The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisi kegiatan belajar sesuai alur merdeka untuk modul modul pendidikan guru penggerak serta kumpulan aksi nyata tiap modul tersebut. Dilengkapi dengan QR Code dari tugas-tugas dan aksi nyata tersebut.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by muissmpsatugresik, 2023-04-29 07:11:45

Jejak Pendidikan Guru Penggerak Dalam Aksi Nyata by M. Muis

Buku ini berisi kegiatan belajar sesuai alur merdeka untuk modul modul pendidikan guru penggerak serta kumpulan aksi nyata tiap modul tersebut. Dilengkapi dengan QR Code dari tugas-tugas dan aksi nyata tersebut.

Keywords: aksi nyata

46 Pembelajaran Sosial Dan Emosional Pembelajaran modul 2.2 dimulai dari tanggal 14 november 2022, CGP mengikuti mulai dari diri dan eksplorasi konsep secara mandiri di LMS, tanggal 15-16 november 2022 termasuk ekplorasi konsep melalui forum diskusi di LMS. Adapun materi yang dapat saya pelajari dengan topik pembelajaran sosial emosional (PSE) meliputi: pengertian PSE, contoh pembelajaran kesadaran diri, contoh pembelajaran kesadaran social, contoh pembelajaran keterampilan berelasi, contoh pembelajaran manajemen diri, contoh pembelajaran pengambilan keputusan bertanggung jawab. Pada tanggal 17 nopember 2022 mengikuti vicon ruang kolaborasi sesi 1 yang dipandu oleh bapak faisal rachman selaku fasilitator dilaksanakan mulai pukul 15.30-17.45 wib. Ruang kolaborasi sesi 1 Dilanjutkan dengan mengikuti vicon ruang kolaborasi sesi 2 yang dipandu oleh bapak faisal rachman selaku fasilitator pada tanggal 18 november 2022 pukul 15.30-17.45 wib.


47 Ruang kolaborasi sesi 2 Pada tanggal 21 November 2022, secara mandiri saya mengerjakan tugas untuk demonstrasi kontekstual yaitu menyusun rencana RPP diferensiasi untuk dipraktikkan di aksi nyata. Setelah itu, pada tanggal 23 nopember 2022, saya melanjutkan mengikuti mengikuti vicon sesi elaborasi yang dipandu oleh bapak Dr. Kusnohadi, M.pd selaku instruktur nasional. Kemudian pada tanggal 24-25 november 2022 secara mandiri membuat kesimpulan dan refleksi (koneksi antar materi) berdasarkan materi modul 2.2. Pembelajaran sosial emosional, 2.1. Memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran diferensiasi, kaitannya dengan modul 1.3. Visi guru penggerak, modul 1.2 nilai & peran guru penggerak dan modul 1.4 budaya positif, serta modul 1.1. Filosofi pendidikan ki hadjar dewantara yang mana bagian dalam penerapan menjadi panduan untuk melakukan aksi nyata modul 2.2. Yaitu menerapkan PSE di UPT SMP Negeri 1 Gresik.


48 Ruang elaborasi Perasaan saya mempelajari modul ini adalah sangat bersykur, bahagia, semangat dan antusias karena telah dapat mengidentifikasi setiap emosi yang muncul dan dapat mengelola setiap emosi negatif dan positif melalui teknik-teknik yang telah saya pelajari di dalam kompetensi social emosional dan ingin menyusun rencana pembelajaran untuk pengembangan kompetensi sosial emosional yang terintegrasi pada pembelajaran diferensiasi dengan strategi diferensiasi konten, proses, atau produk untuk diterapkan di kelas. Setelah mengikuti pembelajaran di modul ini, saya memahami bahwa tujuan pembelajaran sosial emosional adalah memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan utnuk mengelola emosi, menetapkan dan mencapai tujuan positif, merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain, membangun dan mempertahankan hubungan yang positif serta membuat keputusan yang bertanggung jawab.


49 Pembelajaran minggu ini membuat saya telah memahami pembelajaran sosial emosional (PSE). Pengalaman dari instruktur yang dibagikan kepada CGP membuat saya mendapat inspirasi tentang penerapan kompetensi sosial emosional (KSE) di kelas. Saya mendapat inspirasi berupa contoh-contoh yang dapat saya modifikasi dan adaptasi untuk diterapkan. Sangat penting bagi guru untuk memahami dan menerapkan pembelajaran sosial dan emosional karena proses pembelajaran anak tidak tergantung pada aspek intelegensi atau kemampuan kognitif saja. Tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lain seperti aspek perkembangan emosi dan social. Pemahaman terhadap pembelajaran social dan emosional akan berdampak terhadap guru. Guru akan memiliki sikap empati dan kepedulian terhadap pola pendidikan dan tindakan terhadap muridnya. Murid akan meneladani sikap dan tabiat guru tersebut. Saya juga mendapat pembelajaran berupa mencoba praktik teknik stop bersama instruktur selama pembelajaran. Melalui proses pembelajaran ini, saya menyadari bahwa KSE sangat diperlukan oleh guru untuk melakukan berbagai kegiatan dan untuk mengoptimalkan potensi siswa. Dengan mempelajari modul PSE, saya dapat mengenali perasaan, mengelola diri, memahami orang lain, membangun komunikasi, dan mengambil keputusan dengan lebih baik. Sehingga, saya akan mampu melaksanakan pembelajaran,


