The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Manfaat dan pengolahan minyak atsiri dari Tumbuhan Kayu Bawang (Scorodocarpus borneensis)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alinkuspra, 2021-03-02 04:48:07

Minyak Atsiri Kayu Bawang : Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Manfaat dan pengolahan minyak atsiri dari Tumbuhan Kayu Bawang (Scorodocarpus borneensis)

Keywords: Minyak Atsiri,Kayu Bawang,Scorodocarpus borneensis,Sulfur,Kulim,Methyl (methylsulfinyl) methyl sulfide,Harlinda Kuspradini,Kalimantan Timur,Universitas Mulawarman

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

2. Toksisitas dan Antikanker
Penggunaan metode BSLT pada toksisitas merupakan salah

satu cara yang cepat dan murah untuk uji aktivitas farmakologi dari
ekstrak tanaman dengan menggunakan hewan laut yaitu larva udang
Artemia salina Leach. Uji ini mengamati mortalitas larva udang yang
disebabkan oleh senyawa uji. Senyawa yang aktif akan menghasilkan
mortalitas yang tinggi. Hasil pengujian toksisitas dengan
menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test)
menunjukkan fraksi etil asetat, n-butanol, dan air memiliki daya
toksik yang besar di mana semua fraksi memiliki fraksi LC50<1000
ppm dan yang memiliki daya toksik tinggi adalah fraksi n-butanol
dengan cara maserasi LC50 sebesar 1,9 ppm. Penggunaan metode
BSLT pada toksisitas merupakan salah satu cara yang cepat dan
murah untuk uji aktivitas farmakologi dari ekstrak tanaman dengan
menggunakan hewan laut yaitu larva udang Artemia salina Leach. Uji
ini mengamati mortalitas larva udang yang disebabkan oleh senyawa
uji. Senyawa yang aktif akan menghasilkan mortalitas yang tinggi.
(Kartika et al. 2011).

Pada pengujian antikanker dengan sampel kayu S. borneensis
terhadap sel leukimia L1210 menunjukkan semua fraksi memiliki
aktivitas IC50 yang cukup tinggi. Fraksi yang digunakan dalam
pengujian ini adalah metanol, etil asetat, n-butanol dan air, di mana

22 | Bab 3 (Manfaat pohon kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

hasil tertinggi diperoleh dari fraksi etil asetat dengan IC50= 25,2685
ppm (Kartika dan Simanjuntak, 2013).

3. Antibakteri

Pada pengujian aktivitas antibakteri terhadap kandungan

minyak atsiri S. borneensis menunjukkan senyawa sulfur yang

ditemukan dari hasil GCMS pada minyak atsiri buah S. borneensis

dengan metode destilasi uap air S-methyl methanethiosulphinate;

Dhimetyoxysulfone; Methyl methyltiomenthyl disulfide, sedangkan

pada minyak atsiri dengan metode enfleurasi yaitu Thiosulfuric acid.

Hasil pengujian minyak atsiri, baik dari hasil enfleurasi maupun hasil

destilasi uap air, tidak menunjukkan adanya aktivitas antibakteri.

Tabel 3. Antibakteri ekstrak S. borneensis

No Bagian Ekstrak Mikroba Daya Hambat
50 - >100 µg/ml
1 Buah Minyak Staphylococcus
>100 µg/ml
Atsiri aureus 50 - >100 µg/ml
50 - >100 µg/ml
Micrococcus luteus,
50 - >100 µg/ml
Bacillus subtilis >100 µg/ml

Microbacterium 12,5 - >100 µg/ml

smegmatis

Escherichia coli

Pseudomonas

aeruginosa

Candida albicans

2 Daun Minyak Staphylococcus 52,9 mm
Atsiri aureus 52,7 mm
Candida albicans

3 Kulit Etil asetat S. aureus pada 10% 6,687 ± 0,800 mm
(b/v) 7.500 ± 0.735 mm
E. coli pada 10%
(b/v)

4 Kulit Fraksi air S. aureus 500 -100 ppm

Bab 3 (Manfaat kayu bawang) | 23

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

No Bagian Ekstrak Mikroba Daya Hambat
Salmonella sp. 100 – 200 ppm
Bacillus subtilis 100 – 200 ppm

Antimikroba dari sifat minyak atsiri murni ditentukan dengan

menggunakan agar metode difusi. Dua mikroorganisme yang berbeda

digunakan dalam penelitian ini adalah Staphylococcus aureus dan

Candida albicans. Zona penghambatan dan indeks aktivitas diukur

dan dibandingkan dengan standar sintetik yang diketahui. Ekstrak

menghambat semua mikroorganisme yang diuji dan rentan terhadap

S. aureus. Zona penghambatan terbaik ditunjukkan oleh S. borneensis

(52,7 mm) terhadap C. albicans (Kuspradini et al. 2016).

Larutan dari methylthiomethyl disulfide dan bis

(methylthiomethyl) disulfide memiliki aroma yang kuat. Pada

konsentrasi yang rendah senyawa methylthiomethyl disulfide

memiliki aroma seperti irisan buah yang segar, sedangkan bis

(methylthiomethyl) disulfide memiliki aroma buah yang lama. bis

(methylthiomethyl) disulfide juga memiliki aktivitas antijamur yang

kuat pada jamur seperti C. albicans, S. cerevisiae, M. racemosus, dan

A. niger. Namun senyawa ini tidak menunjukkan aktivitas antibakteri

yang baik. Adanya kandungan bis (methylthiomethyl) disulfide yang

tinggi pada buah S. borneensis, maka pada saat dicampur dengan

makanan dapat memiliki sifat sebagai bahan makanan dan juga

sebagai perasa alami (Kubota et al. 1994).

24 | Bab 3 (Manfaat pohon kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Aktivitas antibakteri terhadap bakteri gram positif
Staphylococcus aureus dan bakteri gram negatif Escherichia coli
dilakukan dengan metode difusi cakram. Hasil metode difusi agar
menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat memiliki aktivitas antibakteri
6,687 ± 0,800 mm terhadap S. aureus pada 10% (b/v) dan 7.500 ± 0.735
mm melawan E. coli pada 10% (b/v) sebagai kategori moderat. Temuan
ini menunjukkan bahwa kulit batang S. borneensis merupakan sumber
senyawa bioaktif yang berharga menjanjikan sebagai sumber
antioksidan dan antibakteri (Sudrajat dkk, 2016).

Hasil dari pengujian isolasi senyawa antibakteri dalam kulit
batang kayu bawang (S. borneensis) adalah dari pengujian fitokimia
ekstrak kasar (fraksi etanol) dari kulit batang kayu bawang (S.
borneensis) mengandung karbohidrat, saponin, steroid, flavonoid, dan
senyawa bioaktif yang mengandung sulfur. Fraksi aktif yang
mempunyai aktivitas antibakteri S. aerus, B. subtilis dan Salmonella
sp. terdapat dalam ekstrak kasar, fraksi air dan senyawa murni,
sedangkan pada bakteri E. coli, ketiga fraksi tersebut di atas tidak
mempunyai atau menunjukkan aktivitas antibakteri.

Fraksi air mempunyai daya hambat minimum antara (500 ppm-
100 ppm) pada bakteri S. aureus dan pada bakteri Salmonella sp. dan
Bacillus subtilis daya hambat minimum antara 100 ppm-200 ppm
(Kartika, 1999).

Bab 3 (Manfaat kayu bawang) | 25

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

4. Antitrombosit
Hasil ini menunjukkan bahwa senyawa yang mengandung

sulfur dalam bawang putih kayu tidak hanya menghambat
metabolisme asam arakidonat, tetapi juga menekan agregasi dalam
hubungan dengan fungsi membran plasma trombosit (Lim et al. 1999).
Trombosis arteri adalah trombosis yang terjadi secara spesifik pada
pembuluh arteri. Pengertian trombosis sendiri merupakan suatu
penyakit yang terjadi akibat terbentuknya gumpalan darah (trombus)
dalam pembuluh darah. Trombus dapat terbentuk di pembuluh mana
saja, baik itu di arteri maupun vena. Pada saat pembuluh arteri
mengalami penyumbatan, jaringan yang membutuhkan aliran darah
dari pembuluh arteri tersebut akan mengalami kerusakan dan
kematian. Oleh karena itu, trombosis arteri digolongkan sebagai
kondisi darurat medis. Antitrombosit (antiplatelet) adalah obat yang
dapat menghambat agregasi trombosit sehingga menyebabkan
terhambatnya pembentukan trombus yang terutama sering ditemukan
pada sistem arteri. Senyawa kimia yang ditemukan pada kayu bawang
dan memiliki kemampuan sebagai antitrombosit adalah 2,4,5,7-
tetrathiaoctane dan 2,4,5,7-tetrathiaoctane 2,2-dioxide.

