The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Analis Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by theodora sinta, 2023-04-12 20:10:59

Analis Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan

Analis Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan

ANALISIS EFISIENSI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2023 Dosen Pengampu : 1. Dr. Matin, M.Pd 2. Dr. Dewi Suliyanthini, A. T., M. M Disusun Oleh: Theodora Sinta (1111822026) Uji Abu Tholib (1111822027) Reni Setiati (1111822030) Firda Desilia (1111822053)


KATA PENGANTAR Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Perencanaan Pendidikan, dengan judul: Analisis Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Matin, M.Pd dan Dr. Dewi Suliyanthini, A. T., M. M selaku dosen pengampu mata kuliah Perencanaan Pendidikan. Sehingga kami dapat mendalami materi Analisis Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan melalui makalah ini. Kami berharap makalah ini dapat menambah wawasan terhadap materi yang telah kami sajikan khususnya mahasiswa manajemen pendidikan. Kami berkeinginan mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah mendukung terciptanya makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat yang berarti bagi mahasiswa manajemen pendidikan. Akhirnya dengan segala kerendahan hati kami mohon sebesar-besarnya apabila banyak kekurangan dalam isi makalah ini, kami sangat berterimakasih apabila pembaca memberikan saran dan kritik untuk memperbaiki di kemudian hari. Jakarta, April 2023 Tim Penulis


DAFTAR ISI A.Pengertian Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan B.Mencari efisiensi Internal C.Menelusuri Kohort Angka Nominal D.Menggunakan Kohort Persentase dan Kohort Data Asumsi


Pengertian Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan Efisiensi Efisiens Hemat, sedikit modal tetapi tujuan tercapai, sedikit pengeluaran biaya, sarana , tenaga dan waktu tetapi yang dikehendaki tercapai seperti yang sudah ditetapkan. Efisiensi penyelenggaraan pendidikan diartikan sebagai penghematan terhadap penggunaan sumber daya yang dimiliki sekolah yaitu penghematan terhadap penggunaan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, penghematan terhadap pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan, penghematan terhadap biaya pendidikan, penghematan terhadap penggunaan waktu dalam melakukan proses pendidikan guna mancapai tujuan pendidikan yang sudah ditentukan secara efektif (Matin, 2013)


Pengertian Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan Efisiensi Internal Ekternal Efisiensi internal adalah penghematan yang terjadi dilingkungan internal sekolah, pada siswa masih belajar menuntut ilmu disekolah dan yang bersangkutan menjadi tanggung jawab sekolah. Efisiensi Eksternal adalah penghematan yang terjadi di luar sekolah dimana siswa sudah tamat dan kembali ke masyarakat sebagai warga negara biasa.


Pengertian Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan Diukur Internal Ekternal Banyaknya lulusan siswa yang sudah memperoleh pekerjaan, termasuk tingkah laku baik yang memberikan manfaat di masyarakat. Banyaknya lulusan yang dicetak oleh sekolah


Mencari efisiensi Internal Dalam sistem pendidikan, dianggap memiliki efisiensi internal ketika dapat menghasilkan keluaran yang diharapkan. (Matin, Ahmad, & Fanisyah, 2022). Misalnya pada sekolah dasar, jumlah siswa yang lulus di telusuri dari tingkat I, II sampai dengan ke tingkat VI. Pencarian efisiensi internal penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan dapat dilakukan dengan cara mengkaji arus siswa, yaitu dengan melihat masukan dan keluaran dari suatu jenjang pendidikan. Masukan dan keluaran harus pula mempertimbangkan faktor biaya yang dikeluarkan, karena dalam hal ini masukan dan keluaran yang diperhitungkan jumlah siswa yang masuk dan lulus.


Mencari efisiensi Internal Teknik mencari tingkatan efisiensi internal menelusuri arus siswa Kohort angka nominal Kohort angka asumsi Kohort angka nominal terdapat tiga indikator : I. Lulusan yang merupakan seperberapa bagian dari kelompok siswa yang mulai dari tingkat satu (diukur sebagai koefisien/ fraksi yang dismbolkan dengan L). II. Rata rata jumlah tahun yang dialami tingkat 1 dismbolkan dengan P. III. Rata rata jumlah tahun ajaran yang perlu diberikan untuk menghasilkan satu lulusan terhitung mulai dari tingkat I disimbolkan dengan H. Kohort angka asumsi terdapat dua indikator yaitu: I. Rasio masukan dan keluaran II. Rata rata jumlah tahun ajaran yang perlu diberikan untuk menghasilkan satu lulusan terhitung dari tingkat I.


Menelusuri Kohort Angka Nominal Kohort angka nominal adalah menggunakan tiga indikator yang masing masing indikator dapat diukur dengan perhitungan sebagai berikut.


Menelusuri Kohort Angka Nominal Untuk mencari nilai koefisien melanjutkan pada tingkat I atau n1 dari data kohort diatassebagai berikut: Berikut adalah tabel dari perhitungan n/koefisien siswa naik tingkat


Menelusuri Kohort Angka Nominal Setelah itu kita akan memasuki perhitungan koefisien P (pengajaran yang dialami siswa yang masuk dari tingkat I). Rumusnya adalah P = 1 + b1 + b2 + b3 + b4 + b5 dan hasilnya 0.92 x 0.82 x 0.78 x 0.68 x 0.61 x 0.57 hasilnya adalah 4.80, setelah menyelesaikan perhitungan L ( koefisien lulusan)L = 0.92 x 0.90 x 0.95 x 0.87 x 0.90 x 0.94 = 0.57. Maka dapat disimpulkan jumlah lulusannya adalah 57%


