The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kuswiyantobambang, 2021-11-30 04:58:26

Modul Batik 2 Uk A5

Modul Batik 2 Uk A5

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 2

KATA PENGANTAR

Batik sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit dan
terus berkembang hingga saat ini. Pada awal kemunculannya
motif batik hanya digunakan sebagai pakaian kaum bangsawan,
keluarga kerajaan, dan para pekerja di dalam istana kerajaan
bukan untuk masyarakat biasa. Kini membuat batik dapat
dilakukan oleh siapa saja. Berbagai corak batik di Indonesia
beragam sesuai dengan unsur-unsur fisik dan nilai di setiap
wilayah.

Perkembangan batik di Indonesia sendiri semakin pesat
dengan adanya kemajuan teknologi. Batik juga diakui sebagai
warisan budaya. Hal tersebut menarik praktisi pendidikan untuk
mengkorelasikan warisan budaya dengan kurikulum yang
berlaku. Penerapan Kurikulum 2013 yang dikembangkan
dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) mengajak
warga belajar untuk ikut serta dalam mengangkat nilai-nilai
karifan lokal salah satunya dengan mempelajari kesenian batik.

Berdasarkan hal tersebut kami menyusun modul ini
untuk menunjang keterampilan membatik yang diterapkan
sesuai dengan kurikulum 2013. Kami menyadari bahwa
penulisan modul ini masih jauh dari kata sempurna. Maka dari
itu kami mohon saran dari semua pihak agar menjadi modul
yang lebih baik lagi.

Penulis

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 3

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .......................................................................... 3
Daftar Isi ................................................................................... 4
Petunjuk Penggunaan Modul .................................................... 5
Tujuan Mempelajari Modul ...................................................... 6
Unit 1. Dasar Membuat Batik Tulis.......................................... 7

A. Desain Batik.................................................................. 8
Penugasan ................................................................... 10

B. Unsur-Unsur Ragam Hias ........................................... 11
C. Penggolongan Ragam Hias Batik Berdasarkan

Bentuknya ................................................................... 13
Penugasan.................................................................... 16
Unit 2. Membuat Batik Tulis .................................................. 17
A. Alat atau Perlengkapan dalam Membuat Batik
Tulis ............................................................................ 17
Penugasan.................................................................... 20
B. Proses Pembuatan Batik Tulis..................................... 21
Penugasan.................................................................... 30
Daftar Pustaka ......................................................................... 31

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 4

PERLU DIPERHATIKAN

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan modul ini
adalah :

1. Mempelajari modul pelajaran prakarya dan
kewirausahaan paket A secara berurutan

2. Menggunakan sumber daya yang ada disekitar
lingkungan siswa sehingga tidak menyulitkan dan
menghambat proses pembelajaran.

3. Menggunakan bahan dan media sesuai dengan petunjuk
dari tutor.

4. Menggunakan berbagai referensi yang mendukung yang
terkait dengan materi pembelajaran.

5. Meminta bimbingan tutor jika merasakan kesulitan
dalam memahami materi modul.

6. Mampu menyelesaikan 75% dari semua materi dan
penugasan, maka bisa dikatagorikan TUNTAS modul ini

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 5

TUJUAN MEMPELAJARI MODUL :

Setelah mempelajari modul ini, maka diharapkan peserta didik
mampu :

1. Memahami sejarah decoupage sebagai sebuah seni menempel
gambar

2. Memahami bahan dan alat yang dipergunakan untuk membuat
sebuah karya decoupage

3. Memahami proses pembuatan decoupage
4. Mencari alternative media dari limbah rumah tanggayang bisa

digunakan sebagai media decoupage.
5. Memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi produk yang

bermanfaat
6. Meningkatkan kreatifitas
7. Meningkatkan kemampuan motoric dan seni
8. Menumbuhkan jiwa wirausaha
9. Melakukan kegiatan menggunting dan menempel pada berbagai

