BERSAMA SUKA SMAN 6 KARAWANG ANTOLOGI CERPEN vol. 1 Cerita tentang rasa takut, sesal, pilihan yang sulit, dan rasa cinta
JUDUL CERPEN MIMPI -Putri Ozora1 SESAL 2 -Putri Ozora- "GARANGGATI" 3 -Putri Ozora4 5 BANDUNG -Miftahul JannahBACKSTREET -Zhaskia Putri VelanyDINA BUDIAR TI MAUL IDIA Editor dan Design Grafis HADI JAH MULYANING SIH Design Logo
-DINA BUDIARTI MAUL IDIA- "Bagi mereka, menulis adalah cara terbaik untuk menumpahkan berbagai rasa, berlari, dan berbahagia, menari dengan kata demi kata agar pembaca memahami rasa yang sama."
Gadis muda itu tersentak kaget sedetik setelah membuka kedua matanya. Tubuh mungilnya berusaha bangkit untuk duduk. Tangan dan kaki telanjangnya meraba dedaunan diatas tanah rumput yang basah dan kotor. Merasa asing dengan tempat ia kini berada membuat panik segera menyerangnya. Sepasang iris hijaunya mulai menelurusi sekitar dengan gelisah. Namun yang dapat ia lihat dengan sedikit terang bulan hanyalah pohon-pohon tinggi menjulang dan kabut tipis di dekatnya. Poppy menatap pakaian tidur biru muda yang ia kenakan. Lalu jemarinya meraba rambut merahnya yang terikat berantakan. Wajahnya perlahan menyerit mencoba mengingat hal yang terakhir ia lakukan. Ponsel. Kamar tidur. Mimpi. Dirinya yakin betul ia tengah tertidur dikamarnya. Lalu bagaimana bisa remaja itu terbangun di tengah hutan? Atau mungkin ini mimpi? Saat sibuk merenungi nasibnya, ia menangkap gerakan aneh di sudut matanya. Dengan mode awas ia memperhatikan bayangan hitam yang melompat dari pohon ke pohon dengan cepat, “siapa disana? Apa maumu?!” ia refleks berdiri tanpa melepaskan pandangannya dari sosok itu. Kedua jemarinya mengepal bersiap menjadi senjata saat diperlukan. Bukannya menjawab bayangan itu justru melompat turun dari pohon dengan jarak ratusan meter dari Poppy. Insting sang gadis berseru untuk segera pergi dari sana. Namun kedua kaki kurusnya justru gemetar dan membeku di tempat. Walau tak mampu melihat diantara kabut dan gelapnya malam, ia dapat merasakan sosok itu semakin mendekat. Dengan sekuat tenaga ia memaksakan sepasang kakinya untuk berlari sejauh mungkin. Tanpa menengok kebelakang, Dua tungkai tanpa alas itu membawa Poppy menelesuri suramnya hutan. Malang nasibnya, sebuah batu besar mengantuk kaki kanannya. Sambil mengaduh kesakitan, ia bersimpuh memegangi lututnya yang mulai membiru. Sebentar. Bukankah harusnya mimpi tidak terasa sakit? Mimpi Oleh Putri Ozora 1
“Siapa kau?” Poppy dikejutkan dengan sebuah ujung tombak yang mengarah pada lehernya. Matanya terbelalak lebih lebar setelah menyadari pemilik suara itu bertungkai empat seperti kuda. Menyadari sang gadis menatap keempat kakinya, pria setengah kuda itu mendekatkan ujung tombaknya ke wajah Poppy, “siapa kau?! Apa yang kau lakukan disini?!” Keadaan tak semakin membaik dengan lidah kelu Poppy. Bibirnya bergerak terkencar-kencar mencoba menjawab. Namun dengan kepala yang penuh dengan rasa gelisah sulit baginya untuk berpikir jernih. Tubuh gemetar hebat dan kedua mata yang basah tak membuat sosok itu lebih sabar menunggu jawaban Poppy, “SIAPA NAMAMU?!” “P-Pop-Poppy!” gadis itu berseru gugup sambil mengangkat tangan dan memejamkan matanya penuh rasa takut. Entah bagaimana reaksi sosok setengah kuda itu. Namun Poppy mendengar suara dehaman dan perasaan ujung tombak yang semakin dekat, “Darimana kau datang? Mengapa kau ada disini?” “E-Entahlah...” Ia membuka mata dan menemukan ujung tombak yang tajam berjarak satu inci dari pipi merah dengan bintik-bintik khasnya, “aku benar-benar tidak tahu! A-Aku terbangun ditengah hutan dan terjatuh disini!” jelas Poppy terbata-bata ketakutan. Belum sempat pria itu membalas. Sesosok wanita bergaun hitam dan rambut ikal berantakan menusuk perutnya dengan pisau belati perak, “AAAARGH!!” ia lalu menarik lengan Poppy dan membawanya berlari secepat mungkin,“ayo cepat! Kita harus lari!” suara lembut dan elegannya berbanding terbalik dengan penampilannya yang bongkar-bangkir. Keringat mulai berjatuhan dari pelipis Poppy. Ia mampu merasakan jantungnya berdegup kencang karena adrenalin dan pelarian ribuan meternya. Tubuhnya kini terasa panas diantara udara dingin yang menerpa kulitnya. Semakin jauh dirinya berlari, semakin sesak pula yang dirasakan dadanya, “kemana kita berlari?” tanyanya diantara hirupan nafas yang semakin memendek. Wanita itu tak menoleh pun suaranya kini terdengar dingin, “tak jauh.”