50 kegiatan sekolah, kegiatan di masyarakat, dan di keluarga dengan lebih baik, responsif, dan bertanggung jawab. Saya juga bisa membelajarkan siswa 5 KSE melalui integrasi dalam pembelajaran, membelajarkan secara terintegrasi meliputi keterampilan berelasi-hubungan positif melalui sapaan hangat, kesadaran diri–pengeloaan emosi melalui teknik stop, dan kesadaran sosial – berempati melalui diskusi tutor sebaya, dan mempengaruhi pola pikir siswa serta mengajak rekan sejawat untuk mencobanya. Melalui penerapan KSE, saya yakin siswa akan menjadi orang yang mampu menghadapi masalah, menemukan solusi atas masalahnya, dan menjadi orang yang berkarakter baik. Berikut beberapa tugas yang telah terselesaikan dapat dilihat di sini. 1. Ruang kolaborasi dapat dilihat di link https://drive.google.com/drive/folders/13g6vndfushcatvozutkq0mf7hoanqiu?usp=sharing Pindai QR Code ini untuk melihat dokumennya. 2. Demonstrasi kontekstual dapat dilihat di link https://drive.google.com/file/d/1omqyvtoed4aablucfmxnmsn8kn6ca7k/view?usp=sharing


51 Pindai QR Code ini untuk melihat dokumennya. 3. Koneksi antar materi dapat dilihat di link https://youtu.be/nuqhp7fh7p0 Pindai QR Code ini untuk melihat videonya. Aksi Nyata Sebelum mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa kompetensi sosial emosional murid akan terbentuk dengan sendirinya sejalan dengan bertambahnya umur mereka menuju kedewasaan sehingga dalam pembelajaran di kelas saya lebih focus pada penyampaian materi pelajaran. Setelah saya mempelajari modul ini, ternyata pembelajaran berbasis sosial emosional perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa kesiapan, keterlibatan dan fokus murid dalam memulai pembelajaran. Saya meyakini kesiapan, keterlibatan murid pada proses pembelajaran tidak tergantung pada aspek inteligensi atau kemampuan kognitif saja, tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lain seperti aspek perkembangan emosi dan sosial. Pada murid aspek sosial emosi ini dapat dikembangkan melalui pembelajaran sosial emosional. Pembelajaran sosial emosional adalah proses


52 mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi sosial dan emosional sebagai modal murid dalam berinteraksi dengan dirinya, orang lain dan lingkungan sekitar. Berikut modul ajar dalam pembelajaran dalam aksi nyata modul ini dapat dilihat di link https://drive.google.com/file/d/1rccl9c6glhy2rctbasbbxqwxda5uc hti/view?usp=sharing. Pindai QR Code ini untuk melihat dokumennya. Sedangkan dokumentasi kegiatan pembelajarannya dapat dilihat di link https://youtu.be/pk1vczurxru. Pindai QR Code ini untuk melihat videonya.


AKSI NYATA CGP Angkatan 6 Mempraktikkan rangkaian supervisi akademik dengan menggunakan paradigma berpikir coaching dan melakukan refleksi terhadap praktik supervisi akademik


54 Coaching Untuk Supervisi Akademik Bismillahirohmanirrohim, aktivitas pembelajaran yang telah saya ikuti di learning management system (LMS) modul ini. Kegiatan dimulai dari modul diri 2.3.a.2 sampai post tes modul 2. Berikut lini masa kegiatannya. Mulai dari diri dan eksplorasi konsep-mandiri Eksplorasi konsep –mandiri Eksplorasi konsep –forum diskusi Eksplorasi konsep –forum diskusi Ruang kolaborasi sesi 1 Ruang kolaborasi sesi 2 Demonstrasi kontekstual Elaborasi pemahaman Koneksi antar materi Aksi nyata Postes paket modul 2 Jurnal refleksi dwi mingguan : 28 nov 2022 : 29 nov 2022 : 30 nov 2022 : 1 des 2022 : 2 des 2022 : 5 des 2022 : 6 des 2022 : 8 des 2022 : 9 des 2022 : 12 -15 des 2022 : 13 des 2022 : 13 des 2022 Beberapa aktivitas pembelajaran yaitu diawali mulai dari 2.3.a.2. Membaca surat dari instruktur kemudian lanjut 2.3.a.3 mulai dari diri, di sana saya membuat blog yang berisikan jawaban dari pertanyaan pemantik yang diberikan untuk merefleksikan diri saya tentang disupervisi di sekolah saya, kemudian masuk ke eksplorasi konsep, modul 2.3.a.4.1 yang membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri


55 coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari sistem among yang merupakan konsep dari ki hajar dewantara, selanjutnya masuk ke modul 2.3.a.4.2 tentang eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervise akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik. Selanjutnya di modul 2.3.a.4.3 di bahas tentang kompetensi inti coaching dan tirta sebagai alur percakapan coaching , disini dipelajari alur coaching mulai dari tujuan, identifikasi, rencana aksi, dan tanggung jawab yang diakronimkan menjadi tirta, diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir, disini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif dengan sesekali memberikan tanggapan atas apa yang sedang dibicarakan oleh coachee, dan dibahas tentang keterampilan


56 membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching, selain itu, modul ini juga membahas tentang jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana aksi, coaching untuk melakukan refleksi, coaching untuk memecahkan masalah dan coaching melakukan kalibrasi, selanjutnya di forum diskusi eksplorasi kami saling melakukan pemantapan pemahaman dengan berdiskusi antar CGP. Pada modul 2.3.a.5 yaitu ruang kolaborasi sesi 1, saya berpasangan dengan bu umi syarifah dan bapak fany untuk mempraktikan sebuah percakapan coaching untuk benar-benar memberikan pengalaman coaching secara nyata dengan teman sesama CGP secara daring. Ruang kolaborasi sesi 1 Pada ruang kolaborasi sesi 2, dengan pasangan tetap saya mempraktikan percakapan dengan alur tirta secara daring dengan skenario bergantian sebagai coach, dan coachee. Hasil percakapan direkam dan diunggah sebagai salah satu tagihan dari LMS sebagai tugas ruang kolaborasi.


