operasional lembaga pelatihan disabilitas milik pemerintah. Dana belum
difokuskan untuk membantu penyandang tuna daksa merintis sebuah
usaha dibidang jasa maupun produk. Selain itu, pihak pemerintah belum
memberikan bantuan berupa pelatihan khusus bagi penyandang tuna
daksa yang menyandang cacat sejak lahir. Dengan demikian tenaga
penyandang tuna daksa belum dapat digunakan secara optimal karena
lapangan pekerjan yang sulit didapatkan.
2. Strategi pelatihan keterampilan yang belum efektif
Setrategi pelatihan yang belum maksimal yaitu menggunakan sistem
blok, dimana dalam satu bulan hanya melakukan pelatihan selama satu
minggu menyebabkan penyandang tuna daksa lupa mengenai pelatihan
yang diberikan sebelumnya. Jarak pelatihan yang cukup lama
menyebabkan minat penyandang tuna daksa menjadi menurun. Hal ini
berpengaruh pada kemampuan / skill penyandang tuna daksa sebagai
modal utama untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup.
3. Persepsi masyarakat yang selalu meragukan kemampuan
penyandang tuna daksa
Persepsi masyarakat yang menyebutkan bahwa penyandang tuna
daksa memiliki keterbatasan fisik untuk melakukan kegiatan yang
dianggap membutuhkan keahlian. Hal ini memunculkan batasan antara
penyandang tuna daksa dan masyarakat umum. Penyandang tuna daksa
kehilangan kesempatan untuk berkembang. Salah satunya yaitu dalam
bidang penerimaan kerja. Masyarakat yang tidak mau menerima
penyandang tuna daksa sebagai pekerja akan meningkatkan taraf
kemiskinan dilingkungan Kota Surakarta. Padahal penyandang tuna
daksa mamiliki kemampuan yang sama apabila diberi pembekalan
berupa pelatihan keterampilan. Salah satunya yaitu pelatihan yang
diberikan oleh PPRBM (Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi
Bersumberdaya Manusia) di Surakarta.
Penyandang tuna daksa yang mampu mengembangkan keterampilan
yang dimiliki sebagai peluang kerja ternyata mampu mewujudkan sebuah
kemandirian. Salah satunya yaitu mampu menafkahi diri sendiri dan
tidak bergantung pada orang tua, serta mandiri dalam melakukan
tindakan maupun kegiatan fisik yang berhubungan dengan masyarakat
dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan teori Steinberg, terdapat beberapa
jenis kemandirian sebagai berikut : Kemandirian emosional (Emotional
Autonomy), Suatu kemampuan untuk melepaskan diri dari
ketergantungan orang tua dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya, orang
yang mandiri secara emosional tidak akan lari kepada orang tua ketika
menemui sebuah masalah.
Penyandang tuna daksa dapat dikatakan mampu mandiri secara
emosional dan bertindak. Tetapi belum semuanya dapat dikatakan
mandiri secara nilai, karena masih terdapat penyandang tuna daksa yang
39
belum bisa keluar dari pengaruh buruk lingkungan yaitu masih bekerja
sebagai pengemis.
Penyandang tuna daksa yang mampu mandiri baik secara emosional,
tindakan, maupun nilai ternyata mampu mewujudkan sebuah hubungan
baik dengan masyarakat maupun sesama penyandang tuna daksa.
Hubungan yang terjadi antara lain pada saat bekerja penyandang tuna
daksa memberi pekerjaan kepada penyandang tuna daksa yang lain
karena adanya rasa senasib sepenanggungan. Masyarakat umum yang
bekerja dibidang swasta memberi pekerjaan kepada penyandang tuna
daksa karena keahlian yang dimiliki penandang tuna daksa seperti
menjahit, membuat seni kriya, membatik, sablon, pijat terapi, dan juga
servis elektronik. Penyandang tuna daksa menjadi tokoh penting di
lingkungan masyarakat. Seperti menjadi ketua RT, hal ini secara tidak
langsung menimbulkan sebuah relasi sosial dalam bidang kerja sama dan
akomodasi. Sesuai dengan teori Wibowo Rohadi et al yang mengatakan
bahwa relasi sosial adalah jalinan interaksi yang terjadi antara
perorangan dengan perorangan atau kelompok dengan kelompok atas
dasar status (kedudukan) dan peranan sosial. Bentuk-bentuk relasi sosial
yang dikenal sebagai proses asosiatif, terjadi karena adanya kehendak
rasional masyarakat dengan adanya kesepakatan bersama seperti kerja
sama, akomodasi, dan asimilasi.
Melalui relasi sosial yang terbentuk ternyata mampu membuka
jaringan antar disabilitas untuk membuat sebuah kelompok atau
komunitas seperti arisan antar sesama penyandang tuna daksa, koperasi
simpan pinjam penyandang tuna daksa, dan juga paguyuban yang
beranggota penyandang tuna daksa. Dalam paguyuban tersebut terdapat
sebuah kegiatan yang dapat memajukan taraf hidup disabilitas antara lain
saling bertukar pendapat, tolong menolong, dan melakukan kerja sama
yang sifatnya menguntungkan dalam melakukan pekerjaan utuk
memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini ternyata dapat membentuk sebuah
kohesi sosial diantara penyandang tuna daksa. Sesuai dengan teori dari
Emiel Durkheim bahwa kohesi sosial merupakan kemampuan suatu
kelompok untuk melakukan hubungan kelompok dan kelembagaan.
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa lembaga
pelatihan merupakan media pembentuk kohesi sosial antar penyandang
tuna daksa yang dibuat oleh orang berkompeten. Dari kohesi sosial yang
terjadi dapat membangun kemandirian secara emosional, tindakan, dan
nilai pada para penyandang tuna daksa. Dimana kemandirian nilai
mempengaruhi relasi sosial yang terjadi antara sesama penyandang tuna
daksa maupun dengan masyarakat.
40
V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. PPRBM (Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi Bersumberdaya
Manusia) berperan sebagai lembaga yang menyediakan wadah bagi
penyandang tuna daksa untuk mandiri. Melibatkan penyandang tuna daksa
secara penuh, dengan memberdayakan melalui layanan penghidupan berupa
pelatihan keterampilan, sosialisasi gerakan hidup sehat dan pendidikan
mental.
2. Adanya pelatihan yang diberikan oleh PPRBM (Pusat Pengembangan dan
Pelatihan Rehabilitasi Bersumberdaya Manusia) ternyata mampu
mewujudkan kemandirian penyandang tuna daksa dengan taraf yang
berbeda-beda. Sebagian besar penyandang tuna daksa ternyata sudah
mandiri secara emosional yaitu tidak bergantung pada orang tuaatau
keluarga dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya.
3. Kemandirian didukung karena adanya kemampuan khusus yang dimiliki
oleh penyandang tuna daksa. Tujuan hidup juga menuntut tuna daksa untuk
mandiri. Selain itu kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi mampu
mendorong penyandang tuna daksa untuk bertanggung jawab atas keluarga.
Hal ini dilakukan dengan cara bekerja unuk memperoleh nafkah sebagai
sumber penghidupan yang menimbulkan adanya kemandirian secara
emosional dan tindakan.
4. Relasi sosial yang terjadi pada penyandang tuna daksa yaitu adanya
hubungan timbal balik antara penyandang tuna daksa dengan penyandang
tuna daksa lain sebagai sebuah simbiosis mutualisme. Hubungan antara
penyandang tuna daksa dengan masyarakat menimbulkan sebuah hubungan
baik yang dibina antar sesama. Antara lain dilakukan dengan melibatkan
penyandang tuna daksa sebagai tokoh masyarakat. Hal ini berkaitan erat
dengan kemadirian tindakan yaitu penyandang tuna daksa yang mampu
berperilaku dan memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat
seperti menjadi tokoh yang berpengaruh.
5. Penyandang tuna daksa membentuk kelompok-kelompok kecil pada
lingkungan tempat tinggal karena adanya rasa senasib sepenanggungan
(Gameinschaft). Kelompok-kelompok tersebut dibentuk guna menyalurkan
pengalaman dan ekspresi antar sesama penyandang tuna daksa. Secara tidak
langsung komunitas penyandang tuna daksa mampu menjadi sebuah ajang
pengembangan diri bagi seluruh anggota. Hal ini terjadi karena setiap
anggota akan saling berinteraksi, tolong menolong, dan bekerja sama yang
sifatnya membangun antar sesama.
B. Rekomendasi / Tindak Lanjut yang Penting Dilakukan
Pendekatan dalam mengubah sikap penyandang tuna daksa agar mandiri
dan sikap masyarakat agar mau menerima penyandang tuna daksa sebagai
tenaga kerja untuk mengentaskan kemiskinan di Kota Surakarta.