permukaan berbagai media

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 6

UNIT DASAR MEMBUAT

1 BATIK TULIS

Batik merupakan hal yang tidak asing bagi masyarakat
Indonesia saat ini. Batik merupakan salah satu warisan nusantara
yang unik. Keunikannya ditunjukkan dengan barbagai macam
motif yang memiliki makna tersendiri. Menurut Asti M. dan
Ambar B. Arini (2011: 1) berdasarkan etimologi dan
terminologinya, batik merupakan rangkaian kata mbat dan tik.
Mbat dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai ngembat atau
melempar berkali-kali, sedangkan tik berasal dari kata titik. Jadi,
membatik artinya melempar titik berkali-kali pada kain.
Adapula yang mengatakan bahwa kata batik berasal dari kata
amba yang berarti kain yang lebar dan kata titik. Artinya batik
merupakan titik-titik yang digambar pada media kain yang lebar
sedemikian sehingga menghasilkan pola-pola yang indah.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, batik memiliki arti kain
bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan
menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian
pengolahannya diproses dengan cara tertentu.

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 7

Batik tulis ialah dari hasil proses produksi batik dengan
tehnis pengerjaan motifnya ditulis langsung dengan manual oleh
pembatik. Untuk menulisnya, dapat memakai canting yang
dibuat dari tembaga yang diperlengkapi gagang dari bambu.
Untuk menulisnya, dapat memakai canting yang dibuat dari
tembaga yang diperlengkapi gagang dari bambu. Ujung dari
canting punya lubang yang berbagai macam, hingga dapat
mengaturukuranmotifnya. Disamping itu, ada bak penampung
canting yang diberi nama dengan nyamplung. Alat ini berisi
cairan malam atau pewarna, bergantung dari tehnik batik yang
nanti akan dipakai. Batik tulis warna adalah tehnik batik tulis
dengan mentuliskan cairan malam lewat canting tulis.
A. Desain Batik.

Cara Membuat Pola Pembuatan pola batik dilakukan
sebelum proses membatik. Tahap awal dari pembuatan pola
adalah menentukan ide atau memilih motif yang dikehendaki.
Kain yang akan digunakan sebaiknya disetrika dulu sebelum
permukaannya digambar pola. Permukaan kain yang halus dan
rata akan memudahkan pembuatan pola dan proses pelekatan
malamnya. Membuat pola di atas kain bisa dilakukan dengan
menggunakan cara membuat pola dengan bantuan garis dan
membuat pola dengan menjiplak (mal).

1. Membuat Pola Dengan Bantuan Garis.
Pada tahapan ini merupakan proses membuat pola

dengan membuat garis-garis horizontal maupun vertikal terlebih
dulu menyesuaikan motif pola yang sudah kita buat. Garis yang
dibuat bisa berupa garis lurus maupun lengkung, karena yang

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 8

terpenting adalah untuk memudahkan dalam pembuatan pola
hias.

2. Membuat Pola Dengan Menjiplak (Mal)
Membuat pola dengan mal lebih sering digunakan

karena lebih cepat dan praktis dalam pengerjaannya. Pertama,
buat pola hias pada kertas disesuaikan dengan ukuran yang
sebenarnya seperti yang akan tergambar pada kain. Kain lalu
diletakkan di atas kertas tersebut. Gambar motif pada kertas
akan terlihat menembus kain. Kemudian tinggal menjiplaknya
dengan menggunakan pensil. Pensil yang digunakan memiliki
ukuran ketebalan pada jenis pensil 3B atau 4B. Sehingga dalam
pembuatan desain batik akan lebih cepat selesai. Motif batik
disebut juga pola batik atau corak batik . Dalam hal ini terbagi
menjadi beberapa bagaian.
a. Corak Utama

Corak utama merupakan penghayatan pembatik terhadap
alam fikiran serta alam falsafah yang dianutnya. Bagian ini
merupakan ungkapan perlambangan atau biasanya menjadi
nama kain.
b. Corak Tambahan (Isen-Isen)

Isen-isen merupakan pengisi latar kain pada bidang kosong
disela-sela corak utama. Pada umumnya isen-isen berukuran
kecil dan dibuat sesudah pembuatan corak utama selesai
digambar.

