Ibu Ika berkata menjadi seorang ibu rumah
tangga dan pebisnis dalam waktu yang bersamaan
bukanlah hal yang sulit untuk dia hadapi. Dukungan
dari suami dan anak-anaknya membuat dia kuat dan
fokus dalam mengembangkan bisnisnya. Seperti
yang telah Ibu Ika terapkan dalam kegiatan
bisnisnya, hal terpenting yang harus kita punya
sebelum berbisnis adalah kesabaran. Nyatanya,
membangun sebuah bisnis banyak jatuh dan
bangunnya, maka dari itu kita harus memiliki hati
yang mau sabar menghadapi hal tersebut.
Dalam masa-masa yang sulit, Ibu Ika berkata Tuhan
selalu menyertai setiap hal yang dilakukan dalam
hidupnya. Tuhan menguatkan Ibu Ika untuk selalu
berusaha dan pantang menyerah menjalani bisnis
dan kehidupannya sebagai ibu rumah tangga yang
memiliki tiga orang anak. Ibu Ika bersyukur Tuhan
memberikan kepercayaan kepada Ibu Ika dalam
keterampilan memasak.
Hal yang bisa kita teladani dari Ibu Ika Eunike
adalah kita harus memiliki keyakinan dalam hati
kita untuk mencoba hal baru, karena kita tidak akan
pernah tahu misteri kehidupan apa yang akan
terbuka nanti di masa depan. Tidak lupa juga kita
harus menyerahkan sepenuhnya hati dan hidup kita
kepada Tuhan agar apa yang kita kerjakan bisa
menjadi berkat untuk orang lain.
47
By: Andrea Putri, Arthur Nicholas, Maria Jocelynn
There are undoubtedly many ups and downs along
life's journey. We all know that they mold us into
strong individuals who can handle the challenges of
the present. Even though Mrs. Ika Eunike's life did
not follow a pleasant road, she was able to achieve
things that were thought to be impossible thanks to
her diligence and patience. A housewife with a
strong sense of entrepreneurial spirit, Mrs. Ika was
born on April 15, 1975 in Aceh. Mrs. Ika is married
and has three kids—one boy and two girls—to her
first marriage.
Mrs. Ika attended school in her native, Aceh, from
kindergarten to high school. Mrs. Ika used to like
playing tag with her friends and climbing trees
when she was younger. But apart from this interest,
she also truly loved to cook. Her love for cooking
had been sustained up to this point. Mrs. Ika worked
at a restaurant after completing her education to
support her hobbies while still making money. Mrs.
Ika and her husband were brought together by a
wind of passion among the ups and downs of daily
life. They chose to get married after spending a lot
of time together. Three beautiful children were a
blessing to their union.
48
Mrs. Ika's first job was solely that of a housewife.
She does, however, have a side business selling
meals in her friend's neighbourhood and at her son's
school. She offers a variety of foods and beverages
every day, and this is one of her business methods
for keeping customers interested. Mrs. Ika received
a lot of favourable feedback from her friends who
bought the food or drinks she offered because of her
compassionate, understanding, and upbeat
personality.
Mrs. Ika made the decision to launch a catering
company after considering that she has three kids to
provide for. Mrs. Ika had a lot of choices to choose
from, and on top of that, she was a risk-taker who
dared to attempt new things. Mrs. Ika claims that
beginning a catering company was not difficult. The
only challenge she encountered was waking up early
to prepare her catering. In addition, she had trouble
hiring staff to assist her with the preparation,
including cooking, dishwashing, setting up food, and
other tasks. Mrs. Ika appreciates that, despite her
struggles in locating someone who can aid her in
conducting business, her husband constantly
supports her and is by her side, whether things are
going well or not. Her willingness to try new things
and success in the catering industry led her to
venture into the sale of cakes like nastar, lapis
legit, and numerous other varieties.