57 Ruang kolaborasi sesi 2 Pada modul 2.3.a.6 demonstrasi kontekstual, kami mempraktikkan percakapan secara luring yang beranggotakan 3 orang (bu wiwik djubaida saya, dan bu dwi handayani), kami membuat video percakapan dengan 1 CGP menjadi observer, 1 CGP lain menjadi coach, dan 1 CGP lainnya menjadi coachee, kami melakukan secara bergiliran, kegiatan ini menambah pemahaman kami tentang bagaimana seharusnya menjadi observer, apa yang perlu diperhatikan pada saat pra observasi, saat observasi dan pasca observasi. Selanjutnya saya belajar modul 2.3.a.7 yaitu elaborasi pemahaman bersama instruktur nasional ibu Murwati Widiani membahas tentang coaching dan supervisi akademik lebih dalam lagi.


58 Ruang elaborasi Saya membuat koneksi antar materi modul 2.3. Dengan memberikan refleksi saya dengan apa yang saya dapat dan bagaimana dengan rencana dan langkah ke depannya yang akan saya lakukan, selanjutnya yaitu membuat rancangan aksi nyata yang berkaitan dengan supervisi akademik yang dilakukan dengan teman sejawat, dan pada hari selasa, 13 desember saya melakukan test akhir modul 2. Saya antusias dan sangat semangat tergugah mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. Ini, saya penasaran di awalnya bagaimana menjadi coach yang baik, dan kemudian merasa senang sekali karena semuanya terjawab di modul ini ditambah dengan beberapa praktik langsung bersama rekan CGP untuk membuat pemahaman baik tentang modul 2 ini. Dari hasil praktik saya merasa masih banyak kekurangan diantaranya memperlancar pengajuan pertanyaan berbobot lebih serta berpikir terbuka yang bersifat menggali dan memetakan situasi sehingga coachee dapat memahami posisi sebenarnya dan apa yang dapat dilakukan oleh coachee


59 dalam penyelesaian dengan masalah yang ada namun saya masih bersemangat untuk belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik. Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. Memberi saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana menjadi coaching yang baik dan bagaimana melakukan supervisi akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat, pada fase ini saya diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di modul 2 yang pernah saya dapati mulai dari filosofi ki hajar dewantara tentang tujuan pembelajaran hingga pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan murid, pembelajaran sosial dan emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervisi akademik. Penerapan coaching untuk supervisi akademik adalah kegiatan pemberdayaan dan pengembangan kompetensi diri dalam rangka peningkatan performa mengajar dan mencapai tujuan pembelajaran, Coaching dibutuhkan sebagai peningkatan motivasi dan komitmen diri seorang guru sehingga kualitas pembelajarannya meningkat seiring meningkatkan motivasi kinerja guru.


60 Coaching sebagai kompetensi membangun kemitraan, kemitraan dapat terbangun dan membuka peluang aKSElerasi kesadaran yang mendorong tindakan aksi dengan dilandasai kepercayaan coachee kepada coach. Dalam proses coaching tidak memandang kesenjangan jabatan karena dalam supervisi akademik terjadi proses kolaborasi antara supervisor dan guru. Sebagai pendidik perlu memiliki keterampilan coaching kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional antara lain (1) memaksimalkan potensi murid dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik, (3) memberi kebebasan pada murid namun pendidik sebagai “pamong” memberikan tuntunan dan arahan agar murid lebih terarah, (3) membantu murid untuk mencapai tujuannya yaitu merdeka dalam pembelajaran. Di modul 2.3 ini juga saya mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantunya mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat. Sebagai seorang guru, saya tentunya sering menjumpai banyak permasalahan di lapangan yang terkait dengan potensi para murid dan mungkin rekan sejawat, yang mana permasalahan tersebut seringkali menjadi salah satu penghambat kemajuan seseorang dalam mencapai tujuannya, bahkan mereka bisa saja tidak sadar akan kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki


61 untuk menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Selanjutnya saya berharap dapat menambah dan mengoptimalkan kekuatan diri sebagai seorang pendidik dan juga orang tua yang dapat menjadi seorang coach bagi orang-orang di sekitarnya, serta praktik baik ini bisa dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehingga semua guru mampu menjadi coach yang baik bagi muridnya dan orang lain. Berikut beberapa tugas yang telah terselesaikan dapat dilihat di sini. 1. Ruang kolaborasi dapat dilihat di link https://youtu.be/sflaacn8fwc Pindai QR Code ini untuk melihat videonya. 2. Demonstrasi kontekstual dapat dilihat di link https://youtu.be/nsrlmqojwqq Pindai QR Code ini untuk melihat videonya. 3. Koneksi antar materi dapat dilihat di link https://youtu.be/bluh5vofi64