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 9

c. Corak Pinggir
Corak pinggiran terletak pada sisi memanjang kain, tidak

hanya terletak pada pinggir kain tetapi bisa juga corak pinggiran
terletak di tengah sebagai pembatas antara kelompok corak
utama.

PENUGASAN 1

MENGGAMBAR POLA BATIK

1. Siapkan kertas ukuran A3
2. Siapkan alat tulis seperti pensil, penghapus, dll
3. Tentukan jenis pola yang akan kita buat baik itu dengan

bantuan garis atapun menjiplak
4. Mulailah menggambar dengan pendampingan dari tutor
5. Tunjukkan hasil gambarmu kepada tutor pendamping

untuk mendapatkan evaluasi

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 10

B. Unsur-Unsur Ragam Hias

Ragam hias batik adalah

hasil lukisan pada kain dengan

menggunakan alat yang

disebut dengan canting.

Jumlah ragam hias pada batik

tradisional Indonesia saat ini

sangat beragam baik variasi

bentuk maupun warnanya.

Pada umumnya ragam hias

Gambar 1.1 Motif Batik batik sangat dipengaruhi oleh
faktor Letak geografis daerah

pembuatan, Sifat dan tata penghidupan di daerah bersangkutan,

Kepercayaan dan adat istiadat yang ada di daerah tempat

pembuatan batik, Keadaan alam sekitar termasuk flora dan

fauna, Adanya kontak atau hubungan antar daerah pembuat

pembatikan. Pada sehelai kain batik memuat sejumlah ragam

hias yang dapat dikelompokkan menjadi dua bagian utama yaitu:

1. Ornamen Utama

Ornamen utama adalah: suatu ragam hias yang

menentukan motif tersebut mempunyai makna, sehingga dalam

pemberian nama motif batik berdasarkan perlambang yang ada

pada ornamen utama ini. Jika ragam hias utamanya adalah

Parang maka batiknya biasannya diberi nama Parang. Ragam

hias utama banyak sekali macamnya diantaranya: meru, api,

naga, burung, garuda, pohon hayat, tumbuhan, bangunan,

parang, dan lain-lain.

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 11

2. Isen-Isen
Isen-isen merupakan aneka corak pengisi latar kain dan

pada bidang-bidang kosong ragam hias. Pada umumnya
berukuran kecil dan kadang rumit. Dapat berupa titik-titik, garis-
garis ataupun gabungan keduannya. Jumlah isen-isen ada
banyak sekali tetapi pada perkembangannya hanya beberapa
saja yang masih biasa dijumpai dan masih dipakai pada saat ini.
Isen-isen pengisi latar antara lain : galaran, rawan, ukel, udar,
belara sineret, anam karsa, debundel atau cebong, kelir, kerikil,
sisik melik, uceng mudik, kembang jati dan gringsing.

Isen-isen pengisi bidang kosong antara lain : cecek,
kembang jeruk, kembang suruh, kembang cengkeh, sawat,
sawut kembang, srikit, kemukus, serit, untu walang. Pembuatan
isen-isen memerlukan waktu yang cukup lama bentuk-
bentuknya yang kecil dan rumit membututuhkan ketelitian yang
tinggi.

