The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by pkk ratman, 2020-11-23 23:22:20

PEMBUATAN HIASAN BUSANA

PEMBUATAN HIASAN BUSANA

Keywords: BAHAN AJAR BUSANAN

DIKTAT
PEMBUATAN HIASAN

Bahan Ajar Kelas XII Tata Busana Semester Gasal
SMK NEGERI 1 SALATIGA
2020

ANITA PUSPITA SARI , S.Pd
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat Hidayah-Nya penulis
dapat menyelesaikan diktat ini. Bahan ajar ini disusun sebagai acuan para peserta didik
Program Keahlian Tata Busana dalam mempelajari mapel Pembuatan Hiasan. Dengan diktat
ini diharapkan dapat mempermudah peserta didik dalam menyerap materi yang dipelajarinya.

Materi yang disajikan pada diktat ini meliputi, Pengertian dan fungsi hiasan busana;
pembuatan macam tusuk dasar sulaman, Hiasan sulaman, Hiasan Payet. Semoga sajian materi
bahan ajar ini dapat membantu para peserta didik dalam menyerap materi pembelajaran dan
diharapkan siswa mampu meningkatkan ketrampilannya serta menerapkan pengetahuannya
dalam kehidupan sehari-hari baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan diktat ini. Penulis berharap semoga diktat ini
dapat memberi manfaat bagi para pembaca pada umumnya dan peserta didik kelas XII Tata
Busana SMK Negeri 1 Salatiga pada khususnya. Penulis menyadari bahwa diktat ini masih
jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun.

Salatiga, 2020
Penyusun

2

DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Halaman Pengesahan ii
Surat Keterangan iii
Kata Pengantar iv
Daftar Isi v

BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1
BAB II Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ....................................... 1
Tujuan ................................................................................................. 2
BAB III. PEMBELAJARAN
PEMBELJARAN 1.MACAM-MACAM TUSUK DASAR SULAMAN 3
............................................................................... ..........
Tujuan ................................................................................................. 3
Uraian Materi ....................................................................................... 3
PEMBELAJARAN 2. HIASAN SULAMAN..................................... 24
Tujuan .................................................................................................. 24
Uraian Materi ....................................................................................... 24
PEMBELAJARAN 3 . HIASAN PAYET........................................... 35
Tujuan .................................................................................................... 35
Uraian Materi ......................................................................................... 35
SOAL LATIHAN
Soal Pilihan Ganda .............................................................................. 43
Daftar Pustaka ..................................................................................... 48

3

BAB I
PENDAHULUAN

A. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR

KI 1) Menghayati dan mengamalkan 1.1 Menghayatinilai-nilaiajaran agama

ajaran agama yang dianutnya dankepercayaandalamkehidupanbermasya

rakatsebagaiamanatuntukkemaslahatanum

atmanusia

KI 2) Menghayati dan mengamalkan 2.1. Mengamalkansikapcermat,

perilaku jujur, disiplin, tanggung jujur,telitidantanggungjawabdalamaktivita

jawab, peduli, (gotong royong, ssehari-

kerjasama, toleran, damai), santun, harisebagaiwujudimplementasisikapdala

responsif dan proaktif, dan mmelakukanpekerjaan

menunjukkan sikap sebagai bagian 2.2

dari solusi atas berbagai Menghayatipentingnyakerjasamadantole

permasalahan dalam berinteraksi ransidalamhidupbermasyarakat

secara efektif dengan lingkungan 2.3.

sosial dan alam serta dalam Mengamalkannilaidanbudayademokrasi

menempatkan diri sebagai cerminan denganmengutamakanprinsipmusyawara

bangsa dalam pergaulan dunia hmufakat

2.4. Menghargai kerja individu dan

kelompok dalampembelajaran sehari-

hari

KI 3) Memahami, menerapkan , 3.1 Mendeskripsikan macam macam tusuk

menganalisis dan dasar hiasan

mengevaluasi pengetahuan 3.3 Mendeskripsikan sulaman pada busana

factual, konseptual, dan 3.3 Mendeskripsikan hiasan payet pada

procedural dan mata kognitif busana

dalam ilmu pengetahuan,

teknologi, seni, budaya, dan

humaniora dalam wawasan

kemanusiaan, kebangsaan,

kenegaraan, dan peradaban

terkait penyebab phenomena

dan kejadian dalam bidang

kerja yang spesifik untuk

memecahkan masalah

4

KI 4) Mengolah, menyaji, menalar, dan 4.1 Membuat macam macam tusuk dasar
mencipta dalam ranah konkret dan sulaman
ranah abstrak terkait dengan 4.3 Membuat hiasan sulaman pada busana
pengembangan dari yang 4.4 Membuat hiasan payet pada busana
dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu melaksanakan
tugas spesifik di bawah pengawasan
langsung

B. Tujuan
Materi yang disajikan pada diktat ini meliputi, Pengertian dan fungsi hiasan busana;
pembuatan macam tusuk dasar sulaman, Hiasan sulaman, Hiasan Payet. Tujuan sajian
materi bahan ajar ini adalah dapat membantu para peserta didik dalam menyerap materi
pembelajaran dan diharapkan siswa mampu meningkatkan ketrampilannya serta
menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari baik untuk diri sendiri maupun
untuk orang lain

5

BAB II
ISI PEMBELAJARAN

PEMBELAJARAN 1. MACAM-MACAM TUSUK DASAR SULAMAN
A. TUJUAN

1. Peserta didik dapat mendefinisikan Pengertian hiasan
2. Peserta didik dapat mengidentifikasi fungsi hiasan
3. Peserta didik mendeskripsikan macam-macam tusuk hias
4. Peserta didik dapat menyiapkan alat dan bahan dengan lengkap dan benar
5. Peserta didik dapat membuat macam-macam tusuk hias dasar dengan benar dan rapi
B. URAIAN MATERI
Menghias dalam Bahasa Inggris berasal dari kata “to decorate” yang berarti menghias atau
memperindah. Dalam busana menghias berarti menghias atau memperindah segala
sesuatu yang dipakai oleh manusia baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keperluan
rumah tangga.

DESAIN HIASAN BUSANA
Desain hiasan merupakan desain yang dibuat untuk meningkatkan mutu dari desain
struktur suatu benda. Desain hiasan ini terbentuk dari susunan berbagai unsur seperti
garis, arah, bentuk, ukuran, tekstur, value dan warna.

Tujuan Desain Hiasan
Desain hiasan mempunyai tujuan untuk menambah keindahan desain struktur
tau siluet. Desain hiasan dapat berupa ragam hias, sulaman, garnitur, dan
lain-lain.
Agar hiasan yang digunakan sesuai dan dapat memperindah bidang yang dihias maka perlu
diperhatikan beberapa hal yaitu :
a. Hiasan yang digunakan hendaklah tidak berlebihan
b. Hiasan yang digunakan disesuaikan dengan desain struktur benda yang dihias
c. Penempatan desain hiasan disesuaikan dengan luasnya background dari benda yang

dihias.
Macam-macam Desain Hiasan
Desain dekorasi atau desain hiasan (Decoration Design) ada bermacam-macam yaitu:
1. Desain hiasan pada tenunan rapat:

6

1.1. Desain hiasan dengan teknik macam-macam tusuk hias:
a)Desain hiasan teknik sulaman fantasi atau sulaman bebas.
b)Desain hiasan teknik sulaman aplikasi.

1.2. Desain hiasan untuk sulaman putih:
a) Sulaman Inggris.
b)Sulaman Perancis.
c)Sulaman Richelieau.
d)Sulaman bayangan.
e)Sulaman Matelase

1.3. Desain hiasan untuk teknik melekatkan.
a)Benang.
b)Bis ban.
c)Biku-biku.
d)Pita.
e)Renda.
f)Payet/mote.

2. Desain hiasan pada tenunan bagi
2.1. Desain hiasan untuk teknik tusuk silang (Kruisteek).
2.2. Desain hiasan Sulaman Holbein.
Desain hiasan Mengubah corak.
Desain hiasan Smock.
Desain hiasan Terawang.
Desain hiasan teknik sulaman inkrustasi.