62 Pindai QR Code ini untuk melihat videonya. Aksi Nyata Kegiatan aksi nyata ini dilakukan dalam membantu rekan sejawat sebagai guru yang mengalami kesulitan dalam menyiapkan media pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran berdiferensiasi melalui kegiatan coaching untuk supervisi akademik. Yang sudah berjalan baik saat percakapan coaching adalah dalam percakapan sudah terlihat sesuai tahapan alur tirta yaitu coach memberikan pertanyaan untuk mensepakati tujuan pembicaraan, menggali ide dan memetakan situasi untuk identifikasi masalah, mengembangkan ide solusi untuk rencana yang dibuat. Membuka percakapan dengan suasana kemitraan. Hal yang masih perlu diperbaiki dalam kegiatan coaching ini yaitu memperlancar pengajuan pertanyaan lebih berbobot serta berpikir terbuka yang bersifat menggali dan memetakan situasi sehingga coachee (rekan sejawat) dapat memahami posisi sebenarnya dana pa yang dapat dilakukan oleh coachee dalam penyelesaian dengan masalah yang ada . Menjaga hubungan tetap nyaman terhadap coachee, menjadi pendengar aktif, mengkondisikan suasana keakraban dan kemitraan yang


63 terhubung positif. Saya lebih mempersiapkan diri, memperbaiki percakapan awal dalam kegiatan di pembukaan coaching, memberikan pertanyaan arahan, pertanyaan terbuka ke komitmen dan tanggung jawab. Berikut umpan balik dari coachee selama kegiatan coaching terkait apa yang anda rasakan pada saat dicoaching. Coachee sangat senang rasanya ketika melakukan simulasi praktik coaching secara luring dengan saya. Coachee. Hal yang paling disukai adalah saat memulai percakapan awal dan diberikan pertanyaan yang dapat memetakan situasi yang ada, coachee merasa mengalir dan tidak merasa ada tekanan dan lebih terbuka sehingga coachee merasa terbuka sendiri untuk memberikan alternatif-alternatif serta memiliki perioritas atas alternatif tersebut untuk penyelesaian masalah, coachee termotivasi untuk bisa meningkatkan potensi dirinya. Berikut dokumentasi kegiatan aksi nyata modul 2.3. dapat dilihat di link https://youtu.be/z8dnccsjj0u Pindai QR Code ini untuk melihat videonya.


64


AKSI NYATA CGP Angkatan 6 CGP menyampaikan dan membagikan pengetahuan dan praktik proses pengambilan keputusan dilema etika, di media sosial, seperti youtube, atau dengan pihak-pihak eksternal lain di lingkungannya.


66 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Pada modul 3.1. Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini dimulai tanggal 1 februari 2023. Banyak hal baru yang saya pelajari dan tentunya ini merupakan informasi penting yang dapat menambah pengetahuan saya sebagai guru di sekolah. Berikut tahapan aktivitas yang saya ikuti: a. Pre tes modul 3 b. Mulai dari diri c. Eksplorasi konsep d. Ruang kolaborasi e. Demonstrasi kontekstual f. Elaborasi pemahaman g. Koneksi antar materi h. Aksi nyata Saya antusias serta semangat mengikuti aktivitas pembelajaran di minggu ke-18 ini. Pada modul 3.1. Ini, sesi elaborasi pemahaman membahas contoh- contoh kasus yang berkaitan sengan bujukan moral dan dilema etika. Pengambilan keputusan hendaknya memperhatikan 4 paradigma dilema etika dan 3 prinsip pengambilan keputusan yang baik serta dengan memperhatikan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang terdiri dari: (1) mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini (2) menentukan siapa yang terlibat


67 dalam situasi ini (3) kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini (4) pengujian benar atau salah, meliputi: a. Uji legal, b. Uji regulasi/standar profesional, c. Uji intuisi, d. Uji halaman depan koran e. Uji panutan/idola f. Uji halaman depan koran, g. Uji panutan/idola (5)pengujian paradigma benar lawan benar (6) melakukan prinsip resolusi (7) investigasi opsi trilema (8) buat keputusan (9) lihat lagi keputusan dan refleksikan. Selain itu saya juga membuat koneksi antar materi, disini membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat/sebuah rangkuman dari proses perjalanan pembelajaran saya sampai saat ini pada program guru penggerak ini dengan menggunakan 10 pertanyaan pemandu yang ada pada LMS dalam berbagai media. Pada rancangan aksi nyata saya membuat rencana tindakan aksi nyata praktik pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah saya. Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru saya dapatkan pada modul 3.1. Ini tergambarkan di demonstrasi kontekstual. Pada bagian koneksi antar materi, disini saya menyimpulkan dan menjelaskan keterkaitan materi yang saya peroleh dan membuat refleksi berdasarkan pemahaman yang dibangun dari awal sampai saat ini dalam berbagai media. Saya diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran dan membuat sebuah koneksi antar materi belajar yang sudah saya lakukan dan dapat dilihat di. Sedangkan pada rancangan


68 aksi nyata saya membuat rencana tindakan aksi nyata praktik pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah saya yang berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati, mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang disepakati dan diyakini dalam proses pengambilan keputusan dilema etika, bersikap reflektif, kritis, dan terbuka dalam menganalisis nilai-nilai kebajikan yang terkandung dalam sebuah pengambilan keputusan dilema etika. Sekolah adalah 'institusi moral' dimana dari sinilah karakter semua warga sekolah dibentuk dan terbentuk. Guru sebagai pemimpin pembelajaran maupun kepala sekolah seringkali diperhadapkan dengan berbagai keadaan dimana suatu keputusan harus diambil. Setelah mempelajari modul ini yang berisi pembahasan akan fokus kepada keterampilan seorang pemimpin dalam mengemban salah satu perannya, yaitu mengambil suatu keputusan khususnya pada kasus-kasus dilemma etika. Saya akan mencoba menerapkan pengambilan keputusan dengan memperhatikan 4 paradigma dilema etika dan 3 prinsip pengambilan keputusan yang baik serta dengan memperhatikan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk membantu mengatasi kasus atau tantangan tersebut. Selain itu, saya coba untuk sharing kepada rekan sejawat tentang materi ini dengan harapan kami semua menjadi lebih siap dan punya bekal untuk mengatasi kasus dan tantangan tersebut.