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 12

C. Penggolongan Ragam Hias Batik Berdasarkan
Bentuknya
Ragam hias batik berdasarkan bentuknya secara garis

besar dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan ragam hias
geometris dan non geometris
1. Ragam Hias Geometris

Ragam hias geometris
adalah ragam hias yang
mengandung unsur-unsur garis
dan bangun seperti garis
miring, bujur sangkar, persegi
panjang, trapesium, belah
ketupat, jajaran genjang,
lingkaran dan bintang yang
disusun secara berulang-ulang Gambar 1.2 Ragam Hias Geometris
membentuk satu kesatuan motif.
yang termasuk ragam hias geometris adalah:
a. Motif Ceplok

Motif ceplok atau ceplokan adalah motif-motif batik yang
di dalamnya terdapat gambaran-gambaran bentuk lingkaran,
roset, binatang dan variasinya. Beberapa nama motif ceplok,
yaitu: ceplok nogosari, ceplok supit urang, ceplok truntum,
ceplok cakra kusuma.

b. Motif ganggong
Banyak orang menganggap motif ganggong adalah motif

ceplok, karena sepintas hampir sama. Ciri khas yang
membedakan motif ganggong dengan ceplok adalah adanya
bentuk isen yang terdiri atas seberkas garis-garis yang

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 13

panjangnya tidak sama dan pada ujung garis yang paling panjang
berbentuk serupa salib. Nama-nama motif ganggong antara lain:
ganggong arjuna, ganggong madusari, ganggong sari.

c.. Motif Parang dan Lereng
Motif Parang merupakan salah satu motif yang sangat

terkenal dalam kelompok motif garis miring. Motif ini terdiri
atas satu atau lebih ragam hias yang tersusun membentuk garis-
garis sejajar dengan sudut kemiringan 45º. Contoh motif Parang
dan lereng adalah: Parang rusak, Lereng ukel.

d. Motif Banji
Motif banji berdasar pada ornamen swastika, dibentuk atau

disusun dengan menghubungkan swastika dengan garis-garis,
sehingga membentuk sebuah motif. Nama-nama motif banji
antara lain banji guling, banji bengkok, banji kerton, banji
lancip.

2. Ragam Hias Non-Geometris

Pola non-geometris

merupakan pola dengan

susunan tidak terukur,

artinya polanya tidak dapat

diukur secara pasti

meskipun dalam bidang

luas dapat terjadi

pengulangan seluruh

motif. Pola yang termasuk

Gambar 1.2 Ragam Hias Non Geometris

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 14

keadalam golongan pola non geometris yaitu;
a. Motif Semen

Ragam hias- utama yang merupakan- ciri motif semen
adalah meru, suatu gubahan menyerupai gunung. Meru berasal
dari nama gunung mahameru. Hakekat meru adalah lambang
gunung atau tempat tumbuh-tumbuhan bertunas (Jawa : semi )
hingga motif ini disebut semen. Semen berasal dari kata dasar
semi. Ragam hias utama semen adalah Garuda, sawat, lar
maupun mirong. Contoh motif semen adalah semen jolen dan
semen gurdha.

b. Motif Lung-lungan
Sebagian besar motif lung-lungan mempunyai ragam

hias serupa dengan motif semen. Berbeda dengan motif semen,
ragam hias motif lung-lungan tidak selalu lengkap dan tidak
mengandung ragam hias meru. Motif lung-lungan diantaranya
adalah Grageh waluh, Babon Angrem.

c. Motif Buketan
Motif buketan mudah dikenali lewat rangkaian bunga

atau kelopak bunga dengan kupu-kupu, burung atau berbagai
satwa kecil yang mengelilinginya. Berbagai unsur tersebut
tampil sebagai satu susunan yang membentuk satu kesatuan
motif.

d. Motif Pinggiran
Motif ini disebut motif pinggiran karena unsur hiasannya

terdiri atas ragam hias yang biasa digunakan untuk ”hiasan

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 15

pinggir” atau ”hiasan pembatas” antara bidang yang memiliki
hiasan dan bidang kosong pada dodot, kemben dan udheg.

e. Motif Dinamis
Motif dinamis adalah motif-motif yang masih dapat

dibedakan menjadi unsur-unsur motif, tetapi ornamen
didalamnya tidak lagi berupa ornamen-ornamen tradisional,
motif ini merupakan peralihan motif batik klasik dan modern.