41
Untuk mewujudkan hal tersebut di Kota Surakarta perlu diterapkan dengan
menggunakan pendekatan perilaku (Behavior Approach). Dapat dilakukan
dengan menggunakan strategi parenting agar penyandang tuna daksa dapat
mewujudkan kemandirian di tengah-tengah masyarakat Kota Surakarta. Dalam
mewujudkan hal tersebut maka pemerintah selaku stakeholder perlu
melakukan tahap-tahap sebagai berikut :
a. Program (Programming)
Hal ini dilakukan dengan cara mengadakan survey pendahuluan oleh
pemerintah bersama dengan pihak berkompeten untuk menjaring
penyandang tuna daksa di seluruh penjuru Kota Surakarta. Kemudian
dilakukan pendataan secara menyeluruh. Dimana dalam kegiatan ini
penyandang tuna daksa akan didata untuk diberi sosialisasi, pembekalan
yang dilakukan oleh pemerintah sebagai fasilitator, dan sumber daya yang
berkompeten untuk melakukan pelatihan.
b. Pemodelan (Modeling)
Pada tahap pemodelan, pemerintah selaku pihak berwenang perlu
menerapkan strategi parenting. Dilakukan dengan cara pemerintah bekerja
sama dengan berbagai pihak yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
selaku pihak yang mau mengemban tugas sebagai tempat untuk
mewujudkan program “daksa mandiri”, tenaga profesional selaku pihak
yang berkompeten dan penyandang tuna daksa yang memiliki keahlian
khusus akan memberi pelatihan dan pemodelan kepada penyandang tuna
daksa, penyandang tuna daksa selaku pihak yang akan diberdayakan, dan
pihak keluarga penyandang tuna daksa sebagai pendukung eksternal
terwujudnya kemandirian penyandang tuna daksa.
Pemerintah selaku pihak berwenang memiliki peran utama dalam tahap
pemodelan. Seperti Dinas Sosial sebagai pemberi fasilitas, Dinas Kesehatan
sebagai penjamin kesehatan dan pemberi layanan kesehatan, serta Dinas
Koperasi sebagai pemberi modal bagi penyandang tuna daksa yang
memiliki progres dalam melakukan usaha. Pada tahap pelatihan ini akan
diadakan sebuah pemodelan kepada penyandang tuna daksa agar lebih
paham dalam proses pelatihan keterampilan. Pelatihan keterampilan
diberikan oleh sesama penyandang tuna daksa selaku volunteer agar pihak
yang dilatih memiliki semangat untuk berkembang karena merasa senasib
sepenanggungan.
Selain itu perlu diadakan sosialisasi agar penyandang tuna daksa mau
merombak diri menjadi lebih baik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
melibatkan penyandang tuna daksa berkompeten sebagai model atau contoh
yang mampu memotivasi sesama penyandang disabilitas. Mulai dari
kegiatan praktek, workshop, dan sosialisasi akan dilakukan oleh
penyandang tuna daksa. Hal ini akan menjadi metode yang lebih efektif
karena penyandang tuna daksa yang dilatih akan lebih percaya dan
terinspirasi apabila yang melatih sama dan juga senasib sepenanggungan.
42
Sehingga secara tidak langsung penyandang tuna daksa mampu menjadi
agen of change.
Pelatihan akan sangat efektif jika menghadirkan tokoh masyarakat lokal
sebagai contoh umum karena pada dasarnya mereka berperan penting dalam
meningkatkan minat masyarakat umum dalam mendukung kemandirian
penyandang tuna daksa. Tindakan dan sikap mereka dijadikan sebagai
referensi oleh masyarakat dalam menerapkan perilaku yang benar kepada
penyandang tuna daksa.
c. Pembiasaan (Refraction)
Dalam pembiasaan ini penyandang tuna daksa harus selalu didampingi
oleh sesama penyandang tuna daksa. Sistem pelatihan inklusi juga dapat
dipergunakan agar dapat menjangkau di berbagai wilayah. Inklusi yaitu
sebuah cara untuk membangun lingkungan yang semakin terbuka dengan
mengikutsertakan orang tanpa melihat perbedaan dari berbagai aspek
seperti penyandang tuna daksa. Hal ini dilakukan dengan cara mendirikan
pusat pelatihan keterampilan khusus di lokasi dimana terdapat banyak
penyandang tuna daksa dalam bentuk paguyuban. Akan lebih efektif apabila
inklusi ada disetiap kelurahan di Kota Surakarta. Dalam pembiasaan,
pemerintah berperan sebagai pemberi modal dan pemantau perkembangan
penyandang tuna daksa bersama dengan pihak yang berkompeten. Selain itu
pihak pelatih juga harus memberikan pemahaman kepada pihak keluarga
penyandang tuna daksa agar mau mendukung perubahan penyandang tuna
daksa kearah yang lebih baik. Pemerintah sebagai fasilitator perlu
memberikan fasilitas pendukung bagi penyandang tuna daksa. Hal ini perlu
ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan mengenai jaminan
kelayakan hidup penyandang tuna daksa. Apabila program pembiasaan
berhasil dilakukan maka penyandang tuna daksa akan mewujudkan sebuah
perubahan yang signifikan.
d. Proteksi (Protection)
Proteksi dilakukan oleh pemerintah sebagai pemegang kekuasaan
penuh. Perlu membuat kebijakan yang bersifat menguntungkan penyandang
tuna daksa. Hal ini dilakukan dengan menetapkan peraturan seperti : pihak
swasta harus mempekerjakan penyandang tuna daksa setidaknya dengan
kuota 1/4 dari pegawai yang dipekerjakan. Tidak hanya itu, pemerintah
perlu menyediakan lapak kerja khusus besertafasilitas bagi penyandang tuna
daksa dan melarang masyarakat umum untuk menembus lapak tersebut.
Pemerintah harus melakukan proteksi penuh terhadap lapak kerja khusus
penyandang tuna daksa, agar sistem kerja penyandang tuna daksa menjadi
lebih baik dan pengangguran penyandang tuna daksa berkurang.
Mengamati perkembangan dari penyandang tuna daksa, melakukan
pendataan ulang, serta melakukan evaluasi perlu dilakukan secara
berkesinambungan agar program yang diadakan semakin berkembang
menjadi lebih baik. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan sistem
check and balance antara pemerintah dan pihak yang bersinergi. Dengan
43
adanya evaluasi secara berkala maka diharapkan dapat memperbaiki
kekurangan yang ada pada tindakan sebelumnya untuk ditindaklanjuti.
Penyandang
Tuna Daksa
Sukses Mandiri
Pembiasaan Proteksi
Menggunakan system Check and balance
anatara pemerintah dan pihak yang bersinergi
Pemerintah Penyandang 1. Membentuk paguyuban
inklusi
Tuna Daksa Pemodelan 2. Penyandang tuna daksa
sebagai Agen of change
1. Tuna daksa sebagai Volunteer
2. Menerapkan program
Program disabilitas mandiri dengan
strategi aprenting
1. Survey Pendahuluan
2. Penyusunan Program
Approach Behavior
Gambar 10 : Langkah-langkah pendekatan perilaku
44
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Mulat Wigati, 2008, Sosial Untuk SMP dan MTS VII, Jakarta : Grasindo.
Alwi, H, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, Jakarta : Balai
Pustaka.
Alwisol, 2009, Psikologi Kepribadian, Malang : UMM Press.
Antonius G, 2002, Relasi Dengan Diri Sendiri, Jakarta : PT Gramedia.
Arikunto, Suharsimi, 1997, Prosedur penelitian : pendekatan praktek Edisi revisi
IV, Jakarta : PT Rineka Cipta.
Atik Catur Budiati, 2009, Sosiologi Kontekstual Untuk SMA & MA Kelas XII,
Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Caplin, J.P, 1996, Kamus lengkap psikologi, Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Durkheim, Emiel, 2006, Kohesi sosial, Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Hurlock, E, B, 2000, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan, Jakarta : Erlangga.
Koentjaraningrat, 1980, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta : Aksara Baru.
Koentjaraningrat, 2009, Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.
Muslim, Ahmad Toha, Sugiarmin M, 1996, Ortopedi Dalam Pendidikan Anak
Tuna Daksa, Jakarta : DEPDIKBUD.
Nurmayanti, Neni H, 2008, Get UN Sosiologi, Bandung : Grafindo Media Pratama.
Parker, Deborah, 2006, Menumbuhkan Kemandirian dan Harga Diri Anak, Jakarta
: Prestasi Pustakaraya.
Robert M.Z, 1985, Pengantar sosiologi, Jakarta : Karunika.