69 Berikut beberapa tugas yang telah terselesaikan dapat dilihat di sini. 1. Ruang kolaborasi dapat dilihat di link https://drive.google.com/drive/folders/1ratqwhbmgp3kf3pql v9zdruw2kay6dp-?usp=sharing Pindai QR Code ini untuk melihat dokumennya. 2. Demonstrasi kontekstual dapat dilihat di link https://youtu.be/34ikofeeumu Pindai QR Code ini untuk melihat videonya. 3. Koneksi antar materi dapat lihat di link https://youtu.be/- oowgh_kcss Pindai QR Code ini untuk melihat videonya. Aksi Nyata Saya sangat bersyukur dengan mengikuti program pendidikan guru penggerak ini setidaknya saya mengenal perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan, sedangkan bujukan moral merupakan


70 situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Keputusan yang baik semestinya menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan sebelum menentukan keputusan harus ditempuh 9 langkah pengambilan serta pengujian keputusan. Situasi dilema etika sebenarnya sering kita jumpai di sekitar ekosistem kerja kita, seperti masalah memberikannilai kepada murid, masalah kenaikan kelas atau kelulusan murid, masalah pembagian tugas tambahan dan jam mengajar atau ada salah satu guru yang diharuskan mutasi karena kekurangan beban kerja sebagai syarat pemberian tunjangan profesi guru dan lainnya. Sebelum mempelajari modul ini, saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema, namun bedanya saat itu saya belum memahami bahwa itu merupakan dilema etika. Dampak mempelajari materi ini buat saya sangat berarti, setelah mempelajari ada perubahan cara berpikir dalam mengambil keputusan, bahwa keputusan tersebut harus menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan serta pengujian keputusan. Aksi nyata ini sangat penting sekali sebagai bekal dan melatih diri untuk pengambilan keputusan yang bermaslahat. Saya akan memperkenalkan tahapan 9 langkah pengambilan


71 keputusan kepada rekan sejawat yang paling dekat dengan saya dulu, baru kemudian kepada yang lain. Selain konsepkonsep tersebut, sudah tentu ada hal lain yang harus diperhatikan yaitu norma dan sopan santun. Berikut aksi nyata setelah mempelajari modul ini dapat dilihat di link Https://Youtu.Be/Gyegmxjdmfs. Pindai QR Code ini untuk melihat videonya.


72


AKSI NYATA CGP Angkatan 6 CGP mempraktikkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki untuk mengidentifikasi aset/potensi/sumber daya secara kolaboratif bersama warga sekolah


74 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran anda sebagai calon guru penggerak? Sekolah sebagai ekosistem pendidikan. Sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antar factor biotik dan abiotic. Seorang pemimpin pembelajaran mampu mengelola aset yang dimiliki oleh sekolah dan mengembangkan nilai-nilai pada dirinya meliputi berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, inovatif, dan reflektif untuk mewujudkan kepemimpinan murid dan profil pelajar pancasila. Sebagaimana yang ada di demonstrasi kontekstual yang sudah dibuat. Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang anda jalankan selama ini? Selama ini sebelum saya mempelajari modul ini, saya lebih sering berfokus pada masalah. Segala sesuatu dilihat dari kekurangan sehingga dalam melaksanakan sesuatu kurang maksimal seperti dahulu saya berfikir bagaimana bisa saya meningkatkan kualitas pembelajaran jika fasilitas yang ada tidak memungkinkan untuk saya melakukan hal tersebut. Sangat jarang bahkan tidak pernah melihat segala sesuatu dari sisi baiknya atau dari segi aset. Ada dua pendekatan yang digunakan dalam mengelola sumber daya diantaranya: a. Pendekatan berbasis kekurangan/masalah yaitu memusatkan perhatian pada apa yang mengganggu, apa yang kurang dana pa yang berfungsi kurang baik.


75 b. Pendekatan berbasis kekuatan/aset yaitu memusatkan perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan atau potensi yang positif. Sekolah dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya. Green dan haines (2016), yang memetakan 7 aset utama. 1) Modal manusia 2) Modal sosial 3) Modal politik 4) Modal agama dan budaya 5) Modal fisik 6) Modal lingkungan/alam 7) Modal finansial Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya adalah pemimpin yang mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset-aset sekolah yang dimiliki dengan baik sebagai kekuatan sekolah sesuai kodrat alam dan kodrat zaman serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna dan mendorong kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan harapan hasil akan lebih berkelanjutan.


76 Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran sama melakukan pengambilan keputusan yang memerdekaan dan berpihak pada murid, maka dapa dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi orang-orang yang merdeka, kreatif, inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang dewasa penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya. Tantangan yang timbul adalah menentukan strategi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi guru dan murid dengan cara mengenali dan mengungkapkan potensi kekuatan sumber daya dengan cara memetakaan potensi kekuatan / aset yang dimiliki. Ceritakan konsep-konsep utama yang anda pelajari dan menurut anda penting untuk terus dibawa selama menjadi calon guru penggerak atau bahkan setelah menjadi guru penggerak? Sebagai sebuah komunitas, sekolah dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya. Green dan haines (2016), yang memetakan 7 aset utama. a. Modal manusia. Sumber daya manusia yang berkualitas seperti kepala sekolah, guru yang mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid, dapat mendorong tumbuh kembang murid untuk menggali


