TRANSFORMASI MEDIATISASI INFORMASI DAN
IMPLIKASINYA DI ERA DIGITAL
ORASI ILMIAH
Guru Besar Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Kristen Indonesia
Prof. Dr. Chontina Siahaan, S.H., M.Si
Gedung GWS Universitas Kristen Indonesia
Jakarta, 11 November 2022
TRANSFORMASI MEDIATISASI INFORMASI DAN
IMPLIKASINYA DI ERA DIGITAL
Orasi Ilmiah Pada Pengukuhan Sebagai Guru Besar Dalam Bidang
Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Kristen Indonesia
Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi Republik Indonesia No.59279/MPK.A/KP.07.01/2022
tentang Kenaikan Jabatan Akademik Dosen sebagai Guru Besar
(Profesor)
Penerbit: UKI Press
Anggota APPTI
Anggota IKAPI
Redaksi: Jl. Mayjen Sutoyo No.2 Cawang Jakarta 13630
Telp. (021) 8092425 Ext. 3488
Website: [email protected]
Toko UKI Press Digital: https://ukipressdigital.com
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN 3
TRANSFORMASI INFORMASI DI ERA DIGITAL 6
GELOMBANG MEDIATISASI 9
IMPLIKASI DEEP MEDIATIZATION 16
PENUTUP 24
UCAPAN TERIMA KASIH 26
DAFTAR PUSTAKA 36
DAFTAR RIWAYAT HIDUP 42
A. Data Pribadi 42
B. Riwayat Pendidikan 43
C. Riwayat Pekerjaan 44
D. Riwayat Kepegawaian 46
E. Kepengurusan dalam Organisasi Profesi 47
F. Penghargaan 49
G. Pembicara 50
H. Daftar Karya Ilmiah yang Dipublikasikan
sebagai Penulis Utama 55
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” i
I. Daftar Karya Ilmiah yang Dipublikasikan sebagai Penulis
Pembantu (Penulis Ke-2, dst) 61
J. Daftar Karya Ilmiah Berupa Buku sebagai
Penulis Utama 64
K. Daftar Karya Ilmiah Berupa Buku
sebagai Penulis Pembantu 64
L. Daftar Karya Ilmiah Berupa Buku
sebagai Penyunting/Editor 64
M. Co-Promotor 2 Disertasi Mahasiswa 65
N. Pembimbing Skripsi Penelitian Mahasiswa Sarjana Ilmu
Komunikasi Fisipol UKI 65
O. Ketua Penguji Skripsi Penelitian Mahasiswa Sarjana Ilmu
Komunikasi Fisipol UKI 73
P. Anggota Penguji Skripsi Penelitian Mahasiswa Sarjana
Ilmu Komunikasi Fisipol UKI 79
ii Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
Syalom,
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh,
Om Swastiastu,
Namo Budaya,
Salam Kebajikan,
Salam Pancasila.
Selamat pagi dan selamat datang di kampus UKI, kampus
kasih, kampus Bhinneka Tunggal Ika, kampus perjuangan dan
kampus unggul.
Yang saya hormati,
1. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik
Indonesia;
2. Kepala LLDIKTI Wilayah III Jakarta;
3. Ketua, Anggota Pengurus, dan Pembina Yayasan Universitas
Kristen Indonesia;
4. Rektor dan Wakil Rektor Universitas Kristen Indonesia;
5. Ketua dan Anggota Senat Akademik Universitas Kristen
Indonesia;
6. Ketua dan Anggota Dewan Guru Besar Universitas Kristen
Indonesia;
7. Para Guru Besar Universitas Kristen Indonesia dan para Guru
Besar Tamu;
8. Para Dekan dan Direktur Pascasarjana;
9. Para Wadek dan Wakil Direktur, Kaprodi, Kepala Biro dan
Kepala Lembaga di Lingkungan Universitas Kristen Indonesia;
10. Para dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa; serta
11. Para tamu undangan, keluarga, dan hadirin yang saya muliakan.
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 1
Pertama-tama, saya mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang
Maha Esa yang memberikan nafas kehidupan dan kesehatan kepada
saya, sehingga bisa berdiri di sini dan mendapatkan kesempatan
berharga untuk berkarya sebagai guru besar bidang Ilmu Komunikasi
di Universitas Kristen Indonesia. Ucapan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada
Yayasan dan Rektor Universitas Kristen Indonesia, yang dengan gigih
memotivasi dan mendorong saya untuk mencapai jenjang akademik
tertinggi di tingkat universitas yang senantiasa menjadi harapan dan
impian setiap dosen.
Dalam suasana yang hikmat dan berbahagia ini,
perkenankanlah saya menyampaikan orasi ilmiah dengan judul:
“Transformasi Mediatisasi Informasi dan Implikasinya di Era
Digital”.
2 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
Hadirin yang saya hormati,
PENDAHULUAN
Komunikasi merupakan jantung bagi kehidupan masyarakat,
bahkan salah satu aksioma komunikasi yang dikemukakan oleh Paul
Watzlawick, Janet Beavin, dan Don Jackson mengatakan bahwa
“manusia tidak dapat tidak berkomunikasi” (we cannot not
communicate) dalam (Gamble & Gamble, 2016). Oleh karena itu,
komunikasi merupakan nafas kehidupan bagi manusia, khususnya
pada saat berinteraksi dengan orang lain. Tanpa komunikasi, manusia
tidak dapat menyampaikan ide, dan pemikirannya, baik secara verbal
maupun nonverbal. Komunikasi ibarat darah yang mengalir di dalam
tubuh manusia. Komunikasi menjadi proses utama dalam
penyampaian informasi.
Dalam era industri 4.0, terjadi disrupsi dalam kehidupan
masyarakat, mulai dari cara memperoleh informasi, berbagi
informasi, mendistribusikan informasi, menyimpan informasi dan
juga menyalahgunakan informasi. Bahkan saat ini, informasi dan data
menjadi komoditas yang mahal (Kliwantoro, 2019). Informasi yang
benar, penting dan bermanfaat menjadi hal yang sulit diperoleh.
Sebagai contoh, informasi yang benar tentang peristiwa penembakan
Brigadir J. Hutabarat termediasi oleh kepentingan banyak orang dan
juga oleh kepentingan media. Banyak informasi yang beredar
mengenai kasus ini, bahkan beberapa di antaranya belum dapat
sepenuhnya dipertanggung-jawabkan. Dapat dikatakan bahwa apa
yang dulu dilakukan dalam memperoleh informasi, baik dari
keluarga, teman dan media konvensional, kini cenderung didominasi
oleh media digital. Media digital bisa difungsikan sebagai agen
perubahan dalam komunitas masyarakat. Oleh karena itu, informasi
merupakan produk yang sangat mahal ketika informasi itu dipahami
sebagai sesuatu yang benar, penting dan bermanfaat (triple filter test)
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 3
yang meliputi filter of truth, filter of goodness, dan filter of usefulness
sebagaimana dikemukakan oleh ilmuwan Socrates (Chen, 2021).
Informasi yang benar dan hoax sama-sama beredar melalui
media digital yang dapat menyesatkan orang yang tidak memahami
bagaimana memilah informasi yang benar dan objektif.
Ketidaktahuan seseorang tentang informasi menyebabkan mereka
terjebak dan mudah melakukan perintah yang terdapat dalam pesan
instan (Arifianto, 2019, p. 19). Dalam media digital, pengguna seolah-
olah tidak berdaya untuk menolak atau mengabaikan informasi yang
disajikan. Menurut hasil penelitian Katadata Insight Center (KIC) dan
Kominfo pada tahun 2020, sejumlah 30-60% orang Indonesia
terpapar hoax (Kominfo, 2020). Di sinilah urgensinya memahami
media digital dalam menyampaikan informasi sebagai bentuk
transformasi. Di bawah ini dapat kita lihat penggunaan media digital
di Indonesia.
Sumber : We Are Social dalam DataIndonesia.id (Mahdi, 2022)
4 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
Dalam era digital, media merupakan alat yang dapat
digunakan sesuka hati oleh penggunanya, seperti Facebook, Google,
Amazon. Demikian juga dengan penggunaan media sosial, seperti
Instagram, Twitter, Whatsapp, Line yang dapat menjadi bumerang
bagi penggunanya ketika tidak memahami pemakaian media sebagai
tools yang benar dan bertanggungjawab, baik dari segi konten
maupun cara pemakaiannya. Media bisa memediasi siapapun dalam
menyampaikan informasi. Kehadiran media digital ini mengakibatkan
terjadinya perubahan yang sangat cepat pada tataran seluruh
kehidupan manusia, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, budaya,
perdagangan, transportasi, dan lain-lain. Sebagai contoh, informasi
tentang Covid-19 tidak lagi secara langsung disampaikan oleh
pemerintah, tetapi sudah termediasi oleh media sosial, di mana
masing-masing orang dapat memperoleh informasi tanpa harus
menonton televisi dan membaca koran, semuanya tersedia di gawai
masing-masing.
Teknologi digital merupakan transformasi dari media
kontemporer yang lebih instan menyajikan berbagai informasi.
Misalnya, dalam penyampaian informasi seputar penanganan Covid-
19 dari pihak pemerintah, media berperan untuk memilah informasi
yang akan disampaikan, mana informasi yang harus ditonjolkan dan
mana informasi yang ditenggelamkan. Oleh karena itu, kehadiran
media digital menjadi suatu keniscayaan. Sebagai contoh, ketika hasil
Pemilu 2014 diberitakan oleh berbagai televisi, ada 2 versi calon
pemenang presiden, yaitu Prabowo dan Jokowi. Di Metro TV,
pemenang Pemilu adalah Jokowi, akan tetapi di TV One, pemenang
Pemilu adalah Prabowo. Keduanya mengklaim sebagai pemenang
dan dua-duanya merayakan kemenangannya (Ardiyanti, 2014).
Masyarakat yang menonton media televisi menjadi bingung,
informasi yang mana yang dapat dipercaya? Mengapa bisa terjadi
demikian? Itu bisa terjadi karena informasi termediasi oleh media.
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 5
Hadirin yang saya muliakan.
TRANSFORMASI INFORMASI DI ERA DIGITAL
Dunia sedang memasuki era revolusi industri 4.0, di mana
terjadi gabungan antara revolusi bio genetika, fisika dan cyber digital
(Purwani, 2021). Sebagian besar penduduk dunia dikepung dan
dikendalikan oleh perkembangan dunia digital (Junaedi, 2019).