Poppy menghentikan langkah kakinya, “kemana? Lagi pula pria itu tak mengejar kita.” Kini Poppy dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas. Mata hitam mengkilap, hidung bangir bengkok dan lekuk senyum tipis di wajahnya membuat bulu kuduknya berdiri. Belum lagi suaranya yang ringan dan lembut bak bisikan angin, “kau benar, sayangku. Kita tak perlu berlari lebih jauh.” Poppy mendapatkan firasat buruk setelah melihat senyum lebarnya. Di antara sela-sela awan dan pepohonan sinar rembulan menyeruak menyinari perubahaan wanita yang ia yakini serupa dengan penyihir yang ia lihat dari buku. “Aku bisa melahapmu disini.” bisik penyihir tua itu dengan suara lirih. Pandangannya yang tajam menatap Poppy dengan lapar. Gigi-gigi dan kuku runcingnya yang berwarna kuning ia tunjukan dengan senyum lebar, “...selamat makan...” Dalam hitungan detik, tubuh kurus Poppy telah terbaring menggeliat melawan terkamannya. “KYAAAAA!!!” Gadis itu menjerit kesakitan setelah merasakan belasan gigi tajam menusuk pundaknya. Membuat tangan dan kakinya semakin meronta-ronta lebih keras. Namun justru rasa sakit semakin ia rasakan. Poppy terus memekik kesakitan. Mungkin benar ini adalah akhir hidupnya. Ia menangis lebih keras. “Hey, hey! Tidak apa. Cuma mimpi buruk, sweetie pie.” Poppy berhenti menangis setelah mendengar suara sang ibu. Tanpa menunggu, ia segera memeluknya dengan erat. Ibu terlihat sedikit terkejut namun tetap membalas pelukan anak gadisnya sambil berbisik kalimat menenangkan, “gak apa-apa. Ibu disini.” Mendengar hal itu membuat Poppy tertegun. Ia baru saja tersadar. Bukankah ibunya wafat lima bulan yang lalu?
Sesal Oleh Putri Ozora “Tau gitu foto kita tadi di sini aja gak sih?” ujar Joan dengan penuh rasa sesal setelah melihat pemandangan kota dari atas gedung apartemen baru itu. Kelap-kelip lampu jalanan yang sepi serta sorot cahaya kendaraan yang sesekali lewat bersinar terang diantara gelapnya malam. Joan tak pernah tau kotanya selalu seindah ini saat tengah malam. Theo tertawa geli, “Tau gitu tadi kita foto disini aja gak sih?” koreksinya gemas setelah mendengar kalimat Joan yang berantakan. Perempuan berambut hitam sebahu itu menoleh galak, memberikan tatapan sesinis mungkin kepada pemuda kurus keturunan Chinese di sampingnya itu. Theo tak merespon banyak hanya terkekeh singkat sambil mengacungkan ponsel untuk memotret pemandangan sekitar. Diam-diam ikut merasakan sesal yang cukup besar tidak melakukan tugas pemotretannya di sini. Pemuda jangkung berkulit sawo matang yang duduk di lantai rooftop tak jauh dari mereka terkekeh sambil mengejek, “Pantesan nilai bahasa Indonesia lo remed mulu, Jo.” Gadis yang disapa Jo itu mengumpat cukup keras kepada Malik yang mengundang tawa ketiga sahabatnya. Cynthia yang berdiri paling belakang mengacungkan kamera analog kebanggaan Malik ke arah teman-temannya. Ia tersenyum puas saat berhasil menangkap momen menyenangkan yang langka ini, “Kalian gak pulang? Sudah malam banget loh ini.” Joan dan Theo berpandangan setuju. Keduanya telah bersiap untuk segera pulang, sedangkan Malik yang masih duduk di lantai rooftop itu menengadah menatap gadis sipit cantik berambut coklat muda bergelombang itu, “Sudah lama gak ketemuan sekalinya ketemu lo malah ngusir, Cin.” Raut muka gadis itu tak menunjukan sedikit pun rasa bersalah telah mendengar perkataan Malik, Cynthia malah menjawab dengan nada sebal, “Iya. Liat aja tampakan lo kek gembel gini. Security kalau liat lo juga bakal langsung ngusir.” 2
Malik ternganga tak percaya dengan balasan gadis itu, “Baju ripped-of gini lagi tren tahu! Lo aja yang gak tau, yeu!” pemuda itu bersungut-sungut tak terima gaya pakaiannya disebut ‘gembel’. Tawa kembali pecah diantara keempatnya. Selera humor mereka apabila disatukan memang sangat rendah. Semuanya selalu terasa lucu saat dilakukan bersama. Kecuali suara teriakan perempuan yang baru saja terdengar dari arah tangga apartemen sekaligus satu-satunya akses menuju rooftop, “Eh? Apaan tuh?” Malik buru-buru berdiri panik. “Event Halloween kayaknya.” jelas Cynthia sambil memasukan kamera Malik ke tasnya dengan santai. Ia tak beranjak seperti yang lain, malah tak banyak menghiraukan pandangan khawatirteman-temannya. “Masa sih? Kayak beneran suaranya,” Joan merasa heran dengan tingkah santai Cynthia. Suara teriakan itu terdengar terlalu nyata untuk menjadi salah satu trik Halloween. “Ih, emang ada beberapa unit yang suka masang sound ef ect horor gitu, Jo. Gue juga gak suka tapi sama ownernya dibolehin aja,” jelas Cynthia dengan wajah sebal mengingat betapa bencinya ia dengan unsur horor dan antek-anteknya. Sementara Malik sudah tersenyum lebar dengan penuh maksud. Ia sudah berlari menuju arah suara, “Ayo, Cin. Kita samperin!” “EH JANGAN ANEH-ANEH LO MALIK!” Mau tak mau, ketiganya buru-buru mengikuti langkah Malik yang sudah memasuki tangga darurat. Keempatnya kini berjalan beriringan menuruni tangga spiral sempit yang hanya mampu dilewati dua orang. Malik dan Joan memimpin di depan. Lalu diikuti Cynthia yang bergumam sebal kepada Malik. Theo di sampingnya tersenyum kecil menyaksikan keduanya beradu mulut. Baru menuruni satu lantai, Malik dan Joan tiba-tiba berhenti. BUGH!
