MAKALAH SISTEM REPRODUKSI DAN PERKEMBANGAN SERANGGA
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Entomologi
Dosen :
Ida Yayu Nurul H., S.Pd., M.Pd.
Dr. H. Uus Toharudin, M.Pd
Saiman Rosadi, S.Pd., M.Pd
KELOMPOK 3 185040061
BIOLOGI B 185040069
Disusun oleh : 185040091
185040093
Syifa Firda Fauzziyyah 185040114
Ananda Violyta
Nadya Salsa Octarina
Nadia Amelia
Nur Islamiati
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG
2022
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah pada mata kuliah Entomologi dengan judul mengenai “Sistem Reproduksi dan Perkembangan
Serangga”.
Kami mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah Entomologi yaitu Ibu Ida Yayu
Nurul H., S.Pd., M.Pd., Bapak H. Uus Toharudin M.Pd. dan Bapak Saiman Rosadi, S.Pd., M.Pd. yang
senantiasa memberi kami ilmu pengetahuan serta terimakasih kepada teman-teman yang membantu dalam
kelancaran membuat makalah ini.
Kami meyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Bandung, 21 Maret 2022
Penyusun
3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................................................3
DAFTAR ISI..........................................................................................................................................4
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................................................5
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................................6
A. LATAR BELAKANG...............................................................................................................6
B. RUMUSAN MASALAH...........................................................................................................6
C. TUJUAN ....................................................................................................................................6
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................................7
A. Sistem Reproduksi Pada Serangga..........................................................................................7
a) Alat Reproduksi Serangga Jantan.......................................................................................7
b) Alat Reproduksi Serangga Betina .......................................................................................8
c) Telur Dan Proses Fertilisasi .................................................................................................9
d) Embriogenesis .....................................................................................................................11
e) Strategi Reproduksi ............................................................................................................12
f) Peletakkan Telur dan Eklosi..............................................................................................14
B. Perkembangan Serangga........................................................................................................15
a) Kontrol Hormonal dalam Pertumbuhan dan Perkembangan........................................17
b) Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Serangga..................................................18
BAB III PENUTUP.............................................................................................................................22
A. KESIMPULAN........................................................................................................................22
B. SARAN.....................................................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................23
4
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Organ kelamin jantan ................................................................................................8
Gambar 2 Organ kelamin jantan ................................................................................................8
Gambar 3 Organ kelamin jantan ................................................................................................8
Gambar 4 Organ kelamin betina ................................................................................................9
Gambar 5 Organ kelamin betina ................................................................................................9
Gambar 6 Organ kelamin betina ................................................................................................9
Gambar 7 Telur belalang daun.................................................................................................10
Gambar 8 Perkawinan serangga...............................................................................................11
Gambar 9 Perkawinan serangga...............................................................................................11
Gambar 10 Peletakkan telur pada kepik ..................................................................................14
Gambar 11 Peletakkan telur pada belalang..............................................................................14
Gambar 12 Peletakkan telur pada serangga .............................................................................15
Gambar 13 metamorfosa hemimetabola ..................................................................................16
Gambar 14 metamorfosa holometabola ...................................................................................17
5
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Umumnya serangga berkembang biak dengan cara bertelur. Telur terbentuk di dalam kandung telur
(ovarium) betina. Kemampuan reproduksi serangga dalam keadaan normal umumnya amat tinggi. Ulat crop
kubis (Crocidolomia binotalis) selama hidupnya bisa menghasilkan telur 11-18 kelompok, dan tiap kelompok
terdiri atas 30-80 butir. Wereng cokelat (Nilaparvata lugens) betina dapat bertelur sampai 500 butir. Kutu
daun jeruk (Diaphorina citri Kuw) bisa menghasilkan telur lebih banyak lagi, yaitu mencapai 800 butir.
Larva atau nimfa serangga, dalam kurun waktu tertentu, akan menjadi serangga dewasa yang disebut
"imago". Perkembangan larva atau nimfa menjadi imago mengalami beberapa tahap. Setiap tahap ditandai
dengan membesarnya tubuh, namun tidak diikuti oleh pembesaran kulit sehingga kulit tersebut akan pecah
dan diganti dengan kulit baru. Pergantian kulit ini disebut ecdysis atau molting. Pada saat kulit baru masih
lunak, serangga memperbesar ukurannya. Beberapa jam kemudian, kulit akan mengeras dan membentuk
warna yang tetap. Serangga tingkat tinggi bisa mengalami ecdysis 4-6 kali. Serangga yang sudah dewasa
tidak lagi mengalami pergantian kulit sehingga ukurannya tetap (tidak berubah lagi). Lamanya waktu antara
pergantian kulit disebut "stadium". Bentuk serangga dalam stadium disebut "instar". Stadium pertama adalah
lamanya waktu dari menetasnya telur sampai terjadinya pergantian kulit pertama, sedangkan yang dimaksud
dengan instar satu adalah bentuk serangga pada stadium pertama.
Perkembangan serangga dari larva atau nimfa menjadi imago umumnya mengalami beberapa tahap
perubahan bentuk dan ukuran, yang disebut "metamorfosis"
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sistem reproduksi pada serangga?
2. Bagaimana perkembangan metamorphosis pada serangga?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui sistem reproduksi pada seranga
2. Untuk mengetahui perkembangan metamorphosis pada serangga
6
BAB II PEMBAHASAN
A. Sistem Reproduksi Pada Serangga
a) Alat Reproduksi Serangga Jantan
Sistem reproduksi jantan terdiri atas sepasang testis yang terletak di ujung belakang abdomen. Setiap testis
mengandung unit-unit fungsional dimana sperma dihasilkan. Sperma matang yang keluar dari testis melewati
saluran pendek dan mengumpul di ruang penyimpan. Saluran yang sama mengarah keluar dari vesikula
seminalis, bergabung satu sama lain di sekitar pertengahan tubuh, dan membentuk saluran ejakulasi tunggal
yang mengarah keluar dari tubuh melalui organ kelamin jantan (aedeagus).