Indonesia adalah negara yang menggiurkan bagi perusahaan platform
digital global. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling
konsumtif dalam bermedia sosial dan menggunakan gawai. Indonesia
secara global hanya diperhitungkan sebagai pasar produk teknologi
informasi dari negara lain, sebagai objek eksploitasi industri digital
global (Sudibyo, 2021) melalui kepemimpinan yang dekat dengan
rakyat dan membawa budaya masyarakat daerah ke taraf internasional
melalui budaya dan memajukan daerahnya, tidak pandang bulu
apakah yang melanggar aturan pejabat atau justru masyarakat kecil.
Digitalisasi terus berkembang dan masuk dalam hampir setiap
elemen kehidupan kita, tetapi Indonesia sebagai negara dunia ketiga,
memiliki indeks perkembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang
cukup rendah, yakni 0,694%. Salah satu yang berkontribusi terhadap
indeks SDM yang rendah adalah pembangunan infrastruktur yang
cenderung tidak merata ke seluruh wilayah Indonesia (World
Population Review, 2022). Namun demikian, ketika Covid-19
melanda Indonesia, kita dipaksa untuk siap beradaptasi dengan
teknologi digital, seperti penggunaan aplikasi pembelajaran jarak
jauh, aplikasi kesehatan, aplikasi berbelanja online, dan lain-lain.
Kondisi ini kemudian menciptakan kebiasaan baru (new normal)
dalam masyarakat yang meminimalisir interaksi tatap muka (face to
face) menjadi face to electronic. Istilah-istilah work from home
(WFH) dan work from office (WFO) menjadi penanda adanya
transformasi dalam penggunaan media akibat pandemi Covid-19
6 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
(Keputusan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1096
Tahun 2021 Tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan
Masyarakat Level 3 Corona Virus Disease 2019, 2021).
Ketika penyebaran pandemi Covid-19 semakin meningkat di
Indonesia (Susilawati et al., 2020), upaya pemerintah untuk mencegah
penyebaran Covid-19 tidak lagi hanya dilakukan melalui press
conference atau press release, tetapi juga melalui media sosial.
Presiden sendiri beserta menteri-menterinya juga menggunakan
media sosial sebagai sarana untuk menyampaikan informasi terkait
Covid-19 dan pencegahannya. Selain pemerintah, aktor-aktor juga
ikut memproduksi dan menyebarluaskan informasi terkait Covid-19.
Aktor-aktor ini bisa berasal dari media, politikus, masyarakat umum,
tenaga kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia, relawan, serta ilmuwan
Lembaga Eijkman. Eksistensi aktor-aktor ini berpengaruh dalam
menentukan informasi-informasi mana saja yang dianggap benar.
Aktor ini juga menentukan media apa yang dipilih dalam
menyampaikan informasi, demikian juga dalam pemilihan
penggunaan media massa atau media digital (Hepp, 2013).
Informasi-informasi yang disampaikan oleh aktor-aktor ini
terkadang tidak konsisten, sehingga mempengaruhi respon
masyarakat dalam menangani Covid-19. Misalnya, informasi yang
disampaikan oleh Menteri Kesehatan pada awal Maret 2020 yang
mengatakan bahwa hanya orang sakit yang perlu memakai masker,
sedangkan orang sehat tidak perlu memakai masker. Untuk
mengonfirmasi kebenaran, media langsung menghadirkan aktor-aktor
seperti mewawancara Menteri Kesehatan, pihak dari Ikatan Dokter
Indonesia (IDI), pengacara, polisi, mantan Menteri Kesehatan dan
lain-lain, dengan framing informasi yang berbeda-beda sesuai logika
media dan aktor. Dalam masalah Covid-19 ini kemudian ditemukan
solusi tentang koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah harus
berjalan harmonis agar tidak menimbulkan kerancuan data, apalagi
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 7
jika melihat aparatur pemerintah yang tidak mematuhi aturan yang
dibuat (Siahaan & Komsiah, 2020). Hal ini dapat terjadi akibat
meningkatnya kebutuhan masyarakat mengenai informasi tentang
pandemi Covid-19 yang tidak disertai dengan kesiapan aktor-aktor
politik untuk beradaptasi dengan kecepatan persebaran informasi
yang tentunya memiliki dampak-dampak tertentu.
Kondisi yang seperti ini sangat membingungkan masyarakat
untuk mengetahui mana informasi yang benar dan mana informasi
yang tidak benar. Dengan banyaknya penyampai informasi yang
berseliweran di linimasa, maka yang terjadi kemudian adalah chaotic
information. Kondisi ini dapat terjadi bukan hanya karena proses
mediasi, yakni proses transmisi pesan, baik lisan maupun tulisan
lewat media, tetapi sudah menjadi proses mediatisasi, di mana
komunikasi yang dimediasi berubah menjadi mediatisasi ketika
mediasi yang sedang berlangsung membentuk perubahan jangka
panjang dalam lingkungan sosial, budaya, atau politik (Hjarvard, The
Mediatization of Culture and Society, 2013).
Berdasarkan uraian tersebut, mediatisasi dapat dipahami
sebagai perubahan. Hal ini karena proses jangka panjang dari
perubahan sosiokultural bersifat mendalam atau bertahan lama,
mereka mungkin lebih dicirikan sebagai transformasi daripada hanya
sebagai "perubahan". Perbedaannya kemudian tampak cukup jelas,
mediasi di sini dipahami sebagai komunikasi termediasi reguler yang
dapat dibentuk dalam proses remediasi, karena setiap tindakan
mediasi tergantung pada tindakan mediasi lainnya. Media terus
mengomentari, mereproduksi, dan menggantikan satu sama lain
(Couldry & Hepp, 2016), sedangkan mediatisasi adalah tahap
selanjutnya dari proses mediasi, di mana hal ini dapat mengubah
tatanan kebiasaan sosial. Ciri khas inilah yang melekat dalam semua
komunikasi yang dimediasi.
8 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
Dewan Guru Besar yang saya hormati,
GELOMBANG MEDIATISASI
Mediatisasi bukanlah terminologi baru, karena sejak abad 20
sudah dapat ditelusuri. Salah satunya, penelitian Ernst Manheim
(1933) yang menulis tentang mediatisasi hubungan manusia secara
langsung dan membedakan konsep “mediatisasi” dan “mediasi”
(Asih, 2022). Menurut Roger Silverstone bahwa “mediasi” sebagai
pergerakan makna dari satu teks ke teks lainnya, dari satu wacana ke
wacana lainnya, dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya (Silverstone,
2002). Mediasi adalah konsep untuk berteori tentang proses
komunikasi secara menyeluruh, sedangkan mediatisasi adalah istilah
yang lebih spesifik untuk berteori tentang perubahan terkait media.
Couldry dan Hepp (2016: 48) berpendapat bahwa sejarah
mediatisasi selama lima hingga enam abad terakhir dapat dipahami
dalam tiga gelombang berturut-turut dan tumpang tindih, di mana
model komunikasi telah berkembang dan keterkaitannya menjadi jauh
lebih kompleks (Couldry & Hepp, 2016). Gelombang tersebut adalah
gelombang mekanisasi, gelombang elektrifikasi dan gelombang
digitalisasi. Namun bila dilihat dari perpektif mediatisasi media dan
politik, Strömbäck (2008) membagi perjalanan mediatisasi dalam
konteks media dan komunikasi politik menjadi empat fase yang
dibagi berdasarkan hubungan antara logika politik dan logika media
yang saling mempengaruhi di setiap fase dan berkembang seiring
berjalannya fase tersebut (Strömbäck, 2008). Gelombang atau fase,
baik yang melihat dalam perspektif kehidupan sosial ataupun media
dan politik, sebenarnya berjalan dalam waktu yang kurang lebih sama,
hanya saja pembabakannya memiliki pertanda yang berbeda.
Gelombang pertama disebut sebagai gelombang mekanisasi
ini melibatkan peningkatan koeksistensi dan pengaruh bersama antara
media cetak mekanis dengan manuskrip tulisan tangan dan media
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 9
lainnya, yang berarti gelombang mediasi yang kemudian berdampak
pada lingkungan media yang menjadi lingkungan mekanis (Couldry
& Hepp, 2016). Era media massa cetak menjadi fundamental bagi
lingkungan media karena mengubah keterkaitan media lain, sebuah
perubahan yang harus dipahami dalam konteks yang lebih luas.
Mekanisasi media ini adalah varian spesifik dari bentuk mekanisasi
dari seluruh elemen kehidupan masa itu. Meskipun jelas bahwa
mekanisasi mengubah lingkungan media secara substansial, dari sini
dapat dipahami bahwa konstruksi komunikatif dunia sosial
ditransformasikan secara homogen. Dalam banyaknya transformasi
ini, mekanisasi membantu mempertebal ruang komunikatif yang lebih
luas dengan mengintensifkan komunikasi trans-lokal atau sesuatu
yang dicerminkan oleh konsep 'ruang publik' (dimediasi) (Couldry &
Hepp, 2016).
Namun bila dilihat melalui perspektif media dan politik di
Indonesia, perkembangan mediatisasi dalam mempengaruhi media
dan politik pada masa ini merupakan masa di mana mediatisasi mulai
membentuk media dan kehidupan politik. Seperti yang terjadi pada
era demokrasi terpimpin atau pada awal kemerdekaan, terjadi
peristiwa pergeseran dari “jurnalisme politik ke politik jurnalistik”
(Lase, 2020). Hal ini ditandai dengan pers yang melayani perjuangan
politik, atau media yang bangga menjadi partisan politik. Selanjutnya,
perkembangan pers pada masa itu ditandai oleh pemformalan yang
dilakukan oleh Kementrian Penerangan yang menjadi regulator pers.
Pada waktu itu, pers secara tidak terselubung digunakan untuk
kepentingan politik penguasa dan partai politik untuk membingkai
dan mempengaruhi opini publik. Tentu hal ini dekat dengan apa yang
digambarkan oleh Strömbäck (2008) untuk menjelaskan fase pertama
mediatisasi pada media dan politik, yakni tahap pertama mediasi
tercapai ketika media massa dalam keadaan tertentu merupakan
sumber informasi dan saluran komunikasi yang paling penting antara
10 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
masyarakat dengan lembaga dan aktor politik, seperti partai politik,
lembaga pemerintah, atau kelompok kepentingan politik.
