The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Novel Silaen, 2025-02-26 08:46:36

Buletin Live In Kelas XI-4 Kelompok 5

Buletin Live In Kelas XI-4 Kelompok 5

LI V E I N BALI • XI-4 K E LOM OP 5 K • The Natural Beauty and Culture of Bali SMAS KATOLIK COR JESU MALANG “KEINDAHAN ALAM DAN BUDAYA BALI”


Daftar Isi TIM REDAKSI 02 03 04 07 09 12 18 21 SMAS KATOLIK COR JESU PANCASILA ANTROPOLOGI KERAJINAN FROM THE EDITOR SEJARAH SOSIOLOGI PENGOLAHAN


2 5. Paulo Donsio Rafael Turnip /24 Tim Redaksi 4. Novelina Margaretha Silaen /22 6. Vinita Clarabelle Sirait /28 2 2. Axcel Panenga Binti/04 3. Maria Fransisco Yempormase/ 19 1. Aldo Setiawan Pratama/02


From the Editor Bali bukan sekadar destinasi, ini adalah pengalaman. Setiap sudut pulau ini menyimpan cerita yang menunggu untuk ditemukan, setiap senyum penduduknya adalah undangan untuk merasakan kehangatan budayanya. Lebih dari sekadar pemandangan indah, Bali adalah perjalanan jiwa. Mari kita selami lebih dalam, temukan kedamaian di antara sawah terasering yang menghijau, dan biarkan diri kita terpesona oleh tarian sakral yang memukau. Bali menanti Anda dengan sejuta pesona yang tak terlupakan. 3


PANCASILA Pancasila, sebagai dasar negara Indonesia, memiliki peran yang sangat besar serta penuh arti yang bermakna dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila terdiri dari lima sila yang mengandung nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman dalam berbagai aspek kehidupan bangsa Indonesia, dari zaman dulu hingga kini. Kegiatan Live In ini mengajak dan mengajarkan kami, sebagai peserta didik SMAS Katolik Cor Jesu Malang, untuk ikut serta mengamalkan nilai-nggilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari bersama masyarakat Desa Pinge. P 4 Desa adat Pinge merupakan salah satu contoh nyata bagaimana nilai-nilai Pancasila diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Di desa adat Pinge, nilai-nilai Pancasila tidak hanya dijadikan pedoman dalam kehidupan sosial, tetapi juga dalam pelestarian budaya dan adat masyarakat disana. Dengan demikian, kehidupan di desa adat Pinge Bali menjadi contoh nyata bagaimana Pancasila menjadi fondasi yang kokoh dalam menjaga harmoni dan kesejahteraan masyarakat, sekaligus melestarikan budaya dan tradisi lokal.


Penerapan dari sila pertama, yakni Ketuhanan yang Maha Esa. Masyarakat Desa Adat Pinge menjalankan kehidupan yang sangat religius dan penuh dengan ritual keagamaan. Kami sebagai siswa/i SMAS Katolik Cor Jesu Malang belajar untuk menghormati dan menghargai perbedaan agama dan kepercayaan yang ada di masyarakat sesuai dengan nilainilai serviam seperti ikut serta dalam upacara keagamaan di Pura bersama dengan masyarakat desa adat Pinge. 1 Penerapan sila ketiga, yakni Persatuan Indonesia. Masyarakat Desa Adat Pinge hidup dalam semangat gotong royong dan kebersamaan. Mereka bekerja sama dalam berbagai kegiatan, baik itu kegiatan budaya, sosial, maupun ekonomi. Kami siswa/i belajar untuk bersatu dan bekerja sama dalam kelompok seperti saat melakukan kegiatan membuat jendela dengan bambu dan memanggang sate lilit bersama dalam kelompok lalu memakannya bersama. Hal ini mencerminkan kuatnya persatuan dan rasa kebersamaan kami diantara begitu banyaknya perbedaan yang kami miliki. 2 5