49
Mrs. Ika already has over 350 catering clients as
a result of her perseverance. However, she made the
decision to close her catering company during the
pandemic. For special events, she prefers to sell
food, beverages, cakes, and prepare cuisine. Being a
homemaker and a businesswoman at the same time,
according to Mrs. Ika, was not a challenge for her.
She has grown strong and focused on expanding her
business thanks to the support of her husband and
kids. The most crucial quality we need to conduct
business is patience, which Mrs. Ika has
demonstrated in her work. In reality, there are
many ups and downs to starting a business, thus we
must be patient with it.
Mrs. Ika says that even in her darkest moments,
God was at her side, supporting her in everything
she accomplished. God gave Mrs. Ika the
perseverance and strength to manage her company
and maintain her three-child home. Mrs. Ika is
thankful that God allowed her to have faith in her
culinary abilities.
50
51
Oleh: Christopher Gerald, Hanzel Clement, Hannah Fideline
Johnny Ongkowijoyo merupakan seorang arsitek
yang sukses, lahir di Surabaya pada tanggal 2 Juni
1973. Beliau menempuh masa pendidikannya mulai
dari TK sampai SMA di Petra. Setelah itu, beliau
melanjutkan studi di Universitas Kristen Petra dan
lulus pada tahun 1997. Kini, Bapak Johnny sudah
memiliki seorang istri dan dua anak.
Sejak kecil, arsitek berdarah Surabaya ini sudah
memiliki hobi menggambar. Sejak SD beliau sudah
menentukan bahwa cita-citanya adalah menjadi
seorang arsitek. Untuk mencapai mimpi tersebut,
beliau harus berjuang bukan hanya di bidang seni,
tetapi dalam bidang teknis juga. Karena yang
menempati bakal manusia, strukturnya harus kokoh
dan bangunan yang dirancang harus aman dari
kebocoran dan reaksi kimia yang mematikan.
Orang tuanya sangat mendukung cita-citanya.
Namun, biaya sekolah arsitek tidaklah murah. Untuk
itu, beliau menjalani hari-hari kuliahnya sambil
bekerja.
JOHNNY 52
ONGKOWIJOYO
Beliau membuat maket untuk kakak kelas dengan
bayaran yang cukup baik, dan bahkan sempat
menjadi seorang wedding organizer. Dengan dua
pekerjaan sampingan dan tugas kuliah yang tak
hentinya menumpuk, beliau terpaksa untuk lembur
untuk menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan,
terkadang pria gigih ini tidur hingga jam tiga atau
empat subuh. Cara mengatur waktu beliau cukup
unik. Ia mengurangi waktu tidurnya dan
menambahkan waktu kerjanya, yang menunjukkan
sebuah api semangat yang berkobar untuk mencapai
mimpinya.
Dengan kerja kerasnya, beliau akhirnya
menyelesaikan kuliah dalam waktu empat tahun,
yang tergolong lebih cepat satu semester dari murid
rata-rata. Setelah lulus, pada tahun 1998 terjadi
sebuah krisis moneter sehingga beliau mengalami
pengangguran selama dua tahun. Setelah itu,
barulah pekerjaan arsitektur dimulai.
Pertama-tama ia mendapat panggilan dari kerabat
terdekatnya, kemudian menyebar lewat kenalan
mereka. Ia bekerja di Surabaya hingga tahun 2003.
Lalu berpindah ke Jakarta untuk mendapat peluang
yang lebih baik.
53
Dalam membentuk tim yang solid, beliau tidak
segan-segan untuk menyulut api amarah, tetapi hal
tersebut dilakukan supaya anggota timnya bisa
berubah menjadi lebih baik. Ia juga tidak segan-
segan untuk memecat orang dan menggantikannya
dengan orang lain jika kinerjanya dinilai tidak baik
Kemampuannya memilih karyawan, ketegasannya,
serta kesetiaan setiap anggota menjadikannya
sebuah tim yang kuat dan dapat selalu dipercaya
untuk menyelesaikan tugas mereka dengan sebaik
mungkin.