PENUGASAN 2

AYO MULAI MEMBUAT MOTIF BATIK
1. Siapkan kain putih ukuran 20 cm x 20 cm
2. Siapkan alat tulis seperti pensil dan penghapus
3. Tentukan jenis motif yang akan kita buat baik itu hias

geometris maupun nongeometris
4. Mulailah menggambar dengan pendampingan dari tutor
5. Tunjukkan hasil gambarmu kepada tutor pendamping untuk

mendapatkan evaluasi
Buat laporan terkait
1. Motif apa yang kamu pilih
2. Apa yang melatarbelakangi kamu memilih motif tersebut
3. Apa kendala dalam menggambar motif yang kamu pilih

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 16

UNIT

2 MEMBUAT BATIK TULIS

Pembuatan Batik Tulis sangat digemari oleh banyak
masyarakat, meskipun membutuhkan waktu yang agak Panjang
tetapi hasil yang diperoleh memuaskan. Banyak sekali pelatihan
– pelatihan yang dilakukan oleh Lembaga maupun pengrajin
untuk terus mengembangkan batik tulis.

A ALAT ATAU PERLENGKAPAN DALAM

MEMBUAT BATIK TULIS

Terdapat beberapa hal yang harus kita persiapkan dalam
mempersiapkan alat dan bahan untuk membuat batik tulis,
diantaranya adalah.
1. Kain prisma

Kain mori adalah bahan baku batik yang bias terbuat dari
katun, sutera, polyster, rayon dan bahan sintesis yang lainnya.
Warna kain mori adalah putih. Kualitas kain ini beragam, dan
setiap kualitasnya sangat menentukan baik buruknya kain batik
yang dihasilkan. Kain mori yang akan dipakai sebelummnya
dipilih (dijahit pada bekas potongan) terlebih dahulu supaya
benang pakan tidak terlepas. Setelah dipilit, lalu kain dicuci
dengan air tawar hingga bersih.
2. Canting

Canting adalah untuk membatik, yang terabuat dari
bahan tembaga dan bamboo. Canting dipakai untuk menyendok

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 17

lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau
pelindung terhadap zat warna. Canting dipergunakan untuk
menulis atau membuat motif-motif batik yang diinginkan.

Canting terdiri dari cucuk (saluran kecil) nyamplungan dan
gagang terong. Lubang cucuk bermacam-macam, ada yang
besar dan kecil. Banyaknya cucukpun beragam ada yang satu
cucuk, dua cucuk, tiga cucuk.
3. Gawangan

Gawangan adalah alat untuk menyangkutkan dan
membentangkan kain mori sewaktu dibatik. Gawangan terbuat
dari kayu atau bamboo. Gawangan ini harus dibuat sedemikian
rupa agar mudah dipindah-pindahkan, kuat dan ringan.
4. Lilin

Lilin adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik.
Penggunakan lilin untuk membatik berbeda dengan lilin yang
biasa. Lilin untuk membatik bersifat cepat menyerap pada kain
tetapi dapat dengan mudah lepas ketika proses pelorotan.
5. Wajan

Wajan adalah alat untuk mencairkan lilin atau malam.
Wajan terbuat dari logam baja atau tanah liat. Wajan sebaiknya
bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian
tanpa menggunakan alat lain. Wajan yang terbuat dari tanah liat,
tangkainya tidak mudah panas, tapi agak lambat memanaskan
malam. Sedangkan wajan yang terbuat dari logam, tangkainya
mudah panas, tetapi cepat memanaskan malam.
6. Bandul

Bandul dibuat dari timah, kayu, atau batu yang
dikantongi. Fungsi pokok bandul adalah untuk menahan kain

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 18

mori yang baru dibattik agar tidak mudah bergeser tertiup angin,
atau ketarik si pembatik secara tidak sengaja.
7. Anglo

Anglo adalah perapian yang terbuat dari tanah liat
sebagai pemanas malam. Bahan bakarnya adalah arang kayu.
Selain menggunakan anglo, kompor juga bias digunakan untuk
memanaskan malam, bahan bakar kompor adalah minyak.
8. Tepas

