Special Tools 50 TOOLS Piston Ring Commpressor Piston ring compressor ini sama fungsinya dengan piston holder, hanya pada piston ring compressor pemakaiannya dapat digunakan lebih dari satu model engine. Feeler Gauge Feeler gauge adalah alat ukur yang presisi digunakan untuk menyetel valve clearance. Dalam menggunakan feeler gauge ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain : Bersihkan sebelum dan sesudah menggunakan feeler gauge. Jangan menggunakan feeler gauge yangbladenya rusak atau patah. Ketika memasukan feeler gauge pada clearance, masukan sisi samping blade. Pastikan dalam memasukan gauge blade tepat pada clearance. Holder Holder berfungsi untuk mengetahui kerataan dari nozzle holder. Penggunaan pada engine komatsu 92-1, 94-3, 105-1, 2,3, 153-4, SA 6D170-1, 6D 110 dan engine cummins 743, 855.
Special Tools 51 TOOLS Cara pemakaian : Pasang dial indikator pada holder. Lihat gambar dibawah, dalam melakukan pengecekan. Hanger Hanger ini digunakan untuk mengangkat cylinder block. Cara pemakaiannya adalah mounting hanger pada bagian tengah cylinder block dengan menggunakan bolt cylinder head.
Special Tools 52 TOOLS Materi 2 : Special Tools untuk Clutch Tujuan Materi 2 Setelah mengikuti pembelajaran pada Materi 2, siswa mampu menyebutkan nama dan menjelaskan fungsi dari special tools untuk clutch. Compressor Compressor digunakan untuk menekan clutch spring pada waktu memasang dan melepas main clutch type spring. Penggunaan pada unit D30-12,15, D40-1, D50- 15,16, GD500-1, GD510R-1, GD600-1, GD650-1. Cara pemakaian : Set plate (2) dan adapter (1), letakkan main clutch ass'y di atas adapter. Pasang puller 30 ton diatas main clutch ass'y dan ikat dengan lock nut. Dengan bantuan hydraulic pressure pada puller, clutch spring akan tertekan dan lepaskan nut pada main clutch ass'y. Hydraulic pressure dikembalikan, lepaskan lock nut (3), main clutch sudah siap untuk dibongkar. Penggunaan alat tersebut dibantu dengan menggunakan tool lain seperti pump dan puller 30 ton.
Special Tools 53 TOOLS Materi 3 : Special Tools untuk Steering Clutch Tujuan Materi 3 Setelah mengikuti pembelajaran pada Materi 3, siswa mampu menyebutkan nama dan menjelaskan fungsi dari special tools untuk steering clutch. Compressor (For Steering Clutch Disassembly dan Assembly) Tools ini digunakan untuk menekan clutch spring pada saat membongkar dan memasang steering clutch. 1. Plate 2. Plate 3. Nut 4. Trusht plate 5. Sleeve 6. Guide bolt 7. Stand 8. Spacer 9. Bolt 10.Nut Cara pemakaian :
Special Tools 54 TOOLS Box Wrenches Spesifik Box wrench spesifik ini digunakan untuk mengencangkan dan mengendorkan nut atau bolt pada inner dan outer flanges pada steering clutch. 1. Box wrench 2. Center bolt Cara Pemakaian : Pasang center bolt (2) pada box wrench (1). Pasang box wrench (1) pada lock nut dan pasang torque wrench pada lever box wrench sehingga dapat diketahui besarnya torque. Tools untuk melepas Steering Clutch Flange Tool ini digunakan untuk melepas drum ass'y (inner dan outer flanges) dari steering clutch. 1. Plate 2. Screw 3. Washer 4. Bolt 5. Nut
Special Tools 55 TOOLS Cara pemakaian : Pasang plate (1) pada flange atau drum dengan menggunakan bolt (4) dan washer (3). Putar screw (2) pada pelepas dan tekan tranverse shaft sehingga finges dan drum akan terlepas. Tools untuk Press-Fitting Steering Clutch Flange dan Drum Tools ini digunakan untuk press-fitting steering clutch flange pada housingnya. 1. Bolt 2. Spacer 3. Adapter Cara pemakaian : Tekan flange ke steering clutch shaft atau ke pinion utama shaft pada final drive, dan pasang adapter (3) pada shaft. Set spacer (2) seperti dalam gambar dan pasang puller 50 ton dengan menggunakan bolt (1). Dengan menggunakan hydraulic pressure pada puller maka flange atau drum akan tertekan ke clutch housing.
Special Tools 56 TOOLS Lifting Tool untuk Bevel Pinion Lifting tool ini digunakan untuk mengangkat atau memasang bevel pinion ass'y. Cara pemakaiannya adalah set socket pada lifting tool pada spline ke pinion gear dan bolt pada tool ke spline pada lifting tool agar tidak keluar. Lifting Tool untuk Bevel Gear Bentuk lain dari lifting tool yang digunakan untuk mengangkat bevel gear pada saat memasang dan melepas. Cara pemakaian :
Special Tools 57 TOOLS Materi 4 : Special Tools untuk Undercarriage Tujuan Materi 4 Setelah mengikuti pembelajaran pada Materi 4, siswa mampu menyebutkan nama dan menjelaskan fungsi dari special tools untuk undercarriage. Remover and Instaler Master Pin Tools tersebut digunakan untuk melepas dan memasang master pin pada track.
Special Tools 58 TOOLS Cara pemakaian : Melepas master pin Putar track sehingga posisi master pin terletak antara sprocket dan carrier. Pasang frame (1) dan dihubungkan dengan support (2), nut (3) screw (4) dan hook (5). Pasangkan cylinder 100 ton ke frame dan diikat dengan screw (8) dan nut (7). Set adapter (11) , pin pusher (15), pilot (10) dan extension (6). Dengan memompa hydraulic cylinder, rod pada cylinder akan menekan, master pin terlepas.
Special Tools 59 TOOLS Memasang master pin Atur track dengan guide (16). Dalam melepas master pin pergunakan tool seperti waktu melepas. Pergunakan pin guide (19) masukkan master pin dan pin pusher dari arah belakang. Dengan hydraulic pressure, master pin masuk (terpasang) pada track.
Special Tools 60 TOOLS Remover Sproket and Sproket Hub Tool ini digunakan untuk melepas sproket dan sproket hub yang telah terpasang pada sprocket shaftnya. Keterangan : 1. Arm 2. T-type adapter 3. Pin 4. Plug 5. Sleeve 6. Spacer 7. Adapter 8. Coupling 9. Pin 10. Extension 11. Yoke 12. Guide 13. Plate Cara pemakaian : Set guide (12) di atas ujung sproket shaft. Bolt sleeve (5) ke sproket hub. Hubungkan T-type adapter (2) ke yoke (11) dengan menggunakan pin (3), hubungkan adapter ke arm (1) sehingga adapter/yoke menyatu dengan cylinder 70 ton dan sproket. Tempatkan plug (4) diantara cylinder head dan sleeve (5). Dengan menggunakan hydraulic pressure pada cylinder sehingga sproket dapat terlepas.
Special Tools 61 TOOLS Installer Sproket and Sproket Hub Tool ini digunakan untuk memasang sproket dan sproket hub pada sproket shaftnya.