Satu atau lebih pasangan kelenjar aksesori biasanya berhubungan dengan sistem reproduksi jantan, yaitu
organ-organ sekretori yang terhubung dengan sistem reproduksi melalui saluran pendek ; beberapa mungkin
menempel dekat testis atau vesikula seminalis, yang lainnya mungkin berhubungan dengan saluran ejakulasi.
Testis ada sepasang (dua), bilateral, namun ada yang menyatu (fusi) di tengah (misal pada Lepidoptera).
Tiap testis terdiri dari sejumlah folikel, terbungkus oleh jaringan alat (connective tissue). Tiap folikel
terbungkus oleh selapis sel-sel epitel. Spermatogenesis atau produksi spermatozoa terjadi di dalam folikel,
oleh sel-sel lembaga (germ cells) melalui pembagian sel meiosis. Tiap folikel dari ujung sampai pangkalnya
dapat dibagi dalam beberapa zona yang menunjukkan fase-fase spermatogenesis :
• Bagian paling ujung adalah germarium atau zona spermatogenia terdiri dari sel-sel lembaga atau
spermatogenia.
• Zona berikutnya adalah zona pertumbuhan atau zona spermatosit : pada bagian ini spermatogenia
membagi secara mitosis beberapa kali membentuk spermatosit primer berkelompok-kelompok terbungkus
oleh sel-sel somatik.
• Zona berikutnya adalah zona reduksi dan pematangan : di bagian ini spermatosit primer (2n) mengalami
meiosis (2n 1n) menjadi sel-sel haploid, menghasilkan spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder ini
kemudian menjadi spermatik.
7
• Zona terakhir (pangkal folikel) adalah zona transformasi : di sini spermatid berkembang menjadi
spermatozoa.
Gambar 3 Organ kelamin jantan Gambar 2 Organ kelamin jantan
Gambar 1 Organ kelamin jantan
A = TESTIS
B = SALURAN EJAKULATOR
b) Alat Reproduksi Serangga Betina
Sistem reproduksi betina terdiri atas sepasang ovarium. Setiap ovarium terbagi menjadi unit-unit
fungsional (ovariol) di mana telur dihasilkan. Satu ovarium dapat mengandung puluhan ovariol, umumnya
sejajar satu sama lain. Telur matang meninggalkan ovarium melalui saluran telur lateral (lateral oviducts).
Pada sekitar pertengahan tubuh, saluran telur lateral ini bergabung untuk membentuk common oviduct
yang membuka ke ruang alat kelamin yang disebut bursa copulatrix. Kelenjar aksesori betina memasok
pelumas untuk sistem reproduski dan mengelaurkan kulit telur kaya protein (chorion) yang mengelilingi
seluruh telur. Kelenjar ini biasanya dihubungkan dengan saluran kecil ke saluran telur umum atau bursa
copulatrix.
Selama kopulasi, jantan menyimpan spermatophore di bursa copulatrix. Kontraksi peristaltic
menyebabkan spermatophore masuk ke dalam spermatheca betina, sebuah ruang kantong penyimpanan
8
sperma. Kelenjar spermathecal memproduksi enzim (untuk mencerna lapisan protein spermatophore) dan
nutrisi (untuk mempertahankan sperma sementara berada di penyimpanan). Sperma dapat hidup di
spermatheca selama berminggu-minggu, bulan, atau bahkan bertahun-tahun.
Spermateka (spermatheca) atau kantung sperma umumnya tidak berpasangan, bermuara di vagina atau
saluran telur bersama. Kelenjar penyerta dapat berpasangan atau hanya satu juga bermuara di vagina atau di
saluran telur bersama. Umumnya memproduksi bahan likat untuk menempelkan telur pada substrat atau bahan
pembungkus telur-telur menjadi paket telur, misalnya ooteka belalang sembah (Mantidae), belalang lapangan
(Acrididae) dan lipas (Blattidae). Oogenis merupakan pembentukan telur terjadi di dalam ovariol.
Proses oogenesis ini dapat terselesaikan sebelum atau sesudah serangga menjadi imago. Germarium
terdapat di ujung ovariol dan vitelarium di pangkalnya. Germarium mengandung sel-sel lembaga disebut
oogonia yang membagi diri secara mitosis dan menjadi oosit nantinya. Tiap oosit yang sedang berkembang
diselubungi oleh sel epitel folikel; oosit dan lapisan sel epitel itu adalah folikel. Jika sel telur telah matang
maka telur itu bergerak ke luar dari ovariol; proses ini disebut ovulasi. Sel-sel epitel tertinggal di dalam ovariol
dan akhirnya hancur.
Gambar 4 Organ kelamin betina
Gambar 5 Organ kelamin betina
A = Ovarium
B = Spermatheca
C = Bursa kopulatrix
Gambar 6 Organ kelamin betina
c) Telur Dan Proses Fertilisasi
Telur yang matang bentuknya beragam mulai dari yang pipih, bulat telur (oval), seperti tong sampai bulat.
Sebagian besar telur bagian terbesar telur terisi oleh kuning telur (yolk) atau deutoplasm), sitoplasma dan inti
hanya menempati bagian kecil dari telur. Kuning telur mengandung karbohidrat, protein dan lipida. Protein
adalah bagian yang terbanyak. Sitoplasma terdapat di sekitar inti (sitoplasma inti) dan sekitar tepi kuning telur
9
(periplasma atau sitoplasma korteks = cortical cytoplasm). Telur dapat terbungkus oleh dua membrane yaitu
membrane vitelin yang merupakan membrane sel telur dan korion (chorion) atau kulit telur.