Sevilla, Consuelo G. et al, 2007, Research Methods, Quezon City : Rex Printing
Company
Singarimbun, Masri dan Sofian Effensi. 1981. Metode Penelitian Survey. Jakarta
: LP3ES.
Soekanto, Soerjono, 2010, Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Pers.
Somantri Sujihati, 2006, Psikologi Anak Luar Biasa, Bandung : PT Refika
Aditama.
Soleman B Taneko, 1984, Pokok-pokok Studi Hukum Dalam Masyarakat. Jakarta :
CV. Rajawali
Steinberg, 2002, Adolesence, New York : Mc Graw Hill.
Sutopo H.B, 2006, Metodologi Penelitian Kualitatif. Universitas Sebelas Maret
Press.
Walgito, Bimo, 2008, Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta : Andi Offset.
Wibowo Rohadi, et al, 2007, Ilmu Pengetahuan Sosial Sosiologi Untuk SMP dan
MTS Kelas VIII, Jakarta : Erlangga.
UNDANG – UNDANG :
Undang – undang pasal 27 Ayat 2 UUD 1945 diakses tanggal 5 April Tahun 2019
Undang – undang pasal 5 no. 13 Tahun 2008 diakses tanggal 5 April Tahun 2019
Undang – undang RI no.4 Tahun 1997 diakses tangggal 5 April Tahun 2019
Undang – undang Perda Surakarta no.2 Tahun 2008 diakses tanggal 5 April Tahun
2019
45
INTERNET :
Kamus Besar Bahasa Indonesia diakses pada tanggal 3 April 2019.
46
Lampiran I : Pedoman Wawancara
1. Wawancara Kepada Penyandang Tuna Daksa
Nama :
Usia :
Pendidikan :
Alamat :
a. Sudah sejak kapan anda mengalami keterbatasan fisik ?
b. Apa yang anda rasakan dengan keterbatasan fisik yang dimiliki ?
c. Apa pelatihan yang anda peroleh dari LSM ?
d. Berapa lama anda mengikuti pelatihan?
e. Apa jenis pekerjaan yang anda?
f. Apakah pihak keluarga mendukung usaha anda sampai saat ini?
g. Pekerjaan apa yang sedang anda tekuni saat ini ?
h. Mengapa anda memilih pekerjaan ini ?
i. Apakah anda dalam melakukan pekerjaan ini tidak ada kendala ?
j. Apakah pihak keluarga mendukung usaha anda sampai saat ini?
k. Apa saja peraihan yang anda peroleh selama bekerja ?
l. Berapa hasil yang anda peroleh dari pekerjaan yang ditekuni?
m. Apakah anda bekerja sama dengan penyandang tuna daksa lain dalam
melakukan pekerjaan ?
n. Apakah anda ikut serta dalam melakukan kegiatan gotong royong di
lingkungan tempat tinggal?
o. Apakah anda mengikuti sebuah komunitas dengan antar sesama
penyandang tuna daksa di lingkungan masyarakat ?
47
2. Wawancara Kepada Masyarakat
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Alamat :
a. Apakah anda setuju apabila penyandang tuna daksa diberi pekerjaan
yang layak sesuai dengan kemampuannya? Berikan alasannya!
b. Apakah dalam menyediakan tempat kerja bagi penyandang tuna daksa
perlu diberikan fasilitas khusus?
c. Apakah penyandang tuna daksa perlu diajak kerja sama dalam bidang
ekonomi ?
d. Apakah anda pernah menjadi donatur secara sukarela untuk mendukung
pencapaian usaha penyandang tuna daksa? Berikan alasannya!
e. Bagaimana pendapat anda jika penyandang tuna daksa diberikan upah
kerja sesuai dengan kemampuan kerja?
f. Apakah anda setuju jika penyandang tuna daksa juga dilibatkan sebagai
tokoh masyarakat di lingkungan tempat tinggal? Berikan alasannya!
g. Pernahkah anda mengajak penyandang tuna daksa untuk melakukan
gotong royong di lingkungan tempat tinggal? Jika iya apa saja
kegiatannya?
h. Bagaimana pendapat anda jika sebagai tetangga perlu memberikan
bantuan tenaga apabila penyandang tuna daksa mengalami kesulitan?
48
3. Wawancara Kepada PPRBM (Pusat Pelatihan dan Rehabilitas
Bersumberdaya Manusia)
Nama :
Usia :
Alamat :
a. Bagaimana latar belakang berdirinya PPRBM ?
b. Apa saja misi dari PPRBM ?
c. Program apa saja yang sudah tetlaksana dalam rangka memandirikan
disabilitas?
d. Bagaimana sistem pelatihan yang diberikan?
e. Apakah ada kendala dalam memberikan pelatihan kepada penyandang
tuna daksa?
f. Berapa jumlah penyandang tuna daksa yang mengikuti pelatihan
lngsung di PPRBM ?
g. Apakah ada sosialisasi khusus yang diberikan kepada penyandang tuna
daksa ?
h. Apakah ada bantuan sarana prasarana yang diberikan kepada
penyandang tuna daksa ?
49
4. Wawancara Kepada Dinas Sosial Kota Surakarta
Nama :
Usia :
Pekerjaan :
a. Apa saja program yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Surakarta
untuk membantu penyandang tuna daksa ?
b. Apa saja yang dilakukan Dinas Sosial Kota Surakarta untuk Membantu
Lembaga Swdaya Masyarakat sperti PPRBM ?
c. Apakah ada sosialisasi dan pelatihan yang diberikan untuk penyandang
tuna daksa? Siapa saja yang menjadi peserta sosialisasi?
d. Apa saja kendala saat menjalankan program dalam rangka membantu
penyandang tuna daksa?
50
5. Wawawancara Kepada Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang
Disabilitas Fisik Prof.Soeharso
Nama :
Usia :
Alamat :
a. Bagaimana latar belakang berdirinya BBRSPDF Prof Soeharso?
b. Siapa saja yang menjadi bagianpelatihan di BBRSPDF Prof Soeharso?
c. Apa saja peran BBRSPDF dalam membantu penyandang tuna daksa?
d. Dari mana dana bantuan diperoleh?
e. Apakah sudah pernah diberikan bantuan tempat tinggal dan modal usaha
?
f. Bentuk pendampingan apa saja yang sudah diberikan oleh BBRSPDF
Prof Soeharso kepada penyandang tuna daksa?
51
Lampiran II : Pertanyaan Kuesioner
Biodata Responden
• Nama / Usia : / (th)
(Bp/Ibu/Sdra/i)
• Alamat : Rt /Rw / Kelurahan / Kecamatan
• Pekerjaan :
• Pendidikan :
Petunjuk Pengisian
• Isilah biodata responden dengan lengkap dan jujur sesuai hati nurani
• Berilah tanda Silang padaa pilihan (A/B/C/D) pada tabel dibawah sesuai hati
nurani
Penerimaan Kerja
No Pernyataan
1. Para penyandang tuna daksa perlu diberi pekerjaan
A. Sebaiknya diberi pekerjaan sesuai dengan kemampuannya.
B. Sebaiknya diberi pekerjaan dengan melihat kemampuannya melalui tes terlebih dahulu
C. Sebaiknya diberi pekerjaan yang sama dengan pegawai lain pada umumnya
D. Sebaiknya diberi pekerjaan dengan memberi kebebasan kepada penyandang tuna daksa
2. Perlu memberikan fasilitas khusus bagi penyandang tuna daksa di tempat kerja.
A. Sebaiknya memberi fasilitas khusus agar kinerja penyandang tuna daksa semakin baik
B. Sebaiknya memberi fasilitas khusus agar memudahkan tuna daksa dalam bekerja
C. Sebaiknya memberi fasilitas khusus agar mendapat predikat tempat kerjalayak disabilitas
D. Sebaiknya memberi fasilitas khusus karena sudah diatur dalam undang-undang
3. Memberikan upah hasil kerja kepada penyandang tuna daksa.
A. Sebaiknya memberi upah sesuai dengan hasil kerja penyandang tuna daksa
B. Sebaiknya memberi upah sesuai dengan kesepakatan kerja yang sudah berlaku sejak awal
C. Sebaiknya memberi upah sesuai dengan UMR di Kota Surakarta
D. Sebaiknya memberi upah sesuai hati nurani pemberi kerja
Penerimaan di lingkungan masyarakat
No Pernyataan
1. Perlu melibatkan penyandang tuna daksa dilingkungan masyarakat
A. Sebaiknya dijadikan tokoh masyarakat apabila mampu mengemban tugas dengan baik
B. Sebaiknya dijadikan tokoh masyarakat karena penyandang tuna daksa juga bagian dari warga masyarakat.
C. Sebaiknya dijadikan sebagai tokoh masyarakat apabila penyandang tuna daksa mau
D. Sebaiknya dijadikan tokoh masyarakat agar penyandang tuna daksa memiliki kesempatan yang sama
dengan masyarakat pada umumnya
2. Perlu memberikan dukungan bantuan tenaga kepada penyandang tuna daksa
A. Sebaiknya memberi bantuan tenaga apabila penyandang tuna daksa sedang mengalami kesulitan
B. Sebaiknya memberi bantuan tenaga kepada penyandang tuna daksa sesuai dengan hati nurani
C. Sebaiknya memberi bantuan tenaga kepada penyandang tuna daksa saat terdesak saja agar tidak selalu
bergantung pada tetangga
D. Sebaiknya memberi bantuan tenaga kepada penyandang tuna daksa untuk menjalin kerukunan antar sesama
anggota masyarakat
3. Perlu mengajak tuna daksa dalam perkumpulan sosial di lingkungan tempat tinggal.
A. Sebaiknya mengajak tuna daksa dalam perkumpulan sosial dilingkungan tempat tinggal untuk memberi
perlakuan yang sama terhadap masyarakat.