Oleh karena itu, ketika politik telah mencapai tahap pertama
mediasi, penggambaran realitas yang disampaikan oleh media
akhirnya berdampak, seperti pada bagaimana orang memandang
realitas dan persepsi ini bisa dibilang penting ketika orang
membentuk opininya. Hal ini memaksa komunikator politik untuk
membawa media ke dalam pertimbangan ketika mencoba membentuk
opini atau bereaksi terhadap opini publik, yang mengarah pada
setidaknya beberapa dampak logika media pada aktor institusional
atau di media yang dikendalikan oleh institusi politik, seperti partai
politik. Namun, secara umum, tingkat independensi media dari aktor
institusional cenderung rendah pada fase pertama mediasi
(Strömbäck, 2008).
Setelah melalui gelombang pertama, mediatisasi masuk pada
gelombang kedua, yaitu elektrifikasi. Gelombang eletrifikasi ini
mengubah seluruh lingkungan media dan mengubah kebiasaan yang
sebelumnya masih berupa percetakan mekanis, berubah ke tingkat
reproduksi yang lebih tinggi. Elektrifikasi tidak dapat dikaitkan pada
satu inovasi teknologi media seperti gelombang sebelumnya, tetapi
pada gelombang ini ditandai dengan banyaknya inovasi yang penting,
seperti, telegraf, telepon, gramofon, dan kaset audio, yang
berhubungan dengan film, radio, dan televisi. Gelombang
'elektrifikasi' yang dimaksud di sini adalah transformasi media
komunikasi menjadi teknologi dan infrastruktur berbasis transmisi
elektronik. Dalam elektrifikasi, berbagai macam media semakin
tertanam dalam jaringan teknologi yang lebih luas (Couldry & Hepp,
2016). Pada gelombang ini juga terjadi perubahan pada media dan
kehidupan politik, yaitu media menjadi lebih independen dari
pemerintah atau badan politik lainnya, dan akibatnya, mulai diatur
menurut logika media, daripada menurut logika politik apapun. Pada
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 11
fase ini, media dimaknai sebagai organisasi yang lebih otonom,
pengaruh media pada tingkat institusional meningkat. Dengan
demikian, logika media menjadi lebih penting bagi mereka yang
berusaha mempengaruhi media dan isinya (Strömbäck, 2008, 237).
Di Indonesia sendiri, gelombang ini sangat terasa pada
perkembangan pertelevisian Indonesia yang pelan-pelan
bermunculan dan diawali oleh televisi milik negara, yakni TVRI.
Televisi Republik Indonesia (TVRI) memulai sejarah pertelevisian di
Indonesia dengan melakukan siaran sebagai stasiun televisi pertama
Indonesia yang dilakukan pada 17 Agustus 1962 bertepatan dengan
HUT Republik Indonesia. Setelah itu, TVRI kembali menyiarkan
siaran secara langsung, seperti upacara pembukaan Asian Games
yang keempat dari Stadion Gelora Bung Karno pada 24 Agustus 1962,
yang hingga kini diperingati sebagai hari ulang tahun TVRI.
Memasuki tahun 1980, TVRI memperkenalkan TVRI nasional dan
TVRI lokal dengan berbagai saluran dan konten lokal dari beberapa
provinsi di Indonesia. Ditandai adanya perkembangan ini
menimbulkan peluang hadirnya beberapa stasiun televisi baru swasta,
seperti RCTI, SCTV, TPI, Indosiar, ANTV, TransTV, MetroTV,
GlobalTV, Lativi dan TV7 (Gultom, 2018). Namun, hal ini tidak
berarti bahwa media massa dapat sepenuhnya bebas dari pengaruh
politik. Maka dari itu, jika dilihat dari perspektif sistem sosial,
hubungan antara media massa, politik, dan kelompok lain menjadi
interaktif, sehingga bisa dicirikan melalui sifat saling ketergantungan.
Pada fase ini, media tidak memiliki independensi total, dan media
harus selalu beroperasi dalam batas-batas yang ditetapkan oleh badan
legislatif dan peraturan institusi politik (Strömbäck, 2008).
Momen-momen bersejarah ini kemudian menunjukkan
bagaimana dengan adanya ‘elektrifikasi’ yang merupakan bagian dari
perkembangan teknologi ini kemudian membuat seluruh lingkungan
media berubah. Pada masa ini media baru mulai bermunculan, tetapi
12 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
media lama belum ditinggalkan. Oleh karena itu, pers juga mengalami
perubahan. Berdasarkan pernyataan dari Couldry dan Hepp (2016),
gelombang elektrifikasi bisa dikatakan sebagai pemicu perubahan
yang mendalam dari seluruh lingkungan media dalam urutan dari
inovasi teknologi media (Couldry & Hepp, 2016). Hal ini karena kita
merefleksikan pada rangkaian peristiwa tentang sejarah pertelevisian
di Indonesia setelah era tersebut, masih ada kemunculan stasiun
televisi lainnya, baik stasiun televisi baru maupun stasiun televisi
yang berganti wajah, seperti Lativi menjadi TVone, TV7 menjadi
Trans7, NetTV, dan beragam TV lokal di masing-masing daerah, di
mana televisi-televisi ini yang kemudian menjadi pelopor penyiaran
secara digital di Indonesia (Gultom, 2018).
Berbeda dengan perkembangan mediatisasi di luar negeri
yang cenderung lebih bertahap dan terjadi dalam fase-fase yang
sejalan dengan perkembangan teknologi pada waktu itu. Di Indonesia,
perkembangan teknologinya cenderung terlambat akibat keterbatasan
informasi, sehingga perkembangan mediatisasi yang terjadi di
Indonesia cenderung memiliki jangka waktu yang berdekatan, karena
berusaha mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain di Eropa
dan Amerika. Hal ini ditandai dengan masuknya gelombang
mediatisasi ketiga yang jaraknya cenderung berdekatan dengan
gelombang kedua, bila dibandingkan dengan negara-negara di Eropa
dan Amerika yang memakan waktu puluhan tahun.
Pada gelombang ketiga yaitu digitalisasi terkait dengan
munculnya komputer, internet, dan telepon seluler (Couldry & Hepp,
2016). Indonesia cenderung lebih terlambat terkena gelombang ini,
karena hal-hal penting pada gelombang ini seperti komputer, internet,
dan telepon sempat menjadi barang yang mewah bagi masyarakat
Indonesia, karena harganya yang mahal, sehingga tidak semua orang
bisa memilikinya saat itu. Hal ini membuat mediatisasi yang terjadi
pada zaman itu tidak secepat sekarang, karena harga-harga komoditas
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 13
tersebut mulai murah dan mudah didapat. Langkah penting dalam
gelombang ini ditandai oleh pengembangan ponsel pintar dengan
kemampuan yang tidak digunakan hanya untuk berkomunikasi, tetapi
juga untuk melakukan transaksi, seperti: mentransfer uang, mengirim
barang/makanan, transaksi jual beli barang, makanan, dan
sebagainya.
Selain kemunculan ponsel pintar dengan harga yang relatif
murah dan bisa didapat oleh sebagian besar masyarakat, gelombang
digitalisasi juga melibatkan kemunculan berbagai jenis situs web baru
yang menyediakan platform bagi ratusan juta pengguna untuk
berjejaring satu sama lain, tetapi dalam parameter bentuk dan
manajemen konten yang dirancang oleh pemilik platform tersebut.
Inilah yang kemudian disebut sebagai jaringan media sosial. Di
Indonesia sendiri, peristiwa ini muncul ketika jejaring sosial, seperti
Facebook, mulai merambah ke masyarakat, walaupun sebelumnya
sudah terdapat media sosial lainnya. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri
jumlahnya tidak sebanyak Facebook, seperti yang ditulis oleh
Wahono (2011) yang menyebutkan bahwa pengguna Facebook di
Indonesia tumbuh delapan ribu persen lebih (8.223,2%). Bila pada
bulan September 2008 jumlahnya hanya 322 ribu pengguna, pada
September 2010, angka tersebut naik menjadi 26,8 juta pengguna.
Sekarang, angkanya mencapai 129,85 juta per Januari 2022 dan
menempatkan Indonesia sebagai negara terbesar ketiga dalam
penggunaan Facebook (Widi, 2022). Tentu peristiwa ini kemudian
bisa menjadi titik di mana terlihat bahwa internet yang merupakan
salah satu elemen penting terjadinya gelombang digitalisasi ini mulai
bisa dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.
Penemuan internet ini kemudian menjadi awal di mana fase
ketiga mediatisasi dalam media dan politik. Media terus menjadi
sumber informasi dan saluran komunikasi yang dominan di berbagai
lapisan masyarakat. Berdasarkan pemahaman tersebut, maka yang
14 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
membedakan fase ketiga dari fase kedua adalah independensi media
semakin meningkat, dan media dalam kegiatan produksi
jurnalistiknya sehari-hari telah menjadi sangat independen dan
penting, sehingga aktor politik maupun aktor sosial lainnya harus
beradaptasi dengan media, bukan sebaliknya. Hal ini terjadi karena
pada fase ini media lebih banyak diatur oleh logika media daripada
logika politik dalam bentuk apapun, dan dalam fase ini para aktor
politik harus menerima bahwa mereka tidak bisa lagi leluasa
mengandalkan media untuk mengakomodasi mereka (Strömbäck,
2008).
Secara lebih umum digitalisasi ini terjadi melibatkan
pendalaman lebih lanjut baik dalam keterhubungan infrastruktur, di
mana praktik media bergantung pada beberapa hal misalnya, media
digital sekarang bergantung pada pengembangan wi-fi dan layanan
data seluler (Karman, 2013). Lingkungan media semakin dicirikan
oleh 'konvergensi' yang ditandai dengan kemunculan media-media
yang sebelumnya berfokus pada media elektronik atau bahkan cetak,
kini mulai merambah digital dengan mempublikasi produk
jurnalistiknya secara online, sehingga kemudian dikenal sebagai
media online, di mana proses publikasinya juga memanfaatkan
jaringan media sosial. Proses produksi media di jejaring media sosial
ini memiliki ciri khas yang cukup kontras dengan media yang
dipublikasi melalui kanal lain, yakni keterlibatan masyarakat untuk
mengomentari produk-produk jurnalistik yang dipublikasi.
