The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Islamic magazine, published by the Foundation Khasanah Islamica Nusantara

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ellie_Windy, 2015-07-26 23:10:22

Al-Islam Magazine Edisi 4

Islamic magazine, published by the Foundation Khasanah Islamica Nusantara

Keywords: page flip magazine,flipbook,any flip

my Identity
Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014

SimbSohlaKlaetpJaemmaimahpinan

al-islam.my.id

Do’a

Menyambut Bulan Ramadhan

“Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah
kami kepada bulan Ramadhan”

[HR. Ahmad dan Thabrani dari sahabat Anas bin Malik r.a.]

Bulan Rajab termasuk dalam empat bulan suci yang dimuliakan, sebagaimana
disebutkan: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas
bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di
antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka
janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan

perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi
kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang

bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)

Redaksi

Alm-IySILdAenMtity

Daftar Isi Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014

5 | Bahasan Utama: Shalat Jamaah dan Simbolisasi Kepemimpinan
12 | Ibadah: Menyempurnakan Shalat, Menguatkan Jiwa
17 | Hadits: Melatih Sabar dan Syukur Melalui Shalat

22 | Tasawuf: Menimbang Hak dan Kewajiban Warga Negeri
24 | Muamalah: Wajah Ukhrawi, Cermin Perbuatan Manusia

28 | Renungan: Taubat, Pemupuk Harapan
30 | Saintek: Bumi, Planet Berkehidupan

Awak Media

Penasehat: Johansyah, Nashir Budiman
Pemimpin Redaksi : Dijan Soebromo

Dewan Redaksi: Tri Boedi Hermawan, Nilna Iqbal, Reno Andryono
Kontributor: Heru Prabowo, Fuad Soffa, Suharjono Harjodiwirjo

Keuangan: Ahmad Hamdani, Syahrial M.
Dukungan Teknis: Fathansyah, Zamakshari Sidiq
Alamat Redaksi: Rumah Alumni, Salman ITB, Jalan Ganesha No.7, Bandung

Alamat Email: [email protected]
Twitter: @alislammyid | Google+ & YouTube Channel: [email protected]

Website: www.al-islam.my.id

Pengantar

Assalamu’alaikum wr wb,
Pembaca Budiman, semoga Allah senantiasa merahmati kita dan keluarga dalam segenap
aktivitas yang kita jalani saat ini. Tak terasa, waktu terus bergerak, dan kini kita memasuki
bulan Sya’ban. Sebentar lagi kita akan jelang kehadiran bulan yang ditunggu semua ummat
muslim yaitu Ramadhan Mubarak. Al-Islam, media alternatif yang sedang kita bangun ini kali
ini ingin mengajak Anda untuk menelaah sebuah tafsir sosial yang menarik mengenai shalat.
Pada edisi pembuka terbitan E-mag Edisi yang ke-4 di bulan Sya’ban ini, kita sajikan
rangkaian kajian mengenai shalat, yang semoga menjadi refleksi yang membekali kita dalam
berbagai kesempatan penting di hari mendatang. Bahwa dalam shalat ternyata dapat dipetik
pengalaman ruhaniah dan sosial sekaligus yang menguatkan pengetahuan kita bahwa Allah
Swt. sudah memberikan tata aturan yang demikian rapi yang dapat kita ambil manfaatnya
lansgung, baik secara mikro – dalam diri dan keluarga, maupun makro dalam kehidupan kita
bermasyarakat. Sajian kita kali ini akan dilengkapi pula dengan tulisan yang bermuatan fikih,
tafsir, hadits, muamalah, kajian tasawuf dan tak lupa artikel saintek. Semua sajian di atas
semoga dapat menambah khasanah pengetahuan kita mengenai luasnya dimensi al-Islam
yang sungguh, baru saja kit coba tulis kembali bagian-bagian kecil dan dasarnya. Ke depan,
semoga khasanah pengetahuan ini akan semakin dapat kita lengkapi bersama, dengan saran
-kritik, serta dukungan dari Anda semua.
Pada kesempatan istimewa ini, Redaksi Al-Islam mengucapkan selamat memasuki bulan
Sya’ban dan menyiapkan diri menyongsong datangnya Ramadhan. Semoga kita semua
dikarunia kesehatan dan kekuatan agar dijumpakan kembali dengan bulan yang dirindukan,
di mana segenap pintu ampunan dibuka, setiap detiknya pahala, serta amalan kita
dilipatgandakan ganjarannya. Barakallah.
Wassalamu’alaikum wrwb,
Redaksi
Al-Islam.my.id

4 al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014

Bahasan Utama

Shalat Berjamaah dan Simbolisasi Kepemimpinan Foto: @Dragono Halim

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat serta rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. al
-Baqarah [2]:43).

Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Rasulullah bersabda: "Shalat berjamaah lebih utama dari shalat
munfarid (sendirian) dengan kelebihan dua puluh tujuh derajat." (Muttafaq ‘alaih).

Dari Abu Hurairah ra., katanya: "Ada seorang buta berkata: Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki
penunjuk jalan yang tetap ke mesjid. Maka apakah saya memiliki keringanan untuk boleh shalat di
rumahku? Maka Nabi saw. berkata kepadanya: Apakah engkau mendengar suara adzan memanggil
untuk shalat? Kata orang itu: Ya. Kata Nabi: Maka penuhilah.” (HR. Muslim).

al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014 5

Ayat Al-Qur’an dan Hadits di atas memberikan bacaannya atau disebut aqra’uhum. Sebagaimana

penegasan kepada kita bahwa shalat berjamaah - hadits: “Rahasia diterimanya shalat kamu adalah

di masjid bagi laki-laki - sangat penting dan yang jadi imam (seharusnya) ulama di antara

merupakan sunnah Rasul. Bahkan, shalat kalian. Karena para ulama itu merupakan wakil

berjamaah harus ditegakkan walaupun kaum

muslimin sedang dalam kondisi berperang

melawan musuh (lihat QS. an-Nisa [4]:102). para ulama itu

Selain fadilah pahala yang berlipat dibandingkan merupakan wakil kalian

shalat munfarid (sendiri), shalat berjamaah kepada Tuhan kalian
memiliki makna penting dalam aktivitas

bermasyarakat. Hal yang paling sering kita

dengar adalah pengaruhnya dalam urusan

memakmurkan masjid. Namun sejatinya bukan
hanya itu, shalat berjamaah juga memiliki fungsi kalian kepada Tuhan kalian.” (HR. At-Thabrani
sosial yang luas dan menjadi pelajaran kehidupan dan Al-Hakim).

bermasyarakat (ukhuwah/persaudaraan) serta “Jadikanlah orang-orang yang terpilih di antara

kepemimpinan. Shalat berjamaah mengajarkan kamu sebagai imam, karena mereka adalah

banyak hal dalam kehidupan berbangsa, perantaraa kamu dengan Tuhanmu.” (HR. Ad-

bernegara, dan bermasyarakat. Secara sederhana Daruqutni). “Apabila seseorang menjadi imam,

kita bisa belajar dari praktik shalat berjamaah padahal di belakangnya ada orang-orang yang

yang di dalamnya terkandung berbagai petunjuk lebih utama daripadanya, maka semua mereka

antara lain tentang cara memilih imam dalam kerendahan terus menerus.” (HR. Ahmad).