Tanpa sengaja kepala Cynthia menubruk punggung lebar Malik. Gadis itu sudah siap untuk bersungut-sungut kepada cowok jangkung di hadapannya yang berhenti tanpa aba-aba. Namun umpatannya ia telan kembali saat melihat pemandangan mengerikan di depan tubuh Malik. Dinding putih di sekitar tangga itu penuh dengan noda muncratan darah segar. Sesosok pria berbadan besar dengan pakaian menyerupai jas hujan hitam dan topi baseball tengah menyeret seorang perempuan muda menuruni tangga. Ralat. Ia tengah menyeret tubuh kaku perempuan berlumuran darah dengan luka sayat di leher. “Itu event Halloween-nya, Cin?” celetuk Malik yang entah sarkas atau benar-benar bertanya. Cynthia tak menjawab. Ia masih syok melihat banyaknya noda darah realistis di depannya. Tangan Theo refleks menggapai bahu Joan saat melihat gadis itu malah mencoba mendekat kepada pemandangan mengerikan itu. Langkah kaki gadis itu tanpa sengaja membuat pria misterius tadi menoleh. Joan mampu melihat noda darah pada wajah bermasker hitam itu. Tatapannya tajam dan mengancam, membuat bulu kuduknya berdiri merinding. “Joan,” Theo yang merasakan sesuatu yang aneh memanggil namanya dengan lembut namun tegas, “mundur.” Joan tak langsung bergerak sesuai perintah Theo. Kedua matanya bertemu dengan tatapan tajam pria itu. Ada perasaan aneh yang membuat bulu kuduk Joan berdiri saat pandangan keduanya bertemu. Belum sempat Joan terbangun dari pikirannya, pria itu tiba-tiba bergerak maju dengan cepat sambil mengacungkan pisau besarnya. Entah bodoh atau berani, insting Malik tiba-tiba membuatnya berdiri di depan Joan, “Jangan gitu lah, pak. Kasihan teman saya takut--- ARGHHH!” Malik berseru kesakitan saat dada kirinya tiba-tiba ditusuk pisau. Joan bergerak mundur terburu-buru, wajah cantiknya pias terkejut. Tanpa sengaja tubuh mungilnya menabrak Theo yang berdiri di belakangnya ikut panik. Cynthia yang sudah diselimuti rasa takut hanya bisa terdiam menutupi mulutnya tak kuasa berpikirjernih.
Pria itu menarik pisau dari dada Malik dengan cepat tak menghiraukan erangan kesakitan pemuda yang berlutut di hadapannya. Joan mampu melihat tangan Theo mulai bergetar, “Mundur.” ujar Theo dengan tegas. Entah dimaksudkan kepada Joan atau pria berlumuran darah itu. Theo perlahan-lahan menggenggam lengan Joan. Ia tengah memperhitungkan waktu yang tepat untuk kabur. Jelas sekali pria di hadapannya ini gila dan dapat melukai ketiga temannya. “Mundur!” seru Theo saat melihat pria itu menaiki satu anak tangga menuju mereka. Cynthia menarik ujung jaket hitam Theo semakin ketakutan. “Mundur atau saya telepon polisi sekarang!” gertakan Joan sukses membuat pria itu berhenti bergerak. Namun kedua mata Theo melotot setelah mengingat ponsel keempatnya sengaja ditinggal di kamar Cynthia. Semuanya sama-sama terdiam tegang menatap satu sama lain menunggu pergerakan. Namun sepertinya pria berpakaian serba hitam itu berubah pikiran. Ia kembali menaiki anak tangga satu persatu. “Stop!” Joan berseru panik melihat langkah kakinya bergerak lebih cepat dengan pisau yang diacungkan lebih tinggi. Malik tiba-tiba berteriak keras tak karuan sambil berusaha bangkit. Ia membiarkan tubuhnya maju sambil menarik pria kekar itu jatuh menuruni tangga memberikan kesempatan kepada ketiga temannya untuk kabur, “Lari!” serunya bak protagonis di film aksi laga. Jika memungkinkan, Cynthia hendak mengejek gaya Malik yang sok jagoan. Namun di otaknya kini hanya penuh dengan pertanyaan bagaimana ia bisa bertahan hidup dan pergi dari sana. Tanpa menunggu aba-aba lain Theo sudah menarik lengan Joan dan Cynthia untuk segera keluar dari tangga sempit itu. Ketiganya lari menuju lorong apartemen. Pria bertopi hitam itu menusukkan pisau tajamnya berulang kali ke punggung Malik yang masih menahannya di lantai dingin yang mulai basah oleh darah. Erangan penuh kesakitan milik Malik terdengar sampai ke lorong tempat teman-temanya lari.
Akal sehat Joan mulai berkabut dengan rasa bersalah. Ia merasa menyesal meninggalkan Malik sendirian disana. Harusnya ia ikut menghentikan pria itu, “Theo! Stop! Lo mau ninggalin Malik?!” Joan menarik kembali lengannya yang digenggam erat Theo. Ia berhenti berlari dan mulai menarik Theo ke arah sebaliknya. “Joan, lo gila?” Pemuda kurus itu menatap tajam wajah bulat perempuan itu. Dadanya naik turun tak beraturan akibat banyaknya adrenalin tibatiba, “Lo mau balik kesana?!” “Elo yang gila! Itu temen lo yang lo tinggalin sama orang gak waras disana!” Joan berteriak sambil menunjuk arah tangga dengan menggebugebu. Theo sudah bersiap menjawab gadis itu, “Joan—” “TERSERAH LO BERDUA MAU NOLONGIN MALIK ATAU ENGGAK! GUE MAU PERGI DARI SINI!” seruan Chyntia menggema di lorong remang yang sepi itu membuat Joan dan Theo tersentak kaget. Gadis itu kini sudah berlari entah kemana meninggalkan dua sejoli itu. BUGH! Keduanya semakin kaget saat melihat badan jangkung Malik yang terlempar mengenai pintu tangga darurat. Theo buru-buru menarik Joan untuk bersembunyi di gudang kecil di dekatnya. Tak sempat menutup pintu, kini keduanya mampu melihat sosok pria kekartadi berjalan pelan melewatinya di antara sela-sela pintu. Theo menutup mulut dan hidung Joan perlahan dengan tangan besarnya. Di ruangan yang seharusnya hanya cukup berisi satu orang membuat keduanya sama-sama mampu mendengar detak jantung masing-masing. Pria gila tadi bergerak ke arah kamar Cynthia. Jalannya pelan namun meyakinkan. Theo dan Joan sama-sama menahan nafas tegang saat melihat sosok mengerikan itu lewat. Pria itu berbelok dan menghilang di balik dinding. Joan menurunkan tangan Theo dengan kasar. Ia memutar badannya untuk menghadap pemuda itu, “Lo mau biarin dia ngejar Cindy?”