26 | Bab 3 (Manfaat pohon kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Sejauh ini penelitian yang terkait dengan tumbuhan S.
borneensis adalah pemanfaatan bagian batang, kulit, dan buah serta
teknik manajemen pengelolaan pertumbuhannya. Pembuatan minyak
atsiri dari daun S. borneensis ini memiliki tujuan agar masyarakat
mengetahui bahwa daun S. borneensis dapat menghasilkan minyak
atsiri dan dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri.
A. Pengolahan minyak atsiri S. borneensis

Daun S. borneensis didapat dan dikumpulkan dari Kebun Raya
Universitas Mulawarman Samarinda.

Gambar 5. Lokasi tumbuh S. borneensis yang menghasilkan
minyak atsiri

Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang) | 27

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Daun-daun ini dikeringkan selama 1 hari dalam naungan agar
kandungan air yang ada pada daun berkurang. Selanjutnya, sampel
dikonversi menjadi potongan kecil dengan menggunakan alat
pemotong seperti gunting atau pisau. Contoh uji kemudian diukur
kadar kelembabannya (perbandingan antara berat sampel segar dan
berat setelah dikeringkan dalam oven). Hal ini dilakukan guna
mengetahui persen minyak (rendemen) yang dihasilkan dari
tumbuhan.

Gambar 6. Pohon kayu bawang yang terdapat
di Kebun Raya Unmul Samarinda

Setelah dikeringkan selama 1 hari, daun-daun S. borneensis
dengan berat daun 4 kg, dilakukan metode penyulingan dengan
distilasi uap untuk mengeluarkan minyak atsiri dari bagian
tumbuhan. Proses penyulingan dengan air dan uap menggunakan
ketel suling atau kukusan. Pada proses penyulingan skala kecil, 4 kg

28 | Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

daun yang telah dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil dimasukkan
ke dalam alat sulingan (ketel). Dilakukan perajangan pada sampel
yang besar untuk mempercepat proses keluarnya minyak dari sampel.
Setelah itu, dicatat waktu penyulingan saat hasil sulingan mulai
menetes. Alat suling yang digunakan dalam memperoleh minyak atsiri
S. borneensis ini, menggunakan sistem kukus di mana bahan baku
daun dimasukkan ke dalam ketel.

Gambar 7. Alat penyulingan untuk memperoleh
minyak atsiri S. borneensis

Penyulingan dilakukan selama ±3-4 jam. Uap hasil penyulingan
selanjutnya ditampung dan dipisah menggunakan labu pemisah.
Serbuk natrium sulfat (Na2SO4) ditambahkan ke dalam minyak atsiri
untuk memisahkan air yang masih terikut bersama minyak sehingga
diperoleh minyak atsiri murni. Setelah minyak terpisah dari air dan
terkumpul keseluruhan, dipindahkan dengan menggunakan pipet
tetes ke dalam botol.

Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang) | 29

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Gambar 8. Pemisahan minyak atsiri setelah melalui proses
penyulingan (kiri dan kanan)

Minyak atsiri S. borneensis memiliki warna kuning bening
dengan bau yang sangat menyengat khas bawang, seperti terlihat pada
gambar di bawah ini.

Gambar 9. Minyak atsiri dari daun S. borneensis
B. Sifat kimia

Sifat kimia pada pengolahan minyak atsiri dapat dilihat dari
analisa kromatografi gas spektometri massa (GCMS). Minyak atsri S.

30 | Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

borneensis dianalisa dengan GCMS (Shimadzu-QP-5050A) dengan
pengaturan yaitu sebagai berikut.

Kolom: HP-5 MS, 60m x 250µm ID x 0,25µm, dengan suhu yang sudah
ditentukan 70°C – 290°C (40 menit) pada 15°C 1 menit, suhu injeksi:
290°C, dan suhu detector 250°C. Cara perbandingan injeksi yaitu 50:1,
dan tekanan inlet 18,03 psi. Gas membawa helium dengan laju alir 1
ml 1 menit.

Kondisi spektometer massa, yaitu: Tegangan ionisasi 70 eV, suhu
sumber MS pada 250°C, MS melipat gandakan suhu 150°C, suhu antar
muka pada 290°C, dan spektra massa ionisasi elektron diperoleh pada
rentang diperoleh pada rentang massa 40-800m/z.

Hasil dari analsis GC-MS menunjukkan bahwa minyak atsiri S.
borneensis menghasilkan 6 puncak dan 6 senyawa terlihat pada
gambar 10. Senyawa kimia diidentifikasi dengan membandingkan
waktu retensi, rumus molekul, berat molekul dan luasnya. Hal ini
terlihat pada Tabel 4.

a) b)

c)
Gambar 10. Senyawa utama yang diidentifikasi dalam minyak atsiri

S. borneensis. a) Methyl (methylsulfinyl) methyl sulfide, b) 2,4,6-
trithiaheptane, dan c) 1,5-Heptadien-3-yne

Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang) | 31

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Gambar 11. Hasil kromatogram dari minyak atsiri daun S. borneensis

Dari hasil analisa GC-MS menunjukkan 6 puncak senyawa

fitokimia yang berbeda, yaitu trisulfida, dimetil, methyl

(methlysulfinly) methyl sulfide, 1,5-heptadien-3yne; 2,4,6-

tritiaheptane-2-2dioksa; furan, tetrahidro-2,2-dimetil-5-(1-metil-

1propenil); dan metana. Senyawa paling melimpah yang diidentifikasi

dalam minyak atsiri adalah 2,4,6-tritiaheptane-2-2dioksa, metil

(methlysulfinly) methyl sulfide, dan 1,5-heptadien-3yne. Secara lebih

jelas, hasil analisa kromatogram dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4. Hasil analisa GC-MS terhadap minyak atsiri daun S.

borneensis Area (%)
4.15
No. RT Nama Komponen MF MW 34.03

1 6.45 Trisulfide, dimethyl C2H6S3 126.26 10.50
2 9.18 Methyl C3H8OS2 124.22 43.35
(methylsulfinyl) methyl 6.01

sulfide

3 14.56 1,5-Heptadien- C7H8 92.14
3-yne

4 18.51 2,4,6-trithiaheptane- C4H10S3 154.32
2,2-dioxide

5 24.15 Furan, tetrahydro-2,2- C10H18O 154.25
dimethyl-5-(1-methyl-1-

propenyl)

32 | Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

No. RT Nama Komponen MF MW Area (%)

6 27.09 Methane, C3H8OS2 124.225 1.96

(methylsulfinyl)

(methylthio)

Keterangan: Waktu retensi (RT), Formula molekuler (MF), dan Berat

molekul (MW)

Minyak atsiri daun S. borneensis tersusun atas senyawa utama

antara lain dimethyl trisulfide (53.77%) dan disulfide, methyl

(methylthio) methyl (30.83%), dan beberapa senyawa lain.

C. Sifat fisika

Hasil dari penyulingan daun S. borneensis menghasilkan

minyak atsiri daun S. borneensis yang berwarna bening dan

kekuningan yang memiliki berat 6,52 g. Adapun hasil dari

dilakukannya indeks bias terhadap minyak atsiri S. borneensis adalah

1,435 dan memiliki rendemen 0,3%. Berikut dapat dilihat tabel rincian

sifat fisika pada pengolahan minyak atsiri S. borneensis:

Tabel 5. Sifat fisika minyak atsiri daun S. borneensis

Berat Berat Presentase Warna minyak Faktor
kelembaban
awal minyak (%) atsri
0.41
(kg) atsiri

(gr)

4.00 6.52 0.39 Bening
kekuningan

D. Bioaktivitas minyak atsiri daun S. borneensiis (Baill.) Becc
1. Antioksidan

Pengujian aktivitas anti oksidan pada minyak atsiri daun
S.borneensis menggunakan metode penghambatan radikal DPPH
DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) (Bachrouch et al. 2015). Sampel

Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang) | 33

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

uji ditimbang sebanyak 30 mg dilarutkan dalam metanol sebanyak 500
µl. Sampel dimasukkan ke dalam cuvette sebanyak 33 µL, 467 µL
metanol dan ditambahkan 500 µL larutan DPPH. Pencampuran
dicukupkan apabila volume sampel telah sampai 1000 µl (1 mL).
Sampel diinkubasi selama 20 menit dalam ruangan yang minim akan
cahaya dan dengan suhu ruangan.