3 Penerapan sila keempat, yakni Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Desa adat Pinge memiliki struktur pemerintahan adat yang melibatkan musyawarah dalam mengambil sebuah keputusan. Setiap keputusan yang diambil berdasarkan kesepakatan bersama melalui musyawarah, sehingga mencerminkan nilai demokrasi yang bijaksana. Contohnya kami diajak untuk melakukan tracking dalam rangka kegiatan diskusi mencari tanaman dengan memetik buah dan rempah-rempah dengan menggunakan clue-clue yang diberikan oleh bapak-bapak panitia penyelenggara yang ada disana yang dipimpin oleh warga lokal Bali di Desa Pinge. 4 Penerapan sila kelima, yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kami sebagai siswa/i mampu untuk belajar secara individu untuk bersikap hormat dan saling melayani dengan warga lokal Desa Pinge yang sudah kami anggap sebagai orang tua kami sendiri. Kita juga bersikap adil dalam pembagian makanan yang diberikan oleh orang tua kami dengan teman-teman yang tinggal bersamaan, sehingga tidak ada yang kelebihan atau kekurangan dalam pembagian. 5 Dengan demikian, kehidupan di desa adat Pinge Bali adalah contoh nyata penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat desa ini menunjukan bahwa nilai-nilai Pancasila dapat menjadi pedoman dalam menjaga dan melestarikan budaya, memajukan kehidupan sosial, dan menciptakan kesejahteraan bagi seluruh anggota masyarakat desa adat Pinge. 6


HISTORY OF BALI In Desa Pinge. Desa Pinge The Sejarah - History Seperti yang kalian ketahui, Pemuda adalah aset bangsa yang sangat penting untuk memungkinkan kemajuan/perkembangan sebuah bangsa. Bahkan peran pemuda dalam kemerdekaan Indonesia sangat berpengaruh. Mulai dari sumpah pemuda 1928, proklamasi kemerdekaan 1945, hingga reformasi 1998, semua digerakkan oleh semangat pemuda/i Bangsa. Pemuda/i yang ada berada di Desa Pinge juga dapat menjadi pemandu bagi turis lokal maupun turis luar negeri. Mereka juga terlatih untuk memandu wisatawan baik dalam kegiatan tracking maupun kegiatan lainnya, mereka juga terlatih untuk meningkatkan kemampuan berbahasa inggris agar dapat berinteraksi dengan wisatawan yang sedang di pandu. mereka juga dapat menjadi pemandu yang seru dan juga tegas agar dapat menjaga keaslian dari Desa Pinge tersebut, wisatawan senang begitu juga dengan pemandu. Sekarang kita akan mencari tau/tahu peran pemuda/i di Desa Pinge dalam mengembangkan desanya. Dalam Desa Pinge terdapat peran pemuda/i dalam mempertahankan dan mengembangkan Desa Pinge yang mencakup berbagai aspek, seperti pengembangan pariwisata yang dimananya pemuda/i aktif dalam meningkatkan dan mengembangkan Desa Pinge menjadi desa wisata yang menarik perhatian wisatawan yang berkunjung dari luar Bali. 7


