The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bahan ajar teks anekdot kelas X

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Herzon Ranau, 2020-09-22 02:18:42

BAHAN AJAR TEKS ANEKDOT

Bahan ajar teks anekdot kelas X

Keywords: Kelas X

TEKS ANEKDOT

KELAS X SMK/SMA

Kompetensi Dasar

3.6. Menganalisis struktur dan kebahasaan teks anekdot.
3.7.Menciptakan kembali teks anekdot dengan memerhatikan
struktur, dan kebahasaan baik lisan maupun tulis

Kegiatan Pembelajaran
 Mengidentifikasi struktur(bagian-bagian teks) anekdot dan kebahasaan .
 Menyusun kembali teks anekdot dengan memerhatikan struktur dan kebahasaan.
 Mempresentasikan, menanggapi,dan merevisi teks anekdot yang telah disusun

Disusun oleh :

Herzon, S.Pd

BAHASA INDONESIA

KATA
PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas rahmat dan karunia-Nya, e-modul ini dapat
diselesaikan dengan baik. E-modul ini terkait dengan materi
pempembelajaranan yang akan dipelajari, yaitu menganalisis
struktur dan kebahasaan teks anekdot mata pelajaran bahasa
Indonesia, kelas X.

Penulis sangat berharap e-modul ini dapat berguna dalam
rangka menambahwawasan serta pengetahuan kita mengenai
pempembelajaranan Bahasa Indonesia. Lebih karena itu,
penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
e- modul yang telah penulis buat di masa yang akan datang.

Semoga e-modul sederhana ini dapat digunakan dan
dipahami dengan baik dan jelas.

Simpang Sender, September 2020

Penulis
Herzon, S.Pd

1

DAFTAR ISI

1. Kata Pengantar ........................................................ 1
2. Pengertian dan Fungsi Teks Anekdot ........................ 3
3. Struktur Teks Anekdot ................................................ 4
4. Contoh Teks Anekdot ................................................. 5
5. Kebahasaan Teks Anekdot ......................................... 6
6. Menyusun Teks Anekdot ............................................ 7
7. Pola Penyajian Anekdot.............................................. 8
8. Rujukan ....................................................................... 11

2

TEKS ANEKDOT

A. Pengertian dan Fungsi Teks Anekdot

Salah satu cerita lucu yang banyak beredar di masyarakat adalah
anekdot. Anekdot digunakan untuk menyampaikan kritik, tetapi
tidak dengan cara yang kasar dan menyakiti. Anekdot ialah cerita
singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan. Anekdot
mengangkat cerita tentang orang penting (tokoh masyarakat) atau
terkenal berdasarkan kejadian yang sebenarnya.

Kejadian nyata ini kemudian dijadikan dasar cerita lucu dengan
menambahkan unsur rekaan. Seringkali, partisipan (pelaku cerita),
tempat kejadian, dan waktu peristiwa dalam anekdot tersebut
merupakan hasil rekaan.

Anekdot adalah sebuah cerita
Batasan pendek yang berisi sebuah sindiran
anekdot terhadap sesuatu atau seseorang

yang dilengkapi dengan humor.
Isi Isi pokok dari sebuah teks
pokok anekdot adalah sebuah sindirian
anekdot pada suatu hal atau pada seseorang.

Fungsi dari anekdot adalah sebuah
Fungsi hiburan atau intermezzo yang
anekdot dilengkapi dengan sebuah sindiran

terhadap suatu hal.

3

B. Struktur Teks Anekdot

Anekdot memiliki struktur teks yang
membedakannya dengan teks lainnya. Teks
anekdot memiliki struktur abstraksi, orientasi,
krisis, reaksi, dan koda.

1. Abstraksi merupakan pendahuluan yang menyatakan latar

belakang atau gambaran umum tentang isi suatu teks.

2. Orientasi merupakan bagian cerita yang mengarah pada

terjadinya suatu krisis, konflik, atau peristiwa utama. Bagian inilah
yang menjadi penyebab timbulnya krisis.

3. Krisis atau komplikasi merupakan bagian dari inti

peristiwa suatu anekdot. Pada bagian krisis itulah terdapat
kekonyolan yang menggelitik dan mengundang tawa.

Reaksi4. merupakan tanggapan atau respons atas krisis yang

dinyatakan sebelumnya. Reaksi yang dimaksud dapat berupa sikap
mencela atau menertawakan.

