The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

ARTIKEL-evaluasi afektif dalam pembelajaran AUD

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Winka Antungo, 2022-12-26 07:54:48

ARTIKEL-evaluasi afektif dalam pembelajaran AUD

ARTIKEL-evaluasi afektif dalam pembelajaran AUD

EVALUASI AFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI
Dewinta N. Dasmele¹, Fatmawat Hasan Uno²

Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Negeri Gorontalo
e-mail : [email protected]

e-mail : [email protected]

Abstrak
Dalam taksonomi Benjamin S.Bloom ada tiga ranah pendidikan, yaitu ranah berpikir (cognative
domain), ranah nilai atau sikap (affective domain), dan ranah keterampilan (psychomotor domain)
Tiga ranah pendidikan ini yang menjadi tujuan dari pendidikan di Indonesia, sebagaimana
disebutkan dalam Undang-Undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
bertujuaan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, sehingga dapat disimpulkan
bahwa ranah kognitif merupakan ranah pengetahuan. Ranah afektifnya adalah beriman dan
bertaqwa, berahlak mulia, mandiri, demokratis, bertanggung jawab. Evaluasi afektif merupakan
salah satu jenis evaluasi pada pembelajaran AUD. Namun, masalah yang ditemukan di lapangan,
guru-guru cenderung mengabaikan evaluasi afektif dan lebih memfokuskan pembelajaran pada
penuntasan kognitif semata. Sehingga muncullah suatu kesenjangan, nilai yang tertera pada kolom
afektif anak belum tentu sesuai dengan perilaku anak.
Kata kunci : Evaluasi, Afektif, Anak Usia Dini

Abstrack
In Benjamin S. Bloom's taxonomy there are three domains of education, namely the realm of
thinking (cognitive domain), the realm of values or attitudes (the affective domain), and the realm
of skills (psychomotor domain). These three educational domains are the goals of education in
Indonesia, as stated in the Law of the Republic of Indonesia number 20 of 2003 concerning the

national education system which aims to develop the potential of students to become human beings
who believe and fear God Almighty. noble, healthy, knowledgeable, capable, creative,
independent, and a good citizen. democratic and responsible, so it can be concluded that the
cognitive domain is the realm of knowledge. The affective domain is faith and piety, noble
character, independent, democratic and responsible. Affective evaluation is a type of evaluation in
AUD learning. However, the problem found in the field is that teachers tend to ignore affective
evaluation and focus more on learning only on cognitive completion. So that a gap appears, the
value listed in the child's affective column is not necessarily in accordance with the child's
behavior.

Keywords : Evaluation, Affective, Early Childhood

PENDAHULUAN cakap, kreatif. Ketiga ranah ini harus
dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan
Evaluasi pendidikan merupakan satu evaluasi belajar.
kesatuaan dengan pengendaliaan mutu
pendidikan sekolah, karena untuk Ranah Afektif menentukan
mengetahui pelaksanaan dan hasil-hasil
pengendaliaan mutu perlu diadakan evaluasi, keberhasilan belajar anak, artinya ranah
Evaluasi pendidikan mencakup: evaluasi
hasil, proses pelaksanaan, dan faktor- faktor afektif sangat menentukan keberhasilan anak
manajerial pendidikan pendukung proses
pendidikan. Dengan tujuaan untuk untuk mencapai ketuntasan dalam proses
mengetahui bagaiman pelaksanaannya dan
sudah sejauh mana keberrhasilan hasil pembelajaran. Untuk mengetahui ketuntasan
pengendalian pendidikan tersebut.
maka diperlukan evaluasi. Dalam dunia
Dalam dunia pendidikan, evaluasi hasil
belajar mencakup tiga ranah, yaitu kognitif, pendidikan evaluasi memegang peranan
afektif, dan psikomotor. Tiga ranah ini
merupakan tujuan pendidikan nasional. penting. Maka evaluasi pembelajaran dalam
Dalam Undang-Undang RI nomor 20 tahun
2003 tentang sistem pendidikan nasional bentuk apapun sangat bermanfaat bagi
bertujuaan untuk mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang pendidik maupun peserta didik itu sendiri,
beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, termasuk evaluasi afektif. Evaluasi tidak
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung berdiri sendiri ada materi dan metode dan
jawab, jadi dapat kita simpulkan ranah
kognitifnya adalah berilmu. Ranah afektifnya ketiganya mempunyai hubungan yang saling
adalah beriman dan bertaqwa, berahlak
mulia, mandiri, demokratis, bertanggung mempengaruhi.
jawab. Ranah psikomotoriknya adalah sehat,
PEMBAHASAN