B. Sebaiknya mengajak tuna daksa dalam perkumpulan sosial dilingkungan tempat tinggal untuk mempererat
kerukunan antar sesama
C. Sebaiknya mengajak penyandang tuna daksa dalam perkumpulan sosial dilingkungan tempat tinggal agar
tidak dikucilkan
D. Sebaiknya mengajak tuna daksa dalam perkumpulan sosial dilingkungan tempat tinggal untuk memberi
kebebasan kepada penyandang tuna daksa
52
Lampiran III : Panduan Observasi Hasil
No Observasi
1. Tinggi badan
2. Berat badan
3. Keadaan fisik
4. Jenis pekerjaan
5. Pekerjaan yang
ditekuni
6. Hasil kerja
7. Pemasaran produk /
jasa
8. Sikap saat bekerja
9. Cara bekerja
10. Tempat tinggal
11. Jumlah keluarga
12. Hubungan dengan
masyarakat
53
Lampiran IV : Fieldnote
1. Penyandangtuna daksa
Tanggal : 1 Juli 2019
Nama : Cahyo
Usia : 37 tahun
Pendidikan : SMA sederajat
Alamat : Bibis Baru, Rt 1, Rw 24, Mojosongo, Banjarsari
Pertanyaan Sudah sejak kapan anda mengalami keterbatasan fisik ?
Jawab Sudah sejak kecil karena polio mbak. Saya sudah operasi empat kali
tetapi tidak berhasil mbak. Jadi karena semakin parah kaki kanan
saya harus buntung.
Pertanyaan Apa yang anda rasakan dengan keterbatasan fisik yang dimiliki ?
Jawab Biasa saja mbak, saya tetap mensyukuri apa yang Allah berikan
kepada saya mungkin memang jalan terbaik untuk saya. Dengan
keterbatasan yang saya miliki ini saya tetap semangat untuk menjalani
hidup. Selain untuk keluraga saya juga harus berusaha untuk diri saya
sendiri. Hingga saya menemukan kantor LSM yaitu PPRBM dan saya
mendatanginya. Akhirnya saya dibina, diberi pelatihan dan juga
sosialisasi agar berkembang jadi lebih baik.
Pertanyaan Apa pelatihan yang anda peroleh dari LSM ?
Jawab Elektronika
Pertanyaan Berapa lama anda mengikuti pelatihan?
Jawab 3 bulan di tahun 2015
Pertanyaan Apa jenis pekerjaan yang anda tekuni saat ini?
Jawab Jasa mbak
Pertanyaan Pekerjaan apa yang sedang anda tekuni saat ini ?
Jawab Servis elektronik rumah tangga sama servis Hp juga bisa
Pertanyaan Mengapa anda memilih pekerjaan ini ?
Jawab Memang dari awal saya sebenarnya sudah suka otak-atik barang
elektronik mbak. Kemudian saya kembangkan lagi dengan mengikuti
pelatihan dari PPRBM bidang elektronik juga. Alhamdulillah sampai
sekarang saya bisa membuka jasa servis semua jenis barang
elektronik dimana penghasilannya bisa memenuhi kebutuhan keluaga
saya mbak.
Pertanyaan Apakah anda dalam melakukan pekerjaan ini tidak ada kendala ?
Jawab Tidak sama sekali, saya menjalaninnya dengan senang hati
mbak.Saya hanya duduk saja, nanti kalau angkat barang berat ada
tetangga yang mau membantu.
Pertanyaan Apakah pihak keluarga mendukung usaha anda sampai saat ini?
Jawab Disini sebagai tulang punggung keluarga. Ya harus mendukung,
terutama istri saya itu sangat mendukung pekerjaan saya ini.
Pertanyaan Apa saja peraihan yang anda peroleh selama bekerja ?
Jawab Alhamdulillah mbak, saya sudah bisa menciptakan alat sederhana
yang bisa membantu saya untuk mempermudah pekerjaan saya dalam
membetulkan barang elektronik.
Pertanyaan Berapa hasil yang anda peroleh dari pekerjaan yang ditekuni?
Jawab Biasanya saya sehari kalau rusaknya berat upahnya bisa sampai
200.000 mbak tapi kalau ringan cukup 50.000 saja. Rata rata saya
kalau lagi rame bisa dapat uang 125.000 sekali kerja saya selesaikan
54
2 hari. Dengan seperti itu saya bisa memenuhi kebutuhan istri dan dua
anak saya yang sudah SD dan SMP. Kalau pengeluaran per bulan
saya bisa habis 2.000.000 lebih mbak.
Pertanyaan Apakah anda bekerja sama dengan penyandang tuna daksa lain dalam
melakukan pekerjaan ?
Jawab Sering mbak, di tempat saya ini sering digunakan untuk magang
anak–anak dari balai besar rehabilitasi penyandang disabilitas fisik
mbak. Biasanya setiap enam bulan sekali ada yang kesini. Orang-
orangnya biasanya dari luar Jawa mbak. Selain itu anak SMK dekat
sini juga sering KKN di tempat saya mbak. Ini sudah berjalan selama
2 tahun.
Pertanyaan Apakah anda ikut serta dalam melakukan kegiatan gotong royong di
lingkungan tempat tinggal?
Jawab Ya saya selalu ikut mbak, dulu itu saya pernah jadi ketua RT mbak,
dua tahun yang lalu adalah masa jabatan terakir saya. Dengan mejadi
ketua RT saya sama sekali tidak merasa minder, saya percaya diri.
Setiap ada hajatan, pos ronda, dan gotong royong saya selalu ikut
mbak.
Pertanyaan Apakah anda mengikuti sebuah komunitas dengan antar sesama
penyandang tuna daksa di lingkungan masyarakat ?
Jawab Kalau komunitas itu baru yang dari PPRBM saja mbak, untuk di
lingkungan sini ya cuma saya sama mbak Mismiati saling
mempromosikan produk dan jasa kita satu sama lain.
55
2. Masyarakat
Tanggal : 17 Juli 2019
Nama : Walgito Kusumo
Usia : 42 th
Pekerjaan : Pemilik toko jahit rizky taylor
Alamat : RT 2 RW 9, Pucang Sawit Jebres, Surakarta
No Pertanyaan Hasil
1 Apakah anda setuju apabila penyandang Kalau mereka memiliki kemampuan dalam
tuna daksa diberi pekerjaan yang layak bidang kerja yang sedang saya tekuni pasti
sesuai dengan kemampuannya? Berikan dengan senang hati saya terima sebagai
alasannya! pegawai mbak.
2 Apakah dalam menyediakan tempat kerja Fasilitas bagi penyandang tuna daksa harus
bagi penyandang tuna daksa perlu diberikan, karena kita sebagai manusia harus
diberikan fasilitas khusus? memiliki etika. Bahkan itu juga udah
disebutkan dalam undang-undang. Disini
karena saya juga mempekerjakan tuna daksa
saya memberi fasilitas berupa tempat tinggal
sementara agar penyandang daksa tidak perlu
mondar mandir setiap hari saat bekerja. Kruk
untuk jalan, dan juga kebebasan waktu dalam
bekerja mbak.
3 Apakah penyandang tuna daksa perlu Kalau kerja sama yang sifatnya membantu
diajak kerja sama dalam bidang ekonomi sedikit seperti memberi kerja itu tidak apa-
? apa. Tapi kalau membantu memenuhi
kebutuhan mereka sepenuhnya karena saya itu
tidak setuju. Nanti mereka malah bergantung
pada saya.