Korion berfungsi seperti kutikula yang melindungi terhadap gangguan fisik, penguapan air, dan juga untuk
ventilasi (pernapasan) telur. Telur-telur jenis serangga tertentu yang diletakkan di tempat lembab dapat
menyerap air dari lingkungannya.
Spermatozoa dapat masuk ke dalam telur melalui satu atau lebih saluran khusus disebut mikropil, yang
merupakan perforasi, pada korion yang terdapat di bagian tertentu dari telur. Pembuahan telur terjadi setelah
ovulasi, dimulai dengan transfer sperma dari serangga jantan ke serangga betina di dalam sistem
reproduksinya pada waktu kopulasi.
Sperma yang ditransfer itu bebas atau dalam spermatofor. Spermatofor biasanya diletakkan dalam bursa
kopulatriks atau vagina, jarang di dalam spermateka. Spermatozoa, apapun kondisinya waktu ditransfer ke
serangga betina akhirnya berkumpul di spermateka.
Proses pembuahan adalah sebagai berikut:
• Pelepasan sejumlah spermatozoa dari spermateka : Spermateka atau kantung sperma pada serangga
betina berfungsi memproduksi bahan likat untuk menempelkan telur.
• Masuknya spermatozoa ke dalam telur melalui mikropil : Mikropidl adalah saluran khusus untuk
memasukkan sperma ke dalam sel telur.
• Fusi pronuklei telur dan spermatozoa menjadi zigot.
Penentuan kelamin (seks) pada serangga seksual tergantung dari keseimbangan antara gen-gen sifat jantan
dan gen-gen sifat betina. Pada sebagian besar kelompok serangga jantan adalah heterogamet dan betina
homogamet.
Pada serangga primitif, pejantan meletakkan spermatozoa pada suatu substrat, kadang-kadang dilindungi oleh
struktur tertentu, dan kemudian mencumbu si betina untuk mengambil spermatozoa tersebut dan dimasukkan
ke dalam bukaan organ kelaminnya. Capung dan laba-laba memasukkan langsung spermatozoa ke dalam
struktur kopulasi sekunder, yang kemudian digunakan untuk membuahi betina. Serangga yang lebih maju
memiliki organ khusus untuk memasuknna spermatozoa langsung ke saluran reproduksi betina.
10
Gambar 7 Telur belalang daun
Gambar 8 Perkawinan serangga Gambar 9 Perkawinan serangga
d) Embriogenesis
Embriogenesis mencakup perkembangan sejak terjadinya zigot dan keluarnya individu yang sudah
berkembang penuh dari telur. Proses individu keluar dari telur ini disebut penetasan atau eklosi (eclosion).
Morfogenesis adalah perkembangan sejak terjadi zigot sampai menjadi serangga dewasa. Embriogenesis
antara kelompok-kelompok serangga beragam, ulasan umumnya dapat disajikan sebagai berikut.
Lapisan sel pertama yang terbentuk adalah blastoderm, yang terdiri dari lapis tunggal sel-sel, yaitu
blastomer. Proses terbentuknya blastomer berbeda pada satu jenis binatang dengan jenis yang lainnya, hal ini
berhubungan dengan banyaknya bahan kuning telur di dalam telur. Namun pada sebagian besar serangga,
telurnya mempunyai bahan kuning telur yang banyak. Pada kebanyakan serangga nukleus yang berfungsi
dengan sitoplasmanya, berperilaku seperti individu sel dan membelah diri (cleavage) secara mitosis. Nukleus-
nukleus baru yang terjadi bergerak ke daerah tepi telur dan membentuk blastoderm. Selama proses itu
berlangsung, tiap nukleus membentuk sel lengkap dengan selaput selnya.
Sel-sel hasil pembelahan di atas sebagian tetap di bagian kuning telur, atau sebagian yang sudah di tepi
kembali ke kuning telur; sel-sel ini disebut vitofag (vitellophages) atau sel-sel kuning telur (yolk cells).
Vetelofag ini berperan dalam pencernaan awal kuning telur, sehingga memudahkan pengasimilasian oleh sel-
sel embrio lain.
Pada waktu bersamaan terjadinya blastoderm, beberapa sel hasil pembelahan berubah menjadi sel-sel
lembaga (germ cells) yang nantinya berkembang menjadi gamet atau sel-sel reproduktif pada tahap larva tua,
pupa atau dewasa.
Setelah pembentukan blastoderm selesai, sel-sel pada satu sisi telur berubah bentuk menjadi kolumnar
(columnar) (artinya seperti tiang besar) sepanjang garis tengah-longitodinal telur, ke arah dua sisi dari garis
ini sel-sel itu secara berurutan kurang kolumnar, akhirnya bersatu dengan sel-sel blastoderm yang tersisa, yang
cenderung menjadi pipih (sequamous). Daerah yang menebal dari blastoderm terdiri dari sel-sel kolumnar itu
11
adalah pita lembaga (germ band), yang kemudian memanjang dan berkembang menjadi embrio. Sel-sel lain
ikut dalam pembentukan selaput atau membran ekstraembrio. Pada sebagian besar serangga lipatan pada
daerah di luar pita lembaga tumbuh ke arah atas pita lembaga, nantinya bertemu sepanjang garis tengah
longitudinal. Lapis luar dan dalam dari satu lipatan bersatu dengan lapis yang sama dan lipatan lainnya.
Lipatan dalam membentuk amnion (amnion) di sekeliling embrio yang berkembang dan lapis luar membentuk
serosa yang mengelilingi kuning telur, ammon dan embrio. Pada beberapa serangga selaput ekstraembrio
terbentuk dari invaginasi (Apterigota) atau involusi embrio (Odonata, beberapa Orthoptera dan Homoptera).