Special Tools 62 TOOLS Cara pemakaian : Pasang sleeve (7) ke sproket hub dan set pusher (1) di atas sleeve. Assemble head (4) dan coupling (2) ke cylinder 70 ton dan keluarkan cylinder rodnya Assemble (1) dan (2), dengan mengunakan pin (3), hubungkan coupling (2) ke sleeve (7). Press-fit pada sproket ke dalam tempatnya pada sproket shaft dengan tekanan yang ditentukan (sesuai shop manual).
Special Tools 63 TOOLS For Removing The Sproket Bearing Tool ini digunakan untuk melepas sproket bearing yang telah terpasang pada sproket shaftnya, bersama dengan sproket hub atau final drive case cover. Cara pemakaian : Sisipkan spacer (3) diantara final drive case cover dan puller (2) dan ikat puller dengan bolt. Masukkan adapter (8) ke dalam sproket shaft. Masukkan coupling (7) ke dalam cylinder 70 ton. Gunakan pin (6), set pada adapter (8) dan coupling (7). Gunakan pin (5), ikat arm (9) dan puller (2) ke cylinder. Ikat ujung pin dengan ring (12). Pasangkan pada cylinder hydraulic pressure untuk melepas sproket shaft. Gunakan bearing puller, untuk melepas sproket bearing dari final drive case cover.
Special Tools 64 TOOLS Installer Sproket Bearing Tool ini digunakan untuk memasang pada sproket bearing diantara sproket bearing dan sproket hub atau diantara sproket shaft dan final drive cover. Keterangan : 1. Plate 2. Guide 3. Coupling 4. Screw 5. Nut 6. Plug 7. Sleeve Cara pemakaian : Paskan guide (2) pada sproket shaft. Hubungkan coupling (3) ke dalam sproket shaft, kemudian masukkan screw (4) ke dalam coupling (3). Set plate (1), sleeve (7) dan plug (6) disisi luar pada guide. Tutupi dengan puller 30 ton seperti yang ditunjuk dalam gambar, dan kunci dengan nut (5). Kemudian berikan tekanan hydraulic pada puller sehingga mengepas pada sproket bearing pada shaft.
Special Tools 65 TOOLS Remover Sproket Shaft Tool dibawah ini digunakan untuk melepas sproket shaft yang telah terpasang di dalam steering case. Keterangan : 1. Sleeve 2. Screw 3. Nut 4. Coupling 5. Adapter 6. Head 7. Coupling 8. Pin 9. Sleeve Cara pemakaian : Pasangkan coupling (4) kedalam sproket shaft dan set sleeve (1) di atas coupling. Sangga agar sleeve tetap berhubungan dengan sisi steering case. Pasangkan screw (2)dan coupling (7) ke dalam cylinder 70 ton. Set nut (3) dan kencangkan dengan screw. Keluarkan rod pada cylinder, hubungkan coupling (4) dan (7), dengan menggunakan pin (8). Berikan tekanan hydraulic pada rod cylinder untuk melepas sproket shaft. Apabila sproket shaft belum dapat dilepas dalam satu langkah piston, atur posisi pada nut (3) dan ulangi prosedur yang pertama.
Special Tools 66 TOOLS Installer The Sproket Shaft Tools dibawah ini digunakan untuk memasang sproket shaft pada steering case. Keterangan : 1. Plug. 2. Guide. 3. Bolt. 4. Coupling. 5. Pin. 6. Spacer. 7. Plug. Cara pemakaian : Ikat guide (2) pada steering case dengan bolt (3). Pasang coupling (4) pada sproket shaft dan hubungkan plug (1) pada coupling dengan pin (5). Gantungkan sebuah pemberat seperti pada gambar dengan menggunakan crane. Dengan alat ini, dapat dilakukan pemasangan dari shaft sproket.
Special Tools 67 TOOLS Materi 5 : Inspeksi Special Tools Tujuan Materi 3 Setelah mengikuti pembelajaran pada Materi 5, siswa mampu melakukan pemeriksaan pada Special Tools. Inspeksi Special Tools Adalah pemeriksaan special tools yang bertujuan untuk mengetahui kondisi special tools. Dan dari hasil pemeriksaan itu dapat disimpulkan apakah special tools masih dapat digunakan, harus diperbaiki, ataukah harus diganti dengan yang baru. Pemeriksaan dapat meliputi 3 hal, yakni: a. Visual Check; memeriksa kondisi tools secara kasat mata seperti kondisi keretakan, cacat fisik, aus, karat, dll. b. Manual Check; memeriksa kondisi tools dengan cara pengetesan fungsi, contoh pengetesan fungsi penyetel pada micromenet apakah macet atau tidak. c. Special; memeriksa kondisi tools dengan cara melakukan kalibrasi ataupun pengukuran dimensi maupun pengujian kinerja tools tersebut bila diperlukan, dan melakukan perbandingan dengan nilai standard ataupun toleransi dari standard factory. Engine Special Tools Visual check : Periksa kondisi engine special tools terhadap kemungkinan terjadi korosi. Periksa kondisi engine special tools terhadap kemungkinan terjadi stud patah / putus. Periksa kondisi engine special tools terhadap kemungkinan terjadi chipping. Periksa kondisi engine special tools terhadap kemungkinan terjadi deformasi. Periksa kondisi engine special tools terhadap kemungkinan terjadi keausan Manual check : Pastikan fungsi adjustment bolt ataupun nut dapat bekerja dengan baik. Measurement: - Steering Special Tools Visual check : Periksa kondisi steering special tools terhadap kemungkinan terjadi korosi. Periksa kondisi steering special tools terhadap kemungkinan terjadi stud patah / putus. Periksa kondisi steering special tools terhadap kemungkinan terjadi chipping. Periksa kondisi steering special tools terhadap kemungkinan terjadi deformasi. Manual check : Pastikan fungsi adjustment bolt ataupun nut dapat bekerja dengan baik. Measurement: -
Special Tools 68 TOOLS Undercarriage Special Tools Visual check : Periksa kondisi undercarriage special tools terhadap kemungkinan terjadi korosi. Periksa kondisi undercarriage special tools terhadap kemungkinan terjadi stud patah / putus. Periksa kondisi undercarriage special tools terhadap kemungkinan terjadi chipping. Periksa kondisi undercarriage special tools terhadap kemungkinan terjadi deformasi. Periksa kondisi undercarriage special tools terhadap kemungkinan terjadi keausan Manual check : Pastikan fungsi adjustment bolt ataupun nut dapat bekerja dengan baik. Measurement: -
Tujuan Bab 5 : Setelah menyelesaikan pembelajaran pada Bab 5, siswa mampu menyebutkan nama dan menjelaskan fungsi dari macam-macam power tools. Siswa juga mampu menggunakan dan melakukan inspeksi macammacam power tools dengan benar sesuai dengan prosedur standard. Referensi : Website : https://www.belajarsesuatu.id Definisi : Power Tools adalah alat yang sumber penggeraknya diperoleh dari energi listrik, hydraulic, atupun tenaga dari udara bertekanan (pneumatik). BAB V POWER TOOLS
Power Tools 70 TOOLS Materi 1 : Electric Power Tools Tujuan Materi 1 Setelah mengikuti pembelajaran pada Materi 1, siswa mampu menyebutkan nama dan menjelaskan fungsi dari electric power tools. Bor Tangan (Portable Drill) Peralatan power tool yang pertama adalah bor tangan. Bor tangan merupakan salah satu jenis alat tenaga yang digunakan untuk membuat lubang pada benda kerja dengan sumber tenaga yang berasal dari arus listrik (bisa arus listrik bolak balik AC maupun arus listrik yang diperoleh dari baterai). Portable drill merupakan jenis dari bor listrik yang memiliki kapasitas diameter pengeboran yang cukup terbatas. Gerinda Tangan (Portable Grinder) Gerinda merupakan salah satu jenis power tools yang berfungsi untukmemotong, meratakan dan menghaluskan material besi yang sudah dipotong agar rapih dan tidak tajam. Bisa juga untuk mengkikis material besi yang tidak rapih karena proses pengelasan. Electric Impact Wrench Electric Impact wrench merupakan peralatan (power tool) yang memiliki fungsi yang sama dengan air impact namun dengan mekanisme tenaga penggerak yang berbeda. Pada air impact beroprasi dengan mengandalkan tekanan udara (pneumatik), sedangkan untuk yang tipe elektrik ini menggunakan tenaga listrik. Electric Impact wrench berfungsi untuk mengencangkan atupun megendurkan mur/baut. Gerinda Potong Sesuai namanya gerinda potong berfungsi untuk melakukan pemotongan benda kerja. Cara kerja dari gurinda ini adalah dengan membuat kontak antara mata gerinda yang berputar dengan benda kerja sehingga terjadi pengikisan sampai benda kerja terpotong. Pada proses penggunaannya ketika mata gerinda yang berputar kontak dengan metal akan terjadi percikan bunga api karena gesekan. Untuk menghindarai kecelakaan kerja saat menggunakan gerinda potong, anda harus memakai alat pelindung diri.