Menggunakan Kohort Persentase dan Kohort Data Asumsi Agar kita dapat menyusun kohort asumsi, kita memerlukan kohort persentase yang dikembangkan dari kohort nominal. Berikut contoh cara membuat kohort asumsi dari kohort nominal yang dipakai di cara pertama a. Menyusun Kohort Persentase Kohort angka nominal yang digunakan di cara 1 jika disusun dalam kohort persentase adalah sebagai berikut


Menggunakan Kohort Persentase dan Kohort Data Asumsi b. Membuat Tabel Persentase Siswa Naik Tingkat/Lulus, Siswa Tinggal Kelas, Siswa Putus Sekolah Pada Setiap Tingkat Dalam pembuatan tabel ini, kita tidak diharuskan memiliki data dalam keseluruhan kohort dengan waktu yang lengkap. Mungkin cukup dengan satu atau dua tahun. Kita ambil contoh, disini kita ambil data pada tahun 2006. Data tersebut kita pindahkan ke tabel sehingga diperoleh c. Membuat Asumsi Asumsi terhadap data diatas adalah I. Persentase siswa naik tingkat, tinggal kelas, dan putus sekolah dianggap tetap untuk setiap tingkat, dan setiap tahun, misalnya siswa naik tingkat di tingkat I tahun 2006 sebesar 80,8% tetap 80,8% untuk tahun 2007 dan seterusnya. II. Siswa tinggal kelas dimungkinkan hanya terjadi dua kali, jika lebih dari dua kali dianggap putus sekolah. III. Tidak ada siswa baru, kecuali siswa baru tingkat I, dan perhitungan jumlah awal siswa tingkat I adalah 1000. Tabel 3 Persentase Siswa Naik Tingkat/Lulus, Siswa Tinggal Kelas, Siswa Putus Sekolah


Menggunakan Kohort Persentase dan Kohort Data Asumsi


Menggunakan Kohort Persentase dan Kohort Data Asumsi e. Analisis Data Kohort Asumsi Dari kohort di atas terlihat bahwa dari jumlah awal 1000 siswa pada tahun 2006 ternyata yang lulus sebanyak 692, dimana sebanyak 278 tidak pernah tinggal kelas, 266 tinggal kelas 1 kali, dan 148 siswa tinggal kelas dua kali sehingga baru bisa lulus pada tahun 2013. Di samping siswa yang lulus, dari tahun 2006 sampai tahun 2013, terdapat 308 siswa yang putus sekolah. Diagram tersebut juga menunjukkan bahwa dari 1000 siswa, sebanyak 43 putus sekolah di tingkat I dan dapat menyelesaikan tingkat I sebanyak 957, dari jumlah tersebut 47 siswa putus sekolah di tingkat II sehingga yang berhasil menyelesaikan di tingkat II sebanyak 910, dan seterusnya. Jumlah siswa pertingkat dikurang jumlah siswa yang putus sekolah dalam suatu kohort disebut “evolusi kohort”. Evolusi kohort di atas dapat digambarkan sebagai berikut Gambar 7 terlihat bahwa angka siswa putus sekolah tertinggi berada di kelas VI yaitu 57 orang, kemudian secara berturut - turut diikuti oleh siwa di kelas V dan kelas IV masingmasing 56 dan 54 siswa. Angka putus sekolah terendah berada di kelas I berjumlah 43 siswa. Dari Gambar 6 dapat diketahui dari 1000 siswa yang masuk di kelas I pada tahun 2006, yang berhasil lulus sebanyak 692 orang denga rincian 278 siswa lulus pada tahun 2011, 266 siswa lulus tahun 2012, dan 148 siswa lulus tahun 2013. Keluaran yang dihasilkan 692 dari 1000 siswa. Apakah efisien? Untuk menghitung tingkat efisiensi ada dua cara, yaitu menggunakan rasio masukan dan keluaran, serta jumlah tahun ajaran untuk meluluskan seorang siswa.


Menggunakan Kohort Persentase dan Kohort Data Asumsi f. Mencari Efisiensi Internal Penyelenggaraan Pendidikan


Menggunakan Kohort Persentase dan Kohort Data Asumsi 2) Mencari Jumlah Tahun Ajaran untuk Meluluskan Seorang Siswa Berdasarkan data kohort pada Tabel 4 , untuk menghasilkan 692 siswa, diperlukan 6152 siswa / tahun. Jadi rata-rata tahun ajaran yang diperlukan untuk meluluskan seorang siswa di SD adalah 6152 dibagi 692 = 8,90 tahun. Penyelenggaraan pendidikan di SD dikatakan efisien jika rasio siswa/tahun dengan lulusan adalah 6 tahun. Dengan kata lain semakin mendekati angka 6, maka penyelenggaraan pendidikan semakin efisien.


DAFTAR PUSTAKA Asmendri. (2012). Teori dan Aplikasi Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah/Madrasah. Batusangkar: STAIN Batusangkar Press. Kristiawan, M. (2017). Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Deepublish. Matin, M. (2015). PERENCANAAN PENDIDIKAN : Perspektif Proses dan teknik dalam Penyusunan Rencana Pendidikan. JAKARTA: Rajawali Press. Matin, M., Ahmad, M., & Fanisyah, E. (2022). PELATIHAN PEMBUATAN KOHORTSISWA UNTUK MENCARI EFISIENSI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI DESA BOBOJONG KABUPATEN CIANJUR. BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 654-661. Sarinah, & Mardalena. (2017). Pengantar Manajemen. Yogyakarta: Deepublish.


Click to View FlipBook Version