Pertanian dan Tradisi Agraris: Sebagian besar masyarakat Desa Pinge bermata pencaharian sebagai petani. Aktivitas seperti membajak sawah, menanam padi, dan memanen padi merupakan bagian dari kehidupan seharihari. Desa ini dikenal sebagai "bumi lumbung padi" karena hamparan sawah yang luas dan indah. KENAPA desa Pinge Organisasi Pemuda Desa Adat, pemuda dan pemudi yang tergabung di dalam organisasi berperan dalam kegiatan di desa adat. Selain itu, mereka juga sangat kreatif dalam mengembangkan potensi desa wisata, seperti mengemas potensi Desa Wisata Pinge ke dalam paket wisata yang menarik bagi mahasiswa nasional maupun internasional. Warga lokal Desa Pinge juga berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan dengan berbagai cara, yaitu dengan menjaga kebersihan dengan aktif dan juga teratur. Mereka juga membuat aturan desa untuk menjaga keteraturan dan kebersihan di area desa agar keasrian dari Desa wisata tersebut tidak luntur. Tentu saja mereka rutin dalam melakukan program kebersihan seperti membersihkan sampah dan memperbaiki fasilitas umum agar layak dipakai wisatawan yang berkunjung ke desa wisata tersebut. Nah, mari kita kasih tau apa saja kunci dari desa pinge bisa se awet dan bertahan sampai sekarang. BAGAIMANA SAJA SIH KEHIDUPAN DI DESA PINGE ITU?? Desa Pinge Sejarah 8 AWET? bisa Desa Pinge, yang terletak di Kabupaten Tabanan, Bali, menawarkan kehidupan yang khas pedesaan Bali yang asri dan kental dengan tradisi.


"Perjalanan Etnografi ke Desa Pinge: Menyaksikan Kehidupan yang Autentik" i pusat Pulau Dewata terletak sebuah permata, sebuah desa indah yang memancarkan keindahan alam nya. Pinge, desa di Bali ini dikelilingi oleh hamparan sawah padi yang hijau luas memberikan kedamaian yang sulit ditemukan di tempat lain. Tidak hanya tempat wisata, Pinge adalah rumah bagi masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya leluhur, sebuah tempat yang cocok untuk siapapun yang ingin merasakan Bali yang sesungguhnya. Desa Pinge, sebuah desa wisata yang terletak di Kabupaten Tabanan, Bali, memiliki budaya yang kaya dan unik, dimana masyarakatnya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya Bali yang diwariskan secara turun-temurun, tercermin dalam kehidupan sehari-hari yang harmonis, arsitektur rumah tradisional yang seragam dengan hiasan ukiran khas Bali, penggunaan bambu sebagai bagian penting dalam upacara adat dan kehidupan sehari-hari, serta kegiatan pertanian dan kerajinan tangan yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat. selain itu, Desa Pinge juga memiliki kesenian tradisional yang masih aktif dilestarikan, seperti Tari Bumbung Gebyog dan Tari Leko yang diiringi musik bambu tradisional, serta berbagai upacara adat yang terus dilaksanakan untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan, sehingga menciptakan daya tarik wisata yang kuat bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam budaya Bali yang autentik. D 9


Desa Pinge juga menawarkan kekayaan kuliner tradisional yang menggugah selera, di mana masyarakatnya masih mempertahankan resep-resep kuno yang diwariskan secara turun-temurun, menghasilkan hidangan-hidangan lezat seperti pulungan, yaitu nasi yang dibungkus dengan daun pisang dan berisi lauk pauk khas Bali, sambel kukus yang pedas dan aromatik, kue laklak yang manis dan lembut, serta lawar yang unik karena menggunakan bahan-bahan segar dari kebun sendiri dan memiliki cita rasa yang berbeda dari lawar pada umumnya, selain itu, wisatawan juga dapat menikmati hidangan lain seperti jukut ares (sayur batang pisang), betutu ayam atau bebek, dan kopi khas Pinge yang memiliki aroma dan rasa yang khas, sehingga pengalaman kuliner di Desa Pinge menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan wisata yang berkesan. Desa Pinge, di Bali, memiliki budaya yang kaya dan kepercayaan yang kuat, tercermin dalam kehidupan masyarakatnya yang menjunjung tinggi tradisi leluhur, di mana nilai-nilai Tri Hita Karana menjadi landasan utama dalam menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam, sehingga tercermin dalam berbagai upacara adat yang terus dilestarikan, seperti upacara Nyacah Jiwa dan upacara pertanian yang melibatkan penggunaan bambu sebagai bagian penting dalam ritual dan kehidupan sehari-hari, serta kesenian tradisional yang masih aktif dipelajari dan ditampilkan, seperti Tari Bumbung Gebyog dan Tari Leko yang diiringi musik bambu tradisional, sehingga menciptakan harmoni antara adat, kepercayaan, dan kesenian yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam budaya Bali yang autentik. 10