Ucapan Joan jelas membuat pemuda itu merasa bersalah, “Kayak lo ninggalin Malik?” Baiklah. Theo akui Joan memang ahli membuatnya merasa bersalah. Namun, pemuda itu masih membisu. Untuk saat ini yang diprioritaskan adalah keselamatan Joan dan dirinya. Joan tidak menunggu respon pemuda itu, ia sudah melangkah pergi. Ah, tidak juga. Baginya Joan selalu yang paling utama, “Lo turun sekarang. Gue cari Cynthia.” Theo beranjak mengejar Joan dengan waswas. Kedua tangannya kini mengikat tali sepatunya dengan cepat. Joan terbelalak bingung, “Hah? Apaan sih?” ia menarik jaket hitam Theo dengan mata membulat penuh rasa bingung dan kaget, “Lo mau ikutan sok jagoan kayak Malik? Jangan gegabah, Theo.” Theo berdiri menghadap gadis pendek sedadanya itu. Ia menghela nafas pelan dengan tatapan mata melembut menatap Joan, “Kalau kita samasama cari Cynthia, Malik bisa kehabisan darah disana,” Ia terdiam sejenak sambil memperhatikan raut wajah Joan, “Lo turun ke bawah sekarang cari pertolongan. Gue bakal coba cari Cytnhia.” jelas Theo dengan pelan dan sabar. Joan masih bergeming mendengar perkataan pemuda itu. Ia merasa rencana Theo adalah hal yang mengerikan dan benar di saat yang bersamaan. Namun tatapan kedua mata coklat itu meyakinkan dirinya untuk mengangguk setuju, “Oke.” ucapnya singkat sambil bergerak cepat membuka kembali pintu tangga darurat. “Jo,” panggil Theo sekali lagi. Diam-diam ia juga merasa takut dan tak rela meninggalkan Joan sendirian. Tapi ini Joanne Audrey yang ia khawatirkan. Gadis tangguh dan berani yang selalu ia kagumi, “hatihati.” ucapnya dengan senyum tulus menenangkan. Joan mengerjap pelan. Namun bibirnya refleks bergerak, “Lo juga harus keluar dengan selamat,” ia tahu senyum itu punya makna khusus. Sebuah perasan tiba-tiba menyelimutinya. Perasaan yang sebenarnya sering timbul sebelumnya. Tapi ini bukan waktu yang tepat. Ia berdeham mencoba tidak menggubris perasaan itu, “sama Cindy juga.” Gadis itu berbalik arah dan buru-buru menuruni tangga sebelum perasaan itu kembali mengambil alih dirinya.
Theo menatap punggung gadis itu sambil tersenyum tipis. Entah harus merasa sedih atau bahagia mendengar ucapan Joan tadi. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu bukanlah kali terakhir. Walau jujur, intuisinya tengah berkata lain. Sayangnya, ini bukan waktu yang tepat untuk menyesali pilihannya. Pemuda kurus itu mulai berlari tanpa suara menuju unit Cynthia. Theo menemukan pintu unit Cynthia terbuka sedikit. Suasananya hening dan gelap. Hanya ada remang-remang cahaya yang masuk lewat balkon. Ia mengintip dengan hati-hati lewat sela-sela pintu, “Cin?” panggilnya dengan suara lirih. Tak ada jawaban dari dalam. Mau tidak mau, Theo memberanikan diri membuka pintu lebih lebar. Ingin muntah rasanya saat ia melihat teman masa kecilnya terbaring di lantai di antara genangan darah segar. Dengan sigap, ia berlutut di samping tubuh Cynthia yang penuh luka basah sambil memeriksa tanda vitalnya. Theo jelas terlambat, manusia mana yang mampu bertahan hidup dengan luka tusuk sebanyak itu. Theo memegang lengan Cynthia yang sudah lemas dan dingin. Rasa sesal mulai membanjiri pikirannya. Seandainya. Seandainya Theo tau seberapa menyesalnya Cynthia saat meninggalkan Malik, Joan dan dirinya. Betapa menyesalnya ia saat lehernya tercekik kawat piano yang ia hadiahkan untuk Joan. Atau penyesalan yang datang saat ia merasakan tubuhnya ditusuk puluhan kali oleh pisau yang sama yang membunuh Malik. Seandainya Cindy tak memilih untuk menjadi pengecut dan kabur. Tiba-tiba perhatian Theo teralih pada cahaya ponsel di lantai balkon. Sepertinya ponsel genggam Cynthia terlempar saat mencoba menyelamatkan diri. Ia baru menyadari bahwa temannya itu telah berhasil menelpon layanan panggilan darurat. “Anda telah menelepon layanan darurat 112.” suara seorang petugas membuat Theo bangkit penuh harapan. Ia bergegas meraih ponsel hitam itu. Sayangnya, baru saja ponsel itu didekatkan di telinganya, sepasang tangan tengah berusaha meraihnya dari belakang. Theo yang mampu merasakan itu memilih untuk menarik nafas dan berseru, “Apartemen Palm Spring. Lantai tiga puluh dua. Tolong---”
