Volume 1, Issue 1, 2020
CoMPHI Journal:
Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
CoMPHI Journal : Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal merupakan Jurnal
Ilmiah bidang Ilmu Kedokteran Komunitas dan Ilmu Kesehatan Masyarakat yang dikelola dan
diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia.
CoMPHI Journal terbit 3 (tiga) kali dalam 1 tahun yaitu setiap bulan Juni, Oktober dan Februari.
Editorial Board of CoMPHI Journal
Editor in Chief
Dr. dr. Febri Endra Budi Setyawan, M.Kes., FISPH., FISCM, Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia
Managing Editor
dr. Andiani, M.Kes., CHt, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Indonesia
Editorial Assistant
Ns. Retno Lestari, S.Kep., MNurs , Universitas Brawijaya, Indonesia
Editorial Board
Dr. dr. Rivan Virlando S., M.Kes, Universitas Surabaya, Indonesia
dr. Thontowi Djauhari N.S, M.Kes , Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia
dr. Feny Tunjungsari, M.Kes, Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia
dr. Ratnawati, M.Kes, Universitas Islam Sultan Agung, Indonesia
dr. Anung Putri Illahika M.Si, Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia
Reviewer
Prof. Dr. dr. Stefanus Supriyanto, MS, Universitas Airlangga, Indonesia
Prof. Dr. dr. Thomson Parluhutan Nadapdap, MS (Epid), Universitas Methodist Indonesia
dr. Trevino Aristarkus Pakasi, FS., MS., Ph.D., Sp.DLP., FISPH., FISCM, Universitas Indonesia, Indonesia
Betty Roosihermiatie, dr., MS, PH, Ph.D, Badan Litbangkes, Kemenkes Republik Indonesia
Linda Dewanti, dr., M.Kes., MHSc., Ph.D, Universitas Airlangga, Indonesia
Dr. dr. Fitri Handajani, M.Kes, Universitas Hang Tuah, Indonesia
dr. Hari Peni Julianti, M.Kes (M.Epid)., Sp.KFR., FISPH., FISCM., Sp.DLP, Universitas Diponegoro,
In d o n es ia
Dr. dr. Meddy Setiawan, Sp.PD., FINASIM, Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia
Prof. Dr. drs. Suharjono, MS, Apt, Universitas Airlangga, Indonesia
Dr. Ernawaty, drg., M.Kes, Universitas Airlangga, Indonesia
dr. Harun Al Rasyid, MPH. , FISPH., FISCM, Universitas Brawijaya, Indonesia
Kantor Editorial
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI)
Jl. Simpang Dirgantara II B3/13 Malang, Jawa Timur, Indonesia 65138
u.p. Dr. dr. Febri Endra Budi Setyawan, M.Kes., FISPH., FISCM
Web: http://comphi.sinergis.org
E-mail: [email protected]
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020
DAFTAR ISI
1. Analisis Determinan Perilaku dan Lingkungan Terhadap Kejadian Gastritis 1-7
pada Pelajar 8-14
Febri Endra Budi Setyawan, Laily Ira Fauziyyah 15-21
22-28
2. Relasi, Interaksi dan Komunikasi Interpersonal Dokter-Pasien dalam 29-35
Pelayanan Kesehatan 36-43
Joko Febriantoro 44-50
3. Studi Tingkat Pengetahuan Mengenai Vitamin D pada Pengemudi Becak di
Surabaya
Rivan Virlando Suryadinata, Amelia Lorensia, Dwi Wahyuningtyas
4. Pengaruh APGAR Family Terhadap Quality Of Life Pasien Diabetes Mellitus
Tipe 2
Feny Tunjungsari, Isbandiyah, Farajihan
5. Status Gizi, Perilaku Merokok di Dalam Rumah dengan Kejadian Pneumonia
Siti Rafidah Yunus, Maria Ekawati, Pritha Maya Savitri
6. Pengaruh Illness Perception Terhadap Fungsi Paru Pasien Asma Rawat Jalan
Amelia Lorensia, Rivan Virlando Suryadinata, M Budi Indra Sudaryatmono
7. Hubungan Kejadian Laten Tuberkulosis dengan Kontak pada Pasien
Tube rk ulosis
Hadiyanto
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 1-7
Analisis determinan perilaku dan lingkungan terhadap kejadian gastritis
pada pelajar
Febri Endra Budi Setyawan1*, Laily Ira Fauziyyah 2
1Departemen Kedokteran Keluarga, Universitas Muhammadiyah Malang
2Program Pendidikan Profesi Dokter, Universitas Muhammadiyah Malang
ABSTRAK
Gastritis adalah keadaan mukosa lambung yang meradang dan dapat terjadi dalam waktu singkat, bulanan, hingga
tahunan. Kejadian gastritis pada pelajar sekolah menengah atas (SMA) saat ini penyakit tertinggi kedua dibawah
ISPA. Keadaan gastritis secara tidak langsung akan mengganggu proses pembelajaran dan dapat mempengaruhi
konsentrasi belajar dari pelajar SMA. Faktor determinan yang paling besar pengaruhnya terhadap kejadian
gastritis adalah perilaku dan lingkungan. Penelitian ini untuk menganalisis faktor determinan terhadap kejadian
gastritis pada pelajar tingkat SMA. Rancang bangun yang digunakan pada penelitian ini adalah analitik
observational dengan design cross sectional. Sampel sebanyak 148 pelajar SMA yang dipilih dengan metode
stratified simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada
sampel terpilih dengan skala data nominal. Data yang diperoleh dilakukan uji hipotesis lambda dan regresi logistik.
Hasil penelitian menunjukkan faktor determinan perilaku dan lingkungan memberikan pengaruh lemah (r=0,348)
terhadap kejadian gastritis pad pelajar SMA. Pada hasil uji regresi logistic menunjukkan bahwa faktor determinan
perilaku memiliki OR=5,2 dengan faktor kebiasaan sarapan yang berpengaruh dan faktor lingkungan memiliki
OR=4,4 dengan faktor beban studi yang memberikan pengaruh. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa faktor
perilaku khususnya kebiasaan tidak sarapan dan faktor lingkungan terkait dengan beban studi yang berap pada
pelajar SMA berpengaruh menyebabkan terjadinya penyakit gastritis. Kedua faktor ini pada dasarnya dapat
dikendalikan dengan meningkatkan upaya promotif kepada pelajar di SMAsehingga kasus gastritis dapat dicegah.
Kata kunci: faktor determinan; perilaku; lingkungan; gastritis; pelajar SMA
ABSTRACT
Introduction: Gastritis is an inflamed gastric mucosa that can occur in a short, monthly, or even a year. The
incidence of gastritis in senior high school students were currently the second highest disease under ISPA. The
condition of gastritis will indirectlydisrupt the learning process and can affect theconcentration of learning from
senior high school students. The most influential determinant factors are behavior and environment. Aim of study:
This study was to analyze thedeterminants of the incidence of gastritis in senior high school students. Method: The
design used in this studywas observational analyticwith cross sectional design. Samples of 148 senior high school
students were selected using the stratified simple random sampling method. The research instrument used a
questionnaire that was distributed directly to selected samples with a nominal data scale. The data obtained were
carried out by theLambda hypothesis test and logistic regression. Results and Discussion: The results showed that
the determinants of behavior and environment had a weak influence (r = 0.348) on the incidence of gastritis in high
school students. The logistic regression test results showed that thedeterminant of behavior has an OR = 5.2 with
an influential breakfast habit factor and an environmental factor having an OR = 4.4 with a study load factor that
gives an influence. Conclusion: The conclusion that can be drawn was that the behavioral factors, especially the
habit of not eating breakfast and environmental factors, are related to the burden of studies that affect senior high
school students causing gastritis. Thesetwo factors can basically be controlled by increasing promotive efforts for
students at the senior high school so that gastritis cases can be prevented.
Keywords: determinant factors; behavior; environment; gastritis; senior high school students
*Korespondensi penulis:
Nama : Febri Endra Budi Setyawan
Instansi : Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Malang
Alamat : Jl. Bendungan Sutami 188A Malang, Jawa Timur, Telp.: +62-341-552443/+62-341-582260
Email : [email protected]
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 1
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 1-7
Pe ndahuluan Kejadian gastritis tercatat sebesar 8-21% setiap
bulannya. Hal ini dapat secara tidak langsung
Gastritis seringkali dilihat sebagai suatu akan berpengaruh terhadap proses belajar dari
masalah yang ringan oleh masyarakat, namun pelajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
gastritis bisa sebagai awal dari sebuah penyakit menganalisis faktor determinan perilaku dan
yang lebih parah. Angka kejadian gastritis di
Indonesia tercatat sebesar 274.396 kasus dari lingkungan terhadap kejadian gastritis pada
238.452.952 penduduk jiwa.1 Gastritis adalah pelajar SMA.
suatu kondisi mukosa lambung yang meradang,
dapat terjadi pada waktu singkat, bulanan, Gastritis atau yang dikenal masyarakat
hingga tahunan. Gastritis bisa disebabkan kuman dengan sakit maag merupakan peradangan
Helicobacter pylori, reaksi dari Obat Anti (pembengkakan) mukosa lambung (gaster) yang
Inflamasi Non Steroid (OAINS), minuman
beralkohol, suatu respon auto-imun, alergi dapat disebabkan oleh iritasi dan infeksi. Gaster
akibat makanan dan stres. Gastritis yang dapat merupakan salah satu organ berongga seperti
akan menimbulkan masalah lebih lanjut, antara kantong berbentuk seperti huruf “J” yang
lain dapat terjadi ulkus peptikum, gastritis atrofi, terletak di antara esofagus dan usus halus.4
anemia, anemia pernisiosa dan defisiensi Gaster bekerja dengan memperkecil partikel
vitamin B12, serta dapat meningkatkan risiko makanan menjadi larutan yang dikenal dengan
terjadinya tumor dan kanker.2
nama kimus yang mengandung fragmen molekul
H.L Blum menyatakan bahwa status protein dan polisakarida, butiran lemak, garam,
kesehatan dapat dipengaruhi oleh faktor air, serta berbagai molekul kecil lain yang
determinan psikobiologis, pelayanan kesehatan, masuk bersama makanan.5
perilaku, dan lingkungan. Faktor yang
berpengaruh dominan adalah faktor lingkungan Penyakit gastritis jika diabaikan akan
dan perilaku, dimana faktor ini berperan
meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada dapat merusak fungsi lambung dan
kehidupan manusia modern. Beberapa faktor meningkatkan risiko kanker lambung. Keluhan
perilaku dan lingkungan yang berhubungan sakit pada penyakit gastritis paling banyak
dengan gastritis diantaranya Pola Hidup Bersih ditemui akibat dari gastritis fungsional sebesar
dan Sehat (PHBS), kebiasaan sarapan, 70-80% dari seluruh kasus. Gastritis fungsional
keteraturan waktu makan, lingkungan ekonomi merupakan sakit yang bukan disebabkan oleh
dan lingkungan psikis atau tingkat stres. Tingkat
stres pelajar usia 12-20 tahun secara bermakna gangguan pada organ lambung melainkan lebih
lebih besar dari anak usia pertengahan (7-12 sering dipicu oleh pola makan yang tidak sesuai,
tahun), dimana menunjukkan peningkatan psikis serta kecemasan.6
kortisol sebagai respon terhadap stres. Selain itu,
sering makan tidak tepat waktu, mengonsumsi Helicobacter pylori merupakan bakteri
makanan pedas asam, dan minum minuman penyebab utama penyakit gastritis dan bisa
berkafein pada remaja merupakan faktor yang
berpengaruh.3 menjadi gastritis menahun karena Helicobacter
pylori dapat hidup dalam waktu lama serta
Pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) memiliki kemampuan mengubah kondisi
berada pada kisaran usia 15-18 tahun yang lingkungan lambung sesuai dengan lingkungan
termasuk dalam rentang usia remaja. Salah Helicobacter pylori dan pada akhirnya akan
satunya adalah SMA Negeri 2 Malang yang mengiritasi mukosa lambung serta menimbulkan
selama 2 tahun terakhir di Usaha Kesehatan
Sekolah (UKS) telah melakukan pelayananan rasa nyeri di sekitar epigastrium. Helicobacter
kesehatan dengan pendekatan dokter keluarga. pylori dapat ditemukan pada gastritis kronis
(84,6%), dimana Helicobacter pylori berperan
dalam pathogenesis terjadinya gastritis kronik,
atrofi, metaplasia intestinal, displasia dan
meningkatkan resiko terjadinya karsinoma
gaster.7 Beberapa faktor risiko dari infeksi
Helicobacter pylori diantaranya PHBS rendah,
rendahnya tingkat pengetahuan, sosio-ekonomi
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 2
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 1-7
rendah, air bersih kurang tersedia, tempat tinggal faktor determinan terhadap kejadian gastritis
kumuh, pengelolaan makanan yang buruk, dan pada pelajar tingkat SMA.
buruknya akses terhadap pelayanan kesehatan.8
Prevalensi Helicobacter pylori yang meningkat M e todologi
dikaitkan dengan peningkatan konsumsi
Penelitian ini merupakan penelitian
makanan yang berasal dari pedagang kaki lima analitik observasional dengan pendekatan cross
yang kemungkinan terjadi akibat penyiapan sectional. Responden penelitian adalah pelajar
makanan dalam kondisi yang tidak bersih.9 SMA Negeri 2 Malang yang terdaftar aktif di
bidang akademik pada tahun 2019 yang
Paradigma H.L. Blum dapat digunakan ditentukan dengan stratified simple random
untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan sampling. Data didapatkan dengan
menggunakan kuesioner dengan data kategori
masalah sesuai dengan faktor yang berpengaruh nominal. Data yang diperoleh dilakukan uji
pada status kesehatan. Analisis tersebut perlu hipotesis korelatif dengan menggunakan uji
dilakukan secara cermat sehingga masalah lambda untuk menganalisis pengaruh faktor
kesehatan dan program penatalaksanaan dapat perilaku dan faktor lingkungan terhadap
dirumuskan dengan jelas. Analisis ini bagian kejadian gastritis. Selain itu dilakukan uji regresi
dari analisis situasi (bagian dari fungsi logistik untuk mengetahui faktor apa yang
paling berpengaruh terhadap kejadian gastritis
perencanaan) untuk pengembangan program pada pelajar SMA.
kesehatan di suatu wilayah tertentu.10
Hasil dan Pembahasan
Faktor perilaku memiliki pengaruh Hasil penelitian dapat disajikan pada
paling besar terhadap munculnya gangguan
kesehatan atau masalah kesehatan masyarakat di tabel dibawah ini:
negara berkembang Perilaku dalam menjaga Tabel 1. Distribusi Faktor Perilaku dan
kesehatan memegang peranan yang sangat
penting untuk mewujudkan Indonesia Sehat Lingkungan Pelajar SMA
2025. Hal ini dikarenakan budaya hidup bersih
dan sehat harus dapat dimunculkan dari dalam Faktor Determinan Mean Std.
diri masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Devias i
PHBS akan menghasilkan budaya menjaga Kejadian gastritis 1,554 0,499
lingkungan yang bersih dan sehat. Peraturan
tentang berperilaku sehat juga harus diikuti PHBS 1,568 0,497
dengan pembinaan untuk menumbuhkan
kesadaran pada masyarakat. Pembinaan dapat Perilaku Keb ias aan 1,385 0,488
s arap an
dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan Jumlah kalori 1,561 0,498
masyarakat.11 Kesimbangan gizi 1,716 0,452
Ketepatan waktu
Lingkungan yang mendukung gaya makan 1,257 0,438
hidup bersih dalam meningkatkan derajat
kesehatan. Daerah yang kumuh dan tidak Dukungan 1,635 0,483
dirawat biasanya banyak penduduknya yang 1,378 0,487
Lingkungan keluarga
mengidap penyakit seperti: gatal-gatal, infeksi Uang saku
saluran pernafasan, dan infeksi saluran
pencernaan.10 Lingkungan sosial-ekonomi yang Beban studi 1,500 0,502
meliputi tingkat pendidikan dan tingkat sosial-
ekonomi merupakan faktor yang terpenting Pada tabel 1 menunjukkan bahwa semua
faktor determinan yang memiliki rerata yang
menentukan kualitas dan kuantitas hidangan tidak jauh berbeda yang mendekati nilai tengah
keluarga. Pendapatan keluarga mempengaruhi 1,5. Hal ini menunjukkan bahwa semua faktor
daya beli dalam penyediaan makanan.12 determinan terdistribusi normal. Pada tabel 2
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis diketahui bahwa semua faktor pada determinan
perilaku dan lingkungan memberikan perbedaan
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 3
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 1-7
bermakna terhadap kejadian gastritis pada dibandingkan pelajar dengan perilaku yang baik
pelajar SMA, baik yang terjadi 1x/bulan atau dan lingkungan yang mendukung.
yang mengalami gastritis lebih dari 1x/bulan.
Tabel 2. Tabulasi Silang Faktor Perilaku dan Tabel 5. Odd Ratio (OR) Faktor Determinan
Terhadap Kejadian Gastritis Pada
Lingkungan Pelajar SMA Pelajar SMA
Kejadian Gastritis
Faktor Determinan Lebih 1x/bulan Fa k to r B Sig. OR 95% CI
1x/bulan
P HBS 0,49 0,249 1,64 0,71-3,82
Perilaku Tidak 35 (23,7%) 29 (19,6%) Kebiasaan 2,41 0,000 11,09 4,03-30,53
Ya 31 (20,9%) 53 (35,8%) sarapan
PHBS Tidak Jumlah kalori 0,23 0,602 1,26 0,53-3,01
Ya 58 (39,2%) 33 (22,3%) Kesimbangan 0,44 0,418 1,55 0,53-4,52
Keb ias aan Tidak 8 (5,4%) 49 (33,1%) gizi
s arap an Ya 37 (25%) 28 (18,9%) Ket epat an 0,36 0,492 1,43 0,52-3,96
Jumlah Tidak waktu makan
Kalori Ya 29 (19,6%) 54 (36,5%) Dukungan 0,60 0,228 1,83 0,69-4,86
Tidak 27 (18,2%) 15 (10,1%) keluarga
Kes imb angan Ya 39 (26,4%) 67 (45,3%) Uang saku 0,53 0,246 1,70 0,69-4,18
gizi Beban studi 1,44 0,001 4,22 1,74-10,23
Tidak 54 (36,5%) 56 (37,8%)
Ketepatan Ya 12 (8,1%) 26 (17,6%)
waktu makan Tidak
Lingkungan Ya 33 (22,3%) 21 (14,2%) Pengaruh faktor perilaku dan faktor
Dukungan Tidak lingkungan terhadap kejadian gastritis pada
Ya 33 (22,3%) 61 (41,2%) pelajar SMA didukung oleh hasil penelitian pada
keluarga 49 (33,1%) 43 (29,1%) tabel 5 yang menunjukkan faktor determinan
17 (11,5%) 39 (26,4%) kebiasaan tidak sarapan (OR=11,095) dan beban
Uang saku studi yang berat (OR=4,217) berperan terhadap
17 (11,5%) 57 (38,5%) kejadian gastritis pada pelajar SMA.
Beban studi 49 (33,1%) 25 (16,9%)
PHBS yang baik akan meminimalkan
Tabel 3. Pengaruh Faktor Perilaku dan terjadinya gastritis di kalangan pelajar SMA.
PHBS berhubungan erat dengan kejadian
Lingkungan Terhadap Kejadian gastritis disebabkan adanya infeksi bakteri
Helicobacter pylori melalui kebiasaan tidak
Gastritis Pada Pelajar SMA mencuci tangan sebelum makan dan sesudah
buang air besar (Suraatmaja, 2007). PHBS yang
Faktor Sig. Koef. Interpretas i rendah merupakan salah satu faktor risiko utama
Perilaku 0,009 0,348 Lemah infeksi bakteri Helicobacter pylori.8
Lingkungan 0,004 0,348 Lemah
Kebiasaan sarapan merupakan faktor
Tabel 4. Odd Ratio (OR) Faktor Perilaku utama dari perilaku yang berhubungan dengan
kejadian gastritis. Pelajar SMA yang tidak biasa
dan Lingkungan Terhadap Kejadian sarapan memiliki risiko 11x mengalami gastritis.
Kebiasaan tidak sarapan akan membuat perut
Gastritis Pada Pelajar SMA mengalami kekosongan dalam jangka waktu
lama sehingga fisik akan mudah lelah dan
Faktor B Sig. OR 95% CI konsentrasi juga sulit, sehingga hal ini dapat
mempengaruhi produktivitas kerja termasuk
Perilaku 1,65 0,000 5,22 2,38-11,45 belajar, serta dapat meningkatan asam lambung
yang berlebihan.
Lingkungan 1,48 0,000 4,40 2,05-9,44
Jumlah kalori dalam hal ini dapat
Hasil penelitian pada tabel 3 diartikan porsi pada setiap kali makan
menunjukkan bahwa faktor perilaku dan faktor
lingkungan berpengaruh lemah terhadap
kejadian gastritis pada pelajar SMA, namun
keadaan ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
Pada tabel 4 ditunjukkan bahwa pelajar SMA
yang perilakunya tidak baik berisiko 5,2x dan
yang lingkungan sekitarnya tidak mendukung
akan berisiko 4,4x akan mengalami gastritis
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 4
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 1-7
memberikan pengaruh terjadinya gastritis pada Beban studi tidak bisa dianggap kecil
pelajar, dimana pelajar yang mengalami gastritis sebagai salah satu faktor yang menimbulkan
lebih dari 1x/bulan cenderung jumlah kalorinya kejadian gastritis pada pelajar SMA. Kurikulum
kurang. Namun hal ini tidak berlaku di kalangan K-13 pada pendidikan menengah menuntut
pondok pesantren yang porsi makannya sudah pelajar untuk lebih aktif dalam proses belajar.