Pada waktu pembentukan ammnion dan serosa, terjadi juga proses gastrulasi, yang dimulai dengan
invaginasi (melekuk ke dalam) bagian bawah (venter) pita lembaga. Nantinya invaginasi itu mendatar ke arah
keluar dan pinggir-pinggir luarnya bertemu dan bersatu membentuk pita longitudinal dari sel-sel (lapis dalam
atau mesentoderm) yang dikelilingi oleh lapis luar, disebut ektoderm. Tipe lain pembentukan lapisan dalam
ialah mengendapnya pita longitudinal bawah ke dalam kuning telur, yang kemudian tertumbuhi oleh sel-sel
pita lembaga yang tertinggal. Tipe yang lain lagi, lapisan dalam itu berkembang dari proliferasi pita lembaga.
Kemudian lapisan dalam berkembang menjadi dua pita longitudinal lateral (mesoderm) dan untingan tengah
(median strands) dengan massa sel pada ujung anterior dan posterior. Untingan tengah bagian massa sel di
kedua ujungnya akan menjadi endorm.
Pada tahap perkembangan ini -yaitu mulai adanya mesoderm dan endorm -terjadi alur-alur melintang
sehingga embrio terbagi-bagi menjadi satu seri ruas-ruas, 20 jumlahnya. Segmentasi atau peruasan ini adalah
proses bertahap (gradual), mulai dari bagian depan dan berlanjut ke belakang. Pada saat yang sama terjadi
juga evaginasi ektoderm, yang membentuk berbagai embelan (appendages) tubuh. Apabila segementasi
embrio itu telah sempurna dan semua dasar-awal (rudiments) dari embelan telah terbentuk, bagian-bagian
embrio yang akan membentuk ketiga tagmata tubuh serangga sudah dapat terlihat. Setelah pembentukan tiga
lapis lembaga (germ layers) (endorm, mesoderm, ektoderm), masing-masing berkembang lebih lanjut yang
nantinya membentuk berbagai jaringan dan organ-organ. Proses ini disebut organogenesis.
Otot-otot, jantung dan aorta (pembuluh dorsal, jaringan lunak dan organ reproduksi berasal dari
perkembangan mesoderm. Mesenteron adalah endodermal, sedang stomodeum dan proktodeum ektodermal,
otak, sistem saraf, sistem trakea dan integumen juga ektodermal.
e) Strategi Reproduksi
Perkembangan embrio pada serangga dapat dikelompokkan dalam tiga tipe utama, yaitu :
• Ovipar
12
Serangga betina meletakkan telur yang telah matang baik dibuahi maupun tidak. Perkembangan embrio
terjadi diluar tubuh induknya dan embrio memperoleh makanan dari kuning telur. Kebanyakan serangga
memiliki perkembangan ovipar.
• Vivipar
Pada perkembangan vivipar serangga betina tidak meletakkan telur tapi melahirkan larva atau nimfa muda
dalam bentuk individu yang tidak terbungkus kulit telur (korion) . Perkembangan embrio berlangsung
dalam tubuh induknya dan embrio memperoleh makanan langsung dari tubuh induknya.
• Ovovivipar
Telur mengandung cukup kuning telur untuk memberi makan embrio yang sedang berkembang dan
diletakkan oleh induknya segera setelah menetas. Istilah ovovivipar juga digunakan untuk serangga-
serangga yang meletakkan telur yang mengandung embrio yang telah berkembang (telur telah siap
menetas).
Istilah larvipar, nimfipar dan pupipar, menunjuk pada bentuk individu baru yang dilepas oleh induknya.
Lalat Tachinidae ada yang larvipar, kutudaun di daerah panas adalah nimfipar, sedang lalat tse-tse (Glossina
spp., Muscidae) adalah pupipar. Pada lalat tse-tse ini keturunan baru dilahirkan dalam fase larva yang sudah
siap berpupa, sehingga hanya dalam beberapa jam setelah dilepas oleh induknya sudah menjadi pupa.
Serangga memiliki beberapa tipe perkembangan embrio antara lain :
• Poliembrioni
Setiap telur yang sedang berkembang dapat membelah secara mitosis dan menjadi beberapa sampai
banyak embrio. Tipe perkembangan ini biasanya terdapat pada hymenoptera.
Telur pada serangga polimbrioni berbeda dari serangga non-poliembroni, sebagai berikut :
➢ Telurnya sangat kecil
➢ Tidak ada kuning telur
➢ Karion, jika ada, sangat tipis dan permeable
• Paedogenesis
Serangga pradewasa memiliki alat kelamin yang telat matang dan dapat menghasilkan keturunan.
Beberapa jenis Coleoptera memiliki perkembangan paedogenesis.
• Parthenogenesis
Sel telur berkembang menjadi embrio tanpa mengalami pembuahan. Partenogenesis dapat terjadi pada
serangga ovipar maupun vivipara. Partenogenesis adalah bentuk reproduksi aseksual di mana betina
13
memproduksi sel telur yang berkembang tanpa melalui proses fertilisasi. Pada lebah madu hasil
parthenogenesis menghasilkan lebah jantan (Drone) sedangkan jika ada fertilisasi akan menjadi lebah betina.
f) Peletakkan Telur dan Eklosi
Peletakan telur (oviposition) terjadi setelah telur matang dan terjadi ovulasi. Telur umumnya diletakkan
di tempat-tempat yang sesuai untuk kehidupan keturunan. Telur dapat diletakkan dalam kelompok atau satu-
satu, tergantung spesiesnya. Organ atau struktur untuk peletakan telur dapat terdiri dari embelan-embelan
khusus yang membentuk alat peletak telur atau ovipositor, atau abdomen dimodifikasi demikian rupa sehingga
dapat dijulurkan seperti tabung sehingga berfungsi sebagai ovipositor. Struktur ini umum disebut ovitubus
dan dapat ditemui pada trips (Thysanoptera), lalat (Diptera) dan lainnya. Ovipositor itu tereduksi atau tidak
ada pada ordo-ordo berikut: Odonata, Plecoptera, Mellophaga, Anoplura, Ceoleoptera dan ordo-ordo
panorpoid (Mecoptera).