(pemimpin), syarat-syarat, kewajiban, interaksi Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang
antara imam (pemimpin)-makmum (rakyat) dan dimaksud dengan aqra’uhum adalah yang paling
kewajiban umum masyarakat. fasih membaca Al-Qur’an, dan paling paham

Syarat-syarat Menjadi Imam (Pemimpin) dalam masalah agama, terutama dalam masalah

Tidak sembarang orang boleh menjadi shalat.

pemimpin/imam shalat berjamaah. 2. Yang Lebih Tua Usianya

Kepemimpinan shalat berjamaah makin kentara Peringkat berikutnya adalah yang lebih tua
manakala tiga waktu shalat yakni Subuh, usianya. “Yang menjadi imam shalat bagi manusia
Maghrib dan Isya’ dilaksanakan. Imam di ketiga adalah yang paling baik bacaan kitabullahnya (Al-
waktu shalat itu diharuskan membaca surah al- Qur’an). Bila mereka semua sama kemampuannya
Fatihah dan surah lain sesudahnya dengan suara dalam membaca Al-Qur’an, maka yang paling
keras dan lantang. banyak pengetahuannya terhadap sunnah” (HR.

Para ulama membuat kriteria orang yang paling Jama’ah kecuali Bukhari). “Jamaah diimami oleh

berhak menjadi imam shalat berjamaah antara yang lebih pandai membaca Kitab Allah. Jika sama

lain sebagai berikut: -sama pandai dalam membaca Kitab Allah, maka

1. Yang Paling Baik Bacaannya oleh yang lebih alim tentang sunnah. Jika sama-
sama pula, maka oleh yang lebih tua.” (HR.
Syarat yang paling utama untuk menjadi imam Muslim dan Abu Dawud). “Hendaklah yang lebih
shalat berjamaah yaitu orang yang paling baik tua di antara kalian berdua yang menjadi

6 al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014

imam”. (HR. Imam yang enam). belakangnya, sedangkan perempuan yang paling
belakang lalu disusul yang di depannya).
Selain kedua hal utama di atas, ada beberapa hal
khusus yang perlu mendapat perhatian kita Kedua, memilih makmum yang berada tepat di
bersama dalam pelaksanaan shalat berjamaah belakangnya adalah orang yang sudah dewasa
ini. Antara lain masalah lingkungan yang sangat (baligh) dan siap untuk sewaktu-waktu
baik juga telah diatur dalam beberapa hadits. menggantikan posisi imam. Perhatikan hadits,
Posisi tuan rumah (yang memiliki tempat), juga “Hendaklah yang mengiringiku orang-orang yang
perlu menjadi pertimbangan sebagai orang yang telah baligh dan berakal, kemudian orang-orang
paling berhak menjadi imam, sebagaimana setelah mereka, kemudian orang-orang setelah
hadits ,“Janganlah seseorang mengimami mereka, dan janganlah kalian berselisih, niscaya
seseorang di dalam rumah tangga orang yang berselisih juga hati kalian, dan jauhilah oleh kalian
diimami itu dan di dalam pemerintahannya.” (HR. suara riuh seperti di pasar” (HR. Muslim).
Muslim). Di samping itu, ada petunjuk lain yang
mengingatkan bahwa posisi imam seyogyanya Ketiga, memperhatikan lingkungan
memang orang yang diharapkan atau dicintai (makmum). Pada saat pelaksanaan shalat, Imam
makmum (rakyatnya). Ini mengikuti seruan sepenuhnya dapat mengendalikan shalat namun
Rasulullah dalam hadits yang kita kenal yakni, tetap memperhatikan kondisi makmum. Hal ini
“Janganlah engkau mengimami suatu kaum, diajarkan Rasul saw. agar dalam pelaksanaan
sedangkan mereka membencimu.” (HR. Abu shalat berjamaah terdapat kemungkinan
Dawud). keberadaan makmum yang berkeperluan atau
berkebutuhan mendesak. “Jika salah seorang
Kewajiban Imam dari kalian shalat bersama manusia, maka
hendaklah (dia) men-takhfif (meringkaskan
Dalam shalat berjamaah, manakala persiapan sholatnya), karena pada mereka ada yang sakit,
telah dilakukan sesudah iqamah, Imam memiliki lemah dan orang tua. (Akan tetapi), jika dia shalat
kewajiban penuh kepada makmumnya. Sebelum sendiri, maka berlamalah sekehendaknya”. (HR.
takbiratul ihram sebagai tanda mulainya shalat Bukhari)
bersama itu, Imam memiliki kewajiban:
Interaksi Imam dan Makmum
Pertama, memeriksa makmumnya yakni agar
shaf-nya rapat dan lurus. Imam tidak Interaksi antara imam dan makmum terbangun
melaksanakan takbiratul ihram manakala barisan dengan baik seperti tuntunan Rasul saw. dalam
makmum belum terlihat rapih, lurus dan rapat. shalat berjamaah. Imam, adalah manusia biasa,
Dari Nu`man bin Basyir ra. berkata, ”Adalah yang sekalipun sudah sangat terpilih – suatu
Rasulullah saw. meluruskan shaf kami. Seakan- ketika, mungkin saja berbuat kesalahan. Dalam
akan beliau meluruskan anak panah. Sampai proses shalat berjamaah inilah praktik dialektika
beliau melihat, bahwa kami telah memenuhi
panggilan beliau. Kemudian, suatu hari beliau Dalam proses shalat
keluar (untuk shalat). Beliau berdiri, dan ketika berjamaah inilah praktik
hendak bertakbir, nampak seseorang kelihatan dialektika kepemimpinan
dadanya maju dari shaf. Beliaupun berkata: terjadi
Hendaklah kalian luruskan shaf kalian, atau Allah
akan memecah-belah persatuan kalian.” (HR.
Muslim). Makmum menempati shaf yang lebih
utama (laki-laki yang paling depan disusul di