Pada tahun 2017, terjadi berbagai masalah dalam
pekerjaannya sehingga dianggap masa yang kurang
sukses. Namun, daya juang yang tinggi
membangkitkan beliau dan membuatnya bisa
berlanjut dengan lebih baik. Pada tahun 2020, dunia
dilanda COVID-19. Seluruh dunia mengalami masa
yang sulit sehingga tidak dapat mencari nafkah
dengan maksimal. Namun, Tuhan memberikan angin
segar dalam kehidupan sang arsitek sehingga beliau
tetap bisa bertahan dan bahkan mendapat lebih
banyak pelanggan daripada tahun-tahun
sebelumnya. Walaupun beliau tidak terlalu religius
seperti ke gereja setiap minggu, ia tetap berserah
kepada Tuhan. Seperti yang dikatakan pada Filipi
4:19, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu
menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus
Yesus”.
54
Arsitek
Sampai sekarang, beliau terkadang masih harus
bekerja hingga jam sebelas malam. Meskipun begitu,
beliau masih dapat meluangkan waktu untuk
keluarganya dan akan mengambil cuti apabila
diperlukan. Pekerjaan tersebut tidak selalu
dilakukan di kantor, terkadang beliau datang ke
kafe dan tempat lain untuk bekerja.
Hari Sabtu dan Minggu diluangkan untuk bertemu
dengan klien. Sebagian besar kliennya datang pada
akhir pekan karena sibuk bekerja pada hari Senin
sampai Jumat. Beliau mengatakan bahwa untuk
sukses, harus bisa bekerja sama dengan orang lain
dan tidak malas untuk bekerja. Menurutnya, sukses
adalah keberadaan ketika bisa mencukupi
kebutuhan sehari-hari dengan baik dan melakukan
apa yang kita suka. Waktu yang terus berjalan
menyebabkan beliau menyadari pentingnya
menghargai setiap orang yang telah membantunya
mencapai segala mimpinya.
55
Setelah melakukan wawancara dengan Bapak
Johnny, kami mendapatkan bahwa Bapak Johnny
sekarang sudah merasa cukup sukses menurut
definisinya. Beliau memiliki sifat pekerja keras dan
memiliki niat dan dedikasi, dapat memimpin sebuah
kelompok dengan baik, dan pandai melihat peluang.
Kami juga belajar bahwa menjadi seorang arsitek
harus membuang sifat-sifat yang dimiliki anak-anak
gen Z seperti malas dan individualis. Terdapat
banyak pengorbanan yang harus dilakukan dalam
perjalanan menuju sukses, tetapi pada akhirnya saat
sudah tercapai, kita bisa mengembalikan semua hal
yang kita korbankan di awal.
56
By: Christopher Gerald, Hanzel Clement, Hannah Fideline
Johnny Ongkowijoyo is a successful architect
born and raised in Surabaya. His birthday is on 2nd
of June 1973. He went to the school of Petra from
kindergarten through high school, and pursued
higher education in Petra Christian University. He
married a beautiful woman and conceived two
children.
His childhood hobby was drawing, and in
elementary school he had already decided that he'd
one day become an architect. To achieve his dream,
he had to study not only art, but the STEM subjects
too. An architect was to draw plans for buildings
that people would regularly use, so it needs to be
safe from leaks, chemical reactions, and many more.
The would-be architect's parents were very
supportive, but the financial cost was not cheap.
Because of this, he went through college while
working part-time. His first job was making scale
models for his peers, which had quite good pay. The
second was as a wedding organizer. Juggling
between two jobs and school was not easy, and he
stayed up many late nights to finish them on time.