Telur diletakkan secara beragam, beberapa serangga menyatukan telurnya secara pasif, misalnya pada
Plasmida (walkingstick), yang lain menempelkan telur pada substratnya satu-satu atau dalam kelompok. Jenis-
jenis Vrysopidae (Neuroptera) meletakkan telur dengan tungkai yang kaku yang panjang; telur terdapat di
ujung tangkai. Berbagai jenis serangga (belalang lapangan, belalang sembah, lipas) meletakkan telur dalam
paket, disebut ooteka atau paket telur; dalam satu paket terdapat banyak telur. Bahan untuk melekatkan telur
atau untuk pembuatan paket berasal dari kelenjar penyerta (accessory glands).
Serangga parasitoid menggunakan ovipositornya untuk "menyuntikkan" telurnya dalam tubuh inangnya,
pada serangga akuatik telurnya diliputi oleh bahan gelatin. Serangga-serangga yang memarasit mamalia
kerapkali meletakkan telur pada rambut-rambut inangya.
Eklosi (eclosion) adalah proses penetasan atau keluar dari telur; kadang-kadang diartikan sebagai
munculnya imago dari fase pradewasa. Eklosi umumnya melibatkan penegukan (swallowing) cairan amnion
dan difusi udara ke dalam telur. Masalah pada eklosi adalah peretakan korion dan lapisan embrio lain serta
melepaskan diri dari telur.
Retakan dapat terjadi pada permukaan telur secara tidak teratur atau pada garis yang lemah. Pada beberapa
serangga pelemahan lapisan embrio terjadi karena kerja ensim. Berbagai struktur mungkin terlibat dalam
meretakkan korion, yang dapat berbentuk duri (spines) atau pundi-pundi (bladder) yang eversibel (eversible)
atau melibatkan kekuatan ekspansi dari bagian tubuh, karena kontraksi, yang dibantu oleh penegukan cairan
amnion dan udara (lihat di atas). Beberapa serangga seperti pada Lepidoptera larva menggerigit kulit telur
untuk keluar.
14
Gambar 12 Peletakkan telur pada serangga
B. Perkembangan Serangga
Serangga berkembang dari telur yang terbentuk di dalam ovarium serangga betina. Kemampuan
reproduksi serangga dalam keadaan normal pada umumnya sangat besar. Oleh karena itu, dapat dimengerti
mengapa serangga cepat berkembang biak. Masa perkembangan serangga di dalam telur dinamakan
perkembangan embrionik, dan setelah serangga keluar (manetas) dari telur dinamakan perkembangan pasca
embrionik. Metamofosis adalah keseluruhan rangkaian perubahan bentuk dan ukuran sejak telur sampai
menjadi dewasa (imago). Dua macam perkembangan yang dikenal dalam dunia serangga yaitu metamorfosa
sempurna atau holometabola yang melalui tahapan-tahapan atau stadium: telur- larva –pupa-dewasa dan
metamorfosis bertahap atau hemimetabola yang melalui stadiumstadium: telur-nimfa-dewasa.
Perkembangan pascaembrio adalah perkembangan sejak eklosi sampai munculnya serangga dewasa.
Serangga mempunyai kerangka luar yang tidak memungkinkan pertumbuhan memperbesar tubuh (ukuran
tubuh). Masalah ini diatasi dengan proses ganti kulit (molting) atau ekdisis. Serangga pradewasa yang baru
keluar dari telur berkembang melalui satu seri pergantian kulit, dan bertambah ukurannya setelah tiap ganti
kulit. Tiap tahap perkembangan disebut instar. Instar akhir, yang serangga itu sudah matang secara seksual
dan bersayap sempurna (pada jenis-jenis yang memang bersayap), adalah tahap dewasa atau imago. Beberapa
serangga (misalnya Thysanura) masih berganti kulit setelah tahap dewasa, namun tidak bertambah besar.
Banyaknya instar beragam di antara kelompok-kelompok serangga, namun sebagian besar antara 2 dan 20.
Pertambahan bobot serangga yang baru keluar telur sampai menjadi dewasa biasanya sungguh nyata.
Sebagai contoh, larva instar akhir Cossus cossus (Lepidoptera: Cossidae) bobotnya 72.000 x dari instar
pertamanya, dan memerlukan tiga tahun untuk mencapai instar akhir itu (C. cossus adalah penggerek kayu).
Pada kebanyakan yang lain biasanya sekitar 1.000 x atau lebih. Proses perkembangan yang mengubah
pradewasa instar pertama menjadi dewasa disebut metamorfosis (metamorphosis), yang arti sebenarnya
adalah perubahan bentuk. Perubahan bentuk itu bisa berangsur-angsur (gradual), yaitu bentuk pradewasa
15
secara umum hampir sama dengan bentuk dewasanya, atau tiba-tiba (abrupt), yaitu bentuk pradewasanya
sangat berbeda dengan dewasanya dan perubahan ini terjadi pada instar akhir pradewasa.
Metamorfosis (perubahan bentuk) dikelompokkan dalam empat tipe, yaitu:
a. Tanpa metamorfosis/ametamorfosis (ametabola) : pada tipe ini beberapa spesies serangga tidak
memperlihatkan adanya metamorfosis, maksudnya segera setelah menetas maka lahir serangga muda yang
mirip dengan induknya kecuali ukurannya yang masih kecil dan perbedaan pada kematangan alat
kelaminnya. Kemudian setelah tumbuh membesar dan mengalami pergantian kulit, baru menjadi serangga
dewasa (imago) tanpa terjadi perubahan bentuk hanya mengalami pertambahan besar ukurannya saja.