Pola Hiasan Pada Busana
Pola hiasan sering disebut juga motif hiasan yaitu suatu gambar yang berupa susunan garis
sesuai dengan pola konstruksi busana sebagai proses awal dalam pengerjaan suatu hiasan pada
busana. Ada 3 cara yang dapat dilakukan untuk membuat suatu pola hiasan yang meliputi :
1. Meniru bentuk aslinya

Cara ini banyak digunakan oleh pelukis dalam membuat karyanya. Berkaitan dengan
membuat pola desain hiasan, cara ini merupakan cara yang praktis sehingga hasilnya
sesuai dengan bentuk asli (sesungguhnya).
2. Menstilasi
Menstilasi adalah suatu cara membuat pola hiasan dengan cara mengambil unsur dari
bentuk asli yang digunakan sebagai obyek menjadi bentuk hiasan dekoratif.

7

3. Merengga
Merengga adalah suatu cara membuat pola hiasan dengan cara mengambil unsur dari
suatu obyek (benda) yang selanjutnya kita tambah dengan unsur-unsur lain sesuai yang
kita kehendaki yang hasilnya berupa bentuk baru

Alat dan bahan
1. Alat yang digunakan untuk menghias kain adalah:

Gambar alat-alat menghias kain

Keterangan gambar1: 7

1. Rader

2. gunting kecil

3. Gunting besar

4. Benang sulam

5. Jarum tangan dengan berbagai ukuran

6. Karbon jahit/racing paper

7. Bantal jarum dan jarum pentul

8. Kapur jahit

9. Pendedel

10. Meteran

11. Tudung jari/bidal

12. Pemidangan

Macam-macam jarum tangan untuk menyulam

1. Jarum runcing

Jarum runcing biasa diguankan untuk menyulam secara bebas pada tenunan polos

seperti batis, oxpord, tetoron dan lain-lain. Ciri-cirinya yaitu sangat tajam, memiliki

8

ujung yang runcing dan mempunyai ukuran dengan nomor 10, 12, 14, 16, 18, 20,
22 dan 24.

Gambar macam-macam jarum runcing
2. Jarum tumpul

Jarum tumpul dikelompokkan menjadi dua yaitu jarum tumpul dengan nomor 12,
14, 16, 18, 20, yang biasa digunakan untuk menyulam dengan hitungan tertentu
terutama untuk membuat tusuk hias pada kain strimin.

Gambar macam-macam jarum tumpul
3. Jarum tumpul yang berukuran besar dan tidak bernomor, digunakan hanya untuk

pekerjaan menusuk.

Gambar macam-macam jarum tumpul
Benang Sulam
Menyulam adalah istilah menjahit yang berarti menjahitkan benang seara dekoratif, untuk
itu diperlukan benang hias yang sesuai dengan jenis kain yang akan dihias serta jenis
sulaman yang dibuat, begitu juga ukuran dan warnanya. Untuk sulaman tangan digunakan
benang sulam mouline atau benang mutiara. Untuk bahan halus dan tipis dapat digunakan
benang mouline, sedangkan untuk bahan ang lebih tebal dengan pori-pori besar, digunakan

9

benang mutiara. Untuk benang yang jarang tenunannya seperti kasah, dapat digunakan
benang woll atau cashmilon. Pada sampul pembungkus kertas benang dicantumkan merk,
panjang benang, nomor dan ukuran serta warnanya. Maka untuk mempermudah
pembelian benang berikutnya, label kertas itu perlu kita simpan baik-baik.

Gambar macam-macam benang sulam
Benang sulam pada umumnya dalam bentuk gulungan atau digulung. Untuk membukanya
dapat dilakukan dengan dua cara, seperti pada gambar 2.6.

12

Gambar cara membuka benang dari untaian benang sulam
1. Bahan yang digunakan untuk menghias kain

Pembagian berdasarkan penggunaan jenis kain yang digunakan :
1. Teknik menghias kain dengan menggunakan kain rapat (tenunan rapat) atau

tenunan yang tidak dapat dibagi. Misalnya : sulaman fantasi, sulaman inkrustasi,
sulaman Inggris, sulaman Richelieu dan sulaman bayangan.
2. Teknik menghias kain dengan menggunakan kain bagi :

a) Kain bagi polos
Kain bagi adalah kain yang tenunan benangnya mudah dihitung. Kain bagi
polos alur benangnya tampak jelas dan mudah dibagi. Umumnya jenis desain
dekorasi untuk sulaman pada kain bagi berupa desain geometris. Misalnya
kain strimin, matting.
10

b) Kain bagi bercorak
Kain bagi bercorak adalah kain yang tenunannya rapat dengan corak bergaris,
berkotak-kotak atau berbintik-bintik. Ukuran sisi kotak antara tiga millimeter
sampai tiga perempat sentimeter. Jika ukuran yang lebih besar dari yang
telah disebutkan akan mempersulit membuat disain dan hasilnya kurang
indah. Pada kain bagi bercorak bintik-bintik disain dekorasi tidak terbatas
pada disain geometris saja, tetapi juga dapat ditambahkan desain lengkung
dan desain flora atau fauna.

Dapat dikatakan bahwa semua jenis kain (bahan tekstil) dapat dihias. Jenis
sulaman yang digunakan, tergantung dari jenis tenunan dan corak kain, misalnya :
a) Belacu, popelin, berkolin dan jenis tenuann yang rapat tenunnya, sulaman

fantasi (sulaman bebas), aplikasi.
b) Bahan serupa dengan corak kotak atau bintik dapat diubah dengan macam-

macam tusuk hias (merubah corak) contohnya aplikasi, smock dan lain-lain
dan tusuk-tusuk hias (merobah corak)
c) Bahan yang dapat dihitung benangnya seperti strimin dan matting, yaitu
terawang, tusuk silang dan holbein.
d) Bahan yang tipis dan bening yaitu sulaman bayangan, inkrustasi, lekapan
renda, mute dan lain-lain.
e) Bahan lemas berkilau seperti satin yaitu dengan sulaman bebas, lekapan quilt
dan lain-lain.

Polkadot kecil Berkotak

Strimin Strimin Lubang Besar

11

Bahan Tipis Bahan Lemas Berkilau

Poplin Blacu

Gambar Aneka macam contoh kain
Untuk menghiasi busana dapat dilakukan dengan bermacam-macam teknik hiasan. Teknik
hiasan yang dimaksud adalah teknik menghias kain yang erat hubungannya dengan sulam
menyulam. Sebelum memahami macam-macam teknik teknik menghias kain sebaiknya
terlebih dahulu mempelajari macam-macam tusuk hias, karena tusuk hias merupakan dasar
dari menghias kain. Tiap-tiap tusuk hias mempunyai keindahan masing-masing.
Penyusunan bermacam tusuk hias yang harmonis akan melahirkan suatu dekoratif yang
menarik. Berikut ini dikemukakan beberapa tusuk hias yang sering digunakan dalam
menghias kain, diantaranya:
1. Tusuk Jelujur

Tusuk hias ini paling sederhana, akan
tetapi sangat bernilai juga berguna
untuk jahitan sementara. Arahnya
dari kanan ke kiri.