Pengujian dilakukan dengan konsentrasi yang berbeda-beda,
yaitu 1000, 500, 250, 100, 50, dan 25 ppm. Sebagai kontrol positif
adalah asam askorbat (vitamin C) dan untuk pengukuran absorbansi
dibuat blanko pada setiap konsentrasi dengan 517 nm dengan
menggunakan spektofotometer Shimadzu UV-VIS 1200 (Shimadzu
Corp., Kyoto, Jepang). Dalam pengujian ini dilakukan 3 kali
pengulangan dalam setiap konsentrasinya dan akan diukur IC50
(µg/ml) untuk mengetahui penghambatan DPPH 50% .

Aktivitas antioksidan ditentukan berdasarkan persentase
reduksi dari penyerapan DPPH menggunakan persamaan, yaitu
sebagai berikut.

Persentase reduksi dari penyerapan DPPH

% = − × 100%



Di mana A kontrol adalah absorbansi reaksi kontrol
(mengandung semua reagen kecuali senyawa uji). A sample adalah
absorbansi sampel uji. Sampel diuji dalam 3 kali pengulangan.

34 | Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Hasil dari pengujian antioksidan minyak atsiri S. borneesis

menunjukkan penghambatan radikal bebas dengan nilai IC50 715,97

ppm. Seperti yang di tunjukkan pada tabel 6.

Minyak atsiri S. borneensis tidak memiliki penghambatan yang

baik dibandingkan dengan asam askorbat (Vit.C) (3,28-54,52%).

Berikut tabel dari hasil uji antioksidan minyak atsiri S. borneensis.

Tabel 6. Aktivitas antioksidan dari minyak atsiri S. borneensis

No Sample Persentase aktivitas antioksidan (%) IC50
(ppm)

1000 500 250 100 50 25
ppm ppm ppm ppm ppm ppm

1 Asam -- - 97.01 96.81 97.1 -
askorbat*

2 S. borneensis 54.52 37.18 36.34 7.63 4.15 3.28 715.97

*tidak ada tes untuk konsentrasi 250-1000 ppm

Pengujian aktivitas antioksidan pada minyak atsiri S.
borneensis bertujuan untuk mengetahui seberapa besar suatu senyawa
dalam minyak atsiri, mampu menghambat radikal bebas yang ada.
Metode DPPH memberikan informasi reaktivitas senyawa yang diuji
dengan suatu radikal stabil. DPPH memberikan serapan kuat pada
panjang gelombang 517 nm dengan warna violet gelap.

Penangkap radikal bebas menyebabkan elektron menjadi
berpasangan yang kemudian menyebabkan penghilangan warna yang
sebanding dengan jumlah elektron yang diambil (Sunarni, 2005).

Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang) | 35

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Antioksidan bisa bersifat pro-oksidan dan bisa mempengaruhi

reaksi radikal bebas. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada

metode pengujian aktivitas antioksidan, yaitu pengukuran aktivitas

antioksidan. Pada pengukuran aktivitas antioksidan, terutama yang

campuran, multifungsi dalam sistem multifase kompleks, tidak dapat

dievaluasi secara baik dengan uji antioksidan sederhana tanpa

mempertimbangkan banyak variabel, yang mempengaruhi hasilnya

(Antolovich et al. 2002).

Nilai IC50 menunjukkan konsentrasi suatu zat anti oksidan

yang dibutuhkan untuk menghambat 50 persen radikal bebas DPPH.

Zat antioksidan yang mempunyai aktivitas antioksidan tinggi akan

mempunyai nilai IC50 yang rendah (Kuntorini, 2011).

Menurut Armala (2009), tingkat kekuatan antioksidan

senyawa uji menggunakan metode DPPH dapat digolongkan menurut

nilai IC50, diterangkan pada tabel di bawah berikut ini.

Tabel 7. Klasifikasi tingkat kekuatan antioksidan dengan metode

DPPH

Intensitas Nilai IC50

Sangat kuat < 50 µg/mL

Kuat 50-100 µg/mL

Sedang 101-150 µg/mL

Lemah > 150 µg/mL

Nilai IC50 yang terdapat pada minyak atsiri S. borneensis,
yaitu 715,97 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa nilai IC50 pada minyak

36 | Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

atsiri S. borneensis mempunyai intensitas penyerapan DPPH yang
lemah.

2. Antimikroba
Pada pengujian antimikroba metode yang digunakan adalah

metode sumuran untuk mendekteksi adanya aktivitas antibaketri dan
antijamur pada minyak atsiri S. borneensis. Uji antimikroba dilakukan
dengan modifikasi metode difusi agar-agar (Donaldson et al. 2005).
a. Pembuatan kultur mikroba

Mikroorganisme yang digunakan dalam pengujian adalah
Streptococcus sobrinus, Streptococcus mutans, Staphylococcus aerus,
dan Candida albicans. Bahan utama yang akan digunakan untuk
pembuatan media pertumbuhan jamur adalah Sabouraud Dextrose
Agar (SDA). Media pertumbuhan jamur dibuat dengan mencampur 20
g bubuk agar, 10 g glukosa dan 25,5 g peptone serta 1000 ml aquades,
diaduk dan didihkan sampai tercampur sempurna. Kemudian,
dimasukkan dalam botol dan ditutup dengan kapas. Media, spatula,
dan kapas dimasukkan ke dalam autoclave selama 15 menit dan
temperatur 121°C. Media dimasukkan dalam tabung reaksi dengan
posisi miring, setelah media dingin masukkan biakan mikroba dengan
cara digoreskan secara zig-zag pada permukaan media. Proses
kegiatan ini dilakukan dalam dalam laminar flow (Sabouraud, 2009).

Pembuatan media bakteri mengacu pada metode Thiel (1999)
dengan modifikasi. Bahan utama yang digunakan untuk pembuatan

Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang) | 37

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

media pertumbuhan bakteri adalah nutrient agar (NA). Media
pertumbuhan yang digunakan dalam pengujian ini adalah 8 g nutrient
broth, 10 g glukosa, dan 20 g bubuk agar dimasukkan ke dalam 1000
ml aquades, diaduk dan didihkan sampai tercampur sempurna.
Dimasukkan dalam botol dan ditutup dengan kapas. Media, spatula,
dan kapas dimasukkan ke dalam autoclave selama 15 menit dan
temperatur 121°C. Masukkan media dalam laminar flow dengan
posisi miring, setelah media dingin masukkan biakan mikroba dengan
cara digoreskan secara zig-zag pada permukaan media.

b. Pembuatan sampel uji
Pengujian dilakukan pada konsentrasi 100%, 10% dan 1%. Stok

sampel uji dibuat dengan konsentrasi 100%, 10% dan 1%. Konsentrasi
uji 100% adalah minyak atsiri murni, dan konsentrasi uji 10% adalah
0,1 ml minyak atsiri dilarutkan dalam 0,9 ml etanol 40%, sedangkan
konsentrasi uji 1% adalah 0,01 ml minyak atsiri dilarutkan dalam 0,99
ml etanol 40%.

c. Pembuatan larutan kontrol
Larutan kontrol negatif (-) adalah etanol 40%. Larutan Kontrol

positif (+) ada dua yaitu chlorhexidine dan chloramphenicol.
Chlorhexidine dan chloramphenicol masing-masing 0,20 mg dilarutkan
dengan 4 ml etanol 40%.