Tepas adalah alat untuk membesarkan api, yang terbuat
darin bambu. Selain tepas, dapat menggunakan kipas angin
untuk membesarkan api
9. Taplak

Taplak adalah kain untuk menutup paha sipembatik
supaya tidak kena tetesan malam panas sewaktu canting ditiup,
atau waktu membatik. Taplak biasanya terbuat dari kain bekas.
10. Saringan Malam

Saringan adalah alat untuk menyaring malam panas
yang banyak kotorannya. Jika malam disaring, maka kotoran
dapat dibuang, sehingga tidak menganggu jalnnya malam pada
cucuk canting sewaktu dipergunakan untuk membatik.
11. Dingklik

Dingklik adalah tempat duduk untuk pembatik
12. Pewarna

Pewarna dipakai untuk mewarnai kain sesuai dengan
pola yang telah dibuat. Warna bisa beragam mau warna cerah
atau agak gelap.

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 19

13. Water glass
Water glass ini kita gunakan untuk mengunci warna,

supaya pada saat pewarnaan warna tidak lutur ataupun pudar jika
dicuci atau terkena air.

PENUGASAN 3

AYO MENGENALI PERALATAN BATIK TULIS

1. Cari tahu tentang peralatan batik
2. Coba satu persatu peralatan batik yang ada di

Sekolahmu
3. Pahami bagaimana cara menggunakan peralatan batik

tersebut
4. Kemudian tuliskan hasil pengamatanmu dan mencoba

tadi dalam sebuah laporan
5. Silahkan ketik laporan beserta foto – foto peralatan

yang bisa didapat langsung dari hasil foto kalian atau
bisa juga mencari di Internet

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 20

B PROSES PEMBUATAN BATIK TULIS

Secara umum proses pembuatan batik tulis melalui 3
tahapan yaitu pewarnaan, pemberiaan malam (lilin) pada kain
dan pelepasan lilin dari kain. Bila diurut-urut, proses membatik
adalah sebagai berikut:
1. Nyungging, yaitu membuat pola atau motif batik pada

kertas.

2. Njaplak,
memindahkan pola
dari kertas ke kain.

3. Nglowong,

melekatkan malam

di kain dengan

canting sesuai pola. Gambar 2.1 Proses Nglowong
Kain putih yang

akan dibatik dapat diberi warna dasar sesuai keinginan atau tetap

bewarna putih sebelum kemudian diberi malam. Proses

pemberian malam ini dapat menggunakan proses batik tulis

dengan canting tangan atau dengan proses cap. Pada bagian kain

yang diberi malam, pewarnaan pada batik tidak dapat masuk

karena tertutup oleh malam (waxresist). Setelah diberi malam,

batik dicelup dengan warna atau bisa pada saat pewarnaan

dengan menggunakan kuas.

Proses pewarnaan ini dapat dilakukan beberapa kali
sesuai keinginan dengan beberapa warna yang diinginkan. Jika
proses pewarnaan dan pemberian malam selesai, selanjutnya

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 21

adalah tekhnik penguncian warna, yaaitu menggunakan
waterglass, kenapa kain yang telah diberi warna harus dikunci
warna, supaya warnanya tidak luntur jika dicuci atau terkena air.

Gambar 2.2 Proses pewarnaan

Setelah penguncian warna baru kain tadi dilunturkan
dengan proses pemanasan atau perebusan supaya malam yang
ada pada kain bisa lepas.

Gambar 2.3 Proses pemanasan dan perebusan

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 22

Batik yang telah menjadi leleh dan terlepas dari air.
Proses perebuasan ini dilakukan dua kali, yang terakhir dengan
larutan soda ash untuk mematikan warna yang menempel pada
batik dan menghindari kelunturan. Setelah perebusan selesai,
batik direndam dengan air dingin lalu dijemur.

