36
Smirnov. Dasar pengambilan keputusan dalam uji normalitas menurut Duwi
Priyatno (2010:57) adalah sebagai berikut:
a) Jika signifikansi (Asymp.sig) > 0,05 maka data berdistribusi normal
b) Jika signifikansi (Asymp.sig) < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal
Uji Asumsi Klasik
Setelah model dari penelitian ini memenuhi syarat uji asumsi klasik,
pengujian regresi linear berganda dapat dilkakukan. Supaya data yang digunakan
dipastikan layak dalam penelitian ini. Syarat – syarat yang harus dipenuhi adalah
data tersebut harus terdistribusikan secara normal,tidak terdapat multikloniaritas
dan autokorelasi. (Ghozali, 2016:29).
Untuk itu dilakukan pengujian asumsi klasik terlebih dahulu yang terdiri dari ;
a. Uji Normalitas Data
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah variabel dependen dan
independen dalam model regresi yang digunakan terdistribusi secara normal.
Model regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi data normal atau
mendekati normal. Kriteria pengambilan keputusannya adalah jika nilai p > 5%
maka data residual berdistribusi normal dan jika nilai p < 5% maka data residual
tidak berdistribusi normal.
b. Uji Multikolonieritas
Multikolinieritas adalah “antara dua variabel independen atau lebih pada
model regresi terjadi hubungan linier yang sempurna atau mendekati sempurna”.
37
Model regresi yang baik mensyaratkan tidak adanya masalah multikolinieritas.
Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinieritas ada beberapa metode, antara
lain dengan cara membandingkan nilai r2 dengan R2 hasil regresi atau dengan
melihat nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor).
Tujuan pengujian multikolonieritas untuk mengetahui apakah ditemukan
korelasi antar variabel bebas di dalam model regresi. Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel bebasnya. Multikolinieritas dapat
dilihat dari nilai Tolerance dan variance inflation faktor (VIF). Tolerance
mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan
oleh variabel independen lainnya. Jika nilai tolerance < 0,01 dan nilai VIF > 10
maka model regresi tersebut bebas dari multikolinieritas.
c. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah di dalam satu model
regresi linear apakah ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t
atau periode sebelumnya. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada masalah
autokorelasi. Model regresi yang baik mensyaratkan tidak adanya masalah
autokorelasi. Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dengan menggunakan
uji Durbin Watson, uji tersebut digunakan untuk mendiagnosis/menganalisa
adanya autokolerasi dalam suatu model regresi (Ghozali, 2011). Pengambilan
keputusan ada tidaknya autokorelasi:
1. Angka D-W dibawah -2, berarti ada autokorelasi positif.
2. Angka D-W dibawah -2 sampai +2, berarti tidak ada autokorelasi.
3. Angka D-W dibawah +2, berarti autokorelasi negatif.
40
d. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah “keadaan dimana terjadinya ketidaksamaan
varian dari residual pada model regresi”. Model regresi yang memenuhi
persyaratan adalah dimana terdapat kasamaan varian dari residual satu
pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau disebut homoskedastisitas
(Sunjoyo,dkk,2012:69).
Pengujian ini bertujuan untuk melihat apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varian dari
residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut
Homokedastisitas dan jika berbeda disebut Heterokedastisitas. Mendeteksi ada
tidaknya heteroskedastisitas ada beberapa metode, antara lain dengan cara uji
Spearman’s rho, Uji Park, Uji Glejser, dan dengan melihat pola titik-titik pada
scatterplots regresi. Dan alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan metode scatter plot dengan memplotkan ZPRED (nilai prediksi) dengan
SRESID (nilai residualnya). Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat polaseperti
mengumpul ditengah,menyempit kemudian melebar atausebaliknya melebarkemudian
menyempit.
3.Uji Hipotesis
a. Uji t Statistik
Uji statistic t dilakukan untuk menunjukan seberapa jauh pengaruh suatu
variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel
dependen (Ghozali, 2016: 97) Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang
signifikan dari masing-masing variabel independen terhadap dependen, maka
nilai signifikan t dibandingkan dengan derajat kepercayaan. Apabila sig t > dari
0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dan sebaliknya, jika sig t < dari 0,05
41
maka Ho ditolak dan Ha diterima. Bila Ho ditolak, ini berarti ada hubungan yang
signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskriptif Data
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perputaran piutang,
perputaran persediaan, current ratio terhadap profitabikitas perusahaan sub sector
makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017-2021.