al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014 7

kepemimpinan terjadi, antara imam dan Shalat berjamaah juga menjadi cermin adanya
makmum. Bila dalam praktik shalat, imam dialektika imam atau pemimpin dan jamaah
melakukan kesalahan, makmum memiliki hak shalat atau masyarakat, serta aturan-aturan yang
dan kewajiban sekaligus untuk harus dipatuhi dalam kehidupan bersama untuk
mengingatkannya. Sebagai contoh dalam menciptakan harmoni.
gerakan shalat, misalnya terjadi khilaf seorang
imam bangkit berdiri saat ia seharusnya duduk Ketika kita berada pada situasi sulit untuk
tasyahud awal, makmum harus mengingatkannya menentukan pemimpin, beberapa persyaratan
dengan membaca subhanallah. Ini berlaku bila dalam memilih pemimpin shalat bisa kita jadikan
makmumnya laki-laki. acuan untuk mampu secara cermat mengukur
kapasitas dan kemampuan figur yang pantas kita
Bila wanita, cukup ia mengingatkan dengan jadikan pemimpin kelompok, masyarakat
bertepuk sekali yang memungkinkan didengar ataupun bangsa.
imam. Dalam hal terjadinya kesalahan lafadz
bacaan yang dikeraskan, maka makmum wajib
mengoreksinya dengan membacakan bacaan
yang benar pada bacaan yang salah tersebut.
Sementara itu, bila imam secara mendadak
berhadast, misalnya buang angin, maka dia harus
mundur sebagai imam lalu segera berwudlu dan
kembali ke barisan jamaah untuk menjadi
makmum. Adapun kepemimpinan shalat
dilanjutkan oleh makmum yang berdiri tepat di
belakang imam. Imam pengganti ini bertugas
melanjutkan shalat berjamaah hingga tuntas.

Kewajiban Makmum

Makmum, sebagai peserta shalat berjamaah Dengan memahami sepenuhnya makna shalat
sepenuhnya tunduk dan patuh pada aba-aba dan berjamaah sebagai simbolisasi dari kehidupan
gerakan imam dalam shalat. Dalam mengikuti bermasyarakat yang luas, beberapa hikmah
gerakan imam tersebut makmum harus berikut dapat kita petik dari proses dan aturan
mengikuti gerakan dan mengikuti/menghayati baku yang sudah dicontohkan Rasul saw. dalam
bacaan imam (selama bacaan dan gerakan praktik shalat berjamaah.
benar). Makmum, dalam hal ini tidak dibolehkan
memulai gerakan, bergerak bersamaan dengan 1. Sebagaimana memilih imam shalat, kita
imam, apalagi mendahului gerakan imam. diminta memilih pemimpin yang akan
Kesatupaduan antara imam dan makmum ini menjadi pengawal kehidupan harmonis
menjadi penjaga ketertiban keseluruhan shalat
berjamaah.

Pelajaran bagi Kita

Sungguh indah praktik shalat berjamaah yang
telah diajarkan Islam dan telah sampai kepada
kita sebagai pelajaran dalam bermasyarakat.

8 al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014

masyarakat kelak, yakni pemimpin yang dan diikuti oleh masyarakat luas yang
memiliki kapasitas keilmuan paling tinggi dipimpinnya. Bagaimana mungkin rakyat
dibandingkan yang lainnya. Jelas sekali mengikuti perintah pemimpin, jika sang
bahwa memutuskan memimpin rakyat pemimpin tak memiliki kapasitas bertindak
banyak memerlukan kapasitas personal dan sesuai aturan yang lurus dan layak menjadi
teknis. Sebab itu, secara kalkulatif, pemimpin suri teladan? “Hai orang-orang yang beriman,
yang dikehendaki tentunya diminta untuk taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan
memiliki keunggulan baik konseptual, ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu
administratif hingga implementasinya. Dia berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
memiliki kapasitas intelektual yang cukup, kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan
memiliki kecakapan dan kecerdasan untuk Rasul (Sunnah), jika kamu benar-benar
mencari jalan keluar dari setiap masalah yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan
Foto: @Nuranto lebih baik akibatnya”. (QS. an-Nisa [4]:59)

dihadapi masyarakatnya hari ini. 3. Seperti imam shalat, pemimpin berada di
2. Ucapan dan tindakan pemimpin diminta barisan paling depan. Komando ada dalam
dirinya. Ini isyarat bahwa pemimpin memiliki
sepenuhnya benar sesuai dengan aturan kewenangan penuh dan selalu tampil paling
yang ada. Persis dan konsisten. Sudah depan dalam memimpin masyarakatnya
selayaknya, ia menjadi teladan kecermatan menghadapi tantangan. Berada pada garis
dan kelurusan dalam segala pola pikir dan depan perjuangan demi kebaikan dan
tindak bagi rakyatnya. Sehingga, ia dengan kemajuan masyarakat serta berada di garda
mudah bisa menjadi patron, patut dicontoh depan dalam mengatasi permasalahan yang
beraneka dari rakyat dan bangsanya.
Kewenangan penuh inilah yang akan menjadi
pandu bagi bangsa untuk secara bersama
menyambut perubahan bersama pemimpin
yang amanah dan dapat diandalkan. “Kami
telah menjadikan mereka itu sebagai
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk
dengan perintah Kami dan telah Kami
wahyukan kepada mereka mengerjakan
kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan
zakat, dan hanya kepada Kami lah mereka
selalu menyembah”, (QS. al-Anbiya [21]:73).
“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan
kedudukan mereka di muka bumi, niscaya
mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat,
menyuruh berbuat yang makruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar”.
(QS. al-Hajj [22]:41).

4. Posisi wakil, ditunjukkan oleh makmum yang
berada tepat di belakang imam. Orang yang

al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014 9

berada di belakang imam dimaksudkan
adalah orang yang kemampuan dan
kapasitasnya tidak jauh berbeda dengan sang
imam. Ia bisa diandalkan manakala pemimpin
utama berhalangan. Dalam praktik
bermasyarakat, ‘’ring satu’’ atau orang yang
berada di sekeliling imam mustilah mereka
yang memiliki kapasitas kepemimpinannya
mumpuni untuk mengatasi berbagai
persoalan bangsa saat ini dan ke depan.

