The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

4B_6 SD_Bulan 3 – Melatih Anak Bijak Bermedia Sosial PEKAN 2

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by i Literasi, 2025-03-04 21:27:15

4B_6 SD_Bulan 3 – Melatih Anak Bijak Bermedia Sosial PEKAN 2

4B_6 SD_Bulan 3 – Melatih Anak Bijak Bermedia Sosial PEKAN 2

Melatih Anak Bijak Bermedia Sosial (Bagian 2) Oleh: Cahyadi Takariawan (Direktur Wonderful Family Institute) Seorang ibu membagikan ceritanya kepada saya, tentang anak bungsunya. Pada saat kelas satu SD, ia mengizinkan si Bungsu untuk bermain gadget satu jam pada hari Sabtu dan satu jam pada hari Ahad. Ketika naik kelas dua SD, ia tambah kesempatannya menggunakan gadget menjadi dua jam pada hari Sabtu dan dua jam pada hari Ahad. Si Bungsi tertib mematuhi batasan waktu tersebut, walau kadang merengek minta tambahan waktu. Sang Ibu tidak memberikan tambahan waktu yang diminta itu. Ketika Bungsu naik kelas tiga SD, rengekannya untuk menambah waktu bermain gadget makin menjadi. Ia tidak mau dibatasi waktu, dan menuntut untuk dibolehkan menggunakan gadget di seluruh hari, bukan hanya Sabtu dan Ahad sebagaimana sebelumnya. Tentu saja kami menolak permintaan itu. Setiap hari Sabtu dan Ahad, sang Ibu memberikan kesempatan untuk bermain gadget maksimal tiga jam. Namun, ia protes bahkan sering menangis setiap kali diingatkan waktunya sudah habis. Pada saat itulah sang Ibu menyadari bahwa si Bungsu sudah mulai kecanduan gadget. Tentu ia tidak ingin kecanduan anaknya makin parah. Maka, ia dan suaminya bersepakat untuk menghentikan memberikan izin kepada anaknya menggunakan gadget. Bukan dengan cara bertahap—seperti anjuran beberapa kalangan—melainkan dengan cara langsung. Stop sejak hari itu juga tanpa toleransi. Apa yang terjadi? Tentu pembaca sudah bisa menduga. Ya benar, si Bungsu berontak, marah, dan menangis keras. Setiap kali dia menyatakan ingin main gadget, langsung ditolak dan tidak dipinjamkan kepadanya gadget. Ia dan suami harus siap dengan adegan berulang: berontak, marah, dan menangis keras. Inilah tanda makin nyata bahwa si Bungsu sudah kecanduan gadget. Ciri-ciri Anak Kecanduan Gadget


Ada sangat banyak tanda pada anak yang sudah mulai kecanduan gadget. Hendaknya orang tua cermat melihat ciri-ciri ini pada anak: • Menggunakan gadget secara terus-menerus tanpa mau dibatasi dan dilarang • Selalu meminta diberikan gadget dan jika tidak diberi, anak akan mengamuk • Berkurangnya minat untuk bersosialisasi, lebih suka menyendiri • Tidak mau beraktivitas di luar rumah, misalnya bersikeras meminta pulang saat diajak bepergian, agar bisa bermain game di rumah • Menolak melakukan rutinitas sehari-hari dan lebih memilih bermain gadget, seperti tidak mau disuruh salat, belajar, makan, tidur atau mandi Demikianlah beberapa ciri yang mudah dikenali pada diri anak, ketika mereka mulai kecanduan gadget. Jika ciri dan gejala itu sudah nyata—apalagi sempurna adanya—maka orang tua harus waspada dan segera mengambil langkah nyata penyelamatan anak dari kecanduan gadget yang lebih parah. Menyembuhkan Anak dari Kecanduan Gadget Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika anak bersikap seperti itu? Hanya satu kata: tega! Ya, harus tega melihat anak yang sangat kita cintai marah-marah dan menangis keras. Sebagai orang tua, kita sering tidak tega melihat pemandangan seperti itu. Maka, rasa tidak tega inilah yang menyebabkan orang tua tidak disiplin menerapkan pembatasan dan larangan kepada anak. Akhirnya orang tua kalah, setiap kali anak marah dan menangis keras, langsung dipenuhi keinginannya. Anak akhirnya mengenali pola ini: jika ingin dibolehkan main gadget harus marah dan menangis keras terlebih dahulu. Pada sebagian orang tua, rasa tidak tega membuat mereka melakukan negosiasi dengan anak. Mereka membuat kesepakatan, boleh main gadget satu jam apabila mereka telah membaca Al-Qur’an satu jam, atau setara dengan setoran hafalan ayat Al-Qur’an setengah halaman, misalnya. Anak akhirnya menggunakan membaca Al-Qur’an atau setoran hafalan sebagai pola tetap. Jika ingin dibolehkan main gadget, ia harus memperbanyak tilawah dengan hitungan jam, atau