4 Apakah anda pernah menjadi donatur Kalau saya menjadi donatur itu biasanya
secara sukarela untuk mendukung memberi kepada mereka yang sudah memiliki
pencapaian usaha penyandang tuna usaha mandiri, kemudian untuk memajukan
daksa? Berikan alasannya! usaha saya beri bantuan berupa alat bukan
uang mbak. Kalau uang takut disalahgunakan.
5 Bagaimana pendapat anda jika Ya memang diberi upah sesuai hasil kerja
penyandang tuna daksa diberikan upah mbak, disini penyandang daksa yang saya
kerja sesuai dengan kemampuan kerja? pekerjakan itu saya bayar sesuai banyak dan
bagusnya hasil jahitan. Biasanya 1 helai saya
kasih harga Rp.3.000
6 Apakah anda setuju jika penyandang tuna Kalau sebagai tokoh masyarakat sepertinya
daksa juga dilibatkan sebagai tokoh perlu dipikir-pikir dulu mbak. Tapi kalau
masyarakat di lingkungan tempat hanya sekedar dilibatkan sebagai anggota
tinggal? Berikan alasannya! untuk menjaga kerukunan ya tidak apa-apa.
7 Pernahkah anda mengajak penyandang Jarang mbak, kasihan juga soalnya dengan
tuna daksa untuk melakukan gotong keterbatasan yang dimiliki.
royong di lingkungan tempat tinggal?
Jika iya apa saja kegiatannya?
56
8 Bagaimana pendapat anda jika sebagai Harus segera dibantu, karena kalau mereka
tetangga perlu memberikan bantuan meminta tolong, berarti orang itu berada di
tenaga apabila penyandang tuna daksa luar kemampuannya
mengalami kesulitan?
57
4. PPRBM (Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan Rehabilitasi
Bersumberdaya Manusia
Tanggal : 1 Juli 2019
Nama : Christian Pramudya
Usia : 29 th
Pendidikan : S1
Alamat : PPRBM Jl Gajah Mada, Banjarsari, Surakarta
Pertanyaan Bagaimana latar belakang berdirinya PPRBM ?
Jawab Awalnya itu ya dari usaha sederhana untuk mewujudkan niat dari hati
nurani yaitu menyejahterakan disabilitas. Sehingga timbul kesetaraan
dan disabilitas tidak lagi dipandang sebelah mata. Kemudian kami
mencoba bikin terobosan baru dan menggandeng pihak berkompeten
untuk kami ajak membangun PPRBM dari nol. Tapi saat itu saya
belum bergabung di PPRBM karena berdirinya tahun 1973. Saya
gabung disini tahun 2010 mbak.
Pertanyaan Apa saja misi dari PPRBM ?
Jawab Intinya kita berusaha untuk memandiriakan penyandang tuna daksa
mbak. Selain itu kita juga memberi pendampingan kepada semua
disabilitas baik yang sudah memiliki usaha maupun yang belum akan
kami beri sosialisasi dan pelatihan agar bisa mandiri.
Pertanyaan Program apa saja yang sudah terlaksana dalam rangka memandirikan
disabilitas?
Jawab Disabilitas Sukses Mandiri itu pakai sistem RBM ( Rehabilitasi
Bersumberdaya Manusia) ada dua dan sudah berjalan 85 % yaitu
sebuah serikat disabilitas agar bisa saling tolong menolong. Kalau
programnya kita ada dua yaitu pelatihan yang terdiri dari menjahit,
pijat terapi, elektronika, membatik, seni kriya, dan membuat olahan
bahan pangan, sablon juga mbak. Sosialisasi yang kita berikan rutin
setiap bulan itu tentang budaya hidup sehat, dan juga motivasi agar
disabilitas fterutama yang cacat isik bisa mandiri Kami juga selalu
mengadakan program Disabilitas Mandiri dengan sisitem door to
door.
Pertanyaan Bagaimana sistem pelatihan yang diberikan?
Jawab Sistem pelatihan yang baik dan benar perlu dilakukan agar para
anggota pelatihan dapat meningkatkan kemamuannya dengan cepat.
Hal ini dapat dibedakan menjadi beberapa cara mbak: a) Pelatih,
orang yang diberi kepercayaan sebagai pelatih para disabilitas fisik
adalah tenaga ahli yang berasal dari staf PPRBM sejulah 5 (lima)
orang dan tenaga ahli dari luar sejumlah 10 (sepuluh) orang. Selain
itu ada tenaga dari penyandang tuna daksa yang sudah berkompeten
pada bidangnya sebagai motivator dan percontohan untuk disabilitas
lainnya; b) Waktu Pelatihan, pelatihan keterampilan untuk disabilitas
fisik biasanya dilakukan selama 3 (tiga) bulan pelatihan. Pelatihan
dilakukan dari pukul 08.00-15.00 wib. Pelatihan dilakukan secara
serentak mulai dari sablon, menjahit, olahan bahan pangan,
membatik, seni kriya, elektonika dengan ruang dan fasilitas berbeda-
beda sesuai dengan pelatihan yang dilakukan; c) Modal, dalam hal
pemodalan guna mengoperasikan PPRBM dan mencukupi kebutuhan
pelatihan, workshop, dan sosialisasi yang dilakukan itu kami masih
58
mengandalkan swadaya dari masyarakat mbak. Kalau dari
pemerintah kami jarang, biasanya sih alat bantu gerak untuk
disabilias saja.
Pertanyaan Apakah ada kendala dalam memberikan pelatihan kepada penyandang
tuna daksa?
Jawab Ada mbak, disini tenaga sukarelanya masih sangat sedikit. Bahkan
tenaga ahli hanya ada 10 untuk setiap pelatihan. Kemudian
aksestabilitas yang kurang memadai bagi disabilitas menyebabkan
mereka menolak untuk diberi pelatihan
Pertanyaan Berapa jumlah penyandang tuna daksa yang mengikuti pelatihan
lngsung di PPRBM ?
Jawab Saat ini sudah 200 orang penyandang tuna daksa yang mengikuti
pelatihan di Kecamatan Banjarsari, kalau untuk tuna netra tuna rungu
itu biasanya hanya sedikit mbak karena sudah memiliki lembaga atau
yayasan sendiri.
Pertanyaan Apakah ada sosialisasi khusus yang diberikan kepada penyandang
tuna daksa ?
Jawab Tentu saja ada mbak, seperti kami mensosialisasikan tentang budaya
hidup sehat, sosialisasi cara berwirausaha, dan juga diimbangi
dengan pelatihan yang kita berikan itu.
Pertanyaan Apakah ada bantuan sarana prasarana yang diberikan kepada
penyandang tuna daksa ?
Jawab Ada, seperti kursi roda, kruk dan alat kesehatan lainnya kami
menyediakan tanpa syarat mbak. Selain itu kami juga mengalokasikan
dana untuk memberikan bantuan dana dari swadaya masyarakat
biasanya setiap pelatihan kami pilih satu orang yang berkompeten
untuk kami pantau dalam mendiriakan usaha.
59
4. Dinas Sosial
Tanggal : 1 Juli 2019
Nama : Rohana
Usia : 59 tahun
Alamat : Dinas Sosial Kota Surakarta
Pertanyaan Apa saja program yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Surakarta
untuk membantu penyandang tuna daksa ?
Jawab Kalau programnya banyak sekali mbak yang pertama kebijakan akses
sarana dan prasarana publik bagi penyandang cacat, pelayanan dan
perlindungan, hukum bagi korban eksploitasi, perlindungan
perempuan dan anak, pelayanan kesehatan dan psikologi bagi
penyandang cacat, dan peningkatan layanan rehabilitasi bagi
penyandang cacat. Hal tersebut kami aplikasikan kedalam lembaga-
lembaga seperti YPAC (Yayasan Pembimbingan Anak Cacat) sebagai
pusat kesehatan dan pendidikan penyandang cacat di Surakarta.
Kemudian pelatihan untuk mereka yang cacat fisik karena kecelakaan
itu di Balai Besar Rehabilitasi Dr Soeharso, sama masih ada banyak
lagi program yang kami berikan tetapi itu yang terbesar. Dari situ
kami fokuskan penggalangan dana dan rutin dimasukkan ke APBD.
Pertanyaan Apa saja yang dilakukan Dinas Sosial Kota Surakarta untuk
Membantu Lembaga Swdaya Masyarakat sperti PPRBM ?
Jawab Kalau untuk LSM seperti PPRBM kami pernah, tapi jarang. Karena
PPRBM itu kan bukan milik pemerintah, jadi akan kami bantu jika
memungkinkan untuk kami ketahui apa saja kegiatannya. Kalau
bantuan yang sering itu ya hanya alat bantu gerak saja.