Beban studi yang berat akan menimbulkan stress
diatur sedemikian rupa. Artinya porsi makan berulang, dimana pada penelitian ini merupakan
tidak berhubungan dengan kejadian gastritis faktor utama dari determinan lingkungan.
pada santri pondok pesantren.13 Pelajar yang merasa beban studinya besar 4,2x
lebih mudah mengalami gastritis dibandingkan
Pada setiap kali makan sangat dengan yang tidak merasakan beban yang berat.
dianjurkan makan dengan gizi seimbang. Pelajar
Stres dapat terjadi secara psikis dan
yang makan dengan gizi tidak seimbang akan fisik. Pada stres secara psikis produksi asam
berpotensi mengalami gastrtitis lebih dari lambung akan meningkat, misalnya beban kerja
1x/bulan. Mahasiswa yang mengkonsumsi jenas berat, panik dan tergesa-gesa. Peningkatan
makanan yang kurang baik akan berpotensi 6,4x konsentrasi asam lambung akan mengiritasi
mengalami gastritis.14 Gastritis dapat terjadi mukosa lambung dan pada akhirnya
akibat terlalu banyak makanan atau minuman menyebabkan terjadinya gastritis. Pada beberapa
orang, kondisi ini tidak dapat dihindari, maka
yang bersifat merangsang asam lambung seperti kuncinya adalah bagaimana mengendalikan stres
makanan berasa pedas, asam, kopi dan alkohol, secara efektif yang salah satunya dengan cara
serta bersoda. Makanan dan minuman ini akan diet sesuai dengan kebutuhan nutrisi, istirahat
melemahkan daya tahan dinding lambung cukup, olah raga teratur dan relaksasi yang
terhadap serangan sehingga menimbulkan cukup.18 Remaja memiliki kecenderungan untuk
nyeri.15 mengalami gejolak emosi yang tinggi sehingga
memicu terjadinya stres dan mengalami kejadian
Pelajar SMA yang waktu makannya gastritis.19 Oleh karena itu dibutuhkan peran
tidak teratur akan mudah mengalami gastritis tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi
baik itu 1x.bulan maupun yang lebih dari tentang perkembangan remaja dan cara
1x/bulan. Frekuensi makan yang tidak teratur mengatasi stres secara lebih adaptif.
atau tidak baik akan meningkatkan risiko
terjadinya gastritis 3,3x.14 Lambung akan terus Ke s impulan
memproduksi asam lambung dalam jumlah Faktor perilaku khususnya kebiasaan
kecil. Pada 4-6 jam sesudah makan glukosa
dalam darah telah banyak terserap dan terpakai tidak sarapan dan faktor lingkungan terkait
sehingga tubuh akan merasakan lapar dan pada dengan beban studi yang berap pada pelajar
SMA berpengaruh menyebabkan terjadinya
saat itu jumlah asam lambung terstimulasi. penyakit gastritis. Kedua faktor ini pada
Orang yang terlambat makan dalam 2-3 jam, dasarnya dapat dikendalikan dengan
maka asam lambung yang diproduksi semakin meningkatkan upaya promotif kepada pelajar di
banyak dan berlebih sehingga akan mengiritasi tingkat SMA sehingga kasus gastritis dapat
mukosa lambung dan menimbulkan rasa nyeri di dicegah.
sekitar epigastrium.16
Ucapan Terima Kasih
Dukungan keluarga memberikan Terima kasih kepada kepala sekolah
perbedaan bermakna terhadap kejadian gastritis
pada remaja. Sebagian besar pelajar yang SMA Negeri 2 Malang beserta seluruh dewan
mengalami gastritis hanya 1x/bulan memiliki guru dan semua pelajar yang terlibat dalam
dukungan kelaurga yang baik. Dukungan penelitian ini sehingga dapat dilakukan analisis
keluarga akan meminimalkan kekambuhan
kejadian gastritis, khususnya dukungan secara
emosional.17
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 5
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 1-7
terhadap faktor perilaku dan faktor lingkungan https://doi.org/10.22088/cjim.8.3.146.
yang berpengaruh terhadap kejadian gastritis
pada pelajar SMA. 9. Dynhoven YTHP, Jonge R. Transmission of
Re fe re ns i Helicobacter pylori: A Role for Food?
1. Depkes. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Bulletin of The World Health Organization
Departemen Kesehatan Republik Indonesia;
2015. [Internet]. 2001 [cited 2020 June
2. Lee Y, Liou J, Wu M, Wu C, Lin J. Review: 08];79(5):455-460. Available from:
Eradication of Helicobacter pylori to
Prevent Gastroduodenal Disease. https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10
Therapeutic Advances in Gastroenterology
[Internet]. 2014 [cited 2020 June 665/74735/bu0350.pdf?sequence=1&isAllo
09];1(2):111-120. Available from:
https://www.syracusegastro.com/docs/Gastri wed=y.
tis_508.pdf.
10. Budiman. Buku Ajar Isu Tataran Kesehatan
3. Mawey BK, Kaawoan A, Bidjuni H.
Hubungan Kebiasaan Makan Dengan Masyarakat. Bandung: Refika Aditama;
Pencegahan Gastritis Pada Siswa Kelas X di
SMA Negeri 1 Likupang. Jurnal 2015.
Keperawatan [Internet]. 2014 [cited 2020
June 08];2(2):l-6. Available from: 11. Setyawan FEB. Ilmu Kesehatan Masyarakat.
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/ar
ticle/view/5215. Lab KKI. Malang; 2016.
4. Sherwood L. Fisiologi Manusia: Dari Sel Ke 12. Farida I. Determinan Kejadian Anemia Pada
Sistem. Jakarta: EGC; 2014.
Remaja Putri Di Kecamatan Gebog
5. Widmaier EP, Raff H, Strang KT. Vander’s
Human Physiology: The Mechanisms of Kabupaten Kudus Tahun 2006 [Tesis].
Body Function, Fourteenth Edition. New
York: Mc Graw-Hill Education; 2014. Semarang: Program Studi Magister Gizi
6. Saydam. Memahami Berbagai Penyakit Masyarakat Pascasarjana UNDIP; 2007.
(Penyakit Pernapasan dan Gangguan
Pencernaan). Bandung: Alfabeta; 2011. 13. Pratiwi W. Hubungan Pola Makan dengan
7. Damayanti L, Putranto BE, Sadhana U. Gastritis pada Remaja di Pondok Pesantren
Ekspresi Anti-Helicobacter Pylori Pada
Gastritis Kronis, Lesi Prakanker, dan Daar El-Qolam Gintung, Jayanti, Tangerang
Karsinoma Gaster. Biomedika [Internet].
2015 Agustus [cited 2020 June 09];7(2):20- [Skripsi]. 2015 Januari 28 [cited 2020 June
26. Available from:
http://dx.doi.org/10.23917/biomedika.v7i2.1 09]. Available from:
896.
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/1
8. Zamani M, Vahedi A, Maghdouri Z,
Shirvani JS. Role of Food in Environmental 23456789/25709.
Transmission of Helicobacter pylori.
Caspian Journal of Internal Medicine 14. Hartati S, Cahyaningsih E. Hubungan
[Internet]. Summer 2017 [cited 2020 June
09];8(3):146-152. Available from: Perilaku Makan Dengan Kejadian Gastritis
Pada Mahasiswa Akper Manggala Husada
Jakarta Tahun 2013. Jurnal Keperawatan
[Internet]. 2013 [cited 2020 June 08];
6(1):51-56. Available from:
https://media.neliti.com/media/publications/
138400-ID-hubungan-perilaku-makan-
dengan-kejadian.pdf.
15. Maulidiyah U. Hubungan Antara Stres dan
Kebiasaan Makan Dengan Terjadinya
kekambuhan Penyakit Gastritis [Skripsi].
2006 [cited 2020 June 09]. Available from:
http://repository.unair.ac.id/23458/2/gdlhub-
gdl-s1-2006-maulidiyah-1422-
fkm.11_06.pdf.
16. Khasanah N. Waspadai Beragam Penyakit
Degeneratif Akibat Pola Makan.
Yogyakarta: Laksamana; 2012.
17. Handayani S, Kosasih C.A, Priambodo P.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 6
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 1-7
Kekambuhan Pasien Gastritis di Puskesmas
Jatinangor. Students e-Journals [internet].
2012 [cited 2020 June 07];1(1):1-15.
Available from:
http://jurnal.unpad.ac.id/ejournal/article/vie
w/595.
18. Puri A, Suyanto. Hubungan Faktor Stres
Dengan Kejadian Gastritis Pada Mahasiswa
Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang.
Jurnal Keperawatan [Internet]. 2012 April
[cited 2020 June 09];7(1):66-71. Available
from: https://adoc.tips/jurnal-keperawatan-
volume-viii-no-1-april-2012-
issn73efef5c07ca089c3b7c866a7fdd136633
680.html.
19. Saroinsong M, Palandeng H, Bidjuni H.
Hubungan Stres Dengan Kejadian Gastritis
Pada Remaja Kelas XI IPA Di SMA Negeri
9 Manado. Jurnal Keperawatan [Internet].
2014 [cited 2020 June 09];2(2):1-6.
Available from:
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/ar
ticle/view/5253.
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 7
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 8-14
Relasi, interaksi dan komunikasi interpersonal dokter-pasien
dalam pelayanan kesehatan
Joko Febriantoro1*
1Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Malang
ABSTRAK
Relasi dokter-pasien didasarkan pada kualitas komunikasi dan interaksi yang baik dengan pasien, sehingga tidak
hanya mampu membantu mempercepat proses penyembuhan, tetapi juga membuat pasien merasa nyaman sejak
kunjungan pertama ke pelayanan kesehatan. Saat menghadapi pasien anak, kemampuan membina hubungan saling
percaya dilakukan dengan sikap yang lebih terbuka, jujur dan mengerti apa yang sedang mereka rasakan.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran secara nyata tentang relasi, interaksi dan komunikasi
interpersonal antara dokter-pasien dalam pelayanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan studi deskriptif
kualitatif dimana data diperoleh melalui transkrip wawancara, catatan data observasi lapangan dan dokumentasi
foto. Sejumlah 7 partisipan diperoleh melalui teknik purposive-sampling pada dokter spesialis anak yang sehari-
harinya terbiasa melakukan relasi, interaksi dan komunikasi efektif pada pasien anak, keluarga maupun
pengantarnya. Data selanjutnya dianalisis menggunakan metode Miles dan Huberman. Hasil penelitian
menunjukkan tiga aspek penting terkait relasi, interaksi dan komunikasi interpersonal antara dokter pasien dalam
hal melakukan edukasi, memberikan hiburan dan menguatkan motivasi pasien selama berada dalam pelayanan
kesehatan. Komunikasi interpersonal yang efektif membutuhkan peran dokter yang optimal sebagai komunikator
untuk menyampaikan pesan kepada pasien maupun keluarga atau pengantar pasien. Selain itu, relasi komunikasi
antara dokter-pasien seharusnya bersifat terapeutik terutama pada pasien yang masih berusia anak-anak sehingga
mereka tidak merasa ketakutan selama berada di layanan kesehatan yang pada akhirnya berdampak pada
perkembangan kesembuhan pasien.
Kata kunci: relasi; interaksi; komunikasi interpersonal; dokter-pasien
ABSTRACT
Introduction: The doctor-patient relationship is based on good qualityof communication and interaction with the
patient, so that it not only can help speed up the healing process, but also make the patient feel comfortable since
the first visit to the health service. When dealing with pediatric patients, theabilityto build a relationship of mutual
trust is done with a more open, honest attitudeand understanding what they are feeling. Aim of study: This study
aims to see a real picture of the relationships, interactions and interpersonal communication between doctors and
patients in health care. Method: This study uses a qualitative descriptive study where data is obtained through
interview transcripts, field observation data notes and photo documentation. A total of 7 participants wereobtained
through a purposive sampling techniqueon pediatricians who are accustomed to engaging in effective relationships,
interactions and communication with pediatric patients, families and introductors. Data were then analyzed using
the Miles and Huberman method. Results and Discussions: The results showed three important aspects related to
relations, interactions and interpersonal communication between patient physicians in terms of educating,
providing entertainment and strengthening patient motivation while in health care. Conclusions: Effective
interpersonal communication requires the optimal roleof the doctor as a communicator to deliver messages to the
patient or familyor patient introduction. In addition, thecommunication relationship between doctor and patient
should be therapeutic, especially in patients who are still children so that they do not feel scared while in health
care, which in turn has an impact on the development of patient recovery.
Keywords: relationship; interaction; interpersonal communication; doctor-patient
*Korespondensi penulis:
Nama : Joko Febriantoro
Instansi : Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Malang
Alamat : Jl. Bendungan Sutami 188A, Malang, Jawa Timur, Telp.: +62-341-552443/+62-341-582260
Email : [email protected]
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 8
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 8-14
Pe ndahuluan medisnya dan secara aktif mampu merawat diri
mereka sendiri. Komunikasi yang efektif antara
Relasi antara dokter-pasien adalah dokter-pasien dapat meningkatkan kenyamanan
hubungan yang terjadi secara profesional. Rasa pasien selain faktor lainnya seperti perilaku
saling percaya merupakan aspek fundamental dokter, ketersediaan informasi yang akurat,
dalam relasi ini. Ketika pasien mempercayai sikap empati dan kepercayaan.4
seorang dokter untuk menangani masalah
kesehatannya, artinya pasien yakin dan percaya Untuk menciptakan relasi dan interaksi
sepenuhnya pada dokter dalam mengelola yang sehat antara dokter-pasien, bukan hanya
penyakitnya. Sebagai konsekuensinya, dokter faktor waktu yang diperhitungkan tetapi juga
dituntut agar dapat menerapkan ilmu dan kualitas komunikasi. Pasien dapat menilai dokter
kemampuannya sesuai dengan standar dan kode melalui kemampuan dokter saat mendengarkan,
etik kedokteran yang berlaku. Terdapat beberapa memahami dan menerima keluhan yang mereka
faktor yang dapat mempengaruhi relasi dokter- rasakan. Kemampuan dokter dalam memberikan
pasien yaitu komunikasi, faktor sosial, budaya, edukasi tentang kondisi kesehatan mereka
latar belakang pendidikan, pengalaman mampu membantu pasien menjadi lebih realistis
sebelumnya, usia dan sikap.1 dan memiliki motivasi untuk sembuh.5
Komunikasi merupakan aspek utama Dokter harus memahami apa yang
dalam relasi antara dokter-pasien. Melalui dikeluhkan oleh pasien, terutama jika yang
komunikasi, pasien dapat menyampaikan apa dihadapi adalah pasien anak. Mengapa hal ini
yang ada di dalam pikirannya, mengungkapkan menjadi penting, karena pada umumnya
pendapat dan bersikap yang baik saat komunikasi yang terjadi antara dokter-pasien
berinteraksi dengan dokter maupun petugas terbilang singkat dimana dokter hanya
medis lainnya. Hal ini dapat berarti bahwa relasi menanyakan masalah pasien dalam waktu yang
dokter-pasien terjadi melalui proses komunikasi singkat. Seringkali pasien anak merasakan
dimana terjadi hubungan timbal balik antara kesulitan untuk berinteraksi dengan dokter
kedua belah pihak. Komunikasi yang dilakukan karena waktu yang singkat saat berdiskusi,
secara efektif akan memengaruhi kesembuhan padahal komunikasi efektif membantu dokter
pasien.2 agar lebih memahami keluhan pasien.
Relasi dokter-pasien didasarkan pada Komunikasi memang bukan hal yang
kualitas komunikasi dan interaksi yang baik mudah, karena dokter harus mampu menggali
dengan pasien, sehingga tidak hanya mampu masalah pasien secara akurat. Saat menghadapi
membantu mempercepat proses penyembuhan, pasien anak, kemampuan membina hubungan
tetapi juga membuat pasien merasa nyaman saling percaya dilakukan dengan sikap yang
sejak kunjungan pertama ke pelayanan lebih terbuka, jujur dan mengerti apa yang
kesehatan. Relasi dokter-pasien juga sedang mereka rasakan. Selanjutnya anak akan
menentukan kualitas pelayanan kesehatan dan merasa lebih nyaman dengan dokter dan
mengembangkan paradigma medis dalam memberikan informasi yang benar sehingga
pengelolaan pasien.3 dapat membantu dokter dalam mengelola
masalah kesehatan anak secara lebih tepat.
Relasi, interaksi dan komunikasi Penelitian terdahulu yang dilakukan secara
interpersonal antara dokter-pasien tidak hanya kualitatif terkait relasi dokter-pasien anak
dilakukan untuk memahami penyakit pasien, masihlah sedikit, sehingga penelitian ini
tetapi bertujuan agar dokter dapat lebih bertujuan untuk melihat gambaran secara nyata
memahami pasien sebagai individu dengan tentang relasi, interaksi dan komunikasi
memperhatikan kebutuhan pasien daripada interpersonal antara dokter-pasien dalam
kondisi penyakitnya. Hal ini juga dapat pelayanan kesehatan.
membantu pasien dalam memahami kondisi
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 9
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 8-14
Relasi, interaksi, komunikasi interpersonal
M e todologi dalam melakukan edukasi
Penelitian ini menggunakan studi
Edukasi merupakan hal penting dalam
deskriptif kualitatif dimana data diperoleh
melalui transkrip wawancara, catatan data relasi, interaksi dan komunikasi interpersonal
observasi lapangan dan dokumentasi foto.
Metode kualitatif digunakan karena penelitian dokter-pasien. Dalam penelitian ini dipandang
ini ingin melihat gambaran secara nyata tentang
relasi, interaksi dan komunikasi interpersonal bahwa komunikasi interpersonal yang terjadi
antara dokter-pasien dalam pelayanan kesehatan.
Sejumlah 7 partisipan diperoleh melalui teknik digambarkan seperti edukasi yang dilakukan
purposive-sampling pada dokter spesialis anak
yang sehari-harinya terbiasa melakukan relasi, oleh seorang guru kepada muridnya. Hal ini
interaksi dan komunikasi efektif pada pasien
anak, keluarga maupun pengantarnya. dapat terlihat pada bentuk relasi yang terjadi
Penelitian ini dilakukan di poli anak dimana dokter berperan sebagai guru pada
karena pada populasi ini dokter harus lebih
berhati-hati dalam melakukan komunikasi agar pasien.
anak tidak mengalami trauma saat berada di
layanan kesehatan. Analisis data menggunakan Peran sebagai guru pada pasien
metode Miles dan Huberman melalui
pendekatan analisis interaktif untuk digambarkan saat dokter memberikan edukasi
menggambarkan data secara lebih sistematis dan
akurat. Beberapa tahapan metode Miles dan tentang penyakit pasien melalui penegakan
Huberman meliputi: 1) mengumpulkan data
dengan melakukan wawancara, observasi dan diagnosa, penetapan rencana tindakan maupun
dokumentasi lapangan, 2) melakukan reduksi
data dengan mengelompokkan, membuang data pengobatan dengan melibatkan pasien dalam
yang tidak perlu, dan melakukan
pengorganisasian data sehingga dapat ditarik pengambilan keputusan. Namun demikian,
kesimpulan, 3) menyajikan data untuk
memahami apa yang terjadi dan harus dilakukan pasien dapat menyetujui atau menolak rencana
pada hasil yang diperoleh, dan 4) membuat
kesimpulan secara terbuka.6 Penelitian ini tindakan yang akan dilakukan dikarenakan
menggunakan triangulasi metode dengan
mengkaji ulang data yang diperoleh dengan faktor lainnya seperti kecukupan biaya dan
sumber data yang sama melalui metode
pengumpulan data yang berbeda. Pengkajian lamanya rencana tindakan yang akan diberikan.
ulang selanjutnya dilakukan pada hasil
wawancara, data observasi dengan partisipan. Peran dokter lainnya tampak ketika
Hasil dan Pembahasan menerangkan penyakit pasien. Dalam hal ini
Berdasarkan hasil wawancara pada
pasien dianggap sebagai gambaran kehidupan
sejumlah partisipan tersebut diperoleh tiga aspek
penting dalam hal relasi, interaksi, komunikasi sehari-hari yang dihadapi oleh seorang dokter,
interpersonal antara dokter-pasien:
sehingga melakukan edukasi kepada pasien
merupakan kewajibannya. Dokter lebih
menyukai pasien yang mudah diajak dalam
berkomunikasi, memiliki sikap yang terbuka,
dan menerima masalah kesehatannya.
Relasi, interaksi, komunikasi
interpersonal dalam melakukan edukasi adalah
pertukaran informasi dari komunikator pada
komunikan dalam hal pemberian edukasi. Saat
wawancara, peneliti menanyakan tentang apa
dan bagaimana yang dilakukan dokter spesialis
anak pada pasiennya agar tidak merasa takut
dengan dokter. Melalui wawancara tersebut
diintepretasikan bahwa seorang dokter bukan
sosok yang seharusnya ditakuti anak seperti
yang seringkali dijadikan sebagai ancaman
orang tua untuk menakuti anak agar anak lebih
patuh. Partisipan menunjukkan tentang
kredibilitas dokter yang mampu memberikan
penjelasan, sikap yang lebih bersahabat sehingga
tidak takut dengan dokter dan memiliki
gambaran yang baik tentang dokter. Berikut
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 10
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 8-14
adalah kutipan hasil wawancara dengan Hasil wawancara menunjukkan
partisipan: gambaran seorang dokter anak yang menjadi
teman ataupun guru dimana dalam hal ini dokter
“ee…ya harus ngerti usianya dahulu… bisa harus memiliki sikap yang lebih bersahabat
diajak berkomunikasi nggak,…kalo bisa dengan pasien anak melalui komunikasi efektif.
diajak ya kami berikan penjelasan dengan Memberikan pemahaman anak terhadap alat-alat
mengenalkan diri, tidak menakut-nakuti… yang digunakan akan mengurangi rasa ketakutan
bahkan kami memposisikan sebagai orang anak terhadap dokter. Adapun kendala yang
yang bersahabat …”(P1) dihadapi dokter saat melakukan komunikasi
dengan keluarga ataupun pengantar pasien
“ya penting itu……menunjukkan bahwa tampak pada jawaban dari partisipan sebagai
dokter bukan sosok untuk ditakuti….saya berikut:
lebih mengajak komunikasi….menghibur…..
berinteraksi….dan sebagainya.”(P2)
Partisipan berusaha menunjukkan “Biasa sih….akan bingung menerima
bahwa sosok dokter seharusnya tidak dipandang penjelasan dari kami kalo pake….bahasa
sebagai orang yang ditakuti. Hal ini dilakukan medis…”(P3)
untuk merubah pemikiran masyarakat bahwa
dokter adalah sosok yang bersahabat dan bisa “….yang jadi kendala itu…bahasa medis.
membantu menyembuhkan kondisi pasien. ya kami harus mengulangnya berkali-
Relasi, interaksi dan komunikasi interpersonal kali...” (P4)
dokter-pasien dalam hal edukasi pada pasien
adalah dengan mengenalkan dokter sebagai Kendala yang dihadapi dokter dalam
sosok yang tidak menakutkan.
melakukan komunikasi yaitu penggunaan bahasa
Komunikasi yang efektif merupakan
prioritas utama dalam pelayanan dokter pada medis. Dokter harus memiliki kemampuan untuk
pasien. Dokter diharapkan mampu menjadi
komunikator yang baik selama proses menjelaskan dengan menggunakan bahasa lebih
komunikasi. Komunikasi dilakukan dengan
memberikan informasi yang akurat agar tidak mudah dimengerti. Proses penyampaian pesan
menyebabkan salah persepsi. Hal ini dapat
terlihat pada wawancara dengan partisipan merupakan salah satu indikator penting yang
sebagai berikut:
menunjang keberhasilan komunikasi. Pesan
“…kami…dokter harus memiliki
kemampuan dalam berkomunikasi kepada berperan penting dalam menjembatani maksud
pasien….memberikan edukasi….pada
pasien tentang penyakitnya….kalo sampai yang ingin disampaikan oleh komunikator pada
salah informasi, akan fatal…”(P1)
komunikan.
“untuk pasien ini…kita harus bisa jadi
teman mereka, bahkan jadi guru….harus Begitupun yang terjadi pada relasi,
bisa memperkenalkan diri….bisa
bersahabat agar mereka tidak takut… juga interaksi dan komunikasi interpersonal dokter
mengenalkan alat-alat yang kita
pakai….seperti stetoskop, jarum suntik… dalam melakukan edukasi pada pasien. Sebagai
agar mereka mau menerima…dan tidak
rewel….”(P2) seorang komunikator yang baik, dokter
diharapkan mampu memahami kepada siapa dan
cara yang baik dalam menyampaikan pesan pada
pasien sebagai komunikan. Dalam melakukan
edukasi, perlu adanya pemaparan tentang peran
dokter dan gambaran dokter sebagai sosok yang
tidak menakutkan anak sehingga mereka
menjadi lebih kooperatif dan tidak mengalami
trauma selama berada di pelayanan kesehatan.