Evaluasi Afektif

Menurut bahasa (etimologi) istilah
evaluasi berasal dari bahasa Inggris
evaluation yang berarti penilaian atau
penaksiran, dari akar kata Value yang berarti
nilai. Sedangkan secara istilah (terminologi)
sebagaimana dikemukakan oleh Edwin
Wandt dan Gerald W. Brown yang dikutip
Sudijono evaluation refer to the act or proses
to determining the value of something, yang

artinya suatu tindakan atau suatu proses Adapun Afektif berasal dari bahasa
untuk menentukan nilai sesuatu. Proses inggris affective yang berarti ranah yang
evaluasi umumnya berpusat pada siswa. Ini berkaitan dengan sikap dan nilai, jadi dapat
berarti evaluasi di maksudkan untuk disimpulkan evaluasi afektif adalah suatu
mengamati hasil belajar siswa dan berupaya tindakan atau suatu proses untuk menentukan
menentukan bagaimana menciptakan nilai sikap. Dalam perkembangan yang
kesempatan belajar. Evaluasi juga paling akhir, sebagiaan pakar sependapat
dimaksudkan untuk mengamati peranan bahwa sikap terdiri dari tiga komponen,
guru, strategi pembelajaran khusus, mteri yakni: Komponen afektif, komponen
kurikulum, dan prinsip-prinsip belajar untuk kognitif, komponen konatif. Komponen
ditapkan pada pengajaran. Fokusnya adalah afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh
bagaimana dan mengapa siswa bertindak seseorang terhadap sesuatu objek. Komponen
dalam pengajaran serta apa yang mereka kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan
lakukan. Tujuan evaluasi untuk memperbaiki yang menjadi pegangan seseorang. Adapun
pengajaran dan penguasaan tujuan tertentu komponen konatif adalah kecenderungan
dalam kelas. untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-
cara tertentu terhadap sesuatu objek. Maka
Ada beberapa istilah yang sering dengan demikiaan penilaian sikap dalam
diserupakan dengan evaluasi, meskipun pada proses pembelajaran di sekolah dapat
dasarnya berbeda, yakni measurement atau diartikan upaya sistematis dan sistemik untuk
pengukuran, assessment atau penaksiran dan mengukur dan menilai perkembangan anak
test. Pengukuran adalah suatu usaha untuk sebagai hasil dari proses pembelajaran yang
mengetahui keadaan sesuatu seperti adanya telah dijalaninya.
yang dapat dikuantitaskan, hal ini dapat
diperoleh dengan jalan tes dan cara lain. Dalam mengukur hasil belajar kawasan
Pengertian assessment tidak sampai ke taraf afektif termasuk sukar karena menyangkut
evaluasi, melainkan sekadar mengukur dan kawasan sikap dan apresiasi, disamping itu
mengadakan estimasi terhadap hasil Kawasan afektif juga sulit dicapai pada
pengukuran. Sedangkan pengertian tes lebih pendidikan formal, karena pada pendidikan
ditekankan pada penggunaan alat formal perilaku yang nampak dapat
pengukuran. diasumsikan timbul sebagai akibat dari
kekakuan aturan, disiplin belajar, waktu

belajar dan norma-norma lainnya. Dengan 2) Menerima penguatan
demikian dapat dikatakan bahwa perilaku Pembelajaran model ini
seperi itu timbul bukan karena siswa telah berlangsung melalui pembiasan
sadar dan menghayati betul tentang operan, yakni dengan menerima
kebutuhan akan sikap dan perilaku tersebut, atau tidak menerima penguatan
tetapi dilakukan karena sekedar untuk atas suatu respon yang
memenuhi aturan dan disiplin saja agar tidak ditunjukan. Penguatan juga dapat
mendapat hukuman. evaluasi afektif berupa ganjaran (penguatan
berkaitan dengan pembentukan dan positif) dan dapat berupa
perubahan sikap. hukuman (penguatan negatif).
Individu dengan cepat akan
a. Pembentukan sikap mengekspresikan pandangan
tertentu, jika diberi ganjaran
Ada tiga model belajar dalam rangka untuk perbuatannya. Dari waktu
ke waktu respon yang diberi
pembentukan sikap,11 tiga model itu ganjaran tersebut akan bertambah
kuat, dengan demikian sikap anak
adalah: akan terbentuk.

