The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bentuk-Bentuk Pelaksanaan Yadnya-NiMadeAnandaDwiLestari-23-XAKL5

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by NI MADE ANANDA DWI LESTARI akl52020, 2020-11-26 08:30:49

Bentuk-Bentuk Pelaksanaan Yadnya-NiMadeAnandaDwiLestari-23-XAKL5

Bentuk-Bentuk Pelaksanaan Yadnya-NiMadeAnandaDwiLestari-23-XAKL5

Bentuk-bentuk
Pelaksanaan yadnya

OLEH :

Ni Made Ananda Dwi Lestari

1

DAFTAR ISI

BENTUK-BENTUK PELAKSANAAN YADNYA
A. Pengertian Yadnya .................................................................................... 3
B. Latar Belakang .......................................................................................... 4
C. Tujuan Yadnya ......................................................................................... 5
D. Bentuk-Bentuk Pelaksanaan Yadnya ........................................................ 7
E. Prinsip Atau Unsur Yadnya .................................................................... 10

2

A.Pengertian Yadnya

Yadnya berasal dari kata Yaj yang artinya memuja atau memberi pertolongan atau
pengorbanan suci. Selama ini Yadnya dipahami hanyalah sebatas piodalan atau
menghaturkan persembahan (Banten). Arti Yadnya yang sebenarnya adalah pengorbanan
atau persembahan secara tulus. Yajamana artinya orang yang melakukan atau
melaksanakan yadnya, sedangkan Yajus berarti aturan tentang Yadnya.

Segala yang di korbankan atau dipersembahkan kepada Tuhan dengan penuh
kesadaran, baik itu berupa pikiran, kata-kata dan perilaku yang tulus demi kesejahteraan
alam semesta disebut Yadnya. Inti dari Yadnya adalah persembahan dan bhakti manusia
kepada Tuhan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Sarana upacara inilah disebut dengan
upakara. Melalui sarana upakara ini, umat Hindu menyampaikan bhaktinya kepada Tuhan.
Banten yang dipersembahkan dimulai dari tingkatan yang terkecil sampai terbesar ( nista,
madya, utama) dalam bahasa Bali disebut alit, madya dan agung. Sebenarnya tidak ada
banten nista, sebab kata nista dalam Bahasa Bali berkonotasi negatif, yang ada adalah alit.
Kata alit artinya banten yang sederhana namun tidak mengurangi arti. Kemudian banten ini
dipersembahkan ketika ada upacara/piodalan juga hari-hari raya menurut agama Hindhu.
Upacara Yadnya adalah merupakan langkah yang di yakini sebagai ajaran bhakti dalam
agama Hindhu.

Dalam (Atharvaveda XII.1.1) Yadnya adalah salah satu penyangga bumi.
Satyam brhadrtamugra diksa tapo
Brahma yajnah prthivim dharayanti,
Sa no bhutasya bhavy asya
Patyurum lokam prthivi nah krnotu
( Atharvaveda XII.1.1)

3

TERJEMAHAN :
Sesungguhnya kebenaran (satya) hukum yang agung, yang kokoh dan suci (Rta),
diksa, tapa brata, Brahma dan juga Yadnya yang menegakkan dunia semoga dunia ini,

memberikan tempat yang lega bagi kami dan ibu kami sepanjang masa.

Demikian disebutkan dalam kitab Atharvaveda. Pemeliharaan kehidupan di dunia ini
dapat berlangsung terus sepanjang Yadnya terus menerus dapat dilakukan oleh umat
manusia. Demikian pula Yadnya adalah pusat terciptanya alam semesta atau Bhuana
Agung sebagai diuraikan dalam kitab Yajurveda. Disamping sebagai pusat terciptanya
alam semesta, yadnya juga merupakan sumber berlangsungnya perputaran kehidupan yang
dalam kitab Bhagavad gita disebut Cakra Yadnya.

Demikianlah Yadnya merupakan salah satu cara mengungkapkan ajaran Veda. Oleh
karena itu Yadnya merupakan simbol pengejawantahan ajaran Veda, yang dilukiskan
dalam bentuk simbol-simbol (niyasa). Melalui niyasa dalam ajaran Yadnya realisasi ajaran
agama Hindhu diwujudkan untuk lebih mudah dapat dihayati, dilaksanakan dan
meningkatkan kemantapan dalam melaksanakan kegiatan agama itu sendiri.

B. Latar Belakang Pelaksanaan Yadnya

Pada setiap manusia yang terlahir ke dunia ini sudah membawa hutang yang
jumlahnya tiga yang disebut dengan Tri Rna. Tentang Tri Rna dimuat dalam Kitab Manawa
Dharmasastra VI.35

Rinani trinyapakritya manomok-
Se niwecayet

Anapakritya moksam tu sewama-
No wrajatyadhah

Artinya :
Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan, kepada Leluhur
dan kepada orang tua), hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan
terakhir tu tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah.