Dokter dituntut memiliki
profesionalisme yang tinggi dan menjalankan
profesi sesuai dengan keahlian yang dimiliki
yaitu menyembuhkan pasien dengan melakukan
komunikasi efektif dalam menjelaskan kondisi
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 11
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 8-14
pasien dan menggunakan bahasa yang lebih saat diperiksa menjadi hambatan tersendiri
mudah dipahami. Hal ini dilakukan karena selama proses pemeriksaan. Beberapa upaya
dokter juga berperan sebagai seorang konsultan untuk meningkatkan kenyamanan anak
tentang penyakit pasien. Komunikasi medis digambarkan sebagai berikut:
dokter dilakukan dalam bentuk lisan dan tertulis
untuk mendokumentasikan apa saja yang sudah ”kalau poli anak…rumah sakit mendesain
dilakukan dokter dalam menangani penyakit
pasien. Dokumentasi dilakukan untuk poli agar lebih disukai oleh anak -anak….
meningkatkan keselamatan pasien dan
mencegah tuduhan malpraktik. ada gambar kartun…supaya anak bisa
Dengan demikian, dokter harus bisa teralihk an perhatiannya saat
melakukan edukasi baik secara langsung
maupun tidak langsung kepada pasien, keluarga diperik sa …”( P6)
maupun pengantarnya melalui tahapan
perkenalan, anamnesis, maupun melalui “…ruangan diberi gambar kartun yang
penjelasan yang akurat untuk mengurangi
kesalahpahaman pasien. sesuai yang disukai anak….agar mereka
Relasi, interaksi, komunikasi interpersonal senang…”(P7)
dalam memberikan hiburan
Rumah sakit juga meningkatkan
Seringkali kita mendengar bahwa rumah
sakit, petugas medis ataupun dokter sebagai kenyamanan pasien anak dengan memberikan
sebuah idiom kata yang bersifat menakutkan,
seperti…“kalau nakal nanti disuntik dokter lo desain khusus pada poli anak. Hal ini
ya…” dan sebagainya. Hal ini selanjutnya
menjadi stimulus yang negatif dalam pemikiran menunjukkan bahwa relasi, interaksi,
anak anak dimana dokter dianggap sebagai sosol
yang menakutkan. Dalam wawancara, komunikasi interpersonal dalam memberikan
partisipan ditanyakan tentang upaya mereka saat
menghadapi pasien yang rewel dan menangis. hiburan sudah tercipta dengan baik. Desain
“Ya…kita menenangkannya, lagian ini juga ruangan praktik dokter juga sudah memberikan
sudah resiko seorang dokter anak ….. harus
bisa bersikap baik…..biasanya….mengajak kesan menyenangkan dengan adanya gambar
ngobrol…mengalihkan perhatiannya….di
“kudang” ya mas, biar dia ga takut dan kartun.
nangis…ya sama keluarganya juga
bantu..”(P2) Relasi, interaksi, komunikasi
“….ya dikudang….dihibur biar ga interpersonal dalam memberikan hiburan dapat
nangis….baru periksa pelan-pelan….ya
reflek aja …. dokter juga harus ngerti cara diintepretasikan sebagai sebuah interaksi dokter
dan gimana komunikasi dengan anak…”
(P5) dan pasien dalam konteks hiburan. Dokter anak
Dokter dapat bekerjasama dengan melakukan upayanya untuk menghibur pasien
keluarga atau pengantar pasien anak agar lebih
merasa tenang, karena anak yang rewel ataupun saat mereka rewel, atau menangis. Melakukan
komunikasi secara non verbal dengan
menghibur anak membuat anak tidak rewel dan
takut dengan dokter.
Untuk mengurangi kesan menakutkan,
baju seragam dokter yang serba berwarna putih
juga dapat diganti dengan menggunakan baju
yang lebih santai, mendesain ruangan
sedemikian rupa untuk mengalihkan perhatian
anak, membuat anak lebih familiar dengan alat
yang digunakan dokter, dan lain sebagainya.
Relasi, interaksi, komunikasi interpersonal
dalam menguatkan motivasi
Selain melakukan edukasi dan
memberikan hiburan, dokter diharuskan mampu
memberikan motivasi pada pasien untuk
meningkatkan kesembuhan anak. Berikut adalah
hasil wawancara dengan partisipan:
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 12
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 8-14
“yaa…biasanya lebih memberikan pasien yang baik, maka pasien akan mencapai
perhatian pasien……memberikan semangat status kesehatan yang optimal.1,10
agar jangan menyerah….(P2)
Menguatkan motivasi dilakukan melalui Ke s impulan
pesan yang disampaikan oleh dokter. Biasanya Komunikasi interpersonal yang efektif
membutuhkan peran dokter yang optimal
pesan ini diberikan setelah dokter selesai sebagai komunikator untuk menyampaikan
pesan kepada pasien maupun keluarga atau
menjelaskan hasil pemeriksaan pada pasien. pengantar pasien. Selain itu, relasi komunikasi
antara dokter-pasien seharusnya bersifat
Motivasi yang diberikan dapat meningkatkan terapeutik terutama pada pasien yang masih
berusia anak-anak sehingga mereka tidak merasa
semangat pasien sehingga dapat membantu ketakutan selama berada di layanan kesehatan
yang pada akhirnya berdampak pada
mempercepat proses kesembuhan pasien. Dokter perkembangan kesembuhan pasien.
dapat memberikan dorongan pada keluarga
pasien agar lebih sabar dan telaten dalam
merawat pasien.
Relasi, interaksi, komunikasi
interpersonal dalam menguatkan motivasi
dilakukan dengan meningkatkan semangat Ucapan Terima Kasih
pasien melalui sikap yang terbuka dan ramah. Penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada Fakultas Kedokteran,
Studi sebelumnya menjelaskan bahwa sikap Universitas Muhammadiyah Malang atas
dukungannya selama penulisan artikel ini.
keterbukaan dapat menstimulus pasien untuk
menceritakan masalahnya secara lebih nyaman
dan tidak ada yang ditutupi. Dalam hal ini
berarti komunikasi seharusnya terjadi secara Re fe re ns i
timbal balik dimana baik dokter dan pasien
harus bisa bersikap terbuka dalam melakukan 1. Setyawan FEB. Komunikasi Medis:
komunikasi.7 Adanya umpan balik merupakan
Hubungan Dokter-Pasien. Jurnal Berkala
kelanjutan dari sebuah proses komunikasi Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan [Internet].
sehingga pasien akan mengikuti anjuran dokter.8
2017 [cited 2020 Jun 1];1(4):51-57.
Dalam membina relasi dengan pasien, Available from:
dokter diharapkan mampu bersikap hangat, https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/APKK
terbuka, jujur, menghargai, menjaga privasi, M/article/view/3282.
meningkatkan otonomi pasien dan peduli pada 2. Prasanti D. Komunikasi Terapeutik Tenaga
pasien. Interaksi dilakukan dengan menjaga Medis tentang Obat Tradisionalbagi
kontak mata, menjadi pendengar aktif dan Masyarakat. MediaTor [Internet]. 2017 Jun
menggunakan bahasa yang lebih mudah [cited 2020 Jun 1];10(1):53-64. Available
dipahami pasien untuk meningkatkan partisipasi from:
pasien dalam proses kesembuhannya.9 Relasi
https://media.neliti.com/media/publications/
yang terjadi antara dokter-pasien adalah relasi 154026-ID-komunikasi-terapeutik-tenaga-
yang saling membutuhkan dan bersifat terikat medis-dalam.pdf.
karena adanya kecenderungan individu yang 3. Tanveer F, Shahid S, Hafeez MM. Impact of
Doctor’s Interpersonal Communication Skill
sakit akan melakukan pengobatan ke dokter. on Patient’s Satisfaction Level. Isra Medical
Begitupula saat individu dalam kondisi sehat,
dokter tetap dibutuhkan untuk memberikan Journal [Internet]. 2018 Sep [cited 2020 Jun
upaya kesehatan yang bersifat promotif dan 1];10(5):306-309. Available from:
preventif. Sehingga komunikasi yang https://www.researchgate.net/publication/32
disampaikan oleh dokter haruslah tepat agar 5603811.
tidak terjadi kesalahpahaman. Melalui relasi, 4. Pasaribu BS, Aulia D, Rochadi RK. Effect
interaksi, komunikasi interpersonal dokter- of Doctor's Interpersonal Communication on
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 13
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 8-14
Patient Satisfaction at Royal Prima General Membantu Penyembuhan Pasien di Klinik
Cendana. Koneksi [Internet]. 2019 [cited
Hospital Medan. International Journal of 2020 Jun 1];3(1):71-76. Available from:
http://dx.doi.org/10.24912/kn.v3i1.6147.
Research and Review [Internet]. 2019 Nov
[cited 2020 Jun 1];6(11):162-187. Available
from:
https://www.ijrrjournal.com/IJRR_Vol.6_Iss
ue.11_Nov2019/IJRR0023.pdf.
5. Curković M, Milošević M, Borovečki A,
Mustajbegović J. Physicians' interpersonal
relationships and professional standing seen
through the eyes of the general public in
Croatia. Patient Prefer Adherence [Internet].
2014 Aug [cited 2020 Jun 1];8:1135-42.
Available from:
https://doi/org/10.2147/PPA.S65456.
6. Ilyas I. Pendidikan Karakter Melalui
Homeschooling. Journal of Nonformal
Education [Internet]. 2016 [cited 2020 Jun
1];2(1):91-98. Available from:
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jne/
article/view/5316.
7. Liow D, Himpong M, Waleleng G. Peran
Komunikasi Antara Dokter dan Pasien
dalam Pelayanan Medis di Klinik Reci Desa
Sinisir Kecamatan Modoinding. Acta Diurna
Komunikasi [Internet]. 2020 [cited 2020 Jun
1];2(1):1-14. Available from:
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/actadi
urnakomunikasi/article/view/27074.
8. Manoppo HB, Mewengkang NN, Koagouw
FVIA. Studi Komunikasi Interpersonal
Pasien Rumah Sakit Bethesda Tomohon
Instalasi Rawat Jalan Poliklinik
Kandungan/Kebidanan. Acta Diurna
Komunikasi [Internet]. 2014 [cited 2020 Jun
1];3(2):1-8. Available from:
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/actadi
urnakomunikasi/article/view/5141.
9. Larasati TA. Komunikasi Dokter-Pasien
Berfokus Pasien pada Pelayanan Kesehatan
Primer. Jurnal Kedokteran Universitas
Lampung [Internet]. 2019 [cited 2020 Jun
1];3(1):160-166. Available from:
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php
/JK/article/view/2221.
10. Panitra TD, Tamburian HHD. Komunikasi
Antarpribadi Dokter Dengan Pasien dalam
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 14
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 15-21
Studi tingkat pengetahuan mengenai vitamin D pada
pengemudi becak di Surabaya
Rivan Virlando Suryadinata1*, Amelia Lorensia2, Dwi Wahyuningtyas2
1Fakultas Kedokteran, Universitas Surabaya, Surabaya
2 Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya, Surabaya
ABSTRAK
Kekurangan vitamin D dalam tubuh sering dihubungkan dengan berbagai macam penyakit terutama terhadap
penyakit pernapasan. Hal tersebut dapat diperburuk dengan kondisi polusi udara dan merokok. Selain itu, tingkat
Pendidikan dan perubahan pola gaya hidup di masyarakat seperti cara pengolahan makanan, konsumsi, kurangnya
aktivitas fisik dan lingkungan social semakin memperberat resiko kekurangan vitamin D. Salah satu mata
pencaharian yang beresiko mengalami kekurangan vitamin D adalah pengemudi becak. Pengetahuan akan
pentingnya peranan vitamin D pada kelompok beresiko dibutuhkan untuk dapat meningkatkan kesadaran, sehingga
dapat memberikan pencegahan secara mandiri. Pencegahan secara mandiri dapat terlaksana dengan baik, apabila
masyarakat memiliki pemahana dan pengetahuan yang benar terhadap vitamin D. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui tingkat pengetahuan akan pentingnya vitamin D pada pengemudi becak di Surabaya. Pe nelitian
ini merupakan penelitian observational dengan metode cross sectional melalui pingisian kuisiner pengetahuan
viyamin D. Hasil penelitian yang telah diperoleh akan dijabarkan secara deskriptif untuk melihat gambaran
pengetahuan pengemudi becak di Surabaya. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan purposive sampling.
Sampel yang digunakan sebanyak 150 orang pengemudi becak di Surabaya. Hasil penelitian memperlihatkan
bahwa pengemudi becak memiliki tingkat pengetahuan yang rendah terhadap pengetahuan akan pentingnya vitamin
D terhadap kesehatan. simpulan berbagai macam faktor dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan vitamin D
terhadap pengemudi becak, sehingga dibutuhkan intervensi yang yang tepat.
Kata kunci: pengetahuan; vitamin D; pengemudi becak
ABSTRACT
Introduction: Lack of vitamin D in the bodyis often associated with various diseases, especiallyagainst respiratory
diseases. This can be exacerbated by conditions of air pollution and smoking. In addition, thelevel of education and
changes in lifestyle patterns in thecommunitysuch as food processing, consumption, lack of physical activity and
social environment further aggravatethe risk of vitamin D deficiency. One of the livelihoods at risk of experiencing
vitamin D deficiency is a pedicab driver. Knowledge of the importance of the role of vitamin D in risk groups is
needed to increase awareness, provideprevention independently. Prevention can be carried out independently, if
the communityhas thecorrect understanding and knowledge of vitamin D. Aim of the study: The purpose of this
study is to determine thelevel of knowledgeof the importance of vitamin D in pedicap drivers in Surabaya. Method:
This research is an observational study with cross sectional method through thefilling of the vitamin D. knowledge
questionnaire. Results and Discussions: The results of the research that have been obtained will be described
descriptively to see thedescription of the knowledge of pedicap drivers in Surabaya. The sampling technique in this
study used purposive sampling. The sampleused was 150 pedicap drivers in Surabaya. The results showed that
pedicab drivers have a low level of knowledge about the importance of vitamin D to health. Conclusion:
Conclusions of various factors can influencethe level of vitamin D knowledge of pedicab drivers, so that the right
intervention is needed.
Keywords: knowledge; vitamin D; pedicap drivers
*Korespondensi penulis:
Nama : Rivan Virlando Suryadinata
Instansi : Fakultas Kedokteran, Universitas Surabaya (UBAYA)
Alamat : Jl. Tenggilis Mejoyo, Kali Rungkut, Kec. Rungkut, Kota SBY, Jawa Timur 60293/+6-231-2981000.
Email : [email protected].
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 15
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 15-21
Pe ndahuluan hidroksilasi secara berurutan yaitu pertama di
hati (25[OH]D) dan kemudian di ginjal yang
Kondisi kekurangan vitamin D hamper mengarah ke bentuk biologis aktifnya 1,25-
mempengaruhi separuh populasi didunia, dihidroksivitamin D (1,25[OH]2D).6 Selanjutnya
diperkirakan hampir semua etnis dan kelompok 1,25 [OH]2D akan berikatan dengan reseptor
umur mengalami kekurangan vitamin D.
Berbagai macam faktor diduga menjadi vitamin D (VDR), yang dapat meningkatkan
penyebab terjadinya kekurangan vitamin D penyerapan kalsium dan fosfor usus.7 Vitamin D
seperti gaya hidup dan kondisi lingkungan.1 juga aktif terlibat dalam pembentukan tulang,
Tingginya prevalensi kekurangan vitamin D resorpsi, mineralisasi, dan pemeliharaan fungsi
telah menjadi masalah kesehatan masyarakat neuromuskular. Selain itu, 1,25[OH]2D juga
yang sangat penting dikarenakan pada kondisi
hipovitaminosis akan beresiko timbulnya dapat menghambat tingkat serum paratiroid
berbagai penyakit. Berbagai penelitian hormon (PTH) dengan mekanisme umpan balik
memperlihatkan peranan vitamin D terhadap negatif dan dengan peningkatan kadar kalsium
penyakit pernapasan, penyakit jantung, diabetes serum. Hal ini mengakibatkan terjadinya
dan autoimun. Banyak pelayanan kesehata di pengaturan metabolisme tulang melalui aktivasi
beberapa negara telah memberikan rekomendasi VDR pada osteoblast dan pembentukan
pemberian suplementasi vitamin D hingga
osteoklas dewasa.
mencapai dosis 1000 IU. Asupan suplemen Pada keadaan vitamin D yang rendah,
vitamin D telah dikaitkan secara signifikan
dengan penurunan angka kematian.2 usus kecil hanya dapat menyerap sekitar 10% -
15% kalsium pada makanan. Sedangkan pada
Vitamin D merupakan jenis vitamin keadaan normal, penyerapan kalsium makanan
yang sangat unik karena dapat diproduksi di
kulit melalui paparan sinar matahari. Vitamin D akan meningkat hingga sekitar 30%-40%. Oleh
terbagi dalam 2 bentuk yaitu vitamin D2 karena itu, kadar vitamin D yang rendah (25
(ergokalsiferol) dan vitamin D3 [OH] D) dapat menyebabkan penyerapan
(Cholecalsiferol).3 Vitamin D2 bersumber dari kalsium yang tidak memadai sehingga memiliki
radiasi UV pada ergosterol yang merupakan implikasi klinis tidak hanya untuk kesehatan
bentukan steroid yang terletak di beberapa tulang tetapi juga untuk sebagian besar fungsi
metabolism.8 Status vitamin D yang rendah akan
tanaman, namun didominasi oleh jamur. menyebabkan sistem tubuh tidak dapat bekerja
Sedangkan Vitamin D3 atau Cholecalsiferol secara optimal, sehingga akan memicu
disintesis melalui radiasi UV dari &- terjadinya berbagai macam penyakit. Berbagai
dehidrocalciferol menjadi previtamin D3 pada macam penyakit dapat ditimbulkan akibat
kulit hewan dengan Panjang gelombang UVB
290-320nm untuk membentuk vitamin D3.4 kekurangan vitamin D seperti penyakit
Oleh karena itu sumber vitamin D pada manusia cardiovascular, diabetes, gagal ginjal kronis dan
dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti asma.9 Selain itu, vitamin D juga dapat
paparan sinar matahari, asupan makanan yang digolongkan sebagai antioksidan yang berfungsi
bayak mengandung vitamin D3 (kuning telur mencegah kerusakan membran sel akibat stres
dan minyak ikan), makanan yang telah oksidatif.10 Hal ini dapat terjadi akibat
difortifikasi (margarin) dan sereal (fortifikasi
Vitamin D2) serata suplemen vitamin (Vitamin ketidakseimbangan radikal bebas yang masuk
D2 dan D3).5 kedalam tubuh, sehingga memicu terjadinya
peroksidasi lipid. Dampak yang ditimbulkan
Vitamin D2 dan D3 berfungsi sebagai adalah terjadinya kerusakan hingga kematian
prohormon karena tidak memiliki efek biologis. sel, sehingga meningkatkan respon inflamasi
dalam tubuh.11,12
Semua jenis Vitamin D (D2 dan D3) yang
berasal dari kulit dan diet akan menjalani dua Berbagai faktor resiko dapat
menyebabkan kekurangan vitamin D di
masyarakat. Secara umum dapat dibagi dua
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 16
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 15-21
bagian besar yaitu defisiensi terkait UVB dan Responden pengemudi becak yang telah
defisiensi terkait medis/fisik. Kekurangan diwawancara dan sesuai dengan kriteria inklusi
vitamin D terkait UVB dapat dikarenakan faktor akan diberikan inform consent atau lembar
usia karena penurunan kandugan 7- persetujuan untuk ikut dalam penelitian dengan
dehidrokolesterol untuk sintesis vitamin D yang memberikan kuisioner mengenai tingkat
dimediasi paparan UVB, kurangnya aktivitas pengetahuan vitamin D. Kuisioner tingkat
fisik, penurunan produksi ginjal 1,25 pengetahuan vitamin D telah dilakukan uji
dihydroxyvitamin D serta penurunan asupan validitas dan uji reliabilitas pada 30 responden
makanan.13 Selain itu, warna kulit yang gelap, yang homogen dengan responden penelitian. Uji
kondisi cuaca dan musim serta penggunaan tabir validitas dilakukan berdasarkan pada nilai r
surya juda dapat menjadi penyebab kurangnya hitung (Corrected Item-Total Correlation) > r
paparan sinar matahari. Sedangkan pada kondisi tabel. r tabel didapatkan dari tabel product
medis ditemukan pada malabsorpsi lemak, moment dengan taraf signifikan 5%, jika nilai r
penggunaan anti-konvulsan, gagal ginjal kronis hitung > 0,361 maka pertanyaan tersebut
dan obesitas.14 dinyatakan valid. Sedangkan pada uji reliabilitas
menggunakan korelasi Cronbach Alfa. Nilai
Peranan vitamin D yang sangat penting Cronbach Alfa dikatakan reliabel apabila nilai
bagi kesehatan dalam mencegah timbulnya uji reliabilitas kuisioner sama dengan atau lebih
berbagai penyakit. Hal ini memberikan alasan dari 0,6.
bagi peneliti untuk mengetahui tingkat
pengetahuan pada orang yang beresiko terkena Kuisioner yang telah diisi oleh
kekurangan vitamin D dan salah satunya adalah responden akan dilakukan penilaian dan
pengemudi becak. Perkerjaan ini dapat dilakukan pengkategorian yaitu pengetahuan
dikategorikan beresiko karena para pengemudi baik dan buruk, Responden masuk kedalam
becak selalu mendapat paparan polusi dan kategori tingkat pengetahuan baik apabila nilai
terlebih lagi sebagian besar adalah perokok yang diperoleh lebih dari atau sama dengan 6
aktif.15 Oleh karena itu diharapkan pada soal, sedangkan bila jawaban benar dibawah 6
penelitian ini dapat mengetahui seberapa besar maka diketegorikan sebagai pengetahuan buruk.
tingkat pengetahuan pengemudi becak, sehingga
dapat memberikan gambaran secara tepat. Hasil dan Pembahasan
Kuesioner digunakan dalam penelitian
M e todologi
ini, terlebih dahulu dilakukan uji validasi. Uji ini
Penelitian ini merupakan penelitian bertujuan agar instrumen tersebut nantinya
observational dengan metode cross sectional. benar-benar dapat mengukur sesuatu yang
Populasi pada penelitian ini adalah pengemudi hendak diteliti dan dapat melakukannya dengan
becak di Surabaya. Kelompok penelitian yang cermat. Validasi dilakukan dengan memeriksa
memenuhi kriteria inklusi akan diambil sebagai setiap item pertanyaan agar nantinya pertanyaan
sampel penelitian yaitu berjenis kelamin laki- tersebut relevan dan benar-benar dapat
laki, usia 25-60 tahun, tingkat Pendidikan mengukur aspek yang diinginkan. Kemudian
minimal SMA. Sedangkan kriteria eksklusi kuisioner di validasi secara face (isi) dengan
dilakukan apabila kuisioner yang telah diisi cara diisi oleh 30 pengemudi becak yang aktif di
tidak dapat ditelaah oleh peneliti. Besar sampel Surabaya. Data yang didapatkan dari kuisioner
yang digunakan pada penelitian berjumlah 150 kemudian dilakukan analisis dengan program
orang dengan derajat kemaknaan 5% dan software SPSS for windows versi 24. Hasil uji
kekuatan uji 95%. Pengambilan sampel yang validitas kuesioner pengetahuan vitamin D
digunakan adalah non random sampling dengan dipaparkan pada tabel 1.
teknik purposive sampling.