77 potensi diri. Meliputi kepala sekolah sebagai pemimpin. Pendidik, tenaga kependidikan, murid, orang tua murid dan komite sekolah, pengawas sekolah, tokoh masyarakat dan alumni, kepala dinas pendidikan, dll. b. Modal sosial. Norma dan aturan yang mengikat warga masyarakat yang ada di dalamnya dan mengatur pola perilaku warga, juga unsur kepercayaan dan jaringan antara unsur yang ada di dalam komunitas/masyarakat. Salah satu contoh modal sosial adalah asosiasi. Meliputi : pgri, mkks/k3s, igi, dll. c. Modal politik. Keterlibatan kepala sekolah dan guru dalam asosiasi dapat membantu meningkatkan kompetensi guru, mempengaruhi distribusi sumber daya di dalam unit sosial serta mempengaruhi kebijakan untuk mencapai kepentingan. Misalkan seorang kepala sekolah menggunakan kewenangannya untuk membuat kebijakankebijakan yang mengakomodir kepentingan warga sekolah dan peningkatan kualitas pembelajaran yang berpihak pada murid. Meliputi: perbankan, baznas, perusahaan di lingkungan sekitar, kapolsek, puskesmas, bnn, pemerintahan desa, kwarcab, pesantren di lingkungan sekitar, dll. d. Modal agama dan budaya. Pembiasaan keagamaan, prilaku individu, keadaan nilai dan tradisi yang dianut dan


78 berkembang baik di dalam sekolah, masyarakat atau komunitas baik perilaku lahiriah maupun simbolik yang dapat meningkatkan religiusitas dan karakter murid berupa perilaku atau amalan. Meliputi: budaya 6s, pebiasaan sholat fardhu dan sunnah berjamaah, ekstrakurikuler tari daerah, karnaval budaya, dll. e. Modal fisik. Sarana dan prasarana yang memadai akan menunjang pembelajaran murid lebih efektif. Seperti bangunan yang bisa digunakan untuk kelas atau lokasi melakukan proses pembelajaran, laboratorium, pertemuan, ataupun pelatihan. Sedangkan pendukungnya meliputi mulai dari saluran pembuangan, sistem air, mesin, jalan, jalur komunikasi, sarana pendukung pembelajaran, alat transportasi, dan lain-lain. Meliputi : gedung sekolah, sarana dan prasarana, perpustakaan daerah, dll. f. Modal lingkungan/alam. Lingkungan yang nyaman dapat membantu murid dalam pembelajaran dapat terdiri dari bumi, udara yang bersih, tanah untuk berkebun, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dan sebagainya. Meliputi: taman sekolah, lahan kosong, kolam ikan, bandar grisse, stigi, tanaman (produktif, rindang, toga, hias, hidroponik), dll. g. Modal finansial. Dukungan keuangan yang dimiliki oleh sebuah sekolah seperti bos, bop, komite dapat membantu


79 operasional sekolah. Meliputi: bos reguler, bos apbd, bos kinerja. Apa perubahan dalam diri anda yang ingin anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini?. Setelah mempelajari modul 3.2, saya merasakan perubahan pada diri saya, salah satunya mindset yang mana saya lebih berpikir dan dapat mengorganisir, memanfaatkan 7 aset yang meliputi modal manusia, finansial, lingkungan atau alam, politik,fisik maupun modal sosial, agama dan budaya yang dimiliki sekolah untuk bisa lebih dikembangkan dan dimanfaatkan sehingga dapat mewujudkan perubahan yang saya inginkan terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Dengan adanya perubahan mindset pada diri saya maka saya akan menjadi guru yang mampu menuntun murid lebih kreatif mengelola emosi, memnuhi kebutuhan belajar murid yang beragam, dan memiliki skill coaching serta mampu melakukan pemetaan aset / kekuatan baik yang dimiliki diri sendiri maupun sekolah untuk menciptakan ekosistem yang baik sehingga terwujud merdeka belajar dan terciptanya profil pelajar pancasila. Berikut beberapa tugas yang telah terselesaikan dapat dilihat di sini. 1. Ruang kolaborasi dapat dilihat di link https://drive.google.com/drive/folders/10vqd7vxykxlkwqeajt 2r7qre4emehpkm?usp=sharing


80 Pindai QR Code ini untuk melihat dokumennya 2. Demonstrasi kontekstual dapat dilihat di link https://youtu.be/vhrv0mhcvqe Pindai QR Code ini untuk melihat videonya. 3. Koneksi antar materi dapat dilihat di link https://youtu.be/vvq4j65tjdk Pindai QR Code ini untuk melihat videonya. Aksi Nyata Setelah mendapat identifikasi asset sekolah serta pemanfaatannya, sekolah dapat menyusun perencanaan dan pelaksanaan program yang berdampak pada murid melalui pendekatan berbasis aset sehingga dalam melaksanakan program tersebut kita dapat memaksimalkan segala potensi yang ada di sekolah. Dengan memaksimalkan segala potensi maka dapat dipastikan program yang direncanakan akan berjalan dengan baik dan berkesinambungan untuk menumbuhkan kepemimpinan murid


81 Sebagai kesimpulannya adalah sebagaimana yang sudah dibahas, semua aset yang sudah kita sebutkan tadi masih terawat dan seyogyanya bisa dimanfaatkan untuk programprogram sekolah, misalnya di sini ada osis/mpk dapat diberdayakan untuk kegiatan tengah semester, membantu penjaringan bakat dan minat siswa untuk dikembangkan. Kita harus berinovasi dengan memberdayakan apa yang sudah kita miliki. Berikut aksi nyata bisa dilihat di link https://youtu.be/uahxa_xanoe. Pindai QR Code ini untuk melihat videonya.