Gambar 2.4 Hasil akhir karya batik

a) Proses Pembuatan Batik Tulis
Tahapan-tahapan dalam proses pembuatan batik tulis, yaitu:

1. Tahap pertama atau disebut juga proses pebatikan pertama,
yaitu pembuatan pola dan motif yang dikehendaki ditas kain

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 23

putih (sutera) dilukis dengan pensil. Tahapan ini akan
dicontohkan pada gambar 2.5.

Gambar 2.5 Proses Pembuatan pola 2.

3. Tahap kedua, yaitu melukis dengan lilin malam

menggunakan canting dengan mengikuti pola yang

telah ada pada kedua sisi (bolak-balik).

Gambar 2.6 Proses mencanting menggunakan
lilin malam

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 24

4. Tahap ketiga, yaitu menutupi dengan lilin malam bagian-
bagian yang akan tetap bewarna putih (tidak bewarna)

Gambar 2.7 Penutupan lilin malam pada bagian
yang tidak berwarna

5. Tahap keempat, yaitu proses pewarnaan
Pada tekhnik pewarnaan ini Selain teknik celup, ada

pula 3 teknik lain yang lebih inovatif karena memanfaatkan
alat yang sebelumnya jarang digunakan untuk mewarnai
produk tekstil. Ketiga teknik berikut ini menggunakan
pewarna batik sintetis bersifat kimiawi seperti remasol,
indigosol, napthol, dan rapid. Sebelum Anda bingung, mari
simak penjelasan kami mengenai teknik pewarnaan batik
yang ‘mendobrak’ tradisi ini! tergantung selera pembatik
mau menggunakan tyekhnik yang mana. Tekhnik
pewarnaan terbagi menjadi beberapa tekhnik, yaitu
menggunakan tekhnik semprot, menggunakan Teknik
coletan dan tekhnik usap. Bagaimana penerapan atau

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 25

penggunaan tekhnik tersebut bisa dibaca pada bagian
dibawah ini.

a. Teknik semprot
Teknik semprot menggunakan airbrush yang biasa

digunakan untuk mengecat kendaraan kini bisa menjadi
alternatif pewarnaan batik. Penggunaan airbrush dan kompresor
menghasilkan warna yang unik dan menarik dalam waktu yang
relatif cepat. Warna yang muncul pada batik menjadi lebih
beragam sekaligus terlihat natural dan nyeni. Gunakan napthol
untuk warna gelap dan indigosol untuk warna terang. Di balik
kemudahan tekniknya, sayangnya keberagaman warna tersebut
hadir secara tumpang tindih, tidak merata, dan terkesan
memudar.

Gambar 2.8 Pewarnaan dengan teknik semprot

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 26

b. Teknik coletan
Teknik pewarnaan coletan ini sudah cukup lama dikenal

dan sering digunakan pada batik pesisiran berwarna cerah.
Proses pewarnaan yang menyerupai kegiatan melukis ini
menggunakan sejenis rotan atau kuas sebagai alatnya. Pewarna
seperti indigosol atau remasol langsung dicoletkan di atas motif
batik utama yang sudah dibatasi oleh malam agar tidak meluber
ke bagian lain. Dengan teknik ini, sehelai batik bisa memiliki
bermacam warna, motif yang akan dicolet pun bisa dipilih.
Meskipun begitu, teknik ini bisa memakan waktu lama apabila
motif yang dicolet berjumlah banyak.

b. Teknik usap

Gambar 2.9 Batik dengan teknik usap 27

PKBM FANANA INSAN BAKSYA

Teknik yang satu ini menarik karena bisa menghasilkan
warna-warna yang bergradasi. Masih menggunakan bahan
sintetis seperti indigosol dan napthol, alat yang berupa spon
dicelupkan ke dalam larutan pewarna kemudian diusapkan ke
atas motif batik. Beberapa warna yang berbeda bisa
dicampurkan dan diusap sekaligus sehingga dibutuhkan
kreativitas tinggi untuk memadupadankannya agar didapatkan
hasil yang indah dilihat. Kelemahan dari teknik ini adalah
warnanya yang tidak terlalu melekat pada kain.