Pertanyaan Apakah ada sosialisasi dan pelatihan yang diberikan untuk
penyandang tuna daksa? Siapa saja yang menjadi peserta sosialisasi?
Jawab Kita sering adakan program sosialisasi di Balai Besar Rehabilitasi
Prof. Soeharso. Disitu setiap minggu akan diadakan sosialisasi
terutama bagi mereka yang cacat fisik karena kecelakaan. Untuk
cacat fisik yang lainnya akan difokuskan ke YPAC (Yayasan
Pembimbingan Anak Cacat). Pesertannya itu rata-rata kalau yang di
YPAC dari masyarakat sekitar yang disabilitas, tapi kalau di Balai
Besar Rehabilitasi itu penyandang cacat fisik non bawaan yang
belajar disitu nak.
Pertanyaan Apa saja kendala saat menjalankan program dalam rangka membantu
penyandang tuna daksa?
Jawab Kendalanya ya belum maksimalnya kegiatan rehabilitasi
menyebabkan mereka yang sudah dapat pelatihan itu kembali lagi
menjadi seperti semula. Seperti tidak memiliki pekerjaan, hanya
duduk dirumah saja, bahkan hanya jadi pengemis. Itu yang menjadi
PR besar kita saat ini. Tapi untuk hal itu tidak banyak, hanya
beberapa saja. Selain itu karena pusat rehabilitasi berfokus di dua
titik besar saja mungkin menyulitkan disabilitas untuk menjangkau
lokasinya juga nak.
60
5. BBRSPDF Prof. Soeharso
Tanggal : 15 Juli 2019
Nama : Antik Purniasih
Usia : 55 tahun
Alamat : Balai Besar Rehabilitas Sosial Penyandang Disabilitas
Fisik Prof. Soeharso
Pertanyaan Bagaimana latar belakang berdirinya BBRSPDF Prof Soeharso?
Jawab Berawal dari tahun 1999Prof Dr Soeharso menginginkan disabilitas
fisik dapat berkontribusi untu masyarakat. Dengan banyaknya
pandangan masyarakat tentang disabilitas fisik sebagai sebuah
kekurangan maka dicetuskan sebuah upaya untuk membuat sebuah
pusat rehabilitasi disabilitas fisik di Surakarta yang akhirnya
berkembang sejak 1999 hingga sekarang.
Pertanyaan Siapa saja yang menjadi bagianpelatihan di BBRSPDF Prof Soeharso?
Jawab Disabilitas fisik khususnya yang karena kecelakaan mbak, kami
mengutamakan masyarakat di Kota Surakarta. Tapi ada juga yang
dari luar daerah Surakarta mbak, karena Balai rehabilitasi ini untuk
Nasional. Kalau untuk diabilitas bawaan itu kami jarang sekali,
karena keterbatasan pelatihan dan fasilitas yang dimiliki takutnya
menghambat pelatihan sehingga hasilnya malah tidak akan jadi
maksimal.
Pertanyaan Apa saja peran BBRSPDF dalam membantu penyandang tuna daksa?
Jawab Dengan demikian maka disabilitas fisik diharapkan mampu agar siap
kerja ditengah-tengah masyrakat normal pada umumnya. Selain itu
secara tidak langsung rehabilitasi tersebut menjamin kemajuan
penyandang disabilitas fisik untuk madiri secara emosional dan
moral.
Pertanyaan Dari mana dana bantuan diperoleh?
Jawab Dari pemerintah sudah dianggarkan dan masuk dalam APBD mbak.
Pertanyaan Apakah sudah pernah diberikan bantuan Tempat tinggal dan Modal
usaha ?
Jawab Kalau tempat tinggal ya saat mereka melakukan pelatihan disini.
Selama 3 bulan disabilitas fisik tinggal di asrama milik Balai Besar
Rehabilitasi. Kalau untuk modal usaha kami belum mbak, karena
fokus kami itu hanya mewujudkan disabilitas yang mandiri secara
emosional dan morla serta mampu bekerja di tengah masyarakat
dengan kemampuan yang dimiliki.
Pertanyaan Bentuk pendampingan apa saja yang sudah diberikan oleh BBRSPDF
Prof Soeharso kepada penyandang tuna daksa?
Jawab Operasi perawatan kesehatan bagi disabilitas fisik setalah keadaan
fisik sehat, selanjutnya tahap kesiapan medis yang meliputi
pengecekan kesehatan, fisioterapi, pemberian okupasi, dan pemberian
terapi kesehatan mental.Selanjutnya tahap rehabilitasiyang meliputi
penilaian moral, pelatihan keterampilan, dan penilaian hasil kerja.
61
LAMPIRAN V : Perhitungan hasil angket
Penerim
No Nama Penerimaan Ker
1 Retno kamulyan soal 1 soal 2
2 Widodo
3 Suroso AB CDA B C
4 Sumarsono
5 Kusmiyati vv
6 Sri Aminah
7 Martini vv
8 Sumini
9 Andre Arya vv
10 Prita Wati
11 Bandi vv
12 Sumadi
13 Intan Pratiwi vv
14 Ayu Sari
15 Dava Rafli vv
16 Bayu Adnan
17 Endah vv
vv
vv
vv
vv
vv
vv
vv
vv
vv
vv
maan Masyarakat Terhadap Penyandang Tuna Daksa
rja Penerimaan Dilingkungan Masyarakat
soal 3 soal 1 soal 2 soal 3
DA B C D A B CDA B CD A B CD
vv v v
vv v v
vv vv
vv vv
vv vv
vv v v
vv v v
vv vv
vv vv
vv vv
vv v v
vv v v
vv vv
vv vv
vv vv
vv v v
vv vv
62
18 Dwi Wahyuni v v v
19 Tumirih vv
20 Darmini v
21 Tri Pena Hansayani v v
22 Suharsi v v
23 Tri Hardoyo v v
24 Siti Fatimah v v
25 Suratno v v
26 Suyono v v
27 Rini Ambarwati v v
28 Ruri andriyani v v
29 Desi Gabriela v v
30 Markus Andre v v
31 Biyono v v
32 Sumingat v v
33 Sri Rejeki v v
34 Wiji Asih v v
35 Arbati v v
36 Seno Susilo v v
37 Damnoko v
38 Nugroho Adi v v
39 Hartomo v v
v
v v v v v v
vv v v v
v v v
v v v v vv
v v
v v v v v
v v v v v
v v v v v
v v v v
v v v
v v v v
v v v v
v v v v
v v v v
v v v v
v v v
v v v v
v v
v v v v
v v v v
v v v
v
v v
v
63
40 Karto Karsono v v v
41 Maryam v v
42 Kawit v
43 Biyem WS v v
44 Giyanti eri v v
45 Wanti
46 Dian Mustikaingrum v v
47 Andaya Kurniawan v v
48 Tutik Puriwati v v
49 Sutopo v v
50 Dewi Astari v v
51 Mulyo Utomo v v
52 Sri Wisyasti v v
53 Handoko v v
54 Wisnu Purnomo v v
55 Dianita v v
56 Niken v v
57 Sulis v v
58 Nina Kusuma v v
59 Hardi v v
60 Hasan Adi v v
61 Wulandari v v
v
v
v v v v v v
v v v v v v
v v v
v v v v v
v v v v v
v v v
v v v vv
v v v
v v v v
v v v
v vv v v
vv v
v vv v v
v
v v v v
v vv v v
v vv v v
v vv vv
v
v v v
v v v
v v v
v v
64
62 Bukhori v v v
63 Wahyu Tri v v v
64 Bambang v v