1) Mengamati dan meniru 3) Menerima informasi verbal
Informasi tentang berbagai hal
Pembelajaran model ini dapat diperoleh melalui lisan atau
tulisan. Informasi tentang sesuatu
berlangsung melalui pengamatan objek yang diperoleh oleh
seseorang akan mempengaruhi
dan peniruan. proses pembentukan sikapmya terhadap
objek yang bersangkutan,
pembelajaran ini dengan misalnya penyakit AIDS,
informasi ini telah membentuk
pembelajaran melalui model sikap tertentu dikalangan warga
masyarakat terhadap penyakit
(learnigthrough modeling), AIDS, pembawa virusnya dan

kebanyakan perilaku manusia

dipelajari melalui model, yakni

dengan mengamati dan meniru

perilaku atau perbutan orang lain,
terutamanya orang–orang yang

berpengaruh. Melalui proses

pengamatan dan peniruan akan

akan terbentuk pula pola sikap

dan perilaku yang sesuai dengan

orang yang ditiru.

orang yang terkena penyakit Teori fungsional mengasumsikan
bahwa manusia mempertahankan
tersebut. sikap yang sesuai dengan
kebutuhan dirinya sendiri.
b. Teori perubahan sikap perubahan sikap terjadi dalam
rangka mendukung suatu maksud
Para pakar psikologi sosial telah atau tujuan yang ingin dicapainya.
Berdasarkan teori ini, sikap
mengemukakan berbagai teori merupakan alat untuk mencapai
tujuan, oleh karena itu untuk
tentang perubahan sikap, Diantara merubah sikap seseorang terlebih
dahulu harus dipelajari dan
teori- teori itu adalah: diketahui kebutuhan khusus atau
tujuan khusus yang ingin
1) Teori pembelajaran (learning dicapainya.
3) Teori pertimbangan sosial (social
theory) judgment theory)
Teori ini merupakan suatu
Teori ini meluihat perubahan pendekatan yang lebih bersifat
kognitif tentang perubahan sikap.
sikap sebagai suatu proses teori ini memberikan penekanan
pada presepsi dan pertimbangan
pembelajaran. Teori ini tertarik individu tentang objek, orang,
atau ide yang di evaluasinya
pada hubungan antara stimulus Perubahan sikap menurut teori ini
merupakan sutu penafsiran
dan respon dalam suatu proses kembali terhadap objek Proses
perubahan sikap tertgantung
komunikasi. Hovlan janis dan kepada keteguhan individu dalam
berpegang pada suatu pandangan.
kalley dengan program seandainya individu berpegang

komunikasi dan perubahan

sikapYale (The Yale

Communication And Attitude

Change Program). Pada program

Yale ini ada empat unsur dalam

proses pembujukan yang dapat

mempengaruhi terhadap

perubahan sikap yaitu: (1)

penyampai (sebagai sumber

informasi baru), (2) komunikasi

(informasi yang disampaikan), (3)

penerima, (4) situasi.

2) Teori fungsional (functional

theory)