4

Tiga macam hutang yang dibawa sejak lahir, seperti :
a. Dewa Rna yaitu hutang kepada para Dewa/IdaSang Hyang Widhi karena telah

menciptakan dan memberikan kita hidup
b. Pitra Rna yaitu hutang kepada leluhur baik yang sudah meninggal maupun orang tua

yang masih hidup. Kita berhutang kepada leluhur karena Beliau telah menghidupi kita,
merawat, mendidik, mengasuh dari sejak dalam kandungan sampai menjadi manusia
dewasa, dan
c. Rsi Rna yaitu hutang kepada para Rsi pendahulu kita yang telah menerima wahyu
Tuhan berupa Weda sehingga kita memahami ajaran agama maupun kepada para
sulinggih yang telah menyucikan hidup kita.

Karena adanya hutang inilah dalam ajaran agama Hindhu diharapkan dapat dibayar dengan
melaksanakan Panca Yadnya. Bagian Panca Yadnya terdiri dari Dewa Yadnya, Pitra Yadnya,
Rsi Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya.
Maka Dewa Rna dibayar dengan Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya, Pitra Rna dibayar dengan
Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya, terakhir Rsi Yadnya digunakan untuk membayar Rsi Rna

C. Tujuan Yadnya

Dalam banyak Sloka dari berbagai kitab menyatakan bahwa alam semesta beserta isinya
termasuk manusia diciptakan, dipelihara dan dikembangkan melalui yadnya. Oleh karena itu
maka Yadnya yang dilakukan oleh manusia tentu bertujuan untuk mencapai tujuan hidup
manusia. Dalam rangka mencapai tujuan tertinggi tersebut manusia harus melakukan
aktivitas dan berkarma. Paling tidak empat hal yang harus dilakukan manusia yaitu,
penyucian diri, peningkatan kualitas diri, sembhayang, dan senantiasa bersyukur dan
berterima kasih kepada sang pencipta.

Empat hal diatas semuanya dapat dicapai melalui Yadnya. Oleh Karena itu Tujuan Yadnya
adalah :

a. Untuk penyucian diri ( membebaskan manusia dari dosa )
Guna (sifat satwam, rajas, dan tamas) orang akan saling mempengaruhi, demikian
juga “guna” alam akan mempengaruhi manusia. Untuk mencapai kebahagiaan maka

5

manusia harus memiliki imbangan Guna Satwam yang tinggi. Pribadi dan jiwa
manusia harus dibersihkan dari guna rajas dan guna tamas.
Melalui Yadnya kita dapat menyucikan diri dan juga menyucikan lingkungan alam
sekitar. Jika manusia dan alam memiliki tingkatan guna satwam yang lebih banyak
maka keharmonisan alam akan terjadi.
Oleh karena itu jadikanlah aktivitas sehari-hari kita sebagai Yadnya. Laksanakan
kewajiban diri sendiri dengan penuh kesadaran dan keikhlasan sehingga masuk dalam
kelompok yadnya.
Dengan demikian maka setiap kegiatan yang kita lakukan akan selalu memberikan
kesucian pada diri pribadi.

b. Meningkatkan Kualitas Diri ( membebaska
diri dari ikatan karma )
Setiap kelahiran manusia disertai dengan
oleh karma wasana. Demikian pula
dengan setiap kelahiran bertujuan
untuk meningkatkan kualitas diri
(jiwatman) sehingga tujuan tertinggi
yaitu bersatunya atman dengan brahman

c. Sarana menghubungkan diri dengan tuhan
Alam semesta dengan segala isinya termasuk
manusia adalah cipataan Hyang Widhi.
Oleh karena itu hidup manusia dalam
rangka mencapai tujuannya tidak akan
lepas dari tuntunan dan kekuasaan Tuhan.
Cara paling sederhana menghubungkan
diri dengan Tuhan adalah sembhayang.

d. Ungkapan Rasa Terima Kasih.
Kita diberikan hidup sebagai manusia,
dilahirkan pada keluarga yang satwam,
berada pada lingkungan sosial yang baik ,
dan diciptakan bersama bumi yang penuh
keindahan dan kedamaian, adalah suatu
yang luar biasa. Oleh karena itu tidak ada
alasan bagi manusia bijak untuk tidak
bersyukur dan tidak berterima kasih kepada Sang Pencipta

6

D. Bentuk- Bentuk Pelaksanaan Yadnya

Bentuk- bentuk pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan selama ini hanya dirasakan pada
baneten persembahan dan tata cara persembhayangan (upakara dan upacara). Namun
sebenarnya tidaklah demikian, yang disebut dengan Yadnya adalah segala bentuk
kegiatan atau pengorbanan yang dilakukan secara tulus iklas tanpa pamrih.
Ada dalam bentuk persembahan dengan mempergunakan sarana (banten,sesajen). Dan
juga ada persembahan dalam bentuk pengorbanan diri/pengendalian diri.
Mengorbankan segala aktivitas, mengorbankan harta benda (kekayaan) dan pengorbanan
dalam bentuk ilmu pengetahuan.
Berdasarkan waktu pelaksanaanya Yadnya dapat dibedakan menjadi :
1. Nitya Yadnya, yaitu Yadnya yang dilaksankan setiap harinya seperti halnya :

a. Tri Sandhya
Tri sandhya adalah merupakan bentuk Yadnya yang dilaksanakan setiap hari,
dengan kurun waktu pagi hari, siang hari, sore hari. Tujuannya adalah untuk
memuja kemahakuasaan, mohon anugrah keselamatan, mohon pengampunan
atas kesalahan dan kekurangan yang kita lakukan baik secara langsung maupun
tidak langsung.

b. Yadnya Sesa/ masaiban/ngejot
Mesaiban/ngejot adalah Yadnya yang dilakukan kehadapan Sang Hyang Widhi
Wasa berarti manifestasinya setelah memasak atau sebelum menikmati
makanan. Tujuannya adalah sebagai ucapan rasa syukur dan terimakasih dan
segala anugrah yang telah dilimpahkan kepada kita.