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 17
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 15-21
Tabel 1. Hasil Uji Validasi Kuisioner Hasil penilaian kuisioner tingkat
Pengetahuan pengetahuan pada pengemudi becak
dikategorikan menjadi pengetahuan baik dan
Pertanyaan r r Kesimpulan buruk. Berdasarkan tabel 3. memperlihatkan
hitung tabel Valid pengemudi becak yang memiliki pengetahuan
Apakah anda pernah 0,570 0,361 Valid baik terhadap vitamin D sebesar 7,3%
mengetahui tentang vitamin D? 0,659 0,361 Valid sedangkan yang memiliki pengetahuan buruk
Apa itu vitamin D? 0,439 0,361 Valid mencapai 92,7%.
Dari mana anda mengetahui 0,408 0,361 Valid
tentang vitamin D? 0,441 0,361 Valid Tabel 3. Hasil Penilaian Kuisioner Tingkat
Apa sumber terbesar vitamin 0,702 0,361 Valid
D? 0,647 0,361 Valid Pengetahuan
Selain sumber terbesar, 0,428 0,361
sebutkan sumber lain dari Valid Pengetahuan Vitamin
vitamin D! 0,445 0,361
Apa manfaat vitamin D bagi Valid D Jumlah Pers entase
tubuh? 0,381 0,361 Res ponden (% )
Apakah akibat dari kekurangan Valid Jawaban Kategori
vitamin D? 0,528 0,361 Baik 11 7,3
Berikut ini, manakah yang Benar 139 92,7
dapat menyebabkan tubuh ≥6
anda kekurangan vitamin D?
Menurut anda, apakah sinar < 6 Buruk
matahari dapat membantu
menghasilkan vitamin D? Total 150 100
Alasannya
Apakah sinar matahari Vitamin D berperan penting dalam
berbahaya bagi kulit? pemeliharaan fisiologi dan kesehatan. Namun,
Alasannya sebagian besar responden masih belum
Menurut anda, waktu yang menyadari tentang pentingnya vitamin D
baik untuk terkena paparan terhadap implikasi kesehatan pada dirinya.
sinar matahari secara langsung Beberapa penelitian terkait dengan teori survei
yaitu dari jam ... sampai pengetahuan, sikap dan praktik seseorang
dengan jam .... agar tubuh menunjukkan hubungan yang linier secara
memperoleh vitamin D langsung antara pengetahuan, sikap dan perilaku
Berapa lama waktu yang seseorang. Namun demikian, perilaku seseorang
diperlukan oleh tubuh untuk juga memiliki multifaktorial dan bergantung
terpapar sinar matahari secara pada banyak faktor seperti pendidikan, pola
langsung agar memperoleh asuh, sosial budaya dan lingkungan.16,17 Oleh
vitamin D ? karena itu, pendidikan publik mengenai
Berapakah jumlah SPF (Sun pentingnya vitamin D dibutuhkan di masyarakat,
Protection Factor) yang baik sehingga diharapkan kesadaran tersebut dapat
bagi tubuh anda? mengarah kepada tindakan seseorang yang
berpotensi menigkatkan kadar vitamin D melalui
Hasil uji validitas tabel 1. kuesioner makanan dan perubahan pola hidup.18
pengetahuan terhadap paparan sinar matahari
dinyatakan valid. Kuesioner dapat dikatakan Vitamin D berfungsi aktif pada semua
valid jika (r hitung > r tabel product moment), sistem organ, termasuk organ tubuh yang
dimana nilai r tabel untuk 30 responden 0,361 berperan dalam kebugaran, seperti otot, jantung
dan semua item pertanyaan dari kuesioner dan pernapasan. Di dalam sel tubuh, vitamin D
tersebut memiliki nilai di atas nilai r tabel memiliki fungsi saat kontraksi otot,
product moment. Hasil uji reliabilitas tabel 2. meningkatkan kekuatan otot, massa otot dan
kuesioner pengetahuan terhadap vitamin D volume. Hasil studi sebelumnya juga
dinyatakan reliabel karena memiliki nilai menyebutkan bahwa aktifitas fisik seperti yoga,
Cronbach Alpha 0,660. yang dalam ini merupakan bentuk latihan fisik
Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas Kuisioner
Pengetahuan
Reliability Statistic
Jumlah Pertanyaan Cronbach’s Alpha
11 0,660
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 18
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 15-21
intensitas sedang dapat meningkatkan kebugaran Ucapan Terima Kasih
fisik dan status kesehatan.19 Peneliti berterima kasih kepada seluruh
Paparan sinar matahari yang diperoleh responden yang telah berpartisipasi dalam
saat individu beraktivitas di luar dalam jumlah penelitian ini.
yang tepat dianggap sangat penting untuk
meningkatkan kadar vitamin D dalam tubuh. Re fe re ns i
Masyarakat perlu mengetahui manfaat saat
beraktivitas fisik dan konsumsi makanan yang 1. Gani L, How C. Vitamin D deficiency.
mengandung vitamin D. Karena minimnya
pengetahuan tentang manfaat vitamin D akan Singapore Med J [Internet]. 2015 Aug [cited
memengaruhi sikap dan pemilihan jenis 2020 Jun 1];56(08):433–7. Available from:
makanan.17
http://www.smj.org.sg/article/vitamin-d-
Pada studi terdahulu diperoleh data
tentang pengetahuan masyarakat tentang tiga deficiency.
sumber vitamin D utama yaitu sinar matahari,
makanan, dan suplemen. Persentase terbesar 2. Nair R, Maseeh A. Vitamin D: The
responden mengidentifikasi sumber vitamin D “sunshine” vitamin. J Pharmacol
adalah matahari (99%), suplemen (87%) dan
makanan (84%). Namun, masyarakat memiliki Pharmacother [Internet]. 2012 Apr [cited
pengetahuan yang kurang tentang sumber 2020 Jun 1];3(2):118–26. Available from:
vitamin D yang berasal dari makanan. Sebagian
besar masyarakat menganggap produk susu dan http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22629
sayuran sebagai sumber vitamin D. Responden
dalam penelitian ini memiliki pengetahuan yang 085.
cukup baik tentang efek sinar matahari dan
berbagai faktor yang memengaruhi sintesis 3. Suryadinata RV, Lorensia A, Aprilia AP.
vitamin D. Studi kami menunjukkan bahwa
lebih dari setengah (56%) dari populasi memiliki Profil Vitamin D Pada Pasien Asma dan
sikap positif terhadap paparan sinar matahari,
karena mereka biasanya mencari sinar matahari Non-Asma Dewasa di Surabaya. Indones J
langsung, kadang-kadang memakai tabir surya
atau berencana untuk paparan / penyamakan dan Public Heal [Internet]. 2017 Dec 28 [cited
menghabiskan 12,2 ± 8,6 siang hari rata-rata jam
per minggu di luar rumah, sebagian besar saat 2020 Jun 1];12(1):106. Available from:
sore hari.20 Hal ini menjadi penting bahwa
perlunya pengetahuan individu tentang sumber https://e-
vitamin D yang berasal dari sinar matahari dan
makanan sehingga dapat mencapai status journal.unair.ac.id/IJPH/article/view/7175.
kesehatan yang lebih optimal.
4. Hammami MM, Yusuf A. Differential
Ke s impulan
effects of vitamin D2 and D3 supplements
Pengemudi becak memiliki tingkat
pengetahuan yang kurang mengenai pentingnya on 25-hydroxyvitamin D level are dose, sex,
vitamin D terhadap kesehatan, sehingga
dibutuhkan pendidikan publik yang sesuai dan and time dependent: a randomized
tepat.
controlled trial. BMC Endocr Disord
[Internet]. 2017 Dec 24 [cited 2020 Jun
1];17(1):12. Available from:
http://bmcendocrdisord.biomedcentral.com/
articles/10.1186/s12902-017-0163-9.
5. Tripkovic L, Lambert H, Hart K, Smith CP,
Bucca G, Penson S, et al. Comparison of
vitamin D2 and vitamin D3 supplementation
in raising serum 25-hydroxyvitamin D
status: a systematic review and meta-
analysis. Am J Clin Nutr [Internet]. 2012
Jun 1 [cited 2020 Jun 1];95(6):1357–64.
Available from:
https://academic.oup.com/ajcn/article/95/6/1
357/4568382.
6. Biancuzzo RM, Young A, Bibuld D, Cai
MH, Winter MR, Klein EK, et al.
Fortification of orange juice with vitamin
D(2) or vitamin D(3) is as effective as an
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 19
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 15-21
oral supplement in maintaining vitamin D /article/view/1860.
status in adults. Am J Clin Nutr [Internet]. 12. Lorensia A, Suryadinata RV, Amir GA.
2010 Jun [cited 2020 Jun 1];91(6):1621–6.
Relation between Vitamin D Level and
Available from: Knowledge and Attitude Towards Sunlight
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20427 Exposure among Asthma Outpatients in
729. Surabaya. Glob Med Heal Commun.
7. Hollis BW, Wagner CL. Clinical review: [Internet]. 2019 [cited 2020 Jun
The role of the parent compound vitamin D 1];7(3):162–9. Available from:
with respect to metabolism and function: https://ejournal.unisba.ac.id/index.php/gmhc
Why clinical dose intervals can affect /article/view/3094.
clinical outcomes. J Clin Endocrinol Metab 13. Suryadinata RV, Sukarno DA. The Effect of
[Internet]. 2013 Dec [cited 2020 Jun Physical Activity on The Risk of Obesity in
1];98(12):4619–28. Available from:
Adulthood. Indones J Public Heal [Internet].
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24106 2019 Jul 5 [cited 2020 Jun 1];14(1):104.
283. Available from: https://e-
8. Suryadinata RV, Wirjatmadi B, Adriani M, journal.unair.ac.id/IJPH/article/view/7509.
Sumarmi S. Effects of knowledge of vitamin 14. Zhang R, Naughton DP. Vitamin D in health
D on attitudes toward sun exposure among and disease: Current perspectives. Nutr J
middle-aged and elderly Indonesian adults. [Internet]. 2010 Dec 8 [cited 2020 Jun
Indian J Public Heal Res Dev. [Internet]. 1];9(1):65. Available from:
2018 [cited 2020 Jun 1];9(11):1692-1696. http://nutritionj.biomedcentral.com/articles/
Available from: 10.1186/1475-2891-9-65.
http://dx.doi.org/10.5958/0976- 15. Lorensia A, Suryadinata RV, Diputra INY.
5506.2018.01686.8. Risk Factors and Early Symptoms Related
9. Lorensia A, Suryadinata RV, Saputra R. to Respiratory Disease in Pedicab Drivers in
Physical Activity and Vitamin D Level in Surabaya. J Kesehat Masy [Internet]. 2019
Dec 22 [cited 2020 Jun 1];15(2):223–34.
Asthma and Non-Asthma. JFIOnline | Print
ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Available from:
[Internet]. 2019 May 26 [cited 2020 Jun https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/ke
1];11(1). Available from: mas/article/view/19255.
http://jfionline.org/index.php/jurnal/article/v 16. Aljefree NM, Lee P, Ahmed F. Knowledge
iew/591. and attitudes about vitamin D, and behaviors
10. Suryadinata RV, Lorensia A, Tangkilisan related to vitamin D in adults with and
EC. Effect of Physical Activity and Vitamin without coronary heart disease in Saudi
D Status on Geriatrics Obesity. Glob Med Arabia. BMC Public Health [Internet]. 2017
Heal Commun. [Internet]. 2019 [cited 2020 Dec 16 [cited 2020 Jun 1];17(1):266.
Jun 1];7(1):1–6. Available from:
Available from:
https://ejournal.unisba.ac.id/index.php/gmhc http://bmcpublichealth.biomedcentral.com/a
/article/view/2916. rticles/10.1186/s12889-017-4183-1.
11. Suryadinata RV, Wirjatmadi B, Adriani M. 17. Suryadinata RV, Lorensia A. Food
Efektivitas Penurunan Malondialdehyde Frequency, Knowledge about Vitamin D
dengan Kombinasi Suplemen Antioksidan and Obesity among Elderly. Amerta Nutr.
[Internet]. 2020 [cited 2020 Jun 1];4(1):43–
Superoxide Dismutase Melon dan Gliadin
Akibat Paparan Rokok. Glob Med Helath 8.
Commun [Internet]. 2017 [cited 2020 Jun 18. Alshamsan F, Bin-Abbas B. Knowledge,
1];5(2):79–83. Available from: awareness, attitudes and sources of vitamin
https://ejournal.unisba.ac.id/index.php/gmhc D deficiency and sufficiency in Saudi
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 20
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 15-21
children. Saudi Med J [Internet]. 2016 May
1 [cited 2020 Jun 1];37(5):579–83.
Available from:
http://www.smj.org.sa/index.php/smj/article/
view/smj.2016.5.14951.
19. Wibowo SW. Model Aktivitas Dengan
Paparan Sinar Matahari Untuk
Meningkatkan Tingkat Kebugaran Pada
Anak Dengan Hambatan Visual. Jurnal
Asesmen dan Intervensi Anak Berkebutuhan
Khusus [Internet]. 2016 May 1 [cited 2020
Jun 1];37(5):579–83. Available from:
https://ejournal.upi.edu/index.php/jassi/articl
e/view/15442.
20. O'Connor C, Glatt D, White L, Revuelta
Iniesta R. Knowledge, Attitudes and
Perceptions towards Vitamin D in a UK
Adult Population: A Cross-Sectional Study.
Int J Environ Res Public Health [Internet].
2018 Oct 27 [cited 2020 Jun 1];15(11):2387.
Available from:
https://doi.org/10.3390/ijerph15112387.
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 21
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 22-28
Pengaruh APGAR family terhadap quality of life
pasien diabetes mellitus tipe 2
Feny Tunjungsari1*, Isbandiyah2, Farajihan3
1Departemen Kedokteran Keluarga, Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Malang
2Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Malang
3Pendidikan Dokter, Universitas Muhammadiyah Malang
ABSTRAK
Indonesia merupakan salah satu negara dari 10 negara yang memiliki jumlah penderita diabetes mellitus (DM)
terbanyak dengan prevalensi DM di perkotaan sebesar 5,7%. Menurut Pusat data dan Informasi kesehatan
Republik Indonesia, bahwa proporsi diabetes mellitus di Kota Malang sebanyak 2,3%. Tingginya angka diabetes
melitus di Kota Malang ini disebabkan kurangnya penerapan fungsi keluarga dengan baik pada penderita DM tipe
2. Kendala yang timbul yaitu sebagian besar masyarakat menyepelekan jenis penyakit metabolik ini sehingga tidak
dapat terdeteksi lebih dini. Peran keluarga dalam penatalaksanaan penderita diabetes mellitus tipe 2 diyakini
memiliki pengaruh terhadap kualitas hidup penderita DM. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh
fungsi keluarga berdasarkan APGAR family terhadap Quality of Life pasien DM tipe 2. Penelitian ini adalah
penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan 95 subyek penderita diabetes mellitus
tipe 2 yang dipilih melalui SimpleRandom Sampling. Analisis data menggunakan uji Spearman. Hasil uji korelasi
Spearman diperoleh nilai signifikansi APGAR terhadap Quality of Life sebesar 0,000, yang artinya terdapat
hubungan yang signifikan (p < 0,05). Koefisien korelasi APGAR terhadap Quality of Life sebesar 0,930, yang
artinya sifat kekuatan hubungan adalah sangat kuat. Dapat disimpulkan adany pengaruh yang sangat kuat (0,000)
antara APGAR Family terhadap Quality of Life pasien DM tipe 2.
Kata kunci: APGAR keluarga; kualitas hidup; DM tipe 2
ABSTRACT
Introduction: Indonesia was a countryfrom 10 countries that possesses themost dm prevalence of diabetes mellitus
(DM) in urban areas amounting to 5.7 %. According to data center and health of the republic of indonesia, that the
proportion of diabetes mellitus in the city of malang 2,3 %. The high number of diabetes mellitus in the city of
malang is becausethe lack of the application of the family function well in people with DM type2. Obstacles arising
that is the majority of the community ignore this metabolictypes of disease so that it cannot be detected earlier .The
role of family in aim diabetics mellitus type 2 believed to have theeffect on thequalityof life of sufferers DM . Aim of
study: This study aimed to analyze function of families according to family APGAR to quality of life dm patients type
2. Method: this study used an observational analytic with cross the sectional approach, 95 subjects were were
chosen by simple random sampling. Data was analyzed using Spearman test. Results and Discussions: the results
showed a value of significance APGAR against quality of life as much as 0.000, which means there were a
significant relation exists (p < 0.05). A correlation coefficient APGAR against quality of life as much as 0.93, which
means of the nature of the strength of the relations is very strong. Conclusions: It can be concluded that there is a
very strong influence (0.000) between APGAR family against quality of life the patient DMtype 2.
Keywords: APGAR family; quality of life; DM type 2.
*Korespondensi penulis: 22
Nama : Feny Tunjungsari
Instansi : Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Malang
Alamat : Jl. Bendungan Sutami 188A, Malang, Jawa Timur, Telp.: +62-341-552443/+62-341-582260
Email : [email protected]
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI)
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 22-28
Pe ndahuluan kondisinya. Dampak yang timbul dari
penyandang DM yaitu masalah psikologis dan
Diabetes melitus (DM) tipe 2 fisik sehingga pentingnya peran keluarga dalam
merupakan penyakit kronis yang terjadi akibat meningkatkan kualitas hidup penderita.2
gangguan sekresi insulin atau ketidakmampuan
sel tubuh dalam menggunakan insulin secara Kualitas hidup didefinisikan sebagai
efektif.1 DM tipe 2 sering ditemukan pada orang
dewasa dengan tingkat prosentase 90%-95% persepsi individu tentang posisi mereka dalam
kehidupan pada konteks budaya dan sistim nilai
kasus dibandingkan dengan tipe diabetes melitus dimana mereka hidup dan dalam kaitannya
tipe 1 dan gestasional.2 Penyakit ini adalah suatu dengan tujuan, harapan, standar, dan
masalah kesehatan yang serius dan merupakan 1 kekhawatiran mereka. Definisi ini
dari 4 penyakit tidak menular yang angka
kejadiannya terus bertambah.3 mencerminkan pandangan bahwa kualitas hidup
mengacu pada evaluasi subjektif yang mana
Berdasarkan hasil penelitian tertanam dalam konteks budaya, sosial, dan
epidemiologi, tampak adanya kecenderungan lingkungan karena definisi kualitas hidup ini
peningkatan angka insidensi dan prevalensi DM berfokus berdasarkan “persepsi” kualitas hidup
tipe 2 di berbagai penjuru dunia. WHO responden, melainkan efek dari penyakit dan
memprediksikan adanya peningkatan jumlah
penyandang DM tipe 2 di tahun-tahun intervensi kesehatan. Dengan demikian, kualitas
hidup tidak hanya disamakan dengan istilah
mendatang. Diprediksikan kenaikan jumlah status kesehatan, gaya hidup, kepuasan hidup,
penderita DM di Indonesia dari 8,4 juta pada keadaan mental, atau kesejahteraan. Pengakuan
tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun sifat multidimensional tercermin dalam struktur
2030. Begitu pula dengan hasil prediksi WHO,
International Diabetes Federation (IDF) pada World Health Organization Quality of Life-100
(WHOQOL-100).6
tahun 2009, diperkirakan terjadinya kenaikan
kasus penyandang DM dari 7 juta pada tahun Kualitas hidup merupakan suatu konsep
2009 menjadi 12 juta pada tahun 2030.2 multidimensional yang luas meliputi domain
fungsi sehari-hari dan pengalaman subjektif,
Indonesia merupakan salah satu negara seperti fungsi fisik, fungsi somatik, pemahaman
dari 10 negara yang memiliki jumlah DM
terbanyak dengan prevalensi DM di perkotaan terhadap kesehatan, fungsi sosial dan peran serta
sebesar 5,7%.4 Kota Malang merupakan kota di kesejahteraan subjektif. Fungsi sosial ini
Jawa Timur dengan penderita diabetes melitus meliputi interaksi alam keluarga, rekan kerja,
yang masuk dalam sepuluh penyakit tidak teman dekat, hingga komunitas umum. Interaksi
menular terbanyak yaitu menempati peringkat sosial dalam keluarga dapat berjalan dengan
ke 4 pada tahun 2016.5 Tingginya angka
baik apabila fungsi keluarga dijalankan dengan
diabetes melitus di Kota Malang ini disebabkan baik.7
kurangnya penerapan fungsi keluarga dengan
baik pada penderita DM tipe 2. Kendala yang Untuk meningkatkan kualitas hidup
timbul yaitu sebagian besar masyarakat pasien DM maka dibutuhkan dukungan dari
menyepelekan jenis penyakit metabolik ini orang lain, khususnya keluarga. Hal ini sejalan
dengan studi sebelumnya yang menyatakan
sehingga tidak dapat terdeteksi lebih dini.