Gambar tusuk jelujur
2. Tusuk Jelujur yang dililit

12

Gambar tusuk jelujur yang dililit
Dalam hal ini kita dapat membuat variasi dengan cara menggunakan dua macam
benang yang berlainan tebal ataupun warnannya.
3. Tusuk Jelujur Berganda atau Tusuk Holbein

Gambar tusuk jelujur berganda/holbein
Tusuk Holbein ini harus dikerjakan pada kain bagi yang mudah dihitung benang
pakannya maupun lungsinnya. Setiap baris tusuk Holbein harus dikerjakan dua
kali/bolak balik.
4. Tusuk Hias Holbein yang Dililit

Gambar tusuk holbein yang dililit
Mula-mula membuat satu baris tusuk hias Holbein yang berbiku-biku, kemudian tusuk
hias tersebut dililitkan dengan benang lain.
5. Tusuk Hias Rantai

Gambar tusuk rantai
Tusuk rantai ini merupakan garis yang teratur dan rata sedangkan pengerjaannya harus
agak longgar, lebih-lebih jika dikerjakan sebagai garis lengkung.
6. Tusuk Rantai Berwarna

13

Gambar tusuk rantai berwarna
Dalam hal ini kita menggunakan dua warna benang yang kedua-duanya dimasukan
kedalam satu lubang jarum, dan dipergunakan saling berganti membuat tusuk rantai. Bila
kita tidak hati-hati dalam mengerjakannya, benang yang sedang tidak dikerjakan dapat
lepas kebagian belakang kain dasar.
7. Tusuk Rantai Lebar atau Persegi

Gambar tusuk rantai lebar/persegi
Tusuk hias ini bila tidak dihias tampaknya kurang bagus dan kurang halus, kecuali jika
dihiasi lagi dengan tusuk hias lainnya.
8. Tusuk Rantai Berganda

Gambar tusuk rantai berganda
Tampaknya hampir seperti tusuk tangkai yang tertutup, akan tetapi dalam hal ini jarum
setiap kali ditusukan kedalam sengkelit sebanyak dua kali. Sedangkan pada tusuk
tangkai biasanya hanya satu kali.
9. Tusuk Rantai Lepas

14

Gambar tusuk rantai lepas
Tusuk hias ini dibuat sendiri-sendiri tidak sambung menyambung. Dapat dipergunakan
sebagai tusuk hias pengisi bidang ragam hias.
10. Tusuk Rantai Terbuka

Gambar tusuk rantai terbuka
Tusuk hias ini banyak dipakai dan dapat dipergunakan menurut keperluannya. Dapat
dikombinsasikan dengan tusuk hias lainnya, untuk membuat pinggiran dan sebagai
pengisi bidang yang merupakan pola ragam hias beranting.
11. Kombinasi /gabungan
Tusuk Rantai dengan Tusuk Jelujur

Gambar Kombinasi tusuk rantai dengan tusuk tikam jejak
Mula-mula kita mengerjakan tusuk rantai, kemudian tusuk jelujur yang dikerjakan di
tengah tusuk rantai tersebut. Disini kita dapat mempergunakan dua warna benang.
12. Tusuk Pipih

15

Gambar tusuk pipih
Mula-mula kita membuat tusuk pipih berdiri, arahnya dari kanan ke kiri, kemudian satu
sama lain disambungkan dengan tusuk pipih serong, dikerjakan pada waktu mulai lagi
membuat dari kiri ke arah kanan.
13. Tusuk Pipih yang di Ikat

Gambar tusuk pipih di ikat
Mula-mula kita membuat sebaris tusuk pipih dengan jarak antara satu sama lain sama
begitu pula tingginya. Kemudian setiap dua tusuk pipih diikat dengan cara menyisipkan
benang lain kebawah tusuk pipih yang pertama, benang kerja mempersatukan tusuk pipih
kesatu dan kedua dengan cara menyisipkan benang kebawah tusuk pipih yang kedua.
Benang kerja ini seterusnya disisipkan kebawah tusuk pipih berikutnya dan ulangi cara
mengikat dua tusuk pipih itu seperti yang pertama kali tanpa menyangkut kain dasar.
14. Tusuk Cordon

Gambar tusuk cordon
Tusuk pipih yang rapat ini digunakan untuk mengisi garis yang sebelumnya ditandai
dengan tusuk tikam jejak. Gambar A menunjukkan cara menutup garis tikam jejak
dengan cara menyangkut sedikit dari kain dasarnya. Gambar B menunjukkan cara
menutup garis tusuk jelujur pada tepi bahan yang bertiras, umpamanya pada teknik
aplikasi atau teknik lekapan.

16

15. Tusuk Pipih Berderet

Gambar tusuk pipih berderet
Setiap deretan tusuk pipih berikutnya dikerjakan diantara deretan tusuk pipih, sehingga
nampak saling mengisi. Tusuk pipih semacam ini sangat baik sebagai pengisi bidang
bentuk kecil-kecil, dan kita juga dapat mengatur warnanya secara bertingkat atau seperti
pelangi dari warna tua sampai muda.
16. Tusuk Feston
Tusuk hias feston ini memungkinkan banyak variasi yang sangat dikenal antara lain :
 Tusuk Feston biasa atau tusuk selimut

Gambar tusuk feston biasa
 Tusuk Feston bersilang

Gambar tusuk feston bersilang
 Tusuk Feston tertutup atau bentuknya segitiga

Gambar tusuk feston tertutup dan bentuk segitiga
 Tusuk Feston berkelompok yang diikat

17

Gambar tusuk feston tertutup dan bentuk segitiga
 Tusuk Feston kaki dua dan tusuk feston berganda

Gambar tusuk feston berganda dan kaki dua
 Tusuk Feston berkelompok dengan antara

Gambar tusuk feston berkelompok dengan antara
 Tusuk Feston naik turun

Gambar tusuk feston naik turun
17. Tusuk Feston dengan Sisipan

Gambar tusuk feston dengan sisipan
Dengan berbagai macam cara kita dapat menyisipi tusuk feston seperti dengan cara
mengepang, untuk itu kita dapat menggunakan benang yang bermacam-macam tebalnya.
18. Tusuk Feston dengan Buhulan

18

Gambar tusuk feston dengan buhulan
Dengan cara membuat sengkelit yang melingkari ibu jari, dengan mudah kita dapat
membuat buhulan pada ujung kaki tusuk feston.
19. Tusuk Feston yang dililit

Gambar tusuk feston yang dililit
Kalau kita melilit tusuk feston itu dari kiri ke arah kanan, akan memberi kesan lain
daripada kalau kita melilit dari kanan kekiri.
20. Tusuk Feston sebagai Pengisi

Gambar tusuk feston sebagai pengisi
Tusuk hias ini sebagian besar merupakan pengisi bidang yang letaknya bebas, dikerjakan
setiap baris dengan cara dibolak-balik. Pada baris pertama setiap tusuk feston
menyangkut sedikit kain dasar, pada baris-baris berikutnya hanya pada permulaan dan
pada ujungnya atau akhir saja.
21. Tusuk Flanel

19

Gambar tusuk flanel
Tusuk hias yang terkenal ini merupakan dasar untuk berbagai macam sisipan dan variasi
menjalin.
Tusuk Flanel Berganda

Gambar tusuk flanel berganda
Kita membuat dua baris tusuk flanel dengan mempergunakan warna yang berlainan,
hingga kedua baris tusuk flanel itu saling menumpang, hal ini dapat dibuat dengan dua
cara, yaitu :
a) Sebagai dasar untuk tusuk hiasan jalin secara Timur, pada silang bagian atas

benangnya sisipkan dibawah flanel pertama, kebalikannya dengan tusuk silang biasa
b) Pada gambar B, perlu diperhatikan bahwa benang-benang itu selalu menurut cara

yang sama yaitu saling menyilang (A). Kedua baris itu dibuat seperti tusuk flanel
biasa (B).
22. Tusuk Flanel dengan Sisipan Tunggal