5. Seorang imam shalat siap diingatkan
makmum. Merupakan simbolisasi bahwa
pemimpin yang kita angkat hanyalah manusia
biasa yang tidak akan luput dari kesalahan.

pemimpin yang kita angkat
hanyalah manusia biasa
yang tidak akan luput dari
kesalahan

Foto: @Tuan Azizi Ketika seorang pemimpin berbuat salah baik
dalam konseptual atau tindakan ia harus siap
dikritik, diingatkan dan juga dikoreksi. Ia tidak
boleh marah karena berhadapan dengan
kebenaran. Seluruh masyarakat tunduk di
depan kebenaran dan keadilan, maka sang
pemimpin harus tunduk patuh dan mau
diingatkan demi kebaikan bersama.
Makmum, atau masyarakat dalam hal ini juga
diminta untuk mengingatkan langsung
manakala pemimpinnya salah, lupa atau
melanggar peraturan/keputusan bersama
yang telah diundangkan.

6. Seorang pemimpin, manakala ia melanggar
ketentuan yang ‘’tidak-boleh-tidak’’, maka ia
diminta untuk melakukan tindakan
terhormat, dia harus mundur dan bersedia
menjadi manusia biasa (makmum) dan
mempersilakan pemimpin penggantinya
untuk melaksanakan tugas menggantikan

10 al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014

posisinya. Dengan demikian ia taat azas sesuai aturan, barangsiapa ‘batal’ demi hukum, ia harus
bersedia digantikan posisinya oleh pemimpin baru yang telah siap.

7. Kepemimpinan umum yang dikehendaki rakyat banyak, tentunya adalah ia yang memiliki

‘hafalan’ dan ‘bacaan’ yang paling lengkap dan fasih. Ini memberikan dua penguatan syarat

kepemimpinan sekaligus. Pertama,

diharapkan seorang pemimpin memiliki

kapasitas paling besar secara konseptual

diharapkan seorang dan keilmuan, namun kedua, ia diminta
pemimpin memiliki kapasitas untuk mampu menjadi komunikator
paling besar secara terbaik. Persoalan komunikasi menjadi
penting dan sentral bagi seorang pemimpin

konseptual dan keilmuan, karena ia diberikan hak sepenuhnya untuk
namun kedua, ia diminta menghantarkan serangkaian kebijakan
untuk mampu menjadi yang harus disampaikan kepada khalayak
komunikator terbaik luas melalui teks, lisan dan gesture-nya
sehingga semua maksudnya dapat efektif

diterima oleh punggawanya, mitra, dan

juga rakyatnya dalam penyelenggaraan

pemerintahan umumnya.

8. Kebijakan Imam tampil dalam simbolisasi bahwa ia harus tahu apa yang tengah dirasakan
rakyatnya. Kefasihan atau kapasitasnya tidak pernah menggodanya untuk berlama-lama dan
bergenit-genit namun ia ternyata akan melukai mereka yang lari paling buncit, si tua renta yang
rapuh tulangnya, atau mereka yang tengah berhalangan atau tidak memiliki kemampuan. Kondisi
rakyat ini harus dibaca dengan benar agar arah dan praktik kebijakannya pas, tepat dan
bermanfaat secara luas tanpa harus mencederai masyarakat yang dipimpinnya.

9. Dengan segala pengetahuan dan kelengkapan informasi yang dimiliki, arah serta praktik kebijakan
yang tepat dan berdimensi kemanfaatan luas, maka akan ada sebuah dialektika penting yang
tercapai dalam posisi dialog pemimpin-rakyat ini. Suatu kondisi di mana pemimpin mampu
bersama rakyatnya membangun iklim saling percaya, menjunjung tinggi harkat dan martabat
unggul serta secara bersama membangun kinerja positif yang rancak dan rapih untuk mencapai
keberhasilan, kesejahteraan dan kemuliaan bersama. Pada titik inilah, pemimpin tersebut tidak
pernah ditolak, ataupun dibenci oleh rakyatnya. Sang Imam akan menjadi pemimpin yang dicintai
rakyat dan dipercaya untuk mengawal hari depan gemilang impian bersama.

Semoga kita semua mampu mengambil pelajaran penting dari praktik shalat berjamaah dalam
mengambil sikap: memilih pemimpin yang berkualitas yang akan menjadi pengarah, pengayom,
mitra, sekaligus guru yang akan menjadi bagian dari solusi permasalahan umat dan bangsa yang
sedemikian kompleks di depan mata. Semoga Allah memberikan petunjuk-Nya pada kita semua akan
keutamaan kepemimpinan yang akan mengawal bangsa ini kini dan ke depan nanti. [JS]

al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014 11

Ibadah

Foto: @Qefy Alghifari

Menyempurnakan Shalat, Menguatkan Jiwa

Adakah “oleh-oleh” yang dibawa Rasulullah saw. sepulang Isra’ Mi’raj yang lebih berharga daripada
shalat 5 waktu? Sudah kita ketahui bahwa shalat wajib 5 waktu – berbeda dengan ibadah mahdhah
(khusus) lainnya – diterima langsung oleh Nabi dari Allah saat Mi’raj di Sidratul Muntaha.

Begitu penting dan istimewa kedudukan shalat sehingga shalat disebut sebagai mi’rajnya orang
beriman. Ash-shalatul mi’rajul mu’minin, demikian lafal hadits dalam Musnad Ahmad. Dan tentunya kita
ingat pesan penting dalam hadits, “Amal pertama yang dihisab dari seorang hamba di hari kiamat
adalah shalat. Jika baik shalatnya maka baik pula segala amalan lainnya tetapi jika rusak shalatnya
maka rusak pula amalan lainnya.” (HR. Thabrani).

Jelaslah, shalat merupakan kewajiban peribadatan formal khusus yang paling penting dalam sistem
keagamaan Islam. Shalat adalah tiang agama Islam. Maka benarlah ungkapan, yang membedakan

12 al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014

Islamnya seseorang dengan yang lain adalah mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan

shalatnya. Sesuai dengan hadits: “Pemisah mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah

antara seseorang dengan kekufuran serta (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari

kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. ibadah-ibadah yang lain)”. (QS. al-Ankabut

Muslim). Dan, “Perjanjian antara kami dan [29]:45).

mereka adalah shalat, barang siapa Penting dan utamanya kedudukan shalat bisa
meninggalkannya, ia telah ingkar.” (HR. Ahmad, dimaknai dari jumlah penyebutannya dalam
Tirmizi, Nasa’i, Baihaqi dan Daruquthni). dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut shalat

Shalat, secara bahasa berarti berdo’a, atau sebanyak 99 kali, zakat 59 kali, haji 33 kali dan

mempunyai arti mengagungkan. Sedangkan shaum (puasa) 14 kali. Seorang muslim harus

pengertian shalat menurut syara’ adalah atau wajib mengerjakan shalat dalam keadaan