Power Tools 71 TOOLS Gerinda Bangku (Bench Grinder) Mesin gerinda jenis ini biasanya berukuran kecil dan ditempatkan pada meja kerja dengan baut. Mesin ini memiliki 2 batu gerinda yang memiliki tingkat kekasaran yang berbeda. Gerinda jenis ini berfungsi untuk mengasah/mengikis permukaan logam seperti mata bor, pahat, pisau, dll. Pemasangan 2 buah batu gurinda ini agar grider jenis ini memiliki 2 fungsi sekaligus yaitu sebagai pemotong dan pengasah. Jika anda ingin melakukan pemotongan untuk benda berukurn kecil bisa menggunakan sisi yang kasar. Untuk proses pengasahan gunakanlah sisi yang lebih halus. Bor Duduk (Bench Drill) Mesin bor duduk berfungsi untuk membuat lubang pada benda kerja dengan diameter yang kecil. Prinsip kerja dari bor duduk ini adalah dengan memindahkan putaran dari motor listrik ke poros mesin sehingga poros dapat berputar.
Power Tools 72 TOOLS Materi 2 : Hydraulic & Pneumatic Power Tools Tujuan Materi 2 Setelah mengikuti pembelajaran pada Materi 2, siswa mampu menyebutkan nama dan menjelaskan fungsi dari hydraulic & electric power tools. Mesin Press Hidrolik (Hydraulic Pressure Machine) Mesin press hidrolik merupakan mesin yang bekerja berdasarkan tekanan fluida. Pada konsep fisika mesin ini menggunakan hukum pascal dalam pengoprasiannya. Fungsi utama dari mesin press hidrolik adalah melakukan pengepresan pada komponen komponen yang membuatuhkan gaya tekan yang kuat untuk memasang maupun membongkarnya. Contoh penggunaan mesin pres hidrolik pada bidang otomotif seperti membuka dan memasang bearing, menekan pegas daun dan pekerjaan lain yang membutuhkan proses penekanan pada benda kerja. Mesin press hidrolik memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan dengan mesin press yang menggunakan tenaga listrik. Hydraulic Puller Hydraulic puller juga merupakan mesin yang bekerja berdasarkan tekanan fluida. Fungsi utama dari hydraulic puller adalah melakukan penarikan pada komponen komponen yang membuatuhkan gaya tarik yang kuat untuk memasang maupun membongkarnya.
Power Tools 73 TOOLS Hydraulic Jack Hydraulic jack juga merupakan mesin yang bekerja berdasarkan tekanan fluida. Fungsi utama dari hydraulic jack adalah melakukan pengangkatan pada unit yang akan dilakukan perbaikan. Perlu dicatat bahwa, hydraulic jack bukan merupakan stand unit saat dilakukan pengerjaan. Sehingga, perlu dipasang stand setelah unit dilakukan pengangkatan oleh hydraulic jack. Bor Angin (Air Drill) Bor angin merupakan jenis power tools yang memiliki fungsi yang sama dengan bor tangan. Tenaga penggerak dari bor angin ini bukan dari tenaga listrik arus AC maupun DC tetapi dari udara bertekanan (pneumatik) yang dihasilkan oleh komponen lain (kompresor). Karena bor angin ini bergantung dari tekanan udara yang dihasilkan oleh kompresor, maka tenaganya pun akan bergantung dari tekanan yang diberikan kompresor. Hal ini membuat torsi yang dihasilkan menjadi relatif tidak stabil jika dibandingkan dengan bor yang menggunakan tenaga listrik sebagai penggerak. Selain itu masalah keausan pada sambungan juga sering terjadi ketika menggunakan bor angin, masalah keausan ini akan menyebabkan terjadinya kebocoran udara yang masuk ke dalam sistem bor dan pada akhirnya mengurangi torsi. Air Impact Wrench Impact wrench adalah salah satu jenis power tools yang berfungsi untuk mengencangkan atupun megendurkan mur/baut. Dalam melakukan fungsinya impact wrench ini harus dipasangkan dengan kunci socket. Beberapa impact wrench memiliki perlengkapan yang bisa mengatur torsi agar sesuai dengan fastener yang diputar. Namun sama seperti power tools lain yang menggunakan udara bertekanan dalam melakukan fungsinya. Torsi yang dihasilkan oleh impact jenis ini relatif kurang stabil tergantung dari tekanan udara yang diterima dari kompresor.
Power Tools 74 TOOLS Air Sander Air sander merupaka jenis power tools yang digunakan untuk meratakan bidang datar. Alat ini digunakan untuk mempermudah dalam meratakan permukaan yang ingin dicat. Air sander bekerja menggunakan tenaga dari udara bertekanan (pneumatik). Alat ini banyak digunakan di bengkel otomotif terutama di unit produksi perbaikan body. Pneumatic Jack Seperti halnya dengan hydraulic jack, pneumatic jack juga berfungsi untuk melakukan pengangkatan pada unit yang akan dilakukan perbaikan namun dengan kekuatan tekanan udara. Dan seperti halnya dengan hydraulic jack, pneumatic jack bukan merupakan stand unit saat dilakukan pengerjaan. Sehingga, perlu dipasang stand setelah unit dilakukan pengangkatan oleh pneumatic jack.