57
Through his hard work, the architect finished his
university courses in four years, which was an
entire semester early. However, a financial crisis
soon hit the country, and he got unemployed for two
years. Once it was over, he finally began taking
calls. The first ones were from his close
acquaintances, and word slowly spread mouth-to-
mouth to many others. He worked in Surabaya until
2003. Then he moved to the capital city, Jakarta, for
better chances of finding clients. He has stayed
there for about twenty years.
In order to create a solid team, he is quite strict
and not afraid to fire people that don't live up to a
certain standard. Despite the constant flow of new
members coming and leaving, many of his team
members have now worked with him for about eight
years.
In 2017, there were many problems in his work,
and so it was considered an unsuccessful year.
However, a great fighting spirit meant that he
would learn from the errors and keep going strong.
In 2020, the world was hit by a coronavirus
pandemic, which hindered much of the world
population’s work. Many people were unable to
make a stable income. However, with God’s
guidance, this architect could survive and even
thrive as he received more customers. Despite not
being too religious, he still trusts and relies on God
and is willing to ask for His help when needed.
58
Even now, the architect sometimes still has to
work until 11 P.M. Despite that, he still spends time
with his family and will take leave as needed. His
work isn’t always done at the office, but rather at
cafés and other places. Since most people are busy
from Monday to Friday, most of his clients come on
the weekends, and thus he himself needs to be able
to work seven days a week.
He says that to be successful, any aspiring
architect (or any future worker in general!) must be
able to cooperate with others and shouldn’t be lazy.
59
60
Oleh: Michella Oktoberian, Milka Graciel
Vivi Dwiwati nama lengkap dari Vivi, seorang
wanita pemilik bisnis tahu organik yang kita kenal
dengan nama brandnya yaitu Towang, lahir pada 10
Oktober 1972 di Malang, Jawa Timur. Ia adalah
seorang wanita yang penuh dengan kasih, sayang,
dan cinta. Wanita kelahiran Malang ini merupakan
anak kedua dari empat bersaudara. Dia sudah
menikah serta memiliki tiga orang anak, yaitu dua
anak perempuan dan satu anak laki-laki. Wanita
berparas ayu ini memiliki hobi yang cukup menarik
yaitu dia suka melihat suatu objek yang ternyata
bisa menjadi sumber kebahagian tersendiri bagi dia
contohnya melihat berbagai macam tanaman serta
hewan-hewan yang menggemaskan.
Pendidikan Vivi Dwiwati mulai dari jenjang SD,
SMP, dan SMA di Malang lalu dia pindah ke Surabaya
untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas
Surabaya dan mengambil jurusan Manajemen yang
berfokus pada bidang Marketing. Di dalam
kehidupan yang dijalaninya dia selalu berpegang
dengan motto "lakukan semuanya seperti kita
melakukannya untuk Tuhan" yang diambil dari ayat
Alkitab favoritnya, yaitu Kolose 3:23 yang berbunyi
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah
dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan
bukan untuk manusia”.
61
Towang mulai terpikirkan oleh Vivi saat dia
merasa kesulitan untuk makan tahu yang murni
kedelai akibat banyaknya tahu berbahan kimia yang
beredar di pasaran. Akhirnya dia membuat tahu
organik tersebut dengan metode tradisional tidak
memakai bahan kimia apapun. Pada tahun 2007, dia
mulai menjualnya kepada teman - teman sekitarnya
lalu mengirimnya dengan menggunakan jasa tukang
ojek sekitar rumahnya.
Karena dia harus membayar para ojek, Vivi pun
mulai memutar otak mencari cara agar dia bisa
membayar para ojek. Disini lah kehidupan
kewirausahaan seorang wanita yang selalu percaya
akan hal-hal kecil yang Tuhan titipkan dapat
menjadi berkat bagi banyak orang dimulai. Wanita
pekerja keras ini tidak putus asa ia lalu mencoba-
coba memasang iklan mengenai produk tahunya ini
pada media kawasan. Ternyata iklan tersebut sampai
ke tangan salah satu supermarket yaitu Hero
Supermarket, wanita ini percaya semua merupakan
campur tangan Tuhan yang selalu memberkatinya.