‘’Ucapan dan perbuatan tertentu, yang dimulai apapun, sebelum ia dishalatkan alias mati. Kalau

dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan tidak bisa berdiri, ia shalat sambil duduk. Jika

salam’’. Ucapan tersebut adalah bacaan-bacaan, tidak bisa duduk, lakukan shalat sambil

takbir, tasbih, dan do’a. Sedang yang dimaksud berbaring. Seandainya sambil berbaring juga

dengan perbuatan adalah gerakan tidak bisa (dalam keadaan sakit parah) maka ia

dalam shalat misalnya berdiri, rukuk, sujud, shalat dalam bentuk isyarat.

duduk antara dua sujud dan tasyahud, dan Begitu juga bagi orang yang sedang dalam
gerakan lain yang dilakukan dalam shalat. perjalanan (safar), ia harus tetap menegakkan

Dalam pengertian do’a, sesungguhnya shalat shalat: boleh sambil duduk, bertayamum

merupakan peribadatan yang dikerjakan bukan (sebagai pengganti wudlu), dan dianjurkan

saja oleh manusia. Makhluk Allah yang lain pun jamak (digabung yaitu dzuhur dengan ashar,

mengerjakannya. Coba tengok ayat Qur’an maghrib dengan isya) – jamak taqdim (dzuhur

berikut, “Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: dan ashar dikerjakan pada waktu dzuhur) atau

kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di jamak takhir (dzuhur dan ashar dikerjakan pada

bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan waktu ashar); dan qashar (yaitu yang 4 rakaat

sayapnya. Masing-masing telah mengetahui diringkas menjadi 2 saja).

(cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Begitu pentingnya peranan shalat dalam diri
Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (QS. an- seorang yang beriman sehingga para Nabi
Nur [24]:41). sebelum Muhammad pun mengerjakan shalat,

Sementara itu Al-Qur’an menyebutkan fungsi berdo’a agar diri dan keturunannya tetap

dan peranan shalat (bagi manusia) antara lain, mendirikan shalat. Perhatikan beberapa ayat

pertama, sebagai penolong,

“Hai orang-orang yang

beriman jadikanlah sabar pentingnya peranan shalat dalam
dan shalat sebagai diri seorang yang beriman sehingga
penolongmu” (QS. al- para Nabi sebelum Muhammad pun
Baqarah [2]:153); dan

kedua, dapat mencegah mengerjakan shalat
dari perbuatan keji dan

munkar, “Dirikanlah shalat.

Sesungguhnya shalat itu

al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014 13

berikut: pertanyaan, selama ini untuk apa shalat kita
laksanakan. Posisi niat sangat penting. Niat
(Ibrahim berdo’a) “Ya Tuhanku, jadikanlah aku merupakan pangkal perbuatan, dan segala amal
dan anak cucuku orang-orang yang tetap perbuatan manusia dinilai dari niatnya: “Innama
mendirikan shalat, ya Tuhan kami, ‘amalu binniyat”. Seharusnya niat kita hanya
perkenankanlah do’aku”. (QS. Ibrahim [14]:40). untuk dan karena Allah semata: “Sesungguhnya
“Dan dia (Ismail) menyuruh keluarganya untuk hanya kepada-Mu (Allah) kami menyembah” (QS.
(mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat, dan al-Fatihah [1]:4), karena kita ini memang
dia seorang yang diridhai di sisi Tuhannya” (QS. diciptakan untuk mengabdi kepada Allah: “Dan
Maryam [19]:55). “Wahai anakku, dirikanlah tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk
shalat dan suruhlah (manusia) berbuat ma’ruf dan mengabdi kepada-Ku” (QS. adz-Dzariyah [52]:56).
cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. “Padahal mereka hanya diperintahkan
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya
perkara yang penting”. (QS. Luqman [31]:17). semata-mata karena (menjalankan) agama”. (QS.
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu al-Bayyinah [98]:5). “Katakanlah, jika kamu
mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam sembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau
mengerjakannya”. (QS. Thaha [20]:132). kamu nyatakan Allah pasti mengetahuinya. Dia
mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang
Jika peranan dan fungsi shalat begitu penting ada di bumi. Allah Maha kuasa atas segala
bagi seorang mukmin, lalu mengapa ada orang sesuatu”. (QS. Ali Imran [3]:29). “Katakanlah:
yang shalat tetapi tetap berbuat maksiat? Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku
Tetangganya tidak aman oleh sikap dan kata- hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS.
katanya yang menyakitkan, sering berbuat al-Anam [6]:162). Jadi, luruskanlah niat.
dzalim dan sebagainya? Seandainya di antara
kita masih ada yang seperti itu, yaitu STMJ 2. Sikap terhadap shalat. Hindarkanlah apa
(Shalat Terus Maksiat Jalan) maka kita perlu yang dicirikan sebagai ‘sifat orang munafik’
mewaspadai dan memeriksa shalat yang selama dalam menyikapi shalat. Perhatikan ayat berikut,
ini kita lakukan. Jangan-jangan ada yang tidak “Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak
sesuai. Jangan pula sampai kita diingatkan Allah menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan
dengan peringatan keras seperti dalam surah al- mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat
Ma’un, “Maka celakalah orang yang shalat”. (QS. mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud
al-Ma’un [107]:4). riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan
tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit
Untuk memeriksa kualitas shalat kita, maka sekali”. (QS. an-Nisa [4]:142). “Dan mereka tidak
kiranya perlu ditelaah beberapa hal penting melaksanakan shalat, kecuali dengan malas”. (QS.
dalam rangkaian praktik shalat kita sejak
sebelum shalat, pada saat, hingga sesudah shalat yuk kita periksa diri kita
kita laksanakan. adakah rasa malas ketika
azan telah memanggil kita
Sebelum Shalat untuk shalat?

Beberapa hal yang harus mendapat perhatian
sebelum kita shalat, antara lain:

1. Niat. Evaluasilah dan luruskan niat kita
dalam melaksanakan shalat dengan mengajukan

14 al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014

at-Taubah [9]:54). Dengan demikian, yuk kita itu, kita upayakan untuk melaksanakan wudlu
periksa diri kita adakah rasa malas ketika azan dengan sempurna, agar memenuhi syarat badan
telah memanggil kita untuk shalat? Cermati sikap kita suci dari hadas besar maupun kecil. Secara
kita dengan sering mengatakan, koq sudah azan umum cara berwudlu, termasuk tayamum (jika
dzuhur lagi, ya? Atau wah sudah azan ashar lagi, tidak ada air yang memadai), telah dipaparkan
nih? Juga kebiasaan kita sering menunda-nunda dengan gamblang di dalam Al-Qur’an, surah al-
shalat hingga melakukan shalat jelang akhir Maidah [5]:6. Suci lahiriah dan batiniah
waktu. Bisa jadi hal di atas merupakan indikasi merupakan persiapan yang paling baik sebelum
adanya sifat kemunafikan dalam diri kita, karena melaksanakan shalat.
ada unsur malas memenuhi panggilan shalat.
Naudzubillahi min dzalik. Saat Shalat