Power Tools 75 TOOLS Materi 3 : Inspeksi Power Tools Tujuan Materi 3 Setelah mengikuti pembelajaran pada Materi 3, siswa mampu melakukan pemeriksaan pada Power Tools. Inspeksi Power Tools Adalah pemeriksaan Power tools yang bertujuan untuk mengetahui kondisi power tools. Dan dari hasil pemeriksaan itu dapat disimpulkan apakah power tools masih dapat digunakan, harus diperbaiki, ataukah harus diganti dengan yang baru. Pemeriksaan dapat meliputi 3 hal, yakni: a. Visual Check; memeriksa kondisi tools secara kasat mata seperti kondisi keretakan, cacat fisik, aus, karat, dll. b. Manual Check; memeriksa kondisi tools dengan cara pengetesan fungsi, contoh pengetesan fungsi bor apakah macet atau tidak. c. Measurement; memeriksa kondisi tools dengan cara melakukan kalibrasi ataupun pengukuran dimensi maupun pengujian kinerja tools tersebut bila diperlukan, dan melakukan perbandingan dengan nilai standard ataupun toleransi dari standard factory. Bor Electric (Drill) Visual check : Periksa kondisi bor terhadap kemungkinan terjadi karat / korosi. Periksa kondisi bor terhadap kemungkinan terjadi deformasi. Periksa kondisi bor terhadap kemungkinan terjadi handle pecah. Periksa kondisi bor terhadap kemungkinan terjadi kabel terkelupas. Periksa kondisi bor terhadap kemungkinan terjadi basah / lembab. Manual check : Pastikan fungsi penyetel bor dapat bekerja dengan baik. Pastikan fungsi switch bor bekerja dengan baik. Pastikan fungsi bor keseluruhan bekerja dengan baik. Pastikan kondisi bor kering dan bersih sehingga tidak terjadi electric short. Measurement: - Gerinda Electric (Grinder) Visual check : Periksa kondisi gerinda terhadap kemungkinan terjadi karat / korosi. Periksa kondisi gerinda terhadap kemungkinan terjadi handle pecah. Periksa kondisi gerinda terhadap kemungkinan terjadi mata gerinda pecah. Periksa kondisi gerinda terhadap kemungkinan terjadi kabel terkelupas. Periksa kondisi gerinda terhadap kemungkinan terjadi basah / lembab. Periksa kondisi gerinda terhadap kesesuaian putaran antara mesin gerinda dengan mata gerinda. Manual check : Pastikan fungsi penyetel gerinda dapat bekerja dengan baik. Pastikan fungsi pelindung gerinda terpasang dengan baik. Pastikan fungsi switch gerinda bekerja dengan baik. Pastikan fungsi gerinda keseluruhan bekerja dengan baik.
Power Tools 76 TOOLS Pastikan kondisi gerinda kering dan bersih sehingga tidak terjadi electric short. Measurement: - Hydraulic Tools (Press, Jack) Visual check : Periksa kondisi tools terhadap kemungkinan terjadi karat / korosi. Periksa kondisi tools terhadap kemungkinan terjadi hose terkelupas / pecah. Periksa kondisi tools terhadap kemungkinan terjadi seal bocor. Manual check : Pastikan fungsi tools keseluruhan dapat bekerja dengan baik. Measurement: - Pneumatic Tools (Drill, Impact, Sander) Visual check : Periksa kondisi tools terhadap kemungkinan terjadi karat / korosi. Periksa kondisi tools terhadap kemungkinan terjadi deformasi. Periksa kondisi tools terhadap kemungkinan terjadi handle pecah. Periksa kondisi tools terhadap kemungkinan terjadi seal bocor. Manual check : Pastikan fungsi penyetel tools dapat bekerja dengan baik. Pastikan fungsi switch tools bekerja dengan baik. Pastikan fungsi tools keseluruhan bekerja dengan baik. Measurement: - Pneumatic Jack Visual check : Periksa kondisi tools terhadap kemungkinan terjadi karat / korosi. Periksa kondisi tools terhadap kemungkinan terjadi hose terkelupas / pecah. Periksa kondisi tools terhadap kemungkinan terjadi seal bocor. Manual check : Pastikan fungsi tools keseluruhan dapat bekerja dengan baik. Measurement: -
Tujuan Bab 6 : Setelah menyelesaikan pembelajaran pada Bab 6, siswa mampu menyebutkan nama dan menjelaskan fungsi dari macam-macam workshop equipment. Siswa juga mampu menggunakan dan melakukan inspeksi macam-macam workshop equipment dengan benar sesuai dengan prosedur standard. Referensi : Book : Komatsu Service Tool Guide Komatsu The Gold Book (A Comprehensive Parts & Accessories Catalog) Komatsu Training Aid & User’s Text UT School Basic Course MODUL-1-PRAKTEK-INSPEKSI-ALAT-BANTU-ANGKAT-RIGGINGONLINE-FOR-WEB Definisi : Workshop Equipment adalah peralatan / perlengkapan kerja yang biasa digunakan di bengkel. BAB VI WORKSHOP EQUIPMENT
Workshop Equipment 78 TOOLS Materi 1 : Sling Tujuan Materi 1 Setelah mengikuti pembelajaran pada materi 1, siswa mampu menjelaskan tipe dan fungsi dari sling, serta menjelaskan cara perawatan sling. Sling Secara umum, sling dapat dibagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu : Sling yang ditenun (Webbing Sling) Terdapat 3 (tiga) jenis webbing sling, yaitu : Tidak berujung Dengan lubang pada satu atau kedua ujungnya Dengan pengait/sangkutan akhir satu atau kedua ujungnya Webbing sling tidak dipengaruhi oleh kelembaban atau zat kimia tertentu. Webbing sling juga mampu menahan goncangan yang kuat karena sifat materialnya yang lentur, tidak mudah merusak permukaan atau menghancurkan benda-benda yang mudah pecah. Lakukanlah pemeriksaan pada sling secara berkala. Periksalah seluruh bagian sling, kerusakan biasanya mudah untuk dilihat. Bila terkena larutan asam atau basah, cucilah baik-baik sebelum menyimpannya. Sling Kawat Baja (Wire Sling) Wire sling terbentuk dari jalinan kawat yang disusun disekeliling suatu sumbu. Jalinan dan hamparan kawat yang sederhana disusun dengan arah yang berlawanan. Hamparan kawat dan jalinannya disusun searah. Semakin banyak jumlah kawat yang terdapat dalam jalinan, semakin fleksibel tali itu. Tambang ini dapat digunakan untuk sistem penggerak, penderek, pengangkut, perlengkapan penggantung dan pengangkat.
Workshop Equipment 79 TOOLS Wire sling harus diperiksa secara berkala. Periksalah secara berkala apakah terdapat kelainan-kelainan. Jika anda merasa ragu-ragu apakah tali itu cukup kuat untuk digunakan, pemeriksaan secara seksama harus dilaksanakan oleh orang ahlinya. Gambar berikut menunjukkan contoh wire sling yang tidak boleh digunakan. Simpan wire sling di tempat yang kering, bersih dan bertutup, serta jangan langsung meletakkannya di atas tanah. Jangan biarkan tali bersentuhan dengan permukaan yang lembab, basah atau berdebu, dengan besi-besi yang berkarat dan berkerak. Gantilah lapisan pelindung dengan yang baru bila perlu.
