The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by althafaiha oktonaimanur kusharmina, 2023-04-07 21:21:49

caridokumen.com_cerita-sangkuriang- (1)

Sangkuriang

Difa Andhika Yosafat 2113022 Cerita Sangkuriang - Kelahiran Dayang Sumbi Jauh sebelum Sangkuriang lahir, dahulu kala ada sepasang dewa dan dewi yang melakukan kesalahan. Mereka lantas diusir dan turun ke bumi, dikutuk oleh Sang Hyang Tunggal hingga keduanya berubah wujud menjadi binatang. Sang dewa berwujud anjing bernama Tumang dan sang dewi menjadi babi hutan bernama Wayung Hyang. Mereka harus menetap di hutan sementara waktu sebagai hukuman. Mereka juga harus bertapa untuk memohon ampun agar diizinkan menjadi dewa dan dewi seperti sedia kala. Dalam masa pertapaan tersebut, Wayung Hyang yang kehausan berhasil menemukan air dalam sebuah batok kelapa lalu meminumnya. Ternyata air yang ia minum adalah air seni milik Raja Sungging Perbangkara yang sebelumnya tengah berburu di dalam hutan. Setelah meminum air seni tersebut, Wayung Hyang hamil dan melahirkan putri yang sangat cantik. Suatu hari bayi perempuan tersebut ditemukan Raja Sungging Perbangkara di tengah hutan. Raja pun membawa bayi yang tak lain adalah putrinya sendiri tersebut ke kerajaan tempat ia tinggal. Bayi cantik itu kemudian diberi nama Dayang Sumbi, yang kemudian tumbuh sebagai gadis yang sangat cantik jelita. Dayang Sumbi inilah yang dikenal sebagai ibu dalam cerita Sangkuriang. Karena kecantikan tersebut, banyak pangeran dan para raja yang akhirnya saling berselisih karena memperebutkan Dayang Sumbi. Dayang Sumbi sendiri tidak berminat pada siapapun untuk dijadikan pendampingnya. Akhirnya putri cantik itu mengasingkan diri ke bukit ditemani oleh seekor anjing yang tak lain adalah Tumang, dewa yang sebenarnya masih dalam masa hukuman. Dayang Sumbi suatu hari tengah menenun kain. Ia malas untuk mengambil peralatan tenunnnya yang jatuh ke lantai. Tanpa berpikir terlebih dahulu, ia langsung berucap bahwa siapapun yang mengambilkan alat tenunnya akan ia jadikan suami bila memang penolongnya berjenis kelamin laki-laki, dan bila yang menolongnya ternyata berjenis kelamin perempuan, maka akan ia jadikan saudara.


Tanpa disangka-sangka, alat tenun tersebut diambil oleh Tumang dan diberikannya benda itu kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi pun harus menepati janjinya, dan menikah dengan Tumang yang seekor anjing jantan. Tumang inilah yang kemudian dikenal sebagai ayah dalam cerita Sangkuriang. Akibat pernikahan itu, kerajaan merasa malu dan akhirnya mengasingkan Dayang Sumbi beserta suaminya (Tumang) ke hutan. Di sinilah Dayang Sumbi lambat laun menyadari siapa Tumang sebenarnya karena setiap bulan purnama tiba, Tumang bisa berubah ke wujud aslinya sebagai dewa yang sangat tampan. Cerita Sangkuriang - Legenda Tangkuban Perahu Dari pernikahan Dayang Sumbi dan Tumang, lahir seorang anak laki-laki yang kuat dan berwajah tampan bernama Sangkuriang. Sangkuring diceritakan selalu pergi ke manapun ditemani oleh Tumang. Ayah kandung yang tidak dikenali olehnya karena berwujud binatang. Cerita Sangkuriang yang sebenarnya berawal dari saat Dayang Sumbi ingin memakan hati rusa. Sangkuriang akhirnya berburu rusa ke dalam hutan ditemani oleh Tumang. Namun, perburuan tersebut tidak membuahkan hasil, hingga akhirnya Sangkuriang melihat babi hutan yang sangat gemuk. Sangkuriang lantas menyuruh Tumang mengejar babi hutan itu, tapi Tumang tidak menurut karena ia mengenali si babi hutan yang tak lain adalah Wayung Hyang, ibu Dayang Sumbi sekaligus nenek Sangkuriang. Sangkuriang pun merasa kesal dan menakut-nakuti Tumang dengan panah yang dibawanya. Tapi akhirnya panah itu malah benar-benar mengenai Tumang hingga anjing jantan itu mati. Dalam kepanikannya, Sangkuriang kemudian mengambil hati Tumang dan membawanya pulang untuk diberikan pada Dayang Sumbi. Tanpa tahu apa-pa, Dayang Sumbi memasak hati tersebut lalu memakannya. Namun, setelah tahu kalau ia memakan hati Tumang, Dayang Sumbi marah besar dan memukul kepala Sangkuriang dengan sebuah sendok kayu hingga putranya tersebut terluka. Kemarahan sang ibu pun membuat Sangkuriang ketakutan dan melarikan diri ke hutan. Dalam cerita Sangkuriang, Dayang Sumbi akhirnya merasa menyesal. Ia pun langsung mencari anaknya ke hutan, tapi usahanya gagal. Dengan rasa sedih yang begitu besar, Dayang Sumbi akhirnya bertapa,