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 15
Hadirin yang saya muliakan
IMPLIKASI DEEP MEDIATIZATION
Seperti yang telah diuraikan, terlihat bahwa proses mediatisasi
terjadi dalam suatu proses panjang yang bisa diidentifikasi melalui
beberapa peristiwa yang terjadi di Indonesia. Pada awal tulisan ini,
telah diuraikan mengenai keadaan yang kita hadapi saat ini berkaitan
dengan mediatisasi, yakni setiap sendi kehidupan yang dimediatisasi
oleh berbagai jenis teknologi dan digitalisasi. Apakah keadaan yang
kita hadapi saat ini berkaitan dengan gelombang ketiga, digitalisasi?
Andreas Hepp dan Nick Couldry (2017) memberikan suatu konsep
yang menyatakan gelombang atau tahap selanjutnya dari mediatisasi
setelah gelombang digitalisasi, yakni ‘deep mediatization’ (Couldry
& Hepp, 2016). Mediatisasi yang lebih mendalam bisa dimaknai
sebagai proses yang bisa menjelaskan keadaan yang kita hadapi saat
ini di tengah pandemi Covid-19, karena untuk memahami mediasi,
kita harus memahaminya sebagai proses pendalaman yang semakin
dalam (deepening) dari ketergantungan terhadap teknologi (Couldry
& Hepp, 2016). Di samping itu, media menjadi semakin berpengaruh,
terutama pada pembentukan jenis budaya dan lingkungan sosial baru
yang menjadi tempat kita hidup, hal ini terjadi karena peran media
yang berubah menimbulkan kondisi saling ketergantungan manusia
terhadap teknologi ini.
Pada fase keempat dari mediatisasi dicapai ketika aktor politik
dan sosial lainnya tidak hanya beradaptasi dengan logika media dan
nilai berita yang dominan, tetapi juga menginternalisasinya. Jika aktor
politik pada fase ketiga beradaptasi dengan logika media, mereka
mengadopsi logika media yang sama pada fase keempat. Dengan
demikian, pada fase keempat, media dan logikanya dapat dikatakan
menjajah politik (Strömbäck, 2008). Berdasarkan pernyataan ini
kemudian dapat dipahami pada masa fase keempat seperti yang saat
16 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
ini sedang kita alami, media merupakan hal yang menjadi kebutuhan
utama di tengah masyarakat, khususnya dalam fenomena pandemi
Covid-19, media menjadi sangat penting sebagai sarana masyarakat
untuk memperoleh informasi.
Dalam proses mediatisasi mendalam (deep mediatization)
terjadi banyak perubahan. Faktor utama yang mendasari perubahan
ini adalah mendalamnya pengaruh yang diberikan oleh teknologi
(Couldry & Hepp, 2016). Berdasarkan pernyataan ini, dapat dipahami
bahwa tingkat keterkaitan teknis media telah meningkat pesat bila
dibandingkan periode gelombang mekanisasi ke elektrifikasi, dan
semakin meningkat lagi pada periode gelombang elektrifikasi ke
digitalisasi.
Hadirin yang saya muliakan,
Keterkaitan antar media yang dimaksud di sini membawa kita,
mau tidak mau meningkatkan saling ketergantungan antara kita
sebagai aktor (individu, kolektif, organisasi) yang menggunakan
media dengan berbagai tujuan dan alasan, tidak terkecuali untuk
saling terhubung dan berinteraksi. Transformasi media ini kemudian
memberikan titik awal bagi transformasi tatanan sosial (social
structure) (Couldry & Hepp, 2016). Berdasarkan pernyataan ini,
dapat dipahami bahwa konsekuensi dari semua ini adalah suatu proses
sosial dan kemungkinan perubahan tatanan sosial. Perubahan yang
berkaitan dengan kedalaman ketergantungan masyarakat terhadap
teknologi inipun dapat kita rasakan di Indonesia. Sebagai gambaran
yang mudah untuk dipahami, pada masa pandemi Covid-19, di mana
informasi termediasi oleh aktor, baik individu, kolektif, dan
organisasi masyarakat dan pemerintah yang dapat dilihat ketika
Kominfo mengatakan bahwa hanya orang sakit yang menggunakan
masker. Maka media, aktor, organisasi saling berebut dalam
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 17
memberikan informasi. Pada masa di mana teknologi smartphone
belum mendominasi seperti sekarang, alat-alat seperti jam tangan
mewah, uang tunai, dan sebagainya menjadi barang yang cukup
penting bagi hampir setiap orang. Setelah adanya smartphone yang
sekaligus bisa berfungsi menggantikan barang-barang tersebut, di luar
fungsi utamanya, yakni sebagai alat komunikasi, membuat orang
menjadi ketergantungan dengan smartphone ini, sehingga kehilangan
telepon genggam di masa lalu, dan kehilangan telepon genggam di
masa sekarang memiliki perasaan yang berbeda, mengingat
banyaknya data yang berada dalam sebuah alat tersebut.
Mediatisasi mendalam tidak hanya sebatas ketergantungan
dalam penggunaan smartphone, akan tetapi terdapat pengaruh yang
lebih mendalam dalam proses ini. Mediatisasi mendalam, seperti yang
sebelumnya disebutkan, berproses secara non-linier, sehingga kita
tidak bisa lagi memahami pengaruh 'media' di sini sebagai pengaruh
yang terpisah dengan kehidupan sosial. Oleh karena itu, jika kita
memperhatikan proses mediatisasi mendalam ini, kita akan lebih
tertarik pada kehadiran proses di semua media atau sebagian besar
wilayah kehidupan sosial sehari-hari. Sebagai proses masif yang
dapat mengubah struktur kehidupan sosial, deep mediatization ini
memiliki implikasi yang juga besar, seperti yang diungkapkan oleh
Couldry dan Hepp (2017) yang mengkategorikan tiga implikasi
mendasar dari mediatisasi mendalam yang menjelaskan argumen-
argumen di atas, tiga implikasi ini adalah, rekursif yang mendalam,
pelembagaan yang diperluas, dan refleksivitas yang intensif (Couldry
& Hepp, 2016).
Pada implikasi yang pertama, dalam kondisi mediatisasi yang
mendalam, baik proses sosial maupun media menjadi sangat rekursif.
Rekursif adalah istilah dari logika dan ilmu komputer yang
menunjukkan bahwa sebuah aturan yang diterapkan kembali ke
entitas yang menghasilkan aturan tersebut (Kelty, 2008). Sebagai
18 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
gambaran, saat ini banyak bentuk kegiatan yang sekarang melibatkan
penggunaan perangkat lunak (software), dan perangkat lunak itu
sendiri melibatkan kegiatan rekursif, yaitu sebagai bentuk simbolik
yang menyatu dalam formasi jaringan yang luas, sehingga dapat
menimbulkan hubungan antar pelaku dalam perangkat lunak tersebut.
Oleh karena perangkat lunak harus berfungsi dalam ruang koneksi
yang lebih luas, maka tindakan sederhana sekalipun yang tampaknya
dilakukan oleh aktor sosial bergantung pada banyaknya tingkat
rekursif tersebut. Penggunaan jaringan dan perangkat lunak yang
mendalam ini kemudian menjadi fitur yang umum dari kehidupan
sosial yang semakin bergantung pada media digital, seperti
infrastruktur dan sebagainya, dan waktu yang kita habiskan dengan
menggunakan perangkat-perangkat lunak ini menjadi cukup lama
(Couldry & Hepp, 2016).
Ketergantungan yang mendalam terhadap teknologi data
rekursif ini bisa sangat terasa ketika media-media, seperti aplikasi
ataupun alat-alat penunjang teknologi ini rusak atau kita kehilangan
koneksi internet atau kata sandi yang dibutuhkan dalam suatu aplikasi
terlupakan, sehingga tidak dapat mengunduh perangkat lunak versi
terbaru yang diperlukan oleh suatu perangkat yang ingin digunakan
untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Dalam keadaan ini, pasti
terjadi tekanan secara psikologis yang menimbulkan kesan bahwa
teknologi tersebut adalah hal yang utama. Bila dilihat dalam
perspektif mediatisasi yang mempengaruhi hubungan antara media
dan kehidupan politik, dapat terlihat bahwa pada fase mediatisasi
tahap ke empat dan dalam lingkup deep mediatization mempengaruhi
aktor politik, dalam hal ini institusi pemerintahan, yang harus
mengubah caranya dalam melakukan komunikasi politiknya agar
sesuai dengan media yang akan menjadi salurannya.
Sebagai gambaran, semenjak pandemi Covid-19, pemerintah
mengembangkan suatu aplikasi (software) yang dapat berfungsi untuk
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 19
mengkampanyekan program pemerintah, yaitu PeduliLindungi dan
eHac. Hampir setiap ruang publik dibatasi dengan menggunakan
aplikasi ini, di mana masyarakat yang akan memasuki kawasan
fasilitas publik dan fasilitas umum harus melakukan check in dengan
menggunakan kedua aplikasi ini. Hal ini juga berlaku pada
masyarakat yang akan melakukan perjalanan ke luar kota
menggunakan moda transportasi, baik udara, darat maupun laut.
Berdasarkan gambaran tersebut, terlihat bahwa setiap kegiatan
masyarakat sangat bergantung pada aplikasi-aplikasi tersebut. Maka
ketika aplikasi tersebut mengalami kerusakan, seperti yang terjadi
pada 5 September 2021, di mana aplikasi-aplikasi tersebut mengalami
server down, alhasil menimbulkan kerumunan di beberapa stasiun
KRL di Jabodetabek, serta menghambat penerbangan (Perdana,
2021).
Implikasi yang kedua dari mediatisasi mendalam terjadi pada
tingkat keterkaitan media dan keterkaitan sosial dasar, sehingga
memiliki implikasi bagi tatanan sosial yang lebih luas. Implikasi bagi
tatanan sosial yang lebih luas yang dimaksud di sini adalah proses
pelembagaan yang diperluas. Aktor (individu, kolektif, organisasi)
dalam kehidupan sosial yang dapat dianggap sebagai diskrit yaitu hal
yang tadinya mampu bertindak secara relatif mandiri, namun kini
menjadi bergantung di era digital. Untuk melakukan operasi dasar
mereka dan berfungsi pada infrastruktur media yang lebih luas,
dipasok dan dikendalikan oleh jenis kekuatan institusional baru,
seperti mesin pencari, agregator data, pemasok ‘cloud services’, dan
sebagainya (Couldry & Hepp, 2016). Di bawah kondisi ini, ruang
sosial ditumpangi oleh jalinan hubungan yang hampir tidak mungkin
untuk dilepaskan, karena melibatkan aktor di setiap bidang.