Pada tahun 2009, Manajemen Hero Supermarket
memesan tahu towang sehingga mulailah tahu
organik ini menarik perhatian banyak orang. Seiring
berjalannya waktu banyak supermarket pun yang
ikut memesan tahu organik towang untuk dijual
kembali ke dalam supermarketnya.
62
Tahu organik ini diberi nama Towang yang
uniknya diambil dari bahasa Mandarin yang
memiliki arti seorang raja harus bisa berdampak
kepada rakyatnya dan tidak memikirkan diri
sendiri, biarlah tahu ini dapat menjadi dampak bagi
banyak orang. Tak terasa harapan wanita dengan
senyum yang semanis gula tersebut terwujud,
sekarang tahu towang menjadi salah satu brand
yang mendapatkan sertifikasi organik dari Badan
Sertifikasi Organik di Indonesia. Towang hanya
memiliki satu pabrik yang berada di Kebon Jeruk.
Saat ini Vivi sedang merencanakan dan berdoa
untuk membangun satu pabrik produksi lagi.
Kini ia telah berhasil menciptakan produk yang
bermanfaat bagi hidup banyak orang. Walaupun
produknya telah naik daun, dia tidak pernah
sombong. Dia tetap rendah hati dan selalu
menerapkan ayat Kolose 3:23 dalam kehidupan
rumah tangga dan wirausahanya. Dia bersyukur
Towang dapat melayani banyak orang.
63
Dari kehidupan sosok Vivi Dwiwati yang tegas,
kreatif, disiplin, dan murah senyum, kita dapat
belajar untuk terus berusaha, pantang menyerah,
dan memiliki semangat yang berapi-api dalam
memberkati orang-orang. Kita dapat menginspirasi,
memotivasi, mengajarkan, membawa kebahagiaan,
dan kesehatan bagi orang lain hanya dengan apa
yang bisa kita lakukan. Dari wanita berambut coklat
pirang ini kita juga dapat belajar untuk selalu
menerapkan firman Tuhan dalam menjalankan
bisnis. Bahwa segala sesuatu yang kita lakukan,
lakukanlah hal tersebut seperti kita melakukannya
untuk Tuhan dan kesuksesan yang kita dapatkan itu
semua boleh terjadi karena pekerjaan Tuhan dan
bukan dari usaha kita sendiri.
VI Dw I
WATI
VI 64
By: Michella Oktoberian, Milka Graciel
Vivi Dwiwati or Vivi, is the owner and founder of
Towang. She has long brown hair, sometimes wears
glasses, and has round eyes. Vivi was born on
October 10th 1972, in Malang, East Java. Vivi is the
second child of four siblings. She has a hobby for
looking at plants and dogs. She has a motto "Do
everything as we do it for God." Her motto is taken
from her favourite Bible verse, namely Colossians
3:23. Vivi attended school in Malang from
elementary school to high school. Then for college,
she studied at the University of Surabaya, which is
located in Surabaya, majoring in Management. Vivi
is married and has three children.
Vivi started when she found it difficult to figure
out what tofu was safe and healthy to eat. In the
end, she made her own tofu according to the recipe
of her mother-in-law, who also made her own tofu
for consumption. At first, Vivi made tofu for herself
and her family for their own consumption, but
knowing that she had to continue to produce it and
that the amount continued to increase until she
consumed most of it herself, she started
distributing the tofu to those around her using
motorcycle taxis.
65
Because Vivi needed money to pay the motorcycle
taxi drivers, she began to sell her tofu. Vivi markets
her tofu by placing advertisements in regional
media in the Puri area. Thanks to God, the
advertisement not only reached the homes in Puri,
but it also reached the hands of Hero Supermarket,
and it is known that Hero Supermarket has begun to
take it. Because Hero Supermarket took Vivi's tofu
products, in the end, other supermarkets that saw it
also took Vivi's tofu products. Now it's not only
supermarkets and homes that buy Vivi's tofu
products, but also restaurants such as Chung Gi-Wa,
Hai Di Lao, and Seribu Rasa.