Gambar tusuk flanel dengan sisipan tunggal
Mula-mula kita membuat satu baris tusuk flanel. Kemudian kita sisipi dengan benang
berwarna lain tanpa menyangkut kain dasar. Kita harus menghindari adanya sambungan
pada benang sisipan itu, jadi benang ini harus panjang sekali dan baris tusuk flanel ini
jangan terlalu besar.
23. Tusuk Flanel dengan Sisipan Berganda

20

Gambar tusuk flanel dengan sisipan berganda
Mula-mula kita membuat tusuk flanel berganda sebagai dasar yang saling menumpang.
Kemudian bagian atas disisipi benang lain dahulu, baru sesudah itu menyisipi bagian
bawahnya tanpa menyangkut kain dasar, terkecuali pada permulaan bekerja atau pada
akhir pekerjaan.
24. Tusuk Flanel yang dililit

Gambar tusuk flanel yang dililit
Pada gambar kita lihat tusuk flanel ini tidak seperti biasanya yang kita kerjakan, agak
berbeda yakni tusuk lilit yang kedua kali itu tidak menumpang pada tusuk lilit yang
pertama, melainkan letaknya dibawah yang pertama.
25. Tusuk Flanel Tertutup/Yanina

Gambar tusuk flanel tertutup/Yanina
Tusuk hias ini cepat dibuatnya dan merupakan dua garis tertutup. Jika dipakai untuk
sulaman bayangan tusuk hias ini dikerjakan pada bagian buruk dari kain dasar. Pada
bagian yang baiknya terdapat dua baris tikam jejak (karena itulah mendapat nama tusuk
hias bayangan). Pada teknik perzisch ayour dikerjakan pada bagian buruk juga, sehingga

21

dapat menutup bidang ragam hiasanya sedangkan pada bagian yang baik merupakan
suatu relief (lihatlah halaman 48 contoh tusuk hias bayangan).
26. Tusuk Flanel dilekat dengan Tusuk Koral

Gambar tusuk flanel yang dilekat dengan tusuk koral
Setelah membuat satu baris tusuk flanel biasa, kita bekerja dengan benang lain melekat
pada setiap persilangan tusuk flanel dengan tusuk rantai yang diputar (inilah yang disebut
tusuk koral).
27. Tusuk Flanel dilekat dengan Tusuk Jelujur

Gambar tusuk flanel yang dilekat dengan tusuk jelujur
Dalam hal ini tusuk jelujur melintang dipergunakan untuk menekat. Tusuk flanel dapat
juga ditekat dengan tusuk jelujur tegak lurus atau tusuk rantai pada setiap persilangan.
28. Tusuk Tangkai

Gambar tusuk tangkai
Pada tusuk tangkai biasanya benang kerja itu letaknya dibawah jarum (lihat gambar).
Dapat juga benang kerja itu selalu ada diatas jarum dan tusuk hiasnya disebut juga tusuk
pinggiran (sebagai batas). Dalam hal ini kedua jarum tersebut ditusukan dan dikeluarkan
tepat pada ujung tusuk hias yang sebelumnya. Pada bagian buruk kita harus memperoleh
suatu baris tusuk tikam jejak yang rapi.
29. Tusuk Tangkai Melompat

22

Gambar tusuk tangkai melompat
Benang kerja secara bergilir letaknya diatas atau dibawah.

30. Tusuk Tikam Jejak

Gambar tusuk tikam jejak
Tusuk ini harus dikerjakan secara teratur dan jaraknya kecil-kecil. Tusuk tikam jejak
diperguakan untuk mengisi garis-garis tipis dan merupakan dasar untuk berbagai macam
tusuk hias lainnya seperti tusuk hias manik-manik, tusuk pekinees atau tusuk tikam jejak
yang dikepang dan tusuk tikam jejak berganda yang disisipi tusuk flanel.
31. Tusuk Tikam Jejak Serong

Gambar tusuk tikam jejak serong
Tusuk tikam jejak yang terlihat pada bagian atas nampaknya serong dan berpasangan.
Letaknya tegak lurus dan pada bagian belakang/buruk terjadi dua tusuk jahit mendatar
(samakan dengan tusuk kantil atau runcing panah.
32. Tusuk Tikam Jejak dengan Sisipan Bersilang

Gambar tusuk tikam jejak dengan sisipan bersilang

23

Bilamana kita menghendaki hasil pekerjaan itu pada kedua belah kain sama, kita dapat
menganti tusuk tikam jejak dengan tusuk hias holbein, tusuk hias ini pada kedua belah
kain bagian atas dan bawah disisipi benang. Saran yang baik janganlah membuat ban
yang terlalu lebar nanti benang sisipannya terlalu panjang karena tidak bisa disambung.
33. Tusuk Ranting

Gambar tusuk ranting
Tusuk ranting mempunyai efek satu arah yang seolah-olah tumbuh. Tusuk hias ini harus
dikerjakan dengan teliti. Ada berbagai macam variasi dari tusuk ranting ini. Di Belanda
tusuk hias ini sangat dikenal.
34. Tusuk Ranting Tulang Daun

Bagian dalam sengkelit berbentuk V
dibuat pendek dan tegak lurus, yang
keluar panjang dan serong.

Gambar tusuk ranting tulang daun
35. Tusuk Ranting Lurus

Bagian dalam sengkelit berbentuk V
serong, bagian yang luar menajdi
tegak lurus dan lebih panjang atau
lebih pendek.

Gambar tusuk ranting lurus
36. Tusuk Ranting Rantai

24

Gambar tusuk ranting rantai
Tusuk hias ini biasanya dibuat sedemikian rupa, agar tusuk rantai itu pada bagian luar
sama panjang seperti tusuk serong dibagian tengah. Dapat juga dibuat biku-biku pada
bagian tengah harus teratur dan timbul dengan baik.
37. Tusuk Silang (kruisteek)

Gambar tusuk silang
Tusuk hias ini dikerjakan silang menyilang menurut dua arah yang serong. Hendaknya
dikerjakan pada kain bagi, yaitu kain yang benang tenunannya mudah dihitung seperti
bahan strimin, matting, lenan kasar dengan silang polos. Karena tusuk silang ini bentuk
dasarnya segi empat maka dalam mengerjakannya melebar maupun memanjang harus
sama-sama simetris. Syarat utama pekerjaan tusuk silang ini adalah tusuk silang yang
kedua kalinya diatas yang pertama, harus sama arahnya, agar hasil seluruh pekerjaan itu
rapi nampaknya. Tusuk silang dapat dikombinasikan dengan teknik lainnya yang khusus
dikerjakan pada kain bagi seperti tusuk holbein, tusuk perzis ayour dan tapisseri.
38. Melekatkan Benang

Gambar melekatkan benang
Sehelai benang tebal ataupun seikat benang tipis dilekatkan pada kain dasar dengan
tusuk hias kecil-kecil. Untuk ini kita dapat memakai benang yang lebih tipis. Sehelai

25

atau dua helai dengan warnanya yang sama atau kontras/bertentangan dengan benang
tebal tersebut diatas. Untuk melekatkan benang tebal tadi kita mempergunakan tusuk
hias yang tidak terlalu mencolok, umpamanya tusuk pipih kecil-kecil atau tusuk hias
lainnya yang merupakan bentuk V, tusuk rantai terbuka, yang mempunyai fungsi
menghiasi benang tebal. [melekatkan benang tebal dengan tusuk pipih yang rapat (B)].
Dalam hal ini seikat benang tipis-tipis dilekatkan pada kain dasar sedemikian rupa
hingga tidak kelihatan lagi. Untuk ini kita pakai benang tipis untuk membuat pipih kecil
rapat-rapat, setiap kali sedikit dari kain dasar tersangkut

