Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmalut/sultan-nuku-panglima-perang-daritidore-seorang-pahlawan-nasional/ Kedatangan para pedagang Portugis yang mulanya menguntungkan bagi kerajaan Tidore, namun hal tersebut tidak bertahan lama, karena akhirnya kedatangan para pedagang tersebut menjadi penyebab adanya persaingan antara kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku, terutama persaingan antara Ternate dan Tidore (Poesponegoro & Notosusanto, 2019). Persaingan antara kerajaan Ternate dan Tidore semakin memanas ketika masingmasing dari kerajaan tersebut melakukan kerjasama dengan bangsa lain, yaitu kerjasama antara Ternate dan Portugis serta kerjasama antara Tidore dan Spanyol. Namun nyatanya kedua bangsa asing tersebut hanyalah mengadu domba antara kerajaan Ternate dan Tidore untuk menguasai rempah-rempah yang ada di Maluku.
NINA ANGGRAENI 19 Selain itu, konflik yang terjadi antara Portugis dan Spanyol yang menjadi pihak bantuan dari kedua kesultanan tersebut selanjutnya dapat diatasi ketika adanya bantuan dari Paus yang mengadakan suatu perjanjian. Perjanjian tersebut dikenal dengan perjanjian Saragosa yang berisi bahwa Spanyol harus meninggalkan Maluku, sedangkan Portugis tetap bisa melakukan kegiatan di Maluku (Mariana, 2020). Ketika masa kepemimpinan Saifuddin (pemimpin Tidore) dan Mandar Syah (pemimpin Ternate), mereka berhasil menciptakan perdamaian antara kedua kerajaan yang dipimpinnya. Namun hal tersebut tidak kekal. Persaingan antara kerajaan Ternate dan Tidore berakhir ketika mereka menyadari bahwa mereka telah diadu domba oleh pihak asing yang menjadi mitra kerjasamanya serta ketika Belanda melepaskan kekuasaan mereka atas daerah yang dikuasai (Amal, 2006). KESIMPULAN Tidore merupakan salah satu pulau kecil yang ada di Maluku Utara. Salah satu kesultanan Islam di maluku ialah Kesultanan Tidore. Islam menyebar ke Maluku dibawa oleh pedagang dari bangsa barat dan mulai masuk ke Kesultanan Tidore dengan dibawa oleh Ciriliati atau Sultan Jamaluddin (1495-1512) yang merupakan raja ke-IX Tidore. Sistem pemerintahan Kesultanan Tidore yakni Demokrasi dan Monarki. Semboyan Kesultana Tidore yakni Kolano Se i Bobato Dunya Se Akhirat yang berarti Sultan bersama staf yang membidangi urusan dunia atau pemerintahan serta urusan agama atau akhirat. Sistem pemerintahan pada kerajaan tidore disebut dengan Kolano Sei Bobato Pehak Raha yang berarti Sultan dan empat kementerian serta pegawai. Dalam menjalankan pemerintahan sultan juga dibantu oleh para bobato dan dewan wazir. Kesultanan Tidore mencapai masa kejayaannya pada masa kepemimpinan Sultan Nuku. Ia memiliki empat konsep politik yang ingin dicapai, yakni: 1) Menyatukan wilayah Kesultanan Tidore menjadi bagian utuh, 2) Melakukan pemulihan terhadap empat pilar kekuasaan dari Kerajaan Maluku, 3) Mengusahakan adanya keterjalinan antara empat kerajaan yang ada di Maluku, 4) Mengusir Penjajah dari Maluku. Kesultanan Tidore mengalami kemunduran setelah wafatnya sultan Nuku. Kemudian, konflik lama muncul kembali yakni perebutan kekuasaan oleh pengganti sultan Nuku. Selain itu, adanya konflik yang terjadi antara Kesultanan Tidore dan Ternate akibat
NINA ANGGRAENI 20 adanya adu domba oleh Portugis dan Spanyol yang merupakan pihak kerjasama kedua kesultanan tersebut menjadi salah satu penyebab kemunduran Kesultanan Tidore. VIDEO PENDUKUNG OR CLICK LINK: https://youtu.be/1E43z2MP4Iw?si=wibVATyEhVC7Gae3
NINA ANGGRAENI 21 LATIHAN SOAL 1. Dimana letak geografis pulau Tidore? a. Sebelah barat pantai Pulau Halmahera, Maluku Utara. b. Sebelah timur pantai Pulau Seram. c. Salah satu pulau kecil di Maluku Selatan. d. Sebelah barat pantai Serang. e. Dekat dengan garis katulistiwa. 2. Siapa yang pertama kali membawa Islam ke dalam Kesultanan Tidore? a. Sultan Nuku. b. Sultan Naruddin. c. Sultan Jamaluddin. d. Sultan Putra Alam. e. Sultan Zainal Abidin. 3. Tidore memiliki sebuah ambisi yang sama dengan Ternate yang menjadi pesaingnya. Ambisi apa yang ingin diraih kesultanan Tidore tersebut? a. Mengalahkan kesultanan lain yang ada di Maluku. b. Menjadi kesultanan terkuat di Maluku. c. Dapat melakukan kerjasama dengan pihak asing untuk memajukan kesultanan. d. Memperluas wilayah kekuasaan yang menjadi pengaruhnya. e. Mengislamkan semua wilayah. 4. Sistem pemerintahan apa yang diberlakukan oleh kesultanan Tidore? a. Demokrasi dan Monarki. b. Monarki dan Liberal. c. Monarki. d. Liberal. e. Demokrasi. 5. Kesultanan Tidore mencapai puncak kejayaan masa pada kepemimpinan sultan? a. Sultan Jati. b. Sultan Ahmadul Mansyur. c. Sultan Saifuddin. d. Sultan Nuku. e. Sultan Hasan Syah.
NINA ANGGRAENI 22 6. Dalam sistem pemerintahan kesultanan Tidore terdapat adanya peran bobato. Apa tugas dari seorang bobato? a. Mengatur serta menjalankan keputusan dewan wazir. b. Menjadi pelayan raja. c. Mengawasi jalannya sistem pemerintahan. d. Mengatur keuangan kesultanan. e. Menjadi konsultan ketika kesultanan terdapar sebuah masalah atau konflik. 7. Kesultanan Tidore melakukan perluasan atas kekuasaannya hingga ke Teluk Wru, Seram Timur. Apa yang menjadi bukti adanya perluasan tersebut? a. Penemuan sebuah prasasti. b. Adanya Naskah Bebeto. c. Adanya alat musik gamelan. d. Penemuan babat. e. Adanya peninggalan masjid 8. Salah satu dari ke empat konsep politik yang ingin dicapai oleh sultan nuku yakni? Kecuali! a. Menyatukan wilayah kesultanan Tidore menjadi bagian yang utuh. b. Melakukan kerjasama dengan bangsa barat untuk memajukan kesultanan. c. Melakukan pemulihan terhadap empat pilar kekuasaan Kerajaan Maluku. d. Mengusahakan adanya kerjasama antara empat kerajaan di Maluku e. Mengusir penjajah dari maluku. 9. Apa arti Jou suba se tabea dalam salah satu ideologi Kesultanan Tidore? a. Cara berkata yang baik. b. Cara berbusana yang baik. c. Rendah hati. d. Memiliki rasa malu e. Cara saling menghargai dan menghormati. 10. Apa yang menyebabkan runtuhnya kesultanan Tidore? a. Adanya serangan dari kesultanan Ternate. b. Kehadiran bangsa barat yang menjajah wilayah kesultan Tidore. c. Adanya adu domba bangsa barat pada kedua kesultanan (Ternate dan Tidore). d. Adanya konflik sosial ekonomi e. Banyak pedagang asing yang ingin memiliki kekuasaan di kesultanan Tidore.
NINA ANGGRAENI 23 KUNCI JAWABAN 1. A 6. A 2. C 7. B 3. D 8. B 4. A 9. E 5. D 10. C DAFTAR PUSTAKA Abimanyu, S. (2014). Kitab Sejarah Terlengkap Kearifan Raja-Raja Nusantara. Laksana. Amal, A. M. (2006). Kepulauan Rempa-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250- 1950. Amarseto, B. (2015). Ensiklopedia Kerajaan Islam di Nusantara. Istana Media (Grup Relasi Inti Media, anggota IKAPI). Amir, A., & Utomo, B. B. (2016). Aspek-aspek Perkembangan Peradaban Islam di KAwasan Indonesia Timur: Maluku dan Luwu. xvi + 190 hlm. BPK RI, P. K. T. (2021). RPJMD Kota Tidore Kepulauan 2021-2026. 1–84. Djamal, S. (2014). Perubahan Tata Ruang Kota Kerajaan Tidore the Changes of Urban Spatial Planning in the Tidore Kingdom. 12–26. Fitria Annisa, Gilang Agus Budiman, J. M. K. (2016). Kerajaan-Kerajaan Dan Pelabuhan Besar Di Nusantara. Jurusan Sejarah Dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab Dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, 1(1), 1–23. Handoko, W. (2010). Konversi Islam dan Determinasi Kekuasaan. Studi Arkeologi di Kawasan Teluk Waru Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku. Handoko, W., & Mansyur, S. (2018). Kesultanan Tidore : Bukti Arkeologi Sebagai Pusat Kekuasaan Islam Dan Pengaruhnya Di Wilayah Periferi. Berkala Arkeologi, 38(1), 17– 38. https://doi.org/10.30883/jba.v38i1.246 Ihwan Wahid Minu, Rahmat, R., & Muhammad Rafli HI Taher. (2022). Sistem Pemerintahan Kesultanan Tidore Perspektif al-Siyāsah al-Syar’iyyah di Kota Tidore Kepulauan. BUSTANUL FUQAHA: Jurnal Bidang Hukum Islam, 3(1), 81–99. https://doi.org/10.36701/bustanul.v3i1.524
NINA ANGGRAENI 24 Katoppo, E. (1984). Nuku, Perjuangan Kemerdekaan di Maluku Utara. Jakarta: Sinar Harapan. Mariana. (2020). Modul pembelajaran SMA Sejarah Indonesia Kelas X: Perkembangan Kehidupan Masyarakat Pada Masa Kerajaan Islam. Repositori.Kemdikbud.Go.Id, 1–54. Poesponegoro, M. D., & Notosusanto, N. (2019). Sejarah Nasional Indonesia III Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Rusdiyanto, R. (2018). Kesultanan Ternate Dan Tidore. Aqlam: Journal of Islam and Plurality, 3(1). https://doi.org/10.30984/ajip.v3i1.631 Sapari, P. A. (2011). Kesultanan Ternate Dalam Lintas Perdagangan Abad Xvi - Xvii. Sidiq, R., Najuah, & Lukitoyo, P. s. (2020). Sejarah Indonesia Periode Islam (Issue July). Yayasan Kita Menulis. Taniputera, I. (2017). Ensiklopedia Kerajaan-Kerajaan di Nusantara Jilid 2. AR-RUZZ MEDIA. https://malut.bnn.go.id/kunjungan-ka-bnnp-malut-kedaton-kesultanan-tidore/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmalut/sultan-nuku-panglima-perang-dari-tidoreseorang-pahlawan-nasional/ https://www.atlasofmutualheritage.nl/en/page/5066/view-of-tidore
UNIVERSITAS NEGERI MALANG