Transformasi ini sangat bermotivasi terjadi bukan tanpa alasan,
namun terdapat faktor-faktor yang kemudian memotivasi terjadinya
transformasi ini, karena dengan adanya transformasi ini kemudian
20 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
dapat memberikan sumber pendapatan dan keuntungan yang baru bila
dilihat dari sisi penyediaan infrastruktur milik pribadi yang
digerakkan secara komersial yang memungkinkan tidak hanya aspek
kehidupan material saja yang terdampak, tetapi juga ruang material
dari kehidupan sosial itu sendiri. Transformasi ini kemudian
menciptakan suatu konstruksi sosial yang saya sebut sebagai logika
papan catur atau chessboard logic.
Logika papan catur ini atau chessboard logic muncul ketika
media, aktor politik dan aktor sosial lainnya saling memainkan peran
masing-masing dalam mengalahkan lawan. Dalam papan catur ini,
bidak-bidak adalah para aktor di mana masing-masing aktor memiliki
kekuatan yang tidak sama, akan tetapi memiliki peluang yang sama
untuk menyerang lawan. Ada proses menyerang (attack) aktor lawan
politik atau menyasar kelemahan lawan untuk memenangkan
permainan.
Thematic framing (Hepp, 2013) dalam logika papan catur
disebut sebagai notation, yaitu metode pencatatan langkah-langkah
catur yang berfungsi sebagai pemandu tindakan. Sebagai gambaran
yang mudah untuk dipahami pada masa pandemi Covid-19, aktor,
baik individu, kolektif, organisasi, masyarakat, dan pemerintah
memilih dan menyeleksi isu dan informasi tertentu untuk digunakan
sebagai amunisi menyerang lawan politik. Isu-isu dan informasi yang
digunakan sebagai panduan bagi para aktor, baik untuk menyerang
maupun bertahan dari posisinya. Sebagai contoh, ketika Menteri
Kesehatan, Terawan mengatakan bahwa hanya orang sakitlah yang
perlu menggunakan masker, sedangkan orang sehat tidak perlu.
Pernyataan ini dipahami bukan semata-mata sebagai upaya untuk
menyelamatkan masyarakat dari kekisruhan kelangkaan masker,
tetapi juga sebagai bentuk pertahanan (defense) dari serangan
masyarakat terkait penanganan Covid-19.
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 21
Aktor-aktor menggunakan media yang bervariasi ketika
mengomentari pendapat Menteri Kesehatan, Terawan, baik melalui
media konvensional, media mainstream, dan media digital. Selain
Terawan, aktor juga menghadirkan aktor lain yang memberi
komentar, baik yang kontra maupun yang pro terhadap pernyataan
Terawan. Seperti menghadirkan mantan Menteri Kesehatan, Siti
Fadilah Supari, Ikatan Dokter Indonesia, Lembaga Eijkman, dan
dokter-dokter sebagai tenaga kesehatan.
Implikasi ketiga, salah satu karakteristik mendasar dari
mediatisasi mendalam adalah bahwa terdapat reaksi yang khas
terhadap efek samping yang bersifat negatif yang bukan dijadikan
alasan menarik diri dari mediatisasi ini. Ketika transformasi terjadi,
hubungan timbal balik dari media dan kehidupan sosial meningkat di
sepanjang dimensi. Refleksivitas diri di dunia yang ditandai dengan
munculnya 'mediasi segalanya' yang diperkenalkan oleh Livingstone
membuat kehidupan menjadi semakin terbuka terhadap kecemasan
yang timbul akibat mediatisasi ini (Livingstone, 2011), sehingga
menyebabkan peristiwa yang disebut sebagai pergeseran normatif
(normative turn) (Couldry & Hepp, 2016). Pergeseran normatif
membawa perubahan praktis. Media sebagai sarana komunikasi
teknologi dikembangkan dan diperkenalkan oleh beberapa bentuk
pra-perencanaan dan melibatkan refleksi. Tetapi, pada saat
refleksivitas diri mediasi mendalam melangkah lebih jauh, yakni pada
tingkat penggunaan media sehari-hari, orang memiliki kesadaran
praktis tentang kekhususan media yang berbeda dan memilih dari
berbagai media yang sesuai.
Refleksivitas dalam mediatisasi ini menghasilkan beberapa
aspek yang muncul karena transformasi ini salah satunya adalah
datafikasi yang menawarkan peluang untuk refleksivitas baru yang
terukur melalui data berkelanjutan yang dihasilkan individu. Ini
adalah aspek yang sangat didorong oleh kebutuhan industri media dan
22 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
data itu sendiri, dan membawa konsekuensi yang juga sangat berbeda
dari sebelumnya terkait dengan refleksivitas. Hal ini juga bisa kita
lihat dalam praktik penggunaan aplikasi PeduliLindungi di masa
PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) untuk
mengatasi lonjakan kasus positif virus Covid-19 di Indonesia,
khususnya wilayah Jawa-Bali. Selain itu juga beberapa rumah sakit,
baik swasta maupun milik pemerintah juga mengembangkan aplikasi
serupa untuk bisa melakukan layanan, sehingga orang-orang yang
tidak membuat janji melalui aplikasi tidak bisa menerima layanan dari
rumah sakit tersebut. Dari peristiwa ini kemudian dapat terlihat bahwa
ada pergeseran normatif yang terjadi akibat mediatisasi yang terjadi
secara mendalam, di mana sebelumnya beberapa hal yang seharusnya
bisa dilakukan tanpa harus melalui teknologi kini harus melalui
aplikasi yang menjadi saluran yang harus dilalui jika ingin
mendapatkan pelayanan tersebut.
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 23
PENUTUP
Hadirin yang saya hormati,
Periodisasi mediatisasi sudah muncul sejak enam abad yang
lalu dan sekarang kita berada pada gelombang digitalisasi dan
mediatisasi mendalam (deep mediatization), di mana data-data dari
seluruh aspek kehidupan kita dengan sangat mudah dapat diakses dan
disalahgunakan melalui media digital. Hal yang menyangkut pribadi
kita tidak lagi merupakan privasi, tetapi sudah terekspos luas dan
dimanfaatkan oleh pihak lain. Transformasi di bidang kehidupan kita
mengalami perubahan, seperti memasuki ruang publik, mau tidak
mau dan suka tidak suka harus menggunakan aplikasi media.
Era digitalisasi merupakan era di mana hidup kita senantiasa
terkoneksi dengan media digital yang mengharuskan kita tunduk dan
melakukannya. Indonesia kini berada pada fase keempat mediatisasi
mendalam di mana manusia tidak lagi mampu menentukan pola
hidupnya, tetapi media yang sudah menentukan pola hidup manusia.
Lingkungan media semakin dicirikan oleh konvergensi yang ditandai
dengan kemunculan media digital dengan mempublikasikan produk
jurnalistiknya secara online dengan ciri khas keterlibatan masyarakat
untuk mengomentari produk-produk jurnalistik yang dipublikasi.
Berkaitan dengan aktor (individu, kolektif, dan organisasi)
dapat memainkan peran saling mendominasi, menggunakan thematic
framing untuk memandu tindakan (notation), dan dalam penggunaan
media, baik konvensional maupun digital merupakan bentuk
konstruksi sosial yang dalam hal ini disebut logika papan catur atau
chessboard logic.
Penelitian tentang mediatisasi kasus korupsi sudah pernah
saya lakukan di mana logika media sangat berpengaruh dalam
mengungkap dan menenggelamkan para aktor yang terlibat dalam
24 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
kasus korupsi. Media memainkan aktor-aktor yang pro dan kontra
dengan jumlah yang tidak seimbang dan menjadikan media televisi
menjadi ajang peradilan. Selanjutnya, kami akan melakukan
penelitian mediatisasi yang menggunakan logika papan catur atau
chessboard logic, khususnya di bidang komunikasi pemerintahan
sebagai bentuk transformasi informasi di era digital.
Pada akhirnya, mediatisasi dalam era digital yang
bertransformasi seperti yang sudah dijelaskan merupakan sebuah
fenomena, di mana dituntut arif dan bijak dalam menggunakan media
digital dan mampu menilai dan mengawasi konten media yang perlu,
serta mengkritisi dampak yang ditimbulkannya, terutama yang
mencuri atau membobol data, baik data pemerintah, institusi,
kelompok atau perorangan. Aktivitas tersebut dimulai dari diri sendiri
sebagai pengguna media digital. Kesadaran dalam melihat perubahan,
baik sebagai pelaku dan pengguna, menjadi kunci sukses dalam
memediasi segala aktivitas. Masyarakat harus bertransformasi ketika
hidup di era media digital, era yang memiliki kekhasan masing-
masing dan yang tidak dapat dihentikan, karena tanpa media, kita
akan tertinggal.
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 25
UCAPAN TERIMA KASIH
Hadirin yang saya hormati,
Dalam akhir pidato pengukuhan ini, perkenankan saya
menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada berbagai pihak
yang telah memungkinkan saya memperoleh anugrah dan mencapai
jenjang jabatan akademik tertinggi di universitas yang maknanya bagi
saya sangat luar biasa dan juga buat keluarga.
Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih dan
penghargaan kepada Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan
Teknologi Republik Indonesia, Bapak Nadiem Anwar Makarim, B.A,
MBA yang telah menetapkan saya sebagai Guru Besar di bidang
Program Studi Komunikasi Universitas Kristen Indonesia. Terima
kasih kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia,
Prof. Ir. Nizam M.Sc., DIC., Ph. D yang memproses dan mendukung
pengusulan saya sebagai Guru Besar melalui Rektor Universitas
Kristen Indonesia. Terima kasih kepada Dr. Ir. Paristiyanti
Nurwardani, M.P. sebagai Kepala LL Dikti Wilayah III atas bantuan
dan penghargaan yang diberikan dalam proses pengusulan saya
sebagai GB
Saya haturkan rasa terima kasih dan penghargaan kepada
Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia, Ir. Yosua Un. Kepada
pengurus dan pembina Yayasan Universitas Kristen Indonesia yang
mendukung pengurusan jenjang jabatan akademik saya ke Guru Besar
dengan penuh perhatian dan senantiasa memotivasi serta memberikan
semangat. Demikian juga kepada mantan pengurus Yayasan
Universitas Kristen Indonesia, Dr. Maruarar Siahaan, S.H., dan
Ir. Eddy Sinulingga, MBA. Kepada Pendeta Kampus, Ibu Mercy
Anna Saragih, S.Th., yang dengan tekun mendoakan saya ketika saya
26 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
sedang berjuang mengurus GB dan senantiasa menanyakan sudah
sampai di mana pengurusan GB saya. Terima kasih ibu pendeta.