Koda5. merupakan penutup atau simpulan sebagai pertanda

berakhirnya cerita. Di dalamnya dapat berupa persetujuan,
komentar, ataupun penjelasan atas maksud dari cerita yang
dipaparkan sebelumnya. Bagian ini biasanya ditandai oleh kata-
kata, seperti itulah,akhirnya, demikianlah. Keberadaan koda
bersifat opsional; bisa ada ataupun tidak ada.

4

Contoh Anekdot

Aksi Maling Tertangkap CCTV

Isi Struktur

Seorang warga melapor kemalingan. Abstraksi

Pelapor : “Pak saya kemalingan.”

Polisi : “Kemalingan apa?” Orientasi
Pelapor : “Mobil, Pak. Tapi saya

beruntung Pak...”

Polisi : “Kemalingan kok beruntung?”

Pelapor : “Iya pak. Saya beruntung

karena CCTV merekam dengan jelas. Krisis
Saya bisa melihat dengan jelas wajah
malingnya.”

Polisi : “Sudah minta izin malingnya

untuk merekam?”

Pelapor : “Belum .... “ (sambil menatap

polisi dengan penuh keheranan. Reaksi

Polisi : “Itu ilegal. Anda saya tangkap.”

Pelapor : (hanya bisa pasrah tak Koda
berdaya).

5

C. Kebahasaan Teks Anekdot

Seperti juga teks lainnya, anekdot memiliki unsur kebahasaan
yang khas yaitu

1. Menggunakan kalimat yang menyatakan peristiwa masa
lalu,

2. Menggunakan kalimat retoris, [kalimat pertanyaan yang
tidak membutuhkan jawaban];

3. Menggunakan konjungsi [kata penghubung] yang
menyatakan hubungan waktu seperti kemudian, lalu;

4. Menggunakan kata kerja aksi seperti menulis, membaca,
dan berjalan, ;

5. Menggunakan kalimat perintah (imperative sentence);
dan

6. Menggunakan kalimat seru. Khusus untuk anekdot yang
disajikan dalam bentuk dialog, penggunaan kalimat
langsung sangat dominan.

No. Unsur Kebahasaan Contoh Kalimat
Kalimat yang
Pada puncak pengadilan korupsi politik,
1. menyatakan Jaksa penuntut umum menyerang saksi.
peristiwa masa lalu
“Apakah benar,” teriak Jaksa, “bahwa
2. Kalimat retoris Anda menerima lima ribu dolar untuk
berkompromi dalam kasus ini?”
Penggunaan konjungsi
Akhirnya, hakim berkata, “Pak, tolong
3. yang jawab pertanyaan Jaksa.”
menyatakan hubungan
Saksi menatap keluar jendela seolah-
waktu olah tidak mendengar pertanyaan.

4. Penggunaan kata kerja “Pak, tolong jawab pertanyaan
aksi Jaksa.”

5. Penggunaan “Oh, maaf.”
kalimat perintah
6
6. Penggunaan
kalimat seru

D. Menyusun Teks Anekdot berdasarkan

Kejadian yang Menyangkut Orang Banyak atau
Perilaku Tokoh Publik

Dalam menyusun anekdot, ada beberapa hal yang harus
ditentukan lebih dulu. Hal tersebut adalah menentukan tema,
kritik, kelucuan, tokoh, struktur, alur, dan pola penyajian teks
anekdot. Langkah-langkah ini akan memudahkan untuk
belajar menyusun anekdot.

Langkah-langkah penyusunan disajikan dalam bentuk tabel,
dengan penyelesaian pada kolom ketiga.

No. Aspek Isi

1. Tema Kasih sayang pada orangtua.

Anak yang memandang orangtua di

2. Kritik masa tuanya

sebagai orang yang merepotkan.

3. Humor/ Orang dewasa malu karena dikritik
kelucuan oleh anak kecil.

4. Tokoh Kakek tua, ayah, anak dan menantu.

Kakek tua yang tinggal

Abstraksi bersama anak,
menantu dan cucu 6

tahun.

Kebiasaan makan malam

5. Struktur di rumah

Orientasi si anak. Kakek tua

makannya sering

berantakan.

Krisis Kakek tua diberi meja
kecil terpisah di

pojok, dengan alat makan

anti pecah.

Cucu 6 tahun membuat

Reaksi replika

meja terpisah.

Cucu 6 tahun

mengungkapkan kelak

Koda akan
membuat meja terpisah

juga

untuk ayah dan ibunya.