pada pandangan yang ekstrim pembelajaran harus memperhatikan ranah
dalam suatu hal maka ruang gerak afektif.
penerimaaannya adalah sempit,
oleh karena itu kemungkinan Anak Usia Dini
terjadinya Perubahan sikap bagi
individu yang bersangkutan kecil. NAEYC (National Association for The
4) Teori konsistensi (consistency Education of Young Children), yang
theory) mengatakan bahwa anak usia dini adalah
Teori ini dikembangkan asumsi anak yang berada pada rentang usia 0-8
bahwa manusia akan berusaha tahun, yang tercakup dalam program
untuk mewujudkan keadaaan pendidikan di taman penitipan anak,
yang serasi dalam dirinya. Jika penitipan anak pada keluarga (family child
terjadi suatu keadaan yang tidak care home), pendidikan prasekolah baik
serasi, miasalnya terjadi swasta maupun negeri, TK, dan SD
pertentangan antara sikap dan (NAEYC, 1992). Sedangkan Undang-
perilaku, maka manusia akan undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun
berusaha untuk menghilangkan 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
realita tersebut dengan merubah pada Pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa
salah satu sikap atau perilaku. pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya
Tokohnya Heider dengan pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak
teorinya (balance theory). lahir sampai dengan usia enam tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan
Berdasarkan hal tersebut, tanggung jawab pendidikan untuk membantu pertumbuhan
guru sebagai pengajar dan pendidik maka dan perkembangan jasmani dan rohani agar
kosekuensinya seorang guru selain anak memiliki kesiapan dalam memasuki
membantu anak belajar, guru harus mampu pendidikan lebih lanjut (Depdiknas, 2003).
membangkitkan anak belajar. Selain itu juga Sementara itu, UNESCO dengan persetujuan
ikatan emosional diperlukan untuk negara-negara anggotanya membagi jenjang
membangun karakter kebersamaan, rasa pendidikan menjadi 7 jenjang yang disebut
sosialis, nasionalis, persatuaan dll, maka International Standard Classification of
sekolah (guru) dalam merancang program Education (ISDEC). Pada jenjang yang

ditetapkan UNESCO tersebut, pendidikan Kesimpulan
anak usia dini termasuk pada level 0 atau
jenjang prasekolah yaitu untuk anak usia 3-5 Ranah Afektif menentukan keberhasilan
tahun. Dalam implementasinya di beberapa belajar anak, artinya ranah afektif sangat
negara, pendidikan usia dini menurut menentukan keberhasilan anak untuk
UNESCO ini tidak selalu dilaksanakan sama mencapai ketuntasan dalam proses
seperti jenjang usianya. Di beberapa negara pembelajaran. Untuk mengetahui ketuntasan
ditemukan ada yang memulai pendidikan maka diperlukan evaluasi. Dalam dunia
prasekolah ini lebih awal yaitu pada usia 2 pendidikan evaluasi memegang peranan
tahun, dan beberapa negara lain penting. Maka evaluasi pembelajaran dalam
mengakhirinya pada usia 6 tahun. Bahkan bentuk apapun sangat bermanfaat bagi
beberapa negara lainnya lagi memasukkan pendidik maupun peserta didik itu sendiri,
pendidikan dasar dalam jenjang pendidikan termasuk evaluasi afektif. Evaluasi tidak
anak usia dini (Siskandar, 2003). berdiri sendiri ada materi dan metode dan
ketiganya mempunyai hubungan yang saling
Anak usia dini itu sendiri artinya adalah mempengaruhi.

anak yang memiliki usia 0-6 tahun atau biasa DAFTAR PUSTAKA

disebut dengan anak yang memiliki usia Rozak, P. (2014). Evaluasi Afektif dalam
Pembelajaran. Madaniyah, 4(1), 58-77.
emas (golden age). Menurut Wachs (2000) Betwan, B. (2019). Pentingnya Evaluasi
Afektif Pada Pembelajaran Pai Di
menyatakan bahwa tumbuh kembang anak Sekolah. Al-Fikri: Jurnal Studi dan
Penelitian Pendidikan Islam, 2(1), 45-60.
sangat dipengaruhi oleh faktor perawatan dan Amini, M., & Aisyah, S. (2014). Hakikat
anak usia dini. Perkembangan Dan Konsep
pengasuhan anak yang baik. Tidak saja hanya Dasar Pengembangan Anak Usia Dini, 65.
Putri, V. M. (2020). Asesmen Perkembangan
diberikan stimulus, anak-anak juga Anak Usia Dini. Motoric, 4(1), 154-160.

memerlukan banyak asupan gizi yang

seimbang untuk meningkatkan

pertumbuhannya. Jika semua kebutuhan

tersebut terpenuhi dengan baik maka

pertumbuhan serta perkembangan anak usia

dini tidak mendapatkan kebutuhannya

dengan sesuai maka pertumbuhan serta

perkembangan selanjutnya anak mengalami

keterlambatan.


Click to View FlipBook Version