Penelitian ini menggunakan data sekunder karena data tidak diperoleh secara
langsung oleh penulis, dimana sumber penelitian diperoleh dari data yang
dipublikasikan berupa laporan keuangan tahunan yang didapat dari situs resmi BEI
www.idx.co.id.. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 14
perusahaan.
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik
purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu
dimana syarat yang dibuat sebagai kriteria yang harus dipenuhi oleh sampel
dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang representative (Sugiyono,
2013:122). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan
kriteria sebagai berikut :
1. Perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar secara
di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode tahun 2017-2021.
2. Perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang
mempublikasikan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI)
selama periode tahun 2017-2021.
3. Perusahaan manufaktur sub sector makanan dan minuman yang
menerbitkan laporan keuangan selama periode penelitian yaitu tahun
2017-2021.
4. Perusahaan makanan dan minuman yang memiliki data lengkap yang
diperlukan dalam penelitian selama periode 2017-2021.
41
42
Berdasarkan kriteria yang dikemukakan diatas, maka berikut tabel kriteria
pemilihan sampel untuk penelitian dibawah ini:
Tabel 4.1
Sampel Penelitian
No. Kode Nama Perusahaan
1. AISA Tiga Pilar Sejahtera Tbk, PT
2. ALTO Tri Banyan Tirta Tbk, PT
3. CEKA Wilmar Cahaya Indonesia Tbk, PT
4. DLTA Delta Jakarta Tbk, PT
5. ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT
6. INDF Indofood Sukses Makmur Tbk, PT
7. MLI Multi Bintang Indonesia Tbk, PT
8. PSDN Prashida Aneka Niaga Tbk, PT
9. MYOR Mayora Indah Tbk, PT
10. ROTI Nippon Indosari Corporindo Tbk, PT
11. SKBM Sekar Bumi Tbk, PT
12. SKLT Sekar Laut Tbk, PT
43
13. STTP Siantar Top Tbk, PT
14. ULTJ Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk, PT
Sumber : www.idx.co.id (Data diolah)
2. Deskriptif Data
Statistik deskriptif digunakan untuk melihat gambaran umum dari data yang
digunakan. Tabel dibawah ini menunjukkan statistik deskriptif atas variabel-
variabel yang ada pada pemodelan data panel penelitian skripsi ini. Uji normalitas
dapat dilakukan untuk mengetahui apakah residualnya telah terdistribusi secara
normal. Variabel-variabel penelitian tersebut diinterpretasikan dalam nilai mean,
median, maximum, minimum dan Standar Deviasi. Hasil statistik deskriptif adalah
sebagai berikut:
Gambar 4.1
Uji Statistik Deskriptif
(Sumber: Output SPSS V.25)
Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif pada gambar 4.2, maka dapat
disimpulkan :
44
1. Perpuitaran Piutang memiliki nilai tertinggi diperoleh pada PSDN tahun 2018
sebesar 17,07, dan perputaran piutang terendah diperoleh pada MLI pada
tahun 2021 sebesar 1,04. Mean atau rata – rata perputaran putang sebesar 8,14
dengan standar deviasi sebesar 3,89136. Standar deviasi perputaran piutang
lebih kecil dari mean nya, hal ini menunjukan bahwa simpangan data
perputaran piutang relative kecil, dengan simpangan data yang kecil tersebut
menunjukan bahwa data perputara piutanng cukup baik.
2. Perputaran Persedian memiliki nilai tertingi yang diperoleh pada ROTI 2017
sebesar 26,00 dan perputaran piutang terendah diperoleh pada ULTJ pada
tahun 2021 sebesar 1,09. Mean atau rata – rata perputaran persediaan sebesar
6.97 denngan standar deviasi sebesar 5,32. Standar deviasi perputaran
persedian lebih kecil dari mean nya, hal ini menunjukan bahwa simpangan
data perputaran persediaan relative kecil, dengan simpangan data yang kecil
tersebut menunjukan bahwa data perputara persediaan cukup baik.
3. Current Ratio memiliki nilai tertingi yang diperoleh pada DLTA tahun 2019
sebesar 863,78 dan current ratio terendah diperoleh pada AISA tahun 2020
sebesar 15.24. Mean atau rata – rata current ratio sebesar 231.82 denngan
standar deviasi sebesar 186.01. Standar deviasi perputaran persedian lebih
kecil dari mean nya, hal ini menunjukan bahwa simpangan data perputaran
persediaan relative kecil, dengan simpangan data yang kecil tersebut
menunjukan bahwa data perputara persediaan cukup baik.