"Perjalanan Etnografi ke Desa Pinge: Menyaksikan Kehidupan yang Autentik" Berdasarkan wawancara saya dengan Pak Agung, Pak Ajik, dan Ibu Jeru serta hasil observasi saya di Desa Pinge, terdapat 3 kasta yaitu Ksatria, Waishya, dan Sudra. Di desa Pinge tidak terdapat kasta Brahmana, hanya yang paling tinggi adalah kasta Ksatria yang dimiliki oleh Ajik Ajung dan beberapa warga yang tinggal di kompleks 43. Kasta tidak terlalu berpengaruh dalam kehidupan sosial seperti harus menghormati yang lebih tinggi, melainkan mereka menganggap satu sama lain setara. Hal yang membedakan setiap kasta adalah cara mereka menyebut atau panggilan, serta gapura yang berada di depan kompleks. D 11 esa Pinge, sebuah desa wisata di Tabanan, Bali, memiliki ciri khas berupa rumah-rumah tradisional dengan arsitektur seragam dan ukiran khas Bali, penggunaan bambu dalam upacara adat dan kehidupan sehari-hari, kegiatan pertanian dan kerajinan tangan sebagai mata pencaharian utama, serta kesenian tradisional seperti Tari Bumbung Gebyog dan Tari Leko yang diiringi musik bambu, menjadikannya desa yang menjunjung tinggi budaya Bali kuno dan menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan kehidupan desa tradisional Bali.


charmofPinge Village The PESONA DESA PINGE Indonesia merupakan negara kepulauan, yang memiliki begitu banyak budaya dan tradisi yang tercermin dalam kehidupan masyarakat. Bali, merupakan salah satu pulau di Indonesia, yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang dipertahankan dengan baik, terutama di desa-desa tradisionalnya. Desa Pinge yang terletak di desa Baru kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali, adalah salah satu contoh yang membuktikan bahwa desa tersebut berhasil melestarikan warisan budaya mereka. Desa Pinge memiliki struktur sosial yang kompleks dan harmonis, dengan sistem nilai dan kepercayaan Hindu Bali yang menjadi landasan kehidupan bermasyarakat. Masyarakat Desa Pinge memiliki berbagai lembaga sosial yang berperan penting dalam mengatur kehidupan mereka. Dua diantaranya adalah pakramen dan banjar. Pakraman adalah lembaga adat yang mengatur kehidupan keagamaan dan sosial keagamaan di desa, sementara banjar adalah lembaga kemasyarakatan yang berbasis wilayah. Kedua lembaga ini bekerja sama untuk menciptakan kehidupan yang seimbang dan harmonis di Desa Pinge 12


13 Di Desa Pinge, konsep Tri Hita Karana bukan hanya landasan filosofis, tetapi juga landasan nyata dalam kehidupan seharihari. Masyarakat desa ini selalu berusaha menjaga keseimbangan hubungan mereka dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Contohnya, mereka rajin beribadah (Parahyangan), gotong royong (Pawongan), dan menjaga kebersihan lingkungan (Palemahan). Kehidupan sosial masyarakat Desa Pinge terjalin harmonis dengan nilai-nilai agama Hindu, turunan adat istiadat yang diwariskan dari leluhur serta kerangka hukum negara. Keseimbangan tersebut terjadi dalam aspek kehidupan yang lain, meliputi perihal pemanfaatan teknologi dan inovasi. Inisiatif pengembangan energi terbarukan merupakan bukti konkret dari desa untuk memajukan kesejahteraan seluruh masyarakat dengan cara berkelanjutan. Bidang pertanian, industri kerajinan tangan, dan sektor pariwisata yang berkenan di lingkungan, dan memainkan peranan penting dalam ekonomi Desa Pinge untuk mencapai kehidupan yang dinamis namun tetap mempertahankan kearifan lokal. Keindahan alam desa yang masih terjaga menambah kenyamanan dan kebahagiaan bagi masyarakat Pinge.