82


AKSI NYATA CGP Angkatan 6 CGP menjalankan tahapan B (Buat Pertanyaan) & A (Ambil Pelajaran) berdasarkan model prakarsa perubahan B-A-G-J-A yang telah dibuat sebelumnya pada tahapan Demonstrasi Kontekstual dalam sebuah aksi nyata.


84 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid Proses belajar di awali dengan mulai dari diri, pelaksanaan alur belajar dimulai tanggal 28 februari 2023. Modul 3.3 pengelolaan program yang berdampak positif pada murid. Adapun penugasan di mulai dari diri : Menjawab pertanyaan pemantik mengenai konsep dasar materi yang akan dipelajari Memahami perbedaan antara intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler Melakukan refleksi berupa pengalaman paling berkesan saat terlibat dalam berbagai program sekolah ketika di masa menjadi murid Pada eksplorasi konsep secara asinkron, saya belajar memahami tentang kepemimpinan murid. Ada empat sifat ini dari human agency, yaitu intensi, visi, aksi, refleksi. Berikut poinpoin penting di eksplorasi konsep: Kepemimpinan murid atau “student agency adalah tentang murid yang bertindak secara aktif, dan membuat keputusan serta pilihan yang ebrtanggung jawab, daripada hanya sekedar menerima apa yang ditentukan oleh orang lain. Murid mendemonstrasikan “student agency” ketika mereka mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu,


85 berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya. Upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan menyediakan kesempatan/ lingkungan bagi murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat mewujudkan sebagai pengejawantahan profil pelajar pancasila dalam dirinya. Sebagai padi yang hanya akan tumbuh subur pada lingkungan yang sesuai, maka kepemimpinan murid pun akan tumbuh dengan lebih subur jika sekolah dapat menyediakan lingkungan yang cocok. Komunitas yang baik akan berusaha menciptakan kesempatan-kesempatan yang mendorong tumbuhnya dan kembangnya berbagai sikap dan keterampilan-keterampilan yang penting dalam dirinya. Berikut lingkungan yang dapat mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid: 1. Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif. 2. Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana, di mana murid akan


86 menjunjung tinggi nilai-nilai sosial positif yang berbasis pada nilai-nilai kebajikan yang dibangun oleh sekolah. 3. Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya. 4. Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. 5. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan 6. Lingkungan yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri. Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan. Diskusi secara asinkron antar CGP dalam kegiatan forum diskusi eksplorasi konsep. Untuk menganalisis sejauh mana suara, pilihan dan kepemilikan murid dipertimbangkan dalam sebuah contoh baik dari program / kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, atau ekstrakurikuler sekolah. Program atau kegiatan sekolah yang akan didiskusikan dapat berupa program atau


87 kegiatan sekolah yang sudah/sedang dijalankan oleh salah satu anggota kelompok di sekolahnya. Setelah disepakati program yang akan didiskusikan dan diupload ke LMS, setiap CGP melakukan didiskusi terkait program tersebut. Poin-poin yang harus didiskusikan diantaranya adalah sebagai berikut: Jenis program atau kegiatannya. Apakah program atau kegiatan tersebut termasuk dalam intrakurikuler, kokurikuler, atau ekstrakurikuler. Karakteristik lingkungan yang dikembangkan oleh guru/sekolah di dalam program Sejauh mana aspek suara, pilihan, dan kepemilikan murid dipromosikan atau didorong dalam kegiatan atau program tersebut. Ruang kolaborasi sesi 1 Ruang kolaborasi sesi 1 dilaksanakan tanggal 7 maret 2023. Dalam kegiatan ini, saya melakukan diskusi untuk merancang program sekolah yang melibatkan kepemimpinan


88 murid serta memperhatikan karakteristik lingkungan yang akan dikembangkan. Dan kelompok saya membuat program kokurikuler terkait dengan program kepedulian lingkungan. Ruang kolaborasi sesi 2 Ruang kolaborasi sesi 2 dilaksanakan tanggal 8 maret 2023. Dalam kegiatan ini, masing-masing kelompok mempresentasikan program yang telah dirancang sebelumnya bersama fasilitator dan rekan CGP. Program yang direncanakan mendapat penguatan dari fasilitator dan rekan CGP sehingga lebih memahami modul 3.3 serta diharapkan dapat diimplementasikan di sekolah saya ke depannya. Dalam demonstrasi kontekstual, saya mengembangkan ide yang saya susun dari ruang kolaborasi menjadi sebuah prakarsa perubahan dalam bentuk rencana program melalui memanfaatkan model manajemen perubahan bagja. Dalam penyusunan rencana program diharapkan dapat melibatkan suara, pilihan, dan kepemilikan murid dengan


89 mengembangkan aset yang ada serta mengaitkan dengan profil pelajar pancasila. Ruang elaborasi Kegiatan ini dilakukan tanggal 14 maret 2023. Dalam sesi elaborasi pemahaman, saya melakukan diskusi dan tanya jawab dengan instruktur hebat dan inspiratif. Saya dapat mengelaborasi pemahaman yang saya miliki terkait dengan program atau kegiatan pembelajaran yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. Instruktur bernama Rutdiana Anggodo, beliau memberikan contoh-contoh program kegiatan yang melibatkan kepemimpinan murid. Dalam alur koneksi antar materi, saya membuat keterkaitan materi yang tekah dipelajari dari modul-modul sebelumnya untuk membuat sintesa pemahaman tentang program sekolah yang berdampak positif pada murid. Sintesa pemahaman ini dibuat dalam bentuk, format tulisan reflektif