4. Return On Asset memiliki nilai tertingi yang diperoleh pada AISA tahun 2021
sebesar 0,61 dan ROA terendah diperoleh pada AISA tahun 2019
45
sebesar -0,10. Mean atau rata – rata ROA sebesar 0,10 denngan standar
deviasi sebesar 0,1. Standar deviasi return on asset lebih kecil dari mean nya,
hal ini menunjukan bahwa simpangan data perputaran persediaan relative
kecil, dengan simpangan data yang kecil tersebut menunjukan bahwa data
perputara persediaan cukup baik.
3. Uji Asumsi Klasik
a.Uji Normalitas
Analisis normalitias digunakan untuk melihat apakah dalam sebuah model
regresi mempunyai distribusi normal atau tidak. Analisis ini menggunakan
analisis regresi linier dengan syarat model regresi yang baik adalah distribusi
data normal atau mendekati normal. Pengujian normalitias dilakukan dengan
melihat nilai signifikansi Kolmogorov Smirnov dari nilai residual. Nilai
signifikansi di atas 0,05 menunjukkan bahwa variabel yang diuji berdistribusi
normal.
Gambar 4.2
Uji Normalitas Data
46
Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa data tersebut tidak
berdistribusi dengan normal, dikarenakan nilai Asymp. Sig di bawah 0,05 yaitu
0,000. Untuk mengatasi data yang tidak berdistribusi normal, maka dilakukan
outlier data. Berikut adalah daftar data yang di outlier :
Tabel 4.1
Data Oulier
Nama Perusahaan Kode Saham Tahun
PT. Tiga Pilar AISA 2021
Sejahtera, Tbk
PT. Multi Bintang MLI 2018
Indondesia, Tbk 2019
2020
2021
Setelah dilakukan outlier, maka hasil uji data normalitas sebagai berikut :
Gambar 4.3
Uji Normalitas Data
Hasil pengujian normalitias residual pada model diatas menunjukkan
distribusi yang normal. Hal ini menunjuikkan distribusi yang normal. Karena
47
nilai uji Kolmogorov Smirnov menunjukkan hasil yang memiliki signifikansi
0.20 dan di atas 0,05. Hal ini berarti bahwa normalitias data sampel untuk
masing-masing variabel sudah terpenuhi.
Selain itu uji normalitas data juga dapat menggunakan grafik histogram
dengan kriteria tidak terjadi kemencengan pada grafik histogram. Berikut ini
hasil uji normalitas menggunakan grafik histogram :
Gambar 4.4
Grafik Normalitas Histogram
(Sumber: Output SPSS V.25)
Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa grafik histogram sudah
berbentuk menyerupai lonceng , sehingga dapat dikatakan bahwa data telah
terdistribusi secara normal.
48
Selanjutnya untuk uji normalitas data menggunakan kurva Normal
Probability Plot dengan kriteria pengujiannya yaitu jika titik-titik pada grafik
menyebar berada disekitar garis diagonal, maka dapat dikatakan bahwa asumsi
normalitas telah terpenuhi. Adapun hasil uji normalitas dengan data kurva
Normal P-Plot sebagai berikut :
Gambar 4.5
Grafik Normal P-P Plot
(Sumber: Output SPSS V.25)
Pada gambar diatas diketahui bahwa titik sebaran data berada disekitar
wilayah garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, sehingga dapat
disimpulkan bahwa data dalam penelitian berdistribusi secara normal dan model
regresi telah memenuhi asumsi normalitas.
49
b. Uji multikoniearitas
Uji multikoniearitas suatu pengujian yang dilakukan untuk menguji
variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian memiliki korelasi satu sama
lainnya. Suatu model regresi yang dihasilkan dari data-data penelitian
seharusnya tidak memiliki korelasi antara satu variabel independen dengan
variabel independennya. Indikator yang digunakan untuk mengetahui ada atau
tidaknya korelasi antara variabel independen yang satu dengan yang lainnya
yaitu dengan melihat nilai Tolerance (TOL) dan Variance Inflation Factor (VIF).
Adapun aturan dalam menentukan ada tidaknya multikolinearitas akan
dijelaskan sebagai berikut:
a. Jika nilai Tolerance > 0,1 dan VIF memiliki nilai < 10, maka dikatakan tidak
terdapatnya gejala multikolinearitas antara variabel independen yang
digunakan dalam penelitian.
b. Jilai nilai Tolerance > 0,1 dan VIF memiliki nilai > 10, maka dikatakan
terdapatnya gejala multikolinearitas antara variabel independen yang
digunakan dalam penelitian. Jika terdapat variabel yang mengalami gejala
multikolinearitas, maka variabel tersebut harus dari variabelpenelitian.