KASTA DESAPINGE 1 Masyarakat Pinge memiliki cara yang unik dalam melestarikan tradisi Bali. Mereka tidak hanya mengikuti tradisi secara formalitas, tetapi juga menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari, Hal ini membuat tradisi Bali di Desa Pinge terasa lebih hidup dan autentik. Kesenian tradisional seperti tari-tarian dan gamelan juga masih berkembang pesat di desa ini. Keberadaan kesenian tradisional ini menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam budaya Bali yang kaya dan beragam. Desa Pinge menawarkan pengalaman wisata budaya yang unik dan tidak dapat ditemukan ditempatlain. Mayoritas masyarakat Desa Pinge menganut agama Hindu, namun terdapat juga warga yang memeluk agama lain, seperti Islam dan Kristen. Kebebasan beragama dijamin di desa ini. Desa Pinge menjunjung tinggi toleransi beragama. Sikap inklusif ini tercermin dalam bagaimana mereka menghargai dan menyambut hangat pengunjung dari berbagai latar belakang keyakinan. Kerukunan hidup berdampingan menjadi nilai utama, di mana perbedaan keyakinan dihormati sepenuhnya. Masyarakat Desa Pinge mayoritas etnisnya adalah Bali, namun hidup berdampingan secara harmonis dengan kelompok etnis lain, contohnya seperti Jawa. Kehidupan bermasyarakat di desa ini berjalan dengan dinamis tanpa memandang perbedaan etnis. 14


15 Masyarakat Desa Pinge memiliki beragam, profesi, mulai dari petani, pedagang, pengrajin, hingga pekerja sektor pariwisata. Keberagaman profesi ini mencerminkan kekayaan sumber daya manusia yang dimiliki desa ini. Profesi - profesi ini saling melengkapi dan mendukung satu sama lain. Menciptakan ekosistem ekonomi yang dinamis dan berkelanjutan. Desa Pinge menjunjung tinggi kesetaraan gender, di mana perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja dan mengambil keputusan, tidak hanya terbatas pada urusan rumah tangga. Perempuan aktif dalam kegiatan ekonomi dan sosial desa dengan berprofesi di bidang pertanian, kerajinan tangan, perdagangan, dan jasa. Sementara itu, laki-laki umumnya berprofesi di bidang pertanian, kontribusi, dan transportasi. Keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan juga semakin meningkat, menunjukkan kemajuan dalam kesetaraan gender di Desa Pinge.


Dari kedua Kasta tersebut memiliki status atau peran yang berbeda misalnya seperti kasta Ksatria, dimana kasta ksatria merupakan lapisan sosial yang memiliki karakteristik khas terkait dengan unsur-unsur stratifikasi. Ksatria secara tradisional berperan sebagai pemimpin pemerintahan, bangsawan, atau prajurit, dengan status yang yang membawa tanggung jawab dan hak tertentu. Peran utama mereka adalah menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, serta melindungi negara. Ksatria memiliki kekuasaan yang signifikan, baik dalam pemerintahan maupun militer, Di Bali, sistem kasta tradisional membagi masyarakat menjadi empat tingkatan yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra, dengan Brahmana sebagai kasta tertinggi dan sudra sebagai kasta terendah. Namun, di Desa Pinge, hanya terdapat dua kasta yang diakui, yaitu kasta Ksatria dan Sudra. 16 termasuk kemampuan membuat dan melaksanakan yang signifikan, baik dalam pemerintahan maupun militer, termasuk kemampuan membuat dan melaksanakan kebijakan serta memimpin pasukan. Mereka umumnya memiliki kekayaan yang besar dari tanah, upeti, atai hasi; peperangan, yang menopang gaya hidup mereka dan memungkinkan mereka mendukung kegiatan sosial dan keagamaan. Keanggotaan dalam kasta Ksatria seringkali diwariskan secara turun-temurun, dan keturunan keluarga Ksatria memiliki peluang lebih besar untuk menduduki posisi penting. Ksatria juga menerima pendidikan khusus yang mempersiapkan mereka untuk peran kepemimpinan dan militer, mencakup pengetahuan tentang strategi perang, hukum, etika kepemimpinan, dan keterampilan bela diri.


