Kebijakan Merdeka Belajar yang dimulai oleh Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) periode 2019-2024, saat ini
sangat mengharapkan dan mengandalkan guru untuk mendorong implementasi
kebijakan tersebut di lapangan. Bagi para guru, sesungguhnya ini bukan sekedar soal
bagaimana mereka dapat memahami kebijakan Merdeka Belajar, namun ternyata ini pun
adalah soal bagaimana mereka “belajar merdeka”.
Menurut ajaran Ki Hajar Dewantara, manusia merdeka adalah manusia yang
secara lahir bebas dan secara batin mandiri. Disukai atau tidak, di luar kelebihan dan
kelemahannya, baik atau tidak karakternya, profesi guru hingga kini masih dipandang
sebagai profesi yang dianggap tinggi derajatnya di tengah masyarakat. Dari kenyataan
itu, dapatlah kita lihat bahwa guru sesungguhnya memiliki kesempatan untuk
mencontohkan karakter kebaikan yang diharapkan oleh masyarakatnya. Pilihannya
sekarang, apakah ingin memanfaatkan kesempatan tersebut dengan kesadaran penuh,
atau membiarkannya lewat begitu saja dan tidak melakukan apa-apa. Guru perlu
menangkap dan memanfaatkan segala peluang yang tersedia untuk menumbuhkan lebih
banyak manusia-manusia merdeka.
Ki Hajar Dewantara pernah menyatakan bahwa pendidikan adalah tempat
persemaian benih-benih kebudayaan, dengan demikian kebudayaan dan pendidikan
merupakan satu kesatuan yang utuh. Kebudayaan tersebut adalah sebuah peradaban,
sebuah cita-cita masyarakat yang ingin dibentuk oleh sebuah bangsa, mimpi sebagai
bangsa, di mana semua disemaikan benihnya, dimulai pengerjaannya, dari apa yang
dikerjakan di pendidikan. Pada periode ini, dunia pendidikan Indonesia telah
merumuskan sebuah harapan besar mengenai manusia dengan profil seperti apa yang
akan ditumbuhkan lewat layanan pendidikan di Indonesia. Kita menyebutnya sebagai
Profil Pelajar Pancasila. Inilah hasil yang diharapkan dari benih yang disemai dalam lahan
ekosistem pendidikan Indonesia.
Rumusan Profil Pelajar Pancasila tersebut berupaya menerjemahkan tujuan
pendidikan nasional ke dalam wujud karakter seorang manusia Indonesia yang merdeka.
Silakan Anda baca Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen
Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Nomor
009/H/Kr/2022 Tentang Dimensi, Elemen, dan Sub-elemen Profil Pelajar Pancasila pada
Kurikulum Merdeka berikut ini, https://bit.ly/Dimensi_Pelajar5sila yang lebih rinci
dalam menjelaskannya.
Menumbuhkan manusia merdeka berprofil Pelajar Pancasila membutuhkan
usaha sadar dan terencana, sekaligus upaya yang disengaja untuk menyediakan contoh
keteladanan dan pembiasaan sistemik yang konsisten. Guru adalah teladan, mereka
adalah pemimpin di dunia pendidikan. Merekalah yang menjadi ujung tombak upaya
menyediakan layanan pembelajaran berkualitas bagi peserta didik. Dengan begitu, sikap
melayani dalam diri guru perlu terus dibiasakan dan ditumbuhkan dengan sengaja.
Isyarat karakter guru pemimpin yang dapat menuntun kekuatan kodrat peserta didiknya
demi menuju keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi-tingginya telah tampak dalam
wejangan Ki Hajar Dewantara yang paling
kita kenal: ing ngarsa sung tuladha (di depan
peserta didik, menjadi contoh keteladanan),
ing madya mangun karsa (di tengah-tengah
peserta didik, membangun semangat dan
kehendak kebaikan), tut wuri handayani
(mengikuti di belakang untuk memberdayakan murid dan mendatangkan manfaat bagi
peserta didik). Sikap ini harus dibangun, bukan untuk menjadi yang terbaik tetapi untuk
menjadi pendidik yang lebih baik dari hari ke hari. Lumpkin (2008), menyatakan bahwa
guru dengan karakter baik mengajarkan peserta didik mereka tentang bagaimana
keputusan dibuat melalui proses pertimbangan moral.
Guru dengan karakter yang baik akan melestarikan nilai-nilai kebaikan di tengah
masyarakat melalui peserta didik mereka. Guru adalah insan yang senantiasa belajar dan
menguatkan karakter baik dalam dirinya. Sebagai calon guru, mahasiswa harus mulai
belajar menumbuhkan karakter baik sejak masa pendidikan mereka. Lewat projek
kepemimpinan ini mahasiswa berkesempatan untuk mengembangkan karakter baik itu
dengan service-learning di mana mereka akan masuk langsung ke dalam suatu
sekolah/komunitas untuk melayani kepentingan menumbuhkan karakter manusia
merdeka pada peserta didik/anak di sana. Dengan service-learning diharapkan
mahasiswa dapat lebih meresapi, menangkap, sekaligus berupaya menyediakan
kebutuhan dan kepentingan peserta didik/anak di sekolah/komunitas sasaran.
Untuk memahami bagaimana mendesain penumbuhan karakter manusia
merdeka di sekolah, kita gunakan perumpamaan gunung es. “Diagram Identitas Gunung
Es” ini berusaha menggambarkan bagaimana karakter seseorang ditumbuhkan. Guru
adalah petani, yang merawat
tumbuhnya nilai-nilai kebajikan yang
diharapkan sebagai manusia merdeka
dalam diri peserta didik. Guru dapat
menyediakan sebanyak mungkin
kesempatan, merekayasa suasana, dan
mengembangkan lingkungan yang
secara konsisten kemudian dapat
mempengaruhi “kotak identitas”
peserta didik sehingga mereka dapat berproses menumbuhkan nilai-nilai kebajikan
tersebut. Oleh karena itu, guru harus terus mengembangkan diri menjadi teladan nilai-
nilai kebajikan dan memanfaatkan ekosistem lingkungan sadar dan bawah-sadar,
lingkungan fisik dan psikis, maupun lingkungan ekstrinsik dan intrinsik untuk
menumbuhkan nilai-nilai kebajikan dengan konsisten melalui gotong-royong bersama
segenap anggota komunitas di sekolahnya.