50
Berikut ini merupakan hasil dari Output SPSS untuk melakukan pengujian
multikolinearitas:
Gambar 4.6
Uji Multikolinearitas
(Sumber: Output SPSS V.25)
Output SPSS diatas dapat dideskripsikan bahwa:
a. Variabel Perputaran Piutang (X1) memiliki nilai Tolerance sebesar 0,923
dan nilai VIF sebesar 1,084.
b. Variabel Perputaran Persediaan (X2) memiliki nilai Tolerance sebesar
0,963 dan nilai VIF sebesar 1,039.
c. Variabel Current Ratio (X3) memiliki nilai Tolerance sebesar 0,912 dan
nilai VIF sebesar 1,097.
Berdasarkan deksripsi diatas, semua variabel independen memiliki nilai
Tolerance yang lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF untuk semua variabel
independen memiliki nilai lebih kecil dari 10. Berdasarkan aturan dalam
menentukan ada tidaknya gejala multikolinearitas diatas, semua variabel
51
independen yang digunakan dalam penelitian ini telah bebas dari gejala
multikolinearitas. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Perputaran Piutang,
Perputaran Persediaan dan Current Ratio tidak terdapatgejala multikolinearitas.
c. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi merupakan pengujian terakhir yang dilakukan dalam uji
asumsi klasik pada penelitian ini. Uji Autokorelasi merupakan suatu pengujian
yang dilakukan untuk mendeteksi korelasi kesalahan pengganggu pada data
dalam suatu pengamatan terhadap datapada pengamatan lainnya. Penilaian yang
digunakan untuk menilai ada tidaknya korelasi pada suatu penelitian dapat
dibantu dengan menggunakan metode Durbin-Watson test pedoman dalam
menggunakan metode Durbin-Watson test adalah:
Tabel 4.3
Kriteria Durbin-Watson test
Hipotesis Nol Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasipositif Tolak 0 < d < dl
Tidak ada autokorelasipositif
No Decision dl≤ d ≤ du
Tidak ada korelasi negatif Tolak 4-dl< d < 4
Tidak ada korelasi negatif
No Decision 4-du ≤ d ≤ 4-dl
Tidak ada korelasi negatif atau positif Tidak ditolak du < d < 4-du
Adapun output SPSS dihasilkan untuk menguji autokorelasi disajikan
dalam tabel berikut ini :
52
Gambar 4.7
UJi Autokorelasi
(Sumber: Output SPSS V.25)
Dari tabel diatas, nilai DU dicari pada distribusi nilai tabel Durbin
Watson berdasarkan K (3) dan N (65) dengan signifikansi 5%, maka dL sebesar
1,503 dan dU sebesar 1,696. Hasil Durbin Watson pada tabel, didapat nilai
Durbin Watson 1,112, tidak lebih besar dari dU yaitu 1,696, maka dapat
dikatakan bahwa terjadi gejala autokorelasi dalam penelitian ini. Untuk
mengatasi autokorelasi terhadap data penelitian, maka dilakukan transformasi
Cochrance Orcutt sehingga menghasilkan nilai Durbin Watson sebesar 1,887
seperti tabel dibawah :
53
Gambar 4.8
UJi Autokorelasi
Untuk nilai dU 1,696, nilai dL 1.503 karena jumlah sampel dan variabel
independen yang digunakan tidak berubah. Jumlah sampel 65 dan variabel
independen yang digunakan ada 3 yaitu Perputaran Piutang, Perputaran
Persediaan, Current Ratio. Maka dU < d < 4-dU, yaitu 1,696 < 1,887 < 2,3379,
sehingga tidak terjadi gejala autokorelasi pada penelitian ini.
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan
yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap,
maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas.
Model regresi yang baik adalah yang Homoskesdatisitas atau tdak
terjadHeteroskedastisitas.
Cara untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dengan
menggunakan grafik scatterplot dan uji Glejser. Dengan grafik scatterplot jika
ada pola tertentu yang teratur maka diindikasi terjadi heteroskedastisitas,
54
sebaliknya jika tidak ada pola yang jelas serta titik menyebar di atas dan dibawah
angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Berikut adalah
hasil uji heteroskedastisitas ditunjukkan dengan grafik scatterplot :
Gambar 4.9
Uji Heterokedastisitas dengan Scatterplot
(Sumber: Output SPSS V.25)
Berdasarkan grafik scatterplot diatas, terlihat bahwa titik-titik menyebar
secara acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu, serta titik menyebar di atas
dan di bawah angka 0 pada sumbu Y. dengan demikian dapat diasumsikan bahwa
tidak terjadi gejala heteroskedastisitas.