Peran keluarga berpengaruh terhadap bahwa salah satu faktor penguat (reinforcing
factors) yang menentukan perilaku kesehatan
kualitas hidup penderita DM. Dukungan dan individu adalah adalah dukungan keluarga.8
kepedulian yang diberikan anggota keluarga Dukungan keluarga merupakan sikap, tindakan,
terhadap penderita diabetes melitus tipe 2 akan dan penerimaan keluargaterhadap penderita
memberikan kenyamanan, perhatian, kasih
yang sakit. Dukungan bisa berasal dari orang
sayang dan dorongan dalam pencapaian tua, anak, suami, istri atau saudara yang
kesembuhan dengan sikap menerima memiliki hubungan dekat dengan penderita,
dimana bentuk dukungan bisa dalam bentuk
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 23
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 22-28
informasi, tingkah laku tertentu atau materi yang sectional. Penelitian ini akan dilakukan di Poli
dapat menjadikan individu merasa disayangi, Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum di Kota
diperhatikan, dan dicintai.9 Malang selama 29 hari pada tahun 2019.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua
Aspek dukungan keluarga berkaitan penderita diabetes mellitus tipe 2 di Poli
dengan kadar glukosa darah dalam Penyakit Dalam. Sampel dalam penelitian ini
mempengaruhi kualitas hidup pasien diabetes adalah penderita diabetes mellitus tipe 2 usia 20-
mellitus tipe 2. Dukungan keluarga berupa 65 tahun dengan jenis kelamin laki-laki dan
kehangatan, keramahan, dan kenyamanan yang perempuan. Jumlah sampel sebanyak 95 sampel
terkait dengan monitoring glukosa, diet, dan dan Teknik pengambilan sampel dilakukan
latihan yang dapat meningkatkan efikasi diri secara Simple Random Sampling.
pasien sehingga mendukung dalam keberhasilan
merawat diri sendiri sehingga menghasilkan Hasil dan Pembahasan
kualitas hidup yang baik. Dukungan keluarga Data diperoleh berdasarkan hasil
berpengaruh pada sikap dan kebituhan belajar
pasien DM 2 dengan cara menolak atau jawaban kuisioner, yang kemudian diolah sesuai
menerima dukungan baik secara fisik, dengan tujuan penelitian untuk mengetahui
psikologis, emosional, dan sosial. Pasien DM 2 adanya pengaruh antara fungsi keluarga
akan lebih positif mempelajari DM apabila berdasarkan APGAR family dengan Quality of
keluarga memberikan dukungan dan Life pasien diabetes mellitus tipe 2. Pada tabel 1
berpartisipasi dalam pendidikan kesehatan.10 menunjukkan bahwa dari 95 responden, rata-rata
pasien diabetes melitus tipe 2 diderita oleh
Semakin tidak terkontrolnya kadar pasien yang berusia > 40 tahun dengan jumlah
glukosa darah, maka regimen pengobatan 89 orang (94%). Sebagian besar responden
semakin kompleks dan retriksi terhadap diet berjenis kelamin perempuan 59 orang (66%).
meningkat sehingga berpengaruh pada
peningkatan insiden depresi dan kecemasan. Tabel 1. Karakteristik Demografi Pasien DM
Dalam hal ini berarti kualitas hidup pasien DM Tipe 2
buruk. Selain itu, akibat peningkatan
pengelolaan, terjadi pula peningkatan risiko Variabel f%
insiden hipoglikemia yang sangat berpengaruh
terhadap fungsi fisik seorang penderita DM tipe Us ia 6 6%
2. Hipoglikemia menyebabkan peningkatan 1. < 40 tahun 89 94%
aktivitas saraf simpatis sehingga dapat 2. > 40 tahun
menimbulkan manifestasi tremor, takikardia, Jenis Kelamin 36 40%
dan keringat berlebihan. Selain itu keadaan 1. Laki-laki 59 66%
tersebut menyebabkan penurunan kesadaran 2. Perempuan
yang dapat berakibat fatal yaitu kerusakan otak
yang ireversibel. Peran keluarga dalam Tabel 2. Distribusi Variabel APGAR Family
penatalaksanaan penderita diabetes mellitus tipe
2 diyakini memiliki pengaruh terhadap kualitas Fungsi Keluarga f %
hidup penderita DM. Tujuan penelitian adalah
untuk menganalisis pengaruh fungsi keluarga Keluarga sehat 37 39%
berdasarkan APGAR family terhadap Quality of
Life pasien DM tipe 2. Keluarga kurang sehat 50 53%
Keluarga tidak sehat 8 8%
Total 95 100%
M e todologi Berdasarkan data hasil penelitian,
Penelitian ini adalah penelitian diperoleh informasi bahwa dari 95 orang
responden yang melakukan kontrol rutin di dan
observational analitik dengan rancangan cross-
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 24
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 22-28
terdiagnosis sebagai diabetes mellitus tipe 2 dalam keluarga sehat, dan 1 orang diantaranya
lebih banyak pasien yang tinggal dalam termasuk keluarga kurang sehat. Selanjutnya, 57
lingkungan keluarga dengan fungsi keluarga orang dengan kualitas hidup buruk, tidak
yang kurang sehat yaitu dengan jumlah 50 orang satupun terklasifikasikan sebagai keluarga sehat,
dengan prosentase sebesar 53%, sedangkan 49 orang termasuk keluarga kurang sehat, dan 8
keluarga sehat sebesar 39%, dan keluarga tidak orang diantaranya termasuk keluarga tidak sehat.
sehat sebesar 8% (Tabel 2). Sedangkan pada Hasil uji korelasi Spearman pada tabel 6
tabel 3, pasien DM lebih banyak yang berasal diperoleh nilai signifikansi APGAR family
dari keluarga dengan bentuk extended family terhadap Quality of Life sebesar 0,000 dimana
dengan persentase sebesar 49%, sedangkan pada hal ini berarti terdapat hubungan yang signifikan
bentuk keluarga nuclear family sebesar 37%, (p < 0,05). Koefisien korelasi APGAR terhadap
dyad family sebesar 8%, dan single parent Quality of Life sebesar 0,930, yang artinya sifat
sebesar 5%. Selanjutnya pada tabel 4, sebanyak kekuatan hubungan adalah sangat kuat.
57 pasien mengalami Quality of Life yang buruk
dengan prosentase sebesar 60%, dan Quality of Tabel 6. Hasil Uji Korelasi Spearman
Life baik sebanyak 38 orang dengan persentase
40%. Spearman's rho APGAR Sig.
r 0,000
QOL 0,930
Tabel 3. Distribusi Faktor Jenis Keluarga
Jenis Keluarga f% Hasil penelitian ini juga sejalan dengan
penelitian sebelumnya dimana terjadi penurunan
Nuclear Family 35 37% kualitas hidup pasien DM pada semua aspek
kehidupan. Dari 8 aspek yang dikaji didapatkan
Extended Family 47 49% bahwa pada fungsi fisik, emosional, energi,
nyeri, kesehatan umum, fungsi sosial perubahan
Dyad Family 8 8% peran akibat masalah fisik, dan perubahan peran
akibat masalah emosional mengalami penurunan
Single Parent 5 5% (semua aspek < 80).11 Sebagian pasien merasa
tidak mampu melakukan perannya karena
Total 95 100% merasa gugup, tertekan dan terbebani dengan
penyakit yang diderita.
Tabel 4. Distribusi Quality of Life
Adanya perubahan peran terjadi karena
QOL f% timbulnya perasaan depresi atau cemas.
Kecemasan pasien DM lebih banyak diakibatkan
Kualitas hidup baik 38 40% oleh munculnya keluhan diabetes. Penelitian
menunjukkan bahwa 47,7% pasien DM
Kualitas hidup buruk 57 60% memiliki status kesehatan yang kurang baik jika
dibandingkan dengan orang lain. Pasien DM
Total 95 100% merasa lebih mudah jatuh sakit, dan berpikir
kesehatannya akan bertambah buruk.12
Tabel 5. Hasil Tabulasi Silang APGAR Family
dan QOL APGAR Keluarga (Family APGAR)
merupakan instrumen penilaian yang digunakan
Q OL Sehat Keluarga Tidak Sehat untuk mengukur fungsi keluarga. Instrumen ini
Kurang menggambarkan lima fungsi pokok keluarga
Sehat yang meliputi adaptasi, kemitraan, pertumbuhan,
kasih sayang dan kekeluargaan. Fungsi adaptasi
Kualitas hidup f % f %f % dapat dilihat berdasarkan tingkat kepuasan
baik 37 100% 1 2% 0 0.0%
Kualitas hidup 0 0.0% 49 98% 8 100%
buruk
Hasil tabulasi silang pada tabel 5, antara
fungsi keluarga berdasarkan APGAR family dan
Quality of Life diperoleh 37 orang responden
memiliki kualitas hidup baik terklasifikasikan ke
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 25
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 22-28
dalam menerima dukungan yang diberikan Dalam penelitian ini juga disebutkan bahwa
selama melalui situasi krisis. Fungsi yang kedua fungsi keluarga yang baik dapat
yaitu kemitraan dimana kepuasan dirasakan saat meningkatkan kualitas hidup lansia sehingga
berkomunikasi dan melakukan musyawarah lansia dapat melakukan aktifitas dan berperan
dengan anggota keluarga lainnya dalam hal dengan baik di masyarakat.16 Dukungan
pengambilan keputusan. Selanjutnya fungsi keluarga merupakan faktor yang paling dominan
yang ketiga adalah kepuasan dalam hal yang memengaruhi kualitas hidup lansia dengan
kebebasan dalam melewati kematangan nilai OR sebesar 5,7.17 Kualitas hidup individu
individu. Fungsi keluarga berikutnya yaitu kasih yang baik menggambarkan adanya fungsi
sayang dimana kepuasan dirasakan saat keluarga yang sangat baik. Sehingga dalam hal
memperoleh kasih sayang dalam keluarga ini perlu bagi dokter untuk meningkatkan fungsi
melalui rasa saling peduli. Kemudian fungsi keluarga dalam mengelola penyakit yang
keluarga yang terakhir adalah kebersamaan diderita salah satu anggota keluarganya.
dimana kepuasan dirasakan saat memiliki
kebersamaan bersama anggota keluarga yang Ke s impulan
lainnya.13 Hasil uji korelasi Spearman diperoleh
Studi sebelumnya juga menjelaskan nilai signifikansi APGAR terhadap Quality of
tentang hubungan APGAR keluarga dengan Life sebesar 0,000, yang artinya terdapat
kualitas hidup dimana kesejahteraan secara fisik hubungan yang signifikan (p < 0,05). Koefisien
dan jiwa berhubungan erat dengan rasa puas korelasi APGAR terhadap Quality of Life
dengan dukungan yang diterima dari keluarga, sebesar 0,930, yang artinya sifat kekuatan
kesempatan untuk berbicara, merasakan kasih hubungan adalah sangat kuat.
sayang, puas dengan waktu yang dihabiskan dan
dukungan untuk membuat keputusan keluarga. Ucapan Terima Kasih
Keluarga disfungsional juga menginterpretasikan Penulis mengucapkan terima kasih atas
adanya konflik yang tumbuh di dalam keluarga dukungan responden dan Fakultas Kedokteran,
dan komunikasi yang kurang. Adanya dukungan Universitas Muhammadiyah Malang selama
keluarga dalam pengambilan keputusan dapat penulisan artikel ini.
meningkatkan efek positif terkait dengan
perawatan.14 Re fe re ns i
1. Rahayu KB, Saraswati LD, Setyawan H.
Keluarga berfungsi untuk mendukung
peningkatan kualitas hidup penderita. Kualitas Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
hidup penderita yang baik maka akan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes
mengurangi risiko terjadinya komplikasi Melitus Tipe 2. Jurnal Kesehatan
penyakit. Studi terdahulu menjelaskan bahwa Masyarakat [Internet]. 2018 May [cited
sebanyak 52,3% responden memiliki keluarga 2020 Jun 1];6(2):19-28. Available from:
disfungsional yang sedang dan 43,8% memiliki https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm/
keluarga yang sangat fungsional. Hal ini article/view/20782.
menunjukkan adanya hubungan yang bermakna 2. Meidikayanti W, Wahyuni CU. The
antara fungsi keluarga dalam meningkatkan Correlation between Family Support with
kualitas hidup responden (p value = 0,014). Quality of Life Diabetes Mellitus Type 2 in
Selain itu fungsi keluarga juga memiliki Pademawu PHC. Jurnal Berkala
pengaruh yang sangat kuat terhadap kualitas Epidemiologi [Internet]. 2017 [cited 2020
hidup penderita (r=0,088).15 Jun 1];5(2):240-252. Available from:
http://dx.doi.org/10.20473/jbe.V5I22017.25
Selain itu, fungsi keluarga dan 3-264.
dukungan sosial berhubungan erat dengan 3. Santoso SB, Perwitasari DA, Faridah IN,
kualitas hidup responden lansia (p<0,05).
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 26
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 22-28
Kaptein AA. Hubungan kualitas hidup dan 9. Mirza R. Memaksimalkan Dukungan
persepsi pasien tentang penyakit diabetes Keluarga Guna Meningkatkan Kualitas
mellitus tipe 2 dengan komplikasi. Hidup Pasien Diabetes Melitus. Jurnal
Pharmaciana: Jurnal Kefarmasian [Internet]. Jumantik [Internet]. 2017 [cited 2020 Jun
2017 [cited 2020 Jun 1];7(1):33-40. 1];2(2):12-30. Available from:
Available from: http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/kesmas/ar
http://dx.doi.org/10.12928/pharmaciana.v7i1 ticle/view/1122.
.4699. 10. Nuraisyah F, Kusnanto H, Rahayujati TB.
4. Mihardja L, Soetrisno U, Soegondo S. Family support and quality of life of
Prevalence and clinical profile of diabetes diabetes mellitus patients in Panjaitan II
mellitus in productive aged urban public health center, Kulon Progo. Berita
Indonesians. Journal of Diabetes Kedokteran Masyarakat [Internet]. 2017
Investigation [Internet]. 2013 [cited 2020 [cited 2020 Jun 1];33(1):55-66. Available
Jun 1];5(5):507–512. Available from:
from:
https://doi.org/10.1111/jdi.12177. https://media.neliti.com/media/publications/
5. Dinas Kesehatan Kota Malang. Profil 196160-ID-dukungan-keluarga-dan-
Kesehatan Kota Malang Tahun 2017. kualitas-hidup-pas.pdf.
[Internet]. 2017 [cited 2020 Mar 28]. 11. Teli M. Kualitas Hidup Pasien Diabetes
Available from: Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Se Kota
https://dinkes.malangkota.go.id/wp- Kupang. Jurnal Info Kesehatan [Internet].
content/uploads/sites/104/2018/11/Profil- 2017 [cited 2020 Mar 28];15(1):119-134.
Kesehatan-Kota-Malang-Tahun-2017.pdf. Available from:
6. Feder K, Michaud DS, Keith SE, Voicescu https://jurnal.poltekeskupang.ac.id/index.ph
SA, Marro L, Than J, et al. An assessment p/infokes/article/view/133.
of quality of life using the WHOQOL-BREF 12. Kumar S. Type 1 diabetes mellitus-common
among participants living in the vicinity of cases. Indian Journal of Endocrinology and
wind turbines. Environmental Research Metabolism [Internet]. 2015 [cited 2020
[Internet]. 2015 [cited 2020 Mar Mar 28];19(7):76-7. Available from:
28];142:227–238. Available from:
https://doi.org/10.4103/2230-8210.155409.
https://doi.org/10.1016/j.envres.2015.06.043 13. Setyawan FEB. Pendekatan Pelayanan
. Kesehatan Dokter Keluarga (Pendekatan
7. Putri WAR, Permana I. Hubungan antara Holistik Komprehensif). Sidoarjo: Zifatama
Fungsi Keluarga dengan Kualitas Hidup Jawara; 2019.
Lansia. Mutiara Medika [Internet]. 2015 14. Rodríguez-Sánchez E, Pérez-Peñaranda A,
[cited 2020 Mar 28];11(1):1-7. Available Losada-Baltar A, Pérez-Arechaederra D,
from: Gómez-Marcos MÁ, Patino-Alonso MC, et
https://journal.umy.ac.id/index.php/mm/artic al. Relationships between quality of life and
le/view/921. family function in caregiver. BMC Fam
8. Borhani M, Rastgarimehr B, Shafieyan Z, Pract. [Internet]. 2011 Apr 15 [cited 2020
Mansourian M, Hoseini SM, Arzaghi SM, et Mar 28];12:19. Available from:
al. Effects of predisposing, reinforcing and https://doi.org/10.1186/1471-2296-12-19.
enabling factors on self-care behaviors of 15. Oktowaty S, Setiawati EP, Arisanti N.
the patients with diabetes mellitus in the Hubungan Fungsi Keluarga Dengan
Minoodasht city, Iran. J Diabetes Metab Kualitas Hidup Pasien Penyakit Kronis
Disord. [Internet]. 2015 Apr 14 [cited 2020 Degeneratif di Fasilitas Kesehatan Tingkat
Jun 1];14:27. Available from: Pertama. Jurnal Sistem Kesehatan [Internet].
https://doi.org/10.1186/s40200-015-0139-0. 2018 [cited 2020 Mar 28];4(1):1-6.
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 27
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 22-28
Available from:
http://jurnal.unpad.ac.id/jsk_ikm/article/vie
w/19180/0.
16. Dewianti NM. Fungsi keluarga, dukungan
sosial dan kualitas hidup lansia di wilayah
kerja Puskesmas III Denpasar Selatan.
Public Health and Preventive Medicine
Archive [Internet]. 2013 [cited 2020 Jun
10];1(2):1-6. Available from:
https://ojs.unud.ac.id/index.php/phpma/articl
e/view/7878.
17. Indrayani I, Ronoatmodjo S. Faktor-Faktor
Yang Berhubungan Dengan Kualitas Hidup
Lansia Di Desa Cipasung Kabupaten
Kuningan Tahun 2017. Jurnal Kesehatan
Reproduksi [Internet]. 2018 Nov [cited 2020
Jun 10];9(1):69-8. Available from:
https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.
php/kespro/article/view/892.
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 28
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 29-35
Status gizi, perilaku merokok di dalam rumah dengan kejadian pneumonia
Siti Rafidah Yunus1*, Maria Ekawati2, Pritha Maya Savitri1
1Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta
2Rumah Sakit Dr. Suyoto
ABSTRAK
Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada balita di dunia. Faktor risiko pneumonia dapat berasal dari
faktor host dan faktor lingkungan. Faktor host penyebab pneumonia adalah status gizi dimana kolonisasi
mikroorganisme patogen mudah terbentuk karena penurunan sistem imun. Salah satu faktor lingku ngan penyebab
pneumonia adalah paparan asap rokok yang sangat berbahaya bagi tubuh, apalagi jika yang terpapar adalah anak
dibawah lima tahun yang mana sistem imunnya belum matang sehingga tidak adanya sistem pertahanan untuk
melawan mikroorganismepenyebab pneumonia. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan
desain potong lintang pada 33 pasien balita di RSUD Pasar Minggu, untuk mengetahui h ubungan antara status gizi
dan perilaku merokok di dalam rumah dengan kejadian pneumonia. Pengambilan data penelitian menggunakan
lembar rekam medik dan pengukuran z-score menggunakan indeks BB/U untuk memperoleh status gizi dan lembar
kuesioner untuk memperoleh perilaku merokok. Data dianalisis menggunakan program SPSS dengan uji Chi -
Square. Hasil penelitian ini menunjukkan sebesar 66,67%orang tua atau anggota keluarga memiliki kebiasaa n
merokok di sekitar anak dan 66,67% merokok saat sedang berkumpul bersama keluarga. Sebagian besar orang tua
atau anggota keluarga memiliki kebiasaan membuka jendela sebanyak 75,76% orang. Hasil analisis bivariat
menunjukkan tidak terdapat hubungan antara status gizi terhadap kejadian pneumonia balita (p=0,732) dan
terdapat hubungan antara perilaku merokok terhadap kejadian pneumonia balita (p=0,021). Selain itu perilaku
merokok di dalam rumah dapat meningkatkan kejadian pneumonia pada balita. Maka dari itu perlu peningkatan
kesadaran keluarga agar tidak merokok di dekat anak.
Kata kunci: perilaku merokok ; pneumonia; status gizi
ABSTRACT
Introduction: The doctor-patient relationship is based on good qualityof communication and interaction with the
patient, so that it not only can help speed up the healing process, but also make the patient feel comfortable since
the first visit to the health service. When dealing with pediatric patients, theabilityto build a relationship of mutual
trust is done with a more open, honest attitudeand understanding what they are feeling . Aim of study: This study
aims to see a real picture of the relationships, interactions and interpersonal communication between doctors and
patients in health care. Method: This study uses a qualitative descriptive study where data is obtained through
interview transcripts, field observation data notes and photo documentation. A total of 7 participants wereobtained
through a purposive sampling techniqueon pediatricians who are accustomed to engaging in effective relationships,
interactions and communication with pediatric patients, families and introductors. Data were then analyzed using
the Miles and Huberman method. Results and Discussions: The results of this study indicate 66.67% of parents or
family members havesmoking habits around children and 66.67%smoke when gathering with family. Most parents
or family members have the habit of opening windows as much as 75.76% of people. The results of bivariate
analysis showed that there was no relationship between nutritional status and the incidence of unde r-five
pneumonia (p = 0.732) and there was a relationship between smoking behavior and under-five pneumonia events (p
= 0.021). Besides, smoking behavior at home can increase the incidence of pneumonia in toddlers. Conclusions:
Therefore it is necessary to increase family awareness so as not to smoke near children.