Workshop Equipment 80 TOOLS Sling Rantai (Chain Sling) Secara umum tersedia berbagai jenis sling rantai yang dapat digunakan dan masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri, sehingga dapat dibedakan satu sama lain. jenis-jenis tersebut antara lain : o Hercaloy dengan tanda CM ( Colombus Mekinnon ). o Hercaloy dengan tanda PWB ( Pitt Waddell Bennett ). o Kuplex dengan tanda T. Kito dengan tanda No. 8 o Serrafini dengan tanda SAB Thiel dengan tanda 08 o Fram dengan tanda Polar Bear Grade atau ukuran : Hercaloy memiliki grade 80 Baja Alloy (campuran) memiliki grade 60 dan 70 Baja lunak dengan kekuatan meregang agak tinggi memiliki grade 40 Baja atau besi lunak memiliki grade 30 Semakin tinggi grade sling rantai, makin besar kekuatan daya angkatnya. Tingkatan grade rantai sling dapat diketahui dari Tag Instruction yang terpasang disling tersebut atau melalui referensi sertifikat pembeliannya. Sling rantai yang tidak memiliki Tag Instruction tidak boleh digunakan. Rantai sling yang kurang dari 8 mm (diameter) tidak boleh digunakan, kecuali bila sling rantai tersebut dilengkapi dengan buku katalog dan sertifikat. Perlu dilakukan pemeriksaan secara teratur pada sambungan atau feeting dan keseluruhan untaian mata rantai, serta pengaitnya (hook). Setiap untaian mata rantai yang cacat, bengkok, retak, aus harus dilaporkan ke supervisor. Kebersihan peralatan juga harus dipelihara. Simpan chain sling ditiang pancang atau rak yang cocok diruang tertutup (beratap). Jauhkan dari besi berkarat dan beri cairan pelumas tipis-tipis. Gambar berikut menunjukkan contoh chain sling yang tidak boleh digunakan.
Workshop Equipment 81 TOOLS Materi 2 : Perlengkapan Peralatan Pengangkatan Tujuan Materi 2 Setelah mengikuti pembelajaran pada materi 2, siswa mampu menyebutkan tipe dari shackel dan eyebolt seta menjelaskan cara penggunaan shackel dan eyebolt yang benar. Shackle Ada dua jenis shackle, yaitu : Shackle busur Shackle D Bolt shackle umumnya terpasang langsung pada satu lubang dan harus mempunyai satu kerah. Pada shackle yang lebih balk, bolt akan melewati kedua lubang dan diamankan oleh suatu pasak pena belah atau yang sejenisnya. Shackle yang berpasak lebih aman untuk digunakan. Anda harus selalu menggunakan bolt yang cocok dengan shacklenya. Anda tidak boleh menggunakan shackle dengan cara miring, karena hal ini mengurangi beban kerja yang aman. Gambar di bawah ini adalah sebuah “shackle” yang ditarik miring (membentuk sudut). Ini merupakan yang tidak baik sebab kaki-kakinya akan terbuka.
Workshop Equipment 82 TOOLS Eyebolt (Bolt Bermata) Ada dua jenis eyebolt, yaitu : Eyebolt tanpa leher Dalam pemakaian hanya boleh digunakan untuk mengangkat vertikal saja. (eyebolt yang tidak bernut bisa berbahaya sebab eyebolt itu dapat lepas atau ulirnya kendor). Jika eyebolt yang tak berleher dan eyebolt ditarik miring, baut itu bisa bengkok atau putus. Eyebolt berleher Dalam pemakaian, ulirnya harus masuk secara keseluruhan apabila tidak akan berakibat bengkoknya eyebolt tersebut.
Workshop Equipment 83 TOOLS Materi 3 : Inspeksi Workshop Equipment Tujuan Materi 3 Setelah mengikuti pembelajaran pada materi 3, siswa mampu melakukan pemeriksaan pada workshop equipment. Chain block 1. Std / Kode: a) BS 3243: 1990 "Spesifikasi blok rantai yang dioperasikan dengan tangan". b) BS EN 818-7: 2002 "Rantai tautan pendek untuk tujuan pengangkatankeamanan-Rantai kerekan toleransi halus, Grade T (tipe T, DAT dan DT)" 2. Perkenalan: a) Pastikan WLL dan nomor identifikasi dapat dibaca dan direferensikan silang pada laporan proof load saat ini atau laporan pemeriksaan saat ini. 3. Inspeksi: a) Mur dan baut pengunci longgar atau tidak aman. b) Kerusakan umum pada bodi blok, termasuk penutup gigi, batas torsi yang putus perangkat (jika terpasang), stripper rantai dan pemandu rantai. c) Rantai tangan untuk aus atau rusak. d) Chain anchor dan chain end stop untuk tanda-tanda kerusakan. Rantai harus berartikulasi dengan bebas. Ini agar bebas dari retakan, torehan, gouge, sambungan bengkok atau terdistorsi dan keausan, peregangan atau korosi dengan pengurangan 8% dari diameter asli menjadi maksimum yang diizinkan. e) Kait untuk retakan, torehan, cungkil, korosi dan bukaan dari tenggorokan. Ini mungkin menunjukkan beban berlebih atau pemuatan titik kait. Kait harus dilengkapi atau beberapa kait pengaman cara yang sesuai untuk mencegah perpindahan beban yang tidak disengaja dari kait. f) Operasikan di bawah beban dan dengarkan kebisingan yang berlebihan. Pawl harus membuat suara bunyi klik saat mengangkat. Saat dioperasikan, seharusnya tidak membutuhkan usaha yang berlebihan dan juga tidak seharusnya melompat atau rem terlihat tergelincir. Sproket rantai dan sproket idler harus dibersihkan serpihan, karena ini mungkin tidak memungkinkan rantai beban untuk duduk dengan benar pada sproket. g) Untuk kriteria pemeriksaan pengait mengacu pada std 4. Informasi: a) Blok rantai dapat dipasang dengan perangkat pembatas torsi. Jika ini masalahnya, sebelum penerapan proof load, pembatas harus dibuat tidak beroperasi. Proof load yang diterapkan harus didasarkan pada batas beban kerja (WLL) yaitu beban kerja aman maksimum.