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, tubuh Theo sudah terdorong jatuh dari balkon. Ponsel pintar milik Cynthia ikut hancur bersamaan dengan bunyi patahan tulang-tulang saat mendarat di jalanan sepi malam itu. Tak ada yang tahu apakah petugas 112 tadi mampu menerima pesan Theo dengan baik atau tidak. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, rasa sesal merasuki pemuda yang tak lagi berbentuk normal itu sekali lagi. Seandainya ia memilih untuk berlari bersama Joan. Seandainya ia memperjelas perasaanya tadi. Seandainya ia tak membiarkan Malik mendatangi suara itu tadi. Di sisi lain, kedua kaki Joan tak mampu lagi untuk menuruni anak tangga. Tungkainya terasa pegal dan panas. Ia bergegas memasuki lift yang kosong saat itu. Tubuhnya yang lelah ia sandarkan pada dinding lift. Tangannya ia satukan sambil mengucap kalimat permohonan kepada Tuhan. Namun, doa khusyuknya berhenti saat menyadari lift yang malah naik ke lantai tiga puluh dua. Gadis itu mengumpat sambil berusaha menekan tombol-tombol lift dengan frustasi. Air mata mulai membasahi pipinya saat lift berhenti tepat di angka tiga puluh dua. Harapan hidup Joan mulai menipis bersamaan dengan pintu lift yang terbuka perlahan. Pria gila tadi. Cairan merah gelap terlihat menetes dari jaket hitamnya. Pisau dapur penuh yang ia lihat tadi juga masih digenggamnya dengan erat. Entah darah milik siapa itu. Theo? Cynthia? Malik? Atau perempuan malang yang ia lihat tadi? Otak Joan sibuk menganalisa cara bertahan hidup. Namun hatinya tetap penuh dengan ribuan rasa penyesalan. Mata berair Joan akhirnya bertemu dengan tatapan tajam pria itu. Ia melangkah masuk. Badan kekarnya menghalangi Joan untuk menemukan jalan keluar melewatinya. Seluruh badan Joan terasa lemas. Tak ada lagi harapan baginya. Ia bersimpuh lemah tak kuasa untuk melawan balik rasa takutnya. Banyak yang ia sesali malam itu.
Tentang Malik dan Cynthia. Tentang Theo. Tentang mengapa ia malah memilih naik lift. Detik selanjutnya, yang ia tahu hanyalah rasa perih luar biasa di leher dan sekujur tubuhnya yang berwarna merah dan basah. Dan rasa sesal yang tak kunjung hilang hingga akhir hayat. Fin.
3 Garanggati Oleh Putri Ozora “Laba-laba!” Aku berseru keras saat menemukan serangga kecil bertubuh aneh itu. Kakinya yang banyak tampak bergerak kabur dari kami yang ia kira ancaman. Ini pertama kalinya aku melihat laba-laba di pekarangan rumah mewah ini. Rasanya tiap sudut selalu bersih dari serangga itu dan jaring-jaringnya. Pria kaku itu tak merespon banyak. Ia bergantian menatapku dan labalaba kecil itu, “Apasih? Biarin aja.” Samuel kembali membalik halaman majalah bisnisnya. Sungguh tak acuh dengan tingkah kekasihnya. Benar. Biarkan saja. Aku menatap langit oranye keunguan sore itu. Entah kenapa, hari ini rasanya indah sekali. Dahan pohon magnolia di atas kami bergoyang pelan tertiup angin. Aku memasang senyum manis melihat Samuel menurunkan majalah kesukaannya, “Ngomong-ngomong, aku bawa roti lapis yang Sammy suka.” ujarku sambil mengeluarkan sebungkus roti lapis dari dalam keranjang kayu antik. Ia menoleh, mengangkat alisnya menunggu aku menyajikan hidangannya. Aku dapat mendengar decakan tidak sabarnya melihat diriku yang membuka bungkus plastik roti itu dengan perlahan, “Ah, lama.” ketusnya dengan kasar. Namun aku tidak marah. Kami berdua sama-sama tahu Samuel tidak suka menunggu. Menurutnya kesabaran adalah hal sepele yang merugikan. Buang-buang waktu, katanya. Paling tidak itu yang aku pelajari selama tiga tahun bersamanya. Tiga tahun panjang yang ku lalui dengan sabar. Hingga ia menaruh cincin berlian di jari manisku. Aku mencintainya.
Wanita mana yang tidak bahagia saat pria yang dicintainya berlutut untuk memasangkan cincin di jarinya. Tak jauh berbeda dengan diriku yang kegirangan saat Samuel melakukannya. Walau ia tak berlutut atau mengucapkan kalimat manis saat melakukannya. Terpaksa atau tidak, Samuel tetap memintaku untuk menjadi pasangan hidupnya. Aku menaruh roti lapis berisi selai kacang, telur rebus dan sayuran favoritnya diatas piring kecil yang sudah ku sediakan sebelumnya. Piknik kecil ini memang sederhana, namun aku telah menyiapkan segalanya dengan teliti. Samuel mengambil sepiring roti lapisnya sebelum aku siap untuk menyajikannya. Matanya sempat menatap sinis kearahku sebelum membuka mulutnya untuk melahap makan malamnya, “Lelet banget, sih?!” Aku tersenyum tipis meresponya, “Maaf ya,” gumamku pelan sambil memperhatikannya mengunyah habis hidangan yang ku siapkan dari lama itu. “UHUK!” Samuel tiba-tiba terbatuk keras. Wajah tampan putihnya seketika memerah seolah kehabisan nafas. Tangan kanannya terkepal memukul pelan dada kirinya. Aku mampu melihat cincin di jari manisnya bersinar kecil terpantul sinar matahari sore kala itu. “Pelan-pelan.” ujarku dengan senyum manis sambil menyodorkan segelas anggur merah yang juga ku siapkan sebelumnya. Samuel meraih gelas itu sambil terus terbatuk-batuk. Urat nadi di kepala dan lehernya yang menonjol terlihat jelas. Astaga. Kasihan sekali. Aku menepuk-nepuk pelan bahu Samuel yang meneguk minuman alkohol itu berusaha untuk tenang. Matanya memerah dan berair. Wajahnya terlihat lelah setelah tersedak roti lapis yang sengaja kubuat sendiri alih-alih memesan dari restoran kesukaannya. Toh, ini hari yang spesial. “Sammy ingat ini hari apa?” tanyaku sambil memberikan sapu tangan biru yang ku sediakan untuk mengelap bibirnya.