Sebagusnya, bersegeralah mengambil wudlu Berbagai hal menghalangi orang untuk dapat
sebelum azan, lalu – bagi laki-laki – usahakan mencapai kualitas shalat yang kokoh. Termasuk
pergi ke masjid – dengan berbusana terbaik dan kita. Oleh karena itu marilah kita periksa,
memakai wewangian/parfum). Laksanakan bagaimanakah adab kita saat melaksanakan
shalat tahiyatul masjid dan menunggu azan shalat yang mengandung makna kita berhadapan
dikumandangkan serta mengikuti shalat langsung dengan Allah Swt. dan memanjatkan
berjamaah. Selesai azan, hendaknya diikuti serangkaian do’a. Perhatikan beberapa aspek
shalat sunat qabliyah (shalat sunat rawatib penting saat kita shalat berikut ini:
sebelum shalat fardlu), yaitu khususnya untuk
shalat dzuhur dan subuh (ada yang berpendapat 1. Khusyuk. Khusyuk menurut istilah syara’
juga pada shalat maghrib dan isya). yang mengandung arti keadaan jiwa yang tenang
dan tawadhu’ (rendah hati). Pengaruh khusyuk
Sikap di atas menunjukkan kesungguhan diri dalam hati ini akan menjadi penghulu anggota
dalam memenuhi panggilan shalat. Mengenai hal tubuh lainnya untuk bisa bersikap khusuk. Dan
ini Ibnu Mas’ud ra., menanyakan kepada suatu pencapaian dalam shalat ini memang
Rasulullah saw., katanya, "Saya bertanya kepada cukup berat namun hal itu merupakan satu
Rasulullah, "Manakah amalan yang lebih utama?" kondisi yang harus kita dapatkan. Di dalam
Beliau menjawab: "Yaitu shalat tepat pada Qu’ran Allah berpesan, “Dan mintalah
waktunya." Saya bertanya lagi, "Kemudian pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
amalan apakah?" Beliau menjawab, "Berbakti shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi
kepada kedua orang tua." Saya bertanya pula, orang-orang yang khusyuk”. (QS. al-Baqarah
"Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab, "yaitu [2]:45). “Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha.
berjihad fi-sabilillah." (Muttafaq ‘alaih). Dan berdirilah (kalian semua) karena Allah (dalam
shalat) dengan khusyuk ” (QS. al-Baqarah
Dan Allah telah menyerukan, “Hai orang-orang [2]:238). Serta, ‘’Orang yang khusyuk dalam
beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalatnya akan memperoleh kemenangan’’ (QS, al
shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada -Mukminun [23]:2).
mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli” . (QS.
al-Jumuah [62]:9). Hal ini juga merupakan 2. Tumaninah. Tidak sedikit orang
petunjuk untuk bersegera dalam melaksanakan mengerjakan shalat dengan terburu-buru.
shalat. Misalnya, dahinya belum sempat menyentuh
lantai (ketika sujud) sudah bangkit lagi. Orang
3. Bersuci. Badan, busana yang dipakai, dan yang shalatnya tidak tumaninah termasuk yang
tempat yang suci adalah prasyarat shalat. Karena lalai dalam shalat (QS. al-Ma’un [107]:5) sehingga

al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014 15

termasuk golongan orang yang shalat tetapi celaka (QS. al-Ma’un [107]:4).

Padahal kita diminta untuk senantiasa merujuk kepada shalat Nabi yang tumaninah. “Shalatlah
kalian sesuai dengan apa yang kalian lihat aku mempraktikkannya’’. (HR. Bukhari dan
Muslim). “Kemudian rukuklah dan tumaninahlah ketika rukuk”. (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan
demikian, orang yang shalat dengan tumaninah sesungguhnya termasuk mereka yang menjaga
shalatnya (dilakukan dengan baik). Dan Allah telah menyampaikan, ‘’Bagi mereka dijanjikan akan
memperoleh kemenangan/keberuntungan’’ (QS. al-Mu’minun [23]:9 dan al-Ma’arij [70]:34).

Sesudah Shalat

Akhir dari shalat adalah mengucapkan salam, ditandai dengan ucapan assalaamu ‘alaikum seraya
menengokkan muka ke kanan dan disusul ke kiri sesudah tasyahud akhir. Usai salam, hendaknya kita
jangan terburu-buru pula, langsung bangkit meninggalkan tempat shalat. Namun cobalah untuk
menghentikan ketergesaan dan berdiam diri sejenak untuk:

1. Bertasbih dan berdo’a. Setelah mengerjakan shalat fardlu merupakan salah satu waktu
terbaik untuk berdo’a. Jika selesai shalat tetapi kita masih tetap duduk, untuk berdzikir dan berdo’a,
maka aktivitas kita itu dianggap “masih shalat”. Coba perhatikan hadits berikut: "Dan malaikat itu
mendo’akan kepada seseorang di antara kalian semua supaya mendapatkan rahmat, selama orang itu
masih ada di dalam tempat shalatnya yang ia shalat di situ, juga selama ia belum berhadas. Malaikat
itu mengucapkan: ‘Ya Allah, ampunilah orang itu, ya Allah, belas kasihanilah ia." (HR. Bukhari). Juga
Qur’an mengisyaratkan, “Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai
shalat”. (QS. Qaf [50]:40).

3. Shalat badiyah (shalat sunat rawatib selesai shalat fardlu) setelah berdo’a. Shalat fardlu yang
disertai shalat badiyah adalah Dzuhur, Maghrib dan Isya.

Insya Allah, ketika shalat ditunaikan dengan sebaik-baiknya (sebagaimana yang dicontohkan
Rasulullah saw.) pengaruh atau dampak positif bagi kita dalam pelaksanaan aktivitas di luar shalat
akan terlihat dan terasakan. Maka tidak mengherankan apabila seseorang yang mampu memelihara
shalatnya semenjak persiapan hingga pelaksanaan dan sesudahnya mampu mencegah orang
tersebut dari berbuat fahsya wal mungkar. Nah untuk itu, kita diharapkan mampu memelihara sikap
konsisten dan terus bersabar dalam menegakkan shalat dengan mempertahankan kualitasnya.