Workshop Equipment 84 TOOLS b) Unit harus ditandai dengan beban kerja yang aman (SWL) berdasarkan klasifikasi “M” berikut yang memperhitungkan status pemuatan dan masa pakai yang diharapkan: • M1 - 100% beban kerja yang aman • M2 - 80% dari beban kerja yang aman • M3 - 63% dari beban kerja yang aman • M4 - 50% dari beban kerja yang aman c) Jika tidak ada informasi teknis dari pabrikan tertentu tentang keausan rantai yang diizinkan, maka yang berikut ini harus digunakan: d) Periksa sambungan untuk keausan pengurangan 8% dari diameter asli menjadi maksimum yang diizinkan. Perhatian harus diberikan pada mahkota bagian dalam ( titik kontak ). e) Periksa perpanjangan maksimum 2 1/2%. Hal ini dapat dilakukan sebagai berikut: • Pilih panjang rantai yang belum pernah dipakai dan tidak terentang. • Tangguhkan rantai secara vertikal dan dengan menggunakan pengukur tipe kaliper, ukur panjang bagian luar dari sejumlah tautan yang sesuai, kira - kira 305 mm hingga 610 mm (12 inci hingga 24 inci) secara keseluruhan; • Ukur jumlah tautan yang sama di bagian yang digunakan dan hitung persentase pertambahan panjangnya: Panjang Rantai Bekas - Panjang Rantai Belum Dipakai Perpanjangan% = ----------------------------------------------- ----------- x100 Panjang Rantai Belum Dipakai f) Tanda tingkat kualitas dari rantai harus distamp atau diembos pada setidaknya setiap dua puluh mata rantai atau mata rantai dengan interval 1 meter, mana saja yang jaraknya lebih kecil.
Workshop Equipment 85 TOOLS 5. GAMBAR / SKETSA:
Workshop Equipment 86 TOOLS Chain Lever Hoist 1. Std / kode: a) BS 4898: 1973 (1989) "Spesifikasi kerekan tuas rantai". b) BS EN 818-7: 2002 "Rantai penghubung pendek untuk tujuan pengangkatan-keamanan-Rantai kerekan toleransi halus, Grade T (tipe T, DAT dan DT)". 2. Checkllst: a) Kerusakan umum pada bodi hoist termasuk penutup roda gigi, kerusakan pada pemandu rantai dan khususnya pada tuas operasi yang dapat mengindikasikan kelebihan beban sebelumnya. b) Operasikan kerekan di bawah beban dan dengarkan kebisingan yang berlebihan. Pawl harus mengeluarkan bunyi klik selama pengangkatan. c) Saat dioperasikan, hoist tidak memerlukan tenaga yang berlebihan atau melompat atau rem terlihat tergelincir. d) Sproket rantai harus dibersihkan dari serpihan karena hal ini mungkin tidak memungkinkan rantai beban untuk duduk dengan benar di dalam sproket. e) Rantai untuk retakan, torehan, gouge, sambungan bengkok atau terdistorsi dan keausan, peregangan atau korosi dengan pengurangan 8% dari diameter asli karena keausan adalah batas maksimum yang diizinkan. f) Jangkar rantai (jika dipasang) dan penghenti ujung rantai (jika dipasang) untuk tanda-tanda kerusakan. Pengurangan 8% dari diameter asli karena keausan adalah batas maksimum yang diizinkan. g) Kait untuk retakan, torehan, gouges, korosi dan bukaan dari tenggorokan. Ini mungkin menunjukkan kelebihan muatan atau titik pemuatan kail. h) Kait harus memiliki kait pengaman yang dipasang. i) Mur dan baut pengunci longgar atau tidak aman. j) Untuk kriteria pemeriksaan hook mengacu pada std. 3. Uji Beban: a) Setelah pemeriksaan uji pra beban dilakukan, proof load dapat diterapkan dan untuk memastikan satu revolusi lengkap dari semua bagian mekanis. b) Proof load harus diambil dengan menggunakan tuas operasi. Pantau kerekan tuas untuk mendeteksi cacat yang terlihat jelas. c) Lepaskan proof load dan periksa kerekan tuas apakah ada cacat. d) Jika semuanya memuaskan tandai kerekan tuas dengan SWL dan nomor identifikasi uniknya dan keluarkan laporan pengujian.
Workshop Equipment 87 TOOLS 4. GAMBAR / SKETSA:
Workshop Equipment 88 TOOLS Chain Sling 1. Std / Kode: a) BS EN 818-1: 1996 “Rantai penghubung pendek untuk tujuan pengangkatan-keselamatan-Umum kondisi penerimaan”. b) BS EN 818-2: 1997 "Rantai tautan pendek untuk tujuan pengangkatankeamanan-Rantai toleransi sedang untuk sling rantai-Grade 8". c) BS EN 818-4: 1997 "Rantai penghubung pendek untuk tujuan pengangkatan-keselamatan-Rantai sling-Grade 8". 2. PENGANTAR: a) Pastikan WLL dan nomor identifikasi dapat dibaca dan direferensikan silang pada laporan proof load saat ini atau laporan pemeriksaan saat ini. 3. DAFTAR PERIKSA: a) Tautan untuk keausan pengurangan 8% dari diameter nominal menjadi maksimum yang diizinkan. Perhatian harus diberikan ke bagian dalam mahkota (titik kontak). Tidak perlu mengukur setiap tautan tetapi hanya yang terlihat aus secara visual. b) b) Meregang karena aus dan kemungkinan kelebihan beban. Peregangan harus tidak cukup kuat untuk menyebabkan tautan mengunci satu sama lain. c) Tautan bengkok, bengkok, atau terdistorsi. d) Pengurangan diameter yang disebabkan oleh korosi. Juga setiap torehan atau celah akan bertindak sebagai pemicu stres. e) Retakan, patahan las atau tanda lainnya pada area las dari sambungan harus diselidiki secara menyeluruh. f) Tanda-tanda busur api, luka bakar atau percikan las pada rantai adalah penyebab penolakan. g) Setiap erosi material karena serangan kimia dapat menyebabkan rantai tidak layak untuk digunakan. h) Kontak dengan bahan kimia mungkin tidak terlihat secara visual dan dapat menyebabkan perapuhan hidrogen pada bahan yang menyebabkan retakan pada garis rambut. i) Shortening clutch dan perangkat sambungan mekanis untuk peregangan, keausan, retakan atau deformasi. j) Untuk kriteria pemeriksaan dari hook (s) mengacu pada std k) Untuk kriteria pemeriksaan master link and assembly mengacu pada std. l) Jika tidak ada informasi teknis dari pabrikan tertentu tentang keausan rantai yang diizinkan, maka yang berikut ini harus digunakan: m) Periksa sambungan untuk keausan pengurangan 8% dari diameter asli menjadi maksimum yang diizinkan. n) Perhatian harus diberikan pada mahkota bagian dalam (titik kontak). o) Periksa perpanjangan maksimum 5%. Hal ini dapat dilakukan sebagai berikut: • Pilih panjang rantai yang belum pernah dipakai dan tidak terentang.