6. Tahap kelima, setelah dicelupkan, kain tersebut dijemur dan
dikeringkan

7. Tahap keenam, setelah kering, kembali melakukan proses
pembatikan yaitu dengan lilin malam menggunakan canting
untuk menutupi bagian yang akan tetap dipertahankan pada
pewarnaan yang pertama. Kemudian dilanjutkan dengan
proses pencelupan warna yang kedua proses berikutnya.

8. Tahap ketujuh dilakukan penguncian warna dengan
menggunakan water glass, supaya warna pada kain tidak
luntur.

9. Tahap kedelapan untuk menghilangkan lilin malam dari kain
tersebut dengan cara meletakan kain tersebut dengan air
panas diatas tungku, atau dengan merebusnya.

10. Tahap ke Sembilan, Setelah kain di rebus atau malam dsudah
selesai digelontorkan, kain dicuci dengan air dingin dengan
digosok perlahan dengan tangan pada kain yang masih ada
tersisa malam, jika sudah bersih malam sudah lepas semua
darikain, kain dibulas dan kain bisa dijemur.

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 28

Jika pembatik ingin memberi pewarnaan kedua, ada
beberapa hal yang harus dilakukan. Setelah kain bersih dari lilin
dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan
penutup lilin (menggunakan alat canting untuk menahan warna
pertama kedua ) Proses membuka dan menutup lilin malam dapat
dilakukan berulang kali sesuai dengan banyaknya warna dan
kompeleksitas motif yang diinginkan.

Proses terakhir semua adalah mencuci kain batik tersebut
dan menggosok perlahan dengan tangan kita bagi malam yang
masih ada dan menempel pada kain, kemudian kalua malam
sudah tidak ada yang menempel dikain, kita bisa membilas kain
tersebut dan mengeringkannya dengan cara menjemurnya,
sebelum dapat digunakan dan dipakai.

Gambar 2.10 Finalisasi dari hasil membatik

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 29

PENUGASAN 4

AYO MULAI MEMBATIK
1. Persiapkan bahan dan peralatan membatiknya!
2. Tentukan pola yang akan dibuat!
3. Buat pola pada kain menggunakan pensil!
4. Jangan lupa gunakan Teknik membuat pola sesuai dengan apa

yang telah kalian pelajari!
5. Ikuti semua Langkah – Langkah membatik sesuai dengan

arahan dari tutor pendamping!
6. Selesaikan proses membatiknya sampai selesai!
7. Coba beberapa kali untuk Teknik membatiknya!
8. Pilih salah satu hasil batik yang menurutmu paling bagus!
9. Presentasikan hasil karya terbaikmu didepan teman – temanmu!
10. Sampaikan kendala – kendala yang ada selama proses

pembuatan batik ke teman – temanmu sebagai bahan evaluasi!

Penilaian hasil
1. Pemilihan motif
2. Teknik pemberian malam
3. Kesesuaian warna
4. Hasil karya terbaik
5. Penyampaian presentasi

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 30

DAFTAR PUSTAKA

Setyaningrum, Feri. dkk. 2021. Modul Pembelajaran Batik
Tulis. Yogyakarta. Universitas Ahmad Dahlan.

Harahap, Ariefiani. 2019. Proses Pembuatan Batik Tulis.
(Online).
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/10/02/pro
ses-pembuatan-batik-tulis.

I Ware Batik. Proses Produksi Batik. 2020. (Online).
https://www.iwarebatik.org/batik-production-
process/?lang=id.

Ardhiansyah, Fikri. 2020. Cara Membuat Batik Tulis yang
Mudah untuk Dipraktikkan. (Online).
https://masfikr.com/cara-membuat-batik-tulis/.

PKBM FANANA INSAN BAKSYA 31


Click to View FlipBook Version