Penutup

Shalat wajib 5 waktu disyariatkan di saat Nabi Muhammad saw. mengalami peristiwa isra’ mi’raj,
yang terjadi pada amul huzni (tahun duka cita) - setelah Siti Khadijah dan Abu Thalib meninggal.
Dalam banyak riwayat, Rasul saw. menerima perintah shalat di kala itu, merupakan satu tasliyah
(pelipur lara) yang luar biasa dalam menjalani penggalan hidup yang berat. Tentunya bagi kita,
dengan bercermin pada kondisi Rasul tersebut, shalat yang merupakan oleh-oleh isra' mi'raj –
kiranya mampu menjadi tasliyah dari segala beban hidup, beban dakwah, dan beratnya upaya
melawan hawa nafsu yang sering menyesatkan. Shalat yang kita tegakkan dengan sempurna,
selayaknya akan menjadi penyejuk dan rehat bagi jiwa dan raga kita di tengah berbagai aktivitas
keseharian yang tiada hentinya. [JS]

16 al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014

Hadits

Melatih Sabar dan Syukur Melalui Shalat Foto: @Rian Afriadi

“Sungguh unik urusan orang yang beriman itu.
Semua urusannya baik baginya. Hal itu hanya
dimiliki oleh orang yang beriman. Jika dia
memperoleh kegembiraan, ia bersyukur dan itu baik
baginya. Jika ditimpa kesulitan, dia bersabar, dan
itu baik baginya”. (HR. Muslim).

al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014 17

Hadits ini mengangkat sebuah relasi, bahwa sifat (QS. al-Baqarah [2]:155).

syukur dan sabar harus menjadi akhlak, dan Jangan pernah lupa, ujian yang dihampirkan
perhiasan setiap mukmin. Sebagaimana iman, Allah kepada kita tidak melulu dalam bentuk
yang kadang naik dan kadang turun, kehidupan kesedihan, kesengsaraan dan kekurangan
pun tidak datar dan selalu mulus. Karena itulah, lainnya. Jika hal demikian yang dialami pada
pandangan Islam memberikan panduan bahwa umumnya manusia bisa “lolos” dari batu ujian.
kehidupan ini musti dijalani dengan sikap penuh Namun, ‘ujian’ di sisi lainnya, yakni dalam bentuk
syukur dan sabar. Bersabar ketika cobaan keberhasilan dan nikmat adalah salah satu ‘kerikil
mendera, musibah menimpa, sehingga kita ujian’ yang seringkali justru menyebabkan kita
terhindar dari rasa frustasi. Bersyukur, manakala tergelincir. Untuk itulah, kita memerlukan
sukses dan kegembiraan menghampiri. Sadar kebersyukuran, manakala memperoleh nikmat
bahwa di balik sukses tersebut ada campur dan karunia dari Allah Swt.. Rasulullah saw., suri
tangan Allah, sehingga kita tak tersungkur dalam teladan kita, adalah insan yang paling kerap dan
sikap takabur. Syukur dan sabar menjadi deras mengalami pelbagai ujian. Ujian beliau
semacam tali kendali bagi seorang mukmin paling lengkap baik sebagai Nabi dan Rasul
dalam perjalanan menapaki dan memaknai dalam kerangka mendakwahkan Islam, maupun
hidup. sebagai suami, ayah, dan pemimpin di

Sabar dan Shalat masyarakat. Namun dengan ijin Allah, semua

Dua ciri mukminin, yaitu sikap sabar dan syukur, ujian itu dapat beliau atasi khususnya berkat
yang senantiasa bergandengan ini dibahas luas praktik kesabaran yang luar biasa yang beliau
dalam pengajaran keutamaan akhlak. Tapi miliki. Kesabaran yang hampir tiada batasnya.
tahukah kita mengapa mesti bersabar? “Hai orang-orang yang beriman! Bersabarlah dan
kuatkanlah kesabaranmu...” (QS. Ali Imran
Kita tahu, hidup dan kehidupan ini penuh cobaan. [3]:200).
Tidak mudah menjalaninya dan tentu, tidak

selalu mulus. Yang demikian itu sesuai

sunnatullah: “Cobaan tidak henti- Kelapangan hati, sebagaimana
hentinya ditimpakan kepada orang

beriman, baik laki-laki maupun ciri orang yang sabar telah
perempuan, terhadap diri, anak dan dituliskan dengan tinta emas
hartanya, hingga ia bertemu Allah dalam shirah
tanpa membawa dosa sedikit

pun” (HR. Tirmidzi).

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar Kelapangan hati, sebagaimana ciri orang yang
akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang- sabar telah dituliskan dengan tinta emas dalam
orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; shirah yang kita baca bersama. Rasul pun
dan Kami akan uji perihal kamu”. (QS. mengajak kita untuk - dalam kehidupan sehari-
Muhammad [47]:31). hari - mampu meneladani sikap beliau yang
penuh kasih, lapang dada, kata-katanya lembut
“Sungguh, Kami akan berikan cobaan kepadamu, menyejukkan hati. Cercaan dan makian selalu
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan dihadapi dengan senyuman, pemakluman dan
harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan, berikanlah kemudian ajakan kepada kebajikan. Kesabaran
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.