Vivi's tofu product is called Towang. Towang itself
is taken from Mandarin, which has the philosophy
that a king has a focus on serving and making an
impact on his people. Just like this philosophy, Vivi
hopes that her products can serve and have a good
impact on consumers and other entrepreneurs.
66
Towang has various variants; there are white
tofu, yellow tofu, kalasan tofu, gejrot tofu, and pop
tofu. For your information, Towang is organic tofu.
All the ingredients used to make tofu are natural
ingredients and do not use chemicals at all. They
even use manure for their fertilizer. Even Towang
already has organic certification from the
Indonesian Organic Certification Agency.
From the life of Vivi, we can learn to keep trying
and never give up on blessing people. That we can
bring positivity to others with what we can do. We
also can learn that everything we do, we do it as if
we were doing it for God, and the success we get is
all allowed to happen because of God's work.
67
68
Oleh: Jason Christian, Neil Tio, Chaveryn Ginosko
Krishna Harischandra, menjadi anak pertama
sekaligus menjadi sosok seorang kakak bagi kedua
adik-adiknya. Isak tangis seorang bayi Krishna yang
lahir pada 4 Januari 1997 menjadi penyejuk hati bagi
kedua orang tuanya. Di umurnya yang ke-25 ini, ia
sedang menempuh pendidikan S2 serta mengelola
empat bisnis yang menjadi tanggung jawabnya.
Krishna merupakan angkatan ketiga Sekolah Athalia
yang lulus pada tahun 2015. Pendidikan pertamanya
dimulai dari TK, SD, SMP, hingga lulus SMA di
Sekolah Athalia. Di SMA, pria berambut ikal ini
memilih jurusan IPS yang kemudian
mempertemukannya dengan pelajaran kesukaannya
yaitu Sejarah, Akuntansi, dan Ekonomi. Dari situ, ia
juga mulai mempertimbangkan dari ketiga pelajaran
tersebut, yang mana hanya sebatas hobi, passion,
dan bisa menghasilkan uang? “Kalau jadi sejarawan,
biasanya akan menjadi PNS atau peneliti, sedangkan
kalau mengambil Ekonomi, bidangnya akan terlalu
meluas,” ujar Krishna. Namun, saat ia
mempertimbangkan tentang Akuntansi, ia merasa
bahwa nilainya di pelajaran tersebut cukup bagus
dan peluang bisnis yang dirasa “ok” dengan area
kerja menjadi “orang pajak”, akuntan, ataupun
auditor. Karena dirasa cocok, maka mulailah ia
berkecimpung dalam bidang Akuntansi.
69
Anak kelahiran 1997 ini kemudian melanjutkan
pendidikan di Universitas Parahyangan, Bandung
dan lulus pada tahun 2019 dengan jurusan
Akuntansi. Ia dan beberapa temannya merupakan
alumni Athalia pertama yang kuliah di sana. Krishna
cepat-cepat menyelesaikan skripsinya agar dapat
langsung bekerja. Kemudian di tahun 2020, ibunya
membuka kantor properti di Parung Panjang, ia pun
membantu pembukuan di sana.
Setelah itu, pada April 2021, Krishna diajak oleh
beberapa teman SMA dia untuk bergabung di Kligo
CarWash, yang merupakan jasa cuci mobil yang
datang ke rumah pelanggan. Tidak berakhir di situ,
pada akhir 2021, Krishna kemudian memutuskan
membuka restoran Moro Moro bersama pacarnya
yang juga merupakan alumni Athalia. Ia
bertanggung jawab atas menu dan resep restoran
sedangkan pacarnya bertanggung jawab atas bagian
desain dan sosial media. Berikutnya, ia diajak lagi
oleh temannya untuk bergabung di Wedang Goyang.