Keywords: smoking behavior; pneumonia; nutritional status
*Korespondensi penulis: 29
Nama : Siti Rafidah Yunus
Instansi : Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta
Alamat : Jln. RS Fatmawati Pondok Labu Jakarta Selatan, Telp: +62-21-7656904/+62-21-75817114
Email : [email protected]
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI)
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 29-35
Pe ndahuluan campak, adanya polusi di dalam ruangan, dan
pemukiman padat. Gizi buruk masih menjadi
Pneumonia adalah peradangan pada masalah pada negara berkembang salah satunya
parenkim paru yang disebabkan oleh Indonesia. Berdasarkan program Pemantauan
mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, Status Gizi (PSG) tahun 2017 yang
dan parasit.1 Pneumonia merupakan penyebab diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan
utama kematian pada balita di dunia. Hal didapatkan persentase gizi buruk pada balita usia
tersebut didukung dengan data dari American 0-59 bulan di Indonesia adalah 3,8%, sedangkan
Thoracic Society yang mengatakan bahwa persentase gizi kurang adalah 14%. Hal tersebut
terdapat lebih dari 2.400 kematian per hari atau tidak jauh berbeda dari hasil PSG 2016 yaitu
diperkirakan 2 anak balita meninggal akibat persentase gizi buruk pada balita usia 0-59 bulan
pneumonia setiap menitnya pada tahun 2015.2 sebesar 3,4% dan persentase gizi kurang sebesar
Angka kejadian pneumonia pada balita di 14,43%.5 Ditemukan 5.898 kasus Balita di
Indonesia tercatat sebanyak 20,54 insiden per Bawah Garis Merah (BGM) di DKI Jakarta dan
1000 balita.3 Berdasarkan Profil Kesehatan DKI untuk di Jakarta Selatan ditemukan 247 balita
Jakarta tahun 2017, pneumonia pada balita BGM.6
merupakan penyakit yang memiliki angka
kesakitan tertinggi yaitu sebesar 85% dengan Keadaan malnutrisi memiliki peran
jumlah pasien sebanyak 51.841 kasus, untuk dalam terjadinya pneumonia karena saat
wilayah Jakarta Selatan ditemukan sebanyak keadaan tersebut inividu mudah untuk terkena
9.466 kasus pneumonia. Berdasarkan hasil infeksi yang disebabkan oleh sistem imun tubuh
survey pendahuluan, pneumonia pada balita menurun. Salah satu kondisi malnutrisi adalah
merupakan salah satu dari 10 penyakit terbanyak kekurangan protein. Keadaan kurang protein
yang ditemukan pada ruang rawat inap anak di biasanya diikuti dengan kekurangan vitamin A,
RSUD Pasar Minggu. E, dan C yang merupakan antioksidan dan dapat
menangkal radikal bebas. Kekurangan
Faktor risiko pneumonia dapat berasal antioksidan tersebut akan menyebabkan supresi
dari faktor host dan faktor lingkungan. Beberapa imun yang mempengaruhi mediasi sel T dan
faktor risiko yang dapat menyebabkan respon imun adaptif. Kekurangan vitamin A
pneumonia yang berasal dari faktor host seperti (beta karoten) dapat mengurangi sekresi IgA
gizi buruk, status imunisasi yang tidak lengkap, yang mana akan mengakibatkan menurunnya
defisit imunologi, riwayat asma, riwayat episode fungsi perlindungan pada sistem saluran nafas
mengi, disfungsi mukosiliar, malformasi dari infeksi mikroorganisme. Selain itu,
kongenital saluran udara, gangguan menelan, kekurangan vitamin A juga dapat menghalangi
mikroaspirasi, gangguan neuromuskuler, fungsi sel-sel kelenjar yang mengeluarkan
pengobatan dengan inhibitor asam lambung, mukus sehingga digantikan oleh skuama. Selain
refluks gastroesophageal, dan otitis media yang itu, kekurangan protein juga disertai kekurangan
diobati dengan tympanocentesis dalam 2 tahun vitamin B6 yang dapat menurunkan
pertama kehidupan. Faktor lingkungan yang pembentukan antibodi. Penurunan antibodi akan
dapat menyebabkan pneumonia seperti tinggal memudahkan mikroorganisme penyebab
beramai-ramai, polusi udara di dalam ruangan pneumonia untuk berkoloni.7,8
yang dapat disebabkan oleh memasak dengan
bahan bakar biomassa seperti kayu, dan orang Selain status gizi buruk, faktor risiko
tua atau keluarga merokok.4 lainnya adalah polusi di dalam ruangan. Polusi
di dalam ruangan bisa didapatkan dari kegiatan
Salah satu faktor risiko penyebab memasak dengan menggunakan bahan bakar
pneumonia adalah gizi buruk. Malnutrisi biomasa seperti kayu bakar dan perilaku
merupakan faktor risiko yang selalu ada (definite merokok di dalam ruangan. Menurut World
risk factor) selain berat badan lahir rendah, Health Organization, Indonesia memiliki jumlah
pemberian ASI tidak eksklusif, tidak imunisasi
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 30
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 29-35
perokok terbesar ketiga di dunia setelah China memudahkan terbentuknya kolonisasi
dan India. Terdapat sekitar lebih dari 40,3 juta mikroorganisme.11
anak yang tinggal dengan perokok dan terpapar
oleh asap rokok. Kebiasaan merokok terutama Status gizi dan keberadaan anggota
didalam keluarga sangat merugikan kesehatan
karena dapat menyebarkan penyakit kepada keluarga yang merokok di dalam rumah dapat
orang yang berada disekitar perokok tak
terkecuali anak-anak. Hal tersebut didukung meningkatkan risiko gangguan pernapasan
oleh penelitian yang dilakukan oleh Karki et al.,
yang menunjukkan bahwa risiko pneumonia terutama pada anak-anak dibawah 5 tahun.
pada anak dibawah 4 tahun 4 kali lebih tinggi
jika tinggal bersama anggota keluarga yang Risiko pneumonia pada anak usia di bawah 4
merokok. Menjadi perokok pasif dapat
menimbulkan berbagai penyakit berbahaya tahun 4 kali lebih tinggi jika tinggal bersama
karena di dalam asap rokok terkandung lebih
dari 4000 bahan kimia diantaranya 250 zat yang anggota keluarga yang merokok. Penelitian
berbahaya dan lebih dari 50 zat tersebut
diketahui merupakan kersinogenik.9 Bahan- terdahulu menunjukkan bahwa sebagian besar
bahan tersebut seperti, Karbon monoksida (CO),
Tar, Gas oksidan, benzene, cyanide, arsenic, anak dibawah 5 tahun yang menderita
hydrogen, formaldehyde, toluene, dan
cadmium.10,11 pneumonia derajat berat memiliki status gizi
kurang dan buruk.7 Tujuan penelitian ini adalah
Paparan asap rokok dapat menyebabkan
perubahan morfologi pada epitel mukosa untuk mengetahui hubungan antara status gizi
bronkial seperti hilangnya silia, hipertrofi
kelenjar mukosa dan peningkatan sel goblet dan perilaku merokok di dalam rumah dengan
yang dapat mendukung pertumbuhan, dan
kolonisasi mikroba. Reaksi inflamasi yang kejadian pneumonia.
ditimbulkan dari paparan asap rokok
menyebabkan aktivasi makrofag dan neutrofil M e todologi
lalu memicu stres oksidatif dan pelepasan
sitokin yang dapat membuat epitel mukosa Penelitian ini menggunakan desain
bronkus lebih sensitif terhadap inflamasi dan observational analitik yang bertujuan untuk
infeksi. Berdasarkan penelitian terbaru, mencari hubungan status gizi dan perilaku
diketahui bahwa merokok dapat menghambat merokok di dalam rumah dengan kejadian
beberapa fungsi kunci dari respon imun spesifik pneumonia anak. Desain penelitian yang
dan non spesifik seperti two Toll-like receptors digunakan adalah cross sectional. Pengambilan
(TLR2), CD4-lymphocyte proliferation data berdasarkan data rekam medis dan hasil
(LTCD4), nuclear factor kappaB (NF-кв), kuesioner pada pasien pneumonia balita di ruang
pematangan sel dendritik, dan opsonisasi dan rawat inap anak RSUD Pasar Minggu pada
fagositosis. Perubahan tersebut dapat bulan April - Mei 2019.
mempengaruhi modulasi persinyalan intra dan
interselular sel epitel dan sel-sel imun, Populasi pada penelitian ini adalah
mengubah respon imun terhadap infeksi, dan semua pasien pneumonia balita di ruang rawat
menekan aktivasi unsur-unsur penting dari inap anak RSUD Pasar Minggu. Sampel pada
respon imun spesifik dan non spesifik yang akan penelitian ini adalah anggota keluarga pasien
dengan dengan dan tidak dengan pneumonia
balita (usia 0-59 bulan) yang di rawat di RSUD
Pasar Minggu pada bulan Apri—Mei 2019,
memiliki data status gizi pada rekam medik,
memiliki status imunisasi dasar yang lengkap,
dan bertempat tinggal tidak jauh dari RSUD
Pasar Minggu.
Penelitian ini menggunakan
pengambilan sampel dengan rumus uji hipotesis
beda 2 proporsi. Sumber data merupakan data
primer yaitu variabel perilaku merokok didalam
rumah yang diambil menggunakan instrumen
penelitian berupa kuesioner dan data sekunder
diperoleh dari rekam medis berupa variabel
kejadian pneumonia pada balita dan status gizi
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 31
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 29-35
balita. Peneliti melakukan pengambilan sampel status gizi buruk, status gizi kurang, dan status
dengan cara membuka rekam medis pasien gizi baik. Responden pada penelitian ini
rawat inap balita di RSUD Pasar Minggu lalu sebagian besar memiliki status gizi baik yaitu
memberikan penjelasan dan informed consent sebanyak 15 pasien (45,5%). Distribusi jenis
kepada responden. Selanjutnya sampel dipilih kelamin pada penelitian ini sebagian besar
sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. adalah berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak
20 pasien (60,6%) dan sisanya 13 pasien
Hasil dan Pembahasan (39,4%) berjenis kelamin perempuan. Sebagian
Menurut hasil survey pendahuluan dari besar responden memiliki berat badan lahir
normal yaitu, sebanyak 27 pasien (81,8%) dan
data rekam medik RSUD Pasar Minggu, memiliki orang tua dengan pendidikan terakhir
pneumonia pada balita merupakan salah satu SMA sebanyak 19 pasien (57,5%).
dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat
inap di RSUD Pasar Minggu pada tahun 2018. Tabel 2. Karakteristik responden
Subjek pada penelitian ini adalah orang tua
pasien pneumonia balita yang di ruang rawat Karak teris tik n %
inap RSUD Pasar Minggu pada bulan April—
Mei 2019 dengan menggunakan rumus besar Us ia 17 51,5
sampel dan memenuhi kriteria inklusi yaitu 33 1—11 bulan 9 27,3
pasien. 12—35 bulan 7 21,2
36—59 bulan
30,3
Tabel 1. Gambaran Kejadian Pneumonia Status Gizi 10 24,2
8 45,5
Kejadian n% Status Gizi Buruk 15
Status Gizi Kurang 60,6
Status Gizi Baik 39,4
Pneumonia Balita Jenis Kelamin
Laki—laki
Pneumonia 17 51,5 20
Perempuan 13
Tidak Pneumonia 16 48,5
Berdasarkan data pada tabel 1 diperoleh BB Lahir 2 6,1
hasil bahwa pada bulan April—Mei 2019 BB Lahir Rendah 27 81,8
terdapat 33 pasien balita di ruang rawat inap BB Lahir Normal 4 12,1
BB Lahir Tinggi
RSUD Pasar Minggu, sebanyak 17 pasien 1 3,03
(51,5%) mengidap pneumonia dan 16 pasien Pendidikan Terakhir 2 6,06
(48,5) tidak mengidap pneumonia. Data Orang Tua 1 3,03
karakteristik responden pada penelitian ini Tidak taman SD 19 57,5
meliputi penyakit pneumonia, usia, status gizi, SD 10 30,3
SMP
jenis kelamin, berat badan lahir, dan pendidikan SMA
terakhir orang tua (Tabel 2). Perguruan Tinggi
Pada penelitian ini, kategori usia dibagi Pada tabel 3, sebanyak tiga puluh tiga
menjadi 1—11 bulan, 12—35 bulan, dan 36—59 pasien balita di ruang rawat inap RSUD Pasar
bulan, sebagian besar berusia 1—11 bulan yaitu Minggu pada bulan April—Mei 2019 yang
sebanyak 17 pasien (51,5%). Berdasarkan memenuhi kriteria inklusi, sebagian besar
memiliki 21 orang tua perokok sebesar 63,6%
Kementerian Kesehatan 2017, status gizi dapat dan terdapat sebanyak 21 anggota keluarga
diukur dengan menghitung z-score. Indeks yang (63,6%) yang merokok, 12 (57,14%)
digunakan untuk menghitung z-score pada diantaranya memiliki kebiasaan merokok di
penelitian ini adalah indeks berat badan dalam rumah. Sebanyak 14 (66,67%) orang tua
berdasarkan umur yang dibandingkan dengan atau anggota keluarga memiliki kebiasaan
merokok di sekitar anak dan 14 (66,67%)
simpangan baku berdasarkan World Helath merokok saat sedang berkumpul bersama
Organization, sehingga status gizi dapat keluarga. Sebagian besar orang tua atau anggota
dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu,
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 32
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 29-35
keluarga memiliki kebiasaan membuka jendela Tabel 5. Hubungan Perilaku Merokok dan
sebanyak 13 (75,76%) orang.
Pneumonia
Tabel 3. Perilaku Merokok Variabel Pneumonia P-
Ya Tidak Value
Perilaku Merokok n% n% n%
Perilaku Orangtua 21 63,6 Perilaku 14 66,7 7 33,3 0,021
Merokok 12 36,4 Merokok
Tidak Merokok
21 63,6 Merokok
Perilaku Keluarga 12 36,4
Merokok Tidak 3 25,0 9 75,0
Tidak Merokok 12 57,14 Merokok
9 42,86
Kebiasaan Merokok di Dalam Hasil uji statistik dengan menggunakan
Rumah 14 66,67
7 33,33 uji Fisher didapatkan nilai p= 0.732 (nilai
Di dalamRumah p>0,05) menunjukkan bahwa tidak terdapat
Tidak di Dalam Rumah 14 66,67 hubungan bermakna antara status gizi dengan
Kebiasaan Merokok di Sekitar 7 33,33 kejadian pneumonia pada balita. Hasil dari
Anak penelitian ini sejalan dengan penelitian
Ya 8 24,24 sebelumnya dimana tidak terdapat hubungan
Tidak 13 75,76
Merokok Ketika Berkumpul antara status gizi dengan kejadian pneumonia
dengan Keluarga pada balita.12,13 Namun penelitian ini tidak
Ya sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Tidak Nurnajiah (2016) yaitu terdapat hubungan antara
Kebiasaan Membuka Jendela status gizi dengan kejadian pneumonia balita.7
Ya
Tidak Selain status gizi, status imunisasi memiliki
peran penting sebagai faktor risiko penyebab
Tabel 4. Analisis status gizi dengan kejadian pneumonia. Di negara berkembang, bakteri
penyebab utama infeksi saluran pernapasan
pneumonia bawah pada anak-anak adalah pneumokokus.
Status Gizi Pneumonia P-Value Selain itu, hasil uji statistik dengan
Ya Tidak
menggunakan uji chi-square didapatkan nilai p=
n% n% 0,021 (nilai p<0,05) menunjukkan bahwa
terdapat hubungan bermakna antara perilaku
Kurang 10 55,6 8 44,4 0,732 merokok di dalam rumah dengan kejadian
Baik 7 46,7 8 53,3 pneumonia pada balita. Hal ini sejalan dengan
Total 17 51,5 16 48,5
penelitian terdahulu dimana terdapat hubungan
Pada tabel 4, hasil uji statistik dengan antara perilaku merokok di dalam rumah dengan
menggunakan uji Chi-Square tidak memenuhi kejadian pneumonia balita. Anak sering kali
syarat dimana terdapat expected count lebih dari menjadi perokok pasif akibat perilaku orang tua
5 pada lebih dari 20% dari jumlah sel sehingga yang merokok di dalam rumah.14,15 Asap rokok
dilakukan uji Fisher dan didapatkan nilai p=
0.732 (nilai p>0,05) menunjukkan bahwa tidak mengandung lebih dari 4000 bahan kimia
terdapat hubungan bermakna antara status gizi diantaranya 250 zat yang berbahaya dan lebih
dengan kejadian pneumonia pada balita. dari 50 zat tersebut diketahui merupakan
Sedangkan hasil uji statistik dengan karsinogenik.3 Kandungan asap rokok antara
menggunakan uji chi-square didapatkan nilai p= lain nicotine, cresols, phenol,3- ethenylpyridine,
0.021 (nilai p<0,05) menunjukkan bahwa naphthalene, formaldehyde, dan tobacco-
terdapat hubungan bermakna antara perilaku
merokok di dalam rumah dengan kejadian specific nitrosamines. Paparan asap rokok pada
pneumonia pada balita (Tabel 5). perokok pasif dapat menyebabkan perubahan
morfologi pada epitel mukosa bronkial seperti
hilangnya silia, hipertrofi kelenjar mukosa dan
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 33
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 29-35
peningkatan sel goblet yang dapat mendukung Pneumonia Facts—2019 [Internet]. 2019
pertumbuhan, dan kolonisasi mikroba. Reaksi
inflamasi yang ditimbulkan dari paparan asap [cited 2020 Mar 28]. Available from:
rokok menyebabkan aktivasi makrofag dan
neutrofil lalu memicu stres oksidatif dan https://www.thoracic.org/patients/patient-
pelepasan sitokin yang dapat membuat epitel
mukosa bronkus lebih sensitif terhadap resources/resources/top-pneumonia-
inflamasi dan infeksi. Berdasarkan penelitian
terbaru, diketahui bahwa merokok dapat facts.pdf.
menghambat beberapa fungsi kunci dari respon
imun spesifik dan non spesifik seperti two Toll- 3. Kementerian Kesehatan RI. Data dan
like receptors (TLR2), CD4-lymphocyte
proliferation (LTCD4), nuclear factor kappaB Informasi, Profil Kesehatan Indonesia 2016
(NF- кв), pematangan sel dendritik, dan
opsonisasi dan fagositosis. paparan asap rokok [Internet]. 2016 [cited 2020 Mar 28].
juga menurunkan kemampuan fagosit makrofag,
kemampuan opsonansi dan penurunan Available from:
proliferasi CD4++ sehingga fungsi imun spesifik
dan non spesifik akan menurun. Paparan asap http://www.depkes.go.id/resources/downloa
rokok akan meningkatkan toll-like receptor—4
yang mana akan meningkatkan sekresi TNF-α, d/pusdatin/profil-kesehatan-
IL-1, dan IL-8 melalui peningkatan aktivitas
NF-KB. Yang selanjutnya akan meningkatkan indonesia/Profil-Kesehatan-Indonesia-
neutrofil dan mengaktivasi makrofag sehingga
terjadi pelepasan protease dan Reactive Oxygen 2016.pdf.
Species. Hal-hal tersebut akan menyebabkan 4. Wojsyk-banaszak I, Bręborowicz A.
mikroorganisme penyebab pneumonia mudah
untuk berkoloni yang selanjutnya menyebabkan Pneumonia in Children, Respiratory Disease
kerusakan alveolus.16,17
and Infection - A New Insight, Bassam H.
Ke s impulan
Tidak terdapat hubungan yang Mahboub, IntechOpen [Internet]. 2013
bermakna antara status gizi dengan kejadian [cited 2020 Jun 1]. Available from:
pneumonia pada balita dan terdapat hubungan
yang bermakna antara perilaku merokok di https://www.intechopen.com/books/respirat
dalam rumah dengan kejadian pneumonia pada
balita. ory-disease-and-infection-a-new-
Ucapan Terima Kasih insight/pneumonia-in-children.
Penulis mengucapkan terima kasih yang
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
sebesar-besarnya kepada Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Buku saku pemantauan status gizi. Buku
Re fe re ns i saku pemantauan status gizi tahun 2017
1. Darmanto DR. Respirologi: respiratory
[Internet]. 2018 [cited 2020 Jun 1].
medicine. Jakarta: EGC; 2014.
2. American Thoracic Society. Top 20 Available from:
http://www.kesmas.kemkes.go.id/assets/upl
oad/dir_519d41d8cd98f00/files/Buku-Saku-
Nasional-PSG-2017_975.pdf.
6. Jakarta BP dan PDKD. Profil Kesehatan
Provinsi DKI Jakarta [Internet]. 2016 [cited
2020 Jun 1]. Available from:
http://www.depkes.go.id/resources/downloa
d/profil/PROFIL_KES_PROVINSI_2016/1
1_DKI_Jakarta_2016.pdf.
7. Nurnajiah M, Rusdi R, Desmawati D.
Hubungan Status Gizi dengan Derajat
Pneumonia pada Balita di RS. Dr. M.
Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas
[Internet]. 2016 [cited 2020 Jun
1];5(1):250-55. Available from:
http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/art
icle/view/478.
8. Artawan A, Putu SP, Lanan S. Hubungan
antara Status Nutrisi dengan Derajat
Keparahan Pneumonia pada Pasien Anak di
RSUP Sanglah. Sari Pediatri [Internet]. 2016
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 34
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 29-35
Apr [cited 2020 Jun 1];17(6):418-21. http://eprints.ums.ac.id/55187/.
15. Wijaya IGK, Bahar H. Hubungan Kebiasaan
Available from:
Merokok, Imunisasi Dengan Kejadian
http://dx.doi.org/10.14238/sp17.6.2016.418- Penyakit Pnumonia pada Balita di
Puskesmas Pabuaran Tumpeng Kota
22. Tangerang. Forum Ilmiah [Internet]. 2014
[cited 2020 Jun 1];11(3):375-85. Available
9. Karki AL, Fitzpatrick, Shrestha. Risk from:
http://eprints.ums.ac.id/55187/11/NASKAH
Factors for Pneumonia in Children under 5 %20PUBLIKASI.pdf.
16. Almiral J, Blanquer J, Bello S. Community-
Years in a Teaching Hospital in Nepal. Acquired Pneumonia Among Smokers. Arch
Bronconeumol [Internet]. 2014 Jun [cited
Kathmandu University Medical Journal 2020 Jun 2];50(6):250-54. Available from:
https://doi.org/10.1016/j.arbr.2013.11.004.
[Internet]. 2014 Okt [cited 2020 Jun 1]; 17. Alexander LEC, Shin S, Hwang JH.
Inflammatory Diseases of the Lung Induced
12(4):247-52. Available from: by Conventional Cigarette Smoke: A
Review. American College of Chest
https://doi.org/10.3126/kumj.v12i4.13729. Physicians [Internet]. 2015 Nov [cited 2020
Jun 4];148(5):1307-22. Available from:
10. Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik https://doi.org/10.1378/chest.15-0409.
Indonesia. Perilaku Merokok Masyarakat
Indonesia [Internet]. 2015 [cited 2020 Jun
1]. Available from:
http://www.depkes.go.id/resources/downloa
d/pusdatin/infodatin/infodatin-hari-tanpa-
tembakau-sedunia.pdf.
11. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Pedoman Pengembangan Kawasan Tanpa
Rokok [Internet]. 2011 [cited 2020 Jun 1].
Available from:
http://www.depkes.go.id/resources/downloa
d/promosi-kesehatan/pedoman-ktr.pdf.
12. Meilantika AD. Faktor Risiko Host dan
Environment yang Berpengaruh terhadap
Kejadian Pneumonia pada Balita (Studi di
Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Jalan
Wajok Hulu Kecamatan Siantan Kabupaten
Mempawah ) [tesis]. Semarang: Universitas
Diponegoro; 2017.
13. Setiawan R, Ida I, Budi B. Hubungan Status
Gizi dengan Kejadian Pneumonia pada
Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Palasari
Kecamatan Ciater Kabupaten Subang Tahun
2010 [Internet]. 2010 [cited 2020 Jun 1].
Available from:
http://stikesayani.ac.id/publikasi/e-
journal/files/2010/201008/201008-008.pdf.
14. Putri AF, Irdawati. Hubungan Antara
Keberadaan Anggota Keluarga yang
Merokok dengan Kejadian Pneumonia pada
Anak Usia 1-4 Tahun di Wilayah Kerja
Puskesmas Tawangsari Sukoharjo.
Universitas Muhammadiyah Surakarta
[Internet]. 2018 [cited 2020 Jun 1].
Available from:
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 35
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 36-43
Pengaruh illness perception terhadap fungsi paru pasien asma rawat jalan
Amelia Lorensia1*, Rivan Virlando Suryadinata2, M Budi Indra Sudaryatmono1
1Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya, Surabaya
2Fakultas Kedokteran, Universitas Surabaya, Surabaya
ABSTRAK
Illness perception merupakan salah satu faktor dari self-management, yang dapat mempengaruhi outcome
pengobatan asma. Fungsi paru lebih objektif dibandingkan gejala klinis dalam pemantauan asma. Tujuan
penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh illness perception terhadap fungsi paru pada pasien asma rawat
jalan. Desain yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasional. Penelitian ini dilakukan di
bulan November 2018-Januari 2019. Variabel bebas yang digunakan penelitian ini adalah Illness perception ,
sedangkan variabel terikatnya adalah fungsi paru dengan mengukur nilai rasio FEV1/FVC menggunakan teknik
pengumpulan data dengan kuesioner untuk mengukur illness perception responden dan pengukuran fungsi paru
dengan spirometry. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji chi-square untuk mengetahui pengaruh
illness perception terhadap nilai fungsi paru. Penelitian ini melibatkan 40 orang, yang terdiri dari 5 responden
dengan gangguan dan 35 tanpa gangguan fungsi paru. Illness perception berdasarkan gejala asma untuk gejala
sesak nafas mempengaruhi fungsi paru. Persepsi sakit responden mengenai identity, consequences, personal
control, treatment control, timeline cyclical, emotion, causal representation benar, dimana responden mengetahui
gejala-gejala sesungguhnya yang dialami oleh penderita asma. Sedangkan mengenai Illness coherence, dan
timeline masih kurang, dimana responden tidak mengetahui penyebab asma yang sesungguhnya, tidak
terkontrolnya asma yang diderita karena responden mengatakan ragu-ragu atau tiba-tiba asmanya muncul selain
itu responden banyak yang tidak mengetahui bahwa asma akan dialami seumur hidupnya. Oleh karena itu, dalam
monitoring pengobatan asma harus memperhatikan illness perception karena juga dapat mempengaruhi fungsi
paru pasien asma.