26

PEMBELAJARAN 2. HIASAN SULAMAN

A. TUJUAN
1. Peserta didik dapat mendefinisikan sulaman Putih dan berwarna.
2. Peserta didik dapat mengidentifikasi ciri-ciri macam-macam sulaman putih dan
Sulamn berwarna
3. Peserta didik dapat membuat Sulaman Putih (Sulaman Bayangan)
4. Peserta didik dapat membuat Sulaman Berwarna ( Melekatkan Benang)

B. URAIAN MATERI
Menghias dengan menyulam sudah digemari dan dilakukan orang sejak ribuan tahun yang
lalu dan hingga saat ini berkembang menjadi barang komoditi yang trend di masyarakat.
Menyulam digunakan untuk menghias pakaian, lenan rumah tangga maupun benda lain
yang dibuat dari bahan tekstil seperti tas, selop (sejenis alas kaki ber-hak) dan lain-lain.
Sebutan untuk beberapa jenis sulaman masih menggunakan nama asing atau sebutan
negara dimana sulaman tersebut lebih dahulu dipraktekan, seperti : sulaman Perancis,
Inggris, Richelieu, Holbei dan Quilt. Pada mulanya, sulaman Perancis, Inggris dan
Richelieu hanya dikerjakan pada kain lenan atau katun putih dengan menggunakan benang
berwarna putih. Oleh karena itu disebut sulaman putih, akan tetapi pada masa kini hal
tersebut tidak berlaku lagi, sulaman tersebut dapat dibuat pada kain berwarna warni
dengan benang yang berwarna warni pula sehingga banyak disukai orang dan pekerjaan
menyulam pun berkembang menjadi industri.Teknik menghias kain yang didasarkan atas
penggunaan warna kain dan benang hiasnya dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu :

1. Sulaman Putih
Sulaman putih dikerjakan pada kain polos dengan benang hias sewarna, lebih tua atau
lebih muda. Pada zaman dahulu sulaman putih dikerjakan pada tenunan yang putih
dengan benang hias putih. Keindahan dari sulaman ini terletak pada serat timbul dan
berlubang dari ragam hias. Yang termasuk dalam kelompok sulaman putih adalah
sulaman Perancis, Richelieu dan sulaman bayangan.
a) Sulaman Inggris

Gambar 2.54 sulaman Inggris
Sulaman Inggris dikenal pada bentuk motif hias yang terdiri dari lubang-
lubang bundar, lonjong atau berbentuk tetes air yang diselesaikan dengan
tusuk feston atau tusuk cordon, dirangkai dengan tusuk pipih dan tusuk
tangkai. Tepi sulaman diberi pinggiran yang berbentuk lengkungan yang
disebut bentuk ringgitan. Untuk membuat lubang, digunakan alat pelubang
yang disebut priem. Untuk membuat lubang yang besar dan bentuk yang

27

lonjong, keliling lubang dijelujur dua kali kemudian lubang dibuat dengan
menggunakan gunting kecil.
Teknik sulaman Inggris dikerjakan pada kain polos misalnya tetoron, oxpord,
berkolin, poplin, mori dan lain-lain. Benang yang digunakan benang katun
sewarna dengan kain, atau boleh berbeda, hanya tingkatan warnanya saja
misalnya hijau dengan hijau muda. Benda yang dapat dihias yaitu blus, kerah,
saku, alas vas, serbet, saputangan dan sebagainya.

b) Sulaman Perancis

Gambar sulaman Perancis

Sulaman Perancis merupakan sulaman yang timbul (relief) karena motif-
motif diisi dengan tusuk rantai sebagai pengisi atau penebal. Tepi motif
dijelujur halus dua kali penyelesaian motif dengan tusuk pipih. Untuk
membuat garis yang merupakan tangkai daun digunakan tusuk jelujur yang
diselesaikan dengan tusuk balut. Sulaman ini banyak dipergunakan untuk
monogrem ataupun simbol-simbol, selain itu juga dapat diterapkan pada blus,
kemeja maupun pakaian anak-anak.

c) Sulaman Richeulieu

Gambar sulaman Richeulieu

28

Gambar contoh hasil produk sulaman Richeulieu
Sulaman ini disebut juga dengan sulaman terbuka karena efeknya terbuka
(seperti renda). Motif dari sulaman ini berlubang-lubang. Lubang tersebut
diberi beberapa rentangan benang yang difeston (brides). Dengan demikian
lubang- lubang pada sulaman Richeulieu harus lebar (lebih besar dari pada
sulaman inggris). Diluar lubang masih ada garis motif yang mengelilinginya
yang harus diselesaikan dengan tusuk feston yang kaki festonnya menghadap
kedalam sedangkan bagian lubang kakinya menghadap keluar. Sulaman
Richeulieu ini dapat digunakan untuk menghiasi berbagai macam pakaian
atau lenan rumah tangga. Kain yang dihias haruslah rapat tenunannya dan
polos.
d) Sulaman Bayangan

Gambar sulaman Bayangan
Sulaman ini dikenal pada hiasan yang membayang dari bagian dalam. Untuk
mengisi bentuk hias digunakan tusuk flanel. Menyulamnya muai dari bagian
dalam sehingga pada bagian luar bentuk itu hanya membayang dengan tepi
garis berupa tusuk tikam jejak. Sulaman ini dikerjakan pada kain yang tembus
terang seperti voile, paris, ciffon dan sebagainya. Benda-benda yang dapat
dihiasi dengan teknik ini antara lain blus, kebaya, alas kaki, kerudung,
selendang, rok anak dan sebagainya.
e) Sulaman Matelase

29

Gambar sulaman Matelase

Sulaman matelase termasuk sulaman putih, karena menggunakan benang yang
sama/senada dengan warna kain. Motif hias sulaman matelase dapat berbentuk
renggaan bunga, binatang dll. Sebaiknya dalam pemilihan motif tidak
menggunakan motif yang terlalu besar/lebar. Motif hias sulaman matelase akan
membentuk relief dari bahan pengisi yaitu kapas, dacron atau busa tipis yang
diberi jahitan pada tepi motif. Kain yang digunakan dipilih yang mempunyai
tenunan rapat, bermotif ataupun polos. Sulaman matelase dapat diterapkan
pada lenan rumah tangga ataupun hiasan busana.

f) Sulaman Inkrustasi

Gambar sulaman Inkrustasi

Menghias kain dengan cara inkrustasi adalah melekatkan bahan pada bahan
yang lain, pada tempat lekapan itu bahan dasar dihilangkan. Bila pada aplikasi
bahan pelekap diletakan diatas, maka pada inkrustasi bahan pelekap diletakan
dibawah.
2. Teknik Menghias Kain Sulaman Berwarna

Sulaman yang menggunakan bahan dasar (kain yang akan dihias) maupun benang
hiasnya bervariasi yang dikombinasikan secara harmonis. Kain yang dapat
dihiasnyapun bermacam-macam, seperti kain polos, kain bagi, kain berkotak,
berbintik dan sebagainya, dan teknik hiasannya dapat menyesuaikan dengan kain
tersebut. Adapun sulaman berwarna meliputi :
a) Sulaman fantasi

Gambar sulaman Fantasi

30

Sulaman fantasi adalah sulaman yang menerapkan bermacam-macam tusuk
hias dengan aneka warna benang. Motif hias yang akan dibuat dikerjakan
dengan bermacam-macam tusuk hias paling sedikit tiga macam tusuk hias.
Pemakaian tusuk hias harus sesuai dengan bentuk ragam hias. Motif hias
dapat berbentuk bunga, pemandangan atau geometris.
Biasanya sulaman fantasi ini dikerjakan pada kain polos misalnya : kain
tetoron, poplin, nerkolin, mori, harmonis dan kontras, sehingga sulaman atau
hiasan terlihat lebih menonjol, menarik dan rapih.
b) Merubah corak