Di sana, mereka memasarkan wedang dalam bentuk
minuman instan dengan bahan baku gula merah.
Mereka berencana untuk memasuki ritel modern
seperti supermarket serta memperluas pasar ke luar
Jawa.
70
Saat mengelola empat bisnis bersamaan, Si
multitasker ini mengaku sempat merasa kewalahan,
karena begitu besar tanggung jawabnya terhadap
empat bisnis tersebut. Tergantung kepadatan di
setiap bisnis tersebut, ia biasanya pulang pada jam
sembilan malam. Khrisna bekerja keras bagai kuda.
Krishna hanya libur satu hari yaitu hari Senin.
Sisanya Krishna tetap bekerja. Jika masih
mempunyai waktu, ia akan melanjutkan pengerjaan
tesis S2 nya. Meski begitu, ia tetap memaksimalkan
usahanya di keempat bisnis tersebut. Rutinitas
tersebut berlaku setiap hari kecuali pada hari Senin,
hari ketika ia mendapat libur. Meskipun kewalahan,
Krishna yang pekerja keras tetap bersemangat
untuk menjalani pekerjaannya. Biasanya, ia akan
berdoa setiap pagi untuk memulai harinya. Pada
awalnya, Krishna hanya berdoa untuk
menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.
Tetapi seiring berjalannya waktu, Krishna
beranggapan bahwa tiap masalah yang diberikan
Tuhan itu mempunyai tujuannya. Oleh karena itu,
Krishna sekarang berdoa untuk hikmat agar dapat
mengambil pelajaran yang dapat dipetik dari
masalah-masalahnya. Krishna juga masih mengikuti
KTB bersama Pak Presno dan beberapa teman SMA-
nya.
71
Dalam sesi wawancara, Khrisna juga memberikan
pesan, “Kenali passion dan talentamu. Mana yang
kamu suka dan mana yang kamu bisa jadikan
pekerjaan.” Satu lagi, Krishna juga berpesan agar
jangan pernah menyesal dari semua kejadian yang
sudah terjadi. Justru jadikanlah kejadian itu sebagai
pelajaran bagi kehidupan kita. Itulah dua pesan dari
Krishna bagi kita semua yang masih duduk di
bangku sekolah. Ada banyak karakter yang dapat
kita teladani dari seorang Krishna Harischandra,
merupakan seseorang yang rajin, tekun, dan pantang
menyerah. Ia akan berusaha untuk mencapai target
yang telah ia tetapkan. Itulah yang membuatnya
dapat sukses dalam menjalankan bisnis-bisnisnya.
KRISHNA
HARISCHANDRA
72
Mungkin banyak dari kita bisa menyebutnya
seseorang yang sukses di umurnya saat ini. Namun,
Krishna tidak pernah sombong atas kesuksesannya
di mata orang lain. “Orang-orang sering memuji
usaha saya yang mereka bilang sudah sangat sukses.
Namun, sebenarnya, masih banyak kekurangan dan
kekacauan di balik usaha saya,” ungkap sosok yang
rendah hati ini. Ia juga mengatakan, bahwa titik
tempat ia berdiri saat ini bukanlah menjadi titik
kesuksesannya, melainkan hanya sebatas suatu
pencapaian saja.
73
By: Jason Christian, Neil Tio, Chaveryn Ginosko
Krishna Harischandra is a first child as well as an
older brother figure to his two younger siblings. The
sobs of a baby Krishna who was born on January 4,
1997 became a comfort for both of his parents. At
the age of 25, he is currently studying for a master's
degree and managing four businesses.