Kata kunci: asma; illness perception; FEV1/FVC
ABSTRACT
Introduction: Illness perception is one of the factors of self-management, which can affect the outcome of asthma
treatment. Pulmonary function is more objectivethan clinical symptoms in asthma monitoring. Aim of study: The
purpose of this study was to determine the effect of illness perception on lung function in outpatient asthma
patients. Method: The design that will be used in this study is the observational method. This research was
conducted in November 2018-January 2019. The independent variable used in this study was Illness perception ,
while the dependent variable was lung function by measuring the FEV1 / FVC ratio using data collection techniques
with a questionnaire to measure respondents' perception of illness and measurement of lung function with
spirometry. Data analysis in this studyused the chi-squaretest to determine the effect of illness perception on lung
function values. This studyinvolved 40 people, consisting of 5 respondents with disorders and 35 without lung
function disorders. Results and Discussion: Illness perception based on asthma symptoms for symptoms of
shortness of breath affects lung function. Respondent's pain perception about identity, consequences, personal
control, treatment control, cyclical timeline, emotion, causal representation is correct, where therespondent knows
the real symptoms experienced by asthmatics. As for the Illness coherence, and the timeline is still lacking, where
respondents do not know the real cause of asthma, uncontrolled asthma suffered beca use respondents said they
were doubtful or suddenly their asthma appeared besides that many respondents did not know that asthma would be
experienced for a lifetime. Conclusion: Therefore, in monitoring asthma treatment, we must pay attention to illness
perception because it can also affect the lung function of asthma patients.
Keywords: asthma; illness perception; FEV1/FVC
*Korespondensi penulis:
Nama : Amelia Lorensia
Instansi : Fakultas Farmasi Universitas Surabaya
Alamat : Jl. Raya Kalirungkut, Surabaya 60293. Telp: +62-31-2981110
Email : [email protected]; [email protected]
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 36
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 36-43
Pe ndahuluan merupakan gambaran kognitif dari pasien
terhadap penyakitnya. Tidak sedikit penelitian
Prevalensi asma menurut World Health sebelumnya yang sudah membuktikan bahwa
Organization (WHO) tahun 2016 sekitar 235 illness perception berperan besar dalam
juta dengan angka kematian lebih dari 80% di keberhasilan outcome terapi, sehingga
negara-negara berkembang.1 Di Indonesia, mencerminkan kontrol asma pasien. Illness
prevelensi asma dari hasil survey Riskesdas di perception merupakan respon individu terhadap
tahun 2018 sebesar 57,5% sedangkan di daerah penyakit yang terbentuk melalui persepsi
Jawa Timur sekitar 2,4%.2 Asma adalah individu yang terorganisir dan konsepsi dasar
penyakit heterogen berupa inflamasi saluran penyakit mereka pada pengalaman dan
napas kronis, yang ditandai dengan gejala lingkungan mereka.16,17
mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk.
Asma ditandai dengan keterbatasan variabel Sehingga dapat disimpulkan bahwa
illness perception dapat memberi gambaran
expiratory airflow, fungsi ekspirasi paru-paru kontrol pribadi pasien untuk mendapatkan hasil
tersebut bervariasi dari waktu ke waktu dan yang positif dalam melawan penyakit, yaitu
tingkatnya lebih besar daripada di populasi yang kontrol asma. Penilaian ini menggunakan
sehat.3 Gejala asma dapat bervariasi, sehingga kuesioner Illness perception Questionnaire.18
dapat mucul tanpa gejala dan tidak Pernyataan-pernyataan kuesioner menilai dari
menyebabkan keterbatasan aktivitas, tetapi juga serangkaian penyakit mereka. Dari penelitian
terdahulu tentang Illness perception menurut
dapat mengalami perburukan gejala asma dari Lorensia, et al.19 Hubungan antara kepatuhan
tingkat ringan sampai mengancam jiwa, bahkan pengobatan dengan illness perception
dapat menimbulkan kematian.4 Pengobatan menunjukkan bahwa ada hubungan yang
efektif pada asma dapat menyebabkan signifikan antara keduanya.
penurunan risiko eksaserbasi.3,5,6
Berdasarkan latar belakang diatas, maka
Kesesuaian pengobatan dengan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
didukung dengan persepsi dapat meningkatkan pengaruh illness perception terhadap fungsi
keberhasilan tercapainya efektifitas pengobatan. paru pada pasien asma rawat jalan. Fungsi paru
Hal ini dikarekanakan persepsi setiap diri dapat dengan spirometry dapat menjadi parameter
menyebabkan respon berbeda setiap monitoring yang lebih mengambarkan kondisi
individu.7,8,9,10 Respon suatu individu sangat asma dibandingkan dengan gejala asma karena
keparahan obstruksi tidak selalu berkorelasi
terkait dengan self-management yaitu dengan gejala.20
kemampuan seseorang mengelola diri
sendiri.11,12 Pengetahuan pasien yang dapat Metodologi
mendukung self-management meliputi penyakit Desain yang akan digunakan dalam
yang dialami, dan cara pencegahan/ penanganan
penelitian ini adalah metode observasional.
perburukan gejala asma, akan mempunyai Penelitian ini dilakukan di bulan November
motivasi baik dalam penanganan penyakitnya.13 2018-Januari 2019, yang berlokasi di suatu
Salah satu factor keberhasilan suatu manajemen apotek di wilayah Surabaya Selatan (kecamatan
terapi adalah monitoring secara teratur oleh Rungkut), Surabaya. Penelitian ini
tenaga kesehatan, pengendalian faktor pencetus, menggunakan teknik pengumpulan data dengan
kuesioner untuk mengukur illness perception
edukasi dan kerjasama antara tenaga kesehatan responden. Variabel bebas yang digunakan
dan pasien.14 Self-management bagi pasien penelitian ini adalah Illness perception ,
penderita asma bertujuan untuk meningkatkan sedangkan variabel terikatnya adalah fungsi paru
motivasi, mengkaji kemampuan pasien, pasien dengan mengukur nilai rasio FEV1/FVC (forced
mempunyai kepercayaan diri karena mampu
mengontrol manifestasi asma.15
Salah satu faktor yang mempengaruhi
self-management adalah illness perception yang
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 37
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 36-43
expiratory volume in the first one second to the fungsi paru, sedangkan apabila nilai sig P ≤ 0,05
forced vital capacity) dengan menggunakan maka H0 diterima yang berarti ada hubungan
spirometer merk contecTM model SP10 yang signifikan antara illness perception dengan
sudah tervalidasi. Populasi target penelitian ini fungsi paru.
adalah responden asma yang terkontrol.
Responden asma rawat jalan yang memenuhi Hasil dan Pembahasan
kriteria inklusi dan ekslusi. Teknik mendapatkan
sampel non-probability sampling yaitu denggan Responden dalam penelitian ini
purposive sampling. dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin dan
usia (Tabel 1).
Analisis data dalam penelitian ini
menggunakan uji chi-square untuk mengetahui Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik
pengaruh illness perception terhadap nilai
fungsi paru. Uji chi square adalah uji statistika Responden Penelitian
nonparametrik yang dilakukan pada 2 variabel
yaitu illness perception (varibel bebas) dan Karak te ri s ti k Frekuensi Prosentase
fungsi paru (variabel terikat), dengan skala data
kedua variabel adalah ordinal untuk data fungsi (n =4 0 ) (%)
paru. Data fungsi paru berupa normal
(FEV1/FVC ≥ 80%) dan rendah (FEV1/FVC Jenis Laki-laki 9 22,50
≤80%) sedangkan data illness perception terdiri
dari masing-masing domain yaitu sembilan Kelamin Perempuan 31 77,50
dimensi, antara lain: (1) Identity
(menggambarkan penyakit dan gejala yang Remaja akhir 21 52,50
dialami sebagai bagian dari penyakit); (2)
Consequences (efek dan outcomes yang Dewasa awal 3 7,50
diharapkan dari penyakit); (3) Illness Coherence
(pendapat mengenai penyebab penyakit); (4) Usia Dewasa akhir 6 15,00
Timeline (berapa lama penyakit akan
berlangsung); (5) Personal control (keyakinan Lansia awal 5 12,50
diri dalam mengontrol gejala penyakit yang
diderita); (6) Emotion (menggambarkan tentang Lansia akhir 5 12,50
reaksi-reaksi emosi negatif); (7) Illness
coherence (menggambarkan arah dimana Derajat reversibilitas dengan FEV1 yang
responden mengevaluasi kelogisan); (8) mengindikasikan terjadinya asma yaitu apabila
Timeline cyclical (menggambarkan penyakit nilainya ≥12% atau selisih 200 ml dari nilai
yang diyakini dengan periode waktu yang penggunaan bronkodilator sebelumnya.
berganti-ganti dimana kadangkala tidak ditandai Penilaian yang berguna untuk indikasi
dengan gejala atau banyak sekali gejala atau keterbatasan aktivitas adalah rasio dari FEV1
disebut penyakit siklus) dan (9) Cure atau dengan FVC. Rasio FEV1/FVC yang normal
Control (kemungkinan penyakitnya dapat adalah lebih besar dari 0,75 sampai 0,80.3
pulih/sembuh), yang setiap domain akan Berdasarkan hasil penelitian pada 40 sampel
menghasilkan jawaban mempengaruhi atau tidak penelitian asma rawat jalan, diperoleh hasil
mempengaruhi. Dalam penelitian ini kuesioner mengenai gejala penyakit asma yang
menggunakan program SPSS 24.0 for windows. dialami oleh subjek penelitian yang akan
Dari uji chi-square, jika nilai sig P>0,05 maka
H0 ditolak yang berarti tidak ada hubungan dipaparkan dalam bentuk tabel sebagai berikut.
signifikan antara illness perception dengan
Tabel 2. Gejala Penyakit Asma yang Dialami
oleh Responden
Jumlah Responden Yang
Mengalami Gejal a Asma
Gejala Penyakit (n =4 0 )
(diambil 4 terbanyak Ada Ti da k Ni l ai
P
dari 13 gejala) Ga n g g uan Ada
(n=5) Gangguan
(n =3 5 )
A4 Sesak nafas 4 35 0,007*
A6 Lelah 4 32 0,426
A9 Mengi 4 34 0,100
A12 Sulit tidur 3 25 0,602
*:nilai p<0,005 yang berarti terdapat hubungan yang
signifikan antara gejala tersebut dengan fungsi paru
Hasil penelitian pada Tabel 2
menunjukkan bahwa 4 besar persepsi terhadap
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 38
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 36-43
gejala penyakit yang dialami responden asma bernafas. Tabel 3 menggambarkan illness
yaitu: sesak nafas (97,50%), mengi (95,00%), perception berdasarkan persepsi mengenai
lelah (90,00%) dan sulit tidur (70,00%). Suara penyakit dan Tabel 4 menggambarkan illness
mengi disebabkan karena terjadinya gangguan perception berdasarkan penyebab penyakit.
saluran pernafasan atau hipersekresi mukus. Namun data ini tidak dapat dilakukan uji chi –
Sedangkan tubuh menjadi lelah dapat
disebabkan kekurangan sel-sel tubuh mengalami square karena banyak kolom dengan angka<5.
kekurangan suplai oksigen karena kesulitan
Tabel 3. Persepsi Responden Mengenai Penyakit Asma
Domain Pertanyaan Kategori jawaban Ada Tidak Ada Jumlah Prosentase
Gangguan Gangguan (n=40) (%)
B1 Consequence Seberapa besar 1 Tidak mempengaruhi sama
sekali (n=5) (n=35) 0 0,00
Sedikit mempengaruhi 0 0
Ragu-ragu 7,5
penyakit asma Cukup Mempengaruhi 25
Sangat mempengaruhi 47,5
mempengaruhi 2 Hanya beberapa hari 2 13 20
Beberapa bulan 0 10 10 2,5
aktivitas 3 Ragu-ragu 2 17 19 5
Beberapa tahun 1 78 35
4 Selamanya 0 11 35
Sama sekali tidak terkontrol 0 22 22,5
5 Sedikit terkontrol 1 13 14 0,00
Ragu-ragu 3 11 14 7,5
B2 Timeline Berapa lama 1 T erkontrol 1 89 37,5
Terkontrol sempurna 0 00 45
menderita penyakit 2 Tidak membantu 0 33 10
Sedikit membantu 1 14 15 0,00
asma 3 Ragu-ragu 3 15 18 2,5
Membantu 1 34 35
4 Sangat membantu 0 00 42,5
0 01 20
5 Tidak pernah sama sekali 0 14 14
1-2x dalam sebulan 3 14 17 12,5
B3 Personal Seberapa besar 1 Tidak tahu 2 68 17,5
(tiba-tiba muncul) 62,5
Control merasa penyakit 2 1-2x dalam seminggu 2 35
Setiap hari 0 77 5
asma telah 3 Sama sekali tidak kuatir 2 23 25 2,5
Sedikit kuatir 15
terkontrol 4 Ragu-ragu 12,5
Kuatir 45
5 Sangat kuatir 10
Tidak mengerti 17,5
B4 Treatment Seberapa besar 1 Sedikit mengerti 0,00
Control yakin pengobatan 2 Ragu-ragu 25
3 Mengerti 45
yang dilakukan 4 Sangat mengerti 25
selama ini mampu 5 Tidak membuat saya emosi 5
Sedikit emosi 27,5
membantu penyakit Ragu-ragu 12,5
asma Emosi 42,5
Sangat emosi 7,5
B5 Timeline Seberapa sering 1 Tidak mempengaruhi sama 10
sekali 20
Cyclical mengalami gejala 2 Sedikit mempengaruhi
asma 3 Ragu-ragu 12,5
Mempengaruhi 55
B6 Illness Seberapa besar 4 Sangat mempengaruhi 1 12 12,5
Coherence kecemasan 5 0 11 0,00
terhadap penyakit 1 1 56
B7 Identity asma 2
3 2 35
Seberapa besar 4 1 17 18
pemahaman 5 0 44
penyakit asma 1 1 67
2 0 00
B8 Emotion Seberapa besar 3 1 9 10
penyakit asma 4 1 17 18
5 3 7 10
mempengaruhi 1
emosional 2 0 22
3 2 9 11
B9 Causal Seberapa besar 4 2 35
5 1 16 17
1 0 33
0 44
2 1 78
3
Representation penyakit asma 4
5
mempengaruhi 1 45
2 20 22
kondisi keuangan 1 45
0 00
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 39
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 36-43
Tabel 4. Pengaruh Persepsi Responden Persepsi Responden Mengenai Penyakit Asma
Mengenai Penyebab Asma terhadap
Nilai Fungsi Paru Fungsi Paru
Persepsi Responden Mengenai Penyakit Asma Pertanyaan Kategori Ada Tidak
pekerjaan (C11) Jawaban G angguan Ada
G angguan
Rasa emosional setuju (n:5) (n:35)
(seperti merasa sedih, Tidak setuju
Fungsi Paru kesepian, kecemasan) Ragu-ragu
(C12) Setuju
Pertanyaan Kategori Ada Tidak Penuaan/bertambahnya Sangat setuju 03
Stres atau cemas (C1) Jawaban G angguan Ada usia (C13) Sangat tidak 01
G angguan setuju 5 27
Keturunan/ genetik Sangat tidak (n:5) (n:35) Konsumsi alkohol Tidak setuju
(C2) setuju (C14) Ragu-ragu 04
Tidak setuju 00 Setuju 02
Kuman, virus, infeksi Ragu-ragu Merokok (C15) Sangat setuju
(C3) Setuju 2 15 Sangat tidak 3 11
Sangat setuju 00 Akibat cedera (C16) setuju 02
Pola atau kebiasaan 3 17 Tidak setuju
makan (C4) Sangat tidak 03 Kekebalan tubuh Ragu-ragu 2 18
setuju menurun (C17) Setuju 02
Nasib buruk (C5) Tidak setuju 00 Sangat setuju 01
Ragu-ragu Sangat tidak
Perawatan buruk di Setuju 3 17 setuju 4 31
masa lalu (C6) 01 Tidak setuju
Sangat setuju 2 10 Ragu-ragu 12
Polusi Lingkungan Sangat tidak Setuju 01
(C7) setuju 07 Sangat setuju 00
Tidak setuju 02 Sangat tidak 14
Perilaku saya sendiri Ragu-ragu setuju
(C8) 2 23 Tidak setuju 3 31
Setuju 04 Ragu-ragu 10
Selalu berpikir negatif Sangat setuju Setuju 00
(C9) Sangat tidak 34 Sangat setuju 00
setuju 02 Sangat tidak 12
Masalah dalam Tidak setuju 00 setuju
keluarga (C10) Tidak setuju
Ragu-ragu 2 23 Ragu-ragu 2 28
Terlalu banyak Setuju Setuju 00
Sangat setuju 03 Sangat setuju 23
Sangat tidak 37 Sangat tidak 02
setuju 02 setuju 14
11 Tidak setuju
Tidak setuju Ragu-ragu 4 30
Ragu-ragu 4 28 Setuju 01
Setuju 02 Sangat setuju 00
Sangat setuju 03 00
Sangat tidak 01 00
setuju 12
Tidak setuju
Ragu-ragu 4 27 2 27
Setuju 02 02
Sangat setuju 04 32
Sangat tidak 00 04
setuju 00
Tidak setuju
Ragu-ragu 11 Selain pemantauan outcome terapi
Setuju 00 berupa fungsi paru atau gejala klinis, faktor yang
Sangat setuju 4 28
Sangat tidak 06 mempengaruhi outcome adalah illness
setuju 01 perception, yaitu keyakinan subjektif pasien dan
Tidak setuju respons emosional terhadap penyakitnya. Illness
Ragu-ragu 1 18 perception dapat mempengaruhi perilaku dalam
Setuju 10 penanganan penyakitnya, yang otomatis juga
Sangat setuju 3 12 akan mempengaruhi outcome terapi. Walaupun
Sangat tidak 04
setuju 02 penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Tidak setuju Lorensia et al.21 justru menunjukkan hasil yang
Ragu-ragu 3 16 berbeda, bahwa tida ada hubungan antara fungsi
Setuju 03 paru dan illness perception.
Sangat setuju 2 14
00
Sangat tidak
setuju 11
Tidak setuju
Ragu-ragu 3 17
Setuju 01
1 15
Sangat setuju
Sangat tidak 01
00
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 40
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 36-43
Tabel 5. Persepsi Responden Mengenai Tiga 6. Treatment control, mengambarkan
keyakinan individu terhadap pengobatan
Faktor Tertinggi Penyebab Asmanya yang direkomendasikan.
Jumlah 7. Illness coherence, sebagai sebuah tipe
metakognisi yang mengambarkan arah
responden yang dimana pasien mengevaluasi kelogisan
atau manfat dari ilness representation
No. Kemungkinan penyebab m e n jawab mereka.
Ke - Ke - Ke - 8. Emotion, mengambarkan tentang reaksi-
reaksi emosi negative (contoh: takut,
123 marah dan sedih) terhadap penyakit yang
diderita.
1 Stres atau cemas 340
9. Causal representation, mengambarkan
2 Keturunan / genetik 301 hal yang diyakini yang mempengaruhi
meningkatkan penyakit seseorang, seperti
3 Kuman, virus, infeksi 131 faktor lingkungan dan tingkah laku.
4 Pola atau kebiasaan makan 122 Oleh karena itu pemahaman pasien
terhadap kepercayaannya dalam kesehatan dan
5 Nasib buruk 100 penyakit terkait perilaku yang sangat penting
untuk keefektifan perawatan farmasi, yang
6 Perawatan buruk di masa lalu 0 0 0 digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan
kepatuhan pengobatan. Kurangnya kepatuhan
7 Polusi lingkungan 11 15 4 dalam pengobatan asma dapat menyebabkan
gejala asma yang tidak terkontrol sepanjang
8 Perilaku saya sendiri 242 hari, keterbatasan aktivitas, bahkan mungkin
memerlukan rujukan ke unit gawat darurat.19
9 Selalu berpikir negatif 000
Ke s impulan
10 Masalah dalam keluarga 000 Kesembilan dimensi pada illness
11 T erlalu banyak pekerjaan 063 perception telah mengungkapkan berbagai
macam persepsi sakit responden. Persepsi sakit
12 Rasa emosional (seperti 030 responden mengenai identity, consequences,
personal control, treatment control, timeline
merasa sedih, kesepian, cyclical, emotion, causal representation sudah
benar, dimana responden mengetahui gejala-
kecemasan) gejala sesungguhnya yang dialami oleh
penderita asma. Sedangkan mengenai Illness
13 Penuaan / bertambahnya usia 0 0 0 coherence, dan timeline masih kurang, dimana
responden tidak mengetahui penyebab asma
14 Konsumsi alkohol 000 yang sesungguhnya, tidak terkontrolnya asma
yang diderita karena responden mengatakan
15 Merokok 120 ragu-ragu atau tiba-tiba asmanya muncul selain
itu responden banyak yang tidak mengetahui
16 Akibat cedera/kecelakaan 000 bahwa asma akan dialami seumur hidupnya.
17 Kekebalan tubuh menurun 001
Keterangan :
Ke-1: Pilihan pertama
Ke-2: Pilihan kedua
Ke-3: Pilihan ketiga
Illness perception juga dapat
mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam
menghadapi dan menangani kondisi
penyakitnya. Baik dalam penanganan
munculnya penyakit, kepatuhan pengobatan, dan
harapan di masa datang. Illness perception
dibagi dalam sembilan dimensi yang
mempengaruhinya, antara lain:
1. Identity, mengenai persepsi terhadap
gejala terkait.
2. Consequence, mengenai keyakinan
individu terhadap dampak pada kondisi
fisik dan sosial-psikologis.
3. Timeline akut/kronis, mengenai durasi
lama penyakit yang diderita sampai
dianggap sembuh/membaik.
4. Timeline cyclical, mengambarkan
penyakit yang diyakini dengan variasi
periode gejala (siklus penyakit).
5. Personal control, mengambarkan besar
keyakinan dalam mengontrol gejala
penyakit.
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 41
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 36-43
Ucapan Terima Kasih Sophia, the St. Catherine University
Para peneliti mengucapkan terima kasih
Repository [Internet]. 2012 [cited 2020 Jun
atas dukungan Hibah LPPM Universitas
Surabaya. 1]. Available from:
https://sophia.stkate.edu/msw_papers/57.
9. McHugh RK, Hearon BA, Otto MW.
Re fe re ns i Cognitive behavioral therapy for substance
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. use disorders. Psychiatr Clin North Am.
Situasi Kesehatan Reproduksi Remaja. [Internet]. 2010 [cited 2020 Jun
Jakarta: Kemenkes RI; 2016. 1];33(3):511‐25. Available from:
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://dx.doi.org/10.1016%2Fj.psc.2010.04.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 012.