65 Darmuji v v
66 Sutrisno v v v
67 Ria Fransiska v v v
68 Martini v v
69 Darmi v v v
70 Mujiyanto v v v
71 Minarni v v v
72 Amin v v v
73 Ana v v v
74 Erna Dwi v v v
75 Sumpeni v
76 Iqbal Aryo v
77 Bara Imran v
78 Cathrina A v
79 Alviah
80 Nana v
81 Dwi Astuti v
82 Driwanto v
83 Erdho Prastowo v
vv vv
vv vv
vv
vv vv
vv
vv vv
vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv
vv vv
vv vv
vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv
vv vv
vv
65
vv
vv
vv
84 Hasna Tri v v v
85 Adi Legawa v v v
86 Marwah v v v
87 Gagah v v
88 Suminem v v v
89 Nadya v
90 Wanto v v v
91 Maryadi v v v
92 Puput v v
93 Wahyono v v
94 Catur Rini v vv
95 Sugito v v v
96 Sujiman v v
97 Raharjo v v v
98 Zaenal Arifin v vv v
99 Aswanto
100 Isnaini Woro v
101 Rurin
102 Mardiningsih v
103 Budiasih v
104 Bandiah
105 Sekar Sari v
v v v vv v
v v vv v
v v v vv v
v v vv
v v v v
v v v
v v v v v
v v v v
v v v v
v v v
v v
v v v vv
v v
v v v v
v v v v
v v v v
v v v
v v v vv
v v
v v v
v v v
v v v
v v
v
v
66
106 M Sarno v v v
107 Nora Asprila D v v v
108 Kusmarjiah v v v
109 Sobirin v
110 Walgito K v vv v
111 Hartini v v v
112 Mahmudah v v
113 Siti Fatimah v
114 Riyani Praba v v
115 Pranowo v v
116 Dwi Yani v v
117 Tri Yanto v v
118 Sundari v
119 Irianto v v
120 Hastuti v v
121 Suharsih v
122 Hardoyo v v
123 Solekhah v v
124 Andayani v
125 Sudibyo v
126 Jiali v
127 Sarwono v
v
v
v v v vv v
v v v v v
v v v
v v v v v
v v v
v v
v v v vv
v v v v
v v
v v v
v v vv
v v vv
v vv
v v vv
v v vv
v v v
v v vv
v v vv
v v vv
v v vv
v v vv
v v v
v v
v
v
v
67
128 Sarno Edi v v
129 Desty v v
130 Nia Ayu v v
131 Andian v v
132 Intan Pratiwi v v
133 Purnomo v v
134 Alifia Eka v v
135 Noviana v v
136 Yuniarti v v
137 Purbaningrum v v
138 Endah v v
139 Suyatno v v
140 Aslichatun v v
141 Tanto v v
142 Totok v v
143 Slamet Raharjo v v
144 Burhanudin v v
145 Pipin Tri v v
146 Dimas Bayu v v
147 Titik v v
148 Surahman v v
149 Atiman v v
v v v vv v
v v v v v
v v v
v v v v
v v v
v v v v
v v v
v v v v
v v v
v v v vv
v v v
v v v vv
v v v v
v v v
v v v vv
v v v
v v v vv
v v v v
v v v v
v v v
v v v
v v v v
v v
68
150 Zulaichah v v v
151 Siti Ari v v
152 Wara Setyani v v v
153 Sunar v vv v
154 Jarwanto v
155 Ipat Adi v v v
156 Karyono v v
157 Lala Puspita v v v
158 Unik Ernawati v v v
159 Vatika Sari v v
160 Abdul Rohman v v
161 Andikda v v
162 Teddy v v
163 Ajidin v v
164 Nunuk v v
165 Arif Mega v
166 Sutrisno v v
167 Febtiyana v
168 Wiyono v v
169 Ratno Ardyo v
170 Sarini v
171 Bejo Warsono
v v v v v
v v v v v
v v vv v
v v v v
v v v v
v v v v v
v v v v
v v v v v
v v v v v
v v v v v
v v
v v v v
v v vv v
v v v v
v v v
v v v v
v v v
v v v
v v v
v v v
v
v v
v v
v
v
69
172 Daryani v v
173 Zaimah v v
174 Qoiriyatun v v
175 Garbo v v
176 Margono v v
177 Giyanto v
178 Supardi v v
179 Bowo v v
180 Widodo v v
181 Yati v v
182 Siru v
183 Sukamti v v
184 Suratman v v
185 Tugiyo v v
186 Wardi v
187 Sukrahno v v
188 Dakelan v v
189 Suyekti v v
190 Wiyono v
191 Nanang v v
192 Sumirih v v
193 Sukadi v v
v
v
v
v
vv v v v
vv v vv v
vv
vv v v v
vv v v
vv v v
vv v v v
vv v v
vv v v v
v
vv v v
v v v
vv v v
vv v vv
vv v
vv v vv
v v
v v vv
v
vv v vv
vv vv
vv vv
vv
v
70
194 Mulyani v v
195 Sukiman v v
196 Amar Udin v v
197 Sarjito v v
198 Mukitun v v
199 Dasemin v v
200 Adinda v
201 Erlina v v
202 Putri lestari v v
203 Joni v v
204 Sriyono v v
205 Meiliana v
206 Susilo v
207 Hestiana v v
208 Jumino v v
209 Sujud v v
210 Jatmiko v v
211 Erwantoro v v
212 Reskianti v
213 Wakito v v
214 Amiroh v v
215 Diki Rahayu v v
v v
v
v
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
71
216 Rahmat v v
217 Abullah v v
218 Afifudin v v
219 Galih Yudha v v
220 Marsih v v
221 Naswanta v v
222 Aura mega v v
223 Azalia v
224 Santoso v v
225 Nanik Isnawati v v
226 Belladinda v v
227 Maulida v v
228 Suparyono v v
229 Adrew Tang v v
230 Kusumawati v v
231 Nurul v v
232 Asri ningsih v
233 Sagita v v
234 Ayudian v v
235 Fika hernindya v v
236 Titik eka v v
237 Marni v v
v
v
vv v vv v
vv v v
vv vv v
vv v vv
vv v vv v
vv v v
vv v
vv vv
vv v
vv vv
vv
vv v
vv vv
vv vv
vv
vv v
vv vv
vv vv
vv
vv v
vv vv
vv v
vv v
v
vv
72
238 Jumilah vv 0
239 Lasnanta vv
240 Jumali vv
241 Tyas
242 Raharja vv
243 Wiyanti vv
244 Faldlan vv
245 Puguh dwi vv
246 Rika purnama vv
247 Amanda laila vv
248 Eko jatmiko vv
249 Wigati vv
250 Susniwati R vv
vv
JUMLAH 25 200 15 10 150 100
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
vv vv
v vv v
vv v v
vv vv
vv vv
0 85 85 35 45 210 40 0 0 85 55 0 110 135 55 0 60
73
LAMPIRAN VI : Hasil observasi
Tanggal : 18 Juni 2019
Nama : Winarni
Usia : 42 tahun
Pendidikan : Tidak sekolah
Alamat : RT 03 / RW 12, Mojosongo, Banjarsari, Surakarta
No Observasi Hasil
1. Tinggi badan
2. Berat badan 125 cm
29 kg
3. Keadaan fisik Tangan : baik
Kaki : tidak berfungsi dengan baik
Tubuh :bungkuk dan kerdil
4. Jenis pekerjaan Produksi barang kerajinan
5. Pekerjaan yang Pengerajin seni kriya
ditekuni
6. Hasil kerja Tas, dompet, dan topi
7. Pemasaran produk Koperasi simpan pinjam, marketing tak berbayar, dijual
sendiri
8. Sikap saat bekerja Sangat semangat dalam bekerja, dalam satu jam mampu
menghasilkan 2 buah kerajinan tangan berupa dompet
dari kain perca.
9. Cara bekerja Duduk dikursi / lantai dan menggunakan kedua tangan
untuk membuat kerajinan tangan.
10. Tempat tinggal Sederhana, tetapi layak untuk ditempati.
Ruang untuk bekerja ukuran sedang, lantai beralaskan
keramik.