38 | Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

d. Pembuatan larutan suspensi mikroba
Mikroorganisme yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Streptococcus sobrinus, Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus,
dan Candida albicans. Mikroba dimasukkan ke dalam aquades lalu
dihomogenkan dalam laminar flow. Mikroba yang digunakan
disesuaikan dengan standar Mc. Farland pada trasmitan 70-75%
dengan panjang gelombang 600 nm (Anonim, 2012).

e. Pengujian antimikroba: Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
Pengujian antimikroba menggunakan metode difusi agar

sumuran yang mengacu pada metode Cappucino dan Sherman (2001)
dengan modifikasi. Media sebanyak 5 ml dituangkan pada masing-
masing petri dish yang telah disterilkan selama 15 menit dengan
temperature 121˚C dalam autoclave, didiamkan hingga padat.

Gambar 12. Proses pengujian antimikroba – Konsentrasi Hambat
Minimum (KHM)

Sejumlah larutan mikroba dileburkan sebanyak 25 μL di
permukaan media secara merata. Lubangi media pada bagian tengah
menggunakan cork borer, teteskan sebanyak 20 μl konsentrasi uji.
Tutup rapat dengan plastik wrapping. Masukkan ke dalam incubator
selama 18-24 jam. Hitung daerah hambatan masing-masing
konsentrasi uji pada sumbu x, y, dan z.

Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang) | 39

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Klasifikasi respon penghambatan pertumbuhan bakteri

mengacu pada Ardiansyah (2005) sebagaimana disajikan pada tabel

berikut.

Tabel 8. Klasifikasi penghambatan bakteri (Aridansyah, 2005)
Diameter daerah hambatan (DDH) Respon terhadap pertumbuhan

…>20 mm Sangat kuat

10-20 mm Kuat

5-10 mm Sedang

…<5 mm Lemah

f. Pengujian antimikroba: Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM)
Setelah mengetahui KHM dari sampel uji, selanjutnya

dilakukan pengujian antimikroba untuk mengetahui KBM.
Dimasukkan sebanyak 20 mL media ke dalam petri dish, kemudian
dimasukkan sampel dengan metode streak plate. Diinkubasi selama
18-24 jam. Proses akhir dari pengujian ini adalah tumbuh tidaknya
mikroba yang sudah diketahui KHM untuk mengetahui sampel uji
memiliki daya bunuh terhadap mikroba.

Hasil dari penelitian antimikroba pada minyak atsiri S.
borneensis menunjukkan empat mikroba yang diujikan, yaitu
Streptococus sobrinus, Streptococus mutans, Staphylococus aerus, dan
Candida albicans mampu terhambat dengan baik. Hal ini terlihat pada
aktivitas penghambatan pertumbuhan semua mikrobanya yang dapat
terhambat sangat baik dibandingkan dengan antibiotiknya (kontrol +),
yaitu klorheksidin dan kloramfenikol. Seperti yang di tunjukkan pada
Tabel 9 berikut ini:

40 | Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Tabel 9. Aktivitas antimikroba dari minyak atsiri S. borneensis

terhadap empat mikroba

Sample Diameter Penghambatan (mm)

S. sobrinus S. mutans C. albicans S. aureus

CHX* 20.70±0.00 21.00±0.00 17.70±0.00 17.00±0.00

CMP* 28.70±0.00 31.30±0.00 17.30±0.00 23.30±0.00

100% ZH 51.57±0.94 53.67±0.94 52.67±0.47 52.89±0.51

AI-CHX 2.49 2.56 2.98 3.11

AI-CMP 1.79 1.71 3.04 2.26

10% ZH 50.33±0.00 51.67±0.47 51.33±0.47 51.78±1.01

AI-CHX 2.43 2.46 2.9 3.04

AI-CMP 1.75 1.65 2.97 2.22

1% ZH 18.00±0.94 18.50±0.24 18.17±0.71 15.67±0.58

AI-CHX 0.86 0.88 1.02 0.92

AI-CMP 0.63 0.59 1.05 0.67

Keterangan: Chlorhexidine (CHX), Chloramphenicol (CMP), Zona Hambat

(ZH), Indeks aktivitas terhadap chlorhexidine (AI-CHX), Indeks

aktivitas terhadap chloramphenicol (AI-CMP). * konsentrasi

(10g.ml-1).

Pada konsentrasi 100%, minyak atsiri S. borneensis
menunjukkan aktivitas penghambatan S. mutans dan S. sobrinus
terbaik dengan penghambatan 53,44 mm dan 52,1 mm pada
konsentrasi 100% dengan perbandingan relatif terhadap antibiotik
komersial (chloramphenicol dan chlorhexidine).

Dari Tabel 9 di atas terlihat bahwa aktivitas penghambatan
yang paling besar terhadapat empat mikroba yang diujikan terdapat
pada sampel minyak atsiri murni 100%. Pada sampel minyak atsiri
konsentrasi 10% tetap menunjukkan penghambatan yang sangat baik
dibandingkan dengan kontrol positifnya (+), yaitu chloramphenicol dan
chlorhexidine. Pada sampel minyak atsiri konsentrasi 1%
menunjukkan penghambatan yang cukup baik, walaupun tidak
sebesar penghambatan di konsentrasi 100% dan 10%. Sampel minyak

Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang) | 41

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

atsiri konsentrasi 1% penghambatannya hanya mendekati dengan
nilai penghambatan kontrol (+). Fungsi dari AI-CHX dan AI-CMP
adalah membantu untuk memperkirakan secara kuantitatif potensi
aktivitas antimikroba dibandingkan dengan konsentrasi sampel
masing-masing yaitu, 100%, 10% dan 1%.

Sesuai dengan klasifikasi respon penghambatan pertumbuhan
bakteri menurut Ardiansyah (2005), S. borneensis termasuk dalam
klasifikasi sangat kuat karena ukuran diameter penghambatan >20
mm, kecuali konsentrasi 1% termasuk dalam klasifikasi kuat karena
ukuran diameter penghambatan 10-20 mm.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan luas
zona hambat yang terbentuk. Hal ini terlihat dari variasi zona hambat
pada masing-masing sampel. Menurut Andries et al. (2014), perbedaan
zona hambat dapat disebabkan oleh konsentrasi inokulum, waktu
inkubasi, konsentrasi sampel dan daya antimikroba sampel.
Konsentrasi sampel mempengaruhi kecepatan difusi sampel. Makin
besar konsentrasi sampel, maka makin cepat berdifusi. Akibatnya,
makin besar daya antimikroba dan makin luas diameter zona hambat
yang terbentuk. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa minyak
atsiri dengan konsentrasi 100% mempunyai zona hambat yang lebih
besar dibandingkan dengan konsentrasi 10% dan 1%.

Distilasi uap tampaknya menjadi metode yang baik untuk
mengekstraksi minyak esensial dari daun S. borneensis karena

42 | Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

menghasilkan hasil yang baik dan merupakan teknik sederhana.
Manfaat dari teknik ini adalah distilasi bahan yang disukai pada suhu
di bawah 100°C. Oleh karena itu, dekomposisi dapat dicegah jika bahan
penting yang tidak stabil atau dididihkan secara berlebihan
dikeluarkan dari campuran. Karena semua gas bercampur, kedua
bahan tersebut dapat dicampurkan dalam evaporasi dan codistill.
Setelah distilat didinginkan, komponen yang diinginkan yang dapat
larut, dipisahkan dari air (Pavia, 2011).

Dalam penelitian ini, kami melaporkan adanya metil
(metilsulfinil) metil sulfida dan 2,4,6-trithiaheptane-2,2-dioksida
dalam minyak atsiri daun S. borneensis. Hasil serupa telah diperoleh,
tetapi senyawa ini ditemukan di bagian lain dari tanaman S.
borneensis. Metil (metilsulfinil) metil sulfida adalah komponen utama
dalam buah S. borneensis. Senyawa ini memiliki sifat pengawet alami
(Kubota dan Kobayashi, 1994).