Samuel tak menjawab dengan cepat. Tangannya bergerak pelan mengelap bibir merah ranumnya. Aku tersenyum melihatnya membersihkan remah-remah roti di ujung mulutnya, “Entahlah.” jawabnya singkat. “Serius?” Aku melebarkan mataku tak percaya. Ah, tidak juga. Samuel tidak mempedulikan hari penting kita adalah sesuatu yang normal. Harusnya aku yang tidak berekspektasi tinggi mengira ia akan mengingat hari spesial ini, “Sammy masa gak tahu ini hari apa?” Samuel menatapku dengan tatapan dingin itu lagi. Raut wajah yang seolah berkata, “Tidak, aku tidak peduli.” pria itu bisa saja mengatakannya secara eksplisit. Namun bukan Samuel namanya jika ia tidak menghemat ucapannya. Aku menurunkan bahuku seolah kecewa. Tangan kananku bergerak untuk merogoh saku kardigan kuningku, “Okay, gapapa,” aku menunjukan sebuah stopwatch analog kepada Samuel. Ia menatapku tanpa rasa tertarik, “Kita main game aja.” Samuel menghembuskan nafas kasar. Jelas sekali ia tak mau mengikuti permainanku. Tidak apa-apa. Aku tahu ini akan terjadi, “Ayo bertaruh.” Ucapanku membuat pria tampan itu mengangkat alisnya penasaran. Berjudi dan taruhan adalah sebagian dari hal-hal kesukaannya di waktu luang. Aku tahu pasti Samuel akan sulit untuk menolak ini, “Sammy mau aku bertaruh apa?” Pria itu tertawa puas mendengar tawaranku, “Memangnya kamu punya apa?” Breng***. Ku akui, kesabaranku mulai menipis. Menurutnya aku adalah perempuan yang tidak bisa marah. Entah karena terlalu cinta atau terlalu lemah, terserah anggapannya. Tapi hari yang indah ini tak bisa rusak begitu saja karena celetukan kecil yang biasa pria ini lontarkan. Tidak. Aku tidak akan marah, “Semuanya,” jawabku dengan percaya diri. Samuel menekuk bibirnya meremehkan ucapanku, “Sammy boleh ambil semuanya yang Maya punya.”
Samuel menegakkan postur duduknya mendengar taruhanku. Ia menatapku tajam dengan mata lentiknya, “Oke. Aku juga bertaruh semuanya.” Aku tersenyum puas mendengarnya. Sekali lagi aku tunjukan stopwatch analog yang kini sudah berdetik menghitung waktu sejak aku mengeluarkannya, “Sammy harus tebak, hari ini hari spesial apa sebelum waktunya habis.” “Tapi stopwatchnya sudah berjalan sebelum permainan dimulai. Ini gak adil.” protesnya sambil menunjuk-nunjuk jam kecil di tanganku itu. Aku tertawa kecil mendengar ucapannya, “Waktu Sammy hampir habis.” Samuel melotot merasa tidak adil, “Apa-apaan? Hentikan. Ini gak adil.” Aku tersenyum semakin lebar saat melihat jarum stopwatch berhenti tepat di angka enam puluh. Mataku melirik kondisi tubuh Samuel yang masih terlihat baik-baik saja, “Ah, sial. Sepertinya aku salah hitung.” Dahi Samuel mengkerut mendengar gaya bicaraku yang berubah, “Apaapaan kamu? Sejak kapan berani mengumpat di depanku?” tangan kirinya tiba-tiba memegang perutnya seolah kesakitan. Aku mampu melihat wajahnya yang mulai basah dipenuhi keringat. “Kenapa? Sakit ya?” aku memangku wajahku dengan tangan kiri menyaksikan Samuel menggeliat kesakitan. Ingin tertawa terbahak-bahak rasanya saat melihat wajah pias Samuel. Puas sekali aku melihat ia terbungkuk-bungkuk mencoba menahan rasa sakit luar biasa di perutnya. Mukanya menengadah menatapku dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Tak ada tatapan dingin meremehkan lagi, hanya ada tatapan bingung penuh putus asa. Aku menuangkan sebotol baru anggur merah ke gelas bersih yang juga tentu saja aku siapkan sebelumnya. Aku meminum alkohol itu dengan tenang sembari menikmati tiap tetesnya, “Berisik, sialan.” aku menatap sebal Samuel yang terus mengerang kesakitan.