memperbanyak setoran ayat. Seakan ini positif, tetapi bisa jadi kita telah melatih ketidaktulusan pada anak. Yang harus dimiliki oleh ayah dan ibu adalah rasa tega yang berdiri di atas cinta dan kasih sayang terhadap anak. Kita harus tega melihat anak marah, tega melihat anak berontak, tega melihat anak menangis berguling-guling. Semua itu justru karena cinta dan kasih sayang kita terhadap anak. Karena kita tidak tega jika di masa depan nanti, anak menjadi tidak bisa dikendalikan, tidak bisa menjadi anak saleh/salihah, tidak mengerti batasan boleh dan tidak boleh, serta selalu ingin menuruti keinginan sesaat. Maka, harus tega sekarang, karena kita tidak tega dengan hal buruk menimpa mereka di masa yang akan datang. Penelitian di Bristol University tahun 2010 mengungkapkan, bahaya penggunaan gadget pada anak dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, kurang atensi, autisme, kelainan bipolar, psikosis, dan perilaku bermasalah lainnya. Hasil studi ini sudah sangat mengerikan bagi orang tua. Kita semua tidak akan tega, jika anak kita harus mengalami depresi, kelainan bipolar, apalagi psikosis. Maka harus tega mendengar tangis keras anak lantaran tidak diizinkan bermain gadget, harus tega melihat anak berguling-guling sebagai bentuk protes karena tidak diizinkan menggunakan gadget. TEGA, Kunci Utama Menghindarkan Anak dari Kecanduan Gadget TEGA, ini yang harus dimiliki oleh orang tua. Jika yang berkembang adalah tidak tega, maka akan sangat sulit menghindarkan anak dari kecanduan gadget. TEGA terdiri dari empat komponen: T - Tegas menerapkan aturan E - Edukasi sepanjang hari G - Gemarkan membaca dan berkegiatan kreatif A - Ajak bersosialisasi Kita bahas satu per satu unsur TEGA tersebut. Pertama, tegas menerapkan aturan.