[Internet]. 2018 [cited 2020 Jun 1]. 10. Harvey AG, Gumport NB. Evidence-based
Available from: psychological treatments for mental
http://www.depkes.go.id/resources/downloa disorders: modifiable barriers to access and
d/infoterkini/materi_rakorpop_20 possible solutions. Behav Res Ther.
18/Hasil%20Riskesdas%202018.pdf
– [Internet]. 2015 [cited 2020 Jun 9];68:1‐12.
Diakses Agustus 2018. Available from:
3. Global Initiative for Asthma (GINA). https://dx.doi.org/10.1016%2Fj.brat.2015.02
Global Burden of Asthma [Internet]. 2019 .004.
[cited 2020 Jun 1]. Available from: 11. Grady PA, Gough LL. Self-management: a
https://ginasthma.org/gina-reports/. comprehensive approach to management of
4. Braido F. Failure in asthma control: reasons chronic conditions. Am J Public Health
and consequences. Scientifica (Cairo) [Internet]. 2014 [cited 2020 Jun
[Internet]. 2013 [cited 2020 Jun 7];104(8):e25‐31. Available from:
1];2013:549252. Available from: https://dx.doi.org/10.2105%2FAJPH.2014.3
https://doi.org/10.1155/2013/549252. 02041.
5. Castillo JR, Peters SP, Busse WW. Asthma 12. Boger E, Ellis J, Latter S, Foster C,
Exacerbations: Pathogenesis, Prevention, Kennedy A, Jones F, et al. Self-Management
and Treatment. J Allergy Clin Immunol and Self-Management Support Outcomes: A
Pract. [Internet]. 2017 [cited 2020 Jun Systematic Review and Mixed Research
1];5(4):918‐27. Available from: Synthesis of Stakeholder Views. PLoS ONE
https://dx.doi.org/10.1016%2Fj.jaip.2017.05 [Internet]. 2015 [cited 2020 Jun
.001. 7];10(7):e0130990. Available from:
6. Cho YS. Effective Strategies for Managing https://dx.doi.org/10.1371%2Fjournal.pone.
Asthma Exacerbations for Precision 0130990.
Medicine. Allergy Asthma Immunol Res. 13. Grady PA, Gough LL. Self-management: a
[Internet]. 2017 [cited 2020 Jun 1];9(6):463‐
comprehensive approach to management of
5. Available from: chronic conditions. Am J Public Health
https://dx.doi.org/10.4168%2Faair.2017.9.6. [Internet]. 2014 Aug [cited 2020 Jun
463. 7];104(8):e25-31. Available from:
7. Alhewiti A. Adherence to Long-Term https://doi.org/10.2105/AJPH.2014.302041.
Therapies and Beliefs about Medications. 14. Murphy A. Asthma Treatment and
Int J Family Med. [Internet]. 2014 [cited Monitoring. Clinical Pharmacist [Internet].
2020 Jun 1];2014:479596. Available from: 2010 [cited 2020 Jun 1];2:209-14. Available
https://doi.org/10.1155/2014/479596. from: https://www.pharmaceutical-
8. Lynch MM. Factors Influencing Successful journal.com/files/rps-
Psychotherapy Outcomes. Retrieved from pjonline/pdf/cp201006_asthma_treatment-
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 42
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 36-43
209.pdf. 054.
15. Liao Y, Gao G, Peng Y. The effect of goal 21. Lorensia A, Suryadianta RV, Ratnasari R.
setting in asthma self-management An Overview of The Perception of Lung
education: A systematic review. Int J Nurs Health In The Asthma Patients In Surabaya.
Sci. [Internet]. 2019 [cited 2020 Jun The Indonesian Journal of Public Health
1];6(3):334‐42. Available from: [Internet]. 2019 cited 2020 Jun
https://dx.doi.org/10.1016%2Fj.ijnss.2019.0 1];14(2):267-77. Available from:
4.003. http://dx.doi.org/10.20473/ijph.v14i2.2019.2
16. Kaptein AA, Klok T, Moss-Morris R, Brand 67-277.
PL. Illness perceptions: impact on self-
management and control in asthma. Curr
Opin Allergy Clin Immunol. [Internet]. 2010
[cited 2020 Jun 1];10(3):194‐9. Available
from:
https://dx.doi.org/10.2105%2FAJPH.2014.3
02041.
17. Kim S, Kim E, Ryu E. Illness perceptions,
Self-Care Management, and Clinical
Outcomes According to Age-Group in
Korean Hemodialysis Patients. Int J Environ
Res Public Health [Internet]. 2019 [cited
2020 Jun 1];16(22):4459. Available from:
https://dx.doi.org/10.3390%2Fijerph162244
59.
18. Basu S, Poole J. The Brief Illness perception
Questionnaire. Occupational Medicine
[Internet]. 2016 [cited 2020 Jun 1];66:419–
420. Available from:
https://dx.doi.org/10.1093%2Foccmed%2Fk
qv203.
19. Lorensia A, Lisiska N. Illness perceptions
Study of Asthma Treatment Compliance in
Pharmaceutical Care. ANIMA [Internet].
2011[cited 2020 Jun 1];26(3):184-188.
Available from:
https://www.researchgate.net/publication/29
1831148_Illness_Perceptions_Study_of_Ast
hma_Treatment_Compliance_in_Pharmaceu
tical_Care/link/56a6f3d808aeded22e35497e
/download.
20. Gallucci M, Carbonara P, Pacilli AMG, di
Palmo E, Ricci G, Nava S. Use of
Symptoms Scores, Spirometry, and Other
Pulmonary Function Testing for Asthma
Monitoring. Front Pediatr. [Internet]. 2019
[cited 2020 Jun 1];7:54. Available from:
https://dx.doi.org/10.3389%2Ffped.2019.00
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 43
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 44-50
Hubungan kejadian laten tuberkulosis dengan kontak pada pasien
tuberkulosis
Hadiyanto
Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi, FKIK Atmajaya
ABSTRAK
Laten tuberkulosis masih menjadi masalah di Indonesia, tidak adanya gejala pada pasien laten tuberkulosis
membuat pasien merasa tidak memerlukan pengobatan. Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang menjadi laten
tuberkulosis, seperti faktor dari lingkungan rumah yang lembab, kurang cahaya matahari serta ventilasi, faktor
ekonomi, riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis dan faktor imunitas. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis
hubungan kejadian laten tuberkulosis dengan kontak pasien tuberkulosis. Penelitian ini menggunakan data peran
interferon gamma sebagai biomarker efektivitas vaksin BCG. Penelitian dimulai dari bulan mei – agustus 2018,
menggunakan desain penelitian potong lintang, pasien diambil di puskemas Kecamatan Tambora dan Kecamatan
Penjaringan, kriteria inklusi responden yang mempunyai catatan pemeriksaan yang lengkap yaitu pemeriksaan
IGRA serta riwayat kontakdengan pasien tuberkulosis, kemudian data dianalisis dengan metoda chi squre, jumlah
respoden 421 orang. Hasil penelitian didapatkan responden wanita 265 (62.9%) orang, rentang usia responden 21
– 40 tahun berjumlah 186 (44,2%) orang, IGRA positif 123 (29,2%) orang, responden yang memiliki riwayat kontak
dengan pasien tuberkulosis 105 orang dan tidak memiliki riwayat kontak 316 orang. Prevalensi laten tuberkulosis
sebesar 29 persen, prevalensi menjadi laten tuberkulosis pada responden d engan riwayat kontak sebesar 33,3
persen dan tanpa riwayat kontak 27,8 persen. Hasil analisistidak didapatkan hubungan yang signifikan antara
kejadian laten tuberkulosis dengan riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis (p value 0,284). Oleh karena itu,
perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk memasukan varibel yang belum dimasukan di awal seperti faktor
ekonomi, gizi responden, serta melakukan pemeriksaan ulang untuk mengetahui status kesehatan terkini dari
responden.
Kata kunci: laten TB; riwayat kontak; tuberkulosis
ABSTRACT
Introduction: Latent TB is still a problem in Indonesia, the absenceof symptoms in patients with latent TB makes
patients feel they don't need treatment. Aim of study: The purpose of this study was to analyze the relationship of
latent TB incidence with TB contact patients. Method: This study uses research data on the role of gamma
interferon as a marker of the effectiveness of the BCG vaccine, the samplein this study has a complete examination
record, especially IGRA examination, then thedata areanalyzed by theChi squremethod. The total sample was421
respondents. Results and Discussion: Based on the results of the study of female respondents was 265 (62.9%), with
an age range of 21-40 were 186 (44.2%) respondents, PositiveIGRA 123 (29.2%) respodents, patient contact with
TB patients was 105 people, and no contact history with TB patients was 316 people. The prevalence of latent TB
was 29 percent, while respondents who havea history of contact with tuberculosis patients about 33.3 percent and
without a contact history of 27.8 percent. Conclusion: From the results of the analysis, there was no significant
relationship between latent tuberculosis events and contact history with tuberculosis patients (P value 0.284).
Therefore, further research needs to be done to include variables that have not been included in the beginning such
as economicfactors, respondent nutrition, and conduct a re-examination to determine the current health status of
respondents.
Keywords: latent TB; contact history; tuberculosis
*Korespondensi penulis: 44
Nama : Hadiyanto
Instansi : Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi, FKIK Atmajaya
Alamat : Jl. Pluit Raya 2, Jakarta 14440, Telp. +62-21-6691944
Email : [email protected]
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI)
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 44-50
Pe ndahuluan dengan berkurangnya respons IFN-γ. Perlu
diketahui bahwa respons imun yang terganggu
Laten tuberkulosis masih menjadi dapat memengaruhi kinerja IFN-γ Release
masalah di Indonesia, tidak adanya gejala atau Assays (IGRAs). Merokok memiliki efek negatif
tanda selama tidak bermanifestasi menjadi pada tampilan klinis, penemuan radiologis dan
tuberkulosis aktif,1,2,3,4,5 hal ini membuat menunda waktu konversi sputum. Hasil
penderitanya merasa sehat dan tidak mau penelitian sebelumnya juga menjelaskan bahwa
melakukan pemeriksaan secara dini.2 Tidak merokok memiliki hubungan yang signifikan
dengan kejadian tuberkulosis karena respons
adanya angka pasti penderita laten tuberkulosis IFN-γ yang melemah disebabkan oleh asap
membuat pemerintah tidak dapat melakukan tembakau secara langsung.13 Oleh karena itu,
tindakan pencegahan secara dini, di Amerika penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
Serikat saat ini diperkirakan terdapat sekitar 13 hubungan kejadian laten tuberkulosis dengan
juta orang yang mengidap laten tuberkulosis.1 kontak pada pasien TB di wilayah kecamatan
tambora dan kecamatan penjaringan, Jakarta.
Sekitar 5 sampai 10 persen penderita laten
tuberkulosis akan menjadi penderita tuberkulosis Metodologi
aktif jika tidak diobati.6,7,8 Penelitian ini menggunakan data
Banyak faktor yang memengaruhi sekunder, data diambil dari responden yang ikut
seseorang menjadi laten tuberkulosis, seperti serta dalam penelitian peran interferon gamma
faktor dari lingkungan rumah yang lembab dan sebagai biomarker efektivitas vaksin BCG pada
bulan September 2015–Februari 2016.
kurang cahaya matahari serta ventilasi, faktor Penelitian dilakukan pada bulan Mei–Agustus
ekonomi juga berperan, pada umumnya 2018 dengan kriteria inklusi yaitu riwayat
penderita tuberkulosis tinggal di daerah yang kontak dengan pasien tuberkulosis tercatat
padat penduduknya serta lingkungan yang lengkap dari hasil penelitian sebelumnya. Untuk
kumuh.2,9 Faktor imunitas tubuh pasien juga kriteria ekslusi, yaitu data tidak tercatat lengkap,
status laten tuberkulosis tidak diketahui. Per
berperan, pada pasien dengan imunitas yang definisi operasional yang dimaksud dengan
menurun karena penyakit kronis atau infeksi terdapat kontak dengan pasien tuberkulosis
seperti penyakit diabetes melitus ataupun HIV, berarti responden tinggal bersama dengan
gizi yang kurang serta kebiasaan merokok, penderita tuberkulosis ataupun kontak erat
mempunyai risiko terkena laten tuberkulosis.1,5,10 minimal 8 jam dalam sehari.14 Penelitian dimulai
dengan melakukan pemisahan pasien
Prevalensi laten tuberkulosis yang lebih terkonfirmasi tuberkulosis dahulu, kemudian
memeriksa hasil pemeriksaan yang dilakukan
tinggi juga secara signifikan dikaitkan dengan pada semua anggota keluarga pasien baik yang
bertambahnya usia, tingkat pendidikan, sosial positif tuberkulosis maupun yang tidak
ekonomi dan konsumsi alkohol.11 Beberapa tuberkulosis, serta hasil pemeriksaan IGRA
studi terdahulu juga menjelaskan tentang efek kemudian data yang ada dicatat. Untuk
merokok pada perkembangan penyakit penentuan laten tuberkulosis dilihat dari hasil
pemeriksaan IGRA positif.
tuberkulosis. Penelitian tersebut menjelaskan
bahwa baik perokok aktif maupun pasif berisiko Setelah data terkumpul maka dilakukan
tinggi untuk terjadi infeksi laten tuberkulosis, analisis menggunakan Chi Square apakah
progress perburukan penyakit yang relatif cepat, terdapat hubungan kejadian laten tuberkulosis
tingkat keberhasilan pengobatan yang lebih dengan kontak dengan pasien tuberkulosis,
rendah dan kejadian kematian yang lebih tinggi.
Selain itu, merokok juga telah dikaitkan dengan
kavitasi yang lebih sering pada paru, beban
basiler yang lebih tinggi dan risiko reaktivasi
yang lebih tinggi.12,13
Merokok dapat meningkatkan
kerentanan individu terhadap infeksi
tuberkulosis melalui berbagai cara, salah satunya
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 45
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 44-50
dengan tingkat kemaknaan p-value kurang dari Tabel 3. Hubungan kejadian laten
0,05.
tuberkulosis dengan riwayat kontak
Penelitian ini telah mendapatkan dengan pasien tuberkulosis
persetujuan etik dari komisi etik Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Atma Jaya Vari abe l Laten TB Bukan Laten p-
No.14/08/KEP-FKUAJ/2018, tanggal 20 Juli value
2018. (n =1 2 3 ) TB
(n =2 9 8 )
Riwayat Kontak dengan pasien tuberkulosis
Ya 35 (33,3%) 70 (66,7%) 0
T idak 88 (27,8%) 228 (72,2%)
0,284
Hasil dan Pembahasan Penelitian ini merupakan penelitian
yang menggunakan data sekunder dari penelitian
Responden yang memenuhi kriteria sebelumnya, jumlah responden yang terdapat
inklusi dan eksklusi adalah sebanyak 421 orang, pada penelitian ini adalah 421 orang.
pada penelitian ini. Pada tabel 1, responden Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
sebagian besar berada pada umur 21 sampai 40 responden terbanyak adalah wanita, rentang usia
tahun yaitu 186 (44,2%) orang, dari 186 orang responden adalah 21 sampai 40 tahun, dengan
yang menjadi laten tuberkulosis sebanyak 71 tingkat pendidikan adalah kurang dari SD.
(38,2%) orang. Jenis kelamin terbanyak adalah Responden yang terbanyak wanita disebabkan
perempuan 265 (62,9%) orang, dari 265 orang karena kaum wanita terutama ibu lebih sering
yang menjadi laten tuberkulosis sebanyak 72 berada di rumah untuk mengurusi rumah tangga
(27,2%) orang, tingkat pendidikan sebagian dan menjaga anaknya sehingga lebih mudah
besar kurang dari SD sebanyak 198 (47%) menemui mereka dibandingkan dengan pria
orang, dari 198 orang menjadi laten tuberkulosis dikarenakan sibuk bekerja.
sebanyak 40 (20,2%) orang. Sedangkan pada
Tabel 2 didapatkan hasil pemeriksaan IGRA Berdasarkan dari hasil penelitian dapat
pada responden, hasil IGRA Positif sebanyak disimpulkan bahwa wilayah Tambora dan
123 (29,2%) orang dan IGRA Negatif 298 Penjaringan, mempunyai penduduk yang berusia
(70,8%) orang. Selanjutnya pada tabel 3 diantara 21 sampai 40 tahun yang berarti
didapatkan bahwa tidak ada hubungan kejadian responden memiliki mobilitas yang cukup tinggi
laten tuberkulosis dengan riwayat kontak dengan untuk sekolah ataupun mencari nafkah bagi
pasien tuberkulosis, P-value 0,284. keluarganya, pada akhirnya dapat terpapar
kuman tuberkulosis dari mana saja, bisa dari saat
Tabel 1. Karakteristik Responden menggunakan transportasi massal, dari teman
atau rekan sekerja ataupun dari orang lain. Hal
Karakteristik Laten TB Bukan Laten TB ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di
Responden (n=123) (n=298) Afrika yang mengatakan terdapat hubungan
yang signifikan antara pergi ke sekolah atau
Kelompok Umur 23 (14,6%) 135 (85,4%) bekerja dengan kejadian laten tuberkulosis.15
≤20 tahun 71 (38,2%) 115 (61,8%)
21-40 tahun 29 (37,7%) 48 (62,3%) Pada penelitian yang dilakukan di
≥41 tahun Negara dengan tingkat perekonomian yang
51 (32,7%) 105 (67,3%) rendah, ditemukan prevalensi laten tuberkulosis
Jenis Kelamin 72 (27,2%) 193 (72,8%) sebesar 16,1% yang terjadi pada usia remaja
Laki-laki berusia 12-18 tahun. Adapun faktor risiko yang
40 (20,2%) 158 (79,8%) memengaruhi laten tuberkulosis meliputi: usia
Perempuan 35 (34,0%) 68 (68,0%) 17-18 tahun dan 16-17 tahun, jenis kelamin laki-
Tingkat Pendidikan 48 (40,0%) 72 (60,0%) laki, bekas luka vaksin BCG yang terlihat,
riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis
≤ SD yang diketahui dalam 2 tahun terakhir dan tidak
SMP bersekolah. Negara yang memiliki tingkat
SMA dst
Tabel 2. Hasil Pemeriksan IGRA Responden
Has il
Pemeriksaan Jumlah (n) Percent (% )
Po s itif 123 29,2
Negatif 298 70,8
Total 421 100,0
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 46
CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal
Vol. 1, No. 1, Juni 2020, hlm. 44-50
perekonomian tinggi pada umumnya telah dengan penelitian yang dilakukan di Etiophia
memasukkan anggaran kesehatan untuk ataupun di Afrika yaitu 63,7% dan 49%. Dengan
pengobatan infeksi laten tuberkulosis, namun prevalensi masih 29 persen berarti Indonesia
sebaliknya pada Negara yang berpenghasilan masih mempunyai kesempatan yang besar untuk
rendah biasanya lebih mengutamakan intervensi melakukan pencegahan dini supaya laten
hanya untuk pasien yang terinfeksi HIV dan tuberkulosis ini tidak menjadi tuberkulosis aktif
anak-anak yang kontak dengan penderita mengingat sekitar 5 sampai 10 persen dari
tuberkulosis dan kelompok berisiko laten penderita laten tuberkulosis akan menjadi
tuberkulosis tertinggi.16 penderita tuberkulosis aktif.1,4
Perbedaan jenis kelamin menjadi Perlu dipahami bahwa laten tuberkulosis
prediktor terjadinya laten tuberkulosis. didefinisikan sebagai keadaan respons imun
Walaupun pada karakteristik didapatkan yang persisten terhadap stimulasi oleh antigen
sebagian besar responden adalah wanita, namun Mycobacterium tuberculosis tanpa adanya
pada penelitian terdahulu ditemukan bahwa tampilan klinis tuberkulosis aktif. Individu yang
proporsi laten tuberkulosis secara signifikan laten tuberkulosis adalah reservoir untuk kasus
lebih tinggi pada laki-laki daripada wanita (p = tuberkulosis aktif. Deteksi dan pengelolaan laten
0,010). Selain itu, perbedaan dalam proporsi tuberkulosis saat ini menjadi komponen utama
laten tuberkulosis antara jenis kelamin yang dari strategi WHO dalam pengendalian dan
paling menonjol ada pada pasien lansia.17 pencegahan penyakit tuberkulosis. Hal ini
Wanita juga mempunyai peranan penting dalam penting karena individu yang laten tuberculosis
keluarga tidak hanya mengurus keluarga tetapi dapat berkembang menjadi tuberkulosis aktif
juga dalam pencegahan penyakit di dalam rumah atau reaktivasi dan risiko semakin meningkat
misalnya dengan membuka jendela rumah ketika pada individu yang memiliki daya tahan tubuh
membersihkan rumah, hal ini berguna agar sinar yang lemah.20
matahari dapat masuk ke dalam rumah serta
membuat sirkulasi udara dalam rumah menjadi Hasil uji dengan Chi Square yang
lancar, yang pada akhirnya dapat membunuh menganalisis hubungan kejadian laten
kuman penyebab tuberkulosis.18 Selain jenis tuberkulosis terhadap riwayat kontak
kelamin laki-laki, usia, faktor lainnya yang menunjukkan tidak ada hubungannya (p-value
berisiko terhadap laten tuberculosis adalah 0,284). Dalam studi sebelumnya, kejadian laten
riwayat keluarga dengan penderita tuberkulosis, tuberkulosis justru berkaitan erat dengan riwayat
dan bekerja di unit pulmonologi.19 kontak dengan penderita dimana diperolah
prevalensi laten tuberkulosis yang tinggi pada
Prevalensi laten tuberkulosis pada individu yang pernah kontak dengan penderita
penelitian ini adalah 29 persen, riwayat kontak sebelumnya, orang asing, tunawisma, pengguna
pada pasien tuberkulosis yang tinggal serumah narkoba suntik, dan tahanan negara.21,22
sebanyak 105 orang, dari 105 orang ini yang
menjadi laten tuberkulosis sebanyak 35 (33.3%) Untuk membuat seseorang tetap sehat
orang, sedangkan dari pasien yang tidak harus dilihat secara holistik yang dapat
dipengaruhi oleh perilaku, genetik, lingkungan,
mempunyai riwayat kontak sebanyak 316 orang, serta pelayanan kesehatan, dalam penelitian ini
yang menjadi laten tuberkulosis sebesar 88 dapat disebabkan karena riwayat kontak dengan
(27.8%) orang. Hal ini berarti seseorang pasien tuberkulosis saja tidak cukup untuk
kemungkinan menjadi laten tuberkulosis setelah membuat seorang pasien menjadi laten
kontak dengan pasien tuberkulosis aktif sekitar tuberkulosis, masih banyak faktor yang
33.3%, dan tanpa riwayat kontak dengan pasien berpengaruh seperti faktor imunitas dari
tuberkulosis dapat menjadi laten tuberkulosis seseorang, faktor ekonomi, lingkungan serta
sekitar 27.84%. Prevalensi laten tuberkulosis gizi.8,9 Penelitian ini sejalan dengan penelitian
dalam penelitian ini lebih rendah dibandingkan yang dilakukan oleh Martin tahun 2008, dengan
Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) 47