Pria itu merangkak berusaha meraihku. Namun tangan dan tubuhnya terlalu lemas untuk bergerak sedikit pun. Wajah tampannya pucat pias dan basah oleh keringat. Aku tak mau membayang seberapa sakit efek racun tubuh itu di dalamnya. “Hari ini hari anniversary pertama kita, tahu.” ujarku di antara tegukan. Samuel menatapku bingung, bibirnya bergetar mencoba memberi tahu sesuatu. Tapi sepertinya racun itu sudah lama melumpuhkan lidahnya. Ia mengeluarkan suara aneh yang tidak dapat ku mengerti. Lucu sekali melihat pria karismatik itu menggeliat dan bersuara seperti orang bodoh. “Hei, mau tahu hal yang lucu gak?” aku berjongkok di samping Samuel yang tergeletak tak berdaya diatas alas piknik kami. Aku mendekatkan wajahku ke telinganya sambil berbisik, “Racun dengan dosis itu gak bisa membunuh, tapi cukup untuk melumpuhkan seluruh tubuh orang dewasa.” Ayolah. Kapan lagi aku mampu menyombongkan kemampuanku di kelas toksikologi. Lelaki rapuh itu selalu marah jika aku sedikit lebih baik darinya dalam hal manapun. “Nah, sekarang,” aku tertawa geli membayangkan hal-hal lucu yang akan terjadi, “Coba tebak kenapa aku gak bunuh kamu langsung?” aku tersenyum riang menatap matanya yang melotot secara tidak normal. Racun itu rupanya bekerja terlalu baik dari yang diharapkan. “Ayo. Lima. Empat,” aku menghitung mundur sambil terus menertawai mulut Samuel yang bergerak dengan aneh, “Tiga. Duaaa…,” aku menampar pipi pria itu dengan keras, “Cih. Jawab dong, breng***.” Diam-diam aku tertawa geli mengingat tingkah gilaku yang seperti berbicara dengan orang bodoh. Ah, lama-lama capek juga. Aku merogoh pistol bertugas Samuel yang sudah ku siapkan di atas tangkai pohon magnolia itu. Sudut mataku menangkap keberadaan seekor garanggati, laba-laba pohon yang tengah menutupi mangsanya dengan benangnya. Tanganku bergerak dengan lihai memeriksa isi peluru senapan itu, “Hhhrggg!” Samuel kembali terdengar panik saat melihatku menggenggam pistol kesayangannya. Oh, raut wajah konyolnya takkan dengan mudah ku lupakan.
Aku menaruh mulut pistol itu tepat di depan dahinya. Mau berusaha sekeras apapun, tubuh berotot Samuel tak akan mampu melawan beberapa mili curare. Aku menarik nafas lega sambil tersenyum, “Kamu harusnya tau aku selalu kagum dengan laba-laba.” “Bagaimana mereka bisa sesabar itu menunggu dan memerangkap mangsanya,” celotehku sambil mengelus lembut rambut hitam Samuel, “Sayangnya kamu gak pernah peduli.” Samuel sekali lagi mengeluarkan suara-suara aneh. Badannya sudah lama berhenti menggeliat. Matanya melotot memandangku dengan penuh perasaan. Terlambat. Tatapan memelas itu tidak akan menggoyahkan niatku. Aku menghela nafas panjang, “Seandainya kamu memelas dua menit yang lalu, mungkin aku akan berhenti.” DORrrrrrrrr! Belasan burung liar yang ada di halaman itu buru-buru terbang menjauh. Garangganti itu juga lari sepersekian detik setelah aku menembak. Haruskah aku juga lari? Entahlah. Ada perasaan aneh melihat wajah Samuel yang sudah tidak berbentuk. Belum lagi darahnya yang terus mengalir dan membasahi kakiku. .....................
4 BANDUNG Oleh Miftahul Jannah Tentang Bandung dan kisah cinta 1 anak Tuhan serta 1 hamba Allah. Jalanan Bandung di Minggu sore biasanya menjadi hal favorit bagi dua insan manusia ini, mereka akan menghabiskan waktu dengan mengelilingi Bandung dengan motor vespa milik sang pria. “Kamu mau beli apa Ci?” Tanya Sang pengendara motor pada penumpang di belakang yang tengah asik memeluk pinggangnya sembari menopang dagu ke pundaknya. “Lagi gamau jajan apa-apa, muter-muter aja terus nanti maghrib mampir masjid kamu kan harus sholat, tadi pagi kan kamu udah anter aku ibadah nahh sekarang aku yang anter kamu ibadah.” “Ahaha lucu ya, kita cuma bisa saling anter gini gabisa ibadah sama-sama. Je harusnya kita sadar ya dari segi ibadah aja kita gabisa sama sama tapi bisa-bisanya kita masih memaksakan keadaan gini, kita salah kan Je?” Lanjutnya dengan perasaan yang sedikit sakit terbukti dari pelukan pada pinggang di depan yang semakin erat. Mendengar ucapan wanita nya pria itu tersentak pelan, ia berikan usapan kecil di punggung tangan sang kekasih berniat menenangkan hati yang tanpa sadar tergores cukup dalam. Ia tahu kalau semuanya adalah kesalahan namun mau bagaimana lagi memang siapa yang bisa mengatur hati untuk jatuh cinta kepada siapa, kalaupun bisa Je tetap akan memilih jatuh cinta pada Ci namun bisa kah diberi versi seiman? (DISARANKAN SAMBIL DENGAR LAGU KEBUTUHAN HATI)
“Je, udah saatnya ya?” “Ngga, Ci.” “Kita harus sadarJe kita salah.” “Kita ga salah sayang.” “Ayolah Je jangan bohongin hati kamu, aku emang sayang kamu tapi aku gamau ambil kamu dari Tuhan mu.” “Ci, kalau memang harus selesai, Ayo bertemu lagi..” “Di kehidupan selanjutnya dengan versi seiman.” Sambung sang wanita. Memang segala hal yang menentang Tuhan akan sulit untuk mendapatkan akhir yang bahagia, kini kedua insan itu harus mulai terbiasa tanpa kehadiran satu sama lain serta menemukan pendamping hidup terbaik mereka yang memang berada di jalan yang sama.