Selanjutnya adalah kasta Sudra, kasta Sudra merupakan lapisan sosial terendah dengan karakteristik yang terkait dengan unsur-unsur stratifikasi. Sudra berperan sebagai pekerja kasar, atau petani dengan status yang membawa tanggung jawab dan batasan tertentu. Peran utama mereka adalah membantu memenuhi kebutuhan masyarakat melalui pekerjaan fisik dan manual. Sudra memiliki kekuasaan yang sangat terbatas, baik dalam pemerintahan maupun sosial, dan kekayaan mereka umumnya sangat sedikit. Keanggotaan dalam kasta Sudra seringkali diwariskan secara turun-temurun, dan mereka umumnya tidak menerima pendidikan formal yang sama dengan kasta yang lebih tinggi, melainkan pembelajaran keterampilan praktis utama pekerjaan mereka. Tetapi seiring berjalannya waktu Akses pendidikan bagi masyarakat dengan latar belakang kasta Sudra di Indonesia telah mengalami kemajuan. Berkat program pemerintahan dan inisiatif masyarakat, semakin banyak dari mereka yang kini memiliki kesempatan untuk meraih pendidikan berkualita. Desa Pinge tidak hanya tercermin dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga dalam hubungan antara manusia dengan lingkungan. Konsep Tri Hita Karana menjadi panduan bagi masyarakat dalam menjaga keseimbangan alam dan memanfaatkan sumber daya secara bijaksana. Mereka menyadari bahwa keharmonisan dengan alam adalah kunci untuk mencapai keberlangsungan hidup. Masyarakat Desa Pinge hidup berdampingan dalam kerukunan, saling menghormati perbedaan, dan bahumembahu membangun kesejahteraan bersama. Nilai-nilai luhur seperti toleransi, gotong royong, dan kesetaraan gender menjadi landasan utama dalam interaksi sosial mereka. Desa Pinge adalah potret ideal dari masyarakat yang menjunjung tinggi nilainilai budaya dan tradisi, namun tetap terbuka terhadap perubahan dan kemajuan. Mereka berhasil menciptakan kehidupan yang seimbang antara tradisi dan modernitas, antara lokal dan global. Harmoni sosial yang terjalin di Desa Pinge adalah warisan berharga yang harus dijaga dan dilestarikan. 17


KREATIVITAS DAN SPIRITUALITAS DALAM SENI KHAS BALI pkwukerajinan Bali tidak hanya terkenal dengan keindahan alam dan budaya, melainkan juga karena berbagai kerajinan tradisional yang kaya makna. Di antara kerajinan khas Bali yang banyak, janur, gebogan, dan anyaman daun kelapa menjadi tiga jenis seni yang menarik karena filosofi yang dalam dan nilai budaya yang tinggi. Ketiga kerajinan ini tidak hanya dibuat untuk dekorasi, melainkan juga memiliki tujuan dalam kehidupan masyarakat Bali,terutama dalam upacara adat dan keagamaan. 18 1.Janur Janur, yang diperoleh dari daun muda kelapa, merupakan bahan dasar pada beberapa perlengkapan dan hiasan upacara adat Bali. Dalam konteks kebudayaan Bali, janur memiliki makna kesucian, harapan, dan penghormatan kepada para dewa. Janur sering digunakan untuk membuat penjor, yaitu tiang bambu berhias yang dipasang saat perayaan Galungan sebagai simbol kemenangan dharma (kebaikan) atas adharma (kejahatan). Selain itu, janur juga dimanfaatkan untuk membuat canang sari, yaitu suatu persembahan ringan yang diberikan secara harian kepada para dewa sebagai rasa syukur. Keindahan janur terletak pada fleksibilitasnya yang memungkinkan para pengrajin memperoleh macam-macam bentuk dekoratif dengan pola yang rumit dan estetis.