Selain dengan grafik scatterplot, uji heteroskedastisitas juga dapat
dilakukan melalui uji Glejser yaitu dengan meregresi nilai absolut residual dari
model yang diestimasi terhadap variabel independent. Pengujiannya dengan
melihat nilai signifikansi setiap variabel independent. Jika nilai signifikansi
58
>0,05 berarti tidak terjadi heteroskedastisitas, sebaliknya jika nilai signifikansi
<0,05 berarti terjadi heteroskedastisitas. Berikut adalah hasil uji
heteroskedastisitas dengan uji Glejser :
Tabel 4.9
Uji Heteroskedastisitas dengan Uji Glejser
(Sumber: Output SPSS V.25)
Berdasarkan output uji Glejser di atas menunjukkan bahwa model regresi
tidak mengalami gejala heteroskedastisitas untuk semua variabel, hal ini karena
nilai signifikansinya > 0,005 untuk variabel Perputaran piutang sebesar 0,065,
Perputaran Persediaan sebesar 0,847, dan Current Ratio sebesar 0,05. Jadi secara
keseluruhan dapat disimpulkan tidak terjadi gejala heteroskedastisitas.
4. Hasil Uji Kelayakan Model
a.Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Hasil perhitungan model regresi dengan menggunakan bantuan program
SPSS versi 25 diperoleh sebagai berikut:
59
Gambar 4.12
Uji Regresi Linier Berganda
(Sumber: Output SPSS V.25)
Model persamaan regresi diperoleh sebagai berikut:
ROA = -0.027 + 0,002 Perputaran Piutang + 0,001 Perputaran persediaan + 0,000
Current Ratio
Model persamaan tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
59
1. Konstanta sebesar -0.027 menjelaskan bahwa apabila semua variabel
perputaran piutang(X1), perputaran persediaan(X2), dan current ratio(X3)
independen konstan atau sama dengan nol, maka besarnya return on asset
sebesar-0.027.
2. Koefisien regresi perputaran piutang(X1) diperoleh sebesar 0,002 yang
menunjukkan bahwa variable lain konstan, apabila perputaran piutang(X1)
naik satu satuan maka, return on asset akan meningkat sebesar 0.002
3. Koefisien regresi perputaran persediaan(X2) diperoleh sebesar 0,001 yang
menunjukkan bahwa variable lain konstan, apabila perputaran
persediaan(X2) naik satu satuan maka, return on asset akan meningkat
sebesar 0.001
4. Koefisien regresi current ratio(X3) diperoleh sebesar 0,000 yang
menunjukkan bahwa variable lain konstan, apabila current ratio(X3) naik
satu satuan maka, return on asset akan meningkat sebesar 0.000
5. Hasil Uji Hipotesis
a.Hasil Uji T
Untuk menentukan pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap
variabel terikat di gunakan uji t. Apabila nilai signifikan < 0.05 maka H0 ditolak,
dengan hasil variable independen signifikan dan terdapat pengaruh terhadap
variable dependen.
60
Dari hasil estimasi regresi pada lampiran diketahui nilai t hitung sebagai
berikut:
Penjelasan untuk hasil tersebut adalah:
Gambar 4.13
Uji T
(Sumber: Output SPSS V.25)
Berdasarkan kriteria pengujian pada datagambar 4.13 diatas, maka didapatkan
hasil pengujian hipotesis sebagai berikut :
a. Variabel perputaran piutang (X1) diperoleh nilai 1.120 dan nilai
signifikansi sebesar 0.267. Nilai signifikansi yang diperoleh lebih besar
dari tingkat signifikansi (α) yang ditetapkan 0.05. Maka, hal ini
menunjukan bahwa perputaran piutang berpengaruh negatif signifikan
terhadap return on asset.
b. Variabel perputaran persediaan (X2) diperoleh nilai 0.740 dan nilai
signifikansi sebesar 0.462. Nilai signifikansi yang diperoleh lebih besar
dari tingkat signifikansi (α) yang ditetapkan 0.05. Maka, hal ini
61
menunjukan bahwa perputaran persediaan berpengaruh negative
signifikan terhadap return on asset.
c. Variabel current ratio(X3) diperoleh nilai 7.779 dan nilai signifikansi
sebesar 0.000. Nilai signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari tingkat
signifikansi (α) yang ditetapkan 0.05. Maka, hal ini menunjukkan bahwa
current ratio berpengaruh positif signifikan terhadap return on asset.