2,4,6-Trithiaheptane-2,2-dioksida sebelumnya diisolasi dari
buah S. borneensis. Trisulfide dimethyl atau DMTS adalah molekul
berbasis sulfur yang ditemukan dalam bawang putih, bawang merah,
brokoli, dan tanaman sejenis, dan telah dilaporkan bertindak sebagai
penghitung sianida jenis donor-donor belerang dan mediator utama
daya tarik penyerbuk pada penipu di lokasi peneluran. tanaman
(Rockwood et al. 2016; Zito et al. 2014). 1,5-Heptadien-3-yne adalah
senyawa asam lemak yang juga ditemukan dalam aroma bunga

Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang) | 43

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Cypripedium tibeticum (Li et al. 2006). Furan, tetrahydro-2,2-
dimethyl-5- (1-methyl-1-propenyl) memiliki bau jeruk dan
dikategorikan sebagai zat penyedap (Burdock 2010). Metana,
(metilsulfinil) (metiltio) juga ditemukan dalam minyak atsiri daun
Allium atroviolaceum dan Sonchus arvensis (Lorigooini et al. 2014)

Minyak daun S. borneensis memiliki aktivitas yang kuat
terhadap semua mikroba yang diuji dalam penelitian ini dan hasil ini
disetujui oleh Kuspradini et al. (2016) yang men-skrining aktivitas
antimikroba dari beberapa minyak esensial. Telah dilaporkan bahwa
minyak daun S. borneensis memiliki aktivitas antimikroba terhadap S.
aureus dan C. albicans tanpa perbandingan konsentrasi yang berbeda.
Dibandingkan dengan hasil dari penelitian sebelumnya, aktivitas
penghambatan minyak esensial S. borneensis terhadap S. aureus lebih
kuat dalam penelitian ini. Aktivitas perbedaan ini mungkin karena
variasi dalam komposisi minyak atsiri pada waktu pengumpulan
sampel yang berbeda. Aktivitas biologis dan farmakologis dari minyak
atsiri bergantung pada spesies, faktor ekologi dan kondisi lingkungan
(Lahlou, 2004). Berdasarkan indeks aktivitas (AI), minyak atsiri
memiliki potensi yang baik sebagai agen antimikroba. Kisaran AI
adalah 0,59 - 1,05, 1,65 - 3,04, 1,79 - 3,11 pada konsentrasi encer yang
berbeda masing-masing 1, 1/10 dan 1/100. Indeks aktivitas kontrol
positif atau antibiotik adalah 1. Nilai AI lebih dari 1 menunjukkan

44 | Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

peran sampel yang cukup besar. Menariknya, indeks aktivitas tinggi
(AI>1) diamati pada konsentrasi minyak atsiri 1/10 dan 1.

Menurut Hosamath (2011) dan Awan et al. (2013) indeks
aktivitas zat uji di atas 0,5 dianggap sebagai aktivitas signifikan dan
lebih banyak nilai AI mengevaluasi hasil yang lebih signifikan.
Aktivitas anti mikroba dari minyak atsiri tertentu dapat bergantung
hanya pada satu atau dua unsur utama minyak tersebut. Namun,
semakin banyak bukti menunjukkan bahwa aktivitas inheren minyak
atsiri dapat mengandalkan tidak hanya rasio konstituen aktif utama,
tetapi juga interaksi antara mereka dan konstituen minor minyak
(Singh et al. 2014).

Dalam penelitian ini, sebagian besar komponen minyak atsiri
daun S. borneensis adalah senyawa yang mengandung belerang,
dengan 93,49% terdiri dari sulfida dengan dua atau tiga atom belerang.
Para peneliti telah menunjukkan bahwa senyawa yang mengandung
belerang mungkin berguna sebagai antimikroba (Naganawa et al.
1996; Lim et al. 1998; Kim et al. 2006). Menurut penelitian sebelumnya
(Kim et al. 2004), sulfida terutama yang memiliki tiga atau lebih atom
belerang, ternyata memiliki aktivitas antimikroba yang kuat. Telah
dikemukakan bahwa aktivitas antimikroba yang kuat dari minyak
daun S. borneensis disebabkan oleh ketersediaan unsur utamanya
dengan tiga atom belerang; 2,4,6-trithiaheptane-2,2-dioksida.

Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang) | 45

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Konsentrasi penghambatan setengah maksimal 50 (IC50)
digunakan untuk menentukan kapasitas anti oksidan sampel
dibandingkan dengan standar. Sampel yang memiliki nilai IC50 lebih
rendah dari 50 μg/ml adalah antioksidan yang sangat kuat, 50 - 100
μg/mL adalah antioksidan yang kuat, 101-150 μg/mL adalah
antioksidan sedang, sedangkan antioksidan yang lemah dengan IC50
lebih tinggi dari 150 μg/mL (Blois, 1958). Berdasarkan hal ini, minyak
esensial S. borneensis dapat diklasifikasikan sebagai anti oksidan
lemah dengan IC50 lebih dari 150 µg/mL.

Para peneliti telah menunjukkan bahwa senyawa yang
mengandung belerang mungkin bermanfaat sebagai anti oksidan
(Dansette et al. 1990; Pappa et al. 2007). Tetapi, dalam banyak minyak
esensial karena tidak adanya fenol, kebanyakan dari mereka tidak
menunjukkan aktivitas anti oksidan atau rendah (Sharopov et al.
2015). Dapat diasumsikan bahwa aktivitas antioksidan dari minyak
esensial yang diuji sebagai ekstrak nonpolar dapat dikaitkan dengan
konsentrasi fenoliknya. Namun, penting untuk disadari bahwa dalam
kasus-kasus tertentu, antioksidan dapat bersifat pro-oksidan dan
dapat merangsang reaksi radikal bebas.

Metode untuk mengekspresikan aktivitas antioksidan tampak
beragam seperti metode pengukuran antioksidan. Pengukuran
aktivitas antioksidan, terutama untuk anti oksidan yang bersifat
campuran yang berfungsi multifungsi dalam sistem multifase

46 | Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang)

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

kompleks, tidak dapat dievaluasi secara memuaskan dengan uji
antioksidan sederhana tanpa mempertimbangkan banyak variabel
yang mempengaruhi hasil (Antolovich et al. 2002).

Bab 4 (Minyak atsiri kayu bawang) | 47

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Andries, JR., Gunawan, PN., Supit, A. 2014. Uji Efek Anti Bakteri
Ekstrak Bunga Cengkeh terhadap Bakteri Streptococcus
mutans secara In Vitro. Fakultas Kedokteran Universitas Sam
Ratulangi Manado. Jurnal e-GiGi (eG), Volume 2, Nomor 2,
Juli-Desember 2014.

Antolovich M, Prenzler PD, Patsalides E, Suzanne McD, and Robards
K. Methods for testing antioxidant activity. Analyst, 2002;
127(1): 183–198.

Burkill I.H. 1935. A Dictionary of the economical products of the Malay.
Peninsula London. 1985-1986.

Diana R, Hadriyanto D, Hastaniah, Suwasono A.R. 2011. Profil Bahan
Induk dan Penyebaran Regenersi Kayu Bawang
(Scorodocarpus borneensis Becc.) di Hutan Pendidikan Kebun
Raya Unmul Samarinda. Prosiding Seminar Nasional
“Konservasi Tumbuhan Tropika: Kondisi Terkini dan
Tantangan ke Depan.” April 2011. Kebun Raya Cibodas-LIPI.
Bogor.

Donaldson JR, Warner SL, Cates RG, and Young DG. Assessment of
antimicrobial activity of fourteen essential oils when using
dilution and diffusion methods. Pharm Biol, 2005; 43 (8): 687-
95.

Ernawati E. 2013. Kajian Konservasi Kulim (Scorodocarpus borneensis
Becc.) di Hutan Adat Desa Aur Kuning, Provinsi Riau. [Tesis].
Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Heriyanto N.M, Garsetiasih R. 2004. Potensi Pohon Kulim
(Scorodocarpus borneensis Becc.) di Kelompok Hutan Gelawan
Kampar, Riau. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan
dan Konservasi Alam, Bogor. Bogor.

48 | Daftar pustaka

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Heyne, K. 1987. Tumbuhan berguna Indonesia Jilid II. Yayasan
Winajaya. Jakarta.

Hoe, V.B. and K.H. Siong. 1999. The nutritional value of indigenous
fruits and vegetables in sarawak. Asia Pacific Jurnal Clinical
Nutrition 8(1): 24-31.

Hosamath, P.V. 2011. Evaluation of antimicrobial activity of Litsea
glutinosa. International Journal of Pharmaceutical
Applications 2(1):105-114.

Kartika R, Barus T, Surbakti R, Simanjuntak P. 2011. Uji Toksisitas,
Antioksidan, dan Uji Fitokimia dari Kulit Kayu Bawang Hutan
(S. borneensis Becc.). Prosiding Seminar Nasional Kimia 2011.
USU (Universitas Sumatera Utara).