90 tentang program yang berdampak pada murid. Melalui penugasan pada alur ini, saya menjadi semakin paham mengenai konspe pengelolaan program yang berpusat pada murid dan melibatkan kepemimpian murid. Kegiatan postes ini saya lakukan tanggal 16 maret 2023. Alur pembelajaran pada modul 3 diakhiri dengan tes akhir modul 3. Saya mengerjakan 30 soal pilihan ganda dalam waktu 60 menit secara daring. Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi pemahaman peserta dalam mempelajari modul 3.1.pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin, 3.2. Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dan 3.3. Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid. Berikut beberapa tugas yang telah terselesaikan dapat dilihat di sini. 1. Ruang kolaborasi dapat dilihat di link https://drive.google.com/drive/folders/1mdkiVFfUD92edjqfa 5Xt7pqiDglp5Fwd?usp=sharing Pindai QR Code ini untuk melihat dokumennya. 2. Demonstrasi kontekstual dapat dilihat di link https://youtu.be/cnqggj87yt4 Pindai QR Code ini untuk melihat videonya.


91 3. Koneksi antar materi dapat dilihat di link https://youtu.be/XH_QiAKdtaw Pindai QR Code ini untuk melihat videonya. Aksi Nyata Kegiatan Aksi Nyata merupakan tahapan terakhir dari alur MERDEKA pada Pendidikan Calon Guru Penggerak (CGP). Aksi Nyata Modul 3.3. CGP akan mulai mewujudkan perubahan kecil tersebut dengan mencoba menerapkan tahapan B dan A dari model prakarsa perubahan BAGJA yang telah dibuat sebelumnya. Sebuah program yang dikelola oleh CGP yang melibatkan kepemimpinan murid serta berdampak pada murid dengan nama program BESTE. Prakarsa perubahan yang dilakukan adalah menguatkan interaksi sosial antar murid secara positif, arif, dan bijaksana melalui program BESTE (Bersih sekolahku, Sehat Sekolahku). Sedangkan tujuan programnya adalah Tujuan program sekolah menerapkan budaya peduli kebersihan di lingkungan sekolah, melatih siswa mandiri, gotong royong dan memiliki tanggung jawab dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah. Program BESTE adalah sebuah program kokurikuler sekolah di bidang lingkungan hidup kategori Pembiasaan Budaya


92 Sekolah dengan pendekatan berbasis aset di UPT SMP Negeri 1 Gresik. Kegiatan pembiasaan menjaga kebersihan, kesehatan lingkungan sekolah dan sekitarnya. Program ini digagas karena melihat kebersihan di sekolah masih memprihatinkan, meskipun sudah ada kegiatan piket harian di kelas, petugas kebersihan, gerakan jumat bersih. Untuk memperkuat program ini, maka kami jabarkan dengan tahapan BAGJA. Aksi nyata ini dapat dilihat di link https://youtu.be/Hxz0pTWFc8g. Pindai QR Code ini untuk melihat videonya.


93 Evaluasi Dan Refleksi Diri Selama Mengikuti Pgp Setelah menjalani program PGP selama enam bulan lebih dengan materi yang sudah saya pelajari yaitu filosofi KHD, nilai dan peran GP, visi GP, budaya positif, pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan murid, PSE, Coaching, pengambilan keputusan berbasis aset, pemimpin dalam mengelola sumber daya, dan pengelolaan program berpihak pada murid. Banyak hal yang terjadi pada diri saya, diantaranya perubahan peningkatan kompetensi guru penggerak. Sumber : hasil umpan balik 3600 kepala sekolah, rekan sejawat, mandiri. Merdeka belajar sebagaimana konsep KHD bahwa mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek


94 kehidupan baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani. Untuk itu pembelajaran yang saya peroleh dalam melaksanakan aksi nyata yang telah saya lakukan pada tahapan Buat pertanyaan yaitu (1) pentingnya bertukar pikiran bersama warga sekolah untuk mendapatkan ide, memperkuat ide program agar menjadi lebih baik. (2) keterlibatan murid sebagai mitra guru dalam menyusun program, membuat mereka antusias, mereka dapat menyuarakan idenya, menentukan pilihannya dan merasa memiliki program yang berguna mereka. (3) murid terpenuhi kebutuhannya dan merasa dapat berkembang sesuai dengan kodratnya baik kodrat alam dan kodrat zaman. (4) dengan keterlibatan murid secara penuh, menumbuhkan kepercayaan diri dan jiwa kepemimpinan dalam dirinya. Alhamdulillah sebagai seorang guru, saya mencoba memahami nilai dan peran guru penggerak, sehingga mampu memainkan peran saya sebagai agen perubahan, dengan senantiasa berperan aktif serta berupaya menggerakkan ekosistem sekolah guna tercapainya pengelolaan program sekolah yang berdampak pada murid untuk menumbuhkembangkan student agency yang memiliki poin-poin komponen profil pelajar Pancasila. Berikut grafik perubahan peningkatan nilai dan peran guru yang ada pada diri saya.


95 Sumber : hasil umpan balik murid 3600 Sebagai refleksi kedepannya bahwa ketika guru merancang program atau kegiatan yang berdampak positif pada murid maka guru sebaiknya melihat setiap potensi sumber daya/ aset yang di miliki oleh sekolah terlebih dahulu melalui identifikasi aset dan strategi pemanfataannya untuk memaksimalkan potensi yang ada. dimana salah satu startegi perancangan program menggunakan model inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana dan Atur eksekusi) sehingga program yang terwujud akan lebih tearah dan tertata. Konsep BAGJA hadir sebagai model manajemen perubahan yang membantu mewujudkan murid merdeka belajar di sekolah.


Click to View FlipBook Version