Gambar merubah corak
Menyulam dengan merubah corak dikerjakan pada kain yang bercorak
seperti bergaris, berkotak, berbintik. Tusuk-tusuk yang dapat digunakan
adalah tusuk jelujur, tusuk silang, tusuk rantai terbuka, tusuk biku dan lain-
lain. Pada jarak tertentu sesuai desain, kotak, garis atau bulatan diubah atau
ditambah dengan jahitan sehingga terdapat variasi dan hiasan pada kain
tersebut. Gunakan warna benang yang sama dengan warna corak kain.
Mengubah corak dapat diterapkan pada gaun, blus, rok, bantal kursi, taplak
dan lain-lain.
c) Smock

Gambar smock

31

Gambar contoh hasil produk smock
Teknik menghias yang disebut dengan smock dikenal pada sulaman diatas
kain yang dikerut rata. Sulaman tersebut dapat dikerjakan pada kain yang
dapat dibagi, yaitu kain bersalur, bergaris, berkotak atau berbintik. Bila
smock itu dikerjakan pada kain polos, maka pada kain tersebut harus diberi
tanda-tnda titik atau garis. Pekerjaan smock sifatnya elastis, kecuali pada
bagian tertentu yang dikehendaki tidak elastis. Benda yang dapat di smock
yaitu gaun, blus, rok, bebe anak, bantal hias dan lain-lain.
d) Terawang (openhadiwerk)

Gambar pinggiran terawang
Dengan menarik satu helai benang atau lebih dari tenunan, maka akan
terdapat benang lepas. Bila yang dicabut benang lungsin maka akan terdapat
sejajaran benang pakan yang lepas. Bila dicabut baik lungsin maupun pakan,
maka akan terdapat lubang pada titik persilangan benang yang dicabut.
Benang lepas tersebut diikat dengan tusuk terawang sehingga terdapat hiasan
terawang.
e) Tusuk silang (Kruissteek)

32

Gambar Kruissteek
Teknik tusuk silang dikenal pada sulaman dengan cara mengisi kotak
tenunan dengan tusuk silang. Sulaman tusuk silang harus dikerjakan pada
kain yang jelas tenunannya, dimana tenunan itu membentuk kotak-kotak
kecil seperti pada kain strimin.
f) Sulaman Holbein

Gambar sulaman holbein
Holbein dikenal dikenal pada sulaman yang menggunakan tusuk jelujur/lurus
membentuk segi-segi dan biku-biku. Bentuk tersebut diperoleh dengan dua
kali jalan. Teknik ini dikerjakan pada kain yang dapat dihitung benagnya.
Pada bagian baik dan buruk garis motif sama.
g) Sulaman Asisi

Gambar sulaman asisi
Sulaman Asisi merupakan antara tusuk silang dengan tusuk holbein. Ciri
khas dari sulaman asisi ini adalah pada batas motif dikerjakan dengan tusuk
holbein. Dengan demikian pada sulaman asisi menggunakan dua tusuk hias
yaitu tusuk silang dengan tusuk holbein. Warna benang yang digunakan

33

hanya dua warna yang merupakan kombinasi warna tua dan muda dari satu
warna. Warna muda untuk tusuk silangnya dan warna tua untuk tusuk
holbeinnya atau kebalikannya. Bahkan kadang-kadang digunakan warna
kontras antara tusuk silang dengan tusuk holbeinnya. Pada asisi ini motif
hiasnya dikosongkan dan tepinya dikerjakan dengan tusuk holbein. Diluar
holbein tersebut (diluar motif) dikerjakan dengan tusuk silang sampai batas
tertentu. Motif hiasan asisi pada umumnya sama dengan motif untuk hiasan
kruisteek.

h) Melekatkan benang

Gambar melekatkan benang
Melekatkan benang adalah teknik menghias kain yang menggunakan benang tebal

untuk membuat hiasan berbentuk garis yang bersambung. Untuk menjahitkan

benang tebal digunakan tusuk balut

Contoh Pembuatan Sulaman Bayangan :

Bahan dan alat :

1. Kain tembus terang

2. Pemidangan

3. Jarum sulam

4. Gunting benang

5. Benang sulam

6. Karbon jahit

7. Kertas dan alat jahit

Pemidangan, gunting, benag sulam, jarum Kain tembus terang

34

Jarum sulam karbon

Langkah kerja sulaman bayangan :

1. Buatlah desain motif sulaman bayangan pada kertas menggunakan alat jahit.

2. Tentukan pengerjaan, apakah dari bagian baik atau bagian buruk kain.

3. Jiplak motif pada kain tembus terang menggunakan karbon jahit.

4. Pasang pemidangan pada kain tembus terang.

5. Buatlah sulaman bayangan dengan menggunakan tusuk flanel dan tusuk tikam jejak.

Isi motif dengan tusuk flanel

Hasil tusuk flanel (dilihat dari bagian baik)

hasil jadi sulaman bayangan (tampak belakang)

Hasil jadi sulaman bayangan (tampak depan)
Contoh Pembuatan Sulaman Melekatkan Benang :

35

a. Alat :
 Alat untuk persiapan:
a. Jarum pentul
b. Pensil
c. Karbon jahit.
 Alat menghias busana/ kain:
a. Jarum tangan
b. Jarum lubang besar
c. Gunting benang
d. pemidangan.

 Bahan yang digunakan:
1. Benang sulam gulung
2. Benang sulam helai
3. Kain perca/ kain blacu

Langkah Kerja Membuat Hiasan Dengan Melekatkan Benang
1) Menyiapkan semua bahan dan alat yang diperlukan.
2) Menentukan bentuk dan letak ragam hias (di sudut, di tengah, atau di pinggiran) pada
kertas skets.
3) Merancang bentuk ragam hias dengan motif tidak boleh putus-putus / terputus.
Contoh ragam hias untuk melekatkan benang:

Rancangan ragam hias untuk melekatkan benang
4) Memindahkan motif pada kain yang akan dihias, dengan cara dijiplak menggunakan

pensil dan karbon jahit .

36

5) Masukan benang pelekat pada salah satu titik dari bagian baik kain ke bangian buruk
kain dengan bantuan jarum lubang besar (jarum kruistik) supaya benang tidak kusut
dan dapat masuk secara bersamaan kurang lebih 3 cm .

6) Benang pelekat (benang besar) dilekatkan mengikuti motif hiasan dengan benang
pengikat (benang yang lebih kecil) menggunakan tusuk balut hingga semua motif selesai
dikerjakan.

7) Jarak balutan jangan terlalu rapat maupun terlalu jarang.Kurang lebih 2 mm. Jika
balutan terlalu rapt maka akan tampak kaku dan berkerut, sedangkan jika balutan
terlalu jarang maka benang pelekat akan bergelombang. Dapat menggunakan tusuk
balut tunggal atau tusuk balut ganda

8) Jangan menarik jarum benang pengikat terlalu kencanag karena akan mengakibatkan
kerutan pada kain.

9) Ujung benang pada akhir motif dimasukkan ke bagian buruk kain dengan
menggunakan jarum kruistik, sehingga berada pada satu lubang dengan ujung benang
awal menghias motif.

10) Menguatkan sisa benang dari bangian buruk kain dengan cara dibalut pada bagian
buruk kain sehingga ujung-ujung benang tidak lepas, kuat dan tidak longgar.

11) Bersihkan dan rapikan hasil sulaman, gunting tiras-tiras benang yang ada pada
sambungan.