5 Backstreet Oleh zhaskia Putri Velany Seorang siswa menengah yang bernama lengkap Abian Prayoga memang memiliki aura yang sangat positif, aura miliknya dapat menarik perhatian banyak wanita. Selain memiliki paras yang lumayan tampan, ia juga memiliki otak yang cerdas serta sangat aktif dalam kegiatan organisasi di sekolahnya. Tidak heran jika para siswi banyak yang mengaguminya. Entah secara terang-terangan maupun secara diam-diam. Abian banyak menghabiskan waktunya bersama dengan teman kelasnya, ia jarang sekali terlihat "dekat" dengan salah seorang siswi. Ketika dirinya ditanya, "Lu gak punya cewek? yang bener aja seorang Abian gak punya cewek." Abian hanya bisa tersenyum penuh arti, tidak pernah menjawab pertanyaan teman-temannya mengenai hubungan asmaranya dengan lawan jenis. Abian sekarang hanya sedang terduduk di kantin paling pojok, sibuk dengan ponselnya. Jari-jari tangannya terus bergerak, membuka salah satu aplikasi di dalam ponselnya, memesan dua tiket bioskop. "Bi, liat dah ini menfess terbaru." Salah satu teman Abian yang biasa dipanggil Jojo menyodorkan ponselnya, membiarkan Abian melihat isi ponselnya dengan lebih jelas. Isi dari menfesstersebut: Tri!
To : Kak Abian Prayoga From : Adik kelas You look so good kak with glasess... I saw ur pic with glasess in ur Instagram account hahaha. Have a nice day kak bian! Seketika mata Abian melotot melihatnya. "Ini siapa Jo?!" Teriaknya dengan panik. "Lah mana gua tau, kan ga di spill siapa yang ngirim." Jojo mengambil kembali ponselnya dari tangan Abian. "Adminnya siapa?" Abian terlihat panik dan kebingungan. "Kan ga boleh dikasih tau siapa adminnya, kenapa dah emangnya?" Jojo menyeruput es teh manisnya dengan santai. "Nggak, gapapa." Abian mencoba untuk biasa saja namun hatinya tetap tidak tenang. ••• Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari sepuluh menit yang lalu, sekarang Abian sudah duduk manis diatas motornya, mengendarainya dengan hati-hati. "Hei, Ayaa akuu, kamu beneran marah soal menfess itu?" Abian membuka obrolan dengan orang yang berada di jok belakang. "Apaan sih, engga. Udah gausah ngajak ngobrol, nyetir yang bener," Ujarnya dengan ketus. "Tuhkan marah, maaf ya? jangan marah lagi, maaf aku bikin mood kamu jelek, kita beli ice cream dulu ya? kamu mau?" Abian mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu membelikan icecream untuk yang terkasih.
"Mau." Icecream itu susah untuk ditolak. "Siap!" Abian langsung kembali tersenyum cerah dan melanjutkan perjalanannya sampai menuju toko ice cream kesukaan wanitanya, kesayangannya, pacarnya. Kanaya, biasa dipanggil Aya oleh Abian, menurut Abian panggilan Aya terkesan lucu dan manis untuk Kanaya, ia sangat menyukainya. Hubungan antara dua insan ini sudah berjalan selama satu tahun lamanya. Dan selama satu tahun itu mereka bersikap seperti orang asing ketika disekolah, karena mereka lebih memilih untuk menyembunyikan hubungan spesial antara keduanya. Kanaya sendiri adalah siswi yang baik dan berprestasi, ia memiliki etika yang bagus, otak encer, dan pribadi yang ramah. Paket lengkap! "Nah sampai!" Abian memarkirkan motornya lalu segera menghampiri Kanaya, membantu si cantik melepaskan helm nya. "Ayo, masuk." Mereka berdua berjalan masuk dengan bergandengan tangan, sangat serasi. Memilih untuk makan ditempat akhirnya Kanaya naik ke lantai atas untuk mencari tempat duduk, sementara Abian sedang memesan dan menunggu pesanan selesai dibuat. "Ini cantik ice cream nya udah jadi, silakan dinikmati." Abian memperlakukan Kanaya dengan spesial, dan hal tersebut berhasil muluhkan hati si cantik. "Makasih Bian, lain kali aku yang traktir kamu." Kanaya merasa tidak enak karena selalu dibelikan banyak makanan oleh Abian. "Loh gausah, aku seneng kalo bisa beliin kamu ini itu, aku seneng kalo misal kita makan makanan yang aku beliin, berasa jadi suami kamu soalnya." Abian yang selalu ceplas ceplos ketika bersama Kanaya, akhirnya ia mendapatkan pukulan di lengan sebelah kirinya karena membuat Kanaya tertawa sekaligus heran.
"Makasih ya Bian, maaf karena aku kita harus backstreet gini, bikin kamu ditanya terus sama temen-temen kamu, maaf banget." Kanaya menunduk, merasa bersalah kepada sang pacar karena keputusannya yang memilih untuk menyembunyikan hubungan. "Jangan minta maaf gitu dong Aya, aku beneran nggak keberatan sama keputusan kamu kok. Aku jalanin hubungan ini beneran karena aku sayang kamu bukan pengen orang-orang tau kalau aku punya pacar." Abian mengusap surai Kanaya dengan lembut. "Iyaa, makasih ya sayang." Kanaya sedikit berbisik saat mengucapkan kalimat terakhir. "Hah apa? aku nggak denger." Abian menggoda Kanaya agar ia kembali mengulangi kalimatnya, jarang sekali ia bisa mendengar Kanaya mengucapkan kalimat manis seperti itu. "Enggak ah, males aku." Kanaya menepis tangan Abian yang menggenggamnya, merajuk karena sang pacar selalu menggodanya seperti itu. Abian hanya tertawa sambil meminta maaf dan kembali menawarkan iniitu agar pacarnya tidak merajuk lagi. Sore itu mereka menikmati setiap moment yang dilewati, penuh dengan canda dan tawa, membuat keduanya merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Menjalani hubungan rahasia itu dengan perasaan bahagia, Abian senang karena hanya ia yang bisa melihat Kanaya versi Clingy. Tidak perlu mempublikasi hubungan, Selagi ia masih bersama Kanaya, Abian akan selalu bahagia. Sheila Kanaya & Abian Prayoga