11. Jumlah keluarga Ibu Winarni
Suami
Anak 1 (Kelas 4 SD)
12. Hubungan dengan Mengikuti kegiatan PKK secara rutin
masyarakat Saling berinteraksi dengan tetangga di lingungan tempat
tinggal
LAMIRAN VII : Daftar responden wawancara
74
No Nama L/P Usia Pendidkan Pekerjaan Alamat
responden
1. Antik P P 55 S2 PNS BBRSPDF Prof.Soeharso
2. Rohana P 59 S2 PNS Dinas Sosial Surakarta
3. Christian P L 29 S1 Teknisi Lapangan Jl Gajah Mada, Banjarsari
4. Winarni P 42 Tidak sekolah Kerajinan tangan RT 3 RW 12 Kel. Mojosongo
5. Puji P 40 SD Pijat terapi RT 2 RW 29 Kel. Kadipiro
6. Dona
7. Ridwan P 32 SD Produksi telur asin RT 1 RW 3 Kel. Manahan
8. Rahayu L 43 SMA Penjahit RT 1 RW 2 Kel. Kestalan
9. Titik Isnaini P 45 Tidak sekolah Kerajinan tangan RT 1 RW 3 Kel. Banyuanyar
10. Agung P 41 Tidak sekolah Pijat terapi RT 1 RW 8 Kel. Jebres
11. Mahdi
12. Mujino L 37 Tidak sekolah Servis Elektronik RT 1 RW 1 Kel. Jagalan
13. Sumeri L 51 Tidak sekolah Pengemis RT 1 RW 3 Kel. Mojosongo
14. Ana L 38 Tidak sekolah Pengemis RT 1 RW 1 Kel. Pucangsawit
15. Suparianto L 31 Tidak sekolah Pengemis RT 5 RW 2 Kel. Jebres
16. Amar
17. Cahyo P 36 Tidak sekolah Penjahit RT 1 RW 7 Kel. Mojosongo
18. Marsimi L 29 Tidak sekolah Penjual koran RT 1 RW 3 Kel. Manahan
19. Subekti L 46 SMA Penjahit RT 2 RW 9 Kel. Pucangsawit
20. Sardi L 37 SMA Servis elektronik RT 1 RW 24 Kel. Mojosongo
21. Darmawan
22. Andi P 47 SD Penjahit RT 6 RW 24 Kel. Mojosongo
23. Bayu P 38 SMA Produksi kripik RT1RW2 Kel. Mangkubumen
24. Bukhori L 52 Tidak sekolah Batik Cap RT 1 RW 9 Kel. Sudiroprajan
25. Dian M L 20 Tidak sekolah Batik tulis RT 1 RW 1 Kel. Pasarkliwon
26. M Sarno L 32 SMA Sablon RT 3 RW 24 Kel. Serengan
27. Nora A
28. Kusmarjiah L 42 Tidak Sekolah Digital Printing RT 2 RW 23 Kel.Pasarkliwon
29. Sobirin L 48 D3 Produksi roti RT 4 RW 23 Kel Serengan
30. Walgito K L 24 S1 (PNS) Dagang RT 4 RW 2 Kel. Tipes
31. Susniwati R L 37 D3 Pengusaha Batik RT 2 RW 5 Kel. Kauman
32. Tri Pena H P 30 S1 Usaha Kain Perca RT 3 RW 4 Kel. Kdg Lembu
33. Retno K P 58 S1 Usaha Batik Cap RT 5 RW 3 Kel. Sudiroprajan
L 34 SMK Servis HP RT 1 RW 24 Kel. Mojosongo
L 42 SMA Penjahit RT 2 RW 9 Kel. Pucangsawit
P 58 S1 Produksi kain perca RT 1 RW 2 Kel.Manahan
P 45 S1 Produksi Kripik RT 1 RW 4 Kel. Penumping
P 43 D3 Usaha Laundry RT 6 RW 4 Kel. Pajang
75
LAMPIRAN VIII : Daftar responden kuesioner
No Kode Nama responden L/P Usia (th) Pendidkan Pekerjaan Alamat
1. A1 Retno kamulyan P 43 D3 Usaha Laundry RT 6 RW 4 Kel. Pajang
2. A2 Widodo L 47 SMA Dagang RT 1 RW 2 Kel. Pajang
3. A3 Suroso L 49 SMA Dagang RT 2 RW 2 Kel. Pajang
4. A4 Sumarsono L 40 S1 Bengkel RT 3 RW 4 Kel. Pajang
5. A5 Kusmiyati P 43 S1 Usaha batik RT 2 RW 5 Kel. Pajang
6. A6 Sri Aminah P 52 SMP Penjahit RT 2 RW 3 Kel. Pajang
7. A7 Martini P 40 D3 Usaha laundry RT 5 RW 2 Kel. Pajang
8. A8 Sumini P 40 SMA Jual Pakaian RT 5 RW 2 Kel. Pajang
9. A9 Andre Arya L 39 S1 Bengkel servis RT 2 RW 5 Kel. Pajang
10. A10 Prita Wati P 36 SMA Kerajinan perca RT 6 RW 4 Kel. Pajang
11. A11 Bandi L 47 SMA Cuci Motor RT 6 RW 4 Kel. Pajang
12. A12 Sumadi L 44 D3 Warung makan RT 6 RW 4 Kel. Pajang
13. A13 Intan Pratiwi P 32 S1 Usaha Kue Kering RT 6 RW 4 Kel. Pajang
14. A14 Ayu Sari P 30 S1 Rumah Makan Padang RT 6 RW 4 Kel. Pajang
15. A15 Dava Rafli L 32 SMK Servis HP RT 6 RW 4 Kel. Pajang
16. A16 Bayu Adnan L 41 D3 Servis elektronik RT 6 RW 4 Kel. Pajang
17. A17 Endah P 35 SMA Usaha Foto Copy RT 6 RW 4 Kel. Pajang
18. A18 Dwi Wahyuni P 29 SMA Kerajinan perca RT 6 RW 4 Kel. Pajang
19. A19 Tumirih P 51 SMA Warung kelontong RT 6 RW 4 Kel. Pajang
20. A20 Darmini P 37 S1 Digital Printing RT 6 RW 4 Kel. Pajang
21. A21 Tri Pena H P 45 S1 Produksi Kripik RT 1 RW 4 Kel. Penumping
22. A22 Suharsi P 40 SMP Penjahit RT 5 RW 4 Kel. Penumping
23. A23 Tri Hardoyo L 38 SMA Pengrajin nisan RT 2 RW 4 Kel. Penumping
24. A24 Siti Fatimah P 35 D3 Percetakan foto RT 3 RW 4 Kel. Penumping
25. A25 Suratno L 42 SMA Warung makan RT 2 RW 4 Kel. Penumping
26. A26 Suyono L 45 D3 Servis Motor RT 2 RW 4 Kel. Penumping
27. A27 Rini Ambarwati P 32 S1 Rumah makan RT 2 RW 4 Kel. Penumping
28. A28 Ruri andriyani P 38 SMA Toko Elektronik RT 2 RW 4 Kel. Penumping
29. A29 Desi Gabriela P 29 S1 Salon Kecantikan RT 2 RW 4 Kel. Penumping
30. A30 Markus Andre L 34 D3 Digital Printing RT 2 RW 4 Kel. Penumping
31. A31 Biyono L 37 SMA Toko oleh-oleh RT 2 RW 4 Kel. Penumping
32. A32 Sumingat L 35 S1 Servis Elektronik RT 4 RW 5 Kel. Penumping
33. A33 Sri Rejeki P 35 S1 PNS (Dagang) RT 4 RW 2 Kel. Penumping
34. A34 Wiji Asih P 51 SMP Pengrajin batik RT 3 RW 3 Kel. Penumping
35. A35 Arbati P 48 SMA Penjahit RT 4 RW 3 Kel. Penumping
36. A36 Seno Susilo L 46 SMA Penjahit RT 5 RW 2 Kel. Penumping
37. A37 Damnoko L 47 D1 Toko bunga RT 2 RW 3 Kel. Penumping
38. A38 Nugroho Adi L 44 S1 Rumah makan RT 3 RW 2 Kel. Penumping
39. A39 Hartomo L 32 S2 Rumah makan RT 4 RW 3 Kel. Penumping
40. A40 Karto Karsono L 40 SMA Pengrajin tembaga RT 4 RW 3 Kel. Penumping
41. A41 Maryam P 42 SMA Produksi serabi RT 3 RW 2 Kel. Penumping
42. A42 Kawit P 53 SMA Produksi kue kering RT 5 RW 4 Kel. Penumping
43. A43 Biyem WS P 50 SMP Usaha Laundry RT 4 RW 3 Kel. Penumping
44. A44 Giyanti eri P 30 D3 Percetakan foto RT 4 RW 3 Kel. Penumping
45. A45 Wanti P 48 SMA Penjahit RT 4 RW 3 Kel. Penumping
46. B1 Dian M L 24 S1 (PNS) Dagang RT 4 RW 2 Kel. Tipes
47. B2 Andaya K L 34 SMA Potong rambut RT 3 RW 4 Kel. Tipes
48. B3 Tutik Puriwati P 36 D3 Rumah makan RT 3 RW 4 Kel. Tipes
49. B4 Sutopo L 48 S1 Toko Besi RT 4 RW 2 Kel. Tipes
50. B5 Dewi Astari P 31 S1 Digital printing RT 1 RW 3 Kel. Tipes
51. B6 Mulyo Utomo L 44 SMA Ketering RT 1 RW 3 Kel. Tipes
52. B7 Sri Wisyasti P 36 SMA Produksi aksesoris RT 3 RW 6 Kel. Tipes
53. B8 Handoko L 41 S1 Jual beli elektronik RT 2 RW 2 Kel. Tipes
54. B9 Wisnu Purnomo L 53 D3 Servis Elektronik RT 3 RW 10 Kel. Tipes
55. B10 Dianita P 28 D3 Rumah Makan RT 1 RW 1 Kel. Tipes
56. B11 Niken P 31 D3 Produksi telur asin RT 5 RW 9 Kel. Tipes
57. B12 Sulis P 33 SMA Penjahit RT 1 RW 3 Kel. Serengan
76