Workshop Equipment 89 TOOLS • Tangguhkan rantai secara vertikal dan dengan menggunakan pengukur tipe kaliper, ukur panjang bagian luar dari sejumlah link yang sesuai, kira-kira 305 mm sampai 610 mm (12 inci sampai 24 inci) secara keseluruhan; • Ukur jumlah tautan yang sama di bagian yang digunakan dan hitung persentase pertambahan panjangnya. Panjang Rantai Bekas - Panjang Rantai Belum Dipakai Perpanjangan% = ------------------------------------ ------------- x100 Panjang Rantai yang Belum Dipakai 4. GAMBAR / SKETSA:
Workshop Equipment 90 TOOLS Hook 1. Kode / STd: 2. Pengantar a) Pastikan SWL dan nomor identifikasi terbaca dan direferensikan silang pada laporan proof load saat ini atau laporan pemeriksaan saat ini. 3. DAFTAR PERIKSA a) Pengait untuk putaran bebas, distorsi, regangan, korosi, retakan, torehan, gouge dan keausan. Batas tekukan atau puntiran dari bidang kait yang tidak terikat tidak boleh melebihi 10 derajat. Pengurangan 8% dari luas penampang karena keausan akan digunakan untuk kriteria penolakan. b) Semua pin beban untuk keausan dan kerusakan. c) Pengoperasian kait pengaman termasuk pegas. d) Retak di tikungan atau perubahan bagian. Juga untuk kerusakan mekanis, torehan, gouge dan korosi. e) Sheave (s) untuk hasil akhir yang mulus dan berputar bebas dengan tangan. Alur berkas gandum akan diperiksa profilnya dengan menggunakan pengukur berkas gandum. f) Berkas gandum harus dilengkapi dengan pelindung atau perangkat lain yang sesuai untuk mencegah tali keluar dari alur berkas gandum. g) Pastikan pin poros terkunci secara positif dan tidak bergerak saat berkas gandum diputar. h) Titik pelumasan harus jelas dan berfungsi. i) Pastikan semak atau bantalan tidak kendur di sheave dan tidak aus jika bersentuhan dengan pin poros. j) Pelat samping untuk distorsi dan tanda tali yang disebabkan oleh sudut timah yang salah. k) Jika pin penahan dipasang, mereka harus beroperasi dengan benar. l) Perpanjangan lubang dan deformasi becket. m) Mur, baut dan pin belah yang longgar atau tidak aman. 4. PROOF LOAD: a) Sebelum menerapkan proof load, kait balok harus ditandai dengan menggunakan pukulan tengah pada titik 'a' dan 'b' seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah. b) Jarak antara titik-titik ini harus diukur sebelum dan sesudah proof load. The jarak diukur adalah telah bertahan tes tanpa menunjukkan satu set permanen melebihi seperempat dari 1%. c) Terapkan proof load dan simpan blok crane di bawah pengamatan untuk mendeteksi cacat yang jelas. d) Lepaskan beban dan periksa apakah ada cacat pada blok crane. e) Berkas berkas akan berputar bebas setelah proof load. f) Jika semuanya memuaskan tandai blok crane dengan SWL-nya, nomor identifikasi unik dan keluarkan laporan pengujian.
Workshop Equipment 91 TOOLS 5. GAMBAR / SKETSA:
Workshop Equipment 92 TOOLS Eyebolt 1. Std / Kode: 2. PENDAHULUAN: Pastikan SWL dan nomor identifikasi terbaca dan referensi silang pada laporan proof load saat ini atau laporan pemeriksaan saat ini. 3. DAFTAR PERIKSA: a) Kerusakan pada utas. Ini termasuk benang yang aus atau salah bentuk. Pengurangan 8% karena keausan pada link akan digunakan untuk kriteria penolakan. b) Eyebolt dan tautan (jika dipasang) untuk distorsi, betis bengkok, deformasi mata, regangan pada tautan, korosi, retakan, torehan dan gouge. c) Pastikan kerah mesin rata dan bebas dari kerusakan. d) Eyebolt tidak boleh digunakan untuk tujuan pengangkatan jika diameternya kurang dari 12mm (1/2”). e) Dalam keadaan apa pun, eyebol yang bengkok tidak boleh diluruskan. f) Mesin ulang atau modifikasi eyebolt tidak diizinkan. g) Shimming dapat digunakan hingga ketebalan maksimum setengah dari pitch benang. 4. GAMBAR / SKETSA:
Workshop Equipment 93 TOOLS Fibre Rope Sling 1. Std / Kode: BS 6668 Bagian 1: 1986 (1991) “Spesifikasi sling pengangkat tekstil untuk sling pengangkat untuk layanan umum yang terbuat dari tali serat alami dan buatan tertentu”. 2. PENDAHULUAN: Pemeriksaan dilakukan pada pencahayaan yang memadai, sistematis dan memperhatikan kondisi operasional dan lingkungan tempat peralatan tersebut digunakan. Fiber sling harus dalam kondisi aman untuk digunakan dan ini harus diperhatikan saat memutuskan apakah akan menerima atau menolak peralatan. Pastikan SWL dan nomor identifikasi dapat dibaca dan direferensikan silang pada pernyataan kesesuaian atau laporan pemeriksaan saat ini. 3. DAFTAR PERIKSA: a) Pengelupasan permukaan luar dan keausan umum, yang akan terlihat sebagai kerusakan filamen dan serat. Dalam penggunaan biasa akan terjadi beberapa kerusakan atau kerusakan pada serat. Ini tidak berbahaya selama tidak berlebihan. b) Area abrasi parah dan kerusakan mekanis yang disebabkan, misalnya, tali dilewati benda tajam saat berada di bawah beban dan pengurangan satu untai yang parah semuanya menyebabkan penolakan karena akan mengakibatkan pengurangan kekuatan yang serius. c) Perhatikan bahwa semakin kecil luas penampang tali, semakin rentan aus dan kerusakan mekanis. d) Pemuatan dan pelenturan tali yang berulang-ulang saat di bawah tegangan akan menyebabkan keausan internal. Jika pasir atau benda asing lainnya menembus bagian dalam tali, hal itu dapat diindikasikan dengan mengendurnya untaian atau dengan adanya debu serat di dalam tali. e) Karena bahan kimia tertentu akan mempengaruhi sling tali fiber, maka harus diperiksa bubuk permukaan dan kemungkinan hilangnya pewarnaan. f) Pembakaran serat alami dan sekering dari serat buatan menunjukkan bahwa sling telah mengalami panas yang berlebihan dari metode penggunaan, misalnya dalam halangan choker. Tali bisa sangat lemah karena panas tanpa menunjukkan tanda-tanda yang jelas. g) Kotoran yang berat harus dibuang sejauh mungkin karena dapat menyembunyikan kemungkinan cacat pada gendongan. h) Gunakan air bersih untuk menghilangkan kotoran. 4. Berikut informasi material sling tali fiber yang tersedia. a) Poliamida (Nylon) sebenarnya kebal terhadap efek alkali tetapi diserang oleh asam berkekuatan sedang. Kehilangan kekuatan 15% akan terjadi jika gendongan dibasahi. b) Poliester tahan terhadap asam kekuatan sedang tetapi rusak oleh alkali. c) Polypropylene sedikit dipengaruhi oleh asam dan basa dan cocok untuk aplikasi yang memerlukan ketahanan terhadap bahan kimia.