Kartika R, dan Simanjuntak P. 2013. Uji Anti kanker Kulit Kayu
Bawang Hutan (S.borneensis) Terhadap Sel Leukimia L1210.
Prosiding Seminar Nasional Kimia 2013.

Keng, H. 1969. Ordes and Families of Malaya Seed Plants. Singapure.
University Press.

Kim, J.W., Y.S. Kim, and K.H. Kyung. 2004. Inhibitory activity of
essential oils of garlic and onion against bacteria and
yeasts. Journal of Food Protection 67(3): 499-504.

Kim, S., R. Kubec and R.A. Musah. Antibacterial and antifungal
activity of sulfur-containing compounds from Petiveria alliacea
L. 2006. Journal of Ethnopharmacology 104(1): 188–192.

Kubota K, Ohhira S, Kobayashi A. 1994. Identification and
Antimicrobial Activity of the Volatile Flavor Constituens from
S.borneensis Becc. Department of Nutrition and Food Science.
Ochanomizu University, Bunkyo-ku, Tokyo 112, Japan.

Kubota, K. and A. Kobayashi. 1994. Sulfur compounds in foods. Sulfur
compounds in wood garlic (Scorodocarpus borneensis Becc.) as
versatile food components. (Eds. Mussinan, C. J. & Keelan, M.
E.). ACS Symposium Series 564: 238–246.

Kubota, K., M. Matsumoto (Shimojima), M. Ueda, and A. Kobayashi.
1994. New antimicrobial compound from Scorodocarpus
borneensis Becc. Bioscience Biotechnology Biochemistry 58(2):
430-431.

Daftar pustaka | 49

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Kubota, K., S. Ohhira and A. Kobayashi. 1994. Identification and
antimicrobial activity of the volatile flavor constituens from
Scorodocarpus borneensis Becc. Bioscience Biotechnology
Biochemistry 58(4): 644-646.

Kuspradini H, Egra S, Wulandari I , Putri A.S. 2018. Chemical
composition and bioactivity of essential oil from the leaves of
Scorodocarpus borneensis Becc. (Olacaceae) grown in Indonesia
. The Asian International Journal of Life Sciences ISSN 0117-
3375. Volume 27 Number 2 July-December 2018. Rushing
Water Publishers Ltd.

Kuspradini H, Putri S.A, Sukaton E, Mitsunaga T. 2016. Bioactivity of
Essential Oils from Leaves of Dryobalanops lanceolata,
Cinnamomum burmannii, Cananga odorata, and
Scorodocarpus borneensis. Agriculture and Agricultural
Science Procedia. 9: 411- 418

Lahlou, M. 2004. Methods to study the phytochemistry and bioactivity
of essential oils. Phytotherapy Research 18 (6): 435-448.

Li, P., Y.B. Luo, P. Bernhardt, X,Q. Yang and Y. Kou. 2006. Deceptive
pollination of the lady's slipper Cypripedium tibeticum
(Orchidaceae). Plant Systematics and Evolution 262(1/2): 53-
63.

Lim, H., K. Kubota, A. Kobayashi and F. Sugawara. 1998. Sulfur-
containing compounds from Scorodocarpus borneensis and
their antimicrobial activity. Phytochemistry 48(5): 787-790.

Lim, T.K. 2012. Edible medicinal and non-medicinal plants: Volume 4,
Fruits. 2012th ed. Dordrecht: Springer Netherlands.

Lorigooini, Z., K. Farzad and A.A. Seyed. 2014. Anti-platelet
aggregation assay and chemical composition of essential oil
from Allium atroviolaceum Boiss growing in Iran.
International Journal of Biosciences 5(2): 151-156.

Martawijaya A, I Kartasujana, YI Mandang, SA Prawira, K Kadir.
1989. Atlas Kayu Indonesia jilid II. Departemen Kehutanan.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.

Medi L. 1998. Pemanfaatan dan pelestarian hasil hutan non kayu oleh
Suku Sakai di Desa Sebangar.

Miller, A.B., R.G. Cates, M. Lawrence, J.A.F. Soria, L.V. Espinoza and
J.V. Martinez. 2015. The antibacterial and antifungal activity

50 | Daftar pustaka

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

of essential oils extracted from guatemalan medicinal
plants. Pharmaceutical Biology 53(4): 548-54.

Mogea JPM, D Gandawidjaja, H Wiriadinata, RE Nasution, Irawati.
2001. Tumbuhan Langka Indonesia. Buku Seri Panduan
Lapangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi – LIPI.
Balai Penelitian Botani, Herbarium Bogoriense. Bogor,
Indonesia.

Mohammad, N.S., P. Milow and H.C. Ong. 2012. Traditional medicinal
plants used by the Kensiu tribe of Lubuk Ulu Legong, Kedah,
Malaysia. Studies on Ethno-Medicine 6(3): 149-153.

Naganawa, R., N. Iwata, K. Ishikawa, H. Fukuda, T. Fujino and A.
Suzuki. 1996. Inhibition of microbial growth by ajoene, a
sulfur-containing compound derived from garlic. Applied and
Environmental Microbiology 62(11): 4238-4242.

Pappa, A., R. Franco, O. Schoneveld, A. Galanis, R. Sandaltzopoulos
and M.I. Panayiotidis University of Nevada at Reno, School of
Public Health / MS-274, Department of Environmental &
Occupational Health, Reno,NV 89557-0274, USA, 2007.
Sulfur-containing compounds in protecting against oxidant-
mediated lung diseases. Current Medicinal Chemistry 14(24):
2590-2596.

Rockwood, G.A., D.E. Thompson, and I. Petrikovics. 2016. Dimethyl
trisulfide: a novel cyanide countermeasure. Toxicology and
Industrial Health 32 (12): 2009-2016.

Sabouraud, R. 2009. ‘Les Teignes’ 1910; Masson, Paris. Salemba
Medika: Jakarta.

Setyowati, FM dan Wardah. 2007. Keanekaragaman Tumbuhan Obat
Masyarakat Talang Mamak di Sekitar Taman Nasional Bukit
Tigapuluh, Riau Diversity Of Medicinal Plant: Talang Mamak
Tribe In Surrounding Of Bukit Tiga Puluh National Park,
Riau. Biodiversitas. ISSN: 1412-033x Volume 8, Nomor 3 Juli
2007 Halaman: 228-232.

Sharopov, F.S., Wink, M., and Setzer, W. N. 2015. Radical scavenging
and antioxidant activities of essential oil components-an
experimental and computational investigation. Natural
Product Communication 10 (1): 153–156.

Daftar pustaka | 51

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Siddiqui, M.H, F.C. Oad and G.H. Jamro. 2006. Emergence and
nitrogen use efficiency of maize under different tillage
operations and fertility levels. Asian Journal of Plant Sciences
5 (3): 508-510.

Singh, S., S.S. Das, G. Singh, C. Schuff, M.P. De Lampasona and C.A.N
Catalan. 2014. Composition, in vitro antioxidant and
antimicrobial activities of essential oil and oleoresins obtained
from black cumin seeds (Nigella sativa L.). BioMed Research
International 1-10.

Sitepu S.B, Pamungkas G.A. 2015. Ekologi dan Pemanfaatan Resak
Tembaga (Cotylelobium melanoxylon (Hook F.) Piere) dan
Kulim (Scorodocarpus borneensis Becc.) di Kalimantan serta
Upaya Konservasinya. Prosiding Workshop ITTO Project PD
710/13 Rev.1 (F), April 2015. Pekanbaru.

Sosef MSM, Hong LT, S Prawirohatmodjo. 1998. Plant Resources of
South-East Asia 5(3) Timber trees: Lesser-known timbers.
PROSEA. Bogor.

Sudrajat, Susanto D, Sudiastuti. 2016. Phytochemicals Analysis,
Antioxidant Capacities and Antimicrobial Properties of Ethyl
Acetat Extract ofStem Bark of the Garlic Tree Scorodocarpus
borneensis Becc. Journal of Agricultural Science and
Technology A 6 (2016) 403-410.

Sunarni,T., 2005. Aktivitas Antioksidan Penangkap Radikal Bebas
Beberapa Kecambah Dari Biji Tanaman Familia
Papilionaceae, Jurnal Farmasi Indonesia 2 (2), 2001, 53-61.