7

c. Jnana Yadnya
Jnana Yadnya adalah merupakan Yadnya dalam bentuk pengetahuan. Dengan
melalui proses belajar dan mengajar. Baik secara formal maupun secara
informal.
Proses pembelajaraan ini hendaknya dimulai setiap hari dan setiap saat,
sehingga kemajuan dan peningkatan dalam dunia pendidikan akan mencapai
sasaran yang di inginkan.

Dengan melalui sistem pendidikan yang ada, yang dimulai sejak dini, didalam
keluarga kecil, sekolah dan dilakukan secara terus menerus secara selama hayat
dikandung badan. Umat Hindhu hendaknya menyadari membiasakan diri
belajar, karena hal itu merupakan salah satu cara mendekati diri kepada Sang
Hyang Widhi Wasa.

2. Naitmittika Yadnya
Naittimika Yadnya adalah Yadnya yang dilakukan pada waktu waktu tertentu yang
sudah dijadwal , dasar perhitungan adalah :

a. Berdasarkan perhitungan warna, perpaduan antara Tri Wara dengan Panca
Wara. Contoh : Hari Kajeng Kliwon. Perpaduan antara Panca Wara dengan
Sapta Wara. Contohnya : Budha Wage, Budha Kliwon, Anggara Kasih dan lain
sebagainya.

b. Berdasarkan penghitungan Wuku. Contohnya: Galungan, Pagerwesi, Saraswati,
Kuningan.

c. Berdasarkan atas penghitungan Sasih. Contohnya : Purnama, Tilem, Nyepi,
Siwa Ratri.

3. Insidental
Yadnya ini didasarkan atas adanya peristiwa atau kejadian-kejadian tertentu yang
tidak terjadwal, dan dipandang perlu untuk melaksanakannya Yadnya, atau

8

dianggap perlu dibuatkan upacara persembahan. Melaksanakan yadnya diharapkan
menyesuaikan dengan keadaan, kemampuan, dan situasi.
Secara kwantitas Yadnya dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
a. Kanista, artinya yadnya tingkatan yang kecil. Tingkatan kanista ini dapat dibagi

menjadi tiga lagi :

1) Kanistaning Nista adalah terkecil diantara yang kecil
2) Madhyaning Nista adalah sedang diantara yang kecil
3) Utamaning Nista adalah terbesar diantara yang kecil

b. Madhya artinya sedang, yang terdiri dari tiga tingkatan :
1) Nistaning Madhya adalah terkecil diantara yang sedang
2) Madhyaning Madhya adalah sedang diantara yang menengah
3) Utamaning Madhya adalah terbesar diantara yang sedang

c. Utama artinya besar, yang terdiri dari tiga tingkatan :
1) Nistaning Utama artinya terkecil diantara yang besar
2) Madhyaning Utama artinya sedang diantara yang besar
3) Utamaning Utama artinya yang paling besar.

Dengan penjelasan diatas, maka diharpakn semua umat dapat melaksankan Yadnya, dengan
menyesuaikan dengan keadaan dan kemampuan yang ada.
Keberhasilan sebuah yadnya bukan ditentukan
oleh kemewahan, besar kecilnya materi
yang dipersembahkan, dan belum tentu
Yadnya yang menggunakan sarana dan
prasarana yang banyak (utama) akan
berhasil dengan baik. Keberhasilan
suatu Yadnya sangat ditentukan oleh
kesucian dan ketulusan hati, serta
kwalitas dari pada yadnya tersebut.

9

E.Prinsip Atau Unsur Yadnya

Untuk mewujudkan pelaksanaan yadnya yang sattwika, ada tujuh prinsip yang wajib
untuk dilaksankan sebagai berikut :
1) Sraddha artinya melaksanakan Yadnya dengan penuh keyakinan
2) Lascarya artinya Yadnya yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan
3) Sastra artinya melaksankan yadnya dengan berdasarkan sumber sastra yaitu sruti,

smrti, sila, acara, atmanastusti.
4) Daksina artinya pelaksanaan Yadnya dengan sarana upacara (benda atau uang)
5) Mantra dan Gita artinya Yadnya yang dilaksanakan dengan melantunkan lagu-lagu

suci untuk pemujaan.
6) Annasewa artinya Yadnya yang dilaksanakan dengan persembahan jamuan makan

kepada para tamu yang menghadiri upacara.

10


Click to View FlipBook Version