2.Gebogan Gebogan adalah susunan buah, kue, dan bunga yang ditaruh bertingkat di dalam wadah berbentuk kerucut dan digunakan dala, upacara keagamaan. Kerajinan ini bukan hanya berfungsi sebagai persembahan, tapi juga sebagai simbol kesejahteraan dan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi. Gebogan umumnya dibuat oleh perempuan Bali dan dihias dengan berbagai macam warna cerah yang melambangkan keberagaman dan kekayaan alam Bali. Selain memiliki makna spiritual, gebogan juga menjadi daya tarik wisata karena keindahannya sering dipandang pada berbagai prosesi adat. 3. Perak Celuk Desa Celuk di Bali terkenal sebagai pusat kerajinan perak yang telah diakui secara internasional. Seni perak di Celuk memiliki akar budaya yang kuat dan diwariskan turuntemurun. Perak Celuk tidak hanya bernilai estetika tinggi tetapi juga memiliki makna simbolis dalam kehidupan masyarakat Bali. Banyak motif yang digunakan dalam kerajinan perak ini terinspirasi dari mitologi Hindu, seperti motif naga, barong, dan bunga teratai yang melambangkan keberanian, perlindungan, dan kesucian. Selain sebagai perhiasan, perak Celuk juga digunakan dalam perlengkapan upacara adat dan aksesori pakaian tradisional Bali. 19


Proses Pembuatan Janur Dari ketiga kerajinan tersebut, janur menjadi salah satu yang paling menarik karena proses pembuatannya yang unik dan membutuhkan keterampilan khusus. Berikut adalah tahapan dalam pembuatan hiasan janur, seperti penjor atau canang sari: Daun kelapa muda yang masih segar dipilih karena lebih lentur dan mudah dibentuk. 1. Janur dipotong sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan, kemudian dikeringkan sedikit agar lebih kuat. 2. Daun janur dianyam or dilipat sesuai dengan desain yang diinginkan, seperti bentuk bunga, garis lengkung, atau pola geometris lainnya. 3. Potongan janur yang telah dibentuk dirangkai dengan benang kecil atau lidi agar tetap kokoh. 4. Hiasan janur yang telah selesai dapat langsung digunakan dalam upacara atau dipadukan dengan elemen lain seperti dupa dan bunga. 5. 20 Kerajinan janur, gebogan, dan perak celuk mencerminkan kekayaan budaya dan nilai spiritual masyarakat Bali. Ketiganya bukan saja sebagai dekorasi, tetapi juga komponen utama dalam upacara agama dan kehidupan sehari-hari. Janur yang digunakan untuk dibuat tema utama, dengan proses pembuatannya lembut dan memerlukan kemampuan yang khusus, maka akan makin menambah nilai seni dan tradisi di dalamnya. Semakin terlestarikan, maka kerajinan-kerajinan tersebut masih akan menjadi identitas simbol budaya Bali yang menarik dunia.