Serangga pra dewasa sering disebut dengan istilah gaead. Tipe metamorfosis ini terdapat pada serangga
dari ordo Collembola, ordo Thysanura, dan ordo Protura.
b. Metamorfosis Bertahap (Paurometabola) : serangga yang mengalami perubahan bentuk secara
paurometabola selama siklus hidupnya mengalami tiga stadia pertumbuhan, yaitu stadia telur, nimfa dan
imago. Serangga pradewasa disebut nimfa. Nimfa dan imago memiliki tipe alat mulut dan jenis makanan
yang sama, bentuk nimfa menyerupai induknya hanya ukurannya lebih kecil, belum bersayap, dan belum
memiliki alat kelamin. Serangga pradewasa mengalami beberapa kali pergantian kulit, diikuti
pertumbuhan tubuh dan sayap secara bertahap. Serangga yang termasuk dalam tipe ini yaitu ordo
Orthoptera, Hemiptera, dan Homoptera.
c. Metamorfosis Tidak Sempurna (Hemimetabola) : hemimetabola memiliki cara hidup yang hampir sama
dengan paurometabola, hanya habitat dari serangga pradewasanya berbeda dengan imagonya. Stadia
dalam perkembangan hidupnya terdiri dari telur, naiad, dan imago. Serangga pradewasa disebut dengan
istilah naiad. Naiad hidup di air, dan mempunyai alat bernafas semacam insang sedangkan habitat imago
habitatnya di darat atau di udara.mSerangga yang memiliki perkembangan hemimetabola adalah ordo
Odonata (Capung).
Gambar 13 metamorfosa hemimetabola
16
d. Metamorfosis Sempurna (Holometabola) : pada tipe ini serangga memiliki empat stadia selama siklus
hidupnya, yaitu telur, larva (ulat), pupa (kepompong), dan imago. Serangga pradewasa disebut larva, dan
memiliki habitat yang berbeda dengan imagonya. Larva merupakan fase yang aktif makan, sedangkan
pupa merupakan bentuk peralihan yang dicirikan dengan terjadinya perombakan dan penyususunan
kembali alat-alat tubuh bagian dalam dan luar. Serangga yang memiliki perkembangan holometabola yaitu
ordo Lepidoptera, ordo Coleoptera, ordo Hymenoptera.
Gambar 14 metamorfosa holometabola
a) Kontrol Hormonal dalam Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Ganti kulit
Untuk tumbuh dan berkembang menjadi besar maka tubuh serangga mengalami proses ganti kulit.
Pengelupasan kulit luar terjadi terlebih dahulu kemudian diganti oleh kulit yang baru. Proses ini disebut
dengan pergantian kulit (ekdisis) dan kulit lama yang terlepas disebut eksuvia (exuviae). Proses pergantian
kulit ini terjadi dengan terbentuknya lapisan endokutikula baru yang berada di bawah lapisan eksokutikula
yang sudah mengeras. Sebelum kulit luar atau kutikula yang lama mengelupas, epikutikula dan prokutikula
yang baru telah dipersiapkan oleh sel-sel hipodermis (sel-sel epidermis) yang ada dibawahnya, kemudian
sel-sel hipodermis mengeluarkan cairan hormon untuk melancarkan proses pergantian kulit. Proses
membesarnya tubuh serangga sampai ukuran tertentu terjadi sebelum dinding tubuh atau kutikula baru
mengalami proses pengerasan (sklerotisasi). Serangga ketika pertama kali muncul dari kutikula lamanya
akan berwarna pucat, dan kutikulanya lunak. Dalam waktu satu atau dua jam, eksokutikula mulai mengeras
dan berwarna gelap. Kebanyakan seranggga mengalami empat sampai delapan kali ganti kulit.
b. Metamorfosis
17
Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, serangga berganti bentuk selama perkembangan pasca-
embrio, dan instar-instar yang berbeda tidak semuanya serupa. Perubahan ini disebut metamorfosis.
Perubahan selama metamorfosis dilaksanakan oleh dua proses, histolisis dan histogenesis. Histolisis
adalah suatu proses di mana struktur-struktur larva terpecah hancur menjadi bahan yang dapat digunakan
dalam perkembangan struktur-struktur dewasa. Histogenesis adalah proses perkembangan struktur-
struktur dewasa dari produk-produk histolisis. Sumber-sumber utama dari bahan untuk histogenesis adalah
hemolimf, lemak badan, dan jaringan-jaringan larut seperti urat-urat daging larva.
Metamorfosis serangga dikontrol oleh tiga hormon :
1. PTTH (hormon protorasikotropik)
PTTH diproduksi oleh sel-sel neurosekretorik di dalam otak dan merangsang kelenjar-kelenjar
protoraks untuk menghasilkan ekdison, yang merangsang apolisis dan mendorong pertumbuhan.
2. Ekdison
3. JH (hormon juvenil)
JH dihasilkan oleh sel-sel di dalam korpora allata dan menghambat metamorfosis, jadi mendorong
perkembangan lebih lanjut larva atau nimfa.
Korpora allata aktif selama instar-instar awal dan biasanya berhenti menyekresi JH dalam instar
pradewasa terakhir. Ketiadaan hormon dalam instar ini mengakibatkan metamorphosis.
b) Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Serangga
1) Faktor Fisik dan Biotik Lingkungan
Panjang satu generasi dan lamanya panjang generasi itu disesuaikan dengan musim-musim yang berbeda,
dan bervariasi pada serangga-serangga yang berbeda. Kebanyakan serangga pada daerah beriklim sedang
mempunyai siklus hidup yang disebut heterodinamik, yaitu dewasanya hanya muncul selama waktu yang
terbatas (selama satu musim khusus). Kebanyakan serangga khusus yang hidup di daerah tropis, mempunyai
siklus hidup homodinamik, yaitu perkembangan terus berlanjut tanpa ada periode istirahat (tidur) untuk
menyempurnakan siklus hidupnya. Banyak serangga memiliki lebih dari satu generasi dalam satu tahun, dan
beberapa serangga biasanya jenis yang agak kecil dapat menyelesaikan siklus hidup mereka dalam beberapa
minggu dan mempunyai banyak generasi dalam tiap tahunnya.
