MENGENAL DAN
MENGENANG ASAL-
USUL AGAR
MEMAHAMI JATI DIRI
CERITA ASAL USUL DESA Katarina Yosepin
KEDUNGGALAR Setiyowati, S Pd
Dinas Pendidikan
Kabupaten Ngawi
2021
ASAL USUL DESA KEDUNGGALAR
Pada waktu yang lalu ,sekitar abad ke 18 ,kerajaan Mataram tunduk pada Pemerintahan
Belanda , namun juga ada beberapa kerajaan yang menolaknya. Misalnya, Kadipaten Sukowati ,
Kadipaten Gendingan,Kadipaten Mediun dan masih banyak lagi. Kadipaten – kadipaten yang
tidak mau tunduk kepada Belanda diserang dan digempur oleh Belanda, misalnya kadipaten
Sukowati yang terletak di Jawa Tengah . Karena tidak imbangnya kekuatan dan persenjataan
maka banyak para prajurit Kadipaten Sukowati yang melarikan diri , daripada harus menyerah
kepada Belanda . Salah satunya adalah Ambyangkoro yang diikuti oleh beberapa prajuritnya.
Ambyangkoro bersama prajuritnya melarikan diri ke arah timur agar terhindar dari kejaran
Belanda . Mereka menemukan tempat yang dirasa aman untuk bersembunyi,yaitu di tepi sungai
yang airnya sangat jernih dan tenang , ditempat itu juga terdapat sebuah gua, apabila ada patroli
pasukan Belanda , gua itu bisa digunakan untuk bersembunyi. Gua tersebut pintunya sangat sempit
tertutup oleh batu padas, sehingga kalau masuk gua badanya harus miring .Di tempat itu
Ambyangkoro berkata :” Hai , para prajurit , marilah kita beristirahat disini “ Ya , tuanku ,” jawab
para prajurit. Ambyangkoro berkata lagi “Karena kita masuk gua ini dengan badan miring,maka
gua ini aku beri nama Gua Padas miring.”
Akhirnya Ambyangkoro menetap di sekitar Gua Padas Miring itu dan dikenal oleh
masyarakat sekitar. Karena kewibawaan Ambyangkoro, maka masyarakat sekitar menjadikannya
sebagai tokoh / panutan di daerah tersebut. Ambyangkoro selalu memikirkan kesejahteraan
masyarakat dan bangsanya,beliau selalu berdoa agar bangsanya terhindar dari musibah dan
tentram dalam kehidupannya. Pada suatu hari Ambyangkoro berpesan kepada masyarakat di
lingkunganya. “ Wahai , saudara – saudaraku , apabila suatu saat ada orang yang mencariku
janganlah diberitahu kalau aku ada disini , kecuali seseorang yang bernama Andangkoro.” Ya ,
tuan “ Jawab mereka serentak. “ Mengapa demikian , tuan ? “ tanya pengikutnya . Ambyangkoro
pun menjawab “Bahwa orang tersebut adalah saudaraku”. Kemudian Ambyangkoro menjelaskan
ciri-ciri yang dimiliki oleh Andangkoro.
Di suatu hari datanglah seseorang yang belum dikenal oleh masyarakat lingkungan
setempat. Dengan berbekal pada ciri-ciri yang sudah diberitahukan oleh Ambyangkoro maka
bertanyalah salah seorang kepada tamunya. “ Maaf Ki sanak , Ki sanak itu siapa , dari mana dan
apa tujuan ki sanak datang ke tempat ini ?.” Tanya salah satu anggota masyarakat. Maka Ki sanak
pun menjawab: “ Maaf tuan-tuan, nama saya adalah Andangkoro , saya dari Kadipaten Sukowati
, saya mencari saudara saya yang bernama Ambyangkoro , mungkin ada yang tahu ? . ” O.. o..o,
begitu “. Jawab warga serempak. Dengan sekejap salah satu dari warga masyarakat itu menyelinap
masuk ke dalam gua untuk memberitahu Ambyangkoro bahwa ada seseorang yang mengaku
bernama Andangkoro mencarinya. Dengan mengendap-endap Ambyangkoro mengintip tamunya
dari balik gua . Namun apa yang terjadi , Ambyangkoro sangat terkejut dan kaget ternyata yang
datang adalah saudaranya yaitu Andangkoro, maka keluarlah Ambyangkoro dari dalam gua dan
merangkulnya erat - erat. Pertemuan kedua bersaudara itu makin lama semakin baik dan saling
membantu , mereka membaur dengan masyarakat sekitar dan diputuskan untuk tidak kembali ke
kadipaten Sukowati ,mereka lebih memilih di tempat tersebut.
Pada suatu hari mereka bertapa di dalam gua , di dekatnya ada kedung (sungai yang
airnya jernih dan tenang ),mereka berdoa kepada yang Maha Kuasa,agar terhindar dari kejaran
Belanda dan diberi keselamatan serta ketenangan . Mereka terperanjat dan terkejut melihat
kejadian yang aneh,mereka melihat di kedung itu terdapat banyak ikan bader / wader yang
berderet- deret / berbaris memenuhi sungai yang menyerupai galar ( alas tidur yang terbuat dari
belahan bambu yang diatur berjajar di atas dipan). Akhirnya kedua bersaudara itu memberitahu
masyarakat sekitar untuk melihat barisan ikan di kedung itu . Kemudian Ambyangkoro berkata
dan disaksikan oleh warga sekitarnya,” Hai,para warga yang setia,hendaknya kalian ketahui dan
perlu diingat, di kedung itu terdapat ikan yang berderet-deret/berbaris memenuhi kedung yang
menyerupai galar,maka tempat ini aku beri nama Kedunggalar”.
Kedunggalar merupakan sebuah dusun yang terletak ± 2 km sebelah selatan Kantor Kecamatan
Kedunggalar Yang akhirnya nama Kedunggalar digunakan sebagai nama desa dan nama
kecamatan.Adapun peninggalan bersejarah yang berupa makam kuno yaitu makam Ambyangkoro
yang terletak di Dusun Ngrejang,bagian dari Dusun Kedunggalar ditandai dengan pohon dayakan,
sedang makam Andangkoro dipugar oleh masyarakat setempat yang ditandai dengan pohon
trembesi yang besar dan sampai sekarang kedua pohon tersebut masih juga ada dan berdiri kokoh.
Sesuai data resmi yang berhasil dihimpun selanjutnya dapat diketahui yang menjabat lurah/ kepala
desa Kedunggalar adalah sebagai berikut :
1. SINGOMEJO tinggal di Dsn. Kedunggalar
2. KROMOSENTONO tinggal di Dsn Plosorejo
3. MOROSENTONO tinggal di Dsn Kedunggalar
4. KARTODIHARJO tinggal di Dsn Plosorejo
5. SASTRODIWIRYO tinggal di Dsn Plosorejo
6. SASTROSENTONO tinggal di Dsn Kedunggalar
7. JOYOSUPARTO tinggal di Dsn Urung-urung
8. JOYOSUMARTO ( 1941 -1945 ) tinggal di Dsn Kaliwowo
9. SOMOHARJO ( 1945-1979 ) tinggal di Dsn Kaliwowo
10. HADI SOETOPO (1979-1990 ) tinggal di Dsn Plosorejo
11. BAMBANG TRI H ( 1990-1999 ) tinggal di Dsn Durenan
12. WALUYA JATI S ( 1999-2007 ) tinggal di Dsn Kedunggalar
13. SOETRISNO ( 2007-2010 ) tinggal di Dsn Plosorejo
14. JOKO WALUYO ( 2012 – Sekarang ) tinggal di Dsn Plosorejo
.
Pintu Gerbang makam Ambyangkoro
Situs Makam Ambyangkoro
Makam Ki Ageng Ambyangkoro
Makam Nyi Ageng Ambyangkoro
Makam Ambyangkoro di bawah pohon Dayakan
Makam Andangkoro di bawah pohon Trembesi