B. Pembahasan
1. H1: Pengaruh Perputaran Piutang Terhadap ROA
Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa perputaran piutang
berpengaruh terhadap return on asset. Hasil penelitian variable perputaran
piutang diperoleh tingkat koefisien regresi (β) bernilai positif sebesar
0.002. Dilihat dari tingkat signifikansi variable perputaran piutang lebih
besar daripada (α) yaitu nilai sig 0.267 > 0.05. Berdasarkan hasil tersebut
maka dapat disimpulkan bahwa perputaran piutang berpengaruh negative
signifikan terhadap return on asset, sehingga Hipotesis 1 ditolak. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa variabel perputaran piutang tidak mampu
mengeneralisir total populasi penelitian terhadap Return on Asset.
62
2. H2: Pengaruh Perputaran Persediaan Terhadap ROA
Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa perputaran persediaan
berpengaruh terhadap return on asset. Hasil penelitian variable perputaran
piutang diperoleh tingkat koefisien regresi (β) bernilai positif sebesar
0.001. Dilihat dari tingkat signifikansi variable perputaran persediaan lebih
besar daripada (α) yaitu nilai sig 0.462 > 0.05. Berdasarkan hasil tersebut
maka dapat disimpulkan bahwa perputaran persediaan berpengaruh
negative signifikan terhadap return on asset, sehingga Hipotesis 2 ditolak.
3. H3: Pengaruh Current Ratio Terhadap ROA
Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa current ratio
berpengaruh terhadap return on asset. Hasil penelitian variable current
ratio diperoleh tingkat koefisien regresi (β) bernilai positif sebesar 0.000.
Dilihat dari tingkat signifikansi variable perputaran persediaan lebih kecil
daripada (α) yaitu nilai sig 0.000
< 0.05. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa current
ratio berpengaruh positif signifikan terhadap return on asset, sehingga
Hipotesis 3 diterima.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Perputaran
Persediaan, Perputaran Piutang dan Current Ratio terhadap ROA pada sub
sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
tahun 2017-2021. Adapun kesimpulan dari pembahasannya adalah sebagai
berikut :
1. Perputaran piutang tidak pengaruh dan tidak signifikan terhadap Return on
Asset pada sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 2017-2021.
2. Perputaran persediaan tidak pengaruh dan tidak signifikan terhadap Return
On Asset pada sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 2017-2021.
3. Current Ratio memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Return On
Asset pada sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 2017-2021.
B. Saran
Adapun saran bagi penelitian selanjutnya sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai
berikut: Penelitian selanjutnya disarankan utuk memperpanjang periode penelitian
agar memperbanyak sampel penelitian untuk hasil yang lebih baik.
66
DAFTAR PUSTAKA
Ainiyah, Q., 2016. Pengaruh Perputaran Piutang, Perputaran Persediaan Dan Debt
To Equity Ratio Terhadap Profitabilitas. Jurnal Ilmu dan Riset Manajemen
(JIRM), 5(1).
Armereo, C. and Saputra, A.A., 2020. Pengaruh Perputaran Kas, Perputaran Piutang
dan Perputaran Persediaan Terhadap Profitabilitas Persuahaan Dagang Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2018. Akuntanaki, 6(1), pp
24-37
Bangun, N., 2018. Pengaruh Perputaran Persediaan, Perputaran Piutang Dan Modal
Intelektual Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Manufaktur Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (Bei) Periode 2014 –2016 (Penelitian
Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia Periode 2014 –2016). Jurnal Ekonomi, 23(2).
Brigham, Eugene F. & Weston, J Fred. 2011. Dasar – Dasar Manajemen Keuangan
Edisi 11 Buku 2. Jakarta: Salemba Empat
C, M.A. (2017) “Pengaruh Perputaran Kas, Perputaran Piutang,Perputaran
Persediaan Terhada Profitabilitas Pada Supermarket Di Timor Leste”. E-
Jornal Ekonomi dan Bisnis, hal.3527-3548.
Dewi, L. and Rahayu Y.,2016. Pengaruh Perputaran Modal Kerja Terhadap
Profitabilitas Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmu
dan Riset Akuntansi (JIRA), 5(1).
J. Fred Weston, Eugene. 2011. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan Edisi 7. Jakarta
: Erlangga.
Hadi, Nor. 2009. Interaksi Biaya Sosia, Kinerja Sosial, Kinerja Keuangan, dan Luas
Pengungkapan Sosial “Uji Praktik Sosial Responsibility Perusahaan Go
Public di Bursa Efek Indonesia”. Disertasi. Semarang: Program
Pascasarjana Universitas Diponegoro.