Wiart C, Martin T.M, Awang K, Hue N, Serani L, Laprevote O, Pais M,
Rhamani M. 2001. Sesquiterpenes and alkaloids from
Scorodocarpus borneensis. Phytochemistry 58 (2001) 653–656.

Zito, P., M. Sajeva, A. Raspi and S. Dötterl. 2014. Dimethyl disulfide
and dimethyl trisulfide: so similar yet so different in evoking
biological responses in Saprophilous flies. Chemoecology.
24(6): 261-267.

52 | Daftar pustaka

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Absorbansi : banyaknya cahaya atau energi yang diserap
Aditif oleh partikel-partikel dalam larutan.
Agregasi
Agroforestry : bahan yang ditambahkan kedalam pangan
Aromatik untuk mempengaruhi sifat atau bentuk
Bioaktif pangan.

Dekomposisi : pengumpulan sejumlah benda yg terpisah-
pisah menjadi satu.
Difusi
Distilasi : sistem penggunaan lahan secara terpadu
yang mengombinasikan pepohonan dengan
tanaman pertanian dan/atau ternak (hewan).

: senyawa hidrokarbon yang memiliki ikatan
tunggal dan ikatan rangkap di antara atom
karbonnya.

: senyawa kimia seperti vitamin dan mineral
yang mempunyai efek fisiologis dalam tubuh
yang berpengaruh positif terhadap kesehatan
manusia.

: jenis reaksi kimia dimana senyawa tunggal
terurai menjadi dua atau lebih unsur atau
senyawa baru/menjadi bentuk yang lebih
sederhana.

: peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu
zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi
tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah.

: sering disebut dengan penyulingan atau
suatu metode pemisahan bahan kimia

Glosarium | 53

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

berdasarkan perbedaan kecepatan atau
kemudahan menguap (volatilitas) bahan.

Distilat : hasil yang diperoleh dari proses distilasi.

Ekologi : ilmu yang mempelajari interaksi antara
organisme dengan lingkungannya dan yang
lainnya.

Eksploitasi : suatu tindakan yang bertujuan untuk
mengambil keuntungan atau memanfaatkan

sesuatu secara berlebihan dan sewenang-
wenang.

Eks-situ : usaha pelestarian alam yang dilakukan di
luar habitat aslinya.

Endemik : asli dan ditemukan di suatu wilayah
tertentu.

Enfleurasi : cara pengambilan minyak atsiri bunga dari

lemak sebagai absorben yang telah jenuh
dengan aroma wangi bunga, dimana proses
penyerapan aroma oleh lemak terjadi dalam
keadaan tanpa pemanasan.

Enumerasi : teknik yang digunakan untuk mengestimasi
atau menghitung jumlah.

Faktor edafik : faktor tanah atau faktor yang berkaitan

dengan struktur dan komposisi tanah yang
ada suatu wilayah.

Faktor klimatik : faktor iklim yang berpengaruh terhadap
persebaran tumbuhan dan hewan yaitu suhu,
kelembapan udara, angin dan curah hujan.

Faktor genetik : faktor yang berkaitan dengan pewarisan sifat
dan variasi sifat pada organisme maupun

suborganisme (seperti virus).

Farmakologi : ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan
obat-obatan.

Fisiologi : salah satu cabang biologi yang mempelajari
berlangsungnya sistem kehidupan.

54 | Glosarium

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Fraksi : jumlah yang dikumpulkan dari kumpulan
suatu zat dalam proses pemisahan

fraksionasi.

Habitat : tempat suatu makhluk hidup tinggal dan
berkembang biak.

Hutan adat : hutan yang berada dalam wilayah
masyarakat hukum adat.

Hutan murni : hutan yang sebagian besar dihuni oleh satu
jenis pohon.

Hutan produksi : kawasan hutan yang mempunyai fungsi
pokok memproduksi hasil hutan.

Hutan rimba : hutan lebat yang biasanya dipenuhi dengan
pohon yang berumur tua.

Inheren : Berhubungan erat dengan suatu hal.

In-situ : usaha pelestarian alam yang dilakukan di
dalam habitat aslinya.

Intensitas : kemampuan dalam mengukur keadaan
tingkatan atau ukuran intensnya.

Intoleran : ketidak-bersediaan untuk tidak menerima
suatu perbedaan.

In vitro : teknik melakukan prosuder yang diberikan
dalam lingkungan yang terkendali di luar
organisme hidup (misalnya dalam tabung
reaksi, piring kultur sel, dan lain-lain).

Isolasi : pemisahan suatu hal dari hal lain.

Kayu gubal : bagian kayu yang masih muda terdiri dari
sel-sel yang masih hidup, terletak di sebelah

dalam cambium dan berfungsi sebagai
penyalur cairan dan tempat penimbunan zat-
zat makanan.

Kayu teras : bagian dari jaringan kayu pada batang yang
terdalam (inti kayu).

Glosarium | 55

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Konservasi : upaya-upaya pelestarian lingkungan akan
tetapi tetap memperhatikan manfaat yang

bisa didapatkan pada saat itu dengan cara
tetap mempertahankan keberadaan setiap
komponen-komponen lingkungan untuk
pemanfaatan di masa yang akan datang.

Konversi : suatu proses perubahan dari satu sistem ke
sistem lainnya yang lebih baik.

Lestari : pengelolaan hutan secara berkesinambungan

yang dirancang untuk mengurangi emisi gas
rumah kaca dan melestarikan
keanekaragaman hayati pada ekosistem
hutan.

Mega biodiversitas : keanekaragaman hayati yang sangat besar
atau berlimpah.

Mortalitas : ukuran jumlah kematian pada suatu
populasi.

Oral : segala sesuatu yang berhubungan dengan
mulut.

Pancang : anakan pohon dengan tinggi lebih dari 150
cm, tetapi memiliki diameter batang kurang
dari 10 cm.

Patogen : mikroorganisme parasit yang dapat
menyebabkan penyakit.

Plak gigi : lapisan lengket yang melapisi gigi dan
mengandung bakteri.

Plasma nutfah : substansi pembawa sifat keturunan yang

dapat berupa organ utuh atau bagian dari

tumbuhan atau hewan serta

mikroorganisme.

Radikal bebas : produk limbah dari berbagai reaksi kimia
yang merusak sel-sel tubuh.

Reagen : cairan atau bahan kimia yang digunakan
untuk mengetahui reaksi kimia.

56 | Glosarium

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Reduksi : proses kehilamgan oksigen dan penangkapan
hidrogen.

Refluks : teknik distilasi yang melibatkan kondensasi
uap dan berbaliknya kondensat ini ke dalam
sistem asalnya.

Regenerasi : penggantian alat yang rusak atau yang
hilang dengan pembentukan jaringan sel
baru.

Reproduksi : proses pembuatan individu organisme baru
berdasarkan induknya (berkembangbiak).

Semai : benih tumbuhan (yang sudah berkecambah)
yang akan ditanam lagi sebagai bibit di
tempat lain.

Substitusi : sesuatu yang dapat menggantikan fungsi
atau kegunaan secara sempurna.

Tajuk : keseluruhan bagian tumbuhan, terutama
pohon, perdu, atau liana, yang berada di atas
permukaan tanah yang menempel pada
batang utama.

Tiang : pohon dengan ukuran diameter antara 10 cm
dan 20 cm.

Toksik : suatu senyawa atau zat yang menimbulkan
efek beracun.

Umpak : unsur bangunan yang berfungsi sebagai
penyangga tiang pada bangunan
berkonstruksi kayu.

Waktu retensi : waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk
bergerak melalui kolom menuju detektor .

Wasir : pembengkakan atau pembesaran dari
pembuluh darah di usus besar bagian akhir
(rectum), serta dubur atau anus.

Glosarium | 57

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Harlinda Kuspradini

Harlinda Kuspradini, Ph.D
dilahirkan di Samarinda pada
tanggal 28 April 1975. Terlahir
sebagai puteri kedua bapak Alm. H.
Muhammad Kusosi dan ibu Hj.
Suprapti. Memiliki 2 orang puteri
dan 1 orang putera dengan suami
yang bernama Yusuf Arif Setiawan.
Saat ini bekerja sebagai dosen di
Fakultas Kehutanan Universitas
Mulawarman.