Sangat penting bagi setiap keluarga untuk memiliki aturan family time serta screen time, dan tegas dalam menerapkan aturan. Yang dimaksud dengan family time adalah waktu berkualitas bersama keluarga. Sedangkan screen time adalah waktu yang disepakati untuk tidak menggunakan gadget. Mereka mengobrol dan berkegiatan bersama keluarga, tanpa ada yang memegang gadget. Di antara contoh aturan screen time adalah dengan membatasi penggunaan gadget sesuai dengan rekomendasi kelompok umurnya. Ayah dan ibu harus kompak dalam menjawab pertanyaan ini: mulai umur berapa anak dibolehkan bermain gadget? Berapa lama anak dibolehkan bermain gadget? Inilah contoh aturan yang harus dijalankan dengan tegas. Kedua, edukasi sepanjang hari. Orang tua bukan hanya bisa melarang dan membatasi, melainkan harus mengedukasi. Inilah sisi yang membuat aturan menjadi seimbang dan dipahami. Anak-anak tidak hanya menerima dan menjalankan aturan, tetapi mengerti esensi dari aturan tersebut. Namun, yang harus mendapat perhatian lebih awal justru edukasi pada orang tua itu sendiri. Sebelum mengedukasi anak, orang tua harus sudah mengerti berbagai hal yang diperlukan dalam mengedukasi anak-anaknya. Di antara contoh edukasi yang harus diberikan kepada anak-anak terkait gadget adalah perbedaan orang dewasa dengan anak-anak. Sering muncul pertanyaan pada anak, "Mengapa ayah dan ibu boleh menggunakan gadget, sedangkan aku tidak boleh menggunakan?" Menghadapi pertanyaan seperti itu, orang tua harus menjawab dengan tepat. Tidak boleh menjawab secara asal-asalan atau sekadar menunjukkan kekuasaan sebagai orang tua dengan model jawaban “pokoknya”. Misalnya, “Pokoknya kamu tidak boleh”, atau “Pokoknya bapak dan ibu boleh”. Ketiga, gemarkan membaca buku dan berkegiatan kreatif. Dunia anak adalah berimajinasi, bermain dan berkreasi. Maka, larangan atau pembatasan penggunaan gadget harus disertai dengan penyaluran yang produktif. Agar tidak terjadi pemandulan potensi pada anak. Buat mereka gemar membaca buku atau ensiklopedia, sesuai usia mereka.


Selain dikondisikan untuk gemar membaca, anak juga harus diajak berkegiatan kreatif, sesuai dengan usia masing-masing. Untuk anak-anak balita, ada papan kegiatan yang mengasyikkan, semacam 'busyboard" atau yang lainnya. Untuk anak-anak usia SD, bisa diajak berkegiatan fisik yang lebih banyak, sehingga membuat badan mereka terolah dengan baik, serta waktu tergunakan secara positif. Untuk anak-anak remaja, bisa diajak melakukan kegiatan yang mengenalkan mereka kepada aneka industri kreatif, sehingga bisa mulai melakukan hal produktif dalam kehidupan. Keempat, ajak anak bersosialisasi. Catherine Steiner Adair, seorang peneliti di Harvard Medical School sekaligus penulis buku The Big Disconnect: Protecing Childhood and Family Relationship in The Digital Age menjelaskan kunci untuk mengatasi kecanduan gadget pada anak. “Anak-anak belajar dari bermain, terutama anak-anak prasekolah dan anak-anak usia dini, Untuk mengatasi kondisi ini, pastikan anak menghabiskan lebih banyak waktu untuk bermain dan belajar secara langsung bukan dari layar,” demikian ujar Adair. Sangat penting bagi anak untuk bersosialisasi terutama dengan teman sebaya. Maka, pilihkan beberapa teman bermain sebaya yang ada di sekitar rumah. Tidak sembarang teman, pilih berdasarkan kriteria tertentu, misalnya (a) orang tuanya sama-sama menghendaki anaknya bebas dari kecanduan gadget (b) umur sebaya (c) tempat tinggal berdekatan (d) bersedia mengikuti aturan. Satu sisi, ini adalah upaya untuk mengajarkan nilai-nilai sosial, pertemanan, sportivitas, kepedulian, dan lain sebagainya. Di sisi lain, ini yang membuat anak menjadi asyik satu dengan yang lainnya, dengan aktivitas fisik nyata. Bukan berkumpul untuk bermain gadget, bukan berkumpul untuk bermain game online, melainkan berkumpul untuk bermain sepeda keliling kampung, sepak bola di tanah lapang, futsal, dan lain sebagainya. Sesekali waktu berkumpul bersama di rumah untuk membaca ensiklopedi atau bermain menyusun lego. Semua aktivitas itu sangat mengasyikkan bagi mereka. Dengan empat aktivitas TEGA, insyaallah bisa membuat anak-anak terjauhkan dan tersembuhkan dari kecanduan gadget. Semoga sharing pengalaman ini ada manfaatnya.


Click to View FlipBook Version