Workshop Equipment 94 TOOLS d) Semua hal di atas sangat tahan terhadap jamur dan serangan mikrobiologis lainnya. e) Sling tali serat alami menawarkan sedikit atau tidak ada ketahanan terhadap bahan kimia, asapnya atau gas tertentu. f) "Sambungan panjang" dan "Sambungan Liverpool" tidak boleh digunakan. 5. Lokasi tanda identifikasi a) Beban kerja yang aman (SWL) dan nomor identifikasi harus diberi tanda tahan lama pada sling biasanya dengan menggunakan selongsong plastik yang disusutkan ke tali. b) Informasi lain mungkin ditandai pada sling yaitu faktor mode, panjang dll. c) Jenis bahan sling akan dikenali sebagai berikut dengan label berwarna yang ditempelkan pada sling: - d) Poliamida (Nylon) HIJAU e) Poliester BIRU f) Polypropylene MERAH / COKLAT g) Sisal / Manila / Cotton WHITE 6. GAMBAR / SKETSA:
Workshop Equipment 95 TOOLS Full Body Harness 1. Code / Std: BS EN 361: 1992 "Alat pelindung diri terhadap jatuh dari ketinggian-Seluruh tubuh harness". BS EN 365: 1993 "Alat pelindung diri agar tidak jatuh dari ketinggian-Persyaratan umum untuk petunjuk penggunaan dan penandaan". 2. DAFTAR PERIKSA: a) Permukaan chaffing. Beberapa pengelupasan pada serat permukaan dapat diterima tetapi harus ditolak jika benang luarnya putus. b) abrasi lokal karena ini akan mengakibatkan hilangnya kekuatan yang serius. c) Potongan, robekan atau robekan pada anyaman terutama pada tepi tepi. d) Pelemahan lokal dan pelunakan material karena serangan kimia. Pengelupasan serat permukaan menunjukkan hal ini. e) Tampilan kaca atau fusi serat adalah akibat dari panas dan kerusakan gesekan. f) Percikan las, yang akan menyebabkan pembakaran lokal. Percikan mungkin melekat dengan sendirinya dalam jaring yang menyebabkan abrasi. g) Benang atau jahitan yang longgar atau rusak menyebabkan penolakan dengan memberikan perhatian khusus pada area di mana anyaman diumpankan melalui elemen penyetelan. h) Elemen penyetelan, elemen attachment penahan jatuh dan gesper pengaman untuk pemotongan, torehan, gouge dan retakan. Torehan dan luka pada alat kelengkapan ini dapat menyebabkan kerusakan pada anyaman. i) Elemen penyetelan dan gesper harus disetel dan harus beroperasi dengan benar. j) Kotoran yang berat harus dihilangkan sejauh mungkin karena dapat menyembunyikan potensi kerusakan pada harness. Gunakan air bersih untuk menghilangkan kotoran. Jika kotoran meresap ke dalam harness dan pemeriksaan yang tepat tidak dapat dilakukan, hapus dari layanan. 3. GAMBAR / SKETSA:
Workshop Equipment 96 TOOLS Pulley Block 1. Kode / Std: a) BS 4018: 1966 “Spesifikasi balok katrol untuk digunakan dengan tali kawat”. b) BS 4536: 1970 “Spesifikasi balok katrol tugas berat untuk digunakan dengan tali kawat”. 2. PENDAHULUAN: a) Pastikan SWL dan nomor identifikasi terbaca dan referensi silang pada laporan proof load saat ini atau laporan pemeriksaan saat ini. 3. DAFTAR PERIKSA: a) Retak di tikungan atau perubahan bagian. b) Kerusakan mekanis, torehan, gouge dan korosi. c) Sheave (s) untuk hasil akhir yang mulus dan berputar bebas dengan tangan. Pin poros terkunci secara positif dan tidak bergerak saat berkas gandum diputar. d) Alur sheave untuk profil dan setiap retakan adalah penyebab penolakan. e) Kelambanan di semak atau bantalan. f) Pemasangan kepala untuk kerusakan mekanis, keausan, torehan, gouge dan korosi. Ini harus berputar bebas dan betis tidak boleh diregangkan. Jika betis bengkok atau s tretched itu harus dihapus dari layanan. g) Becket (jika dipasang) untuk perpanjangan lubang dan deformasi. h) Pelat samping untuk distorsi dan tanda tali yang disebabkan oleh sudut timah yang salah. i) Kerusakan atau distorsi pada strap samping. j) Mur, baut dan pin belah yang longgar atau tidak aman k) Titik pelumasan harus jelas dan berfungsi. l) Pin penahan atau klip "R" harus dipasang ke pin pemasangan kepala dan pin pelat samping. m) Praktik industri saat ini adalah untuk blok katrol memiliki faktor keamanan 5. n) Beban kerja yang aman dari blok katrol dapat dinyatakan dalam bentuk head fitting (HF) dan line pull (LP). o) Beban kerja yang aman, nomor identifikasi dan nama pabrikan atau pemasok harus secara permanen dan jelas ditandai dengan stamping atau dengan menggunakan pelat yang sesuai yang dipasang secara permanen pada bagian blok tanpa tekanan . Ini biasanya akan dipasang pada salah satu pelat samping. p) Sebelum pemeriksaan menyeluruh, inspektur harus melihat baik laporan pengujian saat ini atau laporan pemeriksaan terakhir untuk memastikan bahwa blok telah diuji dan / atau diperiksa dengan benar dan untuk membiasakan diri dengan kondisi khusus yang diterapkan pada peralatan pengangkat . Berbagai jenis laporan yang mungkin tersedia adalah sebagai berikut: o Laporan tes dan pemeriksaan menyeluruh o Laporan pemeriksaan menyeluruh o Pernyataan kesesuaian
Workshop Equipment 97 TOOLS 4. GAMBAR / SKETSA:
Workshop Equipment 98 TOOLS Turnbuckle 1. Std / Kode: a) BS 4429: 1987 (1998) "Spesifikasi sekrup rigging dan turnbuckle untuk teknik umum, tujuan pengangkatan dan aplikasi gantungan pipa". 2. PENDAHULUAN: a) Pastikan SWL dan nomor identifikasi terbaca dan referensi silang pada laporan proof load saat ini atau laporan pemeriksaan saat ini. 3. DAFTAR PERIKSA: a) Kerusakan pada utas. Ini termasuk benang yang bentuknya aus atau salah. b) Lubang pandang bersih dari minyak. Namun benang harus dilumasi dengan memadai. c) Bodi untuk aus, torehan, gouge, retak atau korosi. d) Benang tubuh di mata yang disadap untuk kerusakan dan pastikan bebas dari kontaminasi. e) Distorsi pada salah satu bagian, terutama jika ujung garpu yang disekrup dipasang. f) Ulir sekrup tidak rusak dan bebas dari kontaminasi. Pastikan ujung berulir terpasang sepenuhnya ke dalam tubuh. g) Pin untuk distorsi dan keausan, torehan, gouge, retakan dan korosi. Keausan maksimum yang diizinkan untuk pemasangan mata sekrup adalah 8%. h) Terapkan proof load dan simpan sekrup rigging di bawah observasi untuk mendeteksi cacat yang jelas. i) Proof load harus diterapkan dengan ulir sekrup diperpanjang sepenuhnya. j) Lepaskan beban dan periksa apakah ada cacat pada sekrup rigging. Pemeriksaan akan melibatkan pelepasan ulir sekrup. k) Jika semuanya memuaskan tandai sekrup rigging dengan SWL- nya, nomor identifikasi unik dan terbitkan laporan pengujian.
Workshop Equipment 99 TOOLS 4. GAMBAR / SKETSA: