BAHAN AJAR
TEKNIK PENGAJIRAN
SITI AZIZAH, SP
No.UKG. 2234520992
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU DALJAB
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
TAHUN 2022
MATERI AJAR BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING
PERSIAPAN LAHAN DAN PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN
TEKNIK PENGAJIRAN
Nama Mahasiswa Oleh :
NIM : SITI AZIZAH, S.P
Kelas/Sekolah : 2234520992
Waktu : XII ATP/SMKS LPMD KABUN
: 2x45’
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU DALJAB
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
TAHUN 2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T atas rahmat, taufiq dan hidayah-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan bahan ajar Persiapan Lahan dan Penanaman
Tanaman Perkebunan yang berjudul Teknik Pengajiran Pada Pembibitan Kelapa Sawit Main
Nursery dapat terselesaikan sesuai pada waktunya. Materi Teknik Pengajiran Pada
Pembibitan Kelapa Sawit Main Nursery, penulis susun untuk memudahkan penulis saat
mengajar sesuai RPP dan sebagai penambahan bahan ajar untuk siswa kelas XII ATP saat
belajar. Dalam materi ajar ini, penyusun menyajikan beberapa referensi dan solusi untuk
mengatasi beberapa permasalahan dalam pembelajaran dan miskonsepsi dalam pembelajaran
Teknik Pengajiran. Materi ajar ini dikembangkan dengan mengedepankan pendekatan Higher
Order Thinking Skill (HOTS) dan mengintegrasikan kerangka berpikir Technological,
Pedagogical, Content Knowledge (TPACK). Penyusunan materi ajar ini tidak akan berjalan
dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terimakasih
kepada:
1. Destri Ratna Ma’rifah selaku Dosen Pembimbing.
2. Elfi Herawati Sitompu selaku guru pamong
3. Semua rekan-rekan perjuangan kelompok 2 PPG Dalam Jabatan Tahun 2022
Penulis menyadari materi ajar ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca demi perbaikan materi
ajar kedepannya. Akhir kata semoga materi ajar ini bermanfaat untuk mahasiswa PPG
terutama bagi penulis dan pembaca pada umumnya.
Pnulis,
SITI AZIZAH, S.P
MATERI AJAR
PEMANCANGAN TANAMAN KELAPA SAWIT
1. Kerapatan Tanam, Jarak Tanam Dan Pemancangan
1.1. Kerapatan Tanam
Kerapatan tanam mempunyai hubungan yang tak dapat dipisahkan dengan produksi
yang akan diperoleh dari luas lahan per hektar, karena kerapatan tanam berhubungan
dengan populasi tanaman dan keefisienan penggunaan cahaya, juga mempengaruhi
persaingan antara tanaman dalam menggunakan air dan unsur hara. Pada umumnya,
produksi tiap satuan luas yang tinggi tercapai dengan populasi tinggi, karena
tercapainya penggunaan sinar matahari, air dan unsur hara secara maksimum di awal
pertumbuhan. Akan tetapi pada akhirnya, penampilan masing-masing tanaman secara
individu menurun karena persaingan untuk mendapatkan sinar matahari,air dan unsur
hara. Kerapatan tanaman yang optimum hanya dapat ditentukan dengan mengetahui
potensi produksi pada beberapa kerapatan tanaman.
1.2. Jarak Tanam
Pada umumnya perkebunan kelapa sawit menerapkan jarak tanam sama segala
penjuru (equidistant plant spacing) yang umum dikenal dengan jarak tanam segitiga
sama sisi (sistem mata lima). Sistem ini memberikan pemanfaatan yang lebih besar
terhadap tanah untuk pengambilan unsur hara dan menyediakan ruang dan cahaya
matahari bagi perkembangan pelepah daun. Sudah dibuktikan di Afrika bahwa
penanaman sistem segitiga sama sisi menghasilkan lebih banyak dari pada
penanaman dengan sistem kubus. Menggunakan sistem sama sisi membuat jarak
antar barisan lebih pendek dari pada jarak antar tanaman. Jarak antar barisan dapat
dihitung dengan rumus jarak antar tanaman x 0,866. Jarak tanam akan tergantung
kepada kerapatan tanam yang diinginkan.