Kepada Rektor Universitas Kristen Indonesia, Bapak
Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., MBA, beserta para Wakil
Rektor yang dengan gigih memperjuangkan dan memfasilitasi
kepengurusan jenjang jabatan akademik ke Guru Besar ini, baik
materil maupun moril. Terima kasih yang tidak terhingga.
Saya sampaikan terima kasih kepada Senat Universitas
Kristen Indonesia, yang diketuai oleh Prof. Atmonobudi Soebagio,
M.SEE., Ph.D., yang telah memimpin Sidang Terbuka Senat hari ini.
Kepada Dewan Guru Besar Prof. Atmonobudi Soebagio MSEE,
Ph.D.; Prof. dr. Retno Wahyuningsih MS. S. Park.; Prof. Dr. dr.
Mailangkay, Sp. M.; Prof. Dr. Uras Siahaan M.Eng.; Prof. dr. Yovita
Harmiatun; Prof. Dr. Ir. Charles Marpaung; serta Prof. Dr. John
Pieris, S.H., M.H. yang sudah berkenan memberi dukungan dan
pertimbangan, baik dari aspek akademik, perilaku, etika, dan norma
dalam pengusulan GB saya ini.
Kepada Tim Penilai kepangkatan Jenjang Jabatan Akademik
di tingkat universitas yang diketuai oleh Prof. Dr. John Pieris, S.H.,
M.H., yang dengan teliti menilai satu persatu berkas yang merupakan
persyaratan pengusulan ke GB, saya haturkan banyak terima kasih.
Terkhusus kepada Prof. John Pieris, S.H., M.H. sebagai
reviewer internal dan Prof. Dr. H. Sunarto, M.Si. sebagai reviewer
eksternal, terima kasih tidak terhingga atas kebaikan dalam
melakukan penilaian berbagai karya ilmiah saya yang meskipun
secara bertahap menyerahkan berkas untuk dinilai, tetapi selalu ramah
dan dengan senang hati berkenan mengerjakannya.
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 27
Ibu Dina Robiana Sitompul, S. Kom., M.Ti., beserta
jajarannya di BAA, yang dengan tekun mengingatkan untuk
melengkapi kekurangan KUM yang harus diupload beserta lampiran-
lampirannya dan menginformasikan setiap ketentuan yang harus saya
lengkapi. Terima kasih banyak.
Terima kasih dan penghargaan kepada Dekan Fisipol,
Dr. Verdinand Robertua Siahaan, S.Sos., M. Soc. Sc. dan juga mantan
Kaprodi Ilmu Komunikasi, Singgih Sasongko, S.IP., M.Si. yang tidak
jemu-jemu menanyakan sudah sampai di mana kepengurusan GB
saya dan selalu memberi semangat di kala saya sedang
menyampaikan uneg-uneg dalam mengurus GB ini.
Kepada seluruh dosen Ilmu Komunikasi, Formas Juitan Lase,
S.Sos., M.I.Kom. selaku Kaprodi Ilmu Komunikasi yang banyak
menginspirasi dan membantu serta memberikan masukan dalam
menyiapkan materi orasi ilmiah ini. Kepada Dr. Helen Diana Vida
Simarmata, M.Si. selaku Wakil Dekan Fisipol UKI; Dr. Ir. Melati
Mediana Tobing, M.Si.; Marshelia Gloria Narida, S.S., M.A.;
Sunengsih Simatupang, SS., M.Si. Terima kasih tidak terhingga atas
dukungan dan doa yang diberikan kepada saya. Dengan perolehan GB
ini, semoga akreditasi program studi Ilmu Komunikasi, bisa mencapai
unggul, bahkan terakreditasi internasional. Kepada dosen-dosen
Hubungan Internasional dan Ilmu Politik yang tidak saya sebut satu-
persatu saya ucapkan terima kasih atas dukungan dan doa serta
harapan yang disampaikan.
Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada
Dr. Adde Oriza Rio, M.Si yang memberi masukan dan inspirasi untuk
menyempurnakan materi orasi ini. Semoga segera menyusul menjadi
Guru Besar. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada mantan
mahasiswa saya, Tresnanda S.I.Kom. yang turut ambil bagian dalam
pengumpulan materi orasi ini. Kepada Laras Nadiananda Iswari,
28 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
terima kasih telah membantu dalam menyiapkan semua keperluan
saya, mulai dari mengumpulkan, pengetikan, scan dan lain-lain
berkas-berkas untuk pengajuan GB ini. Sahabat baikku, Donal
Adrian, terima kasih yang tidak terhingga yang dengan senang hati
dan sangat perhatian dalam membantu saya dalam pengurusan jurnal
nasional maupun internasional.
Kepada seluruh tenaga kependidikan di Fisipol UKI: Angki
Agmann Sumbayak, S.Sos., Berty Octavia Nainggolan, S.Sos., M.M,
Desy Ana Tobing, S.Sos., Ebenezer Ranto Marupa Silalahi, S.Kom.,
Aloisius Gonzaga, S.E., Dewi Kristanti, S.H., Riandi Sitorus, A.Md.,
Margareth Jayanti, S.Sos., Jonaris Saragi, S.I.Kom., Jasa Adiputra
Limbong, S.Pd. Terima kasih kebersamaan kita dalam menyiapkan
segala keperluan ke GB yang dengan cekatan memberikan berkas-
berkas persyaratan di bidang akademik, penelitian, pengabdian
kepada masyarakat, dan berkas penunjang yang saya perlukan.
Kepada Ka. Biro Perpustakaan, Edi Wibowo, S.I. Pust. dan
Ibu Sari Mentari Simanjuntak, S.Sos, terima kasih atas bantuannya
yang serba cepat untuk membuatkan URL, cek similarity dan
repository, semua data-data yang dibutuhkan dalam pengurusan
jabatan fungsional ini.
Terima kasih kepada Pimpinan UKI Press, Dr. Indri Jatmoko,
S.Si., MM, yang bersedia dan berkenan sebagai editor dan
menerbitkan Bahan Modul Pembelajaran, Buku Bahan Ajar, dan
Buku serta mengurus ISBN pencetakan dan penerbitan yang
diperlukan dalam pengurusan jabatan fungsional ini.
Terima kasih kepada seluruh mahasiswaku yang tidak dapat
saya sebut satu persatu yang ikut berkontribusi dan mendoakan serta
memberi dukungan untuk segera mendapat GB.
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 29
Ucapan terima kasih kepada mantan Rektor UKI, Prof. K.T.
Sirait, M.Eng., Alm. Prof. Dr. Maurits Simatupang, yang selalu
memberi petuah kepada saya untuk terus berjuang mencapai jenjang
jabatan tertinggi di universitas, guru saya yang banyak memberi
wejangan bagaimana bermanfaat bagi orang banyak. Prof. Dr.
Mompang Lycurgus Panggabean, S.H., M. Hum. dan Prof. Dr.
Hotmaulina Sitohang, S.Si., M.Pd., teman seperjuangan dalam
mengurus GB dan yang sudah dikukuhkan jadi profesor bulan Juli
lalu. Dr. Mesta Limbong, M.Pd., dan Dr. Lis Sinta, yang sedang
berjuang mengurus JJA ke GB. Semoga segera menyusul.
Pdt. Bilman Simanungkalit, S.E, bapak yang senantiasa
memperhatikan apa yang kami lakukan dan tetap berpesan agar
berupaya sebaik mungkin dalam menjalankan profesi sebagai dosen.
Dr. Edwin Tambunan, S.IP., M.IP., dan Ibu Janse Belandine, M.Pd.,
teman dan sahabat baik yang rendah hati, suka menolong sesama, baik
memberikan wejangan atau jalan keluar jika dalam kemelut.
Ibu Dr. Erni Murniati Simalango, M.Pd., Dr. Manotar Tampubolon,
S.H., M.H., Ibu Dewa Ayu, S.H., M.H., Sondang Siregar S.H.,
Ibu Pasti Hutagalung, Ibu Meinar Sitorus, Ibu Rotua Butar-butar,
Ibu Lina Pangaribuan, Ibu Rodingse Tampubolon, terima kasih untuk
pertemanan kita selama ini.
Prof. Dr. Deddy Mulyana, MA., Ph.D. dan Prof. Dr. Eni
Maryani, M.Si. sebagai Promotor dan Co-promotor yang
membimbing saya menyelesaikan studi program doktor di Universitas
Padjajaran. Terima kasih maha guru yang menjadi panutanku.
Demikian juga untuk seluruh Bapak dan Ibu dosen pengajar di
Program Doktor Ilmu Komunikasi UNPAD Bandung, saya haturkan
rasa hormat dan terima kasihku terkhusus kepada dosen yang hadir
pada saat pengukuhan ini Prof. Dr. Atwar Bajari, M.Si, Dr. Dadang
Rahmat Hidayat, S.H., S.Sos., M.Si., Dr. Hj. Siti Karlinah, M.S., saya
ucapkan terima kasih.
30 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
Kepada Prof. Dr. Suwatno, M.Si. dari Universitas Pendidikan
Indonesia, Bandung, Prof. Dr. Billy Sarwono, dari Universitas
Indonesia, dan Prof. Dr. Ir. Hj. Triyuni Sumartono, MM dari
Universitas Mustopo Beragama, saya haturkan terima kasih dan
penghargaan setinggi-tingginya atas kehadirannya.
Tidak lupa saya sampaikan terima kasih kepada teman-teman
di grup Bumikom UNPAD, sesama Angkatan 2011, yang tidak saya
sebut satu persatu, semoga cepat menyusul ke GB. Terkhusus kepada
sahabat seperjuangan dalam menyelesaikan S3 di Fikom UNPAD
Bandung, Dr. Aqua Dwipayana M.Si., sahabat setia yang banyak
membantu mulai dari perkuliahan sampai sekarang selalu bertegur
sapa dan tanpa pamrih membantu baik moril maupun materil sampai
pada pelaksanaan pengukuhan GB saya, terima kasih tidak terhingga.