18 al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014

yang tiada banding inilah kiranya yang menjadi senantiasa melatih sikap dan sifat sabar, yang
teladan sekaligus menjadi inspirasi para penakluk memang susah mendapatkannya. Sebaliknya,
benua yang santun hingga jutaan manusia yang shalat yang dikerjakan dengan sepenuh-penuhnya
mulanya memusuhi Islam secara sukarela penghayatan, dilaksanakan dengan sebaik-
bergabung dalam naungan Islam disebabkan oleh baiknya sesuai tuntunan Rasulullah, memastikan
demonstrasi kebagusan akhlak kaum muslimin. latihan ini betul-betul berbuah kesabaran.
“..Sesungguhnya, hanya orang-orang yang
bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa Kita ketahui, melatih diri memiliki hati yang
batas”. (QS. az-Zumar [39]:10). terbuka, bersikap sabar, bukanlah perkara yang
ringan. Namun, demi keutamaan, tidak ada kata
Dalam sejumlah ayat Qur’an, kata sabar dan terlambat untuk melatih diri menjadi orang sabar
shalat ini kerap beriringan. Tampak penting disini melalui shalat yang kita jaga dan tegakkan. Dan di
kita melihat korelasi yang nyata antara keduanya. setiap waktu kita menghadap Allah dengan
Mari simak beberapa ayat berikut, “Dan mintalah segenap kesabaran, kita bermohon, semoga kita
pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang
shalat”. (QS. al-Baqarah [2]:45). “Hai orang-orang dikarunia kesabaran yang akan menolong hidup
yang beriman! jadikanlah sabar dan shalat sebagai kita. “Barangsiapa yang berlatih untuk bersabar,
penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang- niscaya Allah memberikan kesabaran kepadanya.
orang yang sabar”. (QS. al-Baqarah [2]:153). Dan, tidak ada nikmat yang lebih baik dan lebih
luas, yang diberikan kepada seseorang selain
Dari kedua ayat Al-Qur’an di atas terlihat dengan kesabaran” (HR. Muttafaq ‘alaih).
jelas bahwa hubungan sabar dan shalat sangat
erat dan setara. Keduanya berfungsi sebagai Syukur dan Shalat
penolong. Kesetaraan keduanya terlihat pada
makna ayat Al-Qur’an di atas, adalah penggalan Perhatikanlah, sesungguhnya tidak ada alasan
kata ‘’sabar dan shalat’’, dan bukannya, ‘’ sabar bagi seorang mukmin untuk tidak bersyukur atas
atau shalat’’. Karena kesetaraan itulah keduanya
saling mengikat, dan saling menentukan satu dan tidak ada alasan bagi
lainnya. seorang mukmin untuk
tidak bersyukur atas
Perhatikan dalam praktik shalat, kebanyakan kita segala karunia yang ada
dituntut untuk bersabar untuk istiqamah dalam
mengerjakan shalat. Tidak terbayangkan segala karunia yang ada. Begitu banyak nikmat
bagaimana kita tetap harus bersabar menahan yang telah dan akan diberikan oleh Allah kepada
dingin dan kantuk ketika panggilan shalat malam kita. Coba kita perhatikan alam makro dan mikro
dan subuh menjelang. Kita sabar berpanas- kosmos (diri) yang melingkupi kita. Untuk menjadi
panasan ketika menuju masjid untuk shalat sehat dan mengindera dengan baik dunia, Allah
dzuhur, apalagi di wilayah-wilayah dengan suhu telah memberikan perangkat hidup yang luar
udara ekstrim. Shalat bagi si sakit lebih berat lagi. biasa kemampuannya. Tengoklah jantung kita
Betapa Allah masih tetap meminta kesetiaan kita yang sehat, kemampuannya memompa darah ke
untuk tetap tegakkan shalat, tatkala berbagai seluruh tubuh tanpa henti 24 jam sehari. Liver dan
kendala fisik atau sakit menghampiri kita. Semua ginjal yang berfungsi menyaring racun dalam
pelaksanaan shalat bagi seseorang di kondisi
khusus, perjalanan atau uzur karena sakit,
rupanya menjadi jembatan bagi kita untuk

al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014 19

tubuh, limpa yang memproduksi insulin, belum mengingkari segala nikmat yang tercurah kepada

lagi fungsi-fungsi organ renik lainnya yang kita. Maka, melengkapi hal itu, Allah berpesan

bersinergi menjaga tubuh kita berfungsi dengan dalam QS. Ibrahim, ketika kita bersyukur atas

baik tanpa kita sadari. Coba bayangkan berapa segala nikmat, Ia akan menambah limpahan

nilai tukarnya untuk transplantasi liver, nikmat bagi hamba-Nya. “Sesungguhnya jika

mengembalikan fungsi jantung karena kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan (nikmat)

penyumbatan, cuci darah bila kita diketahui gagal kepadamu, tetapi jika kalian mengingkarinya maka

ginjal? pasti azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim [14]:7).

Di jagad raya dan perut bumi, gugusan tata-surya Maka, sekali lagi pantaskah kita dustakan,
yang indah membentuk tatanan yang rapi dan pantaskah kita ingkari segenap nikmat yang
tampak elok. Perut bumi dan lautan tempat tercurah itu?

bergantung, yang menghidupi jutaan manusia. Salah satu cara kita mensyukuri nikmat Allah itu

Begitu banyaknya nikmat itu, hingga kita tak adalah dengan menegakkan shalat. Shalat adalah
kuasa menghitungnya. “Dan jika kamu salah satu bukti bahwa seorang mukmin
menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak bersyukur. Itulah yang dilakukan dan dituntunkan
dapat menghitungnya” (QS. Ibrahim [14]:34). Rasulullah saw. kepada kita. Allah Swt. berfirman,
Sebagaimana pula disebut dalam QS. “Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad)

al-Kahfi [18]:109, bahwa begitu

luasnya nikmat Allah, hingga Nabi tak pernah absen dalam
bila saja lautan yang ada menegakkan shalat tahajud, sebagai
sekarang – dan ditambah tanda rasa syukur yang melimpah
sebanyak itu lagi – dijadikan

tinta, untuk menuliskan nikmat

(kalimat) Allah, niscaya ia tak

akan kuasa menuliskan kelimpahan nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat
nikmat itu. karena Tuhanmu, dan berkurbanlah” (QS. al-
Kautsar [108]:1-2).
Surat ar-Rahman (surat ke-55 dalam Al-Qur’an)
adalah surat yang mengungkap lebih utuh soal Kebersyukuran ini telah diteladankan oleh
nikmat Allah ini. Surat yang terdiri atas 78 ayat, Baginda Rasul saw., sebagaimana yang diungkap
diawali dengan kata Ar-Rahman (salah satu dalam shirah nabawiyah. Pada penghujung
asma’ul husna) lalu Allah menyebutkan sejumlah malam, Nabi tak pernah absen dalam
nikmat-Nya kepada manusia. Setelah menegakkan shalat tahajud, sebagai tanda rasa
mengungkap nikmat tersebut (dalam beberapa syukur yang melimpah. Malam yang gelap,
ayat) Allah kemudian melemparkan pertanyaan menunaikan shalat hingga kaki beliau
retoris: fabiayyi aalaa’i rabbikumaa tukazzibaan. membengkak. Dilaksanakan rutin semenjak
Pertanyaan itu disebutkan sebanyak 31 kali. turunnya surat al-Muzzammil hingga beliau wafat.
Artinya hampir separuh surat ar-Rahman berisi Sungguh rasa kebersyukuran yang indah.
pertanyaan berulang: “maka nikmat Tuhanmu

yang manakah yang kamu dustakan?” Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh

Inilah makna mendalam yang dihidangkan kepada Bukhari, Muslim dan Ahmad, disebutkan bahwa
sekalian mukminin bahwa sudah semestinya, bila suatu ketika setelah menunaikan shalat malam
yang panjang sehingga kaki Rasulullah bengkak;
kita mau menyadari sejenak, tiada patut kita

20 al-Islam.my.id | Edisi 4 - Sya’ban 1435 H | Juni 2014


Click to View FlipBook Version
Previous Book
La Case N°34 - Mai - Juin 2015
Next Book
GIGABYTE Guidebook June. 2013