Mengawali sekolah dasar di SD Negeri Ungaran II di Yogyakarta pada
tahun 1981 dan menyelesaikan di SD Muhammadiyah I Samarinda pada
tahun 1987. Pendidikan SMP Negeri 2 dan SMA Negeri 2 diselesaikan di
Samarinda pada tahun 1990 dan 1993. Sarjana Kehutanan (Fakultas
Kehutanan Universitas Mulawarman) lulus pada tahun 1998, Pasca
Sarjana (S2 Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman) lulus tahun
2001 dan menamatkan S3 di Gifu University, Jepang pada tahun 2009.
Harlinda Kuspradini, Ph.D menempuh karir sebagai Dosen di Jurusan
Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman,
Samarinda sampai sekarang. Adapun bidang keahlian utama yang
bersangkutan adalah Pengolahan Hasil Hutan (Kayu dan Non Kayu) dan
Pemanfaatan Bahan Alam. Sejak tahun 2001 hingga saat ini telah
menghasilkan beberapa karya tulis yang diterbitkan dalam jurnal nasional
dan internasional. Karya-karya ilmiahnya dapat dilihat pada:
https://www.researchgate.net/profile/Harlinda_Kuspradini;
https://orcid.org/0000-0001-5716-5955

Daftar pustaka | 51

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Agmi Sinta Putri

Agmi Sinta Putri, S.Si., M.Hut, lahir di
kota Samarinda tanggal 17 Juli 1991,
puteri pertama bapak Drs. Agus
Bambang Priyanto dan ibu Suparmi. Ia
telah menyelesaikan Pendidikan
Sarjana di Fakultas MIPA Universitas
Mulawarman pada tahun 2014 dan
Pasca Sarjana (S2) di Fakultas
Kehutanan Universitas Mulawarman
pada tahun 2017.

Sejak tahun 2014, ia juga aktif
sebagai asisten peneliti di
Laboratorium Kimia Hasil Hutan,
Fakultas Kehutanan Universitas
Mulawarman serta terlibat dalam
Hibah Kompetensi (HIKOM) Ristek
Dikti tahun 2017-2019.

Ia pernah mengikuti beberapa kegiatan nasional dan internasional,
dan menulis buku serta menerbitkan beberapa jurnal internasional.
Beberapa tulisan yang sudah diterbitkan antara lain: Karakteristik dan
Identifikasi Bakteri Asam Laktat dalam Asinan Pak Choi (Brassica
chinensis L.) pada Kadar Garam yang Berbeda (Journal Science East
Borneo, 1(6), 2013); Bioactivity of Essential Oils from Leaves of
Dryobalanops lanceolata, Cinnamomum burmannii, Cananga odorata, and
Scorodocarpus borneensis (Agriculture and Agricultural Science Procedia, 9:
411-418, 2016); Antioxidant and Toxicity Properties of Anthocyanin
Extracted from Red Flower of Four Tropical Shurbs (Nusantara Bioscience,
8(2): 135-140, 2016); Chemical Composition, Antibacterial and Antioxidant
Activities of Essential Oils of Dryobalanops lanceolata (Research Journal of
Medicinal Plants, 12(1): 19-25. ISSN 1819-3455, 2018); Chemical
Compositions and Antimicrobial Potential of Actinodaphne macrophylla
leaves oils from East Kalimantan (IOP Conf. Series: Earth and
Environmental Science, 144 (2018) 012021. Doi: 10.1088/1755-
1315/144/1/012021); Antibacterial and glucosyltransferase enzyme
inhibitory activity of Helmyntostachys zelanica (IOP Conf. Series: Earth and
Environmental Science, 144 (2018) 012021); Potensi Tumbuhan Genus
Litsea (Buku Mulawarman University Press ISBN: 978-602-6834-73-7,
2018); Chemical composition and bioactivity of essential oil from the leaves
of Scorodocarpus borneensis Becc. (Olacaceae) grown in Indonesia (ASIA
LIFE SCIENCES-The Asian International Journal of Life Sciences. 27(2):
343-353, 2018); Phytochemical, antioxidant and antimicrobial properties of
Litsea angulata extracts (F1000Research, 7: 1839, ISSN: 2046-1402, 2018);
Short Communication: In vitro antibacterial activity of essential oils from
twelve aromatic plants from East Kalimantan, Indonesia (Biodiversitas
Journal of Biological Diversity, 20(7): 2039-2042, 2019).

52 | Daftar pustaka

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Saat Egra

Saat Egra, lahir di Tarakan tanggal
20 April 27 Tahun silam dari
pasangan Tanto S.Pd dan Saminem.
Ia menyelesaikan kuliah S-1 di
Fakultas Kehutanan, Universitas
Mulawarman dan S2 di Applied
Biological Sciences, Gifu University.

Suami dari seorang istri,
Dwi Sartika S.E, dan ayah dari 2
orang putri, Sa'ad Shaumi Adiba
Hanum dan Sa'ad Zahsy Adiba
Hanum. Aktivitas sehari-hari adalah
Dosen tetap untuk mata kuliah kimia
pertanian di Fakultas Pertanian,
Universitas Borneo Tarakan,
Kalimantan Utara.

Saat ini, penulis telah menerbitkan jurnal nasional maupun
internasional dengan bidang ilmu kimia bahan alam dan pemanfaatannya.
selain aktif sebagai pengajar juga terlibat dalam tim-tim penelitian.

Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan antara lain:
Kandungan Antioksidan Pada Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)
2018, Potensi Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) Terhadap
Penghambatan Candida albicans dan Propionibacterium acnes (2018),
Antioxidant and Antiglycation Activity of Rhizosphere and Endophytic
Actinobacteria of Xylocarpus granatum (2019), The potential of white-oyster
mushroom (Pleurotus ostreatus) as antimicrobial and natural antioxidant
(2019), Short Communication: In vitro antibacterial activity of Essential Oils
from Twelve Aromatic Plants From East Kalimantan, Indonesia (2019), Uji
Potensi Ekstrak Daun Tanaman Ketepeng (Cassia alata L) dalam
Menghambat Pertumbuhan Bakteri Ralstonia solanacearum dan
Streptococcus sobrinus (2019), Aktivitas Antimikroba Ekstrak Bakau
(Rhizophora mucronata) dalam Menghambat Pertumbuhan Ralstonia
Solanacearum Penyebab Penyakit Layu (2019), Aktivitas Antimikroba
Tanaman Paku (Stenochlaena palustris dan Pteridium caudatum) Terhadap
Bakteri (Ralstonia solanacearum dan Streptococcus sobrinus) (2019),
Chemical composition and bioactivity of essential oil from the leaves of
Scorodocarpus borneensis Becc. (Olacaceae) grown in Indonesia (2019), dan
Pengaruh Metode Pengeringan Terhadap Karakteristik dan Sifat
Organoleptik Biji Kopi Arabika (Coffeae Arabica) Dan Biji Kopi Robusta
(Coffeae Cannephora) (2019).

Daftar pustaka | 53

MINYAK ATSIRI KAYU BAWANG
Pengolahan Daun Scorodocarpus borneensis

Indah Wulandari

Indah Wulandari, M.Hut Lahir di

kota Malinau tanggal 6 Maret 1991

dari pasangan Sapri dan Arbayah.

Menyelesaikan Pendidikan Sarjana

pada tahun 2015 dan Pasca Sarjana

(S2) pada tahun 2018 di Fakultas

Kehutanan Universitas

Mulawarman.

Saat ini penulis bekerja sebagai

dosen tetap di Perguruan Tinggi

Politeknik Malinau, Kalimantan

Utara sejak tahun 2018

Sejak tahun 2013, Penulis juga aktif sebagai asisten peneliti di
Laboraturium Kimia Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas
Mulawarman hingga tahun 2018. Penulis aktif mengikuti kegiatan kegiatan

seminar nasional dan internasional. Penulis juga telah menerbitkan
beberapa karya di bidang Pemanfaatan Hasil Hutan Non Kayu, antara lain:
Analisis Metabolit Sekunder Lima Jenis Tumbuhan Berkayu dari Genus
Litsea (2018), Antioxidant and Antibacterial activity of Litsea garciae (2018),
dan Phytochemical, antioxidant and antimicrobial properties of Litsea
angulata extracts (2018).

54 | Daftar pustaka


Click to View FlipBook Version