Demikian juga kepada Dr. Karso, M.Si., Dr. Ali, M.Si., Dr. Husnita,
M.Si., terima kasih kebersamaan kita yang selalu on time kuliah,
selalu on time menyerahkan tugas-tugas, selalu makan bersama,
penuh sukacita dan canda. Sukses terus dan segera menyusul jadi GB.
Khusus kepada sahabat karibku Ibu Dr. Rismawaty, S.Ikom., M.Si.,
dan Ibu Dr. Nahria, S.Ikom., M.Si. yang selalu setia sejak kita sama-
sama kuliah tahun 2011 hingga menyelesaikan studi Doktor. Belajar
bersama, kos bersama, makan bersama, menemui promotor bersama
ke Jatinangor, hingga kini tetap saling bertegur sapa meskipun tempat
saling berjauhan. Terima kasih Ibu Risma yang menyempatkan
ketemu saya sebelum berangkat ke Columbia. Semoga menyusul GB.
Terima kasih buat sahabatku Nahria yang jauh-jauh datang dari Papua
menghadiri pengukuhan saya. Segera menyusul GB ya.
Teman-teman di LPPKB, Bapak Ir. Soeprapto M.Sc.,
Ibu Dra. Murni, Ibu Marindra, S.H., Ibu Sis, Ibu Antin Wibowo,
Ibu Aisyah, Bapak Erwan, Bapak Edison, S.H., Ibu Ati, Mas Sony,
serta Pak Maksum, terima kasih dorongan dan pertemanan kita.
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 31
Teman Dewan Pakar di Forum Pemberdayaan Perempuan
Indonesia (FPPI), Ir. Meutya Viada Havid, B.Eng., MI.P., Hj. Tetty
Kadi Bawono, S.IP., Anny Murniaty S.E., Dr. Dyah Eko Setyowati
Rr. S.Sos., SE.MM., Hirni Sudarti, MBA., Dr. Hediati Es., MM.,
M.Si., Hj. Enny HRS., S.H., M.H., CN. Khusus Ibu Murni yang selalu
bersedia mendukung dan membantu dalam pelaksanaan Pengabdian
kepada Masyarakat, di Bandung, Cilacap, Sumedang, Garut,
Tobongjaya, Desa Madang, dan lain-lain desa yang sudah kita jalani
melakukan PKM. Kepada Prof. Dr. Ir. Hj. Triyuni Sumartono, M.M.,
bunda yang selalu membesarkan hati untuk tetap berjuang
menyelesaikan GB, terima kasih banyak, semoga tetap berkarya
untuk negara.
Sahabat saya di Forum Pemberdayaan Masyarakat Indonesia
(FPMI) yang tidak dapat saya sebut satu persatu, terima kasih
dukungan selama ini dan kerja sama yang baik. Demikian juga FPNN
(Forum Pencegahan Narkotika Nasional), terima kasih kebersamaan
kita selama ini.
Teman-teman di grup S2 Fokus 16 UI yang namanya tidak
saya sebut satu persatu, terima kasih sudah jadi penyemangat dalam
mencapai GB ini. Demikian juga buat sahabat karibku, Nur Idaman,
M.Si., teman setia mulai studi S2 di UI sampai sekarang selalu
bersama, baik suka maupun duka.
Sahabatku Dosen di Universitas Paramadina, Dr. Rini
Sudarmanti, M.Si., Dr. Nara, M.Si. dan kawan-kawan yang tidak
saya sebut satu persatu, terima kasih persahabatan kita mulai tahun
2000 sampai dengan sekarang. Terima kasih kepada sahabatku dosen-
dosen di Universitas Persada YAI yang tidak saya sebut satu persatu.
Maju terus dan berkarya. Kepada saudaraku Nur Idaman, sahabat
setia sejak kuliah S2 di UI sampai sekarang kita bersama baik suka
32 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
dan duka. Teman yang menginspirasi. Terima kasih sahabat dan
saudaraku.
Kepada seluruh mahasiswa S3 Pascasarjana UKI yang tidak
saya sebut satu persatu, terima kasih atensi dan dukungan dan doa
kepada saya. Segera menyelesaikan program doktornya.
Teman-teman alumni Fakultas Hukum Universitas HKBP
Nommensen angkatan 1980 yang selalu bertegur sapa setiap hari dan
selalu menginspirasi dari tulisan-tulisan dan juga candaan. Terima
kasih kawan.
Teman-temanku di Grup SMA BTB yang namanya tidak saya
sebut satu persatu, selalu setia menyapa setiap hari dan selalu sharing
informasi dan kadang-kadang melawak yang membuat saya tertawa
terpingkal-pingkal. Terima kasih untuk keber-samaan kita selama ini.
Teman grup SMP Negeri I Balige dan teman-teman dari Toba
Nauli, khususnya Martalena boru Lumbantobing dan adikku, Barita
Lan Siahaan, persahabatan kita sejak mulai SMP tetap kita bina
sampai hari ini. Terima kasih kawan.
Terima kasih saya sampaikan kepada teman-teman saya grup
Moms NC, Renny Simanjuntak, Hotmaria Simanjuntak, Julianda
Siagian, Martha Tobing, Sanna Siringo-ringo, Farida Siahaan, Artha
Silitonga, Martina Tobing, Cicilia Barus, Lolly Sianipar, dan Linda
Manurung yang selalu bersama dalam suka maupun duka dan yang
memperhatikan, serta mendoakan keberhasilan saya menuju GB.
Kepada kedua orangtuaku, Alm. Peltu Midian Siahaan dan
Alm. Nurlela br Silalahi, yang selama hidupnya selalu gigih
memperjuangkan anak-anaknya sekolah dengan motto, “Anakkon hi
do hamoraon di au.” yang dalam Bahasa Indonesia diartikan bahwa
anak adalah kekayaan bagi orangtua. Alm. Ayah selalu berpesan, “Di
situ ada kemauan, di situ ada jalan”. Saya dididik ala militer mulai SD
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 33
sampai SMA. Terima kasih ayah, terima kasih mama. Jerih payahmu
selama ini tidak sia-sia dan saya tidak akan bisa membalas kebaikan
yang diberikan selama ini walau dengan apapun. Tersenyumlah dari
surga melihat saya bisa berdiri di sini hari ini sebagai Profesor.
Kepada saudara-saudaraku, Florida Siahaan, Alm. Ferry
Hudson Siahaan, Ojaktua Siahaan, Roganda Siahaan, S.T., Sarnauli
Siahaan, S.H., Susan Hartati Siahaan, S.E., MM, Horas Maruli Tua
Siahaan, SH., Suryanto Siahaan, dan Alm. Erny Sastra Siahaan, BA.,
terima kasih untuk kekompakan kita kakak beradik selama ini,
dukungan doa, selalu mensupport dan memberi semangat untuk
keberhasilan saya dalam mencapai cita-cita. Terima kasih tidak
terhingga untuk saudaraku yang menyempatkan datang dari
Bengkulu, dan dari Porsea.
Kepada anak-anakku, Ronaldo Tama Manongtong Silalahi,
S.E, MBA, Grace Meity Ariani Silalahi S. Farm, dan Intan Delia
Anggraheny Puspitasari Silalahi, terima kasih sudah menjadi
penyemangat dalam hidup mama. Tanpa kalian, mama tidak jadi apa-
apa. Anak-anakku yang baik yang selalu memberi support dan
dorongan kepada mama agar tetap semangat dalam mencapai cita-cita
menjadi GB. Demikian juga menantuku Daulat Liberty, S.E.,
Sondang Siahaan, SE, MM, dan Erikson Adi Simanjuntak, sudah
menjadi menantu yang baik dan selalu memberi yang terbaik buat
mama dengan penuh pengertian dalam mensupport dan memberi
semangat. Teruntuk cucu tercinta: Immanuel Sky Marsaringar
Silalahi, Nicholas Patientza Silalahi, Sira Silalahi, Oscaro Jethro
Situmeang, dan Pricelia Situmeang. Dengan kehadiran kalian, tambah
pula lah gelar saya satu di depan menjadi Opung. Terima kasih cucu-
cucu yang baik penuh ceria dan sukacita bersama opung.
Kepada suamiku tercinta, Drs. Togap Silalahi, M.Si. mohon
maaf jika selama saya mempersiapkan diri dalam mengerjakan semua
34 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
persyaratan ke GB, saya tidak sempat menjalankan tugas sebagai ibu
rumah tangga yang baik. Suamiku yang penuh pengertian, selalu
memberi semangat, yang selalu bertanya di dalam mobil ketika
mengantar jemput saya ke UKI, dengan pertanyaan “Kapan dapat
Profesor?”. Perkenankanlah saya menjawab pertanyaan itu: “Hari ini,
saya sudah buktikan”. Terima kasih untuk kesetiaan dan kebaikan
hatimu. Tanpa semangatmu, saya tidak jadi apa-apa. Kepada
mertuaku yang kini berumur 91 tahun dan keluarga mertua yang
merupakan bagian dari hidupku, terima kasih perhatian yang
diberikan selama ini.
Kepada seluruh keluarga dan teman-teman yang tidak dapat
saya sebutkan satu persatu dalam kesempatan ini, saya ucapkan
terima kasih.
Akhir kata, saya haturkan terima kasih kepada seluruh panitia
yang sudah bekerja mempersiapkan pengukuhan ini sehingga dapat
berjalan dengan baik dan lancar. Mohon maaf jika dalam pelaksanaan
pengukuhan ini ada hal-hal yang tidak berkenan, baik yang disengaja
maupun tidak disengaja. Tuhan memberkati kita semua.
Terima kasih.
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 35
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Christiani, J. (2019). Media Digital Perubahan Budaya Komunikasi.
Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Couldry, N., & Hepp, A. (2017). The Mediated Construction of
Reality. Cambridge: Polity Press.
Elias, N. (1978). What Is Sociology? London: Hutchinson.
Gamble, T. K., & Gamble, M. (2016). Nonverbal Messages Tell
More: A Practical Guide to Nonverbal Communication. New
York: Routledge.
Hjarvard, S. (2013). The Mediatization of Culture and Society.
Oxfordshire: Routledge.
Junaedi, F. (2019). Etika Komunikasi di Era Siber. Jakarta:
RajaGrafindo Persada.