37

PEMBELAJARAN 3. HIASAN PAYET
A. TUJUAN

a. Peserta didik mampu memahami bahan dan alat untuk hiasan payet dengan
benar

b. Peserta didik mampu mengetahui macam-macam tusuk yang digunakan pada
hiasan payet dengan benar.

c. peserta didik mampu membuat hiasan payet dengan menerapkan tusuk-tusuk
hias dengan tertib dan rapi

B. URAIAN MATERI
Burci/payet terdiri atas beragam jenis, warna dan bentuk. Setiap jenis, bentuk dan warna
burci/payet tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghias beragam jenis bahan. Jenis dan
bentuk burci/payet tersebut antara lain:
a. Penggolongan burci berdasarkan asal bahan dan bentuk mutiara, batu-batuan, dan
kristal. Jenis-jenis ini kegunaannya bermacam-macam, misalnya untuk hiasan busana
pesta, busana daerah dan bisa juga untuk lenan rumah tangga, seperti sarung bantal
kursi, gordyn, taplak meja dan lain-lain.

Mutiara Kristal Batu Batu Batu

Gambar 2. 3 Macam-macam bentuk burci

b. Bentuk burci/payet. Beraneka ragam bentuk burci, seperti pasir, mote, piring,

batang, patah, air mata, beras dan lain-lain.

38

Bentuk burci airmata Bentuk burci pasir

Bentuk burci beras Bentuk burci batang

Bentuk burci piring Bentuk burci piring

Gambar 2.4 Macam-macam bentuk burci
Terdapat bermacam-macam cara untuk memindahkan motif ke atas bahan. Bermacam-
macam cara memindahkan motif tersebut adalah:

a. Dirader
Cara ini dapat digunakan pada bahan/kain yang tebal, yaitu dengan menggunakan
karbon dan dirader pada bagian baik bahan.

b. Dikutip
Cara ini biasanya digunakan pada bahan yang tidak terlalu tebal, yaitu dengan cara
dikutip memakai kapur jahit pada bagian baik bahan.

c. Memindahkan motif dibahan dari bagian buruk (untuk bahan tipis)
Cara dikerjakan dengan menggunakan kapur jahit atau pensil berwarna.

d. Menebalkan motif diatas bahan
Pada cara ini motif dipindahkan dulu diatas kertas roti yang kemudian kertas roti
tersebut di letakkan diatas bahan bagian baik, baru ditebalkan dari atas.

e. Menjelujur
Motif ditempelkan dibagian buruk dari bahan tipis, kemudian motif dijelujurdari
bagian baik bahan.

39

Teknik pemasangan burci/payet
Pemasangan burci/payet terdiri dilakukan dengan menggunakan tusuk tusuk hias. Tusuk
hias yang digunakan untuk memasang burci yaitu:

a. Tusuk jelujur
b. Tusuk tikam jejak
c. Kombinasi antar jelujur dan tikam jejak
Cara memasang ketiga teknik tersebut adalah
a. Tusuk jelujur

1) Siapkan Bahan
2) Siapkan burci/payet yang akan dipasang
3) Siapkan benang dan jarum untuk memasang burci
4) Mulailah memasang burci/payet dengan cara

a) Pasang benang pada jarum burci (pilih ukuran (nomor) jarum sesuai
dengan ukuran lubang burci)

b) Tusukan benang pada bidang yang akan dihiasi, matikan dari bagian
buruk kain, keluarkan benang pada bagian baik kain, masukan burci yang
akan ditempelkan.

c) Masukkan kembali benang ke bagian buruk, untuk jenis burci bulat dan
ukurannya kecil, benang kembali pada tengah burci kemudian benang
dimatikan.

d) Lakukan secara berulang-ulang sampai bidang yang akan dihiasi burci
selesai.

e) Perlu diperhatikan bahwa setiap langkah melekatkan burci, benang selalu
dimatikan. Hal ini berfungsi sebagai pengunci, agar jika salah satu burci
lepas, maka burci yang lain tidak ikut lepas.

40

Gambar 2.12 Cara memasang burci/payet dengan tusuk jelujur dan hasil pemasangannya
b. Tusuk tikam jejak
1) Siapkan Bahan
2) Siapkan burci/payet yang akan dipasang
3) Siapkan benang dan jarum untuk memasang burci
4) Mulailah memasang burci/payet dengan cara:
a) Pasang benag pada jarum burci.
b) Tusukkan benang pada bidang yang akan dihias, matikan pada bagian buruk
bahan, keluarkan pada bagian baik bahan dengan arah lebih kebelakang
(mundur) dari tusukan pertama. Kemudian, masukkan burci yang
panjangnya melewati tusukkan awal (maju), masukkan kembali ke bagian
bawah bahan (burci yang dipakai bentuk pasir), kemudian matikan.
c) Lakukan secara berulang-ulang sampai bidang yang di burci selesai.
d) Perlu diperhatikan setiap langkah meletakkan burci benang perlu
dimatikan.

Cara memasang burci/payet

dengan tusuk tikam jejak hasil pemasangan burci/payet dengan tusuk

tikam jejak

Gambar 2.13 Cara memasang burci/payet dengan tusuk tikam jejak

Kombinasi antar jelujur dan tikam jejak

1) Siapkan Bahan

2) Siapkan burci/payet yang akan dipasang

3) Siapkan benang dan jarum untuk memasang burci

4) Mulailah memasang burci/payet dengan cara:

a) Pasang benang pada jarum burci
b) Tusukkan benang pada bidang yang akan dihias, (posisi 1), matikan pada

bagian buruk bahan. Keluarkan pada bagian baik bahan. Masukan burci,

jahitkan jarum kebelakang kembali ke tusukan pertama (posisi 1), masukan

lagi burci, tusuk ke arah depan dan dibagian bawah dimatikan (posisi 2).

Selanjutnya kembali lagi ke tusukan pertama (posisi 1) masukan kedalam

41

burci yang telah terjahitkan sebelumnya, arahkan ke bawah balik lagi ke
posisi.

Contoh pemasangan burci/payet dengan tusuk kombinasi
Gambar

Cara memasang burci/payet dengan tusuk kombinasi dan hasil pemasangannya

12 Contoh proses pemasang
burci/payet
1. Kain sebelum diberi

lekapan burci,
2. Kain dalam proses

pemasangan lekapan
burci
3. Kain sesudah diberi
ekapan burci

3

Contoh proses1pemasang burci/paye2t 1 2
1. Kain sebelum diberi lekapan burci,
2. Kain sesudah diberi lekapan burci
Gambar 2.15 Contoh proses pemasangan burci/payet

42

12

Contoh proses pemasang burci/payet
1. Kain sebelum diberi lekapan burci,
2. Kain sesudah diberi ekapan burci

Gambar
Contoh hasil pemasangan lekapan burci pada kain

Contoh proses pemasang burci/payet
1. Kain sebelum diberi lekapan burci,
2. Kain sesudah diberi ekapan burci

43

Contoh hasil pemasangan lekapan burci

Contoh hasil pemasangan lekapan burci
c. Menerapkan pemasangan burci/payet

Menerapkan pemasangan burci/payet dapat dilakukan pada bermacam-macam
benda, seperti pada:
1) Kebaya, busana daerah
2) Gaun pesta
3) Lenan rumah tangga, seperti sarung bantal kursi, gordyn, tutup tv dan lain-lain.
4) Aksesories, seperti kancing, cincin, gelang, tas sepatu, selop.
Dengan adanya pemasangan burci/payet merupakan nilai tambah pada benda
tersebut.