Hadi, Nor. 2011. Corporate Social Responsibility. Yogyakarta: Graha Ilmu
Hanafi,M.M, dan Halim A.2004. Analisis Laporan Keuangan.Yogyakarta:UPP
STIM YKPN.
Hantono (2017). Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas Pada Perusahaan
Property dan Real Estate Yang Terdaftar di BEI Periode 2012-2015. Jurnal
Manajemen Bisnis dan Inovasi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Sam Ratulangi Manado, Vol.5. No.1. ISSN 2356-3966
Hery. 2016. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT.Grasindo.
67
68
Horne, James, C., Van & John, M., Wachowicz, JR. 2013. Prinsip-Prinsip
Manajemen Keuangan (Fundamental of Financial Management). Jakarta :
Salemba Empat.
Huer Ng, Sin, Chen Y., Tze, S.t., Boon, H.T. (2017). “The Impact od Working
Capital Management on Firm’s Profitability ; Edvidence from Malaysian
Listed Manufacturing Firms”, International Journal of Economics and
Financial Issues, 7(3), 662-670, ISSN:214-4138, available at http:
www.ecojournals.com
Ikatan Akuntansi Indonesia. (2013), Standart Akuntansi Keuangan. Jakarta :
Penerbit Salemba Empat.
Irham Fahmi. 2011 Analisis Laporan Keuangan (cetakan pertama). Bandung: CV
ALFABETA.
Kasmir. 2014 Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Rajawali Pers.
Lestari, N., Suarthana, W.R. and Alipudin, A., 2017. Pengaruh Perputaran Kas,
Perputaran Piutang Usaha, Dan Perputaran Persediaan Terhadap
Profitabilitas Pada Perusahaan Sub Sektor Makanan Dan Minuman Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015. Jurnal Online
Mahasiswa (JOM) Bidang Akuntansi, 2(2).
Mahardhika, P.A. and Marbun, D., 2016. Pengaruh Current Ratio Dan Debt To
Equity Ratio Terhadap Return On Assets. Widyakala: Journal Of
Pembangunan Jaya University, 3, pp.23-28.
Masruroh, S., Ermawati, E. and Dimyati, M., 2018. Pengaruh Perpuaran Piutang,
Pertumbuhan Penjualan dan Perputaran Persediaan Terhadap Profitabilitas
Perusahaan Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek
IndonesiaPengaruh Perpuaran Piutang, Pertumbuhan Penjualan dan
Perputaran Persediaan Terha. Counting: Journal of Accounting, 1(2), pp.44-
53.
Minanari (2018). Pengaruh Profitabilitas, Manajemen Laba Dan Kebijakan
Deviden Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Profita Vol 11, 139-149.
Nugroho, L., Aryani, E. and Mastur, A.A., 2019. Analisa Pengaruh Perputaran Kas
dan Perputaran Piutang Terhadap Return on Asset (ROA) pada Perusahaan
LQ 45 yang Terdaftar di BEI Tahun 2012-2017. Inovbiz: Jurnal Inovasi
Bisnis, 7(1), pp.20-26.
Nurafika, R.A., 2018. Pengaruh Perputaran Kas, Perputaran Piutang, Perputaran
Persediaan Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Semen. Jurnal
Akuntansi Dan Bisnis: Jurnal Program Studi Akuntansi, 4(1).
Nuriyani, N. and Zannati, R., 2017. Pengaruh Perputaran Kas Dan Perputaran
Piutang Terhadap Profitabilitas Perusahaan Sub-Sektor Food And
69
Beverages Tahun 2012-2016. Jurnal Riset Manajemen dan Bisnis (JRMB)
Fakultas Ekonomi UNIAT, 2(3), pp.425-432.
Oxtaviana, Tri Ani & Khusbandiyah, Ani(2016). “Pengaruh Aktiva Tetap, Hutang
Jangka Panjang dan Perputaran Modal Kerja terhadap Profitabilitas pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
Kompartemen Vol XIV No 1. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Muhammadiyah Purwokerto.
Pandiangan, R., 2015. Rasio Perputaran dan Periode Penagihan Piutang Usaha
Terhadap Rasio Lancar Perusahaan Barang Produksi. Jurnal Keuangan dan
Perbankan, 19(1).
Prakoso, K. B. 2014. Pengaruh Profita-bilitas, Kepemilikan Keluarga, dan
Corporate Governance Terhadap Penghindaran Pajak di Indonesia.
Simposium Nasional Akuntansi XVII.
Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta:
BPFE.
Saragih, M., Siahaan, Y., Purba, R. and Supitriyani, S., 2015. Pengaruh Current
Ratio Terhadap Return On Asset Pada Perusahaan Sektor Aneka Industri
Yang Listing di Bursa Efek Indonesia. Financial: Jurnal Akuntansi, 1(1),
pp.19-24.Suarnami, L.K., Suwendra, I.W. and Cipta, W., 2014. Pengaruh
Perputaran Piutang Dan Periode Pengumpulan Piutang Terhadap
Profitabilitas Pada Perusahaan Pembiayaan. Jurnal Manajemen Indonesia,
2(1).
Satria, R., 2018. Pengaruh Perputaran Piutang, Perputaran Persediaan, Dan Rasio
Lancar Tehadap Profitabilitas Perusahaan Manufaktur Sektor Industri
Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-
2015. Jurnal SEKURITAS (Saham, Ekonomi, Keuangan dan Investasi),
2(1).
Sugiono, Arief, S.E., M.Ak. dan Edy Untung, S.E., 2016. Panduan Praktis Dasar
Analisa Laporan Keuangan Edisi Revisi. Jakarta. PT Grasindo, Anggota
Ikapi
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D. Bandung: Alfabeta
Suminar, M.T., 2015. Pengaruh perputaran persediaan, perputaran piutang dan
perputaran kas terhadap profitabilitas pada perusahaan sektor industri
barang konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2008-2013. Journal Of
Accounting, 1(1).
Supardi.et.al. (2016). Pengaruh Current Ratio, Debt To Asset Ratio, Total Asset
Turnover dan Inflasi Terhadap Return on Assets. JIAFE (Jurnal Ilmiah
Akuntansi Fakultas Ekonomi). Volume 2 No. 2 Tahun 2016, Hal. 16-27.
70
Surya, S., Ruliana, R. and Soetama, D.R., 2017. Pengaruh Perputaran Kas dan
Perputaran Persediaan Terhadap Profitabilitas. Akuntabilitas, 10(2), pp.313-
332.
Safitri, m., Chabachib, c. and Mahfud, m.k., 2015. Analisis Pengaruh Struktur
Modal, Likuiditas Dan Efektivitas Terhadapnilai Perusahaan Dan
Profitabilitas Sebagai Variabel Intervening Pada Perusahaan Manufaktur
(Doctoral dissertation, Diponegoro University).
Tiong, P., 2017. Pengaruh Perputaran Piutang Terhadap Profitabilitas Pada
Perusahaan PT Mitra Phinastika Mustika Tbk. SEIKO: Journal of
Management & Business, 1(1), pp.1-25
Wartono, T., 2018. Pengaruh Current Ratio (CR) Dan Debt To EquityRatio (DER)
Terhadap Return On Asset (ROA)(Studi Pada Pt Astra International, Tbk).
Kreatif: Jurnal Ilmiah Prodi Manajemen Universitas Pamulang, 6(2), pp.78-
97.Wijaya, L.V. and Tjun, L.T., 2017. Pengaruh Cash Turnover, Receivable
Turnover, dan Inventory Turnover Terhadap Return On Asset Perusahaan
Sektor Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode 2013“2015. Jurnal Akuntansi, 9(1).
Widodo, A., 2018. Analisis Pengaruh Current Ratio (CR), Total Asset Turnover
(TATO), Dan Debt To Asset Ratio (DAR) Terhadap Return On Asset
(ROA), Serta Dampaknya Terhadap Nilai Perusahaan. JIMF (Jurnal Ilmiah
Manajemen Forkamma), 1(2).
Yuliani, R., 2013. Pengaruh perputaran piutang terhadap profitabilitas pada
perusahaan PT Unilever Indonesia Tbk tahun 2005-2012. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, 1(2)
https://ekbis.sindonews.com/berita/1497493/33/neraca-dagang-defisit-ekonom-
bukti-industri-manufaktur-tertekan
https://investasi.kontan.co.id/news/mengintip-kembali-kinerja-emiten-sektor-
makanan-minuman-selama-kuartal-i-2019
https://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-4439261/industri-makanan-jadi-salah-
satu-sektor-tingkatkan-nilai-investasi
LAMPIRAN
1. Tabulasi Variabel
2. Tabulasi Perhitungan Perputaran Piutang
3. Tabulasi Perhitungan Perputaran Persediaan
4. Tabulasi Pehitungan Current Ratio
5. Tabulasi Perhitungan Return on Asset