Kelty, C. M. (2008). The Cultural Significance of Free Software. New
York: Duke University Press.
Ong, W. J. (2002). Orality and Literacy. London: Routledge.
Purwani, D. A. (2021). Pemberdayaan Era Digital. Yogyakarta:
Bursa Ilmu.
Sorokin, P. A. (1947). Society, Culture, and Personality: Their
Structure and Dynamics. New York: Harper & Brothers.
Strömbäck, J., & Esser, F. (2014). Mediatization of Politics:
Transforming Democracies and Reshaping Politics. In K. (.
Lundby, Mediatization of Communication (pp. 375-403).
Berlin: De Grutyer Mounton.
36 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
Sudibyo, A. (2021). Tarung Digital. Jakarta: Gramedia.
JURNAL
Agha, A. (2011). Mediatized Communication in Complex Societies:
Meet Mediatization. Language & Communication, 163-170.
Ardiyanti, H. (2014). Keberpihakan Televisi pada Pemilu Presiden
2014. Info Singkat: Pemerintahan dalam Negeri, 17-20.
Asih, I. W. (2022). Screen and Pleasure: Mediatisasi Pemenuhan
Kebutuhan Traveling Masyarakat Indonesia melalui Aplikasi
Traveloka. Jurnal Ikomik, 67-77.
Asp, K. (1990). Mediatization, Media Logic and Mediarchy.
Nordicom Review, 47-55.
Gultom, A. D. (2018). Digitalisasi Penyiaran Televisi di Indonesia
(Digitization of Television Broadcasting in Indonesia).
Buletin Pos dan Telekomunikasi, 91-100.
Hjarvard, S. (2008). The Mediatization of Society: A Theory of the
Media as Agents of Social and Cultural Change. Nordicom
Review, 105-134.
Karman. (2013). Riset Penggunaan Media dan Perkembangannya
Kini (Researches on Media Uses and Its Development). Jurnal
Studi Komunikasi dan Media, 103-121.
Lase, F. J. (2020). History of Entertainment Magazines within the
Politics of Power and Sexuality (Sejarah Majalah Hiburan
dalam Politik Kekuasaan dan Seksualitas). Jurnal ASPIKOM,
72-86.
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 37
Livingstone, S. (2009). On the Mediation of Everything: ICA
Presidential Address 2008. Journal of Communication, 1-18.
Perdana, A. (2021). Managing Indonesian Head of Local Government
Elections during the Covid-19 Pandemic. Jurnal Politik, 227-
246.
Prihantoro, E., & Ohorella, N. R. (2021). Line Today dan Pemenuhan
Kebutuhan Informasi Vaksin Covid 19 pada Mahasiswa
Sebelum Pembelajaran Luring. Persepsi: Communication
Journal, 142-149.
Siahaan, C., & Komsiah, S. (2020). Inconsistency of Information of
Indonesian Government Officials through the Media on Public
Concern in Preventing the Spread of Covid-19. International
Journal of Multicultural and Multireligious Understanding,
344-350.
Silverstone, R. (2002). Complicity and Collusion in the Mediation of
Everyday Life. New Literary History, 761-780.
Strömbäck, J. (2008). Four Phases of Mediatization: An Analysis of
the Mediatization of Politics. The International Journal of
Press/Politics, 228-246.
Susilawati, Falefi, R., & Purwoko, A. (2020). Impact of COVID-19's
Pandemic on the Economy of Indonesia. Budapest
International Research and Critics Institute-Journal, 1147-
1156.
Wibowo, K. A., Fahmi, A. B., Taradwipa, B. A., & Mardiansyah, E.
(2021). Perlunya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi
yang Komprehensif Guna Menyongsong Digitalisasi yang
Kian Masif. Al-Hakam Islamic Law & Contemporary Issues,
29-39.
38 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
ARTIKEL/MAKALAH
Alfons, M. (2021, Mei 25). Berita: Dewas BPJS Ungkap 3 Dampak
Bocornya 279 Juta Data WNI. Retrieved from DetikNews:
https://news.detik.com/berita/d-5582055/dewas-bpjs-ungkap-
-3-dampak-bocornya-279-juta-data-wni
Arnani, M., & Kurniawan, R. F. (2021, September 8). Tren: Arti
Warna Barcode Hitam, Merah, Kuning, dan Hijau Aplikasi
PeduliLindungi. Retrieved from Kompas.com:
https://www.kompas.com/tren/read/2021/09/08/073000665/a
rti-warna-barcode-hitam-merah-kuning-dan-hijau-aplikasi-
pedulilindungi
Bank Indonesia. (2020, December 1). Bank Indonesia. Retrieved from
Edukasi:
https://www.bi.go.id/id/edukasi/Pages/Apa-itu-Uang-
Elektronik.aspx
Chen, A. (2021, December 14). Posts: Socrates' Triple Filter Test.
Retrieved from Weekly Wisdom Blog:
https://www.weeklywisdomblog.com/post/socrates-triple-
filter-test
Isnanto, B. A. (2020, September 26). Berita Jawa Tengah: Gibran
Awali Kampanye dengan Blusukan Virtual ke Kampung Solo.
Retrieved from Detik.com: https://news.detik.com/berita-
jawa-tengah/d-5189491/gibran-awali-kampanye-dengan-
blusukan-virtual-ke-kampung-solo
Kliwantoro, D. D. (2019, September 10). Berita. Retrieved Oktober
17, 2022, from AntaraNews.com:
https://www.antaranews.com/berita/1054656/pakar-sebut-
data-menjadi-komoditas-paling-berharga-pada-era-digital
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 39
Kominfo. (2020). Status Literasi Digital Indonesia (Survei di 34
Propinsi: November 2020). Jakarta: Katadata Insight Center.
Kustiani, R. (2021, September 26). Tekno: Survei: Internet Termasuk
Kebutuhan Pokok. Retrieved from Tempo.co:
https://tekno.tempo.co/read/358326/survei-internet-
termasuk-kebutuhan-pokok
Mahdi, M. I. (2022, Februari 25). Internet. Retrieved Oktober 19,
2022, from DataIndonesia.id:
https://dataindonesia.id/digital/detail/pengguna-media-
sosial-di-indonesia-capai-191-juta-pada-2022
Mursid, F., & Puspita, R. (2021, September 1). Nasional:
Kemkominfo Investigasi Kebocoran Data Pribadi pada
eHAC. Retrieved from Republika.co.id:
https://www.republika.co.id/berita/qyq5zx428/kemenkominf
o-investigasi-kebocoran-data-pribadi-pada-ehac
Satgas Covid-19. (2022, Juni 29). Retrieved from Covid19.go.id:
https://covid19.go.id/
Wahono, T. (. (2011, April 7). Cyberlife: Rata-Rata Pengguna
Facebook Indonesia Paling Muda di Dunia. Retrieved from
Kompas.com:
https://properti.kompas.com/read/2011/04/07/00274410/ rata-
rata.pengguna.facebook.indonesia.paling.muda.di. dunia
Widi, Shilvina, & Bayu, D. (. (2022, Agustus 4). Internet: Pengguna
Facebook di Dunia Capai 2,93 Miliar per Kuartal II/2022.
Retrieved from DataIndonesia.id:
https://dataindonesia.id/digital/detail/pengguna-facebook-di-
dunia-capai-293-miliar-per-kuartal-ii2022
40 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
World Population Review. (2022). Countries: Indonesia. Retrieved
September 21, 2022, from World Population Review:
https://worldpopulationreview.com/countries/indonesia-
population
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 41
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
A. Data Pribadi
Nama : Prof. Dr. Chontina Siahaan, S.H., M.Si
NIDN/Serdik : 0310025801/861264
Tempat, tanggal : Binjai, 10 Februari 1958
lahir
Agama : Kristen Protestan
Jabatan : Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian
Kepada Masyarakat Fisipol UKI
Dosen Tetap Program Studi Komunikasi
Pekerjaan :
Fisipol UKI
Pangkat : Lektor Kepala
Golongan Ruang : Pembina/IV/a berdasarkan Keputusan
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan
Tinggi No. 88830/A2.3 KP/2017
tertanggal 4 September 2017
Jenjang : Guru Besar (Profesor) berdasarkan
Akademik Keputusan Menteri Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Republik Indonesia No. 59279/MPK.A/
KP.07.01/2022 tentang Kenaikan
Jabatan Akademik Dosen dengan angka
kredit 911,50
Status Marital : Kawin
42 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”
Nama Suami : Drs. Togap Silalahi, M.Si
Nama Anak : 1. Ronaldo Tama Manongtong Silalahi,
SE., MBA
2. Grace Meity Ariani Silalahi, S.Farm.
[email protected]/chontinasia
E-mail :
[email protected]
B. Riwayat Pendidikan
2011 – 2015 : Pendidikan Doktor Ilmu Komunikasi
Universitas Padjajaran Bandung
Pendidikan Magister Ilmu Komunikasi
1996 – 1999 :
Universitas Indonesia
Fakultas Hukum Universitas HKBP
1980 – 1985 :
Nommensen Medan
1973 – 1976 : Sekolah Menengah Atas Katholik Bintang
Timur Bersubsidi Balige
Sekolah Menengah Pertama Negeri I
1970 – 1973 :
Balige
1965 – 1970 : Sekolah Dasar Negeri No. 5 Balige
Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital” 43
C. Riwayat Pekerjaan
2022 – sekarang : Reviewer Jabatan Akademik
2022 – sekarang : Asesor Beban Kerja Dosen
2021 – 2023 : Sekretaris Senat Universitas Kristen
Indonesia
2021 : Dosen Luar Biasa di Program S3
Pendidikan Agama Kristen
Universitas Kristen Indonesia
2020 – 2023 : Anggota Badan Pengawas Koperasi
Warga Universitas Kristen Indonesia
2019 – 2021 : Dosen Luar Biasa di Fakultas Sastra
dan Bahasa Universitas Kristen
Indonesia
2019 – 2020 : Dosen Luar Biasa di Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen
Indonesia
2019 – 2015 : Pemimpin Redaksi Jurnal Sociae
Polites Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Kristen Indonesia
2015 – sekarang : Ketua Pusat Penelitian dan
Pengabdian Kepada Masyarakat
(P3M) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Kristen Indonesia
2008 – 2014 : Dosen Luar Biasa di Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Kristen Indonesia
44 Orasi Ilmiah “Transformasi Mediatisasi Informasi Dan Implikasinya Di Era Digital”