44

Contoh pemasangan burci/payet pada kebaya
Gambar 2.22 Contoh pemasangan burci/payet pada sandal

Gambar Contoh pemasangan burci/payet pada tas

45

BAB III
SOAL LATIHAN

1. Berikut ini adalah alat-alat yang dipergunakan untuk menyulam, kecuali :

a. Jarum pentul c. Jarum tangan

b. Jarum mesin d. Pita ukuran

e. Gunting benang

2. Jarum yang digunakan sebagai penolong untuk meletakan pola adalah …..

a. Jarumtangan c. Jarum mesin

b. Jarum tumpul d. Jarum pentul

e. Jarum juki

3. Alat yang digunakan untuk membentangkan kain yang dihias atau disulam adalah …..

a. Pemidangan c. Pita ukuran

b. Penggaris d. Pendedel

e. Bidal

4. Bahan strimin biasanya dihias dengan menggunakan benang …..

a. Kasur c. Cashmilon

b. Wol d. Mutiara

e. Jahit

5. Bahan yang digunakan untuk membuat lenan rumah tangga dengan hiasan tusuk silang

adalah …..

a. Belacu c. Strimin

b. Tetoron d. Berkolin

e. Oxford

6. Teknik melekatkan benang merupakan teknik menghias kain dengan menggunakan :

a. Benang panjang & tidak terputus c. Pita

b. Benang pendek-pendek d. Bisban

e. Renda

7. Gambar berikut merupakan cara membuat tusuk …..

a. Rantai c. Feston

b. flanel d. Tangkai

e. jelujur

8. Gambar berikut merupakan cara membuat tusuk …..

a. Rantai c. Feston

b. flanel d. Tangkai

e. jelujur

9. Gambar berikut merupakan cara membuat tusuk …..

a. Rantai c. Feston

b. flanel d. Tangkai

e. jelujur

10. Gambar berikut dibuat dengan menggunakan tusuk …..

a. Rantai, tikam jejak c. Feston, tikam jejak

b. Rantai, flanel d. Tangkai, jelujur

e. Silang, jelujur

11. Sulaman bayangan menggunakan tusuk …..

a. Tikam jejak c. Flanel

b. Rantai d. Feston

46

e. Silang

12. Suatu cara membuat pola hiasan dengan cara mengambil unsur dari suatu obyek yang

selanjutnya ditambah denagn unsur lain yang dikehendaki yang hasilnya berupa bentuk

baru adalah....

a. Meniru bentuk aslinya b. Menstilasi

b. Merengga c. Menjiplak

c. menyunting

13. Pola hiasan pada desain berikut merupakan pola ....

a. Batas

b. Pinggiran

c. Pusat

d. Berserak

e. Pinggiran simetris

14. Pola hiasan pada desain berikut merupakan pola ....

a. Pinggiran simetris

b. Pinggiran berjalan

c. Pinggiran menurun

d. Pinggiran bergantung

e. Pinggiran memanjat

15. Berikut ini yang termasuk sulaman putih …..

a. Aplikasi c. Sulaman Fantasi

b. Melekatkan Benang d. Sulaman Asisi

e. Sulaman Inggris

16. Yang termasuk sulaman berwarna …..

a. Sulaman Richeulieu c. Sulaman Fantasi

b. Sulaman Bayangan d. Sulaman Perancis

e. Sulaman English

17. Yang dimaksud dengan sulaman putih adalah ...

a. sulaman berwarna putih.

b. sulaman dengan benang putih.

c. sulaman pada bahan berwarna putih.

d. sulaman dimana bahan dan benang sewarna.

e. sulaman dimana bahan dan benang berwarna putih.

18. Ciri-ciri bahan untuk sulaman putih ...

a. motif kotak-kotak dengan dasar warna putih.

b. motif bergaris / lerek dengan dasar warna putih.

c. motif bunga dengan dasar warna putih.

d. motif abstrak dengan dasar warna putih.

e. motif polos semua warna.

19. Yang termasuk sulaman putih, kecuali sulaman ...

a. Inggris.

b. Perancis.

c. Arab.

d. Bayangan.

e. Richelieu

20. Sulaman dimana bagian tepinya dengan motif ringgit, sulaman ...

a. Inggris.

b. Perancis.

c. Arab.

d. Bayangan.

47

e. Richelieu.
21. Peralatan yang tidak diperlukan dalam membuat sulaman putih adalah …

a. Pita ukur
b. Jarum
c. Pemidangan.
d. Bidal.
e. Gunting
22. Memindahkan desain hiasan pada kain tidak bias dengan cara …
a. mengutip langsung.
b. mengutip dengan karbon jahit.
c. mengutip dengan gabar tempel.
d. mengutip dengan cat air.
e. mengutip dengan tusuk penanda.
23. Urutan kerja cara membuat sulaman Inggris pada motif yang berlubang ...
a. garis motif ditusuk holbin, motif ditusuk balut, tengah motif digunting.
b. garis motif ditusuk holbin, tengah motif digunting, motif ditusuk balut.
c. tengah motif digunting, garis motif ditusuk holbin, motif ditusuk balut.
d. tengah motif digunting, motif ditusuk balut baru ditusuk holbin.
e. motif ditusuk balut kemudian ditusukholbin baru digunting.
24. Yang disebut sulaman terbuka dan mempunyai penghubung pada bagian yang
berlubang, sulaman ...
a. Inggris.
b. Perancis.
c. Richelieu.
d. Tiongkok.
e. Arab.
25. Penghubung pada bagian yang berlubang untuk sulaman Richelieu namanya ...
a. brides/trens
b. bentangan
c. ringgit.
d. sengkelit.
e. holbin.
26. Macam-macam tusuk untuk membuat sulaman Richelieu, tusuk ...
a. jelujur dan feston.
b. jelujur dan balut.
c. jelujur dan flanel.
d. jelujur dan silang.
e. jelujur dan holbin.
27. Sulaman dengan motif berikut ini termasuk sulaman ...

a. Inggris.
b. Perancis
c. Richelieu
d. Bayangan
e. Matelase

28. Sulaman Perancis biasanya dengan motif ...
a. bunga, daun
b. geometris
c. abstrak

48

d. monogram atau simbul
e. kombinasi

29. Bentuk motif berikut ini termasuk sulaman ...
a. Inggris.
b. Perancis
c. Richelieu
d. Bayangan
e. Matelase

30. Macam-macam tusuk untuk pembuatan sulaman Perancis, tusuk …
a. holbin, rantai dan feston
b. holbin, flanel dan festoon
c. holbin, flanel dan pipih
d. holbin, rantai dan silang
e. holbin, rantai dan pipih

31. Motif sulaman berikut ini termasuk sulaman ...
a. Inggris.
b. Perancis
c. Richelieu
d. Bayangan
e. Matelase

32. Motif sulaman berikut ini termasuk sulaman ...
a. Inggris.
b. Perancis
c. Asisi
d. Holbin
e. Matelase

33. Motif sulaman berikut ini termasuk sulaman ...
a. Inggris.
b. Perancis
c. Asisi
d. Holbin
e. Matelase

34. Motif sulaman berikut ini termasuk sulaman ...
a. Inggris.
b. Perancis
c. Asisi
d. Holbin
e. Matelase

35. Bahan/kain yang dapat digunakan Motif sulaman berikut ini termasuk sulaman ...
a. Inggris.
b. Perancis
c. Asisi
d. Holbin

36. e. Matelase untuk membuat sulaman bayangan, adalah ...
a. Tetoron
b. Osfot
c. Famatex

49

d. Sifon
e. Mori
37. Macam-macam tusuk yang digunakan untuk membuat sulaman bayangan, tusuk ...
a. flanel, tangkai dan tikam jejak
b. flanel, tangkai dan silang
c. flanel,silang dan rantai
d. flanel, silang dan tikam jejak
e. holbin, rantai dan silang
38. Tehnik Matelase disebut juga sulaman ...
a. relief atau timbul
b. terbuka
c. tertutup
d. ringgit
e. motif bulat
39. Matelase dalam pengerjaan ada 2 cara yaitu cara ...
a. Inggris dan Perancis
b. Inggris dan Italia
c. Perancis dan Italia
d. Perancis dan Arab
e. Italia dan Arab
40. Macam-macam tusuk yang digunakan untuk membuat teknik matelase, tusuk ...
a. silang, mesin jahit
b. silang, tikam jejak
c. mesin jahit, tikam jejak
d. tikam jejak, festoon
e. tikam jejak, feston

50


Click to View FlipBook Version