Krishna is the third generation of Athalia School
students who graduated in 2015. His first education
started at Athalia's Kindergarten, then elementary,
junior high, and even high school until graduation
there. In high school, the man with curly hair chose
the social studies major which then brought him
together with his favorite subjects, namely History,
Accounting, and Economics. From there, he also
began to consider three things: which ones were
limited to being a hobby, which ones were passions,
and which ones could make money? "If you become a
historian, you will usually become a civil servant or
researcher, while if you take Economics, the field
will be too broad," said Krishna. However, when he
considered accounting, he felt that his grades in the
subject were quite good and he felt "ok" with the
i d e a o f b e i n g a " t a x p e r s o n " , a c c o u n t a n t , o r a u d i t o r .
Because he felt suitable, he then started working in
the field of Accounting.
74
The man born in 1997 then continued his
education at Parahyangan University, Bandung and
graduated in 2019 with a major in Accounting. He
and several of his friends were the first Athalia
alumni to study there. Krishna quickly finished his
thesis so that he could get to work immediately.
Then in 2020, his mother opened a property office in
Parungpanjang, so he also helped with the
bookkeeping there.
After that, in April 2021, Krishna was invited
by several of his high school friends to join Kligo
CarWash, which is a car wash service that comes to
clients' homes. It didn't end there, at the end of
2021, Krishna then decided to open a Moromoro
restaurant with his girlfriend who is also an alumni
of Athalia. He is in charge of the restaurant's menus
and recipes while his girlfriend is in charge of the
design and social media sections. Next, he was
invited again by his friend to join Wedang Goyang.
There, they marketed wedang in the form of instant
drinks with brown sugar as the raw material. They
plan to enter modern retail such as supermarkets
and expand the market outside Java.
H AKRRI SI CSHHA NNDAR A
January
04
1997
75
When managing four businesses simultaneously,
the multitasker admitted that he felt overwhelmed,
because he was so big on his responsibility for the
four businesses. Depending on the density of his
work, he usually came home at nine o'clock in the
evening. Krishna worked as hard as a horse. Krishna
only has one day off, Monday. The rest of the week,
Krishna continued to work. If he still has time, he
will continue working on his master's thesis. Even
so, he still maximizes his efforts in these four
businesses. The routine applies every day except on
Mondays, the day he gets a day off. Despite being
overwhelmed, the hardworking Krishna remains
passionate about his work. Usually, he would pray
every morning to start his day. At first, Krishna
only prayed to solve the problem at hand. But as
time goes by, Krishna thinks that every problem
given by God serves a purpose. Therefore, Krishna is
now praying for wisdom so that he can take lessons
from his problems. Krishna is also still attending a
small group with Pak Presno and some of his high
school friends to strengthen their faith.
KRISHNA H.
76
In the interview session, Khrisna also gave a
message, “Know your passion and talent. Which one
do you like and which one you can make a job for.”
One more thing, Krishna also advised never to
regret everything that had happened. Instead, use it
as a lesson for our lives. Those are two messages
from Krishna for all of us who are still in school.
There are many characters that we can emulate from
a Krishna Harischandra, like diligence and
perseverance. He will try to achieve the target he
has set. That's what makes him successful in
running his businesses.
Maybe many of us can call him someone who is
successful at his current age. However, Krishna was
never proud of his success in the eyes of others.
“People often praise my efforts which they say have
been very successful. However, in fact, there are
still many shortcomings and chaos behind my
efforts,” said this humble figure. He also said that
the point where he stands today is not a point of
success, but only an achievement.
77
23 BUKU BIOGRAFI 11 X MIPA 2 2022
sbehind the cene
"BIOGRAFI - Tokoh-tokoh Inspirator Kehidupan" is created originally by X MIPA 2
- Special thanks to Bu Join and Bu Feli -
23 BUKU BIOGRAFI 11 X MIPA 2 2022
sbehind the cene
"BIOGRAFI - Tokoh-tokoh Inspirator Kehidupan" is created originally by X MIPA 2
- Special thanks to Bu Join and Bu Feli -
https://anyflip.com/kgwjn/jadv/