Pada banyak serangga perkembangan terhenti selama satu tahapan khusus siklus tahunan. Periode ini yang
secara genetik telah diprogramkan disebut dengan istilah diapause. Periode tidur pada musim dingin disebut
hibernasi dan periode tidur selama suhu-suhu yang tinggi disebut aestivasi.
2) Faktor Dalam
a. Kemampuan berkembang biak
18
Kemampuan berkembang biak suatu jenis serangga dipengaruhi oleh kepiridian dan fekunditas serta waktu
perkembangan (kecepatan berkembang biak). Kepiridian (natalis) adalah besarnya kemampuan suatu jenis
serangga untuk melahirkan keturunan baru. Serangga umunya memiliki kepiridinan yang cukup tinggi.
Sedangkan fekunditas (kesuburan) adalah kemampuannya untuk memproduksi telur. Lebih banyak jumlah
telur yang dihasilkan oleh suatu jenis serangga, maka lebih tinggi kemampuan berkembang biaknya. Biasanya
semakin kecil ukuran serangga, semakin besar kepiridinannya (Jumar, 2000).
b. Perbandingan Kelamin
Perbandingan kelamin adalah perbandingan antara jumlah individu jantan dan betina yang diturunkan oleh
serangga betina. Perbandingan kelamin ini umumnya adalah 1:1, akan tetapi karena pengaruh-pengaruh
tertentu, baik faktor dalam maupun faktor luar seperti keadaan musim dan kepadatan populasi maka
perbandingan kelamin ini dapat berubah (Jumar, 2000).
c. Sifat Mempertahankan Diri
Seperti halnya hewan lain, serangga dapat diserang oleh berbagai musuh. Untuk mempertahankan hidup,
serangga memiliki alat atau kemampuan untuk mempertahankan dan melindungi dirinya dari serangan musuh.
Kebanyakan serangga akan berusaha lari bila diserang musuhnya dengan cara terbang, lari, meloncat,
berenang atau menyelam. Sejumlah serangga berpura-pura mati bila diganggu. Beberapa serangga lain
menggunakan tipe pertahanan ”perang kimiawi”, seperti mengeluarkan racun atau bau untuk menghindari
musuhnya. Beberapa serangga melakukan mimikri untuk menakut-nakuti atau mengelabui musuhnya.
Mimikri terjadi apabila suatu spesies serangga mimiknya menyerupai spesies serangga lain (model) yang
dijauhi atau dihindari sehingga mendapatkan proteksi sebab terkondisi sebelumnya serupa predator (Jumar,
2000).
d. Siklus Hidup
Siklus hidup adalah suatu rangkaian berbagai stadia yang terjadi pada seekor serangga selama
pertumbuhannya, sejak dari telur sampai menjadi imago (dewasa). Pada seranggaserangga yang
bermetamorfosis sempurna (holometabola), rangkaian stadia dalam siklus hidupnya terdiri atas telur, larva,
pupa dan imago. Misalnya pada kupu-kupu (Lepidoptera), kumbang (Coleoptera), dan lalat (Diptera).
Rangkaian stadia dimulai dari telur, nimfa, dan imago ditemui pada serangga dengan metamorfosis bertingkat
(paurometabola), seperti belalang (Orthoptera), kepik (Hemiptera), dan sikada (homoptera) (Jumar, 2000).
e. Umur Imago
19
Serangga umumnya memiliki umur imago yang pendek. Ada yang beberapa hari,akan tetapi ada juga yang
sampai beberapa bulan. Misalnya umur imago Nilavarpata lugens (Homoptera; Delphacidae) 10 hari, umur
imago kepik Helopeltis theivora (Hemiptera; Miridae) 5-10 hari, umur Agrotis ipsilon (Lepidoptera;
Noctuidae) sekitar 20 hari, ngengat Lamprosema indicata (Lepidoptera; Pyralidae) 5-9 hari, dan kumbang
betina Sitophillus oryzae (Coleoptera;Curculinoidae) 3-5 bulan (Jumar, 2000).
3) Faktor Luar
a. Suhu dan Kisaran Suhu
Serangga memiliki kisaran suhu tertentu dimana dia dapat hidup. Diluar kisaran suhu tersebut serangga
akan mati kedinginan atau kepanasan. Pengaruh suhu ini jelas terlihat pada proses fisiologi serangga. Pada
waktu tertentu aktivitas serangga tinggi, akan tetapi pada suhu yang lain akan berkurang (menurun). Pada
umunya kisaran suhu yang efektif adalah suhu minimum 150C, suhu optimum 250C dan suhu maksimum
450C. Pada suhu yang optimum. kemampuan serangga untuk melahirkan keturunan besar dan kematian
(mortalitas) sebelum batas umur akan sedikit.
b. Kelembaban/Hujan
Kelembaban yang dimaksud dalam bahasan ini adalah kelembaban tanah, udara, dan tempat hidup serangga
di mana merupakan faktor penting yang mempengaruhi distribusi, kegiatan, dan perkembangan serangga.
Dalam kelembaban yang sesuai serangga biasanya lebih tahan terhadap suhu ekstrem. Pada umumnya
serangga lebih tahan terhadap terlalu banyak air, bahkan beberapa serangga yang bukan serangga air dapat
tersebar karena hanyut bersama air. Akan tetapi, jika kebanyakan air seperti banjir da hujan deras merupakan
bahaya bagi beberapa jenis serangga. Sebagai contoh dapat disebutkan, misalnya hujan deras dapat mematikan
kupu-kupu yang beterbangan dan menghanyutkan larva atau nimfa serangga yang baru menetas.
c. Cahaya/Warna/Bau
Beberapa aktivitas serangga dipengaruhi oleh responnya terdahap cahaya, sehingga timbul jenis serangga
yang aktif pada pagi hari, siang, sore atau malam hari. Cahaya matahari dapat mempengaruhi aktivitas dan
distribusi lokalnya. Serangga ada yang bersifat diurnal, yakni yang aktif pada siang hari mengunjungi
beberapa bunga, meletakkan telur atau makan pada bagian-bagian tanaman dan lain-lain. Seperti contoh
Leptocorixa acuta. Selain itu serangga-serangga yang aktif dimalam hari dinamakan bersifat nokturnal,
misalnya Spodoptera litura. Sejumlah serangga juga ada yang tertarik terhadap cahaya lampu atau api, seperti
Scirpophaga innotata. Selain tertarik terhadap cahaya, ditemukan juga serangga yang tertarik oleh suatu warna
sepeti warna kuning dan hijau. Sesungguhnya serangga memiliki preferensi (kesukaan) tersendiri terhadap
warna dan bau.
20
d. Angin
Angin berperan dalam membantu penyebaran serangga, terutama bagi serangga yang berukuran kecil.
Misalnya Apid (Homoptera; Aphididae) dapat terbang terbawa oleh angina sampai sejauh 1.300 km. Kutu
loncat lamtoro, Heteropsylla cubana (Homoptera; Psyllidae) dapat menyebar dari satu tempat ke tempat lain
dengan bantuan angin. Selain itu, angin juga mempengaruhi kandungan air dalam tubuh serangga, karena
angin mempercepat penguapan dan penyebaran udara.
e. Faktor Makanan
Kita mengetahui bahwa makanan merupakan sumber gizi yang dipergunakan oleh serangga untuk hidup
dan berkembang. Jika makanan tersedia dengan kualitas yang cocok dan kuantitas yang cukup, maka populasi
serangga akan naik cepat. Sebaliknya, jika keadaan makanan kurang maka populasi serangga juga akan
menurun. Pengaruh jenis makanan, kandungan air dalam makanan dan besarnya butiran material juga
berpengaruh terhadap perkembangan suatu jenis serangga hama. Dalam hubungannya dengan makanan,
masing-masing jenis serangga memiliki kisaran makanan (inang) dari satu sampai banyak makanan (inang).
f. Faktor Hayati
Faktor hayati adalah faktor-fakor hidup yang ada di lingkungan yang dapat berupa serangga, binatang
lainnya, bakteri, jamur, virus dan lain-lain. Organisme tersebut dapat mengganggu atau menghambat
perkembangan biakan serangga, karena membunuh atau menekannya, memarasit atau menjadi penyakit atau
karena bersaing (berkompetisi) dalam mencari makanan atau berkompetisi dalam gerak ruang hidup.
21
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sistem reproduksi jantan terdiri atas sepasang testis yang terletak di ujung belakang abdomen. Setiap testis
mengandung unit-unit fungsional dimana sperma dihasilkan. Sperma matang yang keluar dari testis melewati
saluran pendek dan mengumpul di ruang penyimpan. Saluran yang sama mengarah keluar dari vesikula
seminalis, bergabung satu sama lain di sekitar pertengahan tubuh, dan membentuk saluran ejakulasi tunggal
yang mengarah keluar dari tubuh melalui organ kelamin jantan (aedeagus).
Sistem reproduksi betina terdiri atas sepasang ovarium. Setiap ovarium terbagi menjadi unit-unit
fungsional (ovariol) di mana telur dihasilkan. Satu ovarium dapat mengandung puluhan ovariol, umumnya
sejajar satu sama lain. Telur matang meninggalkan ovarium melalui saluran telur lateral (lateral oviducts).
Masa perkembangan serangga di dalam telur dinamakan perkembangan embrionik, dan setelah serangga
keluar (manetas) dari telur dinamakan perkembangan pasca embrionik. Metamofosis adalah keseluruhan
rangkaian perubahan bentuk dan ukuran sejak telur sampai menjadi dewasa (imago). Dua macam
perkembangan yang dikenal dalam dunia serangga yaitu metamorfosa sempurna atau holometabola yang
melalui tahapan-tahapan atau stadium: telur- larva –pupa-dewasa dan metamorfosis bertahap atau
hemimetabola yang melalui stadiumstadium: telur-nimfa-dewasa. Perkembangan serangga di alam
dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dalam yang dimiliki serangga itu sendiri dan faktor luar yang berda
di lingkungan sekitarnya.
B. SARAN
Kita dapat memahami sistem reproduksi dan perkembangan serangga pada materi yang sudah dijabarkan.
Bagi para pembaca diperbanyak untuk belajar dari studi literature yang lain serta situs-situs di internet yang
memuat pembahasan tentang entomologi khusunya pada sistem reproduksi dan perkembangan serangga.
22
DAFTAR PUSTAKA
Unknown. Perkembangan Anatomi (Daur Hidup) Serangga. https://mplk.politanikoe.ac.id/. Diakses
pada 22 Maret 2022.
Unknown. 2011. Sistem Reproduksi Pada Serangga. http://infoperlintanmplk.blogspot.com/. Diakses
pada 22 Maret 2022.
Istiana. 2015. Makalah Reproduksi Serangga. http://istiana93.blogspot.co.id/. Diakses pada 21 Maret
2022.
Itawidiati. 2013. Makalah Anthropoda Insecta. http://itawidiati22.blogspot.co.id/. Diakses pada 21
Maret 2022.
Kliksma. 2014. Sistem reproduksi Serangga. http://kliksma.com/. Diakses pada 21 Maret 2022.
Sophianirmalida. 2010. Reproduksi Serangga. http://sophianirmalida.blogspot.co.id/. Diakses pada 21
Maret 2022.
Unknown. Perkembangan dan Metamorfosis Serangga.
Perkembangan%20Dan%20Metamofosis%20Serangga.pdf. Diakses pada 22 Maret 2022.
23