7 Alur Kakek tua tinggal bersama anak,

menantu dan cucunya yang

berusia 6 tahun. Karena sudah tua,

mata si Kakek rabun dan

tangannya bergetar sehingga kerap

menjatuhkan makanan dan

alat makan. Agar tidak merepotkan,

ia ditempatkan di meja

terpisah dengan alat makan anti

pecah. Anak dan menantunya

baru sadar ketika diingatkan oleh

cucu 6 tahun yang tengah

bermain membuat replika meja.

8 Pola Narasi.
Penyajian

Teks Seorang kakek hidup serumah

anekdot bersama anak, menantu, dan cucu

berusia 6 tahun. Keluarga itu biasa

makan malam bersama. Si kakek

yang sudah pikun sering

mengacaukan segalanya. Tangan

bergetar dan mata rabunnya membuat

kakek susah menyantap makanan.

Sendok dan garpu kerap jatuh.

Saat si kakek meraih gelas, sering

susu tumpah membasahi taplak. Anak

dan menantunya menjadi gusar.
Suami istri itu lalu menempatkan
sebuah meja kecil di sudut ruangan,
tempat sang kakek makan sendirian.
Mereka memberikan mangkuk
melamin yang tidak gampang pecah.
Saat keluarga sibuk dengan piring
masing-masing, sering terdengar
ratap kesedihan dari sudut ruangan.
Namun, suami-istri itu justru
mengomel agar kakek tak
menghamburkan makanan lagi.
Sang cucu yang baru berusia 6 tahun
mengamati semua kejadian itu dalam
diam.
Suatu hari si ayah memerhatikan
anaknya sedang membuat replika
mainan kayu.
“Sedang apa, sayang?” tanya ayah
pada anaknya.
“Aku sedang membuat meja buat
ayah dan ibu.
Persiapan buat ayah dan ibu bila aku
besar nanti.”
Ayah anak kecil itu langsung terdiam.
Ia berjanji dalam hati, mulai hari itu,
kakek akan kembali diajak makan di
meja yang sama. Tak akan ada lagi
omelan saat piring jatuh, makanan
tumpah, atau taplak ternoda kuah.
Sumber: J. Sumardianta, Guru Gokil
Murid Unyu. Halaman 47. (dengan
penyesuaian)

9

E. Pola Penyajian Anekdot

Anekdot dapat disajikan dalam bentuk dialog maupun narasi. Salah
satu ciri dialog adalah menggunakan kalimat langsung. Kalimat
langsung adalah sebuah kalimat yang merupakan hasil kutipan
langsung dari pembicaraan seseorang yang sama persis seperti apa
yang dikatakannya.

Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi

Dialog Narasi

Pada puncak pengadilan Pada puncak pengadilan korupsi

korupsi politik, politik, Jaksa penuntut umum

Jaksa penuntut umum menyerang saksi.

menyerang saksi. “Apakah benar,” teriak Jaksa,

Jaksa : “Apakah benar, “bahwa Anda menerima lima

bahwa anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi

ribu dolar untuk dalam kasus ini?”

berkompromi dalam Saksi menatap keluar jendela

kasus ini?” seolaholah tidak mendengar

Saksi : (menatap keluar pertanyaan.

jendela seolah-olah tidak “Bukankah benar bahwa Anda

mendengar pertanyaan) menerima lima ribu dolar untuk

Jaksa : “Apakah benar, berkompromi dalam kasus ini?”

bahwa anda menerima lima ulang pengacara.

ribu dolar untuk Saksi masih tidak menanggapi.

berkompromi dalam Akhirnya, hakim berkata, “Pak,

kasus ini?” tolong jawab pertanyaan Jaksa.”

Saksi : (tidak menanggapi) “Oh, maaf.” Saksi terkejut sambil

Hakim : “Pak, tolong jawab berkata kepada hakim, “Saya

pertanyaan Jaksa.” pikir dia tadi berbicara dengan

Saksi : (kaget) “Oh, maaf. Anda.”

Saya piker dia tadi

berbicara dengan Anda.”

10

Daftar Pustaka
Kosasih, E. 2014. Jenis-Jenis Teks dalam Mata Pelajaran Bahasa
Indoneisa SMA/MA/SMK. Bandung: Yrama Widya
Suherli, dkk. 2017. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X
Revisi Tahun 2017. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan,
Balitbang, Kemendikbud.
Suherli, dkk. 2017. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X
Revisi Tahun 2017. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan,
Balitbang, Kemendikbud

11


Click to View FlipBook Version