1.3. Pemancangan
Untuk mencegah dan mengatasi timbulnya pengaruh kekurangan cahaya matahari
serta mendapatkan letak dan barisan tanaman yang teratur , maka pengaturan arah
barisan tanam Kelapa Sawit sangat penting agar penggunaan cahaya matahari
seefektif mungkin bagi setiap tanaman. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
persiapan pemancangan:
a) Keadaan Topografi Areal Tanam
Sebelum melaksanakan pemancangan terlebih dahulu mengetahui dan
mengklasifikasikan keadaan topografi areal, dalam hal ini dapat
diklasifikasikan ke dalam; areal rata sampai berombak (250). Pada umumnya
untuk areal rata sampai berombak digunakan pemancangan sistem mata lima,
sedangkan areal curam dan sangat curam digunakan sistem kontur.
b) Arah Barisan
Umumnya pada areal rata sampai berombak arah barisan pada tanaman Kelapa
Sawit adalah Utara-Selatan. Hal ini berhubungan dengan arah penyinaran
matahari Timur – Barat. Dengan membuat arah barisan Utara – Selatan maka
jarak antar tanaman Timur – Barat lebih panjang daripada jarak antar tanaman
dalam barisan, sehingga penyinaran matahari akan lebih lama bagi setiap
tanaman karena saling menutupi antar daun tanaman lebih sedikit. Untuk areal
curam dan sangat curam arah barisan mengikuti arah kontour yang ada dan
jarak antar tanaman adalah berbanding terbalik dengan jarak antar teras
kontour.
Untuk mendapatkan kerapatan tanam yang seragam pada semua tingkat
kemiringan ( areal curam sampai sangat curam) dipergunakan metode
pemancangan ”Violle” secara matematis dapat dinyatakan dengan rumus
sebagai berikut :
Contoh : Kerapatan Tanam = 143 Tanaman/ha
Jarak antar teras kontur = 8 meter
1.3.1. Persiapan Pemancangan
Pemancangan dilakukan setelah selesai pembukaan areal.
Pancangan tanaman dibuat dari bambu kecil panjang 1 meter; pancang kepala
panjang 2,5 meter dicat bagian atasnya.
Kawat diameter 2-3 mm sebanyak 2 utas masing-masing sepanjang 100 m.
Tiap-tiap kawat diberi tanda sebagai berikut :
Kawat I : Diberi tanda tiap jarak tanam (9m); ujung ditambah 4,5 meter untuk
mengukur jarak pancang hidup dan mati.
Kawat II : Diberi tanda jarak antar barisan yaitu tiap 7,80 m
1.3.2. Pemancangan Pada Areal Datar
Dimulai dari luasan 1 ha terlebih dahulu (pancang hektaran) ukuran 100 x 100
m. Contoh : Jarak tanam 9,0 m segitiga samasisi (9 x 7,80 m)
Tentukan titik awal A berjarak 1,95 m (1/4 x 7,80 m) ; dan 2,25 m (1/4
x 9,0 m) dari pinggir areal dengan pancang kepala. Titik A sebagai awal
pancang hidup.
Kawat I; direntangkan U – S secara lurus dari titik A. Pada tiap titik 9 m
ditancapkan pancang kepala. Arah rentangan dibantu dengan
menggunakan kompas.
Kawat II; direntangkan T – B. Pada tiap jarak antar baris 7,80 m
ditancapkan pancang kepala. Nomor ganjil pancang hidup, nomor genap
pancang mati.
Kemudian kawat I digeser sejauh 7,80 m sejajar dengan barisan ke arah
T – B. Tancapkan pancang pada tanda 4,5 m (pancang mati) dari B1
kemudian tiap 9 meter.
Kawat I digeser lagi pada posisi B2 pada tanda pancang hidup 9 meter.