memohon agar bisa bertemu kembali dengan anaknya. Selama pertapaan itu, Dayang Sumbi hanya memakan tumbuhan atau sayuran mentah, yang membuatnya tetap awet muda. Sementara itu Sangkuriang yang terus mengembara akhirnya berubah menjadi seorang pemuda yang gagah, kuat, dan tampan. Tanpa disadari Sangkuriang akhirnya kembali bertemu dengan Dayang Sumbi yang sudah tak dikenalinya lagi. Begitupun dengan Dayang Sumbi yang tak tahu kalau pemuda tersebut adalah anaknya sendiri. Keduanya lantas saling jatuh cinta. Namun, luka pada kepala Sangkuriang menyadarkan Dayang Sumbi kalau ia tengah berhadapan dengan putranya sendiri. Walaupun begitu Sangkuriang tetap ingin menikah. Sementara sang ibu berusaha menolak permintaan anaknya itu. Seperti yang sudah diketahui banyak orang mengenai cerita Sangkuriang, putra Dayang Sumbi tersebut tetap keras kepala. Dayang Sumbi akhirnya mencari cara agar Sangkuriang berubah pikiran. Dayang Sumbi kemudian mengizinkan Sangkuriang untuk menikahinya, asalkan Sangkuriang mampu membuat sebuah telaga dan perahu dalam waktu semalam. Dayang Sumbi merasa yakin bahwa permintaannya tidak mungkin terpenuhi, dan ia yakin bisa menghindari pernikahan dengan anaknya sendiri. Dengan bantuan makhluk halus, Sangkuriang akhirnya bekerja semalaman. Ia membuat perahu dari pohon yang tumbuh di sebelah timur. Pokok pohon tersebut berubah menjadi Bukit Tanggul. Ranting-ranting pohon yang dibuang kemudian ditumpuk di sebelah barat yang kemudian menjadi Gunung Burangrang. Perahu hampir selesai, bendungan dari Sungai Citarum pun hampir membentuk telaga. Dayang Sumbi yang takut anaknya berhasil melakukan tugas akhirnya membentangkan kain putih. Kain itu bercahaya dan sangat terang, sehingga membuat para makhluk halus mengira kalau fajar sudah tiba. Para makhluk halus melarikan diri dan meninggalkan Sangkuriang dan pekerjaannya yang belum usai. Pada cerita Sangkuriang versi lain, diceritakan Dayang Sumbi membangunkan ayam-ayam jantan untuk berkokok, menandakan fajar sudah tiba dan membuat makhluk halus ketakutan. Sangkuriang akhirnya marah karena pekerjaannya belum selesai. Ia kemudian menendang perahu hasil kerja kerasnya hingga terbalik dan akhirnya berubah menjadi Gunung Tangkuban Perahu.


Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi, namun Dayang Sumbi yang hampir tertangkap tiba-tiba memohon pada Sang Hyang Tunggal agar Sangkuriang tidak berhasil mengejarnya. Dayang Sumbi lantas berubah menjadi bunga jaksi. Filosofi Jadi sebenarnya banyak cerita yang belum di ketahui oleh kita di cerita Sangkuriang. Bagaimana Sangkuriang dapat kenal dengan Tumang dan akhirnya diapun suka dengan ibunya sendiri. Seharusnya cerita ini dapat di ceritakan dari awalnya. Jika cerita ini selengkap cerita di atas kita dapat menceritakan kepada anak cucu kita kelak, dan jika anak cucu kita menanyakan asal muasal Sangkuriang kita dapat menjawab dengan benar. Hendaknya kita menceritakan suatu hal sesuai dan menjelaskannya dari awal.


Click to View FlipBook Version