KELOMPOK 4 R 03.02.2025 ICE PORKOWL HIDANGAN INTERNASIONAL KHAS BALI RICE PORKOWL ALASAN MEMILIH RICE BOWL Rice Porkowl merupakan nama jenis makanan yang dimodif dari nama jenis makanan Rice Bowl. Rice Porkowl adalah hidangan inovatif yang menggabungkan cita rasa Jepang dengan kekayaan bumbu Bali. Hidangan ini memadukan nasi putih dengan daging babi yang dimasak menggunakan bumbu khas Bali, menciptakan perpaduan rasa yang unik dan lezat. Inovasi kuliner ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga memperkenalkan kekayaan rempah-rempah Indonesia kepada dunia internasional. Rice bowl adalah salah satu tren kuliner yang saat ini populer di kalangan masyarakat urban. Dengan memodifikasi rice bowl menjadi "Rice Porkowl" yang menggunakan bumbu khas Bali, kami dapat menggabungkan tren modern dengan cita rasa tradisional, sehingga menarik minat lebih banyak konsumen. Inovasi dalam dunia kuliner sangat penting untuk tetap bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Dengan menghadirkan produk yang berbeda dan inovatif seperti "Rice Porkowl," yang memadukan elemen-elemen modern dengan cita rasa autentik, kami berharap dapat menarik perhatian konsumen yang selalu mencari sesuatu yang baru dan menarik dalam setiap gigitan mereka. Selain itu, bumbu khas Bali memiliki cita rasa yang unik dan kaya akan rempahrempah tradisional, yang akan memberikan pengalaman kuliner yang berbeda dan menggugah selera bahkan bagi penikmat makanan yang paling selektif. Kombinasi nasi yang pulen dengan daging babi yang dibumbui secara sempurna menggunakan bumbu khas Bali ini akan menciptakan hidangan yang lezat dan autentik. 21


CARA MEMBUAT 1.Panaskan minyak. Tumis bawang putih, bawang merah, dan bawang Bombay hingga layu dan wangi serta bumbu bali. 2. Masukkan irisan daging (sudah direbus), aduk hingga berubah warna. Tambahkan sedkit air hingga mendidih 3. Masukkan wortel. Aduk hingga agak layu. 4. Tambahkan cabai merah bubuk,lada, garam, dan gula. 5. Masak hingga mendidih lalu angkat. 6. 7.Taruh nasi dalam mangkuk. 8.Taruh Spicy Beef di atasnya. 9.Taburi wijen. 10.Sajikan dengan Pelengkapnya BAHAN & ALAT Alat-alat: Pisau : Untuk memotong bahan-bahan. Talenan : Untuk memotong bahan-bahan dengan aman. Wajan : Untuk menumis atau menggoreng bahan-bahan. Spatula : Untuk mengaduk bahan-bahan saat dimasak. Kemasaan : Untuk Porkowl Sendok : Untuk makan rice Porkowl. Bahan-bahan: Nasi putih Spicy Beef: 500 ml minyak sayur 6 siung bawang putih cincang halus 6 siung bawang merah cincang halus 3 buah bawang Bombay, cincang 5 buah cabe merah 1 buah wortel, iris kecil 1 sachet lada 1 sdm gula pasir 4 buah tomat merah Kelebihan Keunikan Rasa: Kombinasi nasi dengan daging babi yang dibumbui bumbu khas Bali menciptakan rasa yang unik dan menggugah selera, memberikan pengalaman kuliner yang berbeda bagi konsumen. Kelemahan Keterbatasan Pasar: Tidak semua konsumen mengonsumsi daging babi, sehingga target pasar menjadi lebih terbatas dan tidak mencakup semua kalangan. Peluang Ekspansi Pasar: Terdapat peluang untuk memperkenalkan produk ini kepada wisatawan internasional dan memperluas jangkauan pasar melalui kerjasama dengan restoran dan gerai makanan lainnya. Tantangan Persaingan: Menghadapi persaingan ketat dengan produk rice bowl lainnya yang sudah memiliki pasar yang kuat dan reputasi baik di kalangan konsumen dan harga jual yang cukup tinggi dikarenakan bahan-bahan yang cukup mahal harganya. Bahan bumbu Bali: 1 buah Lengkuas (geprek) 1 batang serai (geprek) 3 sachet kecap manis 150ml saus tiram 1 buah gula merah (serut) 1 sdt garam 1 sachet lada bubuk Taburan: 2 sdt biji wijen Selada Mentimun SCAN HERE TO MORE INFORMATION 22


OUR MEMORIES


Click to View FlipBook Version