Buat seterusnya sampai 10 barisan.
Pada saat menanamkan pancang harus selalu dilihat lurus kesemua
jurusan (mata lima)
Bila pemancangan pada areal 1 ha ini sudah selesai maka dapat
dilajutkan untuk memancang seluruh areal.
Tim pemancang minimal terdiri dari 5 orang dengan perincian sebagai
berikut:
1 orang tukang teropong
1 orang tukang pancang
2 orang penarik kawat
1 orang pembawa pancang
Kemampuan tim pemancang ± 3 ha / hari.
1.3.3. Pemancangan Pada Areal Curam dan Sangat Curam Pemancangan pada areal
curam dan sangat curam lebih sulit dari pada areal datar. Jarak antara kontour
adalah merupakan proyeksi dari jarak antar barisan pada bukit tersebut. Sedang
jarak dalam barisan dapat dihitung dengan metode Violle. Tahap pemancangan
teras untuk areal curam dan sangat curam adalah sebagai berikut :
Pilih lereng dengan kemiringan rata-rata dari seluruh kemiringan bukit.
Buatlah pancang kepala berwarna dengan sesuai jarak antar barisan
yang diinginkan (mis: 8 m) ke arah bawah, pada kemiringan rata-rata
mewakili seluruh areal yang ada secara horizontal.
Gunakan tiga warna (merah , kuning dan biru) untuk pancang kepala,
peletakkan pancang-pancang berwarna ini harus dilakukan berulang dan
berurut. Ini akan membantu memastikan bahwa supir bulldozer tidak
menembus kontour yang berbeda.
Setelah selesai membuat pancang kepala, teras pertama diberi pancang
berwarna merah pada kontour keliling bukit, dengan menggunakan
abney level dengan penyangga berbentuk huruf T setinggi 1,5 m atau
dumpy level.
Untuk membantu pengamatan (pengukuran) pancang tersebut
diletakkan dengan interval 10 -15 m.
Untuk pembuatan teras berikutnya, pergunakan kawat pengukur yang
diberi etiket besi sesuai jarak yang diinginkan.
Peletakkan pancang pada teras ke-2 harus dimulai dari pancang ke-2
(kuning) dan begitu seterusnya ke arah bawah.
Salah satu ujung kawat dipegang pada pancang ke-2 pada teras pertama
(pancang merah), sedang ujung yang satunya (ujung yang ada etiket
besinya), dipegang oleh satu orang pada calon teras ke-2 dan pemegang
abney levelnya mengukur dari titik pancang yang sebelahnya.
Dengan pemancangan seperti ini tidak menimbulkan kesalahan yang
berarti. Supir bulldozer yang berpengalaman dapat mengusahakan
membentuk level yang benar, selama pembentukan teras dengan
meratakan kesalahan, memotong lebih dalam atau mengurangi
kedalaman dimana perlu.
2. Pembuatan Teras/Tapak kuda
Pembatan teras secara mekanik biasanya dilakukan oleh bulldozer, dengan memotong
teras selebar 3,5 – 4 m tetapi pada bukit yang paling curam dapat dipotong 3 m. Gambar
potongan teras dapat dilihat pada gambar berikut: Teras harus dipotong dengan
kemiringan 150 – 200. Ini akan memudahkan pemadatan tanah dan berfungsi untuk
menahan air dan menghentikan erosi akibat aliran air ke bawah.
Karena pada prakteknya hampir tidak mungkin membuat teras benar-benar rata ,maka
perlu menghentikan aliran air ke bagian yang terendah . Ini dapat dilakukan dengan
membuat stop bund dengan interval setiap dua pohon baik secara mekanik maupun
manual. Dari dinding ke bibir teras, stop bund harus rata.
Jika pembuatan teras secara mekanik tidak memungkinkan, untuk alasan ekonomi, maka
penanaman dibukit dapat dibuat tapak kuda (platform) secara manual berukuran 2,5 m x
2,5 m dengan kemiringan 150 – 200 ke